wanita yang paling baik

Hukum Wanita Keluar Negeri Tanpa Mahram

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apa Fiqihnya seorang istri pergi ke jerman / negara luar selama 1-2 minggu untuk;

1.Tugas belajar atau course untuk upgrade kapasitas keilmuan penelitinya ??

2.Ada tugas kerjaan penelitian dari kantornya??

Ustadz Menjawab
Hari/Tanggal : Senin, 03 Januari 2022

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jika seorang diri ke negri kafir, maka umumnya ulama melarang. Pihak yang membolehkan muslimah bepergian seorang diri pun, memberikan syarat ke negeri muslim yang aman, bukan ke negeri kafir.

Ada pun ke negeri kafir, jika ada orang yang menemaninya baik bersama wanita yang terpercaya atau beberapa orang lainnya, maka ini diperselisihkan.

Ada beberapa alasan bolehnya wanita seorang diri pergi jauh tanpa mahram, yaitu:

Hadits berikut:

فَإِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ لَتَرَيَنَّ الظَّعِينَةَ تَرْتَحِلُ مِنْ الْحِيرَةِ حَتَّى تَطُوفَ بِالْكَعْبَةِ لَا تَخَافُ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ

“Seandainya kamu diberi umur panjang, kamu pasti akan melihat seorang wanita yang mengendarai kendaraan berjalan dari Al Hirah hingga melakukan tawaf di Ka’bah tanpa takut kepada siapapun kecuali kepada Allah”. (HR. Bukhari no. 3595)

Hadits ini memberitakan kejayaan Islam, bahwa keamanan begitu merata sampai seorang wanita pun berjalan seorang diri begitu jauh dari Hirah (Iraq) ke Ka’bah.

Oleh karena itu pihak yang membolehkan mengatakan bahwa hadits-hadits yang melarang wanita bepergian tanpa mahram, mesti dipahami karena adanya sebab, yaitu jika kondisinya tidak aman. Ada pun jika kondisinya aman, maka tidak apa-apa. Sebab, maksud adanya mahram adalah agar adanya rasa aman, ketika rasa aman itu sudah diraih tanpa mahram, maka itu dibolehkan.

Kaidahnya adalah:

الحكم يدور مع علته وجودا و عدما

Adanya hukum itu bersamaan dengan adanya “sebab”, jika sebabnya ada maka ada hukumnya, jika tidak ada maka tidak ada hukumnya.

Maka, jika ketidakamanan menjadi sebab terlarangnya safar seorang diri, maka jika sudah aman larangan pun tidak ada.

Jadi, jika safarnya seorang diri, ditemani wanita lain, atau sekelompok laki-laki yang terpercaya, dan keamanannya terjamin, maka tidak apa-apa menurut sebagian ulama, asalkan telah dapat izin dari walinya.

Imam Ibnu Muflih Rahimahullah mengatakan:

ونقله الكرابيسي عن الشافعي في حجة التطوع, وقاله بعض أصحابه فيه وفي كل سفر غير واجب, كزيارة وتجارة

Al Karabisi menukil bahwa Imam Asy Syafi’iy membolehkan pula (wanita pergi tanpa mahram) dalam haji tathawwu’ (sunah). Sebagian sahabatnya berkata bahwa hal ini juga dibolehkan dilakukan dalam haji tathawwu’ dan SEMUA JENIS PERJALANAN TIDAK WAJIB seperti ziarah dan berdagang. (Imam Ibnu Muflih, Al Furu’, 5/245)

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata:

وفي قول نقله الكرابيسي وصححه في المهذب تسافر وحدها إذا كان الطريق امنا وهذا كله في الواجب من حج أو عمرة وأغرب القفال فطرده في الأسفار كلها

Dalam kutipan Al Karabisi disebutkan –dan dishahihkan dalam Al Muhadzdzab- bahwa perjalanan sendirian seorang wanita bisa dilakukan selama jalan yang akan ditempuhnya dalam kondisi aman. Jika perjalanan ini diterapkan dalam perjalanan wajib seperti haji atau umrah, maka sudah sewajarnya jika hal itu pun diterapkan pada SEMUA JENIS PERJALANAN . ( Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 4/76)

Maksud dishahihkan dalam Al Muhadzdzab adalah pengarang Al Muhadzdab yaitu Imam Abu Ishaq Asy Syirazi Rahimahullah membenarkan pendapat bahwa kebolehan itu berlaku atas semua perjalanan yang baik.
Sebab, maksud ditemaninya wanita oleh mahram atau suaminya adalah dalam rangka menjaganya. Dan ini semua sudah terealisir dengan amannya jalan atau adanya orang-orang terpercaya yang menemaninya baik dari kalangan wanita atau laki-laki, dan dalil-dalil sudah menunjukkan hal itu.

Tapi, jika ingin lebih aman dari kontroversi secara fiqih, maka jangan lakukan itu, atau hendaknya ajak mahram. Apalagi jika medannya membahayakan.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doa Memohon Ampun Karena Khilaf

Berdoa di Kamar Mandi

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz…
Afwan ada pertanyaan dari jamaah, bagaimana hukum berdoa di kamar mandi? jazaakallahu khaer ustadz.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d.

Doa itu ibadah, sebagaimana hadits:

الدعاء هو العبادة

Doa adalah ibadah. (HR. Abu Daud no. 1479, shahih)

Karena doa adalah ibadah, tentunya ada adab-adab, tatakrama, dan sopan santunnya, misalnya adalah hendaknya dilakukan di tempat-tempat yang pantas, suci, dan menghadap kiblat.

Doa juga bagian dari dzikir, dan dzikir dikamar mandi, yang di dalamnya manusia buang air kecil dan besar, adalah MAKRUH jika dilisankan, tapi tidak apa-apa jika di hati.

Imam Ibnu Mundzir mengatakan:

وقال عكرمة لا يذكر الله وهو على الخلاء بلسانه ولكن بقلبه

‘Ikrimah berkata janganlah berdzikir kepada Allah dengan lisan saat di kamar mandi, tapi hendaknya di hati saja. (Al Awsath, 1/341)

Imam An Nawawi menjelaskan:

يكره الذكر والكلام حال قضاء الحاجة، سواء كان في الصحراء أو في البنيان، وسواء في ذلك جميع الأذكار والكلام إلا كلام الضرورة حتى قال بعض أصحابنا : إذا عطس لا يحمد الله تعالى، ولا يشمت عاطساً، ولا يرد السلام، ولا يجيب المؤذن، ويكون المُسَلِّمُ مقصراً لا يستحق جواباً، والكلام بهذا كله مكروه كراهة تنزيه ولا يحرم، فإن عطس فحمد الله تعالى بقلبه ولم يحرك لسانه فلا بأس، وكذلك يفعل حال الجماع

Dimakruhkan berdzikir dan berbicara saat buang hajat, baik itu di gurun atau di gedung (kamar mandi), baik itu dzikir atau berbicara kecuali berbicara yang darurat. Sampai-sampai sahabat kami (Syafi’iyah) mengatakan jika ada yang bersin maka tidak usah mengucapkan hamdalah, tidak tasymit (yarhamukallah), tidak menjawab salam, tidak menjawab azan. Berbicara dlm semua kondisi ini MAKRUH, bukan Haram. Seandainya bersin dan mengucapkan hamdalah di hati, tidak dilisankan, maka itu tidak apa-apa. Hukum ni juga berlaku dalam keadaan berhubungan suami istri. (Al Adzkar, hal. 68)

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al-Quran Obat Fisik dan Jiwa

Hukum Membaca Basmallah Di Tengah-tengah Surat

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, ada diantara imam yang jika membaca surah yang mulainya di tengah surah misalnya Q.S Al-Baqarah yang dibacanya ayat 21 dan seterusnnya. Lalu dimulai dengan membaca Bismillaahirrahmaanir rahiiim Yaa Ayyuhannaasu’ buduu rabbakumulladzii … dstnya, demikian kalau di surah lain. Apakah boleh di mulai dengan Basmalah dulu?

