Sungguh Kematiaan Adalah Muara Bagi manusia

Ahad, 29 Muharram 1438H / 30 Oktober 2016

TAZKIYATUN NAFS

Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

Sejenak kita ingat Quran surat Al Anbiya ayat 1,
“Telah dekat kepada manusia harmanusiahisab segala amalan mereka, sedang mereka berda dalam kelalaian lagi berpaling (darinya).”

Begitu juga dalam firman Allah surat Ibrahim ayat 44, “Dan berikanlah peringatan kepada menuais terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: ‘Ya Tuhan kami tangguhkan kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul….”

Tersentak diri tanpa sadar sudah di ujung usia. Sang malakul maut pun menghampiri diri yang lemah ini. Tak kuasa menolak ketetapan Nya. Semua akan kita tinggalkan dan hanya amal sebagai bekalan. Tak sia-siakan kesempatan kala nyawa masih dikandung badan.

Bergegas untuk memperbanyak amalan. Yang mati tak bisa dihidupkan dan yang hidup tinggal menunggu kepastian kapan saat itu tiba.

Kematian awal sebuah perjalanan yang panjang. Kubur sebagai pertanda pindahnya fase dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Lantas seperti apa kubur kita? Apa ia kan menjadi taman surga yang indah lagi mempesona atau menjadi jurang neraka yang kelam lagi mengerikan?

Amal kita lah yang akan menentukan seperti apa kubur kita kelak.
Bila menjadi taman surga kebahagiaan bisa dirasakan sembari menunggu hari kiamat tiba. Waktu berlalu tanpa dirasa, hingga sangkakala dibunyikan.

Namun, jika neraka yang dihadirkan di kubur kita, seolah lama sekali menunggu tiba berakhirnya.

Masya Allah….
Bila mengingat dahsyatnya peristiwa kematian, diri tersadar tak ingin lagi hidup dalam kesia-siaan.

Namun terkadang diri terjatuh dalam ketergodaan. Dan tugas kita bersegera bangkit untuk selalu melakukan perbaikan. Berharap Allah kan beri ampunan dan saat ajal menjelang semua dosa kan termaafkan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar,”Kami bersepuluh datang kepada Rasululla SAW, ketika seorang anshar berdiri dan bertanya:”Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling cerdas dan paling mulia?”

Maka Rasulullah SAW menjawab, ”Mereka adalah yang sering mengingat kematian. Merekalah orang-orang yang paling cerdas. Mereka akan pergi dengan mendapatkan kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR. Ibnu Majjah).

Memperbanyak mengingat kematian akan mendatangkan kemuliaan. Merasa takut akan azab Nya saja mampu menghapus diri dari dosa. Bahkan para sahabat Rasulullah sampai membuat liang lahat di dalam rumahnya untuk mengingatkan diri sendiri.

Kala iman melemah mereka masuk ke liang lahat dan menutupnya rapat-rapat untuk bermuhasabah. Menyadari khilaf dan alpa supaya bersemangat mengumpulkan pahala.

Allahu Akbar.
Kematian sebuah kisah kepastian yang kita tak mampu merubah skenario Nya. Air mata, duka nestapa, ratapan sanak saudara tak mampu hentikan alur cerita yang sudah ditetapkan oleh Nya. Selagi nafas masih ada, tetaplah bertahan di jalan kebenaran. Untuk menangkap peluang berbuat kebajikan serta menebar kebaikan. Agar tak menyesal kala waktu habis tak tersisa lagi untuk kita.

Hidup di dunia diibaratkan kita sedang bercocok tanam di ladang, dan kelak hasil dari cocok tanam tersebut akan kita tuai pada kehidupan setelah mati, yakni kehidupan di akhirat.

Hidup di dunia hanya senda gurau, permainan yang tak lebih hanya sebagai terminal kehidupan menuju sebuah hidup yang lebih kekal dan hakiki.

Adanya kehidupan setelah mati merupakan hal yang wajib dipercaya oleh mereka yang memiliki agama. Segala bentuk tindakan yang pernah kita lakukan selama di dunia ini akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat.

Inilah yang menyebabkan kita tak boleh begitu larut dengan indahnya kehidupan dunia. Sebab akan ada proses hitung-hitungan yang akan kita jalani kelak di hadapan Tuhan.

Jika kita buruk selama di dunia niscaya Tuhan akan memberi balasan yang setimpal dengan keburukan kita.
Sebaliknya jika kita baik, maka Tuhan akan memberi balasan berupa keindahan surga yang sangat dinanti-nanti oleh manusia. Inilah makna kehidupan yang sebenarnya.

Indahnya gemerlap kehidupan di dunia sering membuat manusia lupa dengan hakikat dan makna kehidupan. Manusia merasa seolah mereka akan hidup selamanya di dunia. Mereka lupa bahwa akan ada kehidupan sejati yang akan dilalui. Segala bentuk ketidakadilan yang dialami manusia selama di dunia akan diadili di akhirat kelak.

Di sanalah pengadilan yang tak akan pernah sedikit pun menzalimi para peserta pengadilan tersebut.

Manusia penting mengingat mati, sebab itu akan mendorong dirinya cerdas dalam mengahadapi segala hal kehidupan di dunia. Ia tak akan tertipu dengan kemewahan dunia.

Bahkan dikatakan bahwa orang yang paling pintar adalah orang yang selalu rajin mengingat kematian atau disebut dengan zikrul maut.

Sebab kematian adalah sesuatu yang rahasia, hanya Allah yang tahu kapan seorang hamba akan ia panggil kembali.

Wallahu A’lam

Tersenyumlah Wahai Saudaraku

Ahad, 22 Muharram 1438H / 23 Oktober 2016

MOTIVASI

Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

Senyumlah saudaraku…
Senyumlah dengan segenap jiwa kita..
Senyumlah dengan sepenuh hati kita…
Senyumlah dengan setulus batin kita..
Semoga Allah memberkahi senyum ikhlas kita itu

Nabi SAW tercinta telah bersabda…
Sedekah tidak harus dengan harta berlimpah…
Sedekah tidak mesti dalam bentuk barang yang jumlahnya meruah…
Senyuman ikhlas kan hadirkan suasana yang meriah…
Meski tak terhidang makanan yang mewah

“Tabasumuka fi wajhi akhuka shadaqah”
Senyuman terhadap saudaramu menjadi shadaqah

Masya Allah begitu indah Rasulullah mengajarkan kepada kita
Hidup terasa bahagia, kenyamanan pun tercipta

Dengan senyum wajah tercerahkan
Hati tak terkeruhkan
Kebersamaan pun kan semakin terhangatkan
Jiwa menyatu dalam sebuah ikatan

Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria.”
(HR.Imam Muslim).

Terkadang merasa sangat menyayangkan bila hal yang mudah saja sangat sulit untuk kita lakukan.
Allah sudah menyiapkan jalan-jalan kemudahan untuk meraih pahala, sayangnya kita enggan segera mengambil kesempatan.

Kita mudah mengabaikan, melalaikan, serta memilih berperilaku dengan hal yang tak bermutu.
Terusik dengan kebahagiaan teman, tertekan dengan keberhasilan orang lain.
Padahal hal itu akan semakin mempuruk keadaan diri.

Rugilah rasanya bila kita terlelahkan oleh kesibukan mencari kesalahan bukan mengoreksi diri agar semakin nampak kemuliaan diri kita.
Masalah-masalah kita di akhirat kelak sangat berat, maka memperbaiki diri lebih utama dibanding mencari-cari kelemahan orang lain.

Waktu yang ada sangat efektif bila kita segera mau berkaca.
Untuk merapikan diri, untuk memperindah diri, untuk menghias diri dengan akhlak mulia.

Menjadi pribadi yang indah agar perjalanan menuju keabadian akan terasa lebih bermakna…

Fastabiqul khairat

PENYAKIT AIN

Ustadz Menjawab
Ahad, 15 Oktober 2016
Ustadzah Rochma Yulikha

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
afwan saya mau nanya, bagaimana penjelasan tentang penyakit ain?
benarkah kalo ada yang mengagumi kita bisa menyebabkan terkena penyakit tsb? kemudian bgaimana kita mencgah dah mengobatinya???
Dan apa benar bisa melalui foto yg d upload d medsos?

A39

Jawaban
——-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Dari Ibnu Abbas
rodhiyallohu anhu, Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “Ain (mata jahat) itu benar-benar adanya, jika seandainya ada sesuatu yang mendahului qodar,maka akan didahului oleh ain.Apabila kamu diminta untuk mandi maka mandilah. (hadist riwayat Muslim)

Penyakit ‘Ain adalah penyakit yang disebabkan oleh pengaruh buruk pandangan mata,yaitu pandangan mata yang disertai rasa takjub atau bahkan iri dan dengki terhadap apa yang dilihatnya.

Dari Amir bin Robi’ah rodhiyallohu anhu :

Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, pada dirinya atau pada hartanya, maka doakan keberkahan padanya, karena sesungguhnya penyakit ain itu haq (benar). (HR Ahmad).

‘Ain dapat terjadi meskipun tanpa kesengajaan pelakunya

Ibnu Qoyyim rohimahulloh mengatakan bahwa terkadang seseorang bisa mengarahkan ‘ain kepada dirinya sendiri. Pelakunya termasuk jenis manusia yang paling jahat. Sahabat-sahabat kami dari kalangan ahli fiqh menyatakan, :Sesungguhnya bila diketahui ada orang yang melakukan hal itu, maka penguasa kaum muslimin harus memenjarakannya, lalu dipenuhi seluruh kebutuhannya hingga akhir hayat.”

Namun terkadang pengaruh buruk ain terjadi tanpa kesengajaan dari orang yang memandang takjub terhadap sesuatu yang dilihatnya. Lebih dari itu pengaruh buruk ini juga bisa terjadi dari orang yang hatinya bersih atau orang-orang yang sholih sekalipun mereka tidak bermaksud menimpakan ain kepada apa yang dilihatnya. Hal ini pernah terjadi diantara para sahabat Nabi shollallohu alaihi wa sallam, padahal hati mereka terkenal bersih,tidak ada rasa iri atau dengki terhadap sesamanya. Akan tetapi dengan izin Alloh dan takdirnya, pengaruh buruk ain ini dapat terjadi diantara mereka.

Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, dia berkata bahwa Amir bin Robi’ah melihat Sahl bin Hunaif sedang mandi, lalu berkatalah Amir : ‘Aku tidak pernah melihat (pemandangan) seperti hari ini, dan tidak pernah kulihat kulit yang tersimpan sebagus ini” Maka terpelantinglah Sahl. Kemudian Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam mendatangi Amir. Dengan marah beliau berkata :”Atas dasar apa kalian mau membunuh saudaranya? Mengapa engkau tidak memohonkan keberkahan (kepada yang kau lihat)? Mandilah untuknya!Maka Amir mandi dengan menggunakan suatu wadah air, dia mencuci wajahnya,dua tangan,kedua siku,kedua lutut,ujung-ujung kakinya,dan bagian dalam sarungnya. Kemudian air bekas mandinya itu dituangkan kepada Sahl, lantas dia sadar dan berlalulah bersama manusia. (HR Malik dalam Al-Muwaththo 2/938, Ibnu Majah 3509, dishahihkan oleh Ibnu Hibban 1424. Sanadnya shohih,para perawinya terpercaya,lihad Zadul Ma’ad tahqiq Syu’aib al-Arnauth dan Abdul Qodir al-Arnauth 4/150 cetakan tahun 1424 H)

Wallahu a’lam.

Bulan Muharram

*Ustadz Menjawab*
_Ahad, 02 Oktober 2016_
Ustadzah Rochma
 *Bulan Muharram*
Terdapat dua pertanyaan yang bertema Muharram dan bisa dijawab sekaligus
Assalamu’alaikum…afwam numpang tanya,kl bs d jwb sesegera mungkin….
Adakah tuntutan berdoa d awal & akhir th???da dalil2 serta haditsnya??
Syukron…# A 42
Puasa suro itu sebaiknya dilakukan tgl brp mhn penjelasanya terima kasih
Jawaban
————
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya jumlah bulan di Kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram.”
(QS. At Taubah: 36)
Kata *Muharram artinya ‘dilarang’.* Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang kemuliaan bulan haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan termasuk kesepakatan tidak berperang.
Bulan Muharram memiliki banyak keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (syahrullah). Beribadah pada bulan haram pahalanya dilipatgandakan dan bermaksiat di bulan ini dosanya dilipatgandakan pula. Pada bulan ini tepatnya pada tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah saw. menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebagai kesyukuran atas pertolongan Allah. Masyarakat Jahiliyah sebelumnya juga berpuasa. Puasa 10 Muharram tadinya hukumnya wajib, kemudian berubah menjadi sunnah setelah turun kewajiban puasa Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Dari Ibnu Abbas RA, bahwa nabi saw. ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang Yahudi berpuasa satu hari, yaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, “ Ini adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun. Maka Nabi Musa as berpuasa sebagai bukti syukur kepada Allah. Rasul saw. berkata, “Saya lebih berhak mengikuti  Musa as. dari mereka.”  Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa” (HR Bukhari).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
Dari Abu Hurairah RA. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)
Walaupun ada kesamaan dalam ibadah, khususnya berpuasa, tetapi Rasulullah saw. memerintahkan pada umatnya agar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yahudi, apalagi oleh orang-orang musyrik. Oleh karena itu beberapa hadits menyarankan agar puasa hari ‘Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari ‘Asyura.
Secara umum, *puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan :*
Pertama, berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram.
Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11.
Ketiga,  puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura para sahabat berkata:
“Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.”
(HR. Muslim).
Landasan puasa tanggal 11 Muharram didasarkan pada keumuman dalil keutamaan berpuasa pada bulan Muharram. Di samping itu sebagai bentuk kehati-hatian jika terjadi kesalahan dalam penghitungan awal Muharram.
Selain berpuasa, *umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi ini memang tidak disebutkan dalam hadits, namun ulama seperti Baihaqi dan Ibnu Hibban menyatakan bahwa hal itu baik untuk dilakukan.*
Demikian juga sebagian umat Islam menjadikan bulan Muharram sebagai bulan anak yatim. Menyantuni dan memelihara anak yatim adalah sesuatu yang sangat mulia dan dapat dilakukan kapan saja. Dan tidak ada landasan yang kuat mengaitkan menyayangi dan  menyantuni anak yatim hanya pada bulan Muharram.
Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam. Oleh karena itu  salah satu momentum yang sangat penting bagi umat Islam yaitu menjadikan  pergantian tahun baru Islam sebagai sarana umat Islam untuk muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan dan rencana ke depan yang lebih baik lagi. Momentum perubahan dan perbaikan menuju kebangkitan Islam sesuai dengan jiwa hijrah Rasulullah saw. dan sahabatnya dari Mekah dan Madinah.
Dari keterangan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
✅Puasa yang dicontohkan oleh Rasulullah adalah pada tanggal 9,10 dan 11.
✅Rasulullah tidak mencotohkan doa awal dan akhir tahun. Hanya perlu bermuhasabah diri ketika terjadi pergantian tahun. Bisa juga bermuhasabah dilakukan setiap hari tanpa menunggu bulan Muharram.
Sumber : dakwatuna.com
Wallahu a’lam.

Dipersembahkan Oleh:
Website : www.iman-manis.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
Sebarkan! Raih Bahagia….

HIJAB

*Ustadz Menjawab*
_Selasa, 27 September 2016_
Ustadzah Rochma Yulikha
🌿🍁 *HIJAB*
Assalamu’alaikum ustadz/ah..apa hukum nya jika menjual pakaian yang tidak mnutup aurat (seksi)?
Padahal kan kita d wajibkan untuk menutup aurat..
Trus bagaimana mnyikapi orang yang berjualan pakaian trsebut? Apakah di tegur atau dibiarkan saja. Padahal umur orang tersebut jauh lebih tua dr kita?🅰3⃣8⃣
Jawaban
——-
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
_Keutamaan Hijab_
*• Hijab itu adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul.*
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَا كَانَ لمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إذاَ قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أمْرًا أنْ يَكُونَ لهُمُ الخِيَرَةُ مِنْ أمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan kaum wanita untuk menggunakan hijab sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.”
(QS. An-Nur: 31)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الجَاهِلِيَّةِ الأُولَى
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah.”
(QS. Al-Ahzab: 33)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.”
(QS. Al-Ahzab: 53)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ
“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min:
“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”
(QS. Al-Ahzab: 59)
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Wanita itu aurat”

maksudnya adalah bahwa ia harus menutupi tubuhnya.
*• Hijab itu ‘iffah (kemuliaan)*
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kewajiban menggunakan hijab sebagai tanda ‘Iffah (menahan diri dari maksiat).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ياَ أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أدْنَى أنْ يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ
“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.”
(QS. Al-Ahzab: 59)
Itu karena mereka menutupi tubuh mereka untuk menghindari dan menahan diri dari perbuatan jelek (dosa), “karena itu mereka tidak diganggu”. Maka orang-orang fasik tidak akan mengganggu mereka. Dan pada firman Allah “karena itu mereka tidak diganggu” sebagai isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu bentuk gangguan berupa fitnah dan kejahatan bagi mereka.
*• Hijab itu kesucian*
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.”
(QS. Al-Ahzab: 53)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati hijab sebagai kesucian bagi hati orang-orang mu’min, laki-laki maupun perempuan. Karena mata bila tidak melihat maka hatipun tidak berhasrat. Pada saat seperti ini, maka hati yang tidak melihat akan lebih suci. Ketiadaan fitnah pada saat itu lebih nampak, karena hijab itu menghancurkan keinginan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ
“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.”
(QS. Al-Ahzab: 32)
*• Hijab itu pelindung*
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalambersabda:
(إنَّ اللهَ حَيِيٌّ سَتِيرٌ يُحِبُّ الحَيَاءَ وَالسِّتْرَ)
“Sesungguhnya Allah itu Malu dan Melindungi serta Menyukai rasa malu dan perlindungan”
Sabda beliau yang lain:
(( أيَّمَا اِمْرَأَةٍ نَزَعَتْ ثِيَابَهَا في غَيْرِ بَيْتِهَا خَرَقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا سِتْرَهُ))
“Siapa saja di antara wanita yang melepaskan pakaiannya di selain rumahnya, maka Allah Azza wa Jalla telah mengoyak perlindungan rumah itu dari padanya.”
Jadi balasannya setimpal dengan perbuatannya.
*• Hijab itu taqwa*
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ياَ بَنِي آدَمَ قَدْ أنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ
“Hai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.”
(QS. Al-A’raaf: 26)
*• Hijab itu iman*
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berfirman kecuali kepada wanita-wanita beriman:
“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman.” (Q.S. An-Nur: 31).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Dan istri-istri orang beriman.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)
Dan ketika wanita-wanita dari Bani Tamim menemui Ummul Mu’minin, Aisyah ra dengan pakaian tipis, beliau berkata:
“Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.”
*• Hijab itu haya’ (rasa malu)*
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
((إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاءُ))
“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.”
Sabda beliau yang lain:
“Malu itu adalah bagian dari iman dan iman itu di surga.”
Sabda Rasul yang lain:
((الحَيَاءُ وَالإيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإنْ رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَرُ))
“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”
• *Hijab itu ghirah (perasaan cemburu)*
Hijab itu selaras dengan perasaan cemburu yang merupakan fitrah seorang laki-laki sempurna yang tidak senang dengan pandangan-pandangan khianat yang tertuju kepada istri dan anak wanitanya. Berapa banyak peperangan terjadi pada masa Jahiliyah dan masa Islam akibat cemburu atas seorang wanita dan untuk menjaga kehormatannya.
Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu berkata:
“Telah sampai kepadaku bahwa wanita-wanita kalian berdesak-desakan dengan laki-laki kafir orang ‘ajam (non Arab) di pasar-pasar, tidakkah kalian merasa cemburu? Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada seseorang yang tidak memiliki perasaan cemburu.”
_*Beberapa syarat hijab yang harus terpenuhi:*_
1. Menutupi seluruh anggota tubuh wanita -berdasarkan pendapat yang paling rajih / terang
2. Hijab itu sendiri pada dasarnya bukan perhiasan.
3. Tebal dan tidak tipis atau trasparan.
4. Longgar dan tidak sempit atau ketat.
5. Tidak memakai wangi-wangian.
6. Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir.
7. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.
8. Tidak bermaksud memamerkannya kepada orang-orang.
*Jangan berhias terlalu berlebihan*
Bila anda memperhatikan syarat-syarat tersebut di atas akan nampak bagi anda bahwa banyak di antara wanita-wanita sekarang ini yang menamakan diri sebagai wanita berjilbab, padahal pada hakekatnya mereka belum berjilbab. Mereka tidak menamakan jilbab dengan nama yang sebenarnya. Mereka menamakan Tabarruj sebagai hijab dan menamakan maksiat sebagai ketaatan.
Musuh-musuh kebangkitan Islam berusaha dengan sekuat tenaga menggelincirkan wanita itu, lalu Allah menggagalkan tipu daya mereka dan meneguhkan orang-orang Mu’min di atas ketaatan kepada Tuhannya. Mereka memanfaatkan wanita itu dengan cara-cara kotor untuk memalingkannya dari jalan Tuhan dengan memproduksi jilbab dalam berbagai bentuk dan menamakannya sebagai “jalan tengah” yang dengan itu ia akan mendapatkan ridha Tuhannya -sebagaimana pengakuan mereka- dan pada saat yang sama ia dapat beradaptasi dengan lingkungannya dan tetap menjaga kecantikannya.
*Kami dengar dan kami taat*
Seorang muslim yang jujur akan menerima perintah Tuhannya dan segera menerjemahkannya dalam amal nyata, karena cinta dan perhomatannya terhadap Islam, bangga dengan syariat-Nya, mendengar dan taat kepada sunnah nabi-Nya dan tidak peduli dengan keadaan orang-orang sesat yang berpaling dari kenyataan yang sebenarnya, serta lalai akan tempat kembali yang ia nantikan. Allah menafikan keimanan orang yang berpaling dari ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya:
وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرْيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالمُؤْمِنِينَ (47)
وَإذَا دُعُوا إلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ(48)
“Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.”
(QS. An-Nur: 47-48)
Firman Allah yang lain:
إنَّمَا كاَنَ قَوْلَ المُؤْمِنِينَ إذَا دُعُوا إلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ (51)
وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللهَ وَيَتَّقِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الفَائِزُونَ (52)
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.”
(QS. An-Nur: 51-52)
Dari Shofiyah binti Syaibah berkata: “Ketika kami bersama Aisyah ra, beliau berkata: “Saya teringat akan wanita-wanita Quraisy dan keutamaan mereka.” Aisyah berkata: “Sesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki keutamaan, dan demi Allah, saya tidak melihat wanita yang lebih percaya kepada kitab Allah dan lebih meyakini ayat-ayat-Nya melebihi wanita-wanita Anshor. Ketika turun kepada mereka ayat: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (QS. An-Nur: 31)
Maka para suami segera mendatangi istri-istri mereka dan membacakan apa yang diturunkan Allah kepada mereka. Mereka membacakan ayat itu kepada istri, anak wanita, saudara wanita dan kaum kerabatnya. Dan tidak seorangpun di antara wanita itu kecuali segera berdiri mengambil kain gorden (tirai) dan menutupi kepala dan wajahnya, karena percaya dan iman kepada apa yang diturunkan Allah dalam kitab-Nya. Sehingga mereka (berjalan) di belakang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalamdengan kain penutup seakan-akan di atas kepalanya terdapat burung gagak.”
kalo kepada orang yang lebih tua menegur bukan secara langsung tp dengan contoh atau butuh bantuan orang lain yg seusianya.
(Dinukil dari kitab : الحجاب Al Hijab. Penebit: Darul Qosim دار القاسم للنشر والتوزيع P.O. Box 6373 Riyadh 11442)
Wallahu a’lam.
🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻
Dipersembahkan Oleh:
Website : www.iman-manis.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Tentang Air (bersuci)

*Ustadz Menjawab*
_Selasa, 20 September 2016_
Ustadzah Rochma Yulikha
🌿🍁 * AIR*
Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Dalam buku fiqih bab tentang air, ada pembahasan air yg jumlahnya mencapai dua kullah. Apakah ini hanya digunakan untuk menentukan status air tsb jika tercampur dgn benda najis? Jadi jika berwudhu menggunakan air yg jumlahnya kurang dari 2 kullah, mk tidak mengapa.
Syukran wa jazakillah khayran😊🙏
# A 41
Jawaban
———-
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
*Ada Dua Macam Air*
Perlu diketahui bahwa air itu ada dua macam yaitu air muthlaq dan air najis.
_Pertama: Air Muthlaq_
Air muthlaq ini biasa disebut pula air thohur (suci dan mensucikan). Maksudnya, air muthlaq adalah air yang tetap seperti kondisi asalnya. Air ini adalah setiap air yang keluar dari dalam bumi maupun turun dari langit. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا
“Dan Kami turunkan dari langit air yang suci.” (QS. Al Furqon: 48)
Yang juga termasuk air muthlaq adalah air sungai, air salju, embun, dan air sumur kecuali jika air-air tersebut berubah karena begitu lama dibiarkan atau karena bercampur dengan benda yang suci sehingga air tersebut tidak disebut lagi air muthlaq.
Begitu pula yang termasuk air muthlaq adalah air laut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanyakan mengenai air laut, beliau pun menjawab,
هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ
“Air laut tersebut thohur (suci lagi mensucikan), bahkan bangkainya pun halal.” [1] Air-air inilah yang boleh digunakan untuk berwudhu dan mandi tanpa ada perselisihan pendapat antara para ulama.
Bagaimana jika air muthlaq tercampur benda lain yang suci?
Di sini ada dua rincian, yaitu:
1. Jika air tersebut tercampur dengan benda suci dan jumlahnya sedikit, sehingga air tersebut tidak berubah apa-apa dan masih tetap disebut air (air muthlaq), maka ia boleh digunakan untuk berwudhu. Misalnya, air dalam bak yang berukuran 300 liter kemasukan sabun yang hanya seukuran 2 mm, maka tentu saja air tersebut tidak berubah dan boleh digunakan untuk berwudhu.
2. Jika air tersebut tercampur dengan benda suci sehingga air tersebut tidak lagi disebut air (air muthlaq), namun ada “embel-embel” (seperti jika tercampur sabun, disebut air sabun atau tercampur teh, disebut air teh), maka air seperti ini tidak disebut dengan air muthlaq sehingga tidak boleh digunakan untuk bersuci (berwudhu atau mandi).
_Kedua: Air Najis_
Air najis adalah air yang tercampur najis dan berubah salah satu dari tiga sifat yaitu bau, rasa atau warnanya. Air bisa berubah dari hukum asal (yaitu suci) apabila berubah salah satu dari tiga sifat yaitu berubah warna, rasa atau baunya.
Dari Abu Umamah Al Bahiliy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْمَاءَ لاَ يُنَجِّسُهُ شَىْءٌ إِلاَّ مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ وَطَعْمِهِ وَلَوْنِهِ
“Sesungguhnya air tidaklah dinajiskan oleh sesuatu pun selain yang mempengaruhi bau, rasa, dan warnanya.”
Tambahan “selain yang mempengaruhi bau, rasa, dan warnanya” adalah tambahan yang dho’if. Namun, An Nawawi mengatakan, “Para ulama telah sepakat untuk berhukum dengan tambahan ini.” Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama telah sepakat bahwa air yang sedikit maupun banyak jika terkena najis dan berubah rasa, warna dan baunya, maka itu adalah air yang najis.” Ibnul Mulaqqin mengatakan, “Tiga pengecualian dalam hadits Abu Umamah di atas tambahan yang dho’if (lemah). Yang menjadi hujah (argumen) pada saat ini adalah ijma’ (kesepakatan kaum muslimin) sebagaimana dikatakan oleh Asy Syafi’i, Al Baihaqi, dll.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sesuatu yang telah disepakati oleh kaum muslimin, maka itu pasti terdapat nashnya (dalil tegasnya). Kami tidak mengetahui terdapat satu masalah yang telah mereka sepakati, namun tidak ada nashnya.”[2] Intinya, air jenis kedua ini (air najis) tidak boleh digunakan untuk berwudhu.[3] Bolehkah Air Musta’mal Digunakan untuk Bersuci?
Yang dimaksud air musta’mal adalah air yang jatuh dari anggota wudhu orang yang berwudhu. Atau gampangnya kita sebut air musta’mal dengan air bekas wudhu.
Para ulama berselisih pendapat apakah air ini masih disebut air yang bisa mensucikan (muthohhir) ataukah tidak.
Namun pendapat yang lebih kuat, air musta’mal termasuk air muthohhir (mensucikan, berarti bisa digunakan untuk berwudhu dan mandi) selama ia tidak keluar dari nama air muthlaq atau tidak menjadi najis disebabkan tercampur dengan sesuatu yang najis sehingga merubah bau, rasa atau warnanya. Inilah pendapat yang dianut oleh ‘Ali bin Abi Tholib, Ibnu ‘Umar, Abu Umamah, sekelompok ulama salaf, pendapat yang masyhur dari Malikiyah, merupakan salah satu pendapat dari Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad, pendapat Ibnu Hazm, Ibnul Mundzir dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[4] Dalil-dalil yang menguatkan pendapat bahwa air musta’mal masih termasuk air yang suci:
Pertama: Dari Abu Hudzaifah, beliau berkata,
خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِالْهَاجِرَةِ ، فَأُتِىَ بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ مِنْ فَضْلِ وَضُوئِهِ فَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar bersama kami di al Hajiroh, lalu beliau didatangkan air wudhu untuk berwudhu. Kemudian para sahabat mengambil bekas air wudhu beliau. Mereka pun menggunakannya untuk mengusap.”[5] Ibnu Hajar Al ‘Asqolani mengatakan, “Hadits ini bisa dipahami bahwa air bekas wudhu tadi adalah air yang mengalir dari anggota wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga ini adalah dalil yang sangat-sangat jelas bahwa air musta’mal adalah air yang suci.”[6] Kedua: Dari Miswar, ia mengatakan,
وَإِذَا تَوَضَّأَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – كَادُوا يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِهِ
“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, mereka (para sahabat) hampir-hampir saling membunuh (karena memperebutkan) bekas wudhu beliau.”[7] Air yang diceritakan dalam hadits-hadits di atas digunakan kembali untuk bertabaruk (diambil berkahnya). Jika air musta’mal itu najis, lantas kenapa digunakan? Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Hadits-hadits ini adalah bantahan kepada orang-orang yang menganggap bahwa air musta’mal itu najis. Bagaimana mungkin air najis digunakan untuk diambil berkahnya?”[8] Ketiga: Dari Ar Rubayyi’, ia mengatakan,
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- مَسَحَ بِرَأْسِهِ مِنْ فَضْلِ مَاءٍ كَانَ فِى يَدِهِ.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengusap kepalanya dengan bekas air wudhu yang berada di tangannya.”[9] Keempat: Dari Jabir, beliau mengatakan,
جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعُودُنِى ، وَأَنَا مَرِيضٌ لاَ أَعْقِلُ ، فَتَوَضَّأَ وَصَبَّ عَلَىَّ مِنْ وَضُوئِهِ ، فَعَقَلْتُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjengukku ketika aku sakit dan tidak sadarkan diri. Beliau kemudian berwudhu dan bekas wudhunya beliau usap padaku. Kemudian aku pun tersadar.”[10] Kelima: Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, beliau mengatakan,
كَانَ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَتَوَضَّئُونَ فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – جَمِيعًا
“Dulu di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam laki-laki dan perempuan, mereka semua pernah menggunakan bekas wudhu mereka satu sama lain.”[11] Keenam: Dari Ibnu ‘Abbas, ia menceritakan,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari bekas mandinya Maimunah.”[12] Ibnul Mundzir mengatakan, “Berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama, air yang tersisa pada anggota  badan orang yang berwudhu dan orang yang mandi atau yang melekat pada bajunya adalah air yang suci. Oleh karenanya, hal ini menunjukkan bahwa air musta’mal adalah air yang suci. Jika air tersebut adalah air yang suci, maka tidak ada alasan untuk melarang menggunakan air tersebut untuk berwudhu tanpa ada alasan yang menyelisihinya.”[13] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Begitu pula air musta’mal yang digunakan untuk mensucikan hadats tetap dianggap suci.”[14] Sedangkan sebagian ulama semacam Imam Asy Syafi’i dalam salah satu pendapatnya, Imam Malik, Al Auza’i dan Imam Abu Hanifah serta murid-muridnya berpendapat tidak bolehnya berwudhu dengan air musta’mal.[15] Namun pendapat yang mereka gunakan kurang tepat karena bertentangan dengan dalil-dalil yang cukup tegas sebagaimana yang kami kemukakan di atas.
Wallahu a’lam
🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻
Dipersembahkan Oleh:
Website : www.iman-manis.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Benarkah Kita Mencintai Allah

📆 Jumat, 14 Dzulhijjah 1437H / 16 September 2016
📚 TAZKIYATUN NAFS

📝 Pemateri: Ustadzah  Rochma Yulika
📋  Benarkah Kita Mencintai Allah
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Cinta itu perlu perjuangan.
Cinta itu butuh pengorbanan.
Perjuangan untuk menjaganya, perjuangan untuk mempertahankannya, dan perjuangan agar bertahan hingga akhir hayat manusia.
Mengapa cinta itu butuh pengorbanan?
Kita harus menyediakan waktu untuk membuktikannya, kita harus merelakan diri agar mampu meraih perhatian dari yang kita cintai.
Begitulah hakikat mencintai.
Berupaya banyak memberi dari pada sekedar menerima.
❣Saatnya menakar cinta.
Bila kita mengaku mencintai Allah, seberapa betah kita berada dekat bersama Nya?
* Ketika harus bersujud untuk menjalankan kewajiban kita untuk beribadah.
* Ketika harus meluangkan waktu bercengkerama untuk khusyu’ bertilawah.
* Ketika harus berdzikir untuk mensucikan keagungan nama Nya.
* Dan ketika harus berjihad menyampaikan kebenaran kepada manusia.
Seberapa waktu yang mampu kita berikan untuk Allah dan setiap hari kita?
Terutama ketika harus mengkhususkan waktu membaca surat cinta dari Nya.
Dalam sebuah riwayat hadits.
“Abdullah bin Mas’ud  radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Siapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah jika dia mencintai Al Quran maka sesungguhnya dia mencintai Allah dan rasul-Nya.”
(Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Syu’ab Al Iman, karya Al Baihaqi).
Seharusnya kita malu membaca hadits ini bila 1 juz saja harus selesai dalam waktu hampir 24 jam.
Atau untuk mampu membaca 1 juz kadang terlewatkan dalam satu hari kita.
❣ Mari kita segera berhitung dari kesempatan yang tersisa
Renungan dari salafusshalih seharusnya membuat kita merasa jauh dalam beramal untuk bisa bersanding dengan kekasih sejati kita yakni Allah SWT.
❣Kisah Salafusshalih untuk menunjukkan besarnya cinta mereka kepada Allah
Kisah Pertama:
Kisah seorang ahli ibadah Abdullah bin Idris (190-192 H).
Dari Husain al-’Anqazi, ia bertutur: Ketika kematian mendatangi Abdullah bin Idris, maka putrinya pun menangis, maka Dia pun berkata, “Wahai putriku, jangan menangis! Sungguh, aku telah mengkhatamkan Al-Qur`an di rumah ini 4000 kali.”
(Tarikh Al-Islam karya Ad-Dzahabi, ats-Tsabat ‘inda al-Mamat karya Ibnul Jauzi).
Kisah kedua:
Abu Bakr bin ‘Ayyasy (193 H).
Tatkala kematian mendatangi Abu Bakr bin ‘Ayasy maka saudara perempuannya pun menangis. Maka Abu Bakr pun berkata kepadanya, “Janganlah menangis, lihatlah di pojok rumah ini, sesungguhnya saudara laki-lakimu ini telah mengkhatamkan Al-Qur`an di situ sebanyak 18 ribu kali.” (Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim dan Tarikh Baghdad).
Ahli ibadah ini Abdullah bin Idris telah mengkhatamkan Al-Qur`an sebanyak 4000 kali. Abu Bakr bin ‘Ayyasy telah mengkhatamkan Al-Qur`an sebanyak 18 ribu kali… semuanya demi menghadapi waktu yang sangat kritis ini. Waktu untuk meninggalkan dunia ke alam akhirat yang abadi.
Kisah ketiga:
Urwah bin Zubair seorang alim yang amil. Urwah yang sejak remaja mampu menyelesaikan seperempat Al Qur’an dalam sehari belum lagi ditambah hafalan yang dibaca kala qiyamullailnya. Begitulah yang dilakukan Urwah bin Zubair hingga akhir hayatnya.
Dan kita…???
Mari segera memperbaiki kualitas diri dengan semakin mendekat kepada Ilahi.
Mudahkan kami Ya Rabb.
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Dipersembahkan oleh:
http://www.iman-islam.com
Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
🗳Sebarkan dan raihlah pahala …

Puasa Arafah Salah Hari

*Ustadz Menjawab*
_Ahad, 11 September 2016_
🌴Ustadzah Rochma Yulika
🍃🍃 *Puasa Arafah*
Assalamualaikum ustad mau tanya jika puasa arafah jatuh pada hari minggu. Dan pusasa arafah nya dilaksanakan pada hari sabtu. Apa tetap sah puasa arafahnya?  Mohon penjelasannya syukron
# A 41
================
Jawaban
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Ya puasa arafah itu dimana yang haji sedang di Arafah untuk wukuf.
Setiap amal meski sekecil apa pun bernilai
Ketika puasa dia mendapat nilai puasa tetapi bukan Arafah krn tidak ketika yang haji wukuf.
Wallahu A’lam.
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃
Dipersembahkan oleh:
🌍 Website: www.iman-islam.com
📲 Telegram: https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page: https://m.facebook.com/majelismanis/
📸Instagram: httpz://twitter.com/majelismanis/
🕹 Play Store: https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📮 Twitter: https://twitter.com/grupmanis

Meniti Hari Tuk Kehidupan Hakiki

📆 Jumat, 7 Dzulhijjah 1437H / 9 September 2016
📚 MOTIVASI

📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika
📋  Meniti Hari Tuk Kehidupan Hakiki
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Berbekal keyakinan tuk meniti perjalanan.
Meski kita tak pernah tahu apa yang ada di hadapan.
Menguatkan asa bagai mengukir di atas batu.
Sesulit apa pun tetap berjuang dan tak pernah kenal jemu.
Tak ada yg mustahil dalam dunia ini jika ada kata usaha.
Karena sesungguhnya mustahil itu tidak ada.
Keterbatasan diri untuk mengetahui yang tak pasti mengajarkan pada kita untuk senantiasa dalam penjagaan.
Meski beralas keraguan, meski beratap ketidakpastian.
Tetap melangkah menjemput cita dengan berbekal keimanan.
Tak secuil keinginan tuk menyerah walau terkadang harus berlelah.
Tak sedikit pun mundur walau tubuh akan hancur.
Tak selintas pikiran tuk buang harapan walau harus berkawan kesulitan, pun berteman rintangan.
Seringkali kita gagal lantaran kita disibukkan berbincang tentang kegelapan, bukan mencari lilin untuk jadi penerangan.
Seringkali pula kita ramai mencari kesalahan, bukan mencari titik terang yang mengantarkan pada kebenaran.
Terlalu naif bila kita disibukkan melihat cela teman .
Buruk budi bila hanya ingin cari perselisihan.
Tak pernah kita sadari musuh sudah siap menyerang.
Tak pernah kita peduli lawan sudah bersiaga untuk menantang.
Menata diri jadi bagian kewajiban setiap insan.
Untuk layak bila kan menghadap Tuhan.
Hanya amal dan perbuatan yang bisa dibawa saat tiba kematian.
Jangan sampai kita mengalami kerugian.
Hingga berakhir pada jalan kesesatan yang menelungkupkan kita pada nyala
api yang telah dikobarkan.
Semua harus beralaskan keimanan yang kokoh kepada Rabb pencipta alam semesta ini.
Bukanlah keimanan jika masih ada keraguan. Bukanlah ketakwaan bila masih ada penolakan.
Memilih menjadi pribadi yang tsabat agar selamat dunia hingga akhirat.
Hidup bersama dalam bahagia karena bisa berjumpa dengan kekasih sejati kita,
Dialah Allah subhanahu wata’ala.
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Dipersembahkan oleh:
http://www.iman-islam.com
Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
🗳Sebarkan dan raihlah pahala …

Tegar Melangkah di Jalan yang Benar

📆 Jumat, 30 Dzulqo’dah 1437H / 2 September 2016
📚 *MOTIVASI*

📝 Pemateri: *Ustadzah Rochma Yulika*
📋 *Tegar Melangkah di Jalan yang Benar*
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Inilah dunia fana.
Ia nampak begitu mempesona dan tak kuasa diri menolak keindahannya.
Gundah hati  menapaki hari. Kadang lelah tak terperi. Letih dan sedih mengisi hari. Merasai perjalanan hidup ini.
Dalam sujudku.
Selalu ku bermunajat pada sang Penentu.
Tuk senantiasa kuatkan hatiku.
Tuk selalu tuntun langkahku. Agar tak tertipu oleh dunia yang semu.
Ketika hasrat dan taat berpadu dalam relung jiwaku.
Tetap istiqamah tuk menjadi penolong agama Mu
Allahu akbar…
_Jadikan kami manusia-manusia yang tegar saat yang lain terlempar._
_Jadikan kami manusia-manusia tangguh saat yang lain rapuh._
_Jadikan kami manusia-manusia kuat saat yang lain tersesat._
_Dan jadikan kami manusia-manusia mulia saat yang lain terperdaya oleh dunia._
Allahu akbar…
Teringat akan kisah perang Badar. Jiwa-jiwa ksatria yang tak pernah gentar.
Meski musuh berjumlah jauh lebih besar. Namun panji Islam tetap kan berkibar
_Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi._
_”Dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya, apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. (Al Anfal:60)._
Wallahu musta’an.
Seperti kisah berikut ini.
Lelaki renta yang setia menjalani segala amanah yang ada di pundaknya.
Meski melangkah saja tak kuasa, beliau tetap bisa memberikan wejangan kepada anak-anak didiknya.
Meski di kursi roda, semangatnya mampu mengguncang dunia.
Setiap ungkapan yang terucap mempunyai kekuatan yang luar biasa.
Hatinya yang bersih, keikhlasannya yang tulus, dan semangatnya yang membara menjadikan kalimat yang terlontar selalu penuh makna.
Tak lain semuanya dilakukan lantaran keyakinan penuh bahwa Allah pasti akan memberikan kemenangan bagi umat Islam.
Kursi roda setia menemani beliau mengerjakan tugas beratnya.
Tahukah Anda siapakah beliau?
Tak lain dan tak bukan adalah *Syekh Ahmad Yasin*, pemimpin gerakan _Hamas di Palestina_ yang berjuang melawan kekejaman Zionis Yahudi.
Namanya masih kita kenal meski sudah cukup lama beliau meninggalkan dunia ini.
Kenangan akan semangat nya mampu menginspirasi kita semua.
Keteguhannya dalam membela kebenaran dan menegakkan keadilan sungguh tiada terkira.
Perlulah kita mencontoh semangatnya, keteguhan nya, dan keyakinannya.
Meski lelah, letih dan segala kekurangan yang ia miliki takkan pernah menyurutkan keteguhannya di jalan kebaikan. Bersemangat membela kebenaran. Berjuang mencegah kemungkaran.
Begitu pula, ada kisah lain lagi. Ada seseorang yang aktif memperjuangkan keberadaan umat Islam serta memurnikan ajaran-Nya.
Beliau ditanya seberapa besar modal untuk membangun yang dia cita-citakan beserta para muridnya. Dengan lantang beliau menjawab, _“Bukan harta yang menjadi modal, tetapi keimanan dan ketakwaan yang ada pada dada kami yang akan mewujudkannya.”_
Beliau adalah *Hasan al-Banna* yang mendirikan organisasi Ikhwanul Muslimin di Mesir yang memiliki keinginan untuk menyatukan umat yang terpecah-belah.
Para kader pendukungnya bukan orang-orang kaya yang sanggup mengeluarkan infak, melainkan orang-orang yang memiliki semangat yang luar biasa.
Bahkan mereka rela makan dengan sederhana untuk keluarganya.
Mereka mengutamakan infak untuk membesarkan nama dan kejayaan Islam.
Masya Allah, bila semua tak berbekal keyakinan dan kepasrahan kepada Rabb-Nya mereka takkan mampu menjalaninya.
Sahabat Surgaku…..
Bersama Allah solusi itu ada…
Allah Dzat yang memiliki segala sesuatu yang mampu menghadirkan keberkahan dari setiap rezeki yang didapatkan oleh makhluk-Nya.
Keberkahan tak terukur dengan ukuran manusia. Tak terjangkau oleh hitungan logis manusia. Menakjubkan memang. Hingga terkadang uang 1 juta menjadi jauh lebih bisa mencukupi dibanding 10 juta.
Begitu pula kekuatan pasukan perang Badar yang berjumlah 300 orang Muslim sanggup mengalahkan 1000 musuh.
Inilah solusi bila ada keyakinan dalam hati. Yakinlah bersama Allah kita bisa.
Hidup memberi seratus alasan untuk menangis, tetapi Allah akan memberi seribu alasan untuk tersenyum.
Keyakinan akan perniagaan yang tak pernah rugi membuat generasi Rabbani tak kenal henti memperjuang kan diin mulia ini. Merenda asa, mengukir prestasi, meneguhkan jati diri, menggenapkan ketaatan pada ilahi begitulah ciri pejuang sejati.
Tak pernah menyerah ketika kaki sudah melangkah. Lantaran semua sudah diawali dengan basmalah.
Tak menghindar meski harus terkapar. Tak mundur selangkah meski harus berdarah-darah.
Jiwa-jiwa mereka tangguh meski kadang terjatuh. Keterjatuhan tak membuat mereka merana lantaran baginya dengan keterjatuhan itu mereka bisa belajar tentang hidup sesungguhnya.
Jiwa-jiwa mereka kokoh, sekokoh karang di laut yang tak mudah goyah, yang tak mudah runtuh.
Lantaran jiwa mereka telah terisi oleh kecintaan pada sang pemilik alam semesta. *Ibnul Jauzi* dalam bukunya, Shifatus Shafwah, dengan sangat baik hati menyebutkan perkataan *Syumait bin Ajlan* yang menjadi bukti bahwa sejatinya kekuatan orang mukmin ada di hatinya, bukan pada anggota badannya.
Syumaith berkata,
_“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menjadikan kekuatan orang mukmin ada pada hatinya, tidak pada anggota badannya._
_Tidakkah kalian melihat orang tua yang lemah, dia mampu berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari sedangkan pemuda tidak bisa melakukannya.”_
(Shifatus Shafwah : III/341)
Begitulah setiap kisah dari pendahulu kita bisa menjadikan kita banyak mengambil hikmah.
Bukan hanya para nabi dan rasul, maupun para shahabat, melainkan salafush shalih pun kisahnya bisa kita jadikan pegangan dalam mengarungi bahtera kehidupan ini.
Wallahu A’lam bis Shawab
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁
Dipersembahkan oleh:
http://www.iman-islam.com
Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
🗳Sebarkan dan raihlah pahala …