Mewaspadai Istidraj

© Nikmat dan musibah bagi orang beriman itu bisa menjadi karunia sekaligus ujian. Sesiapa yang beriman akan menyadari betul jalan-jalan yang telah disiapkan oleh Allah adalah yang terbaik.

▪Bisa jadi kita diberi ujian berupa kenikmatan yang melimpah. Karena kita mengerti bahwa ujian tak selalu berbentuk musibah.  Walau demikian sangat wajar untuk mengubah keadaan hati agar iman yang tertanam semakin kokoh bila berjumpa dengan kesulitan. Namun sering lalai bila ada karunia yang melimpah ruah dalam hidupnya.

® Bila kita ini pribadi yang hati-hati akan mewaspadai dengan hadirnya karunia yang sangat banyak. Kita harus lebih banyak menangisi dan mengevaluasi diri sembari mengingat betapa Allah telah sembunyikan aib kita. Seperti itulah pribadi yang selalu mawas karena kekhawatirannya akan tertipu dengan amal yang mungkin saja selayaknya buih di lautan.

▪Sungguh beruntunglah orang-orang yang bersabar menerima musibah dan memahami hakikat bahwa musibah itu pada dasarnya adalah sebuah proses untuk menghapuskan dosa dosanya.

© Berbeda halnya ketika ada hamba-hamba yang tiada menyadari tentang kesalahan dirinya. Bisa jadi orang yang enggan bermuhasabah akan dibutakan mata hatinya, disilaukan pengelihatannya, sehingga selalu merasa bahwa dirinya benar dan Allah pun ridha.

▪Orang-orang yang enggan mengoreksi diri inilah kadang dibiarkan oleh Allah dan akhirnya tertipu dengan apa yang telah diperbuat sementara semua kosong tak berisi. Dan nikmat yang dikaruniakan kepada mereka akan semakin membuat mereka jauh dan jauh dari cahaya kebenaran.

® Kita kadang melihat tentang nikmat yang di peroleh para pelaku maksiat. Nikmat yang  terus menerus diberikan tanpa musibah itu bukanlah rahmat dari Allah, bisa jadi itu tipu daya Allah. Bisa jadi itu istidraj, dimana Allah membiarkan hambanya memperoleh segala yang ia kehendaki sementara adzab yang nyata telah menanti di akhirat kelak.

▪Sungguh celaka orang yang tertipu. Ia larut dan terlena oleh nikmat dunia yang menjerumuskan.

“Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat.” (Terjemah hadits riwayat Muslim)

© Mudahlah menjadi pribadi yang mau mengevaluasi diri. Segera muhasabah tanpa menunggu datangnya musibah.

Ketika Istri Melahirkan, Bagaimana dengan Ari-Arinya?

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.. ustadz/ustadzah…saya mau nanya ketika istri melahirkan, bagaimana ajaran Islam dengan ari2 nya….dan saya minta doa nya semoga di beri kemudahan saat persalinan utk istri saya.. terimakasih sebelumnya ustadz/ustadzah
02

Jawaban
————–

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Terdapat hadis-hadis dari Aisyah, bahwa beliau mengatakan,

كان يأمر بدفن سبعة أشياء من الإنسان الشعر والظفر والدم والحيضة والسن والعلقة والمشيمة

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengubur tujuh hal potongan badan manusia; rambut, kuku, darah, haid, gigi, gumpalan darah, dan ari-ari.”

Hadis ini disebutkan dalam Kanzul Ummal no. 18320 dan As-Suyuthi dalam Al-Jami As-Shagir dari Al-Hakim, dari Aisyah.

Al-Munawi dalam Syarhnya, mengatakan,

وظاهر صنيع المصنف أن الحكيم خرجه بسنده كعادة المحدثين، وليس كذلك، بل قال: وعن عائشة، فساقه بدون سند كما رأيته في كتابه ” النوادر “، فلينظر

“Zhahir yang dilakukan penulis (As-Suyuthi) bahwa Al Hakim meriwayatkan hadis ini dengan sanadnya sebagaimana kebiasaan ahli hadis. Namun kenyataannya tidak demikian. Akan tetapi, beliau hanya mengatakan, “..dari Aisyah”, kemudian Al Hakim membawakannya tanpa sanad, sebagai ana  yang saya lihat dalam kitabnya An Nawadir. Silahkan dirujuk. (Faidhul Qadir, 5:198)

Karena itu para ulama menilai hadis ini sebagai hadis dhaif, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai dalil. (Silsilah Ahadits Dhaifah, 5:382)

Semakna dengan hadis ini adalah riwayat yang dibawakan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abdul Jabbar bin Wail dari bapaknya, beliau mengatakan,

أنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ بِدَفْنِ الشَّعْرِ وَالْأَظْفَارِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengubur rambut dan kuku.” (Syu’abul Iman, no. 6488).

Setelah membawakan hadis ini, Al Baihaqi memberikan komentar,

هَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ وَرُوِيَ مِنْ أَوْجُهٍ، كُلُّهَا ضَعِيفَةٌ

“Sanad hadis ini dhaif. Hadis yang semisal disebutkan dalam beberapa riwayat dan semuanya dhaif.”

Karena itulah, Imam Ahmad pernah mengatakan, “Boleh mengubur rambut dan kuku. Namun jika tidak dilakukan, kami berpendapat, tidak mengapa.” Keterangan beliau ini diriwayatkan oleh Al Khallal dalam At Tarajjul, Hal. 19.

Hanya saja, sebagian ulama menganjurkan agar ari-ari pasca melahirkan dikubur sebagai bentuk memuliakan Bani Adam. Karena bagian dari memuliakan manusia adalah mengubur bagian tubuh yang terlepas, salah satunya ari-ari. Disamping itu, tindakan semacam ini akan lebih menjaga kebersihan dan tidak mengganggu lingkungan.

As Suyuthi mengatakan, “Beliau menyuruh untuk mengubur rambut, kuku, darah, .. dan ari-ari, karena semua benda ini adalah bagian dari tubuh manusia, sehingga benda ini dimuliakan sebagaimana keseluruhan badan manusia dimuliakan.” (As-Syamail As-Syarifah, Hal. 271)

Wallahu a’lam.

Apa yang Membuat Kita Siap Menerima Ujian?

© Bila kita sadari setiap peristiwa hidup ini tak luput dari rencana-Nya. Bahkan sehelai daun yang jatuh tak lepas dari pandangan-Nya pula. Kadang suasana tak mudah kita ubah namun rasa yang muncul dalam menyikapi suasana bisa mudah kita ubah.

▪Keimanan yang sangat besar di dalam dada akan menjadi landasan hidup. Segala aral yang melintang tak mampu membuat kita terlarut dalam kesedihan dan penyesalan.

® Pasti ada hikmah di balik setiap musibah. Ada kemudahan bersama kesulitan. Karena dengan ujian itu kita akan tahu reputasi kita. Kita akan tahu kualitas kita. Kita akan tahu daya tahan dan imunitas kita. Kita akan tahu sportivitas dan optimisme kita. Dan dengan ujian itu sesungguhnya kita sedang merancang masa depan kita.

▪Mari kita bersama mulai melangkah dengan meyakini ujian itu pasti datang. Gelombangnya boleh jadi makin hari makin besar dan dahsyat sesuai dengan tingkat kiprah dan keimanan kita.

© Fitnah akan datang seiring dengan disiapkannya kenikmatan, bila tak di dunia insya Allah di surga kan bisa mendapatinya. Bila kita bisa mengarungi gelombang itu bukan berarti telah berhasil meraih kemenangan namun pastilah akan datang lagi cobaan.

▪Semuanya itu tak lain untuk meningkatkan derajat kita di mata Allah. Bila ujian-ujian itu telah terlampaui insya Allah akan sirna kepedihan hati berganti ketenangan dan kedamaian yang merupakan bagian dari perjalanan menuju surga-Nya.

® Bagi mereka yang dikuasai keraguan.

▪Jangan takut, hilangkan rasa ragu di dada kita, canggung di jiwamu. karena aku datang pada kita. Bagi mereka yang lagi semangat membangun kesuksesan. Teruskan, teruskan, genggam tanganmu acungkan ke atas ucapkan, “Allahu Akbar!!” Karena, Allah selalu bersama kita.

© Bagi mereka yang sudah mapan dalam hidup. Ingatlah perjalanan kita masih panjang, amal kita belum seberapa di banding para pendahulu kita, simpan keangkuhan kita. Teruskan investasi akhirat. Biarkan lelah itu capai mengejar kita, dan katakanlah dengan tegas

“Seandainya matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, maka aku akan terus di jalan-MU!!”

Jadikan Rasa Bersalah Sebagai Tonggak Perubahan

© Kita sering gelisah lantaran rasa bersalah. Kita sering gundah lantaran tak tau harus berbuat apa dari rasa bersalah. Kepekaan rasa dalam bersikap atau kepekaan hati atas rasa bersalah kadang butuh diasah. Banyak diantara kita yang sering merasa benar dibanding rasa bersalah.

▪Entahlah mungkin karena ego pribadi atau memang merasa dirinya sudah baik dibanding orang lain.

® Orang yang bisa merasakan kebersalahannya, mereka peka terhadap kebaikan. Ada dorongan yang kuat untuk berubah menjadi lebih baik. Berbeda dengan orang yang cenderung merasa benar. Dia akan mengalami stagnasi dalam akhlak lantara sudah merasa dirinya benar.

▪Orang-orang yang seperti itu akan sulit untuk berubah. Tak ada manusia satu pun yang lepas dari salah, kecuali Rasulullah Al-Ma’shum. Ini bukan sekedar alibi atau mau legalisasi diri bahwa kita, manusia tempat bersalah.

© Hal yang terpenting dari rasa bersalah adalah mampu mengubah kebiasaan yang kurang baik pada diri kita untuk senantiasa berproses ke arah yang lebih baik.
Peringatan itu bisa berupa nasihat dari sahabat, kerabat, atau siapa saja. Bisa juga teguran dari Allah melalui ayat yang kita baca.

▪Namun ada hal lain seperti didatangkan kesulitan bagi kita yang itu merupakan peringatan bagi manusia. Respon atas kesalahan diri berbeda-beda. Ada yang lambat ada yang cepat. Semua tergantung kepekaan rasa pada diri manusia. Juga keterkaitan diri pada nilai-nilai agama juga masalah keimanan yang membuat respon berbeda.

® Tidak mudah memang untuk menaklukkan rasa bersalah pada diri. Apalagi harus memberdayakan rasa bersalah menjadi energi positif dalam diri manusia. Bisa diibaratkan rasa bersalah itu seperti halnya sampah, namun kita tahu bahwa sampah itu jika diolah akan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang.

▪Jika kita telah menyadari kesalahan diri, bergegaslah untuk bangkit dan lakukanlah perubahan. Ambil pelajaran terbaik dari peristiwa yang terjadi.
Belajar dari pengalaman agar tentuntun langkah dan tak salah arah.
Jangan terperosok hingga kedua kalinya.

© Jika memang kita masih diberi kesempatan segera ambil dan lakukan perbaikan diri. Betapa Allah sangat sayang kepada hamba-Nya. Berulang kali berbuat salah masih diberi kesempatan untuk merubah diri dan memohon maaf.

▪Namun disayangkan bila kesempatan kita sia-siakan begitu saja. Kita tak peduli atas kesalahan kita, bahkan baginya kesalahan itu hal biasa. Tak ada sesal, tak ada tidak ada pilihan lain yang lebih baik, kecuali memulai saat ini dan di sini.

® Sungguh, hidup ini masih menyediakan berbagai hamparan peluang dan berlimpahnya kesempatan. Kalaulah kita pernah gagal, salah, atau terpuruk, itu hanya sebagian kecil dari bertaburnya jalan menuju kesuksesan.

▪Kuncinya ada pada diri kita. Mau berubah ataukah tidak. Mau lebih baik atau tidak. Surga dan neraka telah siap menanti kita.

Totalitas dalam Menjalankan Amanah


© Amanah adalah sebuah tanggung jawab yang diberikan kepada kita sebagai insan beriman.

▪Amanah itu artinya dipercaya. Kita dipercaya oleh Allah untuk menjalankan posisi kita sebagai khalifatullah fil ‘ard.

® Dalam surat Al-Anfal dikatakan: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal : 27)

▪Kita ini sebagai manusia beriman adalah manusia-manusia yang terpilih. Amanah itu tidak diminta atau diperebutkan tapi siapa yang memang menurut Allah dianggap pantas. Karena yang kurang layak pasti akan tereliminir.

© Maka tugas kira harus terus memantaskan diri dengan ishlahunnafs. Terus berupaya memperbaiki diri dan menjalankan apa yang telah dipikulkan dengan optimal, dengan segala apa yang kita miliki, baik harta, tenaga, waktu, bahkan nyawa sekalipun. Itulah sejatinya tuntutan totalitas dalam dakwah.

▪Amanah dakwah tak mungkin diemban oleh orang bimbang atau bahkan mereka yang enggan bekerja sama dengan dakwah. Tapi dakwah agak semakin menggelora bila diampu oleh manusia-manusia berjiwa baja.

▫Bukan pada orang yang sedikit sakit sudah menjerit.
▫Bukan pada orang yang sedikit lelah lantas menyerah
▫Bukan pada orang yang mudah tersinggung, terbawa emosi bahkan tak bisa mengendalikan diri.

© Pemikul amanah mampu memahami bahwa tugas utamanya adalah loyalitas yang tiada batas untuk Allah swt. Seruan Allah dan Rasul-Nya tak sama dengan seruan siapa pun di muka bumi ini. Dan sesungguhnya seorang pejuang sejati sangat memahami tentang tugasnya di dunia ini.

Motivasi – Raih Kesuksesan Berbekal Keyakinan


© Yakinlah, kesuksesan akan mampu kita raih. Membangun mimpi.
Merenda asa. Mengukir cita. Merajut bahagia. Rentetan kalimat yang terputus bersambung makna.

▪Tak akan ada yang sia-sia bila kita selalu bersama-Nya. Bangun nilai-nilai positif dalam diri kita. Jangan pernah hadirkan pikiran-pikiran negatif dalam menjalaninya.

® Pastikan langkah semua tuk menggapai ridha-Nya. Hidup itu harus dijalani dengan keyakinan. Bila langkah kita penuh dengan keraguan jangan salahkan ada celah-celah masuknya setan.

▪Kemantapan dalam menjalani pilihan dari sekian pilihan yang pernah ada. Manusia memang diberi kesempatan berusaha, namun Allah-lah yang akan menentukannya. Kita cermati kalimat indah ini, “Rencana kita boleh indah tapi rencana Allah yang terbaik.”

© Subhanallah. Kadang kita lupa bahwa kita tak mampu menentukan hasil dari yang sudah kita usahakan. Kita hanya mempunyai kewajiban untuk berproses. Berusaha dan terus berusaha.

▪Sahabat Surgaku…
Saatnya menuai keberhasilan. Bila kita merasa sudah menemukan potensi yang sudah kita gali.

® Fokuslah!
Buat target-target dan evaluasi dari yang sudah kita lakukan! Semakin asah potensi itu.

▪Jangan malas untuk belajar dan meng-up grade-nya. Kita bisa menambah ilmu untuk mengasah kemampuan kita.

© Banyak yang bisa kita lakukan seperti ikut liqa berguru pada murrabi, kajian, pelatihan, seminar, membaca buku karena hal itu yang semakin menambah wawasan keilmuan kita.

▪Setiap ada kemauan pasti ada jalan. Motivasi dirilah yang mampu membuat diri kita lebih maju. Dari diri kita sendirilah kita mampu menjadi yang lebih baik dan berprestasi.

© Selama napas ini masih ada. Selama darah pun masih mengalir. Tak ada kata berhenti untuk belajar. Mulailah dari yang kecil. Mulailah saat ini. Dan mulailah sekarang juga.

▪Bismillaahi tawakkaltu ‘alallah la haula wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyil ‘adhim.

Berlelah Yang Indah


Berlelah yang Indah

Oleh: ​Bunda Rochma Yulika​

Berlelah itu indah jika kita berlelah di jalan dakwah. Berlelah itu berkah jika kita berlelah untuk raih jannah. Dan berlelah itu ibadah jika kita berlelah karena Allah.

Syaikh Ahmad Yasin menasihati kita semua dalam sebuah kalimat, ”Siapa yang menyerahkan jiwanya untuk hidup demi agamanya, maka ia akan melalui hari-hari dengan kelelahan, akan tetapi ia akan hidup dan mati dalam kemuliaan.”

Mari kita berlelah untuk mengemban amanah. Meski terasa berat, namun akan raih kebahagiaan hingga kehidupan akhirat.
Bila bicara tentang kesuksesan, tak lepas perjalanan ini selalu menghadirkan keletihan. Bahkan kita tahu banyak para salafusshalih menjalani kehidupannya dengan kelelahan.

Tapi bukan kesah dan keluh yang hadir mengiasi wajah mereka selain kepuasan serta kebahagiaan tiada tara.
Berlelah di jalan kebenaran itulah kebahagiaan. Berlelah untuk menegakkan kebenaran itulah kebajikan. Dan berlelah bersama orang-orang beriman itulah kewajiban.

Tetaplah di sini di jalan dakwah ini. Sesulit apapun perjalanan ini, bila selalu bergandengan tangan bersama orang-orang yang beriman untuk menjunjung tinggi kejayaan Islam di muka bumi ini.

Lelah…..
Satu kata yang terlontar kala merasakan beratnya amanah. Satu kata yang hadir sebagai ekspesi yang menggambarkan selemah-lemahnya kondisi dan sisi manusia kita.

Namun perlu kita bersama renungkan. Seberapa lelah para Nabi dan Rasul dalam menyebarkan dinnullah. Seberapa lelah para salafusshalih untuk menebar kebaikan di muka bumi ini. Dan kita tinggal menapaktilasi jejak-jejak kebaikan yang ditinggalkan oleh mereka.

Lelah itu biasa, namun akan menjadi luar biasa bila kita mampu menikmati setiap lelah karena kita berlelah di jalan dakwah. Jenuh itu biasa, namun akan menjadi luar biasa jika kita tetap bertahan di jalan kebaikan. Sakit itu biasa, namun akan menjadi luar biasa bila kita bisa menikmati rasa sakit karena paham jalan menuju Allah itu sulit.

Keyakinan akan perniagaan yang tak pernah rugi membuat generasi Rabbani tak kenal henti memperjuangkan diin mulia ini. Merenda asa, mengukir prestasi, meneguhkan jati diri, menggenapkan ketaatan pada ilahi begitulah ciri pejuang sejati.
Tak gentar meski harus terlempar. Tak menghindar meski harus terkapar. Tak mundur selangkah meski harus berdarah-darah.

Jiwa-jiwa mereka tangguh meski kadang terjatuh. Keterjatuhan tak membuat mereka merana lantaran baginya dengan keterjatuhan itu mereka bisa belajar tentang hidup sesungguhnya.

Jiwa-jiwa mereka kokoh, sekokoh karang di laut yang tak mudah goyah, yang tak mudah runtuh. Lantaran jiwa mereka telah terisi oleh kecintaan pada sang pemilik alam semesta.

Ibnul Jauzi dalam bukunya, Shifatus Shafwah, dengan sangat baik hati menyebutkan perkataan Syumait bin Ajlan yang menjadi bukti bahwa sejatinya kekuatan orang mukmin ada di hatinya, bukan pada anggota badannya. Syumaith berkata, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menjadikan kekuatan orang mukmin ada pada hatinya, tidak pada anggota badannya. Tidakkah kalian melihat orang tua yang lemah, dia mampu berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari sedangkan pemuda tidak bisa melakukannya.” (Shifatus Shafwah : III/341)

Wallahu A’lam

Mengolah Jiwa dalam Kebersamaan


© Sunatullah dalam kehidupan manusia yakni hidup berdampingan dengan sesama. Kita tahu kedudukan manusia sebagai makhluk sosial tak pernah lepas dari keberadaannya dengan manusia lainnya. Maka belajar untuk senantiasa menyesuaikan dirinya dengan keadaan sekitarnya menjadi keharusan. Lantaran keadaan yang hadir berbeda dengan yang kita harapkan sehingga memengaruhi rasa dan mengusik kenyamanan.

▪Maka bukanlah keadaan yang selalu dipaksa menyesuaikan diri kita tapi rasa dan suasana hatilah yang seharusnya menyelaraskan. Ada beberapa hal yang harus kita matangkan dari diri kita. Mengolah jiwa memang tak mudah. Karena mengubahnya tak cukup dengan ilmu atau buku yang senantiasa kita pelajari. Namun terkadang kehidupanlah yang mengajari kita untuk mengubah diri. Inilah tarbiyah Allah yang secara langsung bisa kita rasakan. Kadang bertemu dengan ujian, cobaan, masalah, musibah, banyak kesulitan yang dihadirkan ternyata mampu menjadi sarana belajar bagi manusia untuk mengolah jiwanya.

© Berakhlak dalam kebersamaan ini yang jadi suri tauladan adalah Rasulullah. Beliau lah yang menjadi penerjemah utama dari isi Al-Quran. Luhur budi dalam sehari-hari seolah menjadi cermin bagi kita menapaki hidup ini.

▪Indah bila kita bisa meniru akhlak Rasulullah. Jiwanya terolah dengan baik karena tempaan langsung dari Allah. Beliau mengajarkan kesantunan, kasih sayang, dan berkawan penuh kehangatan. Kehidupan beliau yang jauh dari kata keji, caci maki yang justru akan menghinakan diri.

© Bahkan pelajaran berharga yang bisa kita petik. Bila kebaikan hadir wajar bila kita membalas dengan kebaikan. Namun bila keburukan datang menyapa kehidupan tetap beliau balas dengan kebaikan.

▪Masya Allah …
Mengolah jiwa selayaknya Rasulullah membuat hidup dengan siapa pun tak menjadi persoalan. Bahagia didapatkan, keberkahan bisa dirasakan dan kemuliaan pun akan diraihnya. Mari menjadi manusia yang adanya ingin menghadirkan bahagia bagi sesama serta kerukunan hidup akan tercipta.

© Dan jangan lupa bahwa pangkal dari keruhnya masalah bermula dari sepotong lidah. Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala hal. 49,

“Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam. Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya”.

▪Semoga kita menjadi pribadi yang bersahaja dalam perjalanan ukhuwah Islamiyah ini.

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Semua Bermula dari Diri Sendiri


© Kekuatan mengajak pada kebaikan bermula dari diri sendiri. Sekuat apa pengaruh nilai Ilahiyah yang tertanam akan berpengaruh pada kekuatan mengajak kepada orang lain.

▪Maka ketika ingin mengambil peran dakwah, tugas utama yakni bagaiamana memperbaiki amal dan akhlak seorang kader dakwah.

© Berdakwah itu tak cukup pandai berorasi, atau mengeja kata menjadi tatanan kalimat yang apik. Kekuatan ruhlah yang mampu mengubah keadaan diluar kita.

▪Abdullah Nashih Ulwan mengisyaratkan pentingnya ruhiah bagi seorang dai dengan mengatakan:

“Ketika jiwa seorang dai telah sepenuhnya bertakwa kepada Allah, merasakan muraqabah dan keagungan-Nya dalam hati, rutin membaca Al-Quran dengan tadabur dan penuh kekhusyukan, menyertai Nabi dengan berqudwah kepadanya, menyertai orang-orang yang saleh yang bermakrifah kepada Allah dengan menimba berbagai hikmah dan kebaikan dari mereka, berzikir kepada Allah secara kontinu untuk menambah keteguhan dan ketenangan, selalu melakukan ibadah nafilah untuk mendekatkan diri dan menambah kekhusyukan.”

© Apabila seorang telah memiliki itu semua maka ketika berbicara atau berkhotbah atau mengajak ke jalan Allah, niscaya akan Anda temukan keimanan memancar dari kedua bola matanya, keikhlasan tampak jelas menghiasi raut mukanya, dan kejujuran terus mengalir bersama kelembutan suaranya, ketenangan iramanya, serta isyarat-isyarat tangannya.

▪Bahkan, perkataannya akan meresap ke dalam hati dan melenyapkan kegelapan jiwa. Seperti air sejuk yang meresap di kerongkongan orang yang kehausan, bak nur cahaya yang memusnahkan kegelapan.

© Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dengan petunjuk mereka, orang-orang pun memeroleh petunjuk dan dakwah mereka akan mendapatkan sambutan yang luas. Dengan nasihat mereka, hati bergetar dan mata menangis. Dengan peringatan mereka, ahli maksiat bertobat dan orang-orang sesat sadar serta kembali ke jalan yang lurus.

▪Demikianlah pelajaran untuk kita bahwa selama kepergian dakwah kita karena linnas, termasuk di dalamnya agar objek dakwah mengikuti jejak kita, dan jika bukan karena lillah, maka kekuatan kemauan kita menjadi rapuh. Bahkan, seringnya tumbang di tengah jalan atau minimal keluh-kesah dalam dakwah yang sering muncul. Akan tetapi, ketika Allah menjadi titik awal dan titik akhir maka perjalanan dakwah kita akan menjadi penuh dengan kekuatan.

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

Bulan Muharram


Terdapat dua pertanyaan yang bertema Muharram dan bisa dijawab sekaligus

Assalamu’alaikum…afwam numpang tanya,kl bs d jwb sesegera mungkin….

Adakah tuntutan berdoa d awal & akhir th???da dalil2 serta haditsnya??
Syukron…# A 42

Puasa suro itu sebaiknya dilakukan tgl brp mhn penjelasanya terima kasih

Jawaban
———–

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته
Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya jumlah bulan di Kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram.”
(QS. At Taubah: 36)

Kata ​Muharram artinya ‘dilarang’.​ Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang kemuliaan bulan haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan termasuk kesepakatan tidak berperang.

Bulan Muharram memiliki banyak keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (syahrullah). Beribadah pada bulan haram pahalanya dilipatgandakan dan bermaksiat di bulan ini dosanya dilipatgandakan pula. Pada bulan ini tepatnya pada tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah saw. menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebagai kesyukuran atas pertolongan Allah. Masyarakat Jahiliyah sebelumnya juga berpuasa. Puasa 10 Muharram tadinya hukumnya wajib, kemudian berubah menjadi sunnah setelah turun kewajiban puasa Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Dari Ibnu Abbas RA, bahwa nabi saw. ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang Yahudi berpuasa satu hari, yaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, “ Ini adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun. Maka Nabi Musa as berpuasa sebagai bukti syukur kepada Allah. Rasul saw. berkata, “Saya lebih berhak mengikuti  Musa as. dari mereka.”  Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa” (HR Bukhari).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Dari Abu Hurairah RA. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)

Walaupun ada kesamaan dalam ibadah, khususnya berpuasa, tetapi Rasulullah saw. memerintahkan pada umatnya agar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yahudi, apalagi oleh orang-orang musyrik. Oleh karena itu beberapa hadits menyarankan agar puasa hari ‘Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari ‘Asyura.

Secara umum, ​puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan :​
Pertama, berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram.
Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11.
Ketiga,  puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura para sahabat berkata:

“Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.”
(HR. Muslim).

Landasan puasa tanggal 11 Muharram didasarkan pada keumuman dalil keutamaan berpuasa pada bulan Muharram. Di samping itu sebagai bentuk kehati-hatian jika terjadi kesalahan dalam penghitungan awal Muharram.

Selain berpuasa, ​umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi ini memang tidak disebutkan dalam hadits, namun ulama seperti Baihaqi dan Ibnu Hibban menyatakan bahwa hal itu baik untuk dilakukan.​

Demikian juga sebagian umat Islam menjadikan bulan Muharram sebagai bulan anak yatim. Menyantuni dan memelihara anak yatim adalah sesuatu yang sangat mulia dan dapat dilakukan kapan saja. Dan tidak ada landasan yang kuat mengaitkan menyayangi dan  menyantuni anak yatim hanya pada bulan Muharram.

Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam. Oleh karena itu  salah satu momentum yang sangat penting bagi umat Islam yaitu menjadikan  pergantian tahun baru Islam sebagai sarana umat Islam untuk muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan dan rencana ke depan yang lebih baik lagi. Momentum perubahan dan perbaikan menuju kebangkitan Islam sesuai dengan jiwa hijrah Rasulullah saw. dan sahabatnya dari Mekah dan Madinah.

Dari keterangan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
✅Puasa yang dicontohkan oleh Rasulullah adalah pada tanggal 9,10 dan 11.
✅Rasulullah tidak mencotohkan doa awal dan akhir tahun. Hanya perlu bermuhasabah diri ketika terjadi pergantian tahun. Bisa juga bermuhasabah dilakukan setiap hari tanpa menunggu bulan Muharram.
Sumber : dakwatuna.com

Wallahu a’lam.