Sementara yang saya ketahui yang dibaca itu Ta’aawudz bukan basmalah. Basmalah dibaca setiap awal surah kecuali surah At-taubah. Bagaimana ust. mohon pencerahannya ?

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Hal itu diperselisihkan, ada yang mengatakan sunnah dan ada pula: tidak sunnah. Tapi, tidak ada yang mengatakan terlarang.

Imam As Suyuthi Rahimahullah menjelaskan:

فَإِنْ قَرَأَ مِنْ أَثْنَاءِ سُورَةٍ اسْتُحِبَّتْ لَهُ أَيْضًا نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِيمَا نَقَلَهُ الْعُبَادِيُّ

Jika membaca basmalah di tengah surah, itu juga disunnahkan baginya, hal itu dikatakan oleh Imam asy Syafi’i, seperti yang dikutip oleh Al ‘Ibadiy. (Al Itqan fi ‘Ulumil Quran, jilid. 1, hal. 275)

Hal serupa juga dikatakan oleh Imam Badruddin Az Zarkasyi Rahimahullah dalam Al Burhan fi ‘Ulumil Quran, jilid. 1, hal. 386.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Menyerupakan Allah dengan Makhluk

Kaum Mujasimah Dan Kesesatannya

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, mohon penjelasan tentang kaum Mujasimah, katanya golongan sesat dalam Islam, apakah kesesatannya? Siapa tokohnya ? Dan sikap atau pernyataan seperti apa yg dianggap menyerupai paham Mujasimah dan harus dihindari ?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Al Mujassimah, diambil dari kata Al Jism – الجسم, yang artinya badan, tubuh, jasmani.

Sekte atau firqah ini meyakini dan memahami Allah Ta’ala memiliki fisik dan tubuh sebagaimana manusia atau makhluk, istilahnya anthromorfisme.

Hujjah mereka adalah ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat-sifat Dzatiyah Allah Ta’ala, yang menyebut bahwa Allah Ta’ala memiliki wajah, tangan, jari, betis,.. Dan sifat-sifat fi’liyah seperti Allah Ta’ala berlari, turun, bersemayam, tertawa, malu,..

Ayat dan hadits yang seperti itu, dipahami oleh mereka secara apa adanya, sama dengan makhluk, sehingga kelompok ini juga terjatuh pada paham musyabbihah, yaitu paham yang menyerupakan Allah Ta’ala sama dengan makhluk.

Mereka bukan hanya sesat, tapi difatwakan kafir oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Imam Ibnu Hamdan Al Hambali Rahimahullah berkata:

لا يشبه شيئا ولا يشبهه شيء، ومن شبهه بخلقه فقد كفر، نص عليه أحمد. وكذا من جسَّم، أو قال: إنه جسم لا كالأجسام. ذكره القاضي. اهـ

Dia tidak serupa dengan sesuatu, dan sesuatu tidak ada yang serupa denganNya. SIAPA YANG MENYERUPAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK MAKA KAFIR, ini dikatakan oleh Imam Ahmad. Begitu pula yang mengganggap Allah itu jism, atau yang berkata: “Allah itu jism, tapi bukan seperti jism-jism.” Hal ini disebutkan oleh Al Qadhi. (Nihayatul Mubtadi’in fi Ushuluddin, 1/31)

Imam Asy Syafi’i Rahimahullah berkata:

لا يُكَفَّرُ أهلُ القِبلَةِ واستَثنى المجَسّم

Tidaklah Ahlus Sunnah mengkafirkan Ahlul Qiblah kecuali Al Mujassim. (Dikutip oleh Imam As Suyuthi tanpa sanad, Al Asybah wan Nazhair, hal. 488)

Bahkan Imam Ibnu Taimiyah yang sering dituduh Mujassimah berkata:

فثبت أن المجسم مشبه، وكل مشبه كافر بالإجماع، فالمجسم كافر

Telah pasti bahwa mujassim itu musyabbih, dan setiap musyabbih itu adalah kafir berdasarkan ijma’, maka mujassim itu kafir. (Mawqif Ibnu Taimiyah minal Asya’irah, 3/971)

Jadi, siapa yang mengatakan “Allah itu punya wajah seperti wajah manusia”, “Allah berjalan seperti jalanku”.. Maka, ini musyabbih dan mujassim sekaligus dan kafir.

Yang DIPERDEBATKAN adalah mereka yang berkata:

– Allah Ta’ala menyebut diriNya punya wajah, tangan, mata, maka kami mengimani, meyakini, membenarkannya, seperti yang Dia ceritakan sendiri tentang diriNya, tanpa mengingkarinya, tanpa menyerupakan dengan apa pun, tanpa mengubahnya, dan tanpa mentakwilnya.

Keyakinan di atas, diklaim sebagai aqidah salaf oleh sebagian imam. Siapa yang mengingkari adanya, maka sama juga ta’thil (mengingkari sifat), sebagaimana orang-orang Jahmiyah.

Sementara bagi Asy’ariyah dan Maturidiyah, keyakinan di atas juga termasuk mujassimah dan musyabbihah. Karena ketika menetapkan bahwa Allah Ta’ala memiliki wajah, tangan, dll, pasti dibenak manusia secara alami dan otomatis akan ada muncul “gambaran”, walau dikatakan tidak sama dengan makhluk, tetaplah itu sudah menyamakan dengan makhluk.

Oleh karena itu Asy’ariyah memahami ayat-ayat tentang sifat dengan mentakwilnya, dengan takwil yang pantas bagiNya, apalagi ketika Islam dan Al Quran sudah tersebar ke negeri-negeri non Arab tentunya penyebutan “fisik” pada sifat Allah, akan membawa deskripsi tertentu dalam benak pembacanya.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Niat Seorang Mukmin Lebih Baik Dari Amalannya

Pahala Wakaf Al-Qur’an Tapi Al-Qur’an Tidak Ada Yang Membaca

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, ketika seseorang berwakaf mushaf al-Quran lalu mushaf tersebut tidak ada yang baca, bagaimana terkait pahalanya..??

Atau misalkan seseorang mewakafkan karpet ke masjid lalu ketika karpet tersebut diganti dengan yang baru otomatis yang lama kan tidak dipakai lagi, apakah pahala wakafnya terputus atau bagaimana ustadz??

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Niat seseorang untuk waqaf, lalu dia pun melakukannya, walau harta yang diwaqafkan tidak dipakai karena masalah teknis, semoga Allah tetap mendatangkan pahala baginya..

Sebagaimana keumuman hadits:

إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له

Jika manusia mati terputuslah amalnya kecuali tiga: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya. (HR. Muslim)

Juga hadits lainnya:

نِيَّةُ الْمُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ

“Niat seorang mu’min lebih baik dari pada amalnya.” (HR. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir, 6/185-186, dari Sahl bin Sa’ad as Saidi. Imam Al Haitsami mengatakan: “ Rijal hadits ini mautsuqun (terpercaya), kecuali Hatim bin ‘Ibad bin Dinar Al Jursyi, saya belum melihat ada yang menyebutkan biografinya.” Lihat Majma’ Az Zawaid, 1/61)

Solusi lain, yaitu dipindahkan saja ke tempat atau masjid yang lebih membutuhkan.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doa Memohon Ampun Karena Khilaf

Tidak Sengaja Membaca Al-Qur’an Saat Junub

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apa hukumnya jika dalam keadaan junub tapi tak sengaja membaca alquran, karena setiap hari mp3 murotal dirumah selalu menyala, kadang pula keceplosan baca sendiri.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Junub membaca Al-Quran tanpa menyentuhnya, boleh menurut sebagian ulama seperti Ibnu Abbas, Said bin Jubeir, Al Hasan, Ibnu Hazm, dll. Sebab, di hati seorang mukmin (ditambah lagi jika dia Hafizh) sudah bersemayam Al-Quran.

Sebagian besar ulama tetap melarang, namun menurut mereka pun jika tidak sengaja, keceplosan, atau lupa, tentu tidak masalah.

Allah Ta’ala berfirman:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah (tidak sengaja).” (Q.S. Al Baqarah 286).

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

firasat orang yang beriman

Firasat; Nyata Atau Khurafat?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah firasat itu termasuk khurafat?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Firasat itu ada dan bukan khurafat (mitos).

Nabi ﷺ bersabda:

اتَّقُوا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُورِ اللَّهِ ثُمَّ قَرَأَ
{ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ }

Hati-hatilah dengan firasat orang beriman, karena dia melihat dengan cahaya Allah. Kemudian Nabi ﷺ membaca: “Sesungguhnya dalam hal itu ada tanda-tanda bagi orang yang MUTAWASSIMIN” (HR. At Tirmidzi no. 3127, Dhaif)

Imam At Tirmidzi berkata:

وَقَدْ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي تَفْسِيرِ هَذِهِ الْآيَةِ
{ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ }
قَالَ لِلْمُتَفَرِّسِينَ

Diriwayatkan dari sebagian ulama tentang tafsir dari ayat “Sesungguhnya dalam hal itu ada tanda-tanda bagi orang yang MUTAWASSIMIN”, yaitu _mutafarrisin_ (orang-orang yang memiliki firasat). (Sunan At Tirmidzi no. 3127)

Hadits di atas, walau dhaif secara sanad, namun isinya dapat diterima sebab realita menunjukkan demikian.

Sehingga ada ulama yang mengatakan:

والمهمّ أن حديث الفراسة مقبول، والوقائع المذكورة تؤيِّده

Yang penting, bahwasanya hadits tentang firasat ini Maqbul (bisa diterima), dan beragam realita yang sudah diceritakan mendukung hal itu. (selesai)

Imam Ibnul Qayyim menceritakan beragam firasatnya Imam Asy Syafi’iy. (Miftah Dar As Sa’adah, 2/234)

Begitu pula yg dikisahkan oleh Imam Al Ghazaliy. (Al Ihya’, 2/59)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

wakaf tanah yang tidak sesuai syariat

Waqaf Tanah Untuk Bangun Gereja

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz…
Apakah boleh seorang Muslim mewaqafkan tanahnya untuk dibangun gereja?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d.

Waqaf tanah untuk mendirikan gereja tidak diperkenankan menurut para fuqaha. Hal itu termasuk waqaf yang diharamkan.

Dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, disebutkan:

فقد يكون الوقف فرضا وهو الوقف المنذور كما لو قال: إن قدم ولدي فعلي أن أقف هذه الدار على ابن السبيل، وقد يكون مباحا إذا كان بلا قصد القربة، ولذا يصح من الذمي ولا ثواب له، ويكون قربة إذا كان من المسلم
وقد يكون الوقف حراما كما لو وقف مسلم على معصية كوقفه على كنيسة

Waqaf bisa menjadi WAJIB (FARDHU) yaitu waqaf yang dinadzarkan, misal seseorang berkata: “Jika anakku datang maka aku akan waqafkan rumah ini untuk Ibnu Sabil”

Waqaf menjadi MUBAH (BOLEH) jika tidak ada maksud untuk qurbah (pendekatan diri kepada Allah). Oleh karena itu SAH waqafnya kafir dzimmi tapi tidak berpahala. Tapi menjadi qurbah jika pelakunya muslim.

Waqaf menjadi HARAM jika untuk maksiat, seperti seorang muslim WAQAFNYA UNTUK GEREJA.
(Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, jilid. 44, hal. 112)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili menjelaskan:

ولا يصح بالاتفاق وقف المسلم على جهة معصية كأندية الميسر ودور اللهو وجمعيات الإلحاد والضلال، لأنه ليس قربة في نظر الإسلام

Tidak sah berdasarkan kesepakatan ulama, waqafnya seorang muslim untuk maksiat, seperti tempat judi, rumah hiburan, dan tempat perkumpulan ateisme dan kesesatan, karena itu bukan ibadah dalam pandangan Islam.
(Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, jilid. 10, hal. 7646)

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Quran dan Hadits

Tolong Menolong dalam Kemungkaran

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bagaimana hukumnya kalau ada saudara kita yang menitipkan uangnya untuk disimpan dalam rekening bank kita, sementara kita tau bahwa uang itu adalah uang simpanan yang asalnya kurang jelas (seperti hasil pemberian orang lain/korupsi) ? apa saya juga bisa terkena dosa atas perbuatan saudara saya tersebut?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jika kita tahu itu uang haram, dan dia nitip ke kita maka lebih hati-hati adalah menolaknya. Sebab seolah itu melindunginya.

ولا تعاونوا علي الاثم والعدوان

Dan janganlah kamu saling tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran.

(QS. Al-Maidah: 2)

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Tidak Termasuk Najis

Status Bangkai Hewan Yang Tidak Mengalir Darahnya

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apakah bangkai binatang yang tidak memiliki darah itu najis? Lalu jika najis bagaimana cara mensucikannya?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bangkai hewan yang darahnya tidak mengalir, menurut umumnya ulama adalah tidak najis.

Dasarnya adalah hadits berikut:

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ ، فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ، ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ ، فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ شِفَاءً ، وَفِي الْآخَرِ دَاءً

“Apabila seekor lalat hinggap di tempat minum salah seorang dari kalian, hendaknya ia mencelupkan ke dalam minuman tersebut, kemudian membuangnya, karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat penawarnya.” [1]

Hadits ini menunjukkan bahwa lalat -hewan yang tidak mengalir darahnya- adalah suci. Jika dia najis, sudah pasti Nabi ﷺ akan memerintahkan membuangnya bukan mencelupnya.

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menjelaskan dalam Zaadul Ma’ad:

“Hadits ini menjadi dalil yang begitu jelas bahwa Lalat yang mati dan terjatuh ke air atau benda cair tidaklah itu membuatnya menjadi najis, tidak diketahui adanya salaf yang menyelesihi ini.” Beliau juga berkata: “Kemudian hukum ini juga berlaku bagi hewan lain yang darahnya tidak mengalir seperti Lebah, Kumbang, Laba-laba, dan semisalnya.” [2]

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata: “Ada pun cicak, pendapat jumhur adalah hewan yang darahnya tidak mengalir.” [3]

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata: “Hewan yang darahnya tidak mengalir semua bagian anggota tubuhnya adalah suci dan kotorannya juga.” [4]

Imam Syamsuddin bin Syihabuddin Ar Ramli Rahimahullah – yang dijuluki Asy Syafi’iy Ash Shaghir (Asy Syafi’i Kecil)- berkata:

“Dan dikecualikan sebagai najis yaitu bangkai yang tidak mengandung darah yang mengalir pada tempat lukanya, termasuk yang pada dasarnya itu hewan memiliki darah, atau darahnya tidak mengalir, seperti cicak, tawon, kumbang, lalat, dan semisalnya. Maka, itu tidak menajiskan benda cair.” [5]

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

[1] HR. Bukhari no. 5782

[2] Imam Ibnul Qayyim, Zaadul Ma’ad, 4/111

[3] Imam An Nawawi, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/129

[4] Imam Ibnu Qudamah, Al Mughni, 1/768

[5] Imam Syamsuddin Ar Ramli, Nihayatul Muhtaj, 1/81

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678