logo manis4

Membalikan Telapak Tangan Saat Qunut

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bagaimana hukum membalikan tangan saat qunut sholat subuh?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, LC

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Pada dasarnya disunahkan mengangkat tangan saat berdoa dengan menengadahkan kedua telapak tangan. Rasulullah saw bersabda,

إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ، وَلَا تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا (رواه أبو داود)

“Jika kalian memohon kepada Allah, mohonlah dengan kedua telapak tangan kalian, jangan kalian minta dengan punggung tangan tangan kalian” (HR. Abu Daud).

Hanya saja, sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَسْقَى، فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam memohon turunnya hujan, lalu beliau berikan isyarat dengan punggung telapak tangannya ke langit”. (HR. Muslim, no. 895).

Sebagian ulama memahami bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya berdoa dengan punggung telapak tangan apabila berdoa untuk memohon perlindungan dari bencana dan musibah.

Imam Nawawi berkata,

” قَالَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا وَغَيْرُهُمْ: السُّنَّةُ فِي كُلِّ دُعَاءٍ لِرَفْعِ بَلَاءٍ ، كَالْقَحْطِ وَنَحْوِهِ ، أَنْ يَرْفَعَ يَدَيْهِ وَيَجْعَلَ ظَهْرَ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، وَإِذَا دَعَا لِسُؤَالِ شَيْءٍ وَتَحْصِيلِهِ ، جَعَلَ بَطْنَ كَفَّيْهِ إلى السماء ” انتهى من ” شرح النووي على مسلم ” (6/ 190) .

“Sejumlah ulama dari kalangan mazhab kami dan selain mereka berkata, ‘Disunahkan pada setiap doa untuk menghindari dari bencana, seperti paceklik dan semacamnya hendaknya dengan mengangkat kedua tangannya dengan membalikkan kedua telapak tangannya ke langit. Adapun jika dia berdoa untuk meraih sesuatu yang dia inginkan, dia menengadahkan kedua telapak tangannya ke langit.” (Syarah An-Nawawi Ala Muslim, 6/190)

Namun ada sebagian ulama yang memahami hadits di atas bukan sebagai landasan disyariatkannya berdoa dengan punggung telapak tangan. Karena yang dimaksud dalam hadits di atas bukan Rasulullah saw berdoa dengan membalikkan telapak tangan, akan tetapi karena Rasulullah saw saat berdoa tersebut dengan penuh harap maka beliau angkat tangannya tinggi-tinggi sehingga seakan-akan beliau berdoa kepada Allah dengan menengadahkan punggung telapak tangannya”.

Kesimpulannya, jika doa yang mengandung permintaan, para ulama sepakat bahwa berdoa seperti itu dengan menengadahkan telapak tangan. Adapun jika berdoanya memohon perlindungan dari bahaya dan bencana, maka dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama mengatakan disyariatkan dalam hal ini membalikkan telapak tangan, sementara sebagian ulama lainnya menyatakan hal tersebut tidak disyariatkan, berdoa tetap dengan menengadahkan telapak tangan.

Terkait dengan pertanyaan di atas, maka doa qunut umumnya adalah doa memohon kebaikan, maka berdoa dengan menengadahkan telapak tangan. Akan tetapi, jika dalam doa qunut tersebut ada permohonan perlindungan kepada Allah dari bahaya dan bencana, maka dibolehkan baginya membalikan telapak tangannya. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Hukum SHU dari Koperasi Apakah Halal atau Haram?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saya ingin bertanya, jadi saya itu menabung dikoperasi kantor. nah uang tersebut dikelola untuk kegiatan jual beli koperasi (koperasi menjual sembako dll).
nah setiap tahun, saya diberikan komisi dari hasil jual beli tersebut.
apakah komisi tersebut halal atau haram?
Selain untuk jual beli sembako, uangnya juga untuk dihutangkan dan ada bunganya
terimakasih
A-43

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Slamet Setiawan S.HI

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Pada dasarnya sistem koperasi lahir dari semangat gotong-royong yang bermuara pada keuntungan bagi anggotanya. Setiap anggota dengan terorganisir lewat wadah koperasi, bisa lebih berdaya dalam mencapai tujuan-tujuan ekonominya.

Adapun koperasi dalam kajian fiqih bisa ditarik ke dalam bab Syirkah. Syirkah merupakan hak milik dua atau lebih orang atas sebuah barang. Bisa dibilang persekutuan beberapa pihak atas sebuah kepemilikan yang diperjualbelikan dengan catatan keuntungan dan risiko kerugian ditanggung bersama sesuai besaran modal yang disetorkan.

Lalu bagaimana dengan kasus yang dipertanyakan di atas? Ada baiknya kita amati keterangan Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu‘in.

فائدة: أفتى النووي كابن الصلاح فيمن غصب نحو نقد أو بر وخلطه بماله ولم يتميز، بأن له إفراز قدر المغصوب، ويحل له التصرف في الباقي

Penjelasan: Imam Nawawi seperti Ibnu Shalah mengeluarkan fatwa perihal orang yang merampas misalnya sebuah mata uang atau benih gandum lalu dicampurkan dengan miliknya hingga tidak bisa dibedakan mana miliknya mana hasil ghasab. Menurut Imam Nawawi, pelaku yang bersangkutan bisa membersihkan hartanya dengan mengeluarkan besaran barang rampasan dan ia halal untuk menggunakan sisanya.

Menguraikan pernyataan itu, Sayid Bakri bin M Sayid Syatha Dimyathi dalam karyanya I‘anatut Tholibin mengatakan.

لو اختلط مثلي حرام كدرهم أو دهن أو حب بمثله له، جاز له أن يعزل قدر الحرام بنية القسمة، ويتصرف في الباقي ويسلم الذي عزله لصاحبه إن وجد، وإلا فلناظر بيت المال. واستقل بالقسمة على خلاف المقرر في الشريك للضرورة إذ الفرض الجهل بالمالك، فاندفع ما قيل يتعين الرفع للقاضي ليقسمه عن المالك. وفي المجموع، طريقه أن يصرفه قدر الحرام إلى ما يجب صرفه فيه، ويتصرف في الباقي بما أراد. ومن هذا اختلاط أو خلط نحو دراهم لجماعة ولم يتميز فطريقه أن يقسم الجميع بينهم على قدر حقوقهم، وزعم العوام أن اختلاط الحلال بالحرام يحرمه باطل. الخ أهـ

Andaikata tercampur barang serupa yang haram seperti dirham, minyak, atau benih-benih dengan harta miliknya, maka ia boleh menyisihkan besaran barang haram itu dengan niat membagi. Dan ia bisa menggunakan sisanya lalu menyerahkan sebagian yang ia sisihkan kepada pemiliknya kalau ada. Kalau pemiliknya tidak ada, baitul mal menjadi alternatifnya. Secara darurat ia sendiri yang membagi karena menyalahi ketentuan yang ditetapkan bersama sekutu lainnya. Karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa kasus ini tentu diangkat ke hakim agar ia mewakili pemilik dalam membaginya, dengan sendirinya teranulir.

Dalam kitab al-Majemuk, Imam Nawawi menunjukkan cara membersihkannya dengan menyerahkan besaran barang haram yang tercampur itu kepada pihak atau lembaga yang berhak menerimanya. Dan ia bisa menggunakan harta sisanya untuk apa saja. Atas dasar ini, tercampur atau mencampurkan seperti dirham milik suatu perkumpulan yang tidak bisa dibedakan antara milik mereka, maka cara pembersihannya ialah harta yang tercampur itu harus dibagikan kepada semua anggota perkumpulan sesuai besaran hak yang mereka miliki.

Adapun dakwaan orang awam sementara ini bahwa bercampurnya harta halal dengan harta haram itu dapat mengubah status harta halal menjadi haram, tidak benar. Demikian keterangan Imam Nawawi.

Dari keterangan di atas, menurut hemat kami SHU yang pengambilannya didasarkan dari hasil perdagangan, maka tidak masalah. Tetapi kalau diambil juga dari simpan-pinjam berdasarkan pada bunga, maka sebaiknya diambil dengan catatan berikut.

Kalau SHU-nya merupakan campuran dari kedua jenis usaha itu baik perdagangan maupun jasa peminjaman dana, maka SHU perdagangan bisa dikenali lewat pembukuannya sehingga dapat diketahui mana SHU perdagangan dan mana SHU jasa peminjaman dana. Dengan pembedaan itu, kita bisa menerima besaran SHU perdagangan dan mengembalikan SHU jasa peminjaman dana.

Lalu bagaimana kalau SHU-nya berupa barang? Menurut hemat kami, kita perlu memperkirakan lebih dahulu berapa besar nominal keuntungan SHU perdagangan. Kalau harga barang lebih mahal dari taksiran keuntungan secara nominal SHU perdagangan, maka kita perlu membayar berapa kekurangannya dari angka keuntungan SHU perdagangan itu. Kurang lebihnya Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Jika Istri Tidak Penurut..

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, dalam rumah tangga bila suami istri sdh tidak satu arah terdapat perbedaan persepsi yg mungkin bisa d bilang cukup mendasar tapi tidak mengambil jalan berpisah/ bercerai dg alasan anak.

Dalam hal ini istri tidak lagi Patuh pada suami, tidak mampu menjaga kehormatan suami dimata keluarga ataupun masyarakat. Bahkan sangat sering meninggikan suara saat terjadi perselisihan.
Sudah di nasihati bahkan sampai suami “mengatakan seandainya tidak mau berubah perilaku buruknya akan di pulangkan ke orang tuanya” tapi istri tetap melawan dan terus dg perbuatan buruknya.
Itu hukumnya seperti apa umi..

Apakah suami dlm hal ini masih akan menanggung dosa istri karena dia sebagai pemimpin keluarga?
Atau dg sikap memperingatkan itu sudah gugur kewajiban ia sebagai suami di hadapan Allah?

Terimakasih atas jawabannya 🙏🙏

I/04

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim….

Suami itu imam bagi istri, dan imam mesti ditaati oleh istrinya tentunya dalam hal-hal baik. Di sisi lain, suami hendaknya instropeksi diri kenapa istrinya seprti itu.

Jika suami sudah berlaku baik, tapi istri masih seperti itu maka itu istri yg nusyuz (durhaka). Hendaknya suami memberikan pelajaran dan nasihat, termasuk tidak menggaulinya utk memberinya pelajaran.

Jika istri masih terus melawan, yg justru menambah dosa baginya, tdk ada gelagat mmperbaiki diri maka menceraikannya menjadi salah satu solusi. Sebab berkeluarga tanpa adanya kasih sayang, tanpa adanya hormat, tanpa adanya ketaatan, adalah keluarga yg main-main dan menyimpan bom waktu.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Menghapus Kesalahan Dengan Berbuat Baik

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi M.A

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dari Abi Dzar ra, Rasulullah saw bersabda,

“ إذا عملت سيئة فأتبعها حسنة تمحمها ” “

“Jika engkau melakukan keburukan maka ikutilah dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapus perbuatan buruk yang pernah dilakukan.“ (Hadist shahih riwayat Ahmad)

Penjelasan:

1. Allah berfirman,

“إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ “

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa).” (QS. Hud: 114)

Sesungguhnya perbuatan baik itu akan menghapus perbuatan buruk di masa lalu, sebagaimana hadist yang disampaikan oleh Abu Bakar:

“Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Tidaklah seorang muslim berdosa lalu dia berwudhu kemudian dia shalat 2 raka’at dan memohon ampun kepada Allah kecuali pasti Allah akan mengampuni dosanya.'”

2. Al Ghazali berkata, “Lebih utama mengikuti keburukan dengan kebaikan yang berlawanan seperti: mendengarkan hal-hal yang melalaikan diganti dengan mendengarkan Al Qur’an dan duduk di majlis zikir, duduk di masjid dalam keadaan junub diganti dengan i’tikaf dan membaca Al Qur’an, meminum khamr diganti dengan makan makanan yang halal.”

3. Para ulama sepakat bahwa perbuatan baik dapat menghapus dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar seperti durhaka terhadap orang tua, membunuh, riba, miras dan lain sebagainya, tidak ada jalan lain untuk menghapusnya kecuali dengan taubat.

Allah berfirman :

وَاِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدٰى

“Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk.” (QS. At Taubah: 82).

Ini jika dosa tidak berhubungan dengan hak manusia. Namun jika berhubungan dengan hak orang lain seperti mencuri, maka ia harus mengembalikannya terlebih dahulu dan minta maaf kemudian ia bertaubat.

4. Jika syarat taubat yang berkaitan dengan manusia tidak terpenuhi, maka urusannya akan berlanjut di akhirat. Orang-orang yang pernah dizhalimi akan menuntut dan mengambil pahala darinya sebagai ganti dari kezhaliman yang ia lakukan di dunia.

Rasulullah saw bersabda, “JIka seorang mukmin selamat dari neraka, ia ditahan di sebuah jembatan antara surga dan neraka, lalu ia diminta pertanggungjawaban oleh orang yang dizhalimi di dunia; jika telah usai maka barulah diizinkan masuk surga.” (HR. Bukhari dari Abu Sa’id al al Khudri).

5. Di antara kebaikan Allah, jika seorang mukmin tidak memilki dosa kecil, maka amal kebaikan yang ia lakukan berdampak terhadap dosa-dosa besarnya, yaitu dosa besar yang ia lakukan akan diringankan Allah swt. Jika tidak memiliki dosa besar ataupun dosa kecil, maka pahala dari kebaikan yang dilakukan akan dilipat gandakan.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

3 + 1 Nasehat Penting Dari Rasulullah Saw

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Hadits Pertama

 

عن أَبُي كَبْشَةَ الْأَنَّمَارِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ثَلَاثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ، قَالَ مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ، وَلَا ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلَمَةً فَصَبَرَ عَلَيْهَا إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ عِزًّا، وَلَا فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ… (رواه الترمذي)

Dari Abu Kabsyah Al Anmari ra berkata, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Ada tiga hal (nasehat), yang aku bersumpah atasnya. Dan aku akan mengatakan suatu hal (nasehat) lainnya pada kalian, hendaklah kalian menjaganya.” Beliau bersabda, “(1) Tidaklah harta seorang menjadi berkurang karena sedekah, (2) tidaklah seseorang diperlakukan secara dzalim. lalu ia bersabar (memaafkan) melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan untuknya, dan (3) tidaklah seorang hamba membuka pintu minta-minta melainkan Allah akan membukakan pintu kemiskinan untuknya…” (HR. Tirmidzi)

©️ Takhrij Hadits;

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab Az-Zuhud an Rasulillah Saw, Bab Ma Ja’a Matsalalud Dunya Mitsla Arba’atin Nafar, hadits no 2247.

®️ Hikmah Hadits;

1. Ada 3 + 1 nasehat penting dari Rasulullah Saw untuk kita sebagai umatnya yang harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan karena demikian pentingnya 3 + 1 nasehat tersebut, hingga Nabi Saw membahasakannya dengan ungkapan “Ada tiga hal (nasehat), yang aku bersumpah atasnya. Dan aku akan mengatakan suatu hal (nasehat) lagi pada kalian, hendaklah kalian menjaganya.” Ini artinya Nabi Saw benar-benar menekankan nasehat ini agar diamalkan oleh kita sebagai umatnya.

2. Ketiga nasehat penting tersebut, adalah sebagai berikut;

(1). Banyak berbagi.

Nabi Saw membahasakannya dengan ungkapan, “Tidaklah harta seorang menjadi berkurang karena sedekah”

(مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ)

Artinya kekhawatiran bahwa sedekah akan mengurangi harta tidaklah benar. Karena dengan sedekah justru akan semakin menambah dan memberkahkan harta. Dengan banyak bersedekah juga insya Allah akan semakin menjadikan kehidupan seseorang semakin lebih terasa berarti dan bermanfaat bagi orang lain.

(2). Mudah memaafkan.

Nabi Saw membahasakannya dengan ungkapan, “Tidaklah seseorang diperlakukan secara dzalim, lalu ia bersabar (memaafkan) melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan untuknya”

(وَلَا ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلَمَةً فَصَبَرَ عَلَيْهَا إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ عِزًّا)

Karena memaafkan adalah kemuliaan, dan sifat memaafkan tidak akan dimiliki kecuali oleh orang-orang mulia yang berhati besar. Memaafkan juga merupakan sifat para Nabi dan Rasul, serta juga sifat para orang-orang shaleh terdahulu. Maka jika ingin mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Swt dan di mata manusia, maka hendaklah ia banyak memaafkan kesalahan orang lain.

(3) Banyak berusaha dan tidak meminta-minta.

Nabi Saw membahasakannya dengan ungkapan, “Tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta melainkan Allah Swt akan membukakan pintu kemiskinan untuknya”

(وَلَا فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا)

Karena sifat suka meminta adalah sifat tercela yang dapat “mematikan” semangat pelakunya untuk bekerja dan berusaha. Sehingga akan menjadikannya malas dan tdk mau berusaha. Akibatnya selamanya ia akan terjebak dalam kebiasaannya dan menjadi miskin karenanya. Na’udzubillahi min dzalik.

3. Ketiga pelajaran berharga dari Nabi Saw ini, jika dicermati secara mendalam akan kita dapati bermuara pada urgensi memiliki sikap dan mentalitas yang positif dan baik, yaitu (1) banyak memberi, (2) suka memaafkan, (3) banyak berusaha dan tidak meminta-minta. Karena sikap mental yang baik merupakan modal dasar dalam menggapai kemuliaan dan kesuksesan.

Maka hendaknya kita berusaha mengamalkan dan menjaganya dalam kehidupan sehari-hari agar dapat menjadi kunci sukses bagi kita semua.

Hadits Kedua

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عن أَبُي كَبْشَةَ الْأَنَّمَارِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ….وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ قَالَ إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ، عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ (رواه الترمذي)

Dari Abu Kabsyah Al-Anmari ra berkata, bahwasanya beliau mendengar Nabi Saw bersabda,” ….dan aku akan mengajarkan suatu nasehat pada kalian, hendaklah kaian menjaganya. “Sesungguhnya dunia itu untuk empat golongan; (1) Pertama, seorang hamba yang dikarunia Allah Swt dengan harta dan ilmu. Dengan ilmunya ia bertakwa kepada Allah dan dengan hartanya ia menyambung silaturrahim dan ia mengetahui Allah Swt memiliki hak atas hartanya. Dan ini adalah tingkatan yang paling baik. (2) Kedua, seorang hamba yang diberikan Allah Swt ilmu tapi tidak diberi harta. Niatnya tulus dan ia berkata, ‘Andai saja aku memiliki harta niscaya aku akan melakukan seperti amalan si fulan. Maka ia akan mendapatkan apa yang ia niatkan, pahala mereka berdua sama. (3) Ketiga, seseorang yang diberi harta oleh Allah tapi tidak diberi ilmu, ia melangkah serampangan tanpa ilmu dalam menggunakan hartanya. Ia tidak takut kepada Rabbnya dengan harta itu dan tidak menyambung silaturrahimnya serta tidak mengetahui hak Allah padanya. Ini adalah tingkatan terburuk. (4) Keempat, selanjutnya orang yang tidak diberi Allah harta atau pun ilmu, ia bekata: Andai aku punya harta tentu aku akan melakukan seperti yang dilakukan si fulan yang serampangan meneglola hartanya, dan niatnya benar. Dosa keduanya sama.” (HR. Tirmidzi)

®️ Hikmah Hadits;

1. Hadits ini masih merupakan lanjutan dari hadits panjang pada rehad sebelumnya, dan masih merupakan satu rangkaian tidak terpisahkan dengan hadits sebelumnya. Dalam hadits sebelumnya Nabi Saw menyebutkan 3 Nasehat Penting, sementara dalam hadits lanjutan ini Nabi Saw mengajarkan satu pelajaran (nasehat) penting lainnya, yang Nabi Saw berpesan agar kita dapat menjaganya.

2. Nasehat penting Nabi Saw tersebut adalah bahwa berkaitan dengan adanya 4 golongan manusia dalam menjalani kehidupan di dunia, yaitu sebagai berikut ;

(1). Golongan orang yang diberi harta dan diberi ilmu.

Dengan ilmunya ia menjadi hamba yg taat dan bertakwa kepada Allah Swt. Ilmunya mengantarkannya pada jalan kebaikan. Sedangkan dengan hartanya ia menyambung silaturrahim, berbuat kebaikan untuk orang lain dan mengetahui ada hak-hak Allah Swt yang harus ia tunaikan dari hartanya tersebut, yaitu zakat, infak dan shadaqah.

(2). Golongan orang yang diberi ilmu namun tidak diberi harta.

Dengan ilmunya ia menjadi hamba yg taat dan bertakwa kepada Allah Swt, namun ia tidak bisa melakukan kebaikan untuk orang lain terkait dengan harta, lantaran ia tidak memiliki harta sebagaimana golongan pertama. Namun ketulusan dan keikhlasan hatinya mengantarkannya pada niatan yg baik yaitu jika ia memiliki harta maka ia akan melakukan sebagaimana yang dilakukan golongan pertama.

(3). Golongan orang yang diberi harta namun tidak diberi ilmu.

Karena tidak memiliki ilmu maka ia jauh dari Allah Swt, bergelimang dengan dosa dan maksiat serta ia gunakan hartanya dalam rangka perbuatan dosa tersebut. Ia tidak menyambung silaturrahim, tidak berbagi kepada fakir miskin serta tidak mengetahui hak-hak Allah Swt. Bahkan hartanya digunakan untuk memusuhi agama Allah Swt.

(4). Golongan yang tidak diberi harta dan tidak juga diberi ilmu.

Ia jauh dari Allah, bergelimang maksiat dan dosa, bahkan ia berangan-angan jika memiliki harta maka ia akan melakukan dan berbuat sebagaimana yang dilakukan oleh golongan ketiga.

3. Dari keempat golongan tersebut, golongan yang paling baik adalah golongan pertama, yaitu golongan yang diberi harta dan ilmu, yang dengan keduanya ia dapat mencapai derajat takwa dan berbuat kebaikan kepada orang lain. Mengiringi golongan pertama adalah golongan kedua, yang punya ilmu namun tidak punya harta. Ia bercita-cita ingin seperti golongan pertama. Maka pahala golongan kedua sama dengan golongan pertama. Sedangkan golongan paling buruk adalah golongan ketiga, yaitu orang yang tidak punya ilmu namun punya harta banyak. Akibatnya ia jauh dan ingkar kepada Allah Swt, serta ia gunakan hartanya dalam rangka maksiat dan menjauhkan org lain dari Allah Swt. Lalu mengiringi golongan ini adalah golongan orang yang tidak berilmu dan tidak diberi harta benda. Namun obsesinya adalah ingin menjadi seperti golongan ketiga. Ia jauh dari Allah Swt dan berangan akan menjadi seperti golongan ketiga jika punya harta. Maka dosa golongan ketiga dan keempat adalah sama.

4. Tersirat dari hadits di atas adalah anjuran untuk menjadi orang yang berilmu dan berharta. Agar memiliki ketaatan yang paripurna kepada Allah Swt dan memiliki kebaikan sempurna kepada sesama manusia. Semoga kita semua diberikan Allah Swt anugerah sebagaimana golongan pertama, sehingga bisa mengggapai kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Sibukkan Diri Dengan Ketaatan

📚 KHUTBAH JUM’AT

📝 Pemateri: Ustadz Denis Arifandi Pakih Sati, Lc. M.H (IKADI DIY)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ مُكَوِّرِ اللَّيْلِ عَلَى النَّهَار، وَمُكَوِّرِ النَّهَارِ عَلَى اللَّيْل. جَاعِلِ اللَّيْلِ سَكَناً، وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا، ذَلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْم.
أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الْمُتَوَالِيَات، وَخَيْرَاتِهِ الْمُتَعَاقِبَات.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، رَبُّ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَات، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدَهُ وَرَسُوْلُه، خَتَمَ اللهُ بِهِ النُّبُوَّاتِ وَالرِّسَالَات، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْخَيْرِ وَالْكَرَامَات، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ عَلَى تَعَاقُبِ الْأَيَّامِ وَالسَّاعَات.
أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا عِبَادَ الله، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: «يَآ أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ»

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Betapa berharga waktu bagi seorang muslim. Ia merupakan anugerah Allah Swt. yang semestinya dimanfaatkan untuk beramal dengan sebaik-baiknya. Inilah yang dapat kita pahami dari firman Allah Swt.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. al-Mulk: 2)

Hari demi hari bagi seorang muslim adalah waktu yang diberikan Allah Swt. untuk menunaikan amal terbaik (ahsanu ‘amala). Tidak mengherankan sekira para ulama dan para bijak bestari menasihatkan untuk senantiasa mengisi anugerah waktu itu dengan ketaatan pada Allah Swt. dan bukan merusaknya dengan kelalaian. Inilah yang pernah disampaikan oleh seorang ulama tabi’in Al-Hasan Al-Bashri:

اِبْنَ آدَم، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، فَإِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ، ذَهَبَ بَعْضُك

“Wahai manusia, engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Jikalau
satu hari berlalu, sebagian dari dirimu juga telah berlalu.” (HR. Abu Nu’aim dalam Hilyah Al-’Awliya’)

Tidak ada yang lebih berharga, lebih mulia, lebih agung, atau lebih berharga dibandingkan usia. Tanda kesuksesan paling besar adalah, ketika kita dapat menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat, baik untuk kehidupan dunia maupun untuk mengangkat derajat kita di akhirat. Sebaliknya, salah satu tanda kegagalan adalah, ketika kita menggunakan waktu yang telah Allah Swt. anugerahkan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, apalagi untuk kemaksiatan dan kerusakan.

Orang yang paling bijaksana adalah orang yang menggunakan hidupnya untuk perkara paling penting, dan kemudian baru yang penting. Tugas itu banyak, dan hidup ini singkat. Orang yang paling bahagia adalah orang yang selalu menyibukkan diri dengan kebenaran dan menjalankan kewajiban yang seharusnya dilakukan, tidak menggunakan waktunya untuk kesia-siaan. Sebab, jika kita tidak menyibukkan waktu dengan kebenaran, maka kita akan sibuk oleh kebatilan. Jikalau kita tidak menggunakan waktu untuk sesuatu yang bermanfaat, maka kita akan sibuk dengan sesuatu yang menimbulkan mudharat.

Pada masa sekarang ini, pintu hobi dan hawa nafsu terbuka lebar; berbagai channel olahraga disediakan bagi para pecinta olahraga; channel film dan serial disediakan bagi para pecinta seni dalam berbagai bentuk dan bahasa; Arab, Inggris, Turki, dan Spanyol. Kemudian ditambah lagi dengan berbagai game; playstation untuk segala usia, bagaikan laut tanpa tepi. Bahkan, saluran pornografi pun dengan mudah dapat diakses oleh berbagai kalangan. Begitulah tayangan-tayangan merusak telah mengepung dan menyibukkan sebagian kita sehingga membuat jiwa semakin lemah, khususnya bagi yang kurang dalam pemahaman agama, rapuh orientasi hidupnya, minim wibawa dirinya, dan ringkih akhlaknya.

Jika di antara kita tidak terjebak untuk menyibukkan diri menyaksikan tayangan-tayangan tersebut, masih ada media sosial yang sering kali tanpa sadar menyita hampir sebagian besar waktu kita. Berapa banyak di antara kita suntuk berjam-jam dalam obrolan WhatsApp, facebook, dan sebagainya? Akhirnya, waktu pun habis, usia terampas, dan zaman berlalu sia-sia di tangan pemiliknya.

Terkait dengan kecenderungan untuk lalai dengan waktu, jauh-jauh hari Rasulullah Saw. telah mengingatkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Sungguh, pangkal semua kesia-siaan adalah waktu luang; tidak ada kegiatan sama sekali, membiarkan diri tanpa ada kerja yang digarap. Jiwa yang kosong, yang bermalas-malasan untuk melakukan kebaikan, cenderung akan menyibukkan pelakunya dengan kebatilan. Dan itu pasti. Ia akan selalu mendatangi satu pintu keburukan, kemudian masuk ke pintu keburukan lainnya, sampai habis umurnya dan tidak tersisa waktunya.

Ibn al-Qayyim dalam kitab al-Jawab al-Kafi menasihatkan, “Waktu luang (al-faragh) akan melahirkan kerusakan, lalu maksiat akan beruntun menghampiri seorang hamba dalam rangkaian yang menghancurkan; yang akan melemahkan iman di hati dan menjauhkannya dari Allah Swt. Siapa yang hampa dari amalan bermanfaat lagi produktif, maka ia pasti akan sibuk dengan sesuatu yang memudharatkannya dan tidak memberinya manfaat sama sekali.

Imam al-Syafii (semoga Allah merahmatinya) mengatakan, “Jikalau Anda tidak menyibukkan diri dengan kebenaran, maka ia akan menyibukkan Anda dengan kebatilan.”

Hal serupa disampaikan al-Munawi dalam kitab Fayd al-Qadir. “Ketahuilah, kekosongan (al-faragh atau waktu luang) akan melahirkan keinginan (syahwat). Siapa yang menghabiskan harinya tanpa hak yang ia penuhi, atau tanpa kewajiban yang ia tunaikan, atau tanpa kemuliaan yang ia raih, atau tanpa pujian yang ia dapatkan, atau tanpa kebaikan yang ia tegakkan, atau tanpa pengetahuan yang dipelajari, maka ia telah mendurhakai harinya. Waktu luang akan menggulungnya. Penyebab musibah itu adalah al-faragh (waktu luang).” (Fayd al-Qadir: 6/375)

Itulah sebabnya, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

إنِّي لَأَبْغَضُ الرَّجُلَ فَارِغًا لَا فِي عَمَلِ الدُّنْيَا وَلَا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ

“Aku membenci seseorang yang tidak melakukan apapun; tidak ada kerja duniawi yang dikerjakannya, dan tidak ada juga amalan ukhrawi yang disemainya.” (HR. Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Awliya’)

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Swt.,

Nasihat Imam Syafii dan para ulama lainnya, “Jika kalian tidak menyibukkan diri dalam kebenaran, maka kalian akan disibukkan oleh kebatilan”, patut kita jadikan pegangan. Jika kita tidak menyibukkan hari-hari kita dengan ketaatan, maka waktu kita akan terisi oleh kemaksiatan. Jika usia kita tidak dipenuhi dengan hal-hal bermanfaat, maka ia akan disesaki dengan perkara-perkara yang mendatangkan madharat.

Ibn al-Qayyim rahimahullah menegaskan, “Ia adalah jiwa. Jika kalian tidak menyibukkannya dengan kebenaran, ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan. Dan ia adalah hati. Jikalau rasa cinta kepada Allah Swt. tidak menghuninya, maka ia akan dihuni oleh rasa cinta kepada makhluk. Dan itu pasti. Ia adalah lisan. Jika kalian tidak menyibukkannya dengan berzikir, maka ia akan menyibukkanmu dengan senda gurau. Dan itu tidak baik untuk kalian. Itu pasti.” (Kitab al-Wabil al-Shayyib: 1/ 111).

Begitulah tabiat diri kita. Jika hati tidak dipenuhi rasa tunduk kepada Allah Swt., ia akan digiring untuk tunduk kepada selain Allah. Jika lisan tidak diarahkan untuk berkata yang baik, ia akan disibukkan untuk berkata yang buruk. Jika kaki tidak disibukkan untuk melangkah ke masjid dan tempat-tempat kebaikan, ia akan mudah digerakkan menuju tempat-tempat kemaksiatan. Jika mata tidak digunakan untuk membaca Quran, ia akan mudah tergelincir untuk menyaksikan hal-hal yang melalaikan. Begitu seterusnya.

Oleh karena itu, mari sibukkan diri kita dalam ketaatan. Usahakan tidak ada waktu yang terlewatkan kecuali ia dipenuhi dengan kebaikan.

Mari kita renungkan sebuah atsar yang dinisbatkan kepada Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّ اللهَ خَلَقَ الْأَيْدِيْ لِتَعْمَلَ فَإِذَا لَمْ تَجِدْ فِي الطَّاعَةِ عَمَلًا اِلْتَمَسَتْ فِي الْمَعْصِيَةِ أَعْمَالًا.. فَأَشْغِلْهَا بِالطَّاعَةِ قَبْلَ أَنْ تُشْغِلَكَ فِي الْمَعْصِيَة

“Allah Swt. menciptakan tangan agar Anda beramal. Jikalau ia tidak mendapati amalan dalam ketaatan, maka ia akan mendapati amalan-amalan dalam kemaksiatan. Maka, sibukkanlah ia dengan ketaatan sebagaimana ia menyibukkanmu dengan kemaksiatan.”

Sibukkan diri kita dengan ketaatan. Sungguh, usia terus beranjak dan kematian seakan terus memburu kita, tak ada waktu bagi kita untuk berleha-leha. Semoga Allah Swt. memandu dan membimbing kita untuk selalu menyibukkan diri dalam ketaatan kepada-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ في اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ
وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه.
أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَأَطِيْعُوْهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى.
ثُمَّ صَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى الْهَادِي الْبَشِيْر، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْر، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الْفَضْلِ الْكَبِيْر. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ: «إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً»
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَـجِيْد، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْـخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْن، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعَيْن، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنـِّكَ وَكَرِمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْن.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ، وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات، وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَات.
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ أُمُورِنَا.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ، وَاْلوَبَاءَ، وَالزَّلاَزِلَ، وَاْلمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَا خآصَّة، وَسَائِرِ بِلاَدِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّء الْأَسْقَامِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَة، وَالْمُعَافَاةِ الدَّائِمَة، فِي دِيْنِنَا وَدُنْيَاناَ وَأَهْلِنَا وَمَالِناَ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
أَقِيْمُوا الصَّلَاة.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jual Beli Emas Perak

Hukum Bisnis MLM

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya… tentang hukum syariah atau kehalalan sistem MLM binari.

Kalo saya browsing di gugel, seperti ini pengertiannya:
Sistem binary plan merupakan sistem MLM yang lebih mengutamakan pengengembangan jaringannya pada dua leg saja. Bonus yang akan didapatkan akan semakin besar jika jaringan tersebut bisa semakin seimbang. Sebaliknya, jika tidak ada keseimbangan, maka bonus-bonus tersebut malah akan mengalir deras ke perusahaan.

Peraturan di MLM X, adalah sebagai berikut:
– MLM Sistem Binary
– Ada produk yang dijual: sabun dan serum.
– tanpa autosave, tanpa auto reward, tanpa tutup poin, tanpa target, tanpa wajib belanja bulanan.
– Member seumur hidup, poin diakumulasi terus, semua reward berupa uang, bukan barang.
– Marketing Plan:
1. Bonus Sponsor, yaitu bonus ketika berhasil mendistribusikan 1 paket produk, maka akan mendapat bonus 50.000
Contoh:
Saya menyeponsori rekrutan saya yaitu si A, B, C, D, E, dan F. Maka, dari masing-masing saya dapat bonus @50.000, jadi saya dapat bonus total 300.000.
2. Ketika berhasil mengajak teman untuk gabung, juga dapat bonus @50.000.
3. Bonus pasangan yaitu bonus yang saya terima ketika terjadi pasangan downline di kaki kiri dan kaki kanan, maka dapat bonus 20.000.
4. Bonus reward, bonus yang saya Terima jika jumlah titik RO quality downline seimbang kanan-kiri. Reward nya:
– 10 kiri & 10 kanan, dapat bonus uang senilai 750rb.
– 699 kiri dan 699 kanan, uang senilai 20 juta.
– 5999 kiri dan 5999 kanan, uang senilai 150juta.

A/29

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz DR Oni Sahroni, MA

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Pertama, kesimpulannya jika ingin bertransaksi dan bermitra dengan perusahaan MLM, maka hanya bermitra dengan perusahaan MLM yang telah mendapatkan izin dan sertifikat dari otoritas DSN-MUI.

Kedua, boleh bertransaksi, menjadi mitra, member, agen atau lainnya di perusahaan multi level marketing yang mendapatkan izin operasional dari otoritas, dari asosiasi, dari LPPOM MUI dan DSN MUI. Jika sudah ada izin dari empat otoritas tersebut, maka menurut saya diperkenankan.

Ketiga, kenapa harus ada izin dari otoritas? agar usaha tersebut diawasi. Kenapa harus ada izin dari asosiasi? agar tidak ada unsur skema money game dalam praktiknya. Kenapa harus ada izin dari LPPOM MUI? agar obyek yang diperjualbelikan seperti minuman kesehatan atau kaosmetik itu halal. Kenapa harus ada izin dari DSN MUI? supaya terhindar dari ketidakpastian (gharar) dan lainnya atau termasuk dalam skema piramida.

Keempat, sederhananya beberapa kriteria tentang MLM tersebut itu dituangkan dalam fatwa DSN MUI Nomor 75/DSN-MUI/VII/2009 tentang Pedoman Penjualan Langsung Berjenjang Syariah.

Untuk lebih detailnya bisa dilihat tulisan terkait di link berikut:

Kriteria MLM Syariah

 

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Membayar Utang Riba

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bagaimana hukumnya membayar utang riba (utang yang bercampur riba di dalamnya)? Apakah tetap wajib atau ada mekanisme lainnya?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jika sudah ada duit, langsung lunaskan. Hutang tetap hutang.. Jika dia tidak mau bayar karena ada ribanya, maka dia melakukan dua kesalahan.. Yaitu riba itu sendiri dan tidak mau bayar hutang.

Sebagian orang penggiat anti riba, ada yang memberikan contoh tidak baik ketika mereka terjerat riba, bukan ‘jentel’ melunasinya tapi malah lari dari kewajiban.. Sehingga ada citra buruk, seolah penggiat anti riba adalah orang-orang yang memang secara muamalah dengan banknya bermasalah, seakan aktifitas anti ribanya dianggap pelarian saja.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Puasa dan Salat yang Paling Utama

Menunda Qadha Puasa Bertahun-tahun, Bagaimanakah Hukumnya?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, bagaimana Islam mengatur, jika seorang ibu yang sedang menyusui anaknya belum bisa mengganti semua puasa yang terlewat saat nifas puasa tahun lalu. Karna kondisi fisik yang lemah. Apakah boleh ganti setelah puasa tahun ini lewat untuk mengganti puasa tahun sebelumnya Ustadz? A/06

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Ustadz: Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim..

Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat kepada Anda dan keluarga.

Dalam masalah qadha puasa, memang ada beberapa perincian. Dalam Al Fiqh Al Muyassar, disebutkan:

– Jika meninggalkan puasa Ramadhan tanpa alasan, maka dia wajib bertobat dan memohon ampun, sebab itu dosa dan kemungkaran besar. Serta wajib baginya qadha secara faur (segera), menurut pendapat yang shahih dari berbagai pendapat ulama.

– Jika tidak puasa Ramadhan ada alasan syar’i seperti haid, nifas, sakit, safar, dan lainnya, maka wajib baginya qadha tapi tidak wajib segera. Dia punya waktu lapang sampai Ramadhan selanjutnya, namun hal yang disunnahkan baginya untuk segera mengqadha, sebagai tindakan yang lebih hati-hati. (Lihat Al Fiqh Al Muyassar fi Dhau’il Quran was Sunnah, hal. 162)

Lalu, apakah jika menunda qadha mesti ditambah dengan fidyah? Ini pun juga dirinci, sebagai berikut:

– Jika menunda-nundanya TANPA alasan, misal hanya karena kesibukan dan malas, maka wajib baginya juga fidyah, yaitu satu harinya sebesar satu mud. Inilah pendapat mayoritas ulama, seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Mujahid, Sa’id bin Jubeir, Malik, Al Awza’i, Ats Tsauri, Asy Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Atha’ bin Abi Rabah, Al Qasim bin Muhammad, Az Zuhri. Hanya saja Ats Tsauri mengatakan 2 mud untuk masing-masing hari yg ditinggalkan.

Ada pun Al Hasan Al Bashri, Ibrahim an Nakha’i, Abu Hanifah, Al Muzani, Daud Azh Zhahiri, mengatakan qadha saja, tanpa fidyah.

– Jika menunda qadhanya ada udzur syar’i, misalnya sakit yang menahun, atau hamil, dan lainnya, maka qadha saja tanpa fidyah.

(Lihat Al Mausu’ah Masaail Al Jumhur, jilid. 1, hal. 321. Lihat juga Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, jilid. 3, hal. 108)

Jika tertundanya sampai melewati Ramadhan selanjutnya apalagi beberapa tahun dan itu tanpa alasan, maka itu penundaan yang terlarang. Aisyah Radhiallahu ‘Anha juga menunda tapi tidak sampai melewati Ramadhan selanjutnya.

Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata:

ما كنت أقضي ما يكون علي من رمضان إلا في شعبان حتى توفي رسول الله صلى الله عليه و سلم

Aku tidak pernah mengqadha apa-apa yang menjadi kewajiban atasku dari Ramadhan, kecuali di bulan sya’ban, sampai wafatnya Rasulullah ﷺ. (HR. At Tirmidzi No. 783, katanya: hasan shahih)

Namun demikian, hal tersebut tidak lantas pelakunya kena denda dengan jumlah qadha puasa yang “berbunga”. Seperti yang dijelaskan Imam Ibnu Qudamah. (Al Mughni, jilid. 3, hal. 154)

Misal, tahun 2018 tidak puasa 10 hari, baru sempat qadha 2020, maka tetap dia qadha 10 hari saja utk puasa yang tahun 2018 itu. Jika menunda qadhanya tanpa alasan maka tambah dengan fidyah menurut mayoritas ulama, sebagaimana penjelasan sebelumnya.

Kalau tahun 2019 dia juga ada puasa yang ditinggal, itu juga wajib qadha, dan disikapi sama sebagaimana yang tahun 2018. Terus seperti itu.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Kita Hanya Terlihat Baik

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi MA.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌺

ربما كنت مسيئا فأراك الإحسان منك صحبتك من هو أسوأ منك حالا منك

Bisa jadi engkau berbuat buruk, namun persahabatanmu dengan orang yang lebih buruk menjadikanmu tampak baik
(Ibnu Athaillah)

Ketika kita melakukan kebaikan, lalu ada yang memuji kita, janganlah kita bangga diri dulu, karena bisa jadi kita terlihat baik dan shalih bukan karena kita benar-benar baik, tetapi hanya karena kita berteman dengan orang-orang yang kualitas kebaikannya dibawah kita.

Sucikanlah dirimu tetapi jangan merasa suci.

Rasakan kebenaran tetapi jangan merasa benar.

Rasakan kebaikan tetapi jangan merasa baik.

AA Gym berkata bahwa kita ini mulia bukan karena mulia, tetapi karena Allah masih menutupi aib kita, andai Allah buka tabir diri kita, maka pastilah tidak ada yang mau mendekat dan mendengarkan perkataan kita.

Andai aib dan keburukan kita tidak ketahuan itu bukan karena pandai menutupinya, itu semua karena Allah menutupi noktah-noktah hitam yang ada pada diri kita.

Ketika sudah menjadi ahli tahajjud, maka jangan kita merasa paling shalih, karena andai tahajjud kita dibandingkan dengan tahajjudnya nabi saw, maka pasti tidak ada apa–apanya.

Kita merasa sudah banyak baca Al Quran ketika mengikuti program odoz (one day one juz), karena kita yang kita bandingkan adalah mereka yang ikut program odol (one day one lembar).

Ujian orang yang berbuat baik adalah ujub dan ujian orang yang berdosa adalah putus asa.

Ulama berkata:

“ إعجاب الرجل بنفسه عنوان ضعف عقله “

“takjub kepada diri
sendiri adalah tanda lemahnya akal“

Jadi baik dan buruk itu tergantung pembandingnya, bahkan kebaikan yang dilakukan oleh orang yang biasa, bisa menjadi sebuah keburukan bagi orang yang sangat dekat kepada Allah, seperti bermuka masamnya nabi saw ketika ada orang buta yang bertanya kepadanya, lalu Allah menegurnya dalam surah Abasa.

Janganlah kita membayangkan masamnya muka nabi saw seperti masamnya muka kita, bisa jadi itu masih terhitung tersenyum untuk orang–orang umum, namun karena nabi itu adalah uswah hasanah maka senyumannya pun haris tampil sempurna.

Ulama berkata:

“ حسنة الأبرار سيئة المقربين “

Kebaikan orang – orang yang baik adalah kejahatan orang yang dekat kepada Allah.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Sebarkan! Raih Pahala

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678