Katak dan Cicak

Anjuran Membunuh Cicak

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, Apa hukumnya membunuh cicak?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ada beberapa hadits yang memerintahkan untuk membunuh cicak, di antaranya:

عَنْ سَائِبَةَ مَوْلَاةِ الْفَاكِهِ بْنِ الْمُغِيرَةِ: أَنَّهَا دَخَلَتْ عَلَى عَائِشَةَ فَرَأَتْ فِي بَيْتِهَا رُمْحًا مَوْضُوعًا، فَقَالَتْ: يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، مَا تَصْنَعِينَ بِهَذَا؟ قَالَتْ: نَقْتُلُ بِهِ هَذِهِ الْأَوْزَاغَ، فَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَخْبَرَنَا: أَنَّ إِبْرَاهِيمَ لَمَّا أُلْقِيَ فِي النَّارِ لَمْ تَكُنْ فِي الْأَرْضِ دَابَّةٌ إِلَّا أَطْفَأَتْ النَّارَ، غَيْرَ الْوَزَغِ، فَإِنَّهَا كَانَتْ تَنْفُخُ عَلَيْهِ، فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِقَتْلِهِ

Dari Saibah, pelayan Fakih bin Al Mughirah, dia menjumpai ‘Aisyah dan dia lihat di rumahnya ada cemeti yang tergeletak, lalu bertanya: “Wahai Ummul Mu’minin, kamu pakai buat apa ini?”

‘Aisyah menjawab: “Kami memakainya untuk membunuh cicak.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa ketika Nabi Ibrahim dilempar ke kobaran api, semua makhluk di bumi ikut memadamkan api, kecuali cicak dia malah meniupan api (agar tetap membara). Maka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan untuk membunuhnya. (HR. Ahmad No. 3231. Shahih menurut Syaikh Syu’aib Arnauth)

Juga dalam riwayat Abdurazzaq, dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha: “Dahulu katak mematikan apinya Ibrahim, sedangkan cicak justru meniup utk membesarkannya. Maka, yang ini (katak) dilarang untuk dibunuh, dan yang ini (cicak) diperintahkan untuk dibunuh. (HR. Abdurazzaq No. 8392, Shahih menurut Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Sebenarnya ‘Aisyah tidak mendengar langsung perintah membunuh cicak dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tapi dia mendengar dari Sa’ad bin Abi Waqash sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Bukhari berikut:

 عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لِلْوَزَغِ الفُوَيْسِقُ» وَلَمْ أَسْمَعْهُ أَمَرَ بِقَتْلِهِ وَزَعَمَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِقَتْلِهِ

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ” Cicak itu Al Fuwaisiq (si kecil pengganggu).” Dan aku belum pwrnah dengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan membunuhnya, dan Sa’ad bin Waqash mengira bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk membunuhnya. (HR. Al Bukhari No. 3306)

Jadi, Aisyah tidak mendengar langsung dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tapi dari sebagian sahabat nabi, sebagaimana dikatakan Al Hafizh Ibnu Hajar sbb:

ولعل عائشة سمعت ذلك من بعض الصحابة

Dan, nampaknya Aisyah mendengarkannya dari sebagian sahabat. (Fathul Bari, 6/354)

Bahkan membunuhnya mendapatkan pahala. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«مَنْ قَتَلَ وَزَغَةً بِالضَّرْبَةِ الأُولَى كَانَ لَهُ كَذَا وَكَذَا حَسَنَةً، فَإِنْ قَتَلَهَا فِي الضَّرْبَةِ الثَّانِيَةِ كَانَ لَهُ كَذَا وَكَذَا حَسَنَةً، فَإِنْ قَتَلَهَا فِي الضَّرْبَةِ الثَّالِثَةِ كَانَ لَهُ كَذَا وَكَذَا حَسَنَةً»

Barang siapa yang membunuh cicak sekali pukul maka dia dapat pahala sekian sekian, jika dua kali pukulan maka sekian, jika tiga kali pukulan maka sekian.” (HR. At Tirmidzi No. 1482, kata At Tirmidzi: hasan shahih)

Hikmah dari ini adalah bahwa semua bentuk gangguan kepada manusia mesti dihilangkan sampai akar-akarnya, termasuk gangguan dari hewan seperti cicak. Banyak manusia yg geli dan jijik dengannya ketika berada di lemari, makanan, dsb. Maka, syariat melindungi manusia dan menyingkirkan gangguannya.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Zina Itu Utang?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya…Berkaitan dengan ini…

🍃🍀🍂

Zina Itu Hutang
Boleh jadi keluarga atau keturunanmu yang akan membayar dengan maksiat yang sama.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

بروا آباءكم تبركم أبناؤكم وعفوا تعف نساؤكم

“Berbaktilah kepada orang tuamu, niscaya anak-anakmu akan menjadi anak-anak yang berbakti. Hindari zina, sehingga niscaya istrimu tidak akan berzina.”
(HR. Thabarani).

🍃🍀🍂

Bagaimana caranya memutus azab yang timbul krna dosa zina ini kepada keturunan dan keluarganya? Pelaku sudah bertaubat. Apakah ada kafarat atau amalan yang harus dilakukan, supaya dosanya tidak berlanjut kepada keluarga dan keturunannya? Mohon penjelasan.

A/04

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pertama hadits tsb diperdebatkan para ulama. Ada yang menyatakan shahih ada yang menyatakan dhaif.

Kalaupun dinyatakan shahih, maka maksudnya adalah bahwa prilaku yang dilakukan seseorang, dapat ditiru oleh keluarganya. Jadi sifatnya adalah kemungkinan yang akan terjadi. Jadi sifatnya bukan sebagai hukuman yang harus ditanggung oleh keluarga, akan tetapi dapat menimbulkan pengaruh atau contoh buruk yang diikuti kuarganya. Itupun tidak mutlak terjadi sifatnya.

Adapun jika seseorang sudah bertaubat dan berusaha memperbaiki dirinya lalu dia mendidik keluarganya dengan baik serta berusaha menjauhkannya dari zina, maka itu sudah cukup, tidak perlu dihantui perasaan bahwa suatu kali nanti keluarganya akan menlmbayar dengan maksiat yang sama. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

GELAR ALAIHIS SALAM DALAM SHAHIH BUKHORI

Pertanyaan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah. apakah ada dalam shahih bukhori yang menyebutkan ali bin abi thalib alaihisalam(ada penambahan alaihisalam)? mohon jawabannya.# i-23

Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Dalam bukhari yang menggunakan alaihi/ha salam ada 5 orang.

Berikut beberapa di antara teks hadits yang memberikan gelar alaihissalam kepada ahlul bait:

Ali bin Abi Thalib alaihissalam

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلِيُّ بْنُ حُسَيْنٍ أَنَّ حُسَيْنَ بْنَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ كَانَتْ لِي شَارِفٌ مِنْ نَصِيبِي مِنْ الْمَغْنَمِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَانِي شَارِفًا مِنْ الْخُمْسِ فَلَمَّا أَرَدْتُ أَنْ أَبْتَنِيَ بِفَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاعَدْتُ رَجُلًا صَوَّاغًا مِنْ بَنِي قَيْنُقَاعَ أَنْ يَرْتَحِلَ مَعِي فَنَأْتِيَ بِإِذْخِرٍ أَرَدْتُ أَنْ أَبِيعَهُ مِنْ الصَّوَّاغِينَ وَأَسْتَعِينَ بِهِ فِي وَلِيمَةِ عُرُسِي

“Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan yang berkata telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ali bin Husain bahwa Husain bin Ali radiallahuanhuma mengabarkan kepadanya bahwa Ali Alaihis Salam berkata, Aku memiliki seekor unta yang kudapat dari ghanimah dan Rasulullah memberikan unta kepadaku dari bagian khumus (seperlima). Ketika aku ingin menikahi Fathimah Alaihas Salam binti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam aku menyuruh seorang laki-laki pembuat perhiasan dari bani Qainuqa’ untuk pergi bersamaku maka kami datang dengan membawa wangi-wangian dari daun idzkhir, aku jual yang hasilnya kugunakan untuk pernikahanku.”
[Shahih Bukhari 3/60 no 2089].

Fathimah Alaihassalam

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدٌ وَحَوْلَهُ نَاسٌ مِنْ قُرَيْشٍ جَاءَ عُقْبَةُ بْنُ أَبِي مُعَيْطٍ بِسَلَى جَزُورٍ فَقَذَفَهُ عَلَى ظَهْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَرْفَعْ رَأْسَهُ فَجَاءَتْ فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلَام فَأَخَذَتْهُ مِنْ ظَهْرِهِ وَدَعَتْ عَلَى مَنْ صَنَعَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ عَلَيْكَ الْمَلَأَ مِنْ قُرَيْشٍ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ وَعُتْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ وَشَيْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ وَأُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ أَوْ أُبَيَّ بْنَ خَلَفٍ شُعْبَةُ الشَّاكُّ فَرَأَيْتُهُمْ قُتِلُوا يَوْمَ بَدْرٍ فَأُلْقُوا فِي بِئْرٍ غَيْرَ أُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ أَوْ أُبَيٍّ تَقَطَّعَتْ أَوْصَالُهُ فَلَمْ يُلْقَ فِي الْبِئْرِ

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ghundar yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq dari Amru bin Maimun dari Abdullah RA yang berkata ketika Nabi SAW sedang sujud di sekeliling Beliau ada orang-orang Quraisy kemudian Uqbah bin Abi Mu’aith datang dengan membawa isi perut hewan dan meletakkannya di punggung Nabi SAW. Beliau tidak mengangkat kepala Beliau sampai akhirnya Fathimah Alaihas Salam datang dan membuangnya dari punggung Beliau dan memanggil orang yang melakukan perbuatan tersebut. Nabi SAW berkata “ya Allah aku serahkan para pembesar Quraisy kepadamu Abu Jahal bin Hisyam, Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Umayah bin Khalaf atau Ubay bin Khalaf”. Dan sungguh aku melihat mereka terbunuh dalam perang Badar. Kemudian mereka dibuang ke sumur kecuali Umayyah atau Ubay karena dia seorang yang badannya besar ketika badannya diseret anggota badannya terputus-putus sebelum dimasukkan kedalam sumur.”
[Shahih Bukhari 5/45 no 3854]

Sebutan Alaihas Salam kepada Fathimah dapat ditemukan di banyak tempat dalam Shahih Bukhari bahkan Bukhari sendiri membuat judul khusus dengan kata-kata:

مناقب قرابة رسول الله صلى الله عليه وسلم، ومنقبة فاطمة عليها السلام بنت النبي صلى الله عليه وسلم

“Keutamaan Kerabat Rasulullah ﷺ dan Keutamaan Fathimah Alaihassalam binti Nabi ﷺ”
[Shahih Bukhari 5/20 kitab Al Manaqib]

باب مناقب فاطمة عليها السلام

“Bab ; Keutamaan Fathimah Alaihas Salam”
[Shahih Bukhari 5/29 kitab Al Manaqib]

Hasan bin Ali Alaihis Salam

حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا جُحَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ عَلَيْهِمَا السَّلَام يُشْبِهُهُ قُلْتُ لِأَبِي جُحَيْفَةَ صِفْهُ لِي قَالَ كَانَ أَبْيَضَ قَدْ شَمِطَ وَأَمَرَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثَ عَشْرَةَ قَلُوصًا قَالَ فَقُبِضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ نَقْبِضَهَا

“Telah menceritakan kepadaku Amru bin Ali yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abi Khalid yang berkata aku mendengar Abu Juhaifah RA berkata “Aku melihat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan Hasan bin Ali Alaihimas Salam sangat mirip dengan Beliau”. Aku [Ismail] bertanya kepada Abu Juhaifah “Ceritakan sifat Beliau kepadaku?”. Abu Juhaifah berkata “Beliau berkulit putih, rambut Beliau sudah beruban dan Beliau pernah memerintahkan untuk memberi 13 anak unta kepada kami”. Ia kemudian berkata “Nabi SAW wafat sementara kami belum sempat mengambil pemberian Beliau tersebut”.
[Shahih Bukhari 4/187 no 3544]

Husain bin Ali Alaihis Salam

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ أَنَّ حُسَيْنَ بْنَ عَلِيٍّ عَلَيْهِمَا السَّلَام أَخْبَرَهُ أَنَّ عَلِيًّا قَالَ كَانَتْ لِي شَارِفٌ مِنْ نَصِيبِي مِنْ الْمَغْنَمِ يَوْمَ بَدْرٍ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَانِي شَارِفًا مِنْ الْخُمُسِ

“Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abdullah yang berkata telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ali bin Husain bahwa Husain bin Ali Alaihimas Salam mengabarkan kepadanya bahwa Ali berkata “Aku memiliki seekor unta yang kudapat dari bagian ghanimah dalam perang badar dan Nabi SAW memberiku unta dari bagian khumus (seperlima)…”
[Shahih Bukhari 4/78 no 3091]

Banyak orang mempertanyakan kebenaran penyebutan gelar ‘Alaihimussalam’ setelah nama-nama Ahlulbait Nabi ﷺ. Sebagian dari mereka menyangka bahwa hal itu adalah perbuatan orang-orang Syiah, bukan Ahlussunnah.

Pertama

Dalam berbagai buku rujukan hadits utama Ahlussunnah disebutkan berulangkali kata ‘As-salam’ atas tokoh-tokoh Ahlulbait Nabi ﷺ, bahkan adakalanya dirangkaikan dengan kata ‘was-shalatu ‘alaihim’.

Contohnya dalam kitab Shahih Al-Bukhari:

1. Kitab Kusuf, Bab Tahridh Al-Nabi ﷺ ‘ala Shalat Al-Layl wa Al-Nawafil min ghairi Ijabi, wa Tharaqa Al-Nabiyy ﷺ Fathimata wa ‘Aliyyan ‘alaihimassalam (salam atas keduanya).

2. Kitab Al-Hibah, Bab Idza wahaba daynan ‘ala rajulin, Syu’bah berkata dari Al-Hakam, bahwa hal itu diperbolehkan sebagaimana Al-Hasan bin Ali ‘alaihimassalam (salam atas keduanya) memberikan hutang kepada seseorang.

3. Kitab Jihad wa Al-Sayr, Sahl r.a ditanya tentang luka Nabi ﷺ pada peristiwa perang Uhud, ia menjawab, “Maka Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) membersihkan darah beliau Saw.

4. Bab Fardh Al-Khumus, Al-Zuhri berkata, Ali bin Al-Husein menceritakan kepadaku bahwa Husein bin Ali ‘alaihimassalam (salam atas keduanya) menceritakan bahwa Ali berkata, “Aku memperoleh bagian dari rampasan perang Badar.”

5. Bab Du’a Al-Nabiyy Saw, bahwa Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) putri Rasulullah ﷺ meminta bagian warisan dari Rasulullah Saw kepada Abu Bakar As-Shiddiq r.a setelah Rasulullah ﷺ wafat…

6. Bab Du’a Al-Nabiyy Saw, bahwa Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) mengeluhkan…

7. Bab Du’a Al-Nabiyy Saw, sehingga Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) datang dan mengambil dari punggung beliau…

8. Bab Shifat Al-Nabiyy ﷺ, “Aku melihat Nabi ﷺ dan Al-Hasan bin Ali ‘alaihimassalam (salam atas keduanya) sangat mirip dengan beliau.”

9. Bab Manaqib Al-Muhajirin, Ali menyampaikan kepadaku bahwa Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) mengeluhkan bekas lukanya akibat penggiling gandum.

10. Bab Manaqib Qarabah Rasulullah ﷺ wa Manqibah Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya), bahwa Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) menuliskan surat kepada Abu Bakar…

11. Bab Qisshah Ghazwah Badr, bahwa Ali berkata… ketika aku ingin memberikannya kepada Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya)…

12. Bab Ghazwah Uhud, Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) putri Rasulullah ﷺ membersihkannya.

13. Bab ‘Umrah Al-Qadha’, dan berkata kepada Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya)…

14. Bab Maradh Al-Nabiyy ﷺ, Nabi Saw memanggil Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) ketika beliau sakit menjelang wafat.

15. Bab Maradh Al-Nabiyy ﷺ, ketika beliau akan dikebumikan, Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) berkata, “Wahai Anas, apakah engkau tega menyegerakan penguburan Rasulullah ﷺ?

16. Bab Surah Al-Dzariyat,  Ali ‘alaihissalam (salam atasnya) berkata, “Al-Dzariyat…”

17. Ali bin Al-Husein ‘alaihimassalam (salam atas keduanya) berkata…

18. Kitab Al-Dzaba’ih wa Al-Shaid, Al-Hasan ‘alaihissalam (salam atasnya) naik ke atas pelana yang terbuat dari kulit berang-berang.

19. Kitab Al-Thibb, ketika Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) melihat darah, maka ia menambahkan air.

20. Kitab Al-Adab, Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) berkata, “Rasulullah ﷺ memberi isyarat kepadaku, maka aku tertawa…”

21. Kitab Al-Adab, ‘Uday bin Tsabit berkata, “Aku mendengar Al-Barra’  berkata, ‘Ketika Ibrahim ‘alaihissalam (putra Rasulullah dari Mariah Al-Qibthiyyah)wafat, Rasulullah ﷺ berkata,…

22. Kitab Al-Isti’dzan, Rasulullah ﷺ mengunjungi rumah Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) dan Ali tidak ada di dalamnya.

23. Kitab Al-Isti’dzan, Masruq diceritakan oleh Aisyah ummul mukminin r.a, “Suatu kali kami para istri Nabi berada di sisi beliau, maka Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) datang.

24. Kitab Al-I’tisham bil Kitab wa Al-Sunnah, dan Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) putri Rasulullah ﷺ.

25. Kitab Al-Da’awat, Ali menyampaikan bahwa Fathimah ‘alaihassalam (salam atasnya) mengeluhkan bekas luka di tangannya akibat penggiling gandum.

26. Kitab Al-Tauhid, Ali bin Al-Husein berkata bahwa Husein bin Ali ‘alaihimassalam (salam atas keduanya) menyampaikan kepadanya.

Contoh dari kitab-kitab hadis lainnya:

Musnad Ahmad, jilid II, Rasulullah ﷺ bersabda pada perang Khaibar, “Niscaya aku berikan panji kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan Allah akan membuka kepadanya. Umar pun berkata, ‘Aku tidaklah mencintai kedudukan sebelum hari itu, dan aku berangan-angan mendapatkan kehormatan dengan memperolehnya. Ketika hari esok tiba, beliau memanggil Ali ‘alaihissalam (salam atasnya) dan memberikan panji kepadanya dan bersabda, “Berperanglah tanpa menoleh sehingga engkau membuka (gerbang Khaibar-).

Shahih Muslim, Kitab Fadhail Al-Shahabah, Bab Fadhilah Fathimah binti Nabi ‘alaihassalam (salam atasnya).

Sunan Abu Dawud, Kitab Al-Shalah, Bab Al-Rajul yushalli ‘aqishan sya’rahu, Al-Hasan bin Ali menceritakan kepada kami, … bahwasanya beliau melihat Abu Rafi’ pembantu Rasulullah Saw melewati Hasan bin Ali ‘alaihimassalam (salam atas keduanya) yang sedang shalat …

Kedua

Perbedaan pendapat di antara orang-orang berilmu adalah seputar penyebutan kata ‘Ash-Shalat’ bukan pada ‘As-Salam’ kepada selain para Nabi secara terpisah. Menurut Imam Malik dan Syafi’i dianjurkan menyertakan Ash-Shalat dan As-Salam atas para Nabi. Sementara Imam Ahmad bin Hanbal membolehkan penyebutan terpisah atas selain para Nabi.

Dalil yang membolehkan hal itu adalah firman Allah ﷻ, ‘Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, yang dengan zakat itu kamu dapat membersihkan dan mensucikan harta mereka. Dan berdoalah untuk mereka (wa shalli ‘alaihim), karena doamu akan membuat tenang jiwa mereka. Sesungguhnya Allah ﷻ Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. (QS. Al-Taubah [9]: 103). dan hadis Nabi, “Ya Allah ﷻ anugerahkanlah shalat atas keluarga Abu Awfa” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Imam Bukhari membuat sebuah bab dengan nama, “Bab Shalat Al-Imam wa Du’auhu lishahibi Ash-Shadaqah.”… Dari Jabir bin Abdullah bahwa seorang wanita berkata kepada Nabi ﷺ, “Shalli ‘alayya wa ‘ala Zauji (doakanlah aku dan suamiku). Maka Rasulullah menjawab,“Shalla Allahu ‘alaika wa ‘ala Zaujik (semoga Allah menganugerahkanmu dan suamimu) (Riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Ketiga

Sebagian ahli hadis menjadikan salam atas sahabat selain Ahlulbait juga, di antaranya:

1. Sunan Ma’tsurah lil Imam Al-Syafi’i, “Hanya saja tidak diketahui bahwa Umar ‘alaihissalam…”

2. Kitab Al-Aahad wa Al-Matsani, Ibn Abi ‘Ashim, “Ibnu Umar berkata, Umar ‘alaihissalam (salam atasnya) wafat…”

3. Sunan Ad-Daruquthni, dari Asy-Sya’bi, Aku mendengar Umar ‘alaihissalam (salam atasnya) berkata…

4. Fadhail Ash-Shahabah, Ad-Daruquthni, “Dari Sya’bi, Ali ‘alaihissalam (salam atasnya) berkata…”

Terakhir

Jelas sudah bahwa persoalan yang menyebar luas ini tidak lagi mengandung perseteruan, perbedaan dan penolakan lagi.

Saudara-saudara Muslim yang suka berkomentar sebaiknya tidak bersikap terburu-buru mengingkari adanya penyebutan salam atas Ahlulbait sebelum menyelidiki lebih jauh, berhati-hati dan bertanya kepada orang-orang berilmu jika memang mereka bukan ahli di bidangnya. Sesungguhnya banyak orang berangan-angan memiliki ilmu dan ahli di bidangnya, namun terjerumus dalam memberikan pendapat/fatwa tanpa didasari keahliannya. Mereka ini begitu mudahnya memberikan tuduhan tanpa dasar. Hanya Allah ﷻ tempat memohon pertolongan.

Selain itu, sebaiknya kita tidak menganggap setiap orang yang mengagungkan, mencintai dan memberikan pujian terbaik yang ditujukan secara khusus atas Ahlulbait Nabi ﷺ sebagai orang Syiah saja dan seolah-olah kecintaan kepada Ahlulbait Nabi ﷺ hanya milik Syiah dan Ahlussunnah tidak termasuk di dalamnya. Kita berlindung kepada Allah dari pernyataan demikian.

Wallahu a’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

6 Hak Muslim Terhadap Muslim Lainnya

Pertanyaan

Assalamu’alaikum wr wb. Ustadz….. Mohon penjabaran dr Hadits yg klo gak salah menjelaskan ttg 6 (enam) hak sosial muslim thd muslim lainnya, berikut contoh yg d lakukan Nabi SAW maupun sahabat.
Jazakillah khaeron. A 11

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹🌺🌻🌼🌿

Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan

Wassalamu’alaikum wr wb.

🌿Hak Muslim Atas Muslim Lainnya🌿

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ» قِيلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟، قَالَ: «إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ»

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Hak muslim atas muslim lainnya ada enam.” Ada yang bertanya: “Apa saja wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Jika engkau berjumpa dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya, jika dia mengundangmu maka penuhilah, jika dia minta nasihat darimu maka nasihatilah, jika dia bersin dan mengucapkan hamdalah maka bertasymitlah, jika dia sakit jenguklah, dan jika dia wafat iringilah jenazahnya.”

📝 Hadits ini SHAHIH, dikeluarkan oleh:
🔹 Imam Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, Bab Tasymiit Al ‘Aathis, No. 925
🔸 Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitabus Salam Bab Min Haqqil Muslim Lil Muslim Raddus Salam, No. 2162
🔹 Imam Ahmad dalam Musnad-nya, Musnad Abi Hurairah No. 8845, 9341
🔸Imam Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, No. 242
🔹Dll

📚 Kandungan Hadits Secara Global:

📙Hadits ini menjelaskan dan merinci apa-apa saja yang mesti diketahui oleh seorang muslim, dan mesti diamalkan, yaitu berupa hak-hak saudaranya yang mesti ditunaikan.

📕 Dalam hadits ini disebutkan enam. Dalam riwayat Imam At Tirmidzi, tidak ada kata “jika dia minta nasihat darimu maka nasihatilah”, yang ada adalah “mencintai apa yang dia cintai  seperti mencintai apa yang diri sendiri cintai.”

(Sunan At Tirmidzi No. 2736,  Para ulama berbeda pendapat tentang statusnya, Imam At Tirmidzi mengatakan: hasan. Begitu pula menurut Syaikh Syu’aib Al Arnauth. (Ta’liq Musnad Ahmad, 2/96).  Namun didhaifkan oleh Syaikh Al Albani. (Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2736).  Syaikh Husein Salim  Asad mendhaifkan dalam kitab Musnad Abi Ya’la No. 435, tapi Beliau menghasankan dalam tahqiqnya terhadap kitab Sunan Ad Darimi No. 2675)

📗 Makna Hadits:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال :

Bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ :

Hak muslim atas muslim lainnya ada enam

Yaitu hak yang mesti diterima bagi saudara kita,  namun itu menjadi kewajiban bagi kita. Imam Al Munawi Rahimahullah menjelaskan:

أي الحقوق المشتركة بين المؤمنين عند ملابسة بعضهم بعضا

Yaitu hak-hak kolektif antara kaum mukminin ketika satu sama lain saling melindungi. (Faidhul Qadir, 3/390)

Imam Ash Shan’ani Rahimahullah menjelaskan:

وَالْمُرَادُ بِالْحَقِّ مَا لَا يَنْبَغِي تَرْكُهُ وَيَكُونُ فِعْلُهُ إمَّا وَاجِبًا أَوْ مَنْدُوبًا نَدْبًا مُؤَكَّدًا شَبِيهًا بِالْوَاجِبِ الَّذِي لَا يَنْبَغِي تَرْكُهُ

Yang dimaksud dengan “hak” adalah apa-apa yang tidak semestinya ditinggalkan dan hendaknya dilakukan, baik berupa kewajiban, atau sunah yang begitu ditekankan yang serupa dengan kewajiban yang tidak sepatutnya ditinggalkan. (Subulus Salam, 2/611)

قِيلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟ :

Ada yang bertanya: “Apa saja wahai Rasulullah?”

Ucapkan Salam Saat Berjumpa

1. قَالَ: «إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ :

Beliau bersabda: “Jika engkau berjumpa dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya.”

Ini menunjukkan perintah mengawali ucapan salam jika berjumpa saudara sesama muslim.

Dalam As Sunnah:

لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidaklah beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai? Yaitu Sebarkan salam di antara kalian.
(HR. Muslim No. 54, dari Abu Hurairah)

Hadits lainnya:

اعْبُدُوا الرَّحْمَنَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَأَفْشُوا السَّلاَمَ، تَدْخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلاَمٍ

Sembahlah Allah, berikanlah makanan, sebarkanlah salam, maka masuklah ke surga dengan damai. (HR. At Tirmidzi No. 1855, dari Abdullah bin Amr. Imam At Tirmidzi katakan: hasan shahih)
Dan banyak lagi.

Bantu Pengurusan Jenazahnya

2. وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ :

Jika dia wafat maka iringilah jenazahnya.

Yaitu bantulah pengurusan jenazahnya, menyalatkan dan menguburkannya. Ini, selain hak seorang muslim, juga memiliki fadhilah yang luar biasa.

Imam Ali Al Qari Rahimahullah
mengatakan:

أي: جنازته للصلاة عليه، وللدفن أكمل

Yaitu menyalatkan jenazahnya dan menguburkannya sampai tuntas sempurna. (Mirqaah Al Mafaatih, 3/1121)

Imam Abdurrauf Al Munawi
Rahimahullah juga mengomentari:

(وَإِذا مَاتَ فَاتبعهُ) حَتَّى تصلي عَلَيْهِ فَإِن صحبته إِلَى الدّفن فأفضل

(jika dia wafat maka iringilah jenazahnya) yaitu sampai menyalatkannya, jika juga mengiringinya sampai menguburkannya maka itu lebih utama. (At Taisir Bisy Syarhi Al Jaami’ Ash Shaghiir, 1/499)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

 «من أصبح منكم اليوم صائما؟» قال أبو بكر رضي الله عنه: أنا، قال: «فمن تبع منكم اليوم جنازة؟» قال أبو بكر رضي الله عنه: أنا، قال: «فمن أطعم منكم اليوم مسكينا؟» قال أبو بكر رضي الله عنه: أنا، قال: «فمن عاد منكم اليوم مريضا؟» قال أبو بكر رضي الله عنه: أنا، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «ما اجتمعن في امرئ، إلا دخل الجنة»

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Siapakah diantara kalian yang hari ini berpuasa?” Abu Bakar menjawab: “Saya wahai Rasulullah.” Rasulullah bertanya lagi: “Siapakah diantara kalian yang hari ini mengantar janazah?” Abu Bakar menjawab: “Saya wahai Rasulullah.” Rasulullah bertanya lagi: “Siapakah diantara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Abu Bakar menjawab: “Saya wahai Rasulullah.” Rasulullah bertanya lagi: “Siapakah diantara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar menjawab: “Saya wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda : “Tidaklah semua amal di atas terkumpul dalam diri seseorang melainkan ia akan masuk surga.” (HR. Muslim No. 1028)

Menjenguknya Saat Sakit

3. وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ :

dan jika dia sakit  maka jenguklah

Yaitu kunjungilah sebab itu menjadi penghibur dan sudah menjadi obat baginya.

Syaikh Muhammad Muhajirin Al Amsaar Rahimahullah mengatakan:

وقد اجمع المسلمون على سنته و سواء فى ذلك من يعرفه و من لا يعرفه و القريب و الأجنبى غير أن العلماء مختلفون فى الأوكد و الأفضل منهما

Kaum muslimin telah ijma’ atas kesunahannya, sama saja baik menjenguk yang sudah dikenal atau tidak, baik orang dekat atau orang asing. Hanya saja para ulama berbeda pendapat tentang mana yang lebih ditekankan dan lebih utama dari keduanya. (Misbahuzh Zhalam, 4/291)

Imam Ali Al Qari Rahimahullah menjelaskan:

ويمكن أن يوجه بأن المقصود من العيادة حصول التسلي والاشتغال بالأصحاب والأحباب حالة التخلي، فإن لقاء الخليل شفاء العليل

Kemunginan dianjurkannya hal ini, bahwa   maksud dari kunjungan tersebut dalam rangka menghibur dirinya,  dan dia  dalam keadaan jauh dari aktifitas para sahabatnya dan orang-orang yang dikasihinya. Sesungguhnya pertemuan dengan orang yang dicintai merupakan obat bagi penyakit.  (Mirqah Al Mafatih, 3/1121)

Penuhi Undangannya

4. وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ :

Dan jika dia mengundangmu maka penuhilah undangannya

Yaitu jika dia memanggilmu untuk suatu keperluan; pertolongan, undangan, maka penuhilah jika memang di dalamnya tidak ada unsur kerusakan, maksiat, dan dalam keadaan mampu melaksanakannya.

Imam Ali Al Qari Rahimahullah mengatakan:

(وإذا دعاك) أي: للإعانة والدعوة

(Jika dia mengundangmu) yaitu untuk memberikan pertolongan dan untuk mendatangi undangan. (Mirqah Al Mafatih, 3/1120)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di Rahimahullah mengatakan:

أي: دعاك لدعوة طعام وشراب فاجبر خاطر أخيك الذي أدلى إليك وأكرمك بالدعوة، وأجبه لذلك إلا أن يكون لك عذر

Yaitu mengundangmu pada undangan jamuan makan dan minum maka tekanlah kekhawatiran saudaramu yang telah mengakui dan memuliakanmu dengan memberikan undangan, dan penuhilah itu kecuali jika kamu memiliki ‘udzur (halangan). (Bahjah Quluub Al Abraar, Hal. 81)

Pada dasarnya, ini berlaku pada semua undangan. Lalu, para fuqaha mengkhususkannya pada undangan pesta pernikahan, itu yang wajib, sedangkan yang lainnya sunah.

Imam Ash Shan’ani Rahimahullah mengatakan:

ظَاهِرُهُ عُمُومُ أَحَقِّيَّةِ الْإِجَابَةِ فِي كُلِّ دَعْوَةٍ يَدْعُوهُ لَهَا وَخَصَّهَا الْعُلَمَاءُ بِإِجَابَةِ دَعْوَةِ الْوَلِيمَةِ وَنَحْوِهَا وَالْأَوْلَى أَنْ يُقَالَ: إنَّهَا فِي دَعْوَةِ الْوَلِيمَةِ وَاجِبَةٌ وَفِيمَا عَدَاهَا مَنْدُوبَةٌ لِثُبُوتِ الْوَعِيدِ عَلَى مَنْ لَمْ يُجِبْ فِي الْأُولَى دُونَ الثَّانِيَةِ.

Menurut zahirnya, ini berlaku umum memenuhi semua undangan, tapi para ulama mengkhususkan pada undangan pesta pernikahan dan semisalnya, lebih utamanya dikatakan bahwa memenuhi undangan pada pesta pernikahan adalah wajib, sedangkan selainnya adalah sunah, sebab telah shahih adanya ancaman bagi yang tidak memenuhi undangan pada undangan yang pertama, bukan yang kedua. (Subulus Salam, 2/611, 612)

Syaikh Muhammad Muhajirin Amsaar Rahimahullah menjelaskan:

استفيد منه أن إجابة الدعاء من حق المسلم  على المسلم , و الامر بالاجابة هنا للاستحباب , و قد تكون واجبة كما فى إجابة الوليمة, وقد قال الفقهاء: إن الإجابة الوليمة واجبة فى اليوم الأول دون الثاني والثالث الا اذا كان هناك ضرر شرعي فلا تجب اجابته

Faidahnya adalah bahwa memenuhi panggilan/undangan adalah di antara hak muslim atas muslim lainnya, dan perintah di sini menunjukkan perkara yang disukai untuk dilaksanakan, dan akan menjadi wajib sebagaimana pada undangan pesta. Para ahli fiqih mengatakan bahwa memenuhi undangan merupakan kewajiban pada hari pertama, bukan hari kedua dan ketiga, kecuali jika di dalamnya terdapat kerusakan menurut syariat (dharar syar’iy) maka tidak wajib memenuhi undangan tersebut. (Misbahuzh Zhalam, 4/290)

Imam Al Munawi Rahimahullah menjelaskan bahwa kewajiban hanya pada undangan pesta pernikahan, sedangkan undangan lainnya adalah sunah.

(وَإِذا دعَاك فأجبه) إِلَى مأدبته وجوبا للعرس وندبا لغيره حَيْثُ لَا عذر

(Jika dia mengundangmu maka penuhilah) yaitu pada undangan jamuannya, itu merupakan kewajiban pada pesta pernikahan, dan sunah pada undangan selainnya, selama tidak ada halangan. (At Taisiir bisysyarhi Al Jaami’ Ash Shaghiir, 1/499)

Hal serupa juga dijelaskan ulama lain, seperti Imam Ibnu ‘Allan  yang menyatakan fardhu ‘ain memenuhi undangan pesta pernikahan, dan fardhu kifayah pada undangan lainnya. (Daliilul Faalihiin, 3/29).

Bukan hanya adanya dharar syar’iy seperti maksiat dalam pesta tersebut, tetapi jika ada halangan (‘udzur) lain seperti sakit, cuaca yang tidak memungkinkan untuk berangkat, atau tempatnya sangat jauh dan sulit dijangkau, juga tidak wajib mendatanginya.

Nasihati Ia Bila Diminta

5. وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ :

Jika dia minta nasihat darimu maka nasihatilah.

Yaitu jika saudaramu minta arahan dan bimbingan maka berikanlah. Karena nasihat adalah hak siapa pun. Sebagaimana hadits berikut:

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رضي الله عنه أَنَّ النبي صلى الله عليه وسلم قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ يَارَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ: للهِ،ولكتابه، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ .  رواه مسلم

Dari Abu Ruqayyah  Tamim bin Aus Ad Dari Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Agama adalah nasihat.” Kami berkata: “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Untuk Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan orang umumnya.”
(HR. Muslim No. 55)

Bertasymit Untuknya

6. وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فشَمِّتْهُ :

jika dia bersin lalu memuji Allah, maka bertasymitlah.

Yaitu jika dia bersin lalu dia mengucapkan Al Hamdulillah, dia bersyukur atas nikmat Allah ﷺ, maka bertasymit yaitu mengucapkan yarhamukallah.

Apa maksud tasymit? Dalam An Nihayah disebutkan bahwa tasymit –baik dengan syin atau sin- artinya:

الدعاء بالخير والبركة

Berdoa dengan kebaikan dan keberkahan. (Mirqah Al Mafatih, 7/2937)

Imam Ali Al Qari juga mengatakan:

كأنه دعاء للعاطس بالثبات على طاعة الله، وقيل: معناه أبعدك الله عن الشماتة وجنبك ما يشمت به عليك

Seolah itu adalah doa bagi orang yang bersin agar dia mendapatkan pahala atas ketaatannya kepada Allah. Ada juga yang mengatakan, bahwa artinya adalah semoga Allah menjauhkanmu dari sikap berbahagia dengan kesusahan orang, dan menyingkarkanmu dari kesulitan yang membuat orang lain bersenang atas dirimu. (Ibid)

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Kedudukan & Makna Hadist Tasyabbuh Bil Kuffar

💦💥💦💥💦💥

Pertanyaan

Assalamualaikum ustadz/ah…saya mau bertanya tentang:

1. Kedudukan hadits: “من تشبه بقوم فهو منهم”

2. Bagaimana aplikasi hadits diatas dlm keseharian kita. Apakah HANYA menyangkut aqidah? Fiqih? Mu’amalah? Atau SEMUA sisi kehidupan kita?
Karena, hampir sebagian hidup kita banyak mengadopsi kebudayaan non muslim seperti makanan, pakaian, teknologi, bahasa, hiburan dll.
جزاكم الله خيرا….
🅰0⃣8⃣


Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Wa’Alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Langsung aja ya ..

📕Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kaum tersebut.” (HR. Abu Daud No. 4031, Ahmad No. 5115, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf  No.33016, dll) (1)

📘Dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Bukan golongan kami orang yang menyerupai selain kami, janganlah kalian menyerupai Yahudi dan Nasrani.(HR. At Tirmdizi No. 2695, Al Qudha’i, Musnad Asy Syihab No. 1191) (2) (Keshahihan hadits ini lihat pada catatan kaki)

Ketika menjelaskan hadits-hadits di atas, Imam Abu Thayyib mengutip dari Imam Al Munawi dan Imam Al ‘Alqami  tentang hal-hal yang termasuk penyerupaan dengan orang kafir:

“Yakni berhias seperti perhiasan zhahir mereka, berjalan seperti mereka, berpakaian seperti mereka, dan perbuatan lainnya.” (Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azhim, ‘Aunul Ma’bud, 11/51)

Imam Abu Thayyib Rahimahullah juga mengatakan:

Lebih dari satu ulama berhujjah dengan hadits ini bahwa dibencinya segala hal terkait dengan kostum yang dipakai oleh selain kaum muslimin. (Ibid, 11/52)

Demikianlah keterangan para ulama bahwa berhias dan menggunakan pakaian yang menjadi ciri khas mereka –seperti topi Sinterklas, kalung Salib, topi Yahudi, peci Rabi Yahudi- termasuk makna tasyabbuh bil kuffar – menyerupai orang kafir yang begitu terlarang dan dibenci oleh syariat Islam.

Ada pun pakaian yang bukan menjadi ciri khas agama, seperti kemeja, celana panjang, jas, dasi, dan semisalnya, para ulama kontemporer berbeda pendapat apakah itu termasuk menyerupai orang kafir atau bukan.  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah menganggap kostum-kostum ini termasuk menyerupai orang kafir, maka ini hal yang dibenci dan terlarang, bahkan menurutnya termasuk jenis kekalahan secara psikis umat Islam terhadap bangsa-bangsa penjajah. Sedangkan menurut para ulama di Lajnah Daimah kerajaan Saudi Arabia seprti Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Syaikh Bakr Abu Zaid, Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi, dan lainnya, menganggap tidak apa-apa pakaian-pakaian ini. Sebab jenis pakaian ini sudah menjadi biasa di Barat dan Timur. Bukan menjadi identitas agama tertentu.

Pendapat kedua inilah yang lebih tepat, sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam riwayat shahih, pernah memakai Jubah Romawi yang sempit. Sebutan “Jubah Romawi” menunjukan itu bukan pakaian kebiasaannya, dan merupakan pakaian budaya negeri lain (Romawi), bukan pula pakaian simbol agama, dan Beliau memakai jubah Romawi itu walau agama bangsa Romawi adalah Nasrani.

Dari Mughirah bin Syu’bah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakai jubah Romawi yang sempit yang memiliki dua lengan baju.(HR. At Tirmidzi No. 1768, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 18239. Al Baghawi, Syarhus Sunnah No. 3070. Dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth, Syaikh Al Albani, dan lainnya)

Sementara dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mengenakan Jubbah Syaamiyah (Jubah negeri Syam).  Riwayat ini tidak bertentangan dengan riwayat Jubbah Rumiyah. Sebab, saat itu Syam termasuk wilayah kekuasaan Romawi.

Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah menjelaskan:

Banyak terdapat dalam riwayat Shahihain dan lainnya tentang Jubbah Syaamiyah, ini tidaklah menafikan keduanya, karena Syam saat itu masuk wilayah pemerintahan kerajaan Romawi. (Tuhfah Al Ahwad zi, 5/377)

Syaikh Al Mubarkafuri menerangkan, bahwa dalam keterangan lain,  saat itu terjadi ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang safar. Ada pun dalam riwayat Malik, Ahmad, dan  Abu Daud, itu terjadi ketika perang Tabuk, seperti yang dikatakan oleh Mairuk. Menurutnya hadits ini memiliki pelajaran bahwa bolehnya memakai pakaian orang kafir, sampai-sampai walaupun terdapat najis, sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakai Jubah Romawi tanpa adanya perincian (apakah baju itu ada najis atau tidak). (Ibid)

📌Mengambil Ilmu Dari Mereka (Orang Kafir) Bukan Termasuk Tasyabbuh (penyerupaan)

Begitu pula mengambil ilmu dan maslahat keduniaan yang berasal dari kaum kuffar, maka ini boleh. Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggunakan cara Majusi dalam perang Ahzab, yaitu dengan membuat Khandaq (parit) sekeliling kota Madinah. Begitu pula penggunakaan stempel dalam surat, ini pun berasal dari cara kaum kuffar saat itu, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mengikutinya.

Oleh karena itu, memakai ilmu keduniaan dari mereka, baik berupa penemuan ilmiah, fasilitas elektronik, transportasi, software, militer, dan semisalnya, tidak apa-apa mengambil manfaat dari penemuan mereka. Ini bukan masuk kategori menyerupai orang kafir. Sebab ini merupakan hikmah (ilmu) yang Allah Ta’ala titipkan melalui orang kafir, dan seorang mu’min lebih berhak memilikinya dibanding penemunya sendiri, di mana pun dia menjumpai hikmah tersebut.

Jadi, tidak satu pun ketetapan syariat yang melarang mengambil kebaikan dari pemikiran teoritis dan pemecahan praktis non muslim dalam masalah dunia selama tidak bertentangan dengan nash yang jelas makna dan hukumnya serta kaidah hukum yang tetap. Oleh karena hikmah adalah hak muslim yang hilang, sudah selayaknya kita merebutnya kembali. Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan –dengan sanad dhaif- sebuah kalimat, “Hikmah adalah harta dari seorang mu’min, maka kapan ia mendapatkannya, dialah yang paling berhak memilikinya.”

Meski sanadnya dhaif, kandungan pengertian hadits ini benar. Faktanya sudah lama kaum muslimin mengamalkan dan memanfaatkan ilmu dan hikmah yang terdapat pada umat lain. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr, bahwa Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu pernah berkata, “Ilmu merupakan harta orang mu’min yang hilang, ambil-lah walau dari orang-orang musyrik.” (3) Islam hanya tidak membenarkan tindakan asal comot terhadap segala yang datang dari Barat tanpa ditimbang di atas dua pusaka yang adil, Al Qur’an dan As Sunnah.

Wallahu A’lam wa Lillahil ‘Izzah

🌿🌿🌿🌿🍃🍃🍃🍃


Catatan Kaki:

1] Imam As Sakhawi mengatakan ada kelemahan dalam hadits ini,   tetapi hadits ini memiliki penguat (syawahid), yakni hadits riwayat Al Bazzar dari Hudzaifah dan Abu Hurairah, riwayat Al Ashbahan dari Anas bin Malik, dan riwayat Al Qudha’i dari Thawus secara mursal. (Imam As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, Hal. 215).

Sementara, Imam Al ‘Ajluni mengatakan, sanad hadits ini shahih menurut Imam Al ‘Iraqi dan Imam Ibnu Hibban, karena memiliki penguat yang disebutkan oleh Imam As Sakhawi di atas. (Imam Al ‘Ajluni, Kasyful Khafa, 2/240). Imam Ibnu Taimiyah mengatakan hadits ini jayyid (baik). Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan sanadnya hasan.(Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azhim, Aunul Ma’bud, 11/52). Syaikh Al Albani mengatakan hasan shahih. (Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 4031)

2] Sebagaimana kata Imam AtTirmidzi, Pada dasarnya hadits ini dhaif, karena dalam sanadnya terdapat Ibnu Luhai’ah seorang perawi yang terkenal kedhaifannya. Namun, hadits ini memiliki berapa syawahid (penguat), sehingga Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menghasankan hadits ini dalam berbagai kitabnya. (Shahihul Jami’ No. 5434, Ash Shahihah No. 2194). Begitu pula yang dikatakan Syaikh Abdul Qadir Al Arna’uth, bahwa hadits ini memiliki syawahid yang membuatnya menjadi kuat. (Raudhatul Muhadditsin No. 4757)

3] Hadits: “Hikmah adalah kepunyaan orang mukmin yang hilang, di mana saja dia menemukannya maka dialah yang paling berhak memilikinya.”

Hadits ini dhaif, diriwayatkan oleh I mam At Tirmidzi dalam sunannya, pada Bab Maa Ja’a fil Fadhli Fiqh ‘alal ‘Ibadah, No. 2828. Dengan sanad: Berkata kepada kami Muhammad bin Umar Al Walid Al Kindi, bercerita kepada kami Abdullah bin Numair,  dari Ibrahim bin Al Fadhl Al Makhzumi, dari Sa’id Al Maqbari, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: …. ( lalu disebut hadits di atas).

Imam At Tirmidzi mengomentari hadits tersebut: “Hadits ini gharib (menyendiri dalam periwayatannya), kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini. Ibrahim bin Al Fadhl Al Makhzumi adalah seorang yang dhaif fil hadits (lemah dalam hadits).”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Kitab Az Zuhud Bab Al Hikmah, No. 4169. Dalam sanadnya juga terdapat Ibrahim bin Al Fadhl Al Makhzumi.

Imam Ibnu Hajar mengatakan, bahwa Ibrahim bin Al Fadhl Al Makhzumi adalah Abu Ishaq Al Madini, dia seorang yang Fahisyul Khatha’ (buruk kesalahannya). (Al Hafizh Ibnu Hajar, Lisanul Mizan, 1/14. Mawqi’ Al Warraq). Sementara Imam Yahya bin Ma’in menyebutnya sebagai Laisa bi Syai’ (bukan apa-apa). (Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, 1/105. Mawqi’ Ya’sub)

Sederetan para Imam Ahli hadits telah mendhaifkannya. Imam Ahmad mengatakan: dhaiful hadits laisa biqawwifil hadits (haditsnya lemah, tidak kuat haditsnya). Imam Abu Zur’ah mengatakan: dhaif. Imam Abu Hatim mengatakan: dhaifulhadits munkarulhadits (hadisnya lemah dan munkar). Imam Al Bukhari mengatakan: munkarul hadits. Imam An Nasa’imengatakan: munkarul hadits, dia berkata ditempat lain: tidak bisa dipercaya, dan haditsnya tidak boleh ditulis. Abu Al Hakim mengatakan: laisa bil qawwi ‘indahum (tidak kuat menurut mereka/para ulama). Ibnu ‘Adi mengatakan: dhaif dan haditsnya boleh ditulis, tetapi menurutku tidak boleh berdalil dengan hadits darinya.

Ya’qub bin Sufyan mengatakan bahwa hadits tentang “Hikmah” di atas adalah hadits Ibrahim bin Al Fadhl yang dikenal dan diingkari para ulama. Imam Ibnu Hibban menyebutnya fahisyul khatha’ (buruk kesalahannya).  Imam Ad Daruquthni mengatakan: matruk (haditsnya ditinggalkan), begitu pula menurut Al ‘Azdi. (Lihat semua dalam karya Al Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, 1/131 .DarulFikr. Lihat juga Al Hafizh Al Mizzi, Tahdzibul Kamal, 2/43.Muasasah ArRisalah. Lihat juga Imam Adz Dzahabi, Mizan Al I’tidal, 1/52.Darul Ma’rifah. Lihat juga Imam Abu Hatim ArRazi, Al JarhwatTa’dil, 2/122. Dar Ihya AtTurats. Lihat juga Imam Ibnu ‘Adi Al Jurjani, Al Kamil fidh Dhu’afa, 1/230-231. Darul Fikr. Imam Al ‘Uqaili, Adh Dhuafa Al Kabir, 1/60. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Syaikh Al Albani pun telah menyatakan bahwa hadits ini dhaif jiddan (sangat lemah), lantaran Ibrahim ini. (Dhaiful Jami’ No. 4302. Dhaif Sunan At Tirmidzi, 1/320)

Ada pula yang serupa dengan hadits di atas:
“Hikmah adalah kepunyaan orang mukmin yang hilang, di mana saja seorang mukmin menemukan miliknya yang hilang, maka hendaknya ia menghimpunkannya kepadanya.”

Imam As Sakhawi mengatakan, hadits ini diriwayatkan oleh Al Qudha’i dalam Musnadnya, dari hadits Al Laits, dari Hisyam bin Sa’ad, dari Zaid bin Aslam, secara marfu’. Hadits ini mursal. (Imam As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, 1/105. Imam Al ‘Ajluni, Kasyful Khafa’, 1/363)

Ringkasnya, hadits mursal adalah hadits yang gugur di akhir sanadnya, seseorang setelah tabi’in. Kita lihat, riwayat Al Qudha’i ini, Zaid bin Aslam adalah seorang tabi’in, seharusnya dia meriwayatkan dari seorang sahabat nabi, namun sanad hadits ini tidak demikian, hanya terhenti pada Zaid bin Aslam tanpa melalui sahabat nabi. Inilah mursal. Jumhur (mayoritas) ulama dan Asy Syafi’i mendhaifkan hadits mursal.

Ada pula dengan redaksi yang agak berbeda, bukan menyebut Hikmah, tetapi Ilmu. Diriwayatkan oleh Al ‘Askari, dari‘Anbasah bin Abdurrahman, dari Syubaib bin Bisyr, dari Anas bin Malik secara marfu’:

“Ilmu adalah barang mukmin yang hilang, dimana saja dia menemukannya maka dia mengambilnya.”

Riwayat ini juga dhaif. ‘Anbasah bin Abdurrahman adalah seorang yang matruk (ditinggal haditsnya), dan Abu Hatim menyebutnya sebagai pemalsu hadits.(Taqribut Tahdzib, 1/758)

Ibnu Abi Hatim bertanya kepada ayahnya (Abu Hatim) tentang ‘Anbasah bin Abdurrahman, beliau menjawab: matruk dan memalsukan hadits. Selain itu, Abu Zur’ah juga ditanya, jawabnya: munkarul hadits wahil hadits (haditsnya munkar dan lemah). (Al Jarh wat Ta’dil, 6/403)

Ada pun Syubaib bin Bisyr, walau pun Yahya bin Ma’in menilainya tsiqah (bisa dipercaya), namun Abu Hatimdan lain-lainnya
mengatakan: layyinulhadits. (haditsnya lemah). (Imam Adz Dzahabi, MizanulI’tidal, 2/262)

Ada pula riwayat dari Sulaiman bin Mu’adz, dari Simak, dari ‘ikrimah, dariIbnu Abbas, di antara perkataannya:
“Ambillah hikmah dari siapa saja kalian mendengarkannya, bisa jadi ada perkataan hikmah yang diucapkan oleh orang yang tidak bijak, dan dia menjadi anak panah yang bukan berasal dari pemanah.” Ucapan ini juga dhaif. Lantaran kelemahan Sulaiman bin Muadz.

Yahya bin Ma’in mengatakan tentang dia: laisa bi syai’ (bukan apa-apa). Abbas mengatakan, bahwa Ibnu Main mengatakan: dia adalah lemah. Abu Hatim mengatakan: laisa bil matin (tidak kokoh). Ahmad menyatakannya tsiqah (bisa dipercaya).Ibnu Hibban mengatakan: dia adalah seorang rafidhah (syiah) ekstrim, selain itu dia juga suka memutar balikan hadits. An Nasa’i mengatakan: laisa bil qawwi (tidak kuat). (Mizanul I’tidal, 2/219)

📝Catatan:
Walaupun ucapan ini dhaif, tidak ada yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun, secara makna adalah shahih. Orang beriman boleh memanfaatkan ilmu dan kemajuan yang ada pada orang lain, sebab hakikatnya dialah yang paling berhak memilikinya. Oleh karena itu, ucapan ini tenar dan sering diulang dalam berbagai kitab para ulama. Lebih tepatnya, ucapan ini adalah ucapan dari beberapa para sahabat dan tabi’in dengan lafaz yang berbeda-beda.

Dari Al Hasan bin Shalih, dari ‘Ikrimah, dengan lafaznya:

“Ambil-lah hikmah dari siapa pun yang engkau dengar, sesungguhnya ada seorang laki-laki yang berbicara dengan hikmah padahal diabukan seorang yang bijak, dia menjadi bagaikan lemparan panah yang keluar dari orang yang bukan pemanah.” (Al Maqashid Al Hasanah, 1/105)

Ucapan ini adalah shahih dari ‘Ikrimah, seorang tabi’in senior, murid Ibnu Abbas. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, Al Hasan bin Shalih bin Shalih bin Hay adalah seorang tsiqah, ahli ibadah, faqih, hanya saja dia dituduh tasyayyu’ (agak condong ke syi’ah). (Taqribut Tahdzib,  1/205)

Waki’ mengatakan Al Hasan bin Shalih adalah seseorang yang jika kau melihatnya kau akan ingat dengan Said bin Jubeir.  Abu Nu’aim Al Ashbahani mengatakan aku telah mencatat hadits dari 800 ahli hadits, dan tidak satu pun yang lebih utama darinya. Abu Ghasan mengatakan, Al Hasan bin Shalih lebih baik dari Syuraik. Sedangkan Ibnu ‘Adi mengatakan, sebuah kaum menceritakan bahwa hadits yang diriwayatkan dari nya adalah mustaqimah, tak satu pun yang munkar, dan menurutnya Al Hasan bin Shalih adalah seorang yang ahlushshidqi (jujur lagi benar).  Ibnu Hibban mengatakan, Al Hasan bin Shalih adalah seorang yang faqih, wara’, pakaiannya lusuh dan kasar, hidupnya diisi dengan ibadah, dan agak terpengaruh syi’ah (yakni tidak meyakini adanya shalatJumat). Abu Nu’aim mengatakan bahwa Ibnul Mubarak mengatakan Al Hasan bin Shalih tidak shalat Jumat, sementara Abu Nu’aim menyaksikan bahwa beliau shalat Jum’at.  Ibnu Sa’ad mengatakan dia adalah seorang ahli ibadah, faqih, dan hujjah dalam hadits shahih, dan agak tasyayyu’. As Saji mengatakan Al Hasan bin Shalih adalah seorang shaduq (jujur). Yahya bin Said mengatakan, tak ada yang sepertinya di Sakkah. Diceritakan dari Yahya bin Ma’in, bahwa Al Hasan bin Shalih adalah tsiqatun tsiqah (kepercayaannya orang terpercaya). (Tahdzibut Tahdzib, 2/250-251)

Hanya saja Sufyan Ats Tsauri memiliki pendapat yang buruk tentangnya. Beliau pernah berjumpa dengan Al Hasan bin Shalih di masjid pada hari Jum’at, ketika Al Hasan bin Shalih sedang shalat, Ats Tsauri berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari khusyu’ yang nifaq.” Lalu dia mengambil sendalnya dan berlalu. Hal ini lantaran Al Hasan bin Shalih –menurut At Tsauri- adalah seseorang yang membolehkan mengangkat pedang kepada penguasa (memberontak). (Ibid, 2/249)

Namun, jarh (kritik) ini tidak menodai ketsiqahannya, lantaran ulama yang menta’dil (memuji) sangat banyak.

Selain itu, telah shahih dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

“Ilmu adalah barang mukmin yang hilang, maka ambil-lah walau berada di tangan orang-orang musyrik, dan janganlah kalian menjauhkan diri untuk mengambil hikmah itu dari orang-orang yang mendengarkannya.” (Ibnu Abdil Bar, Jami’  Bayan Al ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/482. Mawqi’ Jami Al Hadits).
Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berhati-hatilah dengan Nadzarmu

Syarah Bulughul Maram Hadits No. 1378: Fiqih Nadzar

Pemateri: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS.

Matan Hadits

وَعَنْ ثَابِتِ بْنِ اَلضَّحَّاكِ – رضي الله عنه – قَالَ: – نَذَرَ رَجُلٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يَنْحَرَ إِبِلاً بِبُوَانَةَ, فَأَتَى رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَسَأَلَهُ: فَقَالَ: “هَلْ كَانَ فِيهَا وَثَنٌ يُعْبَدُ ?” . قَالَ: لَا. قَالَ: “فَهَلْ كَانَ فِيهَا عِيدٌ مِنْ أَعْيَادِهِمْ ?” فَقَالَ: لَا.  فَقَالَ: “أَوْفِ بِنَذْرِكَ; فَإِنَّهُ لَا وَفَاءَ لِنَذْرٍ فِي مَعْصِيَةِ اَللَّهِ, وَلَا فِي قَطِيعَةِ رَحِمٍ, وَلَا فِيمَا لَا يَمْلِكُ اِبْنُ آدَمَ” – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالطَّبَرَانِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ, وَهُوَ صَحِيحُ اَلْإِسْنَادِ

Dari Tsabit bin Adh Dhahak Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ada seorang laki-laki yang bernadzar bahwa dia akan berqurban Unta di Buwanah. Lalu dia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu nabi pun bertanya kepadanya: “Apakah di sana ada berhala yang disembah?”

Beliau menjawab: ” Tidak.” Nabi bertanya lagi: “Apakah di sana dirayakah salah satu hari raya mereka?” Beliau menjawab: “Tidak.” Lalu nabi bersabda:

“Penuhilah nadzarmu, sesungguhnya tidak boleh memenuhi nadzar yang mengandung maksiat kepada Allah, nadzar untuk memutuskan silaturrahim, dan tidak pula nadzar pada harta yang tidak dimiliki manusia.” (HR. Abu Daud, Ath Thabarani dan ini adalah lafaz baginya, isnadnya shahih)

Takhrij Hadits

Dengan lafaz seperti di atas, hadits ini dikeluarkan oleh:

– Imam Abu Daud dalam Sunannya, Bab Maa Yu’maru bihi minal Wafa’ bi An Nadzri No. 3313

– Imam Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir No. 1341

–  Imam Al Baihaqi, As Sunan Ash Shaghir No. 3223

Dengan lafaz yang lebih ringkas, hanya sampai kalimat: “Penuhilah nadzarmu!”, dikeluarkan oleh:

–  Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Bab Al Wafa’ bi An Nadzr No. 2130

–  Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 27066,  dan lainnya.

Derajat hadits

Hadits ini dinilai SHAHIH oleh:

– Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dalam kitab Bulughul Maram ini. Dalam kitabnya lain Beliau juga menyebut keshahihan hadits ini. (LihatAt Talkhish Al Habir, 4/439. Cet. 1. 1989M/1419H.  Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

– Imam Ibnu Abdil Hadi Al Hambali mengatakan  hasan shahih. (LihatAsh Sharim Al Munki fir Raddi As Subki, Hal. 309.  Cet. 1, 2003M/1424H.  Muasasah Ar Rayyan, Beirut, Libanon).

Dalam kitabnya yang lain beliau mengatakan: “Para perawi hadits ini adalah perawi hadits Shahihain (Bukhari-Muslim). (Lihat Al Muharrar fil Hadits, 1/435-436. Cet. 3. 2000M/1421H. Darul Ma’rifah, Beirut. Libanon)

– Imam Ibnul Mulaqin mengatakan: “Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang shahih, seluruh perawinya adalah perawi Bukhari dan Muslim, dan mereka telah disepakati  keadilannya.”(Lihat Al Badrul Munir, 9/518. Cet. 1. 2004M/1425H. Darul Hijrah, Riyadh. KSA)

Ta’rif (definisi)

Secara bahasa (etimlogis) nadzar adalah An Nahbu (النَّحْبُ) yaitu meratap. Para ahli bahasa  menjelaskan:

وهو ما ينذره الإنسان فيجعله على نفسه نحبا واجبا

Yaitu sesuatu yang diperingatkan oleh manusia, lalu dia menjadikan atas dirinya itu menjadi kewajiban.  (Al Mausu’ah, 40/126)

Secara istilah (terminologis), Syaikh Abu Bakar bin Jabir  Al Jazairi menjelaskan:

الزام المسلم نفسه طاعة لله تعالى لم تلزمه بدونه –  أى النذر – كأن يقول : لله علي صيام يوم أو صلاة ركعتين مثلا

Seorang muslim mewajibkan sesuatu pada dirinya karena ingin ketaatan kepada Allah Ta’ala, di mana tanpa hal itu –yaitu nadzar- dia tidak melakukan hal itu. Seperti perkataannya: “Demi Allah Ta’ala, wajib bagiku shaum dalam sehari, atau shalat dua raka’at.”
(Lihat Minhajul Muslim, Hal. 394. Darus Salam)

Hukumnya

Nadzar ada beberapa hukum tergantung keadaannya:

1. Nadzar Muthlaq

Yaitu nadzar yang didasari ketaatan kepada Allah Ta’ala semata, maka ini diperbolehkan. Seperti seseorang yang berinisiatif untuk melakukan shalat, i’tikaf, shaum, dan kebaikan lainnya yang berfungsi untuk qurbah (mendekatkan diri kepada Allah).

Hanafiyah mengkategorikan nadzar dengan qurbah adalah hal yang disyariatkan (masyru’). Bahkan kalangan Malikiyah mengkategorikannya  mustahab (disukai/sunah). Berikut ini keterangannya:

وذهب المالكية إلى أن النذر المطلق – وهو الذي يوجبه المرء على نفسه شكرا لله على ما كان ومضى – مستحب

Kalangan Malikiyah berpendapat bahwa nadzar muthlaq –yaitu seseorang mewajibkan dirinya disebabkan rasa syukur kepada Allah atas apa yang sedang terjadi dan telah lalu- adalah mustahab  (sunah).(Al Mausu’ah, 40/138)

Contoh yang seperti ini, Allah Ta’ala menceritakan nadzarnya istri ‘Imran:

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

(ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Ali ‘Imran: 35)

Contoh lainnya:

فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمنِ صَوْماً فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

Maka Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (QS. Maryam: 26)

2. Nadzar Muqayyad atau Mu’allaq

Yaitu seorang yang bernadzar  disebabkan karena terikat atau tergantung oleh suatu keadaan atau keinginan tertentu.  Nadzar seperti ini makruh, sebab seolah dia baru ingin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan amal shalih itu, jika keinginannya terpenuhi dulu.

Jelas sekali kesan dia bakhil terhadap amal shalih. Seperti ungkapan: “Saya akan shaum dua hari, jika anak saya lulus ujian sekolah.” Ucapan ini mengandung makna bahwa dia tidak akan shaum jika ternyata anaknya tidak lulus. Jadi, ibadah yang dilakukannya bukan karena Allah Ta’ala, tapi jika keinginannya terpenuhi dulu.

Inilah yang disindir oleh riwayat dari Ibnu Umar berikut:

 عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنِ النَّذْرِ، وَقَالَ: «إِنَّهُ لَا يَأْتِي بِخَيْرٍ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ»

Dari Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa Beliau melarang bernadzar, Beliau bersabda: “Nadzar itu tidaklah mendatangkan kebaikan,   itu hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil.” (HR. Muslim No. 1639)

Syaikh Abu Bakar Al Jazairi mengatakan:

و يكره النذز المقيد كأن يقول : ان شفا الله مريضى صمت كذا او تصدقت بكذا

Dimakruhkan nadzar muqayyad, seperti ucapan: “Jika Allah sembuhkan penyakitku aku akan puasa sekian, atau aku akan sedekah sekian. (Minhajul Muslim, Hal. 394)

Namun demikian, baik  nadzar muthlaq  dan muqayyad, keduanya wajib dipenuhi jika sudah direncanakan oleh seseorang dan jelas nadzarnya.

3. Nadzar yang diharamkan

Keharamannya disebabkan oleh dua faktor, atau salah satunya.

Pertama, orientasi dan tujuannya bukan karena Allah Ta’ala, bukan karena mentaatiNya, bukan pula bersyukur kepadaNya, bukan juga untuk mendekatkan diri kepadaNya. Seperti bernadzar untuk mendekatkan diri kepada ruh nenek moyang, untuk mengabdi kepada penghuni kubur, dan semisalnya. Misalnya perkataan seseorang kepada orang shalih yang sudah wafat: “Wahai Tuan Guru, jika penyakitku sembuh aku akan menyembelih kambing di kuburmu.”

Ini terlarang bahkan dosa besar, sebab mengarahkan peribadatan kepada selain Allah Ta’ala, yang membuat pelakunya jatuh pada kubangan kesyirikan.

Berkata Syaikh Hasan Al Banna Rahimahullah:

وزيارة القبور أيا كانت سنة مشروعة بالكيفية المأثورة , ولكن الاستعانة بالمقبورين أيا كانوا ونداؤهم لذلك وطلب قضاء الحاجات منهم عن قرب أو بعد والنذر لهم وتشيد القبور وسترها وأضاءتها والتمسح بها والحلف بغير الله وما يلحق بذلك من المبتدعات كبائر تجب محاربتها , ولا نتأول لهذه الأعمال سدا للذريعة

Berziarah kubur, siapa pun itu, adalah sunah yang disyariatkan dengan cara-cara yang sesuai tuntunan. Tetapi meminta pertolongan kepada penghuni kubur, siapa pun itu, dan memanggil-manggil mereka untuk tujuan memenuhi kebutuhannya, baik dari dekat atau dari jauh, nadzar untuk mereka, meninggikan kuburan, membuat penutup, memberikan penerangan, mengusap-usapnya, dan bersumpah dengan selain nama Allah, dan hal-hal lain yang terkait dengan ini, semuanya termasuk bid’ah besar yang wajib untuk diperangi, dan perbuatan ini janganlah dicari-cari pembenarannya agar tidak terjadi sesuatu yang lebih parah lagi. (Ushul ‘Isyrin No. 14)

Hal di atas berbeda maksud dengan menjalankan nadzarnya orang yang sudah wafat. Jika seorang muslim bernadzar, lalu dia wafat dalam keadaan belum sempat menjalankan nadzarnya, dan dia pun tidak pernah membatalkannya, maka wajib bagi ahli warisnya menjalankan nadzarnya itu. Hal ini sesuai hadits berikut:

أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ، اسْتَفْتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا نَذْرٌ لَمْ تَقْضِهِ؟ فَقَالَ: رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اقْضِهِ عَنْهَا»

Bahwa Sa’ad bin ‘Ubadah meminta fatwa kepada Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, katanya: “Ibuku telah wafat, dan dia memiliki nadzar yang belum dijalankan?” Maka Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Penuhi nadzarnya!” (HR. Abu Daud No. 3308. An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 3732, Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir No. 5371. Imam Al Baghawi mengatakan: hadits ini disepakati keshahihannya. Lihat Syarhus Sunnah, 10/38)

Imam Muhammad bin Al Hasan Rahimahullah mengatakan, sebagaimana dikutip Imam Malik Rahimahullah:

مَا كَانَ مِنْ نَذْرٍ، أَوْ صَدَقَةٍ، أَوْ حَجٍّ قَضَاهَا عَنْهَا أَجْزَأَ ذَلِكَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى: وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ، وَالْعَامَّةِ مِنْ فُقَهَائِنَا رَحِمَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى

Apa saja yang berupa nadzar, atau sedekah, atau haji, yang dijalankan untuk wanita itu maka  itu   akan mendapatkan ganjaran Insya Allah. Inilah pendapat Abu Hanifah dan umumnya ahli fiqih kami, semoga Allah merahmati mereka semua. (Imam Malik, Al Muwaththa’, dari riwayat Muhammad bin Al Hasan,  No. 750)

Kedua, keharaman di sisi amalnya ketika nadzar. Seperti bernadzar dengan maksiat kepada Allah Ta’ala, walau si pelakunya benar dari sisi tujuannya. Dia menyangka dengan cara itu bisa semakin dekat kepada Allah Ta’ala, atau dia bernadzar dengan sesuatu yang membahaya kan dirinya, hartanya, dan keluarganya.

Ini juga terlarang, sebab nadzar hanya disyariatkan dengan yang baik-baik dan bernilai ibadah seperti yang diterangkan dalam hadits yang kita bahas: “Penuhilah nadzarmu, sesungguhnya tidak boleh memenuhi nadzar yang mengandung maksiat kepada Allah, nadzar untuk memutuskan silaturrahim, dan tidak pula nadzar pada harta yang tidak dimiliki manusia.”

Atau perkataan lainnya:

–  Jika aku lulus ujian, maka aku akan pesta pora sepekan penuh.

–  Jika aku sembuh aku akan minum khmar sekian botol.

– Jika aku bisa hafal asma’ul husna maka aku akan menjemur diriku selama tiga hari berturut-turut di siang hari.

dll.

Kandungan dan Faidah Hadits

Hadits di atas mengandung beberapa pelajaran:

1. Nadzar memang ada dalam aturan agama ini, pernah terjadi sejak masa jahiliyah dan masa Islam. Hadits ini terjadi pada masa Islam, masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sedangkan pada masa jahiliyah, Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma bercerita tentang ayahnya:

 أَنَّ عُمَرَ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي نَذَرْتُ فِي الجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي المَسْجِدِ الحَرَامِ، قَالَ: «أَوْفِ بِنَذْرِكَ»

Bahwasanya Umar  Radhiallahu ‘Anhu berkata: “Wahai Rasulullah, aku pernah bernadzar pada masa jahiliyah untuk beri’tikaf malam hari di masjidil haram.” Beliau bersabda: “Penuhi nadzarmu!” (HR. Al Bukhari No. 6697)

2. Nadzar terlarang jika di dalamnya mengandung unsur-unsur terlarang dalam agama, sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam rincian hukumnya. Pertanyaan-pertanyaan nabi: “Apakah di sana ada berhala yang disembah?”  “Apakah di sana dirayakah salah satu hari raya mereka?”  menunjukkan bimbingan nabi kepada sahabatnya agar nadzarnya tidak dicampur unsur yang diharamkan Islam, baik cara, niat dan tujuan, bahkan tempatnya.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun menjelaskan secara rinci tidak boleh nadzar yang berisikan pemutusan silaturrahim dan menggunakan harta orang yang bukan menjadi miliknya.

3. Nadzar hanya boleh dengan perkara yang baik dan ibadah, hadits ini menyontohkan dengan an nahru (penyembelihan qurban). Contohnya tentu banyak, seperti shaum, sedekah, shalat sunah, dan sebagainya.

4. Sebaiknya nadzar dengan yang mudah dan mungkin dilaksanakan seperti menyembelih qurban, hindari dengan yang berat dan menyulitkan,  tetapi jika dia merasa mampu menjalankannya silahkan saja.

Hal ini sesuai riwayat berikut:

وَعَنْ جَابِرٍ – رضي الله عنه – – أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَوْمَ اَلْفَتْحِ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنِّي نَذَرْتُ إِنْ فَتَحَ اَللَّهُ عَلَيْكَ مَكَّةَ أَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِ اَلْمَقْدِسِ, فَقَالَ: “صَلِّ هَا هُنَا” . فَسَأَلَهُ, فَقَالَ: “صَلِّ هَا هُنَا”. فَسَأَلَهُ, فَقَالَ: “شَأْنُكَ إِذًا” – رَوَاهُ أَحْمَدُ, أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata pada hari Fathul Makkah: “Wahai Rasulullah, aku telah bernadzar jila Allah menaklukan kota Mekkah untukmu, aku akan shalat di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha).” Nabi bersabda: “Shalat di sini saja.” Orang itu meminta lagi.

Nabi menjawab: “Shalat di sini saja.” Orang itu masih meminta lagi. Maka Nabi menjawab: “Kalau begitu terserah kamu.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan dishahihkan oleh Al Hakim)

Jika akhirnya tidak mampu melaksanakan nadzarnya, dia boleh membatalkan nadzarnya dengan melakukan Kaffarat Nadzarsebagaimana kaffarat sumpah, sebagaimana hadits:

كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِينِ

Kaffarat nadzar itu sama dengan kaffarat sumpah. (HR. Muslim No. 1645)

Bagaimana caranya?

– Dengan memberikan makan kepada 10 fakir miskin masing-masing sebanyak satu mud gandum (atau disesuaikan dengan makanan dan takaran masing-masing negeri), atau mengundang mereka semua dalam jamuan makan malam atau siang sampai mereka puas dan kenyang, dengan makanan yang biasa kita makan.

– Atau memberikan pakaian yang sah untuk shalat, jika fakir miskin itu wanita, maka mesti dengan kerudungnya juga.

– Atau memerdekan seorang budak

– Jika semua tidak sanggup, maka shaum selama tiga hari, boleh berturut-turut atau tidak.

Ketetapan ini sesuai firman Allah Ta’ala sebagai berikut:

Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdeka kan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu.

Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya). (QS. Al Maidah: 89)

Kaffarat ini bukan hanya bagi orang yang tidak sanggup menjalankan nadzarnya, tetapi juga bagi orang yang masih bingung menentukan nadzarnya mau ngapain lalu dia putuskan membatalkannya, juga bagi yang  nadzar dengan maksiat.

Hal ini sebagaimana hadits berikut dari Ibnu Abbas secara marfu’:

مَنْ نَذَرَ نَذْرًا لَمْ يُسَمِّهِ، فَكَفَّارَتُهُ كَفَّارَةُ يَمِينٍ، وَمَنْ نَذَرَ نَذْرًا فِي مَعْصِيَةٍ، فَكَفَّارَتُهُ كَفَّارَةُ يَمِينٍ، وَمَنْ نَذَرَ نَذْرًا لَا يُطِيقُهُ فَكَفَّارَتُهُ كَفَّارَةُ يَمِينٍ، وَمَنْ نَذَرَ نَذْرًا أَطَاقَهُ فَلْيَفِ بِهِ»

Barang siapa yang bernadzar dan dia belum tentukan, maka kafaaratnya sama dnegan kaffarat sumpah. Barang siapa yang bernadzar dalam hal maksiat, maka kaffaratnya sama dengan kaffarat sumpah, dan barang siapa yang nadzar dengan hal yang dia tidak sanggup maka kaffaratnya sama dengan kaffarat sumpah, dan siapa yang nadzarnya dengan sesuatu yang dia mampu, maka hendaknya dia penuhi nadzarnya. (HR. Abu Daud No. 3322. Hadits ini didhaifkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 3322. Sementara Imam Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Maram: “Isnadnya shahih, hanya saja para huffazh lebih menguatkan bahwa ini hanyalah mauquf.” Mauquf maksudnya terhenti sebagai ucapan sahabat nabi saja, yakni Ibnu Abbas, bukan marfu’ /ucapan nabi.  )

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Keutamaan Salat Shubuh

Hadits Tentang Shalat Isyraq, Dhaifkah?

Pertanyaan

Assalamu ‘alaikum Ust. Ana mau Tanya, setelah shalat subuh terus berdzikir sampai terbit matahari dengan amalan tersebut akan mendapatkan pahala haji dan umrah sempurna, sempurna, bagaimana statusnya? Ana dengar di MTA –yang lagi terkenal ana dengar via radio- (karena menyebut sampai waktu dhuha) banyak ulama mendhaifkan, sementara Al Albani menshahihkannya. Mana yang benar? (081915039xxx)

Jawaban

Oleh: Farid Nu’man Hasan

Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh. Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala rasulillah wa ba’d:

Kepada saudara penanya, hadits yang dtanyakan itu ada beberapa jalan, yakni sebagai berikut:

Hadits Pertama:

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من صلى الصبح في جماعة ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس ثم صلى ركعتين كانت له كأجر حجة وعمرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : تامة تامة تامة

“Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah lalu dia duduk untuk berdzikir kepada Allah hingga terbit matahari kemudian shalat dua rakaat maka dia seperti mendapatkan pahala haji dan umrah.” Anas berkata: Rasulullah bersabda: “Sempurna, sempurna, sempurna.”

Dikeluarkan oleh:

– Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 586, katanya: hasan gharib.

– Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 710

Sanad hadits ini: Abdullah bin Muawiyah Al Jumahi Al Bashri, Abdul Aziz bin Muslim, Abu Zhilal, Anas bin Malik.

1. Abdullah bin Muawiyah. Dia adalah Abdullah bin Muawiyah bin Musa bin Abi Ghalizh bin Mas’ud bin Umayyah bin Khalaf Al Jumahi. Kun-yahnya Abu Ja’far.

Siapa Dia? Imam Ibnu Hibban memasukkannya dalam kitab Ats Tsiqaat – orang-orang terpercaya. (No. 13862). Imam At Tirmidzi mengatakan: dia orang shalih. Abbas Al Anbari mengatakan: tulislah hadits darinya, dia terpercaya. Maslamah bin Qasim mengatakan: terpercaya. (Tahdzibut Tahdzib, 6/38-39). Imam Adz Dzahabi mengatakan: seorang imam, ahli hadits, jujur, musnid-nya kota Bashrah, usianya sampai 100 tahun. (Siyar A’lamin Nubala, 11/435)

2. Abdul Aziz bin Muslim. Dia adalah Abdul Aziz bin Muslim Al Qasmali Al Khurasani Al Bashri. Kun-yahnya Abu Zaid.

Imam Adz Dzahabi mengatakan: dia seorang imam, ahli ibadah, salah satu orang terpercaya. (Siyar A’lamin Nubala, 7/240). Imam Ibnu Hibban memasukkannya dalam kitab Ats Tsiqaat. (No. 9254). Yahya bin Ma’in mengatakan: laa ba’sa bihi – tidak ada masalah. Abu Hatim mengatakan: haditsnya bagus dan terpercaya. (Mizanul I’tidal, 2/635)

3. Abu Zhilal. Dia adalah Hilal bin Abi Suwaid Al Qasmali Al Bashri kawan dari Anas bin Malik

Siapakah Abu Zhilal? Imam At Tirmidzi bertanya kepada Imam Al Bukhari, katanya: “Dia muqaribul hadits (haditsnya mendekati shahih), namanya Al Hilal.” (Sunan At Tirmidzi No. 586). Segenap ulama mendhaifkannya, Yahya bin Ma’in mengatakan: dhaif, bukan apa-apa. An Nasa’i dan Al Azdi mengatakan: dhaif. Ibnu Hibban mengatakan: seorang syaikh yang lalai, tidak bisa dijadikan hujjah. Ya’qub bin Sufyan mengatakan: layyinul hadits – haditsnya lemah. Abu Ahmad Al Hakim mengatakan: bukan termasuk orang yang kokoh. (Tahdzibut Tahdzib, 11/85)

4. Anas bin Malik. Dia adalah sahabat nabi yang  masyhur,  dan mendengarkan hadits ini langsung dari nabi.

Nah, kepada para pembaca .. khususnya saudara penanya ….

Dari semua perawi yang ada, semuanya tsiqah kecuali  Abu Zhilal yang didhaifkan umumnya para imam, kecuali Imam Bukhari yang menyebutnya muqaribul hadits. Inilah yang menyebabkan sanad hadits ini memiliki cacat menurut pihak MTA yang Sdr. penanya sebutkan.

Kenyataannya Imam At Tirmidzi tidak mendhaifkannya, dia menghasankannya, sebab hadits seperti ini ada dalam berbagai riwayat lain yang menjadi syawahid (saksi yang menguatkan). Telah ma’ruf bagi para peneliti hadits, bahwa sanad yang dhaif (lemah) bisa terangkat menjadi hasan bahkan shahih jika dikuatkan oleh hadits-hadits serupa di berbagai jalur lainnya. Inilah yang barangkali pihak MTA kurang memperhatikannya. Wallahu A’lam

Imam An Nawawi mengatakan:

بل ما كان ضعفه لضعف حفظ رايه الصدوق الأمين زال بمجيئه من وجه آخر وصار حسناً، وكذا إذا كان ضعفه بالإرسال زال بمجيئه من وجه آخر

Tetapi  jika hadits dhaif itu kedhaifannya disebabkan  adanya satu perawi yang lemah hapalannya tapi dia orang jujur dan amanah, lalu dikuatkan oleh jalur riwayat yang lain maka hadits itu menjadi hasan. Begitu pula jika kedhaifannya karena mursal (terputusnya sanad pada salah satu thabaqat – generasi perawi hadits, pen), maka dia juga gugur kedhaifannya jika ada hadits serupa dari jalur lainnya. (At Taqrib wat Taisir Lima’rifatis Sunan Al Basyir An Nadzir, Hal. 2)

Abu Zhilal bukanlah seorang pendusta dan bukan pemalsu hadits, tetapi dia orang yang lemah hapalannya, dan sanad hadits ini pun bersambung.  Oleh karena itu, berkata Syaikh Abul Hasan Al Mubarkafuri Rahimahullah :

وإنما حسن الترمذي حديثه لشواهده، منها: حديث أبي أمامة عند الطبراني، قال المنذري في الترغيب، والهيثمي في مجمع الزوائد (ج10: ص104) : إسناده جيد، ومنها: حديث أبي أمامة، وعتبة بن عبد عند الطبراني أيضاً. قال المنذري: وبعض رواته مختلف فيه. قال: وللحديث شواهد كثيرة-انتهى

Sesungguhnya penghasanan At Tirmidzi terhadap hadits ini karena banyaknya riwayat yang menjadi penguat (syawahid), di antaranya hadits Abu Umamah yang diriwayatkan Ath Thabarani, yang oleh Al Mundziri dalam At Targhib dan Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (10/104) dikatakan: “Isnadnya jayyid, di antaranya hadits Umamah dan ‘Utbah bin Abd yang diriwayatkan Ath Thabarani juga. Al Mundziri mengatakan: “Sebagian perawinya diperselisihkan.” Dia katakan: “Hadits ini memiliki banyak syawaahid (saksi yang menguatkannya).” (Mir’ah Al Mafatih,  3/328)

Begitu pula dikatakan oleh Imam Abul ‘Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah:

حَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ فِي إِسْنَادِهِ أَبُو ظِلَالٍ وَهُوَ مُتَكَلَّمٌ فِيهِ لَكِنْ لَهُ شَوَاهِدُ فَمِنْهَا حَدِيثُ أَبِي أُمَامَةَ

Dihasankan oleh At Tirmidzi, dalam isnadnya terdapat Abu Zhilal, dia diperbincangkan keadaannya, tetapi hadits ini memiliki banyak penguat di antara hadits Abu Umamah. (Tuhfah Al Ahwadzi, 3/158)

Jadi, hadits di atas selain dihasankan oleh Imam At Tirmidzi, juga dihasankan oleh Imam An Nawawi. (Al Khulashah Al Ahkam, 1/470), lalu Imam Zainuddin Al ‘Iraqi juga turut menghasankannya. (Takhrijul Ihya, Hal. 396), Imam Al Baghawi juga mengikuti penghasanan At Tirmidzi. (Syarhus Sunnah No. 710), Dihasankan oleh Syaikh Abul Hasan Al Mubarkafuri (Mir’ah Al Mafatih, 3/328), juga oleh Imam Abul ‘Ala Al Mubarkafuri. (Tuhfah Al Ahwadzi, 3/158).  Syaikh Al Albani juga menghasankannya. (Misykah Al Mashabih No. 971), dan menshahihkan dalam kitab lainnya. (Shahihul Jami’ No. 6346, Shahihut Targhib No. 464)

Tentang kehujjahan hadits hasan, Imam An Nawawi mengutip dari Imam Al Khathabi Rahimahullah:

ويقبله أكثر العلماء، ويستعمله عامة الفقهاء

Diterima oleh mayoritas ulama, dan dipakai oleh semua fuqaha (ahli fiqih). (At Taqrib, Hal. 2)

Maka, keliru jika dikatakan  hadits ini  hanya diakui oleh Syaikh Al Albani. Para ulama yang telah menghasankan dan menshahihkan hadits ini sangat banyak.

Hadits Kedua:

Inilah riwayat yang  dimaksud oleh Syaikh Abul Hasan Al Mubarkafuri dijadikan sebagai penguat hadits Imam At Tirmidzi di atas.

Dari Abu Umamah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من صلى صلاة الغداة في جماعة ثم جلس يذكر الله حتى تطلع الشمس ثم قام فصلى ركعتين انقلب بأجر حجة وعمرة

“Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah lalu kemudian dia duduk untuk berdzikir kepada Allah hingga terbitnya matahari, kemudian dia bangun mengerjakan shalat dua rakaat, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana haji dan umrah.”

Dikeluarkan oleh:

– Imam Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 7741, juga dalam Musnad Asy Syamiyyin No. 885.

– Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No.   3542.

Hadits ini sanadnya kuat, dan dapat dijadikan sebagai syahid bagi hadits di atas. Imam Al Haitsami mengatakan: “Sanadnya Jayyid.” (Majma’ Az Zawaid, 10/104, No. 16938). Imam Al Mundziri juga mengatakan sanadnya jayyid. (At Targhib wat Tarhib No. 467).  Syaikh Al Albany mengatakan: “Hasan Shahih.” (Shahih At Targhib wat Tarhib,  No. 467)

Hadits Ketiga:

Dari Abdullah bin Ghabir, bahwa Abu Umamah dan ‘Utbah bin Abd As Sulami Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من صلى صلاة الصبح في جماعة ثم ثبت حتى يسبح لله سبحة الضحى كان له كأجر حاج ومعتمر تاما له حجه وعمرته

“Barangsiapa yang shalat subuh secara berjamaah kemudian dia berdiam (berdzikir) sampai datang waktu dhuha, maka dia akan mendapatkan ganjaran seperti haji dan umrah secara sempurna.”

Dikeluarkan oleh:

– Imam Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir No. 317

– Imam Al Mundziri, At Targhib wat Tarhib No. 469

Imam Al Mundziri menguatkan hadits ini dengan mengatakan:

رواه الطبراني وبعض رواته مختلف فيه وللحديث شواهد كثيرة

Diriwayatkan oleh Ath Thabarani, sebagian perawinya masih diperselisihkan kekuatannya, namun hadits ini memiliki banyak syawaahid (berbagai penguat). (At Targhib wat Tarhib No. 469)

Begitu pula Imam Al Haitsami mengatakan:

فيه: الأحوص بن حكيم، وثقه العجلي وغيره، وضعفه جماعة، وبقية رجاله ثقات، وفي بعضهم خلاف لا يضر

Di dalam sanadnya terdapat Al Ahwash bin Hakim, dia ditsiqahkan oleh Al ‘Ajli dan lainnya, namun segolongan ulama mendhaifkannya, sedangkan para perawi lainnya adalah terpercaya, dan  tentang sebagian mereka ada yang masih diperselisihkan tetapi   tidak apa-apa. (Majma’ Az Zawaid, 10/104)

Syaikh Al Albani mengatakan hasan lighairih. (Shahih At Targhib wat Tarhib No. 469)

Selesai …………..

Dengan uraian ini, telah nampak bahwa hadits ini kuat dan maqbul (bisa diterima). Para ulama yang menegaskan ini begitu banyak, seperti:

– Imam At Tirmidzi
– Imam Al Baghawi
– Imam An Nawawi
– Imam Zainuddin Al ‘Iraqi
– Imam Nuruddin Al Haitsami
– Imam Al Mundziri
– Imam Abul ‘Ala Al Mubarkafuri
– Syaikh Abul Hasan Al Mubarkafuri
– Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani

Maka,  hadits ini tidak hanya dikuatkan oleh Syaikh Al Albani saja,  melainkan juga oleh banyak para imamul muhadditsin  dan ulama Islam lainnya.

Wallahu A’lam wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678