logo manis4

Ketika Seorang Hamba Berbuat Salah, Khilaf dan Alpa

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عن أَبي بَكْرٍ رضي الله عنه قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَتَوَضَّأُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى لِذَلِكَ الذَّنْبِ إِلَّا غَفَرَ لَهُ، وَقَرَأَ هَاتَيْنِ الْآيَتَيْنِ {وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرْ اللَّهَ يَجِدْ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا} و {وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ} (رواه أحمد)

Dari Abu Bakar As-shiddiq ra berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah seorang muslim melakukan perbuatan dosa, kemudian ia berwudhu dan melaksanakan shalat dua rakaat, lalu memohon ampunan kepada Allah Swt atas dosa dosanya tersebut, melainkan Allah pasti akan mengampuninya.” Kemudian beliau membaca dua ayat ini (1)”Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, Kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. An-Nisa : 110), dan ayat ini, (2) “dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran : 135)

©️ Takhrij Hadits ;

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab As-Shalat, Bab Fil Istighfar, hadits no 1300. Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad bin Hambali dalam Musnadnya, hadits no 46.

®️ Hikmah Hadits;

1. Salah satu sifat manusia adalah sering melakukan perbuatan salah dan dosa, baik dosa-dosa yang kecil, dan bahkan juga dosa-dosa besar. Bahkan dapat dikatakan bahwa tiada seorang manusia pun yang menapakkan kakinya dalam kehidupan nyata dunia, melainkan ia pasti pernah melakukan salah dan dosa, kendatipun ia adalah seorang ustadz, atau seorang ulama, ahli ibadah, pejabat tinggi, tokoh masyarakat, atau juga hanya seorang anggota masyarakat biasa saja. Selama ia adalah seorang manusia, pasti ia pernah berbuat dosa. Hal ini sebagaimana disabdakan Nabi Saw ;

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ (رواه الترمذي)

Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Setiap anak cucu Adam pasti pernah berbuat kesalahan. Dan sebaik-baiknya mereka yang berbuat kesalahan adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi, hadits no 242)

2. Allah Swt Maha Pengampun atas segala dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh setiap hamba. Selama hamba-nya mau datang kepada-Nya, menegadahkan kedua tangannya untuk bertaubat memohon ampunan kepada-Nya dengan segala kesungguhan dan penyesalan, maka pastilah Allah akan mengampuninya. Namun agar taubat diterima Allah Swt ada tiga syarat yg harus dipenuhi, sebagaimana dikemukakan oleh Imam Nawawi, yaitu sbb ;

أحَدُها : أنْ يُقلِعَ عَنِ المَعصِيَةِ, والثَّانِي : أَنْ يَنْدَمَ عَلَى فِعْلِهَا, والثَّالثُ : أنْ يَعْزِمَ أَنْ لا يعُودَ إِلَيْهَا أَبَداً . فَإِنْ فُقِدَ أَحَدُ الثَّلاثَةِ لَمْ تَصِحَّ تَوبَتُهُ

1. Tidak mengulangi lagi maksiat tersebut.
2. Menyesal telah melakukan maksiat tersebut.
3. Bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat itu selamanya.

Bahkan jika perbuatan dosanya berkenaan dengan hak orang lain, maka masih ada satu syarat lagi yang harus dipenuhi, sebagaimana dikemukakan oleh Imam Nawawi;

وإنْ كَانَتِ المَعْصِيةُ تَتَعَلقُ بآدَمِيٍّ فَشُرُوطُهَا أرْبَعَةٌ : هذِهِ الثَّلاثَةُ ، وأنْ يَبْرَأ مِنْ حَقّ صَاحِبِها ، فَإِنْ كَانَتْ مالاً أَوْ نَحْوَهُ رَدَّهُ إِلَيْه ، وإنْ كَانَت حَدَّ قَذْفٍ ونَحْوَهُ مَكَّنَهُ مِنْهُ أَوْ طَلَبَ عَفْوَهُ ، وإنْ كَانْت غِيبَةً استَحَلَّهُ مِنْهَا..

 

Dan apabila perbuatan maksiatnya berkaitan dengan hak orang lain, maka syaratnya menjadi 4, yaitu 3 syarat diatas, ditambah satu syarat lagi yaitu, minta dimaafkan dari hak orang yang didzalimi. Jika berupa harta atau yang semisalnya, maka dikembalikan kepada (orang yang kita ambil hartanya), jika berupa tuduhan palsu, maka direhabilitasi namanya atau minta maaf kepadanya, dan jika berupa ghibah, maka minta dihalalkan.

4. Ada baiknya bagi seorang yang khilaf melakukan perbuatan dosa dan maksiat kepada Allah Swt ketika hendak bertaubat, agar benar-benar taubatnya diterima Allah Swt, ia melakukan hal2 sbb (sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas), yaitu;

a. Berwudhu terlebih dahulu dengan baik dan sempurna.

b. Melaksanakan shalat dua rakaat, sebagai sarana taqarrub kepada Allah Swt.

c. Kemudian bertaubat meminta ampunan kepada Allah Swt atas segala dosa yang telah dilakukannya.

5. Insya Allah jika melakukan taubat dengan cara tersebut, Allah Swt akan mengampuni segala salah, khilaf dan perbuatan dosanya, sebagaimana digambarkan Nabi Saw dalam hadits di atas. Mudah-mudahan kita semua termasuk ke dalam golongan hamba-hamba Allah Swt yang membiasakan diri dengan beristighfar dan bertaubat kepada-Nya, dan semoga kita semua termasuk ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang mendapatkan ampunan dan maghfirah Diri-Nya. Amiin ya Rabbal alamin

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Hukum Menghadiri Pernikahan yang Diharamkan

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya, apabila kita diundang oleh temen perempuan muslim yang menikah dengan laki-laki non muslim apakah kita boleh hadir? Apabila kita hadir, apakah itu berarti kita menyetujui pernikahan mereka?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Pernikahan mereka haram, tidak sah, dan tidak ada beda pendapat dalam hal keharaman itu alias telah ijma’.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

وَالْإِجْمَاعُ الْمُنْعَقِدُ عَلَى تَحْرِيمِ تَزَوُّجِ الْمُسْلِمَاتِ عَلَى الْكُفَّارِ

Dan, telah menjadi ijma’ (konsensus) yang kuat atas haramnya wanita muslimah menikahi orang-orang kafir. (Al Mughni, 7/155)

Sehingga tidak dibenarkan menghadirinya. Seharusnya adalah mencegahnya dan menasihatinya.

Wallahu a’lam.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Dan Ada Adab Dalam Membawa Teman Ketika Ada Undangan Makan

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ كَانَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يُقَالُ لَهُ أَبُو شُعَيْبٍ وَكَانَ لَهُ غُلَامٌ لَحَّامٌ فَرَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَرَفَ فِي وَجْهِهِ الْجُوعَ فَقَالَ لِغُلَامِهِ وَيْحَكَ اصْنَعْ لَنَا طَعَامًا لِخَمْسَةِ نَفَرٍ فَإِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَدْعُوَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ قَالَ فَصَنَعَ ثُمَّ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَعَاهُ خَامِسَ خَمْسَةٍ وَاتَّبَعَهُمْ رَجُلٌ فَلَمَّا بَلَغَ الْبَابَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ هَذَا اتَّبَعَنَا فَإِنْ شِئْتَ أَنْ تَأْذَنَ لَهُ وَإِنْ شِئْتَ رَجَعَ قَالَ لَا بَلْ آذَنُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ (رواه مسلم)

Dari Abu Mas’ud Al Anshari ra berkata; Ada seorang sahabat Anshar bernama Abu Syu’aib, dia mempunyai seorang pelayan tukang daging. Pada suatu hari Abu Syu’aib melihat Rasulullah Saw. Dia tahu dari wajahnya, bahwa beliau Saw sedang lapar. Maka Syu’aib berkata kepada pelayannya; “Kasihan! Siapkan (masakkanlah) hidangan untuk lima orang. Aku hendak mengundang Rasulullah Saw beserta empat orang lainnya.” Setelah hidangan tersedia, Nabi Saw pun tiba beserta empat orang lainnya dan seorang lagi mengikuti mereka. Tatkala sampai di pintu, Nabi Saw berkata, ‘Sahabat ini mengikuti kami. Jika engkau izinkan dia turut makan, silakan. Jika tidak, biarkan dia kembali.’ Maka Abu Syu’aib menjawab ‘Jangan, tentu aku izinkan, ya Rasulullah! ‘(HR. Muslim, hadits no 3797)

Hikmah Hadits ;

1. Keutamaan mengundang teman, saudara dan handai taulan untuk makan bersama di rumah kita, terlebih orang yang kita undang adalah orang yang memiliki kedekatan dengan Allah Swt dan atau orang yang sedang dalam kesulitan mendapatkan makanan. Karena kedatangan mereka di tengah-tengah kita insya Allah akan menjadi penyebab datangnya keberkahan dari Allah Swt untuk kita semua.

2. Namun dalam hal kita mendapatkan undangan makan di tempat orang lain, lalu kita membawa turut serta teman atau keluarga, maka seharusnya meminta izin terlebih dahulu kepada yang mengundang. Jika yang mengundang mengizinkan, barulah kita (orang yang kita ajak) boleh memakan hidangannya. Namun jika ia tidak mengizinkan, maka setiap suap makanan yg masuk ke dalam tubuhnya adalah haram dan tidak halal baginya.

3. Terkadang dalam keseharian, kita sering menganggap ringan menghadiri undangan dengan membawa serta teman, sahabat ataupun keluarga. Sementara yang diundang hanyalah kita beserta pasangan saja. Maka dalam kondisi tersebut, tidak halal bagi kita untuk mengajak mereka yang tidak diundang hadir dalam undangan dan menikmati hidangan yang disediakan. Kecuali jika secara lisan, isyarat atau urf (kebiasaan), mereka mengizinkan kita untuk membawa serta orang lain, baik keluarga, teman dan atau sahabat. Maka oleh karenanya hendaknya kita hati-hati agar jangan sampai masalah yang ringan justru menjadi bumerang di Hari Kiamat.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Ketika Suatu Usaha Mengalami Kerugian

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَفْلَسَ الرَّجُلُ فَوَجَدَ الرَّجُلُ عِنْدَهُ سِلْعَتَهُ بِعَيْنِهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda, Jika seorang (pedagang) bangkrut, kemudian orang lain (pemilik modal) mendapati barangnya masih ada pada dia, maka dirinya (pemilik modal) lebih berhak atas barang tersebut.” (HR. Muslim, hadits no. 2916)

®️ Hikmah Hadits :

1. Bahwa sisi muamalah merupakan bagian terbesar dalam kehidupan manusia. Oleh karena itulah, Islam memberikan perhatian yang besar pada sisi muamalah, dengan memberikan batasan dan aturan sehingga terwujud keharmonian dalam kehidupan sosial bermasyarakat dan tidak saling mengambil hak orang lain secara bathil. Dan salah satu aturan dalam muamalah adalah terkait dengan status kepemilikan modal ketika terjadi kerugian dalam sebuah usaha.

2. Yaitu bahwa shahibul maal (pemilik modal) adalah pihak yang harus didahulukan untuk diselesaikan (dibayarkan hak-haknya), apabila suatu usaha mengalami kerugian. Maka pihak yang mengelola usaha (mudharib) tidak boleh mendahulukan kepentingan dirinya (mengambil hak-haknya), sebelum menunaikan kewajibannya terhadap pemilik modal.

Dengan syarat bahwa modal tersebut masih ada atau masih tersisa. Dan apabila kewajiban terhadap pemilik modal telah tertunaikan, barulah ia dapat mengambil hak-haknya.

3. Ketentuan seperti ini berlaku untuk semua jenis usaha, termasuk di dalamnya perdagangan, properti, jasa, dsb. Karena pada dasarnya konsep dalam usaha seperti mudharabah adalah usaha kerjasama dimana pemilik modal (shahibul maal) berkontribusi dengan menginvestasikan dananya dalam suatu usaha, sementara pengusaha (mudharib) berkontribusi dengan mengerahkan keahliannya (waktu, usaha, tenaga & fikirannya) dalam usaha tersebut.

Keuntungan yang didapatkan, dibagi berdasarkan nisbah (prosentase dari hasil, bukan dari modal) yang disepakati (misal 50% : 50%), sementara apabila terjadi kerugian, maka akan ditanggung berdasarkan porsinya masing-masing.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

3 + 1 Nasehat Penting Dari Rasulullah Saw

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Hadits Pertama

 

عن أَبُي كَبْشَةَ الْأَنَّمَارِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ثَلَاثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ، قَالَ مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ، وَلَا ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلَمَةً فَصَبَرَ عَلَيْهَا إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ عِزًّا، وَلَا فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ… (رواه الترمذي)

Dari Abu Kabsyah Al Anmari ra berkata, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Ada tiga hal (nasehat), yang aku bersumpah atasnya. Dan aku akan mengatakan suatu hal (nasehat) lainnya pada kalian, hendaklah kalian menjaganya.” Beliau bersabda, “(1) Tidaklah harta seorang menjadi berkurang karena sedekah, (2) tidaklah seseorang diperlakukan secara dzalim. lalu ia bersabar (memaafkan) melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan untuknya, dan (3) tidaklah seorang hamba membuka pintu minta-minta melainkan Allah akan membukakan pintu kemiskinan untuknya…” (HR. Tirmidzi)

©️ Takhrij Hadits;

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab Az-Zuhud an Rasulillah Saw, Bab Ma Ja’a Matsalalud Dunya Mitsla Arba’atin Nafar, hadits no 2247.

®️ Hikmah Hadits;

1. Ada 3 + 1 nasehat penting dari Rasulullah Saw untuk kita sebagai umatnya yang harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan karena demikian pentingnya 3 + 1 nasehat tersebut, hingga Nabi Saw membahasakannya dengan ungkapan “Ada tiga hal (nasehat), yang aku bersumpah atasnya. Dan aku akan mengatakan suatu hal (nasehat) lagi pada kalian, hendaklah kalian menjaganya.” Ini artinya Nabi Saw benar-benar menekankan nasehat ini agar diamalkan oleh kita sebagai umatnya.

2. Ketiga nasehat penting tersebut, adalah sebagai berikut;

(1). Banyak berbagi.

Nabi Saw membahasakannya dengan ungkapan, “Tidaklah harta seorang menjadi berkurang karena sedekah”

(مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ)

Artinya kekhawatiran bahwa sedekah akan mengurangi harta tidaklah benar. Karena dengan sedekah justru akan semakin menambah dan memberkahkan harta. Dengan banyak bersedekah juga insya Allah akan semakin menjadikan kehidupan seseorang semakin lebih terasa berarti dan bermanfaat bagi orang lain.

(2). Mudah memaafkan.

Nabi Saw membahasakannya dengan ungkapan, “Tidaklah seseorang diperlakukan secara dzalim, lalu ia bersabar (memaafkan) melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan untuknya”

(وَلَا ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلَمَةً فَصَبَرَ عَلَيْهَا إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ عِزًّا)

Karena memaafkan adalah kemuliaan, dan sifat memaafkan tidak akan dimiliki kecuali oleh orang-orang mulia yang berhati besar. Memaafkan juga merupakan sifat para Nabi dan Rasul, serta juga sifat para orang-orang shaleh terdahulu. Maka jika ingin mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Swt dan di mata manusia, maka hendaklah ia banyak memaafkan kesalahan orang lain.

(3) Banyak berusaha dan tidak meminta-minta.

Nabi Saw membahasakannya dengan ungkapan, “Tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta melainkan Allah Swt akan membukakan pintu kemiskinan untuknya”

(وَلَا فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا)

Karena sifat suka meminta adalah sifat tercela yang dapat “mematikan” semangat pelakunya untuk bekerja dan berusaha. Sehingga akan menjadikannya malas dan tdk mau berusaha. Akibatnya selamanya ia akan terjebak dalam kebiasaannya dan menjadi miskin karenanya. Na’udzubillahi min dzalik.

3. Ketiga pelajaran berharga dari Nabi Saw ini, jika dicermati secara mendalam akan kita dapati bermuara pada urgensi memiliki sikap dan mentalitas yang positif dan baik, yaitu (1) banyak memberi, (2) suka memaafkan, (3) banyak berusaha dan tidak meminta-minta. Karena sikap mental yang baik merupakan modal dasar dalam menggapai kemuliaan dan kesuksesan.

Maka hendaknya kita berusaha mengamalkan dan menjaganya dalam kehidupan sehari-hari agar dapat menjadi kunci sukses bagi kita semua.

Hadits Kedua

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عن أَبُي كَبْشَةَ الْأَنَّمَارِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ….وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ قَالَ إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ، عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ (رواه الترمذي)

Dari Abu Kabsyah Al-Anmari ra berkata, bahwasanya beliau mendengar Nabi Saw bersabda,” ….dan aku akan mengajarkan suatu nasehat pada kalian, hendaklah kaian menjaganya. “Sesungguhnya dunia itu untuk empat golongan; (1) Pertama, seorang hamba yang dikarunia Allah Swt dengan harta dan ilmu. Dengan ilmunya ia bertakwa kepada Allah dan dengan hartanya ia menyambung silaturrahim dan ia mengetahui Allah Swt memiliki hak atas hartanya. Dan ini adalah tingkatan yang paling baik. (2) Kedua, seorang hamba yang diberikan Allah Swt ilmu tapi tidak diberi harta. Niatnya tulus dan ia berkata, ‘Andai saja aku memiliki harta niscaya aku akan melakukan seperti amalan si fulan. Maka ia akan mendapatkan apa yang ia niatkan, pahala mereka berdua sama. (3) Ketiga, seseorang yang diberi harta oleh Allah tapi tidak diberi ilmu, ia melangkah serampangan tanpa ilmu dalam menggunakan hartanya. Ia tidak takut kepada Rabbnya dengan harta itu dan tidak menyambung silaturrahimnya serta tidak mengetahui hak Allah padanya. Ini adalah tingkatan terburuk. (4) Keempat, selanjutnya orang yang tidak diberi Allah harta atau pun ilmu, ia bekata: Andai aku punya harta tentu aku akan melakukan seperti yang dilakukan si fulan yang serampangan meneglola hartanya, dan niatnya benar. Dosa keduanya sama.” (HR. Tirmidzi)

®️ Hikmah Hadits;

1. Hadits ini masih merupakan lanjutan dari hadits panjang pada rehad sebelumnya, dan masih merupakan satu rangkaian tidak terpisahkan dengan hadits sebelumnya. Dalam hadits sebelumnya Nabi Saw menyebutkan 3 Nasehat Penting, sementara dalam hadits lanjutan ini Nabi Saw mengajarkan satu pelajaran (nasehat) penting lainnya, yang Nabi Saw berpesan agar kita dapat menjaganya.

2. Nasehat penting Nabi Saw tersebut adalah bahwa berkaitan dengan adanya 4 golongan manusia dalam menjalani kehidupan di dunia, yaitu sebagai berikut ;

(1). Golongan orang yang diberi harta dan diberi ilmu.

Dengan ilmunya ia menjadi hamba yg taat dan bertakwa kepada Allah Swt. Ilmunya mengantarkannya pada jalan kebaikan. Sedangkan dengan hartanya ia menyambung silaturrahim, berbuat kebaikan untuk orang lain dan mengetahui ada hak-hak Allah Swt yang harus ia tunaikan dari hartanya tersebut, yaitu zakat, infak dan shadaqah.

(2). Golongan orang yang diberi ilmu namun tidak diberi harta.

Dengan ilmunya ia menjadi hamba yg taat dan bertakwa kepada Allah Swt, namun ia tidak bisa melakukan kebaikan untuk orang lain terkait dengan harta, lantaran ia tidak memiliki harta sebagaimana golongan pertama. Namun ketulusan dan keikhlasan hatinya mengantarkannya pada niatan yg baik yaitu jika ia memiliki harta maka ia akan melakukan sebagaimana yang dilakukan golongan pertama.

(3). Golongan orang yang diberi harta namun tidak diberi ilmu.

Karena tidak memiliki ilmu maka ia jauh dari Allah Swt, bergelimang dengan dosa dan maksiat serta ia gunakan hartanya dalam rangka perbuatan dosa tersebut. Ia tidak menyambung silaturrahim, tidak berbagi kepada fakir miskin serta tidak mengetahui hak-hak Allah Swt. Bahkan hartanya digunakan untuk memusuhi agama Allah Swt.

(4). Golongan yang tidak diberi harta dan tidak juga diberi ilmu.

Ia jauh dari Allah, bergelimang maksiat dan dosa, bahkan ia berangan-angan jika memiliki harta maka ia akan melakukan dan berbuat sebagaimana yang dilakukan oleh golongan ketiga.

3. Dari keempat golongan tersebut, golongan yang paling baik adalah golongan pertama, yaitu golongan yang diberi harta dan ilmu, yang dengan keduanya ia dapat mencapai derajat takwa dan berbuat kebaikan kepada orang lain. Mengiringi golongan pertama adalah golongan kedua, yang punya ilmu namun tidak punya harta. Ia bercita-cita ingin seperti golongan pertama. Maka pahala golongan kedua sama dengan golongan pertama. Sedangkan golongan paling buruk adalah golongan ketiga, yaitu orang yang tidak punya ilmu namun punya harta banyak. Akibatnya ia jauh dan ingkar kepada Allah Swt, serta ia gunakan hartanya dalam rangka maksiat dan menjauhkan org lain dari Allah Swt. Lalu mengiringi golongan ini adalah golongan orang yang tidak berilmu dan tidak diberi harta benda. Namun obsesinya adalah ingin menjadi seperti golongan ketiga. Ia jauh dari Allah Swt dan berangan akan menjadi seperti golongan ketiga jika punya harta. Maka dosa golongan ketiga dan keempat adalah sama.

4. Tersirat dari hadits di atas adalah anjuran untuk menjadi orang yang berilmu dan berharta. Agar memiliki ketaatan yang paripurna kepada Allah Swt dan memiliki kebaikan sempurna kepada sesama manusia. Semoga kita semua diberikan Allah Swt anugerah sebagaimana golongan pertama, sehingga bisa mengggapai kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jangan ceritakan mimpi

Ketika Mimpi Buruk Menyertai Di Malam Hari

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عن أَبَي قَتَادَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الرُّؤْيَا مِنْ اللَّهِ وَالْحُلْمُ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَنْفُثْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ فَقَالَ إِنْ كُنْتُ لَأَرَى الرُّؤْيَا أَثْقَلَ عَلَيَّ مِنْ جَبَلٍ فَمَا هُوَ إِلَّا أَنْ سَمِعْتُ بِهَذَا الْحَدِيثِ فَمَا أُبَالِيهَا (رواه مسلم)

Dari Abu Qatadah ra berkata, Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Mimpi yang baik adalah datang dari Allah Swt, dan mimpi yang buruk adalah datang dari syaitan. Maka apabila kamu bermimpi buruk, meludahlah ke kiri tiga kali, kemudian berlindunglah kepada Allah dari bahaya kejahatannya, niscaya (mimpi tsb) tidak akan membahayakan.” Abu Qatadah berkata; ‘Jika Aku bermimpi buruk seperti lebih berat dari memikul gunung, maka aku tidak peduli dengannya setelah aku mendengar Hadits ini.’ (HR. Muslim, hadits no 4196)

Hikmah Hadits ;

1. Bahwa dalam tidur terkadang kita bermimpi ada sesuatu yang buruk terjadi menimpa diri ataupun menimpa orang-orang yang kita sayangi; bisa berupa musibah, bencana, malapetaka, atau hal lainnya yang sangat tidak kita senangi. Maka bila hal tersebut terjadi, ada beberapa anjuran Nabi Saw yang perlu kita lakukan, yaitu ;

#1. Berta’awudz atau meminta perlindungan kepada Allah Swt dari godaan dan gangguan syaitan. Karena sebagaimana hadits di atas, bahwa mimpi buruk itu berasal dari syaitan. Ta’awudz dilakukan minimal dengan membaca ‘A’udzubillahi minas syaitanirrajiim’. Lebih baik lagi jika membaca surat yang disebut ‘almu’awwidzatain’, yaitu surat Al-Falaq dan An-Nas.

#2. Dianjurkan juga untuk bangun (duduk) lalu menoleh ke kiri, kemudian meludah ke sebelah kiri tersebut 3X. Meludah tidak harus dilakukan dengan membuang ludah secara hakiki, namun cukup dengan isyarat seperti membuang ludah tanpa harus mengeluarkan air ludahnya. Karena umumnya mimpi buruk selalu datang dari sebelah kiri, dimana dari sisi kiri lah syaitan kerap datang menggoda dan mengganggu kita. Dan dengan ta’awudz yang diiringi isyarat meludah ke sebelah kiri 3X insya Allah akan mengusir dan menghilangkan gangguan syaitan.

#3. Tidak perlu takut, khawatir atau cemas terhadap “apapun” yang kita dapatkan dalam mimpi. Seperti mimpi mengalami musibah, kecelakaan, kehilangan anggota keluarga, dsb. Karena sesungguhnya sedikitpun mimpi buruk dari syaitan tidak akan pernah bisa memberikan kemudharatan apapun kepada kita. Karena segala sesuatu terjadi adalah karena kehendak Allah Swt dan bukan karena mimpi.

#4. Tidak menceritakan mimpi buruk yang kita alami kepada siapapun. Karena dalam riwayat lainnnya disebutkan bahwa Nabi Saw melarang kita untuk menceritakan mimpi buruk yang kita alami. Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda

“…Dan jangan menceritakan mimpi itu kepada siapapun. Dan jika dia bermimpi baik maka bergembiralah dan jangan menceritakannya kecuali kepada orang yang dikasihi.” (HR. Muslim, hadits no 4197)

2. Bahwa tidur adalah ibadah, jika diniatkan untuk ibadah. Maka jika hendak tidur ada anjuran untuk membaca doa sebelum tidur, menghadap (miring) ke sebelah kanan dan memasrahkan diri hanya kepada Allah Swt. Dengan melakukan hal tersebut maka setiap detik yang dilalui dalam tidurnya, insya Allah akan bernilai ibadah oleh Allah Swt.

Wallahu Alam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Ketika Cinta Berbuah Cinta

Ketika Cinta Berbuah Cinta

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى، فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا، فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ أَيْنَ تُرِيد؟ُ قَالَ أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ، قَالَ هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا؟ قَالَ لَا غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَل،َّ قَالَ فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi Saw bersabda, “Pada suatu ketika ada seorang pemuda yang mengunjungi saudaranya (sesama muslim) di desa lain. Kemudian Allah pun mengutus malaikat untuk menemui orang tersebut. Ketika orang itu ditengah perjalanannya ke desa yang dituju, maka malaikat tersebut bertanya; ‘Hendak pergi ke manakah engkau? ‘ Pemuda tsb menjawab, ‘Aku akan mengunjungi saudaraku sesama muslim yang berada di desa lain.’ Malaikat kemudian bertanya kepadanya; ‘Apakah kamu mempunyai satu motivasi duniawi yang menguntungkanmu dengannya? ‘ Pemuda tersebut menjawab; ‘Tidak, kecuali hanya karena aku mencintainya karena Allah Azza wa Jalla.’ Akhirnya malaikat itu berkata; ‘Sesungguhnya aku ini adalah malaikat utusan yang diutus untuk memberitahukan kepadamu bahwasanya Allah akan senantiasa mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena Allah.’ (HR. Muslim, hadits no 4656)

Hikmah Hadits ;

1. Cinta adalah anugrah Allah Swt sekaligus merupakan fitrah yang Allah patrikan dalam hati setiap hamba-Nya. Karenanya, setiap insan ditakdirkan untuk mencinta dan senang untuk dicinta. Dan “hati” adalah ibarat sebuah taman yang indah, yang diciptakan Allah Swt sebagai tempat untuk bersemayamnya berbagai bentuk cinta; mulai dari semenjak munculnya benih-benih cinta, tumbuh dan berkembangnya cinta, berseminya cinta, hingga berbunga dan berbuahnya cinta yang melahirkan berjuta rasa indah dan penuh pesona.

2. Bahwa motivasi yang mendasari cinta dalam hati seseorang sangatlah beragam; ada orang yang mencinta karena semata adanya pertalian hubungan darah dan kekerabatan. Ada juga yang mencinta karena pesona tampilan fisiknya, atau karena karisma rangkaian kata dalam kalimatnya, atau karena gemerlap harta yang dimilikinya, atau juga karena tingginya jabatan, kedudukan dan kekuasaannya, dan masih banyak lagi motivasi yg mendasari seseorang untuk mencinta orang lain. Namun di balik itu semua, ada juga orang yang mencinta karena motivasi mulia yang menembus segala dimensi dunia; bukan mencinta karena tampilan fisiknya, atau karena jabatan dan kedudukannya, atau karena harta benda yang dimilikinya, namun ia mencinta karena berharap mendapatkan “Cinta” dari Dzat Yang Maha Memberi Cinta, yaitu Allah Swt. Cinta seperti inilah yang merupakan cinta hakiki nan abadi; yang tak akan usang dan lekang di telan zaman, bahkan menjadi cinta yang langgeng, yang akan membahagiakannya dalam menjalani kehidupan di dunia nan fana, dan akhirat yang kekal abadi selama-lamanya.

3. Itulah nilai yang ingin ditanamkan Nabi Saw dalam kisah pada hadits di atas yang disabdakan beliau. Dimana ada seorang pemuda yang bersilaturrahim mengunjungi saudaranya sesama muslim di tempat lain yg cukup jauh jaraknya. Dan satu-satunya motivasi yang mendasarinya adalah karena ia mencintai saudaranya sesama muslim tersebut, semata-mata karena Allah Swt. Ia mencintainya bukan karena adanya hubungan kekerabatan, bukan juga karena berharap harta, atau karena ingin menikahi adik perempuannya, atau karena motivasi duniawi lainnya. Subhanallah… betapa mulianya motivasi yang mendasari cintanya. Dan ternyata, kemurnian cintanya tersebut berbuah manis dan langsung dibalas Allah Swt, yaitu Allah Swt memberikan cinta-Nya kepadanya, sebagaimana ia mencintai saudaranya tersebut hanya karena-Nya…

Ya Allah sesungguhnya kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang memcintai-Mu, dan  segala amalan yang dapat mendekatkan diri kami pada cinta-Mu… Amiiin Ya Rabbal Alamiiin.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Ali Imran 119

Ketika Fitnah Bertaburan Dalam Kehidupan

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عن حُذَيْفَة بْن الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي، فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَر؟ٌّ قَالَ نَعَمْ ، فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْر؟ٍ قَالَ نَعَمْ ، وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ ؟ قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي، وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِر،ُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّم،َ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا، فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا، قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا، قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُم،ْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ ؟ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ (رواه مسلم)

Dari Hudzaifah bin Yaman ra berkata, “Biasanya para sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebajikan. Namun aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena khawatir keburukan tersebut akan menimpaku. Lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah! Kami dahulu berada dalam kejahilan dan keburukan, karena itu Allah Ta’ala menurunkan kebaikan (agama) ini kepada kami. Apakah mungkin sesudah kebaikan ini akan munul lagi keburukan?” beliau menjawab: “Ya.” Lalu aku bertanya lagi, “Apakah setelah itu akan ada lagi kebaikan?” beliau menjawab, “Ya, akan tetapi ada cacatnya! Aku bertanya, “Apa cacatnya?” Beliau bersabda, “Akan muncul suatu kaum yang mengamalkan sunnah selain dari sunnahku, dan memimpin rakyat tanpa hidayah petunjukku, kamu mengetahui mereka tapi kamu mengingkarinya.” Aku bertanya lagi, “Apakah setelah itu akan ada keburukan lagi?” Jawab beliau: “Ya. Yaitu orang-orang yang menyeru menuju neraka Jahannam, barangsiapa memenuhi seruannya maka ia akan dilemparkan ke dalam neraka itu.” Maka aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah! Tunjukanlah kepada kami ciri-ciri mereka.” Beliau menjawab: “Kulit mereka seperti kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana arahan anda seandainya aku menemui hal yang demikian?” Jawab beliau, “Tetaplah kamu bersama jama’ah kaum muslimin dan imam (pemimpin) mereka.” Aku bertanya lagi, “Jika tidak ada jama’ah dan imam?” beliau menjawab: “Tinggalkan semua golongan meskipun kamu menggigit akar kayu sampai ajal menjemputmu, dan kamu masih tetap pada keteguhanmu.” (HR. Muslim, hadits no. 3434)

®️ Hikmah Hadits ;

1. Keutamaan Khudzaifah ra; dimana beliau bertanya kepada Nabi ﷺ, tentang keburukan lantaran khawatir keburukan tersebut akan menimpa mereka. Juga dimaksudkan agar ketika diketahui keburukan-keburukan tersebut, umat bisa mengantisipasinya dengan baik dan tidak terjerumus padanya.

2. Bahwa kebaikan dan keburukan adalah dua hal yang bertentangan yang tiada pernah kan bertemu selama-lamanya. Namun keduanya akan selalu datang silih berganti, seiring berjalannya waktu dan zaman. Dan kita semua diperintahkan untuk senantiasa konsisten pada kebaikan, kendatipun fitnah dan kegelapan telah merajalela menguasai kehidupan.

3. Bahwa akan muncul kelak, para penyeru (baca ; tokoh) yang mengajak dan menjerumuskan manusia pada kenistaan dan menyesatkan mereka dari jalan Allah Swt. Mereka berpenampilan dan bertutur kata sama seperti kaum muslimin pada umumnya. Namun pada hakekatnya mereka menggiring manusia ke dalam neraka Jahanam. Maka siapa yang mengikuti mereka maka kelak akan turut dilemparkan ke dalam Jahanam.

4. Pentingnya bersama-sama dengan jamaah kaum muslimin, karena dengan bersama akan menjadi sebab datangnya rahmat Allah Swt. Serta urgensi istiqa

mah di jalan Allah Swt, kendatipun harus bertahan dengan menggigit akar kayu sekalipun.

Wallahu a’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Seribu Kebaikan

Pahala Seribu Kebaikan Akan Didapatkan Dalam Sehari, Hanya Dengan Membaca Dzikir ini

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عَنْ سَعْدٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ فِي الْيَوْمِ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ وَمَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ؟ قَالَ يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ وَتُمْحَى عَنْهُ أَلْفُ سَيِّئَةٍ (رواه احمد)

Dari Sa’d bin Abi Waqash ra berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bersabda, “Apakah kalian tidak mampu untuk mendapatkan seribu kebaikan dalam sehari?” Sahabat bertanya, “Siapakah diantara kami yang sanggup untuk melakukannya?” Maka beliau bersabda, “Bertasbih seratus kali (membaca dzikir subhabalallah), akan ditulis baginya seribu kebaikan dan dihapuskan darinya seribu kesalahan.” (HR. Ahmad)

©️ Takhrij Hadits;

1. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, pada Musnad Sa’d bin Abi Waqqash, hadits no 1414.

2. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, hadits no 4966 dan Imam Tirmidzi dalam Sunannya, hadits no 3385.

®️ Hikmah Hadits ;

1. Mendapatkan kebaikan yang besar tidak selalu harus dilakukan dengan amalan yang besar, namun kebaikan yang besar dapat juga dilakukan dengan amalan-amalan yang ringan dan sederhana. Oleh karenanya jangan meremehkan suatu amal kebaikan pun, karena kita tidak mengetahui amal kebaikan manakah yang kita lakukan yang dapat mengantarkan pada ridha Allah Swt dan dapat mengetuk pintu surga. Bisa jadi sebuah amalan ringan justru yang akan mengantarkan seseorang masuk ke dalam surga, jika dilakukan dengan baik, benar dan ikhlas.

2. Bahwa nahkoda dalam amal perbuatan manusia adalah hati. Hati lah yang akan menggerakkan anggota badan untuk melakukan suatu amalan kebaikan. Hati pula lah yang akan dapat menentukan bobot dan timbangan suatu amal perbuatan, apakah memiliki nilai yg mulia di sisi Allah SWT atau tidak? Karena hanya amal yg ikhlas sajalah yg akan mendapatkan nilai yang mulia di sisi Allah SWT. Sedangkan pelabuhan dalam keikhlasan adalah hati seseorang. Oleh karenanya, salafuna shaleh mengingatkan agar senantiasa menyibukkan hati dengan hal-hal yang baik, agar terhindar dari hal-hal yang tidak baik ;

إن القلوب إذا لم تشغلها بالذكر، شغلتها الصغائر

Sesungguhnya hati itu jika tidak disebutkan dengan dzikir, maka ia akan disibukkan dengan shagha’ir.

3. Bahwa diantara amalan ringan yang memiliki balasan kebaikan yang sangat besar adalah berdzikir menyebut nama Allah Swt, khususnya dengan mengucapkan lafadz tasbih, yaitu “Subhanallah” (Mahasuci Allah Swt). Karena lafadz dzikir yang ringan ini, jika dibaca sebanyak seribu kali oleh seorang muslim, maka ia akan mendapatkan dua keutamaan sekaligus, yaitu :

1). Akan mendapatkan seribu kebaikan, berupa balasan pahala kebIkan dari Allah Swt.

2). Akan dihapuskan seribu kesalahan, yaitu berupa ampunan dari dosa yang telah dilakukannya.

4. Maka di sela-sela keseharian dan aktivitas serta pekerjaan yang kita lakukan, mari perbanyak dzikir dengan mengucapkan “Subhanallah” (Maha Suci Allah Swt). Dan jika memungkinkan dibaca hingga seribu kali dalam satu hari, dengan harapan bahwa dengan dzikir tersebut akan menambah seribu kebaikan bagi kita dan juga menggugurkan seribu kesalahan dari diri kita.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Iffah

Antara Iffah dan Menerima Pemberian, Serta Keutamaan Menginvestasikan Harta Untuk Disedekahkan Hasilnya

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عن عُمَرَ بن الخطاب رضي الله عنه يَقُولُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْطِينِي الْعَطَاءَ فَأَقُولُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّي، حَتَّى أَعْطَانِي مَرَّةً مَالًا فَقُلْتُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّي، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ وَتَصَدَّقْ بِهِ، فَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ، وَمَا لَا فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ (رواه البخاري ومسلم وأحمد)

Dari Umar ra berkata, bahwa Nabi Saw memberiku sebuah pemberian, maka aku berkata kepada beliau, “Berikan saja kepada orang lain yang lebih membutuhkannya daripada aku.” Sampai suatu ketika beliau memberiku lagi harta dan aku berkata, “Berikan saja kepada orang yang lebih membutuhkannya daripada aku.” Maka Nabi Saw bersabda, “Ambillah dan kembangkanlah (investasikanlah) harta itu, lalu bersedekahlah dengannya. Apa yang datang kepadamu dari suatu harta (pemberian), sedangkan kamu tidak mengharapkannya dan tidak meminta-mintanya maka terimalah. Dan apabila tidak seperti demikian maka janganlah kamu memperturutkan nafsumu padanya.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i dan Ahmad)

©️ Takhrij Hadits :

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Az-Zakat, Bab Man A’thahullahu Syai’an Min Ghairi Mas’latin Wala Isyrafi Nafsin, hadits no 1380, juga Imam Muslim dalam Shahihnya, hadits no 1731, ďan Imam Ahmad dalam Musnadnya, hadits no 131.

®️ Hikmah Hadits :

1. Keutamaan sifat iffah, yaitu sifat menahan diri dari meminta-meminta, merasa cukup atas apa yang telah Allah Swt anugerahkan kepada-nya. Berasal dari akar kata affafa ( عفف ) yang berarti :

a. Tidak mau melakukan sesuatu yang tidak pantas, atau yang tidak patut karena menjaga diri dari perbuatan yang terlarang.

b. Menjaga kehormatan diri, juga berarti kesucian diri. Orang yang menjaga kehormatan dirinya berarti ia menjaga kesucian dirinya.

c. Menahan diri dari sifat meminta-meminta kepada orang lain, dan merasa cukup atas apa yang telah Allah Swt anugerahkan berupa nikmat, apapun dan berapapun adanya. Tidak iri dan menginginkan yang bukan menjadi hak miliknya serta selalu bersyukur dan merasa bahwa apa yang diberikan kepadanya adalah yang terbaik untuknya.

2. Iffah merupakan sifat mulia, yang setiap yang melakukannya akan mendapatkan keutamaan dan kemuliaan tersendiri, diantaranya adalah ;

a. Akan mendapatkan pujian dari Allah Swt , hal ini sebagaimana Allah Swt memuji orang-orang yang menahan diri dari meminta-minta :

(لِلۡفُقَرَاۤءِ ٱلَّذِینَ أُحۡصِرُوا۟ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ لَا یَسۡتَطِیعُونَ ضَرۡبࣰا فِی ٱلۡأَرۡضِ یَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِیَاۤءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِیمَـٰهُمۡ لَا یَسۡـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافࣰاۗ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِنۡ خَیۡرࣲ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِیمٌ)

(Apa yang kamu infakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah, sehingga dia yang tidak dapat berusaha di bumi; (orang lain) yang tidak tahu, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 273)

b. Akan dicukupkan oleh Allah Swt segala hajat dan keperluannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits ;

عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ (رواه البخاري)

Dari Hakim bin Hiram ra bahwa Nabi SAW bersabda, “Tangan yang diatas lebih baik dari pada tangan yang di bawah, maka mulailah (memberi) untuk orang-orang yang menjadi tanggunganmu. Dan shadaqah yang paling baik adalah dari orang yang sudah cukup (untuk kebutuhan dirinya). Maka barangsiapa yang berusaha memelihara dirinya (iffah), Allah akan memeliharanya. Dan barangsiapa yang berusaha mencukupkan dirinya maka Allah akan mencukupkannya (menjadikannya merasa cukup). (Muttafaqun Allah)

3. Namun apabila ada seseorang atau suatu pihak yang bermaksud memberikan sesuatu kepada dirinya, dengan tujuan untuk memuliakannya, atau mengganti jasa baiknya, atau sekedar memberikan hadiah kepada-nya, maka anjurannya justru diterima dengan baik, dengan syarat selama bukan karena ia meminta dan mengharapkannya, dan bukan juga merupakan perbuatan dosa, (seperti risywah, suap dsb), serta juga bukan karena tolong menolong dalam perbuatan dosa.

4. Adalah Umar bin Khattab ra sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, ditegur oleh Nabi Saw lantaran tidak mau menerima pemberian dari beliau. Maka Nabi Saw menasehatinya ;

خُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ وَتَصَدَّقْ بِهِ، فَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ، وَمَا لَا فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ

Ambillah dan kembangkanlah (investasikanlah) harta itu, lalu bersedekahlah dengannya. Apa yang datang kepadamu dari suatu harta (pemberian), sedangkan kamu tidak mengharapkannya dan tidak meminta-mintanya maka terimalah. Dan apabila tidak seperti demikian maka janganlah kamu memperturutkan nafsumu padanya.”

5. Dalam hadits di atas juga terdapat anjuran untuk menginvestasikan harta dengan baik, lalu dengan investasi tersebut ia dapat bersedekah dengan hartanya maupun dengan hasil investasinya. Karena harta itu adalah amanah yang harus dikelola dan diinvestasikan dengan baik. Dan tidak semua orang memiliki kemampuan investasi dalam harta, sehingga hartanya tidak bisa berkembang. Maka jika kita memiliki harta dan juga mempunyai kemampuan investasi, maka hendaknya ia investasikan hartanya, lalu dengannya ia menjadi ahli shadaqah.

Mudah-mudahan kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang diberikan segala kecukupan harta oleh Allah Swt, bisa berinvestasi dengan halalan thayiban dan bisa banyak bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan. Amiin ya Rabbal alamin.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678