Rizki Halal

Bisnis Sebagaiย Youtuber

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Dr. Oni Sahroni, M.A

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Pihak-pihak yang terkait adalahย Youtubeย sebagaiย brokerย iklan,ย advertiserย (pengusaha) sebagai pemasang iklan,ย youtuberย sebagaiย publisherย iklan. Jasaย youtuberย adalah jasa mem-publishย iklan dalam videonya karena produkย advertiserย terpublikasi melalui video dan popularitasย youtuber.

Perlu ditegaskan bahwa sebagai sebuah fitur media, Youtube adalah media netral yang bisa digunakan untuk positif atau negatif tergantung konten yang digunakannya. Selain netral, media ini strategis karena video dan tayanganย Youtuberย mudah diakses dan disaksikan (melaluiย gadget) serta lebih digemari daripada tulisan atau audio.

Oleh karena itu, sebagai media netral, strategis, dan pilihan, videoย youtuberย memiliki poin tersendiri, yaitu selain sebagai lahan berbisnis juga bisa dijadikan sebagai sarana menyampaikan pesan kebaikan dengan tetap komitmen pada rambu-rambu Islami berikut ini.

Pertama, konten video tersebut legal, halal, serta tidak berisi konten yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman, seperti konten tidak mendidik dan konten tidak laik lainnya. Sebagaimana salah satu kriteria jasa yang diperjualbelikan itu halal dan bernilai (mubah mutaqawam). Maka setiap konten video yang tidak memenuhi kriteria ini tidak bisa menjadi objek transaksi. Terlebih lagi, efek video tersebut berpengaruh besar terhadap para pengunjung karena bisa disaksikan dan mudah ditiru.

Selanjutnya, tayangan tersebut dikemas sebaik mungkin sehingga menjadi video yang menarik dan bermanfaat. Dalam fikih, membuat produk dengan kemasan dan bahasa yang menarik dan mudah dipahami oleh pengunjung, disertai popularitasย youtuberย itu menjadi salah satu tuntutan ihsan dalam bekerja dan membuat produk.

Sebagaimana hadis dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus RA, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menetapkan (mewajibkan) berbuat ihsan atas segala hal ….” (HR Muslim).

Sebagaimana penegasan Ali bin Abi Thalib RA, “Berbicaralah kepada manusia dengan yang mereka pahami. Apakah kalian suka apabila Allah dan Rasul-Nya didustakan?\” (HR Bukhari,ย Shahih Bukhari, bab โ€œMan khoshshobil ‘ilmi qauman duuna qaumin, karohiyata allaayafhamuโ€ no 127).

Kedua, produk dan konten iklan yang ditayangkan dalam video juga halal dan legal karena dipublikasikan melalui videoย youtuber. Maka, iklan tersebut tidak memasarkan produk yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, seperti produk lembaga keuangan konvensional, minuman keras, barang ilegal, produk yang merusak kesehatan, dan produk merusak akhlak anak-anak.

Oleh karena itu,ย youtuberย hanya memilih (menyaring) produk dan konten iklan yang sesuai dengan kriteria tersebut. Misalnya, fiturย filteringย iklan diย adsenseย Youtubememungkinkan iklan-iklan nonhalal tidak tampil di videoย youtuber. Misalnya,ย youtuberย juga bisa memastikan bahwa pengunjung videonya tidak terkena iklan-iklanย retargetingย dari produk nonhalal.

Ketiga, ada kejelasan hak dan kewajiban antara para pihak, di antaranyaย youtuberย sebagai penjual jasa dengan perusahaan sebagai pembeli jasa yang dilakukan sesuai kesepakatan.

Misalnya, jikaย feeย yang didapatkan olehย youtuberย itu tidak didasarkan pada jumlah yang mengunjungi tayangan iklan perusahaan dalam video tersebut, maka transaksi antaraย youtuberย danย Youtubeย dikategorikan sebagai jual beli jasa memasarkan produk dalam iklan melalui videoย youtuber.

Tetapi, jikaย feeย yang didapatkan olehย youtuberย itu didasarkan pada jumlah yang mengunjungi tayangan iklannya maka dikategorikan sebagaiย jualahย atauย feeย (rewardย atauย success fee) yang diberikan berdasarkan prestasi. Selanjutnya, seluruh hak dan kewajiban, serta hal-hal lain, dituangkan dalam perjanjian sebagai referensi transaksi jual beli tersebut.

Semoga Allah SWT memudahkan dan memberkahi setiap ikhtiar kita. Amin.

Wallahu a’lam.

================

Follow And Join

๐Ÿ“ฒFb, IG, Telegram: @onisahronii
๐Ÿ“ฒ Twitter : @onisahroni

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Prinsip Pemanfaatan Dana Wakaf

Dana Wakaf Untuk Biaya Operasional

Pertanyaan

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡

Ustadz, saya mau bertanya
Assalamualaykum Ustadz/Ustadzah izin bertanya.
Lembaga Quraan dan pesantren beasiswa Tahfidz Quraan,mendapat pemasukan dr Spp peserta tahsin tahfidz,zakat infaq sedekah,dan dana wakaf untuk bangunan pesantren.
Dalam kondisi pandemi seperti ini,lembaga mengalami kesulitan untuk biaya operasional dan biaya yg terkait dengan KBM di lembaga.
Apakah di perbolehkan dana wakaf pesantren untuk biaya operasional?
Jazakumullahu khairan A/19

Jawaban

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ

Oleh: Ustadz DR Oni Syahroni, MA

ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡ู

Dana wakaf tidak boleh digunakan sebagai biaya operasional selain karna menyalahi peruntukan dana wakaf dengan digunakan sebagai biaya operasional maka aset wakaf tersebut menjadi habis. Sebagaimana hadist Rasulullah SAW

“Tahan pokoknya dan salurkan bagi hasil atau manfaatnya.”
Juga sebagaimana kesepakatan ahli fiqih “dana wakaf tidak boleh dihibahkan, dihutangkan atau pemindahan kepemilikan.

Biaya ioperasional wakaf bisa diambil dari hasil pengembangan wakaf atau dari infaq dan sedekah yang tak terikat atau pewakaf – selain mewakafkan dana tunai atau asetnya -, ia memberikan biaya operasional atas aset yang diwakafkannya.
Demikian. Wallahu a’lam.

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Darurat Membolehkan yang Dilarang

Terkait Vaksin Yang Haram, Apakah Boleh Kita Divaksin?

Pertanyaan

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡

Ustadz saya mau bertanya, Mohon pencerahanya terkait vaksin yg haram, apakah boleh kita di vaksin? syukron. I/18

Jawaban

Oleh: Farid Nu’man Hasan

ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡

Ada perbedaan pandangan antara MUI dengan lembaga fatwa lainnya.

Bahtsul Masail NU menetapkan bahwa Astrazeneca itu halal, sebab keberadaan unsur babi seperti yang dianggap MUI, sudah tidak ada saat vaksin itu terwujud. Dengan kata lain, sdh sama sekali tidak ada unsur babinya sedikit pun.

Di beberapa negera, pfizer sudah difatwakan halal bahkan sudah sejak 2020, seperti di Inggris, juga di Arab Saudi. MUI sendiri belum menjelaskan apa alasan pengharamannya. Tidak ada keterangan bahwa MUI telah menelitinya, tapi sekadar belum memberikan status halal. Semoga ada perkembangan baru, atau berita lain yang menjelaskan apa alasannya.

Tapi, di sisi lain MUI sendiri tetap membolehkan, dgn alasan darurat. Walau ini pun tidak berarti tanpa perdebatan di mata pakar syariah. Sebab, pilihan begitu banyak dengan jumlah yang juga banyak.

Seandainya ada yang mau memakainya dgn meyakini rekomendasi para ulama yang menyatakan halal, tidak apa-apa. Itu tidak diingkari.

Wallahu Aโ€™lam
๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Zina itu utang

Status Anak dari Zina

Pertanyaan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Blh nanya, apakah ayah kandung dr anak hasil zina merupakan mahrom…?
Jazakillahu katsiran. ๐Ÿ™

Jawaban

Oleh: Ustadzahโ€‹ Nurdiana

ูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡

Tergantung pada si ibu di nikahi atau tidak oleh ayahnya sebelum 4 bulan?.
Kalau si ibu tidak dinikahi maka anak hasil zina nya bukan mahram.

Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memberi keputusan bahwa anak dari hasil hubungan dengan budak yang tidak dia miliki, atau hasil zina dengan wanita merdeka TIDAK dinasabkan ke bapak biologisnya dan tidak mewarisinyaโ€ฆ (HR. Ahmad, Abu Daud, dihasankan Al-Albani serta Syuaib Al-Arnauth).

Wallahu a’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Menjaga Pandangan

Tersenyum Pada Lawan Jenis

Pertanyaan

“Bolehkah tersenyum kepada lawan jenis?”
โ“Dini (grup 08)
๐Ÿ’๐ŸŒผ๐Ÿ’๐ŸŒผ๐Ÿ’๐ŸŒผ๐Ÿ’๐ŸŒผ๐Ÿ’

Jawaban

๐Ÿ’ Kak lelisya :

Senyuman adalah hal yang disukai manusia, apapun agamanya. Bahkan dlm Islam senyum adalah salah satu bentuk akhlak yg baik. Namun, disisi lain Islam juga mengajarkan adab-adab bergaul antara lelaki dan wanita, agar terjadi keharmonisan dan mencegah terjadi kerusakan didalamnya. Lalu bagaimana ya bila tersenyum pada yg bukan mahramnya???? Mari kita simak..

๐Ÿค—Keutamaan wajah penuh senyuman. Dahulu, sahabat Jarir bin Abdillah R.A berkisah :

ู…ูŽุง ุญูŽุฌูŽุจูŽู†ููŠ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ู…ูู†ู’ุฐู ุฃูŽุณู’ู„ูŽู…ู’ุชูุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ุฑูŽุขู†ููŠ ุฅูู„ูŽู‘ุง ุชูŽุจูŽุณูŽู‘ู…ูŽ ูููŠ ูˆูŽุฌู’ู‡ููŠ

โ€œSejak aku masuk Islam, Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam tidak pernah menghindari aku jika aku ingin bertemu dengannya, dan tidak pernah aku melihat beliau kecuali beliau tersenyum padakuโ€ (HR. Bukhari, no.6089).

Beliau juga memerintahkan hal tersebut kepada ummatnya. Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam bersabda:

ุชุจุณู…ูƒ ููŠ ูˆุฌู‡ ุฃุฎูŠูƒ ู„ูƒ ุตุฏู‚ุฉ

๐Ÿ˜ƒโ€œSenyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekahโ€ (HR. Tirmidzi 1956, ia berkata: โ€œHasan gharibโ€. Di-shahih-kan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib)

Kata ุฃุฎูŠูƒ (saudaramu) disini berbentuk mufrad-mudhaf, sebagaimana dalam ilmu Ushul Fiqih, ini menghasilkan makna umum. Sehingga ini mencakup semua orang yang masih saudara, baik wanita atau laki-laki, tua atau muda, mahram atau bukan mahram. Tentu maksudnya saudara sesama Muslim. Oleh karena itu pada asalnya, hadits ini juga menunjukkan bolehnya wanita muslimah tersenyum kepada lelaki yang bukan mahram.

“Tapi ingat! boleh tersenyum asal aman dari fitnah”

Tidak diragukan lagi bahwa wanita itu adalah fitnah bagi para lelaki. Fitnah di sini artinya: cobaan, atau hal yang berpotensi menimbulkan keburukan dalam agamanya. Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam ย bersabda:

ู…ุง ุชุฑูƒุช ุจุนุฏูŠ ูุชู†ุฉ ุฃุถุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ุฑุฌุงู„ ู…ู† ุงู„ู†ุณุงุก

โ€œTidaklah aku tinggalkan fitnah (cobaan) yang paling berat bagi laki-laki selain cobaan wanitaโ€ (HR. Al Bukhari 5069, Muslim 2740)

๐Ÿ˜ƒDan wanita itu, bagaimana pun paras dan keadaan fisiknya, baik tersenyum atau tidak, wanita akan memiliki daya tarik di mata lelaki. Karena setan membantu menghiasi para wanita di mata lelaki sehingga lelaki jatuh pada godaan setan. Seperti sabda Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam

ุงู„ู…ุฑุฃุฉู ุนูˆุฑุฉูŒ ุŒ ูุฅุฐุง ุฎุฑูŽุฌูŽุชู’ ุงุณู’ุชูŽุดู’ุฑูŽููŽู‡ุง ุงู„ุดูŠุทุงู†ู

โ€œWanita adalah aurat, jika ia keluar, setan akan menghiasinyaโ€ (HR. At Tirmidzi, 1173, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)

Dari sini, terkait dengan soal senyuman, para ulama memberi syarat bolehnya seorang Muslimah tersenyum pada lelaki yaitu, selama tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah.

๐ŸŒธSekian
-TimOlahMateriMFT-


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Prinsip Jual Beli

Bab Larangan Orang Kota Menjual Kepada Orang Desa

Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šHadits #1

ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽุŒ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุจููŠู’ุนูŽ ุญูŽุงุถูุฑูŒ ู„ูุจูŽุงุฏู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆุงู„ู†ุณุงุฆูŠ)

Dari Ibnu Umar ra berkata, โ€˜bahwa Rasulullah SAW melarang orang kota menjual kepada orang desa.โ€™ (HR. Bukhari & Nasaโ€™i)

๐Ÿ“šHadits #2

ุนูŽู†ู’ ุฌูŽุงุจูุฑู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู„ุงูŽ ูŠูŽุจูุนู’ ุญูŽุงุถูุฑูŒ ู„ูุจูŽุงุฏู ุฏูŽุนููˆุง ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ูŠูŽุฑู’ุฒูู‚ู’ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจูŽุนู’ุถูŽู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุถู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ุฅู„ุง ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)

Dari Jabir ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, โ€˜Janganlah orang kota menjual kepada orang desa. Biarkanlah manusia (melakukan usahanya masing-masing), Allah memberi rizki sebagian mereka dari sebagian yang lain.โ€™ (HR. Jamaโ€™ah, kecuali Imam Bukhari)

๐Ÿ“šHadits #3

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณู ุจู’ู†ู ู…ูŽุงู„ููƒู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู†ูู‡ููŠู†ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุจููŠุนูŽ ุญูŽุงุถูุฑูŒ ู„ูุจูŽุงุฏู ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽุฎูŽุงู‡ู ู„ุฃูŽุจููŠู’ู‡ู ูˆูŽุฃูู…ูู‘ู‡ู (ู…ุชูู‚ ุนู„ูŠู‡)ุŒ ูˆูŽู„ุฃูŽุจููŠู’ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุณูŽุงุฆููŠ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุจููŠู’ุนูŽ ุญูŽุงุถูุฑูŒ ู„ูุจูŽุงุฏูุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽุจูŽุงู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽุฎูŽุงู‡ู

Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa sesungguhnya kami orang kota dilarang menjual kepada orang desa, sekalipun ia saudaranya, baik saudara dari bapaknya maupun dari ibunya. (Muttafaqun Alaih).

Dan dari riwayat Abu Daud dan Nasaโ€™i, โ€˜Bahwa Nabi SAW melarang orang kota menjual kepada orang desa, meskipun ia adalah ayahnya atau saudaranya.โ€™

๐Ÿ“šHadits #4

ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู„ุงูŽ ุชูŽู„ูŽู‚ู‘ูŽูˆู’ุง ุงู„ุฑู‘ููƒู’ุจูŽุงู†ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุจูุนู’ ุญูŽุงุถูุฑูŒ ู„ูุจูŽุงุฏู ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽู‚ูู„ู’ุชู ู„ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ู…ูŽุง ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ู„ุงูŽ ูŠูŽุจููŠุนู ุญูŽุงุถูุฑูŒ ู„ูุจูŽุงุฏู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ุงูŽ ูŠูŽูƒููˆู†ู ู„ูŽู‡ู ุณูู…ู’ุณูŽุงุฑู‹ุง (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ุฅู„ุง ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ)

Dari Ibnu Abbas ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, โ€˜Janganlah kalian menghadang kafilah-kafilah dagang, dan janganlah orang kota menjual kepada orang desa.

Aku (Thawus) berkata kepada Ibnu Abbas, โ€˜Apakah arti sabda Nabi SAW jangalah orang kota menjual kepada orang desa?

Ibnu Abbas menjawab, โ€˜Jangalah ia menjadi perantara (makelar) baginya.โ€™ (Muttafaqun Alaih)

๐ŸŒทMakna Hadits Secara Umum

Secara umum, hadits ini menggambarkan tentang larangan bagi orang kota untuk menjual barang kepada orang desa.

Hal ini karena umumnya orang kota lebih maju, lebih lincah, lebih pintar dalam hal dagangan di bandingkan dengan orang desa.

Orang desa umumnya lebih kurang mengerti terkait transaksi, oleh karenanya tidak boleh memanfaatkan ketidaktahuan orang desa, dengan menjual barang-barang kepada mereka, sehingga dapat menimbulkan berbagai penipuan dan pengelabuan yang berakibat pada kerugian yang akan diderita oleh orang desa tersebut.

Perbuatan yang merugikan orang lain merupakan sifat yang buruk, dan oleh karenanya Nabi SAW melarangnya, karena merugikan dan menimbulkan mudharat.

๐ŸŒทMakna Orang Kota dan Orang Desa

๐Ÿ”บMakna (ุญุงุถุฑ) atau orang kota, adalah orang-orang yang secara tinggal di perkotaan, yang umumnya lebih mengerti dan memahami transaksi, harga barang-barang dan komoditi di pasaran.

Berasal dari kata (ุญุถุงุฑุฉ) yaitu peradaban.

๐Ÿ”บSedangkan (ุจุงุฏ) atau orang desa, adalah orang-orang yang tinggal di pedesaan, yang umumnya lebih terbelakang pengetahuannya tentang perdagangan, tidak terlalu memahami transaksi, harga barang-barang dan komoditi di pasaran.

Berasal dari kata (ุจุงุฏูŠุฉ) yang berarti kampung, udik. Menjadi akar kata dari orang baduy (ุจุฏูˆูŠ) yang umumnya sangat terbelakang tidak mengerti peradaban bahkan terkesan kurang akhlaknya.

๐ŸŒทMakna Larangan Orang Kota Menjual Kepada Orang Desa

Ulama berbeda pendapat berkenaan dengan makna larangan dalam hadits-hadits di atas :

๐Ÿ’ง Ibnu Abbas : bahwa yang dimaksud adalah menjadi simsar, atau perantara (makelar), bagi orang kota dalam menjual sesuatu kepada orang desa.

๐Ÿ’งImam Bukhari berpendapat menguatkan pendapat Ibnu Abbas, yaitu bahwa ย yang dimakud adalah orang-orang yang bertindak menguruskan jual beli untuk orang lain dengan upah.

๐Ÿ’ฆ Namun, apabila ia menjadi perantara dan tidak mengambil keuntungan dari situ, maka tidak termasuk dalam larangan di hadits di atas. Karena ia bertindak sebagai penasehat atau penolong.

๐Ÿ’ฆ Namun sebagian ulama lainnya memasukkan larangan ini kepada semua jenis makelar, baik yang mendapatkan upah maupun yang tidak mendapatkan upah.

๐Ÿ’งMenurut Syafiโ€™iyah dan Hanabilah : bahwa yang dimaksud adalah seperti seseorang datang ke suatu daerah dengan membawa barang dagangannya yang hendak di jual dengan harga pasar pada hari tersebut.

Lalu orang kota datang kepadanya dengan mengatakan, โ€˜berikan barangmu kepadaku, biar aku beli secara kredit dengan harga yang lebih tinggi.โ€™

๐Ÿ’งSebagaian ulama lainnya ada yang membatasi maknanya pada larangan menjadi makelar khusus untuk orang desa saja. Sedangkan menjadi makelar untuk orang kota, maka tidak termasuk dalam larangan tersebut. Kecuali jika orang kotanya juga tidak mengetahui transaksi dan harga pasaran sebagaimana orang desa, maka masih termasuk yang dilarang.

๐Ÿ’ฆKesimpulan dari pendapat ulama tentang larangan orang kota menjual kepada orang desa adalah bahwa orang kota yang mengerti transaksi jual beli, mengerti barang dan komoditi, dan mengerti segala hal terkait dengan pasar dan harga pasar, lantas memanfaatkan ketidaktahuan orang-orang desa atau orang-orang kampung dengan menjual barang-barang kepada mereka.

Karena hal ini dapat merugikan pihak orang-orang desa yang tidak terlalu mengerti tentang harga barang komoditi.

Akibatnya, orang desa bisa dirugikan dari beberapa sisi, diantaranya :
๐Ÿ”น Membeli barang-barang yang sesungguhnya sudah tidak update lagi, atau sudah ketinggalan .
๐Ÿ”น Membeli barang-barang dengan harga jauh di atas harga rata-rata, dsb.

๐ŸŒทLarangan Mencegat Kafilah Dagang

Termasuk yang dilarang dalam hadits-hadits di atas adalah larangan mencegat kafilah dagang di tengah jalan, yang bermaksud menjual barang dagangannya ke pasar dengan harga yang berlaku umum di pasaran.

Dalam hadits di atas disebutkan :

ู„ุงูŽ ุชูŽู„ูŽู‚ู‘ูŽูˆู’ุง ุงู„ุฑู‘ููƒู’ุจูŽุงู†ูŽ

โ€˜Janganlah kalian menghadang kafilah-kafilah (dagang)โ€™ (HR. Jamaah)

Karena umumnya kafilah tersebut belum mengetahui berapa harga barangnya di pasaran, sehingga ketidaktahuan mereka dimanfaatkan dengan dicegat di tengah jalan, lantas diberikan informasi palsu bahwa harga pasar adalah sekian dan sekian, supaya mereka bisa melepaskan barangnya dengan harga di bawah harga pasar yang sebenarnya.

Contohnya adalah seperti para petani dari desa yang akan menjual barang dagangannya ke pasar di kota. Namun dicegat oleh para pengusaha atau tengkulak dan barang mereka dengan harga murah dengan memanfaatkan ketidaktahuan para pedagang tersebut.

Bentuk-bentuk lainnya adalah sebagai berikut :

๐Ÿ”น Memborong atau memonopoli barang yang dibawa oleh kafilah dagang.
๐Ÿ”นMengurangi keuntungan kafilah dagang.
๐Ÿ”นMenimbun dan memacetkan arus barang, sehingga tidak sega tiba di tangan konsumen yang membutuhkannya, dan berakibat pada tingginya harga barang dang menguntungkan pihak ketiga.
๐Ÿ”นMenipu harga kepada kafilah dagang, dengan memberitahu harga yang tidak benar.

Jika dianalisa, maka masuk dalam larangan tersebut adalah para tengkulak yang umumnya membeli barang dari petani sehingga petani menjadi merugi, karena menjualnya jauh di bawah harga pasaran.

Tengkulak umumnya sangat mengetahui fruktuasi harga pasar, dan ia memiliki alat transportasi yang memadai, dan umumnya memiliki akses besar ke para petani dan ke para pedangang di pasar. Nah, ketika ia memotong jalur para petani dengan membeli langsung dari para petani dengan harga yang tidak wajar, maka hukumnya haram.

Terlebih-lebih apabila disertai dengan monopoli, sehingga petani tidak bisa berbuat apa-apa atau tidak punya pilihan lain selain menjual dengan harga murah kepada para tengkulak tersebut. Maka hukumnya haram; karena monopoli dan juga karena terdapat unsur pendzaliman (aniaya) kepada para penjualnya.

Apabila terjadi pencegatan kafilah dagang, maka hukumnya adalah sebagaimana dalam hadits berikut :

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุชูŽู„ูŽู‚ู‘ูŽู‰ ุงู„ู’ุฌูŽู„ูŽุจู ููŽุฅูู†ู’ ุชูŽู„ูŽู‚ู‘ูŽุงู‡ู ุฅูู†ู’ุณูŽุงู†ูŒ ููŽุงุจู’ุชูŽุงุนูŽู‡ู ููŽุตูŽุงุญูุจู ุงู„ุณู‘ูู„ู’ุนูŽุฉู ูููŠู‡ูŽุง ุจูุงู„ู’ุฎููŠูŽุงุฑู ุฅูุฐูŽุง ูˆูŽุฑูŽุฏูŽ ุงู„ุณู‘ููˆู‚ูŽ (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ)

๐Ÿ’งDari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi SAW melarang penghadangan barang yang dibawa (dari luar kota).
Apabila seseorang menghadang lalu membelinya, maka pemilik barang ada hak khiyar padanya, apabila datang ke pasar.โ€™ (HR. Turmudzi)

Jadi, apabila si pedagang sampai di pasar dan mengetahui harga pasar, lantas ia menginginkan pembatalan jual beli sebelumnya, maka si pembeli harus mengembalikannya kepada pedagang.

๐ŸŒทHikmah di Balik Larangan

Islam sangat melindungi kepentingan para pemeluknya; khususnya yang berposisi lebih lemah dan lebih rentan untuk menjadi objek penipuan dan kedzaliman dalam sisi harta.

Dalam hal ini dicontohkan adalah posisi orang desa yang jauh dari peradaban, yang umumnya tidak banyak mengetahui komoditi harga, dsb.

๐Ÿ’ฆMaka tidak boleh memanfaatkan ketidaktahuan mereka, dengan menjual barang-barang atau komoditi tertentu kepada mereka yang nantinya dapat merugikan mereka; baik merugikan dari sisi kemanfaatan barang tersebut maupun dari sisi harga yang lebih tinggi dari yang seharusnya.

Masuk dalam larangan di atas adalah menjadi makelar atau perantara, yang bisa merugikan pihak yang lemah. Dan dalam contoh kasus dari hadits di atas adalah menjadi makelar bagi orang desa yang ketidaktahuannya dapat dimanfaatkan menjadi celah bagi makelar untuk mendapatkan keuntungan berlimpah.

Masuk juga dalam larangan ini, menjadi makelar untuk pihak manapun yang tidak memiliki pengetahuan yang baik terkait objek barang yang ditransaksikan, termasuk kepada orang kota.

๐Ÿ’ฆAdapun apabila terhadap orang yang mengetahui harga, komoditi, pasar, dsb, maka diperbolehkan. Termasuk kepada orang desa, namun ia faham tentang harga pasar dan komoditi, maka boleh menjual atau menjadi makelar bagi mereka.

๐Ÿ’ฆSecara umum, menjadi perantara atau makelar dalam jual beli maupun dalam transaksi lainnya dimana tidak ada unsur tipuan, paksaan, pengelabuan, bersifat memberikan informasi yang benar dan jujur, namun pada akhirnya calon pembeli lah yang menentukan apakah jadi membeli atau tidak, maka hal tersebut adalah diperbolehkan.

๐Ÿ’ฆMasuk dalam kategori yang diperbolehkan adalah profesi agen, marketing, tenaga pemasaran, dsb. Namun dengan syarat sebgaiamana di atas; tidak boleh memanfaatkan ketidaktahuan client nya.

๐Ÿ’ฆSyarat lainnya adalah bahwa objek yang ditawarkannya bukanlah merupakan objek yang diharamkan secara syariah. Namun apabila yang ditawarkannya adalah sesuatu yang haram, maka hukumnya adalah haram.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู‰ ูˆุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ
ูˆุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Utang

DEBT COLLECTOR DALAM PANDANGAN SYARIAH

Pemateri: Ust. RIKZA MAULAN, Lc., M.Ag.

Hadits:

ุนูŽู†ู’ ุฌูŽุงุจูุฑู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุญูู…ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ุณูŽู…ู’ุญู‹ุง ุฅูุฐูŽุง ุจูŽุงุนูŽ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุงุดู’ุชูŽุฑูŽู‰ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุงู‚ู’ุชูŽุถูŽู‰ – ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ

Dari Jabir bin Abdillah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, โ€œAllah akan memberikan rahmat terhadap seseorang yang bermurah hati ketika menjual, bermurah hati ketika membeli dan bermurah hati ketika menagih hutangโ€. (HR. Bukhari)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits di atas, diantara hikmah-hikmahnya adalah sebagai berikut :

1. Bahwa bermurah hati atau berkasih sayang merupakan sifat yang dianjurkan untuk dilakukan antara sesama kaum muslimin.

Rasulullah SAW bahkan memberikan perumpamaan sifat murah hati dan kasih sayang antara sesama muslim adalah ibarat satu tubuh, yang apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka anggota tubuh yang lainnya juga turut merasakannya :

ุนูŽู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูุนู’ู…ูŽุงู†ู ุจู’ู†ู ุจูŽุดููŠุฑู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูŽุซูŽู„ู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูููŠ ุชูŽูˆูŽุงุฏู‘ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุชูŽุฑูŽุงุญูู…ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุชูŽุนูŽุงุทูููู‡ูู…ู’ ู…ูŽุซูŽู„ู ุงู„ู’ุฌูŽุณูŽุฏู ุฅูุฐูŽุง ุงุดู’ุชูŽูƒูŽู‰ ู…ูู†ู’ู‡ู ุนูุถู’ูˆูŒ ุชูŽุฏูŽุงุนูŽู‰ ู„ูŽู‡ู ุณูŽุงุฆูุฑู ุงู„ู’ุฌูŽุณูŽุฏู ุจูุงู„ุณู‘ูŽู‡ูŽุฑู ูˆูŽุงู„ู’ุญูู…ู‘ูŽู‰ – ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…

Dari Nuโ€™man bin Basyir ra, Rasulullah SAW bersabda, โ€œPerumpamaan kaum muslimin dalam cinta, kasih sayang dan kelemahlembutan diantara mereka adalah seumpama satu tubuh.
Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya, seperti ketika tidak bisa tidur atau ketika demam.โ€ (Muslim)

2. Bahwa sikap bermurah hati dan berkasih sayang bukan hanya dianjurkan dalam kehidupan sosial, namun juga ketika melakukan transaksi muamalah.

Demikianlah yang dapat โ€œdipetikโ€ dari hadits di atas.

Bahwa Allah SWT akan memberikan rahmat-Nya terhadap seseorang yang bermurah hati ketika menjual, bermurah hati ketika membeli, bermurah hati ketika menagih hutang, yaitu menagih hutang dengan cara yang baik.

Artinya adalah bahwa โ€œbermurah hatiโ€ dalam bermuamalah memiliki pahala yang mulia di sisi Allah SWT, dengan mendapatkan rahmat dari-Nya.

Orang yang mendapatkan rahmat dari Allah SWT, memiliki keistimewaan tersendiri sebagaimana yang Allah SWT firmankan :

ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุงุจู’ูŠูŽุถู‘ูŽุชู’ ูˆูุฌููˆู‡ูู‡ูู…ู’ ููŽูููŠ ุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‘ู‡ู ู‡ูู…ู’ ูููŠู‡ูŽุง ุฎูŽุงู„ูุฏููˆู†ูŽ ๏ดฟูกู ูง๏ดพ ุชูู„ู’ูƒูŽ ุขูŠูŽุงุชู ุงู„ู„ู‘ู‡ู ู†ูŽุชู’ู„ููˆู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุจูุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ู ูˆูŽู…ูŽุง ุงู„ู„ู‘ู‡ู ูŠูุฑููŠุฏู ุธูู„ู’ู…ุงู‹ ู„ู‘ูู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽ ๏ดฟูกู ูจ๏ดพ

Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.

Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran : 107 โ€“ 108)

3. Hutang merupakan sesuatu yang โ€œbolehโ€ atau mubah untuk dilakukan apabila memang terdesak oleh satu keperluan atan kebutuhan tertentu.

Dan bagi orang yang dihutangipun akan mendapatkan benefit atau pahala yang mulia, khususnya pada saat ia memberikan pinjaman atau hutang terhadap orang yang sedang mengalami kesulitan.

Dalam sebuah riwayat disebutkan :

ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ู…ูŽุณู’ุนููˆุฏู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ู…ูุณู’ู„ูู…ู ูŠูู‚ู’ุฑูุถู ู…ูุณู’ู„ูู…ู‹ุง ู‚ูŽุฑู’ุถู‹ุง ู…ูŽุฑู‘ูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ูƒูŽุตูŽุฏูŽู‚ูŽุชูู‡ูŽุง ู…ูŽุฑู‘ูŽุฉู‹ (ุฑูˆุงู‡ ุงุจู† ู…ุงุฌู‡)

Dari Abdullah bin Masโ€™ud ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, โ€œTIdaklah seorang muslim memberikan pinjaman kepada muslim lainnya sebanyak dua kali, melainkan Allah SWT akan menghitungnya sebagai shadaqah (sebesar yang dipinjamkan) satu kali.โ€ (HR. Ibnu Majah)

4. Terdapat adab dan etika terkait dengan masalah hutang piutang, khususnya ketika menagih terhadap orang yang berhutang. Diantara adab-adabnya adalah sebagai berikut :

a. Membuat perjanjian pembayaran hutang secara tertulis, khususnya ketika โ€œakadโ€ hutang dilakukan.

Misalnya apabila berhutang selama satu bulan, maka ditentukan saja hari, tanggal dan bulan waktu pengembaliannya yang tertuang dalam dalam kontrak akad. Dengan adanya perjanjian yang tertulis dan ditentukan waktu pembayarannya secara jelas, akan menghindarkan diri dari kesalahpahaman, khususnya ketika kelak akan menagih hutang.

Hal ini mengamalkan firman Allah SWT terkait dengan masalah hutang piutang, dalam QS. Al-Baqarah: 282 :

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุงู’ ุฅูุฐูŽุง ุชูŽุฏูŽุงูŠูŽู†ุชูู… ุจูุฏูŽูŠู’ู†ู ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽุฌูŽู„ู ู…ู‘ูุณูŽู…ู‘ู‹ู‰ ููŽุงูƒู’ุชูุจููˆู‡ู ูˆูŽู„ู’ูŠูŽูƒู’ุชูุจ ุจู‘ูŽูŠู’ู†ูŽูƒูู…ู’ ูƒูŽุงุชูุจูŒ ุจูุงู„ู’ุนูŽุฏู’ู„ู …

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. (QS. Al-Baqarah : 282)

b. Mengingatkan secara baik waktu jatuh tempo hutangnya, khususnya ketika telah tiba waktunya. Dalam mengingatkan waktu jatuh tempo ini hendaknya didasari dengan prinsip โ€œsaling mengingatkanโ€ dalam kebaikan dan kebenaran, dan juga rasa khawatir apabila yang berhutang lupa dan kemudian menjadi satu kedzaliman dikarenakan adanya โ€œpenundaanโ€ pembayaran hutang.

Perlu diingat bahwa menunda-nunda pembayaran hutang adalah perbuatan dzalim dan berdosa. Semakin lama ia menunda, maka semakin besar pula dosanya. Oleh karenanya, perlu untuk mengingatkannya agar orang yang berhutang tidak terjatuh ke dalam kedzaliman yang berlarut-larut.

Dalam sebuah riwayat disebutkan :

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽุทู’ู„ู ุงู„ู’ุบูŽู†ููŠู‘ู ุธูู„ู’ู…ูŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฃูุชู’ุจูุนูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู„ููŠู‘ู ููŽู„ู’ูŠูŽุชู’ุจูŽุนู’ (ู…ุชูู‚ ุนู„ูŠู‡)

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, โ€œMenunda pembayaran hutang (bagi orang yang mampu) adalah suatu kezaliman.

Dan jika salah seorang dari kamu diikutkan (dihiwalahkan) kepada orang yang mampu/ kaya, maka terimalah hawalah itu. (Muttafaqun Alaih)

c. Menagih dengan cara yang baik, yaitu ketika mendatangi orang yang berhutang tersebut maka hendaknya berbicara dan bertingkah laku yang baik sesuai dengan adab dan etika Islam (baca ; akhlaqul karimah) seperti datang dengan senyuman, mengucapkan salam, meminta pembayaran dengan sopan dan baik, tidak arogan serta tidak menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran orang yang berhutang maupun keluarga dan tetangganya.

Hal ini sebagaimana yang digambarkan Rasulullah SAW dalam hadits di atas,

โ€œโ€ฆ bermurah hati ketika menagih hutang.โ€

d. Boleh meminta jaminan terhadap orang yang berhutang.

Apabila diperlukan, sesungguhnya orang yang memberi hutang boleh saja meminta โ€œjaminanโ€ terhadap orang yang berhutang, berupa harta atau sesuatu yang dapat dijadikan sebagai jaminan.

Allah SWT berfirman:

ูˆูŽุฅูู† ูƒูู†ุชูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽููŽุฑู ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ุชูŽุฌูุฏููˆุงู’ ูƒูŽุงุชูุจุงู‹ ููŽุฑูู‡ูŽุงู†ูŒ ู…ู‘ูŽู‚ู’ุจููˆุถูŽุฉูŒ …

Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu`amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang)… (QS. Al-Baqarah : 283)

e. Memberi nasehat berkenaan dengan hutang, seperti berkenaan dengan keharusan membayar hutang yang bahkan seorang syahid pun yang semua dosanya diampuni oleh Allah SWT, ternyata khusus โ€œhutangnyaโ€ tidak dapat diampuni oleh Allah SWT.

Kenyataan ini sebagaimana yang Rasulullah SAW sabdakan dalam hadits :

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุจู’ู†ู ุงู„ู’ุนูŽุงุตู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูุบู’ููŽุฑู ู„ูู„ุดู‘ูŽู‡ููŠุฏู ูƒูู„ู‘ู ุฐูŽู†ู’ุจู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ุฏู‘ูŽูŠู’ู†ูŽ (ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…(

Dari Abdullan bin Amr bin Asr ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, โ€œSemua dosa orang yang mati syahid akan diampuni, kecuali hutang.โ€ (HR. Muslim)

f. Memberikan penangguhan waktu, apabila orang yang berhutang sedang mengalami kesulitan.

Yaitu misalnya dengan mereschedulkan kembali pembayaran hutangnya, pada hari, tanggal, bulan dan tahun yang jelas dan disepakati bersama.

Karena orang yang bermurah hati memberikan penangguhan pembayaran hutang terhadap orang yang sedang kesulitan, akan mendapatkan pahala yang mulia di sisi Allah SWT.

Dalam sebuah riwayat disebutkan :

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽู†ู’ุธูŽุฑูŽ ู…ูุนู’ุณูุฑู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ูˆูŽุถูŽุนูŽ ู„ูŽู‡ู ุฃูŽุธูŽู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ุชูŽุญู’ุชูŽ ุธูู„ู‘ู ุนูŽุฑู’ุดูู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ู„ูŽุง ุธูู„ู‘ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุธูู„ู‘ูู‡ู – ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ

Dari Abu Hurairah ra berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, โ€œBarangsiapa yang menangguhkan hutang orang yang sedang kesulitan, atau membebaskannya dari hutangnya, maka Allah akan memayunginya nanti pada hari kiamat di bahwa naungan โ€˜Arsy-Nya, di saat tidak ada naungan melainkan hanya naungan-Nya.โ€ (HR. Turmudzi)

g. Mencairkan jaminan atas seizin orang yang berhutang, yaitu apabila orang yang berhutang memberikan jaminan dan telah jatuh tempo namun tidak mampu untuk melunasi hutangnya, maka boleh saja jaminannya tersebut โ€œdicairkanโ€ atas seizinnya.

Namun yang perlu dicatat adalah bahwa apabila jaminan tersebut dicairkan untuk melunasi hutangnya, dan ternyata masih terdapat sisanya, maka sisanya tersebut harus dikembalikan kepada orang yang berhutang tersebut.

Apabila selisihnya diambil oleh si pemberi hutang, maka justru pada saat tersebut, si pemberi hutanglah yang menjadi pelaku kedzaliman.

5. Bahwa terdapat satu fakta yang unik, yaitu Rasulullah SAW tidak mau menshalatkan jenazah seorang sahabat yang memiliki hutang.

Dalam riwayat disebutkan, โ€œTelah dihadapkan kepada Rasulullah SAW mayat seorang laki-laki untuk dishalatkan…. Rasulullah bertanya, โ€œApakah dia mempunyai hutang?โ€

Para sahabat menjawab, โ€œTidakโ€. Lalu Rasulullah menshalatkannya.

Kemudian di datangkan jenazah yang lainnya, dan beliau bertanya, โ€œApakah ia punya hutang?โ€ Sahabat menjawab, โ€œYa, Rasulullah pun menyuruh para sahabatnya untuk menyalatkannya (namun beliau sendiri tidak).

Abu Qatadah berkata, โ€œSaya menjamin hutangnya wahai Rasulullahโ€. Maka (barulah) Rasulullah SAW menshalatkan jenazah tersebut.โ€ (HR. Bukhari)โ€

6. Orang yang memberi kan hutang, boleh saja mewakilkan orang lain untuk menagih hutangnya, misalnya melalui jasa debt collector.

Ketentuan bolehnya mewakilkan kepada pihak atau orang lain untuk menagihkan hutangnya adalah berdasarkan akad wakalah, dimana pihak yang memberikan hutang bertindak sebagai muwakil (yang memberikan kuasa) kepada pihak debt collector (wakil) untuk menagihkan hutangnya pada orang yang berhutang.

Dalam sebuah riwayat disebutkan :

ุนูŽู†ู’ ุฌูŽุงุจูุฑู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุฑูŽุฏู’ุชู ุงู„ู’ุฎูุฑููˆู’ุฌูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฎูŽูŠู’ุจูŽุฑูŽ ููŽุฃูŽุชูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุชูŽูŠู’ุชูŽ ูˆูŽูƒููŠู„ููŠู’ ุจูุฎูŽูŠู’ุจูŽุฑูŽ ููŽุฎูุฐู’ ู…ูู†ู’ู‡ู ุฎูŽู…ู’ุณูŽุฉูŽ ุนูŽุดูŽุฑูŽ ูˆูŽุณูŽู‚ู‹ุง ุฑูˆุงู‡ ุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏโ€

โ€œDari Jabir ra berkata, โ€œAku keluar pergi ke Khaibar, lalu aku datang kepada Rasulullah SAW, kemudian beliau bersabda, โ€˜Bila engkau datang pada wakilku di Khaibar, maka ambillah darinya 15 wasaq.โ€ (HR. Abu Daud)

Namun yang perlu dicatat dan digaris bawahi adalah bahwa orang atau pihak yang menjadi wakil dalam menagih hutang, haruslah memenuhi segala ketentuan dan etika sebagaimana di jelaskan sebelumnya, seperti:
– akad hutang piutang harus tertulis,
– tidak mengandung unsur bunga (riba),
– mengingatkan secara baik-baik apabila telah tiba masa jatuh temponya,
– menagih dengan cara yang baik dan sopan (berakhlaqul karimah),
– memberikan nasehat berkenaan dengan hutang piutang sesuai tuntunan syariah,
– memberikan penangguhan apabila orang yang berhutang benar-benar dalam kesulitan, dsb (silakan baca kembali poin 4 dalam tulisan ini).

Apabila debt collector bisa memenuhi semua syarat dan etika di atas, maka insya Allah akan menjadi debt collector syariah.

Sebaliknya apabila meninggalkan syarat di atas (misalnya hutang piutangnya terkait dengan bunga atau riba), atau mengabaikan faktor etika dan akhlak maka dengan sendirinya sudah tidak menjadi debt collector syariah.

Jadi apa anda berminat untuk membuat perusahaan yang menawarkan jasa “debt collector secara syariah?”

Peluang masih terbuka lebar.

Wallahu Aโ€™lam bis Shawab


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Utang

Hukum Bai’ Ad-Dayn /Jual Beli Piutang

Pemateri: Ust. DR. RIKZA MAULAN Lc., MAg.

BAI’ DAYN.

Dalam transaksi muamalah dewasa ini, terkadang ditemui transaksi berupa jual beli piutang, seperti ketika seseorang yang memiliki piutang, lalu ia menjual piutang nya tersebut kepada orang lain.

Atau dalam kasus lembaga keuangan syariah, ketika suatu ย LKS akan menjual asset pembiayaannya kepada LKS yang lainnya, maka bagaimanakah hukumnya?

Berikut kami simpulkan dari beberapa referensi, utamanya dari Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Syekh Wahbah Al-Zuhaily.

Syekh Wahbah Zuhaily memberikan pembahasan tentang baiโ€™ ad-dain ( ุจูŠุน ุงู„ุฏูŠู† ) sebagai berikut ย (4/432):

1. Menjual piutang dengan hutang ( ุจูŠุน ุงู„ุฏูŠู† ู†ุณูŠุฆุฉ )

Dalam fiqh transaksi seperti ini dikenal dengan sebutan baiโ€™ ad-dayn by ad-dayn atau dalam hadits disebut baiโ€™ al-kali bil kali ( ุจูŠุน ุงู„ูƒุงู„ูŠุก ุจุงู„ูƒุงู„ูŠุก ).

Bentuk transaksi jual beli seperti ini adalah dilarang secara syariah.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits :

ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู’ ุจูŽูŠู’ุนู ุงู„ู’ูƒูŽุงู„ูุฆู ุจูุงู„ู’ูƒูŽุงู„ูุฆู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ู†ุณุงุฆูŠ ููŠ ุงู„ูƒุจุฑู‰ ูˆุงู„ุญุงูƒู… ูˆุงู„ุฏุงุฑู‚ุทู†ูŠ)

Dari Ibnu Umar ra bahwasanya Nabi SAW melarang jual beli hutang dengan hutang. (HR. An-Nasaโ€™i dalam Sunan Al-Kubra, Daruquthni dan Al-Hakim)[1]

Menjual piutang dengan hutang, bisa terjadi dalam dua bentuk :

a. ( ุจูŠุน ุงู„ุฏูŠู† ู„ู„ู…ุฏูŠู† ) Menjual piutang kepada orang yang berhutang tersebut

Yaitu seperti seseorang yang berkata kapeada orang lain,

* Saya beli dari kamu satu mud gandum dengan harga satu dinar dengan serah terima dilakukan setelah satu bulan.โ€™

* Atau seseorang membeli barang yang akan diserahkan pada waktu tertentu lalu ketika jatuh tempo, penjual tidak mendapatkan barang untuk menutupi utangnya, lantas berkata kepada pembeli,

‘Juallah barang ini kepadaku dengan tambahan waktu lagi dengan imbalan tambahan barangโ€™.

Lalu pembeli menyetujui permintaan penjual dan kedua belah pihak tidak saling sarah terima barang.

Cara seperti ini merupakan riba yang diharamkan, dengan kaidah

โ€˜berikan tambahan waktu dan saya akan berikan tambahan jumlah barang.โ€™ ( ุฒุฏู†ูŠ ููŠ ุงู„ุฃุฌู„ ูˆุฃุฒูŠุฏูƒ ููŠ ุงู„ู‚ุฏุฑ )

b.( ุจูŠุน ุงู„ุฏูŠู† ู„ุบูŠุฑ ุงู„ู…ุฏูŠู† ) ย Menjual piutang kepada orang lain yang bukan orang yang berhutang.

Hal ini seperti seseorang berkata kepada orang lain, โ€˜Saya jual kepadamu ย 20 mud gandum milikku ย yang dipinjam oleh fulan dengan harga sekian dan kamu bisa membayarnya kepadaku setelah satu bulan.โ€™

Maka transaksi jual beli seperti ini juga termasuk transaksi yang tidak diperbolehkan.

ย 2. Menjual piutang dengan tunai pada saat transaksi. ( ุจูŠุน ุงู„ุฏูŠู† ู†ู‚ุฏุง ููŠ ุงู„ุญุงู„ )

Hukum menjual piutang dengan tunai diperselisih kan oleh ulama tentang hukumnya dan dapat disimpulkan sebagai berikut:

A. ( ุจูŠุน ุงู„ุฏูŠู† ู„ู„ู…ุฏูŠู† ) Menjual piutang kepada orang yang berhutang.

Kebanyakan ahli fiqih dari empat madzhab ย memperbolehkan menjual piutang atau menghibahkan piutang kepada orang yang berhutang.

Karena penghalang dari sahnya menjual piutang dengan hutang adalah karena ketidakmampuan menyerahkan objek akad.

Sementara dalam jual beli piutang kepada orang yang berhutang di sini, tidak diperlukan lagi penyerahterimaan objek akad, karena piutang sudah ada pada orang yang meminjamnya sehingga sudah diserah terimakan dengan sendirinya.

Contohnya adalah orang yang memberikan hutang/ kreditur ( ุงู„ุฏุงุฆู† ) menjual piutangnya yang ada pada debitur (ุงู„ู…ุฏูŠู† ) dengan harga berupa sesuatu yang bukan sejenis piutangnya.

Namun, berbeda dengan jumhur ulama, Madzhab Zhahiriyah berperdapat bahwa menjual piutang kepada orang yang berhutang adalah tidak sah, karena jual beli ini mengandung unsur gharar.

Ibnu Hazam berkata, โ€˜karena jual beli ini termasuk jual beli barang yang tidak diketahui dan tidak jelas barangnya. Inilah yang disebut dengan memakan harta orang lain dengan cara yang bathil.

B. ( ุจูŠุน ุงู„ุฏูŠู† ู„ุบูŠุฑ ุงู„ู…ุฏูŠู† ) Menjual piutang kepada orang lain yang bukan berhutang.

1. Mahdzhab Hanafi dan Zhahiri mengatakan bahwa oleh karena pada dasarnya tidak boleh menjual barang yang tidak bisa diserah terimakan, ย maka menjual piutang kepada orang lain yang bukan berhutang adalah ย tidak boleh.

Sebab piutang tidak bisa diserahkan kecuali kepada orang yang berhutang itu sendiri.

Karena piutang adalah ibarat dari harta yang ada dalam tanggungan seseorang secara hukum, atau ibarat dari mengalihkan hak kepemilikan dan menyertakannya.

Kedua hal tersebut tidak bisa diserahkan oleh penjual kepada pihak lain yang bukan berhutang.

2. Madzhab Syafii ย mengemukakan bahwa :

a. Menjual piutang yang bersifat tetap[2] kepada orang yang berhutang ย atau kepada pihak lain sebelum piutang itu diterima oleh orang yang memberi hutang, adalah ย diperbolehkan. Karena secara zahir, kreditur (orang yang memberikan hutang) mampu menyerahkan barang tanpa ada halangan apapun.

Contoh piutang yang tetap adalah nilai barang yang dirusak (yang harus diganti) dan barang yang ada pada debitur (yang harus dikembalikan kepada si pemberi hutang).

b. ย  ย Akan tetapi apabila piutang tersebut tidak tetap, maka jika ia berupa barang yang diserahkan pada jual beli salam, hukumnya tidak boleh menjualnya sebelum barang tersebut diterima.

Hal ini karena adanya larangan secara umum tentang jual beli barang yang belum diterima.

Disamping itu juga karena kepemilikan barang dalam jual beli salam tidaklah tetap, karena ada kemungkinan barang tersebut tidak bisa diserahkan karena hilang, sehingga jual beli menjadi batal.

c. ย Kemudian apabila piutang itu berupa harga barang dalam jual beli, maka dalam pendapat terbaru dari madzhab Syafii adalah juga diperbolehkan menjualnya sebelum dipegang, berdasarkan riwayat Ibnu Umar, dari Rasulullah SAW ;

ู„ุงูŽ ุจูŽุฃู’ุณูŽ ู…ูŽุงู„ูŽู…ู’ ุชูŽุชูŽููŽุฑู‘ูŽู‚ูŽุง ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽูƒูู…ูŽุง ุดูŽูŠู’ุกูŒ

โ€˜Tidak apa-apa selama keduanya belum berpisah dan diantara keduanya ada sesuatu.โ€™ (HR. Turmudzi).[3]

3. Madzhab Hambali ย berpendapat bahwa :

a. ย Boleh menjual piutang yang tetap kepada debiturnya sendiri, seperti mengganti pinjaman dan mahar setelah senggama.

b. ย Namun tidak boleh menjual piutang kepada orang lain yang bukan debiturnya, sebagaimana tidak boleh menghibahkan piutang kepada orang lain yang bukan debiturnya. Karena pada dasarnya hibah mengharuskan adanya barang sementara dalam hal hibang hutang ini, barangnya tidak ada.

c. Tidak boleh juga menjual piutang yang tidak tetap, seperti sewa properti sebelum selesai masa sewanya, atau seperti mahar sebelum bersenggama dengan istri atau seperti barang pada jual beli salam sebelum diterima.

Namun sebagai catatan, walaupun madzhab Hambali tidak memperbolehkan transaksi menjual piutang kepada orang lain yang bukan orang yang berhutang, namun Ibnu Qayim yang merupakan salah satu ulama besar Madzhab Hambali membolehkan jual piutang kepada orang yang berhutang maupun kepada orang lain yang bukan orang yang berhutang.

4. ย  ย Sementara Madzhab Maliki berpendapat bahwa boleh menjual piutang kepada orang lain yang tidak berhutang ย apabila memenuhi delapan syarat berikut:

a. ย  Jual beli tidak mengakibatkan pada pelanggaran syariah, seperti ย  riba, gharar, atau sejenisnya.

Dengan demikian, piutang harus berupa sesuatu yang bisa dijual sebelum diterima, seperti halnya jika piutang itu berupa pinjaman dan sejenisnya. Dan jika piutang bukan berupa barang makanan.

b. Piutang harus dijual dengan harga tunai agar terhindar dari hukum jual beli piutang yang dilarang.

c. ย Harga harus berupa sesuatu yang bukan sejenis piutang yang dijual atau sejenisnya tetapi harus ada persamaan jumlahnya agar tidak terjebak dengan jual beli riba yang haram.

d. ย Harga tidak boleh berupa emas, jika piutang yang dijual adalah perak agar tidak terjadi jual beli uang dengan uang yang tidak tunai, tanpa diserahkan keduanya.

e. Adanya dugaan kuat untuk mendapatkan piutang (dilunasinya hutang), seperti kemungkinan hadirnya ย orang yang berhutang (debitur) di tempat dilaksanakannya akad guna mengetahui kondisinya, apakah ia memiliki dana atau tidak.

f. ย Orang yang berhutang (Debitur) harus mengakui hutangnya agar ia tidak mengingkarinya setelah itu.

Maka oleh karenanya tidak diperbolehkan menjual hak milik yang disengketakan.

g. ย Orang yang berhutang (Debitur) adalah orang yang layak untuk membayar hutangnya; atau debitur bukanlah orang yang tidak mampu atau bukan orang yang terhalang.

Hal ini untuk memastikan agar ia bisa menyerah- terimakan barang atau hutang.

h. ย  Tidak adanya konflik antara pembeli dan orang yang berhutang (debitur) seingga pembeli tidak dirugikan, atau agar debitur tidak dirugikan dalam bentuk memberi peluang kepada sengketanya untuk merugikannya.

KESIMPULAN:

Bai’ ad-dayn boleh dilakukan menurut Madzhab Syafi’i, Maliki dan juga Ibnu Qayim Al-Jauzi dengan syarat bahwa :

1. Dibayar dengan tunai (cash), dan

2. Tidak boleh dibayar dengan tunda (cicil).

Karena jika dibayar dengan tunda atau cicil, mengakibatkan pada jual beli hutang dengan hutang, dan hal tersebut dilarang oleh Rasulullah SAW.

Jual beli piutang dengan tunai diperbolehkan, apabila terhindar dari praktek riba.
Sehingga diharuskan adanya kesamaan harga, antara piutang yang dijual, dengan piutang yang akan diperoleh.

Sehingga tidak boleh misalnya menjual piutang Rp. 10.000,000,-, untuk kemudian dibayarnya senilai Rp 11.000.000,-. Karena jika demikian terjadi tukar menukar uang dengan jumlah yang tidak sama, dan hal ini merupakan riba fadhl yang diharamkan.

Jadi, jual beli piutang secara cash diperbolehkan dengan syarat harganya harus sama.

Objek yang ditransaksikan haruslah jelas.
Misalnya berapa jumlahnya,
apa objek terjadinya piutang, siapa orang yang memiliki piutang, dst.

Ketidakjelasan pada aspek ini, mengakibatkan transaksi terjerumus pada bay’ gharar yang diharamkan.

Lalu syarat-syarat lain yang disampaikan oleh Madzhab Maliki di atas, seperti adanya pengakuan dari orang yang berhutang, lalu adanya kepastian bahwa orang yang berhutang sanggup untuk melunasi hutangnya, dsb.

Syarat lainnya adalah syarat yang dikemukakan oleh Madzhab Syafi;i, yaitu bahwa objeknya (piutang) haruslah termasuk dalam kategori maal mustaqir (yang jelas dan tetap serta tidak adanya kemungkinan bahwa hutang tersebut menjadi diputihkan), dsb.

Apabila piutangnya adalah sesuatu yang bukan maal mustaqir, maka tidak boleh diperjual belikan. Karena berarti adanya ketidakjelasan pada objek yang berakibat pada bai’ gharar yang diharamkan.

Wallahu A’lam bis Shawab


[1] Hanya saja Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Bulughul Maram mengomentari bahwa hadits ini dhaโ€™if

ย (1/316, lihat Al-Maktabah As-Syamilah)

[2] Dijelaskan oleh Syekh Wahbah Zuhaily, bahwa hutang yang bersifat tetap ( ุงู„ุฏูŠู† ุงู„ู…ุณุชู‚ุฑ ) adalah hutang yang tetap keharusan untuk pelunasannya dan yang oleh pemiliknya harus ditunaikan (dibayarkan) kepada orang yang memberikan hutang, tanpa ada kemungkinan lain yang menjadikan hutangnya lunas.

[3] Hadits tersebut lengkapnya adalah sebagai berikut :

ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูƒูู†ู’ุชู ุฃูŽุจููŠุนู ุงู„ู’ุฅูุจูู„ูŽ ุจูุงู„ู’ุจูŽู‚ููŠุนู ููŽุฃูŽุจููŠุนู ุจูุงู„ุฏู‘ูŽู†ูŽุงู†ููŠุฑู ูˆูŽุขุฎูุฐู ุงู„ุฏู‘ูŽุฑูŽุงู‡ูู…ูŽ ููŽุฃูŽุชูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูููŠ ุจูŽูŠู’ุชู ุญูŽูู’ุตูŽุฉูŽ ููŽู‚ูู„ู’ุชู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูุฑููŠุฏู ุฃูŽู†ู’ ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ูŽูƒูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูŽุจููŠุนู ุงู„ู’ุฅูุจูู„ูŽ ุจูุงู„ู’ุจูŽู‚ููŠุนู ููŽุฃูŽุจููŠุนู ุจูุงู„ุฏู‘ูŽู†ูŽุงู†ููŠุฑู ูˆูŽุขุฎูุฐู ุงู„ุฏู‘ูŽุฑูŽุงู‡ูู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฃู’ุฎูุฐูŽู‡ูŽุง ุจูุณูุนู’ุฑู ูŠูŽูˆู’ู…ูู‡ูŽุง ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ุชูŽูู’ุชูŽุฑูู‚ูŽุง ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽูƒูู…ูŽุง ุดูŽูŠู’ุกูŒ (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ู†ุณุงุฆูŠ ูˆุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ูˆุฃุญู…ุฏ ูˆุงู„ุญุงูƒู…)

Dari Ibnu Umar, dia berkata; “Saya pernah menjual unta di Baqi’ saya menjualnya dengan beberapa dinar, dan kuambil beberapa dirham, kemudian saya datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di rumah Hafshah, saya berkata;

“Wahai Rasulullah, saya ingin bertanya. Sesungguhnya saya menjual unta di Baqi’, saya menjualnya dengan dinar dan mengambil dirham.”

Beliau bersabda: “Tidak mengapa engkau mengambilnya dengan harga pada hari itu, selama kalian berdua belum berpisah sementara (ketika itu) di antara kalian ada sesuatu.” (HR. Nasaโ€™i, Abu Daud, Ahmad dan Al-Hakim)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Sedekah Utama Memberi Air

HUKUM JUAL BELI AIR (bag-2)

Pemateri: Ust. DR. RIKZA MAULAN Lc. MAg.

2. Hukum Membeli Lahan Yang Terdapat Sumber Air

Membeli lahan, atau tanah yang di dalamnya terdapat sumber air, adalah boleh.

Dan pemiliknya boleh memanfaatkan air tersebut untuk keperluannya dan anggota keluarganya.

Hal ini sebagaimana terdapat riwayat tentang kisahnya Abu Thalhah yang memiliki tanah di dekat Masjid Nabawi yang memiliki sumber mata air, di mana Nabi SAW sering minum dari mata air tersebut :

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณูŽ ุจู’ู†ูŽ ู…ูŽุงู„ููƒู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ูŠูŽู‚ููˆู„ู ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽุจููˆ ุทูŽู„ู’ุญูŽุฉูŽ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ุงู„ู’ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑู ุจูุงู„ู’ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉู ู…ูŽุงู„ู‹ุง ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽ ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ูู‡ู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุจูŽูŠู’ุฑูุญูŽุงุกูŽ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ู…ูุณู’ุชูŽู‚ู’ุจูู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ูู‡ูŽุง ูˆูŽูŠูŽุดู’ุฑูŽุจู ู…ูู†ู’ ู…ูŽุงุกู ูููŠู‡ูŽุง ุทูŽูŠู‘ูุจู ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ู†ูŽุฒูŽู„ูŽุชู’ { ู„ูŽู†ู’ ุชูŽู†ูŽุงู„ููˆุง ุงู„ู’ุจูุฑู‘ูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูู†ู’ููู‚ููˆุง ู…ูู…ู‘ูŽุง ุชูุญูุจู‘ููˆู†ูŽ } ู‚ูŽุงู…ูŽ ุฃูŽุจููˆ ุทูŽู„ู’ุญูŽุฉูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ูููŠ ูƒูุชูŽุงุจูู‡ู { ู„ูŽู†ู’ ุชูŽู†ูŽุงู„ููˆุง ุงู„ู’ุจูุฑู‘ูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูู†ู’ููู‚ููˆุง ู…ูู…ู‘ูŽุง ุชูุญูุจู‘ููˆู†ูŽ } ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽ ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ููŠ ุฅูู„ูŽูŠู‘ูŽ ุจูŽูŠู’ุฑูุญูŽุงุกูŽ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูŒ ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุฑู’ุฌููˆ ุจูุฑู‘ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุฐูุฎู’ุฑูŽู‡ูŽุง ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽุถูŽุนู’ู‡ูŽุง ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุญูŽูŠู’ุซู ุดูุฆู’ุชูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุจูŽุฎู ุฐูŽู„ููƒูŽ ู…ูŽุงู„ูŒ ุฑูŽุงุฆูุญูŒ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู…ูŽุงู„ูŒ ุฑูŽุงุฆูุญูŒ ู‚ูŽุฏู’ ุณูŽู…ูุนู’ุชู ู…ูŽุง ู‚ูู„ู’ุชูŽ ูููŠู‡ูŽุง ูˆูŽุฃูŽุฑูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฌู’ุนูŽู„ูŽู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽู‚ู’ุฑูŽุจููŠู†ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽูู’ุนูŽู„ู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽู‚ูŽุณูŽู…ูŽู‡ูŽุง ุฃูŽุจููˆ ุทูŽู„ู’ุญูŽุฉูŽ ูููŠ ุฃูŽู‚ูŽุงุฑูุจูู‡ู ูˆูŽุจูŽู†ููŠ ุนูŽู…ู‘ูู‡ู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ(

Dari Anas bin Malik ra berkata; Abu Thalhah adalah orang yang paling banyak hartanya dari kalangan Anshar di kota Madinah berupa kebun pohon kurma dan harta benda yang paling dicintainya adalah Bairuha’ (sumur yang ada di kebun itu) yang menghadap ke masjid dan Rasulullah SAW sering mamemasuki kebun itu dan meminum airnya yang baik tersebut.

Berkata, Anas; Ketika turun firman Allah Ta’ala (QS Alu ‘Imran: 92 yang artinya):

“Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai”,

Abu Thalhah mendatangi Rasulullah SAW lalu berkata;

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai”,

dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha’ itu dan aku menshadaqahkannya di jalan Allah dengan berharap kebaikan dan simpanan pahala di sisiNya, maka ambillah wahai Rasulullah sebagaimana petunjuk Allah kepadanu”.

Maka Rasulullah SAW bersabda:
“Wah, inilah harta yang menguntungkan, inilah harta yang menguntungkan.

Sungguh aku sudah mendengar apa yang kamu niyatkan dan aku berpendapat sebaiknya kamu shadaqahkan buat kerabatmu”.

Maka Abu Thalhah berkata,: “Aku akan laksanakan wahai Rasululloloh. Maka Abu Thalhah membagi untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya”. (HR. Bukhari)

Namun larangan dalam hadits di atas lebih dimaksudkan pada memonopoli sumber air, untuk kemudian mengenakan โ€œtarifโ€ bagi orang-orang yang akan mengambil air di sumber air tersebut.

Hal tersebut pernah dilakukan oleh orang Yahudi, yang memiliki sumur di masa Usman bin Affan.

Pada saat paceklik dan manusia tidak memiliki air, Yahudi tersebut tidak mengizinkan orang-orang mengambil air dari sumur tersebut, kecuali apabila mereka membayarnya.

Kemudian Usman bin Affan membelinya dan menyedekahkannya kepada seluruh kaum muslimin.

3. Larangan menjual kelebihan air apakah khusus air minum atau air untuk kebutuhan lainnya?

Imam Qurtubi berpendapat bahwa larangan tersebut secara dzahirnya dikhususkan bagi air yang dijadikan sumber air minum.

Karena air minum merupakan kebutuhan pokok bagi manusia, yang manusia tidak dapat hidup tanpanya.

Namun sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud adalah air secara umum, tidak hanya khusus untuk air mium, yang berada di tempat sumber air dan menjadi kebutuhan manusia.

Pendapat kedua ini dikuatkan dengan hadits lainnya

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ุงูŽ ูŠูู…ู’ู†ูŽุนู ููŽุถู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ู„ููŠูู…ู’ู†ูŽุนูŽ ุจูู‡ู ุงู„ู’ูƒูŽู„ูŽุฃู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ(

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: ” Jangan kelebihan air ditahan, dengan maksud untuk menahan tumbuhnya tanaman. (HR. Bukhari)

Bahkan dalam hadits lainnya disebutkan

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจูู‰ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ู‚ูŽุงู„ูŽ ย ู„ุงูŽ ูŠูู…ู’ู†ูŽุนู ููŽุถู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ู„ููŠูู…ู’ู†ูŽุนูŽ ุจูู‡ู ุงู„ู’ูƒูŽู„ุฃู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ(

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” Jangan kelebihan air ditahan, dengan maksud untuk menahan tumbuhnya tanaman.” ย (HR. Bukhari)

Jadi secara dzhahirnya hadits ini menggambarkan bahwa larangan menjual air termasuk untuk memenuhi kebutuhan ternak dan bahkan pengairan tumbuhan.

Larangan menjual kelebihan air ini dikuatkan oleh Hadits Nabi SAW lainnya, diantaranya :

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู’ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ูŠูŽู‚ููˆู„ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุซูŽู„ุงูŽุซูŽุฉูŒ ู„ุงูŽ ูŠูŽู†ู’ุธูุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูุฒูŽูƒู‘ููŠู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽู‡ูู…ู’ ุนูŽุฐูŽุงุจูŒ ุฃูŽู„ููŠู…ูŒุŒ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ููŽุถู’ู„ู ู…ูŽุงุกู ุจูุงู„ุทู‘ูŽุฑููŠู‚ู ููŽู…ูŽู†ูŽุนูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุงู„ุณู‘ูŽุจููŠู„ู ูˆูŽุฑูŽุฌูู„ูŒ ุจูŽุงูŠูŽุนูŽ ุฅูู…ูŽุงู…ู‹ุง ู„ูŽุง ูŠูุจูŽุงูŠูุนูู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ู„ูุฏูู†ู’ูŠูŽุง ููŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุนู’ุทูŽุงู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุฑูŽุถููŠูŽ ูˆูŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูุนู’ุทูู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุณูŽุฎูุทูŽ ูˆูŽุฑูŽุฌูู„ูŒ ุฃูŽู‚ูŽุงู…ูŽ ุณูู„ู’ุนูŽุชูŽู‡ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ู’ุนูŽุตู’ุฑู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู„ุงูŽ ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุนู’ุทูŽูŠู’ุชู ุจูู‡ูŽุง ูƒูŽุฐูŽุง ูˆูŽูƒูŽุฐูŽุง ููŽุตูŽุฏู‘ูŽู‚ูŽู‡ู ุฑูŽุฌูู„ูŒุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุฑูŽุฃูŽ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู’ู„ุขูŠูŽุฉูŽ (ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุดู’ุชูŽุฑููˆู†ูŽ ุจูุนูŽู‡ู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽูŠู’ู…ูŽุงู†ูู‡ูู…ู’ ุซูŽู…ูŽู†ู‹ุง ู‚ูŽู„ููŠู„ุง(

Dari Abu Hurairah ra, bahwa ย Rasulullah SAW bersabda:

“Ada tiga jenis orang yang Allah Ta’ala tidak akan melihat mereka pada hari qiyamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka disediakan siksa yang pedih, yaitu:

โœปSeorang yang memiliki kelebihan air di jalan lalu dia tidak memberikannya kepada musafir,
โœปSeorang yang membai’at imam dan dia tidak membai’atnya kecuali karena kepentingan-kepentingan duniawi, kalau dia diberikan dunia dia ridho kepadanya dan bila tidak dia marah, dan
โœปSeorang yang menjual dagangannya setelah ‘Ashar lalu dia bersumpah; demi Allah Dzat yang tidak ada Ilah selain Dia sungguh aku telah memberikan (shadaqah) ini dan itu lalu sumpahnya itu dibenarkan oleh seseorang”.

Kemudian Beliau membaca ayat ini: artinya (“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikitโ€ฆ”) (HR. Bukhari

4. Menjual air yang sudah di kemas, atau sudah diangkut?

Adapun air yang sudah ada โ€œusahaโ€ dari pemiliknya, seperti air yang sudah dikemas dalam botol, atau sudah diisikan ke dalam galon, atau diangkut dengan menggunakan gerobak lalu diantar ke rumah-rumah, maka hukumnya adalah boleh untuk diperjualbelikan.

Karena sudah ada โ€œusahaโ€ dari pemiliknya dalam memprosesnya dan atau mengantarkannya ke rumah-rumah penduduk.

Adapaun jika ia menjual air untuk kemudian orang-orang mengambil sendiri di dalam sumur, di sungai atau di danau, maka hukumnya tidak boleh.

Menjual air inipun ada syaratnya terkait dengan sumber mata airnya.

Yaitu di sumber mata air tersebut, pemiliknya tidak boleh melarang orang-orang mengambil dari sumber tersebut apabila akan digunakan untuk keperluan sehari-hari.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู‰ ูˆุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ
ูˆุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

..

Sedekah Utama Memberi Air

HUKUM JUAL BELI AIR (bag-1)

Pemateri: Ust. DR. RIKZA MAULAN Lc. MAg.

Dalam Hadits Rasulullah SAW bersabda :

ย ุนูŽู†ู’ ุฅูŠูŽุงุณู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูุŒ ๏ดฟ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู’ ุจูŽูŠู’ุนู ููŽุถู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู๏ดพ ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ุงู„ู’ุฎูŽู…ู’ุณูŽุฉู ุฅู„ุงู‘ูŽ ุงุจู’ู†ูŽ ู…ูŽุงุฌูŽู‡ู’ ูˆูŽุตูŽุญู‘ูŽุญูŽู‡ู ุงู„ุชู‘ูุฑู’ู…ูุฐููŠู‘ู

Dari Iyas bin Abdin ra,

“Bahwa Nabi SAW melarang jual beli kelebihan air”

(HR. Khamsah, kecuali Ibnu Majah. Dan hadits ini di shahihkan oleh Imam Turmudzi.)

Hadits di atas diriwayatkan oleh Khamsah, kecuali Ibnu Majah, artinya hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Turmudzi, Abu Daud dan Nasaโ€™i.

Namun bersamaan dengan riwayat tersebut, Imam Muslim dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits serupa (syahid) dengan sanad berbeda, yaitu dari Jabir bin Abdillah, bukan dari jalur Iyas bin Abdin Al-Muzani.

Hadits Lainnya

ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุฌูŽุงุจูุฑู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุนูŽู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูุซู’ู„ูู‡ู .(ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ุฃูŽุญู’ู…ูŽุฏู ูˆูŽุงุจู’ู†ู ู…ูŽุงุฌูŽู‡ู’) ุญูŽุฏููŠุซู ุฅูŠูŽุงุณู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู‚ูุดูŽูŠู’ุฑููŠู‘ู ู‡ููˆูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุดูŽุฑู’ุทู ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุฎูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽุญูŽุฏููŠุซู ุฌูŽุงุจูุฑู ู‡ููˆูŽ ูููŠ ุตูŽุญููŠุญู ู…ูุณู’ู„ูู…ู ูˆูŽู„ูŽูู’ุธูู‡ู ู„ูŽูู’ุธู ุญูŽุฏููŠุซู ุฅูŠูŽุงุณู ูˆูŽูƒูŽุฐูŽุง ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽู‡ู ุงู„ู†ู‘ูŽุณูŽุงุฆููŠู‘

Dan dari Jabir ra, dari Nabi SAW (sebagaimana hadits sebelumnya). HR. Ahmad dan Ibnu Majah.

Adapun tentang hadits Iyas, Imam Qusyairi mengatakan bahwa hadits tersebut sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim.

Sedangkan hadits Jabir ra merupakan hadtis shahih Muslim, sementara
lafadznya adalah lafadz hadits Iyas. Demikian juga diriwayatkan oleh Imam Nasaโ€™i.

โ‹TAKHRIJ HADITS

Dari Jalur Iyas bin Abdin :
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, hadits no 14897.

Diriwayatkan juga oleh Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al-Buyuโ€™, Bab Fi Baiโ€™ Fadhli Maaโ€™, hadits no 3017.

Diriwayatkan juga oleh Imam Turmudzi dalam Jamiโ€™nya, Kitab Al-Buyuโ€™ an Rasulillah, Bab Ma Jaaโ€™a fi Baiโ€™ Fadhli Maaโ€™, hadits no 1192

Diriwayatkan juga oleh Imam Nasaโ€™i, Kitab Al-Buyuโ€™, Bab Baiโ€™ Fadhlil Maaโ€™, hadits no 4583 dan 4584.

Dari Jalur Jabir bin Abdillah ra : Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam Shahihnya, Kitab Al-Musaqah, Bab Tahrim Baiโ€™ Fadhli Maaโ€™ Alladzi Yakunu bil Falati, hadits no 2925.

Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah dalam Sunannya, namun bukan dari Iyas bin Abdin, melainkan dari Jabir ra, dalam Kitab Al-Ahkam, Bab An-Nahyi an Baiโ€™ Maaโ€™, hadits no 2468.

Demikian juga Imam Ahmad meriwayatkan hadtis ini dari jalur Jabir bukan Iyas, dalam Musnadnya, hadits no 14117.

โ‹SYARAH HADITS

1. Hukum Jual Beli Air

Imam Syaukani mengemukakan,
bahwa hadits di atas menggambarkan tentang โ€œHARAM-nyaโ€ menjual kelebihan air, yaitu kelebihan air dari kebutuhan si pemiliknya.

Kelebihan air yang tidak boleh diperjual belikan itu mencakup air yang berada di wilayah (tanah) umum, maupun di tanah yang dimiliki atau dikuasai baik oleh perorangan maupun kolektif.

โ‡›PENJELASAN :

Ulama sepakat, tentang haramnya hukum memperjual belikan air yang terdapat dalam sumbernya, seperti yang berada di sungai, telaga, danau bahkan yang terdapat di dalam sumur.

Kendatipun berada di bawah penguasaan pemiliknya.

Disebut sebagai kelebihan air, maksudnya adalah bahwa pemiliknya lebih berhak terhadap air yang terdapat dalam sumber air tersebut, namun ketika ia telah memenuhi kebutuhannya dan dapat dimanfaatkan oleh orang lain yang membutuhkannya, maka ia tidak boleh menjualnya kepada mereka.

Air tersebut boleh dimanfaatkan oleh orang banyak tanpa kompensasi seperti dalam jual beli (iwadh).

Dan jika pemiliknya menjual air tersebut kepada orang yang mengambilnya, maka hukumnya haram dan pelakunya berdosa.

Insya Allah bersambung ke bag-2


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678