Nasihat Hati

📚 MOTIVASI

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

☘Apakah hati sudah terpaut dengan Al Quran?
Apakah hati lebih cenderung pada jalan kebenaran?
Apakah hati sudah tertambat pada keistiqamahan?

🌹Atau…
Hati yang lebih condong pada kemungkaran
Hati yang lebih memilih jalan kesesatan
Hati yang lebih menyukai belenggu setan?

☘Tak dirasai perilaku mulai tercela
Tak disadari kata-kata berbalut dusta
Tak dipungkiri hidup pun tak lagi bermakna

🌹Kala diri tak rindu sajadah
Kala diri mulai malas bertilawah
Kala diri berhasrat meninggalkan dakwah

☘Apa yang akan kita persembahkan?
Tak ada catatan amal kebaikan
Tak punya pahala yang jadi bekalan
Hingga saatnya di yaumul mizan

🌹Tergugu di ujung hari
Tak tau akan nasib diri
Bila akhlak tak segera diperbaiki

☘Bila nafas masih bisa dihela
Berharap ada kesempatan kedua
Menyadari segala khilaf dan alpa.

🌹Hingga perjalanan ini berakhir
Ada karya yang sudah kita ukir
Dan mendapat pahala yang sentiasa mengalir.
Berharap mulia di akhir masa

☘Mendapat surga sebagai balasannya
Hidup kekal di alam baka
Bahagia pun dirasa hingga di Surga

🌹 *Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah* berkata:

_“Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (macam penderitaan):_

_1.Kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya,_
_2. Kepayahan yang tiada henti, dan_
_3. Penyesalan yang tiada berakhir._

☘Hal ini dikarenakan orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) jika telah mendapatkan sebagian dari (harta benda) duniawi maka nafsunya (tidak pernah puas dan) terus berambisi mengejar yang lebih daripada itu.

🌹Sebagaimana dalam hadits yang shahih *Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam* bersabda,
_“Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang berisi) harta (emas) maka dia pasti (berambisi) mencari lembah harta yang ketiga“_
[HR al-Bukhari (no. 6072) dan Muslim (no. 116)].
[“Igaatsatul lahfaan” (1/37)]

☘Begitu juga seperti halnya nasihat *Ibnu Athaillah Al Iskandari*
_”Bagaimana mungkin qalbu akan bersinar, sedangkan bayang-bayang dunia masih terpampang di cerminnya? Bagaimana mungkin akan pergi menyongsong Ilahi, sedangkan ia masih terbelenggu nafsunya? Bagaimana mungkin akan bertamu ke hadirat Nya. Sedangkan ia belum bersuci dari kotoran kelalaiannya? Bagaimana mungkin diharapkan dapat menyingkap berbagai rahasia, sedangkan ia belum bertobat atas kekeliruannya.”_

Wallahu A’lam.

Kisah Musaikah

Pemateri: *Ustadzah Eko Yuliarti Siroj*

Kisah Musaikah

وَلا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
_”Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan kehidupan duniawi. (QS An Nuur:33)._

💫Musaikah adalah budak perempuan milik Abdullah bin Ubay bin Salul penghulu orang-orang munafiq. Abdullah bin Ubay memaksanya untuk melacurkan diri. Ia menawarkan Musaikah, saudara perempuannya dan beberapa orang lain kepada para pemabuk dari orang-orang Yahudi. Ia membuatkan tempat khusus untuk itu.Musaikah pergi menghadap Rasulullah Saw dan menceritakan apa yg ia alami. Maka turunlah ayat diatas.
❄Suatu pagi Musaikah pergi ke luar rumah. Di perjalanan ia mendengar kaum perempuan yang sedang berbincang tentang Islam dan diantara mereka ada yang sedang membaca Al-Qur’an. Hatinya bergetar dan cahaya iman mulai merasuki jiwanya. Ia mendekati mereka, berharap cahaya iman membanjiri jiwanya. Salah seorang mereka mencegahnya untuk mendekat, namun seorang yg lain berkata:”Biarkan dia mendekat. Semoga masuk Islam, beriman dan menjauhi tindakan yang buruk.”

💫Demikianlah ketentuan Allah. Musaikah mengucapkan dua kalimat syahadat disaksikan para muslimah itu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Dengan air mata berlinang, ia bertanya seperti meratap:”Apakah Allah akan menerima taubatku?” Apakah Allah akan memaafkan apa yang telah aku lakukan?” Mereka mengatakan:”Sesungguhnya2 Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.”

 ❄Orang yang paling tua diantara mereka berkata:”Ayo kita menghadap Rasulullah! Agar beliau mengajarkanmu urusan agamamu dan agar beliau mengajarkanmu cara beristigfar. Agar beliau mendo’akanmu dengan taubat dan agar Allah menerima taubatmu dan menerangimu dengan cahaya iman.” Musaikah berkata:”Baiklah…dan aku akan bersuci untuk menghadap Rasulullah.”

💫perempuan solihah itu mengajaknya ke rumahnya agar Musaikah mandi dan bersuci. Kemudian keduanya pergi menghadap Rasulullah Saw.

❄Rasulullah menguatkan keislaman Musaikah. Dan saat pergi meninggalkan Rasulullah, ia seperti memiliki jiwa yang baru. Jiwanya terbang ke angkasa menyambut petunjuk dan cahaya iman.

💫Musaikah pulang ke rumah majikannya dengan cahaya iman dan dia telah melarang dieinya untuk melakukan hal yang haram. Beberapa hari kemudian, seseorang mencarinya untuk melakukan perbuatan dosa seperti biasa. Akan tetapi Musaikah menolak. Ia mengatakan bahwa ia sudah masuk Islam dan Islam mengharamkan perbuatan seperti itu. Majikannya merayunya dengan iming-iming akan diberi harta yang banyak tapi Musaikah tetap menolak. Maka Musaikah dipukul dengan sangat kuat hingga ia terjatuh dan bibirnya berdarah. Kemudian majikannya menawarkan harta yang lebih banyak lagi namun Musaikah tetap menolaknya. Ia bahkan bersumpah tidak akan melakukan hal-hal yang dibenci Allah….selamanya.

❄Abdullah bin Ubay putus asa. Ia meninggalkan Musaikah dengan darah bercucuran dan ia berjanji akan kembali dengan siksa yang lebih pedih.

💫Dengan terseok-seok, Musaikah berjalan menuju rumah Rasulullah Saw. Diperjalanan ia bertemu dengan Abu Bakar kemudian ia dipapah dan diantar oleh Abu Bakar menemui Rasulullah Saw. Ia pun menceritakan apa yang terjadi hingga turunlah ayat yang sangat jelas

وَلا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan kehidupan duniawi. (QS An Nuur:33)

*Hikmah kehidupan :*
💫Hidayah itu tidak bisa dipaksakan untuk didapat oleh orang tertentu. Juga tidak bisa ditolak saat ia sampai kepada orang tertentu.
❄Hidayah adalah anugrah Allah yang teramat mahal. Seyogyanya ia dirawat, dipelihara, dijaga, dipupuk agar menumbuhkan buah-buah iman dan amal soleh yang banyak.
💫Hidayah kadang sulit untuk didapat. Tapi kadang begitu mudah datang. Hanya Allah Yang Maha Tahu rahasia hidayah.
❄Pintu taubat terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin kembali kepada Allah dengan kesalahan sebesar apapun.
💫Jangan pilih-pilih objek dakwah. Karena kita tidak tahu siapa yang lebih dekat dengan hidayah Allah.
❄Diantara tugas para da’i adalah membimbing para muallaf untuk memahami agamanya. Jangan tinggalkan mereka mencari sendiri.
💫Penderitaan fisik sangat lekat dengan para pejuang aqidah. Demikian sunnatullah sejak zaman nabi Adam As.
❄Seburuk apapun masa lalu seseorang, saat ia benar2 bertaubat maka ia akan kembali pada kesucian.

Wallohu a’lam bis showwab

Semangat Harus Selalu Ada

Pemateri: Ustadzah Bunda Rochma Yulika

❣Menjalani hidup harus penuh semangat karena akan menjadikan perjalanan yang kita lewati penuh dengan energi kebaikan.

❣Bila yang ada kemalasan tentunya akan banyak masa yang terlewati dengan sia-sia. Sedetik waktu yang Allah berikan kepada kita senilai dengan berjam-jam bila kita isi dengan hal yang baik.

❣Putus asa bukan menjadi tabiat yang melekat pada insan beriman. Dalam keadaan lelah pun kita harus terus berjuang mewujudkan apa yang kita cita-citakan.

❣Setiap keterbatasan yang ada yakinlah ada kelebihan yang telah Allah siapkan pada diri kita. Tinggal bagaimana kita senantiasa mengoptimalkan usaha sembari terus berdoa meminta penuh harap.

❣Kita perlu mengingat bahwasanya janji Allah selalu benar. Tak ada yang tak kan dipenuhi oleh Nya.

❣Hanya saja waktu yang tepat ukuran manusia sangatlah berbeda dengan apa yang dikehendaki Allah.

❣Kita berusaha maksimal untuk menunjukkan bahwa ada keinginan besar dalam mewujudnya sebuah harapan.

❣Terus dan teruslah berencana dan berharap akan masa depan yang penuh kemuliaan.
Dan yakinlah Allah akan jawab setiap harap yang terpanjat.

_”Jangan sampai tertundanya karunia Allah kepada kalian, setelah kalian mengulang-ulamg doa membuat kalian putus asa. Karena Dia menjamin pengabulan doa sesuai pilihan Nya, bukan sesuai pilihan kalian, pada waktu yang diinginkan Nya bukan pula waktu yang kalian inginkan” (Ibnu Atha’illah Al Iskandari)_

❣Ada tahapan yang sedianya kita lewati dengan mujahadah.

❣Hal yang paling mendasar adalah keimanan yang sepenuhnya kepada Allah serta keyakinan bahwa bersama Allah kemudahan akan tercipta, harapan pun akan menjelma.

❣Lantas jangan pernah lalai untuk senantiasa memperbaiki ibadah kita.
Ibadah yang benar yang kan membentuk jiwa-jiwa tegar.

❣Lantas usaha optimal itulah wujud komitmen kita untuk meraih apa yang kita tuju.

❣Namun perlu sebuah tawakal dalam melalui setahap demi setahap apa yang menjadi harapan kita. Dan tentunya sebagai manusia yang beriman harus senantiasa menjaga akhlak terpuji baik kepada manusia apalagi kepada Rabbnya.

❣Semua sudah ditetapkan pada garisnya masing-masing. Keteraturan itulah sunatullah. Bahkan sebab akibat pun sudah Allah atur sedemikian rupa.

❣Sudah selayaknya kita kedepankan baik sangka kepada Allah sembari menjaga semangat agar sekecil apa pun karunia tiada yang terlewat.

Bismillah, Insya Allah, Allahu Akbar…

Memaknai Ujian Kehidupan (Bagian ke-2)

Pemateri: Ustadzah Bunda Rochma Yulika

📚Apa yang membuat kita siap menjalani ujian itu?

Bila kita sadari setiap peristiwa hidup ini tak luput dari rencana-Nya. Bahkan sehelai daun yang jatuh tak lepas dari pandangan-Nya pula.

Kadang suasana tak mudah kita rubah namun rasa yang muncul dalam menyikapi suasana bisa mudah kita rubah.

Keimanan yang sangat besar di dalam dada akan menjadi landasan hidup. Segala aral yang melintang tak mampu membuat kita terlarut dalam kesedihan dan penyesalan.

Pasti ada hikmah di balik setiap musibah. Ada kemudahan setelah kesulitan. Karena dengan ujian itu kita akan tahu reputasi kita. Kita akan tahu kualitas kita. Kita akan tahu daya tahan imunitas kita. Kita akan tahu sportivitas dan optimisme kita. Dan dengan ujian itu sesungguhnya kita sedang merancang masa depan kita.

Mari kita bersama mulai melangkah dengan meyakini ujian itu pasti datang. Gelombangnya boleh jadi makin hari makin besar dan dahsyat sesuai dengan tingkat kiprah dan keimanan kita.

Fitnah dan mighnah akan datang seiring dengan disiapkannya kenikmatan, bila tak di dunia insyaallah di surga kan bisa mendapatinya.

Bila kita bisa mengarungi gelombang itu bukan berarti telah berhasil meraih kemenangan namun pastilah akan datang lagi cobaan. Semuanya itu tak lain untuk meningkatkan derajat kita di mata Allah. Bila ujian-ujian itu telah terlampaui insya Allah akan sirna kepedihan hati berganti ketenangan dan kedamaian yang merupakan bagian dari perjalanan menuju surga-Nya.

Cobaan dan ujian memang adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan manusia. Tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang tak mengalaminya. Karena memang hal ini pun juga telah disebutkan banyak di dalam ayat Al Quran.

Cobaan dan ujian tentu ada dalam dua bentuk yaitu kesedihan dan kebahagiaan. Kesedihan seperti kurangnya harta, ditinggalkan oleh orang yang disayangi atau tertimpanya bencana atau penyakit yang tak kunjung sembuh adalah bentuk ujian yang tak diharapkan oleh kebanyakan orang. Karena memang semuanya membawa pada keadaan yang tak mengenakkan.

Sedangkan bentuk ujian yang kedua adalah dimana semuanya berada pada hal yang mengenakkan. Misalnya banyaknya harta benda yang dimilki, usaha yang dijalankan sukses dan selalu menghasilkan untung besar. Memilki banyak anak yang sehat dan pintar.

Semuanya adalah bentuk ujian yang terkadang tak banyak disadari oleh kita karena memang di balik semuanya tersimpan kebahagiaan bukan kesedihan.

Dalam menghadapi kedua hal tersebut, manusia dinilai oleh Allah. Sejauh mana mereka akan senantiasa mampu bersabar dan bersyukur dalam menjalaninya.  Dan dari penilaian inilah Allah akan menentukan banyak sediktnya pahala yang akan di dapat oleh manusia tersebut.

Jika memang ia dapat melewatinya dengan baik dan benar tentu akan mendapatkan nilai yang baik.

Dan nilai yang baik ini akan membawanya kepada surganya Allah. Sebaliknya jika manusia dalam menghadapi semua cobaan dan ujian itu tidak berhasil dengan benar maka yang didapat adalah nilai yang buruk dimana nilai ini akan menjerumuskan manusia ke neraka yang begitu menyiksa.

Beginilah Cara Allah meningkatkan derajat kita
Jalan yang selalu sepi
tak kan mampu menghasilkan sopir yang hebat.
Langit yang selalu cerah
Takkan mampu menjadikan pilot yang tangguh
Laut yang selalu tenang
Takkan bisa menjadikan pelaut yang ulung
Hidup tanpa ujian
Takkan bisa menghasilkan manusia-manusia yang luar biasa.

(Bersambung, insya Allah)

Memaknai Ujian Kehidupan (Bagian ke-1)

Pemateri: Ustadzah Bunda Rochma Yulika

❣Hidup ini indah….
Namun akan menjadi indah
bila kita mampu meraih hidayah

❣Hidup ini susah…
Namun akan semakin susah
bila kita tak bisa mengambil hikmah

Allah Menguji dan Allah yang akan beri Solusi.
Allah datangkan ujian,  Allah pula yang menyediakan jawaban.

Masihkah kita ragu akan kuasa Nya?
Masihkah pula kita enggan untuk menghamba?
Masihkah kita lalai menjalankan kewajiban kita?
Dan masihkah kita malas membaca kalam Nya?

Maka nikmat mana yang masih kita dustakan?

❣Sahabat surgaku…
Mari bersegera kita menakar diri
Seberapa lemah diri kita ini
Seberapa besar kuasa Ilahi Rabbii
Bersegera tinggalkan rasa tinggi hati
Menuju hati yan selalu mengabdi

❣Sahabat surgaku…
Sudah saatnya kita berbenah
Tundukkan diri dengan jiwa pasrah
Agar Allah ridla untuk hadirkan berkah
Hidup mulia atau mati khusnul khatimah

❣Sahabat surgaku…
Sudah saatnya bergerak tuk raih kemenangan
Ayunkan langkah tuk segera sambut seruan
Agar Allah Ridla tuk kabulkan segala harapan

❣Selamat berjuang Sahabat Surgaku….
Semoga Allah senantiasa melapangkan jalan kita tuk menyeru kebenaran.
         🔹     🔹     🔹

📚 Menyikapi Peristiwa Kehidupan

Adalah kehidupan bila nampak berjuta warna di depan mata.
Pelangi tak kan menjadi indah bila hanya ada satu warna.
Paduan berbagai warna menambah indah di pandangan kita.

Kadang hidup kita merah, kadang biru, kadang pula hitam. Kita harus bisa menikmatinya.

Tabiat manusia akan siap bila menerima anugerah dibanding dengan musibah.

Tapi agama mengajarkan kita bahwa dalam keadaan apa pun harus tetap siap karena kita akan menjalani setiap takdir yang akan ada.

Muhammad SAW teladan bagi kita. Ujian yang ia terima dari kaum kafir Qurays kala menjalankan perintah Allah swt.

Cacian dan makian juga lemparan kotoran binatang pun diterima olehnya. Namun Rasul tak pernah mundur sedikit pun untuk tetap menjalankan amanah yang harus dijalankannya.

Bagi kita mendengar kata “ujian” yang terbayang di depan kita yang ada hanya kesulitan, kesedihan, kegagalan, pun kenestapaan. Karena ujian dipandang sebagai masalah yang sulit, berat, susah, membosankan, repot, pasti menyelesaikannya harus dengan dahi berkerut.

Persepsi yang seperti itu sudah mendarah daging sehingga sulit untuk dihilangkan.

Padahal, ujian itu tak hanya yang mampu membuat kita sedih dan berderai air mata. Namun kekayaan yang membuat mata silau dan segala kenyamanan sebenarnya juga merupakan ujian.

Mungkin kita akan lebih teruji bila di hadapan kita terbentang kesulitan, namun akan menjadi semakin terjerumus bila kita diberi kemudahan.

Hidup ini ibarat fatamorgana. Bila kita berjalan di padang yang tandus kala itu kita sedang kehausan nampaklah dari jauh sumber mata air yang segar namun setelah kita mendatanginya hanya tanah kering lantaran terik matahari yang menyengat.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (Q.s. Ali ’Imran [3]: 14).

Sejenak kita ingat kala bahtera mengarungi lautan badai, ombak senantiasa akan datang tanpa kita tahu. Sebagai nahkoda harus siaga dengan setiap kemungkinan yang mendatanginya.

Tak ubahnya dengan pohon, semakin tinggi semakin besar anginnya. Akar yang kokoh menghunjam ke tanah yang akan membuat pohon tetap tegak berdiri meski angin besar menerpanya.
Begitu juga seperti layang-layang ia akan terbang tinggi ke udara. Tarik ulur dari tali atau benang yang membuat layang-layang itu semakin terbang tinggi. Nampaklah pemandangan yang indah kala layang-layang itu tak goyah lantaran tiupan angin yang tak kencang.

Namun bila tiba-tiba angin kencang datang tak ayal lagi bila layang-layang akan terombang-ambing di udara bahkan bila putus talinya layang-layang akan terhempas begitu saja tanpa jelas dimana ia akan terhempas.

Namun kehidupan manusia tak begitu saja bisa disamakan dengan terbangnya layang-layang. Meski kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga dari layang-layang.

Karunia akal tak lain seyogyanya kita optimalkan sedemikian rupa sehingga kita mampu membaca fenomena yang kita lihat, dengar, dan rasa.

Tak pernah sang Pencipta alam semesta ini memberikan suatu ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Allah sangat mengerti kadar kemampuan seorang hamba. Badai pun pasti akan berlalu dari kehidupan kita. Roda pun akan berputar sesuai dengan kodratnya.

Tak kan ada duka derita yang berkepanjangan menghampiri sang hamba. Beginilah tabiat ujian dan kehidupan manusia.
Besar kecilnya ujian tak  berpengaruh bagi kita bila kita sangat memahami tabiat perjalanan Gagal dan berhasil dalam ujian juga hal yang wajar saja, yang penting justru bagaimana cara kita menyikapi ujian itu. Ini pula yang nanti membedakan antara mereka yang berhasil dan yang gagal dalam menjalani ujian. Bagi yang arif menyikapi kegagalan, ujian dipandang sebagai sarana untuk mendewasakan diri dan tempat menempa untuk mempercepat menuju insan kamil.

Bagi yang tidak arif, kebanyakan mencari pelarian yang tidak sedikit berakhir dengan bunuh diri.

Duka dan bahagia kan selalu mengiringi langkah manusia. Canda tawa, derai airmata, akan silih berganti menyapa. Tak ada yang abadi dalam hidup kita. Semua serba sementara. Hanya keyakinan di dada atas segala titah Nya akan menjadikan kita manusia yang kuat, tegar dalam menjalani hidup ini.

(Bersambung, insya Allah)

Mengedepankan Baik Sangka untuk Menjaga Ukhuwah

Pemateri: USTADZAH ROCHMA YULIKA

Jika keikutsertaan kita dalam barisan dakwah tulus, kita akan berbaik sangka dan ikatan persaudaraan kita menjadi kuat.

Saat menceritakan kisah taubatnya, Ka’ab bin Malik menyatakan, Rasulullah saw tidak pernah menyebut namaku hingga sampai di Tabuk, ketika duduk bersama sahabat-sahabatnya.

Beliau bertanya, ‘Apa gerangan yang dilakukan oleh Ka’ab bin Malik?’

Seorang dari Bani Salamah menjawab, Wahai Rasulullah, dia tidak berangkat karena lebih suka berteduh dan senang melihat kebunnya.’

Tiba-tiba Mu’adz bin Jabbal menimmmpali, ‘Buruk sekali ucapanmu itu! Wahai Rasulullah, demi Allah, selama ini kami tak pernah menemukan kejelekan padanya.’

Rasulullah saw hanya diam.

Terkadang gejolak emosi sesaat membutakan mata kita hingga buruk sangka terlontar begitu saja tertuju pada seorang sahabat.

Kita lupa dengan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat, dan yang kita ingat hanya kesalahan yang kadang tak berarti.

Mari kita jaga ukhuwah dengan mendahulukan prasangka baik kepada saudara kita agar kebersamaan di jalan dakwah ini tak menorehkan luka.

Apakah sekedar nila setitik akan rusak susu sebelanga? Kita ini kumpulan manusia bukan kumpulan para Nabi apalagi malaikat. Kesalahan dan kekhilafan perlu disadari bahwa itulah kelemahan sisi kelemahan kita.

Bahkan jika kita mau menilik kepada diri kita sendiri, seberapa banyak noda dan dosa yang pernah kita lakukan, tanpa kita sadari atau pun yang kita sadari.

Siapapun yang berani jujur melihat dosa atau aib diri sendiri, tak akan mudah mencela orang dan memosisikan orang lain tersebut bersalah.

Berbaik sangkalah agar ukhuwah semakin indah
Berbaik sangkalah agar dakwah semakin merekah
Dan berbaik sangkalah agar perjuangan membawa kita ke Jannah.

Tabayun adalah sarana untuk mengurai segala permasalahan.
Tabayun lebih memberi ruang dengan tak sekedar menyalahkan.
Dan tabayun menjadikan kita lebih bijaksana dan berperikemanusiaan.

Diam menjadi pilihan terbaik untuk menjaga diri dari keburukan dan kesesatan.
Keselamatan kita di dunia dan akhirat terletak pada hati dan lisan kita.

Hati yang terjaga, lisan yang tertatan, kemuliaan akan mengiringinya.
Insya Allah…..

Jangan kotori hati dengan saling membenci.
Jangan perkeruh suasana dengan lisan yang kurang tertata
Dan jangan rusak persaudaraan dengan penilaian yang tak beralasan.

Semoga kita segera mengevaluasi diri agar terjaga hingga akhirat nanti.

Wallahu  A’lam.

Meneladankan Diri Untuk Menjadi Cermin Yang Terbaik

Pemateri: USTADZAH ROCHMA YULIKA

Menjadikan diri lebih baik sebuah keniscayaan.
Berkaca pada nurani menjadi kewajiban.
Lantaran bersihnya nurani yang mampu menggerakkan laku untuk memperbaiki diri.

Menjadi baik bukan sekedar mengantarkan sosok muslimah menjadi pribadi yang penuh harga diri di mata manusia, lebih dari itu ada tujuan jangka panjang yakni kehidupan ukhrowi yang tak bertepi.

Belajar dari kisah yang menyejarah di masa lalu bisa membangkitkan semangat untuk berusaha menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin, dan berharap esok kan raih cita gemilang dalam mengukir sejarah hidupnya.

Menjadi muslimah yang dikenal sepanjang sejarah tak selalu lurus dalam menjalani hidupnya. Terkadang ada sandungan, ada aral melintang, ada ujian, dan Allah memberi kesempatan untuk berbuat salah.
Bukan sekedar peristiwa yang menjadikannya bersalah, namun perjuangannya untuk bangkit dari keterpurukan, dari kejahilan, dan bangkit dari kesalahan itu yang bisa kita jadikan teladan untuk menjalani kehidupan.

Tak ada gading yang tak retak. Tak ada satu pun manusia yang sempurna, hanya Rasulullah yang mulia yang terjaga dari dosa hingga gelar Al Ma’shum melekat pada beliau.

Banyak wanita di sekeliling Nabi, mereka sebelumnya menjadi musuh Islam, menghina Rasulullah hingga akhirnya menjadi teladan kebaikan hingga akhir zaman.

Tersebutlah wanita shalihah yang kisahnya cukup mengesankan dan menjadi sarana belajar bagi kita untuk lebih berhati-hati. Ummu Banin namanya. Ummu Banin sendiri adalah putri dari Abdul Azis bin Marwan serta saudara wanita dari Umar bin Abdul Azis.

Umar bin Abdul Azis sendiri adalah salah satu pemimpin, salah satu khalifah teladan sepeninggal Khulafaur Rasyidin.
Tak banyak sejarawan yang menuliskan sejarah hidupnya. Namun sekelumit berkisah tentangnya berharap bisa menjadikannya contoh untuk berhati-hati dalam berkata-kata. Ummu Banin yang shalihah tanpa menyadari telah menunjukkan sikap kesombongan.

Dikisahkan dari Marwan bin Muhammad bahwa Azzah sahabat Kutsayyir pernah datang menghadap kepada Ummu Banin.

Bermula dari pertemuannya dengan seorang wanita muda yang bernama Azzah dan sahabat laki-lakinya. Setiap kali Kutsayyir bertemu dengan Azzah selalu saja berdendang sebuah syair bahwa hutang itu wajib dibayar.

Mendengar dendangan syair itu Azzah selalu murung hingga kemurungannya diketahui Ummu Banin. Dengan rasa penasaran Ummu Banin bertanya kepada Azzah dan meminta Azzah bercerita.

Akhirnya Azzah menceritakan maksud dari sindiran tentang hutang tersebut bahwa dulu pernah berjanji bersedia dicium Kutsayyir, lantas Kutsayyir setiap bertemu Azzah selalu saja menagihnya. Tetapi Azzah menolak dan takut berdosa.

Mendengar penuturan itu, Ummu Banin spontan terlontar kata-kata geram dengan cerita itu. “Tepatilah janjimu kepadanya dan akulah yang akan menanggung dosanya,” kata Ummu Banin.

Tak seberapa lama, Ummu Banin merenungi kata-katanya. Ummu Banin pun segera menginterospeksi diri atas perkataannya. Ia memohon ampun kepada Allah SWT atas kesombongannya.

Ketakutan akan hari akhir yang membuat Ummu Banin menyegerakan pertaubatan atas khilaf selintas lepas. Lantaran sekecil apa pun kesombongan, tak kan pernah berhak untuk menginjakkan kaki di Surga.

Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari perilaku takabur dan merasa tinggi hati. Astagfirullah…..

Jika kita lihat kesalahan Ummu Banin tak seberapa besar. Lantaran pemahaman yang mendalam terhadap dienul Islam maka Ummu Banin untuk menunjukkan kesungguhan taubatnya, beliau membebaskan 40 budak. “Ya Allah, mengapa tidak bisukan saja mulutku ini ketika mengatakan hal itu,” pintanya dalam tobat.

Tekun Beribadah. Dalam menjalani kehidupan selanjutnya, Ummu Banin kian tekun dalam beribadah. Ummu Banin selalu meninggalkan peraduannya guna menunaikan shalat sepanjang malam.
Setiap hari jumat, ia selalu keluar rumah dengan membawa sesuatu di atas punggung kudanya kemudian diberi-berikannya kepada fakir miskin.

Tidak jarang pula Ummu Banin mengundang para wanita ahli ibadah untuk berkumpul di rumahnya kemudian menggelar pengajian membahas keagamaan. “Setiap manusia pasti akan membutuhkan sesuatu, sedangkan aku akan menjadikan kebutuhanku itu menjadi sebuah pengorbanan dan pemberian.
Demi Allah, silaturrahmi bagiku lebih menarik daripada makanan selezat apapun,” tuturnya kepada para wanita lainnya.

Hingga akhir hayatnya, Ummu Banin selalu berbuat kebaikan.

Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada Ummu Banin, salah seorang Wanita Teladan dalam Sejarah Islam.

Sahabat Surgaku…..
Merawat jiwa, mengolah pribadi, menjaga perilaku, dan menata hati seyogyanyalah ada dalam pribadi-pribadi muslimah.

Selalu berada dalam orbit keshalihan, selalu menjaga keistiqamahan, dan menjadikan orang-orang beriman menjadi kawan.

Berhati-hati hingga tak menjadi hamba-hamba yang melampaui batas. Lantaran Allah swt mengingatkan pada kita dalam firman-Nya, “Katakanlah Wahai hamba-hamba Ku, yang telah melampaui batas dalam berbuat dosa jangan berputus asa dari kasih sayang Allah, sungguh Allah Maha Mengampuni semua dosa, dan sungguh Allah Maha pengampun dan berkasih sayang” (QS Azzumar 53)

Mari kita pelihara dan tingkatkan taqwa kita.
Mari kita bersegera memantaskan diri menjadi hamba-Nya.

Sudah seberapakah amalan yang kita bawa? Seberapa khusyu’ kita menghamba? Seberapa banyak waktu kita untuk memperjuangkan diin mulia?

Atau kita lebih sering berpacu dengan waktu untuk urusan yang tak tentu. Mengejar yang fana hingga lupa yang baka. Mengejar dunia saja hingga lupa akhiratnya.

Sisa hidup kita tak seberapa lama. Bersyukur karena Allah masih beri kesempatan kita untuk mengumpulkan bekal. Menyibukkan diri pada amal-amal kebaikan.

Waktu terus melaju, hari-hari pun berlalu, tanpa terasa kita sudah berada di ujung kehidupan. Sejenak menakar iman,  sesaat kita melintasi kehidupan, dan selamanya kita hidup dalam keabadian. Maka tugas kita untuk meneladankan diri bagian dari kebutuhan.

Ustadz Hasan Al Bisri menasihati kita,”Waktu adalah kehidupan, menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan kehidupan.” Usia kita tak terukur, tanpa kita tau kapan saatnya harus tidur di dalam kubur. Jika peluang hidup masih ada bergegas membuat karya.

Seperti halnya sosok-sosok muslimah yang jauh mendahului kita.
Ibunda Khadijah RA yang kesantunan pribadinya bisa dijadikan teladan sepanjang masa. Ibunda Aisyah RA yang kecerdasannya terekam dalam sejarah melalui karya-karyanya.

Berguru dari kisah di masa lalu hingga berusaha memperjuangkan asa tak kenal jemu. Saatnya kita ambil peran untuk menegakkan peradaban. Menjunjung nilai-nilai Islam hingga kembali raih kejayaan.

Mengembalikan eksistensi muslimah di akhir jaman adalah tugas kita. Sejauh mana diri telah berbuat untuk agama ini. Apakah kita masih sering memilih terlena hingga waktu tersia-sia. Atau kita segera beranjak dan berlari mengusung panji-panji untuk menyongsong kemenangan. Tak hanya jadi penonton tapi mampu mengambil peran untuk tegaknya sebuah kejayaan.
Mengembalikan kejayaan Islam, menampilkan sosok-sosok muslimah di akhir zaman.

Muslimah yang bisa seperti khadijah, yang pandai berdagang, menjadi pengusaha sukses sementara hidupnya tak jauh dari naungan Al Quran.

Serupa Aisyah yang menggeluti bidang keilmuan. Sosok aisyah yang menjadi tempat bertanya bagi sesiapa. Selayaknya zainab binti Khuzaimah yang menjadi umul masakin. Berperan banyak di masyarakat untuk melayani, untuk membantu menolong fakir miskin.

Adalah tugas kita sebagai muslimah mengisi hidup dengan banyak peran yang dilakukan. Membentuk keluarga sakinah, mendidik anak-anak menjadi shalih dan shalihah, dan berbuat banyak untuk melayani masyarakat. Mampu menjadikan setiap episode hidupnya menjadi lebih bermakna dan bermanfaat bagi sesama.
Sosok yang mengajarkan, sosok yang meneladankan, dan sosok yang meninggalkan jejak kebaikan sepanjang sejarah hidupnya.

Sahabat Surgaku…
Kemarin adalah sejarah, hari ini adalah anugerah, esok berharap berkah.
Kemarin jadi tempat berkaca, hari ini saatnya berkarya, dan esok berharap kan raih asa.
Kemarin  bisa dijadikan pelajaran, hari ini kerja keras kan jadi kawan, dan esok kan raih kesuksesan.

Apa yang berlalu bisa kita jadikan guru untuk ditiru. Apa yang terlewat bisa kita jadikan nasihat.

Meneladankan diri, menampilkan sosok muslimah sejati. Tak silau karena pujian tak galau lantaran beratnya ujian. Tetap berkarya meski langkah menuju kehadapan tak mundur selangkah pun dari jalan Tuhan.

Perjalanan membangun peradaban memang membutuhkan waktu yang
panjang dan melelahkan. Tak sekedar harta, jiwa,  raga, dan waktu tersita untuk memperjuangkannya. Banyak yang harus kita korbankan lantaran kecintaan kita kepada Allah.

Terkadang kita terengah-engah untuk melangkah hingga tujuan. Terkadang pula terseok-seok mengikuti lajunya derap langkah kafilah dakwah. Kadang pula tersandung, terjatuh, terluka dan aral yang melintang menghadang perjalanan kita.

Namun bagaimana pun kita harus tetap teguh pendirian untuk tetap semangat mengeksistensikan diri di jalan dakwah ini.

Imam Syafi’i menasihati kita,” Jika sudah berada di jalan Allah maka melesatlah dengan kencang. Jika sulit, maka tetaplah berlari meski kecil langkahmu. Bila engkau lelah, berjalanlah menghela lapang. Dan bila semua tak mampu kau lakukan, tetaplah maju terus meski merangkak perlahan. Janganlah pernah mundur dari jalan Allah.”

Sahabat Surgaku…..
Bergeraklah agar tubuh tak kaku.
Bertuturlah agar lidah tak kelu.
Berpikirlah agar otak tak beku.
Beramallah agar hidup lebih terasa syahdu.
Berjuanglah agar terukir namamu.
Berdakwakahlah tanpa kenal jemu.
Berharap tinggal di surga yang dirindu.

Demi Allah, dunia dibanding dengan akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut. Yang tersisa di jarinya itulah kehidupan dunia. (HR Muslim)

Wallahu  A’lam.

MUHASABAH DI PENGHUJUNG PENANTIAN

Pemateri: USTADZAH ROCHMA YULIKA

Tak pernah kita tahu helaan nafas kita kapan berujung.
Tak pernah kita mengerti apakah kita akan beruntung.

Terlalu hina kala jiwa tertambat oleh dunia.
Terlalu nista bila tautan hati hanya pada manusia

Terlalu naif bila kita hanya bisa berbincang tentang yang fana

Sejenak kita menakar keimanan kita
Seberapa besar cinta kita pada Nya

Seberapa teguh kita sanggup Agungkan Nama Nya

Seberapa tangguh kita mampu berjuang untuk menegakkan kalimat Nya

Waktu Itu………
Imam hasan Basri menasihati, waspadalah kamu dari menunda pekerjaan, karena kamu berada pada hari ini bukan pada esok hari, kalau esok menjadi milikmu, maka jadilah kamu seperti hari ini.

Kalau esok tidak menjadi milikmu, niscaya kamu tidak akan menyesali apa yang telah berlalu darimu.

“Tidak ada sesuatu yang paling disesali oleh para penghuni surga kecuali atas satu saat yang pernah mereka lalui di dunia yang tidak mereka gunakan untuk mengingat Allah di dalamnya,” (HR. Thabrani, dishahihkan oleh Albani)

“Ntar ah” kalimat itu sangat biasa kita dengar.

Kadang kita sendiri yang kala terlena oleh kegiatan yang melenakan sementara harus melakukan hal yang lain.

Sudah tabiat kita.
Apalagi mengulur waktu sholat. Pastilah kata,”ntar lagi tanggung” begitu saja keluar.

Seperti kisah tentang Ka’ab Bin Malik.
Ketika diajak rasul untuk berangkat berperang ia enggan lantaran akan menunggui hasi panen kebunnya. Saat itu ia tak pernah menyadari kebun akhirat di ladang jihad jauh lebih baik dari pada seluruh dunia seisinya.

Sementara kesempatan untuk berbuat kebaikan takkan terulang.

Kita sejenak merenungkan tabiat dari waktu. Dia tak akan bisa diputar lagi, dia berlalu begitu saja tanpa bisa terganti.

Jangankan mundur sesaat, untuk berhenti sejenak pun takkan pernah terjadi.

Maka hargailah waktu yang telah menjadi bagian dari kisah perjalanan hidup kita.

Setiap detik akan menghadirkan makna bagi seseorang bila ia mampu memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Islam adalah agama yang mulia, tidak ada yang terlewatkan dari setiap ajarannya untuk mengatur kehidupan manusia sampai mengantarkan manusia pada derajat yang mulia.

Hidup manusia adalah saat ini, dan kehidupan yang sesungguhnya itu ada di akhirat nanti.

Hidup manusia pada saat ini dan detik ini karena apa yang akan terjadi satu detik ke depan hanya sebuah harapan.

Satu detik yang menjadi bagian dari rencana kita bisa sirna bila datang takdir dari sang Pencipta akan batas usia kita.

Selalu berbenah diri untuk menjadi yang terbaik dari setiap masa yang kita lalui merupakan suatu kewajiban bagi seorang hamba bila ia ingin menghadirkan cinta-Nya.

Wallahu  A’lam.

TATACARA MANDI BESAR

Ustadz Menjawab
Selasa, 01 November 2016
Ustadzah Rochma Yulika

Assalamu’alaikum … Niat , do’a & tatacara Mandi Bersih  selesai Haid/menstruasi yg sesuai dg Hadist seperti apa ya? Karena menurut anak saya, yg diajarkan di sekolah, di TPA & yg saya ajarkan di rumah beda2 dikit. Mohon pencerahannya.. Wassalamu’alaikum. 🙏🏻
 A 41

Jawaban
————

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Mandi adalah aktivitas keseharian kebanyakan manusia, baik dia muslim maupun tidak muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Masyarakat membersihkan diri dari berbagai kotoran fisik dengan jalan mandi. Baik sebelum kedatangan Islam maupun setelahnya, mandi menjadi aktivitas yang telah dikenal oleh masyarakat dunia, dengan frekuensi dan alat bantu yang beragam. Dulu belum dikenal sabun ataupun shampo, mereka menggunakan tetumbuhan yang menghasilkan aroma wangi bagi tubuh.

Dalam Islam, mandi bukan sekedar aktivitas rutin untuk membersihkan badan. Islam meletakkan mandi sebagai bagian dari ibadah kepada Allah. Ada kondisi tertentu dimana kaum muslimah disunnahkan mandi, dan bahkan ada beberapa kondisi lagi yang mewajibkan kaum muslimah mandi. Selain dari usaha menjaga kebersihan diri, mandi juga sebagai bagian dari pensucian dari beberapa kejadian, seperti terhentinya darah haidh, selesainya nifas, dan aktivitas janabat.

Perempuan haidh harus mandi ketika darah telah terhenti dan ketika hendak menjalankan shalat. Demikian pula halnya perempuan yang telah selesai dari nifas, ia wajib mandi sebagai tanda bahwa ia telah suci dan memulai kewajiban seperti shalat. Apabila kaum muslimah tidak mandi setelah berhentinya darah haidh atau nifas, maka ibadahnya menjadi tidak sah. Inilah yang sering disebut sebagai mandi besar.

SYARAT MANDI

Adapun syarat mandi dalam konteks ini ada tiga, yaitu:
1. niat mandi untuk menghilangkan hadats haidh, nifas, janabat atau niat mandi untuk menjadikan boleh apa-apa yang sebelumnya tidak boleh kecuali dengan mandi, seperti shalat, tilawah Quran dan berdiam dalam masjid. Niat ini cukup diungkapkan di dalam hati. Niat inilah yang membedakan antara mandi biasa dengan mandi.
Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya sahnya suatu amal tergantung dari niatnya, dan seseorang akan mendapatkan balasan berdasarkan niatnya”.

2. menghilangkan najis bila terdapat di badannya, seperti bekas tetesan darah haidh dan nifas, atau bekas mani pada janabat.
3. mengalirkan air hingga pangkal rambut dan seluruh kulit. Keseluruhan badan harus mendapatkan siraman air, baik rambut maupun kulit, meskipun rambut pada kulit tipis maupun tebal.

TATACARA MANDI

Mandi untuk membersihkan diri dari haid, nifas dan hadats janabat, dituntunkan oleh Nabi saw sebagaimana riwayat Aisyah ra berikut,
“Rasulullah Saw. bila hendak mandi janabat, beliau memulai dengan mencuci kedua tangannya -dua atau tiga kali- kemudian menuangkan air dengan tangan kanannya ke tangan kirinya, kemudian mencuci kemaluannya, lalu berwudlu. Setelah itu mengambil air dan meletakkan jari-jarinya di pangkal rambut, kemudian menyiramkan air dengan kedua tangannya ke kepalanya 3 kali, lalu mengguyurkan air ke seluruh badannya, setelah itu mencuci kedua kakinya.”

Dari keterangan di atas, mandi dilaksanakan sebagai berikut:
a. Mencuci kedua tangan sebelum dimasukkan ke dalam bejana
b. Mencuci kemaluan
c. Berwudlu
d. Mandi dengan jalan membasahi seluruh bagian tubuhnya sebanyak tiga kali dimulai dari kepala
e. Mencuci kedua kaki
Keseluruhannya harus dilakukan secara urut dari awal sampai akhir.

Selain itu juga disunnahkan melaksanakan aktivitas berikut:
a. Membaca basmalah
b. Mendahulukan kanan atas kiri
c. Menggosok seluruh tubuh
d. Menghilangkan kotoran selain najis

Penulis kitab Al-I’tina’ mengatakan bahwa niat mandi adalah wajib bagi orang yang wajib mandi. Apabila tidak niat maka tidak sah mandinya kecuali dalam beberapa masalah berikut :

1. perempuan yang karena sesuatu hal tidak dapat mandi sendiri setelah haidh. Lalu suaminya memandikannya agar sah ketika menyetubuhinya. Dalam kasus ini, suami harus niat, demikian menurut pendapat yang kuat.
2. perempuan kafir di mana suami yang memandikannya.
3. perempuan gila, demikian dalam salah satu pendapat yang benar. Wallahu a’lam.

MELEPASKAN IKATAN RAMBUT  KETIKA MANDI

Perempuan ketika mandi setelah haidh dan nifas dianjurkan melepaskan ikatan rambutnya dan menyisirnya dengan sisir atau jari-jari untuk memudahkan sampainya air ke pangkal rambut. Ini berdasar sabda Nabi Saw:

“Uraikanlah (rambut) kepalamu dan bersisirlah!”

Sebagian ulama berpendapat atas wajibnya melepas ikatan rambut berdasar hadits ini. Akan tetapi, jika perempuan itu memiliki ikatan rambut namun air bisa sampai pangkal rambut dan kulit tanpa harus melepaskannya, maka ia tidak harus melepaskannya.
Sedangkan untuk mandi janabat, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, bahwa perempuan tidak diwajibkan menguraikan rambutnya. Ummu Salamah berkata,

“Wahai Rasulullah, saya perempuan yang memiliki ikatan rambut panjang, apakah saya harus melepaskannya ketika mandi janabat?” Nabi Saw. menjawab,
“Tidak, cukup bagimu menyiramkan air sebanyak tiga kali ke kepalamu, kemudian kamu guyurkan air itu ke seluruh tubuh.”

Tatkala sampai suatu berita kepada Aisyah ra bahwa Abdullah bin Umar menyuruh para wanita untuk menguraikan rambut kepalanya ketika mandi, maka Aisyah berkata:

“Sungguh sangat mengherankan Ibnu Umar ini. Dia menyuruh para wanita menguraikan rambutnya ketika mereka mandi, mengapa dia tidak menyuruh menggundul kepalanya sekalian? Saya pernah mandi bersama Rasulullah saw dari satu bejana dan saya tidak melebihkan siraman ke atas kepala saya” (riwayat Muslim).

Hanya saja jika air tidak sampai ke pangkal rambut kecuali dengan melepaskan ikatan rambut, maka ia harus melepaskannya, karena sampainya air ke rambut dan kulit adalah wajib. Wallahu a’lam.

MENGUSAP BEKAS DARAH DENGAN WEWANGIAN

Untuk menghilangkan kotoran bekas darah haidh dan nifas, serta untuk menghilangkan baunya, dianjurkan wanita muslimah mengusap bekas darahnya dengan wewangian. Ini berdasar hadits Ummu Athiyah r.a.,

“Kami telah mendapatkan keringanan ketika suci, bila salah seorang di antara kami mandi usai haidh untuk memakai sedikit minyak wangi..”

Aisyah r.a. berkata,
“Seorang perempuan bertanya kepada Nabi Saw. tentang mandi setelah haidh. Kemudian beliau memerintahkan bagaimana ia harus mandi. Sabdanya, ‘Ambillah secarik kapas lalu teteskan misk (minyak kasturi) kemudian bersihkan dengannya!’ Perempuan itu bertanya, ‘Bagaimana saya membersihkannya?’ Nabi menjawab, ‘Bersihkan dengannya!’ Perempuan itu bertanya, ‘Bagaimana?’ Beliau menjawab, ‘Subhanallah, bersihkanlah!’  Maka saya tarik perempuan itu untuk mendekat dan saya katakan, ‘Usap dengan kapas ini bekas darahmu!’”

Hadits di atas menunjukkan tuntunan agar kaum wanita muslimah mengusap bekas darah haidh atau nifas dengan kain atau kapas yang diberi pewangi atau parfum, yang di zaman Nabi wujudnya adalah minyak kasturi. Para ulama berkata,

“Hadits di atas menunjukkan dianjurkannya memakai wewangian bagi perempuan yang mandi setelah haidh dan nifas di organ tubuh yang terkena darah.”

Hanya mereka berbeda pendapat tentang waktu pemakaiannya.
Sebagian dari mereka berpendapat setelah mandi. Yang lain berpendapat sebelumnya. Dianjurkan pula untuk memakai wangi-wangian pada kemaluannya dengan meletakkan sepotong wool dan dimasukkan ke kemaluan setelah mandi.

DIANJURKAN MENGGOSOK BADAN

Tatkala mandi, dianjurkan untuk menggosok badan agar bisa membersihkan kotoran. Dalam suatu riwayat Nabi saw bersabda:

“Hendaklah salah seorang di antara kalian mengambil air dan daun bidara kemudian bersuci dengannya sebaik mungkin. Kemudian menyiramkan air ke kepalanya dan menggosoknya dengan kuat sehingga sampai ke kulit kepalanya., lalu menyiramkan ke seluruh tubuhnya kemudian mengambil sepotong kain berparfum (firshah mumassakh) lalu menggunakannya untuk bersuci”.

Dalam riwayat lain Nabi saw bersabda:

“Hendaklah salah satu dari kalian mengambil air dan daun bidara lalu bersihkan dengan sebersih-bersihnya, lalu tuangkan air di atas kepalanya dan gosok-gosokkan dengan gosokan yang keras sampai terasa di kulit kepala lalu tuangkanlah air.”

Hadits ini menunjukkan dianjurkannya menggosok-gosok badan ketika seorang perempuan bersuci.

Wallahu a’lam.

AIR WUDHU

Ustadz Menjawab
Senin, 31 Oktober 2016
Ustadzah Rochma Yulikha

Assalamualaikum ustadz/ah.Minta petunjuk ya…sah tidak sebenarnya jikalau kita berwudhu menggunakan air di bak mandi besar atau kolam,  kita ambil menggunakan ember lalu di
tuang ke ember yg bisa mengalirkan air untuk memudahkan berwudhu(pancuran) ? Mohon penjelasan… 🅰3⃣8⃣

Jawaban
———-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Boleh karena airnya punya standar yakni lebih 2 hasta. Meskipun kita ambil dari ciduk. Karena sumbernya dari kolam yg standar tadi.

Air Muthlaq

Air muthlaq ini biasa disebut pula air thohur (suci dan mensucikan). Maksudnya, air muthlaq adalah air yang tetap seperti kondisi asalnya. Air ini adalah setiap air yang keluar dari dalam bumi maupun turun dari langit. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

“Dan Kami turunkan dari langit air yang suci.” (QS. Al Furqon: 48)

Yang juga termasuk air muthlaq adalah air sungai, air salju, embun, dan air sumur kecuali jika air-air tersebut berubah karena begitu lama dibiarkan atau karena bercampur dengan benda yang suci sehingga air tersebut tidak disebut lagi air muthlaq.

Begitu pula yang termasuk air muthlaq adalah air laut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanyakan mengenai air laut, beliau pun menjawab,

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Air laut tersebut thohur (suci lagi mensucikan), bahkan bangkainya pun halal.” [1]

Air-air inilah yang boleh digunakan untuk berwudhu dan mandi tanpa ada perselisihan pendapat antara para ulama.

Bagaimana jika air muthlaq tercampur benda lain yang suci?

Di sini ada dua rincian, yaitu:

1. Jika air tersebut tercampur dengan benda suci dan jumlahnya sedikit, sehingga air tersebut tidak berubah apa-apa dan masih tetap disebut air (air muthlaq), maka ia boleh digunakan untuk berwudhu. Misalnya, air dalam bak yang berukuran 300 liter kemasukan sabun yang hanya seukuran 2 mm, maka tentu saja air tersebut tidak berubah dan boleh digunakan untuk berwudhu.

2. Jika air tersebut tercampur dengan benda suci sehingga air tersebut tidak lagi disebut air (air muthlaq), namun ada “embel-embel” (seperti jika tercampur sabun, disebut air sabun atau tercampur teh, disebut air teh), maka air seperti ini tidak disebut dengan air muthlaq sehingga tidak boleh digunakan untuk bersuci (berwudhu atau mandi).

Wallahu a’lam.