Kitab Ath Thaharah (bersuci) (6) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

Hadits ke 6:

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah menulis:

وَلِلْبُخَارِيِّ: – لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي اَلْمَاءِ اَلدَّائِمِ اَلَّذِي لَا يَجْرِي, ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ

                Dalam riwayat Imam Bukhari:“Janganlah salah seorang kalian kencing pada air yang diam yang tidak mengalir, kemudian dia mandi di dalamnya (fiihi).”

Takhrij hadits:

–          Imam Al Bukhari dalam Shahihnya No. 239
–          Imam AthThahawi dalam Syarh Ma’anil Aatsar No. 15
–          Imam Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalamKanzul ‘Ummal No. 26419

Kandungan Hadits:

1.       Pada hadits ini mengandung dua larangan:

1. Pertama, terlarangnya kencing di air yang tergenang.

2. Kedua, terlarangnya mandi di air tergenang yang telah dikencingi tersebut.

Sebagian ulama menyebutkan bahwa hadits ini sebagai perinci dari hadits sebelumnya. Hadits ini menyebutkan sebab kenapa terlarang mandi di air tergenang, yaitu karena air tersebut telah dia kencingi. Artinya larangan terjadi jika dua aktifitas tersebut menjadi satu paket yang berurut; dia kencing   kemudian mandi di air tersebut. Jika dia tidak kencing di air tersebut, maka tidak terlarang untuk mandi di dalamnya, tetapi larangan kencing di air tergenang tetaplah mutlak terlarang.

Inilah yang dikatakan Imam Ash Shan’aniRahimahullah, sebagai berikut:

وإن أفاد أن النهي إنما هو عن الجمع بين البول والاغتسال، دون إفراد أحدهما، مع أنه ينهى عن البول فيه مطلقاً

📌Faidah hadits ini adalah bahwa larangan hanyalah terjadi bagi penggabungan antara kencing dan mandi, bukan ketika dipisahkan satunya, hanya saja larangan kencing di dalamnya adalah larangan yang mutlak.(Subulus Salam, 1/20)

Sementara ulama lain menjelaskan, bahwa larangan tersebut adalah satu persatu. Mandi junub di air tergenang adalah terlarang, juga kencing di air tergenang adalah terlarang, karena keduanya memiliki dalilnya masing-masing.  Ada pun menggabungkan kedua perbuatan itu lebih terlarang lagi.

Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azhim Abadi Rahimahullah menjelaskan:

( لا يبولن أحدكم في الماء الدائم ولا يغتسل فيه من الجنابة ) وهذا الحديث صريح المنع من كل واحد من البول والاغتسال فيه على انفراده

                (Janganlah salah seorang kalian kencing di air tergenang dan janganlah mandi janabah di dalamnya) hadits ini begitu jelas melarang masing-masingnya, baik kencing dan mandi di dalamnya, secara tersendiri. (‘Aunul Ma’bud, 1/93)

Syaikh Abul Hasan Al Mubarkafuri Rahimahullah menjelaskan bahwa larangan kencing secara tersendiri, mandi secara tersendiri, dan menggabungkan keduanya, semuanya ada dalilnya masing-masing:

فيؤخذ من هذا الحديث النهى عن الجمع، ومن رواية مسلم التالية النهى عن إفراد الاغتسال، ومن حديث جابر الآتي عن إفراد البول، والنهى عن كل واحد منهما على انفراده ليستلزم النهى عن فعلهما جميعاً بالأولى، وقد ورد النهى عن كل واحد منهما في حديث واحد

                Dari hadits ini, larangan ditetapkan pada gabungannya (kencing dan mandi), pada riwayat muslim berikutnya larangan pada mandi secara tersendiri, dari hadits Jabir larangan pada kencing secara tersendiri, dan larangan pada setiap masing-masing hal itu menunjukkan kemestian lebih terlarangnya melakukan keduanya secara bersama-sama, dan setiap hal ini telah terdapat hadits yang melarangnya secara tersendiri . (Mir’ah Mafatih Syarh Misykah Al Mashabih, 2/169)

                Syaikh Abdul Muhsin Hamd Al ‘Abbad Al Badr Rahimahullah juga berkata:

فدل هذا على المنع من البول والاغتسال اجتماعاً وافتراقاً، اجتماعاً بأن يبول ويغتسل، أو افتراقاً بأن يبول ولا يغتسل، أو يغتسل ولا يبول.

                Hadits ini menunjukkan bahwa larangan kencing dan mandi adalah baik bersama-sama dan masing-masing. Larangan kencing dan mandi berbarengan,  atau sendiri-sendiri kencing saja tanpa mandi, atau mandi saja tanpa kencing. (Syarh Sunan Abi Daud, 1/286)

                Jadi, bisa disimpulkan dari uraian para ulama di atas:

–          Larangan mandi janabah di air yang diam, ada haditsnya tersendiri. (Lihat hadits ke-5)

–          Larangan kencing di air yang diam, ada haditsnya tersendiri. (Lihat hadits ke-6)

–          Larangan mandi di air yang telah kita kencingi sebelumnya, ada haditsnya tersendiri (Lihat hadits ke-6)
           

2.       Kalimat  اَلَّذِي لَا يَجْرِي – air yang tidak mengalir, merupakan penjelas dari kalimat اَلْمَاء اَلدَّائِم – air yang diam, yang disebutkan pada hadits sebelumnya.

3.       Kata tsumma yaghtasilu fiihi (kemudian dia mandi padanya), yaitu dia mandi dengan menceburkan dirinya ke dalam air tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah:

أن الذي يغتسل فيه يعني ينغمس فيه

                Bahwasanya makna dari yaghtasilu fiihi adalah dia menceburkan diri di dalamnya.(Asy Syarh Al Mukhtashar ‘alal Bulughil Maram, 2/6)

                Sehingga, jika seseorang mandi dengan cara berendam di air tergenang, maka air tersebut menjadi air musta’mal (air yang sudah dipakai).  Itulah sebabnya kita dilarang mandi di sana, sebab itu bisa merusaknya sehingga tidak bisa lagi untuk bersuci, tentunya  pendapat ini bagi yang berpendapat air musta’mal adalah tidak bisa mensucikan, yakni sebagian kalangan Hanafiyah.

                Al Hafizh Ibnu Hajar menceritakan:

واستدل به بعض الحنفية على تنجيس الماء المستعمل لأن البول ينجس الماء فكذلك الاغتسال وقد نهى عنهما معا وهو للتحريم

                Sebagian Hanafiyah berdalil dengan hadits ini, bahwa najisnya air musta’mal, karena kencing bisa menajiskan air, demikian juga mandi, dan keduanya telah dilarang bersamaan, dan larangan itu menunjukkan haram. (Fathul Bari, 1/374)

                Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azhim Abadi Rahimahullah menjelaskan:

وذهب جماعة من العلماء كعطاء وسفيان الثوري والحسن البصري والزهري والنخعي وأبي ثور وجميع أهل الظاهر ومالك والشافعي وأبي حنيفة في إحدى الروايات عن الثلاثة المتأخرين إلى طهارة الماء المستعمل للوضوء

                Jamaah para ulama seperti ‘Atha, Sufyan Ats Tsauri, Al Hasan Al Bashri, Az Zuhri, An Nakha’i, Abu Tsaur, semua ahli zhahir (tekstualis), Malik, Asy Syafi’i, Abu Hanifah pada salah satu riwayat dari tiga riwayat kalangan generasi muta’akhirin (belakangan), mereka berpendapat bahwa sucinya air musta’mal untuk berwudhu.  (‘Aunul Ma’bud, 1/93)

          Alasannya adalah hadits Shahih Bukhari, dari Abu Juhaifah yang menceritakan para sahabat menggunakan air bekas wudhu nabi untuk mengusap diri mereka, juga dari Abu Musa dan Bilal, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan Abu Musa dan Bilal untuk meminum sisa wudhu Beliau, juga mengusap wajah mereka berdua dengannya. (1/93)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (5) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

Hadits ke 5:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم –  لَا يَغْتَسِلُ أَحَدُكُمْ فِي اَلْمَاءِ اَلدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ – أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

                Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Janganlah salah seorang kalian mandi di air yang tergenang (diam) dan dia dalam keadaan junub.” (Dikeluarkan oleh Imam Muslim)

Takhrij Hadits:

          Imam Muslim  dalam Shahihnya No. 283
          Imam An Nasa’i dalam Sunannya No. 220, 331, 396
          Imam Ibnu Majah dalam Sunannya No. 605
          Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 1063
          Imam Ath Thahawi dalam Syarh Ma’ani Al Aatsar No. 15
          Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya No. 1252
          Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya No. 93
          Imam Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 26586
          Imam Abu ‘Uwanah dalam Musnadnya No. 779

Status Hadits:

          Hadits ini shahih, dan dimasukkan oleh Imam Muslim, Imam Ibnu Khuzaimah, dan Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shahih mereka masing-masing.

Kandungan Hadits:

                Ada beberapa pelajaran dari hadits ini:

1.       Tentang Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, siapakah dia?

Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Imam Muhammad bin Ishaq Rahimahullah,katanya:

اسْمُ أَبِي هُرَيْرَةَ: عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ صَخْرٍ، مُخْتَلَفٌ فِي اسْمِهِ

                “Nama Abu Hurairah adalah Abdurrahman bin Shakr, terjadi perbedaan pendapat tentang namanya.” (Imam Abu Nu’aim, Ma’rifatush Shahabah, 4/1846)

                Imam An Nawawi Rahimahullah menyebutkan:

اختلف فى اسمه اختلافًا كثيرًا جدًا. قال الإمام الحافظ أبو عمر بن عبد البر: لم يختلف فى اسم أحد فى الجاهلية ولا فى الإسلام كالاختلاف فيه. وذكر ابن عبد البر أيضًا أنه اختلف فيه على عشرين قولاً، وذكر غيره نحو ثلاثين قولاً، واختلف العلماء فى الأصح منها، والأصح عند المحققين الأكثرين ما صححه البخارى وغيره من المتقنين أنه عبد الرحمن بن صخر.  

                “Terjadi perselisihan pendapat yang sangat banyak tentang namanya. Al Imam Al Hafizh Abu Umar Ibnu Abdil Bar mengatakan: “Belum pernah terjadi pada masa jahiliyah dan masa Islam perbedaan masalah nama sebagaimana namanya.” Ibnu Abdil Bar juga menyebutkan bahwa perbedaan ini ada dua puluh pedapat, yang lain mengatakan tiga puluh pendapat, dan para ulama berselisih pendapat mana yang paling benar. Dan, yang paling benar menurut  mayoritas muhaqqiqin (peneliti) adalah apa yang dishahihkan oleh Al Bukhari dan lainnya dari kalangan ulama yang mutqin (teliti), bahwa namanya adalah Abdurrahman bin Shakhr.” (Tahdzibul Asma wal Lughat, No. 877. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah:

أكثر النّاس لايعرفون اسم أبي هريرة رضي الله عنه،ولهذا وقع الخلاف في اسم راوي الحديث،وأصحّ الأقوال وأقربها للصواب ما ذكره المؤلف رحمه الله أن اسمه:

عبد الرحمن بن صخر. وكنّي بأبي هريرة لأنه كان معه هرّة قد ألفها وألفته، فلمصاحبتها إيّاه كُنّي بها.

                “Kebanyakan manusia tidak mengetahui nama Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, oleh karena itu terjadilah perbedaan pendapat tentang nama periwayat hadits ini, dan pendapat yang paling benar dan lebih dekat dengan kebenaran adalah yang disebutkan oleh penyusun kitab ini (Imam An Nawawi) Rahimahullah bahwa namanya adalah:  Abdurrahman bin Sakhr. Lalu, dia diberikan kun-yah (gelar)  dengan Abu Hurairah karena dia memiliki seokor kucing (Hirrah) yang senantiasa bersamanya, maka karena pertemanan itulah dia dijuluki dengan itu.”(Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin, Syarh Al Arbain An Nawawiyah, Hal.  129. Mawqi’ Ruh Al Islam)

                Imam Adz Dzahabi Rahimahullah menceritakan tentang Abu Hurairah:

                “Dia adalah seorang Imam, Al Faqih (paham agama), Al Mujtahid, Al Hafizh, Seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Abu Hurairah Ad Dausi Al Yamani (orang Yaman), pemimpinnya para Huffazh yang terpercaya. Terjadi banyak perbedaan pendapat pada namanya, namun yang benar adalah Abdurrahman bin Sakhr. Ada yang mengatakan namanya adalah: Ibnu Ghanam, ada juga: Abdusysyams, Abdullah. Ada yang mengatakan: Sikkiin. ada juga:  ‘Aamir. Ada yang menyebut:  Bariir. Ada yang menyebut: Abdu bin Ghanam. Ada juga: ‘Amru. Ada yang menyebut: Sa’id.

                Disebutkan bahwa pada masa jahiliyah namanya adalah Abdusysyam, Abul Aswad.  Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggantinya dengan Abdullah, dan memberinya kun-yah:  Abu Hurairah (Bapak si kucing kecil).    Telah masyhur bahwa dia diberikan kun-yah dengan sebutan anak kucing.

                Dia telah meriwayatkan banyak hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga dari banyak sahabat besar, seperti Abu Bakar, Umar, ‘Aisyah, Ubay,  Usamah bin Zaid, Al Fadhl, Bashrah bin Abi Bashrah, dan lainnya. Sedangkan yang mengambil hadits darinya adalah para sahabat dan tabi’in, dikatakan; sampai 800 orang. Imam Bukhari mengatakan bahwa yang meriwayatkan hadits darinya ada 800 orang atau lebih.

                Disebutkan bahwa kedatangan dan keislamannya adalah pada tahun ke tujuh, pada tahun perang khaibar. Qais berkata: bahwa Abu Hurairah mengatakan keada kami: “Saya  besahabat dengan nabi selama tiga tahun.” Sedangkan Hamid bin Abdurrahman Al Humairi mengatakan: “Dia menemani nabi selama empat tahun.”  Kata Adz Dzahabi: “Inillah yang benar.” Abu Shalih mengatakan: “Abu Hurairah adalah sahabat nabi yang paling hafizh.”

                Terjadi perbedaan para sejarawan kapan wafatnya. Al Waqidi menyebutkan Abu Hurairah wafat tahun 59 Hijriyah, usia 78 tahun.

 Al Waqidi mengatakan Abu Hurairah menyalatkan wafatnya  ‘Aisyah, yakni pada Ramadhan 58 Hijriyah, dan menyalatkan Ummu Salamah pada Syawal 59 Hijriyah.”

Abu Ma’syar, Dhamrah, Abdurrahman bin Maghra, Al Haitsam dan lainnya mengatkan, wafat tahun 58 Hijriyah.

Hisyam bin ‘Urwah mengatakan bahwa Abu Hurairah wafat tahun 57 Hijriyah, dua tahun sebelum wafatnya Mu’awiyah. Beliau wafat di Madinah dan dimakamkan di Baqi’. Wallahu A’lam (Lengkapnya lihat Siyar A’lamin Nubala, 2/578- 633)

2.       Tenang makna  اَلْمَاء اَلدَّائِم, para ulama menjelaskan:

وهو  الراكد الساكن

                Artinya Ar Raakid (tenang, diam) As Saakin (tenang tidak bergerak). (Imam Ash Shan’ani, Subulus Salam, 1/19. Maktabah Mushthafa Al Baabi Al Halabi)          

                Makna kalimat ini sebenarnya dijelaskan oleh hadits lain, yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari sebagaimana yang akan nanti disebutkan.

3.       Tentang makna  وهو جنب  – wa huwaJunub, para ulama menjelaskan:

الجملة في موضع نصب على الحال

                 Kalimat yang menunjukkan pada keadaan. (Syaikh Abdullah Al Bassam, Taisirul ‘Alam Syarh Al ‘Umdah Al Ahkam, 1/5)

4.       Hadits ini secara zahirnya menunjukkan terlarangnya seseorang mandi dalam keadaan junub ke dalam air yang tergenang alias tidak mengalir; atau dengan kata lain terlarang mandi janabah di air yang tergenang. Maka,mafhum mukhalafah (makna implisit)nya adalah:

–          Bolehnya mandi yang bukan mandi janabah alias mandi biasa saja di air yang tergenang, selama air itu masih suci

–          Bolehnya mandi janabah pada air yang tidak tergenang  (mengalir)

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah menjelaskan:

فيه الكلام عن الجنابة، ولكنه إذا كان مجرد تنظف وليس رفع حدث وليس فيه ذلك القذر الذي يكون بالماء ويكون في الماء، فالذي يبدو أنه لا مانع منه؛ لأن المنع إنما كان للجنابة فقط الذي هو رفع حدث، وأما ذاك فليس فيه رفع حدث.

Pada hadits ini disebutkan pembicaraan tentang janabah, tetapi jika mandinya adalah sekedar mandi, bukan untuk menghilangkan hadats, dan tidak ada padanya kotoran tersebut, baik yang  muncul  karena air itu, dan tidak pula air itu menjadi kotor, maka yang nampak adalah bahwa hal itu tidak terlarang. Sebab larangan hanyalah bagi yang mandi janabah untuk menghilangkan hadats, ada pun yang ini tidak ada hadats yang dihilangkan.(Syarh Sunan Abi Daud, 1/286)

Namun Asy Syaikh Utsaimin Rahimahullah mengatakan, bahwa larangan ini berlaku bagi mandi janabah dan mandi lainnya secara umum. (Asy Syarh Al Mukhtashar ‘ala Bulughil Maram, 2/6)

Sebagian ulama mengkategorikan larangan ini bukan haram tetapi makruh. Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

فقال العلماء من أصحابنا وغيرهم يكره الاغتسال في الماء الراكد قليلا كان أو كثيرا

Berkata para ulama dari sahabat-sahabat kami (yakni Syafi’iyah, pen) dan selain mereka, dimakruhkan mandi di air yang diam, baik sedikit atau banyak. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 3/189. Dar Ihya At Turats)

Lalu, beliau mengutip perkataan Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu:

قال الشافعي وسواء قليل الراكد وكثيره أكره الاغتسال فيه هذا نصه وكذا صرح أصحابنا وغيرهم بمعناه وهذا كله على كراهة التنزيه لا التحريم

Berkata Asy Syafi’i: “Sama saja, baik air tergenang yang sedikit atau banyak, aku membencinya untuk mandi di dalamnya.” Inilah perkataannya. Demikian juga yang dijelaskan para sahabat kami dan selain mereka dengan artian bahwa semua ini adalah makruh tanzih, bukan tahrim (mendekati haram). (Ibid)

Makruh ada macam, yaitu makruh tanzih yakni makruh yang mendekati boleh, dan makruh tahrim yakni makruh yang mendekati haram.

5.       Hadits ini juga menunjukkan kedudukan yang berbeda antara air tergenang dan air mengalir. Air tergenang begitu besar peluang untuk terkena najis dan bertahannya najis tersebut. Berbeda dengan air mengalir yang jika terkena najis, maka mengalirnya air tersebut membuat hilangnya najis sehingga dia tetap suci.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (4) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

Hadits 4:

وَلِلْبَيْهَقِيِّ: – اَلْمَاءُ طَاهِرٌ إِلَّا إِنْ تَغَيَّرَ رِيحُهُ, أَوْ طَعْمُهُ, أَوْ لَوْنُهُ; بِنَجَاسَةٍ تَحْدُثُ فِيه

                Dalam riwayat Imam Al Baihaqi: “Air itu suci, kecuali telah berubah aromanya, rasanya, dan warnanya, karena jatuhnya najis padanya.”

Takhrij Hadits:

          Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 1159, dari Abu Umamah Al Baahili juga

Status Hadits:

         Imam Ad Daruquthni mengatakan: “Hadits ini tidak kuat.” (Subulus Salam, 1/19)

          Syaikh Abdul Aziz bin Marzuq Ath Tharifi mengatakan: “Tidak shahih dari nabi.” (Syarh Bulugh Al Maram, Hal. 33)

Hadits ini dhaif karena dalam sanadnya terdapat Baqiyah bin Al Walid seorang yang dikenal sebagai mudallis (suka menggelapkan sanad dan/atau matan), dan dia meriwayatkan secara ‘an’anah (yaitu hadits yang diriwayatkan dengan kata ‘an fulan (dari fulan), yang menunjukkan keterputusan sanadnya). (Lihat Bulughul Maram, Hal. 4, cat kaki No. 3. Maktabah Al Misykah)

Kandungan hadits:

1.       Tentang Imam Al Baihaqi Rahimahullah. Berkata Imam Ash Shan’aniRahimahullah:

هو: الحافظ العلامة شيخ خراسان، أبو بكر أحمد بن الحسين، له التصانيف التي لم يسبق إلى مثلها: كان زاهداً ورعاً تقياً، ارتحل إلى الحجاز والعراق. قال الذهبي: تاليفه تقارب ألف جزء

                Di a adalah seorang  Al Haafizh Al ‘Allamah (luas ilmunya), seorang syaikh (guru) di Khurasan. Namanya adalah Abu Bakar Ahmad bin Al Husain, memiliki banyak karya yang belum ada  seperti karyanya. Dia seorang yang zuhud, wara’, dan taqwa. Melakukan perjalanan ke Hijaz dan Iraq. Berkata Adz Dzahabi: “Karya-karyanya mendekati 1000 juz.”(Subulus Salam, 1/18)

2.       Hadits ini secara makna sama dengan hadits ketiga, tetapi juga sama dhaifnya. Oleh karenanya tidaklah berhujjah dengan hadits ini, tetapi berhujjah dengan ijma’ sebagaimana penjelasan sebelumnya.

http://www.iman-islam.com/2016/02/kitab-ath-thaharah-bersuci-3-bab-al.html?m=1

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Larangan Rasulullah Tentang Istinja

Seputar Madzi dan Mani

Pertanyaan

Assalaamu ‘alaikum Ust.
Utk bahasan ttg mani ini ada bbrp yg ana mau usulkan:

1. Seingat ana Ali bin Abi Thalib ra. yg ‘digelari abu madza’ prnh bbrp kali ditanya ttg hal d atas. (Dan dijawab bliau …, mgkn ada haditsny)

2. Alangkah baikny utk bahasan terkait seputar hal2 semacam bahasan ini terkait tubuh manusia, jg diberikan (dalil aqli selain naqli) & didiskusikan kpd ahli medis (dokter) yg tentu bnyk mnjd sahabat2 Ust. penulis d Depok.

Krn bahasan ttg masalah ini sdh tuntas di bidang anatomi tubuh manusia. Bhw mani walaupun di-ekskresi-kan (dikeluarkan melalui qubul) tp diproduksi oleh bagian tubuh yg berbeda.
Jalan keluar yg sama hny bermuara di uretra.
Bahkan ALLah SWT telah menciptakan bhw bila seseorang mengeluarkan mani maka tdk akan bisa mengeluarkan air kencing pd saat yg sama. (Hikmah bisa bnyk diambil dari hal tsb).

3. Bila kedua poin bahasan di atas sdh dilakukan maka akan semakin menguatkn bahwa mani adlh suci, namun memang perlu dibersihkan dgn sapuan yg berbeda dgn najis.  Membersihkn utk najis mnrt hadits kalau tdk salah “Menjadi tidak bernoda, tidak berbau.”

Wal ‘afwu minkum. #mohon tanggapan (I-17)


Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS.

Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.

Jazakallah khairan atas masukan dan usulnya …

1. Mungkin yang antum maksud adalah MADZI, bukan mani. Ali disebut Abu Madza karena Ali sering keluar madzi.

Ali Radhiallahu ‘Anhu :

كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ ? فَسَأَلَهُ فَقَالَ فِيهِ الْوُضُوءُ

Aku adalah laki-laki yang mudah keluar madzi, maka aku suruh Al Miqdad bin Al Aswad menanyakan kepada Nabi? Lalu Beliau menanyakannya dan Nabi bersabda: “Padanya wajib berwudhu.” (HR. Al Bukhari No. 132)

Pada hadits ini menunjukkan madzi itu hadats kecil, yaitu cukup baginya berwudhu, Nabi ﷺ tidak memerintahkannya untuk mandi junub.

Dalam riwayat lain:

كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ رَجُلًا أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ ? لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَسَأَلَ (فَسَأَلَهُ) فَقَالَ تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَكَ

Aku adalah laki-laki yang mudah keluar madzi, maka aku suruh seseorang  untuk menanyakan kepada Nabi hal itu, karena posisi anaknya terhadap diriku (maksudnya Fatimah adalah istrinya, Ali malu bertanya langsung ke nabi, pen).  Lalu Beliau menanyakannya dan Nabi bersabda: “ Berwudhulah dan cuci kemaluanmu.” (HR. Al Bukhari No. 132)

Pada hadits ini menunjukkan bahwa madzi itu najis, karena Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencucinya kemaluannya. Kenajisannya telah disepakati ulama, tidak ada khilafiyah.

Syaikh Sayyid Sabiq berkata:

وهو ماء أبيض لزج يخرج عند التفكير في الجماع أو عند الملاعبة، وقد لا يشعر الانسان بخروجه، ويكون من الرجل والمرأة إلا أنه من المرأة أكثر،وهو نجس باتفاق العلماء

Itu adalah air berwarna putih yang merembas keluar ketika memikirkan jima’ atau ketika bercumbu. Manusia tidak merasakan apa-apa ketika itu keluar. Hal ini terjadi pada pria dan wanita, hanya saja wanita lebih banyak, dan dia (madzi) najis menurut kesepakatan ulama. (Fiqhus Sunnah, 1/26)

Apa beda Mani dan Madzi?

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْمَذْيِ وَالْمَنِيِّ أَنَّ الْمَنِيَّ يَخْرُجُ بِشَهْوَةٍ مَعَ الْفُتُورِ عَقِيبَهُ ، وَأَمَّا الْمَذْيُ فَيَخْرُجُ عَنْ شَهْوَةٍ لاَ بِشَهْوَةٍ وَلاَ يَعْقُبُهُ فُتُورٌ

Perbedaan antara madzi dan mani adalah, bahwa mani keluar dibarengi dengan syahwat dan keadaan lemas setelah keluarnya, ada pun madzi bisa keluar dengan syahwat dan tanpa syahwat, dan tidak membuat lemas setelah keluarnya. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 2/141,Fathul Qadir, 1/42)

2. Jazakallah khairan masukannya.

Hal-hal seperti ini yang paling utama adalah dalil naqli dulu, lalu kemudian dalil ‘aqli sebagai penguat dan penyempurna, apalagi dalam hal-hal yang baru terkuak hikmahnya belakangan, bagi masyarakat modern dan rasional hal itu sangat penting.  Mendahului naqli di atas ‘aqli, itulah yang ditempuh para ulama baik dahulu dan kontemporer. Ada atau tidak ada penemuan-penemuan modern tersebut tentu tidak akan mengalihkan kita dari dalil-dalil naqli. Dalil ‘aqli (akal), ketika terdapat dalil naqli (Al Quran dan As Sunnah), sifatnya hanya mengkonfirmasi dan menguatkan. Hal ini penting, untuk menghindari kesan ilmu “cocoklogi” antara ayat dan hadits dengan penemuan modern, apalagi ilmu pengetahuan modern itu dinamis dan berkembang, bisa saling menafikan. Apa yang ditemukan hari ini, bisa dibantah esok hari.

Jika penemuan hari ini sesuai Al Quran dan As Sunnah, lalu besok ada penemuan lain yang berbeda tentu ini menjadi masalah yang tidak sederhana; bisa saja ada manusia yang menuduh Al Quran dan As Sunnah tidak sesuai penemuan modern. Oleh karena itu tidak semua ulama setuju metodogi perangkaian dalil Naqli dan ‘Aqli sekaligus, karena yang satu dogmatis, yang satu lagi dinamis. Dalil-dalil ‘aqli sangat diperlukan ketika berhadapan dengan kaum rasionalis ekstrim dan free thinkers.

3. Kesucian mani, memang tidak berarti kita membiarkan ketika menodai pakaian kita, mesti dibersihkan.  Sebagaimana penjelasan lalu.

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (2) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

Hadits 2:

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم –   إِنَّ اَلْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ – أَخْرَجَهُ اَلثَّلَاثَةُ  وَصَحَّحَهُ أَحْمَدُ

                Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu dia berkata, Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya air itu suci, tidak ada sesuatu yang bisa menajiskannya.” Dikeluarkan oleh Ats Tsalatsah (tiga imam: Abu Daud, At Tirmidzi, dan An Nasa’i), dan dishahihkan oleh Imam Ahmad.

Takhrij:

–          Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 66, 67

–          Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 66

–          Imam An Nasa’i dalam Sunannya No. 326

–          Imam Ad Daruquthni dalam Sunannya, 1/29

–          Imam Ahmad dalam Musnadnya No.11119

–          Imam Ath Thayalisi dalam Musnadnya No. 2155

–          Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 1513

–          Imam ‘Abdurrazzaq dalam Al MushannafNo. 255

–          Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, 2/61

–          Imam Ibnu Jarud dalam Al Muntaqa No. 47

–          Imam Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar No. 2051

Status Hadits:

–          Imam Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini dishahihkan oleh  Imam Ahmad bin Hambal, Imam Yahya bin Ma’in, dan Imam Ibnu Hazm.”  (Talkhish Al Habir, 1/125-126)

–          Imam At Tirmidzi mengatakan: “hasan.”(Sunan At Tirmidzi No. 66)

–          Imam Al Baghawi mengatakan: “hasan shahih.” (Syarhus Sunnah, 2/61)

–          Imam An Nawawi mengatakan:“shahih.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/82)

–          Imam Al Bushiri mengatakan: “hasan.”(Ittihaf Al Khairah No. 416)

–          Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri berkata:“sanadnya jayyid.”(Tuhah Al Ahwadzi, 1/170)

–          Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Shahih bithuruqihi wa syawahidihi – shahih karena banyak jalan dan penguatnya.” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 11119)

–          Syaikh Al Albani mengatakan: ”shahih.”(Al Irwa’ No. 14, Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 67, Shahihul Jami’ No. 1925, dll)

Latar Belakang Hadits:

                Disebutkan dalam Sunan Abi Daud dan lainnya, sebagai berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِيَ بِئْرٌ يُطْرَحُ فِيهَا الْحِيَضُ وَلَحْمُ الْكِلَابِ وَالنَّتْنُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

         

📌Dari Abu Sa’id Al Khudri, bahwa ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Apakah kami boleh berwudhu dari sumur budhaa’ah, yaitu sumur yang kemasukan  Al Hiyadh, daging anjing, dan An Natnu (bau tidak sedap).” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Air itu adalah suci, tidak ada sesuatu yang menajiskannya.” (HR. Abu Daud No. 67, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf  No. 1513, Imam Al Baghawi, Syarhus Sunnah, 2/61, dll)

Kandungan Hadits:

1.       Tentang Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu. Imam Adz Dzahabi Rahimahullah bercerita –kami ringkas- sebagai berikut:

“Dia adalah Al Imam Al Mujahid, muftinya kota Madinah, namanya Sa’ad bin Malik bin Sinan bin Tsa’alabah bin ‘Ubaid bin Al Abjar bin ‘Auf bin Al Haarits bin Al Khazraj. Ayahnya (Malik) mati syahid ketika perang Uhud, dan dirinya sendiri ikut perang Khandaq dan Bai’atur Ridhwan (Bai’at di bawah pohon). Dia adalah salah satu ahli fiqih dan mujtahid.

Hanzhalah bin Abi Sufyan meriwayatkan dari guru-gurunya, bahwa tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui hadits-hadits para sahabat nabi dibanding Abu Sa’id Al Khudri.

Al Waqidi dan jamaah mengatakan, Abu Sa’id Al Khudri wafat tahun 74 H. Ismail Al Qadhi berkata: Aku mendengar Ali bin Al Madini mengatakan bahwa Abu Sa’id wafat tahun 63 H.

Musnad Abu Sa’id terdapat 1170 hadits. Pada Bukhari dan Muslim terdapat 43 hadits. Pada Bukhari saja ada 16 hadits, pada Muslim saja ada 52 hadits.”  (Selengkapnya lihat Siyar A’lamin Nubala, 3/168-172)

2.       Ada beberapa istilah khusus yang perlu dijelaskan.

Pertama. Al Hiyadh – الْحِيَضُ  adalah –sebagaimana dijelaskan Imam Badruddin Al ‘Aini Rahimahullah:

الحيضُ- بكسر الحاء، وفتح الياء-: جمع حيْضة- بكسر الحاء، وسكون الياء-، وهي: خرقة الحيض، ويقال لها أيضاً المحيضة، وتجمع على المحايض

Al Hiyadh –dengan huruf ha dikasrahkan dan huruf ya difathahkan adalah jamak dari hiidhah –dengan ha dikasrahkan dan ya disukunkan- itu adalah harqatul haidh (pembalut haid).  Juga disebutkan artinya adalah Al Mahiidhah, dan dijamakkan menjadi Al Mahaayidh. (Imam Al ‘Aini, Syarh Sunan Abi Daud, 1/198. Maktabah Ar Rusyd)

Kedua. An Natnu  –النَّتْنُ – artinya:

” والنتْنُ ” الرائحة الكريهة، ويقع أيضاً على كل مستقْبح

                An Natnu adalah Ar Raa-i-ah Al Kariihah (aroma yang tidak sedap), dan juga bisa berarti setiap hal yang buruk. (Ibid)

               Ketiga. Istilah  أخرجه الثلاثة –dikeluarkan/diriwayatkan oleh tiga orang imam.Apa maksudnya?

                Imam Ash Shan’ani Rahimahullahmengatakan:

هم أصحاب السنن، ما عدا ابن ماجه

                Mereka adalah ashhabus sunan (para penyusun kitab As Sunan), selain Ibnu Majah.(Subulus Salam, 1/16. Maktabah Mushthafa Al Baabi Al Halabi)

                Mereka adalah Abu Daud, At Tirmidzi, dan An Nasa’i, sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya.

3.       Pada hadits ini menyebutkan bahwa hukum dasar bagi air adalah suci, tidak ada sesuatu pun yang bisa mengubahnya menjadi najis, walau dia terkena benda-benda yang dianggap najis seperti daging anjing, darah haid, dan sesuatu yang berbau, selama tidak mengubah sifat-sifat kesuciannya. Tentunya, apalagi ketika tidak diketahui adanya benda-benda yang mencampurinya, maka kesuciannya bisa dipastikan lagi. Dan, ini menjadi pendapat Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu.

Berikut ini keterangannya:

وبهذا الحديث استدل مالك على أن الماء لا يتنجس بوقوع النجاسة- وإن كان قليلاً- ما لم تتغير أحد

أوصافه.

📌Dengan hadits ini, Imam Malik berdalil bahwa sesungguhnya air tidak menjadi najis dengan terkenanya dia dengan najis –jika air itu sedikit- selama salah satu sifatnya belum berubah. (Ibid)

             

4.       Sebagian ulama mengatakan bahwa, hadits ini hanya berlaku khusus bagi sumur Budhaa’ah, tidak bagi lainnya, karena latar belakang hadits ini memang sedang membicarakan sumur tersebut. Hal ini disebabkan banyaknya air pada sumur Budhaa’ah yang melebihi dua qullah.

Berkata Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri:

فتأويله إن الماء الذي تسألون عنه وهو ماء بئر بضاعة فالجواب مطابقى لا عموم كلي كما قاله الامام مالك انتهى وإن كان الألف واللام للجنس فالحديث مخصوص بالإتفاق كما ستقف ( لا ينجسه شيء ) لكثرته فإن بئر بضاعة كان بئرا كثيرا الماء يكون ماؤها أضعاف قلتين لا يتغير بوقوع هذه الأشياء والماء الكثير لا ينجسه شيء ما لم يتغير

          📌      Ta’wilnya adalah bahwa air yang kalian tanyakan adalah air sumur Budhaa’ah, maka jawabannya adalah bukan untuk umum  sebagaimana dikatakan Imam Malik. Selesai. Jika Alif dan Lam (pada kata Al Maa’/air) menunjukkan jenis, maka hadits ini adalah spesifik (khusus) menurut kesepakatan sebagaimana  Anda lihat (tidak ada sesuatu yang menajiskannya) karena banyaknya, sesungguhnya sumur budhaa’ah adalah sumur yang banyak airnya, lebih dari dua qullah, maka terkena semua hal ini tidaklah merubahnya, dan air yang banyak tidaklah  menjadi najis karena sesuatu selama belum terjadi perubahan. (Tuhfah Al Ahwadzi, 1/170. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Larangan Jual Beli Sesuatu Yang Tidak Dimiliki (Bai’ Ma’dum) (bag. 2)

Pemateri: Ust. Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Materi sebelumnya bisa dibuka di tautan berikut ini:

http://www.iman-islam.com/2016/02/larangan-jual-beli-sesuatu-yang-tidak.html?m=1

Jenis-Jenis Bai’ Ma’dum
dan Hukumnya.

