Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

AKRAB DENGAN AL-QURAN (Bag-1)

Pemateri: Ust. Ahmad Sahal Lc.

الأُنْسُ بِالْقُرْآنِ بِقِرَاءَتِهِ

MENGAKRABI AL-QURAN DENGAN MEMBACANYA

Beberapa hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan pembelaan Al-Quran kepada orang-orang yang menjadi sahabatnya, diantaranya:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ (رواه مسلم)

Bacalah Al-Quran, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para sahabatnya. (HR. Muslim).

اِقْرَؤُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: الْبَقَرَةَ وَسُوْرَةَ آلِ عِمْرَانَ؛ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا (رواه مسلم)

Bacalah Az-Zahrawain: Al-Baqarah & surat Ali Imran, karena keduanya akan datang di hari kiamat seperti dua awan yang menaungi, atau seperti  dua kawanan burung yang terbang membentangkan sayapnya, untuk membela para sahabat kedua surat itu. (HR. Muslim).

Pemilihan kata ash-hab (para sahabat) mengisyaratkan bahwa keakraban dengan Al-Quran adalah sebuah keharusan bagi yang ingin mendapat pembelaan dari Al-Quran.

FAKTOR UTAMA KEAKRABAN YANG MESTI DIUPAYAKAN OLEH SETIAP MUSLIM ADALAH DENGAN MEMBACANYA SETIAP HARI

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata:

مَا أُحِبُّ أَنْ يَأْتِيَ عَلَيَّ يَوْمٌ وَلاَ لَيْلَةٌ إِلاَّ أَنْظُرُ فِي كِتَابِ اللهِ – يَعْنِي الْقِرَاءَةَ فِي الْمُصْحَفِ

Aku tidak suka datang siang atau malam kecuali (jika) aku melihat kitab Allah – maksudnya membaca mushaf Al-Quran.  (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd halaman 128).

Imam Nawawi rahimahullah dalam bukunya At-Tibyan Fi Adab Hamalah Al-Quran halaman 24 menyatakan:

وَاعْلَمْ أَنَّ الْمَذْهَبَ الصَّحِيْحَ الْمُخْتَارَ الَّذِي عَلَيْهِ مَنْ يُعْتَمَدُ مِنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ قِرَاءَةَ الْقُرْآنَ أَفْضَلُ مِنَ التَّسْبِيْحِ وَالتَّهْلِيْلِ وَغَيْرِهِمَا مِنَ الأَذْكَارِ وَقَدْ تَظَاهَرَتِ الأَدِلَّةُ عَلَى ذَلِكَ وَاللهُ أَعْلَمُ

Dan ketahuilah bahwa madzhab yang shahih dan dipilih oleh para ulama yang menjadi rujukan (ummat) adalah bahwa membaca Al-Quran itu lebih baik dari tasbih, tahlil dan dzikir-dzikir yang lain, dan dalil-dalil yang menunjukkan hal itu sangat jelas, wallahu a’lam.

MEMBACA AL-QURAN SESUAI HUKUM-HUKUM TAJWID

Imam Al-Jazri dalam matan Al-Jazriyah rahimahullah berkata:

وَالأَخْذُ بِالتَّجْوِيْدِ حَتْمٌ لاَزِمُ *** مَنْ لَّمْ يُجَوِّدِ الْقُرْآنَ آثِمُ
لِأَنَّهُ بِهِ الإِلَهُ أَنْزَلاَ *** وَهَكَذَا مِنْهُ إِلَيْنَا وَصَلاَ

Dan menggunakan tajwid adalah keharusan yang lazim, barang siapa yang tidak mentajwidkan Al-Quran maka ia berdosa. Karena dengan tajwidlah Allah menurunkannya, begitu pula (dengan tajwid) ia sampai kepada kita.

MEMBACA AL-QURAN DENGAN FREKUENSI KHATAM AL-QURAN YANG KONTINYU DAN MEMADAI

Yaitu dengan pengerahan batas kemampuan masing-masing selama tidak melalaikan kewajiban, agar melahirkan bentuk keakraban yang lain: HAFALAN.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma:

وَاقْرَأِ القُرْآنَ فِي كُلِّ شَهْرٍ (رواه البخاري)

Dan bacalah (khatamkan) Al-Quran dalam setiap bulan. (HR. Bukhari).
Ketika Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash menyatakan kesanggupan lebih dari itu Rasulullah bersabda:

وَاقْرَأْ فِي كُلِّ سَبْعِ لَيَالٍ مَرَّةً

Dan bacalah dalam setiap tujuh malam sekali (khatam).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

اَلصَّحِيْحُ عِنْدَهُمْ فِي حَدِيْثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّهُ انْتَهَى بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى سَبْعٍ، كَمَا أَنَّهُ أَمَرَهُ ابْتِدَاءً بِقِرَاءَتِهِ فِي شَهْرٍ، فَجَعَلَ الْحَدَّ مَا بَيْنَ الشَّهْرِ إِلَى الأُسْبُوْعِ. وَقَدْ رُوِيَ أَنَّهُ أَمَرَهُ ابْتِدَاءً أَنْ يَقْرَأَهُ فِي أَرْبَعِيْنَ، وَهَذَا فِي طَرَفِ السَّعَةِ يُنَاظِرُ التَّثْلِيْثَ فِي طَرَفِ الاِجْتِهَادِ

Yang shahih menurut mereka (para ulama) tentang hadits Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhenti di tujuh (malam) sebagaimana beliau telah memerintahkan di awal untuk membacanya dalam sebulan, jadi beliau membuat batas antara sebulan hingga sepekan.  Dan telah diriwayatkan bahwa beliau menyuruhnya pertama kali untuk membacanya dalam empat puluh hari, dan ini dalam sisi keluasan (relatif santai) sebanding dengan 3 hari khatam dalam situasi pengerahan kesungguhan. (Majmu’ Al-Fatawa, 13/407).

Dalam kisah Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa yang mengkhatamkan Al-Quran kurang dari 3 hari maka ia tidak akan paham:

لَمْ يَفْقَهْ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ (رواه أبو داود والترمذي والنسائي وغيرهم قال الترمذي حديث حسن صحيح)

Tidak akan paham siapa yang membaca Al-Quran dalam waktu kurang dari tiga hari. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai dan lainnya. Tirmidzi berkata: hadits hasan shahih).

Namun hadits ini tidak menafikan pahala atau balasan bacaan Al-Quran bagi orang yang mengkhatamkan Al-Quran kurang dari 3 hari, yang dinafikan adalah pemahaman.

Oleh karena itu, Ibnu Rajab Al-Hambali memahami hadits ini sebagai larangan melakukannya sebagai kebiasaan, dan berpendapat boleh melakukannya untuk mendapatkan pahala yang besar di waktu-waktu dan tempat-tempat yang memiliki keutamaan seperti bulan Ramadhan atau di kota Makkah.

وَإِنَّمَا وَرَدَ النَّهْيُ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي أَقَّلَّ مِنْ ثَلاَثٍ عَلَى الْمُدَاوَمَةِ عَلَى ذَلِكَ، فَأَمَّا فِي الأَوْقَاتِ الْمُفَضَّلَةِ كَشَهْرِ رَمَضَانَ خُصُوْصًا اللَّيَالِي الَّتِي يُطْلَبُ فِيْهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ، أَوْ فِي الأَمَاكِنِ الْمُفَضَّلَةِ كَمَكَّةَ لِمَنْ دَخَلَهَا مِنْ غَيْرِ أَهْلِهَا فَيُسْتَحَبُّ الإِكْثَارُ فِيْهَا مِنْ تِلاَوَةِ القُرْآنِ اِغْتِنَامًا لِلزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَهُوَ قَوْلُ أَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ وَغَيْرِهِمَا مِنَ الأَئِمَّةِ، وَعَلَيْهِ يَدُلُّ عَمَلُ غَيْرِهِمْ

Terdapat larangan membaca seluruh Al-Quran kurang dari tiga hari hanya bagi yang melakukannya terus menerus.

Sedangkan pada waktu-waktu utama seperti bulan Ramadhan khususnya malam-malam yang dicari darinya lailatul qadar, atau di tempat-tempat utama seperti Mekkah bagi yang memasukinya dan bukan penduduknya, maka dianjurkan untuk memperbanyak tilawah Al-Quran mengoptimalkan waktu dan tempat tersebut.

Dan ia adalah pendapat Ahmad, Ishaq dan imam-imam selain mereka berdua. Dan yang dilakukan oleh selain mereka juga menunjukkan hal ini. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm 171).

Pendapat yang sama juga tersirat dari pesan Syaikh Hasan Al-Banna rahimahullah kepada para aktifis da’wah yang tidak menganjurkan khatam kurang dari 3 hari sebagai wirid yang rutin:

أَنْ يَكُونَ لَكَ وِرْدٌ يَوْمِيٌّ مِنْ كِتَابِ اللهِ لاَ يَقِلُّ عَنْ جُزْءٍ، وَاجْتَهِدْ أَلاَّ تَخْتِمَ فِي أَكْثَرَ مِنْ شَهْرٍ، وَلاَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ

Hendaklah ada wirid harian untukmu dari Kitab Allah tidak kurang dari satu juz, dan bersungguh-sungguhlah agar jangan sampai khatam lebih dari sebulan, dan jangan kurang dari tiga hari. (Risalah Ta’alim, kewajiban pertama dari 38 wajibat al-akh al-amil).

Anjuran Imam Nawawi kepada pembaca Al-Quran setelah menyebutkan riwayat salaf shalih tentang beragam jumlah khatam Al-Quran mereka:

وَالْمُخْتَارَ أَنَّهُ يَسْتَكْثِرُ مِنْهُ مَا يُمْكِنُهُ الدَّوَامُ عَلَيْهِ وَلاَ يَعْتَادُ إِلاَّ مَا يَغْلِبُ عَلَى ظَنِّهِ الدَّوَامُ عَلَيْهِ فِي حَالِ نَشَاطِهِ وَغَيْرِهِ. هَذَا إِذَا لَمْ تَكُنْ لَهُ وَظَائِفُ عَامَّةٌ أَوْ خَاصَّةٌ يَتَعَطَّلُ بِإِكْثَارِ الْقُرْآنِ عَنْهَا فَإِنْ كَانَتْ لَهُ وَظِيْفَةٌ عَامَّةٌ كَوِلاَيَةٍ وَتَعْلِيْمٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَلْيُوَظِّفْ لِنَفْسِهِ قِرَاءَةً يُمْكِنُهُ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا مَعَ نَشَاطِهِ وَغَيْرِهِ مِنْ غَيْرِ إِخْلاَلٍ بِشَيْءِ مِنْ كَمَالِ تِلْكَ الوَظِيْفَةِ وَعَلَى هَذَا يُحْمَلُ مَا جَاءَ عَنِ السَّلَفِ وَاللهُ أَعْلَمُ

Yang terbaik adalah hendaknya ia memperbanyak membaca Al-Quran (dengan frekuensi khatam) yang mungkin ia jaga kontinyuitasnya.

Dan jangan membiasakan kecuali yang ia duga kuat dapat melakukannya dengan kontinyu di saat bersemangat atau tidak bersemangat. Ini jika ia tidak memiliki wazhifah (pekerjaan atau tugas) umum atau khusus yang akan terganggu jika ia memperbanyak membaca Al-Quran.

Jika memiliki pekerjaan untuk kepentingan umum seperti pemimpin wilayah atau mengajar atau lainnya maka hendaklah ia menetapkan bacaan Al-Quran yang mungkin ia pelihara saat bersemangat atau tidak bersemangat tanpa mengganggu kesempurnaan pelaksanaan tugasnya.

Beginilah pemahaman terhadap riwayat dari salaf shalih (tentang frekuensi khatam Al-Quran mereka). (Syarh An-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, 8/43).

Imam Nawawi rahimahullah menekankan betul aspek dawam (kontinyu) karena ia lebih disukai oleh Allah dalam setiap amal:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اكْلَفُوا مِنَ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ، حَتَّى تَمَلُّوا، وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ، وَإِنْ قَلَّ»، وَكَانَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ (رواه أبو داود في سننه وصحّحه الألباني)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Lakukanlah amal yang kalian sanggupi, karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian bosan. Dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang lebih kontinyu meskipun sedikit.” (Aisyah melanjutkan): Dan jika Rasulullah melakukan suatu amal, ia akan menetapkannya (untuk seterusnya). (HR. Abu Dawud dalam Sunannya dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Insya Allah bersambung ke bagian ke-2


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

berdoa setelah membaca alfatihah

Surat Al Fatihah (Bag. 3 – habis)

Pemateri: Ust. AHMAD SAHAL Lc.

Sub Tema 2: Jalan ibadah yang benar

Barangsiapa yang mengenal Allah dengan sifat-sifat seperti dijelaskan oleh ayat 1 sampai ayat 4 (pada bagian 2 tulisan ini) maka akal sehat dan kejernihan hatinya pasti akan mengantarkannya kepada satu kesimpulan bahwa hanya Dialah yang berhak untuk diibadahi (tauhid & ikhlas).

Namun untuk memastikan bahwa kita telah beribadah dengan benar, kita memerlukan petunjuk dari Allah tentang jalan ibadah itu sendiri berupa tata cara dan contoh yang diberikan oleh mereka yang sebelumnya telah mendapat petunjuk itu.

Ayat 5 dan 6 berbicara tentang sub tema kedua ini.
Jadi sub tema kedua ini mengandung beberapa poin:

١– إِخْلَاصُ الْعِبَادَةِ للهِ
٢- الاِسْتِعَانَةُ بِاللهِ عَلَى تَحْقِيْقِهِ
٣- سُلُوكُ الطَّرِيْقِ الْمُسْتَقِيْمِ

1⃣. Memurnikan ibadah hanya untuk Allah
2⃣ Memohon pertolongan kepada Allah untuk merealisasikannya
3⃣. Menempuh jalan yang lurus

Ayat 5

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepadaMu kami beribadah, dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan.

Ini adalah ikrar setiap muslim untuk selalu beribadah hanya kepada Allah – tidak menyekutukanNya dengan apapun dan siapapun, dan untuk memohon pertolongan hanya kepada Allah dalam hal-hal yang tak dapat dilakukan oleh sesama makhluk atau yang dilarang kita melakukannya.

Di dalam ayat ini terdapat beberapa poin penting, diantaranya:

 Penegasan tentang tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah sebagai konsekuensi dari tauhid rububiyah yang disebutkan di ayat sebelumnya.

Maksudnya bahwa Dzat yang menciptakan, mengatur dan memiliki kekuasaan mutlak atas makhlukNya di dunia dan akhirat, maka hanya Dialah yang berhak untuk diberikan segala bentuk peribadatan. (Lihat ayat yang senada dengan hal ini misalnya Al-Baqarah ayat 21-22).

 Ibadah didahulukan daripada isti’anah (mohon pertolongan) karena hamba yang sedang mengucapkan ikrar ini mengedepankan adab kepada Allah sehingga ia lebih memuliakan hak Allah daripada hak dirinya.

Atau karena ibadah lebih
kuat kaitannya dengan ayat sebelumnya sementara isti’anah adalah mukadimah permohonan pada ayat setelahnya.

 Untuk mewujudkan tauhid kepada Allah kita memerlukan pertolongan dariNya, atau dengan kata lain ibadah sebagai tujuan, sedangkan isti’anah sebagai jalan.

 Meskipun seorang muslim membaca ayat ini sendirian, ia tetap membacanya dengan ungkapan “na’budu” (kami beribadah) dan “nasta’in” (kami mohon pertolongan), untuk menegaskan bahwa spirit berjamaah harus selalu ada dalam dirinya, bahwa ia selalu bersama saudara seiman di mana dan kapan pun mereka hidup.

وإذا كان الله وحده هو الذي يُعبد، والله وحده هو الذي يُستعان، فقد تخلص الضمير البشري من استذلال النظم والأوضاع والأشخاص، كما تخلص من استذلال الأساطير والأوهام والخرافات

 Bila hanya Allah yang diibadahi dan dimintai pertolongan, maka nurani manusia telah terbebas dari penindasan berbagai sistem (buatan manusia), situasi (yang direkayasa) dan sosok (yang diktator), juga bebas dari penghinaan keyakinan berdasarkan dongeng, mitos dan khurafat. (Fi Zhilal Al-Quran, 1/25).

Ayat 6

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjuki kami jalan yang lurus.

Setelah mengikrarkan bahwa hanya kepadaMu ya Allah kami mohon pertolongan, maka hal penting dan utama yang diminta dan diperlukan oleh seorang hamba untuk dapat ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan mentauhidkanNya adalah jalan yang lurus yang menjelaskan tata cara ibadah yang benar.

Yang dimaksud dengan jalan yang lurus adalah ISLAM sesuai riwayat dari Abdullah bin Abbas ra, atau Al-Quran seperti riwayat dari Ali bin Abi Thalib ra. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/137-138).

Seorang muslim selalu memohon hidayah jalan yang lurus untuk dirinya dan saudara-saudaranya, yaitu hidayah untuk tetap berislam dan berpegang teguh kepada Al-Quran dan penjelas Al-Quran, yakni Sunnah atau Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 Islam adalah aqidah (keyakinan) dan syari’ah (aturan) yang kita mohonkan kepada Allah agar kita diberi hidayah untuk memahami sekaligus mengikuti dan mengamalkannya.

Hidayah untuk memahami kebenaran dinamanakan “hidayah irsyad/bayan” sedangkan hidayah agar kita mengikuti kebenaran disebut dengan “hidayah taufiq”.

Dalam doa ma’tsur disebutkan:

اللَّهُمَّ أَرِنِي الْحَقَّ حَقًّا وَوَفِّقْنِي لِاتِّبَاعِهِ وَأَرِنِي الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَوَفِّقْنِي لِاجْتِنَابِهِ

Ya Allah, perlihatkan kepadaku bahwa yang benar itu benar dan berikan taufiq (bimbingan) kepadaku untuk mengikutinya, dan perlihatkan kepadaku bahwa yang salah itu salah dan berikan taufiq kepadaku untuk  menjauhinya.

(Manshur bin Yunus Al-Bahuti Al-Hambali dalam Syarah Muntaha Al-Iradat (3/497) menyebutkannya sebagai doa Umar bin Khathab ra, Abu Thalib Al-Makky dalam Qut Al-Qulub (1/142) menyebutkannya dengan sedikit perbedaan redaksi sebagai doa Abu Bakar ra, sedangkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya (1/571) menyebutkannya sebagai doa ma’tsur tanpa menyebutkan siapa pemilik doa).

Beberapa BENTUK HIDAYAH yang kita perlukan agar kita sampai kepada ridhaNya:

Hidayah untuk memiliki keyakinan yang benar tentang seluruh rukun iman

 Hidayah untuk bertaubat dari dosa yang telah kita lakukan karena meninggalkan yang wajib atau mengerjakan yang haram, atau bertobat dari meninggalkan yang sunnah atau mengerjakan yang makruh, atau berlebihan dalam hal-hal yang mubah.

 Hidayah untuk memperbaiki kualitas dan atau kuantitas amal shalih yang telah kita lakukan

 Hidayah berupa keinginan kuat untuk melaksanakan amal shalih yang sebenarnya mampu kita laksanakan tetapi belum kita lakukan karena kemauan yang lemah.

 Hidayah agar mampu melaksanakan amal shalih yang amat ingin kita lakukan.

 Hidayah agar tsabat (tetap dan teguh) dalam kebaikan yang telah kita lakukan dengan baik hingga akhir hayat dan meraih husnul khatimah.

 Hidayah agar kita istiqamah di dalam semua bentuk hidayah di atas bahkan selalu diberi tambahan.

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

Dan orang-orang yang mau menerima hidayah, Allah menambah hidayah mereka dan mendatangkan untuk mereka ketakwaan. (Muhammad: 17).

 Sub Tema 3:

Penjelasan tentang salikin (orang-orang yang menempuh) jalan ibadah yang benar dan munharifin (orang-orang yang menyimpang) darinya.

 Ayat 7

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai, dan bukan pula mereka yang sesat.

Sub tema 3 memberi penjelasan tentang siapakah orang yang telah ditunjuki oleh Allah sehingga mereka dapat menempuh jalan ibadah yang lurus ini?

Mereka adalah orang-orang yang diberi ni’mat oleh Allah berupa:

1. صِحَّةُ الْفَهْمِ

Pemahaman yang benar

2. حُسْنُ الْقَصْدِ

Maksud yang baik

Pemahaman yang benar menghindarkan mereka dari penyakit syubuhat (kerancuan keyakinan) sehingga mereka tidak tersesat, sedangkan maksud atau niat yang baik menjauhkan mereka dari penyakit syahwat (memperturutkan nafsu) sehingga mereka tidak dimurkai oleh Allah.

Mereka adalah para nabi, orang-orang yang shidiq, para syuhada dan orang-orang shalih sebagaimana dijelaskan di surat An-Nisa ayat 69:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan RasulNya (Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

 Ayat ini menjelaskan bahwa satu-satunya jalan yang lurus saat ini adalah agama Islam yang diaplikasikan dalam bentuk ketaatan kepada Allah (Al-Quran) dan Muhammad Rasulullah (Sunnah atau Hadits)

Merekalah yang akan membersamai orang-orang yang sebelumnya telah diberi ni’mat oleh Allah yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin.

Sedangkan orang-orang yang menyimpang dari jalan yang lurus adalah mereka yang dimurkai dan yang tersesat.

Orang-orang yang dimurkai oleh Allah adalah mereka yang telah diberi pengetahuan tentang kebenaran nabi Muhammad tetapi tetap membangkang karena memperturutkan berbagai bentuk syahwat mereka.

Sementara orang-orang yang SESAT adalah mereka yang tidak mengenal jalan kebenaran bisa jadi disebabkan oleh kurangnya usaha menuntut ilmu, atau tidak menelaah lagi keyakinan dan jalan yang mereka tempuh dengan timbangan dalil, baik dalil sam’i (wahyu) maupun dalil aqli (logika akal sehat) yang dibimbing oleh wahyu.

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan (wahyu) atau memikirkan (dengan akal sehat) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk: 10)

Islam sebagai syariat yang dibawa oleh Rasulullah wajib diimani oleh seluruh ummat manusia yang hidup sejak beliau diutus hingga manusia akhir zaman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّة يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ (رواه مسلم)

“Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidak seorangpun yang mendengar tentang aku dari umat (manusia) ini, seorang Yahudi atau Nasrani, kemudian meninggal dunia dan tidak beriman kepada syariat yang aku diutus untuk membawanya, kecuali ia termasuk penghuni neraka”. (HR. Muslim)

Sementara Islam sebagai aqidah tauhid merupakan agama seluruh nabi dan rasul alaihimussalam, tak ada satupun nabi atau rasul yang mengajak ummatnya kepada penyembahan dirinya atau makhluk lain selain Allah, sebagaimana firmanNya tentang Nabi Ibrahim alaihissalam:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif (lurus bertauhid) lagi muslim (berserah diri kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.
Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. (Ali Imran: 67-68).

Juga firmanNya tentang Isa alaihissalam:

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَاعِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah?”

Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya).

Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu:
“Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”,
dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (Al-Maidah: 116-117).

Dan Allah menamakan semua nabi & pengikutnya sebagai kaum muslimin:

مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian “orang-orang muslim” dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hajj: 78).

والله أعلم بالصواب


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

berdoa setelah membaca alfatihah

Tema Sentral Surah Al Fatihah

📝 Pemateri: Ustadz Ahmad Sahal, Lc

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

Tema sentral surat Al-Fatihah adalah:

تَحْقِيْقُ العُبُودِيَّةِ للهِ وَحْدَهُ

Realisasi penghambaan hanya kepada Allah semata.

Karena ia adalah tujuan agung dan utama penciptaan manusia dan jin, maka amat sesuai jika surat teragung di dalam Al-Quran memiliki tema sentral ini.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu (Adz-Dzariyat: 56)

Sub Tema

Dari tema sentral tersebut, surat Al-Fatihah dapat kita bagi menjadi tiga sub tema:

1- مَعْرِفَةُ اللهِ تَعَالَى الْمَعْبُودِ الْحَقِّ

2- طَرِيْقُ الْعِبَادَةِ الصَّحِيْحَةِ

3- بَيَانُ السَّالِكِيْنَ فِي طَرِيْقِ العِبَادَةِ الصَّحِيْحَةِ وَ الْمُنْحَرِفِينَ عَنْهُ

1. Pengenalan terhadap Allah ta’ala al-ma’bud (yang berhak diibadahi) dengan sebenarnya

2. Jalan ibadah yang benar

3. Penjelasan tentang salikin (orang-orang yang menempuh) jalan ibadah yang benar dan munharifin (orang-orang yang menyimpang) darinya.

Sub Tema 1: Pengenalan terhadap Allah Al-Ma’bud Al-Haq

Untuk merealisasikan penghambaan yang benar kepada Allah subhanahu wata’ala, maka yang pertama diperlukan adalah mengenal Allah, satu-satunya Dzat yang berhak diberikan segala bentuk ibadah. Ayat 1 sampai ayat 4 mengajak kita untuk mengenal-Nya.

Ayat 1

Aku atau kami memulai segala sesuatu yang baik dengan nama Allah ta’ala, satu-satunya yang berhak diibadahi, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sayid Quthb berkata:

والبدء باسم الله هو الأدب الذي أوحى الله لنبيه- صلى الله عليه وسلم- في أول ما نزل من القرآن باتفاق، وهو قوله تعالى: «اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ … » .. وهو الذي يتفق مع قاعدة التصور الإسلامي الكبرى من أن الله «هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْباطِنُ» .. فهو- سبحانه- الموجود الحق الذي يستمد منه كلُّ موجود وجودَه، ويبدأ منه كل مبدوء بدأه. فباسمه إذن يكون كل ابتداء. وباسمه إذن تكون كل حركة وكل اتجاه

Memulai dengan nama Allah adalah adab yang diwahyukan Allah kepada NabiNya – shallallahu ‘alaihi wasallam – di awal turunnya Al-Quran yang disepakati oleh para ulama yakni firman Allah: “Bacalah dengan nama Rabb-mu …” Dan ia sesuai dengan kaidah pemahaman keislaman yang agung bahwa sesungguhnya Allah “Dialah yang Awal, yang Akhir, yang Zhahir dan yang Bathin..” Dialah subhanahu wa ta’ala yang wujud dengan keberadaan yang haq dimana semua yang wujud bersumber dariNya. DariNya pula semua yang dimulai berawal, sehingga dengan namaNyalah hendaknya semua permulaan itu dilakukan, dan dengan namaNya pula hendaknya setiap gerakan dan orientasi (yang baik) diwujudkan. (Fi Zhilal Al-Quran, 1/21).

Ayat 2

Al-hamdu (segala puji) merupakan pembuka ungkapan syukur kepada Allah, oleh karenanya pantas ia dijadikan pembuka tilawah kitabNya. Al-hamdu juga penutup ungkapan syukur, sehingga ia juga menjadi penutup ucapan para penduduk surga:

وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dan penutup doa mereka ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ´aalamin” (Yunus: 10)

Saat Allah menegaskan bahwa segala puji hanya milikNya, Ia menjelaskan alasannya yakni karena Dia adalah Rabb alam semesta, artinya bahwa hanya Allah saja yang memiliki, menciptakan, mengatur, memberi ni’mat kepada mereka dan yang sempurna kekayaanNya sedangkan seluruh alam semesta amat terrgantung kepadaNya.

Ayat 3

Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Setelah Allah memperkenalkan diriNya bahwa ia adalah Rabbul ‘alamin, Ia memperkenalkan juga bahwa Ia adalah Ar-Rahman Ar-Rahim untuk menjelaskan bahwa kekuasaanNya atas seluruh alam semesta, penciptaan, pengaturan dan pemberian rizkiNya didasari semata oleh kasih sayangNya kepada mereka, bukan karena Dia menghendaki manfaat dari mereka untuk diriNya. Mahasuci Allah dari segala sifat kekurangan.

Oleh karenanya Dia berfirman di ayat yang lain:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (Adz-Dzariyat: 56-58).

Selain itu, Al-Qurthubi berkata:

وَصَفَ نَفْسَهُ تَعَالَى بَعْدَ” رَبِّ الْعالَمِينَ”، بِأَنَّهُ “الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ”، لِأَنَّهُ لَمَّا كَانَ فِي اتِّصَافِهِ بـِ” رَبِّ الْعالَمِينَ” تَرْهِيبٌ قَرَنَهُ بِـ” الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ”، لِمَا تَضَمَّنَ مِنَ التَّرْغِيبِ، لِيَجْمَعَ فِي صِفَاتِهِ بَيْنَ الرَّهْبَةِ مِنْهُ، وَالرَّغْبَةِ إِلَيْهِ، فَيَكُونُ أَعْوَنَ عَلَى طَاعَتِهِ وَأَمْنَعَ، كَمَا قَالَ:” نَبِّئْ عِبادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذابِي هُوَ الْعَذابُ الْأَلِيمُ”

Allah menerangkan tentang diriNya setelah “Rabbul ‘alamin” bahwa sesungguhnya Dia adalah Ar-Rahman Ar-Rahim, karena pada sifatNya sebagai Rabbul alamin terdapat tarhib (penanaman rasa gentar), maka Dia menyandingkan dengan sifat Rahman & Rahim yang mengandung targhib (penumbuhan rasa harap), agar bergabung dalam sifat-sifatNya rasa gentar hamba terhadapNya dan rasa harap kepadaNya sekaligus, sehingga akan lebih membantu ketaatan kepadaNya dan lebih mencegah dari bermaksiat kepadaNya, seperti firmanNya:

Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih. (Al-Hijr: 49-50). (Tafsir Al-Qurthubi, 1/139).

Ayat 4

Pemilik (Raja) hari pembalasan

Jika sifat Rabbul ‘Alamin secara lahiriah menunjukkan permulaan penciptaan makhluk dan proses pemeliharaan mereka, maka sifat “Pemilik (Raja) hari pembalasan” menunjukkan akhir seluruh makhluk dan pengadilan dan pembalasan atas amal perbuatan mereka. Disamping itu ia menunjukkan kekuasaan dan kepemilikanNya yang tak terbatas oleh tempat dan waktu, bahwa Dia adalah satu-satunya Penguasa dan Pemilik di awal dan akhir, di alam dunia dan akhirat, tak ada sekutu bagiNya.

Ayat ini juga untuk menegaskan bahwa kasih sayangNya kepada hambaNya jangan sampai membuat lupa mereka tentang mentalitas masuliyyah (bertanggung jawab) atas segala pilihan keyakinan & perbuatan mereka di dunia. Juga untuk mengingatkan mereka bahwa jika perbuatan mereka tidak dibalas dengan semestinya di dunia karena kezaliman atau ketidakadilan manusia yang berkuasa, masih ada keadilan hakiki di akhirat kelak yang tak ada satupun yang luput darinya.

… وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا (47) وَعُرِضُوا عَلَى رَبِّكَ صَفًّا لَقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّنْ نَجْعَلَ لَكُمْ مَوْعِدًا (48) وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَاوَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا (49)

dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka. Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian. Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.” (Al-Kahfi: 47-49).

Sub Tema 2: Jalan ibadah yang benar

Barangsiapa yang mengenal Allah dengan sifat-sifat seperti dijelaskan oleh ayat 1 sampai ayat 4, maka akal sehat dan kejernihan hatinya pasti akan mengantarkannya kepada satu kesimpulan yang pasti bahwa hanya Dialah yang berhak untuk diibadahi (tauhid & ikhlas). Namun untuk memastikan bahwa kita beribadah dengan benar kita memerlukan petunjuk dari Allah tentang jalan ibadah itu sendiri berupa tata cara dan contoh yang diberikan oleh mereka yang sebelumnya telah mendapat petunjuk itu.
Bersambung …


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

berdoa setelah membaca alfatihah

Surat Al Fatihah (Bag. 1)

📝 Pemateri: Ahmad Sahal, Lc

Surat Al-Fatihah adalah makkiyyah (diturunkan sebelum hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah) menurut pendapat yang lebih kuat. Dalilnya adalah bahwa surat Al-Fatihah disebutkan oleh surat Al-Hijr ayat 87:

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Quran yang agung. (Al-Hijr: 87)

Sedangkan para ulama sepakat bahwa surat Al-Hijr termasuk surat makkiyyah.PenamaanBanyak nama yang disematkan untuk surat Al-Fatihah. Dalam pembahasan ini hanya disebutkan beberapa nama yang bersandar dari Al-Qur’an atau Hadits Rasulullah saw saja, diantaranya:

1. Fatihatul Kitab (Pembuka Al-Qur’an) berdasarkan hadits Rasulullah saw:

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ (رواه البخاري)

Tidak sah shalat bagi siapa yang tak membaca Fatihatul Kitab (HR. Al-Bukhari)

Dinamakan Fatihatul Kitab karena surat ini menjadi pembuka bacaan Al-Quran baik secara lisan  saat dilafalkan maupun secara tulisan di dalam mushaf. Surat ini juga menjadi pembuka bacaan yang wajib dalam shalat.

2. Ummul Qur’an sesuai hadits Rasulullah saw:

مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيْهَا بِأُمِّ القُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ –ثَلَاثًا- غَيْرُ تَمَامٍ  (رواه مسلم)

Siapa yang melaksanakan shalat tidak membaca ummul qur’an maka ia tidak sempurna – 3x – (HR. Muslim)Berkata Imam Al-Baidhawi:

وتسمى أم القرآن، لأنها مفتتحه ومبدؤه فكأنها أصله ومنشؤه، ولذلك تسمى أساسا. أو لأنها تشتمل على ما فيه من الثناء على الله سبحانه وتعالى، والتعبد بأمره ونهيه وبيان وعده ووعيده. أو على جملة معانيه من الحكم النظرية، والأحكام العملية التي هي سلوك الطريق المستقيم والاطلاع على مراتب السعداء ومنازل الأشقياء

Dinamakan ummul quran karena ialah yang membuka dan memulai (Al-Quran) seolah ia adalah asal dan sumbernya, oleh karena itu ia dinamakan juga asas. Atau karena sesungguhnya ia mengandung sanjungan kepada Allah, ta’abbud (beribadah) dengan perintah & laranganNya serta penjelasan janji & ancamanNya. Atau karena ia mencakup sejumlah nilai-nilai agung berupa hikmah teoritis dan hukum-hukum praktis yang merupakan suluk (perjalanan) menempuh jalan yang lurus, menelaah derajat ketinggian orang-orang yang berbahagia dan level kerendahan orang-orang yang sengsara. (Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil (1/25)(3. As-Sab’ul Matsani & Al-Quran Al-Azhim

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Quran yang agung. (Al-Hijr: 87)Al-Hasan Al-Bashri menjelaskan alasan dinamakan As-Sab’ul-Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang): karena ia diulang-ulang pada setiap rakaat shalat baik yang wajib maupun nafilah (tambahan/sunnah). (Jami’ul Bayan fi Ta’wili Ayil Qur’an, At-Thabari, 1/107-109)

Ada juga yang berpendapat bahwa kata Al-Matsani berasal dari ististna (pengecualian) seperti pendapat Mujahid dan juga diriwayatkan oleh Said bin Jubair dari Ibnu Abbas dengan sanad hasan dan kuat:

سميت مثاني لأن الله استثناها لهذه الأمة فذخرها لهم فلم يعطها أمة قبلهم

Dinamakan matsani karena Allah mengecualikannya (mengkhususkannya) untuk ummat ini (ummat Rasulullah saw) maka Dia menyimpannya untuk mereka tidak diberikanNya kepada ummat sebelum mereka. (Ma’anil Quran, An-Nahhas, 1/18; Tafsir Al-Baghawi 1/1; Mafatihul Ghaib, Ar-Razi, 1/159).Sedangkan nama “Al-Qur’an Al-Azhim untuk surat Al-Fatihah adalah seperti yang juga disebutkan oleh ayat di atas dan beberapa hadits Rasulullah saw, diantaranya:

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ العَظِيمُ الَّذِي أُوْتِيْتُهُ

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin dialah tujuh (ayat) yang diulang-ulang dan Al-Qur’an Al-Azhim yang telah diberikan kepadaku. (HR. Bukhari)

Dinamakan demikian karena ia adalah surat teragung di dalam Al-Qur’an yang mencakup tujuan-tujuan utamanya.

Al-Qurthubi berkata:

سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِتَضَمُّنِهَا جَمِيعَ عُلُومِ الْقُرْآنِ، وَذَلِكَ أَنَّهَا تَشْتَمِلُ عَلَى الثَّنَاءِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَوْصَافِ كَمَالِهِ وَجَلَالِهِ، وَعَلَى الْأَمْرِ بِالْعِبَادَاتِ وَالْإِخْلَاصِ فِيهَا، وَالِاعْتِرَافِ بِالْعَجْزِ عَنِ الْقِيَامِ بِشَيْءٍ مِنْهَا إِلَّا بِإِعَانَتِهِ تَعَالَى، وَعَلَى الِابْتِهَالِ إِلَيْهِ فِي الْهِدَايَةِ إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَكِفَايَةِ أَحْوَالِ النَّاكِثِينَ، وَعَلَى بَيَانِهِ عَاقِبَةَ الْجَاحِدِينَ

Dinamakan demikian karena kandungannya meliputi seluruh ilmu-ilmu Al-Qur’an, yakni bahwa ia mencakup pujian kepada Allah azza wajalla dengan sifat-sifat kesempurnaan dan keperkasaanNya, mengandung perintah untuk beribadah dan ikhlas dalam beribadah, pengakuan terhadap kelemahan dalam menegakkan ibadah itu tanpa pertolonganNya, mengandung permohonan disertai kehinaan diri agar memperoleh hidayah ke jalan yang lurus, penjelasan tentang keadaan orang yang menyalahi janji/ikrar (tauhid) dan kesudahan akhir para pembangkang. (Tafsir Al-Qurthubi 1/112).Keutamaan

Diantara fadhail (keutamaan) surat Al-Fatihah adalah:

1. Surat Al-Fatihah hanya diberikan kepada Rasulullah saw dan Allah menjanjikan akan diberikan kepada beliau semua isi kandungannya. Bahwa ia adalah cahaya yang  pada hari ia diturunkan, ada satu pintu langit dibuka yang belum pernah dibuka sebelumnya, dan dari pintu itu turun malaikat ke bumi yang belum pernah turun sebelumnya.

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «بَيْنَمَا جِبْرِيْلٌ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صلّى اللهُ علَيهِ وسَلّم سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: هَذَا بَابٌ مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ، فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَقَالَ: هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَسَلَّمَ وَقَالَ: أَبْشِرْ بِنُوْرَيْنِ أُوْتِيْتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ فَاتِحَةِ الكِتَابِ وَخَوَاتِيمَ سُوْرَةِ البَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ حَرْفًا مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيْتَهُ». (رواه مسلم والنسائيّ)

Dari Ibnu Abbas ra ia berkata: Ketika Jibril sedang duduk di sisi Nabi saw, beliau mendengar suara (seperti suara pintu dibuka) di atasnya lalu beliau mengangkat kepalanya. Jibril berkata: ini sebuah pintu di langit telah dibuka hari ini yang belum pernah dibuka kecuali hari ini. Lalu turunlah satu malaikat darinya. Jibril berkata: ini adalah malaikat yang telah turun ke bumi dan belum pernah turun kecuali hari ini, lalu malaikat itu mengucapkan salam dan berkata: bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu, belum pernah ada nabi sebelum engkau yang diberikan keduanya: yaitu fatihatul kitab dan khawatim (ayat-ayat terakhir) surat Al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca satu huruf dari keduanya kecuali pasti engkau akan diberikan (kandungannya). (HR. Muslim & An-Nasai)2. Surat Al-Fatihah adalah surat teragung dalam Al-Quran ( أَنَّهَا أَعْظَمُ سُوْرَةٍ فِي القُرْآنِ )

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya sabda Rasulullah saw kepada Abu Said Al-Mu’alla ra:

لَأُعَلِّمَنَّكَ سُوْرَةً هِيَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِي القُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ

Aku pasti akan mengajarkanmu sebuah surat yang ia adalah surat paling agung dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid..

Kemudian Rasulullah saw menyebutkan surat Al-Fatihah.Ibnu Hajar berkata:

وَالْمُرَادُ بِالْعَظِيمِ عِظَمُ الْقَدْرِ بِالثَّوَابِ الْمُرَتَّبِ عَلَى قِرَاءَتِهَا وَإِنْ كَانَ غَيْرُهَا أَطْوَلَ مِنْهَا وَذَلِكَ لِمَا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ مِنَ الْمَعَانِي الْمُنَاسِبَةِ لِذَلِكَ

Dan yang dimaksud dengan agung adalah keagungan kadar ganjaran yang diperoleh dari membacanya meskipun selainnya lebih panjang darinya. Hal itu karena ia mengandung nilai-nilai (makna) yang sesuai dengan kadar ganjarannya. (Fathul Bari 9/54)3. Tidak ada surat seperti Al-Fatihah baik di dalam Taurat, Zabur, Injil, maupun Al-Quran

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Ubay bin Ka’ab ra membaca surat Al-Fatihah di hadapan Nabi Muhammad saw, lalu Rasulullah bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أُنْزِلَ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الإِنْجِيْلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الفُرْقَانِ مِثْلُهَا إِنَّهَا السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالقُرْآنُ العَظِيمُ الَّذِي أُعْطِيْتُ

Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak pernah diturunkan di dalam Taurat, Injil, Zabur maupun Al-Qur’an yang semisalnya. Ia adalah As-Sab’ul Matsani dan Al-Qur’an Al-Azhim yang telah diberikan kepadaku. (HR. Ahmad, An-Nasai, At-Tirmidzi ia berkata: ini adalah hadits hasan shahih, Al-Hakim ia berkata: ini adalah hadits shahih menurut syarat Muslim sedangkan keduanya (Al-Bukhari & Muslim) tidak meriwayatkannya).

4. Surat Al-Fatihah adalah surat yang wajib dibaca dalam setiap rakaat shalat sehingga shalat tidak sah tanpa membacanya. Shalat adalah aktifitas munajat, dan dipilihnya surat Al-Fatihah agar dibaca dalam setiap rakaat menunjukkan bahwa isinya merupakan munajat terbaik kepada Allah.
Sayid Quthb rahimahullah berkata:

إن في هذه السورة من كليات العقيدة الإسلامية، وكليات التصور الإسلامي، وكليات المشاعر والتوجهات، ما يشير إلى طرف من حكمة اختيارها للتكرار في كل ركعة، وحكمة بطلان كل صلاة لا تذكر فيها..

Sesungguhnya di dalam surat ini terdapat keseluruhan  aqidah islamiyah, keseluruhan gambaran keislaman, keseluruhan perasaan dan arahan yang mengisyaratkan kepada sisi hikmah pemilihannya untuk diulang-ulang pada setiap rakaat, dan hikmah batalnya shalat jika tidak dibaca di dalamnya.. (Fi Zhilal Al-Qur’an 1/21).Tema Sentral

Tema sentral surat Al-Fatihah adalah:

تَحْقِيْقُ العُبُودِيَّةِ للهِ وَحْدَهُ

Realisasi penghambaan hanya kepada Allah semata.Karena ia adalah tujuan agung dan utama penciptaan manusia dan jin, maka amat sesuai jika surat teragung di dalam Al-Quran memiliki tema sentral ini.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu (Adz-Dzariyat: 56)Sub Tema

Dari tema sentral tersebut, surat Al-Fatihah dapat kita bagi menjadi tiga sub tema:

١- مَعْرِفَةُ اللهِ تَعَالَى الْمَعْبُودِ الْحَقِّ
٢- طَرِيْقُ الْعِبَادَةِ الصَّحِيْحَةِ
٣- بَيَانُ السَّالِكِيْنَ فِي طَرِيْقِ العِبَادَةِ الصَّحِيْحَةِ وَ الْمُنْحَرِفِينَ عَنْهُ

1. Pengenalan terhadap Allah ta’ala al-ma’bud (yang berhak diibadahi) dengan sebenarnya
2. Jalan ibadah yang benar
3. Penjelasan tentang salikin (orang-orang yang menempuh) jalan ibadah yang benar dan munharifin (orang-orang yang menyimpang) darinya

Bersambung …


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678