Wanita 'Iddah Keluar Rumah Karena Ada Keperluan​


📌 Imam Ibnu Qudamah ​Rahimahullah​ berkata:

وللمعتدة الخروج في حوائجها نهارا , سواء كانت مطلقة أو متوفى عنها . لما روى جابر قال : طُلقت خالتي ثلاثا , فخرجت تجذّ نخلها , فلقيها رجل , فنهاها , فذكرت ذلك للنبي صلى الله عليه وسلم فقال : (اخرجي , فجذي نخلك , لعلك أن تصدّقي منه , أو تفعلي خيرا) رواه النسائي وأبو داود

Boleh bagi wanita ‘Iddah keluar rumah di siang hari jika ada keperluan, sama saja baik karena wafat atau dicerai.

Berdasarkan riwayat dari Jabir ​Radhiyallahu ‘Anhu:​

Bibiku sdh diceraikan tiga hari lamanya, dia keluar rumah untuk memotong kurmanya, dia berjumpa seorang laki-laki dan laki-laki itu melarangnya keluar. Peristiwa itu diadukan ke Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Nabi bersabda:

​”KELUARLAH kamu, dan potonglah kurmamu, dan sedekahlah dengannya dan berbuat baiklah.”​ (HR. Abu Daud, An Nasa’i)

​(Al Mughni, 8/130)​

📌 Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid ​Hafizhahullah​ menjelaskan:

المرأة في عدة الوفاة لها أن تخرج من بيتها في النهار لقضاء حوائجها ، كالذهاب للطبيب ، ومتابعة الإجراءات الحكومية إذا لم يوجد من يقوم بها بدلا عنها ، وأما الليل فلا تخرج فيه إلا لضرورة .

Seorang wanita yang ditinggal wafat, dia BOLEH keluar rumah saat masa ‘iddahnya di siang hari untuk memenuhi keperluannya, seperti ke dokter, mengikuti aktifitas yg ditetapkan pemerintah, jika memang tidak didapatkan orang lain sebagai penggantinya. Ada pun di malam hari tidak boleh dia keluar, kecuali darurat.

​(Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 95297)​

📌 Fatwa Al Lajnah Ad Daimah

الأصل: أن تحد المرأة في بيت زوجها الذي مات وهي فيه، ولا تخرج منه إلا لحاجة أو ضرورة؛ كمراجعة المستشفى عند المرض، وشراء حاجتها من السوق كالخبز ونحوه، إذا لم يكن لديها من يقوم بذلك

Pada dasarnya wanita yang sedang berkabung itu di rumah suaminya yang wafat dan dia tinggal di situ. Janganlah keluar kecuali ada keperluan dan mendesak. Seperti ke rumah sakit saat sakit, membeli kebutuhannya ke pasar, roti, dan lainnya, jika tidak ada orang lain yang menjalankannya.

​(Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 20/440)​

📌 Syaikh Abdullah Al Faqih ​Hafizhahullah​ menjelaskan:

فقد ذهب جمهور العلماء – ومنهم أئمة المذاهب الأربعة – إلى أن للحادة الخروج من منزلها في عدة الوفاة نهاراً إذا احتاجت إلى ذلك، كما أنه يجوز في الليل أيضا للحاجة عند جمهور الفقهاء، إلا أنها لا تبيت إلا في بيتها

Mayoritas ulama berpendapat – ​diantaranya adalah imam yang empat​- bahwa wanita berkabung boleh keluar di siang hari dari rumahnya di waktu ‘Iddah karena wafatnya suami jika memang ada kebutuhan, sebagaimana dibolehkan juga keluar malam menurut mayoritas ahli fiqih jk ada kebutuhan, selama tidak sampai bermalam kecuali di rumahnya.

​(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah no. 262162)​

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Pasienku Darurat tapi belum Sholat..


Assalamuaaikum warahmatullahiwabarakatuh ana izin bertanya
“jika saat seorang dokter itu dihadapkan dgn 2 pilihan pasien yg sedang darurat atau sholat yg harus segera ditunaikan, mana dlu yg harus didahulukan?? *mohon dibantu jawabanya🙏🙏🙏

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Jika pasien tersebut butuh penanganan cepat, darurat, bahkan terancam hidupnya, itu adalah kondisi masyaqqah (sulit, sempit, payah), boleh bagi si dokter menunda sementara, atau bahkan menjamak shalatnya. Zhuhur dan ashar, atau maghrib dan isya.

Imam Ibnu Taimiyah ​Rahimahullah​ berkata:

وأوسع المذاهب في الجمع مذهب أحمد فإنه جوز الجمع إذا كان شغل كما روى النسائي ذلك مرفوعا إلى النبي صلى الله عليه وسلم إلى أن قال: يجوز الجمع أيضا للطباخ والخباز ونحوهما ممن يخشى فساد ماله.

“Madzhab yang paling luas dalam masalah jamak adalah madzhab Imam Ahmad, dia membolehkan jamak karena kesibukkan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam An Nasa’i secara marfu’ (sampai) kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sampai-sampai dibolehkan jamak juga bagi juru masak dan pembuat roti dan semisalnya, dan juga orang yang ketakutan hartanya menjadi rusak.” ​(Al Fatawa Al Kubra, 5/350)​
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

RIYADHUS SHALIHIN (32)​


📕 ​Bab Sabar – Sabar pada Mula Musibah​

​Hadits:​

وعن أنس – رضي الله عنه – ، قَالَ : مَرَّ النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – بامرأةٍ تَبكي عِنْدَ قَبْرٍ ،

فَقَالَ :اتّقِي الله واصْبِري
فَقَالَتْ : إِليْكَ عَنِّي ؛ فإِنَّكَ لم تُصَبْ بمُصِيبَتي وَلَمْ تَعرِفْهُ ، فَقيلَ لَهَا : إنَّه النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – فَأَتَتْ بَابَ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابينَ ،

فقالتْ : لَمْ أعْرِفكَ ، فَقَالَ :إنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولى
مُتَّفَقٌ عَلَيه

ِ وفي رواية لمسلم :تبكي عَلَى صَبيٍّ لَهَا.

​Artinya:​
​Dari Anas r.a., katanya: “Nabi s.a.w. berjalan melalui seorang wanita yang sedang menangis di atas sebuah kubur.​

​Beliau bersabda: “Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah!”​

​Wanita itu berkata: “Ah, menjauhlah daripadaku, kerana Tuan tidak terkena musibah sebagaimana yang mengenai diriku dan Tuan tidak mengetahui musibah apa itu.”​

​Wanita tersebut diberitahu – oleh sahabat beliau s.a.w. – bahwa yang diajak bicara tadi adalah Nabi SAW. Ia lalu mendatangi pintu rumah Nabi SAW tetapi di mukanya itu tidak didapatinya penjaga-penjaga pintu.​

​Wanita itu lalu berkata: “Saya memang tidak mengenai Tuan – maka itu maafkan pembicaraanku tadi.”​

​Kemudian Nabi SAW bersabda: “Bersabar – yang sangat terpuji – itu adalah di kala kedatangan musibah yang pertama.” (Muttafaq ‘alaih)​

​Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Wanita itu menangisi anak kecilnya – yang meninggal.”​

​Keterangan:​
​Maksud “Kedatangan mushibah yang pertama,” bukan bererti ketika mendapatkan musibah yang pertama kali dialami sejak hidupnya, tetapi di saat baru terkena musibah itu ia bersabar, baik musibah itu yang pertama kalinya atau keduanya, ketiganya dan selanjutnya.​
​Jadi kalau sesudah sehari atau dua hari baru ia mengatakan: “Aku sekarang sudah berhati sabar tertimpa musibah yang kelmarin itu,” maka ini bukannya sabar pada pertama kali, sebab sudah terlambat.​

☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian ​AUDIO​ di bawah ini.

Selamat menyimak.

Unduh audio

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Berdoa Setelah Shalat Wajib, Mestikah Diingkari?

Assalamu alaikum …ustadz ada kawan nitip pertanyaan….apa benar berdoa sesudah sholat itu tidak dibenarkan….jadi katanya cukup dengan berdzikir saja…mohon penjelasannya ustadz

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Pendapat yg mengatakan tidak ada doa setelah shalat wajib, memang ada, tapi itu pendapat minoritas saja. Seperti Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, Syaikh Bin Baaz, Syaikh Utsaimin, dll.

Tapi umumnya ulama dari zaman ke zaman di banyak negeri mengatakan doa setelah shalat itu ada, bukan sekedar wirid.

Lengkapnya ini 👇

Sebagian orang mengingkari adanya doa setelah shalat wajib. Mereka mengingkari saudara-saudaranya yang berdoa, dengan alasan tidak ada sunahnya berdoa setelah shalat, yang ada hanyalah berdzikir saja. Benarkah sikap seperti ini?

📌 Mayoritas Ulama Mengatakan Berdoa setelah Shalat Wajib itu SUNNAH

Imam Al Bukhari, dalam kitab Shahih-nya, – jauh sebelum Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan bahwa TIDAK ADA BERDOA SETELAH SHALAT- , telah menulis BAB AD DU’A BA’DA ASH SHALAH (Bab Tentang Doa Setelah Shalat).

📌 Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata tentang itu:

قوله: “باب الدعاء بعد الصلاة” أي المكتوبة، وفي هذه الترجمة رد على من زعم أن الدعاء بعد الصلاة لا يشرع

“Ucapannya (Al Bukhari), “Bab Tentang Doa Setelah Shalat” yaitu shalat wajib. Pada bab ini, merupakan bantahan atas siapa saja yang menyangka bahwa berdoa setelah shalat tidak disyariatkan.” (Bantahan lengkap beliau terhadap Imam Ibnul Qayyim, lihat di Fathul Bari, 11/133-135. Darul Fikr)

📌 Imam Ja’far Ash Shadiq Radhiallahu ‘Anhu -salah satu guru Imam Abu Hanifah- berkata:

الدعاء بعد المكتوبة أفضل من الدعاء بعد النافلة كفضل المكتوبة على النافلة.

“Berdoa setelah shalat wajib lebih utama dibanding berdoa setelah shalat nafilah, sebagaimana kelebihan shalat wajib atas shalat nafilah.” (Fathul Bari, 11/134. Tuhfah Al Ahwadzi, 2/197. Darus Salafiyah. Lihat juga Imam Ibnu Baththal, Syarh Shahih Bukhari, 10/94. Maktabah Ar Rusyd)

📌 Sementara Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri Rahimahullah juga mengatakan:

لا ريب في ثبوت الدعاء بعد الانصراف من الصلاة المكتوبة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قولاً وفعلاً، وقد ذكره الحافظ بن القيم أيضاً في زاد المعاد حيث قال في فصل: ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول بعد انصرافه من الصلاة ما لفظه: وقد ذكر أبو حاتم في صحيحه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول عند إنصرافه من صلاته اللهم أصلح لي ديني الذي جعلته عصمة أمري ، واصلح لي دنياي التي جعلت فيها معاشي…

“Tidak ragu lagi, kepastian adanya berdoa setelah selesai shalat wajib dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baik secara ucapan atau perbuatan. Al Hafizh Ibnul Qayyim telah menyebutkan juga dalam Zaadul Ma’ad ketika dia berkata dalam pasal: Apa-apa Saja yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Ucapkan Setelah selesai shalat. Demikian bunyinya: Abu Hatim telah menyebutkan dalam Shahih-nya, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata setelah selesai shalatnya: “Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang telah menjaga urusanku, dan perbaikilah bagiku duniaku yang aku hidup di dalamnya …” (Tuhfah Al Ahwadzi, 2/197)

📌 Berkata Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al ‘Azhim Abadi Rahimahullah :

“في دبر كل صلاة” : أي عقبها وخلفها أو في آخرها

“Pada dubur kulli ash shalah, yaitu setelah dan belakangnya, atau pada akhirnya.” (‘Aunul Ma’bud, 4/269. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

📌 Imam Badruddin Al ‘Aini Rahimahullah juga juga mengatakan:

واستحباب المواظبة على الدعاء المذكور عقيب كل صلاةٍ

“Dan disunahkan menekuni doa dengan doa tersebut pada setiap selesai shalat.” (Imam Al ‘Aini, Syarh Sunan Abi Daud, 5/433. Maktabah Ar Rusyd)

📌 Para ulama Kuwait, yang tergabung dalam Tim penyusun kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah mengatakan:

يُسْتَحَبُّ لِلإِْمَامِ وَالْمَأْمُومِينَ عَقِبَ الصَّلاَةِ ذِكْرُ اللَّهِ وَالدُّعَاءُ بِالأَْدْعِيَةِ الْمَأْثُورَةِ

“Disunnahkan bagi imam dan makmum setelah selesai shalat untuk berdzikir kepada Allah dan berdoa dengan doa-doa ma’tsur.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 6/214. Wizaratul Awqaf wasy Syu’un Al Islamiyah)

Dalam kitab yang sama juga disebutkan:

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّ مَا بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَفْرُوضَةِ مَوْطِنٌ مِنْ مَوَاطِنِ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ

“Pendapat MAYORITAS fuqaha adalah bahwa waktu setelah shalat fardhu merupakan waktu di antara waktu-waktu dikabulkannya doa.” (Ibid, 39/227).

📌 Di halaman yang sama, dikutip perkataan Imam Mujahid sebagai berikut:

إِنَّ الصَّلَوَاتِ جُعِلَتْ فِي خَيْرِ الأَْوْقَاتِ فَعَلَيْكُم

ْ بِالدُّعَاءِ خَلْفَ الصَّلَوَاتِ

“Sesungguhnya pada shalat itu, dijadikan sebagai waktu paling baik bagi kalian untuk berdoa, (yakni) setelah shalat.” (Ibid)

Demikianlah perkataan para imam kaum muslimin dan dalil-dalil yang sangat jelas tentang doa setelah shalat wajib, yang mereka sampaikan.

Maka, sangat tidak dibenarkan sikap sinis dan menyalahkan saudara sesama muslim yang meyakini dan melakukan doa setelah shalat wajib. Seharusnya dalam masalah ini kita berlapang dada.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Tumbuhkan Rasa Percaya Diri


© Tak ada manusia yang sempurna. Tak ada manusia yang tak berdosa. Tak ada manusia yang tanpa kurang satu pun jua. Dan tak ada seorang pun yang luar biasa. Minder? Berkecil hati? Merasa tak mampu? Tepis rasa itu. Lihatlah kemampuan yang kita miliki yang bisa menjadi energi untuk mengubah kita. Lihat selalu sisi baik kita tapi jangan lupakan sisi buruk dari kita. Pikirkanlah bahwa kamu bisa melakukan.

▪Motivasi dari dalam diri merupakan energi yang luar biasa meski membangun motivasi butuh waktu. Membangun kepercayaan diri merupakan awalnya, melihat kelebihan diri tanpa menafikan kekurangan yang dimiliki.

© Kita harus mampu mengevaluasi diri kita. Bila perlu data setiap kekurangan yang ada beserta kelebihannya. Yakinlah dengan kelebihan yang kita miliki, kita mampu memanfaatkannya akan kita dapati hasil yang luar biasa.

▪Jangan pernah merasa bosan untuk belajar. Jangan pernah bosan untuk bisa berubah. Allah mengajarkan pada kita untuk memiliki keyakinan. Seperti apa pun kabut misteri yang ada di hadapan kita selama kita yakin dan menggantungkan keyakinan itu hanya pada Allah semua akan berakhir dengan kebaikan.

© Ibarat perjalanan manusia dari dia dilahirkan, dia selalu berjuang untuk bisa. Allah beri kemampuan dan naluri perjuangan sejak kita bayi. Belajar tengkurap, belajar merangkak, hingga berjalan. Dari berjalan pun akhirnya berlari. Hingga akhirnya menjadi anak-anak yang mulai belajar mandiri. Ketika bersekolah pun tak bosan-bosannya dia mau untuk belajar dan mengerti. Rasa keingintahuan yang begitu besar membuat anak-anak kita tumbuh dan berkembang menjadi anak yang luar biasa.

▪Jangan pernah menyerah sekedar karena keterbatasan kita untuk mengetahui masa depan kita. Tugas kita adalah berdoa dan berusaha setelah kita meletakkan keyakinan sebagai pondasi dalam menjalani kehidupan ini.

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Bermain Dadu..


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah …Saya pernah membaca hadist bahwa bermain dadu itu termasuk perbuatan tercela..Lalu bagaimana hukumnya jika permainan dadu itu bukan dalam rangka berjudi atau yang selainnya..melainkan hanya sekedar permainan..Bagaimana hukumnya masalah itu ustadz??Syukron

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Bermain dadu, baik Ludo, Ular Tangga, monopoli, memang ada larangannya. Walau tidak ada unsur judi.

Dalam hadits disebutkan:

َ مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدَشِيرِ فَكَأَنَّمَا صَبَغَ يَدَهُ فِي لَحْمِ خِنْزِيرٍ وَدَمِهِ

​Barangsiapa yang bermain dadu maka seakan dia mencelupkan tangannya pada daging babi dan darahnya.​ (HR. Muslim)

Hadits diatas menunjukkan keharaman bermain dadu, baik judi atau bukan, sebab penyebutannya memang secara umum.

Imam Al Munawi Rahimahullah berkata dalam ​Faidhul Qadir​:

وقد اتفق السلف على حرمة اللعب به، ونقل ابن قدامة عليه الإجماع

​Para ulama salaf telah sepakat keharaman bermain dadu, Ibnu Qudamah menukil adanya ijma’ atas keharamannya.​ (selesai)

Dahulu saat kecil kita sering memainkannya, semoga Allah memaafkan yg telah lalu.

Sebagian orang berkilah, itu kan jika judi pakai dadu. Tidak benar. Sebab haditsnya tidak membicarakan judi tapi permainan. Jika dengan judi maka keharamannya lebih keras lagi.
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Lupa Niat dan Bacaan, Sahlan Sholatnya?


Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh ustadz. Afwan, mau bertanya sbb:
1. Jika seandainya pada saat setelah takbir tiba2 kita merasa td niat sholatnya sdh benar apa blm, kemudian kita mengulang niat, apakah dibolehkan secara rukun dan apakah shalatnya menjadi syah atau tidak?

2. Jika kita lupa apakah telah membaca surat Al Fatihah, kemudian kita mengulang lagi sebelum atau sesudah surat tambahan lain, apakah dibolehkan secara rukunnya dan apakah sholat kita syah atau tidak.

Syukron katsiran sebelumnya ustadz. Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Niat shalat itu rukun shalat. Jika tidak ada atau salah maka tidak sah, wajib mengulangnya. Posisi niat itu di awal bukan ditengah shalat.

Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin Rahimahullah:

يجب على من أراد الصَّلاة أن ينويَ عينَها إذا كانت معيَّنة

​Wajib bagi yg ingin shalat berniat secara spesifik jika shalatnya memang shalat yg khusus.​

مثل: لو أراد أن يُصلِّي الظُّهر يجب أن ينوي صلاةَ الظُّهر، أو أراد أن يُصلِّي الفجر فيجب أن ينويَ صلاة الفجر، أو أراد يُصلِّي الوِتر فيجب أن ينويَ صلاة الوِتر. انتهى.

​Misal, kalau mau shalat zhuhur maka niatnya shalat zhuhur, kalau mau shalat subuh maka niatnya shalat zhuhur, kalau mau shalat witir maka niatnya witir.​ ​(Syarhul Mumti’)​

Ada pun perubahan niat di tengah shalat ada rincian sebagai berikut:

تغيير النية إما أن يكون من معيَّن لمعيَّن ، أو من مطلق لمعيَّن : فهذا لا يصح ، وإذا كان من معيَّن لمطلق : فلا بأس .

مثال ذلك :

من معيَّن لمعيَّن : أراد أن ينتقل من سنة الضحى إلى راتبة الفجر التي يريد أن يقضيها ، كبَّر بنية أن يصلي ركعتي الضحى ، ثم ذكر أنه لم يصل راتبة الفجر فحولها إلى راتبة الفجر : فهنا لا يصح ؛ لأن راتبة الفجر ركعتان ينويهما من أول الصلاة .

كذلك أيضاً رجل دخل في صلاة العصر ، وفي أثناء الصلاة ذكر أنه لم يصل الظهر فنواها الظهر : هذا أيضاً لا يصح ؛ لأن المعين لابد أن تكون نيته من أول الأمر .

وأما من مطلق لمعيَّن : فمثل أن يكون شخص يصلي صلاة مطلقة – نوافل – ثم ذكر أنه لم يصل الفجر ، أو لم يصل سنة الفجر فحوَّل هذه النية إلى صلاة الفجر أو إلى سنة الفجر : فهذا أيضاً لا يصح .

أما الانتقال من معيَّن لمطلق : فمثل أن يبدأ الصلاة على أنها راتبة الفجر ، وفي أثناء الصلاة تبين أنه قد صلاها : فهنا يتحول من النية الأولى إلى نية الصلاة فقط .

Mengubah niat baik dari shalat mu’ayyan (spesifik) ke shalat mu’ayyan juga, atau shalat muthlaq ke mu’ayyan maka TIDAK SAH. Tapi jika dari mu’ayyan ke muthlaq, tidak apa-apa

contihnya: dari mu’ayyan ke mu’ayyan, seorang ingin mengubah dari shalat sunah dhuha ke shalat sunah fajar, dia ingin mengqadhanya, saat takbir dia niat dhuha 2 rakat, lalu teringat dia blm shalat sunah 2 rakaat sebelum subuh, lalu dia mengubah niat menjadi shalat sunah fajar, maka ini TIDAK SAH, krn sunah fajar adalah dua rakaat dia harus meniatkannya sejak awal

Begitu pula seorang yang shalat ashar, saat shalat ingat belum shalat zhuhur, akhirnya dia meniatkan zhuhur ini juga tidak sah, karena shalat mu’ayyan harus niat itu di awalnya.

Ada pun dari muthlaq ke mua’yyan, contoh seorang sdg shalat sunah muthlaq, lalu dia teringat belum shalat subuh atau belum shalat sunah fajar, lalu dia mengubah niatnya menjadi shalat subuh atau shalat sunah subuh maka ini juga TIDAK SAH. (Majmu’ Fatawa, 12/347)

Shalat MU’AYYAN yaitu shalat spesifik yg memiliki sebab, baik waktu atau peristiwa. Seperti shalat yg 5, Dhuha, tahiyatul masjid, gerhana, istisqa’, tahajud, dan rawatib. Nama lainnya shalat MU’ALLAQ atau MUQAYYAD

Shalat MUTHLAQ, adalah shalat tanpa sebab, dilakukan sekedar ingin shalat saja.
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Tiga Belas Tahun itu Pendek!​





Ketika balatentara Italia menginvasi Libya, status negeri ini masih merupakan wilayah kekhilafahan Turki Utsmani. Karena lemahnya kekuatan militer, terutama angkatan laut, maka İstanbul hanya dapat menyelundupkan senjata bagi para pejuang Muslimin dari Suku Sanussi.

Salah seorang panglima perang mereka yang terkenal adalah Umar (Omar) Mukhtar yang perjuangannya pernah diangkat menjadi sebuah film layar lebar berjudul Lion of the Desert (1981) yang diperankan oleh Anthony Queen.

Sekumpulan perwira menengah Turki Utsmani juga merelawankan dirinya untuk berangkat mengawal bala bantuan ini agar sampai kepada para pejuang Muslimin tersebut.

Tersebutlah seorang kapten Yüzbaşı (يوزباشي) senior bernama Mustafa Kemal dalam rombongan itu. Mustafa baru saja mendapatkan penurunan pangkat akibat kritik terbuka kepada atasannya di Korps XV. Kekecewaan yang cukup mendalam mendorongnya untuk menjadi relawan ke pedalaman Libya meninggalkan politik angkatan bersenjata Turki Utsmani. Tidak semua relawan itu ternyata tulus dalam perjuangannya.

​Kapten Mustafa Kemal ini kelak bersinar kembali karirnya, bahkan naik mendapat gelar Atatürk sebagai kepala negara Republik Turki. Dia pula yang ​menghapus kekhilafahan Turki Utsmani​, 13 tahun kemudian.​

Foto: inspeksi kesatuan sukarelawan (gönüllüler) dari Suku Senussi di pedalaman Tripoli (Tarabulus), Libya, 1911, AND.

Agung Waspodo, mengevaluasi kembali jiwa kerelawanannya.

Depok, 2 Oktober 2017

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Dosa Syirik (Edisi Lengkap)


Assalamu’alaikum ustadz/ustadzah. Mohon penjelasan dosa yang tidak diampuni meski sudah bertaubat yaitu salah satunya adalah syirik, menduakan Allaah. Benarkah dosa tersebut tidak diampuni Allaah meskipun sudah bertaubat dan menghilangksn kesyirikannya tsb? Jazakumullah…
🅰4⃣3⃣

Jawaban
———–

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Allah berfirman :
إِنَّ اللَّـهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن
يُشْرِكْ بِاللَّـهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa’: 116)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisaa’: 48)

Bahwa segala dosa dapat diampuni Allah bagi siapa yang Allah kehendaki, tapi dosa mempersekutukan yang lain dengan Dia, tidaklah dapat Allah mengampuni.

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya berkata, “Allah Ta’ala tidak akan mengampuni dosa syirik yaitu ketika seorang hamba bertemu Allah dalam keadaan berbuat syirik.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, terbitan Dar Ibnul Jauzi, 3: 129).

Maksud ayat ini kata Ibnul Jauzi yaitu Allah tidak akan mengampuni pelaku syirik (musyrik) yang ia mati dalam kesyirikan (Lihat Zaadul Masiir, 2: 103). Ini berarti jika sebelum meninggal dunia, ia sudah bertaubat dan menyesali kesyirikan yang ia perbuat, maka ia selamat.

Yang dimaksud dengan “mengampuni” dalam ayat di atas bermakna, Allah akan menutupi dan memaafkan. Jika dikatakan bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa syirik berarti Allah tidak akan memaafkan dan menutupi orang yang berbuat syirik pada-Nya. Syirik yang dimaksudkan di sini adalah syirik dalam rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Karena mentauhidkan Allah adalah seutama-utamanya kewajiban. Sehingga jika ada yang berbuat syirik (sebagai lawan dari tauhid), maka Allah tidak akan mengampuninya berbeda dengan perbuatan maksiat lainnya.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Qosim rahimahullah berkata, “Jika seseorang mati dalam keadaan berbuat syirik tidak akan diampuni, maka tentu saja ini menunjukkan bahwa kita mesti sangat khawatir terhadap syirik karena begitu besarnya dosa tersebut di sisi Allah.  (Hasyiyah Kitab Tauhid, hal. 48).

Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah berkata, “Syirik adalah dosa yang amat besar karena Allah sampai mengatakan bahwa Dia tidak akan mengampuninya bagi siapa yang tidak bertaubat dari dosa syirik tersebut. Sedangkan dosa di bawah syirik, maka itu masih di bawah kehendak Allah. Jika Allah kehendaki ketika ia berjumpa dengan Allah,  maka bisa diampuni. Jika tidak, maka ia akan disiksa. Jika demikian seharusnya seseorang begitu takut terhadap syirik karena besarnya dosa tersebut di sisi Allah.” (Fathul Majid, hal. 85).

Ayat yang kita kaji berisi ajaran penting, yaitu agar kita waspada terhadap kesyirikan.

Syirik begitu berbahaya sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat lainnya,

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’am: 88).

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65).

Dalam hadits dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang mati dalama keadaan tidak berbuat syirik pada Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang mati dalam keadaan berbuat syirik pada Allah, maka ia akan masuk neraka” (HR. Muslim no. 93).
[12/20, 10:38 PM] Novria Manis: padaa kasus orang syirik maka supaya Allah mengampuni dosanya yaitu dengan meninggalkan syirik yaitu dengan mengucapkan syahadat kembali karena demgan melakukan kesyirikan otomatis orang tersebut sudah keluar dari islam :

أَشْهَدُ أَنْ لَآ اِلَهَ إِلَّا اللهُ, وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Kemudian membuat penyesalan atas perbuatan syirik yang selama ini dipertahankan, dan tanamkan niat dan cita-cita yang kuat untuk tidak kembali kepada kemusyrikan.
Firman Allah SWT pada QS. 8:38

 “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu”.

Orang-orang kafir atau musyrik yang tidak diampuni dosanya sebagaimana yang disebutkan pada surat Annisa ayat 48 dan 116 adalah orang kafir dan musyrik yang mati dalam kekafiran dan kemusyrikannya, artinya bahwa ia mati sebelum sempat bertaubat.

Adapun jika ia sempat bertaubat dengan syarat-syarat yang telah tersebut diatas maka dosanya tetap diampuni dan dimaafkan, inilah maksud firman Allah pada (Qs.4:153

Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir karena kedzalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.) Dan diperjelaskan dengan sangat jelas pada Qs.25:68-71 :Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya). (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina. kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertobat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Terminal Kepuasan Yang Kekal (QS. Al-Lail)


© Mukaddimah

▪Para ulama berbeda pendapat apakah Surat Al-Lail makkiyah atau madaniyah. Namun, menurut Jalaluddin as-Suyuthi, “Surat al-Lail lebih dikenal sebagai surat makki-yah”. Surat al-Lail diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. setelah surat al-A’la.

▪Surat ini membicarakan perbuatan dan amal manusia yang bermacam-macam. Perbedaan amal tersebut memiliki konsekuensi yang berbeda pula, yaitu kebahagiaan dan kesengsaraan. Pada akhirnya semua bermuara pada ridha Allah yang dibalas dengan surga-Nya atau kemurkaan Allah yang diturunkan melalui neraka-Nya.

▪Surat ini juga menjelaskan kesalahan persepsi sebagian orang tentang harta. Namun hal tersebut tidak memberi manfaat sedikit pun di hari kiamat. Hal ini dilengkapi dengan contoh kebahagiaan yang dirasakan oleh orang yang bertakwa yang selalu menyucikan jiwanya.

© Siang Malam Manusia Selalu Berusaha

▪Dengan dimulainya sumpah Allah yang menggunakan pasangan waktu siang dan malam yang kemudian diikuti dengan sumpah menggunakan penciptaan laki-laki dan perempuan, lalu menjelaskan perbedaan perbuatan dan usaha manusia, mengindikasikan seolah manusia baik laki-laki atau perempuan siang atau malam selalu berusaha dan bekerja untuk menyambung hidup di dunia dan sebagian sadar juga meneruskannya untuk persiapan hidup di akhirat.

“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang). Dan siang apabila terang benderang. Dan penciptaan laki-laki dan perempuan”. (QS. 92: 1-3)

▪Sumpah di atas mengisyaratkan bahwa segala sesuatu di alam ini diciptakan Allah dengan berpasangan. Keduanya menjadi unsur penting dalam kehidupan. Keduanya saling terkait dan berhubungan. Maka keduanya juga saling melengkapi.

“Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda”. (QS. 92: 4)

▪Ada yang konsisten menjaga amalnya agar selalu berada dalam kebaikan. Namun, sebaliknya, juga ada yang selalu berada dalam kejahatan. Di samping itu ayat di atas juga mengindikasikan bahwa manusia yang berbeda-beda juga memiliki perbuatan dan pekerjaan yang berbeda-beda. Baik pekerjaan dan amal duniawi maupun perbuatan atau amal ukhrawi juga bertingkat-tingkat. Maka sebagaimana perbedaan amal ini maka ganjaran dan balasannya kelak juga berbeda.

© Perbuatan dan Konsekuensinya

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga). Maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. (QS. 92: 5-7)

▪Orang-orang yang berani menginfakkan hartanya di jalan Allah. Ia tak pernah khawatir sedikit pun akan ditimpa kebangkrutan. Lalu ia juga bertakwa dan menjaga diri dari yang diharamkan Allah. Sebagaimana ditafsirkan oleh Ibnu Abbas ra. Dan ia meyakini bahwa yang dilakukannya tidaklah sia-sia. Allah telah menjanjikan balasan yang sangat luar biasa. Maka ia mempercayainya dengan sepenuh hati.

▪Menurut beberapa ulama dan ahli tafsir kata “al-Husna” di sini artinya bermacam-macam. Ada yang menafsirkannya dengan surga. Sebagian lain menafsirkannya sebagailâ ilâha illalLâh, islam, dan balasan Allah atas amal kebaikan. Namun, semuanya tidaklah berlawanan arti karena muaranya sama yaitu Allah yang menjanjikan balasan bagi setiap amal baik yaitu surga melalui tuntunan agama Islam.

▪Maka sebagai konsekuensi dari kedermaan dan ketakwaan serta tsiqah billah ini membuahkan hasil yang manis berupa kemudahan. Yaitu kemudahan dalam membiasa-kan amal kebaikan serta kemudahan memperoleh kebahagiaan dan kelapangan hidup dan kelak dimudahkan jalannya menuju surga.

▪Ayat ini diturunkan untuk mengabadikan akhlak mulia Abu Bakar ra yang membeli Bilal bin Rabah dari Umayah bin Khalaf serta memerdekakan Bilal tanpa syarat apapun. Zubair bin Awwam menceritakan bahwa pembelian Bilal dihina oleh banyak orang karena menurut mereka alangkah baiknya jika Abu Bakar membeli budak yang lebih baik dari Bilal. Tapi penghinaan ini tak digubris oleh Abu Bakar.

▪Menurut riwayat lain ayat ini diturunkan untuk mengapresiasi Abu Dahdah al-Anshary yang suatu hari berada di kediaman seorang munafik yang memiliki kurma. Ia melihat kurma-kurma tersebut berjatuhan ke rumah tetangganya yang yatim. Orang munafik tersebut mengambili kurma-kurma tersebut, khawatir akan diambil oleh anak-anak yatim tetangganya. Abu Dahdah al-Anshary berkata kepada mereka, “Biarkan saja itu untuk mereka maka engkau akan mendapat gantinya di surga”. Namun sang munafik tersebut tidak menggubrisnya. Abu Dahdah kemudian membelinya semuanya dan menghibahkannya untuk anak-anak yatim tersebut.

“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala terbaik. Maka kelak kami akan siapkan baginya (jalan) yang sukar”. (QS. 92: 8-10)

▪Sebaliknya orang yang bakhil dengan menimbun hartanya dan kikir dalam mendermakannya ia akan merasa berada dalam gelimangan harta. Ia mempresepsikan bahwa dengan harta ia bisa memiliki segalanya dan memenuhi semua keinginannya. Maka ia kemudian menjadi bertambah sombong. Allah pun tak lagi dianggapnya sebagai Tuhan yang memberinya karunia dan rizki yang lapang. Ia lupakan Allah. Ia dustakan ketuhanan-Nya. Ia ragukan keserbamahaannya. Maka ia pun meragukan janjinya. Bahkan ia dustakan sama sekali dan menganggap bahwa kebenaran hari akhir dan pembalasan amal hanya sebuah ilusi.

▪Maka orang yang memiliki karakter seperti di atas ini sangat baik bila diberikan kesulitan yang berlipat. Allah mudahkan baginya jalan kesukaran. Maka hidupnya akan dipenuhi kesulitan meski ia berlimpah harta. Hatinya tak tenang. Fisiknya digerogoti penyakit. Dan kelak saat maut menjemputnya ia baru merasakan kerugian dan petaka besar yang akan menyengsarakannya.

“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa”. (QS. 92: 11)

“Taradda” artinya mati dan dikuburkan. Ini merupakan kiasan dari kematian dan kebinasaan. Harta yang ditimbun dan selalu dijaganya siang malam tersebut tak bisa menghalangi datangnya kehancuran dan kematiannya. Dan tak sepeserpun dari harta yang dikumpulkan tersebut yang ia bawa ke liang lahat. Jika pun orang yang masih hidup memaksakan untuknya membawa harta tersebut, hal itu tidaklah berguna. Bahkan kalau pun hal tersebut bisa terjadi ia akan berhadapan dengan makhluk yang tidak mengenal arti dunia. Maka ia takkan pernah bisa menyuapnya dengan harta.

© Dua Jalan Telah Dibentangkan

▪Ada dua jalan yang sama-sama terbuka. Manusia diberi kebebasan untuk memilih jalan tersebut. Namun, Allah tetaplah bijak dan Maha Kasih. Dia menurunkan dan mengirim utusan-Nya dari kalangan manusia untuk mengingatkan mereka dan membimbing agar para manusia tidak tersesat dalam memilih jalan itu. Maka, Dia pun mengobral petunjuk-Nya. Sampai demikian pun manusia tetap saja banyak yang enggan mengambilnya.

“Sesungguhnya kewajiban kamilah memberi petunjuk” (QS. 92: 12)

▪Tidaklah akan mungkin terjadi kesalahan bila seseorang mau mengikuti petunjuk Allah dengan benar. Karena Allah memiliki segalanya.

“Dan sesungguhnya kepunyaan kamilah akhirat dan dunia”. (QS. 92: 13).

▪Dunia dan seisinya Allahlah pemiliknya. Demikian pula akhirat dan semuanya yang berhubungan dengannya Allahlah yang mengendalikan-Nya. Bila seseorang lebih memilih dunia dan menghalanginya untuk mencintai pemiliknya maka ia benar-benar akan sengsara ketika memasuki alam akhirat, saat kehidupan dunia-Nya dipertanggungjawabkan dan kemudian dibalas dengan setimpal.

▪Pada suasana yang demikian orang-orang yang bakhil di atas akan sangat menyesali kebodohan dirinya. Padahal Allah telah benar-benar mengirim orang terbaik di antara mereka untuk menjadi pengingat yang baik.

“Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala” (QS. 92: 14)

▪Neraka yang menyala tersebut disediakan untuk mereka yang mendustakannya.

“Tidak masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka” (QS. 92:15).

▪Orang-orang celaka itu adalah orang “yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman)” (QS. 92: 16)

▪Dan dengan cinta-Nya pula “kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu” (QS. 92: 17).

▪Siapakah orang-orang yang beruntung tersebut. Yaitu orang “Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya”(QS. 92: 18). Ia semata mengharap mampu membersihkan jiwanya.

▪Dia membersihkan dirinya, juga hartanya dari sesuatu yang ia khawatirkan akan menyebabkan murka Allah juga ia bersihkan jiwanya dari sifat riya’ dan sombong yang kadang merupakan akibat bila seseorang mendapat kenikmatan berupa harta dan kedudukan di atas rata-rata sesamanya.

“Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya”. (QS. 92: 19)

▪Dia bersedekah dan mengeluarkan hartanya dalam jalan kebaikan bukan karena sebuah balas budi yang menjadi tanggungannya atau supaya kelak jika ia dalam kesulitan akan ada balasan yang membantu mengelurkannya dari kesusahan. Atau ia berharap dengan yang lebih baik dari yang didermakannya. Kedermawanannya tersebut dilandaskan pada keikhlasan yang sangat dijiwainya. Allah menuturkannya,

“Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari ridha Tuhannya Yang Maha Tinggi” (QS. 92: 20)

▪Dan karena ia mampu melakukan dan menunjukkan kemurnian cintanya tersebut pada pemilik dunia dan akhirat kelak ia akan puas dan takkan merasa rugi. “Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan”. (QS. 92: 21)

▪Dan kepuasan yang demikian itu bersifat kekal. Maka ia menjadi orang yang paling beruntung, sebagai balasan atas usahanya yang terus menjaga diri untuk menjadi hamba-Nya yang paling bertaqwa. Dalam surat al-Fajr Allah menggabungkan dua kepuasan dan keridhaan sekaligus, “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya” (QS. 89:28).

▪Ia rela dengan janji Allah dan ia puas dengan balasan-Nya. Allah pun mencintai dan meridhainya. Sungguh sebuah puncak kepuasan yang sebenar-benarnya.

▪Baik itu Abu Bakar ash-Shiddiq atau pun Abu Dahdah al-Anshary juga para pengikut jejak mereka dalam kedermawanan, kelak akan benar-benar merasakan kepuasan yang tak terputus dan abadi.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA