logo manis4

Mengeluarkan Zakat Sebelum Haul, Bolehkah?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya tentang zakat.
1. Bolehkah menghitung zakat harta saat Ramadhan saja?
Bisa jd ada yg sdh sampai haul, bisa jd belum. Hanya agar lbh mudah sj hitungnya sekaligus.
Krn datangnya harta tsb tdk berbarengan. Berangsur² shg sulit ditemukan kpn persisnya mencapai nishob & haul nya.

2. Bgmn cara menghitung zakat perhiasan ?
Sebab hrg perhiasan tdk baku spt hrg emas batangan.
Dikarenakan adanya biaya pembuatan.
Apakah dihitung gram emas nya sj?
Bgmn dg perhiasan yg sdh lama sekali. Bgmn cara menghitungnya dg hrg terkini?

Terima kasih Ustaz

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

1. Zakat dikeluarkan setelah nishab dan haul. Tapi boleh saja dikeluarkan sebelum haul, menurut mayoritas Ulama.

Dari Ali bin Abi Thalib r.a, katanya:

أَنَّ الْعَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي تَعْجِيلِ صَدَقَتِهِ قَبْلَ أَنْ تَحِلَّ فَرَخَّصَ لَهُ فِي ذَلِكَ

Bahwasanya Abbas bin Abdul Muthalib bertanya kepada Rasulullah Saw. dalam hal penyegeraan zakatnya sebelum haul, maka Rasulullah Saw. memberikan keringanan baginya dalam hal itu.

(HR. Abu Daud no. 1624, At Tirmidzi no. 679. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam al Hakim (Al Mustadrak no. 5431), dan disepakati Imam adz Dzahabi)

Hadits ini menunjukkan kebolehan mengeluarkan zakat yang sudah nishab walau belum sempurna masa haulnya.

Namun Imam at Tirmidzi Rahimahullah mengatakan:

وَقَدْ اخْتَلَفَ أَهْلُ العِلْمِ فِي تَعْجِيلِ الزَّكَاةِ قَبْلَ مَحِلِّهَا، فَرَأَى طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ العِلْمِ: أَنْ لاَ يُعَجِّلَهَا، وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ قَالَ: أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ لاَ يُعَجِّلَهَا، وقَالَ أَكْثَرُ أَهْلِ العِلْمِ: إِنْ عَجَّلَهَا قَبْلَ مَحِلِّهَا أَجْزَأَتْ عَنْهُ، وَبِهِ يَقُولُ الشَّافِعِيُّ، وَأَحْمَدُ، وَإِسْحَاقُ

Para ulama berselisih pendapat tentang menyegerakan zakat sebelum haulnya. Segolongan ulama berpendapat tidak boleh, ini pendapat Sufyan ats Tsauri, katanya: “Aku lebih suka tidak menyegerakannya.” Namun mayoritas ulama mengatakan: “Sesungguhnya menyegerakan zakat sebelum haulnya itu sah.” Inilah pendapat Asy Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq.” (Sunan At Tirmidzi, hal. 136. Pernerbit Dar Ibn al jauzi)

Kebolehan ini juga menjadi pendapat Ibnu Umar, Atha, Al Auza’i, Ahmad, dan Ishaq. (Imam Abul Husein al ‘Imrani, Al Bayan fi Madzhab al Imam asy Syafi’i, 3/378)

Imam Abu Hanifah Rahimahullah berkata:

يجوز تقديم الزكاة قبل الحول، ولا يجوز تقديم الكفارة قبل الحنث

Boleh mendahulukan zakat sebelum haulnya, dan tidak boleh mendahulukan kaffarat sebelum sumpahnya. (Ibid, 3/378)

Imam Ali al Qari al Hanafi Rahimahullah, mengutip dari Ibnu Malak:

وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى جَوَازِ تَعْجِيلِ الصَّدَقَةِ بَعْدَ حُصُولِ النِّصَابِ قَبْلَ تَمَامِ الْحَوْلِ

Ini menunjukkan kebolehan menyegerakan sedekah (zakat) setelah mencapai nishab, sebelum sempurnanya haul. (Mirqah al Mafatih, 4/1275)

Selain Sufyan ats Tsauri, Ada pula Imam Malik, Rabi’ah, Daud, Ibnu Hazm, yang melarang hal sebut. (Syaikh Abu Malik Kamal bin As Sayyid Saalim, Shahih Fiqh as Sunnah, 2/64)

Syaikh Abu Malik sendiri merajihkan pendapat mayoritas ulama yaitu boleh. (Ibid, 2/65)

Hikmah dibalik bolehnya penyegaraan ini adalah, seperti yang dikatakan Imam Abul Hasan al Mawardi Rahimahullah:

وَلِأَنَّ الزَّكَاةَ إِنَّمَا تُعَجَّلُ لِلْمَسَاكِينِ رفقاً لهم وَنَظَرًا لَهُمْ

Disegerakannya zakat merupakan wujud kelembutan dan perhatian kepada orang-orang miskin.

(Al Hawi Al Kabir, 3/76)

2. Emas dalam bentuk batangan, lempengan, semua Ulama sepakat itu wajib zakat. Namun emas yang dipakai sebagai perhiasan, diperselisihkan apakah wajib zakat atau tidak. Mayoritas Ulama mengatakan tidak wajib, sebagian mengatakan wajib.

Anggaplah itu wajib, sebagai jalan aman. Sebagaimana hadits:

Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, katanya:

أَنَّ امْرَأَتَيْنِ أَتَتَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي أَيْدِيهِمَا سُوَارَانِ مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ لَهُمَا أَتُؤَدِّيَانِ زَكَاتَهُ قَالَتَا لَا قَالَ فَقَالَ لَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتُحِبَّانِ أَنْ يُسَوِّرَكُمَا اللَّهُ بِسُوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ قَالَتَا لَا قَالَ فَأَدِّيَا زَكَاتَهُ

“Datang dua wanita kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan di tangan mereka berdua terdapat gelang emas. Maka Beliau bersabda kepada keduanya: “Apakah kalian telah menunaikan zakatnya?” mereka berdua menjawab: “Tidak.” Lalu Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada mereka: “Apakah kalian mau Allah akan menggelangkan kalian dari gelang api neraka?” Mereka berdua menjawab: “Tidak.” Maka Nabi bersabda: “Tunaikanlah zakatnya!” (HR. At Tirmidzi No. 637, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 637)

Yg dihitung adalah harga pembelian terkini, bukan harga saat awal beli bbrp th lalu. Harga pembelian tentu mencakup harga emas dan pembuatannya secara satu kesatuan.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Suami Tidak Membantu Pekerjaan Rumah Tangga

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, saya beberapa kali ketemu dengan kasus keluarga. Para suami yang tidak peduli dengan kesibukan istri, yang mana istri juga bekerja membantu mencari nafkah. Sedangkan suami tidak mau sama sekali membantu meringankan pekerjaan rumah tangga. Mohon sarannya bagaimana sebaiknya?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadzah Husna Hidayati, MHI

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Dalam perjalanan hidup berumah tangga pasti ada ujiannya. Kalau bukan kita (istri) yang menjadi ujian bagi suami. Bisa jadi suami juga adalah ujian bagi istrinya. Sebagaimana Allah suratkan dalam al-quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taghabun: 14)

Ini adalah salah satu ujian hidup, bahkan seseorang yang tidak menikah sekalipun juga mendapat ujian dari Allah Subhanahu wa Taala di dunia ini. Hendaklah para istri mencari penyebab sikap yang demikian dari suaminya. Boleh jadi istri yang salah. Kalau demikian, usahakan bisa dicari untuk menghindari penyebabnya. Seringnya muncul permasalahan antara suami istri salah satunya adalah disebabkan komunikasi suami istri yang tidak terbangun dengan baik, komunikasi lebih banyak satu arah, saling memendam persoalan, dsbnya. Sehingga muncul masalah-masalah misalnya kesenjangan dalam mengerjakan beban dalam rumah tangga yang hanya ditangani/menumpuk di satu pihak saja. Dan ini kalau dibiarkan berlarut-larut dapat menjadi bom waktu yang siap meledak dan menghancurkan sebuah rumahtangga, (naudzubillah).

Jika pasangan yang salah, maka nasihati dia dengan lembut, dan pihak yang diberi nasehat juga harus menerima nasehat dan siap memperbaiki diri dan menyadari bahwa, kita adalah dai yang wajib menjalin hubungan suami istri dan keluarga dengan baik. Karena keluarga kita adalah etalase dakwah Islam. Jika yang ditampilkan dalam etalase adalah yang baik, maka ini akan menjadi daya tarik orang untuk menjadi baik. Jika memang watak pasangan yang kurang baik dan memang tidak care terhadap orang lain dalam hal ini terhadap istrinya nasihatilah bila memungkinkan. Jika tidak, mintalah bantuan orang lain atau orangtuanya, barangkali dia bisa disadarkan. Mohonlah kepada Allah agar diberi petunjuk sehingga menyadari kekeliruannya.

Usahakan jangan mencari benar salah ketika berdiskusi dan mencari solusi. Kita hanya bisa bersabar, dan sabar memang tidak ada batasannya, dan mengalah serta memberikan masukan dengan santun tanpa kesan menggurui, demikianlah Islam mengajar kita dalam berinteraksi. Ada nasihat dan tips sederhana, tetapi cukup mengenai sasaran dalam hidup berumah tangga agar tercipta hubungan yang harmonis antara elemen yang satu dan lainnya. Apakah itu istri dengan suami ataupun suami dengan sang istri. Yaitu saling berkasih sayang dan menebar kebaikan. Ingatlah, rahmat Allah SWT bersama orang-orang yang berbuat baik. “Sesungguhnya, rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-A’raf [7]: 56).

Jika ingin rahmat Allah menghampiri, hendaknya kedua belah pihak saling berbagi kebaikan dan kasih sayang. “Sesunggunnya, mereka yang beriman dan beramal saleh tentulah kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.” (QS al-Kahfi (18): 30). Jika tidak ada bantuan, ucapan terima kasih dan pujian terucap dari lisan pasangan, semoga amal sholeh yang dilakukan membekas di hati pasangan. Sekalipun tak ada bekas di hati, ketahuilah bahwa kebaikan yang dilakukan tercatat sebagai amal saleh di akhirat.

Semestinya setiap muslim memahami anjuran Islam ini secara menyeluruh. Ada hak yang harus ditunaikan bagi sesama muslim. Apalagi terhadap pasangan hidup kita. Menghadapi sikap para suami yang demikian, kewajiban sebagai istri tetaplah harus dilakukan secara baik, dan juga harus tetap bersabar. Berilah para suami/istri yang belum memahami hak dan kewajibannya secara baik pengertian akan tugas dan kewajiban dalam rumah tangga secara benar. Karena boleh jadi pasangan yang acuh tak acuh dan tidak peduli dengan kewajibannya untuk saling bahu membahu dalam rumah tangga sesunggunnya karena dia memang tidak memahami hal yang seharusnya dilakukan.

Jadi, jangan bosan untuk tetap memberi nasihat. Yakinlah Allah tidak akan pernah mensia-siakan apa yang diusahakan hambanya. Pada sebagian orang terutama istri mungkin merasa berat dan tidak sanggup untuk mengajari atau mengingatkan suaminya tentang bagaimana membangun ta’awun dalam rumanhtangga, hal ini bisa dilakukan dengan memberikan bahan bacaan, atau melalui nasehat yang disampaikan melalui pihak lain yang dirasa bisa lebih didengar dan efektif nasihat-nasihatnya. Wallaahu alam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Wudhu dan Shalat Bagi Yang Beser

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, Ibu mertua ana kena stroke sehingga susah bila harus ke toilet apabila pipis. Akhirnya dipakaikan pampers. Yang jadi pertanyaan, bagaimana apabila ingin wudhu dan shalat?

Jawaban

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Kondisi orang seperti yang anda tanyakan dalam kajian fiqih disebut dengan bab salisul baul, yaitu orang yang keluar kencing terus menerus, atau di masyarakat disebut beser. Jika air kencing keluar terus menerus tidak berhenti, atau apa saja yang membatalkan wudhu, seperti keluar angin terus menerus, maka hukumnya diqiyaskan dengan wanita istihadhah, yaitu yang keluar darah terus menerus di luar haid.

Terhadap orang seperti ini, Rasulullah saw bersabda,

جَاءَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي امْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ، أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ؟ قَالَ: “لَا، إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ، فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي

“Fatimah binti Abu Hubaiys datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku adalah seorang wanita yang keluar darah istihadlah (darah penyakit) hingga aku tidak suci. Apakah aku boleh meninggalkan shalat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menjawab: “Jangan, sebab itu darah yang berasal dari urat nadi dan bukan darah haid . Jika datang haidmu maka tinggalkan shalat, dan jika telah terhenti maka bersihkanlah sisa darahnya lalu shalat.” (HR. Bukhari, dll)

Kesimpulannya, orang yang mengalami kondisi seperti itu, setiap masuk shalat, bersihkan najis semampunya dari tubuhnya, lalu tampal kemaluannya agar najisnya tidak berceceran, lalu dia berwudhu dan kemudian dia shalat. Jika masih keluar juga najisnya, maka hal itu tidak mengapa.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Andai Ini Ramadhan Terakhirku

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Waktu begitu terasa cepat putarannya.
Setiap lajunya berkuranglah jatah umur kita.
Usia makin menua dan akan sampai pada akhir hidup kita.

Kematian menjadi misteri supaya manusia mempersiapkan diri.
Hidup hanya untuk mengabdi pada Ilahi.
Hingga bekal yang dibawa cukup harus kembali.

Imam Syafi’i berpesan,”Jadikan akhirat dihatimu, dunia ditanganmu, dan kematian di pelupuk matamu”

Saat ini…
Dzikrul maut banyak di depan mata kita.
Ketika terbang tinggi bersama pesawat bisa terjatuh dan tak bernyawa.
Yang di daratan ada banjir bandang melanda.
Yang di kepulauan ada gempa mengguncang wilayahnya.
Yang di pegunungan ada tanah longsor yang mengancam jiwa.
Dan dimana-mana maut sudah mengintai kita.

Tinggal menghitung hari menuju bulan suci.
Dahulu para sahabat menanti datangnya Ramadhan sepenuh hati
Selayak akan datangnya tamu spesial, persiapan menyambutnya sudah jauh-jauh hari.
Banyak amalan yang sudah mulai jadi kebiasaan sehari-hari.

Andai ini Ramadhan terakhir.
Banyak hal yang harus diukir.

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr : 1-3)

Lantas bagaimana jika ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita?

Pernahkah kita membayangkan bahwa ini adalah ramadhan terakhir dalam hidup kita? Hidup itu boleh berharap tetapi kenyataan hidup berkata bahwa yang sudah terjadi adalah kenangan, yang sedang terjadi adalah kenyataan dan yang akan terjadi hanya sebuah harapan. Bagaimana pun juga kita tak pernah tahu bahwa Ramadhan mendatang apakah kita masih hidup?

Jangankan sampai berjumpa dengan Ramadhan, mungkin sedetik ke depan jika Allah berkehendak semua bisa saja terjadi dan saat itulah Allah telah memanggil kita. Dan bila esok Ramadhan terakhir kita maka kita harus bersiap untuk menjadikannya lebih bermakna. Apa saja yang harus kita lakukan.

1. Segera bertaubat dan memperbaiki tabiat.
2. Menambah keimanan dengan menjadi hamba yang taat.
3. Berusaha sebaik mungkin menjalankan syariat.
4. Target optimal dalam beramal sunnah baginya menjadi tekad yang bulat.
5. Tilawah Al-Qur’an tidak pernah terlewat.

Masih banyak lagi sebenarnya yang bisa kita persiapkan. Apalagi nanti ketika masuk ramadhan. Harus lebih bernilai puasanya, lebih banyak tilawahnya, lebih peduli kepada sesama, lebih khusyu’ shalat wajib dan sunahnya serta dzikir sepanjang harinya.

Hidup selalu berbatas dengan kematian. Sudahkah kita bersiap untuk menyambutnya? Kematian bukan datang sesuai harapan kita, namun sudah ditetapkan oleh Sang Maha Kuasa. Kendatipun demikian bolehlah kita meminta dipanjangkan usia agar lebih banyak lagi catatan kebaikan yang kita tinggalkan.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Apakah Rambut Wanita yang Sudah Dipotong Masih Bagian dari Aurat?’

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, kalau rambut perempuan yang sudah dipotong, potongannya itu apakah masih bagian dari auratnya?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Husna Hidayati, MHI

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Ada tiga pendapat dalam masalan ini :

Pendapat pertama, rambut adalah aurat baik ketika pemilik rambut masih hidup maupun sudah wafat. Ini adalah pendapat madzhab Hanafi, dan yang paling shahih menurut madzhab Syafi’i. Kaidahnya adalah apa yang tidak boleh dilihat saat masih menyatu dengan badan maka ketika terpisah atau terpotong pun tidak pula boleh terlinat. Misalnya kemaluan, bulu kemaluan, (bagi wanita dan pria), atau khusus wanita misalnya kaki, lengan, rambut, bulu ketiak dll.

Pendapat kedua, jika pemiliknya masih hidup maka bukan aurat, tapi kalau sudah meninggal maka itu aurat, ini adalah pendapat madzhab Maliki.

Pendapat ketiga, rambut yang sudah dipotong, terpisah dari pemiliknya bukan aurat sehingga tidak apa -apa dilihat meski sunnahnya dikuburkan saja. Ini adalah pendapat madzhab Hanbali dan muqabil ashah dalam madzhab Syafii.

Pendapat yang lebih berhati-nati adalah pendapat pertama. Oleh karena itu, jika seorang perempuan memotong rambut, sebaiknya rambut itu dikuburkan agar tidak diihat orang/pria lain. Jadi, rambut perempuan yang rontok juga masih termasuk aurat yang tidak boleh diperlihatkan kepada orang yang bukan mahram.

Perumpamaan tersebut sama ketika Rasulullah saw menyebutkan bahwa, “Mematahkan tulang mayit sama dengan mematahkan tulangnya Ketika masih hidup.” (HR Abu Daud). Selain itu, rambut yang telah rontok juga sebaiknya dikuburkan. Hal ini termasuk sunah, bahwa menguburkan semua bagian yang terpisah dari jasad manusia seperti kuku, rambut atau kulit, kecualli kotoran, merupakan bentuk dari memuliakan manusia.

Hal ini juga berlaku untuk rambut yang telah dipotong, sebaiknya harus dijauhkan dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya. Menurut mayoritas ulama, rambut perempuan yang dipotong atau rontok hukumnya tetap dinilai sebagai aurat. Karena itu, rambut tersebut harus disimpan dengan baik atau dikubur ke dalam tanah agar tidak terlihat oleh lawan jenis.

Kaidah yang berhubungan dengan masalah ini, yaitu setiap sesuatu yang haram dilihat ketika masih menyatu dalam tubuh, maka juga haram dilihat ketika sudah terpisah. Karena rambut kepala perempuan termasuk aurat yang haram dilihat ketika masih menyatu dengan orangnya, maka ia juga haram dilihat ketika sudah terpisah, baik karena dipotong, rontok atau lainnya. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Abu Bakar Syatha dalam kitab I’anatut Thalibin berikut;

وكل جزء حرم نظره حال كون ذلك الجزء المنظور إليه متصلا حرم النظر إليه حال كون منفصلا

Setiap bagian yang haram dilihat Ketika bagian tersebut masih menyatu, maka haram dilinat juga ketika bagian tersebut sudah terpisah.

Dalam kitab Hasyiah Al-Bujairimi ‘ala Al-Khatib disebutkan bahwa suami yang sudah bercerai dari istrinya, maka dia tidak boleh melihat rambut yang terpisah dari istrinya meskipun rambut tersebut terpisah sebelum bercerai. Ini sebagaimana disebutkan seperti berikut;

أنه إذا انفصل منها شعر وهي في نكاحه ثم طلقها حرم النظر إليه بعد الطلاق؛ لأنها صارت أجنبية منه، ولا نظر لانفصاله في وقت كان يجوز له فيه النظر

Sesungguhnya jika rambut seorang perempuan lepas dan dia masih menjadi istri dari seorang laki-laki, Kemudian laki-laki tersebut menceraikannya, maka haram bagi lak-laki tersebut melihat rambut itu setelah bercerai. Hal ini karena perempuan tersebut sudah menjadi orang lain meskipun rambut itu terlepas (dipotong atau rontok) di waktu dia masih boleh melihatnya.(sebelum bercerai). Ini menunjukkan bahwa menurut para ulama, rambut perempuan yang terpisah tetap dihukumi sebagai aurat sehingga tidak boleh dilihat atau terlihat oleh lawan jenis, meskipun itu mantan suaminya. Wallaahu alam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Apakah Ada Perbedaan Antara Shalat Isyraq dan Shalat Dhuha?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Mohon izin bertanya ustadz.. Apa perbedaan sholat shuruq dengan sholat Dhuha?
Terima kasih. A-19

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim..

Tentang apakah shalat Isyraq adalah sama dengan shalat dhuha, para ulama berbeda pendapat. Perbedaan ini terjadi karena tidak ada ayat atau hadits nabi yang benar-benar lugas menjelaskan tentang hal itu.

Dalam banyak kitab fiqih, shalat Isyraq dibahas tersendiri, shalat dhuha juga tersendiri. Ini menunjukkan perbedaan keduanya, seperti dalam Fiqhus Sunnah -nya Syaikh Sayyid Sabiq, lalu Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, dll.

Tetapi sebagian imam telah menegaskan keduanya adalah sama, hanya saja shalat Isyraq itu shalat dhuha dia awal waktunya, karena shalat dhuha ada waktu awal, tengah, dan akhir, maka yang awal itu adalah Isyraq.

Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata:

الإشراق: صلاة الضحى

Isyraq itu shalat dhuha. (Imam Abdurrazzaq, Al Mushannaf, 3/79)

Syaikh Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

سنة الإشراق هي سنة الضحى، لكن إن أديتها مبكراً من حين أشرقت الشمس وارتفعت قيد رمح فهي صلاة الإشراق، وإن كان في آخر الوقت أو في وسط الوقت فإنها صلاة الضحى، لكنها هي صلاة الضحى

Shalat sunnah Isyraq itu shalat sunnah dhuha, tetapi ditunaikannya lebih awal waktunya, sejak terbit matahari setinggi satu tombak maka itu shalat Isyraq, jika dilakukan di tengah atau di akhir waktu maka itu dhuha, tetapi Isyraq juga dhuha. (Liqo Bab al Maftuh, 141/25)

Lalu, dalam kitab para ulama:

أَنَّ صَلاَةَ الضُّحَى وَصَلاَةَ الإْشْرَاقِ وَاحِدَةٌ إِذْ كُلُّهُمْ ذَكَرُوا وَقْتَهَا مِنْ بَعْدِ الطُّلُوعِ إِلَى الزَّوَال وَلَمْ يَفْصِلُوا بَيْنَهُمَا . وَقِيل : إِنَّ صَلاَةَ الإِْشْرَاقِ غَيْرُ صَلاَةِ الضُّحَى ، وَعَلَيْهِ فَوَقْتُ صَلاَةِ الإْشْرَاقِ بَعْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ ، عِنْدَ زَوَال وَقْتِ الْكَرَاهَةِ

Bahwasanya shalat dhuha dan shalat isyraq adalah sama, semua mengatakan bahwa waktunya adalah setelah terbitnya matahari sampai tergelincirnya, kedua shalat ini tidak terpisahkan.  Ada juga yang mengatakan: sesungguhnya shalat isyraq BUKAN SHALAT DHUHA, waktu pelaksanaannya adalah setelah terbitnya matahari  ketika tergelincirnya waktu dibencinya  shalat. (Tuhfatul Muhtaj, 2/131, Al Qalyubi wal ‘Amirah, 1/412, Awjaza Al Masalik Ila Muwaththa Malik, 3/124,Ihya ‘Ulumuddin, 1/203)

Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri mengutip dari Ath Thibiy, dia berkata:

أي ثم صلى بعد أن ترتفع الشمس قدر رمح حتى يخرج وقت الكراهة، وهذه الصلاة تسمى صلاة الإشراق، وهي أول صلاة الضحى. انتهى

Kemudian dia shalat setelah meningginya matahari setinggi tombak, sampai keluar waktu dimakruhkan shalat, shalat ini dinamakan SHALAT ISYRAQ, yaitu AWAL SHALAT DHUHA.

(Tuhfah Al Ahwadzi, 3/158)

Dalam madzhab resmi Syafi’iyah, ada perbedaan pendapat, keduanya diklaim sebagai mu’tamad (pendapat resmi). Yg satu mengatakan shalat isyraq adalah bukan shalat dhuha, yang lain mengatakan shalat isyraq dan dhuha sama saja.

Imam Syihabuddin Ar Ramli mengatakan:

الْمُعْتَمَدُ أَنَّ صَلَاةَ الْإِشْرَاقِ غَيْرُ الضحى

Pendapat yg resmi (dalam madzhab Syafi’i) bahwa shalat Isyraq adalah BUKAN shalat Dhuha. (Nihayatul Muhtaj, 2/116-117)

Sementara Syaikh Bakri ad Dimyathi mengatakan:

(قوله: قال ابن عباس: صلاة الإشراق صلاة الضحى) هو المعتمد. وقيل غيرها

Perkataannya: berkata Ibnu Abbas: shalat isyraq adalah shalat dhuha. Inilah pendapat resmi. Ada juga yang mengatakan selain itu. (I’anatuth Thalibin, 1/293)

Syaikh Abdul Karim al Khudhair berkata:

هل هناك فرق بين صلاة الإشراق وصلاة الضحى؟

Apakah ada perbedaan antara shalat Isyraq dan shalat dhuha?

لا فرق، هي صلاة الضحى، وقت صلاة الضحى المفضل حين ترمض الفصال

Tidak, itu (shalat isyraq) adalah shalat dhuha, waktu shalat dhuha yang paling utama adalah saat unta kepanasan..

(Syarh Bulugh al Maram, 38/19)

Syaikh ‘Athiyah Salim mengatakan:

وبعض العلماء يقول: سنة الإشراق وسنة الضحى سواء، أو أحدهما تجزئ عن الأخرى، إن صلى الإشراق أجزأته عن الضحى، وإن صلى الضحى أجزأته عن الإشراق، ولكن الإشراق مشروط بأن يصلي الصبح ويبقى في مصلاه

SEBAGIAN ULAMA berkata: shalat sunnah isyraq dan shalat sunnah dhuha adalah sama, atau salah satunya sudah mengcover yang lainnya. Jika dia shalat isyraq maka dia sudah dihitung shalat dhuha, jika dia shalat dhuha maka sudah dihitung shalat isyraq. Tetapi shalat isyraq disyaratkan mesti dengan shalat subuh dan menetap di tempat shalatnya.

(Syarh Bulugh al Maram, 83/4)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Wafatnya Ulama adalah Musibah untuk Ummat

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi MA

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Wafatnya seorang ulama berbeda dengan wafatnya seorang pejabat. Jika seorang presiden wafat, maka minggu depan sudah ada gantinya; sedangkan para ulama yang mumpuni dibidangnya, ketika ia wafat belum tentu ada gantinya.

Sampai saat ini kita belum mendapatkan penggantinya Natsir, kita juga belum mendapatkan kemampuan ulama yang kompetensinya seperti Hamka, ia penulis, orator dan juga sastrawan.

Wafatnya seorang ulama adalah musibah bagi umat, karena itu pertanda ilmu diangkat oleh-Nya, lalu yang tersisa adalah hanya ulama-ulama karbitan yang tidak memilki kemampuan, lalu mereka menjawab pertanyaan umat tergantung dengan pesanan dan siapa yang bayar, dan tidak peduli apakah fatwanya itu menyesatkan umat atau tidak.

Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Akan tetapi, Dia akan mencabut dengan mematikan para ulama (ahlinya). Sampai apabila Dia tidak menyisakan seorang alim, umat manusia akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pimpinan-pimpinan mereka. Mereka ditanya (oleh umatnya) lantas menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Wafatnya seorang ahli ilmu berbeda dengan wafatnya seorang ahli ibadah, karena mereka yang beribadah bisa melakukannya dengan benar karena bimbingan dan penjelasannya para ulama, maka jangan sia-siakan para ulama selagi mereka masih hidup, dengan mendengarkan kajiannya atau duduk di majelisnya.

ويقولُ سيِّدُنا عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عنهُ: مَوتُ ألفِ عابِدٍ قائِمِ اللَّيلِ صائِمِ النَّهارِ أهوَنُ من مَوتِ عالِمٍ بَصيرٍ بِحَلالِ الله وحَرامِهِ

Umar bin Khattab berkata, “Wafatnya seribu ahli ibadah yang rajin melaksanakan tahajjud di malam hari dan puasa di siang hari, masih lebih ringan dari wafatnya seorang ulama yang mengetahui hukum halal dan haram.”

Dalam Alquran ada satu ayat yang oleh sebagian ahli tafsir dijadikan dalil tentang peran ulama. Allah berfirman,

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا

“Apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah itu, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?” (QS. Ar-Ra’du: 41)

Ibnu Abbas berkata:

خرابها بموت علمائها وفقهائها وأهل الخير منها “

Yaitu hancurnya sebuah daerah dengan wafat ulamanya, ahli fiqhnya dan orang-orang baiknya.

Zaid bin Tsabit berkata, “Barangsiapa yang ingin melihat perginya ilmu, beginilah cara Allah menghilangkannya yaitu dengan mewafatkan para ulama.“

Wafatnya ulama adalah pertanda rapuhnya sendi-sendi pertahanan umat, karenanya wafatnya mereka harus menjadi motivasi untuk kita semua untuk mempersiapkan anak-anak cucu kita menjadi generasi yang tidak buta akan Islam. Mereka boleh menjadi dokter, insinyur dan lain sebagainya, tetapi mereka harus melek akan nilai nilai Islam yang mulia; kalau Istilah KH. Zainudin MZ, “Otak boleh Jerman tetapi hati tetap Mekah.“

Wafatnya seorang ulama yang hafal Alquran, hendaknya menjadi motivasi buat kita untuk menghafal Alquran dan menjadikan anak cucu kita sebagai generasi menghafal dan mengamalkan Alquran. Jika kita tidak menjadikan semua keturunan kita ahli Alquran, maka jadikanlah salah satunya agar kita mendapatkan mahkota kemuliaan di akhirat nanti.

Wafatnya seorang ulama adalah nasihat buat kita untuk bisa wafat dalam keadaan husnul khatimah yaitu wafat di jalan dakwah, karena bagaimanapun hidup seseorang begitulah ia akan wafat kelak. Siapa yang hidup berjuang memperjuangkan kebenaran, maka ia akan wafat di atasnya; dan siapa yang hidup berlumur dosa dan bangga akannya, maka ia akan wafat hitam legam terkubur dosa.

Kisah wafatnya syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, semoga bisa menjadi penyemangat kita untuk wafat dalam keadaan husnul khatimah.

Syaikhul Islam, beliau wafat di penjara Qal’ah. Beliau mengakhiri hidupnya setelah membaca ayat yang maknanya sangat indah.

Salah satu muridnya, Ibnu Abdil Hadi bercerita, setelah Syaikhul Islam banyak menulis buku, beliau habiskan waktunya untuk beribadah, membaca al-Quran, dzikir, tahajud, hingga wafat. Selama di penjara, beliau mengkhatamkan al-Quran sebanyak 80 atau 81 kali. Dan di akhir bacaan beliau, beliau membaca,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ. فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.” (QS. al-Qamar: 54).

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Menajamkan Niat Ikhlas Dalam Segala Aspek Kehidupan

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عن سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ (رواه مسلم)

Dari Sahl bin Hunaif ra,  bahwa Nabi Saw bersabda, “Barangsiapa yang mengharapkan mati syahid dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mengangkatnya pada derajat para syuhada’ meskipun ia meninggal dunia di atas tempat tidurnya.” (HR. Muslim, hadits no 3523)

Hikmah Hadits ;

1. Niat memiliki peran yang sangat penting dalam amal ibadah yang dilakukan oleh sesorang. Karena niat yang ikhlas dan kesesuaian amalan dengan tuntunan syariat, merupakan syurut qubulil ibadah (syarat diterimanya ibadah) oleh Allah Swt. Sebalinya tanpa didasari dengan niat yang ikhlas, maka ibadah seseorang tidak akan diterima oleh Allah Swt, kendatipun bagusnya amal ibadah tersebut.

2. Bahwa niat yang baik untuk mendapatkan sesuatu yang baik, seperti keinginan kuat untuk mendapatkan mati syahid (sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas) yang  dibuktikan dengan selalu berdoa kepada Allah Swt agar mendapatkannya suatu kelak nanti, insya Allah ia akan mendapatkan pahala mati syahid sebagaimana yang ia cita-citakan meskipun ia meninggal dunia di tempat tidurnya. Demikianlah dahsyatnya peranan niat dalam segala aspek kehidupan. Karena niat adalah energi dasar dalam segala amal perbuatan yang akan menentukan “kesudahan” dari amal perbuatan. Maka oleh karenanya hendaknya setiap kita selalu berusaha menajamkan niatnya dalam segala amal shaleh. Karena kalau sudah dibulatkan niatnya, insya Allah kita akan mendapatkan pahala niatan tersebut, kendatipun belum sempat untuk mengamalkannya.

3. Menguatkan hadits di atas, dalam riwayat lain disebutkan, dari Jabir dia berkata, Kami pernah ikut berperang bersama Nabi Saw dalam suatu peperangan, ketika itu beliau bersabda, “Sesungguhnya ada beberapa orang  di Madinah yang mereka tidak ikut serta dalam peperangan ini (bersama kita), namun jika kalian pergi berperang melewati suatu lembah, mereka tetap turut bersama-sama kalian (dalam pahala), namun mereka sekarang terhalang (tidak bisa ikut berperang) karena sedang sakit.” (HR. Muslim, hadits no 3534).

Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa selalu menajamkan niat ikhlasnya dalam rangka melaksanakan amal kebajikan, dan mudah-mudahan kita semua masuk ke dalam golongan orang-orang yang ikhlaas… Amiin Ya Rabbal Alamiin.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Mohon izin bertanya ke ustadz.. Bagaimana prosedur aqiqah dan 4 bulanan bagi ibu hamil dimasa pandemi apalagi kondisi sekarang sedang sangat tidak baik. Apa sah aqiqahnya hanya dibagikan saja makanannya tapi tidak mengundang bapak-bapak atau tetangga?

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim..

Aqiqah itu prinsipnya memotong kambing dan memakannya baik buat dirinya dan org lain. Itu sdh cukup.

Al Khalil bin Ahmad al Farahidi Rahimahullah (w. 170 H) mengatakan:

وَالْعَقِيقَةُ: الشَّعْرُ الَّذِي يُولَدُ الْوَلَدْ بِهِ. وَتُسَمَّى الشَّاةُ الَّتِي تُذْبَحُ لِذَلِكَ عَقِيقَة

_“Aqiqah adalah rambut yang ada pada bayi ketika lahirnya, dan dinamakan pula kambing yang disembelih untuk itu dengan sebutan aqiqah.”_ (Al ‘Ain, jilid. 1, hal. 62)

Syaikh Zainuddin ar Razi Rahimahullah (w. 666 H) mengatakan tentang aqiqah:

الشَّعْرُ الَّذِي يُولَدُ عَلَيْهِ كُلُّ مَوْلُودٍ مِنْ النَّاسِ وَالْبَهَائِمِ. وَمِنْهُ سُمِّيَتْ الشَّاةُ الَّتِي تُذْبَحُ عَنْ الْمَوْلُودِ يَوْمَ أُسْبُوعِهِ عَقِيقَةً

“Rambut yang tumbuh pada setiap bayi manusia dan hewan. Diantaranya adalah kambing yang disembelih saat hari ketujuh setelah kelahiran adalah aqiqah.” (Mukhtar ash Shihah, hal. 214)

Jadi, jika penyembelihan (kambing) sudah terlaksana, maka itu sudah dikatakan terlaksananya aqiqah.

Ada pun mengundang org lain ke rumah, itu tradisi saja dan boleh.

Syaikh Abdul Muhsin al ‘Abbad Hafizhahullah berkata tentang hukum berkumpul dalam acara undangan taushiah aqiqah:

وأما التزام إحضار المشايخ والمحاضرين في هذه المناسبات فليس بوارد، لكن لو فُعل في بعض الأحيان انتهازاً لفرصة معينة للتذكير أو للتنبيه على بعض الأمور بمناسبة الاجتماع فلا بأس بذلك.”

“Ada pun menghadirkan seorang syaikh dan para undangan dalam acara ini maka tidak ada dalilnya, tetapi seandainya dilakukan untuk memanfaatkan keluangan pada waktu tertentu, dalam rangka memberikan peringatan dan nasihat atas sebagian permasalahan yang terkait dengan berkumpulnya mereka, maka hal itu tidak mengapa.”

(Syarh Sunan Abi Daud, no. 086)

Dalam kondisi seperti ini yg sulit ngumpul-ngumpul jika tidak dijalankan mengundang-undang tetangga juga tdk masalah, yg penting aktivitas pokoknya sdh dilakukan.
Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Pernikahan Non Muslim Apa Tetap Sah Saat Sudah Menjadi Muslim?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, ada sepasang suami istri yang sebelumnya mereka non muslim, Alhamdulillah saat ini mereka sudah muslim, tapi apakah pernikahan mereka tetap sah, walau waktu menikah dulunya masih non muslim?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Dalam hal ini ada 2 pendapat ulama:

1. Ulang akadnya.

Berdasarkan kisah Abu al-Ash (menantu Rasulullah, dan dia musyrik), dipisahkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari istrinya (yaitu Zainab), setelah turun ayat larangan seorang muslimah bersuamikan non muslim. (Mumtahanah: 10)

Setelah 6 tahun, Abu al Ash masuk Islam, akhirnya oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mereka dinikahkan lagi dengan akad awal.

رَدَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَيْنَبَ ابْنَتَهُ عَلَى أَبِي الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيعِ، عَلَى النِّكَاحِ الْأَوَّلِ بَعْدَ سِتِّ سِنِينَ

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengembalikan Zainab (putrinya) kepada Abu al Ash berdasarkan pernikahan awal, setelah 6 tahun (berpisah). (HR. Al Baihaqi no. 14068 dalam Sunan al Kubra)

2. Tidak ulang

Berdasarkan fakta para sahabat nabi yang masuk Islam begitu banyak, bersama istri-istri mereka, tapi mereka tidak ada yang mengulangi akad-akad nikah mereka setelah Islamnya.

Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua. Tidak perlu diulang. Sebab, kasus Abu al-Ash dan Zainab itu adalah bagi YANG SUAMINYA MUALAF, karena pernikahan mereka tadinya tidak sah. Tapi, untuk yang MUALAFNYA BERSAMA-SAMA SUAMI ISTRI TERSEBUT maka tidak perlu akad ulang, inilah pendapat umumnya ulama.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678