Allah Maha Pemalu

Langit Adalah Kiblatnya Doa

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Bismillahirrahmanirrahim…

Masalah ini diperselisihkan para ulama,mayoritas ulama mengatakan kiblatnya doa adalah langit, sebagaimana kiblatnya shalat adalah ka’bah. Bagi mereka, berdoa menghadap ke langit dan mengangkat kedua tangan ke langit bukan berarti Allah Ta’ala di langit, tapi karena kiblatnya doa memang ke langit.

Namun sebagian ulama mengatakan kiblat doa dan shalat itu sama yaitu ka’bah.Mereka menilai kiblat doa adalah ke langit sebagai pendapat yg tidak dikenal di generasi salaf.

Kemudian, dalil pihak mayoritas bahwa kiblatnya doa adalah langit, yaitu firman Allah Ta’ala:

وَفِي ٱلسَّمَآءِ رِزۡقُكُمۡ وَمَا تُوعَدُونَ

Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.

(QS. Adz-Dzariyat, Ayat 22)

Al Qadhi ‘Iyadh menjelaskan:

وقال غيره ممن أجازه – وهم الأكثرون -: إن السماء قبلة الدعاء كما أن الكعبة قبلة الصلاة، فلا ينكر رفع [الأبصار والأيدى] (3)، إلى جهتها، قال الله تعالى: {وَفِى السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدونَ}

Ulama lain mengatakan -yaitu pihak yg mengatakan bolehnya berdoa memghadap langit- dan itu adalah pendapat MAYORITAS, bahwasanya LANGIT ADALAH KIBLATNYA DOA, sedangkan ka’bah adalah kiblatnya shalat. Maka, tidaklah diingkari mengangkat pandangan mata dan kedua tangan (ketika Doa) menuju arah langit. Allah Taala berfirman: Dan di langit adanya  rezeki kalian dan apa-apa yang dijanjikan (kepada kalian).

(Ikmal Al Mu’lim, 2/341)

Imam an Nawawi juga mengutip dari Al Qadhi ‘Iyadh:

وَاخْتَلَفُوا فِي كَرَاهَة رَفْع الْبَصَر إِلَى السَّمَاء فِي الدُّعَاء فِي غَيْر الصَّلَاة فَكَرِهَهُ شُرَيْح وَآخَرُونَ ، وَجَوَّزَهُ الْأَكْثَرُونَ ، وَقَالُوا : لِأَنَّ السَّمَاء قِبْلَة الدُّعَاء كَمَا أَنَّ الْكَعْبَة قِبْلَة الصَّلَاة ، وَلَا يُنْكِر رَفْع الْأَبْصَار إِلَيْهَا كَمَا لَا يُكْرَه رَفْع الْيَد . قَالَ اللَّه تَعَالَى : { وَفِي السَّمَاء رِزْقكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ }

“Para ulama berbeda pendapat dalam kemakruhan menengadah pandangan ke langit ketika berdoa di luar waktu shalat. Syuraih dan lainnya memakruhkan hal itu, namun mayoritas ulama membolehkannya.Mereka (mayoritas) mengatakan: karena langit adalah kiblatnya doa sebagaimana kabah adalah kiblatnya shalat, dan tidaklah diingkari menengadahkan pandangan ke langit sebagaimana tidak dimakruhkan pula mengangkat tangan (ketika berdoa). Allah Taala berfirman: Dan di langit adanya  rezeki kalian dan apa-apa yang dijanjikan (kepada kalian).

(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/171. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Hal ini juga dikatakan para imam lainnya:

– Imam Abu Sa’id al Mutawlli asy Syafi’i dalam Kitab al Mughanni (hal.15)

– Imam Ibnul ‘Arabi al Maliki dalam al Masalik fi Syarh Muwaththa’ Malik (3/306)

– Imam Ibnu Hajar al Asqalani asy Syafi’i dalam Fath al Bari (2/233)

– Imam as Suyuthi asy Syafi’i dalam Syarh Sunan Ibni Majah (1/73)

– Imam ath Thibiy dalam Syarh al Misykah al Mashabih (3/1071)

– Imam Badruddin al ‘Aini al Hanafi dalam Syarh Abi Daud (4/136)

– Imam Murtadha az Zabidi al Hanafi dalam Ittihaf as Saadah al Muttaqin. (5/34-35)

– Imam Al Munawi asy Syafi’i dalam Faidhul Qadir (5/398)

– Imam Ibnul Mulaqqin asy Syafi’i dalam At Taudhih Li Syarh al Jaami’ ash Shahih (7/36)

– Imam Ali al Qari al Hanafi dalam Syarh al Fiqh al Akbar (hal. 199)

– Imam al Bayadhi al Hanafi dalam Isyarat al Maram (hal. 198)

– Imam Abul Hasan as Sindi dalam Syarh Sunan Ibni Majah (1/323)

– Syaikh Abul Hasan al Mubarkafuri dalam Mir’ah al Mafatih (3/349)

– Dll

Sementara itu sebagian lain menolak pendapat tersebut. Bagi mereka kiblatnya doa dan shalat itu sama.Kiblatnya doa ke langit dinilai pendapat yang tidak ada pendahulunya dari ulama salaf.

Imam Ibnu Abi al ‘Izz al Hanafi mengatakan:

أن قولكم : إن السماء قبلة للدعاء – لم يقله أحد من سلف الأمة ، ولا أنزل الله به من سلطان ، وهذا من الأمور الشرعية الدينية ، فلا يجوز أن يخفى على جميع سلف الأمة وعلمائها

Pekataan kalian “Langit adalah Kiblatnya doa”, tidak ada yang mengatakan demikian satu pun dari salafnya umat ini. Allah tidak pernah menurunkan kuasa dengan pendapat demikian. Ini adalah perkara agama yang syar’i, maka tidak boleh hal itu samar bagi semua salaf dan ulamanya.

(Syarh al ‘Aqidah ath Thahawiyah, hal. 327)

Ini juga diikuti para ulama lain seperti:

– Syaikh Abul Barakat Khairuddin al Alusi dalam Jala’ul ‘Aynain (hal.410)

– Syaikh Abul Ma’ali al Alusi dalam Ghayatul Amani (1/571)

– Syaikh Ahmad bin Ibrahim bin ‘Isa dalam Taudhih al Maqashid (1/400)

– Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi dalam Fatawa wa Rasail (hal.260)

– Syaikh al Albani dalam As Silsilah adh Dha’ifah no. 6204

– Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid dalam Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 126154

– DLL

Semoga perbedaan pandangan dalam hal ini tidak menjadi sebab robeknya persatuan kaum muslimin. Mana pun pendapat yang kita ikuti masing-masing pendapat juga terdapat para imam Ahlus Sunnah yang kredible ilmu, taqwa, dan akhlak nya.

Perdebatan masalah ini belasan abad lamanya dan belum ada kata final. Sebaiknya masalah ini tidak sampai menghabiskan waktu, pikiran, dan tenaga kita, sebab masih sangat banyak PR keumatan yang belum terselesaikan seperti pemurtadan, kemiskinan, penjajahan yg dialami sebagian negeri muslim,diusirnya umat Islam dari negerinya sendiri, dsb.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Hidup dan Mati Adalah Ujian

Benarkah Orang Yang Sudah Wafat Tahu Apa Yang Dilakukan Saudara dan Keluarganya Yang Masih Hidup?

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Bismillah al Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’ d:

Tentang pernyataan bahwa ruh (jamaknya: arwah) orang yang sudah wafat “mengetahui” perilaku keluarganya yang masih hidup, memang ada ditegaskan para ulama dengan beberapa dalil baik Al Quran, Hadits, dan pernyataan kaum salaf. Diberitakan bahwa jika keluarganya melakukan kebaikan maka dia akan bergembira, jika keluarganya melakukan keburukan maka dia akan sedih.

Di antara dalilnya, Allah Ta’ala berfirman:

وَقُلِ ٱعۡمَلُواْ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

(QS. At-Taubah, Ayat 105)

Ayat ini menunjukkan bahwa perbuatan manusia disaksikan oleh Allah Ta’ala, Rasulullah, dan orang-orang beriman. Menurut Imam Ibnu Katsir, orang-orang beriman yang dimaksud ayat ini juga termasuk mereka yang sudah wafat di alam barzakh, bukan hanya yang masih hidup.

Beliau – Rahimahullah – berkata:

وَقَدْ وَرَدَ: أَنَّ أَعْمَالَ الْأَحْيَاءِ تُعْرَضُ عَلَى الْأَمْوَاتِ مِنَ الْأَقْرِبَاءِ وَالْعَشَائِرِ فِي الْبَرْزَخِ

Telah datang keterangan bahwa perilaku orang hidup ditampakkan dihadapan orang wafat dari kalangan kerabat dan keluarganya di alam barzakh. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid. 4, hal. 183)

Keterangan yang dimaksud Imam Ibnu Katsir sangat banyak, ada yang shahih, hasan, dan dhaif, di antaranya:

1. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ أَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى عَشَائِرِكُمْ وَأَقْرِبَائِكُمْ فِي قُبُورِهِمْ ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا اسْتَبْشَرُوا بِهِ ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ قَالُوا : اللَّهُمَّ أَلْهِمْهُمْ أَنْ يَعْمَلُوا بِطَاعَتِكَ

Amal kalian akan ditampakkan dihadapan keluarga dan kerabat kalian di kubur mereka. Jika amal itu baik maka mereka bergembira dengannya. Jika tidak baik, maka mereka berdoa: “Ya Allah, ilhamkanlah mereka agar melakukan ketaatan kepadaMu.”

(HR. Abu Daud Ath Thayalisi, no. 1903)

Sanadnya: Dari Shalt bin Dinar, dari Al Hasan, dari Jabir.

Tentang Shalt bin Dinar, dia telah didhaifkan oleh pada imam seperti Ahmad, Al Jauzajaani, Ad Daruquthni, An Nasa’i, Syu’bah. (Mizanul I’tidal, 2/318) Ditambah lagi, sanadnya terputus karena Al Hasan tidak mendengarkan hadits ini dari Jabir, seperti yang dikatakan Abu Zur’ah dan Abu Hatim.

2. Dari Sufyan, dari “seseorang” yang telah mendengar dari Anas bin Malik, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ أَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى أَقَارِبِكُمْ وَعَشَائِرِكُمْ مِنَ الْأَمْوَاتِ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا اسْتَبْشَرُوا بِهِ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ، قَالُوا: اللهُمَّ لَا تُمِتْهُمْ، حَتَّى تَهْدِيَهُمْ كَمَا هَدَيْتَنَا

Amal kalian akan ditampakkan dihadapan keluarga dan kerabat kalian di kubur mereka. Jika amal itu baik maka mereka bergembira dengannya. Jika tidak baik, maka mereka berdoa: “Ya Allah, janganlah matikan mereka sampai Engkau memberikan mereka hidayah seperti Engkau memberikan hidayah kepada kami.”

(HR. Ahmad no. 12683)

Syaikh Syu’aib al Arnauth mengatakan: Dha’if, karena ketidakjelasan perawi antara Sufyan dan Anas. (Ta’liq Musnad Ahmad, 20/114)

3. Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan tentang dialog antar arwah, salah satu dialognya adalah menceritakan kabar Si Fulan di dunia:

إِنَّ فُلَانًا قَدْ فَارَقَ الدُّنْيَا

Si Fulan telah meninggal dunia (HR. Al Bazar no. 9760. Syaikh Al Albani mengatakan: HASAN. Lihat Al Ayat Al Bayyinat, hal. 91)

4. Dari Abu Hurairah pula, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan dialog antara arwah yang sudah wafat. Mereka bertanya kabar si Fulan di dunia, lalu dijawab:

دَعُوهُ فَإِنَّهُ كَانَ فِي غَمِّ الدُّنْيَا

Biarkan saja, dia telah tenggelam dalam kehidupan dunia.

(HR. An Nasa’i no. 1833. Hadits ini dinyatakan SHAHIH oleh Imam Ibnu Taimiyah. Lihat Majmu’ al Fatawa, 5/450)

Selain itu, hal ini juga disampaikan generasi salaf dalam beberapa atsar shahih dari mereka.

Imam Abdullah bin Al Mubarak Rahimahullah, meriwayatkan bahwa Abu Ayyub Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu berkata:

فَيُعْرَضُ عَلَيْهِمْ أَعْمَالُهُمْ ، فَإِذَا رَأَوْا حَسَنًا فَرِحُوا وَاسْتَبْشَرُوا ، وَقَالُوا: هَذِهِ نِعْمَتُكَ عَلَى عَبْدِكَ فَأَتِمَّهَا ، وَإِنْ رَأَوْا سُوءًا قَالُوا: اللَّهُمَّ رَاجِعْ بِعَبْدِكِ

Perbuatan mereka (orang hidup) akan diperlihatkan kepada orang yang wafat, jika mereka lihat baik maka mereka bergembira dan senang, lalu berkata: “Ini nikmatMu atas hambaMu maka sempurnakanlah.” Jika mereka lihat amalnya buruk, mereka berdoa: “Ya Allah, ambillah kembali hambaMu.”

(Az Zuhd no. 443. SHAHIH. Lihat Ash Shahihah no. 2758)

Dalam atsar ini, orang wafat bukan hanya tahu kondisi orang hidup tapi sampai-sampai mereka “mendoakan” orang masih hidup.

Imam Ath Thabari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu:

إن أعمالكم تعرض على أقربائكم من موتاكم ، فإن رأوا خيرا فرحوا به ، وإن رأوا شرا كرهوه

Amal kalian akan diperlihatkan dihadapan kerabat kalian yang telah wafat, jika mereka lihat ada kebaikan maka mereka senang, jika mereka lihat keburukan maka mereka membencinya.

(Tahdzibul Atsar, 2/510. Sanadnya: HASAN, dengan berbagai jalur yang menjadi syawahid/pendukungnya)

Imam Ibnu Rajab, dari Tsabit al Bunani Rahimahullah, Beliau berkata:

بلغنا أن الميت إذا مات احتوشته أهله وأقاربه الذين تقدموه من الموتى، فلهم أفرح به وهو أفرح بهم من المسافر إذا قدم إلى أهله

Telah sampai kepadaku, bahwa mayit jika wafat diiringi oleh keluarga dan kerabatnya yang mengantar dia pada kematiannya maka mayit tersebut bahagia dengan hal itu, dan dia lebih berbahagia dibanding musafir yang datang ke keluarganya. (Imam Ibnu Rajab, Ahwalul Qubur, hal. 25)

Dari Ubaid bin Umair Rahimahullah:

أهل القبور يتوكفون الأخبار فإذا أتاهم الميت قالوا ما فعل فلان فيقول صالح ما فعل فلان فيقول ألم يأتكم أو ما قدم عليكم فيقولون إنا لله وإنا إليه راجعون سلك به غير سبيلنا

Penghuni kubur itu saling berikan berita, jika datang kepada mereka mayit, mereka bertanya: “Bagaimana kabar si Fulan?” Beliau jawab: “Dia baik-baik saja.” Apa yang dilakukan Fulan? Dia jawab: “Apakah belum datang beritanya kepada kalian?” mereka menjawab: “Innalilahi wa innaa ilaihi raaji’un, dia telah menempuh jalan bukan jalan kami.” (Ibid, hal. 26)

Sufyan Ats Tsauri Rahimahullah berkata:

إن الميت ليعرف كل شيء حتى إنه ليناشد غاسله بالله إلا خففت علي غسلي، قال: ويقال له وهو على سريره: اسمع ثناء الناس عليك

Mayit benar-benar mengetahui segala hal sampai-sampai dia mengadukan kepada Allah tentang orang yang memandikan dirinya, “kecuali jika kamu meringankan cara memandikan diriku.” Dia (Sufyan) berkata: “Dikatakan kepadanya dan dia masih di atas kasurnya: Dengarkanlah pujian manusia atas dirimu.” (Imam As Suyuthi, Busyra Al Kaib bi Liqail Habib, hal. 33)

Dan masih banyak lagi.

Hal ini adalah perkara ghaib yang tidak dapat dijangkau akal, dan membutuhkan dalil dari wahyu dan keterangan yang shahih untuk membenarkannya. Maka, Ucapan para salaf ini – dan kita berbaik sangka kepada mereka- tidaklah mereka ucapkan melainkan berasal dari berita yang shahih.

Oleh karena itu Imam As Suyuthi Rahimahullah pernah mengatakan dalam kesempatan yang lain:

المقرر في فن الحديث والأصول أن ما روي مما لا مجال للرأي فيه كأمور البرزخ والآخرة فإن حكمه الرفع لا الوقف ، وإن لم يصرح الراوي بنسبته إلى النبي صلى الله عليه وسلم

Ketetapan dalam ilmu hadits dan Ushul, bahwa apa-apa yang diriwayatkan tentang hal yang bukan domainnya akal seperti urusan alam barzakh dan akhirat maka dihukumi sebagai berita yang marfu’ (sampai ke Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) bukan mauquf (sampai ke sahabat saja), walau si perawinya tidak menerangkan bahwa itu berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. (Imam As Suyuthi, Al Hawil Lil Fatawi, 2/217)

Hal serupa dikatakan oleh Imam Al Qurthubi Rahimahullah dalam At Tadzkirah, setelah Beliau memaparkan beberapa atsar tentang ini, Beliau berkata:

هذه الأخبار ، وإن كانت موقوفة ؛ فمثلها لا يقال من جهة الرأي

Berita-berita ini jika statusnya mauquf (hanya sebagai ucapan sahabat) maka yang seperti ini tidaklah mungkin diucapkan berasal dari (semata-mata) pendapat. (At Tadzkirah, hal. 61)

Maksudnya, tidak mungkin sahabat nabi mengatakan hal ini berdasarkan akalnya semata, ini tidak lain hanya berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menegaskan:

أَن الْأَرْوَاح قِسْمَانِ : أَرْوَاح معذبة ، وأرواح منعمة . فالمعذبة فِي شغل بِمَا هى فِيهِ من الْعَذَاب عَن التزاور والتلاقي ، والأرواح المنعمة الْمُرْسلَة غير المحبوسة تتلاقي وتتزاور وتتذاكر مَا كَانَ مِنْهَا فِي الدُّنْيَا وَمَا يكون من أهل الدُّنْيَا “

Arwah itu ada dua macam: 1. Arwah yang sedang diazab, 2. Arwah yang mendapatkan nikmat. Untuk arwah yang diazab mereka sedang sibuk dengan azab itu sehingga mereka tidak saling berjumpa dan mengunjungi. Untuk arwah yang mendapatkan nikmat, mereka bebas saling berjumpa dan mengunjungi, serta saling mengingat tentang apa yang mereka alami di dunia dan apa yang sedang terjadi/dilakukan oleh penduduk dunia. (Ar Ruh, hal. 17)

Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani Rahimahullah menulis:

وَأما قَوْله إِذا دفن الْمَيِّت ، قَرِيبا من قبر آخر ، أَو بَعيدا ؛ هَل يعرفهُ ويسأله عَن أَحْوَال الدُّنْيَا ؟ فَالْجَوَاب : نعم ، قد ورد فِي ذلك عدَّة أَحَادِيث

Ada pun perkataannya, jika mayit dikuburkan dekat kubur lain atau jauh, apakah dia mengetahui dan menanyakan keadaan di dunia? Jawabnya: Ya, hal itu diterangkan dalam banyak hadits.. (Al Imta’ bil Arbain, hal. 86)

Maka, berbagai dalil, atsar, dan penjelasan ulama, ini menunjukkan bahwa orang beriman yang sudah wafat tahu dan melihat apa yang dilakukan oleh saudara-saudaranya yang masih hidup di dunia. Hanya saja para ulama berbeda pendapat apakah pengetahuan tersebut secara umum saja, ataulah begitu detil tentang perilaku orang yg masih hidup.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allahu Robbul Alamin

Tidak Mendahulukan Makhluk dari Sang Khalik

Pemateri: Ust. DR. Wido Suparaha

Materi ini membahas satu tema penting bahwa di antara konsekuensi logis syahadatain, seorang mukmin TIDAK BOLEH MENDAHULUKAN   makhluk daripada Sang Khalik.

Mendahulukan Allah atas segala urusan kita adalah bagian dari adab yang tidak boleh terlepas. Kalaupun ada ketaatan kepada makhluk, maka ketaatan itu harus dalam rangka ketaatan kepada Allah, sehingga tidak boleh bertentangan dengan ketaatan kepada Allah.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Hujurat/49 ayat 1,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ayat yang mulia ini mengawali surat Al-Hujurat, surat yang diturunkan di Kota Madinah, dan berisi 18 ayat.

Rangkaian 5 ayat pertama surat ini sesungguhnya berisi taujih rabbani terkait tata cara bergaul dan berhubungan dengan Rasulullah Saw saat beliau masih hidup. Namun ayat pertama ini menjadi jauh lebih penting, karena memuat kandungan aqidah yang sudah menjadi kewajiban umat Islam untuk menjaganya.

📗Ibnu Katsir mengutip pendapat Ali bin Abi Thalhah yang meriwayat kan dari Ibnu ‘Abbas r.a., bahwa maksud ayat (لا تقدموا بين يدي اللّه و رسوله) adalah, “Janganlah kalian mengucapkan hal-hal yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits.”

Mujahid juga menafsirkan, “Janganlah kalian mendahului Rasulullah Saw dalam sesuatu (hal), sehingga Allah Swt. menetapkannya melalui lisan beliau.”

Adh-Dhahhak mengatakan jangan memutuskan suatu perkara tanpa mengikuti petunjuk Allah dan Rasulnya dari seluruh syari’at-syari’at dalam agama Islam,

Sufyan ats-Tsauri mengingatkan untuk tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam bentuk ucapan maupun perbuatan.[1]

Imam Jalaluddin mengatakan bahwa kalimat (لا تقدّم) berasal dari kata kerja (قدّم) yang berarti (تقدّم) yang maksudnya, ‘janganlah kalian mendahului dengan perbuatan maupun perkataan’.[2]

Sementara Imam Syafi’i mengatakan bahwa kata (تقدّم) ,(قدّم) dan (استقدام) memiliki makna yang satu. [3]

Ibn Hajar al-Atsqalani mengutip pendapat Ath-Thabari yang meriwayatkan dari Sa’id, dari Qatadah, “Disebutkan kepada kami bahwa sebagian orang berkata, ‘Sekiranya diturunkan tentang ini’, maka Allah pun menurunkan ayat itu.”

Imam Ath-Thabari juga berkata, “Al-Hasan berkata, ‘Mereka adalah sebagian kaum muslimin.
Mereka menyembelih (kurban) sebelum shalat, maka Nabi Saw memerintahkan mereka menyembelih kembali.”[4]

Ketika cara kita dalam melihat Surat Al-Hujurat ini ditingkatkan lebih global lagi, maka akan kita dapati adanya fokus bahasan tentang adab Mukmin kepada Nabi Saw, sebagai rangkaian utuh yang telah dimulai sejak Surat Muhammad.

Surat Muhammad menjelaskan bahwa mengikuti Nabi Saw. adalah bukti diterimanya amal.

Surat Al-Fath menjelaskan sifat-sifat orang yang mendapatkan kemenangan.

Sedangkan Surat ini, Surat Al-Hujurat, memberikan pesan, “Wahai orang yang akan mendapatkan kemenangan, hiasilah diri dengan adab-adab sosial, terutama adab kepada Nabi Saw.”

Seakan-akan beberapa sifat yang disebutkan di akhir Surat Al-Fath, pengorbanan dan kesungguhan, serta keseimbangan antara ibadah dan keberhasilan dalam kehidupan, masih membutuhkan penyempurnaan.

Adapun penyempurnaan nya adalah sifat-sifat yang terkait dengan moral dan adab yang disebutkan dalam Surat Al-Hujurat. Maka ayat pertama dari Surat Al-Hujurat ini berkata kepada para sahabat Nabi Saw., ” Janganlah kalian tergesa-gesa meminta turunnya wahyu, beradablah terhadap syariat, terhadap Allah dan Rasul-Nya.”

Sementara penerapan ayat ini dalam kehidupan kita adalah dengan tunduk pada syariat Allah Swt., dan sunnah Nabi-Nya, tanpa melakukan pelanggaran terhadap keduanya.[5]

Ayat tersebut diakhiri dengan perintah agar bertakwa kepada Allah Swt., sebagai pertanda bahwa jika seorang mukmin meninggalkan adab yang telah dibahas di atas, maka tidak sempurnalah keimanannya.
Dalam makna berkebalikan dapat disebutkan bahwa seorang yang bertakwa pastilah pandai dalam menjaga adab terhadap Allah dan Rasul-Nya, sebagai adab yang harus diprioritaskan dan ditempatkan pada tempat yang paling tinggi.

Esensi dari ayat ini sesungguhnya adalah agar mukmin sentiasa menjaga ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan berhukum dengan hukum yang telah ditetapkan untuknya.

Maka dalam banyak ayat Al-Qur’an, esensi yang sama semakin dikuatkan dengan ragam redaksi, untuk terus mengingatkan sifat kemanusiaan yang terkadang mudah tersimpangkan karena faktor-faktor yang dapat menyimpangkannya.

Firman Allah Swt. dalam Surat An-Nisa/4 ayat 60-61,

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ?
Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.

Apabila dikatakan kepada mereka :
“Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.”

Firman Allah Swt. dalam Surat Al-Anfal/8 ayat 24,

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.”

Firman Allah Swt. dalam Surat An-Nur/24 ayat 51-52,

“Sesungguhnya jawaban oran-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka [1046] ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”.

Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan.”

Firman Allah Swt. dalam Surat Al-Ahzab/33 ayat 36,

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.

Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

Maraji’

1] Muhammad Ali Ash-Shabuni, Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir, Beirut: Dar al-Fikr, Tanpa Tahun, hlm. 357. Menurut Ibn Hajar dalam Fathul Bari, pendapat Mujahid dinukil oleh Abd bin Humaid melalui sanad yang maushul dari Ibn Abi Najih, dari Mujahid. Ibn Hajar meriwayatkan dalam kitab Dzammul Kalam dari jalur ini.

2] Jalaluddin Muhammad al-Mahalli dan Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi, Tafsir Jalalain, Jilid 3, Surabaya: Pustaka eLBA, Tanpa Tahun, hlm. 470.

3] Asy-Syafi’i, Tafsir Al-Imam Asy-Syafi’i, Saudi Arabia: Dar at-Tadmiriyyah, 2006, hlm. Maktabah Syamilah.

4] Ibn Hajar al-Atsqalani, Fathul Bari Jilid 24, Jakarta: Pustaka Azzam, 2008, hlm. 97.

5] Amru Khalid, Khowathir Qur’aniyyah, Nazharat fi Ahdafi Suwaril Qur’an, Jakarta: Al-I’tishom, Cetakan ke-3, 2012, hlm. 621.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allahu Robbul Alamin

Urgensi Dua Kalimat Syahadat (Bag. 2 – Habis)

Pemateri: Ust. DR. Wido Suparaha

Materi sebelumnya bisa dibuka di link berikut:

3. Konsep Dasar Reformasi Total atau Gerakan Perubahan

Generasi terbaik agama ini telah mencontohkan, bagaimana begitu mereka menerima syahadatain sebagai dua persaksian penting dalam hidup mereka, mereka LANGSUNG melakukan perubahan tanpa menunggu waktu lama.

Sebuah perubahan yang sangat drastis.

Cukuplah sosok Mush’ab bin ‘Umari menjadi contoh dari begitu banyak contoh terbaik.

Sosok yang awalnya merupakan pemuda dengan gaya hidup mewah di kota Makkah, langsung berubah menjadi da’i nan sederhana, duta Rasul untuk kota Madinah, sehingga tatkala syahid menjemputnya saat perang Uhud, dibacakan ayat berikut ini kepadanya dari Surat Al-Ahzab/33 ayat 23,

“Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.

Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)”

Orang-orang yang tadinya mati hatinya tiba-tiba mendapatkan cahaya setelah menerima syahadatain, sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-An’am/6 ayat 122

“Dan apakah orang yang sudah mati  kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?

Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.”

Allah Swt. juga berfirman dalam Surat Ar-Ra’d/13 ayat 11,

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa

malaikat yang mencatat amalan-amalannya.

Dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut malaikat ‘Hafazhah’.

Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.”

4. Hakikat Da’wah Para Rasul

Tauhid merupakan misi dakwah para Rasul.

Agama para Nabi adalah satu, yaitu TAUHID, sedangkan syariat bisa berbeda-beda.

Seluruh bentuk ibadah tidak diterima tanpa tauhid. Tauhid menjadi pangkal keselamatan di dunia, karena dengannya seseorang menjadi Muslim dan kemudian darah dan hartanya terlindungi.

Tauhid juga tentu menjadi pangkal keselamatan di akhirat.[12]

Sesungguhnya dakwah para Rasul adalah kepada syahadatain ini. Dengan hakikat ini, seorang Muslim akan memahami Islam sebagai pedoman hidup menyeluruh, baik untuk urusan kecil maupun besar hanya kepada Allah dan Rasulnya.

Jika demikian, maka pemahaman lengkap kita akan agama ini MENJADIKAN Islam sebagai:
– agama dan kedaulatan,
– akidan dan syari’ah,
– sistem moral dan kepemimpinan,
– jihad dan ibadah,
– dunia dan akhirat, dengan segala yang terkandung di dalam Kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. [13]

Dengan motivasi yang benar dari syahadatain, seseorang akan mulai menghadirkan aktifitas-aktifitas kebaikan
– diawali memperbaiki diri sendiri,
– kemudian membentuk rumah tangga Muslim, dan
– dilanjutkan membimbing masyarakat.

Dari tiga aktifitas mendasar tersebut, maka mulailah para peyakin syahadatain meningkatkan aktifitas mereka hingga
– membebaskan tanah air dari kekuatan asing,
– memperbaiki pemerintah an,
– mewujudkan kesatuan umat Islam,
– sampai pada puncaknya memimpin dunia dengan dakwah Islamiyah ke seluruh pelosok dunia. [14]

Allah Swt. berfirman dalam Surat Ali ‘Imran/3 ayat 31,

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-An’am/6 ayat 19,

“Katakanlah:
“Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?”

Katakanlah: “Allah”. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quraan ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quraan (kepadanya).

Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui.”

Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)”.

Allah Swt. berfirman dalam Surat An-Nahl/16 ayat 36,

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):

“Sembahlah Allah (saja),
dan jauhilah Thaghut [826] itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya [827].

Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”

5. Keutamaan yang Besar

Kalimat ini selain melahir kan konsekuensi logis, juga memberikan balasan terbaik bagi para peyakinnya khususnya di akhirat kelak.

Namun adalah sesuatu yang sulit untuk meraihnya jika kalimat ini belum menyatu dalam sanubari dan keseharian kita, dan terpatri kuat dalam alam bawah sadar manusia.

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Daud)

مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ

”Barangsiapa mengucap kan ’saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa ’Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, dan (bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.” (HR. Muslim no. 149)

***

Maraji’

1] Abdullah Azzam, Aqidah, Landasan Pokok Membina Ummat, Jakarta: GIP, Cetakan ke-6, 1995, hlm. 19.

2] Muhammad Sa’id Salim al-Qaththany, Al-Wala’ wa al-Bara’, Jakarta: Ramadhani, Cetakan ke-4, 1994, hlm. 6.

3] Muhammad at-Tamimi, Mengungkap Kebatilan Penentang Tauhid, Jakarta: Darul Haq, 1997, hlm. 10.

4] Muhammad Sa’id Salim al-Qaththany, Al-Wala’ wa al-Bara’, hlm. 23.

5] Abu Zaid al-A’jami, Akidah Islam Menurut Empat Madzhab, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cetakan ke-2, 2014, hlm. 71.

6] Sa’id Hawwa, Allah Subhanahu wa Ta’ala, Jakarta: GIP, Cetakan ke-3, 2005, hlm. 226.

7] Taufiq Yusuf al-Wa’iy, Fiqih Dakwah Ilallah, Jakarta: Al-I’tishom, Cetakan ke-2, 2012, hlm. 21.

8] Abdurrahman Abdul Khaliq, Dasar-dasar Dakwah Generasi Islam Pertama, Jakarta: Pustaka Al-Hidayah, Cetakan ke-2, 1993, hlm. 19.

9] Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir, Jilid 1, Bogor: Pustaka Imam Syafi’i, 2004, hlm. 291.

10] Jalaluddin Muhammad al-Mahalli dan Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi, Tafsir Jalalain, Jilid 1, Surabaya: Elba, 2010, hlm. 664.

11] Ridhwan Muhammad Ridhwan, 20 Taushiyah Hasan Al-Banna, Jakarta: Al-Farda, 2004, hlm. 157.

12] Shalah Shawi, Ats-Tsawabit Wal Mutaghayyirat, Prinsip-prinsip Gerakan Dakwah Yang Mutlak dan Fleksibel, Jakarta: Era Intermedia, 2011, hlm. 154.

13] Jum’ah Amin Abdul Aziz, Fiqih Dakwah, Jakarta: Intermedia, Cetakan ke-2, 1998, hlm. 56.

14] Sa’id Hawwa, Membina Angkata Mujahid, Jilid 1, Jakarta: Al-Ishlahy Press, Tanpa Tahun, hlm. 61.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allahu Robbul Alamin

Urgensi Dua Kalimat Syahadat (أهمية الشهادتين) (Bag-1)

Pemateri: Ustadz DR Wido Supraha

Materi ini mengingatkan kaum muslimin akan pentingnya dua kalimat syahadat yang telah sangat dikenal sejak pertama kali mengenal Islam, bahkan dihafal dan terus menerus diulang pengucapannya setiap hari.

Namun adakah di antara Anda yang memaknai untaian kalimat singkat namun penuh makna ini? Bukankah dua kalimat ini kita lafazhkan setiap harinya?

Bagaimana sesungguhnya urgensi dari kalimat yang merupakan gerbang pertama seseorang untuk masuk ke dalam agama Islam?

Aqidah berasal dari kata ‘aqoda, bermakna ma’qudah (yang terikat).

Aqidah bagaikan ikatan perjanjian yang teguh dan kuat, karena ia terpatri dalam hati dan tertanam di dalam lembah hati yang paling dalam. Aqidah adalah iman dengan semua rukunnya yang enam.

Rukun pertamanya adalah mengucapkan syahadatain, dua kalimat syahadat.[1]

Tegaknya Islam wajib didahului tegaknya rukun Islam. Tegaknya Rukun Islam wajib didahului tegaknya syahadah.

Maka sedemikian pentingnya syahadah ini sehingga ia perlu mendapatkan perhatian khusus agar mendapatkan pemaknaan yang shahih, menentukan kebahagiaan hidup kita, dunia dan akhirat.

Bersama syahadat, kita saksikan generasi awal pemeluk agama ini (السَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ) memiliki kesabaran di atas rata-rata ketika disiksa, ditawan, dipukuli, dan berhijrah.

Syahadatain, dua kalimat syahadat, dua kalimat yang diucapkan sebagai persaksian seorang Muslim.

Kalimat pertama menegaskan bahwa ‘Tidak Ada Tuhan yang disembah dengan sebenar-benarnya selain Allah’, dan kalimat kedua menegaskan bahwa ‘Muhammad Saw. adalah benar utusan Allah Swt.’.[2] Yang dimaksud dengan kalimat ini adalah makna hakikinya bukan sekedar lafazhnya.

Maka kemudian, kedua kalimat ini melahirkan loyalitas (wala’) dan penolakan (bara’), sebagai wujud kelurusan tauhid.

Muslim pun akan tergerak untuk hanya mengesakan Allah, selalu bergantung kepada Allah, mengingkari dan berlepas diri dari segalah sesuatu yang disembah selain Allah. [3]

Berkata Ibn Qayyim al-Jauziyyah, “Tauhid itu mengandung kecintaan kepada Allah, ketundukan dan merendahkan diri kepada-Nya, patuh dengan sebenarnya untuk ta’at kepada-Nya, memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, menghendaki pertemuan dengan wajah-Nya Yang Maha Tinggi dengan segenap perkataan dan perbuatan, memberi dan menahan, mencinta dan marah karena-Nya, serta menghindarkan diri dari segala sesuatu yang menyeret pada kedurhakaan kepada-Nya.”[4]

Begitu pentingnya pemaknaan yang benar akan konsep syahadat, dan melihat begitu banyak penyimpangan dalam sejarah pengembangan agama ini, maka lahirlah disiplin ilmu tauhid.

Kehadiran ilmu tauhid ini merupakan salah satu bentuk perhatian terhadap aqidah Islam, baik dari sisi pemahaman, penarikan konklusi dalil, ataupun pembelaan terhadap ragam serangan yang telah pernah terjadi di masanya.

Ragam serang itu muncul karena lahirnya ragam pemikiran menyimpang sehingga membutuhkan upaya untuk pelurusan dan penguatan kembali.[5]

Bersyukurlah kita berada dalam keyakinan Islam. Islam dengan akidah ketuhanan menjadi penyempurna dan perbaikan bagi setiap akidah yang telah mendahuluinya dalam berbagai aliran keagamaan ataupun filsafat yang membahas masalah ketuhanan.[6]

Syahadatain merupakan awal sekaligus inti dari ber-Islam.
Syahadatain adalah akidah itu sendiri. Syahadatain adalah sesuatu yang kepadanya segala bentuk ketundukan sebagaimana makna ad-Din. Maka Islam adalah akidah, agama, dan manhaj hidup seorang mukmin.[7]

Syahadatin menjadi inti dan sumber motivasinya. Konsep ini membawa kita kepada keimanan dengan cara yang benar bahwa hanya kepada Allah kita beribadah, dan bahwa hanya Allah yang memiliki hak membuat syariat untuk manusia.[8]

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Baqarah/2 ayat 143:

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan [95] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”

Kata wasathan hanya satu kali ditemukan dalam Al-Qur’an, namun ada 4 kata lain yang menggunakan dasar kata yang sama didapati, dengan satu kata sebagai kata kerja.

Ummat wasathan adalah umat terbaik, sebagaimana dikatakan ‘Rasulullah wasathan fi qaumihi‘, dan sebagaimana Shalat Wustha adalah shalat terbaik. Ketika Allah menjadikan Ummat ini sebagai ummatan wasathan maka Dia memberikan kekhususan kepadanya dengan syari’at yang paling sempurna, jalan yang paling lurus, dan paham yang paling jelas.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Sa’id, juga disebutkan oleh Rasulullah bahwa kata al-wasath juga bermakna al-‘adl, adil dan pilihan.[9]

Kata syahadah dengan ragam bentuknya dapat ditemukan sebanyak 160 kata di dalam Al-Qur’an, 107 kata benda, dan 53 kata kerja. Sebagaimana kata ‘syahiidan’, dalam Surat An-Nisa’/4 ayat 41:

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu.:

1. Pintu Masuk ke dalam Islam

Memasuki agama Islam sangatlah mudah, hanya dengan memformalkan pengucapan syahadatain di atas keimanan.

Namun sesuatu yang mudah ini sangat sulit dilakukan oleh kafir Quraisy yang sangat memahami makna di balik kalimat yang mudah diucapkan tersebut. Kandungan dan konsekuensi logis di balik kalimat tersebut telah menahan mereka untuk kembali ke jalan Islam, jalan hidayah nan penuh kasih.

Dikatakan ‘kembali’, karena asasinya, manusia telah pernah berjanji di alam ruh, untuk sentiasa menyembah Allah semata.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-A’raf/7 ayat 172;

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”.

(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata- kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Atau agar kamu tidak mengatakan:
“Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”

Menurut Imam Jalaluddin Muhammad al-Mahalli, kata ‘min zhuhurihim‘ merupakan badal isytimal (kata ganti yang mencakup) dari kata-kata sebelumnya, ‘min bani Adam‘ dengan mengulang penyebutan huruf jar ‘min‘.[10]

Maka kemudian kita menyaksikan bagaimana Nabi Muhammad Saw. telah berupaya mengislamkan seluruh isi bumi ini semaksimal kemampuan yang ada saat tersebut, sebagaimana hadits ke-8 Arba’in An-Nawawiyah berikut ini:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكاَةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَـهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالىَ [رواه البخاري ومسلم

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma sesungguhnya Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda:

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal itu maka darah dan harta mereka akan dilindungi kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah ta’ala. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Allah Swt. juga berfirman dalam Surat Muhammad/47 ayat 19,

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.”

Kalimat ‘wastaghfir li dzanbika‘ mengikuti untaian kalimat tauhid menunjukkan bahwa ketidakkonsistenan antara pernyataan dan perbuatan merupakan dosa.

Maka selain menjaga kemurnian kalimat tauhid dengan amal ibadah yang shahih, seorang Muslim juga dituntut untuk tidak menyombongkan diri di atas kalimat tersebut, sebagaimana firman Allah dalam Surat Ash-Shaffat/37 ayat 35:

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri.

Maka hanya dengan ilmu-lah, seorang Muslim akan terhindar dari kesombongan diri, dan bersyahadat dalam arti yang sebenarnya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat Ali ‘Imran/3 ayat 18,

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu  (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Perlu diketahui bahwa kata paduan qa-sin-tha ini digunakan dalam 27 kata di dalam Al-Qur’an, dengan 14 kata di antaranya adalah kata ‘bil qisth‘. 24 kata darinya adalah kata benda, dan 3 kata merupakan kata kerja

2. Intisari Ajaran Islam

Syahadatain menjadi inti dari ajaran Islam.
Keimanan sebagai motivator kehidupan sekaligus asas amal. Gerak hati menjadi lebih penting daripada gerak jasmani.

Sebab hati sumber dan pengarah amal. Jika hati penuh dengan keimanan, keikhlasan, ketakwaan, maka amal jasmani mendapat ridha dan pahala dari-Nya. Maka wajib setiap Muslim untuk memperbaiki ibadah hati. [11]

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Anbiya/21 ayat 25,

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.

Allah Swt. juga berfirman dalam Surat Al-Jasiyah/45 ayat 18,

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”

Maka prinsip syahadatain yang menjadi intisari ajaran Islam adalah sebagai pernyataan penghambaan dan ibadah hanya kepada Allah. Pernyataan bahwa Rasulullah menjadi teladan dalam penghambahan dan ibadah tersebut.

Pernyataan bahwa penghambaan dan ibadah itu meliputi seluruh aspek kehidupan.

Bersambung


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pegang Teguh Tali Allah

SIAPAKAH SYIAH?

Pemateri: DR. WIDO SUPRAHA

Syi’ah berarti pendukung, pembela.

Syi’ah Ali adalah Pendukung Ali r.a., Syi’ah Mu’awiyah adalah pendukung Mu’awiyah r.a.

Namun baik Syi’ah Ali maupun Syi’ah Muawiyah di masa itu keduanya Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena aqidah dan fahamnya sama, Al-Qur’an dan As-Sunnah.[1]

Namun setelahnya Syi’ah kemudian berkembang dari aliran politik menjadi aliran aqidan dan fiqh baru.

Sumber rujukan Syi’ah yg utama dan induk ada 4 Kitab (Al-Kutub al-Arba’ah):

1. Al-Kaafi (16.199 hadits) ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad bin Ya’kub bin Ishak al-Kulaini (wafat 329H)

2. Man La Yadhurruh al-Faqih (6.593 hadits) ditulis oleh Abu Ja’far Ash-Shaduq Muhammad bin Ali Babawaih (wafat 381H)

3. At-Tahdzib (13.590 hadits) ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan Ali ath-Thusi (wafat 460H)

4. Al-Istibshar (6.531 hadits) ditulis oleh Abu Ja’far Ath-Thusi (Syaikhut Thaifah).

Keempat kitab ini terus diproduksi hingga hari ini, sehingga salah satu kitab Syi’ah berjudul Al-Muraja’at ditulis oleh Abd Husein Syarafuddin al-Musawi, diterjemahkan oleh MIZAN dengan judul “Dialog Sunnah Syi’ah” menegaskan bahwa keempat kitab tersebut telah sampai kepada kita dengan mutawatir, isinya shahih tanpa keraguan.[2]

Syi’ah kemudian berpecah menjadi banyak firqah:
Syi’ah 7, Syi’ah 12, Syi’ah 12 Ja’far, Hasyimiyah, Hamziyah, Manshuriyah, Mughiriyah, Harbiyah, Khatthabiyah, Ma’mariyah, Bazighiyah, Sa’idiyah, Basyiriyah, ‘Albaiyah, Hisyamiyah, Ruzamiyah, Nu’maniyah, Musailamiyah, Isma’iliyah, Waqifiyah, Mufawwidhah, Ghurabiyah, Kamiliyah, Nushairiyah, Ishaqiyah.[3]

Perbedaan yang banyak ini dijelaskan oleh Fakhruddin ar-Razi dalam Al-Muhashshal,

“Ketahuilah bahwa adanya perbedaan yang sangat besar seperti tersebut di atas, adalah merupakan satu bukti konkret tentang tidak adanya wasiat teks penunjukan yang jelas dan berjumlah banyak tentang Imam yang Duabelas seperti yang mereka klaim itu.”[4]

Inti ajaran Syi’ah terlihat hanya terpusat pada masalah Imam saja, dan tidak boleh diluar dari nama-nama yang mereka yakini [5]

Syi’ah yang berkembang pesat hari ini adalah Syi’ah Imamiyah Dua Belas, karena telah menjadi mayoritas di Iran, Irak, Suriah, Libanon, dan negara lainnya.[6] Meyakini bahwa kepemimpinan ada pada 12 Imam:
1. ‘Ali bin Abi Thalib
2. Hasan bin ‘Ali
3. Husein bin ‘Ali
4. Ali Zain al-Albidin
5. Muhammad al-Baqir
6. Jafar al-Shadiq
7. Musa al-Kazhim
8. Ali al-Ridha
9. Muhammad al-Jawwad
10. Ali al-hadi
11. Al-Hasan al-Askari
12. Muhammad al-Muntazhar

Muhammad al-Muntazhar dikisahkan ketika masih kecil hilang dalam gua yang terletak di Masjid Samarra, Iraq.
Mereka meyakini akan hilangnya untuk sementara dan akan kembali sebagai al-Mahdi untuk langsung memimpin umat.

Nama lainnya Imam Tersembunyi (Al-Imam al-Mustatir) atau Imam yang dinanti (Al-Imam al-Muntazhar).

Periode menanti kehadirannya disebut Al-Ghaibah al-Kubra, diisi oleh kepemimpinan raja, imam dan ulama mujtahid Syi’ah.[7]

Syi’ah Imamiyah mengklaim bahwa Al-Qur’an saja TIDAK CUKUP untuk menerangkan agama, perlu adanya seorang imam.

Kebanyakan ulama mereka terdahulu mengklaim bahwa Al-Qur’an itu kurang karena pengurangan, sehingga tentu ada kemungkinan penambahan.
Mereka juga mengklaim dari sekitar 10.000 sahabat Nabi Saw hanya 4 orang saja yang tidak mengkhianati Rasulullah Saw.

Maka mereka telah meyakini bahwa Islam telah gagal sejak kali pertama, juga kegagalan Rasulullah Saw dalam mendidik! [8]

Maka tidak heran kalau mereka memiliki banyak teori baru dalam akidah seperti Kemakshuman para Imam, Bada’ (Mengetahui hal yang Ghaib), Raj’ah (Reinkarnasi), dan Taqiyah (Kepura-puraan) [9]

Sebuah keyakinan jika tidak dibangun di atas wahyu maka yang terjadilah adalah kerusakan metodologi dan pondasi berfikir.

***

Maraji’
1] Drs. KH. Moh. Dawam Anwar, Katib Aam PBNU 1994-1998, dalam makalahnya berjudul “Inilah Haqiqat Syi’ah”.

2] KH. Thohir Abdullah al-Kaff, Mantan Ketua Yayasan Al-Bayyinat Bidang Dakwah, dalam makalahnya berjudul “Perkembangan Syi’ah di Indonesia”.

3] KH. Drs. M. Nabhan Husein, Mantan Ketua DDII Jakarta, dalam makalahnya berjudul “Tinjauan Ahlus Sunnah terhadap Faham Syi’ah tentang Al-Qur’an dan Hadits”.

4] DR. M. Hidayat Nur Wahid, Mantan Ketua Yayasan Haramain, dalam makalahnya berjudul “Syi’ah dalam Lintasan Sejarah”.

5] Farid Ahmad Okbah, Ahlussunnah wal Jamaah dan Dilema Syi’ah di Indonesia, hlm. 25.

6] Abdurrahman bin Sa’ad bin Ali asy-Syatsri, Pengajar Tetap Masjid Quba, Aqaid asy-Syi’ah al-Itsna Asy’ariyyah

7] KH. Abdul Latief Muchtar, MA., Mantan Ketua PERSIS, dalam makalahnya “Sunnah-Syi’ah Dua Ajaran Yang Saling Bertentangan”.

8] Prof. Dr. Ahmad bin Sa’ad al-Ghamidi, Hiwar Hadi ma’a ad-Duktur al-Qazwini asy-Syi’i al-Itsnai Asyari, Mukaddimah

9] Prof. Dr. Ali Ahmad as-Salus, Guru Besar Universitas Qatar, Ma’a asy-Syi’ah al-Itsna ‘Asyariah fi al-Ushul wa al-Furu’ (Mausu’ah Syamilah), Mesir: Dar at-Taqwa, 1997


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Maha Berkehendak

Apakah Makhluk Pertama Kali Yang Allah ﷻ Ciptakan?

📝 Pemateri: Farid Nu’man Hasan

Para ulama berbeda pendapat tetang hal ini:

Pertama. Mereka yang mengatakan Qalam adalah makhluk pertama yang Allah ﷻ ciptakan sebelum seluruh makhluk lainnya. Inilah pendapat Imam Ibnu Jarir, Imam Ibnul Jauzi, dan selainnya. Imam Ibnu Jarir mengatakan setelah itu Allah ﷻ menciptakan awan tipis. (Imam Ibnu Katsir, Al Bidayah wan Nihayah, 1/9)

Dalilnya adalah dari ‘Ubadah bin Ash Shamit Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إن أول ما خلق الله القلم

Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah Al Qalam. (HR. At Tirmidzi No. 3319, katanya:hasan shahih. Abu Daud No. 4700, Ahmad No. 22705. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 22705)

Kedua. Mereka yang mengatakan ‘Arsy adalah makhluk pertama yang Allah ﷻ ciptakan sebelum yang lainnya. Inilah pendapat mayoritas ulama, seperti yang dinukilkan Al Hafizh Abul ‘Ala Al Hamdani dan lainnya. (Al Bidayah wan Nihayah, Ibid)

Dalilnya adalah dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

Allah ﷻ menuliskan takdir-takdir bagi makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi sejauh 50.000 tahun. Beliau bersabda: ‘Arsy-Nya di atas air. (HR. Muslim No. 2653)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

وقد دل هذا الحديث أن ذلك بعد خلق العرش فثبت تقديم العرش على القلم الذي كتب به المقادير كما ذهب إلى ذلك الجماهير. ويحمل حديث القلم على أنه أول المخلوقات من هذا العالم

Hadits ini menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi setelah penciptaan ‘Arsy, maka telah shahih bahwa ‘Arys lebih dahulu dari pada Qalam, yang dengannya dituliskan takdir-takdir sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Ada pun hadits tentang Qalam, mereka menafsirkan bahwa Qalam adalah makhluk pertama di jagat raya (bukan makhluk yang pertama kali  diciptakan, pen). (Al Bidayah wan Nihayah, ibid)

Imam Ibnu Jarir menolak pendapat ini dengan beberapa riwayat yang dia jadikan hujjah. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

قال ابن جرير وقال آخرون ” بل خلق الله عزوجل الماء قبل العرش ” رواه السدي عن أبي مالك وعن أبي صالح عن ابن عباس وعن مرة عن ابن مسعود وعن ناس من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم: قالوا ” ان الله كان عرشه على الماء (1)، ولم يخلق شيئا غير ما خلق قبل الماء ” وحكى ابن جرير عن محمد بن اسحاق أنه قال ” أول ما خلق الله عزوجل النور والظلمة ثم ميز بينهما فجعل الظلمة ليلا أسود مظلما، وجعل النور نهارا مضيئا مبصرا ” قال ابن جرير وقد قيل: ” إن الذي خلق ربنا بعد القلم الكرسي. ثم خلق بعد الكرسي العرش، ثم خلق بعد ذلك الهواء والظلمة. ثم خلق الماء فوضع عرشه على الماء ” والله سبحانه وتعالى أعلم

 Ibnu Jarir dan lainnya mengatakan: “Bahkan Allah telah menciptakan air sebelum ‘Arsy.” As Suddi meriwayatkan dari Abu Malik, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dan dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dari manusia para sahabat Nabi ﷺ, mereka mengatakan: “Sesungghnya ‘ArsyNya ada di atas air, dan Dia belum menciptakan apa pun selain apa yang Dia ciptakan sebelum air.” Ibnu Jarir menceritakan dari Muhammad bin Ishaq, dia berkata: “Yang pertama kali Allah ﷻ ciptakan adalah cahaya dan kegelapan, lalu  Allah memisahkan keduanya sehingga dijadikanNya kegelapan itu di malam hari dan dijadikannya cahaya itu siang hari yang terang benderang. Berkata Ibnu Jarir: telah dikatakan: “Sesungguhnya yang diciptakan Rabb kami setelah Qalam adalah Kursiy, lalu setelah Kursiy adalah ‘Arsy, lalu setelah itu udara dan kegelapan, lalu diciptakan air maka diletakan ‘ArsyNya di atas air.” Wallahu A’lam (Al Bidayah, 1/10) Tapi, riwayat-riwayat ini tidak dijelaskan keshahihannya oleh Imam Ibnu Jarir.

Ketiga. Pendapat yang mengatakan bahwa yang pertama kali Allah ﷻ ciptakan adalah “Nur Muhammad.” Pendapat ini dianut oleh golongan sufi.

Dalilnya, dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

أول ما خلقت نور نبيك يا جابر

“Pertama kali yang diciptakan adalah Nur Nabimu wahai Jabir!” (HR. Abdurazzaq, lihat Al ‘Ajluni dalam Kasyful Khafa, 1/302)

Bahkan golongan ini meyakini bahwa Nur Muhammad diciptakan sebelum Lauh Mahfuzh, Qalam, surga, neraka, malaikat, langit, bumi, matahari, bulan, jin dan manusia. (Ibid)

Namun pendapat ini ditentang secara keras, dan dituding sebagai pendapat yang  menyimpang, karena dasarnya adalah riwayat yang palsu. Berikut ini keterangannya:

وهذا حديث موضوع مكذوب لا قيمة له، فنحن نسمع الناس في هذا الوقت يقولون: يا أول خلق الله! ويا نور عرش الله! فما هو الفرق بين هذا القول وبين قول النصارى: عيسى ابن الله؟ هذا ضلال وذاك ضلال

Hadits ini palsu dan dusta, tidak ada nilainya. Kami mendengar orang-orang sekarang  mengatakan: Wahai makhluk Allah yang pertama! Wahai cahaya ‘Arsynya Allah! Maka, apa bedanya perkataan ini dengan perkataan orang Nasrani: “Isa adalah anak Allah?” Ini sesat yang itu juga sesat. (Syaikh Hasan Abul Asybal Az Zuhri Al Mishri, Syarh Shahih Muslim, 13/97)

Sementara Syaikh Al Albani menyebut ini sebagai min abthalil baathil (di antara kebatilan yang paling batil). (Mausu’ah Al Albani fil ‘Aqidah, 3/816)

Manakah yang lebih shahih? Al Hafizh Abul ‘Ala Al Hamdani  Rahimahullah  mengatakan  pendapat yang paling shahih adalah yang mengatakan ‘Arsy sebagai makhluk pertama yang Allah ﷻ ciptakan. (Al ‘Ajluni, Kasyful Khafa, 1/302). Dan, inilah pendapat mayoritas ulama.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Amal dan Ajal

Kedudukan As Sunnah An Nabawiyah Dalam Islam (pengantar – bag. 2)

📝 Pemateri: Farid Nu’man Hasan, SS

Kemarin kita sudah bahas definisi As Sunnah, selanjutnya kita bahas dalil-dalil kenapa kita menggunakan As Sunnah.

Dalil-Dalil Kehujjahan As Sunnah

Berikut ini adalah dalil-dalil kenapa umat Islam menjadikan As Sunnah sebagai salah satu marja’  (referensi) pokok bersama Al Quran.

Dari Al Qur’an:

Ayat 1:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa (4): 59)

Dikeluarkan oleh Abdullah bin Humaid, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim, dari ‘Atha, bahwa ayat ‘Taatlah kepada Allah dan Rasul’ adalah mengikuti Al Kitab dan As Sunnah. (Imam Asy Syaukany, Fathul Qadir, 2/166. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Athi’uur rasul artinya khudzuu bisunnatihi (ambillah sunahnya). (Imam Ibnu Katsir, Jilid 1, hal. 518. Darul Kutub Al Mishriyah)

Ayat kedua:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An Nisa (4): 65)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menerangkan:

يُقْسِمُ تَعَالَى بِنَفْسِهِ الْكَرِيمَةِ الْمُقَدَّسَةِ: أَنَّهُ لَا يُؤْمِنُ أَحَدٌ حَتَّى يُحَكم الرَّسُولَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَمِيعِ الْأُمُورِ، فَمَا حَكَمَ بِهِ فَهُوَ الْحَقُّ الَّذِي يَجِبُ الِانْقِيَادُ لَهُ بَاطِنًا وَظَاهِرًا؛ وَلِهَذَا قَالَ: {ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} أَيْ: إِذَا حَكَّمُوكَ يُطِيعُونَكَ فِي بَوَاطِنِهِمْ فَلَا يَجِدُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا حَكَمْتَ بِهِ، وَيَنْقَادُونَ لَهُ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ فَيُسَلِّمُونَ لِذَلِكَ تَسْلِيمًا كُلِّيًّا مِنْ غَيْرِ مُمَانِعَةٍ وَلَا مُدَافِعَةٍ وَلَا مُنَازِعَةٍ، كَمَا وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ: “وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ”

Allah ﷻ bersumpah dengan diriNya yang mulia dan suci, bahwasanya tidaklah seseorang itu beriman sampai dia berhukum kepada Rasulullah ﷺ disemua urusan, maka apa-apa yang diputuskannya adalah kebenaran yang wajib ditaati baik  bathin dan zhahir. Oleh karena itu firmanNya (“kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”) yaitu jika mereka berhukum kepadamu (Muhammad) dan mentaatimu dalam bathin mereka dan mereka tidak ada kesempitan hati pada keputusanmu, dan tidak ada kontradiksi antara bathin dan zhahir mereka, maka mereka menerima secara total tanpa ada penolakan, perlawanan, dan perdebatan, sebagaimana terdapat dalam hadits: “Demi yang jiwaku ada di tanganNya, tidaklah seseorang di antara kamu beriman sampai dia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa-apa yang aku bawa.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/349)

Ayat ketiga:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah…” (QS. An Nisa (4): 80)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengomentari;

يخبر تعالى عن عبده ورسوله محمد صلى الله عليه وسلم بأنه من أطاعه فقد أطاع الله، ومن عصاه فقد عصى الله،وما ذاك إلا لأنه ما ينطق عن الهوى، إن هو إلا وحي يوحى

Allah Ta’ala mengabarkan tentang hamba dan RasulNya, bahwa barangsiapa yang taat kepadanya, maka itu termasuk taat juga kepada Allah, barangsiapa yang bermaksiat kepadanya maka itu termasuk bermaksiat kepada Allah, dan tidaklah hal itu melainkan bahwa apa yang dikatakannya bukan berasal dari hawa nafsunya, melainkan wahyu kepadanya. (Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 1. hal. 528)

Dan masih banyak ayat lainnya.

Wallahu A’lam

Bersambung … Insya Allah dalil-dalil As Sunnah sendiri.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Gemar Berbuat Baik

Kedudukan As Sunnah Nabawiyah dalam Islam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

👤 Ustadz Farid Nu’man Hasan

1️⃣ Definisi

📝 Secara bahasa (Lughatan – Etimologis):

👉 As Sunnah jamaknya adalah As Sunan, Al Qadhi ‘Iyadh mengatakan artinya Ath Thariiq (jalan/cara/metode). (Al Qadhi’ Iyadh, Ikmal Al Mu’allim, 8/80. Lihat juga Imam Al ‘Aini, ‘Umdatul Qari, 35/436).

👉 Lalu, Imam Abul Abbas Al Qurthubi mengatakan: Ath Thariiq Al Masluukah (jalan yang dilewati). (Imam Abul Abbas Al Qurthubi, Al Mufhim Lima Asykala Min Talkhishi fi Kitabi Muslim, 22/53)

👉Juga bisa berarti As Siirah (peri kehidupan/perjalanan) (lihat Syaikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Hujjah As Sunnah An Nawawiyah, Hal.  88) Juga berarti perilaku. (Kamus Al Munawwir, Hal. 669)

👉 Dalam Al Munjid disebutkan makna As Sunnah, yakni: As Sirah (perjalanan),  Ath Thariqah (jalan/metode), Ath Thabi’ah (tabiat/watak), Asy Syari’ah (syariat/jalan). (Al Munjid fil Lughah wal A’lam, hal. 353)

Hal ini nampak dari  hadits berikut:

Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ؟ “

“Kalian akan benar-benar mengikuti sunan (JALAN-JALAN) orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai walau mereka melewati lubang biawak, kalian akan menempuhnya juga.” Kami berkata: “Wahai Rasulullah, apakah mereka adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau bersabda: “Ya Siapa lagi?” (HR. Bukhari No. 3269, 6889, Muslim No. 2669, Ibnu Hibban No. 6703 , Ahmad No. 11800)

Disebutkan dalam sebuah hadits terkenal:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ ، وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa dalam Islam memulai  KEBIASAAN baik, maka tercatat baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka yang mengikutinya. Barangsiapa dalam Islam memulai kebiasaan buruk, maka tercatat baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim, No. 1017, At Tirmidzi No. 2675, An Nasa’i No. 2554, Ibnu Majah No. 203)

Imam Abul Abbas Al Qurthubi Rahimahullah mengomentari kalimat : Man sanna fil Islam sunnatan hasanah …, katanya:

من فعل فعلاً جميلاً

“Barangsiapa yang mengerjakan fi’l (perbuatan/perilaku) yang bagus ..” (Al Mufhim, 9/33)

📝 Makna Secara Istilah (Ishthilahan -Terminologis):

Syaikh Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani menyebutkan makna As Sunnah:

والمراد بالسنة : الطريقة التى كان عليها رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و أصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة

Yang dimaksud dengan As Sunnah adalah: jalan yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para
sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik berada di atasnya sampai hari kiamat. (Syaikh Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasathiyah, Hal. 10. Mu-asasah Al Juraisi)
Selain itu dalam perkembangannya, makna As Sunnah terbagi menjadi beberapa bagian sesuai disiplin ilmu yang mengikatnya.

📜 Menurut Ahli Ushul

Imam Ibnul Atsir Rahimahullah mengatakan:

وإذا أطلقت في الشرع، فإنما يراد بها ما أمر به النبي صلى الله عليه وسلم، ونهى عنه، وندب إليه قولا، وفعلا مما لا ينطق به الكتاب العزيز، ولهذا يقال: في أدلة الشرع الكتاب والسنة. أي القرآن والحديث

“Jika dilihat dari sudut pandang syara’, maka maksudnya adalah apa-apa yang diperintahkan dan dilarang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan apa yang dianjurkannya baik perkataan, perbuatan yang tidak dibicarakan oleh Al Quran. Maka, dikatakan: tentang dalil-dalil Syara’ adalah Al Kitab dan As Sunnah, yaitu Al Quran dan Al
Hadits.” (An Nihayah, 1/186)

Syaikh Abdul Qadir As Sindi Rahimahullah mengatakan:

عبارة عما صدر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ما عدا القرآن الكريم من قول, أو فعل, أو تقرير، فيخرج من السنة عندهم ما صدر من غيره عليه الصلاة والسلام رسولا كان أو غير رسول، وما صدر عنه صلى الله عليه وسلم قبل البعثة

“Keterangan tentang apa yang berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selain dari Al Quran Al Karim, berupa perkataan, perbuatan, atau persetujuannya. Yang tidak termasuk dari As Sunnah menurut mereka adalah apa yang selain dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik dia seorang rasul atau selain rasul, dan apa-apa yang berasal dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebelum masa bi’tsah (masa diutus  menjadi rasul).”

(Syaikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Hujjah As Sunnah An Nawawiyah, Hal.  88. 1975M-1395H. Penerbit: Al Jami’ah Al Islamiyah – Madinah)

Jadi, menurut para ahli ushul, As sunnah adalah semua yang datang dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bukan dari selainnya dan bukan pula dari Al Quran, khususnya yang berimplikasi kepada hukum syara’, baik berupa perintah, larangan, dan anjuran.

📜 Menurut Fuqaha (Ahli Fiqih)

Berkata Syaikh Abdul Qadir As Sindi:

فهي عندهم عبارة عن الفعل الذي دل الخطاب على طلبه من غير إيجاب، ويرادفها المندوب والمستحب، والتطوع، والنفل، والتفرقة بين معاني هذه الألفاظ اصطلاح خاص لبعض الفقهاء، وقد تطلق على ما يقابل البدعة منه قولهم طلاق السنة كذا، وطلاق البدعة كذا، فهم بحثوا عن رسول الله صلة الله عليه وسلم الذي تدل أفعاله على حكم شرعي

“Maknanya menurut mereka adalah  istilah tentang perbuatan yang menunjukkan perkataan  perintah selain
kewajiban. Persamaannya adalah mandub (anjuran), mustahab (disukai), tathawwu’ (suka rela), an nafl (tambahan). Perbedaan  makna pada lafaz-lafaz istilah ini, memiliki makna tersendiri bagi sebagian fuqaha. Istilah ini juga digunakan sebagai lawan dari bid’ah, seperti perkataan mereka: thalaq sunah itu begini, thalaq bid’ah itu begini . Jadi,  pembahasan mereka pada apa-apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
yang menunjukkan perbuatannya itu sebagai hukum syar’i.” (Ibid)

📜 Menurut Muhadditsin (Ahli Hadits)

Beliau juga mengatakan:

الرأي السائد بينهم – ولا سيما المتأخرين منهم – أن الحديث والسنة مترادفان متساويان يوضع أحدهما مكان الآخر

Pendapat utama di antara mereka –apalagi kalangan muta’akhirin- bahwa Al Hadits dan  As Sunnah adalah muradif (sinonim-maknanya sama), yang salah satunya diletakkan pada posisi yang lain. (Ibid)
Sedangkan hadits adalah –sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:

الحديث النبوي هو عند الإطلاق ينصرف إلى ما حُدِّث به عنه بعد النبوة : من قوله وفعله وإقراره، فإن سنته ثبتت من هذه الوجوه الثلاثة

“Al Hadits An Nabawi adalah berangkat dari apa-apa yang diceritakan darinya setelah masa kenabian: berupa perkataan, perbuatan, dan persetujuannya. Jadi, sunahnya ditetapkan dari tiga hal ini.” (Majmu’ Al Fatawa, 18/6)

Syaikh Dr. Mahmud Ath Thahhan mendefinisikan Al Hadits:

ما اضيف إلى النبى صلى الله عليه وسلم من قول او فعل او تقرير او صفة

“Apa saja yang dikaitkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berupa perkataan, atau perbuatan, atau persetujuan, atau sifatnya.” (Taysir   Mushthalahul Hadits, Hal. 14. Tanpa tahun)

Jadi, makna As Sunnah dalam pandangan ahli hadits adalah semua yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah diutusnya menjadi Rasul, baik perkatan, perbuatan, persetujuan, dan sifatnya, tanpa dibedakan mana yang mengandung muatan syariat atau bukan, semuanya adalah As Sunnah.

Namun dalam pemakaian sehari-hari, istilah Al Hadits –walau maknanya sama dengan As Sunnah- lebih sering dikaitkan dengan perkataan (Qaul) nabi saja. Maka, sering kita dengar manusia mengatakan sebuah kalimat:

“Dalam sebuah hadits nabi bersabda ….”, jarang sekali kita dengar manusia mengatakan: “Dalam sebuah sunah nabi bersabda …”

Hal ini dikatakan oleh Prof. Dr. ‘Ajaj Al Khathib, dalam kitab Ushulul Hadits, sebenarnya Al Hadits merupakan sinonim dari As Sunnah, yaitu segala sesuatu yang berasal dari Rasulullah baik ucapan, perbuatan, dan taqrir.

Namun, dalam pemakaiannya Al Hadits lebih sempit maknanya, yaitu identik dengan qauliyah (ucapan) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana yang ditetapkan oleh para Ahli Ushul. (Prof. Dr.Muhammad ‘Ajaj Al Khathib, Ushulul Hadits, hal. 8)

🔈 Bersambung…..


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678