1. Jenis (المعدوم الموصوف في الذمة)

Yaitu jual beli barang yang belum ada, namun spesifikasinya jelas dan keberadaannya dalam jaminan penjual.

Ulama sepakat bai’ ma’dum jenis yang pertama, diperbolehkan, selama secara kebiasaan umum keberadaan objek yang diperjualbelikan bisa dipastikan keberadaannya.

Contohnya adalah seperti jual beli kendaraan secara inden, jual beli elektronik, gadget, secara inden, dsb.

Dalam timbangan syariah, jual beli seperti ini disebut dengan bai’ salam.

Atau contoh bentuk lainnya adalah jual beli dengan pesanan pembuatan terlebih dahulu, seperti jas yang dijahit sesuai ukuran pembeli, jual beli lemari dengan ukuran dan model tertentu, renovasi rumah, dsb.

Dalam syariah  jual beli seperti ini disebut dengan bai’ istishna’.

2. Jenis  (بيع معدوم تبع للموجود وإن كان أكثر منه)

Yaitu jual beli yang objeknya tidak ada, namun mengikuti yang sudah ada, meskipun kemungkinan tidak adanya lebih banyak dari keberadaannya.

Nah dalam hal ini, ulama berbeda pendapat sebagian membolehkannya namun sebagian lainnya tidak memperbolehkannya.

Yang memperbolehkan karena beranggapan masih bisa masuk dalam kategori bai’ salam, seperti membeli buah-buahan setelah melihat hasil buah yang pertama dan secara logika umumnya, dapat menghasilkan buah-buahan dengan kualitas yang sama.

Yang tidak memperbolehkan adalah karena menganggap, unsur ghararnya lebih dominan dan apabila diterapkan dalam objek lainnya, maka akan tererumus pada bai’ gharar yang diharamkan.

Contohnya seperti jual beli anak hewan, yang belum lahir dan belum ada dalam kandungan induknya.

3. Jenis (بيع المعدوم الذي لا يدرى يحصل أو لا يحصل)

Yaitu jual beli yang objeknya tidak ada, dan tidak diketahui apakah keberadaannya akan ada atau tidak ada.

Ulama sepakat akan haramnya jual beli ma’dum jenis yang ketiga ini. Karena sudah jelas ke ghararannya dan juga karena tidak bisa diserah terimakan serta berpotensi besar menimbulkan unsur penipuan di dalamnya.

Termasuk di dalamnya adalah jual beli sebagaimana digambarkan di dalam hadits utama di atas, yaitu seorang penjual datang lalu membeli barang yang tidak dimilikinya, kemudian ia pergi ke pasar untuk membelinya, lalu ia menjualnya kepada pembeli tersebut.

Jual beli seperti ini adalah termasuk yang dilarang, berdasarkan nash hadits di atas.

Illat (Penyebab) Larangan Dalam Bai’ Ma’dum

Ulama sepakat, bahwa illat atau musabab pelarangan bai’ ma’dum adalah karena adanya unsur gharar (ketidakjelasan), pada objek akad yang ditransaksikan, sehingga berpotensi menimbulkan kerugian pada salah satu pihak atau bahkan kepada kedua belah pihak yang berakad.

Dan sebagai catatannya, ternyata ulama memandang pelarangannya adalah bukan karena tidak beradaannya, namun karena ghararnya.

Karena bisa jadi barang yang ditransaksikan belum ada, namun keberadaannya bisa dipastikan secara logika umum dan ada jaminan dari keberadaannya.

Jika demikian maka hukumnya menjadi boleh.

Jika kita melihat jenis-jenis ba’i al ma’dum yang dilarang dan jenis ba’i al ma’dum yang diperbolehkan, maka akan dapat disimpulkan bahwa segala objek yang dilarang diperjual-belikan, pada umumnya keberadaan objeknya tidak pasti dan tidak diketahui; apakah akan ada atau tidak ada.

Sedangkan sebaliknya segala objek yang diperbolehkan dalam bai’ ma’dum ini, umumnya keberadaannya lebih bisa dipastikan, walaupun terkadang tidak ada pada saat akad.

Sehingga kaidah yang berlaku dalam ba’i al ma’dum adalah:

Segala yang tidak ada dan tidak dapat direalisasi kan keberadaannya di masa datang maka tidak boleh diperjual-belikan.

Dan segala yang tidak ada namun keberadaannya dapat direalisasikan di masa datang, sesuai dengan kebiasaan maka boleh diperjual-belikan.🔑🌟

Maraji’

Al-Syaukani, Al-Alamah Muhammad bin Ali. Nailul Authar, Min Ahadits Sayyidil Akhyar, 1996. Beirut : Dar Al-Khair.

Al-Zuhayli, Syekh Wahbah. Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 1996. Damaskus ; Dar Al-Fikr

والله تعالى أعلى وأعلم بالصوبا
والحمد لله رب العالمين

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Larangan Rasulullah Tentang Istinja

Bolehkah Shalat Dengan Pakaian Ada Noda Air Mani?

Pertanyaan

Assalamu’alaykum, ustadz ada pertanyaan

Ada pertanyaan ust. dr tmn.grup sblh.
Seandainya kita dalam posisi kerja ya ustadz terus kita tidur dan mimpi basah .. Trus kita sholat subuh nih apa sholat kita sah? Krn keadaan tdk membawa baju ganti
mksdx tmn:
Iya mandi besar .. Tapi yg ana maksud kan pakaian ana ga ganti sedangkan di mani itu kan ada najisnya jd sah apa tdk kalau ana sholat tp pakaian nya ga ganti?
Azam I5

Jawaban

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS

Wa ‘alaikujussakam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du:

Apa itu air mani?

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah  mengatakan:

هُوَ الْمَاءُ الْغَلِيظُ الدَّافِقُ الَّذِي يَخْرُجُ عِنْدَ اشْتِدَادِ الشَّهْوَةِ

Itu adalah air kental yang hangat yang keluar ketika begitu kuatnya syahwat. (Al Mughni, 1/197)

Lebih rinci lagi disebutkan dalam kitab Dustur Al ‘Ulama:

الْمَنِيُّ هُوَ الْمَاءُ الأْبْيَضُ الَّذِي يَنْكَسِرُ الذَّكَرُ بَعْدَ خُرُوجِهِ وَيَتَوَلَّدُ مِنْهُ الْوَلَدُ

Air mani adalah air berwarna putih yang membuat   kemaluan lemas setelah keluarnya, dan terbentuknya bayi adalah berasal darinya. (Dustur Al ‘Ulama, 3/361)

Apa perbedaannya dengan madzi?

Imam An Nawawi menjelaskan:

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْمَذْيِ وَالْمَنِيِّ أَنَّ الْمَنِيَّ يَخْرُجُ بِشَهْوَةٍ مَعَ الْفُتُورِ عَقِيبَهُ ، وَأَمَّا الْمَذْيُ فَيَخْرُجُ عَنْ شَهْوَةٍ لاَ بِشَهْوَةٍ وَلاَ يَعْقُبُهُ فُتُورٌ

Perbedaan antara madzi dan mani adalah, bahwa mani keluar dibarengi dengan syahwat dan keadaan lemas setelah keluarnya, ada pun madzi bisa keluar dengan syahwat dan tanpa syahwat, dan tidak membuat lemas setelah keluarnya. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 2/141,Fathul Qadir, 1/42)

Mani Suci atau Najis?

Para ulama berselisih tentang kenajisannya, tetapi yang lebih kuat adalah suci, namun dianjurkan untuk mencuci atau mengeriknya jika terkena olehnya, apalagi jika akan digunakan untuk shalat.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

ذهب بعض العلماء إلى القول بنجاسته والظاهر أنه طاهر، ولكن يستحب غسله إذا كان رطبا، وفركه إن كان يابسا

Sebagian ulama berpendapat bahwa mani adalah najis, yang benar adalah dia suci, tetapi dianjurkan untuk mencucinya jika masih basah, dan mengeriknya jika dia kering. (Fiqhus Sunnah, 1/27)

Kalangan Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan najis, ini juga menjadi pendapat Abu Hurairah, Hasan Al Bashri, dan lainnya.  Alasannya:

Hadits dari Sulaiman bin Yasar, katanya:

 سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ الْمَنِيِّ يُصِيبُ الثَّوْبَ فَقَالَتْ كُنْتُ أَغْسِلُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَخْرُجُ إِلَى الصَّلَاةِ وَأَثَرُ الْغَسْلِ فِي ثَوْبِهِ بُقَعُ الْمَاءِ

Aku bertanya kepada ‘Aisyah tentang air mani yang mengenai pakaian, beliau berkata: “Aku pernah mencucinya dari pakaian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu dia keluar untuk shalat, dan bekas cuciannya masih ada di pakaiannya.” (HR. Bukhari No. 230, Muslim No. 289, ini menurut lafaz Bukhari)

Menurut kelompok ini, sangat jelas bahwa mani adalah najis, sebab tidak mungkin dicuci jika bukan najis. Disebutkan dalam  beberapa kitab:

وَجْهُ الدَّلاَلَةِ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَدْ غَسَلَتِ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْغُسْل شَأْنُ النَّجَاسَاتِ وَأَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ عَلِمَ بِهَذَا فَأَقَرَّهُ وَلَمْ يَقُل لَهَا أَنَّهُ طَاهِرٌ وَلأِنَّهُ خَارِجٌ مِنْ أَحَدِ السَّبِيلَيْنِ فَكَانَ نَجِسًا كَسَائِرِ النَّجَاسَاتِ

📌Sisi pendalilan dari hadits ini adalah bahwa ‘Asiyah Radhiallahu ‘Anha telah mencuci mani dari pakaian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan kebiasaan mencuci itu terjadi pada hal-hal yang najis, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga tahu hal itu dan menyetujuinya, dan Beliau tidak mengatakan suci, disamping itu karena mani keluar dari salah satu di antara dua jalan (dua jalan: dubur dan kemaluan), maka dia najis seperti najis-najis lainnya. (Bada’i Shana’i, 1/60,Tabyinul Haqaiq, 1/71, Al Binayah ‘alal Hidayah, 1/722, Intishar Al Faqir As Saalik, Hal. 256)

Dalil lainnya adalah hadits:

يا عمار إنما يغسل الثوب من خمس من الغائط والبول والقيء والدم والمني

📌Wahai ‘Ammar, sesungguhnya pakaian dicuci karena lima hal: tinja, kencing, muntah, dan darah, dan mani. (HR. Ad Daruquthni, 1/127)

Imam Az Zaila’i Rahimahullah menyebutkan:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي الْمَنِيِّ يُصِيبُ الثَّوْبَ إنْ رَأَيْته فَاغْسِلْهُ ، وَإِلَّا فَاغْسِلْ الثَّوْبَ كُلَّهُ ، وَعَنْ الْحَسَنِ الْمَنِيُّ بِمَنْزِلَةِ الْبَوْلِ

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu tentang mani yang mengenai pakaian: Jika saya melihatnya maka saya akan mencucinya, jika tidak maka saya akan cuci semua bagiannya. Dari Al Hasan Al Bashri: ari mani sama kedudukannya dengan kencing. (Tabyinul Haqaiq, 1/337)

Ulama lain mengatakan mani adalah suci, dan ini menjadi pendapat Syafi’iyah, Hambaliyah, Imam Asy Syaukani, Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, dan lainnya.

Alasan mereka adalah hadits ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha di atas bahwa Beliau mencuci air mani tidak berarti mani itu najis, tetapi sekedar kotor saja, sebagaimana pakaian yang terkena dahak, debu, dan semisalnya. “Mencuci” tidak selalu karena ada najisnya, sebab aktifitas mencuci biasanya akan dilakukan terhadap benda-benda yang dianggap sudah kotor atau kena kotoran. Ditambah lagi, pencucian itu adalah inisiatif ‘Aisyah sebagai istrinya yang memang biasa mencuci pakaian suaminya, bukan atas perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jikalau najis tentu Allah dan RasulNya akan menerangkannya, bukan melalui penafsiran  perbuatan ‘Aisyah.

Alasan lain adalah  dari Ibnu Abbas ketika  Rasulullah Shallalalhu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang mani, beliau bersabda:

إنَّمَا هُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُخَاطِ وَالْبُزَاقِ وَإِنَّمَا يَكْفِيكَ أَنْ تَمْسَحَهُ بِخِرْقَةٍ أَوْ بِإِذْخِرَةٍ

“Itu hanyalah sebagaimana ingus dan ludah, kamu cukup mengelapnya dengan sehelai kain  atau dedaunan.” (HR. Ad Daruquthni, 1/124)

Imam Ad Daruquthni berkata:

لَمْ يَرْفَعْهُ غَيْرُ إِسْحَاقَ الأَزْرَقِ عَنْ شَرِيكٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ هُوَ ابْنُ أَبِى لَيْلَى ثِقَةٌ فِى حِفْظِهِ شَىْءٌ

Tidak ada yang memarfu’kan selain Ishaq Al Azraq, dari Syarik, dari Muhammad bin Abdirrahman, dia adalah Ibnu Abi Laila, terpercaya namun hafalannya bermasalah.  (Ibid)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengutip dari para ulama:

قَالُوا : وَهَذَا لَا يَقْدَحُ ؛ لِأَنَّ إسْحَاقَ بْنَ يُوسُفَ الْأَزْرَقَ أَحَدُ الْأَئِمَّةِ

“Mereka mengatakan: Hal itu tidaklah menodainya, sebab Ishaq bin Yusuf al Azraq adalah salah seorang Imam.”   (Fatawa Al Kubra, 1/409)

Imam Asy Syaukani Rahimahullah mengatakan:

وَهَذَا لَا يَضُرُّ ؛ لِأَنَّ إِسْحَاقَ إمَامٌ مُخَرَّجٌ عَنْهُ فِي الصَّحِيحَيْنِ فَيُقْبَل رَفْعُهُ وَزِيَادَتُهُ

“Hal itu tidak masalah, karena Ishaq adalah seorang Imam, riwayatnya dipakai dalam shahihain (Bukhari-Muslim) maka dapat diterima permarfu’annya dan tambahannya.” (Nailul Authar, 1/65)

Dengan kata lain, hadits di atas maqbul (dapat diterima) kemarfu’annya sampai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.[1]

Berkata Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu:

قال الشافعي : « المني ليس بنجس ، لأن الله جل ثناؤه ، أكرم من أن يبتدئ خلق من كرمه ، وجعل منهم النبيين ، والصديقين ، والشهداء ، والصالحين ، وأهل جنته

“Mani bukanlah najis, karena Allah Ta’ala telah memuliakannya dengan permulaan penciptaan, darinya pula diciptakan para nabi, shiddiqin, syuhada, shalihin, dan penduduk surga.”  (Imam Al Baihaqi, Ma’alim As Sunan wal Atsar No. 1349)

Imam Ash Shan’ani Rahimahullah mengatakan:

وَقَالَتْ الشَّافِعِيَّةُ : الْمَنِيُّ طَاهِرٌ ، وَاسْتَدَلُّوا عَلَى طَهَارَتِهِ بِهَذِهِ الْأَحَادِيثِ قَالُوا : وَأَحَادِيثُ غَسْلِهِ مَحْمُولَةٌ عَلَى النَّدْبِ ، وَلَيْسَ الْغَسْلُ دَلِيلُ النَّجَاسَةِ ، فَقَدْ يَكُونُ لِأَجْلِ النَّظَافَةِ وَإِزَالَةِ الدَّرَنِ وَنَحْوِهِ ؛ قَالُوا : وَتَشْبِيهُهُ بِالْبُزَاقِ وَالْمُخَاطِ دَلِيلُ طَهَارَتِهِ أَيْضًا

Golongan Asy Syafi’iyyah mengatakan, “Mani adalah suci,” mereka berdalil tentang kesuciannya berdasarkan hadits-hadits tersebut. Mereka mengatakan: ‘Hadits-hadits yang menunjukkan mencuci mani mengandung arti anjuran, bukan berarti mencuci adalah dalil atas kenajisannya, melainkan sekedar membersihkan dan menghilangkan sesuatu yang kotor dan lainnya. Mereka mengatakan: “Diserupakannya mani dengan ludah dan ingus juga merupakan dalil atas kesuciannya.”(Subulus Salam, 1/38)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:

أَنَّ النَّاسَ لَا يَزَالُونَ يَحْتَلِمُونَ فِي الْمَنَامِ فَتُصِيبُ الْجَنَابَةُ أَبْدَانَهُمْ وَثِيَابَهُمْ فَلَوْ كَانَ الْغُسْلُ وَاجِبًا لَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِهِ مَعَ أَنَّهُ لَمْ يَأْمُرْ أَحَدًا مِنْ الْمُسْلِمِينَ بِغَسْلِ مَا أَصَابَهُ مِنْ مَنِيٍّ لَا فِي بَدَنِهِ وَلَا فِي ثِيَابِهِ وَقَدْ أَمَرَ الْحَائِضَ أَنْ تَغْسِلَ دَمَ الْحَيْضِ مِنْ ثَوْبِهَا وَمَعْلُومٌ أَنَّ إصَابَةَ الْجَنَابَةِ ثِيَابَ النَّاسِ أَكْثَرُ مِنْ إصَابَةِ دَمِ الْحَيْضِ ثِيَابَ النِّسَاءِ فَكَيْفَ يُبَيِّنُ هَذَا لِلْحَائِضِ وَيَتْرُكُ بَيَانَ ذَلِكَ الْحُكْمِ الْعَامِّ ؟

“Sesungguhnya para sahabat senantiasa bermimpi (basah), maka badan dan pakaian mereka mengalami junub (kena mani), seandainya mencuci itu wajib maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pasti akan memerintahkannya, namun nyatanya tidak satu pun dari kaum muslimin yang diperintahkan untuk mencuci mani yang mengenai badan dan pakaian mereka. Beliau telah memerintahkan wanita haid untuk mencuci darah haid yang ada pada pakaian. Telah diketahui bahwa pakaian manusia yang kena junub (mani) adalah lebih banyak dibanding darah haid yang mengenai pakaian wanita. Maka,  bagaimana bisa hal ini dijelaskan kepada wanita haid, namun tidak bahas hukum  tersebut dalam hal ini?” (Majmu’ Al Fatawa, 20/369)

Selain itu hadits yang berbunyi:

يا عمار إنما يغسل الثوب من خمس من الغائط والبول والقيء والدم والمني

Wahai ‘Ammar, sesungguhnya pakaian dicuci karena lima hal: tinja, kencing, muntah, dan darah, dan mani. (HR. Ad Daruquthni, 1/127)

Hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah karena kedhaifannya. Berkata Imam Ad Daruquthni:

لم يروه غير ثابت بن حماد وهو ضعيف جدا وإبراهيم وثابت ضعيفان

Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini selain Tsabit bin Hammad, dan dia sangat dhaif. Dan,  Ibrahim dan Tsabit adalah dua orang yang dhaif. (Sunan Ad Daruquthni, 1/127)

Imam Asy Syaukani mengatakan: “Hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah karena telah mencapai derajat dhaif.” (Sailul Jarar, 1/24)

Imam An Nawawi juga menyebutkan kedhaifan hadits ini, katanya:

قال البيهقى هو حديث باطل لا أصل له وبين ضعفه الدارقطني والبيهقى

Berkata Al Baihaqi, hadits ini batil, tidak ada dasarnya, dan kedhaifannya telah dijelaskan oleh Ad Daruquthni dan Al Baihaqi. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 2/549)

Dengan demikian, pandangan yang lebih kuat adalah yang menyebutkan bahwa air mani adalah suci, mengimgat tidak ada dalil yang shahih dan sharih/lugas yang menyatakan kenajisannya. Sehingga tetap boleh menggunaannya dalam shalat. Namun, tetap dianjurkan baginya membersihkan dahulu atau mengganti saja dengan pakaian yang lebih baik.

Wallahu A’lam

***

[1] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa hadits tersebut hanya mauqufsebagai ucapan (fatwa) Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bukan marfu’ :

وَأَنَا أَقُولُ: أَمَّا هَذِهِ الْفُتْيَا فَهِيَ ثَابِتَةٌ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَقَبْلَهُ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ، ذَكَرَ ذَلِكَ عَنْهُمَا الشَّافِعِيُّ وَغَيْرُهُ فِي كُتُبِهِمْ، وَأَمَّا رَفْعُهُ إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَمُنْكَرٌ بَاطِلٌ، لَا أَصْلَ لَهُ؛ لِأَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ رَوَوْهُ عَنْ شَرِيكٍ مَوْقُوفًا.

Saya katakan: fatwa ini adalah tsabit (pasti) dari Ibnu Abbas, dan sebelumnya dari Sa’d bin Abi Waqqash, hal itu disebutkan oleh Asy Syafi’i dan selainnya dalam kitab-kitab mereka. Ada pun memarfu’kan hadits ini sampai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah munkar, dan tidak ada dasarnya, karena semua manusia meriwayatkannya dari Syarik secara mauquf. (Fatawa Al Kubra, 1/408)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Kitab Ath Thaharah (bersuci) – Bab Al Miyah (Tentang Air) (Bag. 1)

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

Hadits 1:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِي اَلْبَحْرِ: – هُوَ اَلطُّهُورُ مَاؤُهُ, اَلْحِلُّ مَيْتَتُهُ – أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ, وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَاَلتِّرْمِذِيُّ

Dari Abi Hurairah Radhiallahu ‘Anhu dia berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang air laut: “Dia (Air laut) suci airnya, halal bangkainya.” Dikeluarkan oleh Al Arba’ah, Ibnu Abi Syaibah dan lafaz ini adalah miliknya, dishahihkan oleh Ibnu khuzaimah dan At Tirmidzi.

Takhrij Hadits:

– Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 69

– Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 83

– Imam Ibnu Majah dalam Sunannya No. 386

– Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 7233, 8735, 15012, 23096

– Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 131

– Imam Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 321, 8657

– Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya No. 1243, 1244, 5258

– Imam Ibnu Khuzaimah dalamShahihnya No. 111, 112

– Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Ash Shaghir No. 187, 3065

– Imam An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 58, 4862

– Imam Al Hakim dalam Al MustadrakNo. 491, 192, 498, 499, 500

– Imam Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 1759

– Imam Ad Daruquthni dalamSunannya, 1/34, 35, 36, 37

– Imam Ad Darimi dalam Sunannya No. 729, 2011

– Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 281

– Dll

Status hadits:

– Berkata Imam At Tirmidzi: “hasan shahih.” (Sunan At Tirmidzi No. 69).

– Imam At Tirmidzi bertanya kepada Imam Bukhari tentang hadits ini, katanya: “Shahih.” (Imam Ibnul Mulqin, Al Khulashah, 1/7)

– Dengan dimasukkannya hadits ini dalam kitab Shahih-nya  Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam Ibnu Hibban, maka menurut keduanya hadits ini shahih.

– Imam Al Baghawi mengatakan: “Hasan shahih.” (Syarhus Sunnah No. 281)

– Imam Ibnul Mulqin mengatakan:“Shahih.” (Al Badrul Munir, 1/348)

– Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Shahih.” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 7233)

– Syaikh Husein Salim  Asad: “Isnaduhu shahih – isnadnya shahih.”(Sunan Ad Darimi No. 729)

– dll

Latar Belakang Hadits (Asbabul wurud):

Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhubercerita:

سَأَلَ رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنْ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ مِنْ مَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah, kami sedang berlayar di lautan, kami membawa sedikit air. Jika kami pakai air itu buat wudhu, maka kami akan kehausan, apakah boleh kami wudhu pakai air laut?” lalu Beliau bersabda: “Dia suci airnya, halal bangkainya.” (kisah ini juga disebutkan dalam sumber takhrij di atas)

Kandungan Hadits secara global:

1. Imam Ibnu Hajar memulai kitabnya ini, dengan Kitab Ath Thaharah (Bersuci). Masalah thaharah ini sangat penting untuk sah tidaknya ibadah, oleh karenanya selalu di bahas pada bab pertama di semua kitab fiqih.

Thaharah ada dua macam:

1. Ath Thaharah Al Qalb (bersuci hati), yaitu mensucikan hati dari semua bentuk syirik, penyakit hati seperti; hasad, su’uzn zhan, dan semisalnya

2. Ath Thaharah Al Jism (bersuci badan), ini juga dibagi menjadi dua:

Ath Thaharah minal Ahdaats, bersuci dari berbagai hadats, hadats besar dengan mandi besar (mandi janabah/mandi wajib) , sedangkan hadats kecil dengan wudhu.

Ath Thaharah minal anjas wal aqdzaar, bersuci dari najis dan kotoran seperti air kencing, tinja, liur anjing, dan semisalnya. Jika kena air kencing atau tinja, maka cukup dibersihkan dengan air suci hingga bersih tak berbau dan tak berbekas. Air liur anjing dengan dicuci memakai air tujuh kali, salah satunya dengan tanah.

2. Hadits ini menunjukkan bahwa air laut adalah suci dan mensucikan, istilah lainnya: air mutlak.

Air ada empat macam:

1. Thahur, yakni air suci dan mensucikan, seperti air tanah, air sungai, air hujan, air embun, air laut.

2. Thahir, yakni air suci tapi tidak bisa mensucikan, seperti air kopi, sirup, kuah sayur, dan semisalnya

3. Air najis, yakni air yang secara zat adalah najis seperti air kencing, air madzi, air wadi, dan semisalnya

4. Air mutanajis, yakni air suci yang bercampur dengan najis, dia najis jika telah berubah bau, rasa, dan warna

Tentang sucinya air laut juga diisyaratkan oleh ayat:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu  (QS. Al Baqarah: 29)

Imam At Tirmidzi Rahimahullah menjelaskan tentang hadits ini:

وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُمْ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَابْنُ عَبَّاسٍ لَمْ يَرَوْا بَأْسًا بِمَاءِ الْبَحْرِ وَقَدْ كَرِهَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوُضُوءَ بِمَاءِ الْبَحْرِ مِنْهُمْ ابْنُ عُمَرَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو هُوَ نَارٌ

Ini (yang menyatakan sucinya air laut,pen) adalah mayoritas ahli fiqih dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, di antaranya: Abu Bakar, Umar, dan Ibnu Abbas, menurut mereka tidak apa-apa dengan air laut. Sebagian  sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ada yang memakruhkan, di antaranya: Ibnu Umar dan Abdullah bin Amru. Dan, Abdullah bin Amru berkata: “Itu adalah api.”(Sunan At Tirmidzi No. 69)

3. Hadits ini juga menunjukkan bahwa bangkai laut yakni ikan adalah halal.

Hal ini juga ditegaskan dalam ayat:

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu.” (QS. Al Maidah (5):96)

Juga oleh hadits lain:

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:

أحلت لنا ميتتان ودمان: فأما الميتتان فالجراد والحوت، وأما الدمان فالطحال والكبد

“Dihalalkan bagi kami dua bangkai dan dua darah; ada pun dua bangkai yakni belalang dan ikan, dan dua darah adalah hati dan limpa.”(HR. Ibnu majah No. 3314, Ahmad No. 5723. Syaikh Syu’aib Al Arna’uth mengatakan; hasan, sebenarnya sanad hadits ini dhaif karena Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, seorang rawi yang dhaif. Namun, hadits ini banyak jalur lain yang menguatkannya. Syaikh Al Albani menshahihkannya. Lihat As Silsilah Ash Shahihah No. 1118, Misykah Al Mashabih No. 4232)

Bagaimana dengan ikan yang buas seperti hiu? Apakah haram?

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu,  dia berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنْ السِّبَاعِ وَعَنْ كُلِّ ذِي مِخْلَبٍ مِنْ الطَّيْر

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang memakan semua binatang buas yang memiliki taring, dan burung yang memiliki cakar.” (HR. Muslim No. 1934, Abu Daud No. 3803, Ad Darimi No. 1982, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No.92, 19141, Abu Ya’la dalamMusnadnya No. 357, dari jalur Ali bin Abi Thalib, juga No. 2690. Ahmad No. 2194)

Imam Ibnul Mundzir Rahimahullah mengatakan:

وأجمع عوام أهل العلم أن كل ذي ناب من السباع حرام.

“Umumnya, para ulama telah ijma’(sepakat), bahwa semua yang memiliki bertaring dari binatang buas adalah haram.”(Kitabul Ijma’ No. 740)

Hadits dari Ibnu Abbas di atas adalah umum untuk semua hewan bertaring dan berkuku tajam –dengan keduanya mereka mencabik mangsanya-  adalah haram di makan.

Tetapi, dengan adanya ayat:  “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu.” Juga oleh hadits dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, katanya: “Dihalalkan bagi kami dua bangkai dan dua darah; ada pun dua bangkai yakni belalang dan ikan, dan dua darah adalah hati dan limpa.”

Maka, untuk hewan laut adalah pengecualian. Hal ini sesuai kaidah: “hamlul mutlaq ilal muqayyad,” memahami dalil yang umum menurut dalil yang lebih khusus. Jadi, secara umum semua hewan bertaring adalah haram, kecuali hewan bertaring yang dilaut. Bukankah ikan tongkol, ikan kembung,  dan tuna pun bergigi taring?

4. Hadits ini juga menunjukkan kebolehan memberikan jawaban melebihi keperluan si penanya. Sahabat hanya bertanya tentang air laut, tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan tentang air dan bangkai laut sekaligus. Hal ini, dalam rangka penambah pemahaman dan kejelasan dari permasalahan.

Wallahu A’lam

Bersambung

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Jika Non Muslim Wafat …

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

Bolehkah mengucapkan istirja’?

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah menjawab:

 ج: الكافر إذا مات لا بأس أن نقول: {إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} الحمد لله، إذا كان من أقربائك لا بأس، كل الناس إلى الله راجعون، كل الناس ملك لله سبحانه وتعالى، لا بأس بهذا، ولكن لا يدعى له ما دام كافرا لا يدعى له

Jika orang kafir wafat tidak apa-apa kita mengucapkan “Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun”. Alhamdulillah, jika dia adalah kerabat Anda tidak apa-apa. Semua manusia akan kembali kepada Allah, semua manusia kepunyaan Allah Ta’ala, tidak masalah dengan hal ini. Tetapi, tidak boleh mendoakan dia, selama dia kafir tidak mendoakan dia. (Fatawa Nuur ‘Alad Darb, 14/365)

Bolehkah berta’ziyah kepadanya?

Boleh, dan itu merupakan pendapat mayoritas ulama.

Demikian ini keterangannya:

يجوز للمسلم أن يعزي غير المسلم في ميته وهذا قول جمهور أهل العلم وذكر العلماء عدة عبارات تقال في هذه التعزية منها :

– أخلف الله عليك ولا نقص عددك .

– أعطاك الله على مصيبتك أفضل ما أعطى أحداً من أهل دينك . المغني 2/46 .

– ألهمك الله الصبر وأصلح بالك ، ومنها : أكثر الله مالك وأطال حياتك أو عمرك

– ومنها لا يصيبك إلا خير . أحكام أهل الذمة 1/161 .

Boleh bagi seorang muslim berta’ziyah kepada mayat non muslim. Ini adalah pendapat jumhur ulama. Para ulama menyebutkan beberapa ucapan yang bisa diucapkan ketika berta’ziyah kepada mereka. Di antaranya:

Semoga Allah menggantikan untukmu dan tidak mengurangi jumlahmu (maksudnya supaya tetap ada harta untuk membayar jizyah, pen)

Semoga Allah memberikan kepadamu hal yang lebih baik dibanding pemberian seorang dari pemeluk agamamu. (Al Mughni, 2/46)

Semoga Allah memberikanmu kesabaran dan memperbaiki keadaanmu, dan di antaranya juga: semoga Allah memperbanyak hartamu dan memanjangkan hidup dan usiamu.

Juga: semoga tidak ada yang menimpamu kecuali kebaikan. (Ahkam Ahludz Dzimmah, 1/161).

Lihat Al Khulashah fi Ahkam Ahli Adz Dzimmah, 3/149

Tapi, kebolehannya memiliki beberapa patokan:

1. Tidak ikut pada acara ritualnya

2. Tidak mendoakan ampunan bagi mereka

3. Tidak merendahkan diri di sana seakan mereka adalah kelompok yang benar

Jika kita tidak mampu menjaga hal-hal ini, maka sebaiknya tidak berta’ziyah, demi menjaga keselamatan aqidah kita.

Demikian. Wallahu A’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…

Hal- Hal Yang Dimakruhkan Dalam Shalat (Bag. 3

Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

Materi sebelumnya: http://goo.gl/D4Rr9U

***

9.       Shalat Dalam Keadaan Ngantuk
عن عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (إذا نعس أحدكم فليرقد حتى يذهب عنه النوم، فإنه إذا صلى وهو ناعس لعله يذهب يستغفر فيسب نفسه) رواه الجماعة.
Dari ‘Aisyah, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jika salah seorang kalian ngantuk, hendaknya dia tidur dulu hingga hilang rasa ngantuknya, sedangkan jika dia shalat dalam keadaan ngantuk itu, bisa jadi dia ingin istighfar ternyata dia mengucapkan caci maki untuk dirinya.” (HR. Al Jama’ah)

وعن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (إذا قام أحدكم من الليل فاستعجم القرآن على لسانه   فلم يدر ما يقول فليضطجع) رواه أحمد ومسلم.
Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jika salah seorang kalian bangun malam dan masih ngantuk sehingga lidahnya berat membaca Al Quran dan ia tidak sadar apa yang dibacanya itu, maka sebaiknya dia tidur lagi!” (HR. Ahmad dan Muslim)

10.   Makmum  Mengkhususkan Tempat Tersendiri Baginya

Dari Abdurrahman bin Syibil, katanya:
 سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنْ ثَلَاثٍ عَنْ نَقْرَةِ الْغُرَابِ وَعَنْ افْتِرَاشِ السَّبُعِ وَأَنْ يُوطِنَ الرَّجُلُ الْمَقَامَ كَمَا يُوطِنُ الْبَعِيرُ
“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang dari tiga hal, yakni melarang seseorang ruku atau sujud seperti burung gagak, duduk seperti duduknya binatang buas, dan seseorang yang menempati tempat tertentu untuk dirinya di masjid bagaikan unta yang menempatkan tempat tertentu untuk berbaring.” (HR. Abu Daud No. 862, An Nasa’i No. 1112, Ibnu Majah No. 1429, Ahmad No. 14984, 14985, juga Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, katanya: shahih, dan disepakati oleh Adz Dzahabi )

Ada pun Syaikh Al Albani menghasankan dalam berbagai kitabnya, seperti Misykah Al Mashabih, Ats Tsamar Al Mustathab, As Silsilah Ash Shahihah, Shahih At Targhib wat Tarhib, Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud, Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah, dan Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menjadikan hadits ini sebagai dalil hal-hal yang dimakruhkan dalam shalat. (Fiqhus Sunnah, 1/271. Darul Kitab Al ‘Arabi)
Begitu pula yang dikatakan oleh Imam Asy Syaukani bahwa hadits ini merupakan dalil makruhnya makmum membiasakan shalat ditempat khusus. (Nailul Authar, 3/196. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)
Sedangkan Syaikh Al Albani menyatakan keharaman perilaku makmum yang mengkhususkan tempat tertentu untuk dirinya. (Ats Tsamar Al Mustathab, Hal. 669. Cet. 1. Ghiras Lin Nasyr wat Tauzi’)

Demikianlah hal-hal yang dimakruhkan dalam shalat. Sementara, Syaikh Sayyid Sabiq menambahkan bahwa sengaja meninggalkan sunah-sunahnya shalat juga termasuk perbuatan yang makruh. Wallahu A’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala…