Kenikmatan Waktu Luang dan Sehat

Lima Perkara Yang Nabi Saw Meminta Perlindungan Kepada Allah Agar Terhindar Darinya

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْ خَمْسٍ مِنْ الْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَفِتْنَةِ الصَّدْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَسُوءِ الْعُمُرِ (رواه أحمد وأبو داود والنسائي)

Dari Umar ra berkata, bahwa Nabi Saw berlindung dari lima perkara, ‘(yaitu) dari sifat bakhil, pengecut, fitnatush shadr (meninggal sebelum bertaubat), siksa qubur dan umur yang buruk.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i )

©️ Takhrij Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, hadits no 139, juga oleh Imam Abu Duad dalam Sunannya, Kitab As-Shalat, Bab Fil Isti’adzah, hadits no 1316. Juga oleh Imam Nasa’i dalam Sunannya Kitab Al-Isti’adzah, Bab Al-Isti’adzah Minal Bukhl, hadits no 5351.

®️ Hikmah Hadits:

1. Nabi Saw mencontohkan kepada kita, untuk senantiasa mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang buruk. Karena setiap perbuatan baik yang dilakukan, kebaikannya akan kembali kepada diri pelakunya sendiri, sebagaimana juga perbuatan buruk jika dilakukan, keburukannya tersebut juga akan kembali kepada diri pelakunya sendiri. Dan berkenaan dengan hal tersebut, Allah Swt berfirman;

(إِنۡ أَحۡسَنتُمۡ أَحۡسَنتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡۖ وَإِنۡ أَسَأۡتُمۡ فَلَهَاۚ…)

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. (QS. Al-Isra’ 7)

2. Diantara perbuatan, sifat dan perkara buruk yang ditinggalkan Nabi Saw, bahkan Nabi Saw meminta perlindungan kepada Allah Swt dari perbuatan-perbuatan tersebut adalah lima hal yg disebutkan dalam hadits di atas, yaitu ;

a) Berlindung dari kebakhilan ( البخل ), yaitu sifat pelit dan kikir, tidak mau berbagi, suka menggenggam dan menimbun harta. Sifat bakhil ini sangat tercela, pelakunya terancam dengan azab neraka, terlebih ketika kebakhilannya menjadi penyebab tidak menunaikannya kewajiban zakat. Selain itu, sufat bakhil juga dapat menimbulkan dampak sosial yg besar, seperti adanya kesenjangan antara yg kaya dengan yg miskin, meningkatnya kriminalitas, dsb.

b) Berlindung dari sikap jubn atau pengecut ( الجبن ), yaitu suatu sikap pragmatis, mencari selamat dan keuntungan pribadi, tidak berani dan tidak mau berkorban untuk menegakkan kebenaran. Sikap jubn seperti ini diantaranya dimiliki oleh orang2 munafik, sebagaimana difirmankan Allah Swt dalam Al-Qur’an;

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِینَ نَافَقُوا۟ یَقُولُونَ لِإِخۡوَ ٰ⁠نِهِمُ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَـٰبِ لَىِٕنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِیعُ فِیكُمۡ أَحَدًا أَبَدࣰا وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ یَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَـٰذِبُونَ, لَئنۡ أُخۡرِجُوا۟ لَا یَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ وَلَىِٕن قُوتِلُوا۟ لَا یَنصُرُونَهُمۡ وَلَىِٕن نَّصَرُوهُمۡ لَیُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَـٰرَ ثُمَّ لَا یُنصَرُونَ)

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudaranya yang kafir di antara Ahli Kitab, “Sungguh, jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun demi kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantumu.” Dan Allah menyaksikan, bahwa mereka benar-benar pendusta. Sungguh, jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tidak akan keluar bersama mereka, dan jika mereka di-perangi; mereka (juga) tidak akan menolongnya; dan kalau pun mereka menolongnya pastilah mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan.(QS. Al-Hasyr 11 – 12)

c). Berlindung dari fitnatus Shadr ( فتنة الصدر ). Ulama beragam dalam menerjemahkan makna dari fitnatus Shadr. Dalam kitab Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud disebutkan beberapa pendapat, diantaranya pendapat Ibnu Al-Jauzy yang mengatakan bahwa yg dimaksud dgn fitnatus shadr adalah meninggal dunia sebelum sempat bertaubat. Sementara Al-Asyrafy mengemukakan bahwa yg dimaksud adalah sifat hasad, dengki, akhlak yg buruk, keyakinan yg bertentangan dgn keridhaan Allah Swt yang masih tersimpan di dalam dada (hati) seseorang. Pada intinya, fitnatus Shadr adalah perbuatan dosa, dan keburukan yg tersimpan di dalam diri seseorang, yg dibawa hingga meninggal dunia, dan belum sempat bertaubat kepada Allah Swt, na’udzubillahi min dzalik.

d). Berlindung dari adzab kubur ( وعذاب القبر ), yaitu adzab yg Allah timpakan kepada orang2 kafir, dzalim, aniaya dan berbuat maksiat kepada Allah Swt di dalam kuburnya (alam barzakh). Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut;

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا هَذَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ وَأَمَّا هَذَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ (متفق عليه)

Dari Ibnu Abbas berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati dua kuburan, kemudian beliau bersabda: ” Keduanya sedang disiksa, dan mereka disiksa bukan karena dosa besar. Yang ini disiksa karena tidak menutup diri ketika buang air kecil, dan yang satu lagi disiksa karena suka mengadu domba.” (Muttafaqun Alaih)

e). Berlindung dari su’il umur ( وسوء العمر ). Dalam syarah hadits disebutkan bahwa yg dimaksud dengan su’il umur adalah usia yg sampai pada derajat kepikunan, hilangnya sebagian besar ingatan, sehingga kembali menjadi spt anak kecil dalam ingatan, perkataan dan perbuatan. Ada juga yg mengatakan bahwa yg dimaksud su’il umur adalah usia yg buruk lantaran tidak digunakan semasa hidupnya untuk ketaatan dan amal shaleh, namun justru dihabiskan utk kemaksiatan dan amal salah.

3. Oleh karena itulah, mari kita berusaha untuk senantiasa menghiasi diri dengan amal shaleh dan menghindarkan diri dari amal salah, serta meminta perlindungan kepada Allah Swt dari kelima hal di atas, yaitu sifat bakhil, sikap pengecut, fitnatus Shadr (keburukan yg masih tersimpan di dalam diri seseorang dan dibawa hingga wafat tidak sempat bertaubat), adzab kubur dan su’il umur. Dan semoga kita semua senantiasa Istiqamah dalam kebaikan serta kelak dianugerahkan Allah Swt husnul khatimah.
Amiin ya Rabbal alamin

اللهم إنا نعوذ بك من البخل والجبن وفتنة الصدر وعذاب القبر وسوء العمر

Ya Allah sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari sifat bakhil, sikap pengecut, fitnatis Shadr, adzab kubur dan dari su’il umur.

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Gemar Berbuat Baik

Membaca al-Qur’an dalam Keadaan Berhadats Kecil

📚 Interaksi Al-Quran

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Boleh hukumnya membaca al-Qur’an bagi yang berhadats kecil dengan syarat tidak memegang mushaf. Imam an-Nawawi (w. 676 H) di dalam at-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an mengatakan: “Seseorang disunnahkan membaca al-Qur’an dalam keadaan suci. Namun, jika ia membacanya dalam keadaan berhadats, maka hukumnya boleh sebagaimana disepakati oleh para ulama, dan hadits-haditsnya pun banyak. ”Di dalam al-Majmu’ Syarh al Muhadzdzab beliau juga mengatakan: “Para ulama sepakat tentang bolehnya membaca al-Qur’an bagi orang yang berhadats kecil, namun yang paling utama adalah berwudhu terlebih dahulu sebelum membacanya.”

Di antara dalilnya adalah sebuah riwayat bahwa ‘Ali ibn Abi Thalib ra. pernah mengatakan: “Rasulullah saw. pernah masuk ke kamar kecil lalu menyelesaikan hajatnya. Beliau kemudian keluar serta makan roti dan daging bersama kami, beliau juga membaca al-Qur’an. Tidak ada sesuatupun yang menghalanginya dari membaca al-Qur’an selain junub.” (HR. Ibn Majah) Dari riwayat ini jelas sekali bahwa Rasulullah saw. sendiri pernah membaca al-Qur’an dalam keadaan berhadats kecil.

Ada juga riwayat dari Abdullah ibn ‘Abbas ra. bahwa beliau pernah menginap di rumah Maimunah, istri Nabi saw. yang juga adalah bibinya. Ia bercerita: “Maka saya berbaring di kasur, dan Rasulullah saw. berbaring serta istrinya (berbaring juga di kasur) yang membentang. Rasulullah saw. tidur sampai pertengahan malam. Hingga sebelum atau sesudahnya (lewat) sedikit, Rasulullah saw. bangun dan duduk kemudian mengusap wajahnya dengan tangannya, setelah itu beliau membaca sepuluh ayat terakhir di surah Ali Imran. Rasulullah kemudian berdiri ke tempat bejana yang tergantung dan berwudu dengan sebaik mungkin darinya kemudian berdiri menunaikan shalat.” Imam al-Bukhari (w. 256 H) sendiri yang menyampaikan hadits ini di dalam kitab Shahih-nya, beliau memberi judul dengan “Bab Bacaan al-Qur’an Setelah Berhadats dan Selainnya.” Dan memang jelas sekali bahwa dalam riwayat ini setelah Rasulullah saw. bangun dari tidurnya, beliau langsung membaca ayat ayat al-Qur’an. Tidur sendiri-sebagaimana disepakati-menjadi salah satu yang membatalkan wudhu.

Siti ‘Aisyah ra. sendiri-sebagaimana juga disebutkan al-Bukhari di dalam Shahih-nya-pernah mengatakan bahwa Rasulullah saw. memang selalu berdzikir dalam setiap keadaannya. Dan dzikir di dalamnya juga bisa mencakup al-Qur’an, karena memang ia adalah dzikir yang paling utama.[]

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : manis.id

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

tawadhu

Perjalanan Menuju-Mu

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

“Wahai manusia! sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya.

Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah,
dan dia kembali kepada keluarganya yang Sama-sama beriman dengan gembira. ”
QS. Al-Insyiqaq ; 84 : 6 – 9

Apa sesungguhnya yang kita cari?
Dari pagi hingga petang
Dari fajar hingga malam menjelang
Kerja keras dan banting tulang

Kadang penat yang melunturkan semangat
Kadang lelah yang membuat hati gundah

Mengisi hari dengan kesibukan kadang buat kita lupa akan wajibnya sebuah amalan.
Mengawali hari tanpa doa dan harapan hingga sia-sia sepanjang perjalanan.

Tiada guna jalani hidup tanpa tujuan.
Tak mendapati ridla dari pemilik kehidupan.
Lantas apa yang kita dapatkan.
Tak bernilai pahala dari yang kita kerjakan.

Mari mulai meluruskan niat dalam amalan.
Hingga apa yang kita kerjakan bisa menjadi bekalan.
Untuk menempuhi kehidupan yang berkekalan.
Berkumpul di surga bersama orang-orang yang beriman.

Bila hati diliputi rasa cinta
Cukuplah hanya pada Sang pencipta
Bila jiwa dibalut rasa taqwa
Hanya Allah yang jadi tujuan utamanya.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

sabar dan ikhlas

BERSABAR, BERIKHTIAR DAN BERBAIK SANGKA DALAM MENJEMPUT TAKDIR

📝 Pemateri: Ustadzah DR. Aan Rohanah, Lc , M.Ag

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Pada saat suami istri sedang diuji oleh Allah dengan kemiskinan dan kesulitan, mereka hendaknya dapat saling menasihati, saling mensuport dan saling menggembirakan agar hubungan mereka tetap harmonis.

Jika suatu saat suami pulang dengan membawa kegagalan setelah berhari-hari mencari pekerjaan dalam keadaan lemas dan putus asa, ia menyampaikan keluhan tentang sulitnya mendapatkan pekerjaan maka istri tidak boleh marah kepada suami apalagi mempersalahkannya serta menambah beban dengan menuntut hak nafkahnya yang cukup.

Seharusnya istri di saat seperti itu dapat menghiburnya dengan kata-kata yang lembut dan mengingatkan suaminya agar tetap bersungguh-sungguh mencari rizki disertai dengan perasaan optimis serta berbaik sangka kepada Allah dan banyak bersyukur sekalipun dalam kondisi sulit agar dapat menjemput takdir yang baik dari sisi Allah SWT.

Bukankah dengan kerja yang sungguh -sungguh Allah akan memberikan kemudahan dan solusi yang tepat untuk mendapatkan nafkah bagi kekuarganya (29:69).

Bukankah dengan perasaan optimis dan berbaik sangka kepada Allah maka Dia akan memberikan sesuai dengan dugaan baiknya tersebut. Ingatlah dalam Hadits qudsi, Allah berfirman : ” Aku sesuai dengan apa yang disangkakan hamba-Ku kepada-Ku”.

Bukankah bersyukur dalam keadaan senang dan sulit itu dapat menambah banyak nikmat dari Allah sesuai dengan firman-Nya :
” Jika kalian bersyukur maka Aku tambahkan nikmat kepada kalian ” ( Qs.14 : 7).

Wallahu a’lam bish showab

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷


Sebarkan! Raih Pahala

Dipersembahkan oleh : manis.id

📲 Follow IG MANIS: http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Penduduk Langit dan Bumi Mendoakan Pengajar Kebaikan

Jalan Menuju Surga

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

Menjadi produktif begitulah sejatinya seorang muslim. Selalu berpikir apa yang harus dilakukan agar keridhaan Allah hadir dalam kehidupan kita. Ada ide kreatif dan inovatif sehingga melahirkan karya-karya fenomenal. Atau dari apa yang dilakukan menjadi pahala yang akan membawanya tinggal di surga.

Muslim produktif itu tidak kenal lelah, mereka pantang menyerah, bahkan merelakan kepentingan pribadinya hanya untuk mendahulukan apa yang dikehendaki oleh Allah. Sehingga akan menjaga kewaspadaan bahwa Allah mengawasi segala tindak tanduk yang kesehariannya.

Sering kita merasakan tubuh penat, lelah bahkan untuk beranjak saja berat. Apakah perlu untuk mengeluh? Tidak! Karena perlu disadari bahwa rasa lelah yang mendera itulah sejatinya aroma semerbak surga. Mari kita berbincang tentang lelah yang akan membawa ke Jannah.

1. Bekerja keras di jalan Allah. Ketika kita sudah dewasa maka tanggung jawab pada diri sendiri dan keluarga harus ada. Memenuhi kebutuhan diri, sehingga fisik terjaga kesehatannya dan ada jaminan untuk keberlangsungan hidupnya menjadi keniscayaan. Apalagi ketika punya keluarga. Nafkah harus diberikan. Maka setiap kita bekerja untuk pemenuhnnya. Kelelahan seperti ini menjadi alasan surga kita dapatkan.

Artinya: “Barangsiapa yang di waktu sore merasa capek (lelah) lantaran pekerjaan kedua tangannya (mencari nafkah) maka di saat itu diampuni dosa baginya.” (HR. Thabrani).

2. Berdakwah untuk menyampaikan kebenaran. Berdakwah ilallah. Menyampaikan kebenaran hingga merasakan lelah ini jelas sekali. Lebih tepatnya bisa disimpulkan bahkan setiap langkah di jalan dakwah tak lain sedang melangkah menuju surga.

Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Turmudzi).

3. Beribadah kepada Allah. Penghambaan diri kita kepada Allah denga banyak cara hingga kita merasakan lelah. Ketika lama betilawah, ketika shalat malam, shalat Sunnah dan apa saja. Beribadah adalah sebuah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah hingga kepayahan kita rasakan.

Nabi mengatakan,

ما من مكلوم يكلم في سبيل الله والله أعلم بمن يكلم في سبيله إلا جاء يوم القيامة وكلمه يثعب دما ، اللون لون الدم ، والريح ريح المسك

“Tidak ada seorangpun yang terluka di jalan Allah, dan Allah lebih tahu siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya (yakni yang jujur dan ikhlas)-, kecuali dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan lukanya mengalirkan darah, warnanya warna darah, dan aromanya aroma kasturi (misk).” (HR. Tirmidzi)

4. Menuntut Ilmu dan mengajarkannya. Diwajibkan atas muslim untuk menuntut ilmu. Bersusah payah memahami ilmu itulah jalan ke surga. Seperti diisyaratkan dalam hadits.

Kata Nabi, Man Salaka Thoriiqon Yaltamisu Fiihi Ilman Sahhalallahu Lahu Thoriiqon Ila Al Jannah. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang artinya ”Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga”.

5. Mengajak orang untuk masuk barisan dakwah.
Dalam QS An Nahl 125 Allah berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Kita punya kewajiban mengajak orang lain untuk masuk ke dalam barisan dakwah sehingga semakin banyak pasukan yang akan meninggikan kalimat Allah.

.6. Membimbing keluarga agar tertarbiyah islamiyah. Kita perlu menjaga keluarga kita untuk berada di jalan kebenaran. Memberikan bimbingan terbaik. Karena bahagia itu tak hanya ingin dirasakan di dunia tapi hingga surga.

Dalam surat An Nisa ayat 9, Allah berfirman”Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”

7. Hamil dan meyusui. Seperti apa lelahnya? Masya Allah laa quwwata Illa Billah. Tak terbalas jasa ibu tentang hal ini.

Rasulullah SAW bersabda, “Ketika seorang perempuan menyusui anaknya, Allah membalas setiap isapan air susu yang diisap anak dengan pahala memerdekakan seorang budak dari keturunan Nabi Ismail, dan manakala perempuan itu selesai menyusui anaknya maka malaikat pun meletakkan tangan ke atas sisi perempuan itu seraya berkata, ‘Mulailah hidup dari baru karena Allah telah mengampuni semua dosa-dosamu.’”

8. Lelah orang yang kelelahan dan sakit. Insya Allah setiap rasa sakit akan dikurangi dosa manusia dan tentu balasan surga akan diraihnya. Telah menjadi ketetapan dari Allah SWT bahwa setiap manusia pasti pernah mengalami sakit dan musibah selama hidupnya.

Allah SWT: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ”. (QSa al-Baqarah : 155-157)

Wallahu a’lam bisshawwab

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Beruntung Memiliki Istri Sholihah

MENSUCIKAN KEHIDUPAN RUMAH TANGGA DARI PERSELISIHAN

📝 Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Sos., M.Si.

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

1️⃣ Selektif saat memilih pasangan

Menjalankan ta’aruf yang benar dengan mengenal psikologis, pola asuh, sifat-sifat dan kebiasaan pasangan disamping pengenalan fisik. Pilih pasangan yang banyak memiliki kedekatan dalam hal-hal pribadi.

Rasulullah SAW bersabda: “Ruh itu bagaikan pasukan yang berbaris. Siapa saja yang saling mengenal, bisa berpadu. Dan siapa saja yang saling bertentangan, akan terus berselisih.” (HR Bukhori)

2️⃣ Tidak cemburu berlebihan dan tidak cuek. Pondasi hubungan suami istri adalah saling percaya (ats tsiqoh al mutabadilah).

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di antara cemburu ada yang dicintai Allah dan ada pula cemburu yang dibenci Allah. Di antara sikap berbangga diri ada yang disukai Allah dan ada pula sikap berbangga diri yang dimurkai Allah. Adapun kecemburuan yang disukai Allah adalah kecemburuan (dalam hal keragu-raguan). Kecemburuan yang dibenci Allah adalah kecemburuan di luar hal itu. Adapun sikap berbangga diri yang disukai Allah adalah bangganya seseorang ketika maju ke medan pertempuran di saat terjadinya bencana. Sikap bangga yang dibenci Allah adalah bangga dalam hal kebatilan” (HR Abu Daud, An-Nasai dan Ibnu Hibban).

3️⃣ Memberi kepuasan kepada istri.

Allah SWT berfirman: “Dan apabila mereka (perempuan-perempuan haid) telah suci, datangilah mereka dari arah yang telah diperintahkan Allah kepada kalian.” (QS Al-Baqarah : 222).

Secara umum, para istri seringkali tertinggal mendapatkan kepuasan dalam berhubungan suami istri. Dalam hal ini para suami perlu memahami kebutuhan istri dan berusaha untuk memenuhi kepuasan biologisnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Jika seseorang diantara kalian mendatangi istrinya di tempat tidur hendaklah ia jujur kepadanya. Jika suami telah terpenuhi kebutuhannya sementara istri belum terpenuhi maka bersabarlah sampai terpenuhi kebutuhan istrinya.” (HR Abdur Razzak dan Abu Ya’la)

4️⃣ Suami siaga.

Saat Umar bin Khottob RA sedang berkeliling Madinah, ia mendengar seorang perempuan bersenandung kesepian. Umar bertanya siapakah perempuan itu. Orang-orang mengatakan, ia seorang perempuan yang ditinggal pergi suaminya untuk berjihad di jalan Allah. Maka Umar memintanya untuk menyusul dan mendampingi suaminya. Kemudian Umar menemui Hafsah putrinya dan bertanya: “wahai putriku, berapa lama seorang istri kuat ditinggal suaminya?” Hafsah terkejut dan mengatakan: “Subhanallah, orang sepertimu masih bertanya seperti itu?”. Umar menjawab: “Kalau bukan karena urusan kaum muslimin, aku tidak akan menanyakannya.” Maka Hafsah menjelaskan: “Lima bulan atau enam bulan.” Maka Umar membuat peraturan pasukan kaum muslimin berganti di dalam tugasnya yang jauh setiap enam bulan sekali.

5️⃣ Istri sigap memenuhi kebutuhan biologis suaminya.

Rasulullah SAW bersabda: “Demi diriku yang berada di genggamanNya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur kemudian istrinya menolak, kecuali Dia yang berada di langit marah kepadanya sampai suaminya memberikan ridhonya.” (HR Syaikhon)

6️⃣ Istri tidak melakukan shaum sunnah tanpa izin suami.

Islam sangat memperhatikan kebutuhan manusia termasuk kebutuhan dasar suami istri.

Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah seorang istri melakukan shaum kecuali atas izin suaminya.” (HR Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Hibban)

7️⃣ Membantu suami saat sempitnya dan menjaga hartanya saat lapangnya.

Kisah yang sangat populer adalah kisah Asma binti Abu Bakar RA yang menceritakan: “Zubair menikahiku dan dia sama sekali tidak memiliki harta maupun sahaya. Tidak juga memiliki sesuatu selain kuda perang dan keledai pengangkut air. Maka aku memandikan kudanya, membersihkannya dan memberinya makan. Aku memandikan kedelainya dan memberinya makan. Aku menimba air dan mengangkutnya dengan ember. Aku menumbuk gandum menjadi tepung dan membawa gandum di kepalaku dengan berjalan sejauh tiga farsakh. Hingga ayahku mengirimkan seorang sahaya perempuan yang membantuku mengurus kuda dan keledai. Seakan-akan ayahku memerdekakanku dari perbudakan.” (Riwayat Bukhori Muslim)

8️⃣ Tidak kikir.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya tidaklah engkau menginfakkan harta yang engkau miliki mengharapkan Ridho Allah, kecuali Allah akan memberikan pahala kepadamu. Hingga harta yang engkau infakkan kepada istrimu.” (HR Bukhori)

9️⃣ Bergembira dengan karunia anak laki-laki maupun perempuan.

Allah SWT berfirman: “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS Asy-Syuro : 49)

🔟 Hati-hati dengan ipar.

Seringkali pasangan suami istri menganggap remeh masalah ipar dengan anggapan bahwa mereka adalah keluarga dekat. Namun Rasulullah SAW mengingatkan: “Ipar itu adalah kematian.” (HR Bukhori Muslim)

1️⃣1️⃣ Waspada wahai para istri.

Para istri seringkali menceritakan perempuan lain kepada suaminya dengan sangat detil tanpa rasa khawatir hal itu mengotor hati suaminya.

Bahkan Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah seorang istri memuji-muji teman perempuannya dan menyampaikan sifat-sifatnya hingga seolah-olah suaminya melihat wanita itu.” (HR Bukhori)

1️⃣2️⃣ Hindari ketidaknyamanan.

Banyak istri yang tidak memahami kondisi suaminya. Seperti dengan mengajukan berbagai pertanyaan saat suami baru saja tiba di rumah. Bahkan menyampaikan sejumlah persoalan yang membebani pikiran suami seperti kewajiban membayar iuran sekolah anak-anak, kekurangan uang belanja, dll.

Rasulullah SAW berkata kepada Jabir RA: “Carilah perempuan yang engkau bisa mencumbunya dan ia mencumbumu. Engkau bisa membuatnya tertawa dan dia bisa membuatmu tertawa.” (HR Muslim)

1️⃣3️⃣ Ingatlah wahai para suami.

Pada saat istri memasuki masa haid, ia mengalami berbagai perubahan dan gejolak di dalam jiwanya. Terkadang perubahan ini nampak pada perilakunya. Dalam kondisi seperti ini, suami harus memahami dan memperlakukan istri dengan lembut dan penuh kasih sayang tidak terpengaruh oleh perubahan sikap istrinya.

1️⃣4️⃣ Berinteraksi dengan pasangan yang tidak dicintai.

Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah seorang mukmin membenci perempuan mukminah. Jika ia membenci Sebagian akhlaknya, ia pasti mendapatkan hal lain yang disukainya.” (HR Muslim)

Wallahu a’lam bish showab

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Sebarkan! Raih Pahala


Dipersembahkan oleh : manis.id

📲 Follow IG MANIS: http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

tawadhu

Hakikat Kekayaan

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Kekayaan itu bukanlah banyaknya harta, tapi kekayaan itu adalah kaya jiwanya.

(HR. Bukhari no. 6446)

Penjelasan:

– Makna Ghina (Kekayaan) adalah apa-apa yang membuat cukup. Maka, ketika seseorang yang sudah merasa cukup, maka dia kaya. Tapi, orang yang tidak pernah merasa cukup, maka dia belum kaya, walau hartanya melimpah ruah.

– Ada pun Ghaniy, artinya orang yang memiliki kekayaan. Sedangkan Al Ghaniy (Maha Kaya) adalah salah satu asma Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji.

(QS. Al-Baqarah, Ayat 267)

– Kekayaan itu bukanlah dengan banyak al ‘Aradh, apa itu? dikatakan oleh Abu ‘Ubaid:

هو حطام الدنيا، يعنى متاعها، يدخل فيه جميع المال العرَوض وغيرها

Yaitu serpihan-serpihan dunia, yaitu kemewahannya, termasuk di dalamnya semua harta, barang, dan hal-hal lainnya.

(Dikutip oleh Al Qadhi ‘Iyadh, Ikmal Al Mu’lim, 3/586)

Allah Ta’ala berfirman:

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُۥٓ أَسۡرَىٰ حَتَّىٰ يُثۡخِنَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ ٱلدُّنۡيَا وَٱللَّهُ يُرِيدُ ٱلۡأٓخِرَةَۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٞ

Tidaklah pantas, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi. Kamu menghendaki ‘aradhad duniya (harta benda duniawi) sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.

(QS. Al-Anfal, Ayat 67)

– Kekayaan itu Ghinan Nafs (kaya jiwanya). Maksudnya jiwa yang yang cukup, jiwa yang kenyang.

Al Qadhi ‘Iyadh Rahimahullah berkata:

أن حقيقة الغنى والغنى المحمُودُ هو: غنى النفس وشبعُها وقلة حرصها، لا كثرة المال، مع الحرص على التزيد منه والشح به، فذلك فقر بالحقيقة؛ لأن صاحبه لم يستعن به بعد

Hakikat Kekayaan dan kekayaan yang terpuji adalah kaya jiwanya, jiwa yang kenyang terhadap dunia dan sedikit hasrat terhadapnya, bukan banyaknya harta lalu dia berambisi kepada harta dan kikir terhadapnya, justru itu fakir yang sebenarnya, sebab pemilik harta tersebut sama sekali tidak pernah merasa cukup. (Ibid)

– Namun, menjadi kaya harta, asalkan bersyukur dan mengelola harta untuk fisabilillah, maka itu juga keutamaan. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Amr bin al Ash Radhiallahu ‘Anhu:

يَا عَمْرو نعم المَال الصَّالح للرجل الصَّالح

Wahai Amr, Sebaik-baiknya harta adalah harta yang dimiliki (dikelola) oleh orang shalih.

(HR. Ibnu Hibban, lihat Mawarid Azh Zham’an no. 1089)

– Harta memang berpotensi membuat lalai dan fitnah, tapi justru membawa manfaat dan rahmat jika dikendalikan oleh shalih.

Demikian. Wallahu a’lam

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Taubat

Kelicikan Syetan Dalam Menyesatkan Manusia

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Kelicikan syetan Allah Ta’ala ceritakan dalam ayat berikut:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ ۖ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ ۖ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ ۗ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan berkatalah syetan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS. Ibrahim: 22)

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Imam Ibnul Jauzi Rahimahullah mengutip dari umumnya ahli tafsir:

“Pada saat ahli surga masuk ke surga, dan ahli neraka masuk ke neraka, maka penduduk neraka begitu marah kepada Iblis. Lalu Iblis pun berdiri di antara mereka dan berkhutbah, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan (di atas).”

📚 Imam Ibnul Jauzi, Zaadul Masiir fi ‘Ilmit Tafsiir, 2/510

📌 Pelajaran penting dari ayat ini:

📓 Ini adalah pengakuan syetan saat hari pembalasan

📓 Syetan mengakui Allah punya janji dan janji Allah Ta’ala adalah haq (benar).

📓 Syetan menyatakan dirinya juga berjanji tapi dia mengakui telah ingkar thdp janjinya

📓 Syetan menyatakan dia tidak berkuasa untuk memaksa manusia untuk mengikuti dirinya, tapi dasar manusianya saja yang mau mengikutinya

📓 Maka, kata syetan kepada manusia, “jangan salahkan aku tapi salahkan diri kalian sendiri”

📓 Syetan mengakui dirinya lemah dan tidak mampu menolong manusia yang mengikutinya, dan manusia itu pun tidak mampu menolong dirinya sndiri

📓 Bahkan, ternyata syetan pun tidak suka dan tidak membenarkan kalau manusia menjadi musyrik, padahal kesyirikan itu disebabkan oleh rayuannya.

📓 Syetan tidak mau disalahkan, tapi dia katakan “Jangan cerca aku, tapi cercalah diri kalian sendiri.”

Wa na’udzu billah tsumma na’udzu billah

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

 


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

masalah

Akhir Jalan Mendaki – Tadabbur QS. Al-Balad (Bag-2)

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

📝 Pemateri: Ustadz Dr. H. Saiful Bahri, M.A

Dua Jalan, Dua Konsekuensi

“Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?” (QS. 90: 11-12)

Jalan kebaikan tidaklah mudah. Karena itu ia sukar dan sulit ditempuh dan menanjak. Hanya orang-orang sabar saja yang mampu dan mau melakukannya. Jalan-jalan sulit berikut ini tak lain merupakan jawaban sekaligus pelurusan misspersepsi tentang harta:

“(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan”(QS. 90: 13)”

Karena Allah hanya menginginkan penghambaan yang sempurna kepada Dzat-Nya saja. Bukan perbudakan sesama manusia. Karena itulah salah satu misi utama agama Islam adalah menghapus dan menghilangkan perbudakan.

“Atau memberi makan pada hari kelaparan”(QS. 90: 14)”

Memberi pertolongan pada saat dibutuhkan adalah sesuatu yang mulia. Dan hal tersebut tidaklah mudah. Apalagi jika tidak didahului oleh permintaan tolong dari pihak yang memerlukan bantuan, sungguh hal tersebut menjadi berat. Hanya orang tertentu saja yang memiliki kepekaan hati dan diringankan untuk membantu.

Pemilihan kata yang sangat teliti ini menandakan bahwa pada hari itu kelaparan dijumpai di mana-mana. “hari yang memiliki orang-orang lapar di mana-mana”. Ini adalah hari paceklik dan kelaparan yang menimpa banyak orang.

“(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat” (QS. 90: 15)

Memuliakan dan menolong anak yatim adalah salah satu amal yang utama. Apalagi jika sang yatim tersebut masih ada hubungan kekerabat-an, tentu akan menambah nilai plus. Membantu dan sekaligus menjaga tali kekerabatan (silaturrahmi).

“Atau kepada orang miskin yang sangat fakir” (QS. 90: 16)

Orang-orang yang miskin dan tertekan kemiskinannya adalah orang yang berada diprioritas pertama untuk dibantu. Jiwa mereka tertekan karena lidah mereka tak lagi sanggup mengungkapkan permintaan tolong. Hati mereka juga sakit menanggung malu. Mereka juga miris melihat nasib orang-orang yang berada dalam tanggungannya. Tapi mereka memiliki iman yang menahan dari menghalalkan segala cara.

Orang yang seperti inilah yang sangat perlu diutamakan untuk ditolong. Abu Ubaidah mengungkapkan rahasia pemilihan kata “dzâ matrabah” yang berarti terlempar di atas tanah atau pasir. Ini menandakan ia benar-benar hanya memiliki badan yang lemah hingga membuatnya tersungkur di atas pasir. Tak ada yang menahan badannya karena sangat lapar dan lemah.

“Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang” (QS. 90: 17)

Orang-orang yang mampu bersabar dan sanggup menempuh jalan yang sukar seperti di atas adalah orang-orang pilihan yang dirahmati Allah selalu.

“Mereka adalah golongan kanan”. (QS. 90: 18)

Ini adalah sebuah pilihan yang memiliki konsekuensi tanggung jawab. Namun, hal tersebut tidaklah sia-sia, karena Allah telah menyediakan balasan dan ganjaran yang melebihi bayangan seseorang, bahkan dengan sesuatu yang belum terbayang-kan sebelumnya.

Sebaliknya pilihan jalan yang salah akan membuahkan konsekuensi yang tidak sesuai harapan pula. Sebagaimana tak ada paksaan dalam memilih jalan, mereka juga tak bisa memaksa Allah untuk memberikan balasan sesuai keinginan mereka. Orang-orang yang berbaris di golongan kiri tersebut akan digiring ke neraka Allah yang tak ada celah bagi siapapun untuk lari dan menghindar darinya.

“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat kami, mereka itu adalah golo-ngan kiri. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat” (QS. 90: 19-20)

Penutup: Pilihan Orang Cerdas dan Tenang

Jika dalam surat sebelumnya Allah memanggil jiwa-jiwa yang tenang untuk bergabung dalam kafilah orang-orang sukses yang beruntung dan berbahagia, itu karena mereka tepat dalam memilih jalan yang disediakan Allah di dunia. Tanpa paksaan. Rela dan ridha, maka kelak mereka juga diridhai.

Hanya orang-orang yang cerdas saja yang mau dan sanggup menyiapkan dirinya dengan bekal-bekal berharga untuk sebuah perjalanan yang jauh. Semoga Allah terus menjaga kita sehingga kita bisa tsabat dan istiqamah dalam berbuat baik dan membekali diri untuk menghadap Allah dalam keadaan yang ridha dan diridhai. Amin.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Amal dan Ajal

Membaca al-Qur’an bagi yang Haidh dan Nifas

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

Darah haidh sebagaimana dikemukakan oleh Ibn Qasim al-Ghazzi (w. 918 H) di dalam Fath al-Qarib al-Mujib fi Syarh Alfazh at-Taqrib adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita pada usia haidh, yaitu usia sembilan tahun atau lebih, dalam keadaan sehat, yaitu tidak karena sakit, tetapi pada batas kewajaran, bukan pula karena melahirkan. Sementara darah nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita setelah melahirkan, sehingga darah yang keluar bersamaan dengan bayi atau sebelumnya tidaklah disebut sebagai nifas.

Di dalam madzhab Syafi’i, haram hukumnya membaca al-Qur’an bagi wanita yang haidh dan nifas, sama seperti haram hukumnya bagi orang yang dalam keadaan junub. Abu Yahya Zakariyya al-Anshari (w. 926 H) di dalam Asna’ al-Mathalib fi Syarh Raudh ath-Thalib mengatakan: “Dan tidak dihalalkan seorang wanita untuk digauli saat haidh, begitu juga percumbuan yang diharamkan, serta melafazhkan al-Qur’an serta menyentuh mushafnya.”

Di antara dalilnya adalah sebagaimana yang penulis kemukakan sebelumnya, yaitu dari Ibn “Umar ra. bahwa Nabi saw. pernah bersabda: “Tidak boleh orang yang haidh dan junub membaca al-Qur’an.” Dalil ini sebenarnya juga bisa mencakup hukum bagi wanita yang nifas, walaupun memang tidak disebutkan secara langsung. Abu al-Hasan al-Mawardi (w. 450 H) di dalam al-Iqna’ fi al-Fiqh asy-Syafi’i mengatakan: “Diharamkan pula kepada wanita yang nifas sesuatu yang diharamkan kepada yang haidh.”

Memang ada ulama lain yang menyebutkan bahwa riwayat tersebut dinilai dhaif karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Isma’il ibn ‘Ayyasy. Namun, banyak juga yang justru menyebutnya sebagai perawi yang tsiqah. Asy-Syaukani (w. 1250 H) di dalam as-Sail al-Jarar al Mutadaffiq ‘ala Hada’iq al Azhar bahkan mengatakan: “Penilaian lemah terhadap Isma’il ibn ‘Ayyasy adalah penilaian yang tertolak, karena haditsnya diriwayatkan pula melalui jalur periwayatan lainnya, dan ia juga tidak dapat dinilai cacat yang menjadikan haditsnya tidak layak dijadikan hujjah. Al Mundziri mengatakan: (Hadits ini adalah hadits hasan. Isma’il ibn ‘Ayyasy memang diperbincangkan oleh para ulama, namun banyak para imam yang memujinya.” Penjelasan yang sama juga dapat kita temukan di dalam Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj yang ditulis oleh Syamsuddin ar-Ramli (w. 1004 H).

‘Abdul Karim ar-Rafi’i (w. 623 H) di dalam Fath al-‘Aziz bi Syarh al-Wajiz mengatakan: “Sebagaimana haramnya membaca al-Qur’an bagi yang junub, maka haram pula membacanya bagi wanita yang haidh, karena hadatsnya justru lebih berat, sehingga keharaman hukumnya pun lebih utama.”

Ulama lain memang ada yang membolehkan bagi wanita haidh untuk tetap membaca al-Qur’an jika ditakutkan membuat ia lupa akan hafalannya. Namun, dalam hal ini an-Nawawi (w. 676 H) di dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab mengatakan: “Masa haidh yang berlangsung beberapa hari biasanya tidak sampai bisa membuat orang lupa pada hafalannya. Adapun jika tetap khawatir lupa hafalannya, maka cukuplah ia mengulang hafalan al-Qur’annya di dalam hatinya.”

Sebagai tambahan, hal yang paling sering menjadi pertanyaan terkait wanita haidh di antaranya adalah tentang boleh atau tidaknya ia mengajarkan al-Qur’an dalam keadaan haidh. Maka dalam hal ini, di dalam Bughyah al-Mustarsyidin, ‘Abdurrahman ibn Muhammad Ba’alawi (w. 1320 H) memberikan penjelasan bahwa yang junub dan semisalnya, termasuk yang haidh, maka boleh hukumnya mengajarkan al-Qur’an asalkan tujuannya bukan membaca, juga tidak bertujuan mengajar sambil membaca, tetapi hanya bertujuan mengajar saja.Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : manis.id

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678l