Merenda Asa Meraih Cita, Menggapai Mulia

Oleh: Rochma Yulika

▣● Imam Ibnu Qayyim menyebutkan syarat keberhasilan meraih cita-cita adalah memiliki  himmah ‘aaliyah atau  (
‘uluwwul himmah (semangat yang tinggi) dan Niyyah Shohihah (niat yang baik).

▣● Membangun semangat pada diri tak bisa lepas dari tujuan ukhrowi. Ada memang diantara manusia yang memiliki semangat yang tinggi untuk mengejar nilai duniawi. Orang-orang seperti ini lupa bahwa hidup akan dibatasi oleh kematian. Kerja kerasnya tak bisa jadi bekal untuk kehidupan yang kekal. Orang yang punya semangat tinggi sementara niat tak baik banyak kita lihat. Mereka bukan orang yang punya iman. Mereka meletakkan aqidahnya untuk mengejar apa yang diinginkan hawa nafsunya.

▣● Dan kita….
Harus senantiasa melandasi semangat dengan niat yang baik semua karena Allah. Niat lillahita’ala yang menjadikan setiap usaha yang kita lakukan berbuah pahala.

▣● Bagaimana kita sebagai hamba beriman agar semangat selalu menggelora dan niat senantiasa di koridor-Nya?

▣● Kita punya Al-Quran yang senantiasa bisa kita baca dan tadaburi.

▣ Banyak ilmu dan nasihat yang menentramkan hati.
▣ Banyak pelajaran yang membuat kita semakin meyakini takdir Ilahi.
▣ Dengan Al-Quran hati semakin terhidupkan, dengan semakin dekat interaksi kita semakin banyak kemudahan. Iman semakin tergenapkan, ibadah semakin bisa diperbaiki, hubungan dengan Allah pun semakin dekat.

▣● Lantas apalagi yang mampu membangkitkan semangat kita? Sunnah Rasulullah saw dan  kisahnya yang menjeyarah menjadikan kita banyak belajar. Menapaktilasi perjalanannya beserta para sahabat dalam memperjuangkan diin yang mulia membuat kita semakin merasa tak berarti apa-apa bila hanya menjadi pribadi yang biasa.

▣● Kemudian kita perlu bercermin dari salafusshalih. Mereka menjaga taat, mereka memperjuangkan syariat, mereka berkorban untuk akhirat. Kisah semangat mereka bisa menjadi energi positif yang mampu menggerakkan diri ini bisa bergerak dan melaju di jalan Allah. Mereka yang melewati malam dengan ibadah dan taqarub ilallah, dan siang harinya bekerja tanpa kenal lelah.

▣● Mereka seperti rahib di malam hari dan penunggang kuda di siang hari. Ibarat ini sungguh tepat untuk kiprah para pendahulu itu. Sakit bagi mereka tak dirasakan, lelah pun tak dihiraukan yang ada hanya kecintaan kepada Allah kan berbalas dengan kemuliaan yang tiada berbatas.

▣● Mari senantiasa membersihkan hati agar lentara mampu menerangi dan diri bisa belajar dari apa yang kita baca dan kita lihat dari sejarah hidup manusia dan mampu berhikmah atas peristiwa alam ini.

▣● Tiada daya dan kekuatan bila kita tak bersandar pada kuasa-Nya.

Mendidik Anak untuk Puasa

Oleh: Dr. Wido Supraha

Assalamu’alaikum..Izin bertanya tadz..
Bagaiman cara melatih anak yg doyan makan,umur 8 tahun kalau udah sekitar jam 10 nangis  minta  makan dan minum..
mohon solusinya tadz 🙏🙏
Trimaksih

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
🔑 _Latihlah anak berpuasa, tapi jangan dipaksakan jika belum masanya._

📌 Puasa belum wajib bagi dirinya, tapi bukan berarti latihan tidak diberikan kepadanya.

📌 Setiap anak gemar makan, tapi ada unsur lain yang bisa membuatnya tertarik untuk tidak makan, misalkan faktor lingkungan, faktor janji dari Ayah Bunda jika ananda sukses berpuasa, faktor pendidikan berbasis kisah, faktor konten iman dan adab.

📌 Menginternalisasikan nilai Islam harus secara bertahap dan membutuhkan tahapan dan kesabaran. Latihlah anak misalkan 10 hari pertama sampai jam 10 saja, 10 hari kedua sampai jam 2, 10 hari ketiga sampai penuh.

📌 Berikan penghormatan, dekapan, kecupan, dan belaian bagi anak yang sukses menjalankan misinya, karena itu hal besar bagi dirinya.

Wallahu a’lam.

Dunia Jin -Tinjauan Al Quran dan As Sunnah (Bag. 4)

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

13. Watak Dasar Jin Adalah Pembohong dan Pembangkang (Durhaka)

● Hal ini Allah Ta’ala ceritakan dalam banyak ayat-Nya, diantaranya:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الأمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌا

“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu’. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS. Ibrahim: 22)

● Ayat ini menceritakan kedustaan jin terhadap manusia. Dahulu di dunia dia menggoda manusia dengan janji-janji manisnya, namun di akhirat dia mengingkarinya, bahkan anehnya dia sendiri mengakui ketidaksukaannya jikalau manusia mengikuti dan mempercayai janjinya. Setelah itu, dia berlepas diri dari manusia, dan tidak mau bertanggung jawab atas ajakannya terhadap manusia. Inilah perilaku syetan yang memang pendusta besar. Hal ini diperkuat lagi oleh ayat berikut:

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلا غُرُورًا

“Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, Padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS. An-Nisa: 120)

● Sikap pembangkang mereka juga Allah Ta’ala sebutkan dalam ayat-Nya:

يَا أَبَتِ لا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا

“Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah.” (QS. Maryam: 44)

● Ayat lainnya:

إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلا شَيْطَانًا مَرِيدًا

“Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka.” (QS. An-Nisa: 117)

● Dan masih banyak ayat lainnya yang meceritakan watak dasar jin adalah suka menipu dan durhaka kepada Allah Ta’ala.

14. Jin Dapat Memiliki Kemampuan Menyerupai Hewan dan Manusia

◈ Telah masyhur bahwa ketika perang Badar syetan datang kepada pasukan musyrikin dalam wujud seorang laki-laki bernama Suraqah bin Malik. Oleh karena itu turunlah ayat:

وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لا غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَكُمْ

“Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, ‘Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan Sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu”. (Al-Anfal: 48)

◈ Tetapi saat itu, Allah Ta’ala turunkan malaikat untuk menolong pasukan mu’minin, maka kaburlah syetan berwujud Suraqah bin Malik itu.

فَلَمَّا تَرَاءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكُمْ إِنِّي أَرَى مَا لا تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling Lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata, ‘Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, Sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; Sesungguhnya saya takut kepada Allah’ dan Allah sangat keras siksa-Nya. (QS. Al-Anfal: 48)

◈ Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menyebutkan riwayat bahwa syetan yang dimaksud dalam ayat ini adalah yang menjelma menjadi Suraqah bin Malik. Berikut keterangannya:

وقال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس قال: جاء إبليس يوم بدر في جند من الشياطين، معه رايته، في صورة رجل من بني مدلج، والشيطان في صورة سراقة بن مالك  بن جعشم

“Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu Abbas, katanya: Iblis datang pada hari Badar sebagai tentara diri golongan syetan datang membawa panjinya, dalam tampilan seorang laki-laki dari Bani Mudlij, dan syetan dalam bentuk Suraqah bin Malik bin Ju’syum.” (Tafsir Al-Quran Al ‘Azhim, 4/73. Hal ini juga diceritakan dalam kitab-kitab tafsir lainnya)

◈ Dalam hadits pun juga diceritakan kemampuan syetan yang menjelma menjadi manusia. Abu Hurairah ra menceritakan dalam sebuah hadits yang panjang:

  وَكَّلَنِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكاَةِ رَمَضَانَ، فَأَتَانِي آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُوْ مِنَ الطَّعَامِ، فَأَخَذْتُهُ وَقُلْتُ: وَاللهِ، لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ: إِنِّي مُحْتَاجٌ وَعَلَيَّ عِيَالٌ، وَلِي حَاجَةٌ شَدِيْدَةٌ. قَالَ: فَخَلَّيْتُ عَنْهُ. فَأَصْبَحْتُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، مَا فَعَلَ أَسِيْرُكَ الْبَارِحَةَ؟. قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، شَكَا حَاجَةً شَدِيْدَةً وَعِيَالاً، فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيْلَهُ. قَالَ: أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ، وَسَيَعُوْدُ. فَعَرَفْتُ أَنَّهُ سَيَعُوْدُ لِقَوْلِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّهُ سَيَعُوْدُ. فَرَصَدْتُهُ، فَجَعَلَ يَحْثُوْ مِنَ الطَّعَامِ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ: لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ: دَعْنِي فَإِنِّي مُحْتَاجٌ، وَعَلَيَّ عِيَالٌ، لاَ أَعُوْدُ. فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيْلَهُ. فَأَصْبَحْتُ، فَقَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ ماَ فَعَلَ أَسِيْرُكَ؟ قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ شَكَا حَاجَةً شَدِيْدَةً وَعِيَالاً، فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيْلَهُ. قَالَ: أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ، وَسَيَعُوْدُ. فَرَصَدْتُهُ الثَّالِثَةَ، فَجَعَلَ يَحْثُوْ مِنَ الطَّعاَمِ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ: لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهَذَا آخِرُ ثَلاَثِ مَرَّاتٍ، إِنَّكَ تَزْعُمُ لاَ تَعُوْدُ ثُمَّ تَعُوْدُ. قَالَ: دَعْنِي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللهُ بِهَا. قُلْتُ: مَا هُنَّ؟ قَالَ: إِذَا أََوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِي {اللهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ} (البقرة: 255) حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرِبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ. فَخَلَّيْتُ سَبِيْلَهُ. فَأَصْبَحْتُ، فَقَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا فَعَلَ أَسِيْرُكَ الْبَارِحَةَ؟ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِي كَلِمَاتٍ يَنْفَعُنِيَ اللهُ بِهَا فَخَلَّيْتُ سَبِيْلَهُ. قَالَ: مَا هِيَ؟ قُلْتُ: قَالَ لِي: إِذَا أَوَيْتُ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِي {اللهُ لاَ إلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ} وَقَالَ لِي: لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ. وَكَانُوْا أَحْرَصَ شَيْءٍ عَلَى الْخَيْرِ. فَقاَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوْبٌ، تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُذْ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: ذَاكَ شَيْطَانٌ.

“Rasulullah saw menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadhan. Tiba-tiba seseorang datang. Mulailah ia mencuri makanan zakat tersebut. Aku pun menangkapnya  dan  mengancamnya: “Sungguh aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah saw untuk aku adukan perbuatanmu ini kepada beliau.” Orang yang mencuri itu berkata: “Aku butuh makanan, sementara aku memiliki banyak tanggungan keluarga. Aku ditimpa kebutuhan yang sangat.” Karena alasannya tersebut, aku melepaskannya. Di pagi harinya, Nabi saw bertanya: “Wahai Abu Hurairah, apa yang diperbuat tawananmu semalam?” “Wahai Rasulullah, ia mengeluh punya kebutuhan yang sangat dan punya tanggungan keluarga. Aku pun menaruh iba kepadanya hingga aku melepaskannya,” jawabku. Rasulullah saw bersabda: “Sungguh dia telah berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.” (Di malam berikutnya) aku yakin pencuri itu akan kembali lagi karena Rasulullah menyatakan: “Dia akan kembali.” Aku pun mengintainya, ternyata benar ia datang lagi dan mulai menciduk makanan zakat. Kembali aku menangkapnya seraya mengancam: “Sungguh aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah saw untuk aku adukan perbuatanmu ini kepada beliau.” “Biarkan aku karena aku sangat butuh makanan sementara aku memiliki tanggungan keluarga. Aku tidak akan mengulangi perbuatan ini lagi.” Aku kasihan kepadanya hingga aku melepaskannya. Di pagi harinya, Rasulullah  saw bertanya: “Wahai Abu Hurairah, apa yang diperbuat oleh tawananmu?” “Wahai Rasulullah, ia mengeluh punya kebutuhan yang sangat dan punya tanggungan keluarga, aku pun iba kepadanya hingga aku pun melepaskannya,” jawabku. Rasulullah saw bersabda: “Sungguh dia telah berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.” Di malam yang ketiga, aku mengintai orang itu yang memang ternyata datang lagi. Mulailah ia menciduk makanan. Segera aku menangkapnya dengan mengancam: “Sungguh aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah saw untuk aku adukan perbuatanmu ini kepada beliau. Ini untuk ketiga kalinya engkau mencuri, sebelumnya engkau berjanji tidak akan mengulangi perbuatanmu tetapi ternyata engkau mengulangi kembali.” “Lepaskan aku, sebagai imbalannya aku akan mengajarimu beberapa kalimat yang Allah akan memberikan manfaat kepadamu dengan kalimat-kalimat tersebut,” janji orang tersebut. Aku berkata: “Kalimat apa itu?” Orang itu mengajarkan: “Apabila engkau berbaring di tempat tidurmu, bacalah ayat Kursi: اللهُ لاَ إلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ (Al-Baqarah: 255) hingga engkau baca sampai akhir ayat. Bila engkau membacanya maka terus menerus engkau mendapatkan penjagaan dari Allah dan setan sekali-kali tidak akan mendekatimu sampai pagi hari.” Aku pun melepaskan orang itu, hingga di pagi hari Rasulullah saw kembali bertanya kepadaku: “Apa yang diperbuat tawananmu semalam?” Aku menjawab: “Wahai Rasulullah, ia berjanji akan mengajariku beberapa kalimat yang Allah akan memberikan manfaat kepadaku dengan kalimat-kalimat tersebut, akhirnya aku membiarkannya pergi.” “Kalimat apa itu?”, tanya Rasulullah. Aku berkata: “Orang itu berkata kepadaku: `Apabila engkau berbaring di tempat tidurmu, bacalah ayat Kursi dari awal hingga akhir ayat: اللهُ لاَ إلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ’. Ia katakan kepadaku: `Bila engkau membacanya maka terus menerus engkau mendapatkan penjagaan dari Allah dan setan sekali-kali tidak akan mendekatimu sampai pagi hari’.” Sementara mereka (para shahabat) merupakan orang-orang yang sangat bersemangat terhadap kebaikan. Nabi saw berkata: “Sungguh kali ini ia jujur kepadamu padahal ia banyak berdusta. Engkau tahu siapa orang yang engkau ajak bicara sejak tiga malam yang lalu, ya Abu Hurairah?.” “Tidak,” jawabku. Rasulullah saw bersabda: “Dia adalah setan.” (HR. Bukhari No. 2187)

◈ Berikut adalah berbagai riwayat bahwa Jin bisa menjelma dalam wujud hewan.
● Ular, Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya kisah cukup panjang, ringkasnya adalah  tentang seorang laki-laki –pengantin baru- yang pulang perang sambil menghunuskan pedang. Lalu dia disambut oleh isterinya yang menceritakan  ada ular besar melingkar di atas kasur. Lalu laki-laki itu menusuk ular tersebut dan keluar rumah. Namun, setelah itu ular  bergerak cepat ke arahnya  dan membunuhnya. Tidak diketahui siapa yang lebih dahulu mati. Hal ini diceritakan kepada Rasulullah saw, lalu beliau bersabda:

إِنَّ بِالْمَدِينَةِ جِنًّا قَدْ أَسْلَمُوا فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهُمْ شَيْئًا فَآذِنُوهُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَإِنْ بَدَا لَكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

“Sesungguhnya di Madinah ini ada segolongan jin yang telah masuk Islam. Jika kalian melihat satu dari mereka, maka mintalah kepada mereka untuk keluar (dalam jangka waktu) tiga hari. Jika ia tetap menampakkan diri kepada kalian setelah itu, maka bunuhlah ia, karena sesungguhnya dia itu setan.” (HR. Muslim No. 2236)

◈ Dalam kisah  ini ada beberapa pelajaran:
● Jin dapat masuk Islam
● Jin mengganti wujud menjadi Ular
● Jika rumah kedatangan ular maka biarkan selama tiga hari, jangan dibunuh, sebab bisa jadi dia jin muslim
● Jika lebih dari tiga hari masih ada, maka mesti di bunuh karena dia adalah syetan (jin kafir)
● Tidak semua ular, tetapi ular yang kita lihat di rumah saja, ada pun yang di luar rumah diperintahkan untuk dibunuh karena membahayakan, Rasulullah saw bersabda:

إن لهذه البيوت عوامر. فإذا رأيتم شيئا منها فحرجوا عليها ثلاثا فإن ذهب، وإلا فاقتلوه. فإنه كافر . 

“Sesungguhnya bagi rumah ini terdapat ‘awamir (penghuni). Jika kalian melihat  sesuatu darinya maka biarkanlah sampai tiga hari, jika dia  masih ada lebih tiga hari, maka bunuhlah karena dia jin kafir.” (HR. Muslim, Ibid)

◈ Tiga hari merupakan batasan yang cukup untuk memastikan dia jin muslim ataukah jin kafir, jika lebih tiga hari maka dia jin kafir yang harus diusir atau dibunuh. Tapi tidak semua jenis ular mesti dibiarkan selama tiga hari, ada juga yang pengecualiannya. Dari Abu Lubabah ra Rasulullah saw bersabda :

لاَ تَقْتُلُوا الْجِنَّانَ إِلاَّ كُلَّ أَبْتَرَ ذِي طُفْيَتَيْنِ فَإِنَّهُ يُسْقِطُ الْوَلَدَ وَيُذْهِبُ الْبَصَرَ فَاقْتُلُوهُ

“Janganlah kalian (langsung) membunuh ular (di dalam rumah), kecuali setiap ular yang terpotong (pendek) ekornya dan memiliki dua garis di punggungnya, karena ular jenis ini dapat menggugurkan kandungan dan membutakan mata. Maka bunuhlah ia.” (HR. Muslim No. 2233)

◈ Anjing Hitam Legam, Abu Dzar ra berkata:

سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الكلب الأسود البهيم. فقال((شيطان)).

“Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang anjing hitam yang legam, beliau menjawab: “Syetan.” (HR. Ibnu Majah No. 3210, Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan ibni Majah No. 3210)

◈ Dari Jabir bin Abdullah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:

عليكم بالأسود البهيم ذي النقطتين. فإنه شيطان

“Wajib bagi kalian  (membunuh) anjing hitam legam (Al Aswad Al Bahim) yang memiliki dua titik, sebab itu adalah syetan.” (HR. Muslim No. 1572)

◈ Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

مَعْنَى الْبَهِيم الْخَالِص السَّوَاد ، وَأَمَّا النُّقْطَتَانِ فُهِّمَا نُقْطَتَانِ مَعْرُوفَتَانِ بَيْضَاوَانِ فَوْق عَيْنَيْهِ وَهَذَا مُشَاهَد مَعْرُوف .

“Makna Al Bahim adalah hitam legam. Adapun dua titik adalah difahami dua titik yang telah dikenal berwarna putih di atas dua matanya. Ini adalah kesaksian yang telah diketahui.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/423)

◈ Dari  hadits inilah  Imam Ahmad bin Hambal dan sebagian Syafi’iyah mengharamkan  hasil buruan anjing hitam. Ada pun Imam Syafi’I, Imam Malik, dan mayoritas ulama membolehkannya sebagaimana anjing lainnya. Sebab hadits ini sama sekali tidak mengeluarkannya dari keumuman makna ‘anjing’. Sebagaimana jika anjing hitam minum di bejana maka  bejana itu harus dibersihkan sebagaimana jika diminum oleh anjing putih. (Ibid)

◈ Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menjelaskan:

فإن الكلب الأسود شيطان الكلاب، والجن تتصور بصورته كثيرًا، وكذلك بصورة القط الأسود؛ لأن السواد أجمع للقوى الشيطانية من غيره، وفيه قوة الحرارة .

“Sesungguhnya anjing hitam adalah syetannya anjing-anjing, dan jin bisa berupa wujud yang banyak rupa, demikian pula kucing hitam, sebab hitam merupakan pusat kumpulan kekuatan syaitaniyah dibanding lainnya, dan terdapat  panas yang kuat.” (Majmu’ Fatawa, 19/52)

◈ Dalam hadits lain, Abdullah bin Shamit ra berkata, dari Abu Dzar ra berkata:

يقطع صلاة الرجل إذا لم يكن بين يديه كآخرة الرحل والحمار والكلب الأسود والمرأة قال : قلت : فما بال الأسود من الأحمر من الأصفر من الأبيض؟  قال : سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم كما سألتني ، فقال الأسود شيطان

“Terputuslah shalat (yakni batal) seseorang: jika di hadapannya tidak ada sesuatu seperti ukuran pelana kuda, keledai, anjing hitam, dan wanita.” Aku (Abdullah bin Shamit) bertanya: Kenapa anjing hitam, lalu bagaimana anjing   merah,  kuning, dan putih?” Dia menjawab: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw sebagaimana pertanyaanmu kepadaku, dia menjawab: anjing hitam adalah syetan.” (HR. Abu Daud No. 702,  Ad Darimi No. 1414, Ibnu Majah No. 952. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam berbagai kitabnya)

◈ Dari hadits ini ada sebagian ulama yang menganggap batal jika keledai, anjing hitam, dan wanita lewat di hadapan orang shalat. Namun pendapat ini bermasalah, sebab jika kita perhatikan riwayat shahih lainnya, bahwa ‘Aisyah pernah tertidur didepan shalatnya Rasulullah saw, begitu pula Ibnu Abbas pernah dengan keledainya melewati kumpulan manusia shalat saat shalat ‘Id dan tak ada manusia yang mengingkarinya. Ini menunjukkan bahwa hal itu tidaklah membatalkan shalat.

◈ Oleh karena itu Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah mengatakan:

يَقْطَعهَا الْكَلْب الْأَسْوَد ، وَفِي قَلْبِي مِنْ الْحِمَار وَالْمَرْأَة شَيْء

“(Lewatnya) Anjing hitam membatalkan shalat, dan dihati saya ada sesuatu (ragu) terhadap keledai dan wanita.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/266)

◈ Imam Ahmad termasuk yang menilai batalnya shalat karena lewatnya anjing hitam. Tetapi mayoritas ulama mengatakan sama sekali tidaklah batal seseorang karena apa pun yang lewat dihadapan mereka. Imam An Nawawi menjelaskan:

وَقَالَ مَالِك وَأَبُو حَنِيفَة وَالشَّافِعِيّ رَضِيَ اللَّه عَنْهُمْ وَجُمْهُور الْعُلَمَاء مِنْ السَّلَف وَالْخَلَف : لَا تَبْطُل الصَّلَاة بِمُرُورِ شَيْء مِنْ هَؤُلَاءِ وَلَا مِنْ غَيْرهمْ ، وَتَأَوَّلَ هَؤُلَاءِ هَذَا الْحَدِيث عَلَى أَنَّ الْمُرَاد بِالْقَطْعِ نَقْص الصَّلَاة لِشُغْلِ الْقَلْب بِهَذِهِ الْأَشْيَاء ، وَلَيْسَ الْمُرَاد إِبْطَالهَا

“Pendapat Malik, Abu hanifah, Syafi’i Radhiallahu ‘Anhum dan mayoritas (jumhur) ulama dari kalangan salaf dan khalaf mengatakan: Tidaklah batal shalat karena adanya sesuatu yang lewat baik karena itu semua (keledai, anjing hitam, dan wanita) dan tidak pula karena lainnya. Mereka menta’wilkan hadits ini, bahwa maksud terputusnya shalat adalah shalatnya kurang sempurna lantaran hati menjadi sibuk karenanya, bukan bermakna hal itu membatalkannya.” (Ibid)

◈ Dan, pendapat jumhur inilah yang lebih kuat, Insya Allah. Wallahu A’lam

◈ Sebenarnya, penyebutan bahwa  jin bisa menjelma menjadi ular dan anjing hitam tidaklah menutup kemungkinan terhadap wujud yang lain. Bisa saja dia menjadi kucing, unta, dan lainnya. Sebagaimana yang dikatakan Imam Ibnu Taimiyah bahwa jin bisa tampil dalam wujud yang banyak.

15. Jin Makan dan Minum

● Aktifitas makan dan minum bangsa jin, baik jin muslim dan kafir,  bisa diketahui berdasarkan ayat berikut, Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah  adalah Termasuk perbuatan syaitan.“ (QS. Al-Maidah: 90)

●Juga riwayat berikut ini, dari Abdullah bin Mas’ud ra bahwa Nabi saw bersabda:

َ  تَسْتَنْجُوا بِالرَّوْثِ وَلَا بِالْعِظَامِ فَإِنَّهُ زَادُ إِخْوَانِكُمْ مِنْ الْجِنِّ

“Janganlah kalian beristinja` dengan menggunakan kotoran hewan dan tulang, karena sesungguhnya ia adalah makanan saudara kalian dari bangsa jin.” (HR. At Tirmidzi No. 18, shahih)

● Dari Jabir bin Abdullah ra bahwa Nabi saw bersabda:

ِ َ لَا تَأْكُلُوا بِالشِّمَالِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِالشِّمَالِ

“Janganlah kalian makan dengan tangan kiri, karena setan makan dengan tangan kiri.” (HR. Muslim No. 3763)

● Dalam hadits yang lain:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لَا يُذْكَرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Syetan akan ikut menyantap makanan yang tidak disebut nama Allah ketika memakannya.” (HR. Muslim no. 3761)

Jadi, jin itu :
◈ Minum khamr, yaitu dari kalangan jin kafir (syetan)
◈ Makan pakai tangan kiri
◈ Makanan mereka adalah tulang, juga makanan yang tidak disebut nama Allah ketika memakannya

Membeli Barang Lelang

Oleh: Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Bagaimana hukum membeli barang dari lelang atau sitaan leasing yangg macet kreditnya bagaimana ya..?
#A 63

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Hukum membeli barang dari hasil sitaan pembiayaan yg macet dari bank syariah atau leasing syariah hukumnya boleh saja.

Sedangkan jika dari bank atau leasing konvensional, hukumnya tdk boleh.

Karena kalau bukan syariah, berarti barang tsb merupakan hasil sitaan atas transaksi riba. Dan riba hukumnya haram.

Sedangkan kalau dari syariah, barang tsb merupakan hasil jual beli, dimana objek jual beli sekaligus menjadi alat bayar apabila nasabah kesulitan membayar pembiayaannya.

Wallahu a’lam.

Dunia Jin -Tinjauan Al Quran dan As Sunnah (Bag. 3)

Oleh: Farid Nu’man Hasan, SS.

7. Diciptakan Sebelum Manusia

◈ Ketetapan ini bersumberkan ayat berikut:

وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ

“Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al Hijr: 27)

◈ Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

وقوله: { وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ } أي: من قبل الإنسان

“FirmanNya (Dan Kami telah menciptakan jin sebelum) yaitu sebelum manusia.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/533. Dar Nasyr wat Tauzi’)

8. Diciptakan Juga Untuk Ibadah

◈ Hal ini Allah Ta’ala tetapkan dalam firmanNya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

● Al-Quran pun menceritakan bahwa bangsa Jin ikut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam beribadah.

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا

“Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” (QS. Al-Jin: 19)

● Maka, tidak dibenarkan (baca: syirik) menjadikan jin sebagai sesembahan selain Allah Ta’ala. Bagaimana mungkin sesama hamba saling menyembah?

9. Ada yang mu’min dan ada yang kafir, fasik, dan pelaku bid’ah.

◈ Dua jenis ini telah Allah Ta’ala terangkan dalam ayat-Nya:

وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا

“Dan sesungguhnya diantara kami ada yang saleh dan diantara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS. Al-Jin: 11)

◈ Ayat lain:

وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا

“Dan sesungguhnya diantara kami ada  yang muslim dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang  aslama (menjadi muslim), maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. (QS. Al-Jin: 14)

◈ Khusus Jin yang mu’min telah Allah Ta’ala ceritakan dalam firman-Nya:

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا (1) يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا (2) وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلا وَلَدًا (3)

“Katakanlah (hai Muhammad): ‘Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya Kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu Kami beriman kepadanya. dan Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan Kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan Kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak.” (QS. Al-Jin: 1-3)

وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَى آمَنَّا بِهِ فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلا يَخَافُ بَخْسًا وَلا رَهَقًا

“Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al-Quran), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. (QS. Al-Jin: 13)

10. Ada yang mengajak manusia kepada jalan Allah   (Da’i Ilallah) dan Ada pula yang mengajak kepada kejahatan

◈ Para Jin yang menjadi da’i ilallah telah Allah Ta’ala ceritakan dalam ayat-Nya:

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ (29) قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ (30)

  “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.  mereka berkata: ‘Hai kaum Kami, Sesungguhnya Kami telah mendengarkan kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Ahqaf: 29-30)

● Para Jin pun ada yang menjadi penyeru kepada perbuatan jahat dan melalaikan, yakni Jin yang jahat  (syetan). Allah Ta’ala berfirman: 

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 91)

● Bahkan ada pula yang mengajak manusia kepada bid’ah, lalu manusia mengiranya sebagai perbuatan baik. Allah Ta’ala berfirman:

  وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan syaitanpun Menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 43)

11.  Jin Berteman  Dengan Sebagian Manusia

● Jin dan manusia walaupun berbeda dunia, namun bekerja sama diantara keduanya sangat mungkin terjadi. Maka, merugilah orang yang bekerjasama dengan Jin. Hal ini diceritakan dalam Al-Quran:

قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ

“Berkatalah salah seorang di antara mereka, ‘sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman.” (QS. Ash-Shafat: 51)

● Teman (Qarin) yang dimaksud, kata Mujahid, adalah syetan. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 7/15)

◈ Ayat lain:

وَقَيَّضْنَا لَهُمْ قُرَنَاءَ فَزَيَّنُوا لَهُمْ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ

“Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka  dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jinn dan manusia, Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Fushilat: 25)

● Teman-teman (quranaa’) dalam ayat ini adalah syetan dari golongan jin dan manusia. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 7/174)

◈ Dalam ayat lainnya:

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al-Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) Maka syaitan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”  (QS. Az-Zukhruf: 36)

◈ Dalam ayat lain:

قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَكِنْ كَانَ فِي ضَلالٍ بَعِيدٍ

“Yang menyertai dia berkata (pula): ‘Ya Tuhan Kami, aku tidak menyesatkannya tetapi Dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.” (QS. Qaaf: 27)

◈ Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, dan lainnya mengatakan maksud ‘yang meyertai dia’ adalah syetan. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 7/403)

● Syetan adalah seburuk-buruknya teman. Bagaimana mungkin manusia masih mau menjadikannya sebagai teman? Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاءَ قَرِينًا

“Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya. (QS. An-Nisa: 38)

● Justru syetan adalah musuh yang nyata bagi manusia dan syariat telah memerintahkan agar kita memusuhinya.

Allah Ta’ala berfirman:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu” (QS. Yasin: 60)

12. Hukum Bekerjasama (minta tolong) Dengan Jin

● Sebagian manusia ada yang menjadikan Jin sebagai teman dekatnya untuk bekerja sama demi mencapai maksud dan tujuannya. Lalu mereka rela memenuhi keinginan-keinginan Jin tersebut yang meminta ini dan itu sebagai syarat keberhasilan tujuannya. Islam melarang hal ini, dan memasukkannya dalam perbuatan kaum musyrikin.

◈ Allah Ta’ala berfirman:

وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ

“Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, Padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu ..” (QS. Al-An’am: 100)

◈ Imam Asy Syaukani Rahimahullah mengatakan:

والمعنى : أنهم جعلوا شركاء لله فعبدوهم كما عبدوه ، وعظموهم كما عظموه .

“Maknanya, sesungguhnya mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah, mereka menyembahnya (jin) , dan mengagungkannya sebagaimana mengagungkan Allah.” (Fathul Qadir, 2/457. Mawqi’ Ruh Al Islam)

● Dalam ayat lain, disebutkan bahwa hanya orang-orang kafirlah yang menjadikan syetan sebagai wali (penolong, pemimpin, kawan akrab). Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا

“Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, Maka Sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (QS. An-Nisa: 119)

◈ Ayat lainnya:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ

“Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan ..” (QS. Al-Baqarah: 257)

● Tetapi, jika ada manusia yang mampu menundukkan Jin agar Jin tersebut tunduk kepada Allah Ta’ala, dan memerintahkannya untuk mentaati-Nya dan berjalan sesuai Al-Quran, hal ini boleh saja terjadi,  sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam, yang sekaligus sebagai mu’jizat baginya.

◈ Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ (39) قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ (40)

“Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: ‘Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya. Berkatalah seorang (jin) yang mempunyai ilmu dari AI-Kitab, ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata, ‘Ini Termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QS. An-Naml: 39-40)

● Namun hal ini hanya bisa terjadi pada kekasih-kekasih Allah Ta’ala, yakni para Nabi dan Rasul.

(Bersambung …)

Sering Lupa Rakaat Shalat

๐Ÿ MFT (MANIS For Teens)

๐Ÿ“† Selasa, 12 Sya’ban 1438H/ 09 Mei 2017

๐Ÿ“• Fikih

๐Ÿ“ Ustadzah Trisa Yunita S. Si.

๐Ÿ“– “Sering lupa rakaat shalat”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
๐ŸŒผ๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒฟ๐ŸŒผ๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒฟ๐ŸŒผ

*”Sering lupa sudah berapa rakaat saat shalat?”*

Ini sebabnya…

Dari Abu Hurairah ra.
Rasululloh saw.  bersabda:

“Apabila adzan dikumandangkan, maka setan akan lari sampai terkentut kentut. Apabila adzan selesai, setanpun kembali… ๐Ÿ˜ˆ

Apabila iqamah dikumandangkan, setan berlari. Sampai iqomah selesai dikumandangkan.

Kemudian setan membisik bisikan pada diri seseorang.. ๐Ÿ˜ˆ ingatlah ini ingatlah itu.. membisikan sesuatu yang tidak pernah diingat sebelumnya.. sehingga lupa berapa rakaat yang telah dikerjakannya…”

(Muttafaq ‘Alaih)

โœจ *Karena itu.. berta’awudzlah* โœจ

Yaitu: membaca *Taโ€™awudz atau Istiโ€™adzah* ketika shalat, sebelum membaca _bismillahirrahmanirrahim_ pada saat membaca Surat Al-Fatihah. Di Rakaat pertama. Dan bacaanya dengan pelan bukan jahr.

โœ…Beberapa Lafadz Taโ€™awudz:

ุฃูŽุนููˆู’ุฐู ุจูุงู„ู„ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌููŠู’ู…ู

๐Ÿ’(Aโ€™uudzu billahi minasy syaithonir rajim/ aku berlindung dari godaan setan yg terkutuk)

ุฃูŽุนููˆู’ุฐู ุจูุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุณู‘ูŽู…ููŠู’ุนู ุงู„ู’ุนูŽู„ููŠู’ู…ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌููŠู…

๐Ÿ’(Aโ€™uudzu billahis samiโ€™il โ€˜aliimi minasy syaithonir rajim/Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Mengetahui dari setan yang terkutuk).

ุฃูŽุนููˆู’ุฐู ุจูุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุณู‘ูŽู…ููŠู’ุนู ุงู„ู’ุนูŽู„ููŠู’ู…ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌููŠู…ูุŒ ู…ูู†ู’ ู‡ูŽู…ู’ุฒูู‡ู ูˆูŽู†ูŽูู’ุฎูู‡ู ูˆูŽู†ูŽูู’ุซูู‡ู

๐Ÿ’(Aโ€™uudzu billahis samiโ€™il โ€˜aliimi minasy syithonir rajim, min hamzihi wa nafkhihi wa nafsihi/aku berlindung kepada Alloh Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui dari syaitan yang terkutuk, dari permainannya, gangguannya dan ludahannya).

Yuk ah, lindungi diri kita dengan ta’awudz, semoga shalat kita semakin khusyu ya kawan. Aamiin

๐ŸŒผ๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒฟ๐ŸŒผ๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒฟ๐ŸŒผ

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

๐Ÿ“ฒSebarkan! Raih pahala
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ikuti Kami di:
๐Ÿ“ฑ Telegram : https://is.gd/3RJdM0
๐Ÿ–ฅ Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
๐Ÿ“ฎ Twitter : https://twitter.com/majelismanis
๐Ÿ“ธ Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
๐Ÿ•น Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
๐Ÿ“ฑ Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Hibah

Oleh: Noorahmat, M.Sc

Assalamuaalaikum….Mohon jawaban yg syar’i., Apakah Hukum nya Hibah di ambil kembali oleh keluarga Penghibah…..

Contoh nya ada anak angkat menggubah tanah. Waktu itu mau dibayarkan ibu angkat ngga mau, Jwb nya masa sm anak bayar sic…., Tapi skg orang tua sdh tdk ada hibah itu mau di minta kembali.Jazaklloh dari member i-11

Jawaban
—————

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Apapun alasan dan histori dibalik sebuah hibah. Maka hibah tetaplah sebuah hibah.

Dalil terkait keharaman menarik kembali hibah yang telah diberikan adalah sebagai berikut.
Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas r.a, ia berkata,

“Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang menarik kembali pemberiannya seperti anjing yang muntah kemudian menjilatnya kembali’,”
(Shahih riwayat Bukhari-Muslim).

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, yakni ‘Abdullah bin ‘Amr r.a. dari Rasulullah saw, beliau bersabda,

“Perumpamaan orang yang meminta kembali apa yang telah ia berikan apabila seperti anjing yang muntah kemudian memakannya kembali. Apabila seorang pemberi meminta kembali pemberiannya, maka hendaklah diperiksa dan diteliti apa yang ia minta kembali itu lalu diberikan kepadanya,”
(HR Abu Dawud dan Ahmad dengan sanad hasan).

Semoga kita semua terhindar dari sifat buruk yang digambarkan dalam hadits-hadits tersebut diatas.

Wallahu a’lam.

RIYADHUS SHALIHIN (18)

Oleh: Arwani Amin Lc. MPH

📕 *Taubat- Perbanyak Istighfar*

*Hadits 1:*

وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال‏:‏ سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول‏:‏ ‏”‏والله إني لأستغفر الله وأتوب إليه في اليوم أكثر من سبعين مرة ‏”‏ ‏(‏رواه البخاري‏)‏‏‏‏.‏

Artinya :
_Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya saya itu benar-benar  memohonkan pengampunan kepada Allah serta bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (Riwayat Bukhari)_

*Hadits 2:*

وعن الأغر بن يسار المزنى رضي الله عنه قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏ ‏”‏ ياأيها الناس توبوا إلى الله واستغفروه فإنى أتوب في اليوم مائه مرة‏”‏ ‏(‏رواه مسلم‏)‏‏‏‏.‏

Artinya :
_Dari Aghar bin Yasar al-Muzani r.a. katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Hai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mohonlah pengampunan daripadaNya, karena  sesungguhnya saya ini bertaubat dalam sehari seratus kali.” (Riwayat Muslim)_

           ☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian *AUDIO* di bawah ini.

Unduh materinya di: https://bit.ly/majelismanis

Selamat menyimak.

Membaca shadakallahul adzim

Oleh: Dr. Wido Supraha

Assalamualaikum ustadz/ah.. Sy dapat postingan yg bilang kalo hukum membaca shadakallahul adzim pada setiap selesai membaca alquran itu bidah tdk ada tuntutannya dr rasulullah. Benarkah itu? Adakah dalilnya?

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Meyakini membacanya adalah sunnah sehingga harus atau wajib membacanya tentu membutuhkan dalil, dan tidak ada dalil dalam hal ini.

Namun, ketiadaan dalil, tidak segera mendorong para penuntut ilmu, terlebih orang-orang awwam untuk mencelanya sebagai perbuatan bid’ah, karena sangat banyak nasihat dari ulama salaf yang memuliakan bacaan ini.

Dengan demikian, hukumnya boleh membacanya, atau membaca redaksi lain, seperti Allāhummarhamnā bil Qur’ān.

Wallahu a’lam.

AL-QUR’ฤ€N MENDORONG MANUSIA UNTUK MENJADI KHALIFAH SEJATI

Oleh: Dr. Wido Supraha

☝Al Fatihah : seluruh makna dan kandungan Al-Qur’an dapat ditemukan dalam Surat al-Fatihah, sehingga menjadi pembuka sekaligus kunci dalam memahami seluruh rangkaian surat dalam Al-Qur’an al-Karim.

✊Surat Al-Baqarah adalah surat pertama yang diturunkan setelah hijrah. Surat ini menjelaskan seluruh aspek yang dibutuhkan seorang pemimpin untuk menjadi khalifah dan bertanggung jawab atas tegaknya kebaikan di muka bumi.

☝Surat Ali-‘Imran memiliki tema besar agar manusia dengan jiwa kepemimpinannya sentiasa menjaga keteguhan (ats-tsabat) dalam kebenaran dan ketaqwaan dalam menegakkan kebenaran di muka bumi di atas manhaj yang lurus.

✊Surat An-Nisa mengingatkan manusia agar dalam menjalankan fungsi kekhalifahannya, memprioritaskan tegaknya keadilan dan selalu berkasih sayang kepada orang-orang lemah. Pembiasaan menegakkan keadilan dan kasih sayang itu berawal kepada istrinya dan keluarganya, dan penghayatan kepada 42 dari asmaul husna yang mendorong kepada keadilan dan kasih sayang.

☝Surat Al-Maidah menjadi satu-satunya surat yang diawali dengan Ya ayyuhalladzina amanu, 16 dari 88 untaian seruan ini terdapat dalam surat ini. Di awali dengan perintah untuk menunaikan setiap akad yang telah disetujui beserta hukum halal haram di atas bumi, agar bumi sentiasa dijaga oleh orang-orang yang menghormati janji.

✊Surat Al-An’am menjadi satu-satunya surat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw secara penuh hanya dalam waktu satu malam, dan menjadi surat pertama dalam rangkaian surat yang seluruh ayatnya diturunkan di kota Makkah setelah Al-Fatihah. Surat ini mengingatkan para khalifah di muka bumi untuk sentiasa mengokohkan kualitas tauhidnya, sehingga ayat penutup dari surat ini pun mengingatkan kembali fungsi manusia sebagai khalifah-khalifah di muka bumi, sehingga terangkai hingga ke Surat Al-Baqarah.

☝Surat Al-A’raf menjadi surat pertama yang ditutup dengan ayat sajdah, 1 dari 15 ayat-ayat sajdah dalam Al-Qur’an. Surat ini mengingatkan para khalifah bahwa pertentangan antara kebenaran dan kebatilan, haq dan bathil, adalah sebuah keniscayaan, sujud adalah cara Allah Swt untuk menenangkan jiwa dan menjaga spirit perjuangan untuk teguh pada kebenaran.

✊Surat Al-Anfal menjadi surat kedua yang diturunkan secara penuh setelah Surat Al-An’am, dan menjadi surat pertama yang diturunkan setelah perang Badar, peperangan pertama yang dilakukan kaum Muslimin, Surat Yaumul Furqan, yang memisahkan antara haq dan bathil, memisahkan zaman kaum muslimin dalam fase kelemahan dan kekuatan, padahal 313 orang kaum muslimin yang tidak siap melawan 1000 orang kaum musyrikin, padahal 1 orang pejuang berkuda dari kaum muslimin melawan 3000 pejuang berkuda dari kaum musyrikin. Ada paduan unsur materi dengan keimanan di dalamnya.

☝Surat At-Taubah menjadi surat yang diturunkan setelah peperangan, namun peperang yang terakhir. Surat ini mengingatkan manusia dari sifat nifaq dan pentingnya taubat sebagai puncak interaksi hamba dengan Allah.

✊Surat Yunus mengandung pokok iman kepada Qadha dan Qadar dan dorongan agar sentiasa mengokohkan kualitasnya dalam menjalan tugas menjaga bumi dan seisinya.

***

☝Surat Hud mengajarkan keseimbangan hidup bahwa sekeras apapun tekanan dalam menjalani tugas menjaga bumi jangan sampai hilang harapan, bertindak tanpa rencana, dan bahkan pasrah memihak musuh. Keseimbangan ini muncul karena kualitas istiqomah dalam kesabaran. Surat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dalam kondisi tekanan berat dan mengandung kisah dakwah para Nabi sebelumnya dalam tekanan yang juga berat. ….. (to be continued)