Toleransi

TOLERANSI DI HARI RAYA AGAMA LAIN

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Jauh sebelum istilah toleransi antara umat beragama didengungkan dan ramai dibicarakan, sejak awal ajaran Islam sudah mengajarkan nilai-nilai yang menjadi prinsip toleransi antara umat beragama, yaitu Tidak menghalangi keyakinan orang yang beragama lain dan tidak memaksa mereka untuk pindah keyakinan ke dalam agama kita dan kemudian tidak menyakiti dan mengganggu mereka semata karena agamanya.

Allah Taala berfirman,

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam) (QS. Al-Baqarah: 256)

Di ayat lain Allah berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Maka, apabila seorang muslim memahami agamanya dengan baik dan utuh lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, hal itu akan menjadikannya sebagai muslim yang toleran terhadap saudara-saudara kita yang belainan agama.

Termasuk dalam hal menyikapi hari raya agama lain. Maka sikap yang benar sesuai syariat Islama adalah tidak melarang mereka merayakan hari raya mereka, tidak mengganggu dan menyakiti mereka merayakan hari rayanya di tempat-tempat ibadah mereka atau di tempat-tempat yang telah ditentukan.

Karena itu, tidaklah dibenarkan, bahkan layak dikecam, dengan alasan apapun, menghalangi dan mengganggu orang yang beragama lain merayakan hari rayanya, apalagi jika sampai menimbulkan kerusakan dan korban nyawa. Itu adalah perbuatan yang layak dikutuk.

Namun di sisi lain, yang patut diingatkan adalah bahwa ajara Islam yang mengajarkan kita untuk bersikap baik, tidak mengganggu dan menyakiti orang yang beragama lain di hari rayanya, juga adalah ajaran yang mengajarkan kita untuk menjaga jatidiri dan identitas muslim sebaik-baiknya serta tidak mencampur adukkan masalah akidah dan ibadah. Dalam hal ini, wujudnya adalah tidak ikut serta dalam pelaksanaan hari raya mereka. Karena hari raya suatu agama adalah perkara yang sangat spesial dan khusus bagi agama itu sendiri.

Rasulullah saw bersbada pada hari raya Islam,

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا (رواه البخاري ومسلم)

“Setiap kaum ada Idnya, dan ini adalah Id kita.” (HR. Ibnu Majah)
Maka dilarang bagi seorang muslim melakukan tasyabuh (menyerupai) pada perkara yang khusus dan special bagi suatu agama, apakah dalam bentuk sikap, penampilan, pakaian, gerakan, dll. Sebagaimana sabda Rasulullah saw

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَومٍ فَهُوَ مِنْهُم (رواه أبو داود)

Siapa yang menyerupai mereka, maka dia bagian dari mereka (HR. Abu Daud)

Para ulama mengatakan bahwa hadits ini merupakan peringatan untuk tidak menyerupai orang-orang kafir atau ahli maksiat terkait perkara-perkara yang bersifat khusus sebagai identitas mereka.
Karena itu, jika menyerupai mereka yang berlainan agama terkait dengan perkara-perkara khusus mereka, dilarang dalam Islam, apalagi jika ikut serta dalam perayaan agama mereka yang didalamnya terdapat ritual keagamaan mereka dan berbagai keyakinan yang menyertainya.

Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan, ketika datang ke Madinah mendapatkan penduduk Madinah bergembira ria di dua hari yang mereka anggap sebagai hari raya mereka. Maka beliau bersabda.

إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُم بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر

Allah sudah mengganti untuk kalian dua hari yang lebih baik dari kedua hari tersebut; Idul Adha dan Idul Fitri. (HR. Abu Daud)

Karena itu Majlis Ulama Indonesia (MUI) sejak jauh-jauh hari dalam fatwanya yang dikeluarkan pertahun 1401 H/1981 M telah tegas menyatakan haram ikut serta menghadiri upacara natal dan menganjurkan untuk tidak terjerumus dalam perkara syubhat dengan tidak mengikuti kegiatan-kegiatan natal.

Ini bukanlah sikap intoleran atau tidak bertoleransi. Karena toleransi berlaku pada sikap baik dalam perkara-perkara yang bersifat duniawi. Adapun jika berkaitan dengan keyakinan, ibadah dan perkara yang menjadi ciri khas mereka, maka kita memiliki pedoman yang jelas dan tegas; Lakum diinukum waliyadiin (bagi kalian agama kalian, dan bagiku adalah agamaku)

Surat Al-Kafirun yang mengandung ayat di atas diturunkan sebagai jawaban dari tawaran orang kafir Quraisy kepada Rasulullah saw untuk melakukan ibadah secara bergantian, sekali waktu mereka ikut beribadah seperti orang beriman, sekali waktu orang beribadah ikut cara mereka. Maka Allah turunkan surat Al-Kafirun yang sangat kita hafal tersebut sebagai bantahan bahwa soal ibadah dan keyakinan maka hendaklah memegang prinsip dan pengamalan sendiri. Tidak boleh dicampuradukkan.

Demikianlah Islam mengajarkan sebuah ajaran yang agung namun penuh keseimbangan. Yaitu bagaimana kita sebagai muslim memiliki akidah yang kuat, ibadah yang benar, identitas dan jatidiri yang jelas, namun tetap memberikan penghormatan kepada mereka yang berlainan agama, tidak menyakiti dan mengganggu mereka.

Jangan sampai keimanan dan ketaatan, kita dijadikan alasan untuk menyakiti dan mengganggu umat beragama lain. Tapi jangan sampai juga, tuntutan toleransi membuat kita luntur dalam akidah, rusak dalam ibadah serta kehilangan identitas dan jatidiri. Semoga Allah kuatkan iman islam kita dan berikan kita kemampuan untuk berakhlak mulia dan berlaku baik kepada siapapun termasuk kepada mereka yang berlainan agama.

بارك الله لي وليكم في القرآن العظيم

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Maha Pemalu

Langit Adalah Kiblatnya Doa

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Bismillahirrahmanirrahim…

Masalah ini diperselisihkan para ulama,mayoritas ulama mengatakan kiblatnya doa adalah langit, sebagaimana kiblatnya shalat adalah ka’bah. Bagi mereka, berdoa menghadap ke langit dan mengangkat kedua tangan ke langit bukan berarti Allah Ta’ala di langit, tapi karena kiblatnya doa memang ke langit.

Namun sebagian ulama mengatakan kiblat doa dan shalat itu sama yaitu ka’bah.Mereka menilai kiblat doa adalah ke langit sebagai pendapat yg tidak dikenal di generasi salaf.

Kemudian, dalil pihak mayoritas bahwa kiblatnya doa adalah langit, yaitu firman Allah Ta’ala:

وَفِي ٱلسَّمَآءِ رِزۡقُكُمۡ وَمَا تُوعَدُونَ

Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.

(QS. Adz-Dzariyat, Ayat 22)

Al Qadhi ‘Iyadh menjelaskan:

وقال غيره ممن أجازه – وهم الأكثرون -: إن السماء قبلة الدعاء كما أن الكعبة قبلة الصلاة، فلا ينكر رفع [الأبصار والأيدى] (3)، إلى جهتها، قال الله تعالى: {وَفِى السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدونَ}

Ulama lain mengatakan -yaitu pihak yg mengatakan bolehnya berdoa memghadap langit- dan itu adalah pendapat MAYORITAS, bahwasanya LANGIT ADALAH KIBLATNYA DOA, sedangkan ka’bah adalah kiblatnya shalat. Maka, tidaklah diingkari mengangkat pandangan mata dan kedua tangan (ketika Doa) menuju arah langit. Allah Taala berfirman: Dan di langit adanya  rezeki kalian dan apa-apa yang dijanjikan (kepada kalian).

(Ikmal Al Mu’lim, 2/341)

Imam an Nawawi juga mengutip dari Al Qadhi ‘Iyadh:

وَاخْتَلَفُوا فِي كَرَاهَة رَفْع الْبَصَر إِلَى السَّمَاء فِي الدُّعَاء فِي غَيْر الصَّلَاة فَكَرِهَهُ شُرَيْح وَآخَرُونَ ، وَجَوَّزَهُ الْأَكْثَرُونَ ، وَقَالُوا : لِأَنَّ السَّمَاء قِبْلَة الدُّعَاء كَمَا أَنَّ الْكَعْبَة قِبْلَة الصَّلَاة ، وَلَا يُنْكِر رَفْع الْأَبْصَار إِلَيْهَا كَمَا لَا يُكْرَه رَفْع الْيَد . قَالَ اللَّه تَعَالَى : { وَفِي السَّمَاء رِزْقكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ }

“Para ulama berbeda pendapat dalam kemakruhan menengadah pandangan ke langit ketika berdoa di luar waktu shalat. Syuraih dan lainnya memakruhkan hal itu, namun mayoritas ulama membolehkannya.Mereka (mayoritas) mengatakan: karena langit adalah kiblatnya doa sebagaimana kabah adalah kiblatnya shalat, dan tidaklah diingkari menengadahkan pandangan ke langit sebagaimana tidak dimakruhkan pula mengangkat tangan (ketika berdoa). Allah Taala berfirman: Dan di langit adanya  rezeki kalian dan apa-apa yang dijanjikan (kepada kalian).

(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/171. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Hal ini juga dikatakan para imam lainnya:

– Imam Abu Sa’id al Mutawlli asy Syafi’i dalam Kitab al Mughanni (hal.15)

– Imam Ibnul ‘Arabi al Maliki dalam al Masalik fi Syarh Muwaththa’ Malik (3/306)

– Imam Ibnu Hajar al Asqalani asy Syafi’i dalam Fath al Bari (2/233)

– Imam as Suyuthi asy Syafi’i dalam Syarh Sunan Ibni Majah (1/73)

– Imam ath Thibiy dalam Syarh al Misykah al Mashabih (3/1071)

– Imam Badruddin al ‘Aini al Hanafi dalam Syarh Abi Daud (4/136)

– Imam Murtadha az Zabidi al Hanafi dalam Ittihaf as Saadah al Muttaqin. (5/34-35)

– Imam Al Munawi asy Syafi’i dalam Faidhul Qadir (5/398)

– Imam Ibnul Mulaqqin asy Syafi’i dalam At Taudhih Li Syarh al Jaami’ ash Shahih (7/36)

– Imam Ali al Qari al Hanafi dalam Syarh al Fiqh al Akbar (hal. 199)

– Imam al Bayadhi al Hanafi dalam Isyarat al Maram (hal. 198)

– Imam Abul Hasan as Sindi dalam Syarh Sunan Ibni Majah (1/323)

– Syaikh Abul Hasan al Mubarkafuri dalam Mir’ah al Mafatih (3/349)

– Dll

Sementara itu sebagian lain menolak pendapat tersebut. Bagi mereka kiblatnya doa dan shalat itu sama.Kiblatnya doa ke langit dinilai pendapat yang tidak ada pendahulunya dari ulama salaf.

Imam Ibnu Abi al ‘Izz al Hanafi mengatakan:

أن قولكم : إن السماء قبلة للدعاء – لم يقله أحد من سلف الأمة ، ولا أنزل الله به من سلطان ، وهذا من الأمور الشرعية الدينية ، فلا يجوز أن يخفى على جميع سلف الأمة وعلمائها

Pekataan kalian “Langit adalah Kiblatnya doa”, tidak ada yang mengatakan demikian satu pun dari salafnya umat ini. Allah tidak pernah menurunkan kuasa dengan pendapat demikian. Ini adalah perkara agama yang syar’i, maka tidak boleh hal itu samar bagi semua salaf dan ulamanya.

(Syarh al ‘Aqidah ath Thahawiyah, hal. 327)

Ini juga diikuti para ulama lain seperti:

– Syaikh Abul Barakat Khairuddin al Alusi dalam Jala’ul ‘Aynain (hal.410)

– Syaikh Abul Ma’ali al Alusi dalam Ghayatul Amani (1/571)

– Syaikh Ahmad bin Ibrahim bin ‘Isa dalam Taudhih al Maqashid (1/400)

– Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi dalam Fatawa wa Rasail (hal.260)

– Syaikh al Albani dalam As Silsilah adh Dha’ifah no. 6204

– Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid dalam Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 126154

– DLL

Semoga perbedaan pandangan dalam hal ini tidak menjadi sebab robeknya persatuan kaum muslimin. Mana pun pendapat yang kita ikuti masing-masing pendapat juga terdapat para imam Ahlus Sunnah yang kredible ilmu, taqwa, dan akhlak nya.

Perdebatan masalah ini belasan abad lamanya dan belum ada kata final. Sebaiknya masalah ini tidak sampai menghabiskan waktu, pikiran, dan tenaga kita, sebab masih sangat banyak PR keumatan yang belum terselesaikan seperti pemurtadan, kemiskinan, penjajahan yg dialami sebagian negeri muslim,diusirnya umat Islam dari negerinya sendiri, dsb.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Benarkah Orang Yang Sudah Wafat Tahu Apa Yang Dilakukan Saudara dan Keluarganya Yang Masih Hidup?

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Bismillah al Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’ d:

Tentang pernyataan bahwa ruh (jamaknya: arwah) orang yang sudah wafat “mengetahui” perilaku keluarganya yang masih hidup, memang ada ditegaskan para ulama dengan beberapa dalil baik Al Quran, Hadits, dan pernyataan kaum salaf. Diberitakan bahwa jika keluarganya melakukan kebaikan maka dia akan bergembira, jika keluarganya melakukan keburukan maka dia akan sedih.

Di antara dalilnya, Allah Ta’ala berfirman:

وَقُلِ ٱعۡمَلُواْ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

(QS. At-Taubah, Ayat 105)

Ayat ini menunjukkan bahwa perbuatan manusia disaksikan oleh Allah Ta’ala, Rasulullah, dan orang-orang beriman. Menurut Imam Ibnu Katsir, orang-orang beriman yang dimaksud ayat ini juga termasuk mereka yang sudah wafat di alam barzakh, bukan hanya yang masih hidup.

Beliau – Rahimahullah – berkata:

وَقَدْ وَرَدَ: أَنَّ أَعْمَالَ الْأَحْيَاءِ تُعْرَضُ عَلَى الْأَمْوَاتِ مِنَ الْأَقْرِبَاءِ وَالْعَشَائِرِ فِي الْبَرْزَخِ

Telah datang keterangan bahwa perilaku orang hidup ditampakkan dihadapan orang wafat dari kalangan kerabat dan keluarganya di alam barzakh. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid. 4, hal. 183)

Keterangan yang dimaksud Imam Ibnu Katsir sangat banyak, ada yang shahih, hasan, dan dhaif, di antaranya:

1. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ أَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى عَشَائِرِكُمْ وَأَقْرِبَائِكُمْ فِي قُبُورِهِمْ ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا اسْتَبْشَرُوا بِهِ ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ قَالُوا : اللَّهُمَّ أَلْهِمْهُمْ أَنْ يَعْمَلُوا بِطَاعَتِكَ

Amal kalian akan ditampakkan dihadapan keluarga dan kerabat kalian di kubur mereka. Jika amal itu baik maka mereka bergembira dengannya. Jika tidak baik, maka mereka berdoa: “Ya Allah, ilhamkanlah mereka agar melakukan ketaatan kepadaMu.”

(HR. Abu Daud Ath Thayalisi, no. 1903)

Sanadnya: Dari Shalt bin Dinar, dari Al Hasan, dari Jabir.

Tentang Shalt bin Dinar, dia telah didhaifkan oleh pada imam seperti Ahmad, Al Jauzajaani, Ad Daruquthni, An Nasa’i, Syu’bah. (Mizanul I’tidal, 2/318) Ditambah lagi, sanadnya terputus karena Al Hasan tidak mendengarkan hadits ini dari Jabir, seperti yang dikatakan Abu Zur’ah dan Abu Hatim.

2. Dari Sufyan, dari “seseorang” yang telah mendengar dari Anas bin Malik, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ أَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى أَقَارِبِكُمْ وَعَشَائِرِكُمْ مِنَ الْأَمْوَاتِ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا اسْتَبْشَرُوا بِهِ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ، قَالُوا: اللهُمَّ لَا تُمِتْهُمْ، حَتَّى تَهْدِيَهُمْ كَمَا هَدَيْتَنَا

Amal kalian akan ditampakkan dihadapan keluarga dan kerabat kalian di kubur mereka. Jika amal itu baik maka mereka bergembira dengannya. Jika tidak baik, maka mereka berdoa: “Ya Allah, janganlah matikan mereka sampai Engkau memberikan mereka hidayah seperti Engkau memberikan hidayah kepada kami.”

(HR. Ahmad no. 12683)

Syaikh Syu’aib al Arnauth mengatakan: Dha’if, karena ketidakjelasan perawi antara Sufyan dan Anas. (Ta’liq Musnad Ahmad, 20/114)

3. Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan tentang dialog antar arwah, salah satu dialognya adalah menceritakan kabar Si Fulan di dunia:

إِنَّ فُلَانًا قَدْ فَارَقَ الدُّنْيَا

Si Fulan telah meninggal dunia (HR. Al Bazar no. 9760. Syaikh Al Albani mengatakan: HASAN. Lihat Al Ayat Al Bayyinat, hal. 91)

4. Dari Abu Hurairah pula, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan dialog antara arwah yang sudah wafat. Mereka bertanya kabar si Fulan di dunia, lalu dijawab:

دَعُوهُ فَإِنَّهُ كَانَ فِي غَمِّ الدُّنْيَا

Biarkan saja, dia telah tenggelam dalam kehidupan dunia.

(HR. An Nasa’i no. 1833. Hadits ini dinyatakan SHAHIH oleh Imam Ibnu Taimiyah. Lihat Majmu’ al Fatawa, 5/450)

Selain itu, hal ini juga disampaikan generasi salaf dalam beberapa atsar shahih dari mereka.

Imam Abdullah bin Al Mubarak Rahimahullah, meriwayatkan bahwa Abu Ayyub Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu berkata:

فَيُعْرَضُ عَلَيْهِمْ أَعْمَالُهُمْ ، فَإِذَا رَأَوْا حَسَنًا فَرِحُوا وَاسْتَبْشَرُوا ، وَقَالُوا: هَذِهِ نِعْمَتُكَ عَلَى عَبْدِكَ فَأَتِمَّهَا ، وَإِنْ رَأَوْا سُوءًا قَالُوا: اللَّهُمَّ رَاجِعْ بِعَبْدِكِ

Perbuatan mereka (orang hidup) akan diperlihatkan kepada orang yang wafat, jika mereka lihat baik maka mereka bergembira dan senang, lalu berkata: “Ini nikmatMu atas hambaMu maka sempurnakanlah.” Jika mereka lihat amalnya buruk, mereka berdoa: “Ya Allah, ambillah kembali hambaMu.”

(Az Zuhd no. 443. SHAHIH. Lihat Ash Shahihah no. 2758)

Dalam atsar ini, orang wafat bukan hanya tahu kondisi orang hidup tapi sampai-sampai mereka “mendoakan” orang masih hidup.

Imam Ath Thabari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu:

إن أعمالكم تعرض على أقربائكم من موتاكم ، فإن رأوا خيرا فرحوا به ، وإن رأوا شرا كرهوه

Amal kalian akan diperlihatkan dihadapan kerabat kalian yang telah wafat, jika mereka lihat ada kebaikan maka mereka senang, jika mereka lihat keburukan maka mereka membencinya.

(Tahdzibul Atsar, 2/510. Sanadnya: HASAN, dengan berbagai jalur yang menjadi syawahid/pendukungnya)

Imam Ibnu Rajab, dari Tsabit al Bunani Rahimahullah, Beliau berkata:

بلغنا أن الميت إذا مات احتوشته أهله وأقاربه الذين تقدموه من الموتى، فلهم أفرح به وهو أفرح بهم من المسافر إذا قدم إلى أهله

Telah sampai kepadaku, bahwa mayit jika wafat diiringi oleh keluarga dan kerabatnya yang mengantar dia pada kematiannya maka mayit tersebut bahagia dengan hal itu, dan dia lebih berbahagia dibanding musafir yang datang ke keluarganya. (Imam Ibnu Rajab, Ahwalul Qubur, hal. 25)

Dari Ubaid bin Umair Rahimahullah:

أهل القبور يتوكفون الأخبار فإذا أتاهم الميت قالوا ما فعل فلان فيقول صالح ما فعل فلان فيقول ألم يأتكم أو ما قدم عليكم فيقولون إنا لله وإنا إليه راجعون سلك به غير سبيلنا

Penghuni kubur itu saling berikan berita, jika datang kepada mereka mayit, mereka bertanya: “Bagaimana kabar si Fulan?” Beliau jawab: “Dia baik-baik saja.” Apa yang dilakukan Fulan? Dia jawab: “Apakah belum datang beritanya kepada kalian?” mereka menjawab: “Innalilahi wa innaa ilaihi raaji’un, dia telah menempuh jalan bukan jalan kami.” (Ibid, hal. 26)

Sufyan Ats Tsauri Rahimahullah berkata:

إن الميت ليعرف كل شيء حتى إنه ليناشد غاسله بالله إلا خففت علي غسلي، قال: ويقال له وهو على سريره: اسمع ثناء الناس عليك

Mayit benar-benar mengetahui segala hal sampai-sampai dia mengadukan kepada Allah tentang orang yang memandikan dirinya, “kecuali jika kamu meringankan cara memandikan diriku.” Dia (Sufyan) berkata: “Dikatakan kepadanya dan dia masih di atas kasurnya: Dengarkanlah pujian manusia atas dirimu.” (Imam As Suyuthi, Busyra Al Kaib bi Liqail Habib, hal. 33)

Dan masih banyak lagi.

Hal ini adalah perkara ghaib yang tidak dapat dijangkau akal, dan membutuhkan dalil dari wahyu dan keterangan yang shahih untuk membenarkannya. Maka, Ucapan para salaf ini – dan kita berbaik sangka kepada mereka- tidaklah mereka ucapkan melainkan berasal dari berita yang shahih.

Oleh karena itu Imam As Suyuthi Rahimahullah pernah mengatakan dalam kesempatan yang lain:

المقرر في فن الحديث والأصول أن ما روي مما لا مجال للرأي فيه كأمور البرزخ والآخرة فإن حكمه الرفع لا الوقف ، وإن لم يصرح الراوي بنسبته إلى النبي صلى الله عليه وسلم

Ketetapan dalam ilmu hadits dan Ushul, bahwa apa-apa yang diriwayatkan tentang hal yang bukan domainnya akal seperti urusan alam barzakh dan akhirat maka dihukumi sebagai berita yang marfu’ (sampai ke Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) bukan mauquf (sampai ke sahabat saja), walau si perawinya tidak menerangkan bahwa itu berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. (Imam As Suyuthi, Al Hawil Lil Fatawi, 2/217)

Hal serupa dikatakan oleh Imam Al Qurthubi Rahimahullah dalam At Tadzkirah, setelah Beliau memaparkan beberapa atsar tentang ini, Beliau berkata:

هذه الأخبار ، وإن كانت موقوفة ؛ فمثلها لا يقال من جهة الرأي

Berita-berita ini jika statusnya mauquf (hanya sebagai ucapan sahabat) maka yang seperti ini tidaklah mungkin diucapkan berasal dari (semata-mata) pendapat. (At Tadzkirah, hal. 61)

Maksudnya, tidak mungkin sahabat nabi mengatakan hal ini berdasarkan akalnya semata, ini tidak lain hanya berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menegaskan:

أَن الْأَرْوَاح قِسْمَانِ : أَرْوَاح معذبة ، وأرواح منعمة . فالمعذبة فِي شغل بِمَا هى فِيهِ من الْعَذَاب عَن التزاور والتلاقي ، والأرواح المنعمة الْمُرْسلَة غير المحبوسة تتلاقي وتتزاور وتتذاكر مَا كَانَ مِنْهَا فِي الدُّنْيَا وَمَا يكون من أهل الدُّنْيَا “

Arwah itu ada dua macam: 1. Arwah yang sedang diazab, 2. Arwah yang mendapatkan nikmat. Untuk arwah yang diazab mereka sedang sibuk dengan azab itu sehingga mereka tidak saling berjumpa dan mengunjungi. Untuk arwah yang mendapatkan nikmat, mereka bebas saling berjumpa dan mengunjungi, serta saling mengingat tentang apa yang mereka alami di dunia dan apa yang sedang terjadi/dilakukan oleh penduduk dunia. (Ar Ruh, hal. 17)

Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani Rahimahullah menulis:

وَأما قَوْله إِذا دفن الْمَيِّت ، قَرِيبا من قبر آخر ، أَو بَعيدا ؛ هَل يعرفهُ ويسأله عَن أَحْوَال الدُّنْيَا ؟ فَالْجَوَاب : نعم ، قد ورد فِي ذلك عدَّة أَحَادِيث

Ada pun perkataannya, jika mayit dikuburkan dekat kubur lain atau jauh, apakah dia mengetahui dan menanyakan keadaan di dunia? Jawabnya: Ya, hal itu diterangkan dalam banyak hadits.. (Al Imta’ bil Arbain, hal. 86)

Maka, berbagai dalil, atsar, dan penjelasan ulama, ini menunjukkan bahwa orang beriman yang sudah wafat tahu dan melihat apa yang dilakukan oleh saudara-saudaranya yang masih hidup di dunia. Hanya saja para ulama berbeda pendapat apakah pengetahuan tersebut secara umum saja, ataulah begitu detil tentang perilaku orang yg masih hidup.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Iman Islam

Pengantar Memahami Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Bag. 2)

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan SS.

Materi sebelunnya bisa dilihat di tautan berikut:

Pengantar Memahami Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Bag. 1)

3. As Sawadul A’zham (Kelompok besar/mayoritas)

Ini juga nama lain dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Imam Ibnu Rajab Rahimahullah dalam Fathul Bari, menuliskan:

وحكاه ابن شاهين عَن عامة أهل السنة ، قَالَ : وهم السواد الأعظم

“Ibnu Syahin menghikayatkan tentang semua Ahlus Sunnah, dia berkata: mereka adalah Sawadul A’zham.” (Imam Ibnu Rajab, Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 5/200)

Nama ini ditegaskan langsung dalam beberapa hadits. Dari  Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لا يجمع الله هذه الأمة على الضلالة  أبدا   وقال :   يد الله على الجماعة فاتبعوا السواد    الأعظم ، فإنه من شذ شذ في النار

“Tidaklah Allah kumpulkan umat ini dalam kesesatan selamanya.”

Dan beliau juga bersabda: “Tangan Allah atas jamaah, maka ikutilah As Sawadul A’zham, maka barangsiapa yang menyempal, maka dia menyempal ke neraka.” (HR. Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, No. 391)

Hadits lain, dari Abu Umamah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اختلفت اليهود على احدى وسبعين فرقة سبعون فرقة في النار وواحدة في الجنة واختلف النصارى على اثنتين وسبعين فرقة إحدى وسبعون فرقة في النار وواحدة في الجنة وتختلف هذه الامة على ثلاثة وسبعين فرقة اثنتان وسبعون فرقة في النار وواحدة في الجنة فقلنا انعتهم لنا قال السواد الاعظم

“Yahudi berselisih menjadi 71 kelompok, 70 ke neraka dan satu ke surga. Nasrani juga berselisih menjadi 72 kelompok, 71 ke neraka dan satu ke surga. Dan Umat ini juga berselisih mejadi 73 kelompok, 72 ke neraka dan satu ke surga.”
Kami berkata: “Sifatkanlah mereka untuk kami?” Beliau bersabda: “As Sawadul A’zham”. (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabi No. 8051. Imam Al Haitsami mengatakan: rijal (perawi) hadits ini tsiqat (kredibel), Majma’ Az Zawaid, 6/234)

4. As Salafiyah (Yang Terdahulu)

Ini adalah istilah paling tenar setelah Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu sendiri.

Istilah ini diinspirasikan dari hadits Aisyah Radhiallahu ‘Anha berikut, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya:

وَنِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ

“Aku adalah sebaik-baiknya salaf (pendahulu) bagimu.” (HR. Muslim No. 2450. Ibnu Majah No. 1621,  Ahmad No.  26413)

Dalam Al Quran pun ada istilah ‘salaf’ namun tidak ada kaitan sama sekali dengan ‘komunitas’ dan pemikiran aqidah yang sedang kita bahas.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلا

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu Amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). (QS. An Nisa (4): 22)

Dalam ayat lain:

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّةُ الأوَّلِينَ

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi Sesungguhnya akan Berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang dahulu “. (QS. Al Anfal (8): 38)

Namun makna ‘salaf’ yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah sebagaimana yang tertera dalam kitab I’tiqad Ahlis Sunnah Syarh Ashhabil Hadits, dalam bab Ittiba’us Salaf (mengikuti salaf):

من أصول مذهب أهل الحديث اتباع أقوال الصحابة والتابعين لهم بإحسان من أئمة الدين في أصول العقيدة خاصة وفي الدين عامة

“Di antara dasar-dasar madzhab ahli hadits adalah mengikuti perkataan para sahabat dan tabi’in (pengikut) mereka dengan baik dari para imam-imam agama, dalam perkara aqidah secara khusus, dan perkara agama secara umum.” (Syaikh Muhammad bin Abdirrahman Al Khumais, I’tiqad Ahlis Sunnah Syarh Ashhabil Hadits, Hal. 134)

Jadi, salafiyah adalah mengikuti salafush shalih (pendahulu yang baik), yakni Rasulullah, para sahabat,  tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

Dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah zamanku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya.” (HR. Bukhari No. 2652, Muslim No. 2533)

Tidak mengapa seseorang mengaku mengikuti jejak salafus shalih, namun yang penting adalah kesesuaian antara pengakuan dan perbuatan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:

لَا عَيْبَ عَلَى مَنْ أَظْهَرَ مَذْهَبَ السَّلَفِ وَانْتَسَبَ إلَيْهِ وَاعْتَزَى إلَيْهِ بَلْ يَجِبُ قَبُولُ ذَلِكَ مِنْهُ بِالِاتِّفَاقِ . فَإِنَّ مَذْهَبَ السَّلَفِ لَا يَكُونُ إلَّا حَقًّا

“Tidak aib bagi siapa saja menampakkan madzhab salaf dan menyandarkan diri dengannya, dan berbangga dengannya, bahkan wajib menerimanya (madzhab salaf) menurut kesepakatan ulama. Sebab madzhab salaf tidaklah ia melainkan kebenaran semata.” (Majmu’ Fatawa, 1/321)

Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah juga berkata ketika mengunggulkan madzhab salaf tentang masalah sifat-sifat Allah Ta’ala, mengatakan:

ونحن نعتقد أن رأي السلف من السكوت وتفويض علم هذه المعاني إلى الله تبارك وتعالى أسلم وأولى بالاتباع ، حسما لمادة التأويل والتعطيل ، فإن كنت ممن أسعده الله بطمأنينة الإيمان ، وأثلج صدره ببرد اليقين ، فلا تعدل به بديلا

“Kami meyakini bahwa pendapat salaf yakni diam dan menyerahkan ilmu makna-makna ini kepada Allah Ta’ala adalah lebih selamat dan lebih utama untuk diikuti, dengan memangkas habis takwil dan ta’thil (pengingkaran), maka jika Anda adalah termasuk orang yang telah Allah bahagiakan dengan ketenangan iman, dan disejukkan dadanya dengan salju embun keyakinan, maka janganlah mencari gantinya (salaf).” (Al Imam Hasan Al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, Hal. 368. Al Maktabah At Taufiqiyah)

Menghidupkan Manhaj Salaf Bukan Komunitasnya

Tidak dibenarkan mengaku-aku mengikuti salaf tapi tidak dibarengi dengan perilaku sebagaimana salafus shalih, dan membuat ‘gaya’ dan ‘komunitas’ sendiri yang tidak sesuai salaf itu sendiri, karena salafiyah adalah manhaj, bukan komunitas.

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin Rahimahullah:

ولا شك أن الواجب على جميع المسلمين أن يكون مذهبهم مذهب السلف لا الانتماء إلى حزب معين يسمى السلفيين، والواجب أن تكون الأمة الاسلامية مذهبها مذهب السلف الصالح لا التحزب إلى من يسمى ( السلفيون) فهناك طريق السلف وهناك حزب يسمى (السلفيون) والمطلوب اتباع السلف

“Tidak ragu lagi, bahwa wajib bagi seluruh kaum muslimin menjadikan mazdhab mereka adalah madzhab salaf, bukan terikat dengan kelompok tertentu yang dinamakan Salafiyyin.

Wajib bagi umat Islam menjadikan madzhab mereka adalah madzhab salafus shalih, bukan berkelompok kepada siapa-siapa yang dinamakan Salafiyyun. Maka, di sana ada jalan salaf, dan ada juga hizb (kelompok) yang dinamakan Salafiyun, dan yang dituntut adalah mengikuti salaf.”
(Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsamin, Syarh Al Arbain An Nawawiyah, Hal. 263. Al Mausu’ah Asy Syamilah)

Sedangkan Syaikh Shalih Fauzan Hafizhahullah berkata:

“Ada  orang yang mengklaim bahwa dirinya  di atas madzhab salaf, tetapi mereka menyelisihinya, mereka melampaui batas (ghuluw) dan menambah-nambahkan, dan keluar dari metode As Salaf.

Di antara mereka juga ada yang mengaku bahwa dirinya di atas madzhab salaf, tetapi mereka menggampangkan dan meremehkan, hanya cukup menyandarkan diri (intisab).

Orang yang di atas manhaj salaf itu adalah lurus dan pertengahan antara melampaui batas (ifrath) dan meremehkan (tafrith), demikianlah thariqah salaf, tidak melampaui batas atau meremehkan.

Untuk itulah Allah Ta’ala berfirman: “ …dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik ….”
Maka, jika engkau hendak mengikuti jejak salaf, maka engkau harus mengenal jalan (thariqah) mereka, tidak mungkin mengikuti mereka kecuali jika engkau telah mengenal jalan mereka, dan itqan dengan manhaj mereka lantaran engkau berjalan di atasnya.

Adapun bersama orang bodoh, engkau tidak mungkin berjalan di atas thariqah mereka (salaf), dan engkau tidak mengetahuinya dan tidak mengenalnya, atau menyandarkan kepada mereka apa-apa yang tidak pernah mereka katakan atau yakini.

Engkau berkata: ‘Ini madzhab salaf,’ sebagaimana yang dihasilkan oleh sebagian orang bodoh saat ini, orang-orang yang menamakan diri mereka dengan salafiyyin, kemudian mereka menyelisihi kaum salaf, mereka amat keras, mudah mengkafirkan, memfasiq-kan, dan membid’ahkan.

Kaum salaf, mereka tidaklah membid’ahkan, mengkafirkan, dan memfasiq-kan kecuali dengan dalil dan bukti, bukan dengan hawa nafsu dan kebodohan.

Sesungguhnya engkau menggariskan sebuah ketetapan: “Barangsiapa yang menyelisihinya, maka dia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah) dan sesat,” Tidak  yaa akhi, ini bukanlah manhaj salaf.

Manhaj salaf adalah ilmu dan amal, ilmu adalah yang pertama, kemudian beramal di atas petunjuk.

Jika engkau ingin menjadi salafi sejati (salafiyan haqqan), maka wajib bagimu mengkaji madzhab salaf secara itqan (benar, profesional), mengenal dengan bashirah (mata hati), kemudian mengamalkannya dengan tanpa melampau batas dan tanpa meremehkan.

Inilah manhaj salaf yang benar, adapun mengklaim dan sekedar menyandarkan dengan tanpa kebenaran, maka itu merusak dan tidak bermanfaat.”

Demikian perkataan Syaikh Shalih Fauzan. (Syaikh Mut’ab bin Suryan Al ‘Ashimi, Kasyful Haqaiq Al Khafiyah ‘Inda Muda’i As Salafiyyah, Hal. 15-16. Dar Ath Tharafain)

Anjuran Mengikuti Ahlus Sunnah wal Jamaah

Dari Irbadh bin Sariyah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Barang siapa di antara kalian hidup setelah aku, maka akan melihat banyak perselisihan, maka hendaknya kalian berada di atas sunahku, dan sunah khulafa’ur rasyidin yang yang mendapat petunjuk, maka berpegang teguhlah padanya dan gigitlah dengan geraham kalian.”
(HR. Abu Daud No. 4607,  At Tirmidzi  No. 2676, katanya: hasan shahih. Ibnu Majah No. 42,   Ahmad No. 17142, 17144,  Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 20215, Al Hakim, Al Mustadrak No. 329,  katanya: hadits ini shahih tak ada cacat. Syaikh Al Albani mengatakan: sanadny shahih. As Silsilah Ash Shahihah No. 2735)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ

“Hendaknya kalian bersama jamaah, dan hati-hatilah terhadap perpecahan.” (HR. At Tirmidzi No.2165, Katanya: hasan shahih gharib. An Nasa’i, As Sunan Al Kubra, 5/389. Syaikh Al Albani menshahihkan, lihat Irwa’ul Ghalil, 6/215)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullsh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فمن أراد منكم بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة ، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد

“Barang siapa di antara kalian menghendaki tamannya surga, maka berpeganglah pada jama’ah, sebab syaitan itu bersama orang yang sendirian, ada pun bersama dua orang, dia menjauh.” (HR. At Tirmidzi No. 2165, katanya: hasan shahih gharib. Ahmad No. 177, Ibnu Hibban No. 4576. Al Hakim, Al Mustadrak ‘alash Shahihain No. 387,  katanya: shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam As Silsilah Ash Shahihah No. 430)

Para  salaf juga banyak memberikan nasihat agar kita mengikuti jalan para pendahulu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Berkata Ubai bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu:

عليكم بالسبيل والسنة فإنه ليس من عبد على سبيل وسنة ذكر الرحمن ففاضت عيناه من خشية الله فتمسه النار وإن اقتصادا في سبيل وسنة خير من اجتهاد في إخلاف

“Hendaknya kalian bersama jalan kebenaran dan As Sunnah, sesungguhnya tidak akan disentuh neraka, orang yang di atas kebenaran dan As Sunnah dalam rangka mengingat Allah lalu menetes air matanya karena takut kepada Allah Ta’ala.

Sederhana mengikuti kebenaran dan As Sunnah adalah lebih baik, dibanding bersungguh-sungguh dalam perselisihan.”

Dari Abul ‘Aliyah, dia berkata:

عليكم بالأمر الأول الذي كانوا عليه قبل أن يفترقوا قال عاصم فحدثت به الحسن فقال قد نصحك والله وصدقك

“Hendaknya kalian mengikuti urusan orang-orang awal, yang dahulu ketika  mereka belum terpecah belah.” ‘Ashim berkata: “Aku menceritakan ini kepada Al Hasan, maka dia berkata: ‘Dia telah menasihatimu dan membenarkanmu.’ “

Dari Al Auza’i, dia berkata:

اصبر نفسك على السنة وقف حيث وقف القوم وقل بما قالوا وكف عما كفوا عنه واسلك سبيل سلفك الصالح فانه يسعك ما وسعهم

“Sabarkanlah dirimu di atas As Sunnah, berhentilah ketika mereka berhenti, dan katakanlah apa yang mereka katakan, tahanlah apa-apa yang mereka tahan, dan tempuhlah jalan pendahulumu yang shalih, karena itu akan membuat jalanmu lapang seperti lapangnya jalan mereka.”

Dari Yusuf bin Asbath, dia berkata:

قال سفيان يا يوسف إذا بلغك عن رجل بالمشرق أنه صاحب سنة فابعث إليه بالسلام وإذا بلغك عن آخر بالمغرب أنه صاحب سنة فابعث إليه بالسلام فقد قل أهل السنة والجماعة

“Berkata Sufyan: Wahai Yusuf, jika sampai kepadamu seseorang dari Timur bahwa dia seorang pengikut As Sunnah, maka kirimkan salamku untuknya. Jika datang kepadamu dari Barat bahwa dia seorang pengikut As Sunnah, maka kirimkan salamku untuknya, sungguh, Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu sedikit.”

Dari Ayyub, dia berkata:

إني لأخبر بموت الرجل من أهل السنة فكأني أفقد بعض أعضائ

“Sesungguhnya jika dikabarkan kepadaku tentang kematian seorang dari Ahlus Sunnah, maka seakan-akan telah copot anggota badanku.”

Dan masih banyak lagi nasihat yang serupa. (Lihat semua ucapan salaf ini dalam Talbisu Iblis, hal. 10-11, karya Imam Abul Faraj bin Al Jauzi )

Sementara Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah menegaskan tentang fikrah dakwahnya:

دعوة سلفية : لأنهم يدعون إلى العودة بالإسلام إلى معينه الصافي من كتاب الله وسنة رسوله. وطريقة سنية : لأنهم يحملون أنفسهم علي العمل بالسنة المطهرة في كل شيء ، وبخاصة في العقائد والعبادات ما وجدوا إلى ذلك سبيلا

“Da’wah Salafiyah: karena mereka menyeru kembali kepada Islam dengan maknanya yang murni dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya.

Thariqah  sunniyah: karena mereka membawa jiwa untuk beramal dengan sunnah yang suci dalam segala hal, khususnya dalam hal aqidah dan ibadah, sejauh yang mereka mampu.” (Al Imam  Hasan Al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, Hal. 183. Al Maktabah At Taufiqiyah)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Umat Mulia Karena Islam

Pengantar Memahami Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Bag. 1)

Oleh: Farid Nu’man Hasan

Asal Muasal Istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ ah

Sebenarnya, tidak ada riwayat dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Istilah ini baru ada dan diperkenalkan oleh seorang sahabat yang mulia, Abdullah bin Abbas  Radhiallahu ‘Anhuma.

Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata:

النظر إلى الرجل من أهل السنة يدعو إلى السنة وينهى عن البدعة ، عبادة

“Melihat seseorang dari Ahlus Sunnah merupakan ajakan menuju sunnah, dan mencegah bid’ah merupakan ibadah.” (Imam Al Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, 1/29.

Syaikh Abdullah bin Abdil Hamid Al Atsari, Al Wajiz fi ‘Aqidah As Salaf Ash Shalih, Hal. 159. Imam Abul Faraj Al Jauzi, Talbis Iblis, Hal.10.
Semua menyebutkan atsar ini tanpa sanad)

Ketika menafsirkan surat Ali Imran ayat 106:

 يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram…” (QS. Ali Imran (3): 106)

Berkata Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma:

 تبيض وجوه أهل السنة والجماعة وتسود وجوه أهل البدعة

“Putih berseri wajah Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan hitam muram wajah ahli bid’ah.” ( Imam Al Qurthubi, Al Jami’ li Ahkamil Quran, 4/167. Tafsir Ibnu Abi Hatim, 3/124. Imam Al Baghawi, Ma’alimut Tanzil, 2/87. Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 2/10. Imam Ibnul Jauzi, Zaadul Masir, 1/393. Imam As Suyuthi, Ad Durul Mantsur, 2/407)

Namun dalam Shahih Muslim, disebutkan bahwa Imam Muhammad bin Sirin Radhiallahu ‘Anhu menyebut nama “Ahlus Sunnah”, dan ini merupakan riwayat yang lebih valid dibanding sebelumnya

 حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنْ الْإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتْ الْفِتْنَةُ قَالُوا سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ

Berkata kepada kami Ja’far  Muhammad bin Shabbah, berkata kepada kami Ismail bin Zakariya, dari ‘Ashim, dari  Ibin Sirin, katanya: Dahulu mereka tidak pernah menanyakan tentang isnad.

Ketika terjadi fitnah mereka mengatakan: “Sebutlah nama periwayat kalian kepada kami, maka jika dilihat  dari Ahli Sunnah  maka diambil hadits mereka, dan jika dilihat dari  Ahli Bid’ah maka jangan ambil hadits darinya.” (Shahih Muslim, Bab Bayan Annal Isnaad minad Diin)

Definisi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Berkata Syaikh Muhammad Khalil Hiras:

وَالْمُرَادُ بِالسُّنَّةِ : الطَّرِيقَةُ الَّتِي كَانَ عَلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصَحْابُهُ قَبْلَ ظُهُورِ الْبِدَعِ وَالْمَقَالَاتِ
وَالْجَمَاعَةُ فِي الْأَصْلِ : الْقَوْمُ الْمُجْتَمِعُونَ ، وَالْمُرَادُ بِهِمْ هُنَا سَلَفُ هَذِهِ الْأُمَّةِ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ ، الَّذِينَ اجْتَمَعُوا عَلَى الْحَقِّ الصَّرِيحِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Maksud dari As Sunnah adalah jalan yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya ada di atasnya, sebelum nampaknya bid’ah dan perkataan-perkataan menyimpang.

Sedangkan Al Jama’ah pada asalnya, bermakna: Kaum yang berkumpul, tetapi yang dimaksud di sini adalah pendahulu umat ini dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang berkumpul di atas kebenaran yang jelas dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (Syaikh Muhammad Khalil Hiras, Syarh Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah, Hal. 26)

Berkata Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu tentang makna Al Jama’ah:

الجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الَحَقّ ، وَإِن كُنْتَ وَحْدَكَ

“Al Jama’ah adalah apa-apa yang bersesuaian dengan kebenaran, walau pun kau seorang diri.” (Syaikh Abdullah bin Abdil Hamid Al Atsari, Al Wajiz fi ‘Aqidah As Salaf Ash Shalih, Hal.25)

Sementara dalam kitab lain, dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu pula:

إنما الجماعة ما وافق طاعة الله وإن كنت وحدك

“Sesungguhnya Al Jama’ah adalah apa-apa yang bersesuaian dengan ketaatan kepada Allah, walau kau seorang diri.” (Imam Al Lalika’i,  Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, 1/63)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri menjelaskan makna Al Jama’ah:

ما أنا عليه وأصحابي

“Apa-apa yang Aku dan sahabatku berada di atasnya.” (HR. At Tirmidzi No. 2641. Syaikh Al Albani mengatakan: hasan. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2641)

Syaikh Abdullah bin Abdil Hamid Al Atsari, memberikan kesimpulan tentang makna Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagai berikut:

فَأهلُ السُّنَّةِ والجماعة :
هم المتمسكون بسُنٌة النَّبِيِّ- صلى اللّه عليه وعلى آله وسلم- وأَصحابه ومَن تبعهم وسلكَ سبيلهم في الاعتقاد والقول والعمل ، والذين استقاموا على الاتباع وجانبوا الابتداع ، وهم باقون ظاهرون منصورون إِلى يوم القيامة فاتَباعُهم هُدى ، وخِلافهم ضَلال

“Maka, Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mereka yang berpegang teguh dengan sunnah (jalan) Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dan menempuh jalan mereka dalam perkara aqidah, ucapan, dan perbuatan, dan orang-orang yang istiqamah dalam ittiba’ (mengikuti sunnah) dan menjauhkan bid’ah, merekalah orang-orang yang menang dan mendapat pertolongan pada hari kiamat.

Maka mengikuti mereka adalah petunjuk, dan berselisih dengan mereka adalah sesat.” (Al Wajiz …, Hal. 25)

Jadi, ada dua kata kunci dalam memahami istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah:

1. Apa yang mereka jalankan?
Yakni thariqah (metode/jalan) yang pernah dilakoni oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sahabat, dan tabi’in.

2. Siapa sajakah mereka?
Yakni Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabat, dan tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, bersama  kebenaran yang mereka bawa.

Sehingga, siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, manusia yang mengikuti jalan yang pernah ditempuh mereka, maka itulah Ahlus Sunnah wal Jamaah, walaupun dia seorang diri.

Nama Lain Dari Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Ahlus Sunnah wal Jama’ah memiliki beberapa nama lain, yakni:

1. Al Firqah An Najiyah ( Golongan yang Selamat)

Di berbagai kitab, para Ulama mengistilahkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan nama Al Firqah An Najiyah.

Pengistilahan ini terinspirasi dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang perpecahan umat (hadits iftiraq), yang menyebutkan hanya ada satu kelompok yang yang selamat dan masuk surga.

Sementara Imam Muhammad bin Abdil Wahhab menyebutnya dengan istilah Al Millah An Najiyyah. (Ushulul Iman, Hal. 173)

Dari ‘Auf bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

افْتَرَقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتْ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ

“Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, satu di surga, yang 70 di neraka. Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, satu di surga, 71 di neraka. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu di surga, 72 di neraka.”

Rasulullah ditanya: “Ya Rasulullah, siapakah mereka?”

Beliau menjawab: Al Jama’ah.” (HR. Ibnu Majah No. 3992. Ath Thabarani, Al Kabir No. 129, juga Musnad Asy Syamiyin No. 988.   Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani, lihat Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3992)

Hadits perpecahan umat, juga diriwayatkan dari beberapa sahabat selain ‘Auf bin Malik di atas, di antaranya:

Jalur Abu Hurairah, tetapi hanya menyebut jumlah perpecahan, tanpa menyebut “Satu Yang di Surga” dan tanpa menyebut Al Jama’ah. (HR. Abu Daud No. 4596.  Ibnu Hibban No. 1834 (Mawarid Azh Zham’an). Abu Ya’la No. 5910.
Imam Al Hakim mengatakan shahih sesuai syarat Imam Muslim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, 1/426/405)

Jalur Anas bin Malik, tetapi hanya menyebut perpecahan Bani Israel (71 kelompok, semua neraka kecuali satu), dan perpecahan Umat Islam saja (72 kelompok, semua neraka kecuali satu, yakni Al Jama’ah), tanpa menyebut perpecahan Nasrani. (HR. Ibnu Majah No. 3993. Al Baihaqi, Dalail An Nubuwwah, 7/42/2545.

Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2042).

Secara zhahir, hadits ini bertentangan dengan  hadits dari ‘Auf bin Malik di atas, yang menyebut umat Islam terpecah menjadi 73.

Ini hanya sebagian saja dari hadits tentang iftiraqul ummah (perpecahan umat), yang menjadi dasar bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah Al Firqah An Najiyah.

Catatan:
Sebagaian ulama ada yang meragukan validitas (keshahihan) hadits-hadits di atas. Seperti Imam Abu Muhammad bin Hazm, Imam Ibnul Wazir Al Yamani, dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi hafizhahullah. Ada beberapa alasan yang mereka utarakan, di antaranya:

1. Hadits ini sangat penting, bahkan Imam Al Hakim menyebutnya dengan: Ushulul Kabir (dasar-dasar yang agung).

Namun, Bukhari-Muslim tidak meriwayatkannya. Betul bahwa hadits shahih juga banyak tersebar di kitab-kitab selain Bukhari-Muslim, tetapi mereka tidaklah meninggalkan dalam kitabnya masalah-masalah sepenting ini.

2. Perpecahan umat Islam ada 73, kenapa umat terbaik perpecahaannya koq lebih banyak?

3. Kalimat yang menyebutkan pengecualian yang selamat, yakni kata-kata: “Kecuali satu yang surga,” atau kata “Al Jama’ah” berpotensi disalahgunakan oleh sebagian orang untuk membenarkan kelompoknya, dan menyalahkan kelompok yang lain.

Bahkan Imam Ibnul Wazir, dalam Kitab Al ‘Awashim, mendhaifkan hadits-hadits ini secara keseluruhan, termasuk tambahannya, “Kecuali satu yang surga,” atau kata, “Al Jama’ah.”  Beliau berkata:

وإياك والاغترار بـ “كلها هالكة إلا واحدة” فإنها زيادة فاسدة، غير صحيحة القاعدة، ولا يؤمن أن تكون من دسيس الملاحدة. قال: وعن ابن حزم: إنها موضوعة، عير موقوفة ولا مرفوعة

“Hati-hatilah anda, jangan tertipu dengan kata – semua binasa kecuali satu – karena itu adalah tambahan yang rusak, tidak shahih, dan direkayasa oleh orang mulhid (atheis).  Berkata Ibnu Hazm: hadits ini palsu, tidak mauquf di sahabat), dan tidak pula marfu’ (sampai Rasulullah).” (Syaikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Ash Shahwah Al Islamiyah Baina Al Ikhtilaf Al Masyru’ wat Tafarruq Al Madzmum, Hal. 27)

4. Dalam sanadnya terdapat seorang rawi bernama: Muhammad bin Amr bin Al Qamah bin Al Waqqash Al Laitsi. Para ulama berkata tentang dia:

صدوق، له أوهام

“Orang jujur, tapi banyak keraguan.” (Imam Ibnu Hajar, Taqribut Tahdzib, 1/763. Imam Badruddin Al ‘Aini, Maghani Al Akhyar, 6/63/527)

Tetapi Imam Adz Dzahabi memberikan penilaian positif tentang dia:

وكان حسن الحديث، كثير العلم، مشهوراً

“Dia hasan (bagus) haditsnya, banyak ilmu, dan terkenal.” (Imam Ad Dzahabi, Al ‘Ibar fi Khabar min Ghabar, Hal. 38)

Juga Imam An Nasa’i dan lainnya, berkata tentang dia: “Laisa bihi ba’san” (Dia tidak apa-apa) (Imam Adz Dzahabi, Man Lahu Ar Riwayah fi Kutub As Sittah, 2/207)

Namun demikian yang menshahihkan hadits ini, dari kalangan pakar dan imam hadits lebih banyak dibanding yang mendhaifkan. Seperti Imam Al Hakim, Imam At Tirmidzi, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Hajar, dan lain-lain. Sedangkan Imam Ibnu Hazm, telah masyhur dikalangan ulama bahwa dia adalah orang yang sangat ketat dalam menjarh (menilai cacat) perawi hadits, sampai-sampai ulama sekaliber Imam At Tirmidzi di katakannya: majhul (tidak dikenal)!! Wallahu A’lam

2. Ath Thaifah Al Manshurah (Kelompok yang mendapat pertolongan)

Ini juga sebutan lain untuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana yang tersebar di berbagai kitab para ulama.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ

“Sesungguhnya Kami menolong Rasul-Rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (QS. Al Ghafir (40): 51)

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ (171) إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ (172) وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ (173)

“Dan Sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) Sesungguhnya mereka Itulah yang pasti mendapat pertolongan, dan Sesungguhnya tentara Kami Itulah yang pasti menang.” (QS. Ash Shaffat (37): 171-173)

Dari Tsauban Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Ada sekelompok umatku yang senantiasa di atas kebenaran, tidaklah memudharatkan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka, sampai Allah datangkan urusannya (kiamat), dan mereka tetap demikian.” (HR. Muslim No. 1920)

Sementara dari jalur Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘Anhu, teksnya: … senantiasa berperang di atas kebenaran … (HR. Muslim No. 1923,  Ahmad No. 14762)

3. As Sawadul A’zham (Kelompok besar/mayoritas)

(Bersambung)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allahu Robbul Alamin

Tidak Mendahulukan Makhluk dari Sang Khalik

Pemateri: Ust. DR. Wido Suparaha

Materi ini membahas satu tema penting bahwa di antara konsekuensi logis syahadatain, seorang mukmin TIDAK BOLEH MENDAHULUKAN   makhluk daripada Sang Khalik.

Mendahulukan Allah atas segala urusan kita adalah bagian dari adab yang tidak boleh terlepas. Kalaupun ada ketaatan kepada makhluk, maka ketaatan itu harus dalam rangka ketaatan kepada Allah, sehingga tidak boleh bertentangan dengan ketaatan kepada Allah.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Hujurat/49 ayat 1,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ayat yang mulia ini mengawali surat Al-Hujurat, surat yang diturunkan di Kota Madinah, dan berisi 18 ayat.

Rangkaian 5 ayat pertama surat ini sesungguhnya berisi taujih rabbani terkait tata cara bergaul dan berhubungan dengan Rasulullah Saw saat beliau masih hidup. Namun ayat pertama ini menjadi jauh lebih penting, karena memuat kandungan aqidah yang sudah menjadi kewajiban umat Islam untuk menjaganya.

📗Ibnu Katsir mengutip pendapat Ali bin Abi Thalhah yang meriwayat kan dari Ibnu ‘Abbas r.a., bahwa maksud ayat (لا تقدموا بين يدي اللّه و رسوله) adalah, “Janganlah kalian mengucapkan hal-hal yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits.”

Mujahid juga menafsirkan, “Janganlah kalian mendahului Rasulullah Saw dalam sesuatu (hal), sehingga Allah Swt. menetapkannya melalui lisan beliau.”

Adh-Dhahhak mengatakan jangan memutuskan suatu perkara tanpa mengikuti petunjuk Allah dan Rasulnya dari seluruh syari’at-syari’at dalam agama Islam,

Sufyan ats-Tsauri mengingatkan untuk tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam bentuk ucapan maupun perbuatan.[1]

Imam Jalaluddin mengatakan bahwa kalimat (لا تقدّم) berasal dari kata kerja (قدّم) yang berarti (تقدّم) yang maksudnya, ‘janganlah kalian mendahului dengan perbuatan maupun perkataan’.[2]

Sementara Imam Syafi’i mengatakan bahwa kata (تقدّم) ,(قدّم) dan (استقدام) memiliki makna yang satu. [3]

Ibn Hajar al-Atsqalani mengutip pendapat Ath-Thabari yang meriwayatkan dari Sa’id, dari Qatadah, “Disebutkan kepada kami bahwa sebagian orang berkata, ‘Sekiranya diturunkan tentang ini’, maka Allah pun menurunkan ayat itu.”

Imam Ath-Thabari juga berkata, “Al-Hasan berkata, ‘Mereka adalah sebagian kaum muslimin.
Mereka menyembelih (kurban) sebelum shalat, maka Nabi Saw memerintahkan mereka menyembelih kembali.”[4]

Ketika cara kita dalam melihat Surat Al-Hujurat ini ditingkatkan lebih global lagi, maka akan kita dapati adanya fokus bahasan tentang adab Mukmin kepada Nabi Saw, sebagai rangkaian utuh yang telah dimulai sejak Surat Muhammad.

Surat Muhammad menjelaskan bahwa mengikuti Nabi Saw. adalah bukti diterimanya amal.

Surat Al-Fath menjelaskan sifat-sifat orang yang mendapatkan kemenangan.

Sedangkan Surat ini, Surat Al-Hujurat, memberikan pesan, “Wahai orang yang akan mendapatkan kemenangan, hiasilah diri dengan adab-adab sosial, terutama adab kepada Nabi Saw.”

Seakan-akan beberapa sifat yang disebutkan di akhir Surat Al-Fath, pengorbanan dan kesungguhan, serta keseimbangan antara ibadah dan keberhasilan dalam kehidupan, masih membutuhkan penyempurnaan.

Adapun penyempurnaan nya adalah sifat-sifat yang terkait dengan moral dan adab yang disebutkan dalam Surat Al-Hujurat. Maka ayat pertama dari Surat Al-Hujurat ini berkata kepada para sahabat Nabi Saw., ” Janganlah kalian tergesa-gesa meminta turunnya wahyu, beradablah terhadap syariat, terhadap Allah dan Rasul-Nya.”

Sementara penerapan ayat ini dalam kehidupan kita adalah dengan tunduk pada syariat Allah Swt., dan sunnah Nabi-Nya, tanpa melakukan pelanggaran terhadap keduanya.[5]

Ayat tersebut diakhiri dengan perintah agar bertakwa kepada Allah Swt., sebagai pertanda bahwa jika seorang mukmin meninggalkan adab yang telah dibahas di atas, maka tidak sempurnalah keimanannya.
Dalam makna berkebalikan dapat disebutkan bahwa seorang yang bertakwa pastilah pandai dalam menjaga adab terhadap Allah dan Rasul-Nya, sebagai adab yang harus diprioritaskan dan ditempatkan pada tempat yang paling tinggi.

Esensi dari ayat ini sesungguhnya adalah agar mukmin sentiasa menjaga ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan berhukum dengan hukum yang telah ditetapkan untuknya.

Maka dalam banyak ayat Al-Qur’an, esensi yang sama semakin dikuatkan dengan ragam redaksi, untuk terus mengingatkan sifat kemanusiaan yang terkadang mudah tersimpangkan karena faktor-faktor yang dapat menyimpangkannya.

Firman Allah Swt. dalam Surat An-Nisa/4 ayat 60-61,

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ?
Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.

Apabila dikatakan kepada mereka :
“Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.”

Firman Allah Swt. dalam Surat Al-Anfal/8 ayat 24,

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.”

Firman Allah Swt. dalam Surat An-Nur/24 ayat 51-52,

“Sesungguhnya jawaban oran-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka [1046] ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”.

Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan.”

Firman Allah Swt. dalam Surat Al-Ahzab/33 ayat 36,

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.

Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

Maraji’

1] Muhammad Ali Ash-Shabuni, Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir, Beirut: Dar al-Fikr, Tanpa Tahun, hlm. 357. Menurut Ibn Hajar dalam Fathul Bari, pendapat Mujahid dinukil oleh Abd bin Humaid melalui sanad yang maushul dari Ibn Abi Najih, dari Mujahid. Ibn Hajar meriwayatkan dalam kitab Dzammul Kalam dari jalur ini.

2] Jalaluddin Muhammad al-Mahalli dan Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi, Tafsir Jalalain, Jilid 3, Surabaya: Pustaka eLBA, Tanpa Tahun, hlm. 470.

3] Asy-Syafi’i, Tafsir Al-Imam Asy-Syafi’i, Saudi Arabia: Dar at-Tadmiriyyah, 2006, hlm. Maktabah Syamilah.

4] Ibn Hajar al-Atsqalani, Fathul Bari Jilid 24, Jakarta: Pustaka Azzam, 2008, hlm. 97.

5] Amru Khalid, Khowathir Qur’aniyyah, Nazharat fi Ahdafi Suwaril Qur’an, Jakarta: Al-I’tishom, Cetakan ke-3, 2012, hlm. 621.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allahu Robbul Alamin

Urgensi Dua Kalimat Syahadat (Bag. 2 – Habis)

Pemateri: Ust. DR. Wido Suparaha

Materi sebelumnya bisa dibuka di link berikut:

3. Konsep Dasar Reformasi Total atau Gerakan Perubahan

Generasi terbaik agama ini telah mencontohkan, bagaimana begitu mereka menerima syahadatain sebagai dua persaksian penting dalam hidup mereka, mereka LANGSUNG melakukan perubahan tanpa menunggu waktu lama.

Sebuah perubahan yang sangat drastis.

Cukuplah sosok Mush’ab bin ‘Umari menjadi contoh dari begitu banyak contoh terbaik.

Sosok yang awalnya merupakan pemuda dengan gaya hidup mewah di kota Makkah, langsung berubah menjadi da’i nan sederhana, duta Rasul untuk kota Madinah, sehingga tatkala syahid menjemputnya saat perang Uhud, dibacakan ayat berikut ini kepadanya dari Surat Al-Ahzab/33 ayat 23,

“Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.

Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)”

Orang-orang yang tadinya mati hatinya tiba-tiba mendapatkan cahaya setelah menerima syahadatain, sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-An’am/6 ayat 122

“Dan apakah orang yang sudah mati  kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?

Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.”

Allah Swt. juga berfirman dalam Surat Ar-Ra’d/13 ayat 11,

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa

malaikat yang mencatat amalan-amalannya.

Dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut malaikat ‘Hafazhah’.

Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.”

4. Hakikat Da’wah Para Rasul

Tauhid merupakan misi dakwah para Rasul.

Agama para Nabi adalah satu, yaitu TAUHID, sedangkan syariat bisa berbeda-beda.

Seluruh bentuk ibadah tidak diterima tanpa tauhid. Tauhid menjadi pangkal keselamatan di dunia, karena dengannya seseorang menjadi Muslim dan kemudian darah dan hartanya terlindungi.

Tauhid juga tentu menjadi pangkal keselamatan di akhirat.[12]

Sesungguhnya dakwah para Rasul adalah kepada syahadatain ini. Dengan hakikat ini, seorang Muslim akan memahami Islam sebagai pedoman hidup menyeluruh, baik untuk urusan kecil maupun besar hanya kepada Allah dan Rasulnya.

Jika demikian, maka pemahaman lengkap kita akan agama ini MENJADIKAN Islam sebagai:
– agama dan kedaulatan,
– akidan dan syari’ah,
– sistem moral dan kepemimpinan,
– jihad dan ibadah,
– dunia dan akhirat, dengan segala yang terkandung di dalam Kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. [13]

Dengan motivasi yang benar dari syahadatain, seseorang akan mulai menghadirkan aktifitas-aktifitas kebaikan
– diawali memperbaiki diri sendiri,
– kemudian membentuk rumah tangga Muslim, dan
– dilanjutkan membimbing masyarakat.

Dari tiga aktifitas mendasar tersebut, maka mulailah para peyakin syahadatain meningkatkan aktifitas mereka hingga
– membebaskan tanah air dari kekuatan asing,
– memperbaiki pemerintah an,
– mewujudkan kesatuan umat Islam,
– sampai pada puncaknya memimpin dunia dengan dakwah Islamiyah ke seluruh pelosok dunia. [14]

Allah Swt. berfirman dalam Surat Ali ‘Imran/3 ayat 31,

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-An’am/6 ayat 19,

“Katakanlah:
“Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?”

Katakanlah: “Allah”. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quraan ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quraan (kepadanya).

Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui.”

Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)”.

Allah Swt. berfirman dalam Surat An-Nahl/16 ayat 36,

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):

“Sembahlah Allah (saja),
dan jauhilah Thaghut [826] itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya [827].

Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”

5. Keutamaan yang Besar

Kalimat ini selain melahir kan konsekuensi logis, juga memberikan balasan terbaik bagi para peyakinnya khususnya di akhirat kelak.

Namun adalah sesuatu yang sulit untuk meraihnya jika kalimat ini belum menyatu dalam sanubari dan keseharian kita, dan terpatri kuat dalam alam bawah sadar manusia.

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Daud)

مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ

”Barangsiapa mengucap kan ’saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa ’Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, dan (bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.” (HR. Muslim no. 149)

***

Maraji’

1] Abdullah Azzam, Aqidah, Landasan Pokok Membina Ummat, Jakarta: GIP, Cetakan ke-6, 1995, hlm. 19.

2] Muhammad Sa’id Salim al-Qaththany, Al-Wala’ wa al-Bara’, Jakarta: Ramadhani, Cetakan ke-4, 1994, hlm. 6.

3] Muhammad at-Tamimi, Mengungkap Kebatilan Penentang Tauhid, Jakarta: Darul Haq, 1997, hlm. 10.

4] Muhammad Sa’id Salim al-Qaththany, Al-Wala’ wa al-Bara’, hlm. 23.

5] Abu Zaid al-A’jami, Akidah Islam Menurut Empat Madzhab, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cetakan ke-2, 2014, hlm. 71.

6] Sa’id Hawwa, Allah Subhanahu wa Ta’ala, Jakarta: GIP, Cetakan ke-3, 2005, hlm. 226.

7] Taufiq Yusuf al-Wa’iy, Fiqih Dakwah Ilallah, Jakarta: Al-I’tishom, Cetakan ke-2, 2012, hlm. 21.

8] Abdurrahman Abdul Khaliq, Dasar-dasar Dakwah Generasi Islam Pertama, Jakarta: Pustaka Al-Hidayah, Cetakan ke-2, 1993, hlm. 19.

9] Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir, Jilid 1, Bogor: Pustaka Imam Syafi’i, 2004, hlm. 291.

10] Jalaluddin Muhammad al-Mahalli dan Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi, Tafsir Jalalain, Jilid 1, Surabaya: Elba, 2010, hlm. 664.

11] Ridhwan Muhammad Ridhwan, 20 Taushiyah Hasan Al-Banna, Jakarta: Al-Farda, 2004, hlm. 157.

12] Shalah Shawi, Ats-Tsawabit Wal Mutaghayyirat, Prinsip-prinsip Gerakan Dakwah Yang Mutlak dan Fleksibel, Jakarta: Era Intermedia, 2011, hlm. 154.

13] Jum’ah Amin Abdul Aziz, Fiqih Dakwah, Jakarta: Intermedia, Cetakan ke-2, 1998, hlm. 56.

14] Sa’id Hawwa, Membina Angkata Mujahid, Jilid 1, Jakarta: Al-Ishlahy Press, Tanpa Tahun, hlm. 61.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allahu Robbul Alamin

Urgensi Dua Kalimat Syahadat (أهمية الشهادتين) (Bag-1)

Pemateri: Ustadz DR Wido Supraha

Materi ini mengingatkan kaum muslimin akan pentingnya dua kalimat syahadat yang telah sangat dikenal sejak pertama kali mengenal Islam, bahkan dihafal dan terus menerus diulang pengucapannya setiap hari.

Namun adakah di antara Anda yang memaknai untaian kalimat singkat namun penuh makna ini? Bukankah dua kalimat ini kita lafazhkan setiap harinya?

Bagaimana sesungguhnya urgensi dari kalimat yang merupakan gerbang pertama seseorang untuk masuk ke dalam agama Islam?

Aqidah berasal dari kata ‘aqoda, bermakna ma’qudah (yang terikat).

Aqidah bagaikan ikatan perjanjian yang teguh dan kuat, karena ia terpatri dalam hati dan tertanam di dalam lembah hati yang paling dalam. Aqidah adalah iman dengan semua rukunnya yang enam.

Rukun pertamanya adalah mengucapkan syahadatain, dua kalimat syahadat.[1]

Tegaknya Islam wajib didahului tegaknya rukun Islam. Tegaknya Rukun Islam wajib didahului tegaknya syahadah.

Maka sedemikian pentingnya syahadah ini sehingga ia perlu mendapatkan perhatian khusus agar mendapatkan pemaknaan yang shahih, menentukan kebahagiaan hidup kita, dunia dan akhirat.

Bersama syahadat, kita saksikan generasi awal pemeluk agama ini (السَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ) memiliki kesabaran di atas rata-rata ketika disiksa, ditawan, dipukuli, dan berhijrah.

Syahadatain, dua kalimat syahadat, dua kalimat yang diucapkan sebagai persaksian seorang Muslim.

Kalimat pertama menegaskan bahwa ‘Tidak Ada Tuhan yang disembah dengan sebenar-benarnya selain Allah’, dan kalimat kedua menegaskan bahwa ‘Muhammad Saw. adalah benar utusan Allah Swt.’.[2] Yang dimaksud dengan kalimat ini adalah makna hakikinya bukan sekedar lafazhnya.

Maka kemudian, kedua kalimat ini melahirkan loyalitas (wala’) dan penolakan (bara’), sebagai wujud kelurusan tauhid.

Muslim pun akan tergerak untuk hanya mengesakan Allah, selalu bergantung kepada Allah, mengingkari dan berlepas diri dari segalah sesuatu yang disembah selain Allah. [3]

Berkata Ibn Qayyim al-Jauziyyah, “Tauhid itu mengandung kecintaan kepada Allah, ketundukan dan merendahkan diri kepada-Nya, patuh dengan sebenarnya untuk ta’at kepada-Nya, memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, menghendaki pertemuan dengan wajah-Nya Yang Maha Tinggi dengan segenap perkataan dan perbuatan, memberi dan menahan, mencinta dan marah karena-Nya, serta menghindarkan diri dari segala sesuatu yang menyeret pada kedurhakaan kepada-Nya.”[4]

Begitu pentingnya pemaknaan yang benar akan konsep syahadat, dan melihat begitu banyak penyimpangan dalam sejarah pengembangan agama ini, maka lahirlah disiplin ilmu tauhid.

Kehadiran ilmu tauhid ini merupakan salah satu bentuk perhatian terhadap aqidah Islam, baik dari sisi pemahaman, penarikan konklusi dalil, ataupun pembelaan terhadap ragam serangan yang telah pernah terjadi di masanya.

Ragam serang itu muncul karena lahirnya ragam pemikiran menyimpang sehingga membutuhkan upaya untuk pelurusan dan penguatan kembali.[5]

Bersyukurlah kita berada dalam keyakinan Islam. Islam dengan akidah ketuhanan menjadi penyempurna dan perbaikan bagi setiap akidah yang telah mendahuluinya dalam berbagai aliran keagamaan ataupun filsafat yang membahas masalah ketuhanan.[6]

Syahadatain merupakan awal sekaligus inti dari ber-Islam.
Syahadatain adalah akidah itu sendiri. Syahadatain adalah sesuatu yang kepadanya segala bentuk ketundukan sebagaimana makna ad-Din. Maka Islam adalah akidah, agama, dan manhaj hidup seorang mukmin.[7]

Syahadatin menjadi inti dan sumber motivasinya. Konsep ini membawa kita kepada keimanan dengan cara yang benar bahwa hanya kepada Allah kita beribadah, dan bahwa hanya Allah yang memiliki hak membuat syariat untuk manusia.[8]

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Baqarah/2 ayat 143:

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan [95] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”

Kata wasathan hanya satu kali ditemukan dalam Al-Qur’an, namun ada 4 kata lain yang menggunakan dasar kata yang sama didapati, dengan satu kata sebagai kata kerja.

Ummat wasathan adalah umat terbaik, sebagaimana dikatakan ‘Rasulullah wasathan fi qaumihi‘, dan sebagaimana Shalat Wustha adalah shalat terbaik. Ketika Allah menjadikan Ummat ini sebagai ummatan wasathan maka Dia memberikan kekhususan kepadanya dengan syari’at yang paling sempurna, jalan yang paling lurus, dan paham yang paling jelas.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Sa’id, juga disebutkan oleh Rasulullah bahwa kata al-wasath juga bermakna al-‘adl, adil dan pilihan.[9]

Kata syahadah dengan ragam bentuknya dapat ditemukan sebanyak 160 kata di dalam Al-Qur’an, 107 kata benda, dan 53 kata kerja. Sebagaimana kata ‘syahiidan’, dalam Surat An-Nisa’/4 ayat 41:

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu.:

1. Pintu Masuk ke dalam Islam

Memasuki agama Islam sangatlah mudah, hanya dengan memformalkan pengucapan syahadatain di atas keimanan.

Namun sesuatu yang mudah ini sangat sulit dilakukan oleh kafir Quraisy yang sangat memahami makna di balik kalimat yang mudah diucapkan tersebut. Kandungan dan konsekuensi logis di balik kalimat tersebut telah menahan mereka untuk kembali ke jalan Islam, jalan hidayah nan penuh kasih.

Dikatakan ‘kembali’, karena asasinya, manusia telah pernah berjanji di alam ruh, untuk sentiasa menyembah Allah semata.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-A’raf/7 ayat 172;

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”.

(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata- kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Atau agar kamu tidak mengatakan:
“Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”

Menurut Imam Jalaluddin Muhammad al-Mahalli, kata ‘min zhuhurihim‘ merupakan badal isytimal (kata ganti yang mencakup) dari kata-kata sebelumnya, ‘min bani Adam‘ dengan mengulang penyebutan huruf jar ‘min‘.[10]

Maka kemudian kita menyaksikan bagaimana Nabi Muhammad Saw. telah berupaya mengislamkan seluruh isi bumi ini semaksimal kemampuan yang ada saat tersebut, sebagaimana hadits ke-8 Arba’in An-Nawawiyah berikut ini:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكاَةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَـهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالىَ [رواه البخاري ومسلم

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma sesungguhnya Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda:

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal itu maka darah dan harta mereka akan dilindungi kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah ta’ala. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Allah Swt. juga berfirman dalam Surat Muhammad/47 ayat 19,

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.”

Kalimat ‘wastaghfir li dzanbika‘ mengikuti untaian kalimat tauhid menunjukkan bahwa ketidakkonsistenan antara pernyataan dan perbuatan merupakan dosa.

Maka selain menjaga kemurnian kalimat tauhid dengan amal ibadah yang shahih, seorang Muslim juga dituntut untuk tidak menyombongkan diri di atas kalimat tersebut, sebagaimana firman Allah dalam Surat Ash-Shaffat/37 ayat 35:

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri.

Maka hanya dengan ilmu-lah, seorang Muslim akan terhindar dari kesombongan diri, dan bersyahadat dalam arti yang sebenarnya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat Ali ‘Imran/3 ayat 18,

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu  (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Perlu diketahui bahwa kata paduan qa-sin-tha ini digunakan dalam 27 kata di dalam Al-Qur’an, dengan 14 kata di antaranya adalah kata ‘bil qisth‘. 24 kata darinya adalah kata benda, dan 3 kata merupakan kata kerja

2. Intisari Ajaran Islam

Syahadatain menjadi inti dari ajaran Islam.
Keimanan sebagai motivator kehidupan sekaligus asas amal. Gerak hati menjadi lebih penting daripada gerak jasmani.

Sebab hati sumber dan pengarah amal. Jika hati penuh dengan keimanan, keikhlasan, ketakwaan, maka amal jasmani mendapat ridha dan pahala dari-Nya. Maka wajib setiap Muslim untuk memperbaiki ibadah hati. [11]

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Anbiya/21 ayat 25,

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.

Allah Swt. juga berfirman dalam Surat Al-Jasiyah/45 ayat 18,

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”

Maka prinsip syahadatain yang menjadi intisari ajaran Islam adalah sebagai pernyataan penghambaan dan ibadah hanya kepada Allah. Pernyataan bahwa Rasulullah menjadi teladan dalam penghambahan dan ibadah tersebut.

Pernyataan bahwa penghambaan dan ibadah itu meliputi seluruh aspek kehidupan.

Bersambung


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pegang Teguh Tali Allah

SIAPAKAH SYIAH?

Pemateri: DR. WIDO SUPRAHA

Syi’ah berarti pendukung, pembela.

Syi’ah Ali adalah Pendukung Ali r.a., Syi’ah Mu’awiyah adalah pendukung Mu’awiyah r.a.

Namun baik Syi’ah Ali maupun Syi’ah Muawiyah di masa itu keduanya Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena aqidah dan fahamnya sama, Al-Qur’an dan As-Sunnah.[1]

Namun setelahnya Syi’ah kemudian berkembang dari aliran politik menjadi aliran aqidan dan fiqh baru.

Sumber rujukan Syi’ah yg utama dan induk ada 4 Kitab (Al-Kutub al-Arba’ah):

1. Al-Kaafi (16.199 hadits) ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad bin Ya’kub bin Ishak al-Kulaini (wafat 329H)

2. Man La Yadhurruh al-Faqih (6.593 hadits) ditulis oleh Abu Ja’far Ash-Shaduq Muhammad bin Ali Babawaih (wafat 381H)

3. At-Tahdzib (13.590 hadits) ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan Ali ath-Thusi (wafat 460H)

4. Al-Istibshar (6.531 hadits) ditulis oleh Abu Ja’far Ath-Thusi (Syaikhut Thaifah).

Keempat kitab ini terus diproduksi hingga hari ini, sehingga salah satu kitab Syi’ah berjudul Al-Muraja’at ditulis oleh Abd Husein Syarafuddin al-Musawi, diterjemahkan oleh MIZAN dengan judul “Dialog Sunnah Syi’ah” menegaskan bahwa keempat kitab tersebut telah sampai kepada kita dengan mutawatir, isinya shahih tanpa keraguan.[2]

Syi’ah kemudian berpecah menjadi banyak firqah:
Syi’ah 7, Syi’ah 12, Syi’ah 12 Ja’far, Hasyimiyah, Hamziyah, Manshuriyah, Mughiriyah, Harbiyah, Khatthabiyah, Ma’mariyah, Bazighiyah, Sa’idiyah, Basyiriyah, ‘Albaiyah, Hisyamiyah, Ruzamiyah, Nu’maniyah, Musailamiyah, Isma’iliyah, Waqifiyah, Mufawwidhah, Ghurabiyah, Kamiliyah, Nushairiyah, Ishaqiyah.[3]

Perbedaan yang banyak ini dijelaskan oleh Fakhruddin ar-Razi dalam Al-Muhashshal,

“Ketahuilah bahwa adanya perbedaan yang sangat besar seperti tersebut di atas, adalah merupakan satu bukti konkret tentang tidak adanya wasiat teks penunjukan yang jelas dan berjumlah banyak tentang Imam yang Duabelas seperti yang mereka klaim itu.”[4]

Inti ajaran Syi’ah terlihat hanya terpusat pada masalah Imam saja, dan tidak boleh diluar dari nama-nama yang mereka yakini [5]

Syi’ah yang berkembang pesat hari ini adalah Syi’ah Imamiyah Dua Belas, karena telah menjadi mayoritas di Iran, Irak, Suriah, Libanon, dan negara lainnya.[6] Meyakini bahwa kepemimpinan ada pada 12 Imam:
1. ‘Ali bin Abi Thalib
2. Hasan bin ‘Ali
3. Husein bin ‘Ali
4. Ali Zain al-Albidin
5. Muhammad al-Baqir
6. Jafar al-Shadiq
7. Musa al-Kazhim
8. Ali al-Ridha
9. Muhammad al-Jawwad
10. Ali al-hadi
11. Al-Hasan al-Askari
12. Muhammad al-Muntazhar

Muhammad al-Muntazhar dikisahkan ketika masih kecil hilang dalam gua yang terletak di Masjid Samarra, Iraq.
Mereka meyakini akan hilangnya untuk sementara dan akan kembali sebagai al-Mahdi untuk langsung memimpin umat.

Nama lainnya Imam Tersembunyi (Al-Imam al-Mustatir) atau Imam yang dinanti (Al-Imam al-Muntazhar).

Periode menanti kehadirannya disebut Al-Ghaibah al-Kubra, diisi oleh kepemimpinan raja, imam dan ulama mujtahid Syi’ah.[7]

Syi’ah Imamiyah mengklaim bahwa Al-Qur’an saja TIDAK CUKUP untuk menerangkan agama, perlu adanya seorang imam.

Kebanyakan ulama mereka terdahulu mengklaim bahwa Al-Qur’an itu kurang karena pengurangan, sehingga tentu ada kemungkinan penambahan.
Mereka juga mengklaim dari sekitar 10.000 sahabat Nabi Saw hanya 4 orang saja yang tidak mengkhianati Rasulullah Saw.

Maka mereka telah meyakini bahwa Islam telah gagal sejak kali pertama, juga kegagalan Rasulullah Saw dalam mendidik! [8]

Maka tidak heran kalau mereka memiliki banyak teori baru dalam akidah seperti Kemakshuman para Imam, Bada’ (Mengetahui hal yang Ghaib), Raj’ah (Reinkarnasi), dan Taqiyah (Kepura-puraan) [9]

Sebuah keyakinan jika tidak dibangun di atas wahyu maka yang terjadilah adalah kerusakan metodologi dan pondasi berfikir.

***

Maraji’
1] Drs. KH. Moh. Dawam Anwar, Katib Aam PBNU 1994-1998, dalam makalahnya berjudul “Inilah Haqiqat Syi’ah”.

2] KH. Thohir Abdullah al-Kaff, Mantan Ketua Yayasan Al-Bayyinat Bidang Dakwah, dalam makalahnya berjudul “Perkembangan Syi’ah di Indonesia”.

3] KH. Drs. M. Nabhan Husein, Mantan Ketua DDII Jakarta, dalam makalahnya berjudul “Tinjauan Ahlus Sunnah terhadap Faham Syi’ah tentang Al-Qur’an dan Hadits”.

4] DR. M. Hidayat Nur Wahid, Mantan Ketua Yayasan Haramain, dalam makalahnya berjudul “Syi’ah dalam Lintasan Sejarah”.

5] Farid Ahmad Okbah, Ahlussunnah wal Jamaah dan Dilema Syi’ah di Indonesia, hlm. 25.

6] Abdurrahman bin Sa’ad bin Ali asy-Syatsri, Pengajar Tetap Masjid Quba, Aqaid asy-Syi’ah al-Itsna Asy’ariyyah

7] KH. Abdul Latief Muchtar, MA., Mantan Ketua PERSIS, dalam makalahnya “Sunnah-Syi’ah Dua Ajaran Yang Saling Bertentangan”.

8] Prof. Dr. Ahmad bin Sa’ad al-Ghamidi, Hiwar Hadi ma’a ad-Duktur al-Qazwini asy-Syi’i al-Itsnai Asyari, Mukaddimah

9] Prof. Dr. Ali Ahmad as-Salus, Guru Besar Universitas Qatar, Ma’a asy-Syi’ah al-Itsna ‘Asyariah fi al-Ushul wa al-Furu’ (Mausu’ah Syamilah), Mesir: Dar at-Taqwa, 1997


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Maha Berkehendak

Apakah Makhluk Pertama Kali Yang Allah ﷻ Ciptakan?

📝 Pemateri: Farid Nu’man Hasan

Para ulama berbeda pendapat tetang hal ini:

Pertama. Mereka yang mengatakan Qalam adalah makhluk pertama yang Allah ﷻ ciptakan sebelum seluruh makhluk lainnya. Inilah pendapat Imam Ibnu Jarir, Imam Ibnul Jauzi, dan selainnya. Imam Ibnu Jarir mengatakan setelah itu Allah ﷻ menciptakan awan tipis. (Imam Ibnu Katsir, Al Bidayah wan Nihayah, 1/9)

Dalilnya adalah dari ‘Ubadah bin Ash Shamit Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إن أول ما خلق الله القلم

Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah Al Qalam. (HR. At Tirmidzi No. 3319, katanya:hasan shahih. Abu Daud No. 4700, Ahmad No. 22705. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 22705)

Kedua. Mereka yang mengatakan ‘Arsy adalah makhluk pertama yang Allah ﷻ ciptakan sebelum yang lainnya. Inilah pendapat mayoritas ulama, seperti yang dinukilkan Al Hafizh Abul ‘Ala Al Hamdani dan lainnya. (Al Bidayah wan Nihayah, Ibid)

Dalilnya adalah dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

Allah ﷻ menuliskan takdir-takdir bagi makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi sejauh 50.000 tahun. Beliau bersabda: ‘Arsy-Nya di atas air. (HR. Muslim No. 2653)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

وقد دل هذا الحديث أن ذلك بعد خلق العرش فثبت تقديم العرش على القلم الذي كتب به المقادير كما ذهب إلى ذلك الجماهير. ويحمل حديث القلم على أنه أول المخلوقات من هذا العالم

Hadits ini menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi setelah penciptaan ‘Arsy, maka telah shahih bahwa ‘Arys lebih dahulu dari pada Qalam, yang dengannya dituliskan takdir-takdir sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Ada pun hadits tentang Qalam, mereka menafsirkan bahwa Qalam adalah makhluk pertama di jagat raya (bukan makhluk yang pertama kali  diciptakan, pen). (Al Bidayah wan Nihayah, ibid)

Imam Ibnu Jarir menolak pendapat ini dengan beberapa riwayat yang dia jadikan hujjah. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

قال ابن جرير وقال آخرون ” بل خلق الله عزوجل الماء قبل العرش ” رواه السدي عن أبي مالك وعن أبي صالح عن ابن عباس وعن مرة عن ابن مسعود وعن ناس من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم: قالوا ” ان الله كان عرشه على الماء (1)، ولم يخلق شيئا غير ما خلق قبل الماء ” وحكى ابن جرير عن محمد بن اسحاق أنه قال ” أول ما خلق الله عزوجل النور والظلمة ثم ميز بينهما فجعل الظلمة ليلا أسود مظلما، وجعل النور نهارا مضيئا مبصرا ” قال ابن جرير وقد قيل: ” إن الذي خلق ربنا بعد القلم الكرسي. ثم خلق بعد الكرسي العرش، ثم خلق بعد ذلك الهواء والظلمة. ثم خلق الماء فوضع عرشه على الماء ” والله سبحانه وتعالى أعلم

 Ibnu Jarir dan lainnya mengatakan: “Bahkan Allah telah menciptakan air sebelum ‘Arsy.” As Suddi meriwayatkan dari Abu Malik, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dan dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dari manusia para sahabat Nabi ﷺ, mereka mengatakan: “Sesungghnya ‘ArsyNya ada di atas air, dan Dia belum menciptakan apa pun selain apa yang Dia ciptakan sebelum air.” Ibnu Jarir menceritakan dari Muhammad bin Ishaq, dia berkata: “Yang pertama kali Allah ﷻ ciptakan adalah cahaya dan kegelapan, lalu  Allah memisahkan keduanya sehingga dijadikanNya kegelapan itu di malam hari dan dijadikannya cahaya itu siang hari yang terang benderang. Berkata Ibnu Jarir: telah dikatakan: “Sesungguhnya yang diciptakan Rabb kami setelah Qalam adalah Kursiy, lalu setelah Kursiy adalah ‘Arsy, lalu setelah itu udara dan kegelapan, lalu diciptakan air maka diletakan ‘ArsyNya di atas air.” Wallahu A’lam (Al Bidayah, 1/10) Tapi, riwayat-riwayat ini tidak dijelaskan keshahihannya oleh Imam Ibnu Jarir.

Ketiga. Pendapat yang mengatakan bahwa yang pertama kali Allah ﷻ ciptakan adalah “Nur Muhammad.” Pendapat ini dianut oleh golongan sufi.

Dalilnya, dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

أول ما خلقت نور نبيك يا جابر

“Pertama kali yang diciptakan adalah Nur Nabimu wahai Jabir!” (HR. Abdurazzaq, lihat Al ‘Ajluni dalam Kasyful Khafa, 1/302)

Bahkan golongan ini meyakini bahwa Nur Muhammad diciptakan sebelum Lauh Mahfuzh, Qalam, surga, neraka, malaikat, langit, bumi, matahari, bulan, jin dan manusia. (Ibid)

Namun pendapat ini ditentang secara keras, dan dituding sebagai pendapat yang  menyimpang, karena dasarnya adalah riwayat yang palsu. Berikut ini keterangannya:

وهذا حديث موضوع مكذوب لا قيمة له، فنحن نسمع الناس في هذا الوقت يقولون: يا أول خلق الله! ويا نور عرش الله! فما هو الفرق بين هذا القول وبين قول النصارى: عيسى ابن الله؟ هذا ضلال وذاك ضلال

Hadits ini palsu dan dusta, tidak ada nilainya. Kami mendengar orang-orang sekarang  mengatakan: Wahai makhluk Allah yang pertama! Wahai cahaya ‘Arsynya Allah! Maka, apa bedanya perkataan ini dengan perkataan orang Nasrani: “Isa adalah anak Allah?” Ini sesat yang itu juga sesat. (Syaikh Hasan Abul Asybal Az Zuhri Al Mishri, Syarh Shahih Muslim, 13/97)

Sementara Syaikh Al Albani menyebut ini sebagai min abthalil baathil (di antara kebatilan yang paling batil). (Mausu’ah Al Albani fil ‘Aqidah, 3/816)

Manakah yang lebih shahih? Al Hafizh Abul ‘Ala Al Hamdani  Rahimahullah  mengatakan  pendapat yang paling shahih adalah yang mengatakan ‘Arsy sebagai makhluk pertama yang Allah ﷻ ciptakan. (Al ‘Ajluni, Kasyful Khafa, 1/302). Dan, inilah pendapat mayoritas ulama.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678