Membaca Al-Quran dengan Suara Nyaring


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Ustadz mau tanya tentang hukum baca alquran dengan suara terdengar nyaring, soalnya saya pernah di tegur kaka ipar ketuka lagi tilawah katanya tidak boleh bersuara
Adakah hujjahnya tentang hal itu?
Jazakalloh khoir usatad

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Bismillah wal Hamdulillah ..
Jika membaca Al Qur’an dengan suara keras memang ada maslahat, orang lain bisa mengambil manfaat, atau dalam keadaan mengajar, tidak apa-apa.

Dalam hal ini dalilnya banyak:

– Abu Musa Al Asy’ari membaca Al Qur’an dengan suara merdu, Nabi ​Shallallahu’Alaihi wa Sallam​ mendengarkannya tanpa sepengetahuannya, dan Beliau pun memuji dengan kalimat:

لَقَدْ أُوْتِيْتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيْرِ أَهْلِ دَاوُدَ

“Sungguh engkau telah diberi seruling di antara seruling-seruling keluarga Nabi Daud.” (HR. Bukhari dan Muslim)

▪ Abu Hurairah ​Radhiyallahu ‘Anhu​ berkata, bahwa Nabi ​Shallallahu’Alaihi wa Sallam​ bersabda:

ما اذن اللهُ بِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيِّ حُسْنَ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يُجْهِرُ بِهِ

​“Allah tidak memberi izin terhadap suatu perbuatan sebagaimana Nabi diizinkan membaguskan suara dalam melagukan Al-Qur’an secara JAHR (nyaring).”​ (HR. Bukhari dan Muslim)

▪ Nabi ​Shallallahu’Alaihi wa Sallam​ pun pernah meninggikan suara dengan merdu saat membaca Al Qur’an, dan para sahabat mendengarkannya.

Abdullah bin Al Mughaffal ​Radhiyallahu ‘Anhu​ berkata:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ عَلَى نَاقَتِهِ يَقْرَأُ سُورَةَ الْفَتْحِ
قَالَ فَقَرَأَ ابْنُ مُغَفَّلٍ وَرَجَّعَ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ لَوْلَا النَّاسُ لَأَخَذْتُ لَكُمْ بِذَلِكَ الَّذِي ذَكَرَهُ ابْنُ مُغَفَّلٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Pada hari Fathu Makkah, saya melihat Rasulullah ​Shallallahu ‘Alaihi wa sallam​ di atas untanya membaca surat Al Fath. Ibnu Mughaffal pun membacanya dan mengulangi bacaannya kembali. Kemudian Mu’awiyah berkata, “Sekiranya bukan karena (akan berkumpulnya) manusia, niscaya saya melakukan seperti yang telah disebutkan oleh Ibnu Mughaffal dari Nabi ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​.” (HR. Muslim)

Dan masih banyak kisah lainnya. Semua ini menunjukkan mengeraskan suara saat membaca Al Qur’an, tentu dengan indah dan tartil, adalah perbuatan yang boleh bahkan dilakukan oleh orang-orang utama.

Hanya saja, mengeraskan suara menjadi TERLARANG, jika sampai mengganggu orang lain, baik sedang shalat, dzikir, atau tilawah Al Quran juga.

Berikut ini dalilnya:

▪ Diriwayatkan dari Al Bayadhi:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى النَّاسِ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَقَدْ عَلَتْ أَصْوَاتُهُمْ بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ إِنَّ الْمُصَلِّي يُنَاجِي رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَنْظُرْ مَا يُنَاجِيهِ وَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

“Bahwa Rasulullah ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ keluar menuju mesjid dan manusia sedang shalat, mereka meninggikan suara mereka dalam membaca Al Quran, maka Nabi bersabda: “Sesungguhnya orang yang shalat adalah orang sedang bermunajat dengan Rabb-nya ‘Azza wa Jalla maka konsentrasilah dengan munajatnya itu! Dan janganlah kalian saling mengeraskan suara dalam membaca Al Quran.” (HR. Ahmad No. 19022. Syaikh Syu’aib Al Arna-uth mengatakan: shahih. Ta’liq Musnad Ahmad No. 19022)

Dari Abu Said al Khudri ​Radhiallahu ‘Anhu​:

اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ فَكَشَفَ السِّتْرَ وَقَالَ أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ أَوْ قَالَ فِي الصَّلَاةِ

