SEMANGAT SEORANG IBU MELAHIRKAN ANAK YANG HEBAT

📝 Pemateri: Ustadzah DR. Aan Rohanah, Lc , M.Ag

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Setiap ibu ingin melahirkan anak-anak yang hebat, anak yang selalu terdepan dalam berbuat kebaikan serta kokoh dalam beragama, cerdas, memiliki pengetahuan luas dan berwawasan, mandiri dan mapan, serta menghasilkan karya yang berguna bagi masyarakat luas dan mau berkhidmah untuk kemajuan agama, umat dan bangsa.

Kehebatan seorang anak tidak datang dengan sendirinya, tidak terjadi secara tiba-tiba, tidak bisa dibentuk dengan santai dan coba-coba.

Kehebatan anak itu dibentuk oleh perjuangan berat dan besar dari kedua orang tuanya terutama ibunya dari sejak anak dalam kandungan, setelah lahir hingga dewasa.

Ibu yang hebat selalu mengiringi perjuangan dalam pendidikan anak dengan :

1. Shalat fardhu tepat waktu dan selalu mengirinya dengan doa utk kebaikan anak.

2. Mengkhatamkan Alquran setiap bulan 30 juz dan selalu menyertakan doa untuk anak dalam setiap khatamnya.

3. Rajin berpuasa sunnah dan mendoakan anak di tengah puasanya.

4. Rajin melakukan shalat tahajjud di waktu malam dan selalu menyelipkan doa untuk kesuksesan anak.

5. Terus belajar untuk menambah bekal dalam pendidikan anak agar ia bisa berperan dan bersaing di zamannya.

6. Bermental kuat, tidak putus asa dan tidak mudah menyerah menghadapi masalah dan tantangan pendidikan anak.

7. Mendidik anak sesuai tuntunan agama dengan cinta, kasih sayang, kelembutan dan kesabaran.

8. Menambah taqarrub dan doa kepada Allah di waktu siang dan malam saat anak sedang ujian di sekolah atau di kampus atau sedang menghadapi masalah.

9. Menumbuhkan kecintaan anak kepada Allah SWT sebagai Tuhan, Muhammad SAW sebagai Rasulullah, Islam sebagai agama, al-Quran sebagai pedoman hidup, serta cinta ilmu pengetahuan yang berguna bagi kehidupan dunia dan akhiratnya.

10. Menanamkan akhlak dan adab, semangat belajar, tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama.

11. Selalu menjaga keridhaannya kepada anak sekalipun dalam kondisi tidak nyaman oleh ulah anak.

12. Saat dikecewakan lebih baik bersabar dan memberikan nasihat serta doa untuk kebaikan anak.

Wallahu a’lam bish showab

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Sebarkan! Raih Pahala


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Menjaga Pandangan

Cahaya di atas Cahaya – Tadabbur Surat An-Nur (Bag-3)

📝 Pemateri: Ustadz Dr. H. Saiful Bahri, M.A

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Kelima

Kemudian Allah menjelaskan adab-abad bertamu dan memasuki rumah orang lain (pada ayat 27-29). Yaitu dengan meminta izin sebelum masuk dan memberi salam. Serta tidak bertamu pada saat tuan rumah kurang berkenan. Dan bila dikatakan untuk kembali (saja) maka sebaiknya mengurungkan niatnya bertamu dan segera kembali. Hal ini untuk menjaga kebersihan hati.

Secara implisit juga dianjurkan untuk menjaga pandangan ketika bertamu, dengan tidak melihat-lihat secara liar terhadap kondisi rumah yang dikunjungi.

Keenam

Pada ayat (30-31), Allah menjelaskan aturan dan pedoman interaksi antara laki-laki dan perempuan.

”Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. Annur: 30).

Bukan hanya laki-laki saja yang dituntut demikian, namun perempuan juga. Bahkan mereka juga mesti menjaga adab berpakaian lebih dari laki-laki. Yaitu dengan melonggarkan pakaiannya dan mengenakan jilbab.

”Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.

Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
(QS. Annur: 31)

Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kebersihan sosial masyarakat dari bahaya kekejian besar sebagaimana yang dijelaskan di awal-awal surat, yaitu perbuatan zina.

Untuk menjaga potensi anak-anak muda agar bisa lebih produktif dan kreatif. Serta untuk memelihara keutuhan rumah tangga dan melanggengkan keharmonisan yang dinamis penuh rahmah dan mawaddah.

Tentunya hal ini perlu kerja sama antara kedua pihak yang ada di tengah komunitas masyarakat; laki-laki dan perempuan. Jangan pernah ada saling menuduh antara perempuan dan laki-laki, karena keduanya bertanggung jawab atas masing-masing dan bekerja sama untuk menumbuhkan kondisi masyarakat yang lebih jernih dan bersih.

Laki-laki diperintah kan untuk menjaga pandangannya juga kehormatannya. Demikian juga perempuan, juga masing-masing menjaga penampilan dengan adab-adab berpakaian yang memenuhi standar norma yang diatur agama. Bukan dengan membiarkan bagian-bagian tubuh yang dapat mengundang fitnah terbuka, atau berpakaian ketat yang mencetak bentuk tubuh, atau juga mengenakan pakaian transparan yang tipis yang juga akan menimbulkan fitnah dan mempersulit untuk menjaga pandangan.

Dan tentunya proses penyadaran ini terus menerus dilakukan oleh siapapun. Terutama yang memahami aturan ini.

Proses penyadaran terhadap masyarakat ini juga tidak berjalan sebentar, namun perlu proses panjang dan kesabaran. Agar masyarakat tidak berubah menjadi anti dan kemudian membenci aturan-aturan Allah.

Di sinilah dai yang bijak bisa menempatkan diri dengan hikmah dan bijaksana dalam berdakwah di tengah masyarakatnya. Tidak menyerah dalam kondisi apapun, bahkan sampai seburuk apapun kondisi sosialnya. Juga tidak dengan pemaksaan yang berlebihan.
Adapun perhiasan yang dimaksud di sini adalah sesuatu bila terbuka dan terlihat oleh laki-laki maka bisa menimbulkan fitnah.

Maka urutan pengecualian (boleh) melihatnya pun berbeda-beda. Dimulai dari suami. Karena suami istri dibebaskan, dihalalkan melihat apa saja diantara mereka berdua. Kemudian setelahnya ayah kandung, ayah mertua dan seterusnya. Secara eksplisit memang kita tak menjumpai bagaimana tata cara perempuan berpakaian di depan saudara perempuan mereka dan ibu mereka. Tapi ini adalah standar umum kesopanan mereka berpakaian di rumah. Juga penegasan ”wanita yang islam” adalah demi menjaga aurat.

Karena dikhawatirkan bila mereka memberikan penggambaran fisik seorang muslimah dikarenakan tidak paham atau dikarenakan kebencian atau sebab-sebab yang lain. Karena sebagaimana melihat, mendeskripsikan fisik perempuan dalam Islam adalah suatu yang dihindari.

Sayangnya justru modernisasi yang dipahami oleh sebagian orang adalah dengan memperlihatkan fisik di depan umum. Dengan dalih membebaskan, sebagian berdalih seni. Dan sebagian lain berdalih konsumtif dan keinginan pasar.

Bila seperti ini maka perempuan hanya dinilai dari fisiknya saja. Padalah Allah memuliakannya. Dan karena perempuan sebagaimana laki-laki, tidak dinilai dari penampilan fisiknya. Siapa-siapa saja yang berhak melihat ”perhiasan” tersebut telah diatur dalam agama.
WalLâhu a’lam.

(Bersambung bag 4)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Surat Cinta dari Allah

Cahaya di atas Cahaya – Tadabbur Surat An-Nur (Bag-2)

📝 Pemateri: Ustadz Dr. H. Saiful Bahri, M.A

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Tulisan sebelumnya:

Cahaya di atas Cahaya – Tadabbur Surat An-Nur (Bag-1)

Ketiga

Pada ayat 6 sampai 10 Allah lebih memerinci lagi.

Bila kasus tersebut terjadi dalam rumah tangga. Bila prahara keji ini terjadi dan dilakukan oleh orang yang paling dekat dalam hidup.
Orang-orang sekarang lebih menyederhanakan istilahnya dengan sebutan ”selingkuh”.

Dalam istilah fikih penyelesaian kasus seperti ini disebut dengan Li’an. Karena suami yang menuduh istrinya berzina tidak memiliki saksi selain dirinya sendiri.
Jika ia pergi mencari 4 saksi maka istrinya yang berzina akan lari dan menyudahi hajatnya.
Bila ia menyimpannya maka ia pendam bara kebencian yang bergejolak dalam dadanya.

Peristiwa ini pernah dialami oleh sahabat Rasul, Hilal bin Umayah sebagaimana yang diceritakan oleh Sa’ad bin Ubadah. Rasul pun akhirnya mencambuknya 80 kali dan dibatalkan persaksiannya dalam hal apapun. Sampai Allah menurunkan ayat ini. Kemudian keduanya (Hilal dan istrinya) dipanggil Rasulullah dan dimintai sumpahnya seperti yang tertera pada surat Annur ayat 6-9.

Keempat

Pada ayat selanjutnya (ayat 11-26) Allah menceritakan sebuah fitnah besar yang menyerbu kehidupan sosial masyarakat Madinah saat itu.

Sebuah prahara yang menimpa keluarga Rasulullah Saw. Yaitu tuduhan kaum munafik terhadap Ibunda Aisyah ra dan sahabat Shafwan bin Muaththal ra.

Para ilmuwan dan para sejarahwan merekam kejadian ini. Seperti apa yang diriwayatkan Imam Bukhari dari cerita Urwah bin Zubeir terhadap apa yang menimpa bibinya (Aisyah).

Fitnah ini terjadi pasca perang Bani Musthaliq pada bulan Sya’ban tahun 5 H.
Rasulullah menyertakan Aisyah ra untuk menemani beliau berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau.

Dalam perjalanan kembali ke Madinah para pasukan beristirahat. Aisyah keluar dari sekedup untanya untuk sebuah keperluan, kemudian kembali lagi. Namun, tiba-tiba beliau merasa kehilangan kalungnya. Maka segera beliau turun kembali dan mencari kalung tersebut.

Sementara para pasukan bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Mereka mengira Aisyah sudah berada di dalam sekedupnya. Maka mereka berjalan. Ketika Aisyah kembali ia telah ditinggal rombongan. Beliau berharap pasukan mengetahui bahwa sekedup itu kosong dan kembali menjemputnya. Aisyah pun menunggu hingga tertidur.

Kebetulah ada seorang sahabat, Shofwan bin Muaththal lewat. Beliau heran melihat dari jauh ada seseorang tertidur sendirian. Alangkah terkejutnya setelah beliau tahu bahwa orang tersebut adalah Aisyah, istri Rasulullah saw.

Reflek Shofwan beristirja’ (mengatakan: innâ lilLâhi wa innâ ilaihi râji’ûn). Aisyah terbangun juga karena terkejut. Dan mereka sama sekali tidak keluar kata-kata kecuali hanya ucapan Shafwan tersebut.

Kemudian Shafwan mempersilakan Aisyah mengendarai untanya, dan Shafwan pun menuntunnya hingga mereka tiba di Madinah.

Orang-orang yang melihat mereka memasuki Madinah dengan penafsiran masing-masing, hingga terdengar desas-desus yang kurang mengenakkan keluarga Rasulullah. Kemudian kaum munafik menyulut fitnah ini dan menjadi besar kemudian mengerucut tuduhan selingkuh kepada Aisyah ra. Sehingga menimbulkan prahara fitnah di tengah kaum muslimin. Rasul pun gundah. Dan Aisyah kembali ke rumah orang tuanya untuk meredakan fitnah ini. Urwah menuturkan perkataan bibinya yang dirundung kesedihan yang sangat hingga kehabisan air mata. Aisyah terus menerus berdoa agar Allah membebaskannya.

Sebagian kaum muslimin ada yang termakan oleh fitnah ini. Hingga turunlah ayat-ayat pembebasan terhadap ibunda Aisyah yang suci dari tuduhan keji kaum munafik.
Orang-orang itu menganggap desas-desus ini sesuatu yang remeh, namun Allah menganggapnya sebuah dosa yang besar. Apalagi mereka tidak pernah mendatangkan empat orang saksi. Maka mereka, para penuduh itu bagi Allah adalah sebesar-besar pendusta.

Allah mengancam orang-orang yang menyulut fitnah ini dengan hukuman yang pedih dan di akhirat. Serta membebaskan keguncangan sosial ini.

Rasulpun memerintahkan hukuman cambuk kepada sebagian sahabatnya yang terpancing dengan tuduhan ini. Mereka kembali diterima persaksiannya setelah mereka bertobat. Kecuali orang-orang munafik yang bersembunyi dari hukum Allah. Kelak Allah akan membuka tabir kebusukan mereka.

Bahkan sampai-sampai Abu Bakar geram dengan salah seorang keluarganya yang miskin yang dikafilnya ikut terlibat dan termakan fitnah tersebut, yaitu Masthah bin Utsatsah. Beliau bersumpah untuk tidak mengafilnya lagi namun Allah menegurnya,
”Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Annur: 22)

Dan kalam Allah benar-benar tegas meneguhkan kesucian orang-orang yang benar-benar dikenal baik dan sama sekali tak terpikir sama sekali untuk melakukan perbuatan keji. ”Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah (dari berpikir untuk berbuat zina), lagi beriman, mereka terkena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar.” (QS. Annur : 23).

Terlebih bila kita mau menadabburi ayat Allah dengan pemaknaan yang dalam pada ayat 26, ”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).”

(Bersambung bag 3)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

logo manis4

Ragu dan Lupa Membaca al-Fatihah di dalam Shalat

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Walaupun bacaan al-Fatihah sendiri sebagai rukun di antara rukun-rukun shalat yang tidak boleh tertinggal, namun bisa saja dalam kasus tertentu seseorang lupa membacanya, atau bisa juga ragu mengenai bacaannya, apakah ayat-ayatnya sudah dibaca dengan sempurna ataukah belum.

Mengenai ragu dalam hal bacaan al-Fatihah ini, Zainuddin al-Malibari (w. 987 H) di dalam Fath ul-Mu’in memberikan penjelasan: “Jika di tengah-tengah bacaan al-Fatihah seseorang ragu, apakah sudah membaca basmalah ataukah belum, kemudian ia menyelesaikan bacaannya, dan akhirnya ia ingat bahwa ia sudah membaca basmalah, maka ia wajib mengulang seluruhnya, menurut beberapa tinjauan pendapat. Keraguan dalam peninggalan satu huruf atau lebih dari Surah al-Fatihah, demkian pula satu ayat atau lebih, setelah pembacaan al-Fatihah selesai adalah tidak ada pengaruh apa-apa, sebab secara lahir al-Fatihah sudah dibaca dengan sempurna. Wajib mengulang al-Fatihah dari awal jika keraguan itu terjadi sebelum sempurnanya bacaan, seperti halnya ragu apakah sudah membaca al-Fatihah ataukah belum. Sebab menurut asal, ia belum membacanya.” Beliau juga mengatakan: “Jika seseorang membaca al-Fatihah dalam keadaan lupa, dan ia sadar setelah sampai pada ayat ‘shirathal-ladzina…’, serta tidak yakin akan bacaan sebelumnya, maka wajib mengulangi al-Fatihah dari awal.”

Adapun dalam hal lupa ini, Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) di dalam al-Umm mengatakan: “Jika seseorang tidak membaca Ummul Qur’an (Surah al-Fatihah) walau hanya satu huruf saja lantaran lupa atau lalai, maka rakaat tersebut tidak dapat dihitung.”

Iika lupa itu terjadi sedangkan keadaannya masih dalam shalat, misalnya lupa membaca al-Fatihah pada raka’at keempat sementara ia baru ingat ketika hendak sujud, maka ia harus segera mengulangi rakaat keempatnya tersebut untuk menyempurnakannya. Namun ketika seseorang baru ingat ketika selesai shalat, maka ia wajib berdiri untuk mengulangi raka’at keempat tersebut dan menyempurnakan shalatnya, jika memang ia langsung ingat tidak lama setelah selesainya shalat tersebut. Asy-Syarqawi (w. 1227 H) di dalam Hasyiah-nya atas kitab Tuhfah ath-Thullab bi Syarh Tahrir Tanqih al-Lubab karya Abu Yahya Zakariyya al-Anshari (w. 926 H) mengatakan: “Yang fardhu (rukun) itu tidaklah dapat diganti dengan sujud sahwi, bahkan jika diingatnya yang fardhu itu, sedang ia masih dalam keadaan shalat, maka hendaklah disempurnakan shalatnya itu. Atau jika ingatan itu datang beberapa waktu setelah shalat usai, maka segeralah membenahi kesahalan itu dan menyempurnakan shalatnya serta disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi.”

Sementara itu, jika seseorang baru ingat setelah beberapa lama, maka shalatnya dianggap rusak dan ia harus segera mengulangi shalatnya lagi, sebagaimana yang diterangkan oleh Ibrahim al-Baijuri (w. 1276 H) di dalam Hasyiah-nya atas kitab Fath al-Qarib al-Mujib: “]ika renggang waktu antara lupa dan ingat itu cukup lama menurut ukuran kebiasaan, maka diulangilah shalat itu dari awal.”

Selanjutnya, jika seseorang sengaja tidak membaca bagian tertentu dari Surah al-Fatihah, tidak membaca ayat-ayatnya sesuai urutan, atau misalnya mengganti huruf tertentu di dalamnya dengan huruf lain, dan sama sekali bukan karena lupa, maka dalam hal ini shalatnya menjadi tidak sah. Ibn Qasim al-Ghazzi (w. 918 H) di dalam Fath al-Qarib al-Mujib fi Syarh Alfazh at-Taqrib mengatakan: “Barangsiapa yang tidak membaca satu huruf atau satu tasydid dari Surah al-Fatihah, atau mengganti satu huruf dengan huruf yang lainnya, maka bacaannya tidak sah, begitu juga shalatnya jika ia melakukannya dengan sengaja. ]ika tidak disengaja, maka wajib baginya mengulangi bacaannya. Wajib juga membaca Surah al-Fatihah dengan tertib, yaitu dengan membaca ayat-ayatnya sesuai dengan urutan yang sudah diketahui.” Wallahu a’lam.[]

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

berdoa setelah membaca alfatihah

Kesalahan yang Disengaja dalam Membaca al-Fatihah Ketika Shalat

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Yang penulis maksud dengan kesalahan yang disengaja dalam membaca al-Fatihah di sini adalah ketika seseorang yang sedang shalat lalu dengan sengaja melakukan kesalahan dalam pengucapan lafazh-lafazhnya, atau misalnya ketka ia tidak memperhatikan bacaan yang benar padahal ia mampu membacanya dengan baik dan benar. Dalam hal ini tentu saja ada perbedaan hukum antara yang sengaja dan tidak sengaja, atau karena ketidaktahuan.

Zainuddin al-Malibari (w. 987 H) di dalam Fath al-Mu’in menjelaskan bahwa jika seseorang memang mampu membaca dengan benar, atau memungkinkan untuk belajar, lalu ia mengganti satu huruf dalam surah al-Fatihah dengan huruf lainnya, walaupun misalnya mengganti huruf dhad menjadi zha’, atau melakukan kesalahan dalam hal bacaan yang bisa merusak makna, seperti mengkasrahkan huruf ta’ dalam kata an’amta menjadi an’amti, atau mendhammahkannya menjadi an’amtu. Contoh lain misalnya mengkasrahkan huruf kaf dalam kalimat iyyaka menjadi iyyaki, jika hal itu dilakukan dengan sengaja, bahkan ia sendiri sebenarnya mengetahui keharamannya, maka shalatnya menjadi batal dan tidak sah. Adapun jika tidak disengaja dan tidak mengetahui keharamannya, maka yang tidak sah hanya bacaannya al-Fatihahnya saja, yang jika belum berselang lama kemudian ia membenarkan bacaannya, maka bacaannya menjadi sempurna. Demikian juga, (lanjut beliau) kesalahan bacaan yang tidak sampai merusak makna, seperti membaca huruf dal dalam kata na’budu dengan fathah sehingga menjadi na’buda, jika disengaja, maka hukumnya haram, atau setidaknya makruh.

Al-Malibari juga mencontohkan jika seseorang mengucapkan lafazh ar-rahman tanpa mengidghamkan huruf lam ke dalam huruf ra’ sehingga menjadi al rahman, jika hal itu dilakukan oleh seseorang karena suatu kesengajaan padahal ia mampu membacanya dengan baik, atau oleh orang yang tidak mampu membaca karena tidak mau belajar, maka batal shalatnya. jika tidak demikian, maka yang batal hanyalah bacaan kalimat tersebut saja. Atau misalnya ketika seseorang menghilangkan tasydid pada huruf ya’ dalam lafazh iyyaka, sementara ia sendiri mengerti maknanya, maka ia dihukumi kafir, sebab arti lafazh tersebut berubah maknanya menjadi “sinar matahari”. Sehingga jika demikian maka ayat yang dimaksud bisa berubah arti menjadi (menyembah dan meminta pertolongan kepada sinar matahari’. Adapun jika tidak disengaja, maka hendaknya ia sujud sahwi. Lain lagi misalnya ketika seseorang membaca tasydid huruf-huruf yang sebenarnya tdak bertasydid, maka shalatnya tetap sah, namun tetap saja hukumnya haram, sama seperti ketika ia menghentkan bacaan antara huruf sin dan ta’ dalam kata nasta’in. Wallahu a’lam.[]

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Lillah

Perjuangan Ini Tak Bertaburkan Bunga

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Jalan dakwah
Begitulah jalan yang telah dipilihkan untuk para pejuang
Jalan dakwah
Itulah jalan yang mengajarkan kepada kita tentang arti berkorban
Di jalan ini, kita mengerti tentang berbagai ujian
Dan di jalan ini, sejatinya kira sedang menapaktilasi kisah para Nabi dan Rasul

Hingga Dr Abdullah Azzam mengatakan dengan tegas,
“Wahai saudara-saudaraku.
Jalan dakwah itu dikelilingi oleh “makaruh” (hal-hal yang tidak disukai), penuh dengan bahaya, dipenjara, dibunuh, diusir dan dibuang. Barangsiapa ingin memegang suatu prinsip atau menyampaikan dakwah, maka hendaklah itu semua sudah ada dalam perhitungannya.

Dan barangsiapa menginginkan dakwah tersebut hanyalah merupakan tamasya yang menyenangkan, kata-kata yang baik, pesta yang besar dan khutbah yang terang dalam kalimat-kalimatnya, maka hendaklah dia menelaah kembali dokumen kehidupan para rasul dan para da`i yang menjadi pengikut mereka, sejak dien ini datang pertama kalinya sampai sekarang ini.”

Kita buka kembali lembaran sejarah
Tentang perjalanan para pengemban amanah
Hidupnya dipenuhi rasa lelah
Tak jarang berjumpa dengan masalah

Kita tahu seperti apa Nabi Musa akan dihabisi oleh Fir’aun
Kita juga paham seperti apa
Nabi Yusuf harus dipenjara walau bukan kesalahannya
Bahkan Rasulullah Muhammad dihina dan dilempari batu kala menegakkan kalimatullah

Saudaraku…
Jika kita merasa berat dan banyak kesulitan
Yakinlah itulah jalan manusia pilihan
Setiap duka derita kan menjadi pahala
Dan setiap kebaikan yang dilakukan kan menjadi jembatan menuju Surga

Hasbunallah wa ni’mal wakil

Wallahu a’lam bisshawwab

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Beruntung Memiliki Istri Sholihah

QANAAH ISTRI MEMBUAT KELUARGA BAHAGIA

📝 Pemateri: Ustadzah DR. Aan Rohanah, Lc , M.Ag

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Sikap qanaah adalah ridha atas pemberian Allah walaupun sedikit, dan tidak berharap apalagi berambisi untuk mendapatkan apa yang dimiliki oleh orang lain.

Sikap qona’ah itu membuat seorang istri tetap berprilaku baik kepada suami , ia bisa menjaga amarah dan lisan, tidak menuntut hak nafkah yang serba cukup, tidak berselisih dan bertengkar sekalipun nafkah yang diberikan suami sedikit. Karena ia selalu merasa ridha, tenang, beruntung dan bersyukur masih mendapatkan rizki dari Allah SWT. Sesuai sabda Rasulullah SAW :

” Sungguh beruntung orang yg taat kepada Islam dan dia merasa diberi rizki dg cukup serta merasa qonaah dengan apa yg telah diberikan oleh Allah ” ( HR. Muslim ).

Sikap qanaah seorang istri itu mendatangkan keberkahan dari Allah SWT. Maka saat seorang istri bisa bersikap qanaah hatinya menjadi tenang, jiwanya sabar dan fikirannya jernih sehingga ia memiliki banyak inisiatif, inovasi dan kreatifitas untuk mengelola nafkah yang sedikit agar bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Rasulullah bersabda :

” Siapa yang bisa menahan diri maka Allah membuatnya bisa menjaga kehormatannya dan siapa yang berusaha merasa cukup maka Allah akan mencukupinnya dan siapa yang berusaha sabar maka Allah akan menjadikannya sebagai orang yang sabar” ” ( HR. Bukhari dan Muslim ).

Sebaliknya jika istri tidak bersikap qanaah maka saat suami tidak mampu memberikan nafkah yang cukup maka ia merasa susah dan marah, tidak bisa menahan lisan, banyak menuntut, sering berselisih. Sikap tersebut menghancurkan keharmonisan dan kebahagiaan keluarga.

Dengan demikian sikap qanaah seorang istri di tengah kesulitan ekonomi dapat menjaga keharmonisan keluarga , sehingga suami dan anak-anak mereka tetap hidup dengan tenang, nyaman dan bahagia.

“Harta itu sangat menggiurkan, bila ada orang yg mengambil banyak harta untuk berderma maka dia mendapat kelapangan, bila dia mengambil banyak untuk kesenangan diri, maka dia tidak akan mendapat keberkahan seperti orang yang makan tapi tidak merasa kenyang, dan tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah” ( HR. Muttafaq ‘alaihi ).

Wallahu a’lam bish showab

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Sebarkan! Raih Pahala


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Lillah

Menjadikan Jiwa Tenang dalam Menghadapi Musibah

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Masalah kehidupan akan selalu silih berganti mendatangi manusia. Tak ada satu pun dari kita terlepas dari ujian itu. Dan orang beriman tahu bahwa kadar ujian tergantung keshalihan seorang hamba.

Kita ingat bagaimana para Nabi dan Rasul juga salafussaleh seperti apa ujian yang dialami. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, suatu hari seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya?” Beliau SAW menjawab: “Para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang sesudah mereka secara berurutan berdasarkan tingkat keshalihannya. Seseorang akan diberikan ujian sesuai dengan kadar agamanya. Bila ia kuat, ditambah cobaan baginya. Kalau ia lemah dalam agamanya, akan diringankan cobaan baginya. Seorang mukmin akan tetap diberi cobaan, sampai ia berjalan di muka bumi ini tanpa dosa sedikit pun.” (HR Bukhari).

Berbaik sangka kepada Allah atas semua yang terjadi. Menikmati segala yang telah dihadirkan, dan belajar mengambil hikmah dari kesulitan yang ada. Dan bila masalah itu hadir belajar untuk tetap tenang karena semua yang terjadi tak lepas dari rencana terbaik dari Allah. Serahkan saja segala urusan pada Nya. Allah lah yang akan menyelesaikan urusan Nya. Karena semua ada takarannya.

Sungguh luar biasa firman Allah yang mengingatkan dalam surat at thalaq ayat 3. “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”

Musibah hadir dalam kehidupan manusia bagaikan air yang keruh, semakin diaduk-aduk kondisinya semakin keruh. Maka bersabar dan tenanglah dalam menghadapi masalah, karena ketika mau menanti sejenak tentu air akan menjernih.

Bersabarlah insya Allah semua akan berakhir indah.
Bersabarlah insya Allah segala urusan akan bertemu jalan yang mudah.

Wallahu a’lam bisshawwab

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Di Surga Bersama Orang yang Dicinta

Di Surga Bersama Orang-Orang Tercinta

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ
قِيلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ قَالَ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Dari Abu Musa dia berkata; Diberitahukan kepada Nabi ﷺ bahwa ada seseorang yang mencintai suatu kaum, namun dia sendiri belum bisa (melakukan hal baik) seperti mereka bahkan menyamainya. Beliau bersabda, “Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya.”

(HR. Bukhari no. 6170)

Pelajaran:

– Makna : وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ, yaitu dia tidak mampu beramal seperti mereka, kedudukannya tidak seperti mereka, dan di dunia tidak bermajelis dengan mereka.

– Makna : الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ, yaitu dia berkumpul bersama orang-orang yang dicintainya di akhirat.

– Anjuran mencintai orang-orang shalih, para ulama,dan ahli ibadah, walau amal kita tidak sampai seperti mereka dalam kualitas dan kuantitas, atau belum pernah berjumpa dengan mereka.

– Dengan cinta itu membuat kita dikumpulkan bersama mereka di surga. Imam Ibnul Mualaqqin mengatakan: “Ini adalah dalil bahwa siapa yang mencintai seorang hamba karena Allah, maka Allah akan mengumpulkan antara dia dan orang yang dicintainya karena ketaatannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla di surgaNya walau dia amalnya terbatas.” (At Taudhih Lisyarhi Al Jaami’ ash Shaghiir, jilid. 28, hal. 585)

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Ilmu

Gelorakan Spirit Santri; Mempelajari Ilmu Agama

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Tanggal 22 Oktober ditetapkan pemerintah RI sebagai hari Santri nasional. Ini tentu saja memberikan makna bahwa peran para ulama dan santri dalam sejarah perjuangan bangsa tidak dapat dipungkiri dan seharusnya kita kenang..

Karena memang sejarah mencatat dengan jelas bagaimana para ulama dan santrinya, bukan hanya berjasa pada bangsa ini dalam menyebarkan ilmu, khusunya ilmu agama di tengah masyarakat, tapi mereka pun ikut angkat senjata bersama berbagai elemen masyarakat lainnya dalam perjuangan melawan penjajah.

Karenanya hari Santri ditetapkan berdasarkan tanggal dikeluarkannya resolusi jihad oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, rahimahullah, yaitu pada tanggal 22 Oktober 1945 di Surabaya.

Penjajah sudah sekian lama meninggalkan negeri kita. Perjuangan bersenjata mengusir penjajah sudah tidak berlaku lagi. Namun kiprah dan spirit santri tidak boleh hilang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Spirit utama dalam kehidupan santri adalah spirit dalam mempelajari ilmu agama. Maka sejatinya, hari santri yang diperingati ini bukan hanya berlaku untuk kalangan santri saja, tapi untuk mengingatkan kaum muslimin agar memiliki mental santri, yaitu orang yang selalu termotivasi dan semangat untuk selalu mempelajari dan memahami agamanya.

Sebab, masalah mempelajari agama, jangankan dalam kondisi normal, dalam kondisi perang sekalipun, Al-Quran mengingatkan kita untuk tidak meninggalkannya.

Allah Taala berfirman,

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah: 122)

Hal ini tak lain karena nilai-nilai agama sangat dibutuhakn oleh seorang muslim, bukan hanya terkait dengan praktek ibadah sehari-hari, tapi lebih dari itu sangat dibutuhkan untuk menjadi pedoman dan pegangan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, baik ruang lingkup individu, keluarga, bermasyarakat hingga bernegara. Nah, menghadirkan nilai-nilai agama dapat dimulai dengan mempelajari ajaran agama itu sendiri.

Karena itu kaum muslimin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Taala.

Kita sangat bersyukur jika kita dapati pada masa sekarang ini kemudahan untuk mempelajari ilmu-ilmu agama. Di masjid-masjid, sekolah dan kampus, perkantoran dan tempat lainnya, banyak diselenggarakan kajian-kajian keislaman. Sehingga kita tidak kesulitan untuk mendapatkan kebaikan di dalamnya. Hal inipun dapat kita tambah dengan kesempatan mendalami ilmu agama lewat membaca buku-buku keislaman, atau tayangan kajian di televisi dan di dunia maya.

Tinggal yang kita butuhkan adalah kesadaran dan kemauan untuk melakukannya. Kesadaran bahwa mempelajari agama pada hakekatnya bukan hanya kewajiban ulama, ustaz atau kalangan santri saja, tapi kewajiban sekaligus kebutuhan setiap muslim, siapapun dia, apapun kedudukannya. Semakin dini kesadaran ini dimiliki, semakin mendorong kemauan untuk mempelajari agama. Semakin dini seseorang belajar agama, semakin banyak kebaikan yang akan didapatkan insyaAllah.

Mempelajari agama semakin tampak kita butuhkan, ketika kita sadari bahwa tantangan yang ada sekarang ini semakin kompleks. Tidak cukup kita hanya mengandalkan kepandaian semata atau kekuatan materi dan fisik semata. Sangat dibutuhkan kekuatan mental yang berbasis pada kekuatan iman dan pemahaman agama yang baik.

Maka dari sini akan kita dapatkan bahwa mempelajari ilmu agama berdampak erat pada kehidupan sosial kemasyarakatan, bahkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena itu, semangat jihad yang sudah diwariskan dari para ulama dan santri di masa-masa perjuangan bangsa ini, dapat kita warisi dan tetap kita lanjutkan, di antaranya dengan bersemangat membekali diri kita dengan pemahaman yang terhadap ajaran Islam melauli majelis-majelis ilmu yang dapat kita hadiri.

Hal ini sesuai dengan semangat yang digelorakan oleh Rasulullah saw, bahwa siapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka pada hakekatnya dia sedang keluar di jalan Allah.

مَن خرَج في طَلَبِ العِلمِ، كان في سَبيلِ اللَّهِ حَتَّى يرجِعَ

Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah hingga kembali. (HR. Tirmizi)

Karena itu, di hari santri ini, selain kita diingatkan untuk mengenang jasa para ulama dan para santri yang telah berjasa memperjuangkan negeri ini merebut kemerdekaan dari penjajah, hendaknya di sisi lain menjadi pengingat dan motivasi kuat bagi kita sesama anak bangsa yang beragama Islam untuk jangan malas dan terus bersemangat menangkap spirit kaum santri, yaitu semangat belajar ilmu agama. Semakin tinggi kesadaran ini muncul di tengah masyarakat, insyaAllah akan semakin baik dan semakin mendatangkan keberkahan dari Allah Talaa.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم….

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678