I Like Monday..!!

📘 Ibadah – MFT

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan

●•• Pernah baca papan reklame “I Don’t Like Monday?” yang artinya “Aku Tidak Suka Senin.” Entah apa yang melatarbelakanginya, kemungkinan karena manusia kembali berkutat pada rutinitas kesibukannya setelah berlibur,  dan kemacetan lalu lintas di kota-kota besar, seperti Jakarta, yang sangat luar biasa di hari Senin.

●•• Seorang muslim tentu tidak mudah ikut-ikutan seperti itu. Sebab hari Senin termasuk hari istimewa dalam Islam. Apa saja itu?

●▣ Hari diperiksanya amal manusia

⇨ Dari Abu Hurairah Radhilallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ

“Diperiksa amal-amal manusia pada setiap Jumat (baca: setiap pekan) sebanyak dua kali; hari senin dan hari kamis.” (HR.  Muslim No. 2565)

●▣ Hari dianjurkannya puasa

“Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya: bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Amal-amal manusia diperiksa setiap hari Senin dan Kamis, maka saya suka ketika amal saya diperiksa saat saya sedang berpuasa.” (HR. At-Tirmidzi No. 747, katanya: hasan gharib. Syaikh Al-Albani mengatakan: shahih. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 747)

●▣ Hari dibukanya pintu-pintu surga dan diampunkannya hamba

“Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

“Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, maka saat itu akan diampuni semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan: ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai.” (HR. Muslim No. 2565, Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 411, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 6626)

●▣ Senin adalah hari lahir , hari wafat, dan hari diutusnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menerima wahyu pertama

• Dari Abu Qatadah Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ

Nabi ditanya tentang hari senin. Beliau menjawab: “Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus menjadi rasul, atau diturunkan kepadaku (wahyu).” (HR. Muslim No. 1162)

• Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa dia ditanya:

أَيِّ يَوْمٍ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ

Hari apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat? Beliau menjawab: “Hari senin.” (HR. Bukhari No. 1387)

●▣ So, .. masih I Don’t Like Monday???

TAUHIDULLAH (Mengesakan Allah)

📚 AQIDAH

📝 Pemateri: Ustadz Aus Hidayat Nur

Apa yang dimaksud dengan tauhid?

Tauhid artinya mengesakan Allah dalam seluruh keyakinan,  perkataan maupun perbuatan seorang yang beriman.

Secara bahasa kata “tauhid” diambil dari kata wahhada-yuwahhidu tawhiidan yang dalam Bahasa Arab artinya menyatukan atau mengesakan. Maka seorang muslim yakin bahwa Allah Maha Esa, tiada sekutu baginya dalam penciptaan, kekuasaan, perbuatan , fungsi maupun sebagai tujuan beribadah.

Tauhid merupakan inti dari aqidah Islam. Karena keimanan kepada Allah harus disertai dengan keyakinan terhadap keesaan-Nya.  Inilah yang membedakan iman Islam  yang membangun keyakinan tauhid kepada Allah dengan selain Islam yang tidak bertauhid.

Sebenarnya hanya Islam yang tegak dengan  keyakinan  Ketuhanan Yang Maha Esa, karena konsep Tauhid Islam didasarkan pada wahyu Allah yang tidak diragukan lagi kebenarannya.

Firman Allah,

 قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ * اللَّهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Al Ikhlas: 1-4)

Bagaimanakah Al Qur-an membagi tauhid?
Mengapa perlu pembagian tauhid itu?

Secara umum tauhid dapat dibagi menjadi empat bagian yang keseluruhannya saling berhubungan dan tidak terpisahkan satu dengan lain karena saling menjelaskan. Keempatnya berdasarkan  Al Qur-an Surat Alfaatihah dan Surat An Naas,

1) Tauhid Rububiyah: Alhamdulillahi Robbil Aa’lamin (al faatihah)- Rabbunnaas (An Naas)

2) Tauhid Mulkiyah : Maliki Yaumid diin (Al faatihah) – Malikinnaas (An Naas).

3) Tauhid Asma wa Sifat: Bismillahirrahmaanirrahiim (Al faatihah dan awal seluruh surat Al Qur-an).

4) Tauhid Uluhiyah : iyyaka na’budu (Al faatihah) – ilahinnaas (AlFatihah)

Pembagian tauhid dimaksudkan untuk memudahkan Kaum Muslimin mempelajari tauhidullah, menyerap kandungan maknanya dalam hati dan pikiran serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Itulah sebabnya para ulama aqidah ada yang membagi tauhid itu hanya dua saja yaitu Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah.

Ada pula yang membaginya atas tiga: Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma wa Sifat. Sebenarnya karena Mereka memasukkan Tauhid mulkiyah ke dalam pembahasan Tauhid Rubiyah atau ke dalam Tauhid Asma wa Sifat. Sesuai keperluan masing-masing dalam pembinaan aqidah yang dilakukan.

Perbedaan tersebut hanya bersifat metoda keilmuan saja, isi dan kandungannya sama.

Pertama: Tauhid Rububiyah

Tauhid rububiyah adalah keyakinan kokoh bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemelihara dan Pengatur (penata) alam semesta. Allah Maha Esa dalam segala yang dilakukan-Nya, tidak memerlukan bantuan atau pertolongan saat menciptakan memelihara, mengatur dan menjaga seluruh makhluk-Nya.

Tauhid Rububiyah menolak anggapan orang-orang yang menyekutukan Allah dalam menciptakan alam semesta dan manusia.

Firman Allah,
Segala puji  bagi Allah, Tuhan semesta alam (AL-fatihah: 2)

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (Al A’raaf: 54)

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (Yunus: 3)

Sesungguhnya  semua manusia mengakui rububiyah Allah, bahwa Dia Maha Pencipta namun mereka tidak mentauhidkannya sehingga ada keyakinan bahwa pihak lain memberi andil dalam penciptaan atau pengaturan alam semesta.

Hati manusia telah diberi fitrah untuk mengakui Rubiyah Allah dalam hal wujud (eksistensi). Sebagaimana perkataan para Rasul yang difirmankan Allah,
“Rasul-rasul mereka berkata, “Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah , Pencipta langit dan bumi?” (Ibrahim: 10)

Firaun yang paling dikenal pengingkarannya terhadap ajaran atauhid yang dibawa Nabi Musa Alaihis salaam pun hatinya mengakui ketuhanan Allah ini.

Sebagaimana perkataan Musa Alaihis Salaam kepadanya,

Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa.” (Al Isra: 102)

Orang-orang yang mengingkai eksistensi Allah seperti kaum komunis dan para pemuja Science beranggapan bahwa alam terjadi dengan sendirinya. Mereka hanya menampakkan keingkaran dan kesombongan untuk mengakui Sang Pencipta. Karena batin mereka diam-diam mengakui Yang Maha Agung. Sebab tidak ada satu benda pun kecuali ada yang membuatnya, dan tiada suatu reaksi melainkan pasti ada aksi.

Kepalsuan omongan mereka telah dibongkar  oleh Allah dengan firman-Nya.

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ * أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۚ بَلْ لَا يُوقِنُونَ * أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa? (Ath thuur: 35-37)

Termasuk dalam Tauhid rububiyah ini adalah keyakinan bahwa Allah satu-satunya yang menghidupkan dan mematikan, menyembuhkan atau membuat sakit, menentukan nasib dan peruntungan maupun kerugian Kita, memberi manfaat dan mudharat dalam kehidupan Kita, sekecil apa pun hal tersebut. Seseorang yang mempercayai bahwa seekor angsa telah menyelamatkan rumah dari pencurian tergolong orang yang  tidak mentauhidkan Allah secara Rububiyah. Demikian juga orang-orang yang beranggapan bahwa yang menyembuhkan adalah dokter atau obat yang diminumnya tergolong syirik rubiyah.

Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?”
Jawabnya: “Allah.”

Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?.”

Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?”

Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Ar Ra’du: 16)

Penyimpangan terhadap Tauhid Rububiyah ini membuat pelakunya terjatuh ke dalam neraka. Perhatikanlah bagaimana penyesalan penghuni neraka.

فَكُبْكِبُوا فِيهَا هُمْ وَالْغَاوُونَ * وَجُنُودُ إِبْلِيسَ أَجْمَعُونَ * قَالُوا وَهُمْ فِيهَا يَخْتَصِمُونَ * تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ * إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat. dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka: “demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam.” (Asysyu’raa: 94-98)

Melalui perkataan Nabi Ibrahim AS yang diabadikan dalam Al Qur-an  – Allah adalah sebaik-baik yang menjelaskan tentang Tauhid Rububiyah ini, ketika Ibrahim berkata kepada kaumnya:

Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan Semesta Alam, (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), (Asysyu’raa:75-81 )

Perhatikan bagaimana Nabi Ibrahim Alaihis Salaam menunjukkan keyakinan tauhid rubiyahnya penuh dengan etika dan kesantunan, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku. (Asy-Syu’ara’: 80)

Sakit dinisbatkan (disandarkan) kepada diri Ibrahim sendiri, sekalipun pada kenyataannya berasal dari takdir Allah dan ketetapan-Nya, juga sebagai ciptaan-Nya, tetapi sengaja disandarkan kepada diri Ibrahim sebagai etika sopan santun terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dalam tauhid rububiyah keyakinan yang kokoh bahwa Allah Maha Menciptakan segala sesuatu membuat seorang mukmin tidak terperdaya dengan kemajuan orang-orang kafir dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam keyakinan Kaum Muslimin semuanya merupakan ciptaan Allah,
yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya (Alfurqon: 2)

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Faathir: 1)

dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.(Annahal:8)

Dengan demikian tidak ada satu benda pun yang dianggap hasil kemajuan teknologi modern melainkan juga merupakan ciptaan Allah dengan segala ketentuan-ketentuan-Nya.

Firman Allah,
Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (Asshafaat: 96)

Semua buatan manusia yang bermanfaat bagi sesamanya merupakan bagian dari ciptaan Allah. Karena itu hak memerintah alam semesta  dan masing-masing  jiwa manusia hanyalah hak Allah namun kebanyakan manusia tidak mengetahui atau menyadarinya.

(Bersambung)

Ilmu Laduni

Ustadz Farid Nu’man

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah..Ilmu laduni itu apa ya umm? Dan bagaimana penjelasannya didalam Al-Qur’an & Hadits ?

Mohon dijabarkan umm..
Syukran

Jawaban
—————

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah ..

Ladunniy artinya dari sisiKu. Jadi, Ilmu Laduni adalah ilmu dari sisi Allah ﷻ. Sebagian kalangan ada yang mengatakan ini khusus bagi para nabi saja. Ada yang  mengatakan bahwa ini berlaku umum baik para nabi, waliya, dan cerdik cendekia.

Dalam Syarh Al Hikam disebutkan:

وقال بعضهم العلم اللدني هو أسرار الله يبديها إلى أنبيائه وأوليائه وسادات النبلاء من غير سماع ولا دراسة

Sebagian mereka mengatakan, Ilmu Ladunniy adalah rahasia-rahasia Allah yang ditampakkan kepada para nabiNya, para waliNya,dan para tokoh-tokoh mulia, tanpa mendengar dan mengkaji. (Syarh Al Hikam Al Atha’iyyah, Hal. 205)

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menjelaskan:

يشير القوم بالعلم اللدني إلى ما يحصل للعبد من غير واسطة بل بإلهام من الله وتعريف منه لعبده كما حصل للخضر عليه السلام يغير واسطة موسى قال الله تعالى : آتيناه رحمة من عندنا وعلمناه من لدنا علما الكهف : 65

Segolongan kaum mengisyaratkan bahwa ilmu laduni adalah apa yang diperoleh seorang hamba dengan tanpa perantara, tetapi melalui ilham dari Allah dan ma’rifah hamba kepadaNya, seperti yang didapatkan oleh Khidhir ‘Alaihissalam tanpa perantara Musa ‘Alaihissalam.
Allah ﷻ berfirman:
“yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. Al Kahfi: 65).
(Madarijus Salikin, 2/475)

Jadi, ilmu Laduniy adalah ilmu yang diperoleh seorang hamba langsung dari Allah ﷻ. Tentunya hal ini tidak sembarangan dan serampangan, sebagaimana klaim orang-orang yang jauh dari syariat, yang malas menuntut ilmu, dengan enteng mereka katakan kami tidak belajar kepada yang pasti mati (manusia) tapi langsung dari yang Maha Hidup (Allah ﷻ). Ini adalah talbis Iblis buat mereka.
Yang benar, Ilmu Laduniy merupakan ilmu yang berasal dari Allah ﷻ yang dihasilkan karena buah peribadatan, mujahadah, dan talaqqi keilmuan. Tidak ujug-ujug turun kepada para pemalas, pemikir nyeleneh, sufi menyimpang, apalagi ahli maksiat.
Imam Ibnul Qayyim kembali menjelaskan:

و العلم اللدني ثمرة العبودية والمتابعة والصدق مع الله والإخلاص له وبذل الجهد في تلقي العلم من مشكاة رسوله وكمال الانقياد له فيفتح له من فهم الكتاب والسنة

Ilmu Laduni merupakan buah peribadatan, mengikuti sunah, benar bersama Allah, ikhlas kepadaNya, dan bersungguh-sungguh dalam mendapatkan ilmu dari pelita RasulNya, kesempurnaan ketundukan kepadaNya, maka dibukakanlah untuknya pemahaman   Al Quran dan As Sunnah. (Ibid)

Maka, mujahadah (bersungguh-sungguh) dalam ibadah, berma’rifah kepada Allah, mengikuti sunnah,  dan juga mentalaqqi ilmu, akan menjadi jalan baginya turunnya ilmu-ilmu Allah kepadanya. Itulah ilmu Ladunniy.

