Ketika Allah Menjadi Prioritas Utama

Ketika Allah Menjadi Prioritas Utama

๐Ÿ“˜ Ibadah – MFT

๐Ÿ“ Ustadzah Lelisya

โ—โ€ขโ€ข Duhai Pejuang Perubahan, perlu diperhatikan 3 hal yang mungkin sedang kita lalui dan itu berkaitan dengan syahwat diri kita yang sangat merusak

ๅ›žโ— Rasa takutnya diri kita dalam melihat masa depan yang belum pasti, saat kita merencanakan mimpi besar kita, yang terbayang dalam fikiran kita adalah pertanyaan yang meragukan “bisa atau tidak yaa ??? dan bayangan-bayangan kegagalan lebih menyelimuti fikiran kita

ๅ›žโ— Kemalasan yang di perjuangkan, karena kita memang lebih sibuk dengan aktifitas mubah daripada sunnah, karena kita lebih di sibukkan dengan perkara yang makruh dan mungkin kita berlebihan dalam menggunakan waktu kosong dengan memperbanyak diri di kasur

ๅ›žโ— Kita sering futur atau lemah dalam menata aktifitas dan ibadah, kita mengetahui bahwa Dhuha melapangkan, kita mengetahui infaq shodaqoh memberikan kesehatan, kita mengetahui Al-Qur’an mensakinahkan dan menjamin kebahagiaan, kita mengetahui bentuk ubudiyah lain nya jalan menuju Cinta dan Ampunan dari ุงู„ู„ู‡ ุนุฒูˆุฌู„

Sobat Mft,coba perhatikan baik-baik tadabbur ayat ini๐Ÿ‘‡๐Ÿป๐Ÿ‘‡๐Ÿป๐Ÿ‘‡๐Ÿป

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Al-Anfaal : 2)

Ada 4 penekanan di ayat ini untuk kita dalam merangkai syahwat menjadi fitrah kebaikan

โ— Ada jaminan dari ุงู„ู„ู‡ untuk kita dalam menggapai kesakinahan Hati, kualitas Iman dan Tawakkal yang tidak terkikis dengan rasa putus asa

โ— Bukan sekedar Dzikrullah tetapi lisan kita harus selalu basah dan Dzikrullah agar ุงู„ู„ู‡ memberikan Hati kita berselimut kesakinahan, kelembutan dan kesantunan

perbanyaklah Taubat dengan Istighfar, perbanyaklah Tasbih, Tahmid, Tahlil dan Takbir, karena kalimat-kalimat Thoyibah menjamin Hati kita semakin sakinah

โ— Benteng terbaik untuk menjamin Hati dan Jiwa kita agar mendapatkan perlindungan Cahaya ุงู„ู„ู‡ adalah Al-Qur’an, perbanyak terus lisan kita membaca dan menghafal Al-Qur’an, hiduplah dengan Al-Qur’an dan biarlah Al-Qur’an menjadi Sahabat Sejati kalian

โ— Raihlah kesuksesan masa depan kita dengan Do’a yang berlapis Tawakkal dan jangan pernah mengemis dengan yang menginjak Tanah, karena mereka juga Tanah yang tidak memiliki kekuatan

Sobat Mft yang Allah muliakan, Fitrah Hati kita mencintai kebaikan dan 3 hal yg harus kalian fahami itu adalah kerusakan

1. menunda waktu
2. melalaikan waktu senggang
3. menikmati kemalasan dan kebosanan

Ingatlah sukses itu bukan sekedar saat kalian bisa sederhana dalam hidup tetapi kalian bisa mengendalikan diri kalian tetap berpijak terhadap kebaikan.

Semoga kita menjadi pribadi insan yang baik

Wallahu’alam bis showab

Main ke Pantai, Shalatnya Gimana?

Main ke Pantai, Shalatnya Gimana?

โœ๐Ÿฝ Ustadzah Novria Flaherti

Assalamu’alaikum, kita dalam one day trip ke pantai sehingga memungkinkan untuk nyemplung ke air. Nah dalam pertengahan agenda masuk waktu shalat dzuhur misal. Apakah dibolehkan shalat dalam keadaan basah atau dijama’ saja atau gimana ustadzah?

==========
Jawaban

Ada dua poin disini yang pertama bolehkan shalat dalam keadaan basah setelah main di pantai?

โ— Yang menjadi syarat sah shalat diantaranya adalah kesucian badan dan pakaian. Namun kesucian sedikit berbeda dengan kebersihan. Yang membuat badan dan pakaian menjadi tidak suci adalah benda-benda najis. Sesuatu dikatakan najis hanya jika ada dalil yang menunjukkan kenajisannya. Jika tidak ada dalil yang menunjukkan, maka benda tersebut tetap dihukumi suci meski manusia merasa jijik terhadapnya.

Atas dasar ini: darah, air kencing, kotoran manusia semuanya dihukumi najis karena ada dalil yang menunjukkan kenajisannya. Adapun ingus, sisa makanan dalam gigi, dan ludah semuanya dihukumi suci karena tidak ada dalil yang menunjukkan kenajisannya.

Debu dan keringat bukan benda najis karena tidak ada dalil yang menunjukkan kenajisannya. Karena itu, badan yang โ€œkotorโ€ karena debu atau keringat, tetap dihukumi suci sehingga sah melakukan shalat dalam keadaan badan berkeringat  (basah kuyup sekalipun) atau badan penuh debu.

Air laut juga bukan najis tetapi untuk menjaga keyakinan dalam hati hendaklah shalat dalam keadaan bersih. Jika memungkinkan untuk shalat terlebih dahulu dan dipending acaranya disambung lagi setelah shalat Dzuhur

Pembahasan yang ke dua adalah sebaiknya jamak atau tidak?

โ— Untuk kriteria apakah memenuhi syarat jamak shalat yaitu telah melakukan  perjalanan dari satu kota ke kota lainnya.

Saran saya hendaklah shalat di awal waktu dan break sebantar untuk melaksanakan shalat Dzuhur

Zhihar

Zhihar

Ustadz Farid Nu’man

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah.
Memanggil Istri Dengan Sebutan โ€œUmmiโ€, โ€œbundaโ€, “dik” dan semisalnya,  Terlarangkah?

Jawaban
——-

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Sebagian ulama memakruhkan seorang suami memanggil istrinya seperti itu, sebab dianggap sebagai zhihar atau penggilan yang membuat terjadinya mahram.

Ada pun dibanyak negeri panggilan tersebut sudah biasa sebagai panggilan keakraban, kasih sayang, dan pemuliaan.

Pihak yang memakruhkan berdalil  dengan hadits:

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุชูŽู…ููŠู…ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‡ูุฌูŽูŠู’ู…ููŠู‘ูุŒ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุชูู‡ู: ูŠูŽุง ุฃูุฎูŽูŠู‘ูŽุฉูุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ: ยซุฃูุฎู’ุชููƒูŽ ู‡ููŠูŽุŸยปุŒ ููŽูƒูŽุฑูู‡ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽู†ูŽู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู’ู‡ู

Dari Abu Tamimah Al Hujaimiy, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada istrinya: โ€œWahai saudariku.โ€ Maka, Rasulullah ๏ทบ bersabda: โ€œApakah dia saudarimu?โ€ Rasulullah ๏ทบ membenci itu dan melarangnya.
(HR. Abu Daud No. 2210,  Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 15146)

Para ulama menilai lemah hadits ini karena mursal. Imam Al Mundziri berkata: โ€œHadits ini mursal.โ€ (Mukhtashar, 3/136). Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: โ€œMursal. (Fathul Bari, 9/387). Syaikh Abdul Qadir Al Arnauth mengatakan: โ€œMursal, dan Abu Daud meriwayatkan apa yang ada di dalamnya terdapat keguncangan (idhthirab).โ€ (Jaamiโ€™ Al Ushuul, No. 5819, cat kaki No. 1). Syaikh Abdul Muhsin Al โ€˜Abbad Al Badr juga mengatakan:โ€Mursal.โ€ (Syarh Sunan Abi Daud, 253) Syaikh Al Albani mengatakan: โ€œDhaif.โ€ (Dhaif Abi Daud, 2/240-241)

Pemakruhan tersebut menjadi teranulir karena lemahnya hadits ini. Tetapi, anggaplah hadits ini shahih, apakah maksud pemakruhannya?

