Ali Imran 119

Ketika Fitnah Bertaburan Dalam Kehidupan

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عن حُذَيْفَة بْن الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي، فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَر؟ٌّ قَالَ نَعَمْ ، فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْر؟ٍ قَالَ نَعَمْ ، وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ ؟ قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي، وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِر،ُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّم،َ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا، فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا، قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا، قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُم،ْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ ؟ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ (رواه مسلم)

Dari Hudzaifah bin Yaman ra berkata, “Biasanya para sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebajikan. Namun aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena khawatir keburukan tersebut akan menimpaku. Lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah! Kami dahulu berada dalam kejahilan dan keburukan, karena itu Allah Ta’ala menurunkan kebaikan (agama) ini kepada kami. Apakah mungkin sesudah kebaikan ini akan munul lagi keburukan?” beliau menjawab: “Ya.” Lalu aku bertanya lagi, “Apakah setelah itu akan ada lagi kebaikan?” beliau menjawab, “Ya, akan tetapi ada cacatnya! Aku bertanya, “Apa cacatnya?” Beliau bersabda, “Akan muncul suatu kaum yang mengamalkan sunnah selain dari sunnahku, dan memimpin rakyat tanpa hidayah petunjukku, kamu mengetahui mereka tapi kamu mengingkarinya.” Aku bertanya lagi, “Apakah setelah itu akan ada keburukan lagi?” Jawab beliau: “Ya. Yaitu orang-orang yang menyeru menuju neraka Jahannam, barangsiapa memenuhi seruannya maka ia akan dilemparkan ke dalam neraka itu.” Maka aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah! Tunjukanlah kepada kami ciri-ciri mereka.” Beliau menjawab: “Kulit mereka seperti kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana arahan anda seandainya aku menemui hal yang demikian?” Jawab beliau, “Tetaplah kamu bersama jama’ah kaum muslimin dan imam (pemimpin) mereka.” Aku bertanya lagi, “Jika tidak ada jama’ah dan imam?” beliau menjawab: “Tinggalkan semua golongan meskipun kamu menggigit akar kayu sampai ajal menjemputmu, dan kamu masih tetap pada keteguhanmu.” (HR. Muslim, hadits no. 3434)

®️ Hikmah Hadits ;

1. Keutamaan Khudzaifah ra; dimana beliau bertanya kepada Nabi ﷺ, tentang keburukan lantaran khawatir keburukan tersebut akan menimpa mereka. Juga dimaksudkan agar ketika diketahui keburukan-keburukan tersebut, umat bisa mengantisipasinya dengan baik dan tidak terjerumus padanya.

2. Bahwa kebaikan dan keburukan adalah dua hal yang bertentangan yang tiada pernah kan bertemu selama-lamanya. Namun keduanya akan selalu datang silih berganti, seiring berjalannya waktu dan zaman. Dan kita semua diperintahkan untuk senantiasa konsisten pada kebaikan, kendatipun fitnah dan kegelapan telah merajalela menguasai kehidupan.

3. Bahwa akan muncul kelak, para penyeru (baca ; tokoh) yang mengajak dan menjerumuskan manusia pada kenistaan dan menyesatkan mereka dari jalan Allah Swt. Mereka berpenampilan dan bertutur kata sama seperti kaum muslimin pada umumnya. Namun pada hakekatnya mereka menggiring manusia ke dalam neraka Jahanam. Maka siapa yang mengikuti mereka maka kelak akan turut dilemparkan ke dalam Jahanam.

4. Pentingnya bersama-sama dengan jamaah kaum muslimin, karena dengan bersama akan menjadi sebab datangnya rahmat Allah Swt. Serta urgensi istiqa

mah di jalan Allah Swt, kendatipun harus bertahan dengan menggigit akar kayu sekalipun.

Wallahu a’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Seribu Kebaikan

Pahala Seribu Kebaikan Akan Didapatkan Dalam Sehari, Hanya Dengan Membaca Dzikir ini

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عَنْ سَعْدٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ فِي الْيَوْمِ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ وَمَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ؟ قَالَ يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ وَتُمْحَى عَنْهُ أَلْفُ سَيِّئَةٍ (رواه احمد)

Dari Sa’d bin Abi Waqash ra berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bersabda, “Apakah kalian tidak mampu untuk mendapatkan seribu kebaikan dalam sehari?” Sahabat bertanya, “Siapakah diantara kami yang sanggup untuk melakukannya?” Maka beliau bersabda, “Bertasbih seratus kali (membaca dzikir subhabalallah), akan ditulis baginya seribu kebaikan dan dihapuskan darinya seribu kesalahan.” (HR. Ahmad)

©️ Takhrij Hadits;

1. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, pada Musnad Sa’d bin Abi Waqqash, hadits no 1414.

2. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, hadits no 4966 dan Imam Tirmidzi dalam Sunannya, hadits no 3385.

®️ Hikmah Hadits ;

1. Mendapatkan kebaikan yang besar tidak selalu harus dilakukan dengan amalan yang besar, namun kebaikan yang besar dapat juga dilakukan dengan amalan-amalan yang ringan dan sederhana. Oleh karenanya jangan meremehkan suatu amal kebaikan pun, karena kita tidak mengetahui amal kebaikan manakah yang kita lakukan yang dapat mengantarkan pada ridha Allah Swt dan dapat mengetuk pintu surga. Bisa jadi sebuah amalan ringan justru yang akan mengantarkan seseorang masuk ke dalam surga, jika dilakukan dengan baik, benar dan ikhlas.

2. Bahwa nahkoda dalam amal perbuatan manusia adalah hati. Hati lah yang akan menggerakkan anggota badan untuk melakukan suatu amalan kebaikan. Hati pula lah yang akan dapat menentukan bobot dan timbangan suatu amal perbuatan, apakah memiliki nilai yg mulia di sisi Allah SWT atau tidak? Karena hanya amal yg ikhlas sajalah yg akan mendapatkan nilai yang mulia di sisi Allah SWT. Sedangkan pelabuhan dalam keikhlasan adalah hati seseorang. Oleh karenanya, salafuna shaleh mengingatkan agar senantiasa menyibukkan hati dengan hal-hal yang baik, agar terhindar dari hal-hal yang tidak baik ;

إن القلوب إذا لم تشغلها بالذكر، شغلتها الصغائر

Sesungguhnya hati itu jika tidak disebutkan dengan dzikir, maka ia akan disibukkan dengan shagha’ir.

3. Bahwa diantara amalan ringan yang memiliki balasan kebaikan yang sangat besar adalah berdzikir menyebut nama Allah Swt, khususnya dengan mengucapkan lafadz tasbih, yaitu “Subhanallah” (Mahasuci Allah Swt). Karena lafadz dzikir yang ringan ini, jika dibaca sebanyak seribu kali oleh seorang muslim, maka ia akan mendapatkan dua keutamaan sekaligus, yaitu :

1). Akan mendapatkan seribu kebaikan, berupa balasan pahala kebIkan dari Allah Swt.

2). Akan dihapuskan seribu kesalahan, yaitu berupa ampunan dari dosa yang telah dilakukannya.

4. Maka di sela-sela keseharian dan aktivitas serta pekerjaan yang kita lakukan, mari perbanyak dzikir dengan mengucapkan “Subhanallah” (Maha Suci Allah Swt). Dan jika memungkinkan dibaca hingga seribu kali dalam satu hari, dengan harapan bahwa dengan dzikir tersebut akan menambah seribu kebaikan bagi kita dan juga menggugurkan seribu kesalahan dari diri kita.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Iffah

Antara Iffah dan Menerima Pemberian, Serta Keutamaan Menginvestasikan Harta Untuk Disedekahkan Hasilnya

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عن عُمَرَ بن الخطاب رضي الله عنه يَقُولُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْطِينِي الْعَطَاءَ فَأَقُولُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّي، حَتَّى أَعْطَانِي مَرَّةً مَالًا فَقُلْتُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّي، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ وَتَصَدَّقْ بِهِ، فَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ، وَمَا لَا فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ (رواه البخاري ومسلم وأحمد)

Dari Umar ra berkata, bahwa Nabi Saw memberiku sebuah pemberian, maka aku berkata kepada beliau, “Berikan saja kepada orang lain yang lebih membutuhkannya daripada aku.” Sampai suatu ketika beliau memberiku lagi harta dan aku berkata, “Berikan saja kepada orang yang lebih membutuhkannya daripada aku.” Maka Nabi Saw bersabda, “Ambillah dan kembangkanlah (investasikanlah) harta itu, lalu bersedekahlah dengannya. Apa yang datang kepadamu dari suatu harta (pemberian), sedangkan kamu tidak mengharapkannya dan tidak meminta-mintanya maka terimalah. Dan apabila tidak seperti demikian maka janganlah kamu memperturutkan nafsumu padanya.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i dan Ahmad)

©️ Takhrij Hadits :

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Az-Zakat, Bab Man A’thahullahu Syai’an Min Ghairi Mas’latin Wala Isyrafi Nafsin, hadits no 1380, juga Imam Muslim dalam Shahihnya, hadits no 1731, ďan Imam Ahmad dalam Musnadnya, hadits no 131.

®️ Hikmah Hadits :

1. Keutamaan sifat iffah, yaitu sifat menahan diri dari meminta-meminta, merasa cukup atas apa yang telah Allah Swt anugerahkan kepada-nya. Berasal dari akar kata affafa ( عفف ) yang berarti :

a. Tidak mau melakukan sesuatu yang tidak pantas, atau yang tidak patut karena menjaga diri dari perbuatan yang terlarang.

b. Menjaga kehormatan diri, juga berarti kesucian diri. Orang yang menjaga kehormatan dirinya berarti ia menjaga kesucian dirinya.

c. Menahan diri dari sifat meminta-meminta kepada orang lain, dan merasa cukup atas apa yang telah Allah Swt anugerahkan berupa nikmat, apapun dan berapapun adanya. Tidak iri dan menginginkan yang bukan menjadi hak miliknya serta selalu bersyukur dan merasa bahwa apa yang diberikan kepadanya adalah yang terbaik untuknya.

2. Iffah merupakan sifat mulia, yang setiap yang melakukannya akan mendapatkan keutamaan dan kemuliaan tersendiri, diantaranya adalah ;

a. Akan mendapatkan pujian dari Allah Swt , hal ini sebagaimana Allah Swt memuji orang-orang yang menahan diri dari meminta-minta :

(لِلۡفُقَرَاۤءِ ٱلَّذِینَ أُحۡصِرُوا۟ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ لَا یَسۡتَطِیعُونَ ضَرۡبࣰا فِی ٱلۡأَرۡضِ یَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِیَاۤءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِیمَـٰهُمۡ لَا یَسۡـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافࣰاۗ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِنۡ خَیۡرࣲ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِیمٌ)

(Apa yang kamu infakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah, sehingga dia yang tidak dapat berusaha di bumi; (orang lain) yang tidak tahu, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 273)

b. Akan dicukupkan oleh Allah Swt segala hajat dan keperluannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits ;

عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ (رواه البخاري)

Dari Hakim bin Hiram ra bahwa Nabi SAW bersabda, “Tangan yang diatas lebih baik dari pada tangan yang di bawah, maka mulailah (memberi) untuk orang-orang yang menjadi tanggunganmu. Dan shadaqah yang paling baik adalah dari orang yang sudah cukup (untuk kebutuhan dirinya). Maka barangsiapa yang berusaha memelihara dirinya (iffah), Allah akan memeliharanya. Dan barangsiapa yang berusaha mencukupkan dirinya maka Allah akan mencukupkannya (menjadikannya merasa cukup). (Muttafaqun Allah)

3. Namun apabila ada seseorang atau suatu pihak yang bermaksud memberikan sesuatu kepada dirinya, dengan tujuan untuk memuliakannya, atau mengganti jasa baiknya, atau sekedar memberikan hadiah kepada-nya, maka anjurannya justru diterima dengan baik, dengan syarat selama bukan karena ia meminta dan mengharapkannya, dan bukan juga merupakan perbuatan dosa, (seperti risywah, suap dsb), serta juga bukan karena tolong menolong dalam perbuatan dosa.

4. Adalah Umar bin Khattab ra sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, ditegur oleh Nabi Saw lantaran tidak mau menerima pemberian dari beliau. Maka Nabi Saw menasehatinya ;

خُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ وَتَصَدَّقْ بِهِ، فَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ، وَمَا لَا فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ

Ambillah dan kembangkanlah (investasikanlah) harta itu, lalu bersedekahlah dengannya. Apa yang datang kepadamu dari suatu harta (pemberian), sedangkan kamu tidak mengharapkannya dan tidak meminta-mintanya maka terimalah. Dan apabila tidak seperti demikian maka janganlah kamu memperturutkan nafsumu padanya.”

5. Dalam hadits di atas juga terdapat anjuran untuk menginvestasikan harta dengan baik, lalu dengan investasi tersebut ia dapat bersedekah dengan hartanya maupun dengan hasil investasinya. Karena harta itu adalah amanah yang harus dikelola dan diinvestasikan dengan baik. Dan tidak semua orang memiliki kemampuan investasi dalam harta, sehingga hartanya tidak bisa berkembang. Maka jika kita memiliki harta dan juga mempunyai kemampuan investasi, maka hendaknya ia investasikan hartanya, lalu dengannya ia menjadi ahli shadaqah.

Mudah-mudahan kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang diberikan segala kecukupan harta oleh Allah Swt, bisa berinvestasi dengan halalan thayiban dan bisa banyak bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan. Amiin ya Rabbal alamin.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allahu Robbul Alamin

Ketika Bulan Shafar Diyakini Sebagai Bulan Membawa Sial

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ عَدْوَى وَلاَ صَفَرَ وَلاَ هَامَةَ، فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا بَالُ إِبِلِي تَكُونُ فِي الرَّمْلِ كَأَنَّهَا الظِّبَاءُ فَيَأْتِي الْبَعِيرُ الْأَجْرَبُ فَيَدْخُلُ بَيْنَهَا فَيُجْرِبُهَا؟ فَقَالَ فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ؟ (متفق عليه)

Dari Abu Hurairah ra berkata; sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada ‘adwa (meyakini bahwa penyakit tersebar dengan sendirinya, bukan karena takdir Allah), dan tidak ada shafar (menjadikan bulan shafar sebagai bulan haram atau keramat) dan tidak pula hammah (rengkarnasi atau ruh seseorang yang sudah meninggal pada yang lain).” Lalu seorang arab Badui berkata; “Wahai Rasulullah, lalu bagimana dengan unta yang ada dipasir, seakan-akan (bersih) bagaikan gerombolan kijang kemudian datang padanya unta berkudis dan bercampur baur dengannya sehingga ia menularinya?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapakah yang menulari yang pertama?” (Muttafaqun Alaih)

©️ Takhrij Hadits :

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, Ktiab At-Thib, Bab La Shafara Wahuwa Da’ Ya’khudzu Al-Bathn, hadits no 5278. Juga oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab As-Salam, Bab La Adwa, Wala Thirata, Wala Hammata, Wala Shafara Wala Nau’a, hadits no 4116.

®️ Hikmah Hadits :

1. Bahwa bulan Shafar merupakan bulan yang kedua, diantara urutan bulan-bulan hijriah. Dari sisi pengertiannya sendiri, secara bahasa, shafar berasal dari kata sha-fa-ra yang berarti
a. Menjadi kosong, hampa dan lowong,
b. Siulan atau hembusan angin.

Dinamakan shafar, karena memang umumnya rumah-rumah orang Arab pada zaman dahulu kebanyakan kosong di bulan ini. Menurut salah satu keterangan, dikatakan demikian karena pada bulan shafar mereka kebanyakan orang Arab pergi meninggalkan rumah dan kampung halamannya untuk berperang ke luar daerah, setelah sebelumnya mereka dilarang berperang pada bulan-bulan haram, yaitu dzulqa’dah, dzulhijjah dan muharram. Maka usai berbulan-bulan tidak berperang, di bulan shafar inilah mereka pergi meninggalkan rumah dan kampung halamannya untuk berperang, sehingga rumah-rumah dan perkampungan mereka menjadi kosong. Salah satu sumber mengatakan bahwa bisa jadi karena factor ini lah sehingga bulan ini disebut sebagai bulan Shafar.

2. Selain bermakna kosong, hampa dan lowong, shafar juga bermakna siulan atau hembusan angin, karena masyarakat jahiliya berkeyakinan bahwa bulan shafar merupakan bulan kesialan dengan adanya hembusan angin berupa bencana, malapataka dan musibah di masa jahiliyah. Oleh karena itulah, dahulu umumnya masyarakat Arab menghindari mengadakan acara-acara besar di bulan shafar, seperti menghindari melangsungkan pesta pernikahan, perayaan, aqiqah, bepergian yang jauh, memulai pekerjaan-pekerjaan besar dsb. Dan ternyata anggapan seperti itu masih melekat pada sebagian masyarakat, bahkan juga sebagian masyarakat di Indonesia. Karena masih ada sebagian masyarakat kita yang beranggapan adanya kesialan di bulan ini, sehingga mereka menghindari untuk mengadakan acara-acara pernikahan, syukuran, aqiqahan, atau acara-acara besar lainnya di bulan shafar ini.

3. Maka dalam Islam, paradigma dan keyakinan seperti itu dihilangkan, karena dalam Islam seluruh bulan-bulan dan seluruh hari dan tanggal, kesemuanya adalah baik. Demikian juga dalam Islam dibangun paradgma bahwa prinsip segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak dan izin Allah SWT. Segala kebaikan maupun keburukan tidak akan pernah terjadi, kecuali atas kehendak dan izin Allah SWT. Maka berkenaan dengan keyakinan dan anggapan bulan shafar sebagai bulan kesialan, Nabi SAW bersabda, :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لاَ يُعْدِي شَيْءٌ شَيْئًا فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ النُّقْبَةُ مِنْ الْجَرَبِ تَكُونُ بِمِشْفَرِ الْبَعِيرِ أَوْ بِذَنَبِهِ فِي الْإِبِلِ الْعَظِيمَةِ فَتَجْرَبُ كُلُّهَا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا أَجْرَبَ الْأَوَّلَ لاَ عَدْوَى وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ خَلَقَ اللَّهُ كُلَّ نَفْسٍ فَكَتَبَ حَيَاتَهَا وَمُصِيبَاتِهَا وَرِزْقَهَا (رواه أحمد)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata, bawha Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami seraya bersabda, “Tidak ada sesuatu menulari yang lain.” Ada orang arab desa berdiri seraya membantah, “Wahai Rasulullah, permulaan kudis menyebar lewat mulut unta atau dengan ekor unta lalu menjadi kudis semuanya?. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Lalu apa yang pertama kali terkena kudis? Tidak ada ‘Adwa, tidak ada Hammah dan tidak ada bulan shafar, Allah menciptakan setiap jiwa lalu menetapkan hidup, musibah dan rizkinya.” (HR. Ahmad, hadits no 3981)

4. Terlebih apabila kita menelisik ke dalam lembaran sejarah Nabi SAW, ternyata terdapat beberapa peistiwa besar yang terjadi di bulan Shafar, yang peristiwa tersebut sekaligus menjadi sanggahan atas keyakinan yang dimiliki oleh sebagian orang Arab pada zaman tersebut, bahwa shafar merupakan bulan sial dan musibah sehingga tidak boleh mengadakan acaara-acara besar. Diantara peristwa yang terjadi di bulan shafar adalah sebagai berikut :

a. Pernikahan Nabi SAW dengan Khadijah binti Khuwailid, yang terjadi di bulan Shafar.

b. Pernikahan Fathimah ra dengan Ali bin Abi Thalib ra.

c. Menurut salah satu riwayat, bahwa hijrah nya Nabi SAW dari Mekah ke Madinah adalah di bulan Shafar.

d. Penaklukan Khaibar, menurut salah satu pendapat juga terjadi di bulan Shafar, tahun ke 7 H.

e. Diutusnya Usamah bin Zaid ra kepada pimpinan prajurit Ramawi adalah terjadi di bulan shafar tahun ke 11 H.

5. Maka sebagai seorang yang beirman kepada Allah SWT, hendaknya kita berkeyakinan bahwa segala sesuatu terjadi hanya atas kehendak Allah SWT. Jika Allah berkehendak, maka akan terjadi dan jika Allah SWT tidak berkehendak, maka pasti tidak akan pernah terjadi. Dalam hadits juga disebutkan, dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, :

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ (رواه أحمد)

Ketahuilah, seandainya umat ini bersatu untuk memberi manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan padamu. Dan seandainya mereka bersatu untuk mencelakakan dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan padamu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR. Ahmad, no 2537)

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Kenikmatan Waktu Luang dan Sehat

Lima Perkara Yang Nabi Saw Meminta Perlindungan Kepada Allah Agar Terhindar Darinya

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْ خَمْسٍ مِنْ الْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَفِتْنَةِ الصَّدْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَسُوءِ الْعُمُرِ (رواه أحمد وأبو داود والنسائي)

Dari Umar ra berkata, bahwa Nabi Saw berlindung dari lima perkara, ‘(yaitu) dari sifat bakhil, pengecut, fitnatush shadr (meninggal sebelum bertaubat), siksa qubur dan umur yang buruk.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i )

©️ Takhrij Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, hadits no 139, juga oleh Imam Abu Duad dalam Sunannya, Kitab As-Shalat, Bab Fil Isti’adzah, hadits no 1316. Juga oleh Imam Nasa’i dalam Sunannya Kitab Al-Isti’adzah, Bab Al-Isti’adzah Minal Bukhl, hadits no 5351.

®️ Hikmah Hadits:

1. Nabi Saw mencontohkan kepada kita, untuk senantiasa mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang buruk. Karena setiap perbuatan baik yang dilakukan, kebaikannya akan kembali kepada diri pelakunya sendiri, sebagaimana juga perbuatan buruk jika dilakukan, keburukannya tersebut juga akan kembali kepada diri pelakunya sendiri. Dan berkenaan dengan hal tersebut, Allah Swt berfirman;

(إِنۡ أَحۡسَنتُمۡ أَحۡسَنتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡۖ وَإِنۡ أَسَأۡتُمۡ فَلَهَاۚ…)

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. (QS. Al-Isra’ 7)

2. Diantara perbuatan, sifat dan perkara buruk yang ditinggalkan Nabi Saw, bahkan Nabi Saw meminta perlindungan kepada Allah Swt dari perbuatan-perbuatan tersebut adalah lima hal yg disebutkan dalam hadits di atas, yaitu ;

a) Berlindung dari kebakhilan ( البخل ), yaitu sifat pelit dan kikir, tidak mau berbagi, suka menggenggam dan menimbun harta. Sifat bakhil ini sangat tercela, pelakunya terancam dengan azab neraka, terlebih ketika kebakhilannya menjadi penyebab tidak menunaikannya kewajiban zakat. Selain itu, sufat bakhil juga dapat menimbulkan dampak sosial yg besar, seperti adanya kesenjangan antara yg kaya dengan yg miskin, meningkatnya kriminalitas, dsb.

b) Berlindung dari sikap jubn atau pengecut ( الجبن ), yaitu suatu sikap pragmatis, mencari selamat dan keuntungan pribadi, tidak berani dan tidak mau berkorban untuk menegakkan kebenaran. Sikap jubn seperti ini diantaranya dimiliki oleh orang2 munafik, sebagaimana difirmankan Allah Swt dalam Al-Qur’an;

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِینَ نَافَقُوا۟ یَقُولُونَ لِإِخۡوَ ٰ⁠نِهِمُ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَـٰبِ لَىِٕنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِیعُ فِیكُمۡ أَحَدًا أَبَدࣰا وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ یَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَـٰذِبُونَ, لَئنۡ أُخۡرِجُوا۟ لَا یَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ وَلَىِٕن قُوتِلُوا۟ لَا یَنصُرُونَهُمۡ وَلَىِٕن نَّصَرُوهُمۡ لَیُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَـٰرَ ثُمَّ لَا یُنصَرُونَ)

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudaranya yang kafir di antara Ahli Kitab, “Sungguh, jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun demi kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantumu.” Dan Allah menyaksikan, bahwa mereka benar-benar pendusta. Sungguh, jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tidak akan keluar bersama mereka, dan jika mereka di-perangi; mereka (juga) tidak akan menolongnya; dan kalau pun mereka menolongnya pastilah mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan.(QS. Al-Hasyr 11 – 12)

c). Berlindung dari fitnatus Shadr ( فتنة الصدر ). Ulama beragam dalam menerjemahkan makna dari fitnatus Shadr. Dalam kitab Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud disebutkan beberapa pendapat, diantaranya pendapat Ibnu Al-Jauzy yang mengatakan bahwa yg dimaksud dgn fitnatus shadr adalah meninggal dunia sebelum sempat bertaubat. Sementara Al-Asyrafy mengemukakan bahwa yg dimaksud adalah sifat hasad, dengki, akhlak yg buruk, keyakinan yg bertentangan dgn keridhaan Allah Swt yang masih tersimpan di dalam dada (hati) seseorang. Pada intinya, fitnatus Shadr adalah perbuatan dosa, dan keburukan yg tersimpan di dalam diri seseorang, yg dibawa hingga meninggal dunia, dan belum sempat bertaubat kepada Allah Swt, na’udzubillahi min dzalik.

d). Berlindung dari adzab kubur ( وعذاب القبر ), yaitu adzab yg Allah timpakan kepada orang2 kafir, dzalim, aniaya dan berbuat maksiat kepada Allah Swt di dalam kuburnya (alam barzakh). Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut;

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا هَذَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ وَأَمَّا هَذَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ (متفق عليه)

Dari Ibnu Abbas berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati dua kuburan, kemudian beliau bersabda: ” Keduanya sedang disiksa, dan mereka disiksa bukan karena dosa besar. Yang ini disiksa karena tidak menutup diri ketika buang air kecil, dan yang satu lagi disiksa karena suka mengadu domba.” (Muttafaqun Alaih)

e). Berlindung dari su’il umur ( وسوء العمر ). Dalam syarah hadits disebutkan bahwa yg dimaksud dengan su’il umur adalah usia yg sampai pada derajat kepikunan, hilangnya sebagian besar ingatan, sehingga kembali menjadi spt anak kecil dalam ingatan, perkataan dan perbuatan. Ada juga yg mengatakan bahwa yg dimaksud su’il umur adalah usia yg buruk lantaran tidak digunakan semasa hidupnya untuk ketaatan dan amal shaleh, namun justru dihabiskan utk kemaksiatan dan amal salah.

3. Oleh karena itulah, mari kita berusaha untuk senantiasa menghiasi diri dengan amal shaleh dan menghindarkan diri dari amal salah, serta meminta perlindungan kepada Allah Swt dari kelima hal di atas, yaitu sifat bakhil, sikap pengecut, fitnatus Shadr (keburukan yg masih tersimpan di dalam diri seseorang dan dibawa hingga wafat tidak sempat bertaubat), adzab kubur dan su’il umur. Dan semoga kita semua senantiasa Istiqamah dalam kebaikan serta kelak dianugerahkan Allah Swt husnul khatimah.
Amiin ya Rabbal alamin

اللهم إنا نعوذ بك من البخل والجبن وفتنة الصدر وعذاب القبر وسوء العمر

Ya Allah sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari sifat bakhil, sikap pengecut, fitnatis Shadr, adzab kubur dan dari su’il umur.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Tidak Akan Masuk Surga Orang yang Suka Mengadu Domba

Terkutuknya Orang Yang Suka Mengadu Domba Dan Memecah Belah

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِيَارُ عِبَادِ اللَّهِ الَّذِينَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ اللَّهُ وَشِرَارُ عِبَادِ اللَّهِ الْمَشَّاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْأَحِبَّةِ الْبَاغُونَ الْبُرَآءَ الْعَنَتَ (رواه احمد)

Dari Abdurrahman bin Ghanam ra, dan sampai kepada Rasulullah Saw, beliau bersabda “Sebaik-baik hamba Allah ialah hamba-hamba yang apabila mereka dilihat, maka orang-orang (yang melihatnya) akan (berdzikir) mengingat Allah Swt. Dan seburuk-buruk hamba Allah ialah orang-orang yang suka mengadu domba yang suka memecah belah antara orang-orang yang saling mengasihi, orang yang aniaya, yang suka mencari-cari keburukan orang yang tidak bersalah.” (HR. Ahmad)

©️ Takhrij Hadits ;

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambali dalam Musnadnya, dalam Hadits Abdirrahman bin Ghanam Al-Asy’ary, hadits no 17312.

®️ Hikmah Hadits;

1. Hamba-hamba Allah Swt terbaik adalah mereka-mereka yang apabila kita bertemu dan melihat wajah mereka, maka akan menjadikan kita berdzikir ingat kepada Allah Swt, lantaran pancaran keimanan dan keikhlasan yang membuncah dari dalam hati dan diri mereka. Maka tidak jarang, nasehatnya akan membuat hati menjadi lunak, membuat mata menjadi basah, dan membuat jiwa menjadi semakin semangat untuk beramal shaleh. Bahkan membayangkan wajah mereka saja akan menambah semangat untuk beramal shaleh.

Imam Hasan Al-Bashri, dahulu digambarkan demikian. Apabila ada seseorang yang memiliki banyak masalah dan menginginkan nasehat dari Imam Hasan Al-Bashri, maka baru bertemu dan menatap wajah beliau saja sudah meneduhkan hati, dan membuat lisan menjadi termotivasi berdzikir menyebut nama Allah Swt, sehingga seolah segala problematika yang akan disampaikan kepada beliau telah berguguran dari hati. Masya Allah…

2. Sebaliknya, seburuk-buruk manusia ternyata adalah manusia yang memilik perangai buruk, sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas, yaitu ;

a) ( المشاؤون بالنميمة المفرقون بين الأحبة )

“Orang yang suka mengadu domba, yang suka memecah belah diantara orang-orang yang saling mengasihi.”

b) ( الباغون البرآء العنت )

“Orang yang aniaya, suka mencari-cari keburukan orang lain yang tidak bersalah.”

3. Bahwa orang yang melakukan praktik mengadu domba (namimah) seperti ini, maka kelak ia akan mendapatkan dosa besar, diantaranya adalah sebagai berikut ;

a). Akan dimasukkan oleh Allah Swt ke dalam golongan seburuk-buruknya manusia (syirarun nas) sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas.

b). Tidak akan pernah masuk surga. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Saw;

عَنْ حُذَيْفَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ (رواه مسلم)

Dari Hudzaifah ra berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Muslim, no 151)

c). Mendapatkan azab di dalam kubur. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ;

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ…(رواه مسلم)

Dari Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati dua kuburan, beliau lalu bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dua mayat ini sedang disiksa. Dan mereka berdua disiksa bukan karena melakukan dosa besar. Salah seorang di antara mereka disiksa karena suka mengadu-domba sedangkan yang lainnya disiksa karena tidak memasang satir saat kencing…” (HR. Muslim, no 439)

d) Allah Swt akan menghempaskannya ke dalam api neraka. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits ;

عن أبي ذر الغفاري : مَنْ أَشَاعَ عَلَى مُسْلِمٍ كَلِمَةً يُشِيْنُهُ بِهَا بِغَيْرِ حَقٍّ، شَانَهُ اللهُ بِهَا فِي النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. (رواه البيهقي)

Dari Abi Dzar ra “Barangsiapa menyiarkan berita buruk seorang Muslim untuk memburukkannya dengan berita itu secara tidak haq, maka dengan itu Allah akan memburukkannya di dalam api Neraka pada hari Kiamat.” (HR. Al-Baihaqi)

4. Maka terhadap orang yang seperti ini, Allah Swt memerintahkan kita agar hati-hati, agar jauhi dan jangan sekali-kali mengikutinya. Allah Swt berfirman ;

(وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافࣲ مَّهِینٍ, هَمَّازࣲ مَّشَّاۤءِۭ بِنَمِیمࣲ, مَّنَّاعࣲ لِّلۡخَیۡرِ مُعۡتَدٍ أَثِیم)

“Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, Suka mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah, Yang merintangi segala yang baik, yang melampaui batas dan banyak dosa.” (QS. Al-Qalam 10 – 12)

5. Mudah-mudahan Allah Swt hindarkan kita semua dari keburukan dan kebusukan orang-orang seperti ini, yang selalu berjalan di tengah-tengah manusia, diantara anak bangsa dan negara untuk memecah belah, mengadu domba, membuat kekacauan, menebar fitnah, demi ambisinya semata.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Takutnya Seorang Mu'min Terhadap Dosa

عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَِ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا (رواه البخاري)
Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang mu’min (ketika) ia melihat dosa-dosanya, adalah seperti (ketika) ia duduk di lereng sebuah gunung, dan ia sangat khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan seorang fajir (orang yang selalu berbuat dosa), ketika ia melihat dosa-dosanya adalah seperti ia melihat seekor lalat yang hinggap di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini lalu terbang (ia menganggap remeh dosa).” (HR. Bukhari)
Hikmah Hadits :
1. Diantara ciri keimanan seseorang kepada Allah Swt adalah rasa takut dan khawatir yang sangat besar dan mendalam terhadap dosa-dosanya. Karena setiap dosa kelak akan menjadi kepedihan mendalam dan menjadi bara neraka yang menyiksa dan menyengsarakannya. Maka ia merasa takut, seolah ia seperti berada di lereng sebuah gunung yang menjulang dan terjal, dan ia khawatir gunung tersebut akan jatuh menimpanya.
2. Sementara seorang ahli maksiat ia tidak takut akan perbuatan maksiat dan dosa-dosanya, sehingga setiap hari hidupnya bergelimang dengan kemaksiatan dan dosa. Ia menganggap remeh dosa-dosanya, seakan seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu ia mengusirnya dan ia mengatakan, ‘seperti ini saja’. (Menganggap dosanya seperti hinggapan lalat saja)
Wallahu A’lam

Memperbanyak Taubat dan Istighfar

عن أَبي هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ
أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah ra berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar (meminta ampunan) dan bertaubat kepada Allah dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari)

© Hikmah Hadits :

1. Bahwa setiap manusia, pastilah pernah berbuat salah dan dosa, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Bahkan, baik dosa yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.

2. Oleh karenanya, kita dianjurkan memperbanyak istighfar dan taubat. Istighfar adalah permohonan ampunan kepada Allah Swt dari dosa-dosa kecil. Sedangkan taubat, permohonan ampunan kepada Allah Swt dari dosa-dosa besar.

3. Rasulullah Saw sebagai seorang Nabi yang maksum (terjaga dari dosa dan khilaf), senantiasa memperbanyak istighfar dan taubat kepada Allah Swt. Karena salah satu hikmah taubat dan istighfar adalah, bahwa istighfar dan taubat merupakan tanda kecintaan dan ketakwaan seorang hamba kepada Allah Swt.

Wallahu A’lam

Berikan Hak Pengguna Jalan

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ بِالطُّرُقَاتِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا مِنْ مَجَالِسِنَا بُدٌّ نَتَحَدَّثُ فِيهَا فَقَالَ إِذْ أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ (رواه البخاري)

Dari Abu Sa’id Al Khudri radliallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan.” Para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami untuk bercakap-cakap.” Beliau bersabda: “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu (duduk-duduk di jalan), maka tunaikanlah hak (pengguna) jalan.” Sahabat bertanya: “Apa saja hak jalan?” Beliau menjawab: “Menundukkan pandangan, menyingkirkan halangan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Bukhari)

© Hikmah Hadits :

1. Anjuran untuk tidak duduk-duduk (nongkrong) di pinggir jalan. Karena duduk-duduk di pinggir jalan bukanlah merupakan perbuatan yang terpuji, karena tentunya dapat menggaggu kenyamanan pengguna jalan. Bahkan bisa jadi orang lain tidak jadi melalui jalan tersebut, karena ada orang-orang yang duduk-duduk di sana, lantaran khawatir keburukan mereka.

2. Kalaupun tetap duduk-duduk di pinggir jalan, maka  kewajiban bagi yang duduk-duduk di jalan untuk memberikan hak pada pengguna jalan. Dan hak-hak pengguna jalan adalah sebagai berikut :

a. Menundukkan pandangan, khususnya terhadap orang lewat di jalanan, terlebih apabila yang lewat di jalan adalah lawan jenis kita. Bukan malah menggoda atau mengganggunya.

b. Menyingkirkan halangan, seperti tidak memakai badan jalanan untuk duduk, atau menyingkarkan duri, batu dan sejenisnya yang dapat mengalangi pengguna jalan serta melancarkan para pengguna jalan.

c. Menjawab salam, khususnya dari pengguna jalan, apabila menyapa dan mengucapkan salam kepada mereka.

d. Amar ma’ruf nahi mungkar, yaitu menyuruh pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, bukan malah membuat kemungkaran di pinggir jalan, seperti mengganggu pengguna jalan, dan sebagainya.

Wallahu A’lam

Saling Do’a Dalam Bersin

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ababila salah seorang dari kalian bersin, maka hendaknya ia mengucapkan, ‘Al Hamdulillah’ sedangkan saudaranya atau temannya hendaklah mengucapkan, ‘Yarhamukallah’ (semoga Allah merahmatimu), dan hendaknya ia membalasnya kembali ; ‘Yahdikumullah wa yushlih baalakum’ (semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu).” (HR. Bukhari)

© Hikmah Hadits

1. Diantara adab ketika bersin adalah mengucapkan hamdalah, sebagai bentuk pujian kepada Allah Swt atas segala nikmat, termasuk nikmat ketika bersin. Karena bersin bisa terjadi atas nikmat dari Allah Swt.

2. Disunnahkan bagi yang mendengar bacaan hamdalah dari orang yang bersin, ia mendoakannya dengan mengucapkan Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu). Dan kemudian, ia mendoakan orang yang mendoakannya dengan ucapan, “yahdikumullah wayuslih balakum” (semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu).

3. Indahnya akhlak sesama muslim yang saling mendoakan satu dengan yang lainnya. Dan hal ini menunjukkan persaudaraan antara muslim dengan muslim lainnya.

Wallahu A’lam