logo manis4

Hukum Kay (Pengobatan dengan memanaskan atau membakar besi)

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, izin bertanya.. Bagaimana hukum berobat dengan benda yang dipanaskan? Misalnya logam yang dipanaskan. Terima kasih atas jawabannya 🙏 A-33

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim..

Itu namanya kay, yaitu pengobatan dengan memanaskan atau membakar besi.

Hal ini diperselisihkan ulama, sebagian mengatakan boleh tapi makruh, berdasarkan hadits berikut:

عن جَابِر بْن عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنْ كَانَ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ أَوْ يَكُونُ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ خَيْرٌ فَفِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ أَوْ لَذْعَةٍ بِنَارٍ تُوَافِقُ الدَّاءَ وَمَا أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِيَ

Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhuma berkata; saya mendengar Nabi ﷺ bersabda, “Sekiranya ada obat yang baik untuk kalian atau ada sesuatu yang baik untuk kalian jadikan obat, maka itu terdapat pada bekam atau minum madu atau sengatan api panas (terapi dengan menempelkan besi panas di daerah yang luka) dan saya tidak menyukai kay.”

(HR. Bukhari no. 5683)

Hadits lainnya:

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ
نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْكَيِّ فَاكْتَوَيْنَا فَمَا أَفْلَحْنَ وَلَا أَنْجَحْنَ
قَالَ أَبُو دَاوُد وَكَانَ يَسْمَعُ تَسْلِيمَ الْمَلَائِكَةِ فَلَمَّا اكْتَوَى انْقَطَعَ عَنْهُ فَلَمَّا تَرَكَ رَجَعَ إِلَيْهِ

dari Imran bin Hushain ia berkata, “Nabi ﷺ melarang dari kay (pengobatan dengan sengatan besi panas), kemudian kami melakukan kay, maka kay itu tidak beruntung dan tidak berhasil.” Abu Daud berkata, “Rasulullah ﷺ mendengar salam para malaikat, ketika beliau melakukan kay suara itu hilang, dan ketika beliau meninggalkan pengobatan kay, beliau dapat mendengar suara Malaikat kembali.”

(HR. Abu Daud no. 3865, dishahihkan oleh Syaikh Syuaib al Arnauth, Syaikh al Albani, dll)

Menurut Imam Ibnul Qayyim – mengutip dari Imam Abu Abdillah Al Maziri- bhwa hadits-hadits ini menunjukkan berobat dengan kay adalah pilihan terakhir jika memang sudah mendesak, dan jangan terburu-buru berobat dengannya sebab di dalamnya akan terjadi rasa sakit yang kuat, yang akan melemahkan penyakit, karena kalah oleh sakitnya kay. *(Ath Thibb An Nabawi, hal. 40)*

Imam Al Munawi mengatakan tentang alasan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menyukai kay, karena rasa sakitnya yang lebih sakit dari penyakitnya itu sendiri, dan itu bentuk siksaan dengan menggunakan siksaannya Allah (yaitu dengan api). *(At Tanwir Syarh Al Jaami’ Ash Shaghir, 4/243)*

Imam Ibnul ‘Arabi mengatakan bahwa sebagian ulama memahami larangan ini sebagai larangan adab dan arahan agar bertawakkal kepada Allah dan percaya kepadaNya, tidak ada penyembuh kecuali Dia, dan tidak terjadi apa-apa kecuali sesuai kehendakNya. Segolongan sahabat nabi dan salafush shalih melakukan kay. Qais bin Abu Hazim bercerita bahwa Khabbab melakukan kay tujuh kali di perutnya. *(Al Masalik fi Syarh Muwaththa’ Malik, 7/461)*

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Hukum Transaksi Over Kredit Rumah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz.. izin bertanya,
Ada tetangga rumah yang mau menjual rumahnya. Tetapi rumah ini masih dalam masa mencicil/mengangsur di bank konvensional.
Di menawarkan 2 opsi:
1. Pembeli membayar kontan dengan nominal yang dia tawarkan, nanti selanjutnya rumah akan di lunasi oleh penjual.

2. Over kredit , hanya memberi DP yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak dan untuk cicilannya di lanjutkan oleh pihak pembeli.

Perlu di ketahui sebenarnya pembeli ingin mengambil opsi pertama (1) membeli dengan cash/kontan tetapi tidak memiliki uang kontan tersebut. Opsi ke 2 lah yang lebih memungkinkan.

Pertanyaannya :
Bagiamana hukum nya jika mengambil opsi ke 2 dengan alasan seperti di atas.

Terima kasih Ustadz..

I-9

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Dr. Oni Sahroni, MA

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Salah satu solusinya adalah take over, tetapi calon pembeli mensyaratkan kepada calon penjual (nasabah bank konvensional) untuk men take over, tetapi dengan syarat melibatkan bank syariah, sehingga selanjutnya pembeli akan mengangsur rumahnya tidak lagi ke bank konvensional, tetapi ke bank syariah.

Jadi kesimpulannya oper kredit tidak diperbolehkan, karena dengan oper kredit berarti akan mengansur rumah tersebut ke bank konvensional. Jadi take over dengan syarat melibatkan bank syariah dan pembeli. Selanjutnya setelah take over, kemudian mengansur rumah tersebut ke bank syariah.

Untuk lebih detailnya bisa dilihat tulisan terkait di link berikut:

Take over dari konvensional ke syariah

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Dahulukan Nafkah Istri dan Anak atau Orang Tua?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, ada salah satu ustadz yang mengatakan kalau untuk nafkah yang harus diutamakan anak laki-laki adalah orang tua baru setelah itu istri dan anaknya, ustadz tersebut mengambil dalil surat Al-Baqarah ayat 215 …قُلْ مَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ… Bagaimana menurut ustadz Farid terkait hal tersebut? Apakah benar urutannya seperti itu?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Suami wajib menafkahi istri dan anaknya (QS. An Nisa: 34), menurut Al Qurthubi karena itulah laki-laki disebut qawwam, tanpanya tidak layak disebut qawwam. (Al Qurthubi, 5/169)

Di sisi lain, laki-laki masih wajib ngurusin orang tuanya, bahkan dirinya dan hartanya adalah milik orang tuanya. Sebagaimana hadits Abu Daud dan Ahmad. Tapi, itu bukan berarti orang tua bebas mengeruk harta anaknya sampai anak menjadi miskin.

Intinya, jangan durhaka kepada orang tua, dan wajib nafkah kepada istri dan anak. Jika kedua sisi sudah mendapatkan haknya dengan baik, Insya Allah tidak ada benturan.

Istri harus paham bahwa suaminya masih berkewajiban ngurus orang tuanya dan itu jihad bagi si anak.

Orang tua juga harus maklum bahwa anaknya sudah ada tanggungan yang tidak mungkin ditinggalkan, dan itu juga jihad bagi dia.

Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Dallas bersabda:

إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Jika ia keluar bekerja untuk nafkah anak-anaknya yang masih kecil, tentu dia berada di fisabillah. Jika ia keluar bekerja untuk menafkahi dua ibu-bapaknya yang sudah tua, tentu ia berada fisabillah. (HR. Ath Thabarani, dalam Al Kabir. Shahih. Lihat Shahihul Jami’ no. 1428)

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Hukum SHU dari Koperasi Apakah Halal atau Haram?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saya ingin bertanya, jadi saya itu menabung dikoperasi kantor. nah uang tersebut dikelola untuk kegiatan jual beli koperasi (koperasi menjual sembako dll).
nah setiap tahun, saya diberikan komisi dari hasil jual beli tersebut.
apakah komisi tersebut halal atau haram?
Selain untuk jual beli sembako, uangnya juga untuk dihutangkan dan ada bunganya
terimakasih
A-43

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setiawan S.HI

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Pada dasarnya sistem koperasi lahir dari semangat gotong-royong yang bermuara pada keuntungan bagi anggotanya. Setiap anggota dengan terorganisir lewat wadah koperasi, bisa lebih berdaya dalam mencapai tujuan-tujuan ekonominya.

Adapun koperasi dalam kajian fiqih bisa ditarik ke dalam bab Syirkah. Syirkah merupakan hak milik dua atau lebih orang atas sebuah barang. Bisa dibilang persekutuan beberapa pihak atas sebuah kepemilikan yang diperjualbelikan dengan catatan keuntungan dan risiko kerugian ditanggung bersama sesuai besaran modal yang disetorkan.

Lalu bagaimana dengan kasus yang dipertanyakan di atas? Ada baiknya kita amati keterangan Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu‘in.

فائدة: أفتى النووي كابن الصلاح فيمن غصب نحو نقد أو بر وخلطه بماله ولم يتميز، بأن له إفراز قدر المغصوب، ويحل له التصرف في الباقي

Penjelasan: Imam Nawawi seperti Ibnu Shalah mengeluarkan fatwa perihal orang yang merampas misalnya sebuah mata uang atau benih gandum lalu dicampurkan dengan miliknya hingga tidak bisa dibedakan mana miliknya mana hasil ghasab. Menurut Imam Nawawi, pelaku yang bersangkutan bisa membersihkan hartanya dengan mengeluarkan besaran barang rampasan dan ia halal untuk menggunakan sisanya.

Menguraikan pernyataan itu, Sayid Bakri bin M Sayid Syatha Dimyathi dalam karyanya I‘anatut Tholibin mengatakan.

لو اختلط مثلي حرام كدرهم أو دهن أو حب بمثله له، جاز له أن يعزل قدر الحرام بنية القسمة، ويتصرف في الباقي ويسلم الذي عزله لصاحبه إن وجد، وإلا فلناظر بيت المال. واستقل بالقسمة على خلاف المقرر في الشريك للضرورة إذ الفرض الجهل بالمالك، فاندفع ما قيل يتعين الرفع للقاضي ليقسمه عن المالك. وفي المجموع، طريقه أن يصرفه قدر الحرام إلى ما يجب صرفه فيه، ويتصرف في الباقي بما أراد. ومن هذا اختلاط أو خلط نحو دراهم لجماعة ولم يتميز فطريقه أن يقسم الجميع بينهم على قدر حقوقهم، وزعم العوام أن اختلاط الحلال بالحرام يحرمه باطل. الخ أهـ

Andaikata tercampur barang serupa yang haram seperti dirham, minyak, atau benih-benih dengan harta miliknya, maka ia boleh menyisihkan besaran barang haram itu dengan niat membagi. Dan ia bisa menggunakan sisanya lalu menyerahkan sebagian yang ia sisihkan kepada pemiliknya kalau ada. Kalau pemiliknya tidak ada, baitul mal menjadi alternatifnya. Secara darurat ia sendiri yang membagi karena menyalahi ketentuan yang ditetapkan bersama sekutu lainnya. Karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa kasus ini tentu diangkat ke hakim agar ia mewakili pemilik dalam membaginya, dengan sendirinya teranulir.

Dalam kitab al-Majemuk, Imam Nawawi menunjukkan cara membersihkannya dengan menyerahkan besaran barang haram yang tercampur itu kepada pihak atau lembaga yang berhak menerimanya. Dan ia bisa menggunakan harta sisanya untuk apa saja. Atas dasar ini, tercampur atau mencampurkan seperti dirham milik suatu perkumpulan yang tidak bisa dibedakan antara milik mereka, maka cara pembersihannya ialah harta yang tercampur itu harus dibagikan kepada semua anggota perkumpulan sesuai besaran hak yang mereka miliki.

Adapun dakwaan orang awam sementara ini bahwa bercampurnya harta halal dengan harta haram itu dapat mengubah status harta halal menjadi haram, tidak benar. Demikian keterangan Imam Nawawi.

Dari keterangan di atas, menurut hemat kami SHU yang pengambilannya didasarkan dari hasil perdagangan, maka tidak masalah. Tetapi kalau diambil juga dari simpan-pinjam berdasarkan pada bunga, maka sebaiknya diambil dengan catatan berikut.

Kalau SHU-nya merupakan campuran dari kedua jenis usaha itu baik perdagangan maupun jasa peminjaman dana, maka SHU perdagangan bisa dikenali lewat pembukuannya sehingga dapat diketahui mana SHU perdagangan dan mana SHU jasa peminjaman dana. Dengan pembedaan itu, kita bisa menerima besaran SHU perdagangan dan mengembalikan SHU jasa peminjaman dana.

Lalu bagaimana kalau SHU-nya berupa barang? Menurut hemat kami, kita perlu memperkirakan lebih dahulu berapa besar nominal keuntungan SHU perdagangan. Kalau harga barang lebih mahal dari taksiran keuntungan secara nominal SHU perdagangan, maka kita perlu membayar berapa kekurangannya dari angka keuntungan SHU perdagangan itu. Kurang lebihnya Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jual Beli Emas Perak

Hukum Bisnis MLM

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya… tentang hukum syariah atau kehalalan sistem MLM binari.

Kalo saya browsing di gugel, seperti ini pengertiannya:
Sistem binary plan merupakan sistem MLM yang lebih mengutamakan pengengembangan jaringannya pada dua leg saja. Bonus yang akan didapatkan akan semakin besar jika jaringan tersebut bisa semakin seimbang. Sebaliknya, jika tidak ada keseimbangan, maka bonus-bonus tersebut malah akan mengalir deras ke perusahaan.

Peraturan di MLM X, adalah sebagai berikut:
– MLM Sistem Binary
– Ada produk yang dijual: sabun dan serum.
– tanpa autosave, tanpa auto reward, tanpa tutup poin, tanpa target, tanpa wajib belanja bulanan.
– Member seumur hidup, poin diakumulasi terus, semua reward berupa uang, bukan barang.
– Marketing Plan:
1. Bonus Sponsor, yaitu bonus ketika berhasil mendistribusikan 1 paket produk, maka akan mendapat bonus 50.000
Contoh:
Saya menyeponsori rekrutan saya yaitu si A, B, C, D, E, dan F. Maka, dari masing-masing saya dapat bonus @50.000, jadi saya dapat bonus total 300.000.
2. Ketika berhasil mengajak teman untuk gabung, juga dapat bonus @50.000.
3. Bonus pasangan yaitu bonus yang saya terima ketika terjadi pasangan downline di kaki kiri dan kaki kanan, maka dapat bonus 20.000.
4. Bonus reward, bonus yang saya Terima jika jumlah titik RO quality downline seimbang kanan-kiri. Reward nya:
– 10 kiri & 10 kanan, dapat bonus uang senilai 750rb.
– 699 kiri dan 699 kanan, uang senilai 20 juta.
– 5999 kiri dan 5999 kanan, uang senilai 150juta.

A/29

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz DR Oni Sahroni, MA

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Pertama, kesimpulannya jika ingin bertransaksi dan bermitra dengan perusahaan MLM, maka hanya bermitra dengan perusahaan MLM yang telah mendapatkan izin dan sertifikat dari otoritas DSN-MUI.

Kedua, boleh bertransaksi, menjadi mitra, member, agen atau lainnya di perusahaan multi level marketing yang mendapatkan izin operasional dari otoritas, dari asosiasi, dari LPPOM MUI dan DSN MUI. Jika sudah ada izin dari empat otoritas tersebut, maka menurut saya diperkenankan.

Ketiga, kenapa harus ada izin dari otoritas? agar usaha tersebut diawasi. Kenapa harus ada izin dari asosiasi? agar tidak ada unsur skema money game dalam praktiknya. Kenapa harus ada izin dari LPPOM MUI? agar obyek yang diperjualbelikan seperti minuman kesehatan atau kaosmetik itu halal. Kenapa harus ada izin dari DSN MUI? supaya terhindar dari ketidakpastian (gharar) dan lainnya atau termasuk dalam skema piramida.

Keempat, sederhananya beberapa kriteria tentang MLM tersebut itu dituangkan dalam fatwa DSN MUI Nomor 75/DSN-MUI/VII/2009 tentang Pedoman Penjualan Langsung Berjenjang Syariah.

Untuk lebih detailnya bisa dilihat tulisan terkait di link berikut:

Kriteria MLM Syariah

 

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Membayar Utang Riba

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bagaimana hukumnya membayar utang riba (utang yang bercampur riba di dalamnya)? Apakah tetap wajib atau ada mekanisme lainnya?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jika sudah ada duit, langsung lunaskan. Hutang tetap hutang.. Jika dia tidak mau bayar karena ada ribanya, maka dia melakukan dua kesalahan.. Yaitu riba itu sendiri dan tidak mau bayar hutang.

Sebagian orang penggiat anti riba, ada yang memberikan contoh tidak baik ketika mereka terjerat riba, bukan ‘jentel’ melunasinya tapi malah lari dari kewajiban.. Sehingga ada citra buruk, seolah penggiat anti riba adalah orang-orang yang memang secara muamalah dengan banknya bermasalah, seakan aktifitas anti ribanya dianggap pelarian saja.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

uang takziyah

Apakah Uang Takziyah Termasuk Harta Waris?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, Jika seorang bapak meninggal lalu saat acara takziyah terkumpul dana tali asih dari para pentakziyah, pertanyaannya jika pengurusan jenazah sudah diselesaikan, apakah uang sisa itu termasuk uang yang diwariskan?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Uang takziyah, statusnya sama dengan hibah untuk keluarga yang sedang kesulitan dan Musibah. Pemanfaatannya yang di utamakan adalah untuk pengurusan jenazah, jika masih ada sisa maka itu untuk keluarganya, dan keluarganya boleh memanfaatkan untuk hal-hal bermanfaat lainnya.

Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ dikala Ja’far bin Abi Thalib wafat:

اصْنَعُوا لِأَهْلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ

“Buatkanlah makanan untuk KELUARGA Ja’far, sungguh telah datang kepada mereka sesuatu yang menyibukkannya.” (HR. At Tirmidzi no. 998, hasan)

Itu bukan harta warisan, sebab harta warisan adalah peninggalan yang dimiliki oleh yang wafat saat dia masih hidup, bukan hibah saat dia sudah wafat.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Zakat dari Tabungan Haji

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah uang tabungan haji di bank jika sudah genap setahun atau setiap tahunnya wajib dikeluarkan zakatnya?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Salah satu sifat harta yang wajib zakat adalah milkut taam (dalam kuasa penuh pemiliknya). Jika harta tersebut ditangan orang lain, baik dalam bentuk piutang, atau untuk membayar sesuatu maka itu tidak kena zakat.

Untuk Tabungan haji, perlu diperinci. Jika sudah disetorkan, maka tidaklah termasuk harta yang wajib zakat, sudah tidak dalam kuasa penuh pemiliknya.

Tapi tabungan haji jika masih disimpen sendiri, belum dibayarkan sebagai ONH, maka itu wajib zakat karena masih milkut taam, dengan syarat JIKA sudah nishab (setara harga 85 gr emas) dan haul (satu tahun).

ONH di Indonesia sepertinya jauh dari nishab, masih di bawah 40 jt, maka ini belum kena zakat. Jika kira-kira harga 1 gr emas saat ini adalah 800 ribu, maka nishab 800rb X 85= 68 jt.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

cropped-logo-manis-1.png

Hukum Mencabut Alat Pasien ICU yang Sudah Divonis Mati.

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, ada kasus kondisi pasien yang di ICU sudah tergantung dengan alat, dan dokter sudah memvonis bahwa pasien tsb sudah mati batang otak, nah bagaimana hukumnya jika keluarga mengambil langkah untuk mencabut alat yang terpasang di tubuh pasien? Apakah hal tersebut sama dengan membunuh pasien?

 

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Boleh,.. Jangan dikira dengan memasang alat-alat itu adalah menolongnya, justru itu mempersulit kehidupannya

Biarlah dia wafat dengan cara yang alami, jika memang dokter terpercaya sudah mengatakan hakikatnya sudah wafat.

Para ulama seperti Syaikh al Qaradhawi dan lainnya mengatakan tidak masalah dicabut, untuk meringankannya. Serta meringankan keluarganya dengan beban biayanya.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Utang

Membeli Rumah Dengan Cara Kredit

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bagaimana hukum Islam dalam Kredit Rumah?
Karna keluarga ini ingin punya rumah sendiri dan hanya mampu utk kredit dan belum mampu utk cash. Apakah ada dalil yang membolehkan atau bagaimana Ustadz? A06

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz DR Oni Sahroni, MA

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Membeli rumah dengan cara kredit dari penjual itu dibolehkan. Misalnya beli rumah satu kavling secara tunai 300 juta, tetapi jika dibeli secara tidak tunai, berangsur cicil itu harganya 400 juta, maka selisih tersebut dibolehkan karena itu bagian dari margin dari hak penjual.

Nah, tetapi yang tidak dibolehkan adalah membeli rumah dengan cara kredit ribawi seperti melalui kredit di bank konvensional karena itu kredit ribawi. Oleh karena itu, saran saya beli dari penjual langsung secara kredit atau beli melalui bank syariah agar kreditnya halal.

Kenapa kredit dari penjual bank syariah atau developer itu halal? Karena sebagaimana hadits Rasulullah Saw.

عن عبد الله بن عمرو أمرني رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أشتري بعيرا ببعيرين إلى أجل (رواه أبو داود والدارقطني والبيهقي)

“Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah Saw meminta saya untuk membeli satu unta dengan dua unta secara tidak tunai”. (HR. Abu Dawud, Daruquthni, dan Baihaqi).

Dan sebagaimana Rasulullah juga membolehkan transaksi salam dan istishna’ di mana dalam kedua transaksi tersebut itu diperjualbelikan secara tidak tunai dengan harga lebih. Sebagaimana hadits Rasulullah dari Ibn ‘Abbas;

مَنْ أَسْلَفَ فِي شَيْءٍ فَفِيْ كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ

“Barang siapa melakukan salaf (salam), hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas, untuk jangka waktu yang diketahui” (HR. Bukhari).

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678