Wallahu a’lam.

Selman Reis Tidak Pernah Lelah (Delapan Pelajaran dari Seorang Kapten Laut)

📚 TARIKH DAN SIROH

📝 Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

Kapten (Reis) Selman adalah seorang pelaut Turki Utsmani yang terkenal ulung. Beliau berasal dari Pulau Lesbos di perairan Aegean. Beliau memulai karir perjuangannya sebagai pelaut bayaran pada angkatan laut Mamluk sebelum menjadi seorang admiral pada angkatan laut Turki Utsmani.

*Lesson #1 semua ‘amal shalih dimulai dari skala kecil yang ditekuni penuh passion sebelum meningkat dampaknya dengan izin Allah SWT.*

Beliau mendaftarkan dirinya pada angkatan laut Mamluk ketika kesultanan tersebut berperang melawan Kerajaan Portugis. Beliau memimpin sekitar 1.500 pelaut asal pesisir Suriah dalam kesatuannya. Ada yang menganggap kesatuan ini mulanya dibenci oleh Sultan Selim I dari Turki Utsmani.

*Lesson #2 biasakanlah menjadi relawan, beramal dengan hati yang bersih.*

Tugas pertama beliau adalah memimpin 19 kapal perang Mamluk dengan tujuan menyergap kapal Portugis yang lalu-lalang di Samudera Hindia sepanjang tahun 1515. Armada beliau meninggalkan pelabuhan Suwayz (Suez) di ujung utara Laut Merah pada 30 September 1515. Armada ini diperkuat 3000 pasukan yang di dalamnya terdapat 1300 marinir Turki. Operasi ini gagal merebut Aden (Yaman) pada 17 September 1516, namun berhasil membangun benteng di Kamaran.

*Lesson #3 belajarlah dari kegagalan sebagaimana belajar dari kesuksesan.*

Beliau kembali ke pangkalan laut Mamluk di kota Jeddah. Secara kebetulan juga berhasil melindungi pangkalan tersebut ketika diserang armada Portugis pada tahun 1517. Tahun naas dimana Mamluk akhirnya takluk kepada kekhilafahan Turki Utsmani. Kini bangsa Turki menjadi penerus perjuangan di front Laut Merah. Sungguh disayangkan, Selman Reis justru ditawan dan dijebloskan ke dalam penjara di İstanbul. Tuduhan yang ditimpakan kepada beliau adalah disloyalitas. Beliau mendekam di dalam penjara hingga tahun 1520.

*Lesson #4 tidak semua ‘amal shalih mendapatkan pejuang manusia, karena memang mukmin hanya fokus pada keridhaan Rabbnya.*

Beliau dicari untuk memperkuat jajaran kelautan Turki Utsmani di Mesir ketika İbrahim Parğali Paşa menjabat sebagai gubernur Mesir tahun 1524. Beliau ditugaskan untuk melakukan survei regional Samudera Hindia pada masa Sultan Süleyman Kanuni. Beliau menyusun laporan yang merekomendasikan pendudukan Ethiopia, Yaman, hingga ke pesisir Swahili.

*Lesson #5 seseorang dikenal karena reputasinya, camkan!*

Beliau juga menyusun pola operasi laut guna mengusir Portugis dari benteng mereka di selat Hormuz, Goa, dan Malakka. Pada tahun 1525, Portugis benar-benar menyerbu pelayaran Laut Merah sesuai prediksi beliau. Pada tahun itulah, beliau diangkat sebagai admiral guna mengatasi ancaman serius ini. Beliau memimpin armada sejumlah 18 kapal berkekuatan total 299 meriam. Uniknya, kapal-kapal ini aslinya sudah dicoret dari daftar inventaris Mamluk padahal masih teronggok di pelabuhan Jeddah. Armada yang beliau pimpin juga mengangkut detasemen darat Hayreddin ar-Rumi berkekuatan 4000 pasukan.

*Lesson #6 kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas.*

Armada ini meninggalkan Suwayz tahun 1526 dengan pemberhentian pertama memperbaiki pertahanan dermaga Jeddah. Lain kali kalau ke Jeddah jangan terlalu fokus pada Masjid “Terapung” ya! Setelah itu armada merapat di Mocha, pesisir barat Yaman, dan memadamkan pemberontakan syi’ah yang dipimpin oleh Mustafa Beg. Setelah itu memaksa amir kota Aden untuk tunduk pada kekuasaan Turki Utsmani sebelum memperkuat pertahanan benteng di Kamuran. Operasi militer pertama beliau untuk pertama kalinya menghentikan kesewenangan kapal Portugis mulai tahun 1527.

*Lesson #7 selalu waspada dengan pengkhianatan syi’ah*

Perselisihan akibat perbedaan pandangan tentang bagaimana mengelola Yaman dan ekspedisi di Samudera Hindia antara Selman Reis dan Hayreddin ar-Rumi pada akhirnya melemahkan keberadaan khilafah Turki Utsmani di region ini. Padahal sekitar 1528, pelaut bayaran Asal Turki sudah semakin sering ditemukan di perairan Sumatera.

*Lesson #8 perpecahan hanya akan melemahkan.*

Gambar ilustrasi menggambarkan manuver laut Selman Reis di Jeddah menghadapi serangan armada Portugis, 1517.

Agung Waspodo, menjelang istirahat malam
Rabu, 11 Januari 2017

Menyekolahkan Anak Atau Bayar Hutang ?

Ustadz Nurdiana

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…Ustadz mau tanya punya cita2 nyekolahkan anak di pondok tp biaya mahal sedangkan hutang( buat bangun rumah dll) msh blm lunas diprioritaskan yg mana nggih?# A 35

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Untuk menyekolahkan anak di pondok merupakan cita cita yang baik. Mahal itu relatif dan kita bilang mahal biasanya karena kita sedang tidak ada uang tapi bagi mereka yg punya penghasilan tetap dan ada uang , biasa bilang tidak mahal😊
Yang penting kuatkan saja niatnya dan banyak doa sama Allah. Allah maha kaya . Coba saja lebih giat hunting pondoknya. Banyak juga kok pondok yang tidak mahal bahkan ada yang gratis.

Mana yang prioritas bayar hutang atau sekolah anak?
1. Jangan di benturkan keduanya. Dua duanya bisa berjalan bersama
2. Cari sekolah yang terjangkau
3.Tingkatkan ibadah dan lebih banyak lagi sedekah. Karena saat kita memberi sesungguhnya kita akan jauh lebih banyak menerima.
4.Allah maha melihat dan mendengar banyak berdoa
5.Selalu berprasangka baik kepada Allah dan berharap hanya kepada Allah.karena saat kita berharap kepada manusia. Kita akan selalu kecewa.

Wallahu a’lam.

SYARAT-SYARAT DITERIMANYA SYAHADATAIN (Lanjutan)

📗 Aqidah – MFT

📝 Ustadzah Prima Eyza Purnama

▣ Assalaamu’alaikum Wr.Wb

▣ Bagaimana kabarnya hari ini, adik-adik ?? Mudah-mudahan senantiasa dalam kebaikan iman dan limpahan hidayah dari Allah SWT. Aamiin..

◈• Mari kita lanjutkan kembali pembahasan kita mengenai syarat-syarat diterima syahadat yang pada kesempatan lalu telah selesai membahas syarat yang kelima. Kali ini pembicaraan kita masuk pada syarat yang keenam.

SYARAT KEENAM:

اَلْقَبُوْلُ اَلْمُنَافِيْ لِلرَّدِّ

(PENERIMAAN YANG MENGHILANGKAN PENOLAKAN)

▣ Orang yang bersyahadat haruslah menerima segala konsekuensi dari syahadat yang diucapkan. Bahwa ia harus berTuhan kepada Allah SWT saja satu-satunya, sehingga harus taat sepenuhnya kepada Allah SWT dengan ikhlas, dan bahwa ia mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya sehingga harus ber-ittiba’ (mengikut) kepada semua ajaran beliau SAW.

→ Analoginya persis seperti adanya JUAL-BELI antara diri kita dengan ALLAH.

Firman Allah SWT dalam QS At-Taubah (9) ayat 111:

إِنَّ اللهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

→ ALLAH membeli dari orang-orang beriman itu diri (jiwa) dan harta mereka dengan bayaran dari-Nya yakni surga.

◈ Orang-orang beriman menjual jiwa dan hartanya kepada Allah SWT bermakna bahwa orang-orang beriman menjadikan jiwa dan hartanya tersebut sebagai sarana untuk bermujahadah (bersungguh-sungguh) di jalan Allah; bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada Allah dengan segenap jiwa dan seluruh hartanya. Mereka mempersembahkan segenap jiwa dan hartanya untuk totalitas melaksanakan ajaran Allah SWT. Mereka tidak pernah merasa berat di dalam dirinya (jiwanya) untuk bersungguh-sungguh dalam ketundukan kepada Allah.

▣ Tidak pula merasa berat menyerahkan hartanya untuk mentaati perintah Allah, menyambut seruan Allah, dan mematuhi semua ajaran Allah. Tidak ada keberatan dan penolakan sedikitpun terhadap segala apa yang datangnya dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Semua diterima sepenuhnya, tanpa syarat.

▣ Maka, kemudian Allah membeli jiwa dan harta orang-orang beriman tersebut dengan memberikan surga kepada mereka. Ini tentu balasan yang sangat besar dari Allah kepada orang-orang beriman. Karena pada hakikatnya, jiwa dan harta orang-orang beriman tersebut adalah milik Allah seluruhnya. Dan surga Allah nilainya tentu jauh dan sangat-sangat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jiwa dan harta orang-orang beriman. Jadi sebenarnya, sudahlah Allah membeli milikNya sendiri, malah Allah membayar dengan harga yang jauh lebih tinggi pula dari apa yang dibeliNya tersebut.

◈ Allaahu Akbar…
Inilah balasan dari Allah bagi orang-orang yang menerima segala konsekwensi dari syahadatnya, yakni bersungguh-sungguh dengan jiwa dan hartanya di jalan Allah.
 
▣ Demikian pula firman Allah SWT dalam QS Ash Shaff (61) ayat 10-13, Allah memberitahukan tentang perniagaan yang dapat menyelamatkan dari api neraka:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10 تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (11 يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (12 وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (13

“(10) Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (11) (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, (12) niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.(13) Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.”

◈ ‘Perniagaan’ yang tidak akan pernah rugi, selalu untung, dan yang akan menyelamatkan dari azab yang pedih kelak di hari kiamat yakni:

→ Beriman kepada ALLAH dan RasulNya.

→ Bersungguh-sungguh di jalan ALLAH dengan harta dan jiwa.

▣ Ingatlah bahwa diri (jiwa) dan harta kita bukan milik kita, tapi milik ALLAH, maka tentu diri dan harta tersebut harus digunakan menurut kehendak dan aturan Pemiliknya, yakni Allah ‘Azza wa Jalla. Jika kita menggunakannya tidak sesuai dengan kehendak/aturan Pemiliknya, berarti telah kita telah berkhianat dari syahadat kita kepada Allah.

◈ Allah telah mewahyukan dalam QS Al-Ahzaab (33) ayat 36:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.”

▣ Semoga kita senantiasa menjadi mukmin yang penuh tunduk dan taat menerima semua ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya, tanpa penolakan dan keberatan sedikitpun.
Aamiiin…

Bersambung…

Wallaahu a’lam bishshowab..

Bolehkah Spa?

Ustadz Farid Nu’man

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…
Dalam hal merawat diri, bagaimana ketika wanita/pria ketika ber spa?

Terkhusus kepada istri, yg mau spa khusus di salon muslimah, ini seperti apa?jatuhkah larangan dikarenakan menampakkan aurat kepada orang lain??

🌸🌸🌸 Jawaban

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Spa pada prinsipnya tdk apa2, tapi tetap menjaga aurat dari laki-laki yg bukan mahram .., lalu bagaimana dgn wanita lain?

Wanita ada 2 aurat ..

1. Mughallazhah, berat, seperti dibawah leher, dada sampai lutut, ini hanya boleh dilihat oleh suami

2. Aurat mukhafafah, ringan, seperti sepanjang tangan, leher, betis, rambut, .. ini boleh terlihat oleh mahramnya (ortu, kakak, adik, paman, kakek, anak, keponakan), dan juga wanita muslimah lain ..

Lengkapnya kepada siapa aja boleh terlihat, baca ayat ini ya .

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, *atau wanita-wanita islam,* atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An Nuur: 31)

Ada pun kepada laki2 yg bukan mahram (ipar dan sepupu termasuk bukan mahram), tidak boleh menampakkan semua jenis aurat tsb.

Wallahu a’lam.

Nasihat Hati

📚 MOTIVASI

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

☘Apakah hati sudah terpaut dengan Al Quran?
Apakah hati lebih cenderung pada jalan kebenaran?
Apakah hati sudah tertambat pada keistiqamahan?

🌹Atau…
Hati yang lebih condong pada kemungkaran
Hati yang lebih memilih jalan kesesatan
Hati yang lebih menyukai belenggu setan?

☘Tak dirasai perilaku mulai tercela
Tak disadari kata-kata berbalut dusta
Tak dipungkiri hidup pun tak lagi bermakna

🌹Kala diri tak rindu sajadah
Kala diri mulai malas bertilawah
Kala diri berhasrat meninggalkan dakwah

☘Apa yang akan kita persembahkan?
Tak ada catatan amal kebaikan
Tak punya pahala yang jadi bekalan
Hingga saatnya di yaumul mizan

🌹Tergugu di ujung hari
Tak tau akan nasib diri
Bila akhlak tak segera diperbaiki

☘Bila nafas masih bisa dihela
Berharap ada kesempatan kedua
Menyadari segala khilaf dan alpa.

🌹Hingga perjalanan ini berakhir
Ada karya yang sudah kita ukir
Dan mendapat pahala yang sentiasa mengalir.
Berharap mulia di akhir masa

☘Mendapat surga sebagai balasannya
Hidup kekal di alam baka
Bahagia pun dirasa hingga di Surga

🌹 *Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah* berkata:

_“Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (macam penderitaan):_

_1.Kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya,_
_2. Kepayahan yang tiada henti, dan_
_3. Penyesalan yang tiada berakhir._

☘Hal ini dikarenakan orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) jika telah mendapatkan sebagian dari (harta benda) duniawi maka nafsunya (tidak pernah puas dan) terus berambisi mengejar yang lebih daripada itu.

🌹Sebagaimana dalam hadits yang shahih *Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam* bersabda,
_“Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang berisi) harta (emas) maka dia pasti (berambisi) mencari lembah harta yang ketiga“_
[HR al-Bukhari (no. 6072) dan Muslim (no. 116)].
[“Igaatsatul lahfaan” (1/37)]

☘Begitu juga seperti halnya nasihat *Ibnu Athaillah Al Iskandari*
_”Bagaimana mungkin qalbu akan bersinar, sedangkan bayang-bayang dunia masih terpampang di cerminnya? Bagaimana mungkin akan pergi menyongsong Ilahi, sedangkan ia masih terbelenggu nafsunya? Bagaimana mungkin akan bertamu ke hadirat Nya. Sedangkan ia belum bersuci dari kotoran kelalaiannya? Bagaimana mungkin diharapkan dapat menyingkap berbagai rahasia, sedangkan ia belum bertobat atas kekeliruannya.”_

Wallahu A’lam.

Pidato Pertama Abu Bakar Ash Shiddiq Pasca Pengangkatannya Sebagai Khalifah

📔 Sirah

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan

▣● Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu menceritakan pidato Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu setelah dibai’atnya menjadi seorang khalifah pertama umat Islam:

أما بعد أيها الناس فإني قد وليت عليكم وليست بخيركم، فإن أحسنت فأعينوني وإن أسأت فقوموني، الصدق أمانة، والكذب خيانة، والضعيف فيكم قوي عندي حتى أريح عليه حقه إن شاء الله، والقوي فيكم ضعيف حتى آخذ الحق منه إن شاء الله، ولا يدع قوم الجهاد في سبيل الله إلا ضربهم الله بالذل، ولا تشيع الفاحشة في قوم قط إلا عمهم الله بالبلاء، أطيعوني ما أطعت الله ورسوله، فإذا عصيت الله ورسوله فلا طاعة لي عليكم، قوموا إلى صلاتكم يرحمكم الله.

▣ Amma ba’du, Wahai Manusia….

● Aku telah diberikan amanah memimpin kalian padahal aku bukan yang terbaik di antara kalian. Maka, jika aku berbuat baik tolonglah aku. Jika aku berbuat buruk luruskanlah aku. Kejujuran itu amanah, kedustaan itu khianat. Orang lemah yang ada pada kalian adalah orang kuat bagiku sampai aku membahagiakannya dengan memberikan haknya, Insya Allah. Sedangkan orang kuat yang ada pada kalian adalah lemah sampai aku mengambil hak darinya, Insya Allah.

● Tidaklah segolongan kaum meninggalkan jihad fisabilillah melainkan Allah akan timpakan kepada mereka kehinaan, dan tidaklah kekejian melekat pada sebuah kaum sedikit pun melainkan Allah akan timpakan musibah buat mereka secara merata.

● Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya, jika aku membangkang kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada keta’atan kalian untukku. Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kalian.

▣● Imam As Suyuthi, Tarikh Al-Khulafa, Hal. 64. Darul Fikr, Beirut. Libanon

Sikap Imam Rabbani, Imam An Nawawi Rahimahullah, Terhadap Kebijakan Penguasa Yang Mencekik Rakyat”

📚 Sirah dan Tarikh

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

Sulthan Zhahir Baibras ingin memerangi pasukan Tartar di Syam. Raja hendak meminta fatwa para ulama tentang dibolehkannya memungut harta rakyat sebagai biaya jihad melawan Tartar. Maka, para fuqaha (ahli fiqih) Syam menulis kesepakatan yang membolehkan hal itu.

Azh Zhahir bertanya, “Masih adakah yang belum menyetujui kebijakan ini?” Seseorang menjawab, “Ya, Syaikh Muhyiddin An Nawawi.”

Azh Zhahir meminta Imam An Nawawi untuk menemuinya. Imam An Nawawi memenuhi permintaan itu. Azh Zhahir berkata, “Tulislah kesepakatan bersama para Ahli Fiqih!” Namun Imam An Nawawi menolaknya.
Sulthan Zhahir bertanya, “Apa sebabnya kamu tidak mau memberikan fatwa yang membolehkan seperti Ahli Fiqih lainnya?”

Imam An Nawawi menjawab:

“Aku tahu bahwa dahulu kau menjadi budak Bandaqar, dan kamu tidak punya harta. Setelah itu Allah memberikan kenikmatan kepadamu dan menjadikanmu sebagai raja. Aku telah mendengar bahwa kamu punya seribu budak, setiap budak memiliki simpanan emas, kamu memiliki dua ratus budak wanita, dan mereka semua punya perhiasan. Seandainya kau infakkan semua hartamu dan harta budak-budakmu itu, niscaya aku akan fatwakan kepadamu bolehnya mengambil harta rakyat.”

Mendengar jawaban ini, Sulthan Zhahir menjadi marah, lalu berkata, “Keluarlah dari negeriku (Damsyiq/Damaskus).” Imam An Nawawi menjawab, “Aku turuti dan taati perintahmu.” Lalu Imam An Nawawi keluar menuju Nawa.

Namun, para Ahli Fiqih berkata kepada Azh Zhahir, “Dia adalah salah satu ulama besar dan orang shalih kami, dan termasuk orang terpercaya dan diteladani. Kembalikanlah dia ke Damaskus.”

Akhirnya, Imam An Nawawi ditawari kembali ke Damaskus namun dia menolak tawaran itu, dan berkata, “Aku tidak akan masuk ke sana, selama Azh Zhahir masih ada di dalamnya.” Satu bulan setelah peristiwa itu, Imam An Nawawi wafat.

Saya dapatkan dalam kitab lain, kalimat yg lebih rinci :

Fa maata Azh Zhaahir ba’da syahr … Lalu Azh Zhaahir wafat sebulan setelahnya …, jd yang wafat adalah Raja Azh Zhaahir, bukan Imam An Nawawinya.

🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹

📚 Syaikh Wahiduddin Abdussalam Bali, ‘Ulama wa Umara, Hal. 71

Inilah simbol keteguhan ulama, kuatnya daya kritis, dan tegar di atas prinsip, bukan sikap diam atau membeo yang selalu menjadi stempel dan bumper semua yang dilakukan dan diinginkan penguasa, sebagaimana sebagian da’i-da’i penjilat penguasa saat ini. Da’i-da’i yang justru menyerang para aktifis Islam yang mengkritisi kezaliman penguasa. Terbalik.

Inilah ulama Rabbani, di antara bunga-bunga Ahlus Sunnah wal Jamaah yang indah, yang telah mengaplikasikan hadits:

أفضل الجهاد كلمة عدل ( وفي رواية : حق ) عند سلطان جائر

Jihad paling utama adalah mengutarakan kalimat yang adil (dalam riwayat lain: kalimat yg haq) di hadapan pemimpin yang zalim. (Hr. At Tirmidzi, katanya: hasan gharib. Abu Daud, Ibnu Majah. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah No. 491)

Saat ini kebijakan tidak prorakyat itu ada .., tapi mana Imam An Nawawinya ..?