logo manis4

Hukum Mandi Bareng Suami Istri

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bolehkan mandi bareng istri?? I_18

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Djunaidi, SE

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Mandi bareng istri ternyata telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW terhadap istri-istrinya. Dengan kata lain Islam pun juga menganggap hal ini adalah sebuah bentuk kewajaran.

Sebagaimana diriwayatkan Hadist Riwayat. Bukhari no. 316, Muslim no. 321. ‘Aisyah berkata,

“Aku dan Rasulullâh mandi bersama dalam suatu wadah yang sama sedangkan kami berdua dalam keadaan junub.”

Mandi bersama bisa menimbulkan rasa kasih sayang dan bermain -main bersama istri, saling siram-siraman atau saling berebut gayung dan selebihnya anda yang tahu.

Sebagaimana hadits Nabi dan ‘Aisyah saling berebut air ketika mandi bersama. (HR. Muslim I/257 no 321)

Imam Muslim Rahimahullahu Ta’ala menyampaikan sebuah riwayat agung dari Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq.

“Aku mandi bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dari satu bejana. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam mendahuluiku sampai aku berkata, ‘Tinggalkan untukku. Tinggalkan untukku.’”

Dalam kelanjutan riwayat yang dikutip oleh Salim A Fillah dalam Bahagianya Merayakan Cinta ini disebutkan, “Waktu itu, keduanya berjanabat (mandi wajib).”

Bukan sekali ini Rasulullah SAW diriwayatkan mandi bareng istrinya. Dalam riwayat lain oleh Imam Abdurrazaq dan Ibnu Abi Syaibah Rahimahumallahu Ta’ala, dikisahkan dari Ummul Mukminin Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Aku biasa mandi bersama dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dari satu bejana. Kami terbiasa memasukkan tangan kami bersama-sama ke dalam satu bejana.”

Rasullulah yang mulia telah memberi contoh terbaik. Mandi berdua. Saling rebut air dan alat mandi, hingga terbit senyum dan tawa renyah dari keduanya.

Inilah sunnah yang tidak hanya bisa menautkan hati dan membuat cinta di antara kalian saling bertambah, tapi juga dijanjikan pahala yang agung di dunia dan akhirat..

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Hukum Menghadiri Pernikahan yang Diharamkan

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apabila kita diundang oleh temen perempuan muslim yang menikah dengan laki-laki non muslim apakah kita boleh hadir? Apabila kita hadir, apakah itu berarti kita menyetujui pernikahan mereka?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Pernikahan mereka haram, tidak sah, dan tidak ada beda pendapat dalam hal keharaman itu alias telah ijma’.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

وَالْإِجْمَاعُ الْمُنْعَقِدُ عَلَى تَحْرِيمِ تَزَوُّجِ الْمُسْلِمَاتِ عَلَى الْكُفَّارِ

Dan, telah menjadi ijma’ (konsensus) yang kuat atas haramnya wanita muslimah menikahi orang-orang kafir. (Al Mughni, 7/155)

Sehingga tidak dibenarkan menghadirinya. Seharusnya adalah mencegahnya dan menasihatinya.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Anak Hasil Zina

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, saya adalah puteri ke-3 dari 4 bersaudara (3 saudara perempuan dan 1 adik laki-laki).
Saat hamil besar anak ke-3 kemarin. Saya sangat terpukul dan baru mengetahui kalau orang tua menikah sebab dari hasil zina. Saat lahir-an sampai saat ini pun, saya masih terbebani dengan kondisi yang saat ini saya jalani.

Pertanyaannya;

1. Kakak pertama adalah perempuan dan menikah langsung dengan wali dari orang tua (bapak biologis), tanpa wali nikah.

Bagaimana hukumnya, jika yang hanya mengetahui hal ini cuma saya saja dari semua anak. Padahal ilmu tentang waris pun akan berbeda. Jika kedepannya membuat perpecahan dalam keluarga (saudara), saya harus berbuat apa?

2. Bagaimana nasib pernikahan dan nasab dari saya dan keturunan saya, jika tidak ada pernikahan ulang setelah kakak pertama lahir?

3. Apakah jika ada pertaubatan keduanya sebelum menikah. Apakah harus menjalani sholat taubat, atau cukup dari hati dan perbuatan saja?..

Alhamdulillah, 3 saudara perempuan (kami) selalu terjaga oleh Allah dari hubungan/sentuhan laki-laki. Dan kini telah menjadi keluarga besar, apa yang harus saya lakukan?..

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Anak zina, ada dua model:

1. Dia tidak bisa dinasabkan ke ayahnya tapi ke ibunya. Seperti Isa bin Maryam (bukan berarti Nabi Isa anak zina ya ..). Karena Nabi Isa ‘Alaihissalam lahir tanpa ayah, melalui kehendak Allah atas Maryam. Inilah pendapat mayoritas ulama, Malikiyah, Syafi’iyyah, Hambaliyah, dan sebagian Hanafiyah.

Hal Ini terjadi jika:

– si ayah tidak bertanggungjawab, dia kabur

– si ayah bertanggungjawab, tapi menikahinya setelah kehamilan 4 bulan .. shgga usia pernikahan sebelum 6 bulan anak sdh lahir ..

Dampaknya si ayah tidak boleh menjadi wali .., walinya wali hakim.

Ada pun Imam Abu Hanifah tetap mengatakan ayahnya yg bertanggung jawab SAH menjadi nasab dan wali kapan pun nikahnya selama dinikahi sebelum anaknya lahir:

لا أرى بأسا إذا زنى الرجل بالمرأة فحملت منه أن يتزوجها مع حملها, ويستر عليها, والولد ولد له

Seorang lelaki yang berzina dengan perempuan lalu dia hamil, maka boleh menikahi perempuan itu saat hamil. Sedangkan status anak adalah anaknya. (Al Mughni, 9/122)

2. Dia bisa dinasabkan ke ayahnya, JIKA ayahnya akhirnya menikahi ibunya dan dinikahi sebelum hamil 4 bulan .. shgga anaknya lahir setelah 6 bulan pernikahan.

Syaikh Wahbah Az Zuhailiy berkata:

يحل بالاتفاق للزاني أن يتزوج بالزانية التي زنى بها، فإن جاءت بولد بعد مضي ستة أشهر من وقت العقد عليها، ثبت نسبه منه، وإن جاءت به لأقل من ستة أشهر من وقت العقد لا يثبت نسبه منه، إلا إذا قال: إن الولد منه، ولم يصرح بأنه من الزنا. إن هذا الإقرار بالولد يثبت به نسبه منه

Ulama sepakat halalnya pria pezina menikahi wanita yang dizinahi. Apabila melahirkan anak setelah enam bulan akad nikah maka nasabnya ke pria itu. Apabila kurang dari 6 bulan dari waktu akad nikah maka tidak dinasabkan padanya kecuali apabila si pria membuat ikrar dengan mengatakan bahwa anak itu darinya dan tidak menjelaskan bahwa ia berasal dari zina. Maka dengan ikrar ini nasab anak tersebut tetap pada ayah biologisnya. (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 10/148)

Dampaknya, si ayah boleh jadi wali ..

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Jangan Berputus-asa Dari Rahmat dan Ampunan Allah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya,

1. Mana yang benar menurut Islam, menikah calon pasangan suami istri di depan penghulu atau calon suami di depan penghulu dan istri di tempat lain (di kamarnya)? Terima kasih

2. Mohon pencerahannya, seorang muslim bujang suka beribadah, suka juga berbuat maksiat/zina ke wanita psk, dan ingin slalu tobat, tp terjerumus kembali lg ke zina, dan mengulangi taubat kembali. Dan sangat ingin melupakan hal maksiat dan hal tercela lain.

Mohon bimbingan dan pencerahannya 🙏

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim….

1. Lebih utama penganten wanita jangan disandingkan dulu, sebab saat itu mereka belum halal sampai selesainya akad. Biarlah penganten wanita menanti di kamarnya. Ini yg lebih baik.

Yg bersama penganten pria adalah wali si wanita, sebab walinya yg menikahkannya.

2. Jangan berputus-asa dari rahmat dan ampunan Allah Ta’ala. Teruslah bermujahadah bertobat dgn meninggalkan perbuatan maksiat tersebut. Hilangkan keinginan utk bermain2 dgn tobat. Hilangkan semua “sebab” kembalinya maksiat. Perkuat muraqabatullah (merasa Allah mengawasi kita), bergaullah dgn orang2 shalih, shalat berjamaah di masjid, rutinkan zikir pagi dan petang, dan semua kebaikan lainnya agar sibuk dgn kebaikan dan terlupakannya keinginan maksiat.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Jika Istri Tidak Penurut..

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, dalam rumah tangga bila suami istri sdh tidak satu arah terdapat perbedaan persepsi yg mungkin bisa d bilang cukup mendasar tapi tidak mengambil jalan berpisah/ bercerai dg alasan anak.

Dalam hal ini istri tidak lagi Patuh pada suami, tidak mampu menjaga kehormatan suami dimata keluarga ataupun masyarakat. Bahkan sangat sering meninggikan suara saat terjadi perselisihan.
Sudah di nasihati bahkan sampai suami “mengatakan seandainya tidak mau berubah perilaku buruknya akan di pulangkan ke orang tuanya” tapi istri tetap melawan dan terus dg perbuatan buruknya.
Itu hukumnya seperti apa umi..

Apakah suami dlm hal ini masih akan menanggung dosa istri karena dia sebagai pemimpin keluarga?
Atau dg sikap memperingatkan itu sudah gugur kewajiban ia sebagai suami di hadapan Allah?

Terimakasih atas jawabannya 🙏🙏

I/04

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim….

Suami itu imam bagi istri, dan imam mesti ditaati oleh istrinya tentunya dalam hal-hal baik. Di sisi lain, suami hendaknya instropeksi diri kenapa istrinya seprti itu.

Jika suami sudah berlaku baik, tapi istri masih seperti itu maka itu istri yg nusyuz (durhaka). Hendaknya suami memberikan pelajaran dan nasihat, termasuk tidak menggaulinya utk memberinya pelajaran.

Jika istri masih terus melawan, yg justru menambah dosa baginya, tdk ada gelagat mmperbaiki diri maka menceraikannya menjadi salah satu solusi. Sebab berkeluarga tanpa adanya kasih sayang, tanpa adanya hormat, tanpa adanya ketaatan, adalah keluarga yg main-main dan menyimpan bom waktu.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Zina itu utang

Jika Suami Berzina, Apa Yang Harus Istri Lakukan?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apa yang sebaiknya istri lakukan jika mengetahui suaminya selingkuh dan sampai berbuat zina beberapa kali. Syukron

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim. .

Suami yang berzina, itu dosa besar, boleh bagi istri untuk menuntut cerai. Alasannya sudah syar’i, jika memang dia inginkan hal itu.

Syaikh Muh Shalih Al Munajjid menjelaskan:

وإذا كان الزوج على علاقة نسائية محرمة ، فهذا سبب يبيح للزوجة طلب الطلاق أو الخلع ، فراراً بدينها ، وصيانة لنفسها وشرفها ، وحذراً ما قد يجلبه الزوج من أمراض بسبب هذه العلاقات

Jika suami memiliki hubungan dengan wanita lain yang bukan mahram (selingkuh), maka ini sebab yang membuat istri boleh meminta cerai atau khulu’, dalam rangka menjaga agamanya, dirinya, dan kehormatannya, dan merupakan sikap waspada terhadap berbagai penyakit yang dimunculkan oleh suami karena hubungannya itu.(Al Islam Su’aal Wa Jawaab no. 115107)

Tapi, jika istri memilih bersabar, memilih untuk menasihati dan membimbing suami untuk bertobat kepada Allah Ta’ala, memperbaiki diri, maka itu lebih baik.

Jika hukum Islam berlaku tentu suami tersebut mesti dirajam sampai mati. Tapi di Indonesia hal itu tidak berlaku.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Suami Wajib Menafkahi

Nafkah, Tanggung Jawab Siapa?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah istri berdosa klo tdk memberikn uang ke suami untuk membeli rokoknya ?, Uangnya hasil pencarian istri, klo untuk membeli bahan pokok untuk kebutuhan harian istri dg senang hati menyiapkan semuanya, tp klo untuk rokok istri sangat berat krn uang di buang2 untuk di bakar,
Berappun yg dikeluarkan untuk kebutuhn hidup, istri akan ikhlas, apakah istri berdosa 🙏

Jazakillah atas jawaban2 nya

A/38

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim..

Istri tidak wajib menafkahi suami, tapi suamilah yang wajib menafkahi istri. Istri tidak berdosa tidak memberikan nafkah atau uang, apalagi jika untuk beli rokok yg mayoritas ulama zaman ini mengatakan haram (sebagian kecil saja mengatakan makruh).

Istri yg kaya atau punya penghasilan boleh saja memberikan sedekah kepada suaminya bahkan berzakat untuk suaminya. Tapi itu bukan nafkah.

Zainab Radhiallahu ‘Anha, seorang shahabiyah yang bersuamikan laki-laki yang miskin, yaitu Abu Mas’ud Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu. Zainab bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

أَيَجْزِي عَنِّي أَنْ أُنْفِقَ عَلَى زَوْجِي، وَأَيْتَامٍ لِي فِي حَجْرِي؟

“Apakah bisa diterima zakatku untuk suamiku dan anak-anak yatim yang dalam pengasuhanku?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

نَعَمْ، لَهَا أَجْرَانِ، أَجْرُ القَرَابَةِ وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ

“Ya, bagi dia (istri) dua pahala; pahala menguatkan hubungan kekerabatan dan pahala sedekah.” (HR. Bukhari no. 1466)

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Menikah Menghilangkan Stress

Kerikil Rumah Tangga

Pertanyaaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz/ustadzah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Ada titipan pertanyaan dari teman…
Temannya saya mengajukan cerai ke suaminya di pengadilan agama, tapi sebenarnya suami tidak mau untuk cerai. Singkat cerita sampailah ketok palu putusan cerai karena suami tidak hadir beberapa kali pemanggilan, tapi aktenya belum jadi.
Beberapa hari kemudian suami & pengacaranya datang ke pengadilan agama untuk membatalkan perceraian, akhirnya dengan kesepakatan bersama mereka rujuk lagi dengan beberapa persyaratan.

1. Bagaimana rujuk dalam Islam. Dalam kasus ini apakah perlu diadakan akad nikah lagi, karena sebenarnya suaminya tidak pernah mentalak istrinya ?

2. Apakah boleh istri membuat perjanjian dengan suami (surat segel) yang diketahui keluarga kedua belah pihak jika suami melanggar maka istri berhak mengajukan cerai ?

Jazakallah khairon katsir Ustadz… atas jawabannya

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim..

Dalam rumah tangga, kembangkanlah sikap oleh keduanya: *Memahami, memaklumi, dan memaafkan*. Tanpa 3 sikap ini biasanya akan gampang emosi.

Suami harus memahami, maklumi, dan memaafkan istri saat dia menolak karena lelah yang sangat. Istri pun sebisa mgkin mampu mencuri hati suami di lain waktu agar kekecewaannya terobati.

Masalah seperti ini tidak cukup tinjauan fiqih, boleh atau tidak, nusyuz atau bukan.. Tp juga pendekatan psikis dan kemampuan komunikasi keduanya.

Jika masalahnya belum berlarut-larut, masih bisa diselesaikan, cari sebabnya kenapa suami sampai seperti itu.

Lalu, suami tidak ingin menceraikan tapi dia minta istrilah yg meminta cerai, bisa jadi dia mau ambil Untung .. sebab jika SUAMI MENCERAIKAN maka suami mesti memberikan harta yg pantas kepada istrinya plus nafkah selana masa iddah .. berbeda jika cerai itu adalah khulu’ (gugatan istri) istrilah yg mesti mengembalikan mahar .. Wallahu a’lam

Kemudian, apakah sudah jatuh cerai gara2 suami tidak mencintai lagi? Jelas tidak.

Cerai itu baru jatuh jika suami menyatakan cerai dgn bahasa yg lugas dan jelas . Atau bahasa simbol tapi dibarengi niat cerai.

Ada pun baru pisah ranjang, hilang cinta, blm dikatakan cerai.

Saran saya, istikharah, lalu cerita ke ortua, atau siapa yg bs dipercaya di keluarga, juga kekuarga suami.

Hal itu sesuai perintah Allah Ta’ala:

Fab’atsu hakaman min Ahlih wa hakaman min ahliha – kirimkah penengah dari pihak laki-laki (suami) dan penengah dari pihak perempuan (istri) ..

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Suami Wajib Menafkahi

Keseimbangan Memberi Nafkah Antara Istri, Anak Dan Orang Tua

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz/ah saya mau bertanya, saya seorang Istri dengan 2 anak.
Bersuamikan pekerja buruh harian dengan kisaran gaji tidak UMR, sebesar 2,5 jt dimana gaji itu hanya diperuntukkan untuk kontrakan 2jt + listrik 200 (itupun saya sebagai istri masih suka nombok) + 300 bekal suami kerja (itupun sering minta sama saya juga karena gak cukup).

Suami memiliki keluarga yaitu Ibu, Bapak, 1 adik laki2 usia 25th, 1 adik perempuan usia 20th.
Keadaannya, bapaknya sudah tua dan 2 adiknya pengangguran susah sekali disuruh cari nafkah untuk orangtua dikarenakan selalu menunggu ada yang laku terjual dikarenakan Bapak punya banyak kebon, sawah dan ada mobil.
Mereka sehari-hari saat ini, mengandalkan dari rental mobil dan uang kontrakan yang ada.

❓Hal yang saya ingin tanyakan adalah :

1. Saya sebagai istri selalu bantu suami, untuk makan sehari-hari dan keperluan anak (baju, susu, jajan, bayar spp sekolah dll). Saya anak yatim dari kecil jadi tidak punya Ayah. Hanya punya Ibu, itupun membantu merawat anak tanpa dikasih imbalan uang. Hanya biaya hidup saya tanggung karna Ibu saya tinggal bersama kami. Sudah tua juga, sekitar usia 60th. Karna saya diharuskan kerja makanya tidak bisa merawat anak dirumah sendiri.
Bagaimana dengan kondisi ini?
Apa suami berdosa karena tidak memberi nafkah full dikarenakan saya kadang tidak ridho?

2. Saya tidak Ridho karena suami masih di recokin sama keluarga nya. Di sini kami memang tidak bisa ngasih sepeserpun, karena kami juga tidak dinafkahi full, tapi mereka mewajibkan suami merawat bapaknya dan tinggal di kampung tanpa menafkahi kami. Karena kata ibu mertua (kan istri sudah bisa kerja bantulah di sana) gitu.
Ini gimana hukumnya? Apa suami harus menurut pada Ibu karena surganya masih ditelapak kaki Ibu nya? Karna dalil ini yg menjadikan Ibu nya bergantung pada Suami.

3. Sebenarnya dalam Islam, saya istri dan anak yang bertanggung jawab pada kami siapa?

Terimakasih, mohon berkenan untuk menjawab. Sejujurnya saya sudah lelah di posisi ini.

A/18

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃


Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim.

Intisarinya adalah keseimbangan (tawazun). Seimbang dalam memberikan perhatian dan nafkah kepada istri, anak, dan mengurus orangtua.

Dalam bahasa hadits:
_Fa a’thi kulla dzi haqqin haqqah_ (berikan hak itu secara proporsional kepada yang seharusnya menerimanya). Maka, jika Satu saja ada yang dilupakan/diabaikan secara SENGAJA, maka itu kezaliman. Seperti mengabaikan anak, atau istri, atau ortua.

1. Seandainya suami sudah memberikan nafkah, walau tidak full, karena dia sanggupnya seperti itu, tentu dia tidak berdosa.

Allah Ta’ala berfirman:

۞وَٱلۡوَٰلِدَٰتُ يُرۡضِعۡنَ أَوۡلَٰدَهُنَّ حَوۡلَيۡنِ كَامِلَيۡنِۖ لِمَنۡ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَۚ وَعَلَى ٱلۡمَوۡلُودِ لَهُۥ رِزۡقُهُنَّ وَكِسۡوَتُهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ لَا تُكَلَّفُ نَفۡسٌ إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَا تُضَآرَّ وَٰلِدَةُۢ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوۡلُودٞ لَّهُۥ بِوَلَدِهِ

Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. *Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya.* Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (men-derita) karena anaknya.

-Surat Al-Baqarah, Ayat 233

Yg berdosa adalah dia sanggup, tapi malas atau sengaja mengabaikan orang-orang yang memang wajib baginya untuk dinafkahi.

2. Ini sama seperti di atas, yaitu masalah keseimbangan. Hendaknya suami memahami wajibnya nafkah kepada anak dan istrinya. Hendaknya ortua pun memahami posisi anaknya yg sudah ada kewajiban baru sebagai suami. Hendaknya istri juga paham bahwa memang laki-laki masih ada kewajiban mengurus ortuanya terlepas saudara2 kandungnya malas/pengangguran atau tidak.

Allah Ta’ala berfirman:

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ

Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. (QS. An-Nisa’, Ayat 34)

Ayat ini menunjukkan kepemimpinan laki-laki itu ada sebab, yaitu dia menafkahi istrinya. Menurut Imam Al Qurthubi, jika suami tidak mampu menafkahinya teranulirlah status kepemimpinannya, maka apalagi jika karena malas.

Imam Al Qurthubi Rahimahullah mengatakan:

أَنَّهُ مَتَى عَجَزَ عَنْ نَفَقَتِهَا لَمْ يَكُنْ قَوَّامًا عَلَيْهَا، وَإِذَا لَمْ يَكُنْ قَوَّامًا عَلَيْهَا كَانَ لَهَا فَسْخُ الْعَقْدِ، لِزَوَالِ الْمَقْصُودِ الَّذِي شُرِعَ لِأَجْلِهِ النِّكَاحُ. وَفِيهِ دَلَالَةٌ وَاضِحَةٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ عَلَى ثُبُوتِ فَسْخِ النِّكَاحِ عِنْدَ الْإِعْسَارِ بِالنَّفَقَةِ وَالْكُسْوَةِ، وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ

Sesungguhnya, dikala dia tidak mampu menafkahi istrinya maka lenyaplah kepemimpinannya atas istrinya. Jika dia sudah tidak lagi sebagai pemimpin, maka istrinya boleh melakukan fasakh (pembatalan) atas nikahnya, karena maksud diadakannya pernikahan (yaitu tanggung jawab nafkah) telah hilang. Ini menjadi dalil yang jelas atas kuatnya kebolehan melakukan fasakh nikah dikala seorang suami kesulitan memberikan nafkah dan pakaian. Inilah pendapat Imam Malik dan Imam Asy Syafi’i. (Tafsir Al Qurthubi, jilid. 5, hal. 169)

Kewajiban nafkah telah ijma’ (konsensus), walau istri kaya dan berpenghasilan sendiri, seperti yang dikatakan Imam Ibnu Hazm Rahimahullah:

وَاتَّفَقُوا أَن الْحر الَّذِي يقدر على المَال الْبَالِغ الْعَاقِل غير الْمَحْجُور عَلَيْهِ فَعَلَيهِ نَفَقَة زَوجته الَّتِي تزَوجهَا زواجا صَحِيحا إذا دخل بهَا وَهِي مِمَّن تُوطأ وَهِي غير ناشز وَسَوَاء كَانَ لَهَا مَال أَو لم يكن

Para ulama sepakat bahwa laki-laki yang merdeka (bukan budak) yang memiliki harta, baligh, aqil, dalam kondisi tidak ada halangan, wajib memberikan nafkah untuk istrinya yang dinikahi dalam ikatan pernikahan yang sah, dia sudah menggaulinya, baik istrinya orang berharta atau tidak. (Maratibul Ijma’, hal. 79)

3. Sudah dijawab di atas ya.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doa mendapatkan anak yang salih

Tips Agar Anak Sholeh dan Sholehah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya ibu 2 anak. Umur anak saya paling besar 2,5 tahun. Saya ingin sekali anak-anak saya menjadi sholihah khususnya menjadi hafidzah. Setiap hari sudah saya contohkan mengaji, saya ajarkan doa sehari-hari. Saya ajak dia ikut shalat. Semata-mata agar mereka terbiasa melihat lalu ikut andil didalamnya. Tapi ustadz/ustdzah apakah bisa terciptanya anak yang sholihah khusunya menjadi hafidzah sedangkan orang tuanya masih tinggalkan shalat, tidak mengaji (hanya istri yang mengaji)?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setiawan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Mendidik anak sholeh dan sholehah adalah tugas bersama ayah dan bunda. Tidak bisa beban mendidik anak sholeh dan sholehah hanya diberikan kepada Ibu saja. Dalam kehidupan modern ini, tantangan untuk mendidik anak semakin besar. Betapa tidak, tayangan media elektronik, internet, media cetak banyak yang mengajarkan budaya yang jauh dari nilai-nilai Islam. Sungguh suatu hal yang tidak kita inginkan bukan, jika anak-anak kita menjadi orang yang durhaka pada kita, bahkan menjadi orang yang mengingkari sunnah serta menentang syariat dari Nya. Naudzabillah min dzalik

Allah SWT akan memberikan keutamaan mendidik anak berupa pahala amal jariyah bagi orang tua yang dapat mendidik anak menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Tentunya hal tersebut menjadi dorongan motivasi tersendiri dalam mendidik anak. Semangat saja tidak cukup, perlu bekal yang cukup dalam mendidik anak sholeh dan sholehah. Diantara point-point dalam mendidik anak sholeh dan sholehah adalah pembinaan keimanan, pembinaan dan pembiasaan ibadah, pendidikan akhlaq, pembentukan jiwa, pembentuka intelektual serta pembinaan interaksi sosial.

1. Membina keimanan anak.

Dalam mendidik anak sholeh dan sholehah, pembinaan keimanan dilakukan dalam dua cara yaitu, mengajarkan keyakinan bahwa Allah senantiasa melihat perbuatan kita dan menanamkan rasa takut kepada Allah SWT. Dengan keyakinan bahwa Allah SWT melihat perbuatan setiap hamba, diharapkan anak akan selalu berbuat sesuai dengan perintah Nya. Tentunya orang tua harus dapat membangun pemikiran yang argumentatif sesuai dengan taraf berikir anak mengenai keberadaan Sang Pencipta terlebih dahulu. Dengan adanya rasa takut terhadap Allah SWT diharapkan anak akan senantiasa menjauhi perbuatan dosa dimanapun dia berada, dalam keramaian maupun sendirian.

2. Membiasakan beribadah pada anak.

Patutlah kita mendengar perkataan Dr. Said Ramadhan al-Buthi dalam mendidik anak sholeh dan sholehah, “Agar akidah anak tertanam kuat dalam jiwanya, ia harus disirami dengan air ibadah dengan segala ragam dan bentuknya. Dengan begitu akidahnya akan tumbuh kokoh dan tegar dalam menghadapi terpaan badai dan cobaan kehidupan.”

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang anak tumbuh dalam ibadah sampai ajal menjemput dirinya, melainkan Allah akan memberi dia pahala setara dengan 99 pahala shiddiq (orang-orang yang benar dan jujur).”

Mengajarkan anak ibadah dilakukan dengan mengajak anak melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan kemudian ibadah-ibadah sunnah. Seperti sholat wajib 5 waktu, puasa ramadhan, sholat sunnah dhuha, puasa senin kamis dan sebagainya. Orang tua harus pandai memberikan keteladanan dalam mengajarkan ibadah kepada anak-anak.

3. Pendidikan akhlak dan adab.

Akhlak adalah perangai yang dibentuk. Anak-anak mencontoh akhlaq dari lingkungan sekitarnya, terutama orang tua. Dalam mendidik akhlaq anak sholeh dan sholehah peranan teladan orang tua sangat besar. Orang tua harus mampu menjadi contoh pertama dalam mengajarkan akhlaq terpuji seperti jujur, bersabar, rendah hati dan sebagainya. Orang tua juga harus bisa mendeskripsikan akhlaq-akhlaq tercela kepada anak, sehingga anak dapat menghindarinya. Orang tua terkadang harus tegas ketika anak melakukan akhlaq tercela, terutama jika hal tersebut terjadi berulang kali. Rasulullah SAW pernah memberi sanksi kepada anak yang mengkhianati amanah dengan menjewer telinga anak tersebut. Imam An-Nawawi menyebutkan dalam kitab Al-Adzkar: Kami meriwayatkan dalam kitab Ibnu Sinni dari Abdullah bin Bisir ash-Shahabi ra. Yang berkata: “Ibuku pernah menyuruh aku menemui Rasulullah saw. dengan membawa setandan anggur. Namun, aku memakan sebagian anggur itu sebelum menyampaikan-nya kepada Rasulullah saw. Tatkala aku sampai di hadapan Rasulullah saw., beliau menjewer telingaku sambil berkata, ‘Wahai yang mengkhianati janji.’”

4. Pembentukan jiwa.

Pembentukan jiwa anak-anak dapat dilakukan dengan memberikan perhatian dan kasih sayang, seperti belaian, bermain dan bercanda bersama, menyatakan rasa sayang secara lisan, memberi hadiah dan sebagainya. Contoh pembentukan jiwa dalam mendidik anak sholeh dan sholehah pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya Al-Adab al-Mufrad bahwa Abu Hurairah ra. Berkata, “Saya mendengar dengan kedua telingaku dan melihat dengan kedua mataku, Rasulullah saw. memegang dengan kedua tangannya kedua telapak cucunya, Hasan dan Husain. Kedua telapak kaki mereka di atas telapak kaki Rasulullah saw. Kemudian beliau berkata, ‘Naiklah.’ Lalu keduanya naik hingga kedua kaki mereka berada di atas dada Rasulullah saw. Kemudian beliau berkata, ‘Bukalah mulutmu.’ Kemudian beliau menciumnya dan berkata, ‘Ya Allah saya mencintainya dan sungguh saya mencintainya.’”

5. Pembentukan intelektual anak.

Allah SWT meninggikan derajat ahli ilmu dibandingkan dengan ahli ibadah. Orang tua bisa memberikan motiavasi menuntut ilmu, baik itu ilmu agama maupun sains dan teknologi. Untuk ilmu agama status mempelajarinya adalah fardhu ain, sedangkan untuk sains dan teknologi statusnya adalah fardhu kifayah. Ketika mendidik anak sholeh dan sholehah, orang tua harus dapat membimbing anak-anak memahami hukum-hukum Islam, mencarikan guru yang tepat, mendorong anak mempelajari bahasa Arab dan bahasa asing lain yang diperlukan, mengarahkan anak sesuai minat ilmiahnya.

Kita mungkin pernah mendengar kisah Imam Syafii yang dapat menghafal Al Quran di usia belia (7 tahun). Hal tersebut tidak lepas dari peran Ibu Imam Syafii kecil dalam mengajarkan Islam kepada beliau, memilihkan guru yang tepat dan memotivasinya. Hingga akhirnya dalam usia belasan tahun Imam Syafii sudah dapat memberikan fatwa dan pengajaran.

6. Mengajarkan interaksi dengan masyarakat.

Dalam mendidik anak sholeh dan sholehah, mengajarkan berinteraksi dengan masyarakat akan menimbulkan kepedulian dan tanggung jawab anak terhadap persoalan umat. Anak dapat diajak untuk melihat kehidupan petani dan diajak untuk peduli dengan mereka. Anak juga bisa sembari diajarkan hukum-hukum Islam tentang pergaulan ketika berinteraksi dengan masyarakat. Diajarkan tentang pertemanan yang baik. Pahamkan juga kepada anak mengenai peran mereka dalam membantu masyarakat sehingga anak-anak kita tidak menjadi generasi yang apatis.

Itulah 6 cara mendidik anak sholeh dan sholehah dengan tepat dalam menghadapi dunia modern saat ini. Mendidik anak memang tidaklah mudah, butuh kesabaran dan ketelatenan. Maka perlu komunikasi yang baik antara ayah dan agar tanggung jawab membimbing anak-anak tidak hanya dipikul oleh bunda saja. Mari duduk bersama dan bicarakan perihal proyek besar ini.

Ayah dan bunda yang sholeh bisa menjadi sebab anak menjadi sholeh. Oleh karena itu suri tauladan dari kedua orang tua adalah keharusan. Namun hidayah tetap milik Allah, sebagaimana anak dan istri nabi Luth yang kafir di bawah asuhan seorang nabi. Dan Asiah yang beriman di bawah naungan Firaun. Maka selain upaya diatas yang kita lakukan, doa kepada Allah selalu kita dawamkan.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678