Bab Larangan Jual Beli Najsyi

๐Ÿ“ Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ 
๐Ÿ“šHadits #1
ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู’ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุจููŠู’ุนูŽ ุญูŽุงุถูุฑูŒ ู„ูุจูŽุงุฏู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุชูŽูŽู†ูŽุงุฌูŽุดููˆู’ุง (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Nabi SAW melarang orang kota menjual kepada orang desa, dan beliau SAW melarang saling melakukan najsyi (yaitu saling meninggikan tawaran harga barang supaya orang lain membeli dengan harga tinggi.โ€™) (HR. Bukhari)
๐Ÿ“šHadits #2
ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุฌู’ุดู (ู…ุชูู‚ ุนู„ูŠู‡)
Dari Ibnu Umar ra berkata, bahwa Nabi SAW melarang jual beli najsyi. (Muttafaqun Alaih)
๐ŸŒทTakhrij Hadits
1. Hadits Pertama, diriwayatkan oleh : 
๐Ÿ”นDiriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyuโ€™ Bab La Yabiโ€™ ala Baiโ€™i Akhihi, hadits no 1996. Juga dalam Kitab As-Syurut, bab Ma La Yajuzu Minas Syurut Fin Nikah, hadits no 2522.
๐Ÿ”น Diriwayatkan juga oleh Imam Nasaโ€™i dalam Sunannya, Kitab Al-Buyuโ€™, bab Saumir Rajuli ala Saumi Akhihi, hadits no 4426. Juga dalam Kitab Al-Buyuโ€™, bab Najsy, hadits no 4430 dan 4431. 
๐Ÿ”นDiriwayatkan juga oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya,  dalam Musnad Abi Hurairah ra, hadits no 7375.
๐ŸŒทTakhrij Hadits
2. Hadits Kedua, diriwayatkan oleh : 
๐Ÿ”นImam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyuโ€™, Bab An-Najsy wa man Qala La Yajuzu Dzalikal Baiโ€™. Hadits no 1998. Juga dalam Kitab Al-Hiyal, Bab Ma Yukhrahu Minat Tanajus, hadits no 6448.
๐Ÿ”น Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyuโ€™, Bab Tahrim baiโ€™ Rajul Ala Baiโ€™i Akhihi, hadits no 2792. 
โ€ข Imam Nasaโ€™i dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu. Bab An-Najsy, hadits no 4429. 
๐Ÿ”น Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab At-Tijarat, Bab Ma Jaโ€™a Fin Nahyi Anin Najs, hadits no 2164. 
๐ŸŒทMakna Umum
Secara umum, hadits ini menggambarkan tentang adanya larangan dalam proses jual beli, yaitu jual beli dengan proses najsyi.
Secara umum baiโ€™ najsyi adalah sebuah proses atau upaya dalam jual beli, dimana si penjual melakukan promosi yang berlebihan dalam memumi-muji barangnya, sehingga menarik minat pembeli untuk membelinya.
Atau bisa juga dalam bentuk si penjual melakukan persekongkolan dengan orang lain, yang berpura-pura menawar barang dagangannya dengan harga tinggi, supaya menipu pembeli sebenarnya, sehingga ia membelinya dengan harga yang tinggi.
Praktek jual beli seperti ini dilarang oleh Rasulullah SAW, karena selain merugikan salah satu pihak (yaitu pembeli), ia juga mengandung unsur tipuan atau promosi yang tidak wajar.
๐ŸŒทMakna Najsyi
Secara bahasa (dikemukakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari), adalah (ุชู†ููŠุฑ ุงู„ุตูŠุฏ) mengejutkan hewan buruan. 
Sedangkan maknanya secara umum adalah : 
Menambahkan sesuatu pada barang dagangan dengan kesepakatan atau persekongkolan sesama penjual atau antara penjual dengan teman-temannya, untuk menjual dengan harga yang tinggi, dan hal tersebut tidak diketahui oleh si pembeli. 
Memuji muji dagangannya sendiri, supaya laris atau supaya memiliki harga yang tinggi.
Bersekongkol dengan temannya yang berpura-pura menawar barang dengan harga tinggi agar orang lain merasa tidak kemalahan, lalu terpengaruh membelinya.
Jadi, unsur-unsur dalam baiโ€™ Najsyi adalah sebagai berikut : 
1โƒฃ. Adanya pengiklanan yang berlebihan, yang melebihi dari objek barang yang sesungguhnya, atau dengan kata lain, ada unsur tipuan dalam periklananannya. 
2โƒฃ. Adanya persekongkolan antara penjual dengan para crew nya, 
3โƒฃ. Adanya penawaran fiktif dari teman persekongkolannya dengan harga tinggi untuk menipu calon pembeli, agar ia juga turut menwar dengan harga yang tinggi juga. 
4โƒฃ. Pengiklanan yang berlebihan tersebut, atau persekongkolan tersebut tidak diketahui oleh pembeli.
Pada Intinya, najsy itu adalah salah satu taktik yang dilakukan oleh penjual untuk melariskan dagangannya melalui reklame yang berlebihan atau melalui taktik penawaran fiktif, agar orang-orang menjadi terkesan lalu membelinya atau menjadi tertipu dalam harganya.
Praktek seperti ini merupakan praktek yang bathil, yang pada initinya dapat menipu pembeli, atau akan terjadi praktek jual beli yang tidak saling ridha (an taradhin).
Sementara salah satu syarat dalam jual beli adalah harus adanya saling ridha antara penjual dan pembeli, yaitu : 
1โƒฃ. Ridha untuk membeli barang dagangan apa adanya
2โƒฃ. Ridha dengan harganya, sesuai dengan harga yang sesungguhnya.
3โƒฃ. Ridha pada proses jual belinya tersebut. 
๐ŸŒทPandangan Ulama
Ibnu Bathal mengemukakan bahwa para ulama sepakat menetapkan bahwa baiโ€™ najsyi merupakan perbuatan maksiat. Dan jual beli yang dilakukan secara najsyi adalah batal menurut madzhab Dzhahiri dan Hambali. 
Sementara Madzhab Maliki berpendapat bahwa jika terjadi baiโ€™ Najsyi, pembeli berhak melakukan khiyar, yaitu berhak membatalkan jual beli tersebut, apabila kemudian ia mengetahui bahwa ia telah tertipu. 
Adapun Ibnu Abi Aufa berkata, bahwa pelaku baiโ€™ Najsyi adalah pemakan riba dan pengkhianat.
Jadi, kesimpulannya bahwa ulama sepakat, jual beli najsyi merupakan perubatan yang buruk dan dilarang oleh syariat dan oleh karenanya haram dilakukan. 
๐ŸŒทHukum Mempromosikan Dagangan
Secara umum, mempromosi kan barang dagangan atau produk tertentu adalah boleh saja, selama dilakukan dengan benar dan jujur serta tidak berlebih-lebihan (tidak bohong dan tidak ada unsur tipuan). 
Adapun apabila iklan dilakukan dengan cara berbohong dan atau berlebihan, sehingga โ€œmenipuโ€ image pembeli, maka hukumnya menjadi haram dan jual belinya menjadi tidak sah.
Oleh karenanya, dalam segala hal yang terkait dengan aspek marketing, hendaknya dilakukan dengan hati-hati, agar jangan sampai mengejar target penjualan tertentu sehingga kita mengorbankan ketaatan terhadap syariat dan hukum Allah SWT. 
Dalam konteks muamalah kontemporer, baiโ€™ najsyi bisa terjadi dalam praktek sebagai berikut : 
๐Ÿ”นTender fiktif, dimana sesama pemasok yang mengikuti tender saling bersekongkol dalam masalah harga, untuk kemudian โ€œmenipuโ€ perusahaan (calon pembeli) sehingga ia membelinya dengan harga yang tinggi.
๐Ÿ”นPenawaran fiktif terhadap objek tertentu, supaya harganya tinggi, sehingga barang tersebut dapat dibeli dengan harga yang tinggi.
๐Ÿ”นPermintaan fiktir terhadap barang tertentu, sehingga pasar meresponnya dengan membeli barang-barang tersebut. Namun setelah para pedagang membelinya, ternyata tidak ada pembeli sesungguhnya di pasaran.
๐ŸŒทBentuk Baiโ€™ Najsyi Dalam Konteks Kekinian
Iklan terhadap suatu produk yang berlebihan, tidak sesuai dengan barang atau produk yang sesungguhnya. Hal ini bisa terjadi dalam produk barang maupun jasa : 
๐Ÿ”บProduk Barang : batu akik, barang-barang seni, barang antik, dengan mengatakan misalnya batu-batuan tersebut bersumber dari barang yang langka. Atau karyawan seni tersebut merupakan karya seni yang bernilai sangat tinggi, dsb.
๐Ÿ”บProduk Jasa : seperti asuransi, saham, yang dilakukan dengan cara promosi berlebihan, menutupi kekurangan dari produk tersebut, yang ditampilkan hanya kebaikan-kebaikan saja .
ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู‰ ูˆุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ
ูˆุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *