berdoa setelah membaca alfatihah

Kesalahan yang Disengaja dalam Membaca al-Fatihah Ketika Shalat

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Yang penulis maksud dengan kesalahan yang disengaja dalam membaca al-Fatihah di sini adalah ketika seseorang yang sedang shalat lalu dengan sengaja melakukan kesalahan dalam pengucapan lafazh-lafazhnya, atau misalnya ketka ia tidak memperhatikan bacaan yang benar padahal ia mampu membacanya dengan baik dan benar. Dalam hal ini tentu saja ada perbedaan hukum antara yang sengaja dan tidak sengaja, atau karena ketidaktahuan.

Zainuddin al-Malibari (w. 987 H) di dalam Fath al-Mu’in menjelaskan bahwa jika seseorang memang mampu membaca dengan benar, atau memungkinkan untuk belajar, lalu ia mengganti satu huruf dalam surah al-Fatihah dengan huruf lainnya, walaupun misalnya mengganti huruf dhad menjadi zha’, atau melakukan kesalahan dalam hal bacaan yang bisa merusak makna, seperti mengkasrahkan huruf ta’ dalam kata an’amta menjadi an’amti, atau mendhammahkannya menjadi an’amtu. Contoh lain misalnya mengkasrahkan huruf kaf dalam kalimat iyyaka menjadi iyyaki, jika hal itu dilakukan dengan sengaja, bahkan ia sendiri sebenarnya mengetahui keharamannya, maka shalatnya menjadi batal dan tidak sah. Adapun jika tidak disengaja dan tidak mengetahui keharamannya, maka yang tidak sah hanya bacaannya al-Fatihahnya saja, yang jika belum berselang lama kemudian ia membenarkan bacaannya, maka bacaannya menjadi sempurna. Demikian juga, (lanjut beliau) kesalahan bacaan yang tidak sampai merusak makna, seperti membaca huruf dal dalam kata na’budu dengan fathah sehingga menjadi na’buda, jika disengaja, maka hukumnya haram, atau setidaknya makruh.

Al-Malibari juga mencontohkan jika seseorang mengucapkan lafazh ar-rahman tanpa mengidghamkan huruf lam ke dalam huruf ra’ sehingga menjadi al rahman, jika hal itu dilakukan oleh seseorang karena suatu kesengajaan padahal ia mampu membacanya dengan baik, atau oleh orang yang tidak mampu membaca karena tidak mau belajar, maka batal shalatnya. jika tidak demikian, maka yang batal hanyalah bacaan kalimat tersebut saja. Atau misalnya ketika seseorang menghilangkan tasydid pada huruf ya’ dalam lafazh iyyaka, sementara ia sendiri mengerti maknanya, maka ia dihukumi kafir, sebab arti lafazh tersebut berubah maknanya menjadi “sinar matahari”. Sehingga jika demikian maka ayat yang dimaksud bisa berubah arti menjadi (menyembah dan meminta pertolongan kepada sinar matahari’. Adapun jika tidak disengaja, maka hendaknya ia sujud sahwi. Lain lagi misalnya ketika seseorang membaca tasydid huruf-huruf yang sebenarnya tdak bertasydid, maka shalatnya tetap sah, namun tetap saja hukumnya haram, sama seperti ketika ia menghentkan bacaan antara huruf sin dan ta’ dalam kata nasta’in. Wallahu a’lam.[]

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Zina itu utang

Cahaya di atas Cahaya – Tadabbur Surat An-Nur (Bag-1)

📝 Pemateri: Ustadz Dr. H. Saiful Bahri, M.A

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dalam menapaki hidupnya manusia memerlukan petunjuk. Petunjuk ini ibarat secercah cahaya di tengah kegelapan yang pekat.

Luasnya kehidupan yang diarungi oleh manusia yang berada di tengah berbagai nafas dan kepentingan duniawi. Tak jarang dalam kondisi seperti ini manusia melupakan asalnya. Dia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Kehidupan yang diberikan kepadanya adalah sebuah ujian.

Kelak ia akan mempertanggung-jawabkan semua apa yang dilakukannya di dunia.

Dalam interaksi sosial, manusia memerlukan panduan sebagai pijakan. Apalagi bagi seorang muslim, ia lebih memerlukannya.

Dalam Surat Annur yang sedang kita tadabburi kali ini, Allah menurunkan berbagai aturan sebagai cermin sosial seorang muslim dalam berinteraksi. Erat kaitannya dengan interaksi antara laki-laki dan perempuan, adab-adab rumah tangga serta berbagai sikap terhadap penyelewengan sosial.

Dan sebagai contoh riil sejarah, Allah menurunkan beberapa ayat untuk menyikapi fitnah besar berita bohong (ifky) yaitu tuduhan keji orang-orang munafik terhadap Ibunda Aisyah r.a dan Sahabat Shafwan bin Mu’atthal ra.

”Ini (adalah) satu surat yang kami turunkan dan kami wajibkan (menjalankan hukum yang ada di dalam)nya. Dan kami turunkan di dalamnya ayat ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya..” (QS. Annur : 1)

Sebagai salah satu surat yang diturunkan di Madinah, memiliki ciri khusus berupa hukum-hukum dan peraturan.

Secara global dapat kita klasifikasikan dalam beberapa permasalahan pokok sebagai berikut.

Pertama

Pada ayat kedua Allah menjelaskan hukuman bagi pezina baik laki-laki maupun perempuan yaitu didera (dicambuk) 100 kali.

Hukuman ini dikhususkan bagi mereka yang belum pernah menikah. Dan sebagian besar ahli fikih menambahkannya dengan diasingkan selama satu tahun.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ubadah bin Shamit ra. Sedangkan untuk laki-laki dan perempuan yang sudah (pernah) menikah maka dihukum rajam.

Dalam istilah fikih disebut dengan ”muhshan”.

Berdasarkan hadits Nabi saw dan perintah beliau untuk merajam pezina yang muhshan serta berdasarkan apa yang beliau lakukan beberapa kali, juga disepakati oleh para shahabat beliau. ”… dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat… ” (QS. Annur: 2).

Yang dimaksudkan bukan melaksanakan hukuman dengan kejam atau sampai melewati batas. Namun tetap menjaga sisi kemanusiaan.

Hanya saja kadang kita malah berbelas kasihan terhadap orang-orang yang berbuat salah tersebut sehingga meninggalkan penerapan hukuman seperti ini.

Seperti kasus pembunuhan. Kadang kita berdebat tentang nasib si pembunuh, namun sering terlupakan bagaimana ia membunuh korbannya. Tentunya bila sudah sama-sama jelas mana saja pihak yang bersalah.

Dalam masalah perzinaan ini tidaklah sepele, karena untuk menetapkannya perlu persaksian empat orang laki-laki yang melihat secara langsung. Atau dengan pengakuan pihak yang bersangkutan.
Selain itu Allah memerintahkan pelaksanaan hukuman ini dengan disaksikan oleh orang banyak. Hal ini dimaksudkan agar orang-orang bisa mengambil ibrah dan pelajaran dari peristiwa tersebut, serta menjauhi perbuatan buruk dan keji ini. Dan Allah menyediakan jalan keluar yang halal, yaitu dengan pernikahan.

Penegasan Allah tentang keburukan perbuatan ini tertera pada ayat berikutnya :
”Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin”. (QS. Annur: 3)

Ini bukan sebuah perintah, namun sebuah kaidah sosial yang umum. Artinya tidak selaiknya orang baik-baik menikahi orang-orang yang berzina, baik laki-laki maupun perempuan. Kecuali mereka yang benar-benar bertobat dari perbuatannya. Konon ayat ini turun ketika ada beberapa orang sahabat Nabi yang terlilit kemiskinan dan kehidupan Madinah sangat perlu biaya yang tidak sedikit. Di pasar dan tempat-tempat umum terlihat ada pintu-pintu yang diberi tanda khusus bahwa penghuninya adalah para perempuan pezina.

Mereka berandai-andai kalau bisa menikahi mereka sampai mencukupi kebutuhan hidup di Madinah. Mereka lalu bertanya pada Rasulullah dan turunlah ayat ini. (HR. Ibnu Abi Hatim)

Menurut sebagian pakar hadits, hadits ini lemah karena perawinya terputus sampai tabiin saja, dalam istilah ilmu hadits disebut mursal.

Ringkasnya hukuman berzina ada dua, yaitu secara hukum dan peraturan yang diterapkan (hudûd) dan hukuman sosial (dengan diperlihatkan prosesi pelaksanaan hukuman dan diharamkan menikahi mereka bagi orang baik-baik)

Kedua

Pada ayat berikutnya Allah memerinci lebih detai lagi. ”Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi,

Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Annur : 4-5)

Sebuah bentuk proteksi sosial dari Allah. Bahwa tidak selaiknya orang-orang ringan lidah mengatakan sebuah tuduhan tanpa didasari dengan bukti dan persaksian yang cukup seperti yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu dengan 4 orang saksi.

Ini juga berlaku untuk perempuan yang menuduh laki-laki atau laki-laki dan perempuan yang menuduh sesamanya berbuat zina. Yang demikian agar orang-orang lebih menjaga lisan dan perkataannya.

Secara ringkas hukuman orang yang menuduh zina orang baik-baik tanpa bukti yang lengkap ada dua macam: secara hukum (didera 80 kali) dan hukuman sosial dengan tidak diterimanya persaksian mereka.

(Bersambung bag 2)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

berdoa setelah membaca alfatihah

Apabila Tidak Mampu Membaca al-Fatihah

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Walaupun mungkin setiap muslim pasti bisa membaca Surah al-Fatihah, namun bukan tidak mungkin ada saja kasus di antara mereka yang memang tidak bisa membacanya, misalnya bagi seorang mualaf yang baru masuk Islam dan belum mempelajari bacaan al-Fatihah. Ketidakmampuan mereka juga bisa bermacam-macam, ada yang sama sekali tidak hafal al-Fatihah bahkan tidak bisa membaca huruf-huruf al-Qur’an sama sekali, ada juga yang mungkin hafal sebagian ayat-ayat al-Fatihah, atau ada juga yang hafal beberapa ayat lain tapi tidak hafal al-Fatihah sama sekali.

Di dalam Raudhah ath-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin, Imam an-Nawawi (w. 676 H) mengatakan: “Barangsiapa yang tidak mampu membaca al-Fatihah, maka wajib baginya berusaha semampunya untuk belajar, atau dengan membaca mushaf, baik mushaf tersebut diperoleh dengan membeli, menyewa ataupun meminjam.” Beliau kemudian menjelaskan bahwa bila seseorang tidak bisa membaca al-Fatihah karena udzur, misalnya karena waktu sudah mepet, atau karena daerahnya yang tidak memungkinkan, atau tidak ada guru maupun mushaf, dan lain-lain, maka tidak boleh diganti dengan terjemah al-Fatihah. Tetapi jika ia mampu membaca dengan benar surah lain selain al-Fatihah maka wajib baginya membaca tujuh ayat dari surah lain yang sebanding dengan al-Fatihah. Sebagaimana dikemukakan oleh Zainuddin al-Malibari (w. 987 H) di dalam Fath al-Mu’in bi Syarh Qurrah al-Ain bi Muhimmat ad-Din, bacaan ayat-ayat tersebut boleh saja urutannya terpisah-pisah, asalkan tidak sampai kurang dari banyaknya jumlah huruf al-Fatihah, yang menurut perhitungan beliau terdiri dari 156 huruf dengan menghitung basmalah, termasuk juga dengan menambahkan alif setelah huruf mim pada lafazh maliki.

Lebih lanjut, Imam an-Nawawi mengatakan bahwa bila ayat yang bisa dibaca dengan baik itu tidak sampai tujuh ayat sebagaimana jumlah ayat-ayat dalam Surah al-Fatihah, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat. Pertama, menurut pendapat yang paling shahih, wajib dibaca semampunya dan sisa kekurangannya diganti dengan dzikir. Kedua, menurut pendapat lainnya, maka wajib mengulang-ulang ayat yang bisa dibaca tersebut hingga sepadan dengan ayat-ayat dalam al-Fatihah, yakni tujuh ayat.

Kemungkinan selanjutnya-masih menurut Imam an-Nawawi, apabila seseorang tidak mampu membaca dengan baik dan benar satupun ayat dari al-Qur’an, maka wajib baginya mengganti bacaan al-Fatihah dengan dzikir, seperti tasbih dan tahlil. Mengenai masalah dzikir apa saja yang wajib dibaca sebagai pengganti yang di atas tadi, maka ada beberapa pendapat. Menurut pendapat yang paling shahih, tidak ditentukan, dalam arti boleh dzikir apa saja yang dikuasai. Sementara menurut kitab at-Tahdzib, wajib membaca tujuh macam dzikir sesuai dengan jumlah ayat di dalam Surah al-Fatihah. Dan terakhir, apabila seseorang tidak bisa membaca dengan baik dan benar, baik itu al-Qur’an maupun dzikir, maka wajib baginya berdiri dan diam selama kira-kira cukup untuk membaca al-Fatihah sebelum kemudian ruku”.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw. pernah meluruskan shalat seseorang yang dianggap oleh beliau bahwa shalatnya tidak memenuhi persyaratan sehingga berkalikali Rasulullah menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya. Di antara yang dikatakan oleh Rasulullah saw. kepadanya: “Jika kamu memiliki hafalan al-Qur’an, maka bacalah. ]ika tidak, maka ucapkanlah hamdalah, takbir, dan tahlil, kemudian ruku’lah….” (HR. at-Tirmidzi) Dari riwayat ini, maka boleh bacaan al-Fatihah itu diganti dengan dzikir, dengan syarat ketika seseorang memang tidak mampu sama sekali membaca al-Fatihah maupun bacaan ayat-ayat lainnya. Hal ini dipertegas lagi dalam hadits yang diriwayatkan dari (Abdullah ibn Abi Aufa ra. bahwa pernah suatu ketika ada seseorang datang kepada Rasulullah saw., kemudian berkata: “Sesungguhnya aku tidak mampu membaca apapun dari al-Qur’an, maka ajarilah aku sesuatu yang mencukupi bagiku darinya.” Rasulullah saw.

menjawab: “Ucapkanlah: Subhanallah, wal-hamdu lillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar, wa la haula wa la quwwata illa billahil-hliyil-hzhim.” (HR. Abu Dawud) Allah swt. sendiri berfirman: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…” (QS. At-Taghabun [64]: 16) Di dalam ayat ini, Allah memerintahkan kita untuk melaksanakan segala macam bentuk ketaatan sesuai dengan kesanggupan. Di dalam shalat memang diwajibkan untuk membaca al-Fatihah, namun jika memang seseorang benar-benar tidak mampu membacanya, bahkan tidak mampu membaca ayat-ayat lainnya, juga tidak mampu membaca dzikir, maka selama ia bisa berdiri, tentu itu saja bisa mencukupi. Rasulullah saw. juga bersabda: “jika aku memerintahkan kalian untuk melaksanakan sesuatu, maka kerjakanlah ia sesuai dengan kemampuan kalian.” (HR. al-Bukhari)
Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Taubat

Kelicikan Syetan Dalam Menyesatkan Manusia

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Kelicikan syetan Allah Ta’ala ceritakan dalam ayat berikut:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ ۖ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ ۖ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ ۗ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan berkatalah syetan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS. Ibrahim: 22)

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Imam Ibnul Jauzi Rahimahullah mengutip dari umumnya ahli tafsir:

“Pada saat ahli surga masuk ke surga, dan ahli neraka masuk ke neraka, maka penduduk neraka begitu marah kepada Iblis. Lalu Iblis pun berdiri di antara mereka dan berkhutbah, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan (di atas).”

📚 Imam Ibnul Jauzi, Zaadul Masiir fi ‘Ilmit Tafsiir, 2/510

📌 Pelajaran penting dari ayat ini:

📓 Ini adalah pengakuan syetan saat hari pembalasan

📓 Syetan mengakui Allah punya janji dan janji Allah Ta’ala adalah haq (benar).

📓 Syetan menyatakan dirinya juga berjanji tapi dia mengakui telah ingkar thdp janjinya

📓 Syetan menyatakan dia tidak berkuasa untuk memaksa manusia untuk mengikuti dirinya, tapi dasar manusianya saja yang mau mengikutinya

📓 Maka, kata syetan kepada manusia, “jangan salahkan aku tapi salahkan diri kalian sendiri”

📓 Syetan mengakui dirinya lemah dan tidak mampu menolong manusia yang mengikutinya, dan manusia itu pun tidak mampu menolong dirinya sndiri

📓 Bahkan, ternyata syetan pun tidak suka dan tidak membenarkan kalau manusia menjadi musyrik, padahal kesyirikan itu disebabkan oleh rayuannya.

📓 Syetan tidak mau disalahkan, tapi dia katakan “Jangan cerca aku, tapi cercalah diri kalian sendiri.”

Wa na’udzu billah tsumma na’udzu billah

Wallahu A’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

 


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

masalah

Akhir Jalan Mendaki – Tadabbur QS. Al-Balad (Bag-2)

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

📝 Pemateri: Ustadz Dr. H. Saiful Bahri, M.A

Dua Jalan, Dua Konsekuensi

“Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?” (QS. 90: 11-12)

Jalan kebaikan tidaklah mudah. Karena itu ia sukar dan sulit ditempuh dan menanjak. Hanya orang-orang sabar saja yang mampu dan mau melakukannya. Jalan-jalan sulit berikut ini tak lain merupakan jawaban sekaligus pelurusan misspersepsi tentang harta:

“(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan”(QS. 90: 13)”

Karena Allah hanya menginginkan penghambaan yang sempurna kepada Dzat-Nya saja. Bukan perbudakan sesama manusia. Karena itulah salah satu misi utama agama Islam adalah menghapus dan menghilangkan perbudakan.

“Atau memberi makan pada hari kelaparan”(QS. 90: 14)”

Memberi pertolongan pada saat dibutuhkan adalah sesuatu yang mulia. Dan hal tersebut tidaklah mudah. Apalagi jika tidak didahului oleh permintaan tolong dari pihak yang memerlukan bantuan, sungguh hal tersebut menjadi berat. Hanya orang tertentu saja yang memiliki kepekaan hati dan diringankan untuk membantu.

Pemilihan kata yang sangat teliti ini menandakan bahwa pada hari itu kelaparan dijumpai di mana-mana. “hari yang memiliki orang-orang lapar di mana-mana”. Ini adalah hari paceklik dan kelaparan yang menimpa banyak orang.

“(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat” (QS. 90: 15)

Memuliakan dan menolong anak yatim adalah salah satu amal yang utama. Apalagi jika sang yatim tersebut masih ada hubungan kekerabat-an, tentu akan menambah nilai plus. Membantu dan sekaligus menjaga tali kekerabatan (silaturrahmi).

“Atau kepada orang miskin yang sangat fakir” (QS. 90: 16)

Orang-orang yang miskin dan tertekan kemiskinannya adalah orang yang berada diprioritas pertama untuk dibantu. Jiwa mereka tertekan karena lidah mereka tak lagi sanggup mengungkapkan permintaan tolong. Hati mereka juga sakit menanggung malu. Mereka juga miris melihat nasib orang-orang yang berada dalam tanggungannya. Tapi mereka memiliki iman yang menahan dari menghalalkan segala cara.

Orang yang seperti inilah yang sangat perlu diutamakan untuk ditolong. Abu Ubaidah mengungkapkan rahasia pemilihan kata “dzâ matrabah” yang berarti terlempar di atas tanah atau pasir. Ini menandakan ia benar-benar hanya memiliki badan yang lemah hingga membuatnya tersungkur di atas pasir. Tak ada yang menahan badannya karena sangat lapar dan lemah.

“Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang” (QS. 90: 17)

Orang-orang yang mampu bersabar dan sanggup menempuh jalan yang sukar seperti di atas adalah orang-orang pilihan yang dirahmati Allah selalu.

“Mereka adalah golongan kanan”. (QS. 90: 18)

Ini adalah sebuah pilihan yang memiliki konsekuensi tanggung jawab. Namun, hal tersebut tidaklah sia-sia, karena Allah telah menyediakan balasan dan ganjaran yang melebihi bayangan seseorang, bahkan dengan sesuatu yang belum terbayang-kan sebelumnya.

Sebaliknya pilihan jalan yang salah akan membuahkan konsekuensi yang tidak sesuai harapan pula. Sebagaimana tak ada paksaan dalam memilih jalan, mereka juga tak bisa memaksa Allah untuk memberikan balasan sesuai keinginan mereka. Orang-orang yang berbaris di golongan kiri tersebut akan digiring ke neraka Allah yang tak ada celah bagi siapapun untuk lari dan menghindar darinya.

“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat kami, mereka itu adalah golo-ngan kiri. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat” (QS. 90: 19-20)

Penutup: Pilihan Orang Cerdas dan Tenang

Jika dalam surat sebelumnya Allah memanggil jiwa-jiwa yang tenang untuk bergabung dalam kafilah orang-orang sukses yang beruntung dan berbahagia, itu karena mereka tepat dalam memilih jalan yang disediakan Allah di dunia. Tanpa paksaan. Rela dan ridha, maka kelak mereka juga diridhai.

Hanya orang-orang yang cerdas saja yang mau dan sanggup menyiapkan dirinya dengan bekal-bekal berharga untuk sebuah perjalanan yang jauh. Semoga Allah terus menjaga kita sehingga kita bisa tsabat dan istiqamah dalam berbuat baik dan membekali diri untuk menghadap Allah dalam keadaan yang ridha dan diridhai. Amin.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Amal dan Ajal

Membaca al-Qur’an bagi yang Haidh dan Nifas

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

Darah haidh sebagaimana dikemukakan oleh Ibn Qasim al-Ghazzi (w. 918 H) di dalam Fath al-Qarib al-Mujib fi Syarh Alfazh at-Taqrib adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita pada usia haidh, yaitu usia sembilan tahun atau lebih, dalam keadaan sehat, yaitu tidak karena sakit, tetapi pada batas kewajaran, bukan pula karena melahirkan. Sementara darah nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita setelah melahirkan, sehingga darah yang keluar bersamaan dengan bayi atau sebelumnya tidaklah disebut sebagai nifas.

Di dalam madzhab Syafi’i, haram hukumnya membaca al-Qur’an bagi wanita yang haidh dan nifas, sama seperti haram hukumnya bagi orang yang dalam keadaan junub. Abu Yahya Zakariyya al-Anshari (w. 926 H) di dalam Asna’ al-Mathalib fi Syarh Raudh ath-Thalib mengatakan: “Dan tidak dihalalkan seorang wanita untuk digauli saat haidh, begitu juga percumbuan yang diharamkan, serta melafazhkan al-Qur’an serta menyentuh mushafnya.”

Di antara dalilnya adalah sebagaimana yang penulis kemukakan sebelumnya, yaitu dari Ibn “Umar ra. bahwa Nabi saw. pernah bersabda: “Tidak boleh orang yang haidh dan junub membaca al-Qur’an.” Dalil ini sebenarnya juga bisa mencakup hukum bagi wanita yang nifas, walaupun memang tidak disebutkan secara langsung. Abu al-Hasan al-Mawardi (w. 450 H) di dalam al-Iqna’ fi al-Fiqh asy-Syafi’i mengatakan: “Diharamkan pula kepada wanita yang nifas sesuatu yang diharamkan kepada yang haidh.”

Memang ada ulama lain yang menyebutkan bahwa riwayat tersebut dinilai dhaif karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Isma’il ibn ‘Ayyasy. Namun, banyak juga yang justru menyebutnya sebagai perawi yang tsiqah. Asy-Syaukani (w. 1250 H) di dalam as-Sail al-Jarar al Mutadaffiq ‘ala Hada’iq al Azhar bahkan mengatakan: “Penilaian lemah terhadap Isma’il ibn ‘Ayyasy adalah penilaian yang tertolak, karena haditsnya diriwayatkan pula melalui jalur periwayatan lainnya, dan ia juga tidak dapat dinilai cacat yang menjadikan haditsnya tidak layak dijadikan hujjah. Al Mundziri mengatakan: (Hadits ini adalah hadits hasan. Isma’il ibn ‘Ayyasy memang diperbincangkan oleh para ulama, namun banyak para imam yang memujinya.” Penjelasan yang sama juga dapat kita temukan di dalam Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj yang ditulis oleh Syamsuddin ar-Ramli (w. 1004 H).

‘Abdul Karim ar-Rafi’i (w. 623 H) di dalam Fath al-‘Aziz bi Syarh al-Wajiz mengatakan: “Sebagaimana haramnya membaca al-Qur’an bagi yang junub, maka haram pula membacanya bagi wanita yang haidh, karena hadatsnya justru lebih berat, sehingga keharaman hukumnya pun lebih utama.”

Ulama lain memang ada yang membolehkan bagi wanita haidh untuk tetap membaca al-Qur’an jika ditakutkan membuat ia lupa akan hafalannya. Namun, dalam hal ini an-Nawawi (w. 676 H) di dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab mengatakan: “Masa haidh yang berlangsung beberapa hari biasanya tidak sampai bisa membuat orang lupa pada hafalannya. Adapun jika tetap khawatir lupa hafalannya, maka cukuplah ia mengulang hafalan al-Qur’annya di dalam hatinya.”

Sebagai tambahan, hal yang paling sering menjadi pertanyaan terkait wanita haidh di antaranya adalah tentang boleh atau tidaknya ia mengajarkan al-Qur’an dalam keadaan haidh. Maka dalam hal ini, di dalam Bughyah al-Mustarsyidin, ‘Abdurrahman ibn Muhammad Ba’alawi (w. 1320 H) memberikan penjelasan bahwa yang junub dan semisalnya, termasuk yang haidh, maka boleh hukumnya mengajarkan al-Qur’an asalkan tujuannya bukan membaca, juga tidak bertujuan mengajar sambil membaca, tetapi hanya bertujuan mengajar saja.Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : manis.id

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678l

Allah Maha Berkehendak

Akhir Jalan Mendaki (Tadabbur QS. Al-Balad) (Bag 1)

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

📝 Pemateri: Ustadz Dr. H. Saiful Bahri, M.A

Mukaddimah: Meluruskan Persepsi

Menurut jumhur ulama dan ahli tafsir surat Al-Balad diturunkan Allah di Makkah setelah Surat Qâf.

Tema surat-surat  makkiyah sangat menonjol dalam surat ini. Apalagi secara eksplisit Allah bersumpah dengan negeri kelahiran Nabi Muhammad saw yang tak lain adalah Makkah. Dalam surat ini juga Allah menceritakan kondisi penduduk Makkah yang masih mendustakan agama Allah. Mereka silau dengan kekuatan yang mereka miliki. Mereka mengira dengan harta yang mereka kerahkan dan orang-orang yang mereka himpun akan mampu membendung kehendak Allah. Mereka takkan pernah mampu membungkam risalah kebenaran yang dibawa putra terbaik Kabilah Quraisy ini.

Seperti beberapa surat makkiyah yang lainnya, surat ini ditutup dengan pembicaraan kedahsyatan hari kiamat terutama hal-hal yang berkaitan dengannya yaitu hari pembalasan. Akhir dari nasib yang akan diterima orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir.

Yang menarik dari pembahasan dalam surat ini adalah merupakan kelanjutan dari surat sebelumnya. Jika dalam surat Al-Fajr banyak pembahasan mengenai harta, terutama yang berkaitan dengan kesalahan persepsi mengenai harta yang berakibat pada kesalahan berikutnya yaitu: memakan harta anak yatim, harta warisan, enggan menolong fakir miskin, serta berlebihan dalam mencintai dunia, maka dalam surat ini mereka digambarkan Allah juga salah dalam menginvestasikan harta. Harta yang mereka kumpulkan dengan susah payah tersebut malah digunakan untuk menghalangi agama Allah. Maka Allah menjelaskan investasi-investasi yang beruntung, seperti: memerdeka-kan budak, memberi makan orang yang kelaparan, menyantuni fakir miskin dan anak yatim serta menyambung silaturrahmi dan menebar kasih sayang.

Harta yang diinvestasikan dalam urusan dan hal-hal tersebut akan Allah jamin keuntungannya. Mereka akan dimasukkan ke dalam golongan kanan yang dimuliakan Allah.

Sumpah dan Janji Allah

“Aku benar-benar bersumpah dengan kota Ini (Mekah)” (QS. 90: 1)

Hampir semua ulama sepakat bahwa yang dimaksud negeri yang digunakan sumpah dalam ayat di atas adalah negeri kelahiran Nabi Muhammad saw, yaitu kota Makkah. Setidaknya seperti demikian pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Atha’ dan Ibnu Zaid, seperti dituturkan Ibnu Jarir ath-Thabary.
Ibnu Katsir menambahkan  bahwa Ikrimah juga berpendapat demikian.

“Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini”. (QS. 90: 2)

Meskipun Rasulullah saw lahir dan tinggal di Makkah, namun yang dimaksud alam ayat ini adalah bahwa kelak Nabi Muhammad akan bisa memasuki Makkah dengan tenang. Karena itu lafzah yang dipakai adalah “hillun” yang berarti halal. Karena keberadaan Rasulullah di tempat kelahirannya pun selalu identik dengan penderitaan, tekanan dan kesusahan-kesusahan yang diakibatkan dari perbuatan orang-orang kuffar Quraisy. Seolah-olah beliau “diharamkan” atau terhalang dari menikmati hidup di kampong halamannya. Bahkan dalam salah satu riwayat, beliau menangis ketika meninggalkan Makkah saat hendak berhijrah.

Pada hakikatnya beliau sangat mencintai Makkah, namun penduduknya lah yang menyia-nyiakannya dan menyakitinya bahkan mengusirnya.

Namun Allah Maha Mendengar, maka Dia kabulkan impian Rasulullah kembali ke tempat kelahirannya. Dalam keadaan tenang, terhormat dan takkan ada lagi yang mengharam-kannya dari melakukan apapun di tempat itu kecuali hanya Allah. Ini merupakan berita gembira bagi Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Janji Allah tersebut akan terealisasi secara sempurna kelak pada tahun ke tujuh hijriyah melalui sebuah peristiwa akbar yang diabadikan sejarah, Fathu Makkah.

Pada hari itu beliau melindungi dan memuliakan orang-orang tertentu. Beliau memaafkan kesalahan dan kejahatan musuh-musuhnya yang sebagian juga merupakan keluarganya. Tak ada dendam sedikitpun di hatinya. Namun, beliau juga memerintahkan kepada umat Islam untuk membunuh beberapa orang yang hari itu darahnya dihalalkan karena kejahatan yang tak lagi bisa ditolerir. Seperti Abdullah bin Khathl, bukan hanya karena berkhianat dengan pura-pura masuk Islam untuk memperoleh amanah Rasulullah saw tapi dia juga bersekongkol dengan musyrikin Makkah dan kembali menjadi musyrik serta membunuh seorang Anshar yang waktu itu diutus bersamanya.

Muqis bin Dhababah juga termasuk dalam daftar orang yang dicari untuk dibunuh dengan dua kesalahan yang serupa: murtad dan berkhianat serta membunuh utusan Rasulullah saw. Juga beberapa nama lain diantaranya Ikrimah bin Abu Jahal yang kemudian melarikan diri dan bersembunyi di Yaman. Akhirnya beliau masuk Islam setelah Rasul saw wafat dan setelah itu beliau menebus semua kesalahannya dengan mendermakan kemampuannya untuk membela Islam. Ikrimah pun menjadi salah seorang