Hidup dan Mati Adalah Ujian

Ridha Terhadap Hadirnya Ujian

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Ketika kita ridha dengan ketetapan-Nya maka keridhaan-Nya akan sampai kepada kita.

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allâh mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya (HR. at-Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Mâjah no. 4031)

Tidak mudah memang, ketika harapan tak selaras dengan kenyataan. Perih, sedih, merintih pun terasa makin menyesakkan. Namun penyadaran diri harus segera dilakukan dengan berucap, “Ya Allah aku ridha dengan apa yang Engkau hadirkan, walau terasa berat kuberharap Engkau menguatkan.”

Lepaskan segala rasa.
Berserah hanya pada-Nya. Tunduk dan patuh dengan titah-Nya.
Insya Allah akan mudah bertemu jalan keluarnya.

Jangan pernah berpikir bahwa segala masalah kitalah yang mampu menyelesaikan. Tapi segera genapkan keimanan sehingga diri tunduk dalam kepasrahan.

Keridhaan kita sebagai hamba, akan berbuah banyak kebaikan. Dan jika sampai Allah meridhai maka banyak hal yang akan kita dapatkan.

Pertama, merasa mudah dalam mengerjakan berbagai hal yang diperintahkan Allah SWT sehingga Allah SWT memudahkannya dalam menerima berbagai bentuk kebaikan.

Kedua, seorang Muslim jika ditimpa musibah atau malapetaka, maka dia tetap tenang dan bersabar melalui masalah yang dihadapi.

Hal itu sebagaimana Surat Al-Baqarah Ayat 177. Allah SWT berfirman, “…dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

Ketiga, mendapatkan ketenangan dan keyakinan terhadap janji Allah SWT mengenai pertolongan yang diberikan-Nya.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al-Fath Ayat 18).

Keempat, tidak khawatir terhadap kehidupan di dunia ini, dan percaya bahwa sudah ada jaminan Allah SWT sebab Dia-lah yang menjamin penghidupan bagi hamba-hambanya.

Kelima, tidak pernah merasa bosan bersimpuh kepada Allah SWT dengan berzikir dan membaca Alquran. Wallahul musta’an

Selayak Nabi Musa yang tak tahu jalan mana ketika terpojok di pinggir laut merah. Lantas dengan petunjuk Allah beliau berdoa,

اللَّهُمَّ , لَكَ الْحَمْدُ وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى , وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ , وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

Ya Allah segala puji bagimu, hanya kepadamu kami mengadu atas kesulitan yang kami hadapi, dan engkaulah penolong kami.
Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung.

Masya Allah laa quwwata Illa Billah

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Menyayangi dan Disayangi

KETELEDORAN ORANG TUA MENGUBAH ANAK MENJADI NAKAL

📝 Pemateri: Ustadzah DR. Aan Rohanah, Lc , M.Ag

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Teledor alias sembrono, atau menganggap remeh terhadap pendidikan anak akan menimbulkan dampak negatif kepada pertumbuhan kepribadian dan sikap anak.

Seharusnya urusan rumah tangga dan pendidikan anak itu sama pentingnya dengan urusan pekerjaan di kantor, sehingga orang tua selalu memberikan perhatian yang seimbang untuk semua urusan di dalam rumah atau di luar rumah, dan berusaha untuk mensukseskan semuanya.

Namun, ada orang tua yang menganggap pekerjaan di kantor itu paling penting, maka waktunya diprioritaskan hanya untuk kesuksesan pekerjaannya dan tidak untuk kesuksesan keluarga dan pendidikan anak. Sehingga sering mengabaikan proses pendidikan yang benar kepada anak. Maka muncullah sikap teledor terhadap pendidikan anak yang mengakibatkan anak berubah menjadi nakal.

Adapun sikap teledor yang harus dihindari oleh kedua orang tua dalam pendidikan anak sebagai berikut :

1. Kurang perhatian kepada anak sehingga tidak terlalu peduli kepada permasalahan anak.

2. Tidak sempat terlibat langsung dalam mengisi pertumbuhan dan perkembangan anak baik secara spritual, moral, intelektual, psikis, fisik dan sosialnya. Sebab tidak sempat menemani anak beribadah berjamaah, memberikan nasihat, bermain, mengajak jalan- jalan di waktu libur, mendampingi anak belajar di rumah atau berangkat ke sekolah, mengambil raport dari gurunya, mendengarkan curhatnya, dan lain-lain.

3. Membiarkan anak berkembang sendirian tanpa arahan orang tua, sebab mereka tidak punya waktu untuk memberikan jawaban dan bimbingan terhadap berbagai pertanyaan atas keingin tahuan anak.

4. Bersikap cuek terhadap perilaku anak sehingga anak kurang mampu membedakan perilaku yang baik, dan perilaku yang salah. Maka anak berubah menjadi malas, tidak disiplin, tidak bersemangat dalam belajar, berkata kasar dan berdusta.

5. Komunikasi yang buruk, karena dilakukan di waktu yang singkat dan terburu-buru.

6. Anak merasakan tidak mendapatkan cinta, kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya.

7. Menampakkan ketidak harmonisan dengan pasangan dengan kata-kata yang kasar dan sikap yang keras.

8. Membiarkan anak berteman dalam lingkungan yang buruk.

Wallahu a’lam bish showab

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doakan Selalu Orang Tua Kita

Doa Kita Adalah Ilham Dari-Nya

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi M.A

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

ما ألهم الله عبدًا أن يدعوه إلا رغبة منه بالاستجابة

Allah tidak memberi ilham pada seorang hamba untuk berdo’a kecuali karena Allah ingin mengabulkan do’a itu.

PENJELASAN:

1. Doa yang sering kita panjatkan adalah petunjuk dari Allah bahwa Ia ingin mengabulkan doa tersebut.

2. Berdoa itu seperti mengayuhkan sepeda, perlahan demi perlahan akan sampai ke tempat yang kita tuju.

3. Jangan menuntut Allah agar menyegarkan doamu dikabulkan, tetapi tuntutan dirimu agar pantas menjadi insan yang dikabulkan doanya.

4.عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لَيْسَ شَىْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ»

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah dibandingkan doa.'” (HR. Tirmidizi).

Karena di dalam doa ada harapan dan optimisme  dan kita diajarkan hanya berharap kepada-Nya.

5.قال شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله -: [القلوب الصادقة والأدعية الصالحة هي العسكر الذي لا يغلب]~

Ibnu Taimiyyah berkata, “Hati yang tulus dan doa yang baik adalah tentara yang tidak bisa dikalahkan.”

6. قال أبو الدرداء رضي الله عنه : من يُكثر قرع الباب يُوشك أن يُفتح له، ومن يُكثر الدعاء يُوشك أن يستجاب له]~

Abu al-Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata: “Barang siapa yang banyak mengetuk pintu maka akan segera dibukakan baginya, dan barang siapa yang banyak berdoa akan segera dikabulkan.”

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Angan Angan dan Ajal

Ketika Jelang Habis Masa

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Tertegun diri mengingat usia yang tak lagi muda. Langkah kaki mulai melemah tak berdaya. Mata mulai rabun ketika senja telah tiba. Telinga pun sudah mulai berkurang kepekaannya.

Hari berganti pekan tak terasa waktu sudah penuh sebulan. Begitu pun bulan berlalu hingga tiba di tahun depan. Putaran waktu tak ada yang bisa menahan. Hingga tiba di penghujung kehidupan.

Lantas kita akan bertanya.
Kapan jadwal ajalku? Tak ada jawaban atas pertanyaan. Tak pernah kita tahu kapan hidup ini akan berakhiran.

Mati bukan soal usia. Ada yang baru terlahir di dunia Allah sudah panggil menghadap-Nya. Ada yang berusia remaja ternyata sudah habis masanya. Ada yang mulai tumbuh mendewasa ternyata telah sampai di batas umurnya. Bahkan sudah tua renta Allah masih ijinkan untuk menikmati hidupnya.

Suatu ketika Hasan Al-Bashri mengangkat pertanyaan di suatu majelis, “Wahai para orang lanjut usia yang terhormat, apakah yang dinanti dari tanaman pertanian yang sudah tua?” Mereka menjawab, “Masa panen.” Lalu Hasan Al-Bashri melemparkan pandangannya pada para pemuda dan berkata, “Para pemuda yang kucintai, ingatlah adakalanya tanaman itu layu sebelum tua.”

Mari kita pejamkan mata sejenak dan renungi nasihat Hasan Al Bashri hingga menyadari bahwa semua yang berlalu tak bisa kembali. Maka tanamlah kebaikan hingga kelak mulia saat berjumpa kematian.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Tidur Secukupnya

Pencari Surga itu Sedikit Tidur

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi MA.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

من لزم الرقاد عدم المراد

“Barang siapa terlalu banyak tidur maka akan banyak kehilangan cita cita nya”

Hasan Al Bashri berkata:

” لم أرى مثل الجنة نام طالبها ولم أرى مثل النار نام هاربها”

Aku belum melihat orang yang mencari syurga itu tidur dan aku belum melihat orang yang takut neraka juga tidur”

Sungguh keindahan nikmat syurgawi membuat para perindunya terbangun di akhir akhir malam, menjauhkan lambungnya dari tempat tidur kemudian ia larut dalam istighfar menyesali kesalahannya”

Sungguh dahsyatnya siksa neraka membuat mata ini tidak ingin banyak tidur, karena sehari saja di neraka maka ia sama dengan seribu tahun di dunia.

Tidurlah secukupnya dan jangan terlalu banyak karena hidup ini singkat sedangkan yang harus di kerjakan itu banyak.

Meski di syurga nanti kita tidak tidur, karena tidur adalah saudara kematian, sedangkan di syurga adalah tempat keabadian.

Penduduk Syurga itu tidak tidur, karena istirahat mereka tidak membutuhkan tidur dan penduduk neraka itu juga demikian karena azab mereka terus menerus.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Toleransi

TOLERANSI DI HARI RAYA AGAMA LAIN

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Jauh sebelum istilah toleransi antara umat beragama didengungkan dan ramai dibicarakan, sejak awal ajaran Islam sudah mengajarkan nilai-nilai yang menjadi prinsip toleransi antara umat beragama, yaitu Tidak menghalangi keyakinan orang yang beragama lain dan tidak memaksa mereka untuk pindah keyakinan ke dalam agama kita dan kemudian tidak menyakiti dan mengganggu mereka semata karena agamanya.

Allah Taala berfirman,

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam) (QS. Al-Baqarah: 256)

Di ayat lain Allah berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Maka, apabila seorang muslim memahami agamanya dengan baik dan utuh lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, hal itu akan menjadikannya sebagai muslim yang toleran terhadap saudara-saudara kita yang belainan agama.

Termasuk dalam hal menyikapi hari raya agama lain. Maka sikap yang benar sesuai syariat Islama adalah tidak melarang mereka merayakan hari raya mereka, tidak mengganggu dan menyakiti mereka merayakan hari rayanya di tempat-tempat ibadah mereka atau di tempat-tempat yang telah ditentukan.

Karena itu, tidaklah dibenarkan, bahkan layak dikecam, dengan alasan apapun, menghalangi dan mengganggu orang yang beragama lain merayakan hari rayanya, apalagi jika sampai menimbulkan kerusakan dan korban nyawa. Itu adalah perbuatan yang layak dikutuk.

Namun di sisi lain, yang patut diingatkan adalah bahwa ajara Islam yang mengajarkan kita untuk bersikap baik, tidak mengganggu dan menyakiti orang yang beragama lain di hari rayanya, juga adalah ajaran yang mengajarkan kita untuk menjaga jatidiri dan identitas muslim sebaik-baiknya serta tidak mencampur adukkan masalah akidah dan ibadah. Dalam hal ini, wujudnya adalah tidak ikut serta dalam pelaksanaan hari raya mereka. Karena hari raya suatu agama adalah perkara yang sangat spesial dan khusus bagi agama itu sendiri.

Rasulullah saw bersbada pada hari raya Islam,

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا (رواه البخاري ومسلم)

“Setiap kaum ada Idnya, dan ini adalah Id kita.” (HR. Ibnu Majah)
Maka dilarang bagi seorang muslim melakukan tasyabuh (menyerupai) pada perkara yang khusus dan special bagi suatu agama, apakah dalam bentuk sikap, penampilan, pakaian, gerakan, dll. Sebagaimana sabda Rasulullah saw

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَومٍ فَهُوَ مِنْهُم (رواه أبو داود)

Siapa yang menyerupai mereka, maka dia bagian dari mereka (HR. Abu Daud)

Para ulama mengatakan bahwa hadits ini merupakan peringatan untuk tidak menyerupai orang-orang kafir atau ahli maksiat terkait perkara-perkara yang bersifat khusus sebagai identitas mereka.
Karena itu, jika menyerupai mereka yang berlainan agama terkait dengan perkara-perkara khusus mereka, dilarang dalam Islam, apalagi jika ikut serta dalam perayaan agama mereka yang didalamnya terdapat ritual keagamaan mereka dan berbagai keyakinan yang menyertainya.

Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan, ketika datang ke Madinah mendapatkan penduduk Madinah bergembira ria di dua hari yang mereka anggap sebagai hari raya mereka. Maka beliau bersabda.

إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُم بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر

Allah sudah mengganti untuk kalian dua hari yang lebih baik dari kedua hari tersebut; Idul Adha dan Idul Fitri. (HR. Abu Daud)

Karena itu Majlis Ulama Indonesia (MUI) sejak jauh-jauh hari dalam fatwanya yang dikeluarkan pertahun 1401 H/1981 M telah tegas menyatakan haram ikut serta menghadiri upacara natal dan menganjurkan untuk tidak terjerumus dalam perkara syubhat dengan tidak mengikuti kegiatan-kegiatan natal.

Ini bukanlah sikap intoleran atau tidak bertoleransi. Karena toleransi berlaku pada sikap baik dalam perkara-perkara yang bersifat duniawi. Adapun jika berkaitan dengan keyakinan, ibadah dan perkara yang menjadi ciri khas mereka, maka kita memiliki pedoman yang jelas dan tegas; Lakum diinukum waliyadiin (bagi kalian agama kalian, dan bagiku adalah agamaku)

Surat Al-Kafirun yang mengandung ayat di atas diturunkan sebagai jawaban dari tawaran orang kafir Quraisy kepada Rasulullah saw untuk melakukan ibadah secara bergantian, sekali waktu mereka ikut beribadah seperti orang beriman, sekali waktu orang beribadah ikut cara mereka. Maka Allah turunkan surat Al-Kafirun yang sangat kita hafal tersebut sebagai bantahan bahwa soal ibadah dan keyakinan maka hendaklah memegang prinsip dan pengamalan sendiri. Tidak boleh dicampuradukkan.

Demikianlah Islam mengajarkan sebuah ajaran yang agung namun penuh keseimbangan. Yaitu bagaimana kita sebagai muslim memiliki akidah yang kuat, ibadah yang benar, identitas dan jatidiri yang jelas, namun tetap memberikan penghormatan kepada mereka yang berlainan agama, tidak menyakiti dan mengganggu mereka.

Jangan sampai keimanan dan ketaatan, kita dijadikan alasan untuk menyakiti dan mengganggu umat beragama lain. Tapi jangan sampai juga, tuntutan toleransi membuat kita luntur dalam akidah, rusak dalam ibadah serta kehilangan identitas dan jatidiri. Semoga Allah kuatkan iman islam kita dan berikan kita kemampuan untuk berakhlak mulia dan berlaku baik kepada siapapun termasuk kepada mereka yang berlainan agama.

بارك الله لي وليكم في القرآن العظيم

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Seruan Untuk Memakmurkan Masjid

Ketika Museum itu Dahulu adalah Masjid

📝 Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Pada tahun 1908, masjid Ayasofya (Aya Sofya) Camii masih dipakai untuk sholat walau hanya beberapa shaf saja. Nampak di shof belakang empat muslimah bersama seorang anaknya.

Sejak awal pembebasan oleh Sultan Mehmed II Fatih tahun 1453 gereja Hagia Sophia ini jatuh menjadi properti sultan karena kota direbut melalui pertempuran. Beberapa gereja di dalam kota tua Konstantinopel tetap diizinkan untuk beroperasi; bahkan perbaikannya didanai oleh Kesultanan Turki Utsmani.

Mihrab

Ketika Sultan Mehmed II Fatih menjadikannya masjid maka diletakkanlah mihrab dari kayu menghadap ke arah kota Makkah. Mihrab dibangun sedikit di sebelah kanan Apse (ruang setengah lingkaran pada bagian depan) bekas gereja dengan kemiringan sekitar 10 derajat dari porosnya.

Karpet dan Bendera

Di kemudian hari setelah tahun 1520, pada masa Sultan Süleyman I Kanuni, ketika Madinah dan Makkah menjadi bagian dari tanggung-jawab Kekhilafahan Turki Utsmani, beberapa karpet Masjid Nabawi diganti dengan yang baru. Sedangkan karpet yg lama sebagian diletakkan pada shof pertama Ayasofya Camii. Sedangkan sebagian umbul-umbul (raya) milik Nabi Muhammad ShalalLaahu ‘alayhi wa Sallam diletakkan di sebelah kiri dan kanan mihrab.

Bekas lukisan mosaik gereja tidak langsung diubah sampai pada era Sultan Ahmed I (1603-17). Pada masa beliau barulah gambar-gambar menyerupai manusia itu ditutup untuk tidak melanggar ketentuan dilarangnya gambar mahluk bernyawa.

Menara Masjid/Minaret

Pada era Sultan Mehmed II Fatih ditambahkan sebuah minaret (tapi sekarang tidak ada lagi) di sebelah barat-daya (SW) di sebelah kanan pintu masuk dan satu minaret lagi di sebelah tenggara (SE). Sedangkan Sultan Bayezid II (1481-1512) menambahkan satu minaret di pojok timur-laut (NE) pada era Sultan Selim II (1566-74) menyuruh arsitek kesultanan Mimar Sinan untuk membebaskan perumahan yang mengelilingi masjid. Mimar Sinan juga, dengan pertimbangan keamanan bangunan, menilai salah satu menara buatan Mehmed II Fatih membahayakan struktur asli gereja mengusulkan pembongkarannya serta pendirian yang baru. Pada era Sultan Murad III (1574-95) barulah minaret Selim II selesai dibangun serta menambahkan satu minaret lagi secara simetris.

Kedua Lilin Raksasa

Setelah Sultan Süleyman I Kanuni berhasil menguasai kota Buda (Budapest) di Hungaria, beliau menghadiahkan 2 lilin raksasa dari Katedral Buda kepada Ayasofya Camii. Kedua ghanimah simbolik itu diletakkan pada kedua sisi mihrab.

Ruang Muadzin

Pada masa Sultan Murat III dibangun platform lantai mezanin (Müezzin Mahfili) sebagai tempat muadzin mengumandangkan adzan serta pengumuman lainnya.

Perpustakaan dan Madrasah

Pada masa Sultan Mahmud I (1730-54) ditambahkan sebuah perpustakaan pada barisan di sebelah selatan. Beliau juga menambahkan air-mancur segaligus tempat berwudhu di dekat pintu utama serta sebuah medrese.

Rondel Kaligrafi

Kaligrafi berupa nama Allah Ta’ala, Rasulullah Muhammad ShalalLaahu ‘alayhi wa Sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Hasan, dan Husein yang tergantung pada lantai dua dibuat pada pertengahan abad ke-19 Masehi oleh kaligrafer kesultanan sekaligus Hakim-Militer Kazasker Mustafa İzzet Efendi (1801-1876). Beliau juga mengerjakan seni kaligrafi untuk beberapa masjid lainnya seperti Hırka-i Şerif, Buyuk Kasımpaşa; Kucuk Mecidiye; Sinan Pasa and Yahya Efendi.

❌ Pada tahun 1934, atas perintah Mustafa Kemal Atatürk, masjid Ayasofya ini diubah menjadi museum.

Agung Waspodo

Depok, 24 Dzul-Hijjah 1440 Hijriyah

➡️ Data masjid diambil dari buku 📚 Matthews. Mosques of İstanbul – Including the Mosques of Bursa and Edirne. SCALA Yayıncılık. Ankara: 2010 (pp.41-46)

➡️ Foto diolah sendiri oleh pemateri dari buku 📚 Benoist-Mechin. Turkey 1908-1938 – The End of the Ottoman Empire, A History in Documentary Photographs. Swan Productions. Schweiz: 1989 (p.22)

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pasangan yang Menentramkan

T.E.M.A.N

📝 Pemateri: Ustadz Bendri Jaisyurrahman

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Pernah ngebayangin gak tinggal di tempat seperti surga tapi sendirian?

Mau makan apa aja bebas. Main apa aja jadi. Kesana kemari nampak pemandangan sangat indah. Tapi ternyata eh ternyata cuma sendirian. Gak ada teman. Hampa rasanya. Serasa makan indomie tanpa mecin. Nyesek.

Demikianlah Allah jadikan penyempurna nikmatnya surga bagi Nabi Adam AS dengan adanya teman pendamping baginya. Hadirnya Bunda Hawa adalah pelengkap sekaligus puncak nikmat. Segala kesenangan di surga makin terasa nikmat saat ada teman. Gak lagi sendiri. Intinya : gak ada elo gak rame.

Itulah mengapa jomblo yang berkelimpahan harta, sudah travelling kemana-mana. Mulai dari England sampai wkwkwkland, keliling Chicago hingga Ciputat, atau Wakatobi transit di Wakanda tetaplah gelisah. Buat apa disuruh hati-hati di jalan. Kalau pada saat di jalan tak ada yang mengisi hati. Ngelihat truk gandeng aja bikin keki. Malu setiap ke bank. ATM aja udah bersama sementara diri masih Mandiri.

Inilah hakikat hidup. Butuh teman. Maka pernikahan bukanlah sekadar pemuasan birahi. Tapi pengusir sepi. Saat hati gak tenang ada yg memeluk sambil memanggil ayang. Saat semangat hidup kolaps ada yg bisik mesra : Hai Bebs.

Bersyukurlah jika pasangan hidup kita telah menjadi teman. Dan inilah gambaran hubungan pasutri di dalam Alquran. Ketika pasutri sudah menjadi teman. Maka tak ada sungkan. Semua kebaikannya adalah anugerah, dan kekurangannya gak jadi masalah. Namanya juga teman.

Jika istri kita melenceng ingatkan hakikat pertemanan ini. Bahwa kita adalah teman sehidup sesurga. Jangan ancam dia dengan kata-kata : kamu pilih rajin ngaji atau dipoligami?

Duh, ama temen kok ngancem? Ntar dia balas : aku siap dimadu asal kamu siap diracun. Kan, ini mah lebih serem dari ghosting. Levelnya udah kuntilanaking (apa sih?). Bikin bulu kuduk berdiri padahal banyak kursi.

Kalau betul-betul teman, harusnya ingatkan tentang misi. Bahwa pasutri adalah teman perjalanan menuju surga. Jika istri tersesat jalan, cukup katakan : “Aku gak mau kehilangan kamu di surga. Gak kebayang rasanya di surga ketemu banyak bidadari tapi gak ada kamu” #eaaa

Inilah TTM syariah. Teman Tapi Mesra bersyariah 🙏

Wallahu a’lam bish showab

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Rezeki Sudah Pasti

Empat Hal yang Melancarkan Rizqi

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi MA.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan:

وأربعة تجلب الرزق :
❶ قيام الليل
❷) وكثرة الإستغفار بالأسحار
❸) وتعاهد الصدقة !!
❹) والذكر أول النهار وآخره .

Ada empat hal yang bisa menjadi sebab datangnya rezki:

● Shalat malam

● Memperbanyak istighfar di waktu sahur (sebelum shubuh)

● Membiasakan sadaqah

● Membiasakan berdzikir di awal siang (pagi) dan di akhirnya (petang).

Penjelasan:

1. Yang menyebabkan lancarnya rizqi tentunya tidak hanya empat, di sebutkan hanya empat di sini untuk membatasi saja dan intinya bertaqwa itu mendatangkan rizqi.

2 . Ketika anda melakukan 4 hal ini, maka insya Allah anda akan di kejar kejar oleh rizqi.

3. Jangan langsung menyimpulkan bahwa anda tidak mendapatkan rizqi ketika sudah mengamalkan 4 hal di atas dan uang tidak kunjung datang.

4. Setelah mengamalkan resep di atas, insya Allah anda akan tenang lebih, sehat, dan keluarga lebih harmonis, itu semua adalah rizqi yang tidak boleh di pungkiri.

5. Istighfar membuat yang gundah gulana menjadi gembira, yang sempit dadanya menjadi lapang dan ia akan di beri rizqi dari jalan yang tidak pernah ia duga demikian janji Rasulullah saw.

6. Shalat malam melancarkan rizqi dan mendatangkan cinta Allah karena ia beribadah ketika manusia dalam keadaan lalai.

7. Orang yang berani bersedekah adalah orang yang berani untuk menjadi kaya dan orang yang kikir adalah orang yang merencanakan kemiskinan untuk dirinya.

8. Allah bersama seorang hamba ketika bibirnya basah bergerak menyebut asmanya dan Allah pun memberkahi rizqi untuknya, bisa jadi rizqi nya tidak tetapi cukup ,karena yang banyak belum tentu membuat cukup dan puas.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dialog Ayah Anak

Mengasuh Anak Ketika Orang Tua Sibuk Bekerja

📝 Pemateri: Ustadz Bendri Jaisyurrahman

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Menurut pandangan Islam dalam kehidupan sehari-hari, orang tua tidak bisa menghindar dari tanggung jawab dan amanahnya sebagai seorang ayah-ibu terhadap anak-anaknya yang kondisinya di era saat ini orang tua selalu sibuk bekerja. Sementara tanggung jawab untuk mendidik anak akan dihisab kelak di Hari Kiamat di hadapan Allah SWT.

Bukan berarti pekerjaan bisa dipakai sebagai alasan untuk membiarkan atau menelantarkan anak-anak kita. Karena menelantarkan anak-anak adalah termasuk perbuatan dzolim dari orang tuanya yang menyebabkan Allah murka kepada orang tuanya.

Dalam Hadits Shahih Rasulullah saw bersabda: “Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menelantarkan orang yang dibawah tanggungannya”.

Artinya, disebut berdosa kalau menelantarkan (tidak peduli) kepada anak-anaknya dan orang -orang yang ada di bawah tanggungannya. Ibnul Qoyyim Al Jauziyah dalam kitabnya Tifatul Maulud Bi Ahkamil Maulud menyebutkan bahwa salah satu orang yang dzolim, orang tua yang menyengsarakan anaknya di Akhirat, beliau menyatakan: “Betapa banyaknya orang tua yang menyengsarakan anaknya di dunia dan Akhirat”.

Padhal tidak ada satu orang tua pun yang berniat ingin menyengsarakan anaknya. Ada tiga macam orang yang menyengsarakan anaknya di dunia dan Akhirat:
1. Tidak peduli terhadap urusan anaknya. Anaknya bisa makan atau tidak, anaknya sekolah atau tidak, dibiarkan, tidak diperhatikan.
2. Dia (orang tua itu) tidak mendidiknya
3. Dia (orang tua) memfasilitasi syahwat anaknya.

Memfasilitasi syahwat anak, misalnya dengan membelikan anaknya PS (Play Station), padahal ia tidak tahu bahwa dalam Game PS itu banyak yang merusak dan meracuni jiwa anak. Atau orangtua tidak mau diganggu di akhir-pekan, lalu anak dipinjami HP padahal dalam HP itu ada program-program yang tidak boleh dilihat oleh anak-anak. Apalagi anak-anak difasilitasi kamar ber-AC, gadget di tangannya, maka ketika anak mengunduh film porno dalam kamarnya, orang tua tidak akan tahu.

Karena itulah maka jangan sampai kita disebut sebagai orang tua yang dzolim. Di tengah kesibukan kita, maka Allah SWT kelak di Akhirat akan menanyakan dan diminta pertanggungjawaban kita terutama dalam mendidik (mengasuh) anak.

Dalam Hadits shahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah saw bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya. Khususnya seorang ayah ia bertanggungjawab atas keluarganya. Dan ia akan ditanya di Akhirat tentang pertanggungjawaban-nya”.

Maka anda sebagai kepala keluarga, yang sibuk bekerja, jangan sampai tidak bisa mempertanggungjawabkan ketika ditanya di Akhirat kelak. Menurut ulama Syaikh Abdullah Nasihu dalam Kitab Tarbitul ‘Alam Islam mengatakan: “Nanti akan banyak para ayah yang mula-mula melangkahkan kakinya menuju Surga dengan percaya-diri (PD), karena membawa pahala sedekah, pahala Sholat Malam, pahala membaca AlQur’an, tetapi sampai di pintu Surga ada seseorang yang mencegatnya (menundanya) dengan mengadu kepada Allah subhanahu wata’ala: “Ya Allah, tahanlah orang ini, aku menuntut hakku”.

Ternyata orang itu adalah anaknya sendiri ketika di dunia. Kemudian ditanyakan: “Apa hak yang engkau tuntut dari orang ini?”. Maka jawab orang (anaknya) itu: “Dia tidak kurang-kurang ibadahnya, rajin Sholat Malam, dan ia rajin beribadah kepada Allah ketika di dunia, tetapi sebagai anak aku tidak pernah diurusi ketika aku masih dalam pengasuhannya. Aku menuntut hakku, aku menjadi anak yang melawan, anak yang sering berbuat dzolim karena tidak dididik oleh ayahku. Aku sering melanggar perintah-Mu karena aku tidak pernah mendapat pengajaran tentang Engkau, ya Allah”.

Maka Allah memanggil orang (si ayah) tersebut, seluruh pahalanya diambil oleh Allah dan diberikan kepada anaknya dan dosa si anak diberikan kepada ayahnya itu. Maka orang (si ayah) itu terlantar kelak di Akhirat.
Artinya, pertanggungjawaban tetap akan dipertanyakan oleh Allah SWT di Akhirat. Karena anak merupakan amanah dari Allah SWT.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Demikian pula harus kita pahami bahwa prinsip orang tua bekerja, bukan hanya dirinya saja yang sibuk. Karena para Nabi terdahulu adalah manusia-manusia yang sibuk berkerja. Padahal ketika itu para Nabi bekerja tidak difasilitasi dengan dengan sarana teknologi maju untuk berinteraksi dengan anaknya.
Contoh: Nabi Ibrahim ‘alaihissalam hanya satu tahun sekali pulang menemui anaknya. Demikian pula Nabi-Nabi yang lain, jarang sekali berinteraksi dengan anak-anaknya. Tetapi kepedulian tehadap anak-anak mereka tetap mereka lakukan. Mereka tetap menjalankan tugas terhadap anak-anaknya.

Misalnya seperti yang diceritakan dalam Kitab Sir’alam An Nubala ada seorang ayah yang bernama Faruh, pulangnya 30 tahun sekali. Faruh adalah seorang Mujahid yang berangkat ke medan perang, ingin mati syahid, ternyata selama 30 tahun tidak juga mati syahid, dengan tubuh yang sudah renta karena usia tua ia pulang kepada keluarganya.

Tetapi ada satu hal yang mengagumkan bagi anaknya, sehingga anaknya tetap meneruskan cita-citanya. Meskipun 30 tahun ayahnya tidak pulang, tetapi bila anaknya ditanya: “Aku ingin meneruskan cita-cita ayahku. Kalau ayahku berjuang di medan perang dengan pedang, maka aku berjuang dengan pena”.
Nama anaknya itu yang kemudian kita kenal sebagai Ulama, yaitu Syaikh Robi’ah Ar Ro’yi. (Kata “Ar Ro’yi” artinya orang yang pandai ber-argumentasi, banyak Argumentasi).

Beliau adalah guru dari Imam Malik, Imam Sofyan Ats Tsauri dan Imam Abu Hanifah. Memang di Masjid Nabawi ketika itu ada Majlis yang dihadiri oleh para Ustadz. Para Ustadz itu belajar dan mendalami agama Islam.
Dan guru para Ustadz itulah yang bernama Syaikh Robi’ah Ar Ro’yi, anak dari Faruh yang tidak pulang selama 30 tahun.

Adakah di antara kita saat ini yang tidak pulang selama 30 tahun karena tugas, adakah yang 10 tahun, atau satu tahun tidak pulang karena bekerja? Ternyata ada yang lebih parah (lama) dibanding kita.
Sementara di zaman sekarang kita difasilitasi sarana komunikasi maju, sehingga tidak pulang satu tahun-pun masih bisa terkoneksi. Ada telepon, ada HP, social media dan sebagainya. Bagaimana halnya dahulu Nabi Ibrahim a.s. dengan anaknya Ismail a.s.?

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Lalu bagaimana dengan kondisi kita saat ini sebagai orangtua yang sibuk tetapi tetap bisa mendidik anak-anak kita?

Ada dua yang harus kita pahami dalam prinsip pengasuhan:

1. Menanamkan persepsi tentang ayah (orangtua) kepada anak secara positif.

Persepsi bahwa ketiadaan ayah secara fisik bukan berarti ketiadaan ayah secara psikis (kejiwaan). Sehingga anak-anak yang tidak mendapatkan sosok ayah dan ibu secara fisik, mereka tetap mendapatkan ayah-ibu secara psikis. Mereka bisa mengatakan: Ayahku seorang yang peduli, ia berjuang di jalan Allah. Persepsi demikian yang harus dibangun dalam keluarga.

Dalam Kitab Sirrah Wal Manaqib disebutkan bahwa Umar bin Abdul’Aziz bin Marwan, mendapatkan tugas dari Khalifah untuk menjadi Gubernur di Mesir, sedangkan ia berasal dari Madinah. Karena ditugaskan di Mesir, ia tidak sempat mendidik anaknya. Saking pedulinya kepada anaknya, maka ia mencari seorang guru untuk mendidik dan mengajarkan ilmu kepada anaknya, sebagai pelaksana tugas dari fungsi dan missi yang ia miliki.

Bedanya dengan kita di Indonesia pada umumnya, bila seorang mencarikan guru untuk anaknya, maka pesan orangtua itu kepada guru anaknya: “Terserah Pak Ustad, yang penting anaknya saya menjadi baik”. Sedangkan Umar bin Abdul ‘Azis bin Marwan mencari guru untuk anaknya dengan menyebutkan visi dan misinya sebagai orangtua: “Ya Syaikh, aku ingin anakku belajar kepada anda, pertama belajar bahasa Arab dengan baik dan benar, kedua ajarkan kepada anakku agar ia sholat tepat waktu”.

Sebelum berangkat tugas di Mesir, Umar bin Abdul ‘Azis berkata kepada guru anaknya: “Selama aku di Mesir, tolong kirimkan laporan perkembangan anakku sebulan sekali”.
Maka guru-anaknya itu setiap hari menulis perkembangan anak didiknya itu untuk dilaporkan sebulan sekali kepada ayahnya (Umar bin Abdul ‘Azis) di Mesir. Bayangkan, ketika itu belum ada alat komunikasi yang canggih seperti sekarang. Maka Umar bin Abdul ‘Aziz selama bertugas di Mesir sebagai Gubernur, beliau menerima setumpuk surat laporan perkembangan anaknya. Maka setiap beliau membaca laporan itu, beliau tahu betul perkembangan anaknya, sampai pada suatu laporan yang tidak mengenakkan hatinya.

Isi surat laporan itu: Hari ini anak Tuan terlambat sholatnya, hari ini anak Tuan tertinggal sholatnya satu rakaat dalam sholat berjama’ah, hari ini anak Tuan tidak sempat sholat berjama’ah, dst., dst.
Di situlah Umar bin Abdul ‘Azis merasa khawatir karena selama tugas di Mesir, dengan meninggalkan anaknya di Madinah, beliau tahu bahwa sholat anaknya berantakan.

Maka diminta guru anaknya itu berangkat ke Mesir, untuk dimintai pertanggungjawabannya dan ketika sampai di Mesir, guru anaknya itu ditanya: “Kenapa anakku sering terlambat sholat? Bukankah sudah aku pesankan agar mendidik anakku agar sholat tepat waktu dan belajar bahasa Arab dengan baik?”. Maka dengan cepat guru anaknya itu menjawab: “Anak Tuan sekarang sudah berbeda, sekarang anak Tuan sudah menjadi ABG, sekarang ia berambut gondrong, dan ketika hendak sholat ia menyisir rambutnya lama, ia berdandan lama sekali”.

Anak Umar bin Abdul Aziz memang dikenal di Madinah sebagai anak-muda Metro-seksual, senang berdandan, menghias diri. Karena oleh ayahnya ia selalu dikirim uang dari Mesir sebanyak 1000 Dinar (Bila dikurs sekarang = Rp 2 milyar). Maka anak itu membeli parfumnya yang paling mahal, tumpah sedikit saja langung ganti, membeli lagi. Bajunya selalu paling bagus, beberapa kali pakai langsung ganti baru. Dan masih banyak lagi kemewahan dan pemborosan lainnya.

Dengan laporan lisan dari gurunya itu, ayahnya (Umar bin Abdul ‘Azis) menjadi tahu, bahwa karena dandan telalu lama sholatnya menjadi telat. Maka ditulislah surat kepada anaknya, isi suratnya : Bersama surat ini aku utus seorang tukang cukur khusus dari Mesir untuk mencukur gundul kepalamu. Agar kamu tidak lagi terlambat sholat. Ketika anak Umar dicukur gundul (habis), ia berkata: “Ayahku memang jauh di mata tetapi dekat di hati”.

Itulah yang tidak dimiliki orangtua zaman sekarang. Karena anak merasa tidak diperhatikan oleh orangtuanya. Karena sibuk bekerja, sampai mengakibatkan orangtua tidak peduli kepada anak. Sampai tidak tahu perkembangan anak.

Padahal seharusnya, bila sibuk bekerja, sampai harus mencarikan guru untuk anaknya, pastikan guru itu selalu memberikan laopran secara periodik tentang perkembangan anaknya.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Imam Sahid Hasan Al Banna dalam Kitab yang ditulis oleh Lili Nur Aulia dengan judul: Ada Cinta Di Rumah Hasan Al Banna. Sebagaimana orang mengetahui bahwa Sahid Hasan Al Banna adalah seorang Muaziz Dakwah di Mesir, jamaahnya ratusan ribu bahkan jutaan antara lain adalah Jamaah Al Ihwanul Muslimin di Mesir. Sampai beliau mendidik Calon Da’i di Indonesia termasuk Hizbut Tahrir awalnya dulu dipimpin oleh Syaikh Taqiudin Al Nabhani yang merupakan murid dari Sahid Hasan Al Banna. Karena lalu berbeda pandangan dengan gurunya, kemudian Syaikh Taqiudin mendirikan Hizbut Tahrir di Indonesia.

Syaikh Sahid Hasan Al Banna selalu sibuk berdakwah, kemana-mana beliau menenteng map, isi map itu adalah laporan perkembangan anaknya dari isterinya yang sehari-hari mendidik anaknya. Sehingga suaminya (Syaikh Sahid Hasan Al Bani) tahu dari laporan isterinya: Anakmu yang bernama Saiful Islam yang berumur satu tahun lima bulan sekarang sudah bisa bejalan. Anakmu sudah bisa mengucap ini dan itu, anakmua senang sekali main bola, dst.dst. Semua ditulis dalam laporan surat dalam map itu.

Sehingga setiap kali bertemu dengan anaknya, Syaikh Sahid Hasan Al Banna bertanya: “Bagaimana dengan main Futsalmu, nak?”. Maka si anak dengan heran kembali bertanya: “Kok Papa tahu, dari mana?”. Itulah yang menyebabkan si anak merasa selalu diperhatikan. Maka persepsikan oleh anda sebagai orangtua seperti itu.

Persepsi: Anak tahu bahwa ayahnya sibuk, tetapi peduli kepadanya.

Jangan sampai seperti yang terjadi di negeri kita:

1. Anak merasa tidak dipedulikan oleh orangtuanya.

2. Anak dititipkan di pesantren, tetapi orangtua tidak tahu siapa nama teman akrab-nya

3. Orangtua tidak tahu anaknya sudah kelas berapa, dst.dst.

Bagaimana caranya agar anak punya persepsi sebagaimana tersebut di atas ?

Caranya :

1. Konfirmasi setiap hari, bahwa Bapak tetap peduli kepada anak-anaknya,

2. Ibu tetap menunjukkan kasih-sayangnya.

Memang banyak bapak-bapak yang mengatakan: Saya tetap sayang kepada anak-anak saya. Semua kebutuhan anak saya cukupi, dst.

Bapak-bapak itu lupa bahwa yang dimaksud sayang bukanlah apa yang mereka berikan kepada anak-anak mereka, melainkan: Apa yang anak-anak terima dari bapak-ibunya. Sebab banyak orangtua yang mengaku mencintai anak-anaknya, tetapi si anak tidak pernah merasa dicintai oleh orangtuanya.

Maka sering terjadi dialog, ketika si anak ditanya: Bagaimana dengan Bapakmu? Anak itu menjawab: Bapak jahat. Bagaimana dengan mama-mu? Anak menjawab: Mama bawel, dst. Orangtua merasa mencintai anak-anaknya, tetapi si anak menganggap orangtuanya tidak sayang, bawel, cuek, dst.

Sepertinya ada yang “hilang” di sini. Itulah mengapa, bukan banyaknya cinta yang orangtua berikan melainkan: Apa yang anak-anak terima dari orangtuanya.

Kita bisa melihat kisah Nabi Ya’qub ‘alaihissalam dengan anak-anaknya dalam AlQur’an. Disebutkan dalam AlQur’an Surat Yusuf ayat 8 :

إِذۡ قَالُواْ لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰٓ أَبِينَا مِنَّا وَنَحۡنُ عُصۡبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِى ضَلَـٰلٍ۬ مُّبِينٍ (٨)

[Yaitu] ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya [Bunyamin] lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita [ini] adalah satu golongan [yang kuat]. Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. (8)

(Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.

Nabi Ya’qub ‘alaihissalam bila ditanya apakah beliau sayang kepada anak-anak beliau. Pasti jawabannya: Aku sayang kepada semua anakku. Tetapi lihat kata-kata anak-anak Nabi Ya’qub a.s. : Yusuf dan Bunyamin lebih disayang oleh ayah kita dibanding kepada kita.

Itulah persepsi anak. Orangtua sering lupa bahwa masalah cara kasih-sayang kepada anak adalah keliru. Keliru cara

nya. Masalah inilah yang membuat anak menolak. Sehingga salah satu rahasia kesuksesan orang-orangtua terdahulu di tengah kesibukannya, anak-anak mereka memiliki gambaran dalam diri mereka tentang ayahnya: Ayahku adalah sosok yang hebat, penyayang, peduli kepadaku, walaupun jarang pulang tetapi ia adalah pahlawanku.

Itulah tugas kita sebagai orangtua, caranya:

1. Pastikan pengasuh utamanya yang orangtua amanahkan selalu menceritakan hal-hal yang positif tetang diri orangtua si anak.

2. Pastikan bagi Bapak-bapak yang pulangnya jarang-jarang, bahwa isteri bapak tidak pernah bercerita negatif tentang Bapak kepada anak.

3. Jangan sampai isteri menumpahkan kekesalan tentang bapaknya kepada anak, karena akibatnya anak tidak akan hormat kepada bapaknya.

4. Agar pengasuh selalu menceritakan orangtua adalah sosok yang hebat, berikan sikap yang baik kepada pengasuh anak.

5. Jadikan pengasuh utama dari anak kita adalah juru penerang yang baik bagi anak-anak kita.

6. Katakan oleh ibunya, bahwa ayah sedang berjuang.

2. Jaga nama baik keluarga di lingkungan luar.

Karena zaman sekarang anak sulit tercegah dari informasi tentang keluarganya. Banyak anak-anak yang kecewa dan kesal serta malu sekali karena mendapat informasi bahwa di kantor bapaknya terkenal sebagai penggoda wanita. Ada lagi anak yang mendengar bahwa bapaknya “tukang kawin”, dst. Ada lagi anak yang merasa malu sekali karena mendengar bahwa ayahnya adalah seorang penipu.
Nama buruk orangtua menyebabkan anak tidak punya nilai terhadap orangtuanya.

Sebaliknya ada anak yang bangga karena mendengar cerita dari orang bahwa ayahnya adalah pekerja yang rajin, jujur, cerdas, dan sangat dipercaya oleh perusahaan dimana ia bekerja.

Nama baik dan buruk zaman seakarang sangat mudah diperoleh bagi anak-anak kita melalui Medsos, Internet, dst. Maka bila pernah berbuat buruk, berusahalah untuk menutupinya terutama kepada anak-anak. Dan berusahalah untuk memperbaikinya. Bila seorang ayah dahulunya perokok, maka hentikan kebiasaan merokok. Yang demikian akan memberi dampak positif terhadap anak-anak dan keluarga.

Kesimpulan, bahwa untuk mendidik anak maka buatlah persepsi kepada anak:

1. Persepsi ditanamkan melalu pengasuh/pendidik.

2. Persepsi ditanamkan melalui dedikasi di luar (umum),

3. Persepsi dikaitkan dengan usaha memperbaiki diri (orangtua), dan menjaga nama (kehormatan) keluarga,

4. Persepsi memunculkan dengan memasang di rumah piagam-piagam perhargaan dari Pemerintah atau Perusahaan tempat orangtua bekerja, bisa membuat isnpirasi bagi anak-anak. Bisa juga dengan foto-foto ketika orangtua bertugas, dst.

5. Persepsi dengan mensiasati merebut peluang Emas (Golden Moment) yaitu ayah – ibu yang selalu sibuk tetapi bisa membuat peluang (kumpul keluarga). Usahakan bersama anak ketika anak sedang membuat prestasi. Misalnya anak sedang berlomba, atau sedng pentas, ayah-ibunya bisa mendampingi.

Salah satu yang diajarkan oleh Islam, ada tiga waktu dimana seorang ayah (ibu) harus hadir secara fisik dan psikis ditengah kesibukan, untuk menjaga persepsi keadaan kita, yaitu:

1. Hendaknya orangtua hadir saat anak sedang sedih. Orangtua yang cepat merespon dengan baik ketika anak sedang sedih, akan memberikan dampak anak merasa nyaman.

2. Hendaknya orangtua hadir ketika anak sedang sakit. Karena anak sakit sedang membutuhkan jiwanya ingin disentuh dengan perhatian orangtuanya.

3. Hendaknya orangtua hadir ketika anak sedang unjuk-prestasi, sedang pentas, sedang ikut perlombaan, ulang tahun. dst.

Sekian bahasan mudah-mudahan bermnafaat.

Wallahu a’lam bish showab

Wasalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678