berdoa setelah membaca alfatihah

Bacaan al-Fatihah di dalam Shalat

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Secara umum, sebagaimana disepakati mayoritas ulama, termasuk dalam madzhab Syafi’i, bacaan al-Qur’an merupakan bagian yang tak terpisahkan dari shalat, bahkan tidak sah seseorang tanpa membaca al-Qur’an di dalamnya. Meski demikian, memang ada sebagian kecil ulama yang hanya memandangnya sebagai salah satu kesunnahan. Di antara dalil yang menunjukkan wajibnya membaca ayat-ayat al-Qur’an di dalam shalat ini adalah firman Allah swt.: “… bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur’an…”(QS. Al-Muzzammil [73]: 20) Ayat ini sebagaimana dikatakan oleh al-Kiya al-Harasi (w. 504 H) di dalam Ahkam al-Qur’an merupakan dalil yang menunjukkan bahwa membaca al-Qur’an merupakan salah satu kefardhuan shalat.

Di dalam hadits, di antaranya ada sebuah riwayat dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Tidak ada shalat kecuali dengan membaca al-Qur’an.” (HR. Muslim) Bahkan, di dalam Shahih al-Bukhari juga terdapat riwayat bahwa Abu Hurairah ra. pernah bercerita: “Rasulullah saw. pernah masuk masjid. Lalu ada seorang lelaki masuk dan melakukan shalat. Setelah selesai ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah saw. Beliau menjawab salamnya lalu bersabda: “Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat)”. Lelaki itu kembali shalat. Setelah shalatnya yang kedua ia mendatangi Nabi saw. dan memberi salam. Kemudian beliau bersabda lagi: “Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat”. Sehingga orang itu mengulangi shalatnya sebanyak tiga kali. Lelaki itu berkata: “Demi Dzat yang mengutus Kamu dengan membawa kebenaran, saya tidak dapat mengerjakan yang lebih baik daripada ini semua. Ajarilah saya”. Beliau bersabda: “Bila kamu melakukan shalat, bertakbirlah. Bacalah bacaan dari al-Qur’an yang mudah bagimu. Setelah itu ruku’ hingga kamu tenang dalam ruku’mu. Bangunlah hingga berdiri tegak. Lalu bersujudlah hingga kamu tenang dalam sujudmu. Bangunlah hingga kamu tenang dalam dudukmu. Kerjakanlah semua itu dalam seluruh shalatmu”.” Sebagaimana riwayat ini, bacaan al-Qur’an merupakan salah satu yang harus dibaca di dalam shalat, sehingga jika ia tidak dibaca, maka seseorang tidak bisa dikatakan shalat.

Para ulama kemudian menetapkan bahwa bacaan al-Qur’an yang menjadi rukun yang mesti ada di dalam shalat adalah Surah al-Fatihah. Sehingga, tidak sah shalat seseorang jika ia tidak membaca surah al-Fatihah. Abu Yahya Zakariyya al-Anshari (w. 926 H) di dalam Asna’ al-Mathalib fi Syarh Raudh ath-Thalib mengatakan: “Rukun shalat yang keempat yaitu mambaca al-Fatihah ataupun bacaan penggantinya (bagi yang tidak mampu) dalam setiap rakaat. Baik bagi orang yang shalat sendiri atau berjamaah, shalat sirriyyah ataupun jahriyyah, lewat hafalan, dengan dituntun, atau dengan melihat mushaf, atau selainnya.”

Banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan keharusan membaca Surah al-Fatihah ini di dalam shalat. Salah satunya adalah riwayat dari ‘Ubadah ibn ash-Shamit ra. bahwa Nabi saw. pernah bersabda: “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Surah al-Fatihah).” (HR. al-Bukhari)

Di dalam hadits lain, diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang shalat namun tidak membaca Ummul Kitab (Surah al-Fatihah) di dalamnya, maka shalatnya cacat (Rasulullah saw. mengulanginya hingga tiga kali).” (HR. Muslim)

Rasulullah saw. sendiri pernah bersabda: “Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. al-Bukhari) Sedangkan dalam kaitannya dengan bacaan al-Fatihah ini, di antaranya ada riwayat yang disampaikan oleh Imam al-Bukhari (w. 251 H) di dalam Shahihnya dari ‘Abdullah ibn Abi Qatadah, dari ayahnya, ia berkata: “Nabi saw. pernah membaca dalam dua raka’at awal pada shalat zhuhur Surah al-Fatihah dan dua surah. Beliau membaca surah yang panjang pada raka’at pertama dan membaca surah yang pendek pada raka’at kedua, dan kadang-kadang memperdengarkan kepada kami dalam membaca ayat.” Wallahu a’lam.[]

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Karena Allah

Semua Tentang Cinta

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Ketika ibu menyayangi anaknya.
Ketika ayah menafkahi keluarganya.
Ketika kakak menjaga adiknya.
Dan ketika saudara memberikan perhatiannya.
Semua berkisah tentang cinta.

Kala angin bertiup sepoi-sepoi lembut.
Kala air mengalir tanpa menyurut.
Kala hujan membasahi rumput.
Dan langit cerah tanpa awan yang menggelayut.
Itu semua tentang cinta.

Saat berbagi perhatian dengan pasangan.
Saat bahagia dalam persahabatan.
Saat rela berkorban untuk apa yang diperjuangkan.
Dan saat hati berlabuh di dermaga harapan.
Semua ada karena kekuatan cinta.

Bersebab cinta persaudaraan makin terdekatkan.
Bersebab cinta persahabatan makin tereratkan.
Dan bersebab cinta hati yang beriman makin terikatkan.

Bila ada rasa ingin menjaga.
Bila ada hasrat ingin bersua.
Bila ada asa meraih cita.
Dan bila ada semangat membara.
Begitulah jiwa-jiwa yang sedang mencinta.

Namun….
Bijaklah bersikap agar perilaku tetap beradab.
Berhati-hatilah dalam meletakkan supaya diri tak terjatuh dalam kenistaan.
Tak pernah salah tentang cinta
Terkadang kitalah yang tak menempatkan secara semestinya

Cinta bukan soal salah benar.
Tapi bagaimana cinta memposisikan cinta yang benar
Iman pun tak memudar.
Pribadi yang baik pun tak akan tertukar.
Bahkan kesempatan emas akan terhampar
Bagi pecinta sejati karena Allah yang Maha Besar
Allahu Akbar

Dan aku pun mencintai kalian wahai sahabat Surgaku karena Allah semata.
Begitu pun apa yang sedang kujalani akan aku cintai pula.

Wallahu a’lam bisshawwab

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doa mendapatkan anak yang salih

KAPAN SEBAIKNYA ANAK MONDOK?

📝 Pemateri : Ustadz Mohammad Fauzil Adhim,

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

⁣⁣Kapan sebaiknya anak mondok?

Menjelang baligh atau sekurangnya awal baligh. Bukankah seharusnya seorang ayah hadir saat anak mimpi basah (ihtilam)? Betul, jika ayahnya lalai menyiapkan sehingga anak tidak memiliki ilmu yang mencukupi. Tetapi jika anak telah dibekali, atau ia tinggal di tempat yang memberinya bekal sesuai tuntunan Islam, maka seorang ayah yang sedang opname di rumah sakit tidak harus pulang ketika anaknya mimpi basah; yang sedang menempuh perjalanan ke luar negeri, tidak perlu membatalkan perjalanan hanya karena anak lelakinya mimpi basah. Dan kita semua tahu, mimpi basah datang tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu sebulan atau dua bulan sebelumnya. ⁣

Mendidik anak itu jadi ribet dan sangat merepotkan ketika kita tidak menjadikan agama ini sebagai miqyasnya. Tolok ukur. Parameter. ⁣

Tetapi kemana anak-anak kita percayakan? Inilah yang sangat penting. Sebab memasukkan anak ke pesantren bukanlah semata untuk memperoleh pengetahuan. Kalau sekedar pengetahuan agama, jangankan pesantren, sekolah setengah hari saja tidak perlu. Cukup cari lewat internet. Tetapi ini bukanlah jalan ilmu. Agar anak-anak kita kokoh, memiliki sikap yang baik, pemahaman yang matang dan utuh sekaligus dienul Islam ini menjadi penggerak dalam dirinya untuk berperilaku dengan baik dan tepat, maka mereka harus menjadi penuntut ilmu di atas jalan yang selamat (مُتَعَلِّمٌ عَلَى سَبِيلِ نَجَاةٍ). ⁣

Itu sebabnya saya memilih memasukkan anak ke pesantren. Dari anak pertama, kedua, ketiga hingga anak keenam, semua masuk pesantren setelah mereka lulus SD. Saya tergelitik untuk menulis ini ketika anak saya yang ketujuh, sebentar lagi sudah harus masuk pesantren. Kenapa harus? Karena anak memang SD kelas 1 atau bahkan TK sudah ingin masuk pesantren, sedangkan sekarang dia sudah kelas 6 SD. Begitu pula anak saya nomor 6 yang sekarang kelas 9, sudah harus memutuskan kemana dia akan belajar. ⁣

Minimal setahun sekali, banyak yang bertanya kepada saya pesantren yang tepat untuk anak laki-laki maupun perempuan. Ini pertanyaan yang sulit bagi saya karena belum pernah melakukan penelitian serius mengenai hal ini. Tetapi jika saya ditanya ke pesantren mana saya mempercayakan anak saya, maka saya dapat menyampaikan bahwa semenjak anak keempat, kelima dan keenam, semuanya di Ibnu Abbas Klaten. Begitu pula anak ketujuh, in sya Allah akan belajar di Pondok Pesantren Ibnu Abbas. ⁣

Wallahu a’lam bish showab

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Sebarkan! Raih Pahala


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Iffah

Antara Iffah dan Menerima Pemberian, Serta Keutamaan Menginvestasikan Harta Untuk Disedekahkan Hasilnya

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عن عُمَرَ بن الخطاب رضي الله عنه يَقُولُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْطِينِي الْعَطَاءَ فَأَقُولُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّي، حَتَّى أَعْطَانِي مَرَّةً مَالًا فَقُلْتُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّي، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ وَتَصَدَّقْ بِهِ، فَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ، وَمَا لَا فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ (رواه البخاري ومسلم وأحمد)

Dari Umar ra berkata, bahwa Nabi Saw memberiku sebuah pemberian, maka aku berkata kepada beliau, “Berikan saja kepada orang lain yang lebih membutuhkannya daripada aku.” Sampai suatu ketika beliau memberiku lagi harta dan aku berkata, “Berikan saja kepada orang yang lebih membutuhkannya daripada aku.” Maka Nabi Saw bersabda, “Ambillah dan kembangkanlah (investasikanlah) harta itu, lalu bersedekahlah dengannya. Apa yang datang kepadamu dari suatu harta (pemberian), sedangkan kamu tidak mengharapkannya dan tidak meminta-mintanya maka terimalah. Dan apabila tidak seperti demikian maka janganlah kamu memperturutkan nafsumu padanya.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i dan Ahmad)

©️ Takhrij Hadits :

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Az-Zakat, Bab Man A’thahullahu Syai’an Min Ghairi Mas’latin Wala Isyrafi Nafsin, hadits no 1380, juga Imam Muslim dalam Shahihnya, hadits no 1731, ďan Imam Ahmad dalam Musnadnya, hadits no 131.

®️ Hikmah Hadits :

1. Keutamaan sifat iffah, yaitu sifat menahan diri dari meminta-meminta, merasa cukup atas apa yang telah Allah Swt anugerahkan kepada-nya. Berasal dari akar kata affafa ( عفف ) yang berarti :

a. Tidak mau melakukan sesuatu yang tidak pantas, atau yang tidak patut karena menjaga diri dari perbuatan yang terlarang.

b. Menjaga kehormatan diri, juga berarti kesucian diri. Orang yang menjaga kehormatan dirinya berarti ia menjaga kesucian dirinya.

c. Menahan diri dari sifat meminta-meminta kepada orang lain, dan merasa cukup atas apa yang telah Allah Swt anugerahkan berupa nikmat, apapun dan berapapun adanya. Tidak iri dan menginginkan yang bukan menjadi hak miliknya serta selalu bersyukur dan merasa bahwa apa yang diberikan kepadanya adalah yang terbaik untuknya.

2. Iffah merupakan sifat mulia, yang setiap yang melakukannya akan mendapatkan keutamaan dan kemuliaan tersendiri, diantaranya adalah ;

a. Akan mendapatkan pujian dari Allah Swt , hal ini sebagaimana Allah Swt memuji orang-orang yang menahan diri dari meminta-minta :

(لِلۡفُقَرَاۤءِ ٱلَّذِینَ أُحۡصِرُوا۟ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ لَا یَسۡتَطِیعُونَ ضَرۡبࣰا فِی ٱلۡأَرۡضِ یَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِیَاۤءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِیمَـٰهُمۡ لَا یَسۡـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافࣰاۗ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِنۡ خَیۡرࣲ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِیمٌ)

(Apa yang kamu infakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah, sehingga dia yang tidak dapat berusaha di bumi; (orang lain) yang tidak tahu, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 273)

b. Akan dicukupkan oleh Allah Swt segala hajat dan keperluannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits ;

عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ (رواه البخاري)

Dari Hakim bin Hiram ra bahwa Nabi SAW bersabda, “Tangan yang diatas lebih baik dari pada tangan yang di bawah, maka mulailah (memberi) untuk orang-orang yang menjadi tanggunganmu. Dan shadaqah yang paling baik adalah dari orang yang sudah cukup (untuk kebutuhan dirinya). Maka barangsiapa yang berusaha memelihara dirinya (iffah), Allah akan memeliharanya. Dan barangsiapa yang berusaha mencukupkan dirinya maka Allah akan mencukupkannya (menjadikannya merasa cukup). (Muttafaqun Allah)

3. Namun apabila ada seseorang atau suatu pihak yang bermaksud memberikan sesuatu kepada dirinya, dengan tujuan untuk memuliakannya, atau mengganti jasa baiknya, atau sekedar memberikan hadiah kepada-nya, maka anjurannya justru diterima dengan baik, dengan syarat selama bukan karena ia meminta dan mengharapkannya, dan bukan juga merupakan perbuatan dosa, (seperti risywah, suap dsb), serta juga bukan karena tolong menolong dalam perbuatan dosa.

4. Adalah Umar bin Khattab ra sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, ditegur oleh Nabi Saw lantaran tidak mau menerima pemberian dari beliau. Maka Nabi Saw menasehatinya ;

خُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ وَتَصَدَّقْ بِهِ، فَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ، وَمَا لَا فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ

Ambillah dan kembangkanlah (investasikanlah) harta itu, lalu bersedekahlah dengannya. Apa yang datang kepadamu dari suatu harta (pemberian), sedangkan kamu tidak mengharapkannya dan tidak meminta-mintanya maka terimalah. Dan apabila tidak seperti demikian maka janganlah kamu memperturutkan nafsumu padanya.”

5. Dalam hadits di atas juga terdapat anjuran untuk menginvestasikan harta dengan baik, lalu dengan investasi tersebut ia dapat bersedekah dengan hartanya maupun dengan hasil investasinya. Karena harta itu adalah amanah yang harus dikelola dan diinvestasikan dengan baik. Dan tidak semua orang memiliki kemampuan investasi dalam harta, sehingga hartanya tidak bisa berkembang. Maka jika kita memiliki harta dan juga mempunyai kemampuan investasi, maka hendaknya ia investasikan hartanya, lalu dengannya ia menjadi ahli shadaqah.

Mudah-mudahan kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang diberikan segala kecukupan harta oleh Allah Swt, bisa berinvestasi dengan halalan thayiban dan bisa banyak bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan. Amiin ya Rabbal alamin.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Maha Pemalu

Langit Adalah Kiblatnya Doa

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Bismillahirrahmanirrahim…

Masalah ini diperselisihkan para ulama,mayoritas ulama mengatakan kiblatnya doa adalah langit, sebagaimana kiblatnya shalat adalah ka’bah. Bagi mereka, berdoa menghadap ke langit dan mengangkat kedua tangan ke langit bukan berarti Allah Ta’ala di langit, tapi karena kiblatnya doa memang ke langit.

Namun sebagian ulama mengatakan kiblat doa dan shalat itu sama yaitu ka’bah.Mereka menilai kiblat doa adalah ke langit sebagai pendapat yg tidak dikenal di generasi salaf.

Kemudian, dalil pihak mayoritas bahwa kiblatnya doa adalah langit, yaitu firman Allah Ta’ala:

وَفِي ٱلسَّمَآءِ رِزۡقُكُمۡ وَمَا تُوعَدُونَ

Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.

(QS. Adz-Dzariyat, Ayat 22)

Al Qadhi ‘Iyadh menjelaskan:

وقال غيره ممن أجازه – وهم الأكثرون -: إن السماء قبلة الدعاء كما أن الكعبة قبلة الصلاة، فلا ينكر رفع [الأبصار والأيدى] (3)، إلى جهتها، قال الله تعالى: {وَفِى السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدونَ}

Ulama lain mengatakan -yaitu pihak yg mengatakan bolehnya berdoa memghadap langit- dan itu adalah pendapat MAYORITAS, bahwasanya LANGIT ADALAH KIBLATNYA DOA, sedangkan ka’bah adalah kiblatnya shalat. Maka, tidaklah diingkari mengangkat pandangan mata dan kedua tangan (ketika Doa) menuju arah langit. Allah Taala berfirman: Dan di langit adanya  rezeki kalian dan apa-apa yang dijanjikan (kepada kalian).

(Ikmal Al Mu’lim, 2/341)

Imam an Nawawi juga mengutip dari Al Qadhi ‘Iyadh:

وَاخْتَلَفُوا فِي كَرَاهَة رَفْع الْبَصَر إِلَى السَّمَاء فِي الدُّعَاء فِي غَيْر الصَّلَاة فَكَرِهَهُ شُرَيْح وَآخَرُونَ ، وَجَوَّزَهُ الْأَكْثَرُونَ ، وَقَالُوا : لِأَنَّ السَّمَاء قِبْلَة الدُّعَاء كَمَا أَنَّ الْكَعْبَة قِبْلَة الصَّلَاة ، وَلَا يُنْكِر رَفْع الْأَبْصَار إِلَيْهَا كَمَا لَا يُكْرَه رَفْع الْيَد . قَالَ اللَّه تَعَالَى : { وَفِي السَّمَاء رِزْقكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ }

“Para ulama berbeda pendapat dalam kemakruhan menengadah pandangan ke langit ketika berdoa di luar waktu shalat. Syuraih dan lainnya memakruhkan hal itu, namun mayoritas ulama membolehkannya.Mereka (mayoritas) mengatakan: karena langit adalah kiblatnya doa sebagaimana kabah adalah kiblatnya shalat, dan tidaklah diingkari menengadahkan pandangan ke langit sebagaimana tidak dimakruhkan pula mengangkat tangan (ketika berdoa). Allah Taala berfirman: Dan di langit adanya  rezeki kalian dan apa-apa yang dijanjikan (kepada kalian).

(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/171. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Hal ini juga dikatakan para imam lainnya:

– Imam Abu Sa’id al Mutawlli asy Syafi’i dalam Kitab al Mughanni (hal.15)

– Imam Ibnul ‘Arabi al Maliki dalam al Masalik fi Syarh Muwaththa’ Malik (3/306)

– Imam Ibnu Hajar al Asqalani asy Syafi’i dalam Fath al Bari (2/233)

– Imam as Suyuthi asy Syafi’i dalam Syarh Sunan Ibni Majah (1/73)

– Imam ath Thibiy dalam Syarh al Misykah al Mashabih (3/1071)

– Imam Badruddin al ‘Aini al Hanafi dalam Syarh Abi Daud (4/136)

– Imam Murtadha az Zabidi al Hanafi dalam Ittihaf as Saadah al Muttaqin. (5/34-35)

– Imam Al Munawi asy Syafi’i dalam Faidhul Qadir (5/398)

– Imam Ibnul Mulaqqin asy Syafi’i dalam At Taudhih Li Syarh al Jaami’ ash Shahih (7/36)

– Imam Ali al Qari al Hanafi dalam Syarh al Fiqh al Akbar (hal. 199)

– Imam al Bayadhi al Hanafi dalam Isyarat al Maram (hal. 198)

– Imam Abul Hasan as Sindi dalam Syarh Sunan Ibni Majah (1/323)

– Syaikh Abul Hasan al Mubarkafuri dalam Mir’ah al Mafatih (3/349)

– Dll

Sementara itu sebagian lain menolak pendapat tersebut. Bagi mereka kiblatnya doa dan shalat itu sama.Kiblatnya doa ke langit dinilai pendapat yang tidak ada pendahulunya dari ulama salaf.

Imam Ibnu Abi al ‘Izz al Hanafi mengatakan:

أن قولكم : إن السماء قبلة للدعاء – لم يقله أحد من سلف الأمة ، ولا أنزل الله به من سلطان ، وهذا من الأمور الشرعية الدينية ، فلا يجوز أن يخفى على جميع سلف الأمة وعلمائها

Pekataan kalian “Langit adalah Kiblatnya doa”, tidak ada yang mengatakan demikian satu pun dari salafnya umat ini. Allah tidak pernah menurunkan kuasa dengan pendapat demikian. Ini adalah perkara agama yang syar’i, maka tidak boleh hal itu samar bagi semua salaf dan ulamanya.

(Syarh al ‘Aqidah ath Thahawiyah, hal. 327)

Ini juga diikuti para ulama lain seperti:

– Syaikh Abul Barakat Khairuddin al Alusi dalam Jala’ul ‘Aynain (hal.410)

– Syaikh Abul Ma’ali al Alusi dalam Ghayatul Amani (1/571)

– Syaikh Ahmad bin Ibrahim bin ‘Isa dalam Taudhih al Maqashid (1/400)

– Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi dalam Fatawa wa Rasail (hal.260)

– Syaikh al Albani dalam As Silsilah adh Dha’ifah no. 6204

– Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid dalam Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 126154

– DLL

Semoga perbedaan pandangan dalam hal ini tidak menjadi sebab robeknya persatuan kaum muslimin. Mana pun pendapat yang kita ikuti masing-masing pendapat juga terdapat para imam Ahlus Sunnah yang kredible ilmu, taqwa, dan akhlak nya.

Perdebatan masalah ini belasan abad lamanya dan belum ada kata final. Sebaiknya masalah ini tidak sampai menghabiskan waktu, pikiran, dan tenaga kita, sebab masih sangat banyak PR keumatan yang belum terselesaikan seperti pemurtadan, kemiskinan, penjajahan yg dialami sebagian negeri muslim,diusirnya umat Islam dari negerinya sendiri, dsb.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dosa Menggelisahkan Jiwa

Dosa itu Menggelisahkan dan Memalukan

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Dari Nawas bin Sam’an Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang “kebaikan” dan “dosa”, Beliau menjawab:

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَاحَاكَ فِي صَدْرِكَ، وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Kebaikan” itu adalah akhlak yang baik, dan “dosa” itu apa-apa yang membuat dadamu gelisah, dan kamu benci jika itu tampak dihadapan manusia.

📚 HR. Muslim No. 14/2553, At Tirmidzi No. 2389, dll

Syaikh Fuad Abdul Baqi menjelaskan:

أي تحرك فيه وتردد ولم ينشرح له الصدر وحصل في القلب منه الشك وخوف كونه ذنبا

Yaitu dada terombang ambing, bimbang, dan tidak lapang, di hati lahir keraguan dan rasa takut lahirnya dosa. (Selesai)

Ini merupakan hasasiyah imaniyah (kepekaan iman), yang tidak terjadi atas manusia yang sudah qaswatul qulub (keras hati). Bagi mereka yg sudah keras hati karena terbiasa dengan dosa, maka tidak ada lagi rasa gelisah itu, kecuali yang dirahmati Allah untuk bertaubat.

Wallahu yahdina ilaa sawaa’is sabiil

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jika Allah Hendak Mewafatkan Mematikan Seseorang

Jika Allah Hendak Mewafatkan Seseorang

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi M.A

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dari Abi Izzah ra, Rasululullah saw bersabda :

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ قَبْضَ عَبْدٍ بِأَرْضٍ جَعَلَ لَهُ بِهَا حَاجَةً»

“Jika Allah ingin mewafatkan seseorang di sebuah tempat , maka Allah akan membuatnya memiliki keperluan di tempat itu.” (Hadist Shahih riwayat Ibnu Hibban)

PENJELASAN:

1. Ulama berkata,

“ إذا أراد الله شيئا هيأ أسبابه “

“Jika Allah menginginkan sesuatu, maka Allah akan siapkan sebab-sebabnya. Begitu juga ketika Allah ingin mewafatkan seseorang di sebuah tempat, maka Allah akan buat ia punya hajat di tempat tersebut.”

2. Biasakanlah berkunjung ke tempat-tempat yang baik, agar memerintahkan malaikat maut untuk menjemputmu di tempat yang baik.

3. Hakim berkata,

“ إنما يساق من أرض الأرض ليصير أجله هناك لأنه خلق من تلك البقعة “

“Sesungguhnya seseorang digiring untuk wafat di sebuat tempat, karena ia diciptakan dari tanah di tempat itu.”

4. Bisa jadi seseorang yang lahir di Indonesia kemudian wafat di tanah suci karena ia diciptakan dari tanah yang berada di tempat tersebut, hal ini berdasarkan firman Allah :

مِنْهَا خَلَقْنَٰكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thaha: 55)

5. Di dalam kitab “Faidul Qodir” disebutkan,

“ فإنما يعاد الإنسان من حيث بدئ به “

“Sesungguhnya manusia akan dikembalikan ke tanah dari mana ia mulai diciptakan.”

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwasanya Nabi saw lewat di sebuah kubur yang sudah digali untuk seorang Habasy, kemudian beliau saw bersabda:

“Tidak ada Tuhan selain Allah, dia akan digiring ke bumi dan langitnya di mana ia berasal sampai ia akan diwafatkan di tanah ia diciptakan”. (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adab Mufrad).

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Surat Cinta dari Allah

Membaca al-Qur’an dalam Keadaan Mulut yang Terkena Najis

📚 Interaksi Al-Quran

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Mengenai membaca al-Qur’an dalam keadaan mulut yang terdapat najis, Abu al-Mahasin ar-Ruyani (w. 502 H) di dalam Bahr al-Madzhab fi Madzhab al-Imam asy-Syafi’i yang merupakan salah satu kitab terlengkap dalam madzhab Syafi’i yang memuat masalah-masalah yang unik (ghara’ib) mengutip perkataan ayahnya di mana menurutnya ada dua pendapat dalam hal ini. Pendapat yang pertama mengatakan tidak boleh membaca al-Qur’an bagi orang yang terdapat najis di mulutnya sebagaimana seseorang tidak boleh menyentuh mushaf jika di tangannya terdapat najis. Adapun menurut pendapat kedua adalah diperbolehkan sebagaimana orang yang berhadats juga boleh membaca al-Qur’an, namun ia masuk dalam kategori sesuatu yang makruh. Menurut Imam an-Nawawi (w. 676 H) di dalam at-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an, pendapat yang paling shahih adalah pendapat kedua yang mengatakan bahwa membaca al-Qur’an dalam keadaan mulut yang bernajis adalah tidak haram, tetapi hanya makruh.

Yang paling utama ketika seseorang membaca al-Qur’an tentunya adalah membacanya dalam keadaan mulut yang bersih. Membersihkan mulut dapat dilakukan dengan bersiwak, atau dengan menggosok gigi.[]

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Malu dan Iman

Kemana Perginya Rasa Malu Itu?

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Bila malu telah tiada dari diri kita entah kerusakan apa yang akan terjadi di muka bumi ini. Sangatlah memprihatinkan keadaan manusia-manusia di akhir zaman ini. Malu tiada lagi menghiasi, memgendornya penjagaan atas diri, dan sikap pun tak mencerminkan akhlak islami.

Banyak bertutur tak berlandas syariat
Ada bergaul lawan jenis pun tak mengenal sekat.
Bercanda ria pun dengan saling mendekat.
Tanpa disadari terbukalah peluang untuk bermaksiat.

Hati……
Hati…..
Dan hati…..
Jagalah hati dengan berawal menjaga lisan dan perbuatan serta pandangan kita.

Berawal dari manakah semuanya itu?
Apakah benar beralasan bahwa sekarang era keterbukaan sementara kita tak lagi mengenal asholah dakwah?
Kita mulai meninggalkan apa yang seharusnya kita tetap pegang teguh.
Nilai-nilai rabbaniyah sedikit demi sedikit bergeser.

Bahkan perkembangan era teknologi yang membuat segalanya bisa saja terjadi.
Akhwat nampak jelita nan shalihah meminta no HP ikhwan dan berkata salam kenal yaa akhi???
Begitu sebaliknya……
Istighfar.

Berawal dari hal biasa akhirnya menjadi luar biasa.
Banyak orang akan berdalih, itu wajar, itu manusiawi.
Tapi jika prinsip islami menjadi warna dalam tapak langkah pejuang dakwah niscaya keburukan mampu untuk dihindari.

Semua berawal dari hilangnya rasa malu.
Dan perlulah kita sadari bahwa malu itulah iman yang seharusnya menjadi akhlak kita.

Nabi bersabda,

الحياء والإيمان قرنا جميعا فإذا رفع أحدهما رفع الآخر

“Rasa malu dan iman itu terikat menjadi satu. Jika yang satu hilang maka yang lain juga akan hilang.” (HR. Hakim dari Ibnu Umar dengan penilaian ‘shahih menurut kriteria Bukhari dan Muslim. Penilaian beliau ini disetuju oleh Dzahabi. Juga dinilai shahih oleh al Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir, no. 1603)

Rasa takut kepada Allah mencegah kerusakan sisi batin seseorang. Sedangkan rasa malu dengan sesama berfungsi menjaga sisi lahiriah agar tidak melakukan tindakan buruk dan akhlak yang tercela. Karena itu orang yang tidak punya rasa malu itu seakan tidak memiliki iman. Nabi bersabda,

“Di antara perkataan para Nabi terdahulu yang masih diketahui banyak orang pada saat ini adalah jika engkau tidak lagi memiliki rasa malu maka berbuatlah sesuka hatimu.” (HR. Bukhari)

Jangan biarkan rasa malu tergerus oleh nafsu kita. Lantaran malu itu seiring dengan iman.
Bertambahnya rasa malu seperti itulah sejatinya bertambah pula iman kita.

Wallahu a’lam bisshawwab

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

BERPISAH UNTUK BERKUMPUL KEMBALI SELAMANYA

📝 Pemateri : Ustadz Mohammad Fauzil Adhim.

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷
⁣⁣
Sebesar apa pun kesetiaan kita pada istri, maut akan memisahkan. Begitu pula sebesar apa pun cinta seorang istri kepada suaminya, pada akhirnya akan dibatasi kematian untuk senantiasa bersama. Akan tetapi bagi orang-orang beriman keduanya beriman dan beramal shalih, ajal hanya jeda untuk menunggu perjumpaan dan berkumpul kembali di Jannah dalam keadaan gembira penuh kedamaian.⁣⁣
⁣⁣
Suami-istri yang beriman itu akan diseru:⁣⁣

ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ أَنتُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ تُحْبَرُونَ ⁣

“Masuklah ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan”. (QS. Az-Zukhruf, 43: 70).⁣⁣
⁣⁣
Kemudian kita diantar secara berombongan (berapakah anggota rombongan kita saat itu?). Allah Ta’ala berfirman:⁣⁣⁣

وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَٱدْخُلُوهَا خَٰلِدِينَ ⁣⁣⁣⁣

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”. (QS. Az-Zumar, 39: 73).⁣⁣
⁣⁣
Begitu kita melangkah memasuki Jannah, para malaikat menyambut:⁣⁣

سَلَٰمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى ٱلدَّارِ ⁣⁣⁣⁣

“Salam sejahtera atas kamu sekalian disebabkan oleh kesabaran kalian”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. Ar-Ra’d, 13: 24).⁣⁣
⁣⁣
⁣Aku tertegun. Alangkah sedikitnya bekal. Alangkah kurangnya persiapan. Sementara dosa-dosa menggunung tinggi. ⁣⁣
⁣⁣
Hanya kepada Allah kita meminta, kepada-Nya kita memohon pertolongan seraya berusaha berbenah memperbaiki iman dan membaguskan ‘amal. Semoga Allah Ta’ala kelak himpunkan kita dengan orang-orang yang kita cintai; suami, istri, orangtua maupun keturunan kita.

Wallahu a’lam bish showab

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678