“Rasulullah ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ i’tikaf di masjid, beliau mendengar manusia mengeraskan suara ketika membaca Al Quran, maka dia membuka tirai dan bersabda: “ Ketahuilah sesungguhnya setiap kalian ini bermunajat kepada Rabbnya, maka jangan kalian saling mengganggu satu sama lain, dan jangan saling tinggikan suara kalian dalam membaca Al Quran atau di dalam shalat.” (HR. Abu Daud No. 1334, Ibnu Khuzaimah No. 1162, Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 4216, dll. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani, Syaikh Salim Husein Asad, Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

​📚 Kesimpulan:​

☘ Syaikh Sayyid Sabiq ​Rahimahullah​ mengatakan:

يحرم رفع الصوت على وجه يشوش على المصلين ولو بقراءة القرآن. ويستثنى من ذلك درس العلم.
​“Diharamkan mengeraskan suara (dimasjid) hingga menyebabkan terganggunya orang shalat walau pun yang dibaca itu adalah Al Quran, dikecualikan bagi yang sedang proses belajar mengajar Al Quran.”​ ​(Fiqhus Sunnah, 1/251)​

☘ Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ​Rahimahullah​ berkata:

رفع الصوت بالقراءة إذا كان فيه مصلحة؛ لأن هناك من يستمع، وهم كثيرون، فيرفع الصوت حتى يبلغهم هذا مطلوب، أما إذا كان رفع الصوت قد يشوش على المصلين أو القراء لا، يخفض صوته لا يشوش على الناس

​Meninggikan suara saat membaca Al Qur’an jika mengandung maslahat, karena ada yang mendengarkan dan mereka banyak, maka meninggikan suara hingga sampai kepada mereka justru diperintahkan. Tapi, jika itu mengganggu orang shalat atau orang yang sedang membaca Al Qur’an, maka tidak boleh. Hendaknya dia merendahkan suaranya jangan sampai mengganggu manusia.​ (selesai)
Demikian.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Sujud Hidung Tidak Menyentuh Tanah, Batalkah Shalatnya?​


Tentang menempelkan hidung saat sujud, ada beragam pandangan walau zhahirnya menunjukkan wajib.

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah menjelaskan:

فقد اختلف العلماء في حكم وضع الأنف على الأرض أثناء السجود:

📌Para ulama berbeda pendapat tentang hukum meletakkan hidup ke tanah saat Sujud:

-فذهب الشافعي وهو رواية عن مالك ورواية عن أحمد إلى عدم الوجوب.

📌Imam Asy Syafi’iy, salah satu riwayat dari Imam Malik, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, mengatakan itu TIDAK WAJIB.

-وذهب ابن جبير و النخعي و إسحاق وهو رواية عن مالك ورواية عن أحمد إلى الوجوب.

📌Ibnu Jubeir, An Nakha’i, Ishaq, dan salah satu riwayat dari Imam Malik, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, bahwa itu WAJIB

-وذهب أبو حنيفة إلى أن الواجب هو أن يضع جبهته أو أنفه على الأرض.

📌Abu Hanifah mengatakan wajibnya itu meletakkan dahi atau hidung di atas tanah.

والظاهر هو الوجوب، لحديث ابن عباس في الصحيحين أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” أمرت أن أسجد على سبعة أعظم: الجبهة وأشار إلى أنفه، واليدين، والركبتين، وأطراف القدمين ”

📌Namun, secara zhahirnya menunjukkan wajib, berdasarkan hadits dalam Shahihain, dari Ibnu Abbas ​Radhiyallahu ‘Anhuma​ bahwa Nabi ​Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam​ bersabda:

Aku diperintah bersujud di atas 7 tulang: ​dahi dan beliau mengisyaratkan ke hidungnya, dua tangan, dua lutut, dan ujung dua telapak kaki.​

والأمر يقتضي الوجوب. وقد قال صلى الله عليه وسلم: ” صلوا كما رأيتموني أصلي ” رواه البخاري
والله أعلم.

📌Dan perintah konsekuensinya adalah menunjukkan wajib. Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ​Shalatlah kami seperti melihat aku shalat.​ (HR. Bukhari).

Wallahu A’lam

​(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah, no. 15023)​

📝 ​Kemudian .., apakah batal jika tidak menyentuh tanah? Tidak, shalatnya tetap sah menurut 4 madzhab.​

Berikut ini keterangannya:

وأما من سجد ووضع جزءًا من جبهته على الأرض، ولم يلامس أنفه الأرض؛ فصلاته صحيحة في المعتمد من قول المذاهب الأربعة، ولكنها ليست على السنة الكاملة. يقول الخطيب الشربيني: “يكفي وضع جزء من كل واحد من هذه الأعضاء كالجبهة

✅Ada pun orang yg sujud dengan meletakkan bagian dahinya di tanah tanpa meletakan hidungnya di tanah, maka shalatnya SAH menurut pendapat mu’tamad (resmi) EMPAT MADZHAB, tapi itu bukanlah di atas sunnah yang sempurna. Khathib Asy Syarbini mengatakan: ​”Sudah cukup meletakkan bagian dari tiap-tiap salah satu anggota sujud itu sepeti dahi.”​ ​(Mughni Muhtaj, 1/372, Fathul Qadir, 1/300, Mawaahib Al Jalil, 1/520, Kasysyaaf Al Qinaa’, 1/352)​

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Makna Laa ilaha ilallah

🐝 MFT (MANIS For Teens)

📆 Senin, 09 Muharram 1439 / 02 Oktober 2017

📕 Aqidah

📝 Prima Eyza

📖 MAKNA-MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAAH (مَعَانِي لَا إِلٰهَ إِلَّا الله)
==========☆☆☆=========
☝🏻🎯☝🏻🎯☝🏻🎯☝🏻🎯☝🏻

Assalaamu’alaikum wr.wb.

🤗 Apa kabar, adik-adik ?  Mudah-mudahan senantiasa dalam kebaikan iman dan Islam, dalam limpahan kenikmatan dan rahmat Allah SWT, dalam semangat dan kesungguhan di jalan Allah SWT… Aamiin..
Hari ini mari kita lanjutkan kembali pembahasan kita dalam bidang studi Aqidah, masuk kepada tema baru yakni *Makna-Makna Laa Ilaaha illallaah*

tuntutan buat kita dalam keimanan ini untuk memahami kandungan makna-makna dalam kalimat _Laa Ilaaha illallaah_. Sebab kalimat tesebutlah yang menjadi dasar aqidah Islam. Jangan sampai kita hanya melafazhkan kalimat _Laa Ilaaha illallaah_ di lisan, bahkan berulang-ulang dan terus berulang-ulang di sepanjang hidup kita, namun kita tidak sampai kepada pemahaman tentang makna-makna yang dikandung oleh kalimat tersebut. Sebab kandungan makna-makna di dalam kalimat tersebutlah yang akan menguatkan dan menyempurnakan keimanan kita kepada Allah Ta’ala.

Kata _”ilah”_ dalam bahasa Arab memiliki arti yang banyak sekali, sehingga makna/arti dari kalimat لَا إِلٰهَ إِلَّا الله  (Laa Ilaaha ilaLLAAH: Tidak ada Ilah selain Allah) juga banyak.
Penting sekali bagi kita untuk lebih detail memahami makna-makna kalimat  لَا إِلٰهَ إِلَّا الله  (_Laa Ilaaha ilaLLAAH_) agar kita dapat berkomitmen dengan makna-makna itu dan menjadikan diri kita mukmin yang bertauhid murni (meng-Esa-kan Allah SWT dengan sempurna), tauhid yang tidak terkotori oleh syirik dan segala hal yang merusak kemurniannya.

Makna yang pertama dari kalimat لَا إِلٰهَ إِلَّا الله (_Laa Ilaaha ilaLLAAH: Tidak ada Ilah selain Allah_) adalah:

لَا خَالِقَ إِلَّا الله

(_Tidak ada Pencipta kecuali Allah_)

☝🏻 Tidak ada Pencipta kecuali Allah

Ketika kita meyakini bahwa tidak ada ilah (Tuhan yang berhak disembah) selain Allah SWT, maka kita pun wajib meyakini bahwa Tidak ada Pencipta kecuali Allah.
Allah SWT adalah satu-satunya Pencipta (Khaliq) . Sebab satu-satunya Dzat yang bersifat Wujud (Ada) dan Qidam (Terdahulu) adalah Allah SWT. Maka segala sesuatu selain Allah SWT adalah ciptaan Allah SWT (makhluq) seluruhnya. Segala yang wujud (ada) selain dari Allah SWT maka ia berasal dari penciptaan Allah SWT.

