Al-Quran Obat Fisik dan Jiwa

Hukum Membaca Basmallah Di Tengah-tengah Surat

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, ada diantara imam yang jika membaca surah yang mulainya di tengah surah misalnya Q.S Al-Baqarah yang dibacanya ayat 21 dan seterusnnya. Lalu dimulai dengan membaca Bismillaahirrahmaanir rahiiim Yaa Ayyuhannaasu’ buduu rabbakumulladzii … dstnya, demikian kalau di surah lain. Apakah boleh di mulai dengan Basmalah dulu?

Sementara yang saya ketahui yang dibaca itu Ta’aawudz bukan basmalah. Basmalah dibaca setiap awal surah kecuali surah At-taubah. Bagaimana ust. mohon pencerahannya ?

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Hal itu diperselisihkan, ada yang mengatakan sunnah dan ada pula: tidak sunnah. Tapi, tidak ada yang mengatakan terlarang.

Imam As Suyuthi Rahimahullah menjelaskan:

فَإِنْ قَرَأَ مِنْ أَثْنَاءِ سُورَةٍ اسْتُحِبَّتْ لَهُ أَيْضًا نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِيمَا نَقَلَهُ الْعُبَادِيُّ

Jika membaca basmalah di tengah surah, itu juga disunnahkan baginya, hal itu dikatakan oleh Imam asy Syafi’i, seperti yang dikutip oleh Al ‘Ibadiy. (Al Itqan fi ‘Ulumil Quran, jilid. 1, hal. 275)

Hal serupa juga dikatakan oleh Imam Badruddin Az Zarkasyi Rahimahullah dalam Al Burhan fi ‘Ulumil Quran, jilid. 1, hal. 386.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Menggerakkan Lisan Ketika Membaca Al Quran

Keutamaan Membaca dan Menghafal AlQur’an

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, kira2 ketika kita sdh hafal suatu surat lalu kita selalu membacanya dg melihat mushaf apakah akan hilang hafalannya atau tdk ya… sebab kan lbh baik tilawah dg melihat mushaf…🙏 A/34

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setiawan, SHI

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Banyak sekali riwayat hadis yang menjelaskan keutamaan membaca Al-Qur’an . Bahkan Allah Ta’ala mengganjar 1 huruf Al-Qur’an yang dibaca sama dengan 10 kebaikan.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa membaca Al-Qur’an dengan melihat mushaf (lembaran kitab) lebih utama daripada membaca Qur’an tanpa mushaf.

Rasulullah SAW bersabda:

عَن عُثمَانَ بنِ عَبدِ اللٌهِ بنِ اَوسِ الثٌقَفيِ رَضَيِ اللٌهُ عَنهُ عَن جَدٌهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صَلَي اللٌهُ عَلَيهِ وَسَلَمَ قِراَءةُ الٌرَجُلِ القُرانَ فيِ غَيرش الُصحَفِ ألفُ دَرَجَةٍ وَقِرَاَءتُه فيِ الصُحَفِ تَضُعَفُ عَلى ذَالِكَ اِل ألفَي دَرَجَةٍ. (رواه البيهقي في شعب الإيمان)

Dari Utsman bin Abdullah bin Aus ats Tsaqafi RA dari kakeknya, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Bacaan Al-Qur’an seseorang tanpa melihat mushaf adalah seribu derajat (pahalanya), dan bacaannya dengan melihat mushaf adalah dilipatkan sampai dua ribu derajat.” (HR. Al-Baihaqi-Syu’abul Iman)

Hadis ini memunculkan perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama berpendapat bahwa membaca Al-Qur’an dengan melihat mushaf adalah lebih utama, karena mata akan selalu melihat Al-Qur’an, sehingga terhindar dari kesalahan dalam pembacaan.

Sedangkan sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa membaca Al-Qur’an melalui hafalan itu lebih utama, karena akan lebih khusyu’ dan dapat terhindar dari sifat riya, dan itu adalah kebiasaan Rasulullah SAW .

Imam Nawawi menyatakan kedua-duanya baik dan bergantung pada keadaan si pembaca. Sebagian orang ada yang lebih konsentrasi jika membacanya dengan melihat mushaf. Sebagian lainnya merasa lebih konsentrasi jika membacanya dengan hafalan.

Hafizh Ibnu Hajar menulis dalam Fathul-Bari bahwa penjelasan itulah yang dia setujui. Diceritakan bahwa sangkin seringnya Utsman bin Affan membaca Al-Qur’an, maka dua mushaf Al-Qur’an telah robek. Amr bin Maimun meriwayatkan dalam Syarh Ihya bahwa seseorang yang membuka Al-Qur’an setelah salat Shubuh dan membacanya seratus ayat, maka akan ditulis baginya pahala seisi dunia ini.

Disebutkan bahwa membaca Al-Qur’an dengan melihat mushaf sangat bermanfaat bagi penglihatan. Diriwayatkan dari Abu Ubaidah sebuah hadis musalsal yang setiap perawinya berkata bahwa mereka mengalami gangguan penglihatan. Lalu, guru-guru mereka menasihati agar selalu membaca Al-Qur’an dengan melihatnya.

Untuk diketahui, menurut Imam Syafi’i, Al-Qur’an terdiri dari 114 surat dan 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu) huruf. Bisa dibayangkan, jika 1 huruf diganjar dengan pahala 10 kebaikan, maka berapa kebaikan (hasanah) yang kita dapat ketika kita membaca dan mengkhatamkannya. Semoga Allah menjadikan kita ahlul Qur’an dan bisa mengamalkannya.

Namun perlu diingat juga bahwa membaca Al-Qur’an dengan hafalan akan memperkuat hafalan kita, dan itu wajib dilakukan sebagai upaya menjaga hafalan. Jika membaca Al-Qur’an dengan melihat mushaf memberi manfaat/pahala bagi mata, maka membaca Al-Qur’an dengan hafalan akan memberi manfaat/pahala bagi memori/otak kita. Keduanya baik, maka lakukan dengan seimbang. Pahala adalah urusan Allah. Wallahu A’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allahu Robbul Alamin

Ustadz Menjawab: Mengapa “langit” disebutkan lebih dulu dari pada “bumi” di dalam Al-Quran?

Pertanyaan

Salam.. Ada yg tau tidak kenapa Di ayat yg ada  kalimat layli wannahar, atau pun samawati wal ardh, kenapa duluan disebut layli, tdak ada yg duluan disebut nahar gituu,, begitu juga samaawaati wal ardh, sepertinya belum pernah ardhnya duluan,  apa ada alasan trtentu gtu ? (I # 24)

Jawaban

Oleh: Ustadz Ahmad Sahal Lc.

Kata as-samaawaat atau as-samaa dan al-ardh biasanya disebutkan oleh Al-Quran dalam konteks pembicaraan tentang tanda-tanda keagungan Allah, keesaan dan kekuasaan-Nya. Dan sudah kita ketahui bahwa tanda-tanda itu lebih banyak di langit karena ia jauh lebih luas dan menakjubkan dari pada bumi. Oleh karena itu ia layak didahulukan dari pada bumi.

Tetapi ada juga ayat yang mendahulukan penyebutan bumi sebelum langit seperti surat Yunus ayat 61:

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan KAMI MENJADI SAKSI ATASMU DI WAKTU KAMU MELAKUKANNYA. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di BUMI ataupun di LANGIT. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata. (QS. Yunus: 61).

Sebabnya adalah:
Karena konteks pembicaraan pada ayat itu tentang peringatan dan ancaman kepada manusia yang tinggal di bumi bahwa semua yang mereka lakukan besar maupun kecil tidak akan luput dari catatan dan pengawasan Allah ta’ala. Maka penyebutan bumi sebagai tempat hidup manusia layak didahulukan dari pada langit.

Ada ada ayat yang mirip lafalnya seperti Yunus 61 di atas tetapi kata langit tetap di dahulukan dari kata bumi, yaitu surat Saba ayat 3. Mengapa?

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَأْتِينَا السَّاعَةُ قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتَأْتِيَنَّكُمْ عَالِمِ الْغَيْبِ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan orang-orang yang kafir berkata: “HARI KIAMAT itu tidak akan datang kepada kami”. Katakanlah: “Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya KIAMAT ITU PASTI AKAN DATANG kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di LANGIT dan yang ada di BUMI dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata.” (QS. Saba: 3).

Karena konteks pembicaraannya tentang hari kiamat, dimana kehancuran dunia didahului oleh kehancuran langit dan benda langit selain bumi, sehingga penyebutan langit di dahului dari pada bumi.

(Diringkas dari Bada-i’ Al-Fawaid, Ibnul Qayim, 1/74).

Mengapa Malam Didahulukan Daripada Siang?

Karena sebelum penciptaan makhluk yang menjadi sumber cahaya, terang itu belum ada. Dapat dikatakan bahwa gelap atau malam lebih dulu ada dari pada terang atau siang.

Tetapi ada rangkaian ayat yang mendahulukan siang dari pada malam seperti awal mula surat Asy-Syams:

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا (1) وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا (2) وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا (3) وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا (4)

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari. Dan bulan apabila mengiringinya. Dan siang apabila menampakkannya. Dan malam apabila menutupinya..

Dalam surat ini siang didahulukan dari malam, karena matahari disebutkan lebih dulu dari bulan. Juga karena surat ini berbicara tentang tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dimana Allah menghendaki jiwa kita terang, dan tidak menghendaki pengotoran jiwa (tadsiyatun nafs) yang menyebabkan gelapnya jiwa. Wallahu a’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678