Haruskah Ahli Waris Membagi Harta Peninggalan Orang Tuanya yang Belum Dibagi dan Tidak Ada Wasiatnya?

Assalamualaikum waroatullahi wabarakatuh. Saya mohon izin dpt bertanya ttg pembagian waris
Apabila org tua sdh meninggal dan waris belum dilakukan, apakah anak wajib menuntaskan? Bila ada rumah msh atas nama alm org tua dan dijadikan tempat kos dan jg rumah tinggal anaknya, apakah hrs byr zakat usaha? Menurut info anaknya, uang kosnya hanya cukup ut makan, byr listrik, air dan keperluan kenyamanan kosnya spt pel dan perbaikan kerusakan kecil. Kalau anak2 nya tdk mau mengurus waris, apakah dosa jika salah seorg anaknya meminta waris krn anak tsb punya byk utang di bank dan ingin melunasinya?

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa Ba’d:
Ada tiga pertanyaan ya ..

1⃣ Apakah waris mesti disegerakan?

Ya, sebaiknya waris tidak ditunda agar hak ahli waris tidak terlantar, sebab kita tidak tahu ajal, dikhawatirikan harta waris belum diapa-apakan tetapi ahli waris sudah ada yang wafat juga. Namun, menyegerakan tentu bukan perkara mudah, mengingat kendala teknis. Seperti wujud harta waris adalah bangunan, yang tidak mudah untuk menjualnya. Disegerakan namun tetap bersabar.

2⃣ Lalu, apakah ada zakat pada rumah yang dijadikan kost?

Iya, barang-barang yang produktif kena zakat yaitu hasilnya yang dizakati. Rumah yang disewakan, maka hasil sewanya yang dizakati, bukan harga total rumahnya plus sewanya, bukan itu. Nishabnya adalah jika hasilnya sudah mencapai senilai 85 gram emas, dikeluarkan zakatnya jika usianya sudah memenuhi satu haul (satu tahun), sebesar 2,5%. (Fatwa-Fatwa ulama Terlampir)

Jika rumah itu dijual, karena ini rumah dipakai sendiri, bukan sebuah objek bisnis, maka tidak ada zakat ketika menjualnya. Bedakan antara menjual rumah karena memang itulah usahanya (property) dengan menjual rumah bukan disebabkan bisnis. Menjual rumah karena bisnis property kena zakat, yaitu zakat perdagangan/perniagaan/tijarah, sebagaimana pendapat mayortas ulama. Hanya sebagian kecil saja ulama yang mengatakan tidak ada zakat perniagaan, seperti Imam Ibnu Hazm, Imam Asy Syaukani, Imam Shiddiq Hasan Khan, dan Syaikh Al Albani.

3⃣ Apakah berdosa seorang anak meminta waris tersebut ketika yang lain tidak ada yang mengurus?

Tidak apa-apa dia meminta haknya, apalagi ketika yang lain tidak peduli. Tapi, ini juga diperhatikan keharmonisan hubungan di antara saudara. Sebaiknya dibicarakan dengan baik tentang urgensi penyegeraan pengurusan harta waris.

Wallahu A’lam

📋 Lampiran Fatwa Ulama:

💥 Tidak Ada Zakat Pada Tanah dan Bangunan Yang Tidak Produktif

Berikut ini kumpulan fatwa para imam zaman ini, tentang tidak adanya zakat tanah dan bangunan yang tidak dimanfaatkan, baik dijual, disewakan, ditanami, dan semua bentuk bisnis lainnya. Ini adalah pendapat terkenal dari zaman ke zaman, bahkan boleh dikatakan telah ijma’ (konsensus) para ulama Islam.

1. Fatwa Syaikh Abdul Karim bin Abdullah Al Khudhair

السؤال: اشترى رجل أرضاً يريد أن يبني عليها استثماراً بعد سنة من شرائها فهل يجب عليه فيها الزكاة في هذه السنة وما بعدها؟
الجواب:
أرض الاستثمار لا تجب الزكاة في عينها، اللهم إلا إذا اشتريت هذه الأرض بنية التجارة ليبيع هذه الأرض، أي: يُتاجر فيها، أما أن يقيم عليها مشروعاً يستغل فإن الزكاة في نتاجه، في أجرته، فيما يخرجه من غلة وما أشبه ذلك، أما أصل الأرض ليس عليها زكاة، هذا يريد أن يقيم عليها مشروعاً، فإذا أقام المشروع وأخذ المشروع في الإنتاج فالزكاة معروفة، فإذا أقام عليها مشروعاً سكنياً مثلاً وأجّر هذا المشروع فإن الزكاة في الأجرة وليست في الأرض، ولا في العمارة، إنما الزكاة في الأجرة، لو أقام عليها زراعة فالزكاة في ثمرتها، وهكذا، لكن لو أقام عليها محلاً تجارياً وملأه بالبضائع المعدة للتجارة فالزكاة على البضائع، والمبنى لا زكاة عليه، الزكاة على البضائع تُقَوَّم كلما حال عليها الحول وتزكّى.

Pertanyaan:
“Ada seseorang yang memberi tanah dan ia ingin membangun kebun di sana. Setelah satu tahun dari waktu pembeliannya, apakah ia harus mengeluarkan zakat dari tanah tersebut dan begitu pula tahun selanjutnya?”

Jawab:
Tanah yang dijadikan kebun tidak wajib untuk dizakati. Kecuali jika tanah tersebut ingin dibisniskan. Adapun jika di tanah tersebut ditanam sesuatu, maka zakatnya adalah dari tanaman tersebut atau dari penjualannya yang merupakan hasil dari tanah tersebut. Jadi, tanah itu sendiri tidak ada zakatnya. Baru ada zakat, jika tanah tersebut dimanfaatkan. Jika pemanfaatn itu memiliki hasil, itulah yang dikenai zakat. Jika tanah tersebut memiliki bangunan (misalnya), lalu ada keuntungan dari bangunan tersebut, maka zakat ditarik dari keuntungannya dan bukan ditarik dari tanah dan bukan pula ditarik dari kontruksi bangunan. Sekali lagi zakatnya ditarik dari hasil (keuntungan) tadi. Jika tanah tersebut terdapat tanaman, maka zakatnya ditarik dari hasil tanaman (yaitu buah, dll). Demikian seterusnya. Jika di atas tanah tersebut didirikan sesuatu yang diperdagangkan, maka zakatnya diambil dari hasil perdagangan barang tersebut. Sedangkan bangunannya tidak dikenai zakat apa-apa. Zakat hanya diambil dari keuntungan penjualan barang-barang dagangan yang ada. Ketika keuntungan tersebut telah bertahan satu tahun (haul), maka barulah dikeluarkan zakatnya.
(sumber: http://www.khudheir.com/text/4312)

2. Syaikh muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah

أما السؤال الثاني وهو الأرض التي اشتراها ليبني عليها بناء ولكنه لم يتمكن من البناء عليها لعدم وجود ما يبنيها به فإنه ليس فيها زكاة لأن العقارات التي لا تعد في البيع والشراء أي لا يريد التكسب ببيعها وشرائها ليس فيها زكاة لأنها من العروض والعروض لا تجب فيها الزكاة إلا إذا قصد بها الاتجار وعلى هذا فليس عليه زكاة في هذه الأرض ولو بقيت سنوات كما أنه ليس عليها زكاة إذا بناها أيضاً واستغلها لكن إذا استغلها فإن عليه الزكاة في أجرتها.

Adapun pertanyaan kedua, tanah yang dibeli untuk didirikan bangunan di atasnya, maka dia tidak ada zakat karena tanah milik yang tidak dipersiapkan untuk dijualbelikan yaitu yang tidak diambil keuntungan dari jual belinya, tidaklah terkena zakat, karena itu termasuk harta yang ditempati, dan harta seperti itu tidak wajib dizakatkan kecuali jika dimaksudkan untuk dijual, oleh karena itu tidak ada zakat atas tanah itu, walau pun keberadaannya bertahun-tahun lamanya, dan tidak pula ada zakat jika didirikan bangunan dan ditanamkan sesuatu di atasnya, tetapi jika ditanamkan sesuatu maka zakatnya ada pada harga tanaman itu (jika dijual). (Fatawa Nur ‘Alad Darb, Az Zakah wash Shiyam, No. 199)

Dalam fatwanya yang lain:

س ـ أمتلك قطعة أرض ، ولا أستفيد منها ، وأتركها لوقت الحاجة ، فهل يجب علي أن أخرج زكاة عن هذه الأرض ؟ .. وإذا أخرجت الزكاة هل علي أن أقدر ثمنها في كل مرة ؟
ج ـ ليس عليك زكاة في هذه الأرض لأن العروض إنما تجب الزكاة في قيمتها ، إذا أعدت للتجارة ، والأرض والعقارات والسيارات والفرش ونحوها عروض لا تجب الزكاة في عينها ، فإن قصد بها المال أعني الدراهم بحيث تعد للبيع والشراء والاتجار ، وجبت الزكاة في قيمتها . وإن لم تعد كمثل سؤالك فإن هذه ليست فيها زكاة .

Pertanyaan:
Saya mempunyai sebidang tanah, namun tidak menghasilkan apa-apa dan saya biarkan begitu saja. Wajibkah saya mengeluarkan zakat tanah tersebut ? Jika dikeluarkan zakatnya, wajibkah saya memperhitungkan zakatnya ?

Jawaban:
Tanah seperti ini tidak wajib dizakati. Semua barang wajib dizakati saat diperdagangkan. Pada dasarnya tanah, berbagai tanah milik (‘aqarat), kendaraan atau barang-barang lainnya, maka semuannya termasuk harta pemilikan dan tidak wajib dizakati kecuali jika dimaksudkan memperoleh uang, yakni diperjualbelikan atau diperdagangkan. (Fatawa Islamiyah, 2/140. Disusun oleh Muhammad bin Abdul Aziz Al Musnad)

3. Syaikh Muhammad Khaathir Rahimahullah (mufti Mesir pada zamannya)

Katanya:

لا تجب فى الأرض المعدة للبناء زكاة إلا إذا نوى التجارة بشأنها

Tanah yang dipersiapkan untuk didirikan bangunan tidak wajib dizakati, kecuali diniatkan untuk dibisniskan dengan mengembangkannya. (Fatawa Al Azhar, 1/157. Fatwa 15 Muharam 1398)

4. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz
Rahimahullah (Mufti Arab Saudi pada zamannya)

س : إذا كان لدى الإنسان قطعة أرض ولا يستطيع بناءها ولا الاستفادة منها ، فهل تجب فيها الزكاة ؟
ج : إذا أعدها للبيع وجبت فيها الزكاة ، وإن لم يعدها للبيع أو تردد في ذلك ولم يجزم بشيء ، أو أعدها للتأجير فليس عليه عنها زكاة ، كما نص على ذلك أهل العلم ؛ لما روى أبو داود رحمه الله عن سمرة بن جندب -رضي الله عنه- قال : « أمرنا رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أن نخرج الصدقة مما نعده للبيع » .

Pertanyaan:
Jika manusia punya sebidang tanah dan dia tidak mampu mendirikan bangunan dan tidak pula bisa memanfaatkannya, apakah tanah itu wajib dizakati?

​Jawaban nya:​
Jika dia mempersiapkannya untuk dijual maka wajib dikelurkan zakat, jika tidak untuk dijual atau ragu-ragu dan belum pasti, atau tidak untuk disewa, maka tidak ada kewajiban zakat atasnya.

Sebagaimana ulama katakan tentang hal itu, karena telah diriwayatkan oleh Abu Daud Rahimahullah, dari Samurah bin Jundub Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
“Kami diperintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengeluarkan zakat dari apa-apa yang diperdagangkan.” (Majalah Al Buhuts Al Islamiyah, 56/124).

Wallahu a’lam.

Hukim Seorang Istri Menjadi TKI Untuk Mencukupi Nafkah Keluarga


Assalamualaikum waroatulloh wabarakatuh. Ustadz.. saya mau bertanya. Keluarga kami sedang di beri ujian kefakiran dan hutang dan saya ada rencana kerja TKI utk jangka waktu kontrak 1 tahun. Bagaimana menurut Islam tentang keputusan itu?

Saya seorang istri dengan 4 orang anak sedangkan suami saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk hutang-hutang tersebut. Kalo hanya untuk kebutuhan hidup saya msih bisa bertahan tapi saya gelisah dengan hutang-hutang saya dan biaya pendidikan anak-anak saya.Terimakasih sebelumnya untuk pencerehannya.
[Member A32]

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Ada dua hal yang menjadi masalah:

1. Wanita bekerja
2. Wanita safar tanpa mahram lebih dari tiga hari

Kegelisahan ini sebenarnya tidak akan terjadi jika suami tetap berjuang menafkahi keluarga. Sehingga kesan tidak bisa berbuat apa-apa tidak sampai terjadi. Sebelum berpikir kesana, sebaiknya motivasi lagi suami, agar mau berusaha, sebagai bentuk dan bukti kepemimpinannya dalam keluarga.

Anggaplah, yang terpahit suami memang sudah tidak mampu. Sayangnya di sini tidak dijelaskan sebabnya apa. Apa karena sakit, PHK, atau memang malas dan ogah-ogahan berusaha.

Sebab apa pun itu, sehingga membuat istri mesti menjaga ngebulnya dapur bahkan biaya pendidikan, dan biaya lain sewajarnya kehidupan rumah tangga. Tetaplah mesti diperhatikan sisi syara’-nya. Prinsipnya, bekerja buat wanita boleh saja selama terpenuhi syarat-syaratnya. Bukan sunah, apalagi wajib. Sebab, suami masih ada, dan dia masih bisa berusaha.

Dahulu Asma’ binti Abu Bakar, membantu Az Zubeir bim Awwam ke pasar, membawa barang dagangan suaminya di atas kepalanya. Ini menunjukkan peran serta wanita dalam ekonomi rumah tangga. Tetapi tetaplah tulang punggungnya adalah suami.

Maka, usul saya:

– Carilah pekerjaan yang aman menurut syara’, yang bisa tetap aman dari khalwat, ikhtilat mamnu’, tetap menutup aurat, pada usaha-usaha yang halal.

– Atau ciptakan lapangan kerja sendiri di rumah, yang sambil tetap menjalankan fungsi kerumahtanggaan. Cukup banyak wanita yg tetap produktif secara ekonomi, tanpa harus menabrak batasan syariat.

Saya faham ini sangat tidak mudah bagi seorang istri. Tp, tidak salahnya dipikir ulang, dan dicoba dulu.

Sedangkan masalah ke dua, Safarnya Wanita Tanpa Mahram akan saya bahas sambil menunggu perkembangan dari penanya.

Wallahu a’lam.

Nasihat Bagi Kolektor Buku dan Para Penulis​


Imam Al Khathib Al Baghdadi Rahimahullah berkata:

وقيل لبعض الحكماء : إن فلانا جمع كتبا كثيرة ، فقال : هل فهمه على قدر كتبه ؟ قيل : لا ، قال : فما صنع شيئا ، ما تصنع البهيمة بالعلم ، وقال رجل لرجل كتب ولا يعلم شيئا مما كتب : ما لك من كتبك إلا فضل تعبك ، وطول أرقك ، وتسويد ورقك

Dikatakan kepada sebagian orang bijak: “Sesunguhnya si Fulan banyak mengkoleksi buku.”

Lalu dia berkata: “Apakah pemahamannya sesuai kadar buku-bukunya?” Dijawab: “Tidak.”

Dia berkata: “Dia tidak berbuat apa-apa, apa yang bisa dilakukan binatang ternak terhadap ilmu?”

Berkata seorang laki-laki kepada orang yang menulis tapi tidak mengetahui apa yang ditulisnya: “Kamu tidak memperoleh dari apa yang kamu tulis kecuali kelebihan lelahmu, lamanya begadangmu, dan hitamnya coretan kertasmu.”

📚 Al Faqih wal Mutafaqih, 3/168

▪️ Kolektor buku yg hanya kagum dengan jumlahnya sedemikian banyak, tapi tidak memahami apa kandungannya, bagaikan Bani Israel yang memiliki taurat tapi tidak memahami isinya, Allah Ta’ala mengumpamakannya dengan keledai sebagaimana firman Allah Ta’ala:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS. Al Jumu’ah: 5)

Wallahu yahdinaa ilaa sawaa’is sabiil ..

Prediksi Kenabian Yang Menjadi Kenyataan​


Malam Senin (31 Desember), kita menyaksikan apa-apa yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam prediksikan 14 abad silam:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

Dari Abu Sa’id Al Khudri dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

“Sungguh, engkau akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, hingga kalaulah mereka masuk liang biawak, niscaya kalian mengikuti mereka.”

Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nasranikah (yang akan kami ikuti)?”

Nabi menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?”

📚 Imam Al Bukhari no. 7320, Imam Muslim no. 2669

Maka, … Tanyakan kepada umumnya umat Islam, apakah 1 Muharram? Mereka tidak tahu! Tapi, apakah 1 Januari? Semuanya tahu …

Tanyakan kepada remaja-remaja kita .., ada apa dengan 9 Zulhijjah? Umumnya tidak tahu!
Tapi, tanyakan tentang 14 Februari ? Hampir semuanya tahu ..

Tanyakan tentang Sirah Nabawiyah …, tanyakan tentang Usamah bin Zaid, Khalid bin Walid, Al Qa’qa’, Al Mutsanna, sangat sedikit yg tahu ..

Tapi, tanyakan biografi Messi dan CR7 .., atau artis Korea dan penyanyi Barat .. meluncur dengan mudah dr lisan mereka ..

Demikianlah .. “Lubang Biawak” itu kecil dan kotor, tapi kita tetap memaksa memasukinya .. artinya betapa kuat daya tarik budaya mereka, sekotor itu pun masih diikuti juga .. walau tidak pantas diikuti ..

Semoga, fajar kemenangan Islam tidak terhalang oleh sebongkah fakta menyedihkan yg terus berulang tiap akhir tahun di negeri-negeri muslim ..

Hadits inilah yang membuat kami masih bisa tersenyum optimis:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشِّرْ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِالسَّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ وَالدِّينِ وَالنَّصْرِ وَالتَّمْكِينِ فِي الْأَرْض

Dari Ubay bin Ka’b dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Berilah kabar gembira kepada umat ini dengan kejayaan, kemulyaan, agama, pertologan dan kekuasaan di muka bumi.”

(HR. Ahmad no. 20273, Al Hakim dalam Al Mustadrak no. 7862, beliau berkata: Shahih. Disepakati keshahihannya oleh Imam Adz Dzahabi)

Wallahul Musta’an wa ilaihil musytakaa …

Maaf, Tahun Barumu Bukan Tahun Baru Kami​


Kami umat Islam menghargai adanya perbedaan, dan mengakui perbedaan itu adalah sunatullah kehidupan. Sebab Rabb kami telah berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

​Seandainya Rabbmu berkehendak niscaya manusia Dia jadikan umat yang satu, namun mereka senantiasa berselisih. (QS. Huud: 118)​

Ayat yang lain:

وَلَوْ شاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعاً أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

​Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (QS. Yunus: 99)​

Oleh karena itu, kami akan tetap berbuat baik dan adil kepada siapa pun yang berbeda dengan kami, selama mereka tidak berbuat aniaya kepada kami.

Rabb kami mengajarkan:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

​Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil. (QS. Al Mumtahanah: 8)​

Maka, biarlah kami istiqamah atas agama kami dan budaya kami, jangan kalian kecut dan jangan pula cemberut, sebab itu bagian dari tuntutan iman kami.

Nabi kami – Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam– mewasiatkan kami:

قُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

​Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah! (HR. Muslim, 62/38)​

Dan, kami pun tidak memaksa kalian untuk mengikuti agama dan budaya kami. Sebab memaksa bukan ajaran Rabb kami.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (QS. Al Baqarah: 256)

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ

​Maka berilah peringatan, karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka (untuk memaksa). (QS. Al Ghasyiah: 21-22)​

Jadi, sangat ingin kami katakan kepada kalian.

​Bahwa hari raya kalian bukan hari raya kami, begitu pula hari raya kami bukan hari raya kalian, sebagaimana tahun baru masehi kalian bukanlah tahun baru bagi kami​

Karena titik tolak sejarah awal tahun kalian berbeda dengan tahun hijriyah kami, tahun baru kalian diawali oleh kelahiran Nabi kami yang mulia -yang telah kalian Tuhankan- ‘Isa ‘Alaihissalam, sementara tahun kami diawali hijrah Rasulullah dan para sahabatnya dari Mekkah ke Madinah.

Walaupun banyak saudara kami muslimin awam yang ikut-ikutan berbahagia dan bersuka cita atas hari raya dan budaya kalian karena ketidaktahuan mereka itu bukan alasan bagi kami untuk turut larut di dalamnya.

Maka, jangan ajak kami hura-hura di malam itu; petasan, tiup terompet, dan sebagainya. Biarlah kami mengisinya dengan kebaikan yang sudah biasa kami jalankan, berkumpul bersama keluarga, ta’lim rutin, ibadah, sebagaimana malam-malam lain.

Nabi kami – Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam– mengajarkan:

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

​“Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya masing-masing, dan hari ini adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari No. 952, Muslim, 16/892)​

Ya, jelaskan?!
Setiap kaum, setiap umat punya hari raya dan hari besarnya sendiri, silahkan berbahagia dan suka cita dihari itu. Kami tidak memaksa dan menuntut kalian mengucapkan selamat atas kami karena kebahagiaan kami sangat berlimpah dan tidak akan berkurang tanpa ucapan selamat dari kalian. Kami pun meyakini, kebahagiaan kalian tidak akan berkurang seandainya kami tidak mengucapkan selamat atas hari raya kalian, sebab sangat tidak dewasa bila perasaan kebahagiaan dan suka cita mesti didahului ucapan selamat dahulu.

Kami, umat Islam, memiliki sangat banyak hari raya dan hari-hari istimewa, dan kami pun puas atas hal itu, itulah kenapa kami tidak membutuhkan hari raya yang tidak berasal dari Rabb dan nabi kami, yang telah menjadi budaya dan sejarah kami.

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, beliau berkata:

​“Dahulu orang jahiliyah memiliki dua hari untuk mereka bermain-main pada tiap tahunnya.”​

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang ke Madinah, dia bersabda: ​“Dahulu Kalian memiliki dua hari yang kalian bisa bermain-main saat itu. Allah telah menggantikan keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya, yakni hari Fithri dan hari Adha.” (HR. Abu Daud No. 1134, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 1755, Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 1098, katanya: hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar (Fathul Bari, 3/371) juga mengatakan: shahih.)​

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

​Hari ‘Arafah, hari penyembelihan qurban, hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita para pemeluk islam, itu adalah hari-hari makan dan minum. (HR. At Tirmidzi No. 773, katanya: hasan shahih, Ad Darimi No. 1764, Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: isnaduhu shahih. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1586, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya.”)​

Dari Abu Lubabah bin Abdil Mundzir, dia berkata: Bersabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

​“Sesungguhnya hari Jumat adalah Sayyidul Ayyam (pimpinan hari-hari), keagungannya ada pada sisi Allah, dan dia lebih agung di sisi Allah dibanding hari Idul Adha dan Idul Fitri. Padanya ada lima hal istimewa: pada hari itu Allah menciptakan Adam, pada hari itu Allah menurunkan Adam ke bumi, pada hari itu Allah mewafatkan Adam, pada hari itu ada waktu yang tidaklah seorang hamba berdoa kepada Allah melainkan akan dikabulkan selama tidak meminta yang haram, dan pada hari itu terjadinya kimat. Tidaklah malaikat muqarrabin, langit, bumi, angin, gunung, dan lautan, melainkan mereka ketakutan pada hari Jumat.” (HR. Ibnu Majah No. 1083. Ahmad No. 15547, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 4511, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 2973, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 817, Al Bazzar No. 3738. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 2279).​

Lihatlah hari raya kami. Idul Fitri (1 Syawwal), Idul Adha (10 Dzulhijjah), hari Arafah (9 Dzulhijjah), hari-hari tasyriq (11,12,13 Dzulhijjah), dan hari Jum’at yang datangnya tiap pekan.

Belum lagi hari istimewa lainnya, walau bukan hari raya tetapi ini merupakan hari istimewa bagi kami karena di dalamnya mengandung keutamaan yang banyak untuk beribadah dan nilai sejarah. Seperti Senin, Kamis, 10 hari pertama Dzulhijjah, 6 hari Syawwal, hari ‘asyura, Ayyamul Bidh, 17 Ramadhan, 1 Muharam awal penanggalan kami, dan Lailatul Qadar.

Semua ini ada dasarnya dalam agama dan sejarah kami.

Inilah kami, dan inilah agama kami, walau kami bersikap Lakum diinukum wa liyadin dalam urusan agama, tetapi kami ini rahmatan lil ‘alamin bagi kalian dalam urusan muamalah. Kalian tetap saudara dan sahabat, jangan khawatir. Sebab Rabb kami mengajarkan:

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ نُوحٌ أَلَا تَتَّقُونَ

​Ketika saudara mereka ​(Nuh)​ berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 106)​

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ

​Ketika saudara mereka ​Hud​ berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 124)​

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ صَالِحٌ أَلَا تَتَّقُونَ

​Ketika saudara mereka, shaleh, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 142)​

إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ لُوطٌ أَلَا تَتَّقُونَ

​Ketika saudara mereka, ​Luth​, berkata kepada mereka: mengapa kamu tidak bertakwa?” (QS. Asy Syu’ara: 161)​

Lihatlah, Allah Ta’ala tetap menyebut para nabi pembawa risalahNya; Nuh, Hud, Shalih, dan Luth, sebagai saudara bagi kaumnya, walau kaumnya mengingkari agama yang dibawa mereka, mengingkari kenabian, dan mengingkari ketuhanan Allah Ta’ala. Itulah sikap kami juga, walau kalian ingkar kepada agama yang kami yakini, ingkar kepada nabi kami, kalian tetap saudara kami; saudara setanah air.

Wallahu A’lam

Hukum Suami Takut Istri Dalam Islam


Assalamualaikum ,, saya mau bertanya apa hukumnya kalau suami takut sama istri ,??? dan satu lagi apakah dosa kalau seorang istri selingkuh msalah keuangan ?? mohon jawabannya syukron,,,

Maksudnya selingkuh masalah keuangan yang sudah di kasih dari suami ke istri dan sama istri nya dipakai untuk kebutuhan orangtua dan saudaranya atau bayar hutang yang suaminya tidak tahu , dan istrinya cukup dengan bilang ke suami uangnya sudah terpakai untuk kebutuhan dapur ,, bagaimana klo seperti itu hukumnya dosa besarkah seorang istri ???

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

1. Suami takut istri .., ini belum jelas bagaimana takutnya, sebabnya apa .. seorang suami itu pemimpin, seharusnya punya wibawa, dan menjadi pelindung bagi keluarga. Bukan hukum halal haram dalam hal ini, tapi tidak sepantasnya seperti itu, kecuali TAKUT yang dibenarkan syariat.

2. Keuangan mesti jujur, khususnya yang berasal dari harta suami, walau itu buat sedekah mesti ada penjelasan agar suami tidak merasa dikhianati. Istri bebas menggunakan hartanya yang pribadi, paling suami hanya sekedar tahu, atau boleh tidak diberitahu jika justru lahir fitnah dan keributan.

Tapi uang yang berasal dari suami, mesti ada izin, bukan hanya pemberitahuan.

Wallahu a’lam.

Apakah Ada Buktinya Shalat dan Doa Diterima?


Pertanyaan Manis I17:
Assalamualaikum Waruhmatullahi Wabarakatuh..mau Bertanya
1. Apakah Tandanya / Buktinya klo shalat yang dikerjakan diterima Allah S.W.T
2. Apakah Tandanya / Buktinya klo Doa yang kita peruntukan kepada Almarhum sampai diterima
Syukoron

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

1. Dalam Nash2 yg sharih (lugas), tidak ada penjelasan khusus ttg tanda Allah Ta’ala menerima amal hambaNya. Biarlah ini tidak kita ketahui, agar kita senantiasa beramal, beramal, beramal, dan tidak merasa puas dgn amal. Para ulama dan penulis memang ada yg mencoba menerka-nerka, namun sifatnya ijtihadiyah.

Ada pun yg ada dalam keterangan adalah syarat-syarat diterimanya amal yaitu;

1. Iman. Amal org kafir tidak akan diterima, sebaik apa pun amal itu.

2. Amalnya benar, yaitu sesuai Sunnah, atau ada dasar dalam syariah, baik secara global atau khusus. Sebagaimana hadits:

​Man ahdatsa fii amrinaa haadza man Laisa minhu fahuwa raddun​ – siapa yang melakukan perkara baru yg tidak ada dasar dalam agama ini maka itu tertolak.

3. Ikhlas, hanya untuk Allah, tdk ada niatan lain.

Allah Ta’ala berfirman:

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

​Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya​. (QS. Al Kahfi: 110)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala mengumpulkan dua syarat;

– Amal itu Shalih,

– Amal itu mencari Ridha Allah, tidak menyekutukan dgn yg lainnya.

2. Pertanyaan ini sama seperti di atas. Yg ada adalah hadits-hadits yg mencontohkan doa untuk orang yg sudah wafat. Tapi, kalau ditanya “apa tandanya doa kita sampai?” Tidak ada penjelasannya, yg diperintahkan dalam syariat adalah perintah untuk mendoakannya.

Ini menunjukkan bahwa kita diperintahkan untuk beramal dan berdoa, hasilnya serahkan kepada Allah Ta’ala. Agar manusia tidak pernah merasa puas dgn amal dan doanya.

Wallahu a’lam.

Waria Jadi Imam Shalat​


​Bismillah wal Hamdulillah ..​

Dalam fiqih, ada jenis ketiga yaitu ​Al Khuntsa​. Siapa ​Al Khuntsa?​ yaitu orang yg laki atau wanitanya blm bisa dipastikan, karena dia berkelamin ganda.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ​Rahimahullah​ mengatakan:

والخُنثى هو: الذي لا يُعْلَمُ أَذكرٌ هو أم أنثى؟ فيشمَلُ مَن له ذَكَرٌ وفَرْجٌ يبول منهما جميعاً, ويشمَلُ مَن ليس له ذَكَرٌ ولا فَرْجٌ، لكن له دُبُرٌ فقط

​​Al Khuntsa​ adalah orang yg tidak diketahui priakah dia atau wanita? Mencakup didalamnya pula yaitu orang yg memiliki dzakar dan vagina jg dan kencingnya lewat keduanya. Mencakup pula di dalamnya orang yg tidak punya dzakar dan tidak punya vagina, hanya punya dubur.​ (Selesai)

Jenis ini, hanya boleh menjadi imam bagi kaum wanita. Tidak boleh jadi imam kaum laki-laki, dan tidak boleh jadi imam sesama mereka.

Syaikh Abdullah Al Faqih ​Hafizhahullah​ mengatakan:

فهو لا تصح إمامته للرجال, ولا لمثله من الخناثى لاحتمال أن يكون امرأة، وتصح إمامته للنساء عند الجمهور

​Maka, dia tidak sah menjadi imam bagi kaum laki-laki, dan tidak sah bagi yg semisal dirinya dari kalangan Al Khuntsa juga, karena bisa jadi kemungkinannya dia wanita, tapi dia SAH menjadi imam bagi kaum wanita saja menurut pendapat mayoritas ulama.​

​(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 189089)​

Nah, ​Al Khuntsa​ inilah yg dimaksud dalam buku tersebut.

Bagaimana dgn banci? Atau istilah lain waria atau bencong? Mereka bukan ​Al Khuntsa.​ Mereka ini kelompok yg sejak lahirnya adalah laki-laki lalu berpolah seperti wanita; suara, kedipan mata, pakaian, cara jalan, gerakan tangan, .. maka ini fasiq. Salah gaul jadi seperti ini. Kalau perempuan, yang berprilaku seperti laki-laki; ​gaya, suara, pakaian, maka ini lebih dikenal dgn tomboy.​ Keduanya tercela dalam ​As Sunnah.​

Inilah yg disebut dalam hadits Nabi ​Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam​ sebagai berikut:

ِعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ مِنْ النِّسَاءِ

Dari Ibnu Abbas ​Radhiallahu ‘anhuma​ mengatakan, Nabi ​Shallallahu’alaihi wasallam​ melaknat laki-laki yang menyerupai wanita (waria) dan perempuan yang menyerupai laki-laki.

​(HR. Bukhari no. 6834)​

Shalat menjadi makmumnya waria adalah suatu yg dibenci kecuali terpaksa.

Imam Az Zuhri ​Rahimahullah​ berkata:

ُّ لَا نَرَى أَنْ يُصَلَّى خَلْفَ الْمُخَنَّثِ إِلَّا مِنْ ضَرُورَةٍ لَا بُدَّ مِنْهَا

​Kami tidak membenarkan shalat menjadi ma’mumnya waria kecuali kondisi darurat yg mengharuskan demikian.​ ​(Shahih Al Bukhari no. 659, Kitabullah Adzan)​

Dalam ​Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah​ dijelaskan:

والذي يتشبه بهن في تليين الكلام, وتكسر الأعضاء عمدا، فإن ذلك عادة قبيحة ومعصية, ويعتبر فاعلها آثما وفاسقا, والفاسق تكره إمامته عند الحنفية والشافعية، وهو رواية عند المالكية, وقال الحنابلة والمالكية في رواية أخرى ببطلان إمامة الفاسق.

​Laki-laki yg menyerupai wanita; dalam melembutkan pembicaraan, gerakan anggota tubuhnya secara sengaja, ini adalah kebiasaan yg buruk lagi jelek, pelakunya dinilai berdosa dan fasiq.​

​Orang fasiq makruh menjadi imam menurut Syafi’iyyah dan Hanafiyah, dan salah satu riwayat Malikiyah.​

​Adapun bagi Hanabilah dan Malikiyah dalam riwayat yg lain, batal menjadi ma’mumnya orang fasiq.​ (selesai).

Semoga bisa dibedakan antara Al Khuntsa, dan Al Mukhannats (banci/waria).

Demikian. Wallahu a’lam

Menjual Barang Untuk Keperluan Natal​


Imam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam ​Iqtidha Sirath Al Mustaqim:​

فأمّا بيع المسلم لهم في أعيادهم ما يستعينون به على عيدهم من الطعام واللباس والرّيحان ونحو ذلك أو إهداء ذلك لهم فهذا فيه نوع إعانة على إقامة عيدهم المحرّم.

​Ada pun Seorang Muslim menjual untuk mereka pada saat hari raya mereka, yg dengan itu dapat membantu pelaksanaan hari raya itu seperti makanan, pakaian, parfum, dan lainnya, atau memberikan hadiah kepada mereka, maka semua ini adalah bentuk pertolongan atas terlaksananya perayaan mereka yang diharamkan.​ ​(Hal. 229)​

Imam Abdul Malik bin Habib ​Rahimahullah,​ seorang ulama Malikiyah, berkata:

ألا ترى أنّه لا يحلّ للمسلمين أن يبيعوا من النصّارى شيئا من مصلحة عيدهم؟ لا لحما ولا إداما ولا ثوبا ولا يُعارون دابّة ولا يعاونون على شيء من عيدهم لأنّ ذلك من تعظيم شركهم ومن عونهم على كفرهم

​Apakah Anda tidak lihat bahwanya tidak halal bagi kaum muslimin menjual sesuatu kepada kaum Nasrani apa-apa yang dimanfaatkan pada hari raya mereka ? Tidak boleh menjual daging, pakaian, dipinjamkan hewan, dan tidak pula menolong mereka dgn sesuatu pada hari raya mereka, sebab itu merupakan pemuliaan thdp kesyirikan mereka dan termasuk pertolongan atas kekafiran mereka.​ ​(Ibid, hal. 231)​

Demikian. Wallahu a’lam

Mengingatkan Imam yang Lupa..


Assalamualaikum ustadz/ ah.. Kebetulan saya rumahnya deket mesjid dan selalu sholat berjamaah yang ingin saya tanyakan bagaimana hukumnya kalau kita melakukan sholat berjamaah trus imamnya lupa satu rakaat lagi dan beliau langsung tasyahud akhir ,apakah bnar sholat kita tetep sah? ,,, atau kita harus melakukan sholat satu rakaat lagi yang kurang tadi ??? Mohon jawaban nya ,, syukron
Kebetulan imam di mesjid saya sering lupa dalam sholat dan kadang juga sering lupa ayat yang dibaca walau satu ayat , bagaimana hukumnya ke kita sebagai ma’mum nya beliau apakah dosa kita sebagai ma’mum atau kah imam nya harus diganti ????
[ A 33 ]

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Ketahuilah kekurangan imam, atau bahkan kesalahan fatal imam, semuanya ditanggung oleh imam itu sendiri, bahkan tidaklah ditanggung oleh makmum. Hal ini berdasarkan beberapa dalil berikut: Allah Ta’ala berfirman:

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (QS. An Najm : 38-39)   Ayat lain:

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

 “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al Mudatsir (74): 38)
Dalam hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلُّونَ بِكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

Dari Abu Hurairah dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Mereka shalat sebagai imam bagi kalian, maka jika mereka benar, pahalanya bagi kalian dan mereka, dan jika mereka salah, maka pahalanya untuk kalian, dosanya ditanggung mereka.” (HR. Bukhari No. 694)  Sahl berkata:

إِنِّي سَمِعْتُ رَسُول
َ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْإِمَامُ ضَامِنٌ فَإِنْ أَحْسَنَ فَلَهُ وَلَهُمْ وَإِنْ أَسَاءَ يَعْنِي فَعَلَيْهِ وَلَا عَلَيْهِمْ

“Sesungguhnya aku mendengar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:”Imam itu adalah penanggung jawab, jika dia benar, maka pahalanya bagi dia dan bagi makmum, jika dia salah, maka tanggung jawabnya adalah kepadanya, bukan kepada makmum.”    (HR. Ibnu Majah No. 981, Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. Lihat  Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 981)                
Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

تصح إمامة من أخل بترك شرط أو ركن إذا أتم المأموم وكان غير عالم بما تركه الامام

“Bermakmum kepada orang yang tertinggal syarat dan rukun shalat adalah sah, dengan syarat makmum tidak tahu kesalahan tersebut dan dia menyempurnakan apa-apa yang ditinggalkan oleh imam.”   (Fiqhus Sunnah, 1/241)

Wallahu a’lam.