Meminjam Uang Di Bank

๐Ÿ‘ณUSTADZ MENJAWAB
โœUstadz Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿ’๐ŸŒป๐Ÿ„๐ŸŒน๐ŸŒท

Pertanyaan dari Korma 3:

Assalamualaikum. … saya ingin bertanya.
Dahulu kami membangun usaha dengan meminjam uang dari bank. Saat ini setelah kami sering mempelajari Al Quran dan mengikuti kajian Islam, kami tidak akan mengulanginya lagi. Kami berjanji akan menyelesaikan hutang-hutang kami yang tersisa dan melakukan shalat taubat.
Tetapi saat ini orang tua meminta bantuan  untuk meminjam dana  guna perluasan usaha dibidang pendidikan kebank menggunakan nama kami,  meskipun perbulannya orang tua yang akan membayar cicilanya (karena usia orang tua tidak layak saat diverifikasi oleh bank).
Apakah kami ikut terlibat dosa riba dalam kondisi seperti ini? Sedang kami tidak memakan keuntungan riba tersebut dan bertujuan membantu orang tua. Apa yang sebaiknya kami lakukan agar tidak menyingung perasaan orang tua dan tidak menimbulkan konflik keluarga?


JAWABAN:

๐Ÿ“Œ Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah Ta’ala

๐Ÿ“Œ Allah Ta’ala juga melarang saling bantu dalam dosa dan kejahatan, laa ta’awanu ‘alal itsmi wal ‘udwan ..maka menggunakan nama kita utk itu sama saja menjadi fasilitatornya

๐Ÿ“Œ Dari Jabir Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ู„ุนู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุขูƒู„ ุงู„ุฑุจุง ูˆู…ูˆูƒู„ู‡ ูˆูƒุงุชุจู‡ ูˆุดุงู‡ุฏูŠู‡ ูˆู‚ุงู„ ู‡ู… ุณูˆุงุก
  Rasulullah ๏ทบ melaknat pemakan riba, yang memberinya, pencatatnya, dan yang menjadi saksinya. Beliau berkata: semua sama. (HR. Muslim No. 1598)

Jadi, fasilitatornya juga kena, walau tidak memakannya.

๐Ÿ“Œ Solusinya adalah tetap hindari, jaga perasaannya, lalu berikan alternatif ke Bank Syariah, dengan akad yamg sesuai syariah juga.

Selamat berjuang .. !

Wallahu a’lam

โœ FN

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿ’๐ŸŒป๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

HUKUM TRANSPLANTASI ORGAN TUBUH

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab
โœUst. Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
Assalamu’alaykum wr, wb.
Ustadz mau nanya. Apa hukumnya menyumbangkan organ tubuh untuk praktek kedokteran atau donasi transplantasi organ ketika sudah meninggal?
Karena alasan, daripada tubuh hanya akan digerogoti juga oleh hewan2 kecil didalam tanah. Niat agar matipun tetap berguna bagi sesama.
๐Ÿ…ฐ0โƒฃ8โƒฃ
Ditunggu jawabannya. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™
_________________________

Jawabannya
๐ŸŒด.Wa”alaikum salam  wr,wb
Otopsi Mayat Untuk Praktek Mahasiswa Kedokteran

Seorang muslim dan muslimah adalah terhormat dan terjaga baik darah dan hartanya. Tidak boleh menodai kehormatan mereka, kecuali ada hak Islam yang mereka langgar.

Dasarnya adalah:

ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ: (ุฃูู…ูุฑู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูู‚ูŽุงุชูู„ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณูŽ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽุดู’ู‡ูŽุฏููˆุง ุฃูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ุงูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุฃูŽู†ูŽู‘ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏูŽุงู‹ ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽูŠูู‚ููŠู’ู…ููˆู’ุง ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉูŽ ูˆูŽูŠูุคู’ุชููˆุง ุงู„ุฒูŽู‘ูƒูŽุงุฉูŽ ููŽุฅูุฐูŽุง ููŽุนูŽู„ููˆุง ุฐูŽู„ููƒูŽ ุนูŽุตูŽู…ููˆุง ู…ูู†ูู‘ูŠ ุฏูู…ูŽุงุกู‡ูŽู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฅูู„ุงูŽู‘ ุจูุญูŽู‚ูู‘ ุงู„ุฅูุณู’ู„ุงู…ู ูˆูŽุญูุณูŽุงุจูู‡ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰) ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆู…ุณู„ู…

Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œAku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi (bersyahadat), bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan jika mereka telah melakukan ini maka mereka terjaga dariku darah dan harta mereka, kecuali dengan hak Islam, dan atas Allah-lah perhitungan mereka.โ€ (HR. Bukhari, No. 25, dari Ibnu Umar , Muslim No. 35, dari Jabir bin Abdullah, juga No. 36 dari Ibnu Umar)

Jadi, setiap muslim telah terjaga (maโ€™shum) darah dan hartanya, mereka tidak boleh disakiti sedikit pun oleh siapapun. Tidak boleh dirusak kehidupannya, termasuk tubuhnya, kecuali karena hak Islam. Apa maksud hak Islam di sini? Seorang yang enggan mengeluarkan zakat padahal sudah mampu dan nishab, maka waliyul amri (pemimpin) berhak mengambil hartanya; seseorang yang berzina maka dia dihukum rajam, seseorang yang mencuri dengan jumlah yang mencapai nishab, maka dipotong tangannya, dan semisalnya. Itulah pertumpahan darah dan pengambilan harta karena mereka melanggar hak Islam. Larangan merusak dan menodai seorang muslim ini, adalah ketika mereka masih hidup. Bagaimana ketika sudah wafat?

Secara khusus, Islam melarang merusak seorang muslim yang sudah wafat, sebagaimana hadits:

Dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ูƒูŽุณู’ุฑู ุนูŽุธู’ู…ู ุงู„ู’ู…ูŽูŠูู‘ุชู ูƒูŽูƒูŽุณู’ุฑูู‡ู ุญูŽูŠู‹ู‘ุง

Mematahkan tulang seorang mayit, sama halnya dengan mematahkannya ketika dia masih hidup. (HR. Abu Daud No. 3207, Ibnu Majah No. 1616, Ahmad No. 24783, Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: โ€œPara perawinya terpercaya dan merupakan perawi hadits shahih, kecuali Abdurrahman bin Ubay, yang merupakan perawi kitab-kitab sunan, dan dia shaduq (jujur).โ€ Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 24783. Syaikh Al Albani juga menshahihkannya. Lihat Shahihul Jamiโ€™ No. 2132)

Maka menyakitinya ketika sudah wafat adalah sama dengan menyakitinya ketika masih hidup, yaitu sama dalam dosanya. (Imam Abu Thayyib Abadi, โ€˜Aunul Maโ€™bud, 9/18) karena mayit juga merasakan sakit. (Ibid)

Abdullah bin Masโ€™ud Radhiallahu โ€˜Anhu berkata:

ุฃุฐู‰ ุงู„ู…ุคู…ู† ููŠ ู…ูˆุชู‡ ูƒุฃุฐุงู‡ ููŠ ุญูŠุงุชู‡

Menyakiti seorang mukmin ketika matinya, sama dengan menyakitinya ketika dia masih hidup. (Lihat Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 12115)

Dengan demikian, pada dasarnya adalah hal yang terlarang menyakiti dan melukai mayit muslim menurut keterangan-keterangan di atas, termasuk membedah mayit.

Bagaimana Jika Darurat? Dan Daruratnya seperti apa?

Keadaan darurat (sangat mendesak) memang membuat perkara yang pada dasarnya haram menjadi dibolehkan. Hal ini sesuai dengan kaidah:

ุงู„ุถูŽู‘ุฑููˆุฑููŠูŽู‘ุงุชู ุชูุจููŠุญู ุงู„ู’ู…ูŽุญู’ุธููˆุฑูŽุงุชู

Keadaan darurat membuat boleh hal-hal yang terlarang. (Imam As Suyuthi, Al Asybah wan Nazhair, Hal. 84. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah)

Kaidah ini berasal dari ayat:

ููŽู…ูŽู†ู ุงุถู’ุทูุฑูŽู‘ ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ุจูŽุงุบู ูˆูŽู„ูŽุง ุนูŽุงุฏู ููŽุฅูู†ูŽู‘ ุฑูŽุจูŽู‘ูƒูŽ ุบูŽูููˆุฑูŒ ุฑูŽุญููŠู…ูŒ

โ€œ Barangsiapa yang dalam Keadaan terpaksa, sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Anโ€™am (6): 145)

Atau ayat lainnya:

ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ููŽุตูŽู‘ู„ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ู…ูŽุง ุญูŽุฑูŽู‘ู…ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‘ุง ู…ูŽุง ุงุถู’ุทูุฑูุฑู’ุชูู…ู’ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู

Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. (QS. Al Anโ€™am (6): 119)

Namun, yang menjadi masalah adalah keadaan bagaimanakah yang sudah masuk zona darurat itu?

Para ulama kita telah menyebutkan bahwa keadaan darurat itu terjadi jika sudah mengancam eksistensi dari salah satu atau lebih dari lima hal; yaitu agama, nyawa, akal, harta, dan keturunan. Ini diistilahkan dengan Dharuriyatul Khamsah. Sementara Imam Al Qarrafi menambahkan menjadi enam dengan โ€œkehormatanโ€.

Jika belum mengancam, dan masih bisa diupayakan dengan cara lain atau alternatif yang dapat menggantikannya, maka tidak bisa dikatakan darurat. Sehingga keharamannya tidak berubah.

Otopsi Untuk Kepentingan Praktek Kedokteran dan Ilmu Pengetahuan

Nah, apakah praktikum kedokteran masuk ke wilayah darurat? Yakni memang tidak ada alternatif lain selain menggunakan mayit manusia. Bisa jadi memang ada hewan yang anatominya sama dengan manusia, tapi apakah pada bagian detailnya memang sama semuanya? Bukankah Allah Taโ€™ala menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk, yang berarti memang tidak ada yang menyamainya kecuali manusia juga?

Maka, masalah ini para ulama kita berbeda pendapat. Ada yang membolehkan secara mutlak, mengharamkan secara mutlak, dan ada pula yang merinci dan melihatnya secara per kasus.

Kelompok pertama, yang membolehkan secara mutlak, di antaranya adalah yang dikeluarkan oleh Majmaโ€™ Fiqih Al Islami di Mekkah pada Daurah mereka yang ke 10. Disebutkan dalam Fiqhun Nawazil fil โ€˜Ibadat:

ุฅุฐุง ุชุนุงุฑุถุช ู…ุตู„ุญุชุงู† ุชู‚ุฏู… ุฃุนู„ู‰ ุงู„ู…ุตู„ุญุชูŠู† ูุนู†ุฏู†ุง ู…ุตู„ุญุฉ ุงู„ู…ูŠุช ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุดุฑุญ ูˆุนู†ุฏู†ุง ุงู„ู…ุตู„ุญุฉ ุงู„ุนุงู…ุฉ ูˆู‡ูŠ ุฃู†ู‡ ูŠุดุฑุญ ูƒูŠ ูŠุณุชููŠุฏ ุงู„ู†ุงุณ ูˆูŠุชุนู„ู… ู‡ุคู„ุงุก ุงู„ุทู„ุงุจ ุงู„ุฐูŠู† ุณูŠุชู…ูƒู†ูˆู† ู…ู† ู…ุฏุงูˆุงุฉ ุงู„ู†ุงุณ ..ุฅู„ุฎ ูู‚ุงู„ูˆุง ุงู„ู…ุตู„ุญุฉ ุงู„ุนุงู…ุฉ ู…ู‚ุฏู…ุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุตู„ุญุฉ ุงู„ุฎุงุตุฉ. ูƒุฐู„ูƒ ุฃูŠุถุงู‹ ุฅุฐุง ุชุนุงุฑุถุช ู…ูุณุฏุชุงู† ูุฅู†ู‡ ุชุฑุชูƒุจ ุฃุฏู†ู‰ ุงู„ู…ูุณุฏุชูŠู† ุŒ ูุชุดุฑูŠุญู‡ ู…ูุณุฏุฉ ูˆุงู„ุฌู‡ู„ ุจุฃุญูƒุงู… ุนู„ู… ุงู„ุทุจ ู…ูุณุฏุฉ ุนุงู…ุฉ ูุชุฑุชูƒุจ ุฃุฏู†ู‰ ุงู„ู…ูุณุฏุชูŠู†

Jika bertemu dua maslahat maka mesti diutamakan maslahat yang lebih tinggi, maka menurut kami maslahat bagi mayit dengan tidak dibedah, adapun bagi kami maslahat orang banyak adalah dengan cara membedah agar manusia mendapatkan faidah dan para mahasiswa bisa mempelajari bagaimana pengobatan bagi manusia … dan seterusnya. Mereka mengatakan: maslahat umum lebih diutamakan dibanding maslahat yang khusus. Demikian juga, jika bertemu dua mafsadat (kerusakan/mudharat) maka yang dijalankan adalah kerusakan yang lebih ringan. Membedah mayit adalah kerusakan, namun bodoh terhadap aturan ilmu kedokteran itu merupakan kerusakan yang umum, maka yang dijalankan adalah yang kerusakannya lebih ringan. (Dr. Khalid bin Ali Al Musyaiqih, Fiqhun Nawazil, Hal. 62)

Dalam Majalah Majmaโ€™ Fiqh Al Islami juga disebutkan:

ู†ุนู… ุฅู† ุงู„ุฏูŠู† ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ ูƒุฑู… ุงู„ุฅู†ุณุงู† ุญูŠุงู‹ ูˆู…ูŠุชุงู‹ ุŒ ูุญุฑู… ุงู„ุนุจุซ ุจุฌุซุซ ุงู„ู…ูˆุชู‰ ูˆุงู„ุชู…ุซูŠู„ ุจู‡ุง ุŒ ุฅู„ุง ุฃู† ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุฃุฌุงุฒุช ุชุดุฑูŠุญ ุฌุซุซ ุงู„ู…ูˆุชู‰ ุนู†ุฏู…ุง ูŠูƒูˆู† ุชุดุฑูŠุญ ุงู„ุฌุซุฉ ูˆุณูŠู„ุฉ ุถุฑูˆุฑูŠุฉ ู„ู„ุชุนู„ูŠู… ูˆุฅุชู‚ุงู† ู…ู‡ู†ุฉ ุงู„ุทุจ ู„ุชุฃู‡ูŠู„ ุฃุทุจุงุก ุฃูƒูุงุก ูŠููŠุฏูˆู† ุงู„ู…ุฌุชู…ุน ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ

Benar, Islam adalah agama yang memuliakan manusia baik ketika hidup dan mati maka Islam mengharamkan mempermainkan mayit, memotong, dan mencincangnya, hanya saja syariat membolehkan membedah mayit ketika hal itu merupakan sarana yang mendesak untuk mempelajari dan mengetahui secara detail dan mudah ilmu kedokteran, dan memperbaiki kemajuan kemampuan para dokter dan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat Islam. (Majalah Majmaโ€™ Fiqh Al Islami, 4/60)

Ada pun Kelompok kedua, yang mengharamkan secara mutlak. Berikut uraiannya:

ูˆุงุณุชุฏู„ูˆุง ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ุจุฃุฏู„ุฉ :

ู‚ูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ( {ูˆูŽู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุฑูŽู‘ู…ู’ู†ูŽุง ุจูŽู†ููŠ ุขุฏูŽู…ูŽ ูˆูŽุญูŽู…ูŽู„ู’ู†ูŽุงู‡ูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู’ุจูŽุฑูู‘ ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุญู’ุฑู ูˆูŽุฑูŽุฒูŽู‚ู’ู†ูŽุงู‡ูู… ู…ูู‘ู†ูŽ ุงู„ุทูŽู‘ูŠูู‘ุจูŽุงุชู ูˆูŽููŽุถูŽู‘ู„ู’ู†ูŽุงู‡ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูŽุซููŠุฑู ู…ูู‘ู…ูŽู‘ู†ู’ ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ู†ูŽุง ุชูŽูู’ุถููŠู„ุงู‹ } .ุญุฏูŠุซ ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู†ู‡ุง ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ( ู‚ุงู„ : ” ูƒุณุฑ ุนุธู… ุงู„ู…ูŠุช ูƒูƒุณุฑู‡ ุญูŠุงู‹ ” ุฃู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก ู…ุฌู…ุนูˆู† ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุฎุตุงุก – ูŠุนู†ูŠ ู‚ุทุน ุฎุตุชูŠ ุฃู‡ู„ ุงู„ุญุฑุจ ูˆุงู„ุฃุฑู‚ุงุก – ู…ุญุฑู… .ุฃู† ุงู„ุดุงุฑุน ู†ู‡ู‰ ุนู† ุงู„ู…ุซู„ุฉ ูˆุงู„ู†ูู‘ู‡ุจุฉ ูƒู…ุง ููŠ ุญุฏูŠุซ ู‚ุชุงุฏุฉ ( ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ( ู†ู‡ู‰ ุนู† ุงู„ู†ู‡ุจุฉ ูˆุงู„ู…ุซู„ุฉ” .ุญุฏูŠุซ ุฃุจูŠ ู…ุฑุซุฏ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ( ู‚ุงู„: ” ู„ุง ุชุฌู„ุณูˆุง ุนู„ู‰ ุงู„ู‚ุจูˆุฑ ูˆู„ุง ุชุตู„ูˆุง ุฅู„ูŠู‡ุง ” ูุฅุฐุง ูƒุงู† ุงู„ุฌู„ูˆุณ ู…ุญุฑู… ูุจุชุดุฑูŠุญ ุงู„ุฌุซุฉ ู…ู† ุจุงุจ ุฃูˆู„ู‰

Mereka beralasan dengan dalil-dalil berikut:

– Firman Allah Taโ€™ala: (dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan).

– Hadits โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha bahwa Nabi bersabda: (mematahkan tulang mayit adalah seperti mematahkannya ketika masih hidup)

– Ulama telah sepakat bahwa pengebirian โ€“ yakni memotong testis ahlul harbi dan budak- adalah haram, maka pembuat syariat melarang mencincang dan merampas mayit, sebagaimana dalam hadits Qatadah: (bahwa Nabi melarang merampas dan mencincang mayit)

– Hadits Abu Martsad dari Nabi, bersabda; (janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan shalat menghadap kepadanya), maka jika duduk di atas kubur saja diharamkan apalagi membedahnya, itu lebih utama untuk diharamkan. (Fiqhun Nawazil, Hal. 63)

Kelompok ketiga, tidak mengharamkan secara mutlak, dan tidak pula membolehkan secara mutlak, tetapi mereka merincinya. Berikut keterangannya:

ุฃู†ู‡ ูŠุฌูˆุฒ ุชุดุฑูŠุญ ุฌุซุฉ ุงู„ูƒุงูุฑ ู„ุบุฑุถ ุงู„ุชุนู„ู… ูˆุฃู…ุง ุงู„ู…ุณู„ู… ูู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุชุดุฑูŠุญ ุฌุซุชู‡ , ูˆู‡ุฐุง ุงู„ู‚ูˆู„ ู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ุตุฏุฑุช ุจู‡ ู‚ุฑุงุฑ ู‡ูŠุฆุฉ ูƒุจุงุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ููŠ ุงู„ู…ู…ู„ูƒุฉ ุงู„ุนุฑุจูŠุฉ ุงู„ุณุนูˆุฏูŠุฉ ุฑู‚ู… (47)

Bahwasanya boleh saja membedah mayit orang kafir untuk maksud pengajaran. Ada pun mayit muslim maka tidak boleh membedahnya. Ini adalah pendapat yang diputuskan oleh Haiโ€™ah Kibar Al โ€˜Ulama di Kerajaan Saudi Arabia, fatwa No. 47. (Ibid)

Alasan kelompok ini adalah:

ุฃู† ุงู„ู„ู‡ (ู‚ุงู„ ููŠ ุญู‚ ุงู„ูƒุงูุฑ : { ูˆูŽู…ูŽู† ูŠูู‡ูู†ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ููŽู…ูŽุง ู„ูŽู‡ู ู…ูู† ู…ูู‘ูƒู’ุฑูู…ู ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูŠูŽูู’ุนูŽู„ู ู…ูŽุง ูŠูŽุดูŽุงุกู} ุŒ ููƒุฑุงู…ุฉ ุงู„ูƒุงูุฑ ู„ูŠุณุช ูƒูƒุฑุงู…ุฉ ุงู„ู…ุณู„ู… ูู‡ูŠ ุฃุฎู ูˆุญุฑู…ุชู‡ ู„ูŠุณุช ูƒุญุฑู…ุฉ ุงู„ู…ุณู„ู… ุŒูุงู„ูƒุงูุฑ ุฃู‡ุงู† ู†ูุณู‡ ุจุงู„ูƒูุฑ ูˆุนุฏู… ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ูู„ูŠุณ ู„ู‡ ู…ูƒุฑู… , ูู‚ุงู„ูˆุง ุจุฃู† ู‡ุฐุง ูŠุณูˆุบ ุชุดุฑูŠุญ ุฌุซุฉ ุงู„ูƒุงูุฑ ุฏูˆู† ุงู„ู…ุณู„ู… .

Sesungguhnya Allah Taโ€™ala berfirman tentang hal yang menjadi hak kaum kafir: (Barangsiapa yang dihinakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya ) maka kemuliaan orang kafir tidaklah seperti halnya kemuliaan orang muslim, dia lebih ringan, dan kehormatannya tidak seperti kehormatan seorang muslim. Jadi, orang kafir telah menghinakan dirinya dengan kekafirannya dan tanpa keimanannya, maka dia tidak memiliki kemuliaan. Maka, mereka mengatakan atas dasar inilah bolehnya membedah mayit kafir, dan tidak bagi mayit muslim. (Fiqhun Nawazil,Hal. 63)

Lengkapnya Fatwa Haiโ€™ah Kibar Al โ€˜Ulama sebagai berikut:

ูˆุธู‡ุฑ ุฃู† ุงู„ู…ูˆุถูˆุน ูŠู†ู‚ุณู… ุฅู„ู‰ ุซู„ุงุซุฉ ุฃู‚ุณุงู…

ุงู„ุฃูˆู„ ุงู„ุชุดุฑูŠุญ ู„ุบุฑุถ ุงู„ุชุญู‚ู‚ ู…ู† ุฏุนูˆู‰ ุฌู†ุงุฆูŠุฉ.

ุงู„ุซุงู†ูŠ ุงู„ุชุดุฑูŠุญ ู„ุบุฑุถ ุงู„ุชุญู‚ู‚ ุนู† ุฃู…ุฑุงุถ ูˆุจุงุฆูŠุฉ ู„ุชุชุฎุฐ ุนู„ู‰ ุถูˆุฆู‡ ุงู„ุงุญุชูŠุงุทุงุช ุงู„ูƒููŠู„ุฉ ุจุงู„ูˆู‚ุงูŠุฉ ู…ู†ู‡ุง.

ุงู„ุซุงู„ุซ ุงู„ุชุดุฑูŠุญ ู„ู„ุบุฑุถ ุงู„ุนู„ู…ูŠ ุชุนู„ู…ุงู‹ ูˆุชุนู„ูŠู…ุงู‹.

ูˆุจุนุฏ ุชุฏุงูˆู„ ุงู„ุฑุฃูŠ ูˆุงู„ู…ู†ุงู‚ุดุฉ ูˆุฏุฑุงุณุฉ ุงู„ุจุญุซ ุงู„ู…ู‚ุฏู… ู…ู† ุงู„ู„ุฌู†ุฉ ุงู„ู…ุดุงุฑ ุฅู„ูŠู‡ ุฃุนู„ุงู‡ ู‚ุฑุฑ ุงู„ู…ุฌู„ุณ ู…ุงูŠู„ูŠ

ุจุงู„ู†ุณุจุฉ ู„ู„ู‚ุณู…ูŠู† ุงู„ุฃูˆู„ ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ ูุฅู† ุงู„ู…ุฌู„ุณ ูŠุฑู‰ ุฃู† ููŠ ุฅุฌุงุฒุชู‡ุง ุชุญู‚ูŠู‚ุงู‹ ู„ู…ุตุงู„ุญ ูƒุซูŠุฑุฉ ููŠ ู…ุฌุงู„ุงุช ุงู„ุฃู…ู† ูˆุงู„ุนุฏู„ ูˆูˆู‚ุงูŠุฉ ุงู„ู…ุฌุชู…ุน ู…ู† ุงู„ุฃู…ุฑุงุถ ุงู„ูˆุจุงุฆูŠุฉุŒ ูˆู…ูุณุฏุฉ ุงู†ุชู‡ุงูƒ ูƒุฑุงู…ุฉ ุงู„ุฌุซุฉ ุงู„ู…ุดุฑุญุฉ ู…ุบู…ูˆุฑุฉ ููŠ ุฌู†ุจ ุงู„ู…ุตุงู„ุญ ุงู„ูƒุซูŠุฑุฉ ูˆุงู„ุนุงู…ุฉ ุงู„ู…ุชุญู‚ู‚ุฉ ุจุฐู„ูƒุŒ ูˆุฅู† ุงู„ู…ุฌู„ุณ ู„ู‡ุฐุง ูŠู‚ุฑุฑ ุจุงู„ุฅุฌู…ุงุน ุฅุฌุงุฒุฉ ุงู„ุชุดุฑูŠุญ ู„ู‡ุฐูŠู† ุงู„ุบุฑุถูŠู† ุณูˆุงุก ูƒุงู†ุช ุงู„ุฌุซุฉ ุงู„ู…ุดุฑุญุฉ ุฌุซุฉ ู…ุนุตูˆู… ุฃู… ู„ุง.

ูˆุฃู…ุง ุจุงู„ู†ุณุจุฉ ู„ู„ู‚ุณู… ุงู„ุซุงู„ุซ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุชุดุฑูŠุญ ู„ู„ุนุฑุถ ุงู„ุชุนู„ูŠู…ูŠ ูู†ุธุฑุงู‹ ุฅู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ู‚ุฏ ุฌุงุกุช ุจุชุญุตูŠู„ ุงู„ู…ุตุงู„ุญ ูˆุชูƒุซูŠุฑู‡ุงุŒ ูˆุจุฏุฑุก ุงู„ู…ูุงุณุฏ ูˆุชู‚ู„ูŠู„ู‡ุงุŒ ูˆุจุงุฑุชูƒุงุจ ุฃุฏู†ู‰ ุงู„ุถุฑุฑูŠู† ู„ุชููˆูŠุช ุฃุดุฏู‡ู…ุงุŒ ูˆุฃู†ู‡ ุฅุฐุง ุชุนุงุฑุถุช ุงู„ู…ุตุงู„ุญ ุฃุฎุฐ ุจุฃุฑุฌุญู‡ุงุŒ ูˆุญูŠุซ ุฅู† ุชุดุฑูŠุญ ุบูŠุฑ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ู…ู† ุงู„ุญูŠูˆุงู†ุงุช ู„ุง ูŠุบู†ูŠ ุนู† ุชุดุฑูŠุญ ุงู„ุฅู†ุณุงู†ุŒ ูˆุญูŠุซ ุฅู† ููŠ ุงู„ุชุดุฑูŠุญ ู…ุตุงู„ุญ ูƒุซูŠุฑุฉ ุธู‡ุฑุช ููŠ ุงู„ุชู‚ุฏู… ุงู„ุนู„ู…ูŠ ููŠ ู…ุฌุงู„ุงุช ุงู„ุทุจ ุงู„ู…ุฎุชู„ูุฉ. ูุฅู† ุงู„ู…ุฌู„ุณ ูŠุฑู‰ ุฌูˆุงุฒ ุชุดุฑูŠุญ ุฌุซุฉ ุงู„ุขุฏู…ูŠ ููŠ ุงู„ุฌู…ู„ุฉุŒ ุฅู„ุง ุฃู†ู‡ ู†ุธุฑุงู‹ ุฅู„ู‰ ุนู†ุงูŠุฉ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ุจูƒุฑุงู…ุฉ ุงู„ู…ุณู„ู… ู…ูŠุชุงู‹ ูƒุนู†ุงูŠุชู‡ุง ุจูƒุฑุงู…ุชู‡ ุญูŠุงู‹ ูˆุฐู„ูƒ ู„ู…ุง ุฑูˆู‰ ุฃุญู…ุฏ ูˆุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ุงุจู† ู…ุงุฌู‡ ุนู† ุนุงุฆุดุฉ ู€ู€ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ู€ู€ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠุŒ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ู‚ุงู„ ((ูƒูŽุณู’ุฑู ุนูŽุธู’ู…ู ุงู„ูŽู…ูŽู‘ูŠุชู ูƒูŽูƒูŽุณู’ุฑูู‡ู ุญูŽูŠูŽูŽู‘ุง)). ูˆู†ุธุฑุงู‹ ุฅู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุชุดุฑูŠุญ ููŠู‡ ุงู…ุชู‡ุงู† ู„ูƒุฑุงู…ุชู‡ุŒ ูˆุญูŠุซ ุฅู† ุงู„ุถุฑูˆุฑุฉ ุฅู„ู‰ ุฐู„ูƒ ู…ู†ุชููŠุฉ ุจุชูŠุณุฑ ุงู„ุญุตูˆู„ ุนู„ู‰ ุฌุซุซ ุฃู…ูˆุงุช ุบูŠุฑ ู…ุนุตูˆู…ุฉุŒ ูุฅู† ุงู„ู…ุฌู„ุณ ูŠุฑู‰ ุงู„ุงูƒุชูุงุก ุจุชุดุฑูŠุญ ู…ุซู„ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฌุซุซ ูˆุนุฏู… ุงู„ุชุนุฑุถ ู„ุฌุซุซ ุฃู…ูˆุงุช ู…ุนุตูˆู…ูŠู† ูˆุงู„ุญุงู„ ู…ุง ุฐูƒุฑ. ูˆุงู„ู„ู‡ ุงู„ู…ูˆูู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…. . .

ู‡ูŠุฆุฉ ูƒุจุงุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก

Nampaknya masalah ini mengandung tiga bagian, yaitu :
– Otopsi mayat untuk mengetahui sebab kematian saat terjadi tindakan kriminalitas
– Otopsi mayat untuk mengetahui adanya wabah penyakit agar bisa diambil tindakan preventif secara dini
– Otopsi mayat untuk belajar ilmu kedokteran

Setelah didiskusikan dan saling mengutarakan pendapat, maka majelis memutuskan sebagai berikut :

Untuk masalah pertama dan kedua, majelis berpendapat tentang diperbolehkannya hal itu demi mewujudkan banyak kemaslahatan dalam bidang keamanan, keadilan dan tindakan pencegahan dari wabah penyakit. Adapun mafsadat yang ada yaitu merusak kehormatan mayit yang di otopsi bisa tertutupi jika dibandingkan dengan kemaslahatannya yang sangat banyak. Maka majelis sepakat menetapkan diperbolehkan melakukan otopsi mayit untuk dua tujuan ini, baik mayit itu maโ€™shum (mayit muslim) ataukah tidak.

Adapun yang ketiga yaitu yang terkait dengan tujuan pendidikan kedokteran, maka memandang bahwa syariat Islam datang dengan membawa, serta memperbanyak kemaslahatan dan mencegah serta memperkecil kerusakan dengan cara melakukan kerusakan yang paling ringan serta maslahat yang paling besar, juga karena tidak bisa diganti dengan membedah binatang juga karena pembedahan ini banyak mengandung maslahat seiring dengan perkembangan ilmu medis, maka majelis berpendapat bahwa secara umum diperbolehkan untuk membedah mayat muslim. Hanya saja karena Islam menghormati seorang muslim baik hidup maupun mati sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu majah dari Aisyah bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda : โ€œMematahkan tulang mayit sebagaimana mematahkannya tatkala masih hidup.โ€

Juga melihat bahwa bedah itu menghinakan kehormatan jenazah muslim, padahal itu semua bisa dilakukan terhadap jasad orang yang tidak memiliki โ€˜ishmah (tidak memiliki keterjagaan dari darah dan hartanya yakni mayit non muslim, pen), maka majelis berpendapat bahwa bedah tersebut cuma bisa dilakukan terhadap mayit yang tidak maโ€™shum (mayit non muslim) bukan terhadap mayit yang maโ€™shum (muslim). Wallahul Muwaffiq wa shallallahu โ€˜ala nabiyyina Muhammad wa โ€˜ala aalihi wa ashhabihi wa sallam … Haiโ€™ah Kibar Al Ulama. (Lihat Fatawa Islamiyah, 2/110)

Dan, pendapat kelompok ketiga ini nampaknya lebih mendekati kebenaran. Wallahu Aโ€™lam.

Kami menambahkan, bahwa bisa juga dirinci sebagai berikut:

– Jika seorang atau sekelompok ilmuwan dan mahasiswa membutuhkan dengan sangat mendesak mayit manusia yang terkena penyakit aneh, mereka mencari dan meneliti tentang wabah penyakit, virus, dan semisalnya, yang ada padanya. Penelitian ini bermaslahat secara pasti buat kehidupan manusia secara umum, agar bisa mengetahui dan menghindar penyakit misterius sepertinya. Ini pun juga penelitian baru yang belum ada sebelumnya, maka tidak apa-apa melakukan pembedahan terhadap mayit manusia tersebut, baik mayit muslim atau bukan. Sebab Al Mashlahah Al โ€˜Ammah muqaddamatun โ€˜alal Mafsadah Al Khaashah (maslahat umum lebih diutamakan dibanding kerusakan yang khusus dan terbatas). Ini pun harus mendapatkan izin dari wali si mayit.

– Jika seorang mahasiswa kedokteran praktikum, dan dia memerlukan mayit untuk itu, dan ini pun diperintahkan oleh para dosennya. Maka sebaiknya dia menggunakan mayit yang sebelumnya sudah dijadikan bahan penelitian (misal mayat itu sudah dijadikan bahan penelitian oleh kasus yang saya sebut di atas), atau dengan menggunakan hewan yang memiliki anatomi yang hampir sama dengan manusia. Hal ini disebabkan tidak ada yang baru dalam penelitian ini, dan hanya demi kepentingan pribadi yakni nilai kuliah saja. Kaidahnya adalah Adh Dharar Laa Tuzaal bidh Dharar (kerusakan tidak boleh dihilangkan dengan cara yang rusak juga). Tidak mendapatkan nilai adalah mudharat bagi si mahasiswa, dan membedah mayit adalah mudharat bagi mayit tersebut, maka tidak boleh menghilangkan mudharat si mahasiswa dengan menggunakan dan menghasilkan mudharat baru bagi orang lain (si mayit). Kalau pun masih terpaksa menggunakan mayit manusia, maka menggunakan mayit non muslim adalah lebih selamat, sebab mereka tidak ada โ€˜ishmah, baik dalam keadaan hidup dan matinya. Wallahu Aโ€™lam

Syarat Pembedahan (Otopsi)
————————–
Ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi:

1. Keadaan darurat di sini mesti sesuai kebutuhan dan kadarnya. Jika yang ingin diteliti adalah tubuh bagian tangan, maka bedahnya hanya bagian tangan. Tidak benar membedah mata dan lainnya apalagi dengan tujuan coba-coba.

2. Jika mayitnya laki-laki maka pihak yang membedah adalah laki-laki, juga sebaliknya jika mayit perempuan. Sebab aurat orang mati sama dengan aurat orang hidup, ini menurut mayoritas ulama.

3. Potongan-potongan tubuh yang dibedah atau diteliti hendaknya dikubur setelah digunakan, sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadap manusia.

Demikian sikap Islam terhadap bedah mayit untuk kepentingan medis dan ilmu pengetahuan.
 Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

HUKUM PERAYAAN ULANG TAHUN

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab
โœUst. Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Assalamualaikum wr wb ustadz…. minta penjelasannya tentang :
1. hukum perayaan ulang tahun
2. hukum perayaan hari jadi pernikahan.

๐ŸŒดJawaban nya๐ŸŒด

Wa alaikumsalam wr wb.                                            1. Hukum merayakan milad.
Dalam hal ini, para ulama kontemporer berbeda pendapat.

๐Ÿ“Œ Pertama. HARAM.
Alasannya ini merupakan budaya kafir yg dilarang untuk diikuti. Jika diikuti maka tasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang kafir). Apa pun cara dan wujudnya, maka tdk boleh, baik hari ultah manusia, lembaga, ormas, bahkan negara. Sehingga, jika yg pokoknya tidak boleh maka turunannya jg demikian, termasuk mengucapkan selamat, walau sdh dimodiv dengan doa-doa kebaikan. Bagi mereka itu merupakan mencampurkan haq dan batil.

Alasan lain karena Nabi, para sahabat, para imam madzhab tdk pernah menyontohkan bahkan tidak pernah membahasnya.

Ini dianut sebagian ulama Arab Saudi, dan yg mengikutinya, dan juga  kelompok salafi.

๐Ÿ“Œ Kedua, BOLEH, dengan syarat. Mereka menolak cara pendalilan golongan pertama. Ini pendapat sebagian ulama Arab Saudi juga seperti Syaikh Salman Al Audah, atau Mufti Qathar seperti Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, dan lainnya.

Bagi mereka ini masalah duniawi, tidak terkait ibadah, yg hukum asalnya adalah mubah, kecuali ada dalil khusus yg melarang. Bagi mereka tidak ada dalil khusus yg melarangnya.
Lalu, alasan lainnya ayat:
wa basysyarnaahu bighulaamin haliim .. dan kami berikan kabar gembira kepada Ibrahim atas lahirnya anak yang penyabar.

Ayat ini menunjukkan bolehnya bergembira dengan kelahiran, dan tentunya berlaku juga dengan mengingat hari kelahiran.

Lalu, Nabi pernah ditanya tentang puasa hari senin, Beliau menjawab: itulah hari aku dilahirkan. (Hr. Muslim)

Jd, ini menunjukkan bolehnya mengingat hari kelahiran. Kalau pun, ini berasal dr Barat, mrk menganggap tidak apa-apa mengambil istilah dari luar Islam, tp isinya diganti dgn cara Islam. Hal ini pernah nabi lakukan, yaitu ketika nabi mengubah makna RUHBANIYAH/kependetaan yg telah dicela Allah dlm Al Quran. Jadi, walau istilah ini buruk, akhirnya oleh nabi istilah ini dipakai dgn isi yang diubah, sabdanya:
ar ruhbaniyatu fi ummati al jihad fisabilillah, kependetaan umatku adalah jihad fisabilillah.

Tp mereka memberi syarat: tidak boleh ada maksiat di dalamnya, meninggalkan yang wajib, hura-hura (nyanyi2), pemborosan, ikhtilat, tiup lilin, dan kejelekan lainnya.

Kalau isinya adalah mauizhah hasanah, atau hanya ucapan tahniah dan doa saja agar hidupnya berkah, sehat, dan semisalnya, tidak apa apa bagi mereka.
Wallahu A’lam
                                     

 ๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Bolehkah Orang Dewasa Punya Boneka?

โœ Ustadz Farid Nu’man

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐Ÿ€๐Ÿ„๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamualaikum waroatullahi wabarakatuh..
Boleh ga punya boneka (misal boneka beruang) untuk orang dewasa?

————————-
Jawaban:

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ba’d:

Boneka anak-anak adalah pengecualian, dia dibolehkan berdasarkan dalil-dalil berikut:

   1โƒฃ ‘Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, bercerita:

ูƒูู†ู’ุชู ุฃูŽู„ู’ุนูŽุจู ุจูุงู„ู’ุจูŽู†ูŽุงุชู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ู„ููŠ ุตูŽูˆูŽุงุญูุจู ูŠูŽู„ู’ุนูŽุจู’ู†ูŽ ู…ูŽุนููŠุŒ ยซููŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ูŠูŽุชูŽู‚ูŽู…ู‘ูŽุนู’ู†ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูุŒ ููŽูŠูุณูŽุฑู‘ูุจูู‡ูู†ู‘ูŽ ุฅูู„ูŽูŠู‘ูŽ ููŽูŠูŽู„ู’ุนูŽุจู’ู†ูŽ ู…ูŽุนููŠ

          Aku bermain dengan boneka di sisi Nabi ๏ทบ, saat itu  ada kawan-kawanku yang bermain bersamaku, jika Rasulullah ๏ทบ masuk mereka bersembunyi, lalu Rasulullah ๏ทบ mengambilkannya untukku lalu merka bermain denganku. (HR. Muttafaq โ€˜Alaih)

  2โƒฃ  Dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, bercerita:

ู‚ูŽุฏูู…ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุบูŽุฒู’ูˆูŽุฉู ุชูŽุจููˆูƒูŽุŒ ุฃูŽูˆู’ ุฎูŽูŠู’ุจูŽุฑูŽ ูˆูŽูููŠ ุณูŽู‡ู’ูˆูŽุชูู‡ูŽุง ุณูุชู’ุฑูŒุŒ ููŽู‡ูŽุจู‘ูŽุชู’ ุฑููŠุญูŒ ููŽูƒูŽุดูŽููŽุชู’ ู†ูŽุงุญููŠูŽุฉูŽ ุงู„ุณู‘ูุชู’ุฑู ุนูŽู†ู’ ุจูŽู†ูŽุงุชู ู„ูุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ู„ูุนูŽุจูุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซู…ูŽุง ู‡ูŽุฐูŽุง ูŠูŽุง ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูุŸยป ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ุจูŽู†ูŽุงุชููŠุŒ ูˆูŽุฑูŽุฃูŽู‰ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ููŽุฑูŽุณู‹ุง ู„ูŽู‡ู ุฌูŽู†ูŽุงุญูŽุงู†ู ู…ูู†ู’ ุฑูู‚ูŽุงุนูุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซู…ูŽุง ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุฃูŽุฑูŽู‰ ูˆูŽุณู’ุทูŽู‡ูู†ู‘ูŽุŸยป   ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ููŽุฑูŽุณูŒุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซูˆูŽู…ูŽุง ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูุŸยป ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ุฌูŽู†ูŽุงุญูŽุงู†ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซููŽุฑูŽุณูŒ ู„ูŽู‡ู ุฌูŽู†ูŽุงุญูŽุงู†ูุŸยป ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ุฃูŽู…ูŽุง ุณูŽู…ูุนู’ุชูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู„ูุณูู„ูŽูŠู’ู…ูŽุงู†ูŽ ุฎูŽูŠู’ู„ู‹ุง ู„ูŽู‡ูŽุง ุฃูŽุฌู’ู†ูุญูŽุฉูŒุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ููŽุถูŽุญููƒูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ู†ูŽูˆูŽุงุฌูุฐูŽู‡ู

Rasulullah ๏ทบ pulang dari perang Tabuk atau Khaibar, di kamar โ€˜Aisyah tertutup oleh kain. Lalu ada angin yang bertiup, kain tersebut tersingkap sehingga mainan boneka โ€˜Aisyah terlihat.  Nabi bertanya, โ€œWahai โ€˜Aisyah, ini apa?โ€ โ€˜Aisyah menjawab, โ€œItu mainan aku.โ€ Lalu beliau melihat di antara boneka itu ada  kuda yang mempunyai dua sayap. Beliau bertanya, โ€œBagian tengah  yang aku lihat di boneka ini apa?โ€ โ€˜Aisyah menjawab, โ€œBoneka kuda.โ€ Beliau bertanya lagi, โ€œLalu yang ada di bagian atasnya itu apa?โ€ โ€˜Aisyah menjawab, โ€œDua sayap.โ€  Nabi  bertanya lagi, โ€œKuda mempunyai dua sayap?!โ€ โ€˜Aisyah menjawab, โ€œApakah Engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang punya banyak sayap?โ€ โ€˜Aisyah berkata, โ€œBeliau lalu tertawa hingga aku dapat melihat gerahamnya.โ€ (HR. Abu Daud no. 4932. Dishahihkan oleh Imam Zainuddin Al โ€˜Iraqi dalam Takhrijul Ihya, 3/1329)

๐Ÿ“• Bagaimana penjelasan ulama?

Syaikh Abdurrahman Al Jazayri berkata:

ูˆู„ู‡ุฐุง ุงุณุชุซู†ู‰ ุจุนุถ ุงู„ู…ุฐุงู‡ุจ ู„ุนุจ ุงู„ุจู†ุงุช “ุงู„ุนุฑุงุฆุณ” ุงู„ุตุบูŠุฑุฉ ุงู„ุฏู…ู‰ุŒ ูุฅู† ุตู†ุนู‡ุง ุฌุงุฆุฒุŒ ูˆูƒุฐู„ูƒ ุจูŠุนู‡ุง ูˆุดุฑุงุคู‡ุง. ู„ุฃู† ุงู„ุบุฑุถ ู…ู† ุฐู„ูƒ ุฅู†ู…ุง ู‡ูˆ ุชุฏุฑูŠุจ ุงู„ุจู†ุงุช ุงู„ุตุบุงุฑ ุนู„ู‰ ุชุฑุจูŠุฉ ุงู„ุฃูˆู„ุงุฏุŒ ูˆู‡ุฐุง ุงู„ุบุฑุถ ูƒุงูู ููŠ ุฅุจุงุญุชู‡ุง. ูˆูƒุฐู„ูƒ ุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ุงู„ุตูˆุฑุฉ ู…ุฑุณูˆู…ุฉ ุนู„ู‰ ุซูˆุจ ู…ูุฑูˆุด ุฃูˆ ุจุณุงุท ุฃูˆ ู…ุฎุฏุฉ ูุฅู†ู‡ุง ุฌุงุฆุฒุฉุŒ ู„ุฃู†ู‡ุง ููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุญุงู„ุฉ ุชูƒูˆู† ู…ู…ุชู‡ู†ุฉ ูุชูƒูˆู† ุจุนูŠุฏุฉ ุงู„ุดุจู‡ ุจุงู„ุฃุตู†ุงู…

Olah karena itu, dikecualikan oleh sebagian madzhab tentang  boneka anak-anak, membuatnya dibolehkan, begitu juga membelinya. Karena tujuan dari itu adalah sebagai pendidikan bagi anak-anak perempuan agar mereka bisa mendidik anak-anak, dan tujuan ini sudah cukup dalam pembolehannya. Begitu juga gambar-gambar yang ada pada pakaian, atau karpet, atau bantal, hal itu boleh. Sebab dalam keadaan ini jauh dari makna penyerupaan dengan patung. (Al Fiqh โ€˜Alal Madzahib Al Arbaโ€™ah, 2/40, Cet. 2, 1324H-2003M. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah. Beirut)

Tertulis dalam Al Mausuโ€™ah:

ููŽูŠูุณู’ุชูŽุซู’ู†ูŽู‰ ู…ูู…ู‘ูŽุง ูŠูŽุญู’ุฑูู…ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุตู‘ููˆูŽุฑู ุตููˆูŽุฑู ู„ูŽุนูุจู ุงู„ู’ุจูŽู†ูŽุงุชู ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ู„ุงูŽ ุชูŽุญู’ุฑูู…ูุŒ ูˆูŽูŠูŽุฌููˆุฒู ุงุณู’ุชูุตู’ู†ูŽุงุนูู‡ูŽุง ูˆูŽุตูู†ู’ุนูู‡ูŽุง ูˆูŽุจูŽูŠู’ุนูู‡ูŽุง ูˆูŽุดูุฑูŽุงุคูู‡ูŽุง ู„ูŽู‡ูู†ู‘ูŽุ› ู„ุฃููŽู†ู‘ูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ูŠูŽุชูŽุฏูŽุฑู‘ูŽุจู’ู†ูŽ ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูุนูŽุงูŠูŽุฉู ุงู„ุฃู’ูŽุทู’ููŽุงู„ุŒ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ุฌูŽูˆูŽุงุฑู ูŠูู„ุงูŽุนูุจู’ู†ูŽู‡ูŽุง ุจูุตููˆูŽุฑู ุงู„ู’ุจูŽู†ูŽุงุชู ุงู„ู’ู…ูŽุตู’ู†ููˆุนูŽุฉู ู…ูู†ู’ ู†ูŽุญู’ูˆู ุฎูŽุดูŽุจูุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุณู’ุชูŽุญููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ูˆูŽูŠูŽุชูŽู‚ูŽู…ู‘ูŽุนู’ู†ูŽุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุดู’ุชูŽุฑููŠู‡ูŽุง ู„ูŽู‡ูŽุง

Dikecualikan dari gambar yang diharamkan adalah gambar boneka anak-anak, itu tidak haram. Boleh minta dibuatkannya, membuatnya, menjualnya, dan membelinya untuk mereka. Karena hal itu bisa melatih mereka untuk mengemong anak-anak. Dahulu โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha memiliki tetangga yang be
rmain dengannya menggunakan boneka yang terbuat dari kayu. Jika mereka melihat Rasulullah ๏ทบ mereka malu dan menyembunyikan bonekaannya, dahulu Nabi ๏ทบ membelikannya untuk โ€˜Aisyah. (Al Mausuโ€™ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 7/75)

Dalam halaman lain juga tertulis:

ุงุณู’ุชูŽุซู’ู†ูŽู‰ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑู ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกู ู…ูู†ู’ ุชูŽุญู’ุฑููŠู…ู ุงู„ุชู‘ูŽุตู’ูˆููŠุฑู ูˆูŽุตูู†ูŽุงุนูŽุฉู ุงู„ุชู‘ูŽู…ูŽุงุซููŠู„ ุตูู†ูŽุงุนูŽุฉูŽ ู„ูุนูŽุจู ุงู„ู’ุจูŽู†ูŽุงุชู. ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจู ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ููƒููŠู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽู†ูŽุงุจูู„ูŽุฉู.

ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ู†ูŽู‚ูŽู„ ุงู„ู’ู‚ูŽุงุถููŠ ุนููŠูŽุงุถูŒ ุฌูŽูˆูŽุงุฒูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑู ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกูุŒ ูˆูŽุชูŽุงุจูŽุนูŽู‡ู ุงู„ู†ู‘ูŽูˆูŽูˆููŠู‘ู ูููŠ ุดูŽุฑู’ุญู ู…ูุณู’ู„ูู…ูุŒ ููŽู‚ูŽุงู„: ูŠูุณู’ุชูŽุซู’ู†ูŽู‰ ู…ูู†ู’ ู…ูŽู†ู’ุนู ุชูŽุตู’ูˆููŠุฑู ู…ูŽุง ู„ูŽู‡ู ุธูู„ู‘ูŒุŒ ูˆูŽู…ูู†ู ุงุชู‘ูุฎูŽุงุฐูู‡ู ู„ูุนูŽุจูŽ ุงู„ู’ุจูŽู†ูŽุงุชูุŒ ู„ูู…ูŽุง ูˆูŽุฑูŽุฏูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฑู‘ูุฎู’ุตูŽุฉู ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ.

ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ูŠูŽุนู’ู†ููŠ ุฌูŽูˆูŽุงุฒูŽู‡ูŽุงุŒ ุณูŽูˆูŽุงุกูŒ ุฃูŽูƒูŽุงู†ูŽุชู ุงู„ู„ู‘ูุนูŽุจู ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽูŠู’ุฆูŽุฉู ุชูู…ู’ุซูŽุงู„ ุฅูู†ู’ุณูŽุงู†ู ุฃูŽูˆู’ ุญูŽูŠูŽูˆูŽุงู†ูุŒ ู…ูุฌูŽุณู‘ูŽู…ูŽุฉู‹ ุฃูŽูˆู’ ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ู…ูุฌูŽุณู‘ูŽู…ูŽุฉูุŒ ูˆูŽุณูŽูˆูŽุงุกูŒ ุฃูŽูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ู†ูŽุธููŠุฑูŒ ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽูˆูŽุงู†ูŽุงุชู ุฃูŽู…ู’ ู„ุงูŽุŒ ูƒูŽููŽุฑูŽุณู ู„ูŽู‡ู ุฌูŽู†ูŽุงุญูŽุงู†ู. ูˆูŽู‚ูŽุฏู ุงุดู’ุชูŽุฑูŽุทูŽ ุงู„ู’ุญูŽู†ูŽุงุจูู„ูŽุฉู ู„ูู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ุฃูŽู†ู’ ุชูŽูƒููˆู†ูŽ ู…ูŽู‚ู’ุทููˆุนูŽุฉูŽ ุงู„ุฑู‘ูุกููˆุณูุŒ ุฃูŽูˆู’ ู†ูŽุงู‚ูุตูŽุฉูŽ ุนูุถู’ูˆู ู„ุงูŽ ุชูŽุจู’ู‚ูŽู‰ ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุฉู ุจูุฏููˆู†ูู‡ู. ูˆูŽุณูŽุงุฆูุฑู ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกู ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽุฏูŽู…ู ุงุดู’ุชูุฑูŽุงุทู ุฐูŽู„ููƒูŽ

Mayoritas ulama mengecualikan dari pengharaman pembuatan gambar dan patung, adalah boneka anak-anak. Inilah pendapat dari Malikiyah, Syafiโ€™iyah, dan Hanabilah. Al Qadhi โ€˜Iyadh telah menukil dari mayoritas ulama atas kebolehannya, dan diikuti oleh Imam An Nawawi dalam Syarh Muslim, kata Beliau: โ€œDikecualikan dari larangan menggambar sesuatu yang memiliki bayangan (tiga dimensi) dan yang dijadikan mainan oleh anak-anak permpuan, karena adanya dalil memberikan rukhshah hal itu.โ€

Maknanya adalah boleh, sama saja apakah mainan dalam wujud patung manusia, atau hewan, baik yang berjasad atau tidak, sama saja apakah dia mirip dengan hewan atau tidak, seperti kuda yang memiliki dua sayap.

Golongan Hanabilah memberikan syarat kebolehannya yaitu hendaknya bagian kepalanya dipotong, atau dicopot salah satu anggota tubuhnya sehingga tidak seperti makhluk hidup. Sementara kebanyakan ulama tidak mensyaratkan seperti itu. (Ibid , 12/111-112)

๐Ÿ“˜ Bagaimana jika Orang Dewasa Yang Main Boneka?

Imam Al Qurthubi Rahimahullah berkata:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกู: ูˆูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูู„ุถู‘ูŽุฑููˆุฑูŽุฉู ุฅูู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽุญูŽุงุฌูŽุฉู ุงู„ู’ุจูŽู†ูŽุงุชู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุชูŽุฏูŽุฑู‘ูŽุจู’ู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุชูŽุฑู’ุจููŠูŽุฉู ุฃูŽูˆู’ู„ูŽุงุฏูู‡ูู†ู‘ูŽ. ุซูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ุจูŽู‚ูŽุงุกูŽ ู„ูุฐูŽู„ููƒูŽุŒ ูˆูŽูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ู…ูŽุง ูŠูุตู’ู†ูŽุนู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุญูŽู„ูŽุงูˆูŽุฉู ุฃูŽูˆู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุฌููŠู†ู ู„ูŽุง ุจูŽู‚ูŽุงุกูŽ ู„ูŽู‡ูุŒ ููŽุฑูุฎู‘ูุตูŽ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽุŒ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู

Berkata para ulama: Hal itu untuk kepentingan mendesak dan kebutuhan bagi anak-anak perempuan sampai mereka terlatih dalam mendidik anak-anak. NAMUN HAL ITU TIDAK BOLEH TERUS MENERUS.  Begitu pula pembuatan permen, atau adonan, juga tidak terus menerus. Itu diberikan keringanan (buat anak-anak). Wallahu Aโ€™lam. (Tafsir Al Qurthubi, 14/275)

Syaikh Ali Ash Shabuni berkata:

Juga dikecualikan mainan (boneka) anak perempuan (laโ€™ibul banaat). Telah ada berita yang pasti dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha  bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam menikahinya saat usianya baru tujuh tahun, lalu ia membawa โ€˜Aisyah ke rumahnya saat โ€˜Aisyah berusia sembilan tahun, dan saat itu ia masih bersama bonekanya. Rasulullah wafat saat usianya baru delapan belas tahun. (HR. Muslim, lihat juga Jamโ€™ul Fawaaid)

                Dari โ€˜Aisyah dia berkata, โ€œAku bermain bersama anak-anak perempuan di dekat Nabi Shalallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, saat itu aku memiliki sahabat yang bermain bersamaku, jika beliau Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam masuk ke rumah, sahabat-sahabatku malu kepadanya dan pergi, lalu beliau memangil mereka dan mendatangkan mereka untukku agar  bermain bersamaku lagi.โ€

                Berkata para ulama: Sesungguhnya dibolehkannya boneka anak-anak karena adanya kebutuhan terhadapnya, yaitu kebutuhan anak perempuan agar ia terlatih dalam mengasuh anak-anak,  NAMUN TIDAK BOLEH TERUS MENERUS sebab dibolehkannya karena adanya kebutuhan tadi. Serupa dengan ini adalah bentuk yang terbuat dari permen dan adonan kue. Ini adalah keringanan (dispensasi) dalam masalah ini.  (Rawaโ€™i Al Bayan, 2/337)

Apa yang dikatakan Imam Al Qurthubi dan Syaikh Ali
Shabuni (dihuruf kapital), menunjukkan bahwa tidak dibenarkan bagi orang dewasa, sebab tidak kebutuhan sebagaimana oendidikan bagi anak-anak.
Demikian. Wallahu A’lam

๐Ÿƒ๐ŸŒด๐ŸŒป๐ŸŒบโ˜˜๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒพ

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (11) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

๐Ÿ“† Selasa,  20 Jumadil Akhir 1437H / 29 Maret 2016

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šHadits ke 11:

Al Hafizh Ibnu Hajar menambahkan:

ูˆูŽู„ูุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู “ุงูŽู„ุณู‘ูู†ูŽู†ู”: – ุงูุบู’ุชูŽุณูŽู„ูŽ ุจูŽุนู’ุถู ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌู ุงูŽู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ูููŠ ุฌูŽูู’ู†ูŽุฉู, ููŽุฌูŽุงุกูŽ ู„ููŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง, ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู„ูŽู‡ู: ุฅูู†ู‘ููŠ ูƒูู†ู’ุชู ุฌูู†ูุจู‹ุง, ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: “ุฅูู†ู‘ูŽ ุงูŽู„ู’ู…ูŽุงุกูŽ ู„ูŽุง ูŠูุฌู’ู†ูุจู” – ูˆูŽุตูŽุญู‘ูŽุญูŽู‡ู ุงูŽู„ุชู‘ูุฑู’ู…ูุฐููŠู‘ู, ูˆูŽุงุจู’ู†ู ุฎูุฒูŽูŠู’ู…ูŽุฉูŽ

๐Ÿ“ŒDan diriwayatkan oleh para penyusun kitab Sunan: โ€œSebagian istri Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mandi di bak yang besar, maka Beliau datang untuk mandi memakai air darinya, lalu berkatalah istrinya kepadanya: โ€œSaya sedang junub.โ€ Lalu Beliau bersabda: โ€œSesungguhnya air tidaklah junub.โ€ Dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.

๐Ÿ“šTakhrij Hadits:

๐Ÿ”น-          Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 65

๐Ÿ”น-          Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 68

๐Ÿ”น-          Imam Ibnu Majah dalam Sunannya No. 370

๐Ÿ”น-          Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 859

๐Ÿ”น-          Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya No. 1248

๐Ÿ”น-          Imam  Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 355

๐Ÿ“šStatus Hadits:

๐Ÿ”น-          Imam At Tirmidzi berkata: hasan shahih.(Sunan At Tirmidzi No. 65)

๐Ÿ”น-          Imam As Suyuthi mengatakan: shahih.(Al Jamiโ€™ Ash Shaghir No. 2097)

๐Ÿ”น-          Syaikh Al Albani juga menshahihkannya. (Shahihul Jamiโ€™ No. 1927)

๐Ÿ“šKandungan hadits:

๐Ÿ“‹1โƒฃ .       Ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan:

a.       Ashhabus Sunan, Al Hafizh menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ashhabus Sunan. Siapakah Ashhabus Sunan? Yaitu para pengarang kitab As Sunan, seperti Imam At Tirmidzi dengan Sunan At Tirmidzi (kadang juga disebut Jamiโ€™ At Tirmidzi), Imam Abu Daud dengan Sunan Abi Daud, Imam Ibnu Majah dengan Sunan Ibni Majah, dan Imam An Nasaโ€™i dengan Sunan An Nasaโ€™i. Inilah yang terkenal, walau kitab sunan masih ada lagi selain mereka.

b.      Jafnah, apa arti Jafnah?

Syaikh Abul โ€˜Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah berkata:

ุจูุชุญ ุงู„ุฌูŠู… ูˆุณูƒูˆู† ุงู„ูุงุก ุฃูŠ ู‚ุตุนุฉ ูƒุจูŠุฑุฉ ูˆุฌู…ุนู‡  ุฌูุงู†

๐Ÿ“ŒDengan jim difathahkan dan fa disukunkan artinya adalah wadah yang besar dan jamaknya adalah jifaan.  (Tuhfah Al Ahwadzi, 1/167)

๐Ÿ“‹2โƒฃ .       Hadits ini menegaskan kebolehan bagi laki-laki (suami) untuk bersuci dengan air yang sudah digunakan mandi oleh wanita (istri), walau si istri dalam keadaan junub.

Imam Ash Shanโ€™ani Rahimahullah mengatakan:

ูˆุฃู†ู‡ ูŠุฌูˆุฒ ุบุณู„ ุงู„ุฑุฌู„ ุจูุถู„ ุงู„ู…ุฑุฃุฉุŒ ูˆูŠู‚ุงุณ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุนูƒุณ ู„ู…ุณุงูˆุงุชู‡ ู„ู‡ุŒ ูˆููŠ ุงู„ุฃู…ุฑูŠู† ุฎู„ุงูุŒ ูˆุงู„ุฃุธู‡ุฑ ุฌูˆุงุฒ ุงู„ุฃู…ุฑูŠู†ุŒ ูˆุฃู† ุงู„ู†ู‡ูŠ ู…ุญู…ูˆู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุชู†ุฒูŠู‡.

๐Ÿ“ŒSesungguhnya dibolehkan seorang laki-laki mandi dengan air sisa wanita, dan qiyaskan kebalikannya karena adanya kesamaan, dan dua hal ini merupakan hal yang diperselisihkan, namun yang lebih benar adalah dua hal  ini dibenarkan, sedangkan larangannya menunjukkan tanzih[2] saja.(Subulus Salam, 1/22)

Bagaimana memadukan antara hadits ini dan semisalnya โ€“yang jelas-jelas membolehkan- dengan hadits lain yang menunjukkan bahwa justru Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang melakukannya?

Berikut ini ulasan Syaikh Abul โ€˜Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah:

 ู‡ูŽุฐูŽุง ูŠูŽุฏูู„ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ุงู„ุชู‘ูŽุทูŽู‡ู‘ูุฑู ุจูููŽุถู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ูˆูŽุญูŽุฏููŠุซู ุงู„ู’ุญูŽูƒูŽู…ู ุจู’ู†ู ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุงู„ู’ุบูููŽุงุฑููŠู‘ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุชูŽู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุจูŽุงุจู ุงู„ู’ู…ูุชูŽู‚ูŽุฏู‘ูู…ู ูŠูŽุฏูู„ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠู ุนูŽู†ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุŒ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฌูู…ูุนูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ุจูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠูŽ ู…ูŽุญู’ู…ููˆู„ูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ุชูŽุณูŽุงู‚ูŽุทูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฃูŽุนู’ุถูŽุงุกู ู„ููƒูŽูˆู’ู†ูู‡ู ู‚ูŽุฏู’ ุตูŽุงุฑูŽ ู…ูุณู’ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ู‹ุง ูˆูŽุงู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ุจูŽู‚ููŠูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ูˆูŽุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ุฌูŽู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจููŠู‘ู ุŒ ูˆูŽุจูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠูŽ ู…ูŽุญู’ู…ููˆู„ูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุชู‘ูŽู†ู’ุฒููŠู‡ู ุจูู‚ูŽุฑููŠู†ูŽุฉู ุฃูŽุญูŽุงุฏููŠุซู ุงู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ู‚ููŠู„ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู„ูŽ ุจูŽุนู’ุถู ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ูƒูู†ู’ุช ุฌูู†ูุจู‹ุง ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฅูุฑูŽุงุฏูŽุชูู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽูˆูŽุถู‘ูุคูŽ ุจูููŽุถู’ู„ูู‡ูŽุง ูŠูŽุฏูู„ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูุชูŽู‚ูŽุฏู‘ูู…ู‹ุง ููŽุญูŽุฏููŠุซู ุงู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ู†ูŽุงุณูุฎูŒ ู„ูุญูŽุฏููŠุซู ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠู ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู .

๐Ÿ“ŒHadits ini menunjukkan kebolehan bagi laki-laki bersuci dengan air sisa kaum wanita, sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Al Hakam bin Amru Al Ghifari pada pembahasan Bab sebelumnya justru menunjukkan larangannya. Keduanya telah dipadukan bahwasanya larangan tersebut dimaknai sebagai air yang menetes dari anggota badan sehingga membuat air tersebut menjadi mustaโ€™mal, sedangkan kebolehannya adalah pada air yang tersisa. Itulah kompromi yang dilakukan oleh Imam Al Khathabi, dengan memaknai bahwa larangan itu hanya bersifat tanzih semata, hal ini ditunjukkan oleh hadits-hadits yang membolehkannya. Ada juga yang mengatakan bahwa ucapan sebagian istri Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam ketika Beliau hendak berwudhu dengan air sisa mereka, menunjukkan bahwa larangan tersebut adalah telah lalu, sedangkan hadits yang membolehkan telah menghapus hadits yang melarang. Wallahu Taโ€™ala Aโ€™lam (Tuhfah Al Ahwadzi, 1/167)

Selesai. Wallahu Aโ€™lam
ใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐ
[1] Tahnik adalah memasukkan kurma yang telah dilembutkan ke dalam mulut bayi, di bagian langit-langitnya, dilakukan tidak lama setelah lahirnya bayi.

[2] Tanzih adalah makruh yang mendekati boleh.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (10) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

๐Ÿ“† Selasa,  13 Jumadil Akhir 1437H / 22 Maret 2016

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šHadits ke 10:

ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุงูุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง; – ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงูŽู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ุจูููŽุถู’ู„ู ู…ูŽูŠู’ู…ููˆู†ูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง – ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽู‡ู ู…ูุณู’ู„ูู…ูŒ

๐Ÿ“ŒDari Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma; bahwasanya Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mandi dengan memakai air sisa Maimunah Radhiallahu โ€˜Anha. Dikeluarkan oleh Muslim

๐Ÿ“šTakhrij Hadits:

-๐Ÿ”น          Imam Muslim dalam Shahihnya No.  323

-๐Ÿ”น          Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 3465

-๐Ÿ”น          Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Ash Shaghir No.  141,  juga As Sunan Ash Shughra No. 191, juga As Sunan Al Kubra No. 857

-๐Ÿ”น         Imam Ath Thabarani dalam Al Muโ€™jam Al Kabir No. 1033

-๐Ÿ”น         Imam Ad Daruquthni dalam Sunannya, 1/53

-๐Ÿ”น         Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya No. 108

-๐Ÿ”น          Imam Abu โ€˜Uwanah dalam Musnadnya No. 808

-๐Ÿ”น          Imam Al Bazzar dalam Musnadnya No. 5261

-๐Ÿ”น          Imam Abdurrazzaq dalam Al MushannafNo. 1037

๐Ÿ“šStatus Hadits:

                Hadits ini shahih, dimasukkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, dan lain-lain. Shahih Muslim adalah kitab paling shahih setelah Shahih Bukhari.

                Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

ุฃูˆู„ ู…ุตู†ู ููŠ ุงู„ุตุญูŠุญ ุงู„ู…ุฌุฑุฏุŒ ุตุญูŠุญ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠุŒ ุซู… ู…ุณู„ู…ุŒ ูˆู‡ู…ุง ุฃุตุญ ุงู„ูƒุชุจ ุจุนุฏ ุงู„ู‚ุฑุขู†ุŒ ูˆุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ุฃุตุญู‡ู…ุง ูˆุฃูƒุซุฑู‡ู…ุง ููˆุงุฆุฏุŒ ูˆู‚ูŠู„ ู…ุณู„ู… ุฃุตุญุŒ ูˆุงู„ุตูˆุงุจ ุงู„ุฃูˆู„

       ๐Ÿ“Œ     “Kitab pertama yang paling shahih adalah Shahih Al Bukhari, kemudian Shahih Muslim. Keduanya adalah kitab paling shahih setelah Al Quran. Dan Shahih Al Bukhari paling shahih di antara keduanya dan paling banyak manfaatnya. Ada yang mengatakan Shahih Muslim paling shahih, tapi yang benar adalah yang pertama.” (Imam An Nawawi, At Taqrib wat Taisir, Hal. 1. Mawqi’ Ruh Al Islam)

๐Ÿ“šKandungan Hadits:

                Ada beberapa hal yang bisa diambil maknanya dari hadits ini:

๐Ÿ“‹1โƒฃ .       Hadits ini dari Ibnu Abbas, yakni Abdullah bin Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma, siapakah dia?

Abdullah bin Abbas memiliki kun-yah (gelar) Abu โ€˜Abbas (bapaknya Abbas). Namanya adalah  Abdullah, putera Abbas bin Abdul Muthalib.   Beliau dan ayahnya adalah sahabat sekaligus famili  Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. Abbas bin Abdul Muthalib adalah adik dari ayah Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, Abdullah. Maka, โ€˜Abbas bin Abdul Muthalib adalah paman nabi, sedangkan Abdullah bin โ€˜Abbas adalah sepupu nabi. Jadi, ayah beliau bernama โ€˜Abbas, anaknya juga bernama โ€˜Abbas.

                Imam Ibnul Atsir Rahimahullah mengatakan:
                โ€œAbdullah bin โ€˜Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf, Abul Abbas Al Qursyi Al Hasyimi. Dia adalah anak dari paman Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, diberikan kun-yah (gelar panggilan) dengan nama anaknya Al โ€˜Abbas,   sebagai anaknya yang paling besar, dan ibunya bernama Lubabah Al Kubra binti Al Harits bin Khuznul Al Hilaliyah.

                Abdullah bin Abbas juga dinamakan Al Bahr (samudera) karena ilmunya yang luas, dia juga dinamakan Hibrul Ummah (tintanya umat). Dia dilahirkan di celah bukit di Mekkah tiga tahun sebelum hijrah, Beliau di-tahnik[1]oleh Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. (Usadul Ghabah, Hal. 630)

                Imam Adz Dzahabi Rahimahullah menyebutnya dengan istilah Al Bahr(Samudera), Hibrul Ummah (tintanya umat),Faqihul โ€˜Ashr (ahli fiqih zamannya), dan  Imamut Tafsir (imam ahli tafsir).

                Beliau mengambalih hadits secara baik dari Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, juga meriwayatkan dari Umar, Ali, Muadz, ayahnya, Abdurrahman bin Auf, Abu Sufyan Sakhr bin Harb, Abu Dzar, Ubay bin Kaโ€™ab, Zaid bin Tsabit, dan lainnya. Beliau membacakan Al Quran di hadapan Ubay dan Zaid (karena Ubay dan Zaid di antara sahabat nabi yang menulis wahyu Allah Taโ€™ala, pen).

                Sederetan nama beken dari kalangan tabiโ€™in senior telah menjadi muridnya, seperti Urwah bin Zubeir, Said bin Jubeir, Ikrimah, Abu Asy Syaโ€™tsa Jabir, Mujahid bin Jabr, Al Qasim bin Muhammad, Abu Rajaโ€™ Al โ€˜Atharidi, Abul โ€˜Aliyah, โ€˜Atha bin Yasar, โ€˜Atha bin Abi Rabah, Asy Syaโ€™bi, Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin,  Muhammad bin Kaโ€™ab Al Qurzhi, Syahr bin Hausyab, Ibnu Abi Malikah, Amru bin Dinar, Dhahak bin Muzahim, Ismail As Suddi, dan lainnya.

                Beliau memiliki beberapa anak, paling tua adalah Al Abbas, paling kecil Ali Abu Al Khulafaโ€™. D antara mereka ada Al Fadhl, Muhammad, Ubaidullah, Lubabah, dan Asmaโ€™.

                Ketika Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam wafat, usia beliau adalah  10 tahun, ada juga riwayat yang menyebut 13 tahun, ada juga yang menyebut 15 tahun. (Siyar Aโ€™lam An Nubala, 3/331-335)

                Menurut Ali bin Al Madini,  Ibnu Abbas wafat pada tahu 68 atau 67 Hijriyah. Sementara Al Waqidi, Al Haitsam, dan Abu Nuโ€™aim mengatakan: tahun 68. Disebutkan bahwa Beliau hidup selama 71 tahun.  (Ibid, 3/359)

                 Abdullah bin โ€˜Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma memiliki banyak keutamaan dan pujian untuknya. Diantaranya sebagai berikut:

                 Beliau mengatakan:

ุฏูŽุนูŽุง ู„ููŠ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุคู’ุชููŠูŽู†ููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู’ุญููƒู’ู…ูŽุฉูŽ ู…ูŽุฑู‘ูŽุชูŽูŠู’ู†ู

๐Ÿ“Œ                Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mendoakan untukku sebanyak dua kali, agar Allah memberikanku hikmah (ilmu). (HR. At Tirmidzi No. 3823, katanya: hasan gharib. Syaikh Al Albani menshahihkannya. LihatRaudh An Nadhir No. 395, Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 3823)

                Ibnu โ€˜Abbas mengatakan, ketika Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam berada di rumah Maimunah, dia membawa air wudhu buat nabi, lalu berkata kepada nabi: โ€œAbdullah bin Abbas telah menyediakan air wudhu untukmu.โ€ Lalu Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุงู„ู„ู‡ู… ูู‚ู‡ู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ูˆ ุนู„ู…ู‡ ุงู„ุชุฃูˆูŠู„

             

๐Ÿ“ŒYa Allah, fahamkanlah agama baginya, dan ajarkanlah ia taโ€™wil. (HR. Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 6280, katanya: shahih, dan Bukhari-Muslim tidak meriwayatkannya. Imam Adz Dzahabi menyepakati keshahihannya. Ath Thabarani dalam Al Muโ€™jam Al Kabir No. 10587, Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar No. 2159)

                Sementara dalam riwayat Imam At Tirmidzi yang lain berbunyi: โ€˜Allimhu Al Hikmah – Ajarkanlah dia Al Hikmah. (No. 3824, katanya:hasan shahih)

                Ada pun dalam riwayat Imam Al Bukhari, hanya: โ€œAllahumma faqqihhu fiddin โ€“ Ya Allah, fahamkanlah agama baginya. (HR. Bukhari No. 143), juga dalam Kitab Al Fadhail,berbunyi: Allahumma โ€˜allimhu Al kitab โ€“ Ya Allah ajarkanlah dia Al Kitab (Al Quran).

๐Ÿ“‹2โƒฃ .       Hadits ini menunjukkan kebalikan dari hadits sebelumnya, yakni bolehnya suami menggunakan air bekas mandi istrinya, atau sebaliknya.  Sebab, dengan jelas bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam sendiri   memakai air   sisa yang dipakai istrinya. Kenyataan ini menguatkan apa yang dikatakan oleh para ulama, bahwa larangan yang ada pada hadits sebelumnya bukanlah larangan yang menunjukkan haram atau makruh, tetapi larangan untuk mendidik dan membimbing suami istri.

Inilah pandangan mayoritas ulama, bolehnya seorang suami bersuci memakai air bekas istrinya atau sebaliknya, secara bergantian.

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata:

ูˆุฃู…ุง ุชุทู‡ูŠุฑ ุงู„ุฑุฌู„ ูˆุงู„ู…ุฑุฃุฉ ู…ู† ุฅู†ุงุก ูˆุงุญุฏ ูู‡ูˆ ุฌุงุฆุฒ ุจุฅุฌู…ุงุน ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ู„ู‡ุฐู‡ ุงู„ุงุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุชูŠ ููŠ ุงู„ุจุงุจ ูˆุฃู…ุง ุชุทู‡ูŠุฑ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุจูุถู„ ุงู„ุฑุฌู„ ูุฌุงุฆุฒ ุจุงู„ุงุฌู…ุงุน ุฃูŠุถุงูˆุฃู…ุง ุชุทู‡ูŠุฑ ุงู„ุฑุฌู„ ุจูุถู„ู‡ุง ูู‡ูˆ ุฌุงุฆุฒ ุนู†ุฏู†ุง ูˆุนู†ุฏ ู…ุงู„ูƒ ูˆุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ ูˆุฌู…ุงู‡ูŠุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก

๐Ÿ“ŒAda pun seorang laki-laki (suami) dan wanita (istri) bersuci dari bejana yang sama, maka itu boleh berdasarkan ijmaโ€™ kaum muslimin karena adanya hadits-hadits dalam bab ini. Ada pun bersucinya wanita dengan menggunakan sisa air laki-laki adalah boleh berdasarkan ijmaโ€™ juga. Ada pun bersucinya laki-laki dengan air sisa wanita, maka itu boleh menurut kami (Syafiโ€™iyah), Malik, Abu Hanifah, dan mayoritas ulama. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 4/2)

Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal, Imam Daud Azh Zhahiri, mengatakan hal itu terlarang, begitu juga menurut sebagian tabiโ€™in seperti Abdullah bin Sarjis dan Al Hasan Al Bashri.  Sedangkan Imam Saโ€™d bin Al Musayyib memakruhkannya. (Ibid)

Lalu, Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

ูˆุงู„ู…ุฎุชุงุฑ ู…ุง ู‚ุงู„ู‡ ุงู„ุฌู…ุงู‡ูŠุฑ ู„ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุตุญูŠุญู‡ ููŠ ุชุทู‡ูŠุฑู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ู…ุน ุฃุฒูˆุงุฌู‡ ูˆูƒู„ ูˆุงุญุฏ ู…ู†ู‡ู…ุง ูŠุณุชุนู…ู„ ูุถู„ ุตุงุญุจู‡

๐Ÿ“ŒPendapat yang dipilih adalah apa yang dikatakan oleh mayoritas ulama, karena hadits-haditsnya yang shahih menunjukkan bersucinya Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersama istri-istrinya, keduanya masing-masing menggunakan sisa yang lainnya. (Ibid, 4/3)

Pernyataan Imam An Nawawi bahwa telah terjadi ijmaโ€™ kebolehan wanita bersuci dengan air bekas suaminya telah dikritik ulama lain. Sebab, pada kenyataannya telah terjadi pendapat juga sebagaimana perbedaan pendapat tentang laki-laki yang bersuci dengan air bekas istrinya.

Berikut ini penjelasan Syaikh Abul โ€˜Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah:

 ู‚ูู„ู’ุช ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ูุงุฎู’ุชูู„ูŽุงูู ูููŠ ุชูŽุทู’ู‡ููŠุฑู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุจูููŽุถู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุชูŽุทู’ู‡ููŠุฑู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ุจูููŽุถู’ู„ู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽูˆูŽูˆููŠู‘ู ุฌูŽุงุฆูุฒูŒ ุจูุงู„ู’ุฅูุฌู’ู…ูŽุงุนู ุŒ ูˆูŽุชูŽุนูŽู‚ู‘ูŽุจูŽู‡ู ุงู„ู’ุญูŽุงููุธู ุจูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ุทู‘ูŽุญูŽุงูˆููŠู‘ูŽ ู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุซู’ุจูŽุชูŽ ูููŠู‡ู ุงู„ู’ุฎูู„ูŽุงููŽ

๐Ÿ“ŒAku berkata: inilah perbedaan pendapat tentang bersucinya laki-laki dengan air bekas wanita. Ada pun bersucinya wanita dengan air bekas laki-laki Imam An Nawawi mengatakan boleh menurut ijmaโ€™. Hal ini telah dikomentari oleh Al Hafizh (Ibnu Hajar) dengan pernyataan Ath Thahawi bahwa telah pasti adanya perbedaan pendapat di dalamnya. (Tuhfah Al Ahwadzi, 1/168)

Namun demikian umumnya para ulama memang memberikan keringanan atas kebolehan kaum laki-laki bersuci dengan air bekas istrinya, sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Berikut ini keterangannya:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงูุจู’ู†ู ุชูŽูŠู’ู…ููŠู‘ูŽุฉูŽ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูู†ู’ุชูŽู‚ูŽู‰ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฑู‘ูุฎู’ุตูŽุฉู ู„ูู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ู…ูู†ู’ ููŽุถู’ู„ู ุทูŽู‡ููˆุฑู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู

๐Ÿ“ŒBerkata Ibnu Taimiyah dalam Al Muntaqa, bahwa mayoritas ulama memberikan keringanan bolehnya bagi laki-laki menggunakan air bekas bersucinya wanita.(Ibid)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (9) – Bab Al Miyah (Tentang Air) (Bag.1)

๐Ÿ“† Selasa,  6 Jumadil Akhir 1437H / 15 Maret 2016
๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits
๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ 
๐Ÿ“šHadits ke 9:
ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุฑูŽุฌูู„ู ุตูŽุญูุจูŽ ุงูŽู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ู‚ูŽุงู„ูŽ: – ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ู – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – “ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุบู’ุชูŽุณูู„ูŽ ุงูŽู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ุจูููŽุถู’ู„ู ุงูŽู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู, ุฃูŽูˆู’ ุงูŽู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุจูููŽุถู’ู„ู ุงูŽู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู, ูˆูŽู„ู’ูŠูŽุบู’ุชูŽุฑูููŽุง ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง – ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽู‡ู ุฃูŽุจููˆ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ. ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุณูŽุงุฆููŠู‘ู, ูˆูŽุฅูุณู’ู†ูŽุงุฏูู‡ู ุตูŽุญููŠุญูŒ
๐Ÿ“Œ                Dari seorang laki-laki, sahabat NabiShallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, dia berkata: โ€œRasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang seorang wanita mandi dengan air  sisa yang dipakai laki-laki, atau seorang laki-laki terhadap air sisa yang dipakai wanita, dan hendaknya mereka menyiduk air bersama-sama.โ€ Dikeluarkan oleh Abu Daud, An Nasaโ€™i, dan isnadnya shahih.
๐Ÿ“šTakhrij Hadits:
-๐Ÿ”น          Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 81, dan ini adalah lafaz beliau
-๐Ÿ”น          Imam An Nasaโ€™i dalam Sunannya No. 238
-๐Ÿ”น          Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 23132
-๐Ÿ”น          Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 869
๐Ÿ“šStatus Hadits:
-๐Ÿ”น          Imam Ibnu Hajar mengatakan dalam kitab ini: shahih.
-๐Ÿ”น          Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: isnadnya shahih. (Taโ€™liq Musnad AhmadNo. 23132)
-๐Ÿ”น          Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. (Shahih wa Dhaif  Sunan At Tirmidzi No. 238)
๐Ÿ“šKandungan Global hadits ini:
                Hadits ini memiliki beberapa  pelajaran:
๐Ÿ“‹1โƒฃ .       Hadits ini diriwayatkan dari seorang sahabat nabi yang tidak disebutkan siapa dia?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah mengatakan:
ูˆู‡ูˆ ู…ุฌู‡ูˆู„ ู„ูƒู† ุฌู‡ุงู„ุฉ ุงู„ุตุญุงุจูŠ ู„ุง ุชุถุฑ ู„ุฃู† ุงู„ุตุญุงุจุฉ ูƒู„ู‡ู… ุซู‚ุงุฉ ูƒู„ู‡ู… ู„ุง ูŠู…ูƒู† ุฃู† ูŠูƒุฐุจ ุนู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…
๐Ÿ“ŒDia tidak diketahui, tetapi tidak diketahuinya identitas seorang sahabat nabi tidaklah mengapa, karena semua sahabat nabi adalah terpercaya, tidak mungkin mereka mendustakan riwayat dari RasulullahShallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. (Asy Syarh Al Mukhtashar โ€˜Ala Bulughil Maram, 2/7)
Lalu, siapakah sahabat nabi ? Telah banyak penjelasan dari para ulama, di antaranya tercatat dalam Al Qamus Al Fiqhiysebagai berikut:
                Imam Al Jurjani Rahimahullahmengatakan:
ู…ู† ุฑุฃู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ูˆุทุงู„ุช ุตุญุจู‡ุŒ ูˆุฅู† ู„ู… ูŠุฑูˆ ุนู†ู‡
๐Ÿ“ŒSiapa saja yang melihat Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dan bersahabat dalam waktu yang lama, walau pun mereka tidak meriwayatkan hadits darinya.  
                Pendapat ahli hadits, mayoritas ahli fiqih baik salaf dan khalaf, dan yang shahih dari Madzhab Syafiโ€™iyah, Hanabilah, dan Ibadhiyah, sahabat nabi adalah:
ู‡ูˆ ูƒู„ ู…ุณู„ู… ุฑุฃู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ุณูˆุงุก ุฌุงู„ุณู‡ุŒ ุฃู… ู„ุง.
๐Ÿ“Œ                Dia adalah setiap muslim yang melihat Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, sama saja apakah dia pernah duduk bersamanya atau tidak.
                Imam Saโ€™id bin Al Musayyib Radhiallahu โ€˜Anhu (menantu Abu Hurairah), menjelaskan:
ู…ู† ุฃู‚ุงู… ู…ุน ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุณู†ุฉุŒ ูุตุงุนุฏุงุŒ ุฃูˆ ุบุฒุง ู…ุนู‡ ุบุฒูˆุฉ.
๐Ÿ“ŒSiapa saja yang menetap bersama Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam selama setahun atau lebih atau berperang bersamanya dalam sebuah peperangan. 
Menurut madzhab Malikiyah:
ู…ู† ุงุฌุชู…ุน ุจุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠ ุญูŠุงุชู‡ุŒ ู…ุคู…ู†ุง ุจู‡ุŒ ูˆู…ุงุช ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ.
๐Ÿ“ŒSiapa saja yang berkumpul bersama Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dalam hidupnya, dia mengimaninya, dan mati dalam keadaan demikian.
Sebagian ahli ushul mengatakan:
ู…ู† ู„ู‚ูŠ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ุณู„ู…ุงุŒ ูˆู…ุงุช ุนู„ู‰ ุงู„ุงุณู„ุงู…ุŒ ุฃูˆ ู‚ุจู„ ุงู„ู†ุจูˆุฉ ูˆู…ุงุช ู‚ุจู„ู‡ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุญู†ููŠุฉุŒ ูƒุฒูŠุฏ ุจู† ุนู…ุฑูˆ ุจู† ู†ููŠู„ุŒ ุฃูˆ ุงุฑุชุฏ ูˆุนุงุฏ ููŠ ุญูŠุงุชู‡.
๐Ÿ“ŒSiapa saja yang berjumpa NabiShallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam sebagai seorang muslim, dan dia mati dalam Islam, atau dia hidup sebelum masa kenabian dan mati sebelum masa kenabian dalam keadaan agama yang hanif, seperti Zaid bin Amru bin Nufail, atau orang yang murtad dan kembali kepada Islam pada masa hidupnya (Nabi).(Lihat Syaikh Saโ€™diy Abu Jaib, Al Qamus Al Fiqhiy, Hal. 208. Cet. 2, 1988M. Darul Fikr)
Syaikh โ€˜Athiyah Muhammad Salim menjelaskan:
ู…ู† ุฑุขู‡ ูˆู„ูˆ ู„ุญุธุฉ ูˆู‡ูˆ ู…ุคู…ู† ุจู‡ ูˆู…ุงุช ุนู„ู‰ ุงู„ุฅุณู„ุงู…
๐Ÿ“ŒSiapa saja yang melihatnya walau sesaat dan dia mengimaninya dan dia mati dalam keadaan Islam. (Syarh Bulughul Maram, 7/178)
Sedangkan mayoritas ulama terdahulu dan belakangan mengatakan:
ู‡ูˆ ุฃู† ุงู„ุตุญุงุจูŠ ู…ู† ู„ู‚ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ุคู…ู†ุง ุจู‡ ูˆู…ุงุช ุนู„ู‰ ุงู„ุงุณู„ุงู…
๐Ÿ“ŒSahabat nabi adalah siapa saja yang berjumpa dengan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam yang mengimaninya dan dia mati dalam keadaan Islam. (Imam Al โ€˜Ijliy, Maโ€™rifah Ats Tsiqat, hal. 95. Cet. 1, 1985M-1405H. Maktabah Ad Dar)
Dan inilah definisi yang anggap kuat oleh Al Hafizh Ibnu Hajar. (Al Ishabah fi Tamyizish Shahabah, 1/7)
๐Ÿ“‹2โƒฃ .       Dalam hadits ini terdapat larangan bagi kaum laki-laki (suami) untuk mandi dengan berendam menggunakan air sisa kaum wanita (istri), dan sebaliknya.   Tetapi, menurut sebagian ulama larangan ini adalah untuk pendidikan saja, bukan menunjukkan haram. Melainkan sebagai bimbingan kepada suami istri agar lebih melahirkan keakraban di antara mereka berdua.
Berikut ini keterangannya:
ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… -ู†ู‡ู‰ ุฃู† ูŠุบุชุณู„ ุงู„ุฑุฌู„ ุจูุถู„ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุฃูˆ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุจูุถู„ ุงู„ุฑุฌู„ ูˆู„ูŠุบุชุฑูุง ุฌู…ูŠุนุง ู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ุฃูุถู„ ูˆุงู„ู…ุดุฑูˆุน ูŠุนู†ูŠ ู…ุซู„ุง ุฑุฌู„ ูˆุฒูˆุฌุชู‡ ุนู†ุฏู‡ู…ุง ุฅู†ุงุก ูŠู…ูƒู† ุฃู† ูŠุบุชุณู„ ุงู„ุฑุฌู„ ู‚ุจู„ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุซู… ุชุฃุชูŠ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ูุชุบุชุณู„ ุฃูˆ ุชุบุชุณู„ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุซู… ูŠุฃุชูŠ ุงู„ุฑุฌู„ ููŠุบุชุณู„ ูู†ู‡ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ู†ู‡ูŠ ุฅุฑุดุงุฏ ู„ุง ู†ู‡ูŠ ุชุญุฑูŠู… ูˆุฃู…ุฑ ุจุญุงู„ ุฃูุถู„ ู…ู† ู‡ุงุชูŠู† ุงู„ุญุงู„ุชูŠู† ูˆู‡ู‰ ุฃู† ูŠุบุชุฑูุง ุฌู…ูŠุนุง ููŠุฌู„ุณ ุงู„ุฑุฌู„ ุฅู„ู‰ ุฌุงู†ุจ ุงู„ุฅู†ุงุก ูˆุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุฅู„ูŠ ุงู„ุฌุงู†ุจ ุงู„ุฃุฎุฑ ู„ุฃู† ู‡ุฐุง ุฃูˆูุฑ ู„ู„ู…ุงุก ูˆุฃุฌู…ุน ู„ู„ู‚ู„ุจ ูˆุฃุดุฏ ู„ู„ู…ุญุจุฉ ุจูŠู† ุงู„ุฒูˆุฌูŠู† ูˆู„ู‡ุฐุง ุฃุฑุดุฏ ุงู„ู†ุจูŠ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… -ุฅู„ู‰ ุฐู„ูƒ
๐Ÿ“ŒBahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang seorang suami mandi dengan bekas air istrinya, atau seorang istri memakai sisa air laki-laki, dan hendaknya mereka berdua menyiduk air bersama-sama. Inilah yang lebih utama yakni dan disyariatkan, yakni misalnya seorang suami dan istrinya  yang memiliki   sebuah bejana yang memungkinkan suami mandi dulu sebelum istrinya, kemudian datang istrinya lalu dia mandi, atau si istri mandi duluan kemudian datang suaminya lalu dia mandi, maka larangan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam adalah larangan untuk bimbingan bukan larangan pengharaman, atau Beliau memerintahkan  cara yang lebih utama dibanding dua cara tersebut, yakni dengan menyiduk bersama-sama. Si suami duduk di hadapan bejana dan si istri di sisi lainnya, karena hal ini  bisa mengambil air lebih banyak, menyatukan hati, dan menguatkan cinta di antara suami istri. Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam membimbing ke arah sana.     (Asy Syarh Al Mukhtashar, 2/7)
Ulama lain ada yang memahami bahwa larangan ini adalah benar adanya, tetapi makruh tanzih, sebagaimana penjelasan nanti. Ada pula yang mengatakan bahwa larangan ini adalah larangan menggunakan air bekas yang terjatuh dari anggota badan.
๐Ÿ“‹3โƒฃ .       Al Fadhl secara bahasa artinya lebih. Maka, dalam konteks pembahasan ini, Fadhl adalah air lebih yang berada di dalam wadah (bak, ember, kolam kamar mandi) yang sebelumnya dipakai mandi. Bukan air menetes dari anggota tubuh, kalau itu dinamakan air mustaโ€™mal.
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Bab Larangan Jual Beli Najsyi

๐Ÿ“ Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ 
๐Ÿ“šHadits #1
ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู’ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุจููŠู’ุนูŽ ุญูŽุงุถูุฑูŒ ู„ูุจูŽุงุฏู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุชูŽูŽู†ูŽุงุฌูŽุดููˆู’ุง (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Nabi SAW melarang orang kota menjual kepada orang desa, dan beliau SAW melarang saling melakukan najsyi (yaitu saling meninggikan tawaran harga barang supaya orang lain membeli dengan harga tinggi.โ€™) (HR. Bukhari)
๐Ÿ“šHadits #2
ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุฌู’ุดู (ู…ุชูู‚ ุนู„ูŠู‡)
Dari Ibnu Umar ra berkata, bahwa Nabi SAW melarang jual beli najsyi. (Muttafaqun Alaih)
๐ŸŒทTakhrij Hadits
1. Hadits Pertama, diriwayatkan oleh : 
๐Ÿ”นDiriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyuโ€™ Bab La Yabiโ€™ ala Baiโ€™i Akhihi, hadits no 1996. Juga dalam Kitab As-Syurut, bab Ma La Yajuzu Minas Syurut Fin Nikah, hadits no 2522.
๐Ÿ”น Diriwayatkan juga oleh Imam Nasaโ€™i dalam Sunannya, Kitab Al-Buyuโ€™, bab Saumir Rajuli ala Saumi Akhihi, hadits no 4426. Juga dalam Kitab Al-Buyuโ€™, bab Najsy, hadits no 4430 dan 4431. 
๐Ÿ”นDiriwayatkan juga oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya,  dalam Musnad Abi Hurairah ra, hadits no 7375.
๐ŸŒทTakhrij Hadits
2. Hadits Kedua, diriwayatkan oleh : 
๐Ÿ”นImam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyuโ€™, Bab An-Najsy wa man Qala La Yajuzu Dzalikal Baiโ€™. Hadits no 1998. Juga dalam Kitab Al-Hiyal, Bab Ma Yukhrahu Minat Tanajus, hadits no 6448.
๐Ÿ”น Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyuโ€™, Bab Tahrim baiโ€™ Rajul Ala Baiโ€™i Akhihi, hadits no 2792. 
โ€ข Imam Nasaโ€™i dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu. Bab An-Najsy, hadits no 4429. 
๐Ÿ”น Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab At-Tijarat, Bab Ma Jaโ€™a Fin Nahyi Anin Najs, hadits no 2164. 
๐ŸŒทMakna Umum
Secara umum, hadits ini menggambarkan tentang adanya larangan dalam proses jual beli, yaitu jual beli dengan proses najsyi.
Secara umum baiโ€™ najsyi adalah sebuah proses atau upaya dalam jual beli, dimana si penjual melakukan promosi yang berlebihan dalam memumi-muji barangnya, sehingga menarik minat pembeli untuk membelinya.
Atau bisa juga dalam bentuk si penjual melakukan persekongkolan dengan orang lain, yang berpura-pura menawar barang dagangannya dengan harga tinggi, supaya menipu pembeli sebenarnya, sehingga ia membelinya dengan harga yang tinggi.
Praktek jual beli seperti ini dilarang oleh Rasulullah SAW, karena selain merugikan salah satu pihak (yaitu pembeli), ia juga mengandung unsur tipuan atau promosi yang tidak wajar.
๐ŸŒทMakna Najsyi
Secara bahasa (dikemukakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari), adalah (ุชู†ููŠุฑ ุงู„ุตูŠุฏ) mengejutkan hewan buruan. 
Sedangkan maknanya secara umum adalah : 
Menambahkan sesuatu pada barang dagangan dengan kesepakatan atau persekongkolan sesama penjual atau antara penjual dengan teman-temannya, untuk menjual dengan harga yang tinggi, dan hal tersebut tidak diketahui oleh si pembeli. 
Memuji muji dagangannya sendiri, supaya laris atau supaya memiliki harga yang tinggi.
Bersekongkol dengan temannya yang berpura-pura menawar barang dengan harga tinggi agar orang lain merasa tidak kemalahan, lalu terpengaruh membelinya.
Jadi, unsur-unsur dalam baiโ€™ Najsyi adalah sebagai berikut : 
1โƒฃ. Adanya pengiklanan yang berlebihan, yang melebihi dari objek barang yang sesungguhnya, atau dengan kata lain, ada unsur tipuan dalam periklananannya. 
2โƒฃ. Adanya persekongkolan antara penjual dengan para crew nya, 
3โƒฃ. Adanya penawaran fiktif dari teman persekongkolannya dengan harga tinggi untuk menipu calon pembeli, agar ia juga turut menwar dengan harga yang tinggi juga. 
4โƒฃ. Pengiklanan yang berlebihan tersebut, atau persekongkolan tersebut tidak diketahui oleh pembeli.
Pada Intinya, najsy itu adalah salah satu taktik yang dilakukan oleh penjual untuk melariskan dagangannya melalui reklame yang berlebihan atau melalui taktik penawaran fiktif, agar orang-orang menjadi terkesan lalu membelinya atau menjadi tertipu dalam harganya.
Praktek seperti ini merupakan praktek yang bathil, yang pada initinya dapat menipu pembeli, atau akan terjadi praktek jual beli yang tidak saling ridha (an taradhin).
Sementara salah satu syarat dalam jual beli adalah harus adanya saling ridha antara penjual dan pembeli, yaitu : 
1โƒฃ. Ridha untuk membeli barang dagangan apa adanya
2โƒฃ. Ridha dengan harganya, sesuai dengan harga yang sesungguhnya.
3โƒฃ. Ridha pada proses jual belinya tersebut. 
๐ŸŒทPandangan Ulama
Ibnu Bathal mengemukakan bahwa para ulama sepakat menetapkan bahwa baiโ€™ najsyi merupakan perbuatan maksiat. Dan jual beli yang dilakukan secara najsyi adalah batal menurut madzhab Dzhahiri dan Hambali. 
Sementara Madzhab Maliki berpendapat bahwa jika terjadi baiโ€™ Najsyi, pembeli berhak melakukan khiyar, yaitu berhak membatalkan jual beli tersebut, apabila kemudian ia mengetahui bahwa ia telah tertipu. 
Adapun Ibnu Abi Aufa berkata, bahwa pelaku baiโ€™ Najsyi adalah pemakan riba dan pengkhianat.
Jadi, kesimpulannya bahwa ulama sepakat, jual beli najsyi merupakan perubatan yang buruk dan dilarang oleh syariat dan oleh karenanya haram dilakukan. 
๐ŸŒทHukum Mempromosikan Dagangan
Secara umum, mempromosi kan barang dagangan atau produk tertentu adalah boleh saja, selama dilakukan dengan benar dan jujur serta tidak berlebih-lebihan (tidak bohong dan tidak ada unsur tipuan). 
Adapun apabila iklan dilakukan dengan cara berbohong dan atau berlebihan, sehingga โ€œmenipuโ€ image pembeli, maka hukumnya menjadi haram dan jual belinya menjadi tidak sah.
Oleh karenanya, dalam segala hal yang terkait dengan aspek marketing, hendaknya dilakukan dengan hati-hati, agar jangan sampai mengejar target penjualan tertentu sehingga kita mengorbankan ketaatan terhadap syariat dan hukum Allah SWT. 
Dalam konteks muamalah kontemporer, baiโ€™ najsyi bisa terjadi dalam praktek sebagai berikut : 
๐Ÿ”นTender fiktif, dimana sesama pemasok yang mengikuti tender saling bersekongkol dalam masalah harga, untuk kemudian โ€œmenipuโ€ perusahaan (calon pembeli) sehingga ia membelinya dengan harga yang tinggi.
๐Ÿ”นPenawaran fiktif terhadap objek tertentu, supaya harganya tinggi, sehingga barang tersebut dapat dibeli dengan harga yang tinggi.
๐Ÿ”นPermintaan fiktir terhadap barang tertentu, sehingga pasar meresponnya dengan membeli barang-barang tersebut. Namun setelah para pedagang membelinya, ternyata tidak ada pembeli sesungguhnya di pasaran.
๐ŸŒทBentuk Baiโ€™ Najsyi Dalam Konteks Kekinian
Iklan terhadap suatu produk yang berlebihan, tidak sesuai dengan barang atau produk yang sesungguhnya. Hal ini bisa terjadi dalam produk barang maupun jasa : 
๐Ÿ”บProduk Barang : batu akik, barang-barang seni, barang antik, dengan mengatakan misalnya batu-batuan tersebut bersumber dari barang yang langka. Atau karyawan seni tersebut merupakan karya seni yang bernilai sangat tinggi, dsb.
๐Ÿ”บProduk Jasa : seperti asuransi, saham, yang dilakukan dengan cara promosi berlebihan, menutupi kekurangan dari produk tersebut, yang ditampilkan hanya kebaikan-kebaikan saja .
ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู‰ ูˆุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ
ูˆุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (8) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ 
๐Ÿ“šHadits 8
                Al Hafizh Ibnu Hajar juga menambahkan:
ูˆูŽู„ูุฃูŽุจููŠ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ: – ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ูููŠู‡ู ู…ูู†ู’ ุงูŽู„ู’ุฌูŽู†ูŽุงุจูŽุฉู
๐Ÿ“Œ                Dan pada riwayat Abu Daud: โ€œJanganlah mandi janabah padanya (fiihi).โ€
                Lengkapnya adalah:
ู„ูŽุง ูŠูŽุจููˆู„ูŽู†ู‘ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ุงู„ุฏู‘ูŽุงุฆูู…ู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ูููŠู‡ู ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽุงุจูŽุฉู
๐Ÿ“Œ                Janganlah salah seorang kalian kencing pada air tergenang dan janganlah  mandi janabah padanya.
๐Ÿ“šTakhrij Hadits:
๐Ÿ”น          Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 70
๐Ÿ”น          Imam An Nasaโ€™i dalam Sunannya No. 398
๐Ÿ”น          Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 9596
๐Ÿ”น          Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 285
๐Ÿ”น          Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 1064
๐Ÿ”น          Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya No.  1257
๐Ÿ”น          Imam Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalamKanzul โ€˜Ummal No. 26422
๐Ÿ“šStatus Hadits:
๐Ÿ”น          Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ibnu Hibban, dengan dimasukkannya hadits ini dalam kitab Shahihnya.
๐Ÿ”น          Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad menceritakan bahwa semua perawi hadits ini, adalah jujur dan terpercaya. (Lihat rinciannya dalam Syarh Sunan Abi Daud,  1/286)
๐Ÿ”น          Syaikh Al Albani menilai: hasan shahih. (Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 70)
๐Ÿ“šKandungan hadits:
๐Ÿ“‹1โƒฃ .       Hadits ini sama dengan sebelumnya, yakni larangan kencing di air diam, dan larangan mandi dalam keadaan junub di air diam, atau larangan mandi janabah di air yang telah dikencingi.
๐Ÿ“‹2โƒฃ .       Hikmah dilarangnya mandi di air tergenang adalah karena air tersebut memiliki potensi besar tidak aman dari najis dan kotoran yang berasal dari manusia dan hewan. Biasanya ini terjadi pada air tergenang yang berada di alam terbuka seperti kubangan, empang, kolam ikan, bahkan kolam renang, yang semuanya tidak dialirkan sehingga tidak terganti dengan air yang baru. Maka, maka itulah sebabnya  menjadi terlarang.
โš Namun, sebagaian fuqaha berpandangan lain, bahwa larangan orang junub untuk mandi di air tergenang, disebabkan karena keadaan junub mereka membuat air tersebut menjadi rusak, dan tidak layak dijadikan air untuk mandi dan bersuci; seakan air itu juga menjadi junub karenanya
Al โ€˜Allamah Ibnu At Turkumani Rahimahullah menjelaskan hal tersebut berserta alasannya:
ูุงุณุชุฏู„ ุจู‡ ุจุนุถ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ุนู„ู‰ ุงู† ุงุบุชุณุงู„ ุงู„ุฌู†ุจ ููŠ ุงู„ู…ุงุก ูŠูุณุฏู‡ ู„ูƒูˆู†ู‡ ู…ู‚ุฑูˆู†ุง ุจุงู„ู†ู‡ูŠ ุนู† ุงู„ุจูˆู„ ููŠู‡
๐Ÿ“ŒSebagian ahli fiqih berdalil dengan hadits ini, bahwa mandinya orang junub pada air maka itu bisa merusakkannya, alasannya adalah karena hal ini dibarengi dengan pernyataan larangan kencing di dalamnya. (Al Jauhar An Naqiy, 8/323)
๐Ÿ”‘Jadi, sebagaimana kencing di air yang tergenang bisa merusak air tersebut, maka orang junub yang  nyebur di dalamnya juga bisa merusakannya, oleh karenanya keduanya dilarang dalam hadits ini.
Tetapi, pemahaman ini dipandang lemah dan bertentangan dengan riwayat berikut:
ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุบู’ุชูŽุณูŽู„ูŽ ุจูŽุนู’ุถู ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูููŠ ุฌูŽูู’ู†ูŽุฉู ููŽุฌูŽุงุกูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู„ููŠูŽุชูŽูˆูŽุถู‘ูŽุฃูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ูŠูŽุบู’ุชูŽุณูู„ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู„ูŽู‡ู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ููŠ ูƒูู†ู’ุชู ุฌูู†ูุจู‹ุง ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกูŽ ู„ูŽุง ูŠูุฌู’ู†ูุจู
๐Ÿ“ŒDari Ibnu Abbas, katanya: โ€œSebagian istri Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam mandi dijafnah (bak besar), lalu Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam datang untuk berwudhu dari air tersebut atau dia mandi. Berkatalah isterinya kepadanya: โ€˜Wahai Rasulullah, saya sedang keadaan junub.โ€™ Maka, Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam menjawab; โ€œSesungguhnya air tidaklah junub.โ€ (HR. Abu Daud No. 68, At Tirmidzi No. 65, katanya: hasan shahih. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 859, Ibnu Hibban No. 1248, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 355)
๐Ÿ“‹3โƒฃ .       Adapun air tergenang yang memang berasal dari air tanah yang suci dan bersih, telaga, mata air, sungai,  atau air tadah hujan, lalu semuanya ditampung di bak mandi, tempayan, tangki air, atau ember, yang semuanya pada asalnya adalah suci dan bersih secara meyakinkan. Maka, semua ini โ€“walau termasuk air diam karena memang diwadahkan- adalah boleh dimanfaatkan karena bersih dan sucinya, baik keperluan makan minum, atau bersuci dan mandi. Ini dibenarkan oleh syaraโ€™ selama air tersebut tidak terkena najis yang membuatnya berubah warna, bau, dan rasa (sebagaimana pembahasan pada hadits 1-4), dibenarkan pula oleh โ€˜urf (kebiasaan) yang berlaku pada masyarakat kaum muslimin dari zaman ke zaman tanpa ada yang mengingkarinya. Sebab, air pada wadah-wadah ini jauh dari kemungkinan terkena najis dan kotoran, kecuali memang sengaja dibuat demikian.
Wallahu Aโ€™lam
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (7) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“šHadits 7:

                Al Hafizh Ibnu Hajar menulis;

ูˆูŽู„ูู…ูุณู’ู„ูู…ู: “ู…ูู†ู’ู‡ู”

๐Ÿ“Œ                Pada riwayat Imam Muslim disebutkan: minhu (darinya).

                Lengkapnya adalah:

ู„ูŽุง ุชูŽุจูู„ู’ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ุงู„ุฏู‘ูŽุงุฆูู…ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู„ูŽุง ูŠูŽุฌู’ุฑููŠ ุซูู…ู‘ูŽ ุชูŽุบู’ุชูŽุณูู„ู ู…ูู†ู’ู‡ู

             
๐Ÿ“ŒJanganlah kamu kencing di air  diam yang tidak mengalir, kemudian kamu mandi darinya (minhu).

๐Ÿ“šTakhrij hadits:

-๐Ÿ”น          Imam Muslim dalam Shahihnya No. 282

-๐Ÿ”น          Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 8186

๐Ÿ“šStatus Hadits:

                Hadits ini shahih, disebutkan Imam Muslim dalam kumpulan hadits shahihnya,Jamiโ€™ush Shahih. Asy Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: โ€œShahih sesuai syarat syaikhan(Bukhari dan muslim).โ€ (Taโ€™liq Musnad Ahmad No. 8186)

๐Ÿ“šKandungan Hadits:

๐Ÿ“‹1โƒฃ .       Hadits ini sama dengan hadits sebelumnya mengandung larangan kencing di air tergenang secara tersendiri, atau dia lalu mandi di dalamnya setelah dia kencing di air tersebut.

๐Ÿ“‹2โƒฃ .       Hadits ini menggunakan kata yang berbeda dengan sebelumnya yakni tsumma taghtasiluminhu (kemudian kalian mandi darinya), bukan tsumma yaghtasilu fiihi.

Perbedaan pemakaian fiihi dan minhu, dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah sebagai berikut:

ูˆุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู† ููŠู‡ ูˆู…ู†ู‡ ุฃู† ุงู„ุฐูŠ ูŠุบุชุณู„ ููŠู‡ ูŠุนู†ูŠ ูŠู†ุบู…ุณ ููŠู‡ ูˆู…ู†ู‡ ูŠุนู†ูŠ ูŠุบุชุฑู ู…ู†ู‡ ูˆูŠุบุชุณู„ ุจู‡ ูˆูƒู„ุงู‡ู…ุง ู…ู†ู‡ูŠ ุนู†ู‡

๐Ÿ“Œ                Perbedaan antara fiihi (padanya) dan minhu (darinya) adalah bahwa makna yaghtasilu fiihi (dia mandi padanya) yakni dia menceburkan diri ke dalamnya (berendam), ada pun minhu (darinya) adalah dia menciduknya dan dia mandi dengannya, dan kedua hal ini adalah terlarang. (Asy Syarh Al Mukhtashar โ€˜alal Bulughil Maram, 2/6)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…