Tadhiyah

Tadhiyah di Jalan Dakwah

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Tadhiyah adalah sunatullah kehidupan.
Apalagi bila sudah mengazamkan dirinya untuk menegakkan kebenaran maka apapun rasa yang hadir tentu akan diabaikan.
Baginya itulah romantisme yang menjadi bagian dari perjalanan.
Dan akan membawanya menuju indahnya hidup di keabadian.

Lelah, letih, sakit, bahkan sakit akan dirasakan.
Panas, dingin, bahkan terik matahari pun tak dihiraukan.
Semangat yang membara ada dalam jiwa mereka.
Hingga langkahnya pun senantiasa gegap gempita.

“Sekali lagi…
Amanah terembankan pada pundak yang semakin lelah. Bukan sebuah keluhan, ketidakterimaan..
keputusasaan!
Terlebih surut ke belakang.
Ini adalah awal pembuktian. Siapa diantara kita yang beriman.
Wahai diri sambutlah seruanNya…
Orang-orang besar lahir karena beban perjuangan…
Bukan menghindar dari peperangan.“
(K.H. Rahmat Abdullah)

Malu lah jika diri mudah mengeluh.
Malu lah jika jiwa tak lagi meneguh.
Malu lah jika kemalasan mulai tumbuh.
Dan malu lah jika Tekad mulai meluruh.

Bangkitlah untuk menjadi pejuang.
Jangan pernah mundur dari medan perang.
Lawan musuh agar tunggang langgang.
Berhasratlah untuk menjadi pemenang.

Yakinlah Allah bersama orang beriman.
Mati syahid atau pulang membawa kemuliaan.
‘Isy karimah aw muth syahidan.

Wallahu a’lam bisshawwab

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jalan Dakwah

Kader Dakwah Tak Kan Pernah Merasa Lelah

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Hari terus berlalu, waktu pun terus melaju sementara diri masih saja duduk terpaku.
Ada rasa kemalasan yang tak menentu, membuat diri enggan segera bergerak menuju seruan Rabb Sang Maha Penentu.

Kemungkinan itu bisa saja terjadi pada para kader dakwah.
Ada semangat yang mengendur untuk menunjukkan kiprah.
Terjeda oleh masalah pribadi yang semakin membuat resah.
Hingga terbengkelai segala amanah.

Bila sampai keadaan yang demikian.
Maka segera mengingat akan kematian.
Agar hati seolah diingatkan
Hingga menyadari segala kesalahan.

Jiwa pejuang harus senantiasa dimunculkan di hati sanubari pejuang dakwah. Semangat menggelora harus ada dalam diri pengusung amanah.

Tak kenal futur
Tak kenal mengendur
Apalagi mundur teratur

Jiwa-jiwa senantiasa terisi ruh Rabbani
Langkahnya tak bisa berhenti
Gegap gempita mengusung amanah Ilahi
Baginya surga Allah telah menanti

Ustadz Al Bahy Al Khouly berkata, “Seorang da’i harus dapat merasakan bahwa dakwahnya senantiasa hidup di dalam syarafnya, menyala dalam hatinya, bergejolak di dalam hatinya, sehingga mendorongnya dari sikap istirahat dan kesenangan kepada sikap pergerakan dan perbuatan, serta menyibukkan diri dengannya dari pada dirinya sendiri, anaknya dan hartanya. Ini adalah da’i yang jujur, yang imannya merasakan bahwa dakwahnya berkobar di dalam pandangannya, gerakannya, isyaratnya dan dalam karakteristik yang bercampur dengan air wajahnya. Dia selalu ingat dengan dakwahnya baik ketika tidur maupun terjaga, ketika makan dan diantara keluarganya, ketika diam, dalam bepergian dan dalam perkumpulan-perkumpulannya. Secara keseluruhan, dakwahnya adalah masalah utama yang hadir dalam setiap waktu dalam hidupnya. Ia adalah ruh kehidupannya, intinya, substansinya dan urusan hidupnya baik sampingan maupun ujung kehidupannya.”

Ketegaran, ketangguhan, ketaatan bahkan keshalihan kita dengan para pendahulu sangat jauh rentangnya.
Mereka layak mendapat surga atas perjuangannya.
Sedangkan kita?
Masih jauh untuk bisa menandingi amal mereka.
Usaha yang optimal untuk menjaga semangat yang membara terus ada, hingga layak kita bersanding dengan ara syuhada.
Menapaktilasi perjuangan para pendahulu kita harus sering dilakukan sebagai bahan evaluasi supaya meraih cita-cita yakni hidup mulia.

Wallahu a’lam bisshawwab

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dakwah bil Hikmah

Berdakwah Bil Hikmah

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dakwah itu butuh orang-orang berakhlakul karimah agar mampu menuai berkah.
Dakwah itu butuh manusia-manusia kuat agar geloranya mendahsyat.
Dakwah itu butuh orang-orang yang tulus agar jalan dakwah ini senantiasa lurus.
Dan dalam berdakwah butuh sifat yang jujur agar pelakunya meraih mujur.

Amanah dakwah bukanlah jabatan.
Tidak pula diperjualbelikan.
Amanah dakwah itu disematkan kepada orang yang tepat.
Karena pemberian dari Yang Maha Pemberi selamat.

Bila dakwah sudah ditanggungkan di pundak kita.
Jaga semangat agar tak mudah putus asa.
Jaga lisan agar tak salah berkata.
Jaga hati agar jauh dari durjana.
Dan jaga sikap agar tidak berbuat cela.

Dakwah itu keteladanan.
Bukan hanya pandai berorasi tanpa perbaikan.
Perubahan diri senantiasa dilakukan.
Menempa diri menjadi manusia pilihan.

Berdakwahlah jangan seperti yang biasa orang yahudi lakukan.

Dalam Q.S. Al-baqarah; 44.“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri, padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”

Ayat tersebut menjelaskan bahwasanya kaum Yahudi menyuruh orang lain untuk mengerjakan kebajikan, sedangkan mereka melupakan dirinya sendiri.

Mereka menyuruh orang lain untuk berbuat baik, namun mereka sendiri tidak melakukannya. Itu artinya, terdapat kebathilan antara ucapan dan perbuatan yang mereka lakukan. Itulah yang menjadi pembedaumat Islam dan kaum Yahudi.

Berhati-hati menjadi tabiat agar mendapat jalan selamat.
Jangan seperti lilin yang menerangi orang lain tapi membakar dirinya.

” Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Al Hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (Q.S. An-Nahl: 125)

Innallaha ma’ana

Wallahu a’lam bisshawwab

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jalan Dakwah

Antara Dakwah dan Alwala’ Wal Baro’

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Saat berdakwah, selain menjelaskan kebenaran dan keunggulan aqidah Islam, Rasulullah ﷺ pun tak lupa sampaikan kesesatan para menyembah berhala atau apa saja yg disembah selain Allah. Al-Qur’an pun banyak jelaskan kebatilan tersebut. Inilah jalan dakwah para nabi dan para pewarisnya.

Inilah konsekwensi dari aqidah tauhid. ada yang harus diyakini dan ada yang harus ditolak dan diingkari. Itulah kandungan Laa ilaaha illallahu. Bahkan jika diperhatikan, kalimat tauhid justeru diawali oleh penolakan, Laa ilaaha… tidak ada tuhan selain Allah yabg boleh diyakini, diimani dan ditaati.

Dalam Islam memang dikenal konsep al wala wal baro; Kita bukan hanya dituntut punya loyalitas terhadap keyakinan yang kita pegang, tapi harus diiringi pula dengan pengingkaran terhadap keyakinan yang berbeda. Jadi, menerima kebenaran islam, tapi masih menganggap agama selainnya juga benar, itu tidak diterima dalam Islam.

Konsekwensinya adalah kebatilan dan penyimpangan ajaran selain Islam harus disampaikan, khususnya masalah aqidah. Agar jelas bagi kita bersikap dan ambil posisi.

Ayat yang paling tegas berbicara ttg al wala wal baro adalah surat Al-Baqarah: 256

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah: 256)

“Thagut” adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah.

Inilah keyakinan Islam yang harus dipahami umat Islam sebelum umat agama lain. Sayangnya sekarang ini, jangan umat agama lain, umat Islam sendiri ada yang belum paham soal ini. Alil-alih berusaha dan berperan berikan penguatan aqidah dan keimanan di tengah umat, justeru malah mengaburkan dan melemahkannya.

Bagaimana sikap kita dengan keyakinan agama lain? Ayat di atas surat Al-Baqarah diawali oleh pesan Allah…

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

“Tidak ada paksaan dalam agama…”

Tugas kita hanya memperjelas dan memperkokoh keimanan. Soal penganut agama lain, kita tidak pernah memaksakan mereka untuk ikut. Merekapun harus paham sikap dan keyakinan kita terhadap ajaran mereka.

Bahkan jika mereka menjelaskan keyakinan mereka kepada umat mereka dengan menyebutkan ‘kebatilan’ agama Islam versi mereka atau memberikan label-label kesesatan seperti ‘domba-domba tersesat’, kita selama ini tidak pernah ambil pusing, selama itu mereka sampaikan dalam majlis majlis ilmu mereka. Bahkan itu konsekwensi logis kalau mereka meyakini kebenaran agama mereka. Dan bagi muslim, dikatakan sesat atau bahkan kafir oleh mereka dan menurut agama mereka, justru kita anggap sebagai kebenaran agama ini. Justeru yabg bermasalah adalah kalau kita dianggap sama imannya oleh mereka.

Dalam aspek sosial pun Islam tetap mengajarkan berbuat baik, tidak menzalimi, tidak berkhianat, saling tolong menolong dan perkara-perkara sosial lainnya. Selama tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, serta tidak ada yang terlarang dalam syariat, kita tetap diperintahkan berbuat baik kepada mereka…..

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Lillah

Perjuangan Ini Tak Bertaburkan Bunga

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Jalan dakwah
Begitulah jalan yang telah dipilihkan untuk para pejuang
Jalan dakwah
Itulah jalan yang mengajarkan kepada kita tentang arti berkorban
Di jalan ini, kita mengerti tentang berbagai ujian
Dan di jalan ini, sejatinya kira sedang menapaktilasi kisah para Nabi dan Rasul

Hingga Dr Abdullah Azzam mengatakan dengan tegas,
“Wahai saudara-saudaraku.
Jalan dakwah itu dikelilingi oleh “makaruh” (hal-hal yang tidak disukai), penuh dengan bahaya, dipenjara, dibunuh, diusir dan dibuang. Barangsiapa ingin memegang suatu prinsip atau menyampaikan dakwah, maka hendaklah itu semua sudah ada dalam perhitungannya.

Dan barangsiapa menginginkan dakwah tersebut hanyalah merupakan tamasya yang menyenangkan, kata-kata yang baik, pesta yang besar dan khutbah yang terang dalam kalimat-kalimatnya, maka hendaklah dia menelaah kembali dokumen kehidupan para rasul dan para da`i yang menjadi pengikut mereka, sejak dien ini datang pertama kalinya sampai sekarang ini.”

Kita buka kembali lembaran sejarah
Tentang perjalanan para pengemban amanah
Hidupnya dipenuhi rasa lelah
Tak jarang berjumpa dengan masalah

Kita tahu seperti apa Nabi Musa akan dihabisi oleh Fir’aun
Kita juga paham seperti apa
Nabi Yusuf harus dipenjara walau bukan kesalahannya
Bahkan Rasulullah Muhammad dihina dan dilempari batu kala menegakkan kalimatullah

Saudaraku…
Jika kita merasa berat dan banyak kesulitan
Yakinlah itulah jalan manusia pilihan
Setiap duka derita kan menjadi pahala
Dan setiap kebaikan yang dilakukan kan menjadi jembatan menuju Surga

Hasbunallah wa ni’mal wakil

Wallahu a’lam bisshawwab

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berbuat Kebajikan

Masa Depan Milik Umat Ini

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

Allah Ta’ala berfirman:

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai, dan setelah itu menggantikan rasa takut mereka dengan rasa aman.

(QS. An-Nur, Ayat 55)

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشِّرْ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِالسَّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ وَالدِّينِ وَالنَّصْرِ وَالتَّمْكِينِ فِي الْأَرْض

Dari Ubay bin Ka’b dia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda:

“Berilah kabar gembira kepada umat ini dengan kejayaan, kemuliaan, agama, pertolongan dan kekuasaan di muka bumi.”

(HR. Ahmad no. 20273, Al Hakim dalam Al Mustadrak no. 7862, beliau berkata: Shahih. Disepakati keshahihannya oleh Imam Adz Dzahabi)

ِ عَنْ أَنَسٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ أُمَّتِي مَثَلُ الْمَطَرِ لَا يُدْرَى أَوَّلُهُ خَيْرٌ أَمْ آخِرُهُ

Dari Anas berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan umatku seperti hujan, tidak diketahui (apakah) yang baik pada permulaannya ataukah akhirnya.”

(HR. At Tirmidzi no. 2869, At Tirmidzi berkata: hasan)

Beberapa Pelajaran:

1. Orang beriman dan beramal shalih adalah pewaris sah kekuasaan di muka bumi, yang melalui mereka Allah Ta’ala memberikan manusia kesejahteraan dan keamanan, serta menghilangkan rasa takut.

2. Iman yang benar dan kuat, dan amal shalih yang benar, menjadi syarat yang tidak bisa ditawar untuk kejayaan umat Islam.

3. Iman di sini adalah keimanan yang memunculkan rasa cinta kepada Allah, Rasul, Islam, jihad, dan sesama muslim secara mendalam yang memunculkan pribadi yang rela mati demi kejayaannya, dan menjadikan akhirat adalah tujuan, dunia adalah persinggahan.

4. Amal shalih di sini tidak terhenti pada ibadah ritual, berakhlak baik, dan menghidupkan sunnah, tetapi juga mengumpulkan segenap “sebab-sebab” sunnatullah yang nyata untuk terwujudnya kejayaan. Seperti penguasaan pada ekonomi, militer, media, dan politik.

5. Kekuasaan dan kejayaan pernah dialami umat ini dalam kurun waktu satu milenium, hampir meliputi dua pertiga luas daratan bumi. Tidak ada satu pun tanah melainkan di sana berkumandang adzan. Kita punya peluang dan seperangkat sumber daya yang sama untuk mengembalikan masa-masa itu.

6. Benar bahwa sebaik-baiknya zaman adalah zaman Rasulullah ﷺ dan para sahabat, lalu tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Namun, itu tidak berarti umat ini diajarkan pesimis. Sebab, walau kita tidak sehebat mereka tetapi Rasulullah ﷺ memberitakan kejayaan tetap bagi umat ini.

7. Umat ini diumpamakan bagaikan hujan, maksudnya adalah dari sisi manfaatnya kepada manusia. Ada pun keutamaan (afdhaliyah) maka umat terdahulu jelas lebih utama. (Lihat Tuhfah al Ahwdzi, jilid. 8, hal. 305). Itulah yang tidak diketahui mana yang lebih baik generasi awal atau akhir.

8. Tidak ragu lagi, umat terdahulu berjuang dalam peletakan batu pertama dan awal pembangunan, lalu umat setelahnya berkorban dalam menyebarkan dan mengokohkan. Semua yg mereka lakukan patut diapresiasi, semoga Allah Ta’ala berikan ampunan atas kesalahannya dan membalas dengan pahala atas kebaikannya.

Demikian. Wallahul Muwaffiq Ilaa aqwamith Thariq

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jalan Dakwah

TAURITS DAKWAH (PEWARISAN DAKWAH)

Pemateri: Ustadzah DR. Hj.  Aan Rohanan, Lc, MAg

Allah berfirman :

وما ارسلناك الا رحمة للعالمين (٢١: ١٠٧)

Artinya: “Kami tidak mengutus kamu kecuali untuk menjadikan (Islam) sebagai rahmat bagi seluruh alam” ( Qs 21: 107).

Untuk menjaga keberlangsungan dakwah hingga hari kiamat dan berhasil dalam menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, maka setiap orang tua harus bisa mewariskan dakwah kepada keturunannya.

Karena itu salah satu peran orang tua adalah mempersiapkan anak
menjadi generasi da’i agar dapat melanjutkan tugas dakwah sehingga dakwah  menjadi eksis dan tak terkalahkan.

وجعل كلمة الذين كفروا السفلى وكلمة الله هى تلعليا والله عزيز حكيم. (٩ : ٤٠)

Artinya: ” Dan Dia menjadikan kalimat orang2 kafir menjadi rendah dan kalimat Allah menjadi tinggi” (9:40).

Pewarisan dakwah  telah dicontohkan oleh nabi Ibrahim sehingga keturunannya 30 orang menjadi nabi.
Demikian juga Nabi Zakaria mewariskan dakwahnya kepada nabi Yahya. Keluarga Imran mewariskan dakwahnya kepada Maryam dan dari Maryam kepada nabi Isa.
Begitu juga para shahabat dan shahabiyaat mewariskan dakwahnya kepada keturunan mereka.

 📚 Urgensi Taurits Dakwah :

1⃣. Menjaga keberlangsungan dakwah
2⃣. Menjadikan anak sebagai permata hati dan pemimpin bagi orang2 yang bertakwa.
3⃣. Membangun keluarga dakwah.
4⃣. Membangun rumah sebagai basis dakwah di masyarakat!
5⃣. Keagungan dakwah terjaga di dalam keluarga.
6⃣. Keberkahan bagi semua keturunan.
7⃣.  Sedekah jariyah tiada akhir.

Rasulullah bersabda:

 اذا مات الانسان انقطع عمله الا من ثلاث صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له. (رواه مسلم)

Artinya: ” Apabila manusia meninggal maka terputuslah amalnya kecuali 3 perkara yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak yg shaleh yang mendoakannya, ” (HR. Muslim)

📚 *Perkembangan pewarisan dakwah di Indonesia ?*

1⃣. Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

2⃣. Sedikit yang mampu mewariskan dakwah.

والسابقون السابقون . اولئك المقربون. فى جنات النعيم. ثلة من الاولين . وقليل من الاخرين. (٥٦,: ١٠ – ١٢)

Artinya :  ” Dan orang2 yang paling dulu beriman , merekalah yang lebih dahulu (masuk ke surga). Mereka itulah yang dekat (kepada Allah), berada dalam surga kenikmatan, segolongan besar bagi orang2 terdahulu dan segolongan  kecil dari orang2 yang kemudian” (56 : 10 – 14 ).

3⃣. Banyak yang mengutamakan pendidikan sekuler.

4⃣. Taurits dakwah umumnya dari keluarga pesantren.

5⃣. Munculnya harokah dakwah dan pentingnya taurits dakwah.

6⃣. Mulai semarak
Pendidikan berbasis alquran  mewarnai masyarakat.

Banyak keluarga muslim mulai sadar dan berupaya melakukan taurits dakwah.

Kiat melakukan Taurits Dakwah :

1⃣. Visi yang benar, kokoh dan jelas.
2⃣. Banyak berdoa dengan yakin, khusyuk, dan tawadhu’. Seperti doa berikut:

ربنا هب لنا من ازواجنا وذرياتنا قرة اعين واجعلنا للمتقينإ اماما ( ٢٥: ٧٤)

رب اجعلنى مقيم الصلاة ومن ذريتى ( ١٤: ٤٠)

ربنا واجعلنا مسلمين لك ومن ذريتنا امة مسلمة لك ( ٢: ١٢٨)

3⃣. Qudwah hasanah.
4⃣. Memberikan pendidikan dengan konsep Islam . Sehingga dapat memberikan pemahaman dan pengamalan yang benar.
5⃣. Menciptakan kondisi di rumah seperti suasana masjid, sekolah, majlis taklim dan pesantren.
6⃣. Menumbuhkan semangat berprestasi dan taat.
7⃣. Menumbuhkan jiwa kepemimpinan yang berkarakter.
8⃣. Dilibatkan dalam kegiatan dakwah kedua orang tua.
9⃣. Bersahabat dengan keluarga dakwah.
🔟. Menjauhi hal2 yang mengganggu proses pendidikan Islami.

Wallahu  a’lam bishshawaab


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

Fiqih Dakwah (Bag. 3)

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Qawaa’idud Da’wah (Kaidah-Kaidah Da’wah)

Berikut ini adalah kaidah-kaidah yang mesti diperhatikan oleh para da’i agar tidak salah dalam melangkah.

1⃣      Al Qudwah qabla Ad Da’wah (Memberikan keteladanan sebelum mengajak)

Yaitu hendaknya para da’i memperhatikan dirinya dulu sebelum orang lain. Berupa perbaikan tauhidnya, akhlaknya, ruhiyahnya, penampilannya, tutur katanya, dan tentunya pemahamannya. Sebab seorang da’i adalah “model” di tengah masyarakatnya, mau tidak mau dia mesti siap menjadi teladan bagi yang lainnya. Dan, tidak mungkin diteladani kecuali yang memang pantas untuk itu.

Allah ﷻ  berfirman:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَأَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab? Maka tidaklah kamu berpikir? (QS. Al Baqarah: 44)

2⃣       Al ‘Ilmu qabla Al ‘Amal

Yaitu hendaknya para da’i perhatian betul pada perkara ini. Sebab amal tanpa ilmu potensi merusaknya lebih besar. Amal yang didasari kebodohan dampak penyimpangannya begitu terbuka lebar. Oleh karenanya Allah ﷻ berfirman “fa’lam annahu laa ilaaha illallaah – maka ketahuilah bahwa  tidak ada Ilah kecuali Dia.” (QS.Muhammad: 19).  Allah ﷻ mendahulukan ilmu sebelum menegaskan ketuhanan diriNya. Ayat ini dijadikan pembuka oleh Imam Al Bukhari dalam kitab Shahih-nya, pada Bab: Al ‘Ilmu qablal Qauli wal ‘Amal – Ilmu Sebelum Perkataan dan Perbuatan. Sebab tidaklah shahih sebuah perkataan dan amal kecuali berdasarkan ilmu.

Dalam ayat yang lain:

قل هذه سبيلي أدعو إلى الله على بصيرة أنا ومن اتبعني وسبحان الله وما أنا من المشركين

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108)

Apakah Bashirah dalam ayat ini? Imam Asy Syaukani Rahimahullah menjelaskan:

أَيْ عَلَى حُجَّةٍ وَاضِحَةٍ، وَالْبَصِيرَةُ: الْمَعْرِفَةُ الَّتِي يَتَمَيَّزُ بِهَا الْحَقُّ مِنَ الْبَاطِلِ

Yaitu di atas hujjah yang nyata, “Al Bashirah” yaitu pengetahuan yang dengannya dapat membedakan antara Al Haq dan Al Bathil.” (Fathul Qadir, 3/71)

Imam Al Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata:

الْعَامِل على غير علم كالسالك على غير طَرِيق وَالْعَامِل على غير علم مَا يفْسد اكثر مِمَّا يصلح فَاطْلُبُوا اللم طلبا لَا تضروا بِالْعبَادَة واطلبوا الْعِبَادَة طلبا لَا تضروا بِالْعلمِ فَإِن قوما طلبُوا الْعِبَادَة وَتركُوا الْعلم حى خَرجُوا بِأَسْيَافِهِمْ على امة مُحَمَّد وَلَو طلبُوا الْعلم لم يدلهم على مَا فعلوا

Orang yang beramal tidak  berdasarkan ilmu bagaikan orang yang berjalan di atas jalan yang tidak benar. Orang yang beramal tanpa ilmu apa yang dirusaknya lebih banyak dibanding yang dia perbaiki, maka tuntutlah ilmu selagi dia tidak mengganggu ibadahmu, dan beribadahlah selama tidak mengganggu pencarian ilmu. Sesungguhnya ada kaum yang beribadah tapi meninggalkan ilmu akhirnya mereka memberontak dengan pedang mereka melawan umat Muhammad ﷺ (maksudnya kelompok Khawarij, pen), seandainya mereka mau menuntut ilmu niscaya mereka tidak akan melakukan itu. (Dikutip oleh Imam Ibnul Qayyim,Miftah Dar As Sa’adah,  1/83)

3⃣      Al Faraaidh qabla An Nawaafil (Ajaklah kepada yang wajib sebelum kepada yang sunah)

Yaitu hendaknya para da’i mengajarkan dan menganjurkan umat kepada yang wajib-wajib dahulu. Baik yang wajib untuk diketahui dan yang wajib untuk diamalkan. Bukan berarti meremehkan yang sunah, tetapi ini merupakan tuntutan syariat itu sendiri dan jalan yang ditempuh da’wah Nabi ﷺdan para sahabatnya. Agar umat tidak bermalas-malasan pada kewajibannya, namun dia sangat semangat dan berbangga dengan yang sunah. Ajaklah kepada shalat lima waktu sebelum rawatibnya, puasa Ramadhan sebelum senin kamisnya, berbakti kepada orang tua sebelum kepada saudaranya, dan semisalnya.

Syaikh Zakariya bin Ghulam Al Bakistani mencontohkan:

كما لو أدى فعل نافلة إلى ترك فريضة كالذي يصلي بالليلطويلاً وينام عن صلاة الفجر ، فإنه لا يشرع له قيام الليلإذا كان ذلك سببا لتركه صلاة الفجر 

Sebagaimana seandainya seorang melakukan shalat sunah yang membuat tertinggalnya shalat wajib. Seperti seorang yang shalat malam begitu lama, namun dia tertidur dari shalat subuhnya. (Ushul Al Fiqh ‘Ala Manhaj Ahlil Hadits, Hal.  114)

4⃣     Al Ushuul qabla Al Furuu’ (Ajaklah kepada yang pokok dan dasar sebelum pada cabang-cabangnya)

Yaitu  hendaknya para da’i mengingatkan kepada rukun Islam, rukun iman, aqidah yang benar, bahaya syirik, munafiq,  dan pokok-pokok lain dari agama ini. Semua ini agar lahir keyakinan dan  cinta yang mendalam kepada agama. Sebelum dia mengaajak dan mengajarkan kepada cabang-cabangnya, seperti jamak qashar, adab makan dan minum, dan semisalnya. Semua bagian ini, Insya Allah, akan mendapatkan perhatian juga yang penting sisi dasar-dasar agama ini sudah dicover dengan baik. Sebab bagusnya yang pokok berefek pada bagusnya yang cabang. Ini jika konteksnya da’wah kepada orang awam apalagi mualaf. Ada pun jika da’wah kepada kaum terpelajar dan sudah punya basic agama yang cukup tentu lain lagi prioritasnya.

Contoh sederhana dalam masalah ini adalah bahwa meyakini bahwa Al Quran sebagai kalamullah (firman Allah) merupakan pokok agama, dan kafir bagi yang mengingkarinya,  tetapi meyakini membaca Bismillah dikeraskan atau dipelankan ketika membaca Al Fatihah adalah masalah cabangnya. Meyakinan bahwa zakat sebagai salah satu rukun Islam adalah pokok agama, dan kafir bagi yang mengingkari kewajibannya, tetapi membahas apakah ada zakat pada sayur mayur? Apakah ada zakat pada penghasilan? Ini adalah masalah cabang, yang tidak membuat kufur jika ada yang menyalahinya.

5⃣      Al Ittifaaq qabla Al Ikhtilaaf (Ajaklah kepada perkara yang disepakati sebelum mengajarkan hal-hal yang diperselisihkan)

Yaitu hendaknya para da’i mengajak dan mengingatkan umat pada perkara-perkara yang disepakati oleh umat ini, dan telah menjadi aksiomatik dalam agama. Jangan lahirkan fitnah dengan menyeret mereka dalam perkara perselisihan yang para cerdik cendikia pun tidak pernah selesai dalam mendiskusikannya. Sebab,  sikap itu lebih dekat pada perpecahan dan kotornya hati dibanding iman dan ridha kepada saudara sesama muslim.

Ajaklah umat kepada mengimani Allah ﷺ, agar meyakiniNya sebagai pencipta, pemberi rizki, pengatur hidup, yang menghidupkan dan mematikan, yang berhak disembah secara haq, dan pemilik otoritas tertingga dalam tasyri’ (perundang-undangan). Semua umat Islam sepakat ini, walau secara praktek di lapangan di antara mereka ada yang menyimpang dari kesepakatan ini.   Jangan dulu ajak orang awam meributkan perbedaan salaf dan khalaf tentang makna “wajah Allah”, “tangan Allah”, “Allah bersemayam di atas arsy”, “Allah turun ke langit dunia”, dan semisalnya, yang justru membuat mereka bingung, bahkan akhirnya lari dari agama seperti yang terjadi di beberapa negara. Para mualaf kembali murtad lantaran sebagian da’i Islam saling mengkafirkan, lalu para mualaf diseret-seret untuk larut dalam perdebatan itu.  Likulli maqaamin maqaal …. setiap kedudukan ada temanya masing-masing.

Contohnya lainnya, ajaklah umat kepada menjaga shalat yang lima, ajarkan kekhusyu’an, tumaninah, dan semisalnya. Semua sepakat atas hal ini. Jangan dulu ajarkan mereka tentang bahwa “ada lebih 20 pendapat tentang jarak dibolehkannya shalat qashar”, atau “15 pendapat tentang batas minimal jumlah jamaah untuk sahnya shalat jumat”, toh masalah-masalah seperti secara alamiah akan mereka cari juga dengan sendirinya seiring dengan kedewasaan ilmu dan usia.

6⃣     Yassiruu walaa tu’assiruu (Permudahlah dan jangan persulit)

Yaitu ajak mereka kepada hal yang mudah selama ada dasarnya dan tidak mengandung dosa. Bukan mudah mencari yang enak-enak sesuai selera dan hawa nafsu tentunya.

Sebab agama ini memang mudah, Allah  ﷻ berfirman:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”(QS. Al Baqarah: 185)

“Allah memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An Nisa’: 28)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah suka jika rukhshah (dispensasi) yang diberikannya dilakukan, sebagaimana Ia juga suka jika ‘azimah (kewajiban awal sebelum dirukhshah)nya dikerjakan.” (HR. Ahmad dan Baihaqy.  Imam Thabarany meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud. Shahih menurut Syaikh al Albany dalam Shahih alJami’ Ash Shaghir, no. 1881. Al Haitsami mengatakan dua jalur tersebut rijalnya tsiqah)

Dari Ibnu  Umar Radhiallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah suka jika rukhshahnya dilaksanakan, sebagaimana ia benci jika maksiat dikerjakan.” (HR.Ahmad, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkannya, 5866, 5873. Ibnu Hibban dalam shahihnya, 2742. Al Haitsami mengatakan rijalnya shahih)

Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha,“Sesungguhnya Rasulullah jika dihadapkan dua perkara, dia akan memilih yang lebih ringan, selama tidak berdosa.” (HR. Bukhari dan Muslim, Al Lu’lu wal Marjan. Kitab al Fadhail, Bab Muba’adatuhu Shallallahu ‘alaihi wa Sallam  lil Atsam …, No. 1502)

7⃣       Basysyiruu walaa tunaffiruu (Berikan kabar gembira jangan buat orang lari)

Yaitu hendaknya para da’i menyeimbangkan antara kabar gembira dan peringatan. Terlalu banyak peringatan akan membuat umat lari, terlalu banyak kabar gembira akan membuat mereka terlena. Maka, seimbangkan antara keduanya sebagaimana Allah ﷻ dan RasulNya ajarkan.

Maka, beritakan tentang ajakan persatuan, ayatnya, juga haditsnya, walau kita katakan bahwa telah menjadi kenyataan sejarah jika umat ini berpecah. Tetapi perintah syar’inya adalah bersatu.

Beritakan tentang dosa-dosa  dan ancamannya yang pedih, baik dunia dan akhirat, sebagaimana beritakan pula amal-amal mulia dan ganjarannya yang nikmat dan abadi, di dunia dan akhirat.

Hadits dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda: “Berikanlah kemudahan jangan mempersulit, berikanlah kabar gembira, jangan buat mereka lari.” (HR. Imam Bukhari. Al Lu’lu’ wal Marjan.Kitab al Jihad, Bab Fi al Amr at Taysir wa Tarku at Tanfir. no. 1131)

Demikian. Wallahu A’lam

Bersambung ….

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

FIQHUD DA’WAH (Bag. 2)

📝 Pemateri: Farid Nu’man Hasan, SS

Keutamaan-Keutamaan Da’wah

Berbahagialah Para Da’i limpahan fadhilah menanti Anda …

1. Melanjutkan tugas dan perjuangan para Nabi dan Rasul ‘alaihimissalam

Ini kemuliaan yang luar biasa. Para da’i menjadi pelanjut estafeta perjuangan para Nabi dan Rasul. Mengajak manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya Islam, dari kesyirikan menuju tauhid, dari maksiat menuju taat, dari kemunafikan dan kekufuran  menuju iman.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. AN Nahl: 36)

Setiap umat ada Rasul yang diutusNya, dan para rasul itu sejak Adam ‘Alaihissalam sampai Nabi Muhammad ﷺ adalah bersaudara, dan agama mereka sama. Sedangkan pasca wafat Rasulullah ﷺ tidak ada lagi Nabi dan Rasul setelahnya. Maka, para da’i melanjutkan perjuangan mereka, sejak masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan seterusnya.

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108)

Dari Abu Hurairah
Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

Para nabi itu bersaudara ayah mereka satu sedangkan ibu-ibu mereka berbeda, dan agama mereka satu (yaitu agama tauhid, Islam). (HR. Al Bukhari No. 3443, Muslim No. 2365)

2. Allah ﷻ dan seluruh makhluk bershalawat kepada para penyeru kebaikan

Abu Umamah Al Bahili Radhiallahu ‘Anhu berkata, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ

Sesungguhnya Allah, para malaikatNya, penduduk langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan di lautan, mereka bershalawat kepada orang yang mengajarkan manusia pada kebaikan. (HR. At Tirmidzi No. 2685, katanya: hasan shahih. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 7912)

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud “shalawat” dalam hadits ini adalah doa dan istighfar. (Imam Ibnu Abdil Bar, Jami’ Bayan, 1/174)

Jadi, semua makhluk mendoakan dan memintakan ampunan buat para penyeru dan pengajar kebaikan.
Sedangkan, kata Imam Al Munawi Rahimahullah, makna “shalawat” dari Allah ﷻ adalah rahmat (kasih sayang). (Imam Al Munawi, Faidhul Qadir, 4/432)

3. Jika manusia dapat hidayah karena perantara seorang da’i maka itu lebih mahal dari Unta Merah

Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ berkata kepada Ali Radhiallahu ‘Anhu:

فَوَاللَّهِ لَأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Demi Allah, Seseorang mendapatkan hidayah karena kamu, maka itu lebih baik bagimu dibandingkan Unta Merah. (HR. Al Bukhari No. 2942, Muslim No. 2406)

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah menjelaskan bahwa bagi orang-orang Arab saat itu tidak ada warna Unta yang lebih baik dibandingkan merah. (Imam Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 24/116)

Syaikh Mushthafa Al Bugha dalam Ta’liqnya terhadap Shahih Al Bukhari mengatakan bahwa Humrun Na’am yaitu Unta Merah, pada masa Arab dahulu dia adalah harta yang paling disukai dan dikagumi.

Sementara Abu Bakar Al Anbari mengatakan digunakannya Unta Merah di sini, karena posisinya yang mulia dan tinggi. (Imam Ibnu Baththal, Syarh Shahih Al Bukhari, 5/166)

4. Mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengikuti kebaikan yang diajarkannya

Dari Abu Mas’ud Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barang siapa yang menunjukkan jalan kebaikan maka dia mendapatkan ganjaran yang sama dengan orang yang melakukan kebaikan itu. (HR. Muslim No. 1893)

Imam An Nawawi Rahimahullah menerangkan:

فيه فضيلة الدلالة على الخير والتنبيه عليه والمساعدة لفاعله وفيه فضيلة تعليم العلم ووظائف العبادات

Dalam hadits ini terdapat keutamaan memberikan petunjuk pada kebaikan dan memberikan peringatan atas hal itu, serta membantu orang yang melakukannya. Juga keutamaan mengajarkan ilmu dan agenda-agenda peribadatan. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 13/39)

Bahkan akan menjadi pahala yang tidak putus-putus jika ajakan kebaikannya dilakukan oleh banyak orang dari masa ke masa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ  ….

“Barangsiapa dalam Islam melakukan kebiasaan baik, maka tercatat baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka yang mengikutinya….”   (HR. Muslim, No. 1017, At Tirmidzi No. 2675, An Nasa’i No. 2554, Ibnu Majah No. 203)

5. Sarana Menuju Khairu Ummah (Umat Terbaik)

Allah ﷻ berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kalian adalah umat yang terbaik dikeluarkan untuk manusia, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali ‘Imran: 110)

Siapakah umat terbaik dalam ayat ini? Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan: “Mereka adalah para sahabat nabi yang berhijrah bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari Mekkah ke Madinah.” (Musnad Ahmad No. 2463. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: hasan. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 6164, katanya: shahih. Disepakati Adz DZahabi)

Namun, walau ayat ini secara khusus membicarakan kedudukan kaum muhajirin, namun  Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

وَالصَّحِيحُ أَنَّ هَذِهِ الْآيَةَ عامةٌ فِي جَمِيعِ الْأُمَّةِ، كُلُّ قَرْن بِحَسْبِهِ، وَخَيْرُ قُرُونِهِمُ الَّذِينَ بُعثَ فِيهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلونهم، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Yang benar adalah ayat ini berlaku secara umum bagi semua umat ini (Islam), setiap masing-masing zaman, dan sebaik-baik zaman mereka adalah manusia yang ketika itu pada mereka diutus Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/94)

Demikianlah generasi sahabat, dan kita pun bisa menjadi khairu ummah sebagaimana mereka jika sudah memenuhi syarat-syarat seperti mereka, yaitu menjalankan amar ma’ruf, nahi munkar, dan beriman kepada Allah ﷻ. Imam Ibnu Jarir, meriwayatkan dari Qatadah,  bahwa Umar Radhiallahu ‘Anhu berkhutbah ketika haji:

مَنْ سَرَّه أَنْ يَكُونَ مِنْ تِلْكَ الْأُمَّةِ فَلْيؤدّ شَرْط اللَّهِ فِيهَا

Barang siapa yang ingin menjadi seperti umat tersebut maka penuhilah syarat yang Allah tentukan dalam ayat itu. (Tafsir Ath Thabari, 7/102)

6. Sarana Untuk Menghindar Dari Azab Allah ﷻ

Allah ﷻ berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقابِ

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya. (QS. Al Anfal: 25)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ akan memberikan siksaan yang merata, bukan hanya menimpa orang-orang zalim saja. Orang-orang baik juga akan merasakannya. Ini terjadi ketika mereka meninggalkan da’wah dan amar ma’ruf nahi munkar, karena sikap diamnya mereka membuat kezaliman merajalela. Akhirnya, layaklah jika orang-orang shalih pun kena dampak keburukannya.

Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

يحذر تعالى عباده المؤمنين {فتنة} أي: اختبارا ومحنة، يعم بها المسيء وغيره، لا يخص بها أهل المعاصي ولا من باشر الذنب، بل يعمهما، حيث لم تدفع وترفع

“Allah ﷻ memperingatkan hamba-hambaNya orang beriman dengan adanya fitnah, yaitu ujian dan cobaan yang ditimpakan secara umum baik orang jahat dan selainnya, tidak dikhususkan bagi pelaku maksiat dan orang berdosa saja, tapi ditimpakan merata, ketika mereka tidak mencegah dan menghilangkannya (kemungkaran).” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/37)

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

Fiqih Dakwah (Bag. 1)

📝 Pemateri: Farid Nu’man Hasan, SS

Definisi

✔Secara bahasa Ad Da’wah – الدعوة adalah:

◀    النداء :
seruan, panggilan
◀الدعاء :
permohonan, permintaan
◀    الطلب :
tuntutan.
(Lengkapnya Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 20/319-321)

✔ Secara istilah adalah:

دعوة الناس الى الله بالحكمة و الموعظة الحسنة حتى يكفروا بالطاغوت و يؤمنوا بالله و يخرجوا من جاهلية الى نور الإسلام

“Seruan manusia menuju (agama) Allah dengan cara hikmah dan memberikan pelajaran yang baik sampai manusia ingkar terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, dan keluar dari jahiliyah menuju cahaya Islam”

Hukumnya

Para ulama sepakat bahwa da’wah adalah fardhu (wajib), hal ini ditunjukkan oleh dalil-dalil berikut:

 وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran: 104)

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An Nahl: 125)

Tetapi, para ulama berbeda tentang kewajibannya itu fardhu ‘ain atau kifayah? Imam Ibnu Katsir berpendapat da’wah adalah fardhu ‘ain, ketika Beliau menjelaskan surat Ali ‘Imran 104: wal takun minkum ummah … :

✏ “Maksud ayat ini adalah bahwa hendaknya ada segolongan umat ini yang menjalankan tugas ini, walau pun kewajibannya adalah berlaku bagi tiap pribadi pada umat ini sesuai kemampuannya. Sebagaimana hadits Shahih Muslim dari Abu Hurairah,1)  bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”

(Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/91. Dar Ath Thayibah)

Jadi, kata min -من   pada kata منكم (minkum – di antara kalian) bukan berfungsi تبعيضية    – tab’idhiyah (menyatakan sebagian), tetapi menyatakan تأكيدية    – ta’kidiyah (penegasan). Sehingga artinya bukan bermakna “hendaknya ada sebagian kalian ..”, tetapi bermakna “hendaknya kalian ..!” Pendapat ini juga diikuti oleh Al ‘Allamah Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullah.

Sementara, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah menyatakan bahwa da’wah adalah fardhu kifayah, berikut ini perkataannya:

✏ “Para ulama menjelaskan bahwa da’wah adalah fardhu kifayah, yaitu pada sebuah daerah mesti ada aktifitas da’wahnya para da’i, walau pun aktifitas da’wah dibutuhkan  di setiap daerah dan wilayah namun dia adalah fardu kifayah yang jika sudah ada yang menjalankannya maka gugurlah kwajiban bagi yang lainnya, bagi yang lain itu menjadi sunah muakadah dan merupakan amal shalih yang agung.
Jika penduduk di sebuah wilayah belum ada yang menjalankan aktifitas da’wah, maka semuanya berdosa, maka menjadi wajib bagi semuanya, dan seluruhnya wajib menjalankannya sesuai kekuatannya.”

(Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baaz, Ad Da’wah Ilallah wa Akhlaqud Du’aah, Hal. 15.  Ri-asah Idarah Al Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’, 2002M-1423H. KSA)

Bagi yang ingin memperluas masalah hukum da’wah silahkan lihat Tafsir Ibnu Katsir pada surat Al Maidah ayat 105.

(Bersambung …. Insya Allah)

Notes:

1) Hadits ini tidak diriwayatkan dari Abu Hurairah sebagaimana dikatakan Imam Ibnu Katsir. Dalam Shahih Muslim (No. 49) diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu. Oleh karena itu Syaikh Ahmad Syakir menganggap ini merupakan wahm (keraguan) dari Imam Ibnu Katsir.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678