Al Quran dan Hadits

Kapan Dibolehkan Memakai Sutera?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, dlm aturan agama, laki2 tdk diperbolehkan memakai pakaian dr sutera…bgmn dg dasi sutera ustadz..bolehkah laki2 memakainya?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Keharaman terhadap sutera, tidaklah mutlak. Ada kondisi pengecualian yang membuatnya boleh digunakan.

Ketika sakit dan untuk pengobatan

Dalilnya:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ
رَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلزُّبَيْرِ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي لُبْسِ الْحَرِيرِ لِحِكَّةٍ بِهِمَا

“Dari Anas dia berkata; Nabi ﷺ pernah memberi izin kepada Zubair dan Abdurrahman untuk memakai kain sutera karena penyakit gatal yang dideritanya.”

(HR. Bukhari no. 5839)

Dipakai dalam kadar sangat sedikit

Dalilnya:

عن سويد بن غفلة أن عمر بن الخطاب خطب بالجابية فقال نهى نبي الله صلى الله عليه وسلم عن لبس الحرير إلا موضع إصبعين أو ثلاث أو أربع

Dari Suwaid bin Ghafalah bahwa ‘Umar bin Al Khaththab pernah berpidato di Jabiyah sebagai berikut;
“Rasulullah ﷺ melarang memakai sutera kecuali sekedar dua, tiga, atau empat jari saja.”

(HR. Muttafaq ‘Alaih)

Jadi, jika bercampur dgn bahan lain, prosentasenya sangat kecil, maka masih dibolehkan. Ada pun jika sebuah bahan adalah murni sutera baik kecil atau banyak, maka tetap terlarang.

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam berkata:

فيه استثناء قدر الإصبعين أو الثلاث أو الأربع، إذا كان تابعا لغيره. أما المنفرد، فلا يحل منه، قليله ولا كثيره كخيط مسبحة، أو ساعة أو نحو ذلك

Pada hadits ini ada pengecualian seukuran dua jari, tiga atau empat, jika bahannya diikuti bahan lainnya. Ada pun jika hanya sutera, tetaplah tidak halal baik sedikit atau banyak, seperti benang tasbih, jam, dan semisalnya.

(Taisir Al ‘Alaam Syarh ‘Umdah Al Ahkaam, 2/219)

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Harapan Itu Selalu Ada

Harapan Masih Ada

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Esok adalah rahasia.
Berharap mata masih terbuka untuk melihat dunia.
Jangan pernah ada asa yang terjeda.
Lantaran keraguan menjelma di jiwa.

Esok adalah Misteri.
Tak pernah tahu apa yang terjadi.
Tugas manusia hanya menjalani.
Namun jangan lupa melibatkan segala urusan pada Ilahi.

Esok adalah harapan.
Semoga dimudahkan berdua dengan apa yang dicita-citakan.
Ada jalan terang yang jadi penuntun jalan.
Ingatlah hanya Allah akhir dari segala tujuan.

Tetap lantunkan doa.
Jangan pernah berputus asa.
Allah pemilik segala yang ada di alam semesta.
Yang akan menurunkan segala nikmat untuk manusia yang berkenan menghamba.

“Tidak ada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Lembut dan Maha Penyantun. Maha Suci Allah, Tuhan pemelihara Arsy yang Maha Agung. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Kepada-Mu-lah aku memohon sesuatu yang mewajibkan rahmat-Mu, dan sesuatu yang mendatangkan ampunan-Mu dan memperoleh keuntungan pada tiap-tiap dosa. Janganlah Engkau biarkan dosa daripada diriku, melainkan Engkau ampuni dan tidak ada sesuatu kepentingan, melainkan Engkau beri jalan keluar, dan tidak pula sesuatu hajat yang mendapat kerelaan-Mu, melainkan Engkau kabulkan. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

Istajib du’ana

Wallahu a’lam bisshawwab

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Dzikrullah

Perbedaan Al Ma’tsurat Hasan Al Banna dan Hisnul Muslim

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, do’a pqgi dan petang atau Al Ma’tsurat yg prnh sy baca ada bbrp versi..Ada yg dr Imam Hasan Al Banna dan ada yg dr Hisnul Muslim..

Yg ingin sy tnya kan,,apakah kedua al ma’tsurat tsb sm atau kah ada perbedaannya.
Dan yg lbh utama yg sesuai d ajarkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam itu yg mana?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Al Ma’tsurat disusun oleh Imam Hasan al Banna, di kitab aslinya jauh lebih tebal dan lengkap dibanding yg beredar dipasaran atau di aplikasi2.. Isinya rata2 shahih, ada bbrp yg dha’if

Hishnul Muslim, disusun oleh Syaikh Sa’id Wahf al Qahthani, isinya lebih tipis dibanding al Ma’tsurat. Rata-rata juga shahih, hanya sedikit saja yang diperselisihkan keshahihannya.

Keduanya sama-sama bagus utk dibaca, hanya saja aktivis Islam dan banyak org lebih mengenal al Ma’tsurat, krn mungkin sudah ada sejak tahun 1930-40an.. Sdgkan Hishnul Muslim baru di susun tahun 2000an..

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Mazhab Bagi Orang Awam

Bermazhab Bagi Orang Awam, Apakah Wajib?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… ingin bertanya.
Apakah kita harus bermazhab? Dan apakah jika kita sudah dengan 1 mazhab tidak boleh pake mazhab yang lainya? Bagaimana jika tidak bermazhab?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Di antara manusia ada yang di sebut orang awam (Al ‘Amiy) yaitu orang yang tidak ada kemampuan untuk berijtihad sendiri, krn tidak memiliki seperangkat ilmu tentang bagaimana berijtihad.

Para ulama menegaskan bahwa orang awam tidaklah memiliki mazhab ( al’ Amiy laa madzhaba lahu). Seseorang dikatakan bermazhab “Fulani” jika dia paham bagaimana sejarah mazhab Imam Fulan tersebut, perkembangannya, penyebarannya, tokoh-tokohnya, konsep fiqihnya, metode ijtihadnya, dan kitab-kitabnya yang standar. Tentu ini berat bagi orang awam. Maka, perkataan sebagian orang awam: “Saya ini bermazhab Fulani” hanyalah klaim dan boleh diabaikan.

Namun demikian, mereka tetap mesti memilih atau mengikuti salah satu mazhab dengan bimbingan ulama yang dia tanyakan. Sehingga Mazhabnya orang awam adalah jawaban ulama semasanya yang mengarahkan mereka, atau ulama yang menjadi tempat mereka bertanya.

Dalam Tuhfatul Muhtaj, Imam Ibnu Hajar Al Haitami Rahimahullah mengatakan:

مَعْنَاهُ مَا عَبَّرَ بِهِ الْمَحَلِّيُّ فِي شَرْحِ جَمْعِ الْجَوَامِعِ بِقَوْلِهِ وَقِيلَ لَا يَلْزَمُهُ الْتِزَامُ مَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ فَلَهُ أَنْ يَأْخُذَ فِيمَا يَقَعُ لَهُ بِهَذَا الْمَذْهَبِ تَارَةً وَبِغَيْرِهِ أُخْرَى

Artinya seperti yang dijelaskan oleh Al Mahalli dalam Jam’ul Jawami’, dikatakan bahwa tidaklah wajib bagi orang awam mengikuti satu madzhab secara khusus, tapi hendaknya dia mengambil satu pendapat mazhab dalam satu waktu, dan mengambil mazhab lain di waktu lainnya. [1]

Syaikh Walid bin Rasyid As Su’aidan mengutip dari Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam Rahimahullah, pemuka madzhab Syafi’i yang dijuluki Sulthanul ‘Ulama di masanya:

يجوز تقليد كل واحدٍ من الأئمة الأربعة رضي الله عنهم ، ويجوز لكل واحدٍ أن يقلد واحداً منهم في مسألة ويقلد إماماً آخر منهم في مسألة أخرى ، ولا يجوز تتبع الرخص

Diperbolehkan taklid terhadap salah satu imam madzhab yang empat, dan setiap orang boleh saja mengikuti salah satu dari pendapat mereka dalam satu masalah dan mengikuti pendapat imam lainnya dalam masalah yang lain, namun tidak diperkenankan mencari-cari rukhshah (yang gampang-gampang). [2]

Syaikh Abdul Fattah Rawwah Al Makki menjelaskan:

(انه) يجوز تقليد كل واحد من الآئمة الآربعة رضي الله عنهم ويجوز لكل واحد آن يقلد واحدا منهم فى مسالة ويقلد اماما آخر في مسالة آخرى ولا يتعين تقليد واحد بعينه في كل المسائل

Bahwa sesungguh nya diperbolehkan taklid terhadap salah satu imam madzhab yang empat, dan setiap orang boleh saja mengikuti salah satu dari mereka dalam satu masalah dan mengikuti imam lainnya dalam masalah yang lain. Tidak ada ketentuan yang mengharuskan mengikuti satu mazhab dalam semua masalah. [3]

Imam Ibnul Qayyim Al Hambali Rahimahullah menjelaskan:

بَلْ لَا يَصِحُّ لِلْعَامِّيِّ مَذْهَبٌ وَلَوْ تَمَذْهَبَ بِهِ؛ فَالْعَامِّيُّ لَا مَذْهَبَ لَهُ؛ لِأَنَّ الْمَذْهَبَ إنَّمَا يَكُونُ لِمَنْ لَهُ نَوْعُ نَظَرٍ وَاسْتِدْلَالٍ، وَيَكُونُ بَصِيرًا بِالْمَذَاهِبِ عَلَى حَسْبِهِ، أَوْ لِمَنْ قَرَأَ كِتَابًا فِي فُرُوعِ ذَلِكَ الْمَذْهَبِ وَعَرَفَ فَتَاوَى إمَامِهِ وَأَقْوَالَهُ، وَأَمَّا مَنْ لَمْ يَتَأَهَّلْ لِذَلِكَ أَلْبَتَّةَ بَلْ قَالَ: أَنَا شَافِعِيٌّ، أَوْ حَنْبَلِيٌّ، أَوْ غَيْرُ ذَلِكَ؛ لَمْ يَصِرْ كَذَلِكَ بِمُجَرَّدِ الْقَوْلِ، كَمَا لَوْ قَالَ: أَنَا فَقِيهٌ، أَوْ نَحْوِيٌّ، أَوْ كَاتِبٌ، لَمْ يَصِرْ كَذَلِكَ بِمُجَرَّدِ قَوْلِهِ

“Bahkan tidak sah bagi orang awam untuk bermadzhab, karena orang awam itu tidak punya madzhab, karena orang yang disebut bermadzhab mesti memahami bagaimana menganalisa dan berdalil, dia mengetahui berbagai madzhab, atau bagi yang membaca persoalan cabang di sebuah madzhab, mengetahui fatwa imamnya dan berbagai pendapatnya. Sedangkan orang yang tidak ada keahlian tentang ini sama sekali, lalu dia berkata: saya ini Syafi’i, saya ini Hambali, atau lainnya, maka tidaklah terwujud hanya dengan semata-mata ucapan.

Sama seperti orang yang berkata: saya ahli fiqih, saya ahli nahwu, maka tidak cukup sekedar perkataan.” [4]

Demikian. Wallahu A’lam

Notes:

[1] Imam Ibnu Hajar Al Haitami, Tuhfatul Muhtaj (Kairo: Dar al Hadits, 2016), jilid. 3, hal. 237

[2] Syaikh Walid bin Rasyid As Su’aidan, Ta’rif ath Thulab bi Ushul al Fiqh fi Su’al wa Jawab, hal. 102

[3] Syaikh Abdul Fattah Rawwah Al Makki, Al Ifshah ‘ala Masailil Idhah ‘alal Madzahib al Arba’ah, hal. 219

[4] Imam Ibnul Qayyim, I’lamul Muwaqi’in, jilid. 4, hal. 202

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678