Para ulama menjelaskan makruhnya hal itu jika dimaksudkan sebagai zhihar, sebagaimana ucapan โ€œkamu seperti ibukuโ€, tapi jika tidak demikian, melainkan hanya untuk panggilan pemuliaan dan penghormatan (ikram), atau menunjukkan persaudaraan seaqidah dan seiman, maka itu tidak apa-apa.

Imam Al Bukhari dalam Shahihnya, dalam โ€œBab Seorang Laki-Laki Berkata Kepada Istrinya: Wahai Saudariku, maka Ini Tidak Apa-apa.โ€

Beliau meriwayatkan, bahwa Nabi ๏ทบ bersabda:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ู ู„ูุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุชูู‡ู: ู‡ูŽุฐูู‡ู ุฃูุฎู’ุชููŠุŒ ูˆูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ูููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡

Berkata Ibrahim kepada istrinya: โ€œIni adalah saudariku,โ€ dan itu fillah (saudara karena Allah). (HR. Al Bukhari, 7/45,  9/22)

Riwayat ini tentu lebih shahih dibanding riwayat Imam Abu Daud sebelumnya.

Imam Ibnu Baththal Rahimahullah mengatakan:

ุฅู†ู…ุง ุฃุฑุงุฏ ุงู„ุจุฎุงุฑู‰ ุจู‡ุฐุง ุงู„ุชุจูˆูŠุจ ุŒ ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุŒ ุฑุฏ ู‚ูˆู„ ู…ู† ู†ู‡ู‰ ุนู† ุฃู† ูŠู‚ูˆู„ ุงู„ุฑุฌู„ ู„ุงู…ุฑุฃุชู‡ : ูŠุง ุฃุฎุชู‰

โ€œSesungguhnya penjudulan bab oleh Imam Al Bukhari seperti ini โ€“wallahu aโ€™lam- sebagai bantahan buat mereka yang melarang seorang suami memanggil istrinya dengan panggilan: โ€œWahai Saudariku.โ€(Syarh Shahih Al Bukhari, 7/409)

Beliau berkata lagi:

ูˆู…ุนู†ู‰ ูƒุฑุงู‡ุฉ ุฐู„ูƒุŒ ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…ุŒ ุฎูˆู ู…ุง ูŠุฏุฎู„ ุนู„ู‰ ู…ู† ู‚ุงู„ ู„ุงู…ุฑุฃุชู‡: ูŠุง ุฃุฎุชู‰ุŒ ุฃูˆ ุฃู†ุช ุฃุฎุชู‰ุŒ ุฃู†ู‡ ุจู…ู†ุฒู„ุฉ ู…ู† ู‚ุงู„: ุฃู†ุช ุนู„ู‰ู‘ูŽ ูƒุธู‡ุฑ ุฃู…ู‰ ุฃูˆ ูƒุธู‡ุฑ ุฃุฎุชู‰ ูู‰ ุงู„ุชุญุฑูŠู… ุฅุฐุง ู‚ุตุฏ ุฅู„ู‰ ุฐู„ูƒุŒ ูุฃุฑุดุฏู‡ ุงู„ู†ุจู‰ (ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…) ุฅู„ู‰ ุงุฌุชู†ุงุจ ุงู„ุฃู„ูุงุธ ุงู„ู…ุดูƒู„ุฉ ุงู„ุชู‰ ูŠุชุทุฑู‚ ุจู‡ุง ุฅู„ู‰ ุชุญุฑูŠู… ุงู„ู…ุญู„ุงุชุŒ ูˆู„ูŠุณ ูŠุนุงุฑุถ ู‡ุฐุง ุจู‚ูˆู„ ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ูู‰ ุฒูˆุฌุชู‡: ู‡ุฐู‡ ุฃุฎุชู‰ุ› ู„ุฃู†ู‡ ุฅู†ู…ุง ุฃุฑุงุฏa ุจู‡ุง ุฃุฎุชู‡ ูู‰ ุงู„ุฏูŠู† ูˆุงู„ุฅูŠู…ุงู†ุŒ ูู…ู† ู‚ุงู„ ู„ุงู…ุฑุฃุชู‡: ูŠุง ุฃุฎุชู‰ุŒ ูˆู‡ูˆ ูŠู†ูˆู‰ ู…ุง ู†ูˆุงู‡ ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ู…ู† ุฃุฎูˆุฉ ุงู„ุฏูŠู†ุŒ ูู„ุง ูŠุถุฑู‡ ุดูŠุฆู‹ุง ุนู†ุฏ ุฌู…ุงุนุฉ ุงู„ุนู„ู…ุงุก.

Makna dari ketidaksukaan nabi atas hal itu โ€“Wallahu aโ€™lam- karena dikhawatirkan   orang yang berkata kepada istrinya: โ€œYa Ukhtiy -Wahai Saudarikuโ€, atau โ€œ kamu adalah saudarikuโ€, sama kedudukannya dengan orang yang mengatakan: โ€œBagiku kau seperti punggung ibukuโ€, atau โ€œseperti punggung saudarikuโ€, maka ini jatuhnya menjadi mahram jika memang dia maksudkan seperti itu. Maka, Nabi ๏ทบ membimbingnya untuk menjauhi kata-kata yang kontroversi yang dapat membawa pada makna mahram.

Hadits ini (Abu Daud) tidak bertentangan dengan ucapan Nabi Ibrahim kepada istrinya: โ€œKau adalah saudariku.โ€ Sebab maksud kalimat itu adalah sebagai saudara seagama dan seiman. Maka, barang siapa yang berkata kepada istrinya: โ€œWahai Saudarikuโ€ dan dia berniat sebagaimana Ibrahim, yaitu saudara seagama, maka ini sama sekali tidak apa-apa menurut jamaah para ulama. (Imam Ibnu Baththal, Syarh Shahih Al Bukhari, 7/409-410)

Imam Al Khathabi Rahimahullah menjelaskan bahwa dibencinya memanggil โ€œwahai saudarikuโ€ kepada istri  jika maksudnya sebagai zhihar, seperti ucapan kamu seperti ibuku, atau seperti wanita lain yang mahram bagi suami, … lalu Beliau  berkata:

ูˆุนุงู…ุฉ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ุฃูˆ ุฃูƒุซุฑู‡ู… ู…ุชูู‚ูˆู† ุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ุฅู„ุงู‘ ุฃู† ูŠู†ูˆูŠ ุจู‡ุฐุง ุงู„ูƒู„ุงู… ุงู„ูƒุฑุงู…ุฉ ูู„ุง ูŠู„ุฒู…ู‡ ุงู„ุธู‡ุงุฑุŒ ูˆุฅู†ู…ุง ุงุฎุชู„ููˆุง ููŠู‡ ุฅุฐุง ู„ู… ูŠูƒู† ู„ู‡ ู†ูŠุฉุŒ ูู‚ุงู„ ูƒุซูŠุฑ ู…ู†ู‡ู… ู„ุง ูŠู„ุฒู…ู‡ ุดูŠุก.

Umumnya ulama atau kebanyakan mereka sepakat atas larangan itu, KECUALI jika kalimat itu diniatkan untuk karamah (pemuliaan-penghormatan) maka tidaklah itu berkonsekuensi seperti zhihar. Hanya saja para ulama berbeda pendapat jika pengucapan itu tidak ada niat  pemuliaan,  banyak di antara mereka mengatakan bahwa itu juga tidak ada konsekuensi apa-apa.โ€

 (Imam Al Khathabi, Maโ€™alim As Sunan, 3/249-250)

Nah, dari penjelasan para ulama ini, jelas bagi kami bahwa pemakruhan memanggil istri dengan โ€œbundaโ€, โ€œummiโ€, atau semisalnya, jika memang itu dimaksudkan   sebagaimana zhihar. Ada pun jika panggilan tersebut sebagai bentuk penghormatan suami kepada istrinya, atau pendidikan bagi anak-anaknya, maka tidak apa-apa.

Hal ini sesuai kaidah fiqih:

ุงู„ุฃู…ูˆุฑ ุจู…ู‚ุงุตุฏู‡ุง

  Berbagai pekara/urusan/perbuatan dinilai sesuai maksud-maksudnya.

(Imam As Suyuthiโ€™, Al Asybah wan Nazhair, Hal. 8. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah. Imam Tajuddin As Subki, Al Asybah wan Nazhair, 1/65. Cet. 1,  1991M-1411H. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah. Syaikh Abdullah bin Saโ€™id Al Hadhrami Al Hasyari, Idhah Al Qawaid Al Fiqhiyah Lithulab Al Madrasah, Hal. 11)

  Sementara itu, Syaikh Muhammad bin Shalih Al โ€˜Utsaimin Rahimahullah mengoreksi para ulama yang memakruhkan, menurutnya pemakruhan itu tidak tepat.

Beliau berkata:

ูุฅุฐุง ู‚ุงู„: ุฃู†ุช ุนู„ูŠ ูƒุฃู…ูŠุŒ ุฃูŠ: ููŠ ุงู„ู…ูˆุฏุฉ ูˆุงู„ุงุญุชุฑุงู… ูˆุงู„ุชุจุฌูŠู„ ูู„ูŠุณ ุธู‡ุงุฑุงู‹ุ› ู„ุฃู†ู‡ ู…ุง ุญุฑู…ู‡ุงุŒ ูˆุฅุฐุง ู‚ุงู„: ุฃู†ุช ุฃู…ูŠุŒ ูุญุณุจ ู†ูŠุชู‡ุŒ ูุฅุฐุง ุฃุฑุงุฏ ุงู„ุชุญุฑูŠู… ูู‡ูˆ ุธู‡ุงุฑุŒ ูˆุฅุฐุง ุฃุฑุงุฏ ุงู„ูƒุฑุงู…ุฉ ูู„ูŠุณ ุจุธู‡ุงุฑุ› ูุฅุฐุง ู‚ุงู„: ูŠุง ุฃู…ูŠ ุชุนุงู„ูŠุŒ ุฃุตู„ุญูŠ ุงู„ุบุฏุงุก ูู„ูŠุณ ุจุธู‡ุงุฑุŒ ู„ูƒู† ุฐูƒุฑ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ู€ ุฑุญู…ู‡ู… ุงู„ู„ู‡ ู€ ุฃู†ู‡ ูŠูƒุฑู‡ ู„ู„ุฑุฌู„ ุฃู† ูŠู†ุงุฏูŠ ุฒูˆุฌุชู‡ ุจุงุณู… ู…ุญุงุฑู…ู‡ุŒ ูู„ุง ูŠู‚ูˆู„: ูŠุง ุฃุฎุชูŠุŒ ูŠุง ุฃู…ูŠุŒ ูŠุง ุจู†ุชูŠุŒ ูˆู…ุง ุฃุดุจู‡ ุฐู„ูƒุŒ ูˆู‚ูˆู„ู‡ู… ู„ูŠุณ ุจุตูˆุงุจุ› ู„ุฃู† ุงู„ู…ุนู†ู‰ ู…ุนู„ูˆู… ุฃู†ู‡ ุฃุฑุงุฏ ุงู„ูƒุฑุงู…ุฉุŒ ูู‡ุฐุง ู„ูŠุณ ููŠู‡ ุดูŠุกุŒ ุจู„ ู‡ุฐุง ู…ู† ุงู„ุนุจุงุฑุงุช ุงู„ุชูŠ ุชูˆุฌุจ ุงู„ู…ูˆุฏุฉ ูˆุงู„ู…ุญุจุฉ ูˆุงู„ุฃู„ูุฉ.

Jika ada yang bekata: โ€œKau bagiku seperti ibukuโ€ yaitu dalam hal kasih sayang, penghormatan, dan pujian, maka ini bukan zhihar, karena itu tidak diharamkan. Jika ada yang berkata: โ€œEngkau adalah ibuku,โ€ maka dihitung niatnya apa, jika maksudnya adalah sebagai mahram maka ini zhihar, tapi jika maksudnya pemuliaan maka ini bukan zhihar.

  Jika dia berkata: โ€œWahai Ummi, mari sini makan.โ€ Maka ini bukan zhihar, tetapi sebagian ahli fiqih โ€“rahimahumullah- ada yang memkruhkan suami memanggil istrinya dengan panggilan mahramnya, maka janganlah berkata: โ€œWahai Ukhtiy, Wahai Ummi, wahai bintiy/anakku,โ€ dan yang semisal itu.  Pendapat mereka tidak benar, sebab maknanya seperti telah diketahui maksudnya adalah pemuliaan, maka ini sama sekali tidak masalah. Bahkan, kalimat-kalimat ini dapat melahirkan kasih sayang, cinta, dan kedekatan.
(Syaikh Muhammad bin Shalih Al โ€˜Utsaimin, Asy Syarh Al Mumtiโ€™, 13/236). Sekian.

Wallahu Aโ€™lam

Pengkhianatan Abdallah Muhammad XII ‘Boabdil’ atas pamannya Muhammad XIII ‘el-Zagal’ pada Periode Akhir Emirat Granada – Berpecah Beratus Tahun Hingga ke Saat Paling Akhir Sekalipun!

Pengkhianatan Abdallah Muhammad XII ‘Boabdil’ atas pamannya Muhammad XIII ‘el-Zagal’ pada Periode Akhir Emirat Granada – Berpecah Beratus Tahun Hingga ke Saat Paling Akhir Sekalipun!

๐Ÿ“š TARIKH DAN SIROH

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

*Pengepungan dan Jatuhnya Mรกlaga*
7 Mei – 18 Agustus 1487*

Pengepungan ini adalah bagian dari babak akhir Reconquista dimana kedua kerajaan Katholik Castile-Aragon berhasil merebut kota Mรกlaga dari kaum Muslimin Granada. Pengepungan itu berlangsung sepanjang 4 bulan dan juga tercatat dalam sejarah militer dunia dimana ambulans atau angkutan khusus korban pertempuran dipergunakan secara sistematis. Pengepungan atas Mรกlaga juga menunjukkan jati diri sesungguhnya antara Abdallah Muhammad XII yang memihak Ferdinand-Isabella serta pamannya yg ia khianati Muhammad XIII el-Zagal.

*Latar Belakang*

Mรกlaga adalah tujuan utama pada kampanye militer tahun 1487 dimana dua kerajaan Katholik menyerang kota milik Emirat Granada. Emirat ini telah banyak kehilangan wilayahnya selama pergerakan reconquista, khususnya invasi 1486-89.

Raja Ferdinand II dari Aragon meninggalkan kota Cรณrdoba dengan membawa 20.000 pasukan berkuda, 50.000 pekerja, dan 8.000 petugas pendukung. Balatentara ini kemudian bergabung dengan kesatuan artileri pimpinan Francisco Ramรญrez de Madrid yang juga telah bergerak dari ร‰cija. Setelah bersatu mereka memutuskan untuk menyerang Vรฉlez-Mรกlaga terlebih dahulu sebelum ke arah barat menuju Mรกlaga-nya. Mata-mata jaringan keluarga Nasriyah memantau serta melaporkan gerak lanju pasukan Nasrani sehingga para penduduk sudah sempat diungsikan ke pegunungan dan benteng Bentomiz sebelum serangan dimulai.

*Dampak Lepasnya Vรฉlez-Mรขlaga*

Pasukan gabungan ini mencapai Vรฉlez-Mรกlaga pada hari Selasa 22 Rabi’uts-Tsani 892 Hijriah (17 April 1487) setelah lambannya gerak maju melalui medan liar. Beberapa hari kemudian, mesin gempur yang ringan tiba di tempat sedangkan yang lebih berat lagi tidak dapat dibawa melintasi jalan yang rusak. Sultan Granada yg bernama Muhammad XIII (el-Zagal), berusaha untuk membantu kota yang terkepung itu namun ia terpaksa mundur dengan hadirnya kekuatan yang jauh lebih besar pimpinan Marquis dari Cadiz. Ketika ia kembali ke Granada barulah beliau menyadari telah dikudeta oleh sepupunya Abdallah Muhammad XII (Boabdil) yang memihak kaum Nasrani pada waktu itu.

Melihat kenyataan bahwa tidak ada bantuan yang akan datang, Vรฉlez-Mรกlaga menyerah pada hari Jum’at 3 Jumadal Awwal 892 Hijriyah (27 April 1487) dengan persyaratan mereka aman keluar dari benteng serta berhak membawa harta-benda dan mempertahankan agamanya.

Sultan Muhammad XIII el-Zagal yang terkunci di luar tidak dapat kembali ke Granada karena kota tersebut kini dikuasai oleh sepupunya Abdallah Muhammad XII Boabdil. Boabdil memilih untuk memihak kepada Ferdinand II supaya emirat Granada yg kesulitan ekonominya tidak diserang lagi. Pasukan yang masih setia kepada el-Zagal terpaksa mundur ke kota Almeira di sebelag timur propinsi Granada. Mereka ini adalah harapan terakhir penduduk Granada yang masih bersemangat untuk membendung invasi Ferdinand II dan isterinya Isabella I secara militer.

*Kota Mรกlaga*

Kota yg dieja Mฤlaqa dalam Bahasa Arab ini merupakan kota kedua terbesar di propinsi setelah Granada atau Gharnata. Mรกlaga adalah kota pelabuhan yang besar dengan akses ke Laut Mediterranean. Kota ini dihiasi banyak bagunam dengan arsitektur yang unik, taman yang indah, dan air mancur yang menyejukkan. Kota ini juga dikelilingi dengan benteng kota yang kokoh dengan puri-benteng (citadel) Alcazaba yg menjadi titik pertahanan yang handal terhubung secara tertutup dengan benteng (fortress) Gibralfaro. Di pinggiran pantainya banyak ditanami kebun zaitun, jeruk, markisa, dan anggur.

Kota ini juga dilengkapi dengan artileri yg banyak dengan stok amunisi yanh juga tidak sedikit. Selain pasukan garnizun yang menjadi standar propinsi Granada, terdapat juga pasukan sukarelawan dari desa-desa sekitar berikut korps Gomeres yaitu pasukan bayaran dari Afrika yang terlatih seni perang dengan tingkat disiplin di atas rata-rata. Komandan pertahanan kota Mรกlaga dipercayakan kepada mantan pahlawan kota Ronda yaitu Hamid el-Zegrรญ.

*Pengepungan*

Ketika masih di Vรฉlez, Raja Ferdinand II telah mencoba menegosiasikan penyerahan dengan butir kesepakatan yang lunak, namun Hamid el-Zegrรญ menolaknya. Ferdinand II meninggalkan Vรฉlez dan menyusuri pesisir ke Bezmillana kurang 19 km dari Mรกlaga yang jalurnya diawasi oleh pasukan Muslimin. Terjadi bentrok di tempat itu sampai menjelang malam dimana akhirnya pasukan Granada kalah dan mundur kembali ke benteng Gibralfaro. Dari posisi inilah dimulai pembangunan pertahanan lapangan untuk mengepung kota Mรกlaga, baik yang berupa parit pertahanan atau pos penjagaan berdinding kayu atau tumpukan dinding dari batu pada bagian-bagian dimana tanahnya terlalu keras untuk digali. Kapal perang disiagakan di depan pelabuhan untuk memotong seluruh jalur logistik ke dalam kota.

Serbuan pasukan Nasrani pertama kali diarahkan pada garis pertahanan darat. Ketika pasukan Granada tidak cukup kuat untuk menahan serangan dari pasukan yg berjumlah lebih besar, mereka terpaksa mundur ke garis pertahanan kota. Raja Ferdinand II memerintahkan ekspedisi pengumpulan batu bundar ke Algeciras (lihat tulisan saya sebelumnya tentang Algeciras 1342-44) yg dahulu pernah dipakai dalam pengepungan sebelumnya untuk dipakai lagi di Mรกlaga. Hadirnya Isabella ke medan perang menemani suaminya bersa banyak tokoh lainnya berdampak pada naiknya semangat juang pasukan di lapangan.

*Abdallah Muhammad XII Boabdil Menyerang Muhammad XIII El-Zagal*

Pasukan kaum Muslimin kembali menyerang balik dengan tembakan katapult maupun kanon dari posisi pertahanan mereka yang baru; beberapa kali juga sempat melancarkan serangan keluar (sally) mendadak ke arah garis kepungan lawan. Dalam satu kejadian bahkan El-Zagal sempat mengerahkan pasukan berkudanya dari kota Guadix untuk menerobos memberi bantuan ke kota Mรกlaga, namun terhenti oleh kekuatan yang lebih besar yg dikirim Boabdil sang pengkhianat Granda. Serangan ini merupakan perang antar muslim pada saat yang paling buruk yaitu ketika Granada sebagai propinsi terakhir kaum Muslimin di bumi al-Andalus.

Boabdil yang pernah tertawan sebelumnya ketika Ferdinand II pertama kali memulai invasi militer 1486-89 dari Cordoba ke Loja kini harus membayar upeti yang mahal untuk genggaman emirat Granada-nya yang semakin mengecil wilayahnya. Untuk sementara itu upeti menjadi pencegah serangan Ferdinand II kembali ke Granada.

Kota Mรกlaga semakin kehabisan stok pangan mereka karena tidak ada lagi bantuan yang diperoleh dari Granada maupun dari al-Maghrib di seberang lautan. Satu-satunya harapan adalah bantuan dari Turki Utsmani yang jumlahnya tidak cukup banyak serta waktunya tidak selalu tepat. Pada saat sulit seperti ini, justru Ferdinand II yang mendapatkan bantuan dari Kaisar Jerman berupa 2 kapal transport yang membawa perbekalan tempur yang sangat dibutuhkan untuk mengencangkan kepungan.

Ferdinand II berencana untuk membuat kota Mรกlaga kelaparan dan menyerah, namun ia semakin tidak sabar dengan segala bentuk keterlambatan dalam pembangunan menara-kepung. Menara ini dibuat berfungsi-ganda karena dilengkapi roda yang nantinya dapat digerakkan ke dekat dinding untuk menyerbu pertahanan kota. Ferdinand juga tidak sabar atas pelannya penggalian terowongan bawah tanah yg bertujuan untuk merobohkan dinding kota Mรกlaga dari bawah.

Bahkan tingginya semangat bertahan dan berjuang pensuduk kota Mรกlaga pada periode ini sangat kontras dengan lesunya pasukan di Granada. Pada beberapa kesempatan, pasukan sukarelawan berhasil menyerbu mendadak dan membakar menara-kepung kaum Nasrani. Sukarekalawan ini bahkan menggali terowongan di bawah terowongan lawan untuk merobohkannya. Disamping itu, penduduk kota Mรกlaga bahkan sempat mekaut untuk menyerang kapal-kapal lawan yang memblokade pelabuhan.

*Setelah Tiga Bulan Kepungan*

Setelah tiga bulan tanpa bantuan, akhirnya dengan susah-payah dan korban yang banyak, pasukan Ferdinand II berhasil merebut menara pertahanan kota terluar. Menara ini menjadi titik kuat untuk menyerang ke dalam kota. Pada saat genting itu penduduk dan pasukan pertahanan Mรกlaga sudah sedemikian lemah dari habisnya cadangan pangan sehingga banyak dari mereka yang terpaksa memakan kucing, anjing, dedaunan, kulit hewan, serta tumbuhan apapun yang masih tersedia di dalam kota.

Melihat kondisi penduduk yang sedemikian sulit, akhirnya Hamid el-Zegri meminta izin kepada walikota Mรกlaga untuk keluar dari kota. Hal ini ditujukan agar penduduk Mรกlaga dapat bernegosiasi dengan baik untuk penyerahan kota dan mengakhiri penderitaan itu. Setelah disetujui oleh walikota dan dilepas oleh penduduk yang terharu, Hamid el-Zegri menyelinap keluar dari Mรกlaga bersama sisa pasukannya menuju benteng Gibralfaro untuk bertahan mengulur waktu sampai ada bantuan yang mungkin datang keoada mereka.

*Kapitulasi*

Setelah negosiasi yang tak kunjung diaepakati Ferdinand II akhirnya mereka menyerah tanpa syarat. Kota Mรกlaga secara resmi menyerah pada hari Senin 23 Sya’ban 892 Hijriah (13 Agustus 1487). Puri-benteng Alcazaba bertahan sampai 28 Sya’ban ketika Ali Dordux menyerah dengan syarat ke-25 keluarga bangsawan boleh menetap sebagai Mudรฉjar. Ferdinand-Isabella masuk ke kota Mรกlaga dengan sebuah prosesi kerajaan pada sore harinya. Hamid el-Zegri dan pasukan Gomeres-nya menyerah juga pada 29 Sya’ban. Beberapa hari sebelum masuknya bulan suci Ramadhan 892 Hijriah.

*Kesudahan*

Lepasnya kota Mรกlaga merupakan pukulan telak bagi Emirat Granada dari keluarga Nasriyah yang kehilangan pelabuhan utama bagi keutuhan wilayahnya. Sesuatu yang tidak perlu terjadi jika perpecahan diantara mereka dapat diredam pada momen kritis ini. Ferdinand II menerapkan hukuman yang berat akibat lamanya kota itu bertahan. Semua pendudukan dibunuh atau dijual sebagai budak kecuali keluarga Ali Dordux.

Hamid el-Zegri tidak mendapatkan janji keamanan sesuai dengan syarat penyerahannya; ia dieksekusi bersama sebagian besar pasukan Gomores-nya sekitar 10-15 ribu personil. Properti mereka dirampas dan keluarga mereka dijual sebagai budak. Sebagian lagi dibawa ke al-Maghrib untuk ditukar dengan pasukan Nasrani yg tertawan di sana. Sebagian kecil dari keluarga bangsawan dijual sebagai dana tambahan.

Ferdinand-Isabella menugaskan Garcรญa Fernรกndez Manrique dan Juan de la Fuente untuk menata ulang wilayah yang baru direbut; dengan bantuan Ali Dordux. Sebagian besar tanah diberikan kepada para komandan tempur. Repopulasi atas propinsi Granada yang ditaklukan sejak invasi militer 1485 dilakukan segera dengan memindahkan  5-6 ribu penduduk dari Extremadura, Leรณn, Castile, Galicia, dan wilayah timur lainnya.

Agung Waspodo, tertegun dengan pengkhianatan pada masa genting seperti ini, memori tentang kejayaan al-Andalus sirna begitu saja dengan perpecahan, hanya itu saja.

Depok, 21 Agustus 2015.. menjelang subuh.

Nusyuz

Nusyuz

Ustadz Farid Nu’man

Assalamu’alaikum ustadz/ustadzah..
Mohon dipaparkan penjelasan detail tentang perkara Nusyuz..
Apakah hal-hal seperti berikut termasuk nusyuz?
# suami saya itu sama seperti bapak saya cara jalannya.
# bapak saya itu ya klo bantu cuci piring bersihnya minta ampun, sampai benar-benar mengkilap. Sama nih suami saya juga gitu.
# kalo lihat kamu pake jilbab kayak gini,kayak mama rasanya..  Kata seorang suami ke istrinya

Dan banyak lagi statement2 yang menyatakan kesamaan pasangannya dengan orangtuanya, seperti dlm hal kebiasaan dan tingkah laku.

Kalo memang termasuk nusyuz, apa hukumnya dan bagaimana caranya sudah terlanjur.

Terimakasih atas jawabannya.
(Member dari A 43)

Jawaban
————–

ูˆ ุนู„ูŠูƒู…  ุงู„ุณู„ุงู…  ูˆ  ุฑุญู…ุฉ  ุงู„ู„ู‡  ูˆ  ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Nusyuz itu pembangkangan istri terhadap suami. Apa yang disampaikan di atas bukan nusyuz, mungkin salah istilah.

Statemen menyamakan istri seperti ibu, seperti “punggungmu kamu seperti ibuku”, ini namanya ZHIHAR. Dampaknya adalah tidak boleh hun suami istri, sampai suami melakukan kaffarat.

Kaffaratnya adalah berpuasa 2 bulan berturut2, jika tidak mampu memberikan 60 fakir miskin makanan, kalau tidak mampu membebaskan budak.

ZHIHAR tidak berlaku jika tidak dimaksudkan, sebagaimana seorang suami memanggil istrinya dgn Bunda, Ummi, .. dlm rangka panggilan kasih sayang kepadanya.

Wallahu a’lam

Mengenang Al-Izz bin Abdussalam, Ulama Berani Lawan Kezaliman

Mengenang Al-Izz bin Abdussalam, Ulama Berani Lawan Kezaliman.

๐Ÿ“š MUAMALAH

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

โ˜˜Saat-saat seperti ini, kita mendambakan figur ulama seperti Al-Izz bin Abdusssalam, ulama yang menggabungkan ilmu dengan keberanian sampaikan kebenaran.
 
๐ŸAl-Izz adalah ulama Syam, lahir di Damaskus, tahun 577 H. Ilmunya dalam, karangan dan muridnya banyak, ulama besar dalam mazhab Syafii..
 
โ˜˜Julukannya yang terkenal adalah Sulthanul Ulama; pemimpin para ulama. Pada masanya banyak ulama, namun beliau sangat menonjol dibanding lainya
 
๐ŸSalah satu sifatnya yang paling menonjol adalah keberaniannya nyatakan sikap di hadapan penguasa walaupun bertentangan dengan keinginan mereka!
 
โ˜˜Di antara kisah yang disebutkan tentang ketegasan Al-Izz bin Abdussalam terhadap penguasa adalah, saat  Saifuddin Qutuz menjadi raja pada masanya..
 
๐ŸSaat itu pasukan Tatar yang hendak menyerbu negeri-negeri Islam, sudah berada di perbatasan Mesir dan Syam. Maka Qutuz mengumpulkan para ulama..
 
โ˜˜Sang penguasa minta pendapat para ulama karena dia akan lakukan penggalangan dana dari masyarkat untuk biayai pasukan berperang lawan Tatar…
 
๐ŸSaat itu, tidak ada ulama yang berbicara karena wibawa raja. Namun Al-Izz dengan tegas dan berani menyatakan ketidaksetujuannya…
 
โ˜˜Dia tegaskan, raja tidak boleh mengambil dana dari masyarkat, sebelum raja dan para pangeran serta para panglima mengeluarkan harta-harta mereka!
 
๐ŸSeblum mereka infakkan harta-harta mereka yang ada di istana-istana dan gudang-gudang harta mereka, sehingga keadaan mereka sama dengan rakyat pada umumnya…
 
โ˜˜Ketika kondisi mereka sudah sama dengan masyarkat umum, baik dalam hal pakaian, makanan dan minuman, maka ketika itu, mereka boleh ambil dana dari masyarakat
 
๐ŸDi lain waktu, ketika Shaleh Ayyubi berkuasa di Damaskus, dia hendak berkoalisi dengan pasukan salib untuk perangi saudaranya Najmudin Ayubi di Mesir
 
โ˜˜Koalisi Shaleh Ayyubi dengan kaum salibis ini kompensasinya adalah kaum Salib mendapat dua kota di Damaskus dan berhak membeli senjata dari sana
 
๐ŸAl-Izz langsung menentang keras rencana tersebut, dia langsung sampaikan di atas mimbar dengan mengatakan bahwa kedua kota tersebut bukan milik Shaleh…
 
โ˜˜Dia juga mengharamkan kaum salib membeli senjata dari kaum muslimin, apalagi diketahui bahwa senjata itu untuk menyerang kaum muslimin..
 
๐ŸMaka Shaleh memecatnya dari jabatan qadhi, melarangnya khutbah di mimbar-mimbar serta memenjarakannya…
 
โ˜˜Karena situasi yg tidak nyaman di Damaskus, akhirnya Al-Izz pindah ke negeri Mesir.
 
๐ŸBegitulah figur Al-Izz bin Abdussalam, ulama Rabbani, tidak bersembunyi dibalik ilmu dan alasan kesantunan untuk diam menghadapi kezaliman…
 
โ˜˜Alhamdulillah, dalam sepanjang sejarahnya selalu ada ulama yang berani sampaikan kebenaran walau berbagai tuduhan dan ancaman….
 
๐ŸWalaupun tetap ada juga ulama yg lebih memilih diam, bahkan ada juga yg langsung atau tidak justru menjadi stempel kezaliman.

Allahul mustaan

Islam Itu Lengkap dan Konprehensif

Islam Itu Lengkap dan Konprehensif

๐Ÿ“— Aqidah – MFT

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan

โ—โ€ขโ— Syaikh Hasan Al Banna Rahimahullah:

ุงู„ุฅุณู„ุงู… ู†ุธุงู… ุดุงู…ู„ ูŠุชู†ุงูˆู„ ู…ุธุงู‡ุฑ ุงู„ุญูŠุงุฉ ุฌู…ูŠุนุง ูู‡ูˆ ุฏูˆู„ุฉ ูˆูˆุทู† ุฃูˆ ุญูƒูˆู…ุฉ ูˆุฃู…ุฉ ุŒ ูˆู‡ูˆ ุฎู„ู‚ ูˆู‚ูˆุฉ ุฃูˆ ุฑุญู…ุฉ ูˆุนุฏุงู„ุฉ ุŒ ูˆู‡ูˆ ุซู‚ุงูุฉ ูˆู‚ุงู†ูˆู† ุฃูˆ ุนู„ู… ูˆู‚ุถุงุก ุŒ ูˆู‡ูˆ ู…ุงุฏุฉ ุฃูˆ ูƒุณุจ ูˆุบู†ู‰ ุŒ ูˆู‡ูˆ ุฌู‡ุงุฏ ูˆุฏุนูˆุฉ ุฃูˆ ุฌูŠุด ูˆููƒุฑุฉ ุŒ ูƒู…ุง ู‡ูˆ ุนู‚ูŠุฏุฉ ุตุงุฏู‚ุฉ ูˆุนุจุงุฏุฉ ุตุญูŠุญุฉ ุณูˆุงุก ุจุณูˆุงุก .

โ€œIslam adalah nizham (tatanan)  sempurna yang mencakup seluruh sisi kehidupan. Dia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat,  akhlak dan kekuatan, rahmat dan keadilan, wawasan dan undang-undang, ilmu dan ketetapan, materi dan kekayaan alam, atau penghasilan dan kekayaan, jihad dan daโ€™wah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana dia adalah aqidah yang benar serta ibadah yang sahih, tidak lebih tidak kurang.โ€

๐Ÿ“š Al Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, Majmuโ€™ah Ar Rasail, hal. 305. Ushul ‘Isyrin No. 1. Maktabah At Taufiqiyah, Kairo. tanpa tahun

Khadijah Binti Khuwailid R.a. (Part 4)

Khadijah Binti Khuwailid R.a. (Part 4)

๐Ÿ“” Sirah – MFT

๐Ÿ“ Ustadzah Yani

ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠูุฑููŠุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ููŠูุฐู’ู‡ูุจูŽ ุนูŽู†ู’ูƒูู…ู ุงู„ุฑู‘ูุฌู’ุณูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุชู ูˆูŽูŠูุทูŽู‡ู‘ูุฑูŽูƒูู…ู’ ุชูŽุทู’ู‡ููŠุฑู‹ุง)
[Surat Al-Ahzab 33]

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

ๅ›žโ— Pengorbanan itupun Harus Berakhir

Saat Rasulullah SAW diangkat menjadi Nabi, usia bunda Khadijah sekitar 55 tahun. Usia yang seharusnya menikmati sisa usia dengan tenang ditemani anak & cucu. Namun pada usia itulah perjuangan & pengorbanan bunda Khadijah yang sesungguhnya baru dimulai.

Bahkan pada tahun ke 7 kenabian, saat Rasulullah SAW dan kaum muslimin serta Bani Hasyim & Bani Abdul Muthalib diboikot oleh kaum kafir Quraisy selama 3 tahun, bunda Khadijah menemani Rasulullah SAW dalam masa-masa sulit pemboikotan. Sebuah ujian & pengorbanan yang amat berat.

Bagaimana wanita yang semula kaya dan mulia, bersedia dan mampu menjalani kepedihan hidup yang sangat berat. Rasanya kalau bukan karena bahasa keimanan, cinta, kesetiaan sulit mendapatkan rahasia jawabannya. Sungguh teladan yang sangat berharga bagi kaum Muslimin, dan khususnya bagi para Muslimah.

Selesai pemboikotan, fisik bunda Khadijah kian melemah. Karena usianya saat itu sudah mencapai 65 tahun. Kurang lebih 3 tahun sebelum Hijrah bunda Khadijah tutup usia. Bunda Khadijah dimakamkan di kota Hajun di kota Makkah. Rasulullah SAW sendiri yang menguburkannya, karena saat itu belum di syari’atkan shalat jenazah.

Rasulullah SAW jelas sangat sedih saat itu, karena ditinggal oleh bunda Khadijah, apalagi 2 bulan sebelumnya pamannya Abu Thalib pun wafat. Maka tercatat dalam sejarah Islam bahwa tahun 10 Kenabian dikenal dengan istilah ‘Aamul Huzni ( Tahun kesedihan). Karena itu banyak para ulama mengatakan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj yang terjadi saat itu, salah satu hikmahnya adalah penghibur atas kedihan yang dialami Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda :

  ูŠุชุจุน ุงู„ู…ูŠุช ุซู„ุงุซ ููŠุฑุฌุน ุงุซู†ุงู† ูˆูŠุจู‚ู‰ ูˆุงุญุฏ ูŠุชุจุนู‡ ุฃู‡ู„ู‡ ูˆู…ุงู„ู‡ ูˆุนู…ู„ู‡ ููŠุฑุฌุน ุฃู‡ู„ู‡ ูˆู…ุงู„ู‡ ูˆูŠุจู‚ู‰ ุนู…ู„ู‡ ( ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆู…ุณู„ู… ).

“Ada 3 perkara yang menyertai mayit (ke kuburnya). Dua darinya akan kembali, dan yang satu bakalann tetap bersamanya. Akan mengikutinya: keluarga, hartanya dan amalnya. Keluarga dan hartanya akan kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya”.

ๅ›žโ— Kenangan Tak Terlupakan

Ada kalimat singkat yang pernah Rasulullah SAW ungkapkan tentang kedudukan bunda Khadijah dalam diri beliau tatkala Aisyah radhiallahu anha mempertanyakan perhatian beliau yang besar terhadapnya, Beliau berkata :

*ุงู†ูŠ ุฑุฒู‚ุช ุญุจู‡ุง (ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…)*
“Sungguh aku telah dianugerahi rasa cinta kepadanya”

Namun demikian, sekali waktu Rasulullah SAW pernah juga menjelaskan alasan mengapa beliau begitu mencintai bunda Khadijah, Beliau bersabda :
Dalam satu riwayat dikatakan:

ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ยซ ู…ูŽุง ุฃูŽุจู’ุฏูŽู„ูŽู†ููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽุฒู‘ูŽ ูˆูŽุฌูŽู„ู‘ูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ู‚ูŽุฏู’ ุขู…ูŽู†ูŽุชู’ ุจููŠ ุฅูุฐู’ ูƒูŽููŽุฑูŽ ุจููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูˆูŽุตูŽุฏู‘ูŽู‚ูŽุชู’ู†ููŠ ุฅูุฐู’ ูƒูŽุฐู‘ูŽุจูŽู†ููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูˆูŽูˆูŽุงุณูŽุชู’ู†ููŠ ุจูู…ูŽุงู„ูู‡ูŽุง ุฅูุฐู’ ุญูŽุฑูŽู…ูŽู†ููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูˆูŽุฑูŽุฒูŽู‚ูŽู†ููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽุฒู‘ูŽ ูˆูŽุฌูŽู„ู‘ูŽ ูˆูŽู„ูŽุฏูŽู‡ูŽุง ุฅูุฐู’ ุญูŽุฑูŽู…ูŽู†ููŠ ุฃูŽูˆู’ู„ูŽุงุฏูŽ ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู ยป [ุฃุฎุฑุฌู‡ ุฃุญู…ุฏ]

“Allah belum pernah menggantikan yang lebih baik darinya. Dirinya telah beriman padaku tatkala manusia mengingkariku, dia mempercayaiku ketika orang lain mendustakanku, dirinya telah mengorbankan seluruh hartanya manakala orang lain mencegahnya dariku, dan dengannya Allah memberiku rizki anak tatkala hal itu tidak diberikan pada istri-istriku yang lainnyaโ€œ. (HR Ahmad 41/356 no: 24864)

Sikap Rasulullah SAW tidak hanya sebatas lisan, Beliau pun menampakkan dalam perbuatan dan sikap. Salah satunya dengan menjaga hubungan baik terhadap teman-teman dekat bunda Khadijah semasa hidup.

Begitupula halnya, apabila mendengar suara Halah saudara perempuan bunda Khadijah, Rasulullah SAW selalu terkenang dengan suara bunda Khadijah karena kemiripannya, sehingga hati Beliaupun merasa tenang.

Berdasarkan sikap Beliau, maka sangatlah wajar jika Aisyah ra walaupun beliau memiliki banyak keutamaan dan kedudukan disisi Rasulullah SAW dan sangat dicintainya, tetap saja tidak dpat menyembunyikan kecemburuannya terhadap bunda Khadijah. Padahal saat Aisyah ra menjadi istri Rasulullah SAW, bunda Khadijah telah wafat.

Aisyah radhiyallahu โ€˜anha, dia berkata:

ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ยซ ู…ูŽุง ุบูุฑู’ุชู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽุญูŽุฏู ู…ูู†ู’ ู†ูุณูŽุงุกู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูŽุง ุบูุฑู’ุชู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฎูŽุฏููŠุฌูŽุฉูŽ ูˆูŽู…ูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠููƒู’ุซูุฑู ุฐููƒู’ุฑูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุฑูุจู‘ูŽู…ูŽุง ุฐูŽุจูŽุญูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุงุฉูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูู‚ูŽุทู‘ูุนูู‡ูŽุง ุฃูŽุนู’ุถูŽุงุกู‹ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูŽุจู’ุนูŽุซูู‡ูŽุง ูููŠ ุตูŽุฏูŽุงุฆูู‚ู ุฎูŽุฏููŠุฌูŽุฉูŽ ููŽุฑูุจู‘ูŽู…ูŽุง ู‚ูู„ู’ุชู ู„ูŽู‡ู ูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉูŒ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฎูŽุฏููŠุฌูŽุฉู ููŽูŠูŽู‚ููˆู„ู ุฅูู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ู„ููŠ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽุฏูŒ ยป [ุฃุฎุฑุฌู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆู…ุณู„ู…

“Aku tidak pernah merasa cemburu terhadap istri-istri Nabi melebihi kecemburuanku terhadap Khadijah, dan aku belum pernah berjumpa dengannya. Akan tetapi, beliau sering sekali menyebutnya. Terkadang beliau menyembelih kambing lalu memotong-motong dan mengirim pada teman-teman Khadijah. Sampai pernah aku mengatakan padanya: โ€˜Seakan-akan tidak ada wanita lain didunia ini kecuali Khadijahโ€™. Maka beliau menjawab: โ€œSesungguhnya dia itu wanita begini dan begitu, darinya aku dikarunia anakโ€œ. Dalam salah satu riwayat dikatakan: โ€œSesungguhnya aku di karunia buah hati darinyaโ€œ. (HR Bukhari no: 3818. Muslim no: 2434, 2435)

Bersambung….
=====================
Maraji’ :
Isteri & Puteri Rosulullah SAW ( Mengenal & Mencintai Ahlul Bait)
ใ€‹ใ€‹ใ€‹ Divisi Terjemah Kantor Dakwah Sulay KSA ( Penyusun : Ust. Abdullah Haidir, Lc)

Iptek dan Kekuasaan Allah ๏ทป

Iptek dan Kekuasaan Allah ๏ทป

โœ๐Ÿฝ Ustadzah Prima Eyza Purnama

Uraian tentang keterkaitan Iptek dengan keagungan sang pencipta berdasarkan QS. AL BAQARAH:164, QS. AN NAHL:11 dan QS.YUNUS:101

===========
Jawab:

Salah satu keagungan Al Quran yang tidak terbantahkan adalah kedudukannya sebagai kitab ilmu. Al Quran adalah sumber ilmu, segala ilmu. Bahkan sangat banyak dari pengembangan ilmu pengetahuan dan bahkan teknologi saat ini, bersumber dari apa yang disampaikan Allah di dalam Al Quran. Demikianlah kita menyaksikan dan membuktikan bahwa Al Quran itu mendahului ilmu pengetahuan dan teknologi.

Diantara contohnya adalah apa yang terdapat pada QS. Al Baqarah ayat 164, QS. An Nahl ayat 11, dan QS. Yunus ayat 101.

ๅ›žโ— Allah SWT berfirman pada QS. Al Baqarah ayat 164:
Artinya : โ€œSesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.โ€

Diantara keterkaitan ilmu pengetahuan/teknologi dan keagungan Allah SWT yang dipaparkan pada ayat ini adalah:

a. Allah lah yang menciptakan langit dan bumi. Kemudian Allah menjadikan bumi tersebut dengan segala apa yang tersimpan didalamnya untuk kemanfaatan hidup manusia, baik di darat maupun di laut. Maka kemudian manusia menemukan, mengolah, dan memanfaatkan banyak sumber daya baik di darat maupun di laut untuk penopang kehidupannya.

b. Langit, bintang-bintang, dan benda-benda langit semua bergerak menurut aturan yang telah ditentukan Allah. Tidak ada yang menyimpang dari aturan-aturan itu.

c. Pergantian malam, siang dan terjadi perbedaan panjang dan pendeknya pada beberapa negeri karena perbedaan letaknya, kesemuanya itu membawa kemanfaatan yang sangat luas bagi kehidupan manusia.

d. Bahtera/kapal-kapal bisa berlayar di lautan. Hal ini memungkinkan manusia menjangkau dari satu negeri ke negeri yang lain untuk banyak keperluan, termasuk membawa barang-barang perniagaan untuk memajukan perekonomian.

e. Allah SWT lah Yang menurunkan hujan dari langit, yang dengan air hujan itu bumi yang tadinya mati dapat menjadi hidup dan subur kembali, serta segala jenis hewan dan makhluk hidup lainnya dapat pula melangsungkan kehidupannya.

f. Perputaran/perkisaran angin dari suatu tempat ke tempat yang lain adalah salah satu tanda dan bukti kekuasaan Allah yang besar faedahnya bagi kehidupan manusia.

g. Begitu pula, harus direnungkan dan diperhatikan keluasan nikmat Allah bagi manusia yang tak terhitung jumlahnya berupa awan diantara langit dan bumi.

Kesemua rahmat yang diciptakan Allah tersebut direnungkan, difikirkan, bahkan dibahas dan diteliti oleh manusia untuk menambah kekokohan iman mereka kepada Allah SWT dan untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat bagi kehidupannya, yang hal ini juga membawa kepada pengakuan dan pembuktian akan keesaan dan keagungan Allah SWT.

ๅ›žโ— Demikian pula halnya yang Allah wahyukan dalam QS. An Nahl ayat 11, tentang kekuasaan Allah menumbuhkan berbagai tanaman dengan air; juga zaitun, kurma, anggur, dan berbagai buah-buahan. Kesemuanya dipikirkan dan diteliti dalam koridor ilmu sehingga tanaman dan buah-buahan tersebut menghasilkan manfaat yang multidimensi bagi manusia.

ๅ›žโ— Juga firman Allah dalam QS. Yunus ayat 101,
Artinya : โ€œKatakanlah: โ€œPerhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman. โ€

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada rasul-Nya agar dia menyeru manusia untuk memperhatikan dengan mata kepala mereka sendiri dan dengan mata hati mereka sendiri, segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Berbagai macam ciptaan Allah yang tersebar di langit dan di bumi tersebut memberi manfaat yang sangat luas kepada manusia.

Kesemuanya itu memperlihatkan dengan nyata dan membuktikan dengan jelas tentang tanda-tanda keesaan dan kekuasaan Allah SWT bagi orang-orang yang berfikir dan yakin kepada penciptanya. Akan tetapi bagi mereka yang tidak percaya adanya pencipta alam raya ini, maka kesemua tanda-tanda keesaan dan kekuasaan Allah di alam ini tidak akan bermanfaat bagi dirinya.

Demikian, wallaahu a’lam bishshowab…

Shalat Jamaah Niat Munfarid


โœ๐Ÿฝ Ustadzah Prima Eyza Purnama

Assalamualaikum ka, aku mau nanya. Klo misalkan kita shalat jama’ah tapi kita baca niatnya shalat munfarid , itu berarti shalatnya termasuk jama’ah atau munfarid ka?. Mohon jwbn nya ka, Syukron.

MFT A08
==========

Jawab:

Wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh

Super pertanyaannya. Dan ini termasuk salah satu perkara yang penting untuk diperhatikan.

Semua ulama fiqih sepakat bahwa jika kita sholat berjama’ah mengikut imam (yakni menjadi makmum) maka wajib bagi kita untuk berniat mengikuti imam atau berniat sholat berjama’ah atau berniat menjadi makmum ketika bertakbiratul ihram.

Maka jika kita sholat berjama’ah namun berniat sholat munfarid (sholat sendirian), maka sholat tersebut tidak terhitung sebagai sholat berjama’ah, melainkan termasuk sholat munfarid. Hal ini berdasar kepada makna umum dari hadits berikut:

ูุนูŽู†ู’ ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู… ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุงู„ู’ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ู ุจูุงู„ู†ู‘ููŠู‘ูŽุฉู ูˆูŽู„ููƒูู„ู‘ู ุงู…ู’ุฑูุฆู ู…ูŽุง ู†ูŽูˆูŽู‰ ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ู‡ูุฌู’ุฑูŽุชูู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ููŽู‡ูุฌู’ุฑูŽุชูู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ู‡ูุฌู’ุฑูŽุชูู‡ู ู„ุฏูู†ู’ูŠูŽุง ูŠูุตููŠุจูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู ูŠูŽุชูŽุฒูŽูˆู‘ูŽุฌูู‡ูŽุง ููŽู‡ูุฌู’ุฑูŽุชูู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ู‡ูŽุงุฌูŽุฑูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู

Dari Umar radhiyallahu โ€˜anhu, bahwa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œAmal itu tergantung kepada niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai kepada apa ia hijrah.โ€ (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Demikian, wallaahu a’lam bishshowab…