Allah SWT Menciptakan yang :
– Telah tiada
– Sekarang ada
– Akan ada

Allah SWT  tidak pernah berhenti dalam mencipta. Kekuasaan-Nya dalam mencipta tidak terbatas dan meliputi segala sesuatu.
Banyak sekali terhampar dalam Al Qur`an ayat-ayat yang menegaskan tentang Allah SWT sebagai Sang Pencipta, diantaranya:

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

“_(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu._”
(QS. Al An’aam [6] : 102)

Maka, Allah lah Yang Menciptakan alam raya ini seluruhnya; bumi, langit beserta segala isinya. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. As Sajdah [32] ayat 4,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

“_Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?_”

Allah Ta’ala pun memuji Ulul Albab (orang-orang yang berakal) yang selalu bertafakkur (berfikir/merenung) tentang kuasa Allah SWT pada penciptaan langit dan bumi,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“_Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka._”
(QS. Ali Imran [3] : 190-191)

Hasil dari keyakinan bahwa tidak ada Pencipta selain Allah SWT adalah munculnya kesadaran bahwa kita ini –*manusia*– adalah makhluk (ciptaan) Allah. Manusia –*dan seluruh makhluk di alam raya ini*– bukanlah ada dengan sendirinya.
Sehingga terkait diri kita sebagai manusia, apapun kondisi kita; jabatan kita, ilmu kita. intelektualitas kita, ketampanan/kecantikan kita, harta kekayaan kita, dan segala yang melekat pada diri kita, semua itu adalah ciptaan Allah SWT seluruhnya; berasal dari Allah Ta’ala semuanya. Kita–*manusia*– ini hanyalah makhluk, yang mana makhluk tentu memiliki ketergantungan yang sangat tinggi kepada Khaliq (Pencipta) yakni Allah ‘Azza wa Jalla.
Sebagaimana dalam Al Qur`an disebutkan,

اللَّهُ الصَّمَدُ

“_Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu._”
(QS. Al Ikhlash [112] : 2)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya:
“_Ikrimah telah meriwayatkan dari lbnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah yang bergantung kepada-Nya semua makhluk dalam kebutuhan dan sarana mereka.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari lbnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah Tuhan Yang Mahasempurna dalam perilaku-Nya, Mahamulia yang Mahasempurna dalam kemuliaan-Nya, Mahabesar yang Mahasempurna dalam kebesaran-Nya, Maha Penyantun yang Mahasempurna dalam sifat penyantun-Nya, Maha Mengetahui yang Mahasempurna dalam pengetahuan-Nya, dan Mahabijaksana yang Mahasempurna dalam kebijaksanaan-Nya. Dialah Allah Yang Mahasempurna dalam kemuliaan dan akhlak-Nya. Dan hanya Dialah Allah SWT yang berhak memiliki sifat ini yang tidak layak bagi selain-Nya. Tiada yang dapat menyamai-Nya dan tiada yang setara dengan-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Esa lagi Mahamenang._”

Demikian pula *Syaikh Sayyid Quthb* dalam tafsirnya Fii Zhilaalil-Qur`an menjelaskan:
“_Makna ash-shamad menurut bahasa berarti tuan yang dituju yang suatu perkara tidak akan terlaksana kecuali dengan izinnya. Allah SWT adalah Tuan (Majikan) dan tidak ada tuan (majikan) yang sebenarnya selain Dia. Allah adalah Maha Esa dalam uluhiyah-Nya (keTuhanan-Nya) dan segala sesuatu adalah hamba bagi-Nya. Hanya Dia-lah satu-satunya yang dituju untuk memenuhi segala hajat makhluk. Hanya Dia satu-satunya yang dapat mengabulkan kebutuhan orang yang berkebutuhan. Dia-lah Yang Memutuskan segala sesuatu dengan izin-Nya, dan tidak ada seorangpun yang dapat memutuskan bersama Dia._”

Demikianlah, Tiada Pencipta selain Allah. Dia-lah Sang Pencipta segala seuatu.

Wallaahu alam bishshowab.
Bersambung…

☝🏻🎯☝🏻🎯☝🏻🎯☝🏻🎯☝🏻

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala

==========☆☆☆==========
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/majelismanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📱 Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c

Perbedaan Qiyamullail dan Tahajud​


🔲 Apa sih Qiyamullail?

معنى القيام أن يكون مشتغلا معظم الليل بطاعة , وقيل : ساعة منه , يقرأ القرآن أو يسمع الحديث أو يسبح أو يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم

Makna Al Qiyam yaitu menyibukkan diri disebagian besar malam dengan ketaatan. Ada yang mengatakan: walau sebentar. Caranya dgn membaca Al Qur’an, mendengar hadits, bertasbih, atau bershalawat kpd Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 34/117)

🔳 Ada pun tahajud, para ulama mengatakan itu shalat setelah tidur, tapi mayoritas ulama mengatakan tahajud adalah shalat malam secara mutlak walau sebelum tidur, itu juga tahajud.

Dalam Al Mausu’ah:

وفيه قولان : الأول : أنه صلاة الليل مطلقا ، وعليه أكثر الفقهاء .
والثاني : أنه الصلاة بعد رقدة

Ada dua pendapat:

1. Yaitu shalat sunnah di malam hari secara mutlak. Inilah pendapat mayoritas fuqaha.

2. Shalat setelah tidur.

(Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 2/232)

Maka, makna Qiyamullail lebih luas cakupan dan bentuknya dibanding tahajud.

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Poligami….


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
afwan mau bertanya..saat ini kondisi saudara saya sedang lemah. Suaminya bersikeras ingin poligami atas dasar iba dg wanita lain teman kerja..janda anak 2, masih muda dan punya usaha sendiri. suaminya iba karena sering mendengar curhatan perempuan tsb. hingga memutuskn untuk menghalalkn hubungannya saja. suaminya selalu mendoktrin istrinya untuk menerima niatan poligaminya dg alasan..”ingin memberikan jannah untuk istrinya tsb”. istrinya orang baik, walaupun dia merasa sangat sakit bahkan sudah tak terasa air matanya sering menetes akhirnya mengizinkan suaminya berpoligami atas dasar mengalah saja demi anak2 dan agar suaminya bahagia..

mendengar keputusan itu bapa dari istrinya marah..sampai tak sadarkan diri, linglung dan dibawa ke RS..ibu dari istri nya pun punya penyakit jantung. namun suaminya ttp bersikeras atas nama jannah…

pertanyaan saya bagaimana seharusnya ustadz meluruskan kembali suaminya..dan bagaimana tafsir dari qs. dalam al quran.mengenai poligami..
syukron jazaakillah..🙏🏻

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
1. Menurut fikih, poligami bisa dilakukan oleh suami jika mampu bersikap adil, punya kemampuan finansial untuk membiaya seluruh isteri2 dan anak2nya, keluarga yang pertama tidak terbengkalai

2. Jika tidak terpenuhi, maka tidak diperkenankan untuk poligami

3. Dalam kasus dalam soal, ;
Isteri memperkuat ruhiah dan maknawiah kepada allah swt agat bisa bersabar dan tsabat

4. Suami dan isteri perlu dialog bisa langsung atau menyertakan ortu.
Boleh jadi alasan suami poligami bukan yang terucap, tetapi ada hal lain; misalnya isteri tidak bisa menunaikan kewajibannya sebagai isteri dan ibu dari anak2…., karena itu suami memilih poligami.

5. Tetapi jika motiv suami hanya kasihan pada wanita lain, atau mungkin (syahwat), maka bisa dingatkan dengan pertemuan langsung atau sesama ortu. Diingatkan dengan masa depan anak2, masa depan keluarga,, dan seterusnya

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

ISTRI


Allah ﷻ berfirman dalam Surat An-Nisā [4] ayat 1:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan Kalian yang telah menciptakan kalian dari seorang diri, dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.

📌 Di balik kesuksesan seorang pria ada wanita di belakangnya, istrinya terkasih. Namun, di balik kegagalan seorang pria juga di antaranya karena ada wanita yang tidak halal di belakangnya.

📌 Wanita adalah madrasah bagi anak-anak kita, bekerjasama aktif dalam membentuk kepribadian dan adab anak keturunan kita adalah sebuah kemestian

📌 Berinteraksi dengan isteri kita membutuhkan kesadaran dan pemahaman utuh akan kelebihan dan kekurangannya. Nabi Muhammad ﷺ, pernah bersabda:

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ

Sesungguhnya wanita itu dijadikan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Maka jika kamu bertindak untuk meluruskannya. niscaya kamu akan membuatnya patah. Tetapi jika kamu bersenang-senang dengannya, berarti kamu bersenang-senang dengannya, sedangkan padanya terdapat kebengkokan.

Gaji Istri > Gaji Suami


Assalamu’alaikum ustadz/ah….Mau menanyakan sesuatu hal, bermula dr sebelum nikah mereka (adik saya dan suaminya) pacaran kurleb 2 th, selama pacaran orang tua saya dan saudara2 saya termasuk saya tidak setuju adik berhubungan dg suaminya itu dikarenakan tidak pernah sholat. Tahun 2013 mereka menikah, dari awal menikah hingga saat ini pernikahan mereka tidak pernah rukun, kalau kata adik saya, dalam sebulan bahagianya hanya seminggu. Adik saya asisten apoteker di rs haji, suaminya buka bengkel bubut ( bukanya siang sekitar pukul 9/10), klo sedang bertengkar sama istrinya tidak buka bengkel. Pendapatan istrinya lbh besar dr suaminya, istrinya insyaa alloh slalu menjalankan kwajibannya sbg muslimah atau pun istri, sedangkan suaminya msh blom mau sholat, puasa ramadhan jg selalu dilewatkan hampir tiap tahunnya. Hampir tiap lebaran mereka bertengkar, kalau adik cerita, yang menjadi permasalahannya adalah gaji istrinya, suaminya ingin tahu secara detail kemana saja gajinya itu, padahal gaji istrinya diberikan kpd orang tuanya, orang tua suaminya dan keperluan sehari2, sampai kontrakan bengkel pun kata adik saya sih adik saya yg bayar. Slama ini suaminya jg selalu menuntut supaya istrinya menjadi istri yang berguna, istri yang selalu taat pada suaminya, sedangkan slama ini istrinya yg mengurus rumah sebelum berangkat / pulang kerja, nyuci, nyetrika, dll. Suaminya hampir tiap malam kelayapan, pulang larut malam, setiap pulang kelayapan minta dipijitin sama istrinya dg sikap kasar menggunakan kaki membangunkan istrinya yg sedang tidur. Ruang gerak istrinya dibatasin, hanya sekedar main k rumah kakaknya saja yang hanya terhalang 10 rumah aja tidak diperkenankan, ketika istrinya minta izin mau ikut tahsin, suaminya bilang ” belajar ngaji, benerin aja dulu kelakuannya”, ketika tahun lalu mau berqurban memakai uangya sendiri, suaminya bilang “buat kontrakan aja blum ada”, akhirnya tidak jadi qurban padahal uang kontrakan sudah disediakan sama istrinya, qurban kemarin, istrinya bilang mau qurban, suaminya tidak respon, akhirnya istrinya tetep berqurban, tapi malah jadi bertengkar gara2 istrinya berqurban itu. Barusan istrinya bilang ke saya kalau dia ingin ngontrak saja, selama ini tidak pernah merasa dianggap istri oleh suaminya, sudah capek menghadapi suaminya itu. Pernah suatu hari istrinya menyarankan suaminya untuk mencari istri lagi, jawaban suaminya ” kamu ngusir saya, mentang2 saya miskin”.
Mohon pencerahannya ustadz/ah, bagaimana seharusnya sikap adik saya terhadap suaminya itu supaya rumah tangganya lebih baik lagi. saya sebagai kakaknya bingung harus bagaimana, kasian lihat adik saya, ada suatu hal lagi tadz, selama ini adik saya terlalu memfasilitasi dalam hal keuangan, sampai2 jika ada teman suaminya berkunjung, suaminya bilang ke temannya kalau istrinya itu adalah bosnya.
Jazakalloj khoiir atas jawabannya.

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Saya turut prihatin dengan rumah tangga adik anti. Semoga kisah ini jadi pelajaran mahal buat mereka yg mau menikah. Dan memilih calon suami tidak semata cinta tapi yg paling mendasar adalah pengetahuan agama dan ibadah kesehariannya. Karena mereka yg paham agama akan berusaha menjadi suami yang baik dan paham dengan firman Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

” Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. “
(Qs. At-Tahrim, Ayat 6)

Dari cerita diatas betapapun keluarga tdk setuju tp takdir berbicara lain. Pernikahan terjadi. Dan itulah resiko dari keputusan yg sdh di ambil oleh adik.

Lalu bila semua sudah terjadi, apa yg bisa kita lakukan?

Kita sebagai orang luar tidak bisa berbuat banyak kecuali hanya saran
1.Keadaan ini disebabkan karena ketidak pahaman suami akan ajaran islam shg berdampak dalam kehidupan nya. Tidak sholat .tidak jd suami yg baik.dll
2.Istri yang mau menerima suami dengan kondisi tsb diatas maka konsekwensi logisnya mengalami apa yg sdh di alami selama ini.
3.Dengan kondisi seperti itu kembali bagaimana keputusan adik anti. Mau lanjut , bersabar, dan banyak doa atau mau menggugat cerai karena sudah tidak tahan.

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA