Kesombongan yang Akan Meruntuhkan


©Teringat kisah Imam Hanafi yang menangis kala berjumpa dengan seorang anak kecil. Abu Hanifah bin Tsabit, atau populer disebut Imam Hanafi. Suatu ketika Abu Hanifah berpapasan dengan seorang anak kecil yang tampak berjalan dengan mengenakan sepatu kayunya.

▪Abu Hanifah menegur sang anak itu supaya berhati-hati, “Hati-hati ya nak dengan sepatu kayumu, karena bisa menggelincirkanmu.” Sang bocah miskin itu pun tersenyum menyambut perhatian sang imam dengan ucapan terima kasih. “Bolehkan saya tahu namamu, Tuan?” tanya sang bocah. “Nu’man.” Jawab Abu Hanifah.

© Kemudian bocah miskin itu meneruskan pertanyaannya, “Jadi,Tuan lah yang terkenal selama ini dengan gelar al-Imam al-Ada’dham (imam agung) itu?” Abu Hanifah pun menjawab,”Bukan aku yang menyematkan gelar itu, tapi masyarakatlah yang berprasangka baik dan menyematkan gelar itu kepadaku.”

▪Lalu bocah miskin itu berkata pada sang imam, “Wahai imam, hati-hati dengan gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka gara-gara gelar itu. Sepatu kayuku ini mungkin hanya akan menggelincirkanku di dunia, tapi gelarmu dapat menjerumuskanmu ke kubangan api neraka yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya.”

© Tak disangka celoteh sang bocah miskin itu menggetarkan nurani sang imam. Beliau pun tersungkur menangis. Ada rasa haru menyelimuti perasaan sang imam. Baginya itu sebuah nasihat yang sangat berharga sehingga bisa menjadi kehati-hatian dalam mengemban tanggung jawab dan amanah sebagai ulama yang disegani umat.

▪Subhanallah, kisah keteladanan dari seorang ulama besar yang patut kita tiru. Berjiwa besar. Tentunya kita bisa berhikmah padanya. Namun sayang sedikit sekali para pemimpin kita yang mampu berjiwa besar.

Mereka dengan mudah mencari setiap kesalahan orang-orang yang dipimpinnya sementara terkadang enggan menerima kritik atau masukan dari orang-orang di sekelilingnya. Rasa superioritas dalam diri seseorang kadang membutakan mata hati. Ilmu yang mumpuni tanpa disadari melenakan. Amal yang lebih dalam pandangannya seolah mampu juga menyelamatkan dirinya.

© Padahal masuknya surga seseorang tak hanya dengan amal. Apalagi amal tanpa keikhlasan dan ketawadhu’an.
Rasulullah pun menyatakan dalam haditsnya.

“Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari no. 5673 dan Muslim no. 2816)

▪Seorang sufi besar yakni Ibnu Atha’ As-Sakandari, beliau pernah berkata,”Boleh jadi (Allah) membukakan pintu ketaatan bagimu namun tidak dibukakan pintu penerimaan bagimu. Dan boleh jadi ditetapkan bagimu dosa namun dapat menjadi sebab untuk sampai kepada Allah.

© Kemaksiatan yang dapat mengakibatkan kerendahan diri dan kebutuhan terhadap Allah, lebih baik daripada taat yang mengakibatkan rasa tinggi hati dan sombong.”

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Bolehkah Mengintip Karena Tidak Jelas Suara Imam


Assalamu’alaykum ustadz..
Saat sholat kalau suara imam tdk terdengar boleh tdk kita melirik imam atau mengintip (saat sujud)?

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Nengok, celingukan, menoleh, jika tidak ada hajat adalah makruh dalam shalat.

Dari ‘Aisyah ​Radhiallahu ‘Anha,​ katanya:

سألت رسول اللّه صلى الله عليه وسلم عن التفات الرجل في الصلاة، فقال: “إنما هو اختلاسٌ يختلسه الشيطان من صلاة العبد”.

“Aku bertanya kepada Rasulullah ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ tentang seseorang yang menoleh dalam shalat, beliau menjawab: ​“Itu adalah sambaran kilat dari syetan terhadap shalat seorang hamba.”​ ​(HR. Bukhari No. 751, 3291)​

Tapi, jika ada hajat atau keperluan penting tidak apa-apa. Termasuk saat sujud, perhatikan kisah ini.

Dari Abdullah bin Syadad, dari ayahnya, katanya:

خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم في إحدى صلاة العشي (الظهر أو العصر) وهو حامل (حسن أو حسين) فتقدم النبي صلى الله عليه وسلم فوضعه ثم كبر للصلاة فصلى فسجد بين ظهري صلاته سجدة أطالها، قال: إني رفعت رأسي فإذا الصبي على ظهر رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو ساجد فرجعت في سجودي.
فلما قضى رسول الله صلى الله عليه وسلم الصلاة قال الناس: يا رسول الله إنك سجدت بين ظهري الصلاة سجدة أطلتها حتى ظننا أنه قد حدث أمر، أو أنه يوحى إليك؟ قال: (كل ذلك لم يكن، ولكن ابني ارتحلني فكرهت أن أعجله حتى يقضي حاجته)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar untuk shalat bersama kami untuk shalat siang (zhuhur atau ashar), dan dia sambil menggendong (hasan atau Husein), lalu Beliau maju ke depan dan anak itu di letakkannya kemudian bertakbir untuk shalat, maka dia shalat, lalu dia sujud dan sujudnya itu lama sekali. ​Aku angkat kepalaku, kulihat anak itu berada di atas punggung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan beliau sedang sujud, maka saya pun kembali sujud.​ Setelah shalat selesai, manusia berkata: “Wahai Rasulullah, tadi lama sekali Anda sujud, kami menyangka telah terjadi apa-apa, atau barangkali wahyu turun kepadamu?” Beliau bersabda: “Semua itu tidak terjadi, hanya saja cucuku ini mengendarai punggungku, dan saya tidak mau memutuskannya dengan segera sampai dia puas.” ​(HR. An Nasa’i No. 1141, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam ​Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i​ No. 1141)​

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يلتفت في صلاته يمينا وشمالا ولا يلوي عنقه خلف ظهره

“Dahulu Rasulullah ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ ​menoleh dalam shalatnya ke kanan dan kiri​ dan tidak sampai memutarkan lehernya kebelakang.” ​(HR. An Nasa’i No. 1201, Ahmad No. 2485, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 864, katanya shahih sesuai syarat Bukhari, dan disepakati oleh Adz Dzahabi)​
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Kaum yang Terpercaya, Banu an-Najjar ; Kaum yang Tak Luput Masalah Kemunafikan​

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ عَنْ أَبِي التَّيَّاحِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits dari Abu At-Tayyah dari Anas bin Malik (ra) berkata,

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَنَزَلَ أَعْلَى الْمَدِينَةِ فِي حَيٍّ يُقَالُ لَهُمْ بَنُو عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ فَأَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِمْ أَرْبَعَ عَشْرَةَ لَيْلَةً
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah lalu singgah di perkampungan bani ‘Amru bin ‘Auf, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di sana selama empat belas malam.

ثُمَّ أَرْسَلَ إِلَى بَنِي النَّجَّارِ فَجَاءُوا مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ
Kemudian beliau mengutus seseorang menemui bani Najjar, maka mereka pun datang dengan pedang di badan mereka.

كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَاحِلَتِهِ وَأَبُو بَكْرٍ رِدْفُهُ وَمَلَأُ بَنِي النَّجَّارِ حَوْلَهُ حَتَّى أَلْقَى بِفِنَاءِ أَبِي أَيُّوبَ
Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas tunggangannya sedangkan Abu Bakar membonceng di belakangnya dan para pembesar bani Najjar berada di sekelilingnya hingga sampai di sumur milik Abu Ayyub.

​HR al-Bukhari no. 410​

Begitu dipercayanya Suku an-Najjar sampai Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam meminta mereka untuk mengawal perjalanan dari Quba ke Yastrib (Madinah). Namun begitu, Kaum al-Khazraj ini tak luput dari penyakit kemunafikan, walau jumlah kasusnya menurut catatan Ibnu Hisyam tidak sebanyak Kaum Aws.

Disamping tokoh paling utama kemunafikan, Abdullah ibn Ubay ibn Salul dari Suku ‘Auf juga terdapat empat sekawan munafiqin dari Suku an-Najjar. Keempat orang ini adalah Rafi ibn Wadiyah, Zayd ibn Amru, Amru ibn Qays, dan Qays ibn Amru. Mereka bertempat menimbulkan keresahan melalui bisikan dan hasutan di Masjid Nabawi. Untuk mencegah berkembangnya penyakit ini, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam menugaskan para sahabat untuk mengusir mereka. Mereka ini dilarang menginjakkan kakinya di Masjid Nabawi lagi.

Tebet, 18 Oktober 2017

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Sahkah Pernikahan Nabi Adam as?


Assalamu’alaikum, ustadz.. mau nanya ini
1. Apa isi ka’bah? Kalau batu, mengapa seluruh umat islam kiblatnya arah kesana?
2. Syarat syarat nikah itukan ada penghulu, calonnya, saksinya, memang ada yang melihat Nabi Adam menikah? Trus kalau nggak lihat Adam nikah,berarti kita anak haram?
Terima kasih.

Jawaban
———-

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته ،

Bismillah wal Hamdulillah ..

1. Ka’bah adalah rumah pertama dan sekaligus masjid pertama yang dibangun di muka bumi.

Abu Dzar Radhiallahu Anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلَ قَالَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا قَالَ أَرْبَعُونَ سَنَةً

“Wahai Rasulullah, masjid apa yang dibangun pertama kali di muka bumi? Beliau menjawab: Masjidil Haram. Aku (Abu Dzar) berkata: lalu apa lagi? Beliau menjawab: Masjidi Aqsha. Aku bertanya lagi: berapa lama jarak keduanya? Beliau menjawab: empat puluh tahun. (HR. Bukhari No. 3186, Muslim No. 520)

Ka’bah hanyalah arah kiblat, menunjukkan kesatuan arah umat Islam sedunia. Dulu arah kiblat adalah ke Al Aqsha, lalu Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Shallallahu’Alaihi Sallam untuk mengubahnya ke Ka’bah. Umat Islam menyembah Allah Ta’ala melalui shalat, dan shalat memiliki aturan main, yaitu berdiri menghadap Ka’bah. Itu saja, tidak ada yang aneh dan tidak perlu dipusingkan.

3. Penghulu itu bukan syarat sah nikah, ini salah kaprah orang kita.

Syarat sah nikah:

1. Adanya penganten
2. Wali (ayah si gadis)
3. Saksi
4. Mahar
5. Ijab Qabul

Siapakah yang menikahkan ? yaitu WALI, ayah si gadis. Bukan penghulu, penghulu hanyalah petugas pencatat dari negara (KUA).

Jika, wali tidak ada, bisa ditunjuk wali ab’ad, seperti kakek, paman dari jalur ayahnya, atau kakak/adik si gadis ..

Jika semua itu tidak ada, maka dinikahkan oleh WALI HAKIM, siapa itu? Itulah penghulu, wali yang ditunjuk oleh negara.

Ada pun pernikahan Nabi Adam dan Hawa, Allah Ta’ala sendiri yg menikahkan mereka, saat Allah Ta’ala ciptakan Adam lalu Allah Ta’ala ciptakan istrinya yaitu Hawa, secara otomatis.

Perhatikan ayat ini:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri (Adam), dan dari padanya Allah menciptakan isterinya (Hawa); dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An Nisa: 1)

Allah Ta’ala sendiri menyebut ​wa khalaqa ninja ​zaujaha​​, Dia ciptakan dari dirinya seorang Istrinya .. bukan semata-mata perempuan, tapi Allah langsung menstatuskannya sebagai istri.

Jangan bayangkan saat itu pernikahan seperti zaman ini. Syariatnya beda, zaman juga beda. Manusia juga baru berdua.
Demikian.

Wallahu a’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Larangan Menuduh Sesama Muslim dengan Tuduhan Fasik atau Kafir

 عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالْفُسُوقِ وَلَا يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ (رواه البخاري)

Dari Abu Dzar ra berkata, bahwa dia mendengar Nabi saw bersabda: “Tidaklah seseorang melontarkan tuduhan kefasikan kepada orang lain, dan tidak pula ia menuduh orang lain dengan tuduhan kekufuran, melainkan (tuduhan itu) akan kembali kepada dirinya sendiri, jika ternyata orang yang dituduhnya tidak seperti itu.” (HR. Bukhari)

Hikmah hadits ;

1.   Hendaknya kita berusaha untuk menjaga lisan, khususnya terkait dengan hak dan kehormatan orang lain sesama muslim. Karena bisa jadi, lisan kita bisa menodai kehormatan sesama muslim dan kita dilarang untuk mencederai kehormatan sesama muslim. Sebagaimana sabda Nabi Saw,

“Seorang muslim terhadap muslim lainnya adalah haram; darahnya, hartanya dan kehormatannya…” (al-hadits)

2. Diantara bentuk menjaga lisan adalah bahwa Nabi Saw melarang kita saling menuduh fasik atau kufur antara sesama muslim.

Karena tuduhan fasik atau kufur sangatlah berat, dan tidak boleh dilakukan antara sesama muslim. Dan apabila tuduhan tersebut dilakukan, maka bisa jadi tuduhan tersebut kembali kepada orang yang menuduh, yaitu bahwa yang sesungguhnya fasik dan kufur adalah orang yang menuduh.. na’udzu billahi min dzalik.

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Mengusap Wajah Setelah Shalat


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….mo nanya nih sm Ust. Farid.
Apa hukumnya mengusap wajah setelah selesai 2 kali salam sehabis sholat ?
Syukron katsiiron
Wsslmkm.
Kgs. M. Ismail

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Bismillah wal hamdulillah ..
Dalam hal ini ada dua hadits.
1⃣ Hadits pertama, dari Anas bin Malik, katanya:

 كان إذا قضى صلاته مسح جبهته بيده اليمنى ثم قال : أشهد أن لا إله إلا الله الرحمن الرحيم ، اللهم أذهب عني الهم و الحزن

“Adalah Rasulullah jika telah selesai shalat, maka dia usapkan dahinya dengan tangan kanannya, kemudian berkata: “Aku bersaksi tiada Ilah kecuali Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, Ya Allah hilangkanlah dariku kegelisahan dan kesedihan.” ( HR. Ibnu Sunni ,‘Amalul Yaum wal lailah, No. 110,  dan Ibnu Sam’un,Al Amali, 2/176q). 

Hadits ini dhaif jiddan (sangat lemah), bahkan sebagian ulama mengatakan:maudhu’ (palsu).  

Imam Ibnu Rajab Al Hambali berkata dalam Fathul Bari-nya:

وله طرق عن أنس ،كلها واهية .

“Hadits ini memiliki banyak jalan dari Anas bin  Malik, semuanya lemah.”(Imam Ibnu Rajab Al Hambali, Fathul Bari, pembahasan hadits no. 836. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Sanad hadits ini adalah dari Salam Al Madaini, dari Zaid Al ‘Ami dari Mu’awiyah, dari Qurrah, dari Anas … (lalu disebutkan hadts di atas)

Cacatnya hadits ini lantaran Salam Al Madaini dan Zaid Al ‘Ami. Salam Al Madaini adalah orang yang dtuduh sebagai pendusta, sedangkan Zaid Al ‘Ami adalah perawi dhaif. Oleh karena itu, Syaikh Al Albani mengatakan, sanad hadits ini palsu. Hanya saja, hadits ini juga diriwayatkan dalam sanad lainnya yang juga dhaif. Secara global, hadits ini dhaif jiddan. (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Silsilah Ad Dhaifah wal Maudhu’ah, No. 1058.  Darul Ma’arif)

Sementara, Imam Al Haitsami mengutip dari Al Bazzar, bahwa Salam Al Madaini adalah layyinul hadits (haditsnya lemah). (Imam Al Haitsami, Majma’ az Zawaid, 10/47. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Al Haitsami juga mengatakan bahwa Zaid Al ‘Ami adalah dhaif (lemah).(Ibid,1/230) Imam Al Baihaqi juga menyatakan bahwa Zaid Al ‘Ami adalah dhaif. (Al ‘Allamah Ibnu At Turkumani, Al Jauhar, 3/46. Darul Fikr) begitu pula kata Imam Al ‘Iraqi. (Takhrijul Ihya’, 6/290)

Al ‘Allamah As Sakhawi mengatakan, lebih dari satu orang menilai bahwa Zaid Al ‘Ami adalah tsiqah (bisa dipercaya), namun jumhur (mayoritas) menilainya dhaif. (As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, 4/486) yang menilainya tsiqah adalah Imam Ahmad.(Ibid, 2/400) Imam Ahmad juga mengatakan: shalih (baik). (Ibnu Al Mubarrad, Bahr Ad dam, Hal. 58. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Sementara Imam An Nasa’i mengatakan Zaid Al ‘Ami sebagai laisa bil qawwi(bukan orang kuat hafalannya). (Al Hafizh Az Zaila’i, Nashbur Rayyah, 7/185. Lihat Abul Fadhl As Sayyid Al Ma’athi An Nuri, Al Musnad Al Jami’, 14/132) begitu pula kata Imam Abu Zur’ah. (Al Hafiz Abdurrahman bin Abi Hatim Ar Razi, Al Jarh wat Ta’dil, 3/561. Dar Ihya At Turats)

2⃣ Hadits kedua, dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu katanya:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قضى صلاته مسح جبهته بكفه اليمنى ، ثم أمرها على وجهه حتى يأتي بها على لحيته ويقول : « بسم الله الذي لا إله إلا هو عالم الغيب والشهادة الرحمن الرحيم ، اللهم أذهب عني الغم والحزن والهم ، اللهم بحمدك انصرفت وبذنبي اعترفت ، أعوذ بك من شر ما اقترفت ، وأعوذ بك من جهد بلاء الدنيا ومن عذاب الآخرة »

“Adalah Rasulullah Shallalllahu ‘Alaihi wa Sallam jika telah selesai shalatnya, beliau mengusap dahinya dengan tangan kanan, kemudian ilanjutkan ke wajah sampai jenggotnya. Lalu bersabda: “Dengan nama Allah yang Tidak ada Ilah selain Dia, yang Maha Mengetahui yang Ghaib dan Yang Tampak, Maha Pengasih dan Penyayang. Ya Allah hilangkanlah dariku kegelisahan, kesedihan, dan keresahan. Ya Allah dengan memujiMu aku beranjak dan dengan dosaku aku mengakuinya. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan yang telah aku akui, dan aku berlidung kepadaMu dari beratnya cobaan kehidupan dunia dan siksaan akhirat.”  (HR. Abu Nu’aim, Akhbar Ashbahan, No. 40446. Mawqi’ Jami’ Al Hadits)

Hadits ini dhaif (lemah). Karena di dalam sanadnya terdapat Daud Al Mihbarpengarang kitab Al ‘Aql.

Imam Al Bukhari berkata tentang dia: munkarul hadits. Imam Ahmad mengatakan: Dia tidak diketahui apa itu hadits.  (Imam Al Bukhari, At Tarikh Al Kabir, No. 837. Mawqi’ Ya’sub. Lihat juga kitab Imam Bukhari lainnya, Adh Dhu’afa Ash Shaghir, Hal. 45. Darul Ma’rifah. Lihat juga Al Hafizh Al ‘Uqaili, Dhu’afa, 2/35. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah )

Al Hafizh Az Zarkili mengatakan mayoritas ulama menilainya dhaif. (Khairuddin Az Zarkili,  Al A’lam, 2/334. Darul ‘Ilmi wal Malayin)

Ali Maldini mengatakan Daud ini: haditsnya telah hilang. Abu Zur’ah dan lainnya mengatakan: dhaif (lemah). Ad Daruquthni mengatakan: matruk (haditsnya ditinggalkan). Abu Hatim mengatakan: haditsnya hilang dan tidak bisa dipercaya. Ad Daruquthni mengatakan bahwa Daud Al Mihbar dalam kitab Al ‘Aql  telah memalsukan riwayat Maisarah bin Abdi Rabbih, lalu dia mencuri sanadnya dari Maisarah, dan membuat susunan sanad bukan dengan sanadnya Maisarah. Dia juga pernah mencuri sanad dari  Abdul Aziz bin Abi Raja’, dan Sulaiman bin ‘Isa Al Sajazi. (Imam Adz Dzahabi, Mizan Al I’tidal, 2/20. No. 2646. Darul Ma’rifah) Abu Hatim juga mengatakan:munkarul hadits. (Abdurrahman bin Abi Hatim, Al Jarh wat Ta’dil, 3/424, No. 1931)

Bahkan, Syaikh Al Albani dengan tegas mengatakan sanad hadits ini adalah maudhu’ (palsu) lantaran perilaku Daud yang suka memalsukan sanad ini. Beliau mengatakan Daud adalah orang yang dituduh sebagai pendusta. Sedangkan untuk Al Abbas bin Razin As Sulami, Syaikh Al Albani mengatakan: aku tidak mengenalnya.(Syaikh Al AlBani, As Silsilah Adh Dhaifah wal Maudhu’ah, No. 1059.  Darul Ma’arif)

📒📕📘📗
                                                                                          📝  Catatan:
Walaupun hadits-hadits ini sangat lemah dan tidak boleh dijadikan dalil bagi sebahian ulama, namun telah terjadi perbedaan pendapat para ulama tentang mengusap wajah jika sekadar untuk membersihkan bekas-bekas sujud, seperti pasir, debu, tanah, dan lainnya. ​Di antara mereka ada yang membolehkan, ada juga yang memakruhkan.​

Al Hafizh Al Imam Ibnu Rajab Rahimahullah mengatakan:

فأما مسح الوجه من أثر السجود بعد الصلاة ، فمفهوم ما روي عن ابن مسعودٍ وابن عباسٍ يدل على أنه غير مكروهٍ.
وروى الميموني ، عن أحمد ، أنه كان اذا فرغ من صلاته مسح جبينه .

“Adapun mengusap wajah dari bekas sujud setelah shalat selesai, maka bisa difahami dari apa yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas, yang menunjukkan bahwa hal itu tidak makruh. ​Al Maimuni meriwayatkan dari Imam Ahmad, bahwa dia mengusap dahinya jika selesai shalat.” ​  (Imam Ibnu Rajab Al Hambali,Fathul Bari, pembahasan hadits no. 836. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Sebagian ulama lain memakruhkannya, bahkan mengusap wajah merupakan penyebab hilangnya doa pengampunan dari malaikat. Berikut penjelasan dari Imam Ibnu Rajab Rahimahullah:

وكرهه طائفة ؛ لما فيه من إزالة أثر العبادة ، كما كرهوا التنشيف من الوضوء والسواك للصائم .
وقال عبيد بن عميرٍ : لا تزال الملائكة تصلي على إلانسان ما دام أثر السجود في وجهه .
خَّرجه البيهقي بإسنادٍ صحيحٍ .
وحكى القاضي أبو يعلي روايةً عن أحمد ، أنه كان في وجهه شيء من أثر السجود فمسحه رجل ، فغضب ، وقال : قطعت استغفار الملائكة عني . وذكر إسنادها عنه ، وفيه رجل غير مسمىً .
وبوب النسائي ((باب : ترك مسح الجبهة بعد التسليم )) ، ثم خرج حديث أبي سعيد الخدري الذي خَّرجه البخاري هاهنا ، وفي آخره : قال ابو سعيدٍ : مطرنا ليلة أحدى وعشرين ، فوكف المسجد في مصلى النبي – صلى الله عليه وسلم – ، فنظرت إليه وقد انصرف من صلاة الصبح ، ووجهه مبتل طيناً وماءً .

“Sekelompok ulama memakruhkannya, dengan alasan hal itu merupakan penghilangan atas bekas-bekas ibadah, sebagaimana mereka memakruhkan mengelap air wudhu (dibadan) dan bersiwak bagi yang berpuasa. Berkata ‘Ubaid bin ‘Amir: “Malaikat senantiasa bershalawat atas manusia selama bekas sujudnya masih ada di wajahnya.” (Riwayat Al Baihaqi dengan sanad shahih)

Al Qadhi Abu Ya’la menceritakan sebuah riwayat dari Imam Ahmad, bahwa  ada bekas sujud di wajahnya lalu ada seorang laki-laki yang mengusapnya, maka beliau pun marah, dan berkata: “Kau telah memutuskan istighfar-nya malaikat dariku.” Abu Ya’la menyebutkan sanadnya darinya, dan didalamnya terdapat seseorang yang tanpa nama.

Imam An Nasa’i membuat bab: Meninggalkan Mengusap Wajah Setelah Salam. Beliau mengeluarkan sebuah hadits dari Abu Said Al Khudri, yang telah dikeluarkan pula oleh Imam Bukhari di sini, di bagian akhirnya berbunyi: Berkata Abu Said: “Kami kehujanan pada malam ke 21 (bulan Ramadhan), lalu air di masjid mengalir ke tempat shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka kami memandang kepadanya, beliau telah selesai dari shalat subuh, dan wajahnya terlihat sisa tanah dan air.” (Ibid)

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Liqo; Salah Satu Alternatif Pendidikan dan Pembinaan Umat​


📌 Ada yang mengatakan liqo-liqo bukanlah metode Rasulullah ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​

📌 Ini merupakan salah berpikir tingkat berat. Sebab, liqo itu bukan ibadah ritual yang sifatnya tauqifi, yang aturan bakunya harus sama persis Nabi ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ dan berasal darinya.

📌 Liqo hanyalah metode pendidikan dan pembinaan, yang kompromis dengan situasi dan zaman.

📌 Sehingga, masalah ini bukan pada tempatnya menanyakan ​”adakah dalil liqo?”​

📌 Tapi masalah ini lebih pada kaidah ​”adakah larangannya?”​ Sebab, masalah metodologi adalah masalah duniawi yang fleksibel dan bisa dikembangkan, selama tidak ada pelanggaran khusus terhadap syariat

📌 Masalah-masalah teknis di mana syariat tidak membahas secara khusus, adalah zona ​ma’fu ‘anhu​ (dimaafkan), sebagai rahmat Allah Ta’ala kepada hambanya.

📌 Imam Muhammad At Tamimi ​Rahimahullah​ menjelaskan:

أن كل شيء سكت عنه الشارع فهو عفو لا يحل لأحد أن يحرمه أو يوجبه أو يستحبه أو يكرهه

“Sesungguhnya segala sesuatu yang didiamkan oleh Syari’ (pembuat Syariat) maka hal itu dimaafkan, dan tidak boleh bagi seorang pun untuk mengharamkan, atau mewajibkan, atau menyunnahkan, atau memakruhkan.” ​(Imam Muhammad At Tamimi, Arba’u Qawaid Taduru al Ahkam ‘Alaiha, Hal. 3. Maktabah Al Misykah)​

📌 Imam Ibnul Qayyim ​Rahimahullah​ mengatakan:

وهو سبحانه لو سكت عن إباحة ذلك وتحريمه لكان ذلك عفوا لا يجوز الحكم بتحريمه وإبطاله فإن الحلال ما أحله الله والحرام ما حرمه وما سكت عنه فهو عفو فكل شرط وعقد ومعاملة سكت عنها فإنه لا يجوز القول بتحريمها فإنه سكت عنها رحمة منه من غير نسيان وإهمال

Dia – ​Subhanahu wa Ta’ala​- seandainya mendiamkan tentang kebolehan dan keharaman sesuatu, tetapi memaafkan hal itu, maka tidak boleh menghukuminya dengan haram dan membatilkannya, karena halal adalah apa-apa yang Allah halalkan, dan haram adalah apa-apa yang Allah haramkan, dan apa-apa yang Dia diamkan maka itu dimaafkan. Jadi, semua syarat, perjanjian, dan muamalah yang didiamkan oleh syariat, maka tidak boleh mengatakannya haram, karena mendiamkan hal itu merupakan kasih sayang dariNya, bukan karena lupa dan membiarkannya. ​(I’lamul Muwaqi’in, 1/344-345)​

📌 Sungguh mengherankan orang yang tidak memahami ini. Selalu mencari kesalahan saudara sesama muslimnya. Masih bagus jika itu memang benar-benar salah, tapi ini lebih pada asumsi dan halusinasinya sendiri.

📌 Imam Muhammad bin Sirin ​Rahimahullah​ berkata:

إنَّ أكثر الناس خطايا أكثرهم ذكرًا لخطايا الناس

​Sesungguhnya manusia paling banyak kesalahannya adalah manusia yang banyak menyebut kesalahan orang lain.​ ​(Ibnu Abi Dunya, Ash Shamtu wa Adabul Lisan, Hal. 104)​

📌 Kemudian, bukan hanya itu, perjenjangan dalam Liqo juga disalahkannya. Benarkah itu kesalahan?

📌 Imam Al Bukhari membuat bab:

بَاب مَنْ خَصَّ بِالْعِلْمِ قَوْمًا دُونَ قَوْمٍ كَرَاهِيَةَ أَنْ لَا يَفْهَمُوا

“Bab manusia yang mengkhususkan ilmu kepada sebuah kaum tapi tidak pada kaum lainnya khawatir mereka tidak memahaminya.” ​(Shahih Al Bukhari, Kitabul ‘Ilmi)​

📌 Dalam Bab ini, terdapat dialog antara Nabi ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ dengan Mu’adz bin Jabal ​Radhiallahu ‘Anhu.​ Beliau bersabda:

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُخْبِرُ بِهِ النَّاسَ فَيَسْتَبْشِرُوا قَالَ إِذًا يَتَّكِلُوا وَأَخْبَرَ بِهَا مُعَاذٌ عِنْدَ مَوْتِهِ تَأَثُّمًا

Tidaklah seseorang yang bersaksi tidak ada Ilah kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah secara tulus dari hatinya, melainkan Allah akan haramkan neraka baginya. Muadz berkata: “Wahai Rasulullah, apakah saya boleh sebarkan kabar gembira ini kepada manusia?” Beliau bersabda: “Jangan! Sebab nanti mereka akan bergantung saja pada hal itu.” Muadz baru mengabarkannya sebelum kematiannya sebab khwatir dia berdosa jika tidak menyebarkannya. ​(HR. Bukhari No. 128)​

📌 Dalam kitab yang sama, Imam Al Bukhari terdapat ​​Bab Al ‘Ilmu Qabla Al Qaul wal ‘Amal​,​ di sana terdapat keterangan ttg makna ayat Kuunuu ​Rabbaniyuun​ – jadilah kalian orang-orang yang Rabbani. (QS. Ali Imran: 79) menurut Abdullah bin Abbas ​Radhiallahu ‘Anhuma​ sebagai berikut:

{ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ }
حُلَمَاءَ فُقَهَاءَ وَيُقَالُ الرَّبَّانِيُّ الَّذِي يُرَبِّي النَّاسَ بِصِغَارِ الْعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ

(Jadilah kalian kaum yang Rabbani) yakni orang yang sabar dan berilmu, ada juga yang mengatakan: yaitu orang yang mendidik manusia dengan ilmu-ilmu yang kecil sebelum ilmu-ilmu yang besar. ​(Lihat Shahih Bukhari, Kitabul ‘Ilmi)​

📌 Maksud dari “mendidik manusia dengan ilmu-ilmu yang kecil sebelum ilmu-ilmu yang besar” adalah ​bi at tadriij​ – dengan bertahap. ​(Fathul Bari, 1/121)​

📌 Imam Al ‘Aini mengatakan:

أي الذي يربي الناس بجزئيات العلم قبل كلياته أو بفروعه قبل أصوله أو بمقدماته قبل مقاصده

Yaitu orang yang mendidik manusia dengan bagian-bagian dari ilmu sebelum total keseluruhannya, atau mengajarkan yang cabang-cabang sebelum yang pokoknya, atau mengajarkan pengantarnya sebelum isi utamanya. ​(‘Umadatul Qari, 2/487)​

📌 Imam Al Munawi mengatakan tentang makna Tarbiyah:

التربية إنشاء الشيء حالا فحالا إلى حد التمام

Tarbiyah adalah mengembangkan sesuatu dari satu keadaan kepada keadaan berikutnya sampai batas sempurna. ​(At Ta’aariif, Hal. 169. Darul Fikr)​

📌 Syaikh Muhammad Shalih Al Munajid ​Hafizhahullah​ bercerita tentang Syaikh Muhammad bin Ibrahim ​Rahimahullah​ – mantan Mufti Kerajaan Arab Saudi, dan guru dari Syaikh Abdul Aziz bin Baaz:

​”Beliau Rahimahullah memiliki tiga majelis, mengajar tiga mustawayat (tingkatan), untuk penuntut ilmu yang sudah lama satu pelajaran, untuk yang pertengahan satu pelajaran, dan untuk penuntut ilmu yang pemula juga satu pelajaran, dan jika beliau melihat ada seorang penuntut ilmu yang baru lalu duduk di majlis penuntut ilmu yang lama, maka beliau akan mengusirnya dan membentaknya, seraya berkata: “Di sini bukan tempatmu, bukan dari sini kamu memulai, dan perkara ini bisa melahirkan rasa ujub (bagimu). “​ ​(Majmu’ah Muhammad Al Munajjid, Mawaaqif Tarbawiyah Muattsirah min Siyar Al Ulama, 33/29)​

📌 Maka, begitu jelas bahwa marhalah dalam liqo tarbawi (membina), mengajak, dan memperbaiki manusia adalah masyru’, serta benar menurut akal dan budaya manusia dan kehidupan.

📌 Alangkah mengherankan jika pentahapan dalam membina dan mendidik manusia dalam sebuah wadah organisasi da’wah, dunia pendidikan, dan lainnya, disebut sebagai penyimpangan.. ​Laa hawlaa wa laa quwwata illa billah.​

Wallahul Musta’an

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Tahnik Bayi

Assalamualaikum… ustadz/ustadzah saya ingin menanyakan bagaimana tuntunan atau aturan dalam syariat tentang tahnik bayi yg baru lahir? Jazakumulloh khoir

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Disunahkan memberikan tahnik kepada bayi dengan menggunakan kurma atau sejenisnya, seperti madu dan lain-lain. Dengan cara mengunyah kurma hingga lembut dan halus, lalu dimasukkan ke dalam mulut bayi tersebut. Ini merupakan upaya persiapan agar bayi nantinya mudah untuk merasakan manisnya air susu ibu. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits:

Dari Abu Musa al Asy’ary beliau berkata: Dilahirkan bagiku bayi laki-laki, kemudian aku bawa kepada g bc fgdxa Shalallahu alaihi wa Rahmatullah g Lalu Rasulullah menamakan bayi itu Ibrahim dan mentahniknya dengan korma serta mendoakan keberkatan atasnya, lalu menyerahkan kembali kepadaku. Dan dia (Ibrahim) merupakan anak Abu Musa yang paling besar (sulung). ​(HR. Muttafaq ‘Alaih)​

Dari hadits ini ada tiga pelajaran lain selain tahnik, yaitu pertama, hendaknya yang mentahnik adalah orang shalih atau ahli ilmu. Boleh saja orang tuanya sendiri, apalagi ia juga seorang shalih atau ahli ilmu. Kedua, meminta diberikan atau dicarikan nama yang baik bagi si bayi oleh orang shalih atau ahli ilmu. Ketiga, mendoakan bayi ketika ditahnik dengan doa yang mengandung keberkahan bagi bayi. Namun, tidak ada rincian seperti apakah lafal doa tersebut, karena dalam hadits tersebut tidak sebutkan teks doanya.

Jika mau, boleh diucapkan doa yang mengandung permohonan keberkahan seperti: ​Allahumma barik lahu, atau Allahumma barik ‘alaih, atau Allahumma barik fih.​ Secara bahasa doa-doa ini memiliki maksud yang sama yakni agar bayi tersebut diberkahi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Arsy Allah Itu Makhluk, Jangan Ragu!!​


‘Arsy adalah makhluk, dan itu kesepakatan para ulama. Sebab, yang ​Al Khaliq​ (Pencipta) hanya Allah Ta’ala. Tidak boleh ada keraguan atas hal itu, meragukan ‘Arsy sebagai makhluk adalah kesalahan yang sangat fatal.

Imam Ibnu Hazm ​Rahimahullah​ menjelaskan dalam ​Maratibul Ijma’​, sebuah kitab yang menyusun kumpulan Ijma’:

وأن النفس مخلوقة، والعرش مخلوق، والعالم كله مخلوق

​Bahwasanya jiwa adalah makhluk, ‘arsy adalah makhluk, dan alam seluruhnya adalah makhluk.​ ​(Maratibul Ijma’, Hal. 167)​

Lalu Imam Ibnu Taimiyah ​Rahimahullah​ mengomentari:

أما اتفاق السلف وأهل السنة والجماعة على أن الله وحده خالق كل شيءٍ فهذا حق

Ada pun para salaf dan Ahlus Sunnah wa Jama’ah telah sepakat bahwa Allah satu-satunya pencipta atas segala hal maka ini adalah benar .. ​(Naqd Maratibul Ijma’, Hal. 303)​

Beliau juga berkata:

الْعَرْشَ مَخْلُوقٌ ؛ فَإِنَّ الله يَقُولُ: ( وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ) وَهُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ: الْعَرْشُ وَغَيْرُهُ ، وَرَبُّ كُلِّ شَيْءٍ: الْعَرْشُ وَغَيْرُهُ

Arsy adalah makhluk, sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: (Dialah Rabb-nya Arsy yg Agung), Dialah pencipta segala sesuatu: Arsy dan selainnya. Rabb-nya segala sesuatu: yaitu Rabb-nya Arsy dan selainnya.

​(Majmu’ Fatawa, 18/214)​

Imam Adz Dzahabi Rahimahullah berkata:

وسلف الأمة وأئمتها يقولون: إن القرآن والسنة قد دلا على أن العرش مخلوق من مخلوقات الله تعالى خلقه وأوجده

Generasi salaf dan para imam kita mengatakan: bahwa Al Qur’an dan As Sunnah menunjukkan bahwa ‘Arsy adalah makhluk diantara makhluk-makhluk Allah, Dia yang menciptakannya dan mengadakannya. ​(Al ‘Arsy, 1/307)​

Syaikh Ibnul ‘Utsaimin ​Rahimahullah​ berkata:

العرش مخلوق عظيم ، لا يعلم قدره إلا الله

​Arsy adalah makhluk yg agung, tidak ada yg tahu ukurannya kecuali Allah.​

​(Majmu’ Fatawa wa Rasaail, 7/287)​

Ada pun keabadian ‘Arsy, ditunjukkan oleh hadits berikut:

فإذا سألتم الله فسلوه الفردوس ، فإنه أوسط الجنة ، وأعلى الجنة ، وفوقه عرش الرحمن ، ومنه تفجر أنهار الجنة

Maka, bila kalian berdoa kepada Allah maka mintalah surga firdaus karena dia adalah tengahnya surga dan yang paling tinggi. Aku pernah diperlihatkan bahwa diatas firdaus itu adalah ‘Arsy-singgasanannya Allah Yang Maha Pemurah dimana darinya mengalir sungai-sungai surga”. ​(HR. Bukhari no. 2790)​

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

RIYADHUS SHALIHIN (33)​


📕 ​Bab Sabar -Menyikapi Wabah Penyakit​

​Hadits:​

وعن عائشةَ رضيَ الله عنها: أَنَّهَا سَألَتْ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – عَنِ الطّاعُونِ، فَأَخْبَرَهَا أنَّهُ كَانَ عَذَاباً يَبْعَثُهُ اللهُ تَعَالَى عَلَى مَنْ يشَاءُ ، فَجَعَلَهُ اللهُ تعالى رَحْمَةً للْمُؤْمِنينَ ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ في الطَّاعُونِ فيمكثُ في بلدِهِ صَابراً مُحْتَسِباً يَعْلَمُ أنَّهُ لا يصيبُهُ إلاَّ مَا كَتَبَ اللهُ لَهُ إلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أجْرِ الشّهيدِ . رواه البخاري .

​Artinya:​

​Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwasanya ia bertanya kepada Rasulullah s.a.w. perihal penyakit yang mewabah/menular, lalu Rasulullah memberitahukan bahawa sesungguhnya wabah penyakit itu adalah sebagai siksaan yang dikirimkan oleh Allah Ta’ala kepada siapa saja yang dikehendaki. Allah menjadikan wabah penyakit itu sebagai kerahmatan yang dijadikan oleh Allah Ta’ala kepada kaum mu’minin.​

​Maka tidak seorang hamba pun yang tertimpa oleh wabah penyakit, kemudian menetap di negerinya sambil bersabar dan mengharapkan keredhaan Allah serta mengetahui pula bahwa wabah itu tidak akan mengenainya kecuali kerana telah ditetapkan oleh Allah untuknya, kecuali ia akan memperolehi pahala seperti orang yang mati syahid.”​

​(Riwayat Bukhari)​

☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian ​AUDIO​ di bawah ini.

Selamat menyimak.

UNDUH AUDIONYA DISINI

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA