Belajar Berhikmah Agar Meruah Berkah

© Mengambil hikmah dari setiap episode yang hadir dalam kehidupan kita merupakan keniscyaan. Lantaran tak sia-sia ketika Allah menetapkan keputusan atas apa saja yang terjadi tanpa terlewat sedikit pun. Semua akan bermakna bila kita bisa mengerti maksud setiap peristiwa.

▪Sejarah pun banyak mengajarkan pada kita tentang banyak hal. Dan dari kisah sejarah kita belajar untuk memperbaiki diri. Namun sayang tak banyak orang yang mampu mengambil pelajaran.

® Ada nilai-nilai tersirat yang ingin disampaikan oleh sejarah. Namun, mereka kebanyakan menganggap bahwa apa yang terjadi hanya menjadi sejarah yang dijadikan monumen kebanggaan.

© Bagi siapa yang di dalam hatinya bersemayam segenggam iman niscaya hikmah meruah akan dirasakan. Banyak pelajaran yang bisa diambil untuk melangkah ke depan. Menapaki kehidupan yang kian hari terasa kian menyesakkan.

▪Karut marutnya dunia membuat kita harus bersiap dengan mental pejuang. Pengorbanan tak sedikit yang harus kita persembahkan untuk sebuh kemuliaan karena itulah sunatullah jika ingin berjumpa dengan Allah swt.

® Hikmah kebaikan yang tiada berkesudahan kala ujian menerpa kehidupan. Semua baik adanya bagi orang yang mengimani takdir. Justru bagi orang yang beriman ujian itu merupakan harta kekayaan yang tiada bernilai. Rasulullah pun mengingatkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi yang isinya,

”Sesungguhnya bagi setiap umat ada ujian dan ujian bagi umatku adalah harta kekayaan.”

© Tak pernah mampu kita menolak ujian bila Allah ingin hadirkan untuk kita. Kadang kita pernah berpikir panjang bahwa ada hikmah di balik setiap ujian. Inilah saat yang tepat Allah sedang mendidik kita. Allah tak hanya akan beri kekuatan namun Allah beri kesulitan agar kita belajar bagaimana menyelesaikannya.

▪ Kala kita lemah saat itulah Allah mendidik kita menjadi kuat dan tangguh. Banyak pelajaran kala kesulitan menerpa. Bila kesulitan demi kesulitan hadir silih berganti, Allah beri kesempatan pada kita untuk berdoa tiada henti. Bila kesulitan datang beruntun sesungguhnya Allah beri kesempatan bagi kita agar senantiasa doa itu terlantun. Dan bila kesulitan tak mampu segera terselesaikan, saatnya kita menyadari bahwa hakikat kehidupan adalah perjuangan dan butuh pengorbanan.

® Allah SWT pasti akan menciptakan kemudahan setelah kesulitan. Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya pasti ada keadaan lain yang Allah berikan setelah kesulitan? Allah telah memberi janji dengan firman-Nya itu, dibalik kesulitan, pasti ada jalan keluar yang begitu dekat. Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An-Nasyr: 5)

Ayat ini pun diulang setelah itu,

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An-Nasyr: 6)

Wallahu A’lam

Tak Pernah Lelah Belajar Rela​

Sungguh, bersikap rela tidaklah mudah.

Lantaran banyak harapan yang tak selaras dengan kenyataan. Apa yang ditetapkan tak seiring dengan apa yang manusia rencanakan.

Saat seperti inilah menjadi ujian berat bagi manusia.

Terkadang kita dirudung kecewa, berduka, dan berderailah air mata.

Semua itu terjadi lantaran tak pernah tahu apa yang menjadi rahasia di hari kemudiannya.

Wajar, begitulah sisi manusiawi kita.

Namun kala sempat terlintas kecewa dan kesedihan segeralah untuk berlari menuju Allah. Menunjukkan kerelaan atas apa yang ditakdirkan justru berbuah pada semakin dekatnya hamba pada Rabbnya.

Lisan dipenuhi dzikir. Ibadah terus dilakukan untuk merebut kasih sayang Nya. Akhlak pun semakin diperbaiki.

Seperti itulah pembuktian dari kerelaan atas segala ketetapan.

Bukan sebaliknya.
Bibir mengeluh penuh kekesalan, mulut berucap tentang kekecewaan. Hati pun marah karena merasakan derita. Serta sikap yang semakin menjauh dari Rabbnya.

Bahkan ada yang sampai menuduh bahwa Allah tidak adil. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

Bila diri kita mengaku beriman maka, beginilah sejatinya rela.

Suatu Ibnu Abbas ra berkata,
​”Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam menemui sahabat-sahabat Anshar, beliau bersabda,”Apakah kalian orang-orang mukmin?”​

​Mereka semua terdiam, lantas Umar bin Khatab menjawab, Ya Wahai Rasulullah.” Beliau bersabda lagi,”Apakah tanda keimanan kalian?”​

​Mereka berkata, “Kami bersyukur menghadapi kelapangan, bersabar menghadapi bencana, dan rela dengan ketentuan Allah.”​

​Nabi saw bersabda lagi, “Orang-orang mukmin yang benar, demi Tuhan Ka’bah.”​

Masya Allah…
Laa Quwwata illa billah…

Carilah Guru Agar Hidup Semakin Mulia​

❣Carilah guru bukan hanya sekedar untuk mencari ilmu.
Namun ada banyak hikmah yang kita dapatkan bila ada mata yang saling bertatap.
Ada lingkaran yang membuat kita saling menghadap.
Ada nasihat yang membuat langkah semakin menderap.
Ada sentuhan yang membuat iman semakin menggenap.

🍄 Bila hanya sekedar ilmu kita bisa dapatkan dari kitab dan buku.
Bukan itu yang kita cari.
Persaksian mereka atas kebaikan yang kita lakukan mampu membantu diri kita terlepas dari neraka yang menyiksa.

❣Guru itu selayaknya sahabat dan sahabat seperjuangan pun selayaknya guru. Tempat berbagi cerita dan melepas rindu. Tempat mengatur langkah dan bersatu padu.

🍄Begitulah kita menjalani kehidupan. Sehebat apa pun adanya kita tak mungkin melangkah sendiri dalam menegakkan peradaban.

💎 Rasulullah dan para sahabat pun mengajarkan kepada kita pentingnya keberadaan guru dan sahabat seperjuangan. Ibnul Jauzi pun berpetuah,

​”Jika kalian tidak menemukanku nanti di surga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang aku: “Wahai Rabb kami… Hamba-Mu si fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau… Maka masukkanlah ia bersama kami di surga-Mu.”​

❣Guru itu sahabat kala kita mendapat kesulitan. Begitu sahabat juga guru dalam perjalanan.
Guru lah yang menemani dengan penuh kesabaran.

💎Bergetar hati ini ketika membaca sebuah riwayat yang berisikan pesan Ibnul Jauzi kepada sahabat-sahabatnya. Pesan yang sangat indah yang ia sampaikan dengan air mata yang berlinang di pipinya.

🍄Semua ini tentang indahnya persahabatan dan ikatan ukhuwah yang mampu membebaskan sahabatnya dari siksa yang begitu pedih, siksa neraka yang menyakitkan.

💎Bacalah sebuah hadits yang menjadi dasar dari perkataan Ibnul Jauzi di atas. Hadits tentang penghuni surga yang tidak menemukan sahabat mereka di surga.

​”Yaa Rabb… kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia sholat bersama kami, puasa bersama kami, dan berjuang bersama kami.”​

Maka Allah berfirman:
​”Pergilah kamu ke neraka, lalu keluarkanlah sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarah.” (HR. Ibnul Mubarak)​

​💧Diri ini hanya bisa terdiam dan merenungi keagungan Rabb yang Maha Esa.​

​Termenung diri ini membayangkan siapa saja orang yang dijadikan sebagai kawan dalam perjalanan. Dan berharap kita saling bersaksi atas perjuangan ini.​

Menyikapi Peristiwa Kehidupan

©Adalah kehidupan bila nampak berjuta warna di depan mata. Pelangi tak kan menjadi indah bila hanya ada satu warna. Paduan berbagai warna menambah indah di pandangan kita. Kadang hidup kita merah, kadang biru, kadang pula hitam. Kita harus bisa menikmatinya.

▫Tabiat manusia akan siap bila menerima anugerah dibanding dengan musibah. Tapi agama mengajarkan kita bahwa dalam keadaan apa pun harus tetap siap karena kita akan menjalani setiap takdir yang akan ada.

▪Muhammad teladan bagi kita. Ujian yang ia terima dari kaum kafir Qurays kala menjalankan perintah Allah swt. Cacian dan makian juga lemparan kotoran binatang pun diterima olehnya. Namun Rasul saw tak pernah mundur sedikit pun untuk tetap menjalankan amanah yang harus dijalankannya.

©Bagi kita mendengar kata “ujian” yang terbayang di depan kita yang ada hanya kesulitan, kesedihan, kegagalan, pun kenestapaan. Karena ujian dipandang sebagai masalah yang sulit, berat, susah, membosankan, repot, pasti menyelesaikannya harus dengan dahi berkerut. Persepsi yang seperti itu sudah mendarah daging sehingga sulit untuk dihilangkan. 

▪Padahal, ujian itu tak hanya yang mampu membuat kita sedih dan berderai air mata. Namun kekayaan yang membuat mata silau dan segala kenyamanan sebenarnya juga merupakan ujian. Mungkin kita akan lebih teruji bila di hadapan kita terbentang kesulitan, namun akan menjadi semakin terjerumus bila kita diberi kemudahan.

▫Hidup ini ibarat fatamorgana. Bila kita berjalan di padang yang tandus kala itu kita sedang kehausan nampaklah dari jauh sumber mata air yang segar namun setelah kita mendatanginya hanya tanah kering lantaran terik matahari yang menyengat.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ’Imran: 14)

▪Sejenak kita ingat kala bahtera mengarungi lautan badai, ombak senantiasa akan datang tanpa kita tahu. Sebagai nahkoda harus siaga dengan setiap kemungkinan yang mendatanginya. Tak ubahnya dengan pohon, semakin tinggi semakin besar anginnya. Akar yang kokoh menghunjam ke tanah yang akan membuat pohon tetap tegak berdiri meski angin besar menerpanya.

▪Begitu juga seperti layang-layang ia akan terbang tinggi ke udara. Tarik ulur dari tali atau benang yang membuat layang-layang itu semakin terbang tinggi. Nampaklah pemandangan yang indah kala layang-layang itu tak goyah lantaran tiupan angin yang tak kencang. Namun bila tiba-tiba angin kencang datang tak ayal lagi bila layang-layang akan terombang-ambing di udara bahkan bila putus talinya layang-layang akan terhempas begitu saja tanpa jelas dimana ia akan terhempas.

▪Namun kehidupan manusia tak begitu saja bisa disamakan dengan terbangnya layang-layang. Meski kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga dari layang-layang. Karunia akal tak lain seyogyanya kita optimalkan sedemikian rupa sehingga kita mampu membaca fenomena yang kita lihat, dengar, dan rasa.

©Tak pernah sang Pencipta alam semesta ini memberikan suatu ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Allah sangat mengerti kadar kemampuan seorang hamba. Badai pun pasti akan berlalu dari kehidupan kita. Roda pun akan berputar sesuai dengan kodratnya. Tak kan ada duka derita yang berkepanjangan menghampiri sang hamba. Beginilah tabiat ujian dan kehidupan manusia.

▪Dan kita hanya bisa meminta pertolongan kepada Allah swt.

Belajar Tegar Dari Pendahulu Kita

©Adalah teguh ketika masalah mengeruh itulah pribadi yang utuh dari para pengusung kebenaran.

©Adalah tegar ketika masalah terhampar itulah sikap para hamba nan mulia.

▪Tiada sedikit keluh meski diri berpeluh dan tiada menyesal susah lantaran berjumbuh dengan masalah.

© Iman itu sebagai penanda sejauh mana kita senantiasa menjadi hamba yang ridha atas segala yang Allah hadirkan.

▪Kadang lelah menggelayut rasa di jiwa, namun tak jua langkah itu terjeda. Kadangpun sakit dirasa namun selalu ada sabar dan syukur kala merasainya.

© Imam Bukhari mengingatkan kita semua bahwa, “Keteguhan orang-orang yang shalih tak lain buah dari keyakinan yang kuat, yang kemudian melahirkan inspirasi yang jernih dalam memandang berbagai masalah. Mereka tak memandang problematika hidup sebagai beban besar yang menggelayut dan menahan gerak langkah.”

Masya Allah
Allahu Akbar…

▪Melihat masalah bukan menjadi penyebab urungnya karunia namun salah satu musabab Allah hadirkan karunia yang lebih besar dan tentunya yang terbaik bagi hamba-Nya.

© Begitulah mereka senantiasa menjadi hamba yang ridha karena menyadari bahwa segalanya tak lepas dari campur tangan kehendak Sang Maha Kuasa.

▪Adakah kita setegar orang-orang shalih yang senantiasa mampu berhikmah dari segala yang hadir di depan mata kita?

▪Kita ini perlu banyak memahami ilmu yang Allah tunjukkan di alam semesta ini. Dan semuanya kan jadi pelajaran yang berharga. Belumlah dikatakan beriman bila kadang ada rasa penolakan terhadap apa saja yang Allah tetapkan.

© Para salafusshalih selalu mengajarkan kepada kita bagaimana senantiasa menggenapkan iman.
Tujuan hidup bukan apa yang bisa kita raih di dunia ini namun kemuliaan di akhiratlah yang menjadi tujuan utama dari perjalanan ini.

© Para salafusshalih selalu menyandarkan semua kehidupannya hanya kepada Allah. Hal itulah yang selalu membuat mereka memaknai sabar dan syukur dengan tepat. Karena iman itu ada dua sisi yakni sabar dan syukur. Sehingga tak menjadi berat serta tetap semangat meski ada aral yang melintas. Tak ada kata putus asa dalam menjalani hidup.

▪Kehidupan yang kita jalani ini tak lain milik Allah. Kita sebagai hamba wajiblah menaati segala perintah-Nya. Kadang memang terasa berat namun, bila kita melakukan karena cinta kepada-Nya pasti kemudahan kan kita dapatkan. Rencana Allah memang tak selalu indah menurut pandangan kita. Juga bukan yang terbagus. Rencana Allah itu selalu yang terbaik.

© Sayangnya kita sebagai manusia tak mampu melihat misteri yang ada di depan. Namun keyakinan dan berprasangka baik pada setiap ketetapan Allah itu yang kita wajib lakukan.

© Maka tugas kita menapaktilasi jejak keshalihan yang mereka ajarkan. Sehingga kita mampu meneladani langkah-langkah mereka.

Merenda Asa Meraih Cita, Menggapai Mulia

Oleh: Rochma Yulika

▣● Imam Ibnu Qayyim menyebutkan syarat keberhasilan meraih cita-cita adalah memiliki  himmah ‘aaliyah atau  (
‘uluwwul himmah (semangat yang tinggi) dan Niyyah Shohihah (niat yang baik).

▣● Membangun semangat pada diri tak bisa lepas dari tujuan ukhrowi. Ada memang diantara manusia yang memiliki semangat yang tinggi untuk mengejar nilai duniawi. Orang-orang seperti ini lupa bahwa hidup akan dibatasi oleh kematian. Kerja kerasnya tak bisa jadi bekal untuk kehidupan yang kekal. Orang yang punya semangat tinggi sementara niat tak baik banyak kita lihat. Mereka bukan orang yang punya iman. Mereka meletakkan aqidahnya untuk mengejar apa yang diinginkan hawa nafsunya.

▣● Dan kita….
Harus senantiasa melandasi semangat dengan niat yang baik semua karena Allah. Niat lillahita’ala yang menjadikan setiap usaha yang kita lakukan berbuah pahala.

▣● Bagaimana kita sebagai hamba beriman agar semangat selalu menggelora dan niat senantiasa di koridor-Nya?

▣● Kita punya Al-Quran yang senantiasa bisa kita baca dan tadaburi.

▣ Banyak ilmu dan nasihat yang menentramkan hati.
▣ Banyak pelajaran yang membuat kita semakin meyakini takdir Ilahi.
▣ Dengan Al-Quran hati semakin terhidupkan, dengan semakin dekat interaksi kita semakin banyak kemudahan. Iman semakin tergenapkan, ibadah semakin bisa diperbaiki, hubungan dengan Allah pun semakin dekat.

▣● Lantas apalagi yang mampu membangkitkan semangat kita? Sunnah Rasulullah saw dan  kisahnya yang menjeyarah menjadikan kita banyak belajar. Menapaktilasi perjalanannya beserta para sahabat dalam memperjuangkan diin yang mulia membuat kita semakin merasa tak berarti apa-apa bila hanya menjadi pribadi yang biasa.

▣● Kemudian kita perlu bercermin dari salafusshalih. Mereka menjaga taat, mereka memperjuangkan syariat, mereka berkorban untuk akhirat. Kisah semangat mereka bisa menjadi energi positif yang mampu menggerakkan diri ini bisa bergerak dan melaju di jalan Allah. Mereka yang melewati malam dengan ibadah dan taqarub ilallah, dan siang harinya bekerja tanpa kenal lelah.

▣● Mereka seperti rahib di malam hari dan penunggang kuda di siang hari. Ibarat ini sungguh tepat untuk kiprah para pendahulu itu. Sakit bagi mereka tak dirasakan, lelah pun tak dihiraukan yang ada hanya kecintaan kepada Allah kan berbalas dengan kemuliaan yang tiada berbatas.

▣● Mari senantiasa membersihkan hati agar lentara mampu menerangi dan diri bisa belajar dari apa yang kita baca dan kita lihat dari sejarah hidup manusia dan mampu berhikmah atas peristiwa alam ini.

▣● Tiada daya dan kekuatan bila kita tak bersandar pada kuasa-Nya.

Belajarlah dari Kegagalan

_Dengan keburukanlah kita akan tahu tentang kebaikan._
_Dengan kesesatanlah kita melihat nilai kebenaran._
_Dengan sakitlah kita bisa mengerti tentang kesehatan._

_Dengan ujian kita akan bisa merasakan kenikmatan._
_Dengan keruntuhanlah kita bisa membangun sebuah kejayaan._

_Dengan kegagalan kita bisa belajar meraih kesuksesan._

_Dan lembahlah yang menjadikan gunung nampak tinggi menjulang_

Banyak orang mundur teratur bila harus bertemu dengan kegagalan.

Mungkin akan berteriak, “Apa sebenarnya potensiku? Melakukan ini gagal, melakukan itu gagal.”

Kalimat ini mungkin akan terlontar dari siapa pun yang nyaris putus asa dalam menjalani hidupnya.
Setelah energi mereka telah habis. Seolah mereka tak percaya dengan jalan hidup yang telah ditakdirkan.

Kadang mereka enggan untuk mengembalikan semua urusan kepada yang memiliki kehidupan.

*Janganlah berputus asa!*

_Selama nafas masih ada kesempatan masih bisa diraih. Selama darah masih mengalir dalam raga kita dan tubuh ini masih mampu untuk bergerak, kesuksesan masih bisa kita dapatkan._

Memang, terkadang untuk mengerti dan memahami diri kita butuh waktu.
Apa sebenarnya potensiku? Apa pekerjaan yang bisa mengantarkan pada keberhasilanku?

Bila tak bertemu kegagalan tak tak kan pernah tahu jalan-jalan menuju kesuksesan.

      ☆☆☆☆☆

Kisah ini bagi kita tak asing.

Seorang anak yatim piatu yang sekolah di sebuah madrasah. Dia sebenarnya anak yang rajin tapi sering tertinggal pelajaran dengan teman-temannya.

Dia merasa malu dan minder dengan teman-temannya. Rasa putus asa menyelimuti dirinya.

Kemudian dia meminta ijin dengan gurunya untuk keluar dari madrasah tersebut.
Dalam perjalanannya meninggalkan madrasahnya, hujan tak kunjung reda. Dia mencari tempat berteduh.

Ditemukanlah sebuah gua yang cukup lapang untuk tempat istirahat sambil menunggu hujan reda.

Ketika di dalam gua pandangannya tertuju pada tetesan air hujan pada sebngkah batu. Tetesan demi tetesan itu ternyata mampu membuat batu itu berlubang.

Kemudian dia merenung. Batu yang keras saja bisa berlubang apalagi otak manusia. Setelah perenungannya dan semangat belajarnya pulih kembali dia akhirnya kembali ke madrasah itu.

Sekembalinya ke madrasah itu dia bersemangat belajar meski sering tertinggal. Namun semangat pantang menyerah dan tak putus asa menjadikan dia seorang anak yang cerdas.
Bahkan karya-karyanya yang cukup monumental bisa kita jadikan bacaan untuk menambah wawasan kita.

Inilah *Ibnu Hajar Asqalany.* Yang kisahnya memotivasi kita bahwa dalam setiap diri pasti memiliki potensi.

Jangan merasa lelah dan pantang menyerah.

Begitu pula laki-laki penemu hukum kekekalan energi ini memiliki kisah yang cukup unik.
Siapa yang tak kenal *Einstein*. Pastilah kita semua mengenalnya.

Dia enggan sekolah sejak kecil. Baginya bangku sekolah itu membosankan. Banyak hal yang akan mengganggu kesukaannya seperti banyak membaca dan bermain biola. Aturan yang sangat kaku di sekolah membuatnya selah bangku sekolah itu seperti penjara yang mengusik kebebasannya.

Sehingga label yang sejak kecil menempel pada Albert Einstein adalah “tidak terlalu pintar.” Meski demikian tak membuat dia merubah dari kebiasaannya.

Ketika masa remajanya pun secara akademis termasuk anak yang gagal. Dia tidak menyukai guru-gurunya kala itu. Ketika harus mengenyam pendidikan lebih tinggi, Einstein pernah mengalami kegagalan. Namun kegagalan tak membuatnya surut.

Dia tetap berusaha. Hingga dia sekolah di jenjang yang lebih tinggi. Waktu itu prestasinya mulai nampak. Dia pun lulus dengan gemilang.

Sayangnya cita-cita sebagai guru kandas. Dia bekerja di tempat pencatat penemuan-penemuan baru. Dia tidak kecewa justru dengan hal-hal yang baru membuat dia berpikir, mengkaji, serta menemukan sesuatu yang baru. Hasil kajiannya itulah dia menemukan rumus Relativitas Khusus.

Luar biasa. Banyak tokoh yang kita kenal, mereka tak melalui perjalanan hidupnya dengan mulus saja dan tanpa rintangan apa pun.

Mereka pernah gagal. Tak hanya satu kegagalan yang mereka lalui. Namun dengan kegagalan itu ia mampu menemukan kesuksesan. Dengan kegagalan itu ia mampu menemukan potensi dirinya untuk mampu lebih berkembang.

_*Kegagalan merupakan pengalaman yang paling berharga untuk sebuah keberhasilan.*_

Oleh: Rochma Yulika

Bekal Apa yang Kita Bawa Untuk Masuk Surga?

Sudahkah kita mulai menakar diri, seberapa bekal yang sudah kita bawa untuk perjumpaan nanti.
Bersegera kita menyadari bahwa hidup ini tak akan abadi.

Mungkin saja esok kita tiada atau lusa sudah tak bernyawa.
Namun diri masih saja terlena oleh kesia-siaan belaka.

Banyak canda dan tawa untuk mengisi hari-hari kita.
Banyak bertopang dagu dan membawa angan yang tak menentu.
Terkadang merenda mimpi tanpa berusaha merealisasi.
Semua kosong selayaknya rumah tak berpenghuni.

Ada dua kehidupan yang akan kita lewati.
Dunia fana dan akhirat nan abadi.
Dua kehidupan yang tiada berpadanan.
Namun semuanya butuh bekalan agar tak dirudung kesulitan.

Perjalanan di dunia tak lain ketika manusia menjalani kehidupan saat nyawa masih di kandung badan.
Namun manusia juga harus bersiap menuju kehidupan yakni berangkat dari dunia menuju hidup yang tak berkesudahan.

Seperti itulah tabiat kehidupan manusia.

*Dalam tafsir Ar Razi*, 5/68 disebutkan lima perbandingan antara bekal di dunia dan bekal dari dunia.

1. Perbekalan kita dalam perjalanan di dunia, akan menyelamatkan kita dari penderitaan yang belum tentu terjadi.

Tetapi perbekalan kita untuk perjalanan dari dunia, akan menyelamatkan kita dari penderitaan yang pasti terjadi.

2. Perbekalan kita dalam perjalanan di dunia, setidaknya akan menyelamatkan kita dari kesulitan yang sifatnya sementara.

Tetapi perbekalan untuk perjalanan dari dunia, akan menyelamatkan kita dari kesulitan yang tiada habisnya.

3. Perbekalan dalam perjalanan di dunia akan mengantarkan kita pada kenikmatan dan pada saat yang sama mungkin saja kita akan mengalami rasa sakit, keletihan dan kepayahan.

Sementara perbekalan untuk perjalanan dari dunia akan membuat kita terlepas dari marabahaya apapun dan terlindung dari kebinasaan yang sia-sia.

4. Perbekalan dalam perjalanan di dunia memiliki karakter bahwa kita akan melepaskan dan meninggalkan sesuatu dalam perjalanan.

Sementara perbekalan dalam perjalanan dari dunia, memiliki karakter kita akan lebih banyak menerima lebih dekat dengan tujuan.

5. Perbekalan dalam perjalanan di dunia akan mengantarkan kita pada kepuasan syahwat dan hawa nafsu.

Sementara perbekalan dari dunia akan semakin membawa kita pada kesucian dan kemuliaan.

Wallahu musta’an.

Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

Tanpa Iman

Tanpa iman hidup kita tak kan berarti. Jauh dari cahaya Ilahi.
Hati kelam bagai malam yang sunyi. Dan diri tak kenal budi pekerti.

Tanpa iman hati bagai ruang kosong tak berpenghuni.
Perangai jauh dari terpuji.
Akal akan sulit terkendali.
Pribadi pun jauh dari mawas diri.

Dengan iman kesulitan tiada memberatkan.
Keterjatuhan tak akan memperburuk keadaan.
Kelelahan tak menyurutkan
Semua dinikmati sebagai tempaan.

Iman kita seperti laut kadang pasang kadang pula surut.
Menjaga keimanan menjadi kewajiban.
Dengan amaliyah yang istiqamah. Dengan segala ibadah yang tak pernah lelah.

Mari menjaga iman kita agar tak sengsara di dunia.
Mari menjaga iman kita agar tak menderita di akhirat sana.

Imam Hasan Al Banna mengungkapkan:

_”Mereka mendengar seruan yang mengajak untuk beriman, maka mereka pun beriman. Kita memohon kepada Allah agar membuat diri kita mencintai iman ini, menghiasi hati kita dengannya sebagaimana Allah pernah memberikan cinta itu kepada mereka dan menghiasi hati mereka dengannya. Iman adalah Bekal utama kita. (Ath-Thariq ila Ar-Rabbaniyyah, Majdi Al Hilali, hlm 46-47)_

Iman itu perbuatan. Saatnya kita merealisasikan keimanan kita dengan perjuangan hingga titik darah terakhir kita.

Bergerak dan segera tinggalkan kebekuan. Lantaran iman itu energi yang mampu memelesatkan kita.

Selayaknya anak panah yang tak pernah lepas dari busurnya maka sampai kapan anak panah itu hingga ke sasaran.

Jika kita tak berusaha untuk bergerak dan berusaha keras untuk ambil bagian dari perjuangan ini maka dimana keberadaan iman kita.

Tidaklah harapan akan sampai pada yang dicitakan bila kita tak segera bergegas untuk meraihnya.

Seperti halnya matahari yang enggan beranjak dari ufuk tak akan ada kebermanfaatan yang ia tebar.
*Kata kuncinya adalah bergerak atau tergantikan.*

Mari kita segera tinggalkan belenggu-belenggu  yang bisa menghentikan langkah kita. Tatap ke depan dan segera lah melaju.

Abaikan hal-hal yang sia-sia dan merugikan diri kita dan berusaha menghentikan derap langkah kita.

Maju dan terus melaju hingga perjumpaan dengan Sang Penentu.

Jadikan iman sebagai kendaraan menuju haribaan Tuhan. Niscaya jiwa-jiwa kan terselamatkan.

Wallahu musta’an.

Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

Muamalah

Assalamualaikum ustadz/ah..mau tanya ttg tahlilan persatuan Rt yg diadakan setelah magrib dan selesai setelah waktu isya..sehingga isya nggak tepat waktu molor karena makan2 dulu. Gmana menyikapi hal ini bila tdk ikut persatuan kita dibilang tidak mau bergaul. Uasinan ini khusus bpk2 dan ada arisannya..sehingga klo malam jumat magrib dan isya gak ada yg sholat kemasjid?mhon pencerahannya..syukron
A34

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
 Penyelewengan dakwah yang harus dihindari:
– Fitnah Ilmu: dapat menyebabkan dikeluarnya hukum baru yang sama sekali tidak ada di al-qur’an dan al-Hadits.

– Furu’iyah dan ushul: selalu memperdebatkan masalah tersebut dari bentuk lahiriahnya tanpa melihat dan mengurus isi/pokok (inti). Karena sebelum menyuruh seseorang yang diseru dengan hal-hal yang bersifat furu’iyah (cabang), terlebih dahulu bersama mereka harus mengukuhkan dan menegakkan masalah ushul (pokok) atau dasar aqidah Islam dalam diri kita.

– Keras dan Keterlaluan: para da’i harus waspada untuk tidak terlalu keras dan sangat keterlaluan dalam membebankan dirinya dengan melakukan tugas-tugas taat dan ibadah yang diluar kemampuannya. Juru dakwah harus dapat membedakan antara tindakan yang tegas penuh kesungguhan, dengan keterlaluan serta membebani diri di luar kemampuan. Amal yang sedikit tetapi kontinu itu lebih baik dari pada amal yang banyak tetapi terputus dan terhenti di tengah jalan.

– Sikap terburu-buru dan Kelonggaran: Sikap terburu-buru berbahaya karena mengakibatkan tindakan tanpa perencanaan yang matang. Selanjutnya, hal ini akan mengakibatkan tidak tercapainya tujuan yang dicita-citakan, bahkan dapat merusak dan membahayakan harakah Islam.

– Antara Politik dan Pendidikan: Dalam dakwah tidak boleh memandang enteng peranan tarbiyah (pendidikan) pembentukan dan perlunya beriltizam dengan ajaran Islam dalam membentuk asas dan dasar yang teguh. Dalam dakwah juga tidak boleh terburu-buru mempergunakan cara dan uslub politik menurut syarat dan cara partai-partai politik karena dengan begitu kita akan mudah terpedaya dengan kuantitas anggota yang diambil dan dianggap menguntungkan tanpa mewujudkan iltizam tarbiyah.

– Antara Dakwah dan Pribadi Manusia: karena Juru dakwah adalah manusia yang kadang kala benar dan kadang kala salah serta kadangkala berbeda pendapat. Tetapi diharapkan para da’i dapat mengkondisikan diri. Sehingga perbedaan pendapat tidak menjadikan para da’i merasa paling benar dan menjadi ahli debat dengan mengatas namakan dakwah. Hal ini akan menghancurkan segala usaha kita disebabkan waktu yang terbuang percuma untuk perdebatan, perpecahan, dan usaha untuk membuat perdamaian yang terus saja berulang jika muncul masalah baru.

Di sekitar penyelewengan:
– Kontradiksi dan Kesulitan: Seorang da’i harus terampil dalam mengamati lingkungannya. Karena banyaknya kondisi yang kontradiksi di masyarakat kita. Yang mana adanya masyarakat dihadapkan pada kehidupan yang penuh kemaksiatan dan kehidupan yang Islami yang bebas dari kemaksiatan. Jika tidak ada yang memberi petunjuk dan bimbingan terhadap jalan fikiran dikhawatirkan masyarakat akan memilih kehidupan yang penuh kemaksiatan daripada kehidupan yang bebas dari kemaksiatan.

– Siapa yang bertanggung jawab bila penyelewengan terjadi? Jawabannya adalah jamaah. Karena seharusnya jamaah inilah yang mengarahkan, menunjukkan dan membimbing mereka berjalan di jalan dakwah sesuai dengan perjalan Rasulullah saw. Dan terus diterapkan sampai ajal tiba.

– Syumul dan Pandangan Jauh: Bekerja untuk Islam harus mempunyai pandangan yang syumul (menyeluruh) dan mendalam serta berpandangan jauh. Karena jalan dakwah ini butuh strategi yang sudah diperhitungkan sebelumnya resiko apa yang akan diambil. karena berdasarkan pengalaman, semangat yang meluap-luap bukanlah bukti kekuatan iman, malah menunjukkan kedangkalan jiwanya dan kurangnya kesiapan serta tidak bersabar menghadapi penderitaan. Ingatlah bahwa permasalahan dakwah ini menginginkan perubahan menuju tegaknya Daulah Islamiyah ‘Alamiyah (Negara Islam sejagat) dan untuk seluruh manusia. Maka diperlukan pandangan yang syumul, perhatian, dan perhitungan sewajarnya.

– Jalan yang benar: Untuk mencapai tujuan yang telah dicita-citakan, agar yang bathil itu diubah dan daulah yang haq ditegakkan, bagaimanapun harus dilakukan dengan jalan yang benar dan tepat yaitu, dengan menanam dasar aqidah secarah kokoh di dalam jiwa, mendidik da mempersiapkan generasi mukmin yang benar dan mampu mambangun suatu perubahan, membangun rumah tangga muslim yang menampilkan Islam di segenap kegiatan dan aspek hidupnya, bekerja dan berusaha sungguh-sungguh memenangkan pendapat umum, agar mereka memihak dakwah Islam.

– Merubah Realitas dan Menghapus Kemungkaran: hal ini memang merupakan tujuan dakwah. Tapi sekali lagi, para da’i harus memperhatikan bahwa merubah realitas dan menghapus kemungkaran bukanlah dilakukan dengan tindakan serta merta dan memerangi secara langsung atau memasuki medan pertentangan. Teladan yang diberikan oleh Rasulullah pada penduduk Mekah patut dijadikan contoh. Beliau tidak langsung memerangi penduduk Mekah yang menyembah berhala. Tetapi menunggu waktu yang tepat dan masa yang tepat untuk menghancurkan berhala-berhala tersebut.

– Kesabaran, Ketahanan dan penyampaian dakwah: Tiga unsur ini sangat penting di peringkat pertama dakwah yaitu sabar, tetap bertahan (istiqomah), dan menyampaikan dakwah dengan tekun.

– Jihad dan Menjual diri untuk Allah. Kesadaran inilah yang harus dimiliki seorang da’i untuk mensukseskan jalan dakwah ini.

Bagaimanapun, penyelewengan fikrah (pemikiran) lebih berbahaya dari pada penyelewengan harakiah (gerakan).

Tapi memang membangun kebaikan butuh perjuangan. Tidak mudah. Kita harus menyelami keadaan masyarakat. Menyesuaikan sebagai etika. Jika bisa diberi masukan lebih bagus.
Bole menyelesaikan acaranya terlebih dahulu lalu coba mengajak u sholat isya berjamaah, usahakan tdk jauh terlewat dari waktu adzan.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadzah Rochma Yulika