Utang

Jual Rumah Untuk Melunasi Utang Pinjol

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, Saya punya pinjaman online, tapi saya tahu itu dosa besar, saya terpaksa melakukannya, sekarang malah nilai pinjamannya tambah terus, karena bunganya meningkat, saya ingin mengakhirinya.

Saya cuma punya rumah, rencana mau jual rumah buat bayar utang pinjol biar saya juga tenang saya takut dosa besar, tapi ibu saya melarang saya menjual rumah, karena ibu saya ikut tinggal sama saya.

A/42

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz DR Oni Sahroni, MA

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Intinya memilih pilihan yang minim risikonya dan tidak melanggar tuntunan syariah. Jadi bagaimana dengan pilihan tersebut itu terhindar dari kredit ribawi, tetapi juga tidak membuat utang baru atau kebutuhan mendasar keluarga jadi terbengkalai. Sebagaimana kaidah:

يُرْتَكَبُ أَخَفُّ الضَّرَرَيْنِ وَأَهْوَنُ الشَّرَّيْنِ

“Dharar (bahaya) yang lebih ringan yang harus dilakukan”.

Wallahu A’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Halal Tanpa Thoyyib

Penyaluran Dana Non Halal

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, kalau kita mendapat kan hadiah undian dari bank konvensional misanya mobil bgimana hukumnya dan misalnya tdk boleh … apakah hadiah tersebut boleh dijual dan uangnya disedekahkan? Dan kemana sedekahnya?
Dan boleh kah mobil itu kita beli dg uang kita spy mobilnya bisa kita miliki dan uang pembelian mobil td kan sdh kita beli dg uang kita terus uangnya di sedekahkan …
Terima ksh

A/28

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz DR Oni Sahroni, MA

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Iya dijadikan donasi sosial, baik yang disedekahkan adalah mobilnya ataupun dijual dan hasil penjualannya disedekahkan. Diberikan kepada mereka yang paling berhak untuk kebutuhan yang mendasar.

Untuk lebih detailnya bisa dilihat pada tulisan di link berikut ini:

Penyaluran dana non halal

Batasan dan hak fakir miskin

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Mempermudah dalam Muamalah

Hukum Menggunakan Aplikasi Cicilan

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, bagaimana hukumnya dengan sistem aplikasi yg sperti ini, apakah ada unsur ribanya?

Ada aplikasi dengan rule seperti ini :
1. Aplikasi registrasi gratis
2. Aplikasi Menjadikan belanjaan kita menjadi cicilan 4x tanpa bunga tanpa syarat
3. Cicilan dibayar tiap bulan
4. Apabila pengguna telat maka aplikasi pengguna akan di non aktifkan
5. Apabaila pengguna mau mengaktifkan lagi aplikasinya maka dikenakan biaya aktifasi 50rb
6. Jika pengguna tidak ingin mengaktifkan lagi maka pengguna tidak harus membayar sisa cicilan, “hanya berdasar kesadaran aja”

A/09

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Oleh: Ustadz DR Oni Sahroni, MA

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pertama, informasi tentang aplikasi ini harus diketahui dengan jelas bagaimana proses bisnisnya, sudah mendapatkan legal dari otoritas atau belum, termasuk juga otoritas terkait dengan kesyariahannya, seperti DSN MUI.

Kedua, oleh karena itu bisa dicek legalitas tersebut. Apabila legal, ada pernyataan kesesuaian syariah dari otoritas seperti DSN MUI, maka menurut saya itu boleh digunakan.

Ketiga, tetapi jika tidak ada info tersebut, maka harusnya tidak menggunakan sesuatu yang tidak diketahui bagaimana proses bisnisnya. Dalam kondisi ini abaikan dan tinggalkan.
Wallahu A’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Utang

Utang Kepada Pihak Ketiga/Paylater

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, saya dr grup Manis, Ingin bertanya seputar hutang.

Jadi, kami pernah kekurangan dana untuk beli tiket pesawat. Dan ada teman yang menawarkan pinjaman untuk beli tiket pesawat.
Setelah itu, beliau meminta data kami dan memesankan tiket pesawat.
Tanpa diduga, ternyata beliau menggunakan Paylater utk memesankan tiket kami. Dengan kata lain, beliau bukan meminjamkan uangnya kepada kami. Tapi dia membantu meminjamkan kepada pihak ke-3. Dan harus lunas bulan depan, karena kami memang berjanji di awal untuk melunaskan biaya tiket pesawat itu bulan depan. Karena tiket itu dibayar bulan depan, ada biaya administrasi yang dikenakan sebab dibayar dengan menggunakan kartu kredit. Dan di sini kami juga terkejut.
Singkat cerita, kami batal berangkat karena PPKM. Tiket yang kami pesan juga dibatalkan dan akan direfund. Tapi ternyata, uang harus ditransfer ke Paylater, tetap harus dilunasi jika tidak ada denda sebesar 5% yang ditambahkan. Padahal kami tidak jadi berangkat dan tiket juga batal dibeli.
Jadi ustadz, bagaimana sikap kami?
Apakah tetap membayar hutang itu kepada teman kami atau kami berlepas saja? Karena dari awal, kami tidak tahu menahu kalau beliau menggunakan pihak ke-3.

A/06

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Oleh: Ustadz DR Oni Sahroni, MA

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

1. Utang terhadap pihak ketiga atau paylater tetap harus dibayar, walaupun menggunakan skema ribawi. Kecuali jika paylater itu merelakan haknya untuk tidak dibayar, atau dibayar sekedar pokoknya saja.

2. Selanjutnya dari mana sumber pembayaran.
Itu menjadi negosisasi antara bapak/ibu (yang bertanya) dengan teman yang awalnya berniat untuk meminjamkan langsung.

3. Sebagai pelajaran.
Sebelum bertransaksi, termasuk peminjam dipastikan terlebih dahulu, siapa yang meminjam, berapa nominalnya, kepada siapa harus jelas sedari awal.

Demikian. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Sedekah Utama Memberi Air

Bersedekah Karena Terpaksa

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya Afwan..
Bagaimana hukum nya sedekah yg terpaksa?
Kondisi ekonomi skrng ini luar biasa sulit. Sementara tuntutan pembiayaaan dlm rumah tangga juga ga sedikit..
Nah.. Dlm kesulitan itu, suami bersedekah untuk makan para santri tanfidz. Keinginan itu terus menerus tanpa mikir ‘dapur’ rumah tangga yg ga stabil.
Alasan suami, berinfaq, masa iya Allah ga bantu kesulitan kita..?
Tapi istri merasa berat. Karena itu tadi.. Di rumah sendiri ga masak.. Uang yg sedikit di infaqkan..

Nah.. Mohon pencerahan nya.. 🙏🏼
Sebagai istri, ga ingin berdebat dengan suami.
Tapi di sisi lain, ga bisa Terima sama keputusan suami..

Terima kasih. Wassalam. A/18

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz DR. Oni Syahroni, MA

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dalam kondisi keuangan keluarga terbatas, maka dana yang tersedia itu disalurkan untuk kebutuhan yang terbatas. Salah satu kriterianya adalah tidak melalaikan kewajiban atau kebutuhan keuangan yang asasi keluarga. Oleh karena itu, hadits Rasulullah Saw menegaskan bahwa kebutuhan asasi internal keluarga yang harus dipenuhi terlebih dahulu, baru kemudian memenuhi kebutuhan lain. Hadits Rasulullah Saw tersebut menegaskan;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم : ” تَصَدَّقُوا “. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ، عِنْدِي دِينَارٌ؟ قَالَ: ” تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى نَفْسِكَ ” قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: ” تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ ” قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: ” تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى خَادِمِكَ ” قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: ” أَنْتَ أَبْصَرُ “. (رواه أبو داود والنسائي، وصححه ابن حبان والحاكم)

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Bersedekahlah”. Lalu seorang laki-laki berkata: Wahai Rasulullah, aku mempunyai satu dinar? Beliau bersabda: “Bersedekahlah pada dirimu sendiri”. Orang itu berkata: Aku mempunyai yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan untuk anakmu”. Orang itu berkata: Aku masih mempunyai yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan untuk istrimu”. Orang itu berkata: Aku masih punya yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan untuk pembantumu”. Orang itu berkata lagi: Aku masih mempunyai yang lain. Beliau bersabda: “Kamu lebih mengetahui penggunaannya.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Hakim).

Walaupun hadits tersebut menggunakan kata sedekah, tetapi sedekah tersebut bermakna infak (membiayai) seperti membiayai kebutuhan keluarga.
Demikian. Wallahu ‘alam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Bonus Pada Giro Wadi’ah

Bank syariah boleh memberikan bonus dalam produk giro wadiah, selama tidak dipersyaratkan dan atas inisiatif bank syariah sebagai kreditur.

© Penjelasan

1. Akad yang berlaku dalam giro wadi’ah adalah akad qardh (utang piutang) di mana pemilik giro sebagai kreditor dan bank syariah sebagai debitur, maka tidak diperkenankan ada bunga atau manfaat yang didapatkan oleh pemilik giro atas pinjaman tersebut karena setiap manfaat atau kelebihan itu dikategorikan sebagai bunga sesuai dengan kaidah :

كل قرض جر نفعا فهو ربا

“Setiap pinjaman yang memberikan manfaat kepada kreditor yang disyaratkan termasuk riba.”

2. Fatwa Dewan Syariah Nasional telah memperkenankan adanya bonus yang tidak disyaratkan, baik barang maupun uang, selama tidak disayaratkan maka diperkenankan. Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَسْلَفَ مِنْ رَجُلٍ بَكْرًا فَقَدِمَتْ عَلَيْهِ إِبِلٌ مِنْ إِبِلِ الصَّدَقَةِ فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِيَ الرَّجُلَ بَكْرَهُ فَرَجَعَ إِلَيْهِ أَبُو رَافِعٍ فَقَالَ لَمْ أَجِدْ فِيهَا إِلَّا خِيَارًا رَبَاعِيًا فَقَالَ أَعْطِهِ إِيَّاهُ إِنَّ خِيَارَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah meminjam unta muda kepada seorang laki-laki. ketika unta sedekah tiba, maka beliau pun memerintahkan Abu Rafi’ untuk membayar unta muda yang dipinjamnya kepada laki-laki tersebut. Lalu Abu Rafi’ kembali kepada beliau seraya berkata, ‘Aku tidak mendapatkan unta muda kecuali unta yang sudah dewasa.’ Beliau bersabda: ‘Berikanlah kepadanya, sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” (HR. Muslim)

3. Oleh karena itu, bank syariah diperbolehkan memberikan bonus atas produk giro wadi’ah selama tidak dijanjikan atau disyaratkan. Besaran bonus tersebut mengacu pada standar tertentu. Selama transaksinya bukan bunga atas pinjaman, maka diperkenankan.

Wallahu a’lam

Berniaga Dengan Non Muslim

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Afwan ustadz wa ustadzah.. saya mau bertanya, jika seorang muslim berdagang.. ketika ada pembeli yang non muslim membeli dagangan kita,, boleh tidak? Dan status uangnya itu bagaimana ustadz?? Halalkah atau bagaimana.. mohon penjelasan beserta dalilnya ustadz..syukron 🙏
# A 42

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Dalam fikih, tidak ada larangan bagi setiap pihak dalam transaksi bisnis untuk membeli atau menjual komoditasnya kepada non-muslim selama dipastikan bahwa komoditas yang dijual atau keuntungan yang didapatkan oleh penjual non-muslim tidak diperuntukkan untuk hal yang maksiat atau mendzalimi masyarakat atau umat islam.

Kebolehan tersebut sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah saw yang pernah bermuamalah dengan non-muslim, dimana beliau membeli secara tidak tunai dari seorang yahudi, sebagai jaminannya adalah baju besinya.

Sesusai hadits dari ‘Aisyah r.a yang menyampaikan bahwa:

اشترى رسول الله صل الله عليه وسلم من يهودي طعاما بنسيءة، فاعطاه درعا له رهنا (رواه مسلم).

Di samping itu dalam rukun dan syarat akad, tidak disyaratkan bahwa pihak-pihak yang menjadi mitra bisnis kita harus muslim. Oleh karena itu dalam syarat-syarat atau kriteria pihak-pihak akad atau ‘aqid yang ada hanya baligh, berakal, dan rasyid, dan tidak ada syarat agama atau harus muslim.

Kaidah ini juga sesuai dengan aspek maslahat yang menuntut transaksi atau muamalah itu dilakukan terhadap muslim dan non-muslim, karena tidak setiap komoditas yang kita butuhkan bisa kita dapatkan pada umat islam. Apalagi saat ini, dimana banyak sekali kebutuhan-kebutuhan seperti alat kesehatan dan sebagainya yang hanya bisa kita dapatkan atau bisa kita beli dari non-muslim.

Dari aspek fikih aulawiyat atau fikih prioritas, selama pilihan yang boleh atau bertransaksi dengan non-muslim itu tidak hanya satu, maka kita memilih pilihan yang paling ashlah (yang paling maslahat). Begitupula jika pilihannya adalah muslim dan non-muslim, maka kita memilih bermitra dengan sesama muslim, juga apabila pilihannya sesama muslim maka kita memilih pilihan muslim yang paling bermanfaat untuk  umat islam.

Wallahu a’lam.

Asuransi Profesi Dokter

1. Kaidah yang berlaku dalam asuransi konvensional adalah bahwa asuransi konvensional tidak diperkenankan atau diharamkan karena dua hal:

a. Ada unsur ketidakpastian (gharar).

Premi yang dibayarkan oleh peserta sebagai harga beli dengan objek jual berupa mitigasi risiko atas kesehatan. Harga belinya atau premi yang dibayar pasti, sedangkan risiko kesehatan yang dibeli itu tidak pasti. Oleh karena itu, adanya surplus underwriting atau defisit underwriting merupakan ketidakpastian yang tidak diperkenankan dalam Islam.

▪Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW, yang diriwayatkan Abu Hurairah, bahwa ia berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

“Rasulullah melarang jual beli al-hashah (dengan melempar batu) dan jual beli gharar.” (HR. Muslim)

b. Unsur ribawi

Premi yang diterima oleh perusahaan asuransi ditempatkan di instrumen ribawi, seperti deposito di bank konvensional atau obligasi (surat utang). Dua instrumen tersebut merupakan transaksi ribawi atau pinjaman berbunga yang diharamkan sesuai dengan kaidah

كل قرض جر نفعا فهو ربا

“Bahwa setiap pinjaman yang memberikan manfaat yang disyaratkan kepada kreditor adalah pinjaman berbunga.”

2. Sementara itu, asuransi profesi dikatakan syariah apabila dua unsur yang diharamkan di atas tidak ada. Dengan demikian, asuransi syariah memiliki beberapa karakteristik:

a. Supaya unsur ketidakpastiannya tidak terjadi, dana kepesertaan atau premi tersebut tidak lagi sebagai harga beli, tetapi sebagai hibah/tadabbaru/tanahuts. Seluruh premi yang dibayarkan peserta tidak lagi menjadi milik perusahaan, tetapi milik entitas kelompok peserta asuransi.

b. Jika terjadi surplus underwriting, tidak ada yang dizalimi karena premi tersebut milik kelompok peserta asuransi. Begitu pula jika terjadi defisit underwriting, tidak ada yang dizalimi karena setiap peserta sudah melepaskan haknya dan menghibahkannya untuk menjadi milik peserta asuransi.

c. Begitu pula dengan transaksi ribawi sudah dihilangkan dengan cara premi tersebut diinvestasikan hanya dalam instrumen sesuai syariah, seperti deposit di bank syariah juga sukuk.

3. Untuk menilai apakah asuransi profesi dokter sesuai syariah atau tidak, bisa diukur dengan poin-poin di atas. Jika substansi asuransi profesi sesuai dengan asuransi konvensional di poin 1 maka tidak diperkenankan dan jika asuransi profesi sesuai dengan poin 2 maka diperkenankan.

Wallahu a’lam

Bekerja di Lembaga Konvensional


1. Lembaga konvensional terdiri atas 2 bagian:

a. Perusahaan atau entitas yang core bisnisnya tidak halal

b.Perusahaan atau entitas yang core bisnisnya bisa produk syariah atau konvensional

▪Untuk perusahaan (entitas) konvensional yang core bisnisnya tidak halal

a. Yaitu perusahaan (entitas) yang kegiatan usahanya mengatur atau memperjual belikan produk yang tidak halal – baik secara langsung ataupun tidak langsung / baik haram karena fisik (seperti babi dan khamr) maupun haram karena nonfisik (seperti pendapatan dari transaksi pinjaman berbunga)-.

b. Di antara contohnya adalah bekerja di bar / diskotik (minuman keras dan asusila), usaha produksi (distribusi) narkoba, mapia korupsi, mapia hukum, bank – khusus – konvensional, usaha produksi pornografi dan pornoaksi, usaha pencucian uang, dan sejenisnya.

c. Menurut fikih, bekerja di usaha-usaha tersebut di atas itu tidak diperkenankan (haram) dalam Islam, termasuk setiap orang yang terlibat dalam usaha tersebut juga tidak diperkenankan dalam Islam.

d. Contohnya dalam masalah riba,

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Dari Jabir, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, Pemberi riba, pencatat, dan saksinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mereka itu dosanya sama.’” (HR. Muslim)

▫Begitu pula dalam masalah risywah,

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِوٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: ( لَعَنَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم اَلرَّاشِي وَالْمُرْتَشِيَ

Dari Abdullah Ibnu Amar Ibnu al-‘Ash Radliyallaahu ‘anhu bahwa ” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melaknat orang yang memberi dan menerima suap”. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

▫Begitu pula dalam bab-bab lain, Allah tidak hanya mengharamkan pelakunya langsung, tetapi juga pelaku tidak langsung. Sesuai dengan kaidah sadduz zari’ah ( سد الذريعة ), meniadakan atau menutup jalan yang menuju kepada perbuatan yang terlarang.

▪lembaga Fikih Islam Organisasi Konferensi Islam (OKI) termasuk diantara yang berpendapat bahwa dana tersebut dikategorikan dana haram sebagaimana dilansir dalam Keputusannya no. 7/1/65, pada perteman ke 7 sebagai berikut :

أَنَّهُ لَا خِلَافَ فِيْ حُرْمَةِ الْإِسْهَامِ فِي شَرِكَاتٍ غَرْضُهَا الْأَسَاسِيُّ مُحَرَّمٌ،كَالتَّعَامُلِ بِالرِّبَا أَوْ إِنْتَاجِ الْمُحَرَّمَاتِ أَوْ الْمُتَاجَرَةِ بِهَا. وَالَأَصْلُ حَرْمَةُ الإِسْهَاِم فِيْ شَركِاَتٍ تَتَعَامَلُ أَحْيَانًا بِالْمُحَرَّمَاتِ، كَالرِّبَا وَنَحْوَهُ، بِالرَّغْمِ مِنْ أَنَّ أَنْشِطَتَهَا الْأَسَاسِيَّةَ مَشْرُوْعَةٌ

“Bahwa tidak ada perbedaan pendapat bahwa membeli saham pada perusahaan yang kegiatan utamanya melakukan usaha yang haram, seperti transaksi ribawi, memproduksi barang yang haram, jual beli barang yang haram. Pada prinsipnya, haram membeli saham pada perusahaan yang kadang- kadang melakukan transaksi yang haram seperti transaksi ribawi dan sejenisnya, walaupun kegiatan utama perusahaan tersebut itu adalah usaha yang halal.”

© Diantara dalil (istisyhad) yang digunakan adalah kaidah fikih berikut :

“إِذَا اجْتَمَعَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ غُلِّبَ الْحَرَامُ”.

“Jika ada dana halal dan haram bercampur, maka menjadi dana haram.”

® Sesuai kaidah fikih ini, jika dana halal bercampur dengan dana haram, maka hukum haram lebih diunggulkan dan menjadi hukum keseluruhan dana tersebut.

▪Bagian kedua : Bekerja di lembaga atau entitas atau perusahaan yang core bisnisnya bergerak dalam bidang usaha konvensional dan usaha syariah.

a. Seperti halnya beberapa divisi di kementrian keuangan yang mengatur konvensional dan syariah. Begitu pula di bank umum yang mengatur kegiatan konvensional dan unit usaha syariah. Demikian pula di Bank Indonesia yang mengatur bank syariah dan bank konvensional.

b.Jika ditelaah, ada beberapa pendapat dari para ulama terkait hal ini:

1. Pendapat pertama dibagi dalam dua kondisi:

© Kondisi pertama, jika keterlibatan atau bekerja di perusahaan tersebut on mission (membawa nilai-nilai Islam) dengan menempati posisi-posisi strategis, seperti bagian treasury, dengan misi bisa membawa nilai Islam atau memberikan kebijakan untuk memperluan kewenangan syariah di unit syariah, misalnya, maka terlibatannya dalam usaha ini diperkenankan sesuai dengan kaidah

ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

“Jika sebuah kewajiban tidak terlaksana kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu wajib pula hukumnya.”

® Kondisi kedua, jika keterlibatannya hanya mencari ma’isyah atau pendapatan maka tidak diperkenankan kecuali dalam kondisi darurat dengan 2 parameter: tidak ada alternatif usaha lain yang halal dan pekerjaannya di entitas tersebut untuk memenuhi kebutuhan yang wajib pula, seperti kewajiban keluarga dan anak-anak. Hal ini sesuai dengan kaidah

الـــضَرُوْرَاتُ تُبِيْحُ المَحْـــــــظُوْرَاتِ

“Kemudharatan-kemudharatan itu membolehkan hal-hal yang dilarang.”

مَا اُبِيــــــْحُ لِلضَّرُوْرَةِ يُقَــــدَّرُ بِقَدَرِهَا

“Apa yang dibolehkan karena adanya kemudharatan diukur menurut kadar kemudharatan.”

2. Pendapat kedua, bekerja di entitas ini sudah menjadi umumul balwa (suatu praktik yang tidak bisa dihindarkan) bahkan sistem ini sekarang menjadi sistem yang mengakar. Oleh karena itu, jika kita hukumi bahwa seluruh orang yang terlibat dalam kegiatan perekonomian harus resign dan meninggalkan pekerjaannya, hal itu akan melumpuhkan seluruh perekonomian, tidak hanya konvensional, tetapi juga syariah.

Dengan demikian, berdasarkan umumul balwa ini, diperbolehkan untuk bekerja di entitas ini sesuai dengan kaidah umumul balwa. Banyak para ulama yang menegaskan tentang hal ini, beberapa ulama diantaranya :

▪Ibnu Nujaim menjelaskan sebagai berikut :

قَالَ ابْنُ نُجَيْم الْحَنَفِيّ : أَمَّا مَسْأَلَةُ مَا إِذَا اخْتَلَطَ الْحَلَالُ بِالْحَرَامِ فِيْ الْبَلَدِ، فَإِنَّهُ يَجُوْزُ الشِّرَاءُ وَالْأَخْذُ إِلَّا أَنْ تَقُوْمَ دِلَالَةٌ عَلَى أَنَّهُ مِنَ الْحَرَامِ.

“Jika terjadi di sebuah negara, dana halal bercampur dengan dana haram, maka dana tersebut boleh dibeli dan diambil, kecuali jika ada bukti bahwa dana tersebut itu haram.”

▪An-Nawawi menjelaskan sebagai berikut:

قَالَ النَّوِوِيّ : اَلْخلْطُ فِيْ الْبَلَدِ حَرَامٌ لَّا يَنْحَصِرُ بِحَلاَلٍ يَنْحَصِرُ لَمْ يَحرُمْ الشِّرَاءُ مِنْهُ بَلْ يَجُوْزُ الْأَخْذُ مِنْهُ إِلَّا أَنَّ يَقْتَرِنَ بِتِلْكَ الْعَيْنِ عَلَامَةٌ تَدُلُّ عَلَى أَنَّهَا مِنَ الْحَرَامِ فَإِنَّ لَمْ يَقْتَرِنْ فَلَيْسَ بِحَرَامٍ ,وَلَكِنْ تَرْكُهُ وَرْعٌ مَحْبُوْبٌ وَكُلَّمَا كَثُرَ الْحَرَامُ تَأَكَّدَ الْوَرْعُ.

“Jika terjadi di sebuah negara, dana haram yang tidak terbatas bercampur dengan dana halal yang terbatas, maka dana tersebut boleh dibeli, bahkan boleh diambil kecuali ada bukti bahwa dana tersebut bersumber dari dana haram, jika tidak ada bukti, maka tidak haram. Tetapi meninggalkan perbuatan tersebut itu dicintai Allah Swt., setiap kali dana haram itu banyak, maka harus disikapi dengan wara’.”

▪Ibnu Taimiyah menjelaskan sebagai berikut:

فَأَمَّا الْمُتَعَامِلُ بِالرِّبَا فَالْغَالِبُ عَلَى مَالِهِ الْحَلَالُ، إِلَّا أّنْ يُّعْرَفَ الْكُرْهُ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ، وَذَلكَ أَنَّهُ إِذَا بَاعَ أَلْفًا بِأَلْفٍ وَمِائَتَيْنِ، فَالزِّيَادَةُ هِيَ الْمُحَرَّمَةُ فَقًطْ، وَإِذَا كَانَ فِيْ مَالِهِ حَلَالٌ وَحَرَامٌ وَاخْتَلَطَ لَمْ يَحْرُمْ الْحَلَالُ بَلْ لَهُ أَنْ يَّأْخُذَ قَدْرَ الْحَلَالِ كَمَا لَوْ كَانَ الْمَالُ لِشَرِيْكَيْنِ، فَاخْتَلَطَ مَالُ أَحَدِهِمَا بِمَالِ الْآخَر فَاِنَّهُ يُقَسَّمُ بَيْنَ الشَّرِيْكَيْنِ ) . . وَكَذَلِكَ مَنْ اخْتَلَطَ بِمَالِهِ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ، أُخْرِجَ قَدْرُ الْحَرَامِ وَالْبَاقِي حَلَالٌ لَهُ ( )

“Adapun orang yang bertransaksi secara ribawi, maka yang dominan adalah halal kecuali diketahui bahwa yang dominan adalah makruh. Karena jika sesorang menjual 1000 seharga 1.200, maka yang haram adalah marginnya saja.

© Jika pendapatannya terdiri dari dana halal dan haram yang bercampur, maka bagian yang haram ini tidak mengharamkan bagian yang halal. ia bisa mengambil bagian yang halal tersebut, sebagaimana jika dana miliki dua orang syarik, dana syirkah telah bercampur dan menjadi milik keduanya, maka dana tersebut dibagi kepada dua syarik tersebut.

® Begitu pula dana halal bercampur dengan dana haram, maka prosentase dana haram dikeluarkan, maka sisanya adalah dana halal.

3. Dengan demikian, maka bisa kita simpulkan bahwa bekerja di perusahaan atau entitas yang core bisnisnya tidak halal itu tidak diperkenankan dalam Islam. Tetapi jika bekerja di perusahaan atau entitas yang kegiatan usahanya adalah usaha yang halal dan juga melakukan usaha yang tidak halal, maka para ulama berbeda pendapat.

▪Pendapat pertama, jika bekerja di perusahaan tersebut on mission itu diperkenankan. Namun, jika bekerja diperusahaan tersebut bukan on mission tetapi mencari pendapatan semata, maka tidak diperkenankan. Kecuali dalam kondisi darurat yaitu tidak ada alternatif lain yang halal dan pendapatannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang mubah dan wajib.

▪Pendapat kedua, itu diperkenankan karena ada umumul balwa (sesuatu yang tidak bisa dihindarkan).

Wallahu a’lam

Poligami….


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
afwan mau bertanya..saat ini kondisi saudara saya sedang lemah. Suaminya bersikeras ingin poligami atas dasar iba dg wanita lain teman kerja..janda anak 2, masih muda dan punya usaha sendiri. suaminya iba karena sering mendengar curhatan perempuan tsb. hingga memutuskn untuk menghalalkn hubungannya saja. suaminya selalu mendoktrin istrinya untuk menerima niatan poligaminya dg alasan..”ingin memberikan jannah untuk istrinya tsb”. istrinya orang baik, walaupun dia merasa sangat sakit bahkan sudah tak terasa air matanya sering menetes akhirnya mengizinkan suaminya berpoligami atas dasar mengalah saja demi anak2 dan agar suaminya bahagia..

mendengar keputusan itu bapa dari istrinya marah..sampai tak sadarkan diri, linglung dan dibawa ke RS..ibu dari istri nya pun punya penyakit jantung. namun suaminya ttp bersikeras atas nama jannah…

pertanyaan saya bagaimana seharusnya ustadz meluruskan kembali suaminya..dan bagaimana tafsir dari qs. dalam al quran.mengenai poligami..
syukron jazaakillah..🙏🏻

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
1. Menurut fikih, poligami bisa dilakukan oleh suami jika mampu bersikap adil, punya kemampuan finansial untuk membiaya seluruh isteri2 dan anak2nya, keluarga yang pertama tidak terbengkalai

2. Jika tidak terpenuhi, maka tidak diperkenankan untuk poligami

3. Dalam kasus dalam soal, ;
Isteri memperkuat ruhiah dan maknawiah kepada allah swt agat bisa bersabar dan tsabat

4. Suami dan isteri perlu dialog bisa langsung atau menyertakan ortu.
Boleh jadi alasan suami poligami bukan yang terucap, tetapi ada hal lain; misalnya isteri tidak bisa menunaikan kewajibannya sebagai isteri dan ibu dari anak2…., karena itu suami memilih poligami.

5. Tetapi jika motiv suami hanya kasihan pada wanita lain, atau mungkin (syahwat), maka bisa dingatkan dengan pertemuan langsung atau sesama ortu. Diingatkan dengan masa depan anak2, masa depan keluarga,, dan seterusnya

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA