Hadiah dari Non Muslim

Menyikapi Hadiah Non Muslim kepada Kita

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz…
Bagaimana sikap terbaik dalam islam, terhadap tentangga kita yang akan merayakan natal
Mereka tetangga yang baik dan santun
Ketika lebaran, mereka berkunjung ke rumah kami.
Terkadang memberi makanan, apa boleh kami makan?
Kami belum tau makanan itu pesan atau buat sendiri, dan tidak tau apakah mereka mengkonsumsi yang diharamkan dalam islam.
Mohon penjelasan ustadz.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d.

Hendaknya tetap berbuat baik dalam momen yang lain, yang bukan ritual keagamaan.

Menerima hadiah dari mereka saat hari raya mereka, selama makanan halal, barang halal, bukan makanan acara ritualnya, tidak apa-apa.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mengatakan:

أما قبول الهدية من الكافر في يوم عيده ، فلا حرج فيه ، ولا يعد ذلك مشاركة ولا إقرارا للاحتفال ، بل تؤخذ على سبيل البر ، وقصد التأليف والدعوة إلى الإسلام ، وقد أباح الله تعالى البر والقسط مع الكافر الذي لم يقاتل المسلمين ، فقال : ( لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ) الممتحنة/8
لكن البر والقسط لا يعني المودة والمحبة ؛ إذ لا تجوز محبة الكافر ولا مودته ، ولا اتخاذه صديقا أو صاحبا

Ada pun menerima hadiah dari mereka saat hari rayanya, tidak apa-apa. Itu tidak dinilai ikut serta dalam perayaan dan menyetujui acara mereka.

Bahkan itu bisa dijadikan sarana kebaikan dan ajakan kepada Islam. Allah Ta’ala telah membolehkan berbuat baik dan adil kepada orang yang tidak memerangi kaum muslimin:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al Mumtahanah: 8)

Tetapi berbuat baik dan adil bukan berarti menumbuhkan kasih sayang dan Mahabbah (cinta), sebab kasih sayang dan cinta terlarang kepada orang kafir, serta terlarang menjadikan sebagai sahabat dekat.
(Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 85108)

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan:

وأما قبول الهدية منهم يوم عيدهم فقد قدمنا عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أنه أتي بهدية النيروز فقبلها

Ada pun menerima hadiah dari mereka saat hari raya mereka, dulu kami telah jelaskan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu bahwa dia diberikan hadiah pada hari raya Nairuz, dan dia menerimanya (Iqtidha Shirath al Mustaqim, Hal. 251)

Ibnu Abi Syaibah menceritakan:

أن امرأة سألت عائشة قالت إن لنا أظآرا [جمع ظئر ، وهي المرضع] من المجوس ، وإنه يكون لهم العيد فيهدون لنا فقالت : أما ما ذبح لذلك اليوم فلا تأكلوا ، ولكن كلوا من أشجارهم

Bahwa ada seorang wanita bertanya kepada Aisyah, katanya: “Kami memiliki wanita-wanita yang menyusui anak kami, dan mereka Majusi, mereka memberikan kami hadiah.”

Aisyah menjawab: “Ada pun makanan yang disembelih karena hari raya itu (makanan ritual), maka jangan kalian makan, tetapi makanlah yang sayuran.” (Ibid)

♦️Bagaimana kalau kita yg memberikan hadiah?

Jika tidak terkait hari raya tidak apa-apa, bahkan bagus untuk mendakwahkan mereka. Dahulu Aisyah Radhiyallahu ‘Anha membawakan makanan kepada ibunya yang masih musyrik, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membolehkannya.

Tapi pemberian itu jika terkait hari raya, itu tidak boleh.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menjelaskan:

يجوز للمسلم أن يهدي للكافر والمشرك ، بقصد تأليفه ، وترغيبه في الإسلام ، لاسيما إذا كان قريبا أو جارا ، وقد أهدى عمر رضي الله عنه لأخيه المشرك في مكة حلة (ثوبا) . رواه البخاري (2619)

Boleh bagi seorang muslim memberikan hadiah kepada orang kafir dan musyrik, dengan tujuan mengikat hatinya dan mengajaknya kepada Islam. Apalagi jika dia kerabat dekat atau tetangga. Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu pernah memberikan hadiah kepada saudaranya yang musyrik di Mekkah. (HR. Bukhari no. 2619)

لكن لا يجوز أن يهدي للكافر في يوم عيد من أعياده ، لأن ذلك يعد إقرارا ومشاركة في الاحتفال بالعيد الباطل

Tapi tidak boleh memberikan hadiah kepada orang kafir di hari raya mereka. Sebab itu dihitung sebagai ikut serta dan pengakuan atas acara hari raya mereka yg batil.

وإذا كانت الهدية مما يستعان به على الاحتفال كالطعام والشموع ونحو ذلك ، كان الأمر أعظم تحريما ، حتى ذهب بعض أهل العلم إلى أن ذلك كفر

Jika hadiah itu dapat membantu perayaan tersebut baik berupa makanan, minuman, dan lainnya. Maka, itu keharamannya besar, sampai ada sebagian ulama berpendapat ini adalah kafir.

(Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 85108)

♦️Jadi, kesimpulannya:

– Secara umum menerima atau memberi hadiah kepada non muslim boleh, selama barang dan makanan halal

– Termasuk menerima hadiah dari mereka saat hari raya mereka, selama harta dan makanan halal, bukan barang dan makanan ritual. Ini tidak termasuk ikut membantu acara mereka.

– Kecuali memberikan hadiah saat mereka hari raya, ini terlarang. Sebab termasuk membantu mensukseskan acara mereka.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Quran dan Hadits

Kedudukan Ulama dalam Islam

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, 1. Bagaimana kedudukan ulama di mata Islam, 2. Ada yang bilang jangan dengarkan ulama, patuh pada Al-Quran dan sunnah saja A_11

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Ustadz : Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Kedudukan ula ma di dalam Islam itu luar biasa. Belajar Islam pun harus melalui ulama. Hanya orang bodoh, aneh, dan sombong, yang tidak memerlukan bimbingan ulama.

Langsung terjun bebas membuka Al-Quran dan As-Sunnah, tanpa guru yang mengajarkannya, adalah kecerobohan. Lihat … Fisika, biologi, kimia, dll, apakah kita paham dengan hanya membaca bukunya tanpa bimbingan ahlinya?

Saya sering jumpai orang orang yang “tidak butuh ulama, cukup Al-Quran dan As-Sunnah”, terjebak pada kesesatan berpikir sendiri.. Tidak mau taklid kepada ulama, tapi dia taklid dengan pikirannya sendiri.. Padahal Al-Quran sendiri memerintahkan untuk bertanya kepada para ulama. As-Sunnah juga memerintahkan agar segala urusan serahkan kepada ahlinya..

▪️Memuliakan, mencintai dan menghormati ulama

Anjuran menghormati, memuliakan, dan mencintai ulama (orang berilmu), sangat banyak, baik Al-Quran dan As-Sunnah. Bahkan Allah memuliakan mereka, maka pantaslah jika manusia memuliakan mereka pula.

Misalnya:

1. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menjadikan mereka sebagai tempat bertanya

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada ahludz dzikri (orang yang mempunyai pengetahuan) jika kamu tidak mengetahui. (Qs. An Nahl: 43)

Berkata Imam Al-Qurthubi Rahimahullah dalam kitab tafsirnya:

وقال ابن عباس: أهل الذكر أهل القرآن وقيل: أهل العلم، والمعنى متقارب

Berkata Ibnu ‘Abbas: “Ahludz Dzikri adalah Ahlul Quran (Ahlinya Al Quran), dan dikatakan: Ahli Ilmu (ulama), makna keduanya berdekatan.” (Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Quran, Juz. 10, Hal. 108, Ihya’ Ats Turats Al ‘Arabi, 1985M-1405H. Beirut-Libanon)

2. Allah Ta’ala membedakan kedudukan ulama dengan lainnya

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُون

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Qs. Az Zumar: 9)

3. Allah Ta’ala menerangkan ulama itu orang yang takut kepada Allah

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Qs. Fathir: 28)

4. Allah Ta’ala mengangkat derajat orang beriman dan berilmu

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al Mujadilah: 11)

Dalam As Sunnah, saya ambil beberapa saja:

5. Bukan Umat Rasulullah mereka yang tidak mengetahui hak-hak ulama

Dari ‘Ubadah bin Ash Shaamit Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

Bukan termasuk umatku, orang yang tidak menghormati orang besar kami (orang tua, pen), tidak menyayangi anak kecil kami, dan tidak mengetahui hak para ulama kami.” (HR. Ahmad No. 22755, Al Bazzar No. 2718, Ath Thahawi dalam Syarh Musykilul Atsar No. 1328, Asy Syaasyi dalam Musnadnya No. 1272. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: Shahih lighairih. Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 22755)

Tiga hal dalam hadits ini yang dinilai “bukan golongan umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,” yakni:

1. Tidak menghormati orang besar/orang tua.

2. Tidak sayang dengan yang kecil

3. Tidak mengetahui hak ulama yang dengan itu dia merendahkannya

Imam Ibnu ‘Asakir memberikan nasihat buat kita, khususnya orang yang merendahkan ulama (karena mungkin merasa sudah jadi ulama sehingga dia berani merendahkannya!

يا أخي وفقنا الله وإياك لمرضاته وجعلنا ممن يغشاه ويتقيه حق تقاته أن لحوم العلماء مسمومة وعادة الله في هتك أستارمنتقصيهم معلومة وأن من أطلق لسانه في العلماء بالثلب ابتلاه الله تعالى قبل موته بموت القلب فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم

Wahai saudaraku –semoga Allah memberikan taufiq kepada saya dan anda untuk mendapatkan ridhaNya dan menjadikan kita termasuk orang yang bertaqwa kepadaNYa dengan sebenar-benarnya- dan Ketahuilah, bahwa daging–daging ulama itu beracun, dan sudah diketahui akan kebiasaan Allah dalam membongkar tirai orang-orang yang meremehkan mereka, dan sesungguhnya barang siapa siapa yang melepaskan mulutnya untuk mencela ulama maka Allah akan memberikan musibah baginya dengan kematian hati sebelum ia mati: maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (Imam An Nawawi, At Tibyan, Hal. 30. Mawqi’ Al Warraq)

7. Allah Ta’ala umumkan perang kepada orang yang memusuhi para ulama

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

Barang siapa yang memusuhi waliKu, maka aku telah umumkan peperangan kepadanya .. (Hr. Al Bukhari No. 6021)

Para ulama, amilin (orang yang beramal shalih), shalihin, zahidin (orang yang zuhud), adalah para wali-wali (kekasih) Allah Ta’ala. Memusuhi mereka, maka Allah Ta’ala proklamirkan perang buat buat musuh-musuh mereka.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Tidur Pagi Menghalangi Rezeki

Benarkah Jika Istri Bekerja Maka Rezeki Suami Jadi Berkurang?

Pertanyaan

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, apa benar rezeki istri itu ada di suami sehingga istri tak perlu bekerja? Karena kalau istri bekerja maka rezeki suami akan berkurang yg mana rezeki istri sudah Allah berikan langsung melalui istrinya yg bekerja. Sehingga kalau mau rezeki suami bertambah istri tdk perlu bekerja. Apa benar bgitu Ust? Mohon pencerahannya Ust, jazakumullah khair🙏. A/01

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim..

Konsep rezeki itu jelas, semua hamba telah dijamin rezekinya. Rezeki suami tidak ada istilah “berkurang” gara-gara istri bekerja. Karena masing-masing sudah Allah Ta’ala haknya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَيَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلّٞ فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ

Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

(QS. Hud, Ayat 6)

Dalam hadits:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ

‘Sesungguhnya seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya setelah diproses selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Setelah empat puluh hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal; rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya.’

(HR. Muslim no. 2643)

Lalu, rezeki juga tidak bermakna uang atau benda. Tapi juga kesehatan, anak yang shalih, suami/istri yg shalihah, tetangga yang baik, diringankannya masalah hidup, dimudahkan untuk ibadah, dan semua hal yang kebaikannya bisa kita rasakan. Memahami bahwa rezeki hanya pada penghasilan dan harta, inilah yang paling sering membuat manusia sulit bersyukur.

Kemudian, untuk istri yang bekerja, ini harus dirinci dulu baik dari sisi motivasi dan jenis pekerjaannya. Dari sisi motivasi, istri bekerja bukanlah utk menjadi penanggung nafkah, sebab nafkah adalah kewajiban suami. Sekaya apa pun istri, suami tetap wajib nafkah, kewajiban itu tidak hilang karena istrinya kaya, dan ini telah menjadi kesepakatan para fuqaha. Istri bekerja adalah untuk aktualisasi diri, dan sekadar membantu suami jika memang itu diperlukan, sekaligus antisipasi dan belajar mandiri jikalau suami wafat muda sementara anak-anak masih butuh biaya. Sehingga tidak menjadi beban bagi orang lain.

Dari sisi jenis, hendaknya pekerjaan yang halal, tetap menjaga adab pergaulan, menjaga adab berpakaian, dan izin suami. Jika mampu pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah, sebab pada aslinya wanita itu memang di rumah dan itu adalah jihad baginya.

Dalam sebuah riwayat:

عَنْ أَنَسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: جِئْنَ النِّسَاءُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَهَبَ الرِّجَالُ بِالْفَضْلِ وَالْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى، فَمَا لَنَا عَمَلٌ نُدْرِكُ بِهِ عَمَلَ الْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ قَعَدَ -أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا -مِنْكُنَّ فِي بَيْتِهَا فَإِنَّهَا تُدْرِكُ عَمَلَ الْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ”

Anas bin Malik bercerita bahwa kaum wanita mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam: _”Wahai Rasulullah, kaum laki-laki memiliki keutamaan dengan jihad fisabilillah, lalu bagaimana kami mendapatkan nilai jihad fisabilillah?”_ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: _”Siapa di antara kalian yang berdiam di rumahnya – atau yang seperti itu- maka itu setara dengan amalnya para mujahidin fisabilillah.”_

(Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 6/409)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Sabar

Ridho Terhadap Ujian

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, saya pernah dengar kalau tidak khilaf bahwa setiap hamba Allah yang mendapat ujian dari Allah baik ybs ridho atau tidak ridho akan mendapat kemulian di sisi Allah, tentunya tergantung ybs kalau dia ridho tentunya kemuliaannya akan lebih tinggi tingkatannya begitu sebaliknya.
Yang ingin saya tanyakan apakah ini benar ustadz trims wassalam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Tidak seperti itu, haditsnya seperti ini:

إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah Ta’ala cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan Allah, namun barangsiapa yang murka (tidak ridha) maka baginya kemurkaan Allah.

(HR. At Tirmidzi no. 2396, dari Anas bin Malik. Imam at Tirmidzi berkata: hasan)

Maka, jika seseorang mendapat ujian lalu dia tidak ridha baik diekspresikan secara kasar seperti mengutuk keadaan, memaki takdir, atau dengan cara pasif seperti kebencian, maka orang-orang seperti ini mendapatkan murkanya Allah Ta’ala. Kemuliaan hanya bagi mereka yang tulus dan ikhlas terhadap takdirNya.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Maha Mengetahui

Sering Mendapat Bisikan Masa Depan

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, saya dari kecil sering mendengar bisikan yang terkadang membisikan tentang masa depan. Saya bahkan terkadang bisa “melihat” seperti gambaran masa depan. Saya sudah menjauhi hal-hal itu setelah tahu itu bukanlah hal baik dan bukan dari Allah SWT. Kadang hal itu masih menggoda saya dengan bisikan-bisikan kecil. Apa yang harus saya lakukan?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Peristiwa yang terjadi di masa depan merupakan perkara gaib. Tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Taala. Firman Allah Taala:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ (سورة النمل: 65)

“Katakanlah (Muhammad), tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.”

Bahkan Rasulullah saw tidak mengetahui secara terperinci apa yang akan terjadi kemudian, buktinya beliau pernah terluka dan mendapatkan perlakuan buruk. Seandainya beliau tahu apa yang akan terjadi, pastilah beliau akan menghindarinya. Sebagaimana firman Allah Taala yang mengabadikan ucapan beliau dalam Al-Quran:

قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ
السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (سورة الأعراف: 188)

Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Memang ada beberapa perkara yang beliau sampaikan terkait kejadian yang akan datang, seperti tentang tanda-tanda hari kiamat, atau peristiwa hari kiamat itu sendiri. Semua itu tak lain bersumber dari wahyu yang Allah sampaikan kepada para nabi sebagai bentuk pengecualian sekaligus sebagai mukjizat para Rasul untuk membuktikan kenabiannya. Firman Allah Taala,

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا . إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (سورة الجن: 26-27)

“Dia Mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.”

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan berakhirnya kenabian, berarti berakhir pula wahyu, tidak ada lagi orang yang menerima wahyu. Karenanya, jika ada seseorang merasa mendapatkan bisikan-bisikan yang menghampirinya atau membisikkan suatu peristiwa yang bakal terjadi, maka hal tersebut adalah satu di antara dua perkara; kondisi kejiwaan yang tidak stabil atau gangguan jin.

Tampaknya penanya sudah menyadari hal ini, dan ini adalah sikap yang bagus. Jangan sampai seseorang terpedaya dalam hal ini lalu dia mengaku memiliki kelebihan-kelebihan tertentu yang akhirnya menjadi alat untuk membangga-banggakan dirinya apalagi sampai digunakan melakukan berbagai penyimpangan syariat atau untuk meraih keuntungan duniawi.

Beberapa langkah dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini;

Pertama: menghadirkan kekuatan diri dengan selalu berzikir kepada Allah dan berdoa dan memohon pelindungan kepadaNya. Khususnya perlindungan dari godaan dan bisikan setan. Zikir pagi dan petang sangat sarat dengan ayat-ayat dan doa yang dapat berikan kita perlindungan. Silakan dirutinkan bacaan tersebut setiap hari.

Kedua: minta bantuan orang lain untuk mengatasi apa yang dihadapi. Bisa dengan minta bantuan para peruqyah untuk membacakan ruqyah atas dirinya, kalau-kalau memang ada gangguan jin yang dihadapi. Bisa juga minta bantuan psikiater untuk konsultasi masalah-masalah kejiwaan, boleh jadi ada perkara-perkara kejiwaan yang patut diterapi.

Ketiga: sibukkan diri dengan agenda-agenda positif, sehingga datangnya bisikan-bisikan tersebut tidak terlalu mencuri perhatiannya karena dia sibuk dengan berbagai agenda yang sedang dia kerjakan. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Hidup dan Mati Adalah Ujian

Kehidupan Di Alam Barzakh

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya ttg kehidupan alam kubur…ttg detail hal yang akan kira alami nanti..malam pertama dan seterusnya.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim…

Ketika manusia wafat, tidak langsung berjumpa alam akhirat dengan berbagai tahapannya, tetapi mereka akan melalui alam transisi antara dunia dan akhirat, yaitu alam barzakh. Barzakh secara bahasa artinya pembatas/dinding.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمِن وَرَآئِهِم بَرۡزَخٌ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُون

Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.

(QS.Al-Mu’minun, Ayat 100)

Sering pula manusia menyebutnya dengan alam kubur, krn umumnya manusia wafat dikubur walau kenyataannya ada juga agama tertentu yang mengkremasi bahkan melempar ke laut, atau hanya disimpan di peti. Namun prinsipnya semuanya sama-sama melewati alam barzakh.

Dalam beberapa hadits Shahih, banyak diceritakan tentang alam barzakh, salah satu sama lain saling melengkapi.

Di antaranya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan secara garis besar kehidupan alam barzakh:

“Jika suatu jenazah sudah diletakkan didalam kuburnya dan teman-temannya sudah berpaling dan pergi meninggalkannya, dia mendengar gerak langkah sandal sandal mereka, maka akan datang kepadanya dua malaikat yang keduanya akan mendudukkannya seraya keduanya berkata, kepadanya:

“Apa yang kamu komentari tentang laki-laki ini, (yaitu Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam) ?”

Maka jenazah itu menjawab: “Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusanNya” Maka dikatakan kepadanya: “Lihatlah tempat dudukmu di neraka yang Allah telah menggantinya dengan tempat duduk di surga”.

Nabi Shallallahu’alaihiwasallam selanjutnya berkata,: “Maka dia dapat melihat keduanya”.

Adapun (jenazah) orang kafir atau munafiq akan menjawab: “Aku tidak tahu, aku hanya berkata, mengikuti apa yang dikatakan kebanyakan orang”.

Maka dikatakan kepadanya: “Kamu tidak mengetahuinya dan tidak mengikuti orang yang mengerti”.

Maka kemudian dia dipukul dengan palu godam besar terbuat dari besi diantara kedua telinganya sehingga mengeluarkan suara teriakan yang dapat didengar oleh yang ada di sekitarnya kecuali oleh dua makhluq (jin dan manusia).

(HR.Bukhari no. 1252)

Ada beberapa informasi dalam hadits ini:

– Di alam barzakh manusia bisa mendengar apa yang dibumi secara terbatas dengan izin Allah Ta’ala

– Semua manusia akan mendapat pertanyaan dari dua malaikat

– Jika bisa menjawab yaitu org beriman, maka dia selamat dan mendapatkan nikmat kubur. Jika tidak bisa menjawab yaitu org kafir dan munafik maka akan dalam siksa kubur.

– Nikmat atau siksa tersebut terus berlangsung sampai datangnya kiamat.

Tugas kita yang lebih utama adalah menyiapkan diri untuk menghadapi fase itu, dengan melakukan berbagai amal shalih.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Memberi Salam

Hukum Mengucapkan Salam Pembukaan Semua Agama

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya apakah mengucapkan salam pembukaan semua agama dlm suatu acara Kantor menyebabkan syahadat Kita mjd gugur?A/43

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Bismillahirrahmanirrahim..

Hal ini perlu dirinci..

Jika pengucapan Itu dibarengi PENGAKUAN bahwa agama mereka juga BENAR, maka itu perbuatan yang bisa membatalkan keislaman. Sebagaimana yang dikatakan Al Qadhi ‘Iyadh dan Imam An Nawawi.

Imam An Nawawi Rahimahullah, seorang pemuka madzhab Syafi’i, mengatakan:

وَأَنَّ مَنْ لَمْ يُكَفِّرْ مَنْ دَانَ بِغَيْرِ الْإِسْلَامِ كَالنَّصَارَى، أَوْ شَكَّ فِي تَكْفِيرِهِمْ، أَوْ صَحَّحَ مَذْهَبَهُمْ، فَهُوَ كَافِرٌ، وَإِنْ أَظْهَرَ مَعَ ذَلِكَ الْإِسْلَامَ وَاعْتَقَدَهُ

Orang yang tidak mengkafirkan orang yg beragama selain Islam, seperti Nasrani, atau meragukan kekafirannya, atau membenarkan madzhab mereka, maka orang itu kafir, walau dia menampakkan keislaman dan meyakininya.

(Raudhatuth Thalibin,10/70)

Tapi, jika dia mengucapkan salam-salam agama lain, TANPA MEYAKINI APA-APA, hanya basa basi, maka ini tasyabbuh bil kuffar menyerupai orang kafir dalam hal yang khas sebuah agama, yaitu doa. Sebab, salam itu doa dan doa itu ibadah.

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk kaum tersebut.”  (HR. Abu Daud No. 4031, Ahmad No. 5115. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Iraqi, dll)

Imam Al Munawi dan Imam Al ‘Alqami menegaskan hal-hal yang termasuk penyerupaan dengan orang kafir: “Yakni berhias seperti perhiasan lahiriyah mereka, berjalan seperti mereka, berpakaian seperti mereka, dan perbuatan lainnya.” (‘Aunul Ma’bud, 11/51)

Maka, cukuplah dengan salam menurut Islam sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengucapkan salam Islam kepada kumpulan sahabatnya yang sedang bersama orang munafiq dan kafir di Madinah, sebagaimana hadits Shahih Bukhari.

Imam An nawawi Rahimahullah menjelaskan:

وَيَجُوزُ الِابْتِدَاءُ بِالسَّلَامِ عَلَى جَمْعٍ فِيهِمْ مُسْلِمُونَ وَكُفَّارٌ أَوْ مُسْلِمٌ وَكُفَّارٌ وَيَقْصِدُ الْمُسْلِمِينَ لِلْحَدِيثِ السَّابِقِ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَلَّمَ عَلَى مَجْلِسٍ فِيهِ أَخْلَاطٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُشْرِكِينَ

“Dibolehkan memulai salam kepada kumpulan yang di dalamnya terdapat kaum muslimin dan kafir, atau seorang muslim dan kumpulan kaum kafir, dengan maksud untuk kaum muslimin, berdasarkan hadits sebelumnya bahwa Nabi ﷺ. pernah salam kepada majelis yang bercampur atara muslimin dan musyrikin.”

(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 14/145

Demikian. Wallahu a’lam
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Suami yang Bersama Istri di Surga

Dengan Siapa Wanita Hidup di Surga?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya
Assalamu’alaikum… Mba mau tanya ke ustadz, apakah suami istri yg salah satu diantaranya meninggal duluan. Lalu yg masih hidup menikah lagi karena berbagai alasan. Apakah kelak bila sama-sama masuk surga akan dipertemukan kembali menjadi suami istri? 🙏 A/34

Jawaban

Oleh: Ustadz : Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Umumnya ulama mengatakan wanita akan hidup di surga, bersama laki-laki terakhir yang dia nikahi.

Dari Abu Ad Darda Radhiallahu ‘Anhu: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

أيما إمرأة توفي عنها زوجها فتزوجت بعده فهي لآخر أزواجها

Perempuan mana pun yang suaminya wafat, lalu dia nikah lagi setelah itu, maka dia milik suami terakhirnya (di akhirat).

(HR. Ath Thabarani dalam Al Awsath No. 3130. Hadits ini hasan menurut Imam Al Munawi, At Taysir, 1/839. Shahih menurut Syaikh Al Albani, Shahihul Jami’ No. 2704)

Imam Al Munawi Rahimahullah mengatakan:

قالوا وهذا هو أحد الأسباب المانعة من نكاح زوجات النبي صلى الله عليه وسلم بعده لما أنه سبق أنهن زوجاته في الجنة

Mereka (para ulama) mengatakan, inilah salah satu sebab terlarangnya bagi istri-istri Nabi ﷺ menikah lagi setelah wafatnya nabi, sebab mereka akan menjadi istri-istrinya di surga.

(Faidhul Qadir, 3/195)

Pendapat lain adalah dia akan bersama suami yang paling baik akhlaknya, ada pula yang mengatakan dia akan bebas memilih dengan suami yang mana dia mau hidup bersama. Tp, dua pendapat ini tidak ditopang dasar yang kuat.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Wafat Sebelum Baligh

Bayi Meninggal Apa Kena Hisab?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah bayi usia 1 tahun meninggal di hisab juga apa engga?

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Anak kecil yang belum baligh dan dia wafat, maka dia masih berada dalam fitrahnya, yaitu wafat dalam Islam, dan tanpa hisab dan langsung ke surga. Sebab, beban syariat belum ditanggung olehnya. Tidak mungkin anak-anak yang belum tahu apa-apa itu dihisab.

Allah Ta’ala beriman:

وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Rabbmu tidaklah menzalimi siapa pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)

Para ulama Ahlus Sunnah telah sepakat anak kecil yang wafat dalam keadaan belumm baligh, dia langsung masuk surga.

اتفق أهل العلم على أن مصير أطفال المسلمين – إذا ماتوا بعد نفخ الروح وقبل البلوغ – هو الجنة ، كرامةً من الله تعالى لهم ولآبائهم ، ورحمةً منه سبحانه الذي وسعت رحمته كل شيء

Para ulama sepakat bahwa anak kecil kaum muslimin yang setelah kehidupannya sejak ditiupkan ruh dan wafat sebelum baligh, Maka dia di surga. Itu merupakan kemuliaan dari Allah atas keislaman ayah-ayah mereka. Itu adalah Rahmat dariNya yang begitu luas atas segala hal. (Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 117432)

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Usia Penghuni Surga

Usia Para Penghuni Surga

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah benar jika di dunia bayi meninggal tapi pas di akhirat udah dewasa?mohon penjelasannya ustadz?

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Ya, di surga usia penghuninya kisaran 30-33 tahun

يَدْخُلُ أَهْلُ الجَنَّةِ الجَنَّةَ جُرْدًا مُرْدًا مُكَحَّلِينَ أَبْنَاءَ ثَلَاثِينَ أَوْ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ سَنَةً

Penduduk surga akan masuk surga dalam keadaan jurdan (tidak berbulu), murdan (tidak berjenggot), bercelak, di usia 30 atau 33 tahun. (HR. Ahmad 7920, At Tirmidzi 2545. Syaikh Ahmad Syakir mengatakan: isnadnya Shahih)

Baik yang di dunia wafat dalam keadaan tua, muda, remaja, anak kecil, bayi, .. semua dalam usia kisaran 30 atau 33.

Mereka saling mengenal kerabatnya, keluarganya, ayah kepada anak dan sebaliknya, suami kepada istri dan sebaliknya .., semua dengan mudah. Allah Ta’ala yang memudahkan.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678