surat yasin

Mengenal Karakter Ayat

๐Ÿ“ Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Kosakata bahasa Arab yang terdiri dari huruf ha fa zha dan sering merujuk pada hafal Alquran mengandung makna memelihara. Hafid Alquran berarti orang yang memelihara hafalan al-qur’an di dalam hatinya. Berdasarkan surat Al Baqarah ayat 238, kami terinspirasi menggunakan thermal muhafadhoh untuk memelihara Alquran,sebagaimana memelihara salat yang terdapat pada ayat tersebut.

Muhafadzoh adalah wazan dari mu fa’alah, yang bermakna saling. Jika hifdzun artinya memelihara maka muhafadhoh adalah saling memelihara. Subjek merangkap menjadi objek dan sebaliknya.Allah menjadikan kata muhafadzoh untuk memerintahkan kita menjaga salat.karena akan ada timbal balik apabila kita bisa menjaga Salat kita, yaitu mengerjakan tepat waktu, sesuai dengan syarat dan rukun, serta dikerjakan dengan khusu’. Maka salat itu juga akan menjaga kita dari perbuatan keji dan mungkar,serta menyelesaikan persoalan-persoalan hidup yang kita hadapi.

Begitu juga dengan Al Quran. Kami lebih tertarik menggunakan kata muhafadhoh untuk memelihara Alquran. Sebagaimana salat, apabila seorang penghafal Alquran bisa memelihara hafalannya dengan baik, ya itu murojaah nya sesuai porsi, dengan bacaan yang baik dan khusuk.insya Allah Alquran yang dijaga tersebut akan menjaga dirinya dari perbuatan maksiat, jatuh kedalam masalah dan memberikan syafaat.

Memelihara dan menjaga hafalan tidak hanya dilakukan ketika kita sedang menghafal, akan tetapi sampai akhir hayat. Selancar apapun hafalan kita pasti akan lupa apabila tidak dipelihara dengan baik.jika pada bab sebelumnya kita pernah membahas tentang daya simpan dan daya tampung, seorang penghafal Alquran juga perlu mengetahui karakter ayat yang dihafalnya. Karena ini akan membantu dirinya mengetahui cara memelihara ayat tersebut.

Karakter ayat ditinjau dari sudut pandang menghafal adalah.
1. Mudah hafal sulit lupa
2. Mudah hafal mudah lupa
3. Sulit hafal sulit lupa
4. Sulit hafal mudah lupa

Keempat karakter ayat tersebut biasanya dipengaruhi oleh strukturnya atau kondisi penghafal yang tidak stabil. Namun apapun penyebabnya sebagaimana dikatakan dalam hadis Alquran akan lebih cepat terlepas dari pada unta dalam ikatannya. Jadi apabila hafalan al-qur’an tidak segera diulang sesuai dengan daya simpan seorang penghafal, sudah pasti hafalan tersebut akan hilang kembali, apalagi jika hafalan itu belum begitu lancar. Oleh karena itu keseimbangan menambah dan mengulang harus benar-benar seimbang. Bahkan mengulang harus lebih banyak dan lebih serius. Bukan karena lebih sulit dari menambah tetapi untuk mencari keseimbangan dengan daya simpan.

Jika anda merasa mengulang hafalan lebih berat daripada menambah, waspada. Itu pertanda anda sedang over kapasitas. Maka hentikan menambah dan gandakan porsi mengulang. Sebab menambah hafalan dengan over kapasitas hanya akan mempercepat kita lupa hafalan yang sedang dihafal dan yang sudah dihafal.

Dengan mengetahui karakter ayat yang kita hafal kan, kita akan lebih mudah menyeimbangkan porsi menambah dan mengulang hafalan. Kita tidak perlu panik,karena panik hanya akan membuat hafalan kita semakin over kapasitas. Prioritaskan mengulang ayat yang mudah lupa dengan kelipatan 2 3 4 dan seterusnya sesuai daya imbangnya.

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Seputar Warisan

Assalamualaikum ustadz/ah..Begini kondisinya saat ini ada seorang ibu yang mempunyai 4 orang anak laki2 dan 1 orang perempuan… Saat ini beliau sudah dlm kondisi tidak sehat lagi…
Pertanyaan :
1. Anak laki2 nya tdk ada satupun yang mau mengurus beliau setiap harinya (kondisi beliau sudah tdk bs bangun dr tempat tidur) selama 4 bulan ini diurus oleh anak perempuannya.. Namun lama kelamaan karena urusan ngurus anak dan rumah serta urusan biologis sang suami dirumah jd agak terbengkalai alhasil suami sang istri ini jadi keberatan jika ortu sang istri kelamaan diurus dirumah sang istri krn kan ada anak laki2nya yang lain… Nah dlm hal ini bagaimana kewajiban dlm mengurus sang ibu ini ya?

2. C ibu meminta untuk rumah beliau dijual dan dibagi rata kepada 5 orang anaknya (4 orang laki2 dan 1 org perempuan) nah nanti pembagian ini termasuk kategori hibah atau warisan? Apa boleh dibagi rata, apa ada hitungan pembagian lain?

3. Jika ada harta warisan dr org tua yang mempunyai 2 orang anak (1 laki2 dan 1 perempuan)  namun anak perempuannya ini sudah meninggal… Apa jatah warisannya bisa diberikan ke anak2 dari anak perempuannya tersebut?

Mohon maaf atas borongan pertanyaannya… Mudah2an bisa segera mendapatkan jawabannya

Pertanyaan 🅰0⃣9⃣

Jawaban
—————

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Pertama,
Rasulullah ﷺ bersabda:

“Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?” Rasulullah menjawab, “Suaminya” (apabila sudah menikah). Aisyah Ra bertanya lagi, ”Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab, “Ibunya” (HR. Muslim).

Hadits di atas menjelaskan bahwa seorang anak laki-laki adalah milik ibunya, artinya sang anak bertanggung jawab atas ibunya, merawat dan menjaganya.

Akan tetapi pada kasus di atas anak laki-laki enggan merawat ibunya, maka solusinya adalah lakukan musyawarah dengan semua anaknya, kemudian bicarakan dengan baik. Jika tetap tidak ada anak laki-lakinya yang mau merawat, maka kewajiban anda sebagai anak perempuannya untuk merawat.

Masalah suami yang tidak mengijinkan, ini hanya masalah komunikasi yang kurang baik antara anda dan suami. Mungkin ada sikap anda yang membuat suami yang asalnya mengijinkan lalu sekarang keberatan. Hilangkan penyebab dari keberatan suami itu. Kalau anda tidak tahu, tanyakan padanya apa saja sikap anda yang membuat dia keberatan dan lakukan negosiasi yang baik. Kalau komunikasi empat mata tidak bisa, mintalah bantuan pihak ketiga yang disetujui suami dan anda. 

Soal kedua,
Islam agama rahmatal lil’alamin, dalam pembagian warisan anak laki-laki mendapatkan dua kali bagian dari anak perempuan bukan berarti tidak adil, tetapi karena islam menitikberatkan pada berat ringanya pada tanggung jawab.

Sesuatu hal jika tidak sesuai dengan aturan yang sudah ada maka hukumnya haram. Harta pusaka itu wajib dibagi menurut semestinya sesuai dengan hukum yang telah ditentukan dalam alquran.

“Dan janganlah sebagian kamu makan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil.” (QS Al-Baqarah: 188)

Kalaupun orang tua ingin memberikan harta lebih kepada anak perempuanya ada satu cara yaitu dengan cara wasiat, namun wasiat ini tidak boleh lebih dari sepertiga harta kekayaannya kecuali apabila diijinkan ahli waris sesudah matinya yang berwasiat.

“Sesungguhnya Allah menganjurkan untuk bersedakah atasmu dengan harta sepertiga harta pusaka kamu. Ketika menjelang wafatmu, sebagai tambahan kebaikanmu.” (HR. Ad Daru Quthni dari Mu’ad bin Jabal)

Ketiga,
( Ada contoh kasus yg hampir sama)
Senin, 27 Rabiul Awwal 1438 H / 26 Desember 2016

Home » Mawaris » Hak Waris Cucu dari Anak Perempuan

Hak Waris Cucu dari Anak Perempuan

Muhammad Lukman – Rabu, 25 Safar 1428 H / 14 Maret 2007 11:08 WIB

Assalamu ‘alaikum wr wb.

Kami terdiri dari 5 bersaudara (1 laki-laki dan 4 perempuan) Ibu kami telah meninggal dunia tahun 2000 dan mempunyai 2 orang kakak laki-laki (paman kami), pada tahun 2005 dan 2006 kedua kakek dan nenek kami meninggal dunia dan mewariskan sebuah rumah.

Bagaimanakah pembagian hak waris Ibu kami, apakah kami sebagai cucunya juga mendapatkan hak atas hak waris Almarhum Ibu kami karena menurut Paman kami, kami tidak berhak mendapatkan warisan sedangkan kami sangat membutuhkan.

Sebelumnya kami ucapkan terima kasih,

Wassalam

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam hukum waris secara Islam, memang dikenal sebuah aturan hijab. Hijab artinya penutup. Maksudnya bahwa seorang yang termasuk dalam daftar ahli waris tertutup haknya -baik semua atau sebagian- dari harta yang diwariskan.

Sehingga orang yang terhijab ini bisa berkurang haknya atau malah sama sekali tidak mendapatkan harta warisan. Kalau hanya berkurang, disebut dengan istilah hijab nuqshan. Sedangkan kalau hilang 100%, disebut dengan istilah hijab hirman.

Yang menyebabkan adanya seorang ahli waris terhijab adalah keberadaan ahli waris yang lebih dekat kepada almarhum. Ketika seorang meninggal dunia dan meninggalkan anak dan cucu, maka yang mendapat warisan hanya anak saja, sedangkan cucu tidak mendapat warisan. Karena kedudukan cucu lebih jauh dari kedudukan anak. Atau boleh dibilang, keberadaan anak akan menghijab cucu dari hak menerima warisan.

Dan dalam kasus ini, hijab yang berlaku memang hijab hirman, yaitu hijab yang membuat si cucu menjadi kehilangan haknya 100% dari harta warisan.

Ada dua ilustrasi yang mungkin bisa membantu pemahaman ini. Ilustrasi pertama, mungkin anda bisa memahaminya dengan mudah. Tapi yang sering kurang dipahami adalah ilustrasi kedua, karena agak aneh namun memang demikian aturannya.

Pada diagram sebelah kiri, ktia dapati ilustrasi pertama. Seorang almarhum yang wafat, maka anaknya akan mendapat warisan. Namun cucunya yang posisinya ada di bawahnya, jelas tidak akan dapat warisan. Karena antara cucu dengan almarhum, dihijab oleh anak.

Pada diagram yang di sebelah kanan, almarhum punya 2 orang anak, anak 1 dan anak 2.Anak 2 punya anak lagi dan kita sebut cucu [anak2]. Seandainya anak 2 wafat lebih dahulu dari almarhum, maka cucu [anak2] tidak mendapat warisan.

Mengapa?

Karena almarhum masih punya anak 1, maka anak 1 ini akan menghijab cucu [anak 2]. Sehingga warisan hanya diterima oleh anak 1 sedangkan cucu [anak2] tidak mendapat warisan. Dia terhijab oleh pamannya, yaitu anak 1.

Walaupun dalam diagram itu, tidak ada penghalang antara cucu dengan almarhum, namun keberadaan anak akan menghijab cucu, meski cucu itu bukan anak langsung dari anak.
*dari berbagai sumber

Wallahu a’lam.

Berwudhu dengan Air Satu Mud

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah..
Bagaimana hukumnya berwudhu dgn menggunakn air 1 mud (1 gelas aqua). Apakah diperbolehkan dan bagaimana kondisi air saat diperbolehkan wudhu dgn air 1 mud (apakah saat tdk ada air mengalir/ saat safar/ darurat/skedar berhemat air)??

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Tidak ada batasan minimal air yang digunakan untuk bersuci, baik untuk wudhu atau mandi besar. Asalkan memenuhi syaratnya dan bisa untuk memenuhi rukunnya, maka air tersebut sudah boleh digunakan. Semisal untuk wudhu, air tersebut cukup untuk membasuh anggota tubuh yang termasuk dalam rukun wudhu, yakni muka, kedua tangan sampai siku, sebagian kepala, dan kedua kaki sampai mata kaki.

Dalam riwayat disebutkan, bahkan Rasulullah ﷺ berwudhu dengan menggunakan air yang hanya 1 mud.

كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ

Dari Anas radhiyallahuanhu, dia berkata bahwa : “Rasulullah ﷺ berwudhu dengan satu mud air dan mandi dengan satu sha’ hingga lima mud air. “(Mutafaqqun ‘alaih)

Dan tahukah kita 1 mud itu ukurannnya berapa? Yaitu air yang ukurannya 688 ml. Sekitar ukuran botol tanggung air mineral dalam kemasan yang banyak dijual. Maka 1.5 liter air itu bisa digunaan oleh Nabi ﷺ berwudhu 2 kali.

Demikianlah, karena kita hidup di daerah yang air melimpah ruah, terkadang tidak sadar, cara kita bersuci seringnya dengan cara yang cenderung mubazir. Boros air. Seakan tidak sah berwudhu kalau tidak dari air yang banyak mengucur. Padahal syariat yang mulia ini memerintahkan agar kita tidak berlebihan.

Wallahu a’lam.

Ibu Atau Istri Dulu?

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
manakah yang harus didahulukan antara istri atau ortu ??

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Suami setelah menikah memang memiliki peran dan tanggung jawab yang lebih besar. Diantaranya adalah peranan dan tanggung jawab nya kepada istrinya. Karena seorang istri apabila sudah menikah maka sepenuhnya menjadi hak dan tanggung jawab suami. Berbeda dengan seorang suami, suami walaupun sudah menikah ia tetap berkewajiban untuk menafkahi orang tuanya. Karena orang tua adalah tanggung jawab anak laki-laki (suami). 

Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah ﷺ:

Artinya: “Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita? Rasulullah menjawab: “Suaminya” (apabila sudah menikah). Kemudian Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya lagi: “Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki? Rasulullah menjawab: “Ibunya”. (HR. Muslim)

Dari hadis tersebut jelas bahwa ibu adalah tanggung jawab anak laki-laki (suami).  Namun yang terjadi sekarang adalah berbeda, disaat suami sudah menikah maka sepenuhnya dia dimiliki oleh istri. Padahal masih ada orang tuanya yang wajib ia nafkahi. 

Nah, yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, siapa yang lebih didahulukan suami, ibu ataukah istri?

Dari hadis diatas telah disebutkan bahwa yang berhak terhadap seorang laki-laki adalah ibunya. Namun bukan berarti seorang suami  bebas menelantarkan istri demi seorang ibu. Itu salah, karena Ibu dan istri memiliki kedudukan yang sama pentingnya dalam islam, kedua-duanya harus diutamakan dan dimuliakan. 

Seorang suami yang shaleh dia akan membimbing istrinya untuk beriman kepada Allah serta tunduk dan patuh kepada suami. Dan seorang istri yang shalehah dia akan tunduk kepada suaminya. Artinya untuk membina rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah seorang istri harus membantu suaminya untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Salah satunya adalah membantu dia untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Bukan malah kita menghalangi dia agar dia melupakan orang tuanya.

Wallahu a’lam.

Harta Haram Menjadi Halal

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah..
Mohon penjelasannya Ustadz. Bagaimana jika ada seorang muslim menumpang tinggal di rumah saudaranya yg muslim tapi penghasilannya dari pekerjaan haram. Disana dia membantu menjaga anak2 saudaranya itu. Bagaimana pula status kehalalan harta ART yg bekerja di rumah tersebut? Apakah sang ART tersebut diperbolehkan ikut makan di rumah tsb? 
Jazakumullah khaiir atas jawabannya ustadz 🙏
Wassalam

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Syekh Shalih Alu Syaikh mengatakan, “Di antara permasalahan yang disinggung oleh para ulama ketika membahas hadits keenam dalam kitab Arbain An-Nawawiyyah (yaitu hadits yang berisi perintah untuk menjauhi sesuatu yang belum jelas kehalalannya) adalah permasalahan memakan harta orang yang pendapatannya bercampur antara sumber yang halal dengan sumber yang haram. Misalnya: Tetangga yang kita ketahui memiliki sumber pendapatan yang haram, berupa menerima uang suap, memakan riba, atau semisalnya, namun di sisi lain dia memiliki sumber pendapatan yang halal. Apa hukum harta orang semisal ini?

Dalam masalah ini, ada beberapa pendapat ulama:

Pertama: Menjauhinya sebagai sikap kehati-hatian. Akan tetapi sikap ini tidak wajib, hanya sebatas mencegah diri dari kemungkinan terjebak pada sesuatu yang haram.

Kedua: Sejumlah (ulama lain) berpendapat bahwa yang menjadi tolak ukur adalah jenis harta yang paling dominan. Jika yang paling dominan adalah harta yang berasal dari sumber yang haram maka kita jauhi harta tersebut. Jika yang paling dominan adalah harta yang berasal dari sumber yang halal maka kita boleh memakannya, selama kita tidak mengetahui secara pasti bahwa harta yang dia berikan kepada kita adalah harta yang berasal dari sumber yang haram.

Ketiga: Ulama yang lain, semisal Ibnu Mas’ud, mengatakan bahwa kita boleh memakan harta orang tersebut, sedangkan tentang jalan haram yang ditempuh orang tersebut dalam memperoleh hartanya itu menjadi tanggung jawabnya, karena cara mendapatkan harta itu antara kita dengan dia berbeda. Orang tersebut mendapatkan harta itu melalui profesi yang haram, namun ketika dia memberikan harta tersebut kepada kita, dia memberikannya sebagai upah, hadiah, hibah, jamuan tamu, atau semisalnya kepada kita.

Perbedaan cara mendapatkan harta menyebabkan berbedanya status hukum harta tersebut. Sebagaimana dalam kisah Barirah. Barirah mendapatkan sedekah berupa daging, lalu daging tersebut dia hadiahkan kepada Nabi ﷺ, sedangkan Nabi ﷺ tidaklah diperkenankan untuk memakan harta sedekah. Nabi ﷺ bersabda, ‘Daging tersebut adalah sedekah untuk Barirah, namun hadiah untuk kami.’ (HR. Bukhari dan Muslim, dari Aisyah)

Meski daging yang dihadiahkan kepada Nabi ﷺ itu adalah daging yang disedekahkan kepada Barirah, tetapi status hukumnya berbeda karena terdapat perbedaan cara mendapatkannya. Berdasarkan pertimbangan ini, sejumlah shahabat dan ulama mengatakan bahwa kita boleh memakan harta orang tersebut, sedangkan tentang adanya dosa, maka itu menjadi tanggungan orang yang memberikan harta tersebut kepada kita. Alasannya, kita mendapatkan harta tersebut dengan status hadiah atau upah atas pekerjaan kita (pekerjaan halal), sehingga tidak ada masalah jika kita memakannya.

Dari sisi dalil, pendapat Ibnu Mas’ud adalah pilihan yang tepat. Di antara ulama yang menguatkan pendapat Ibnu Mas’ud adalah Ibnu Abdil Bar Al-Maliki, dalam kitabnya ‘At-Tamhid’.” (Syarah Arbain Nawawiyyah karya Syekh Shalih Alu Syekh, hlm. 153–155, terbitan Dar Al-‘Ashimah, Riyadh, cetakan pertama, 1431 H)

عن ذر بن عبد الله عن ابن مسعود قال : جاء إليه رجل فقال : إن لي جارا يأكل الربا ، وإنه لا يزال يدعوني ، فقال : مهنأه لك ، وإثمه عليه

Dari Dzar bin Abdullah, dia berkata, “Ada seseorang yang menemui Ibnu Mas’ud lalu orang tersebut mengatakan, ‘Sesungguhnya, aku memiliki tetangga yang membungakan utang, namun dia sering mengundangku untuk makan di rumahnya.’ Ibnu Mas’ud mengatakan, ‘Untukmu enaknya (makanannya) sedangkan dosa adalah tanggungannya.’” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf, no. 14675)

عن سلمان الفارسي قال: إذا كان لك صديق عامل، أو جار عامل أو ذو قرابة عامل، فأهدى لك هدية، أو دعاك إلى طعام، فاقبله، فإن مهنأه لك، وإثمه عليه.

Dari Salman Al-Farisi, beliau mengatakan, “Jika Anda memiliki kawan, tetangga, atau kerabat yang profesinya haram, lalu dia memberi hadiah kepada Anda atau mengajak Anda makan di rumahnya, terimalah! Sesungguhnya, rasa enaknya adalah hak Anda, sedangkan dosanya adalah tanggung jawabnya.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf, no. 14677)

Ringkasnya, harta haram itu ada dua macam:

Pertama: Haram karena bendanya. Misalnya: Babi dan khamar; mengonsumsinya adalah haram atas orang yang mendapatkannya maupun atas orang lain yang diberi hadiah oleh orang yang mendapatkannya.

Kedua: Haram karena cara mendapatkannya. Misalnya: Uang suap, gaji pegawai bank, dan penghasilan pelacur; harta tersebut hanyalah haram bagi orang yang mendapatkannya dengan cara haram. Akan tetapi, jika orang yang mendapatkannya dengan cara haram tersebut menghadiahkan atau memberikan sebagai upah uang yang dia dapatkan kepada orang lain, atau dia gunakan uang tersebut untuk membeli makanan lalu makanan tadi dia sajikan kepada orang lain yang bertamu ke rumahnya, maka harta tadi berubah menjadi halal untuk orang lain tadi, karena adanya perbedaan cara mendapatkannya antara orang yang memberi dengan orang yang diberi. Inilah pendapat ulama yang paling kuat dalam masalah ini, sebagaimana pendapat ini adalah pendapat dua shahabat Nabi ﷺ, yaitu Ibnu Mas’ud dan Salman Al-Farisi.

Wallahu a’lam.

Bid’ah, Apa dan Bagaimana?

Assalamualaikum ustadz /ah..izin bertanya,
Sebetulnya bid’ah itu apa ya? Soalnya di fb saya sering ditemukan orang update status bid’ah dan dibilang sesat. Mohon penjelasannya.
Dari i16

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Belakangan ini marak di media sosial tentang sekelompok umat Islam yang sangat sering dan dengan mudahnya membid’ahkan muslim lain yang tidak sepaham dengan mereka. Dan yang disayangkan masalah tersebut hanya masalah furu’ (cabang). Maka banyak masyarakat yang bertanya apa sebenarnya bid’ah? Apakah semua yang tidak dilakukan nabi ﷺ bid’ah? Apakah bid’ah bersifat general, semua yang tidak ada pada masa Rasulullah ﷺ?

Makna Bid’ah

1. Imam Syathibi
“Suatu cara/kebiasaan dalam agama Islam, cara yang dibuat-buat, menandingi syariat Islam, tujuan melakukannya adalah sikap berlebihan dalam beribadah kepada Allah ﷻ.”

2. Imam Al-Izz bin Abdissalam
“Bid’ah adalah perkara yang tidak pernah dilakukan Rasulullah saw.”

3. Imam An-Nawawi
“Para ahli bahasa berkata, bid’ah adalah semua perbuatan yang tidak ada contoh sebelumnya.”

4. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Atsqalany
“Segala sesuatu yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya adalah bid’ah, apakah itu terpuji atau tercela.”

Dari definisi di atas lalu muncul pertanyaan, apakah semua bid’ah sesat? Dan apakah bisa dibagi beberapa macam? Jawabannya adalah tidak semua bid’ah sesat dan bid’ah bisa dibagi.

Para ulama ada yang membagi bid’ah menjadi dua, yaiitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela). Bahkan ada yang membaginya menjadi tiga, yaitu bid’ah hasanah (terpuji), bid’ah mustaqbahah (sesat), bid’ah mubah. Dan ada pula yang melebarkan menjadi lima, yaitu bid’ah wajib, bid’ah mandub, bid’ah haram, bid’ah makruh, bid’ah mubah.

Yang membagi bid’ah menjadi dua adalah Imam Syafii, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela). Jika sesuai sunnah maka itu bid’ah mahmudah, hukumnya boleh dilakukan. Dan jika bertentangan maka disebut bid’ah madzmumah, hukumnya haram.

Adapun kriteria kedua bid’ah tersebut sebagai berikut:
Jikaa perkara yang dibuat-buat sesuai/tidak bertentangan dengan Al-Qur’an atau atsar atau ijma’, maka itu bid’ah mahmudah. Namun jika sebaliknya maka  disebut bid’ah madzmumah.

Yang membagi bid’ah menjadi tiga adalah Ibnu hajar Al-Atsqalany, yaitu bid’ah hasanah, bid’ah mustaqbahah dan bid’ah mubah. Jika suatu perkara dianggap baik dan tidak bertentangan dengan syariat Islam maka itu bid’ah hasanah, hukumnya boleh dilakukan. Jika sebaliknya maka disebut bid’ah mustaqbahah (buruk), hukumnya haram dilakukan. Jika tidak termasuk kedua bidah di atas maka itu bid’ah mubah.

Yang dimaksud oleh hadits bahwa bid’ah adalah sesat yaitu bid’ah yang bertentangan dengan syariat

Selanjutnya bid’ah yang dibagi lima adalah pendapat Imam An-Nawawi. Dasar beliau adalah hadits berikut:

كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

“Setiap perkara yang dibuat-buat adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Namun hadits di atas adalah type hadits umum, dan dikhususkan oleh hadits lain yang berbunyi:

من سن فى الإسلام سنة حسنة فله أجرها

“Siapa yang membuat tradisi baik dalam Islam maka ia mendapatkan pahalanya.”

Yang dimaksud bid’ah dhalalah (sesat dalam hadits pertama adalah:

المحدثات الباطلة والبدع المذمومة

“Perkara yang dibuat-buat yang batil dan perkara yang dibuat-buat yang tercela.”

Beliau membagi bid’ah menjadi lima, dengan ukuran atau timbangan kaidah-kaidah  syariat Islam. Jika masuk dalam kaidah wajib maka menjadi bid’ah wajib, jika masuk perkara sunnah maka menjadi bid’ah mandub, jika masuk perkara makruh maka bid’ah makruh, jika masuk perkara mubah maka menjadi bid’ah mubah, jika masuk perkara haram maka menjadi bid’ah haram.

Contoh-contohnya sebagai berikut:
1. Bid’ah wajib: Mempelajari ilmu nahwu untuk memahami dan mendalami Al-Quran dan sunnah. Bid’ah ini menjadi wajib karena modal untuk mendalami syariat harus paham bahasa Arab secara baik.
2. Bid’ah mandub (dianjurkan): Membangun sekolah dan jembatan dan sejenisnya, dimana hal tersebut belum ada di masa Rasulullah ﷺ.
3. Bid’ah makruh: Hiasan pada masjid, hiasan pada mushaf dan lainnya.
4. Bid’ah haram: Melantunkan Al-Quran dengan merubah laafazh sehingga merubah makna dan kaidah bahasa Arab.
5. Bid’ah mubah: Bersalaman setelah shalat.

Benarkah semua yang tidak pernah dilakukan nabi ﷺ haram?

Bagi orang yang berargumen bahwa semua yang tidak pernah dilakukan nabi ﷺ adalah bid’ah dhalalah menggunakan kaidah berikut:

الترك يقتضى التحريم

“Perkara yang ditinggalkan/tidak dilakukan Rasulullah ﷺ berarti mengandung makna haram.”

Padahal tidak ada satu pun kitab fiqih dan ushul fiqih yang memuat kaidah seperti itu.

Mari kita lihat contoh perbuatan yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ, namun tidak selamanya perbuatan tersebut haram.

1. Karena kebiasaan
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ قَالَ
أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِضَبٍّ مَشْوِيٍّ فَأَهْوَى إِلَيْهِ لِيَأْكُلَ فَقِيلَ لَهُ إِنَّهُ ضَبٌّ فَأَمْسَكَ يَدَهُ فَقَالَ خَالِدٌ أَحَرَامٌ هُوَ قَالَ لَا وَلَكِنَّهُ لَا يَكُونُ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ فَأَكَلَ خَالِدٌ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ
قَالَ مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ بِضَبٍّ مَحْنُوذٍ

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Yusuf Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Abu Umamah bin Sahl dari Ibnu Abbas dari Khalid bin Al Walid ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah diberi daging biawak yang terpanggang. Maka beliau pun berselera hendak memakannya, lalu dikatakanlah kepada beliau, “Itu adalah daging biawak.” Dengan segera beliau menahan tangannya kembali. Khalid bertanya, “Apakah daging itu adalah haram?” beliau bersabda: “Tidak, akan tetapi daging itu tidak ada di negeri kaumku.” Beliau tidak melarang. Maka Khalid pun memakannya sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat. Malik berkata; Dari Ibnu Syihab; BIDLABBIN MAHNUUDZ (Biawak yang dipanggang).  (HR. Bukhari – 4981)

2. Khawatir akan memberatkan umatnya
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ قَالَ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata, saya telah membacakan kepada Malik dari Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah bahwasanya; Pada suatu malam (di bulan Ramadlan), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di Masjid, lalu diikuti oleh beberapa orang sahabat. Kemudian (pada malam kedua) beliau shalat lagi, dan ternyata diikuti oleh banyak orang. Dan pada malam ketiga atau keempat mereka berkumpul, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak keluar shalat bersama mereka. Maka setelah pagi, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku tahu apa yang kalian lakukan semalam. Tiada sesuatu pun yang menghalangiku untuk keluar dan shalat bersama kalian, hanya saja aku khawatir (shalat tarawih itu) akan diwajibkan atas kalian.” (HR. Bukhari – 1061 & Muslim – 1270)

3. Tidak terlintas di fikiran Rasulullah ﷺ
حَدَّثَنَا خَلَّادٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ أَيْمَنَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ
أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا أَجْعَلُ لَكَ شَيْئًا تَقْعُدُ عَلَيْهِ فَإِنَّ لِي غُلَامًا نَجَّارًا قَالَ إِنْ شِئْتِ فَعَمِلَتْ الْمِنْبَرَ

Telah menceritakan kepada kami Khallad berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid bin Aiman dari Bapaknya dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwa ada seorang wanita berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku buatkan sesuatu untuk Tuan, sehingga Tuan bisa duduk di atasnya? Karena aku punya seorang budak yang ahli dalam masalah pertukangan kayu.” Beliau menjawab: “Silakan, kalau kamu mau.” Maka wanita itu membuat sebuah mimbar.” (HR. Bukhari – 430)

4. Karena Rasulullah ﷺ lupa
حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةً فَلَا أَدْرِي زَادَ أَمْ نَقَصَ فَلَمَّا سَلَّمَ قِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ حَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ قَالَ لَا وَمَا ذَاكَ قَالُوا صَلَّيْتَ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَثَنَى رِجْلَيْهِ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ فَلَمَّا سَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّلَاةَ فَإِذَا سَلَّمَ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ

Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat satu kali namun aku tidak tahu apakah beliau menambah atau mengurangi. Ketika salam dikatakan kepada beliau; Wahai Rasulullah, apakah terjadi sesuatu dalam shalat? Beliau menjawab: “Tidak, apa itu?” mereka berkata; Engkau shalat ini dan itu. Ia berkata; Lalu beliau melipat kedua kakinya dilanjut dengan sujud sahwi dua kali, ketika salam beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah manusia yang biasa lupa seperti kalian, apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalat, maka carilah (kepastian) shalat, maka apabila salam, hendaklah sujud dua kali.” (HR. Ahmad – 3420)

5. Khawatir orang arab tidak dapat menerima perbuatan Rasulullah  ﷺ
أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَلَّامٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ أَنْبَأَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ رُومَانَ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ لَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ لَأَمَرْتُ بِالْبَيْتِ فَهُدِمَ فَأَدْخَلْتُ فِيهِ مَا أُخْرِجَ مِنْهُ وَأَلْزَقْتُهُ بِالْأَرْضِ وَجَعَلْتُ لَهُ بَابَيْنِ بَابًا شَرْقِيًّا وَبَابًا غَرْبِيًّا فَإِنَّهُمْ قَدْ عَجَزُوا عَنْ بِنَائِهِ فَبَلَغْتُ بِهِ أَسَاسَ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام
قَالَ فَذَلِكَ الَّذِي حَمَلَ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى هَدْمِهِ قَالَ يَزِيدُ وَقَدْ شَهِدْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ حِينَ هَدَمَهُ وَبَنَاهُ وَأَدْخَلَ فِيهِ مِنْ الْحِجْرِ وَقَدْ رَأَيْتُ أَسَاسَ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام حِجَارَةً كَأَسْنِمَةِ الْإِبِلِ مُتَلَاحِكَةً

Telah mengabarkan kepada kami Abdur Rahman bin Muhammad bin Salam, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, ia berkata; telah memberitakan kepada kami Jarir bin Jazim, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid bin Ruman dari ‘Urwah dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Wahai Aisyah, seandainya bukan karena kaummu dekat dengan masa jahiliyah niscaya saya akan memerintahkan untuk menghancurkan Ka’bah, kemudian saya masukkan kepadanya apa yang telah dikeluarkan darinya, dan saya tancapkan di Bumi, serta saya buat untuknya dua pintu, pintu timur dan pintu barat. Karena mereka tidak mampu untuk membangunnya, sehingga dengannya saya telah sampai kepada pondasi Ibrahim ‘alaihissalam.” Yazid berkata; itulah yang mendorong Ibnu Az Zubair untuk menghancurkannya. Yazid berkata; saya telah menyaksikan Ibnu Az Zubair ketika menghancurkan dan membangunkannya serta memasukkan hijir padanya. Dan saya lihat pondasi Ibrahim ‘alaihissalam berupa bebatuan seperti punuk-punuk unta yang saling melekat. (HR. Nasa’i – 2854)

6. Karena termasuk dalam makna ayat yang bersifat umum
وافعل الخير لعلكم تفبحون

“Dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.”

Rasulullah ﷺ tidak melakukan bukan berarti haram, tapi karena kebaikan-kebaikan itu bersifat umum. Patokannya adalah jika tidak bertentangan dengan syariat maka termasuk bid’ah hasanah. Jika bertentangan maka bid’ah dhalalah.

Mereka yang mudah membid’ahkan memakai kaida, “Jika tidak dilakukan Rasulullah ﷺ maka haram”. Pertanyaannya, adakah kaidah tersebut dalam ushul fiqih? Di atas saya sudah menyinggung bahwa tidak ada di kitab fiqih dan ushul fiqih manapun yang mencantumkan kaidah seperti itu. Kaidah haram ada tiga:
1. Nahyi (larangan/kalimat langsung), contohnya QS. Al-Isra’:72.
2. Nafy (larangan/kalimat tidak langsung), contohnya QS. An-Nisa:148.
3. Wa’id (ancaman keras), contohnya hadits: “Siapa yang menipu kami, maka bukanlah dari golongan kami.” (HR. Muslim)
Sedangkan at-tark (sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ) tidak ada satupun aahli fiqih yang memasukkannya kedalam sesuatu yang diharamkan.

Dan yang diwasiatkan Rasulullah ﷺ adalah kerjakan apa yang beliau perintah, tinggalkan apa yang beliau larng. Tidak ada satu riwayatpun yang mengatakan untuk meninggalkan apa yang tidak beliau kerjakan.

Perkara yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ adalah asal. Hukum asalnya tidak ada suatu perbuatanpun yang datang belakangan. Maka at-tark tidak bisa disebut bisa menetapkan hukum. Karena banyak sekali perkara mandub (anjuran) dan perkara mubah yang tidak pernah dilakukan Rasulullah ﷺ. Jika semua yang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ dihukumi haram, maka terhenti perkembangan kehidupan muslim saat ini.

Jalan keluatnya adalah sabda Rasulullah ﷺ,

حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ مُوسَى السُّدِّيُّ حَدَّثَنَا سَيْفُ بْنُ هَارُونَ عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ قَالَ
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّمْنِ وَالْجُبْنِ وَالْفِرَاءِ قَالَ الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Musa As Suddi telah menceritakan kepada kami Saif bin Harun dari Sulaiman At Taimi dari Abu Utsman An Nahdi dari Salman Al Farisi dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang minyak samin dan keju serta bulu binatang, beliau menjawab: “Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah di dalam kitab-Nya, dan apa yang Dia diamkan adalah sesuatu yang Dia maafkan.” (HR. Ibnu Majah – 3358)

Dan banyak sekali kita temui contoh-contoh amalan sahabat ang tidak dilakukan Rasulullah ﷺ, akan tetapi ketika beliau tahu tidak lantas menyalahkan dan membid’ahkan, tapi justru memuji. Misal kebiasaan Bilal shalat sunnah setelah wudhu’, sahabat yang selalu mengawali bacaannya denga surat Al-Ikhlas, sahabat yang selalu mengakhiri bacaan dengan surat Al-Ikhlas dan lain-lain.

Tapi ada juga perbuatan sahabat yang dilarang Rasulullah ﷺ, karena bertentangan dengan sunnah (bukan perkara yang di diamkan). Contohnya, hadits yang menyebutkan tiga sahabat yang ingin shalat malam selamanya, ada yang ingin puasa sepanjang tahun, dan ada yang tidak ingin menikah. Kemudian Rasulullah ﷺ menegur mereka bahwa beliau tidak demikian, maka mereka dilarang melakukannya.

Kesimpulan

Yang menjadi dasar bukanlah pernah atau tidak pernah dilaakukan Rasulullah ﷺ, akan tetapi prinsipnya adalah apakah perbuatan tersebut melanggar syariat atau tidak. Jika melanggar maka bid’ah dhalalah, jika tidak maka bid’ah hasanah.

Wallahu a’lam.

Keutamaan Surat Yasin

Assalamu’alaikum warrahmatullohi wabaraktuh…
Afwan ana ingin bertanya mengenai hukum nya melaksanakan wirid yasin yg dilaksanakan secara rutin tiap malam jumat namun pelaksanaannya dilaksanakan di mesjid…..syukron

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Hadits pertama,

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ زُرَارَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا رَاشِدٌ أَبُو مُحَمَّدٍ الْحِمَّانِيُّ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ قَالَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ مَنْ قَرَأَ يس حِينَ يُصْبِحُ أُعْطِيَ يُسْرَ يَوْمِهِ حَتَّى يُمْسِيَ وَمَنْ قَرَأَهَا فِي صَدْرِ لَيْلِهِ أُعْطِيَ يُسْرَ لَيْلَتِهِ حَتَّى يُصْبِحَ

Telah menceritakan kepada kami Amr bin Zurarah telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab telah menceritakan kepada kami Rasyid Abu Muhammad Al Himmani dari Syahr bin Hausyab ia berkata; Ibnu Abbas berkata; Barangsiapa yang membaca surat Yasin ketika berada di waktu pagi niscaya diberikan kepadanya kemudahan hari itu hingga ia berada di waktu sore, dan barangsiapa yang membacanya pada awal malam niscaya diberikan kepadanya kemudahan malam itu hingga ia berada di waktu pagi. (HR. Ad-Darimi – 3285)

Hadits kedua,

حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ شُجَاعٍ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنِي زِيَادُ بْنُ خَيْثَمَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُحَادَةَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ يس فِي لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ غُفِرَ لَهُ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ

Telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Syuja’ telah menceritakan kepadaku ayahku telah menceritakan kepadaku Ziyad bin Khaitsamah dari Muhammad bin Juhadah dari Al Hasan dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mengharap wajah Allah niscaya ia akan diampuni pada malam hari tersebut.” (HR. Ad-Darimi – 3283)

Hadits ke tiga,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ الْحَسَنِ بْنِ صَالِحٍ عَنْ هَارُونَ أَبِي مُحَمَّدٍ عَنْ مُقَاتِلِ بْنِ حَيَّانَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس مَنْ قَرَأَهَا فَكَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ عَشْرَ مَرَّاتٍ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Humaid bin Abdurrahman dari Al Hasan bin Shalih dari Harun Abu Muhammad dari Muqatil bin Hayyan dari Qatadah dari Anas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya setiap sesuatu memiliki hati dan sesungguhnya hati Al Qur’an adalah surat Yasin. Barangsiapa yang membacanya, maka ia seakan-akan telah membaca Al Qur’an sebanyak sepuluh kali.” (HR. Ad-Darimi – 3282) [At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits serupa, Sunan Tirmidzi nomor 2812]

Ibnu Katsir berkomentar dalam tafsirnya saat membahas surat ini (Yasin),

ولهذا قال بعض العلماء: من خصائص هذه السورة: أنها لا تقرأ عند أمر عسير إلا يسره الله وكأن قرآءتها عند الميت لتنزل الرحمة والبركة وليسهل عليه خروج الروح. وااله أعلم.

Oleh sebab itu sebagian ulama berkata: “di antara keistimewaan surat ini (Yasin), sesungguhnya tidaklah surat Yasin dibacakan pada suatu perkara sulit, melainkan Allah ﷻ memudahkannya. Seakan-akan dibacakannya surat Yasin di sisi mayat agar turun rahmat dan berkah, serta memudahkan baginya keluarnya ruh. Wallahu a’lam.” [Lihat Tafsir Al-Quran Al-Adhim juz VI hal. 561]

Berdasarkan hadits-hadits di atas dapat disimpulkan bahwa ​membaca surat Yasin pada malam hari (boleh malam Jum’at, Sabtu dst) dan waktu-waktu lainnya adalah baik​. Jika ada yang mengatakan haditsnya lemah dan sebagainya, mayoritas ulama sepakat bahwa mengamalkan hadits dhaif boleh sebagai fadhilah amal dan tidak menyangkut permasalahan aqidah, halal-haram, tidak terlalu dhaif, bernaung di bawah hadits shahih, tidak di yakini sebagai suatu ketetapan.

Wallahu a’lam.

Bertawashul dengan Amalan Sholih Kita


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Saya pernah denger cerita,nyata dialami.
seseorang kehilangan sesuatu,lalu beliau merutinkan baca ayat kursi tiap abis solatnya untuk barang yg hilang itu supaya ketemu,alhasil tiba2 keesokan harinya si barang yg hilang ini ketemu. Akhirnya tips ini dia kasih tau ke orang lain.Ini gimana hukumnya ya ust?
Apakah memang ayat kusinya yg berpengaruh atau memang ada kemusyrikan lain?

Jawaban
———-

โ€Œูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡

Membaca ayat kursi dan ayat-ayat lain merupakan amal shalih bagi seorang muslim. Dan islam membolehkan kita bertawashul dengan amal shalih kita. Hal ini sebagaimana kisah tentang tiga orang yang terkurung didalam goa lalu mereka meminta kepada Allah swt dengan menyebutkan amal-amal shaleh yang pernah dilakukannya agar dikeluarkan darinya dan doa-doa itu pun dikabulkan oleh-Nya.

Karena itulah Ibnu Masโ€™ud mengatakan di waktu sahur,
โ€Wahai Allah Engkau telah memerintahkanku maka aku menaati-Mu dan Engkau telah menyeruku maka aku pun menyambut-Mu. Dan (dengan) sahur ini maka ampunkanlah (dosa) ku.โ€

Hadits Ibnu Umar yang mengatakan di bukit Shafa,โ€Wahai Allah sesungguhnya Engkau pernah mengatakan dan perkataan-Mu adalah benar,โ€Berdoalah kepada-Ku (maka) Aku kabulkan (doa) mu.โ€™ Dan sesungguhnya Engkau tidaklah menyalahi janji.โ€ Kemudian dia menyebutkan doa yang maโ€™ruf dari Ibnu Umarโ€ฆ (Majmu al Fatawa

Dan tidak ada pelarangan terhadap seseorang untuk meminta kepada Allah swt berbagai permintaan yang dikehendakinya baik terkait dengan urusan-urusan dunia maupun akherat melalui berdoa dengan perantara suatu amal shaleh yang paling afdhal yang pernah dilakukannya. Firman Allah ๏ทป

ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุขู…ูŽู†ู‘ูŽุง ุจูู…ูŽุง ุฃูŽู†ุฒูŽู„ูŽุชู’ ูˆูŽุงุชู‘ูŽุจูŽุนู’ู†ูŽุง ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ูŽ ููŽุงูƒู’ุชูุจู’ู†ูŽุง ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุงู‡ูุฏููŠู†ูŽ

Artinya : โ€œYa Tuhan kami, kami Telah beriman kepada apa yang Telah Engkau turunkan dan Telah kami ikuti rasul, Karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)โ€. (QS. Al Imron : 53)

Wallahu a’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Dipersembahkan oleh: manis.id

๐Ÿ“ฒSebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
๐Ÿ“ฑ Telegram: @majelismanis
๐Ÿ–ฅ Fans Page: @majelismanis
๐Ÿ“ฎ Twitter: @majelismanis
๐Ÿ“ธ Instagram: @majelismanis
๐Ÿ•น Play Store
๐Ÿ“ฑ Join Grup WA

Harta Peninggalan Istri


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Klo dlm pembagian warisan… seorang istri meninggal dia sdah tdk punya orang tua, tdk punya anak, sdr kandung jg sdh meninggal, yg ada cuman suami, apakah semua warisan istri utk suami semua, apakah ponakan2 istri tsb jg dpt warisan…?
Mohon penjelasannya..
Terimakasih sebelumnya,.
#i03

Jawaban
———-

โ€Œูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡
Suami berhak mendapatkan harta warisan dari istrinya yang meninggal. Nilainya adalah 1/2 (setengah) harta keseluruhan kalau istri tidak punya anak; dan 1/4 (kalau ada anak). Bagian suami tersebut adalah hak dari suami. Karena itu hak, maka suami bisa mengambil haknya atau bisa juga memberikan ke orang lain. Hukum asal adalah suami harus diberi bagian waris dari istrinya, sebagaimana istri harus mendapatkan bagian waris dari suaminya yang meninggal.

Bahwa harta milik istri adalah harta hasil kerjanya sendiri, maka perlu diketahui bahwa harta yang diwariskan itu memang harus berupa harta yang menjadi milik sendiri dari pewaris. Kalau pada harta istri itu terdapat harta orang lain, maka harta orang lain itu harus dipisah lebih dulu, tidak boleh ikut diwariskan.

Wallahu a’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Dipersembahkan oleh: manis.id

๐Ÿ“ฒSebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
๐Ÿ“ฑ Telegram: @majelismanis
๐Ÿ–ฅ Fans Page: @majelismanis
๐Ÿ“ฎ Twitter: @majelismanis
๐Ÿ“ธ Instagram: @majelismanis
๐Ÿ•น Play Store
๐Ÿ“ฑ Join Grup WA

Menumbuhkan Kecintaan dan Mengusir Kemalasan Terhadap Al Quran


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
1โƒฃ kalo dak sayang Qur’an berati ndak kenal Qur’an ya?

2โƒฃMengapa membaca qQuran (perkataan Allah/kalamullah) kadang terasa berat?
i-2

Jawaban
———-

โ€Œูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡
Al Quran adalah kalamullah yang mulia, satu-satunya kitab suci yang berpahala ketika dibaca dan dijaga keasliannya langsung oleh-Nya.

Maka, seorang muslim yang mendapatkan anugerah terbesar ini seyogyanya mencintai dan bersungguh-sungguh terhadap Al Quran. Di antara cara menumbuhkannya adalah memahami keutamaan-keutamaan yang diberikan Allah ๏ทป kepada sahabat Al Quran.

Beberapa hadits Rasulullah ๏ทบ menyebutkan pembelaan Al-Quran kepada orang-orang yang menjadi sahabatnya, diantaranya:

ุงู‚ู’ุฑูŽุกููˆุง ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ูŽ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุฃู’ุชููŠ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ุดูŽูููŠุนู‹ุง ู„ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจูู‡ู (ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…)

Bacalah Al-Quran, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para sahabatnya. (HR. Muslim).

Orang-orang yang dekat dengan Al Quran juga disebut sebagai keluarga Allah ๏ทป di bumi:

ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุตู‘ูŽู…ูŽุฏู ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ุจู’ู†ู ุจูุฏูŽูŠู’ู„ู ุงู„ู’ุนูู‚ูŽูŠู’ู„ููŠู‘ู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณู ู‚ูŽุงู„ูŽ
ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู‡ู’ู„ููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ููŽู‚ููŠู„ูŽ ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ู ู‡ูู…ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฎูŽุงุตู‘ูŽุชูู‡ู

Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Budail Al Uqaili dari Bapaknya dari Anas ia berkata; Rasulullah ๏ทบ bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai banyak keluarga dari kalangan manusia, ” maka timbullah pertanyaan kepada beliau; “Siapakah keluarga Allah dari kalangan mereka?” beliau bersabda: “Ahli Qur`an adalah ahli Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ahmad: 11831)

Masih banyak keutamaan-keutamaan Al Quran, maka kenalilah dan niscaya kecintaan terhadapnya akan tumbuh di hati. Dan jika kecintaan itu sudah merasuk, tidak akan ada rasa enggan dan malas bermesraan dengannya.

Utsman bin Affan radhiyallahu โ€˜anhu berkata:

ู…ูŽุง ุฃูุญูุจู‘ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฃู’ุชููŠูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู‘ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŒ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ุธูุฑู ูููŠ ูƒูุชูŽุงุจู ุงู„ู„ู‡ู โ€“ ูŠูŽุนู’ู†ููŠ ุงู„ู’ู‚ูุฑูŽุงุกูŽุฉูŽ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูุตู’ุญูŽูู

Aku tidak suka datang siang atau malam kecuali (jika) aku melihat kitab Allah โ€“ maksudnya membaca mushaf Al-Quran. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd halaman 128).

Imam Nawawi rahimahullah dalam bukunya At-Tibyan Fi Adab Hamalah Al-Quran halaman 24 menyatakan:

ูˆูŽุงุนู’ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจูŽ ุงู„ุตู‘ูŽุญููŠู’ุญูŽ ุงู„ู’ู…ูุฎู’ุชูŽุงุฑูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูุนู’ุชูŽู…ูŽุฏู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู‚ูุฑูŽุงุกูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ูŽ ุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽุณู’ุจููŠู’ุญู ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽู‡ู’ู„ููŠู’ู„ู ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ูŽุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฃูŽุฐู’ูƒูŽุงุฑู ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุชูŽุธูŽุงู‡ูŽุฑูŽุชู ุงู„ุฃูŽุฏูู„ู‘ูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู

Dan ketahuilah bahwa madzhab yang shahih dan dipilih oleh para ulama yang menjadi rujukan (ummat) adalah bahwa membaca Al-Quran itu lebih baik dari tasbih, tahlil dan dzikir-dzikir yang lain, dan dalil-dalil yang menunjukkan hal itu sangat jelas, Wallahu alam.

Wallahu a’lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Dipersembahkan oleh: manis.id

๐Ÿ“ฒSebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
๐Ÿ“ฑ Telegram: @majelismanis
๐Ÿ–ฅ Fans Page: @majelismanis
๐Ÿ“ฎ Twitter: @majelismanis
๐Ÿ“ธ Instagram: @majelismanis
๐Ÿ•น Play Store
๐Ÿ“ฑ Join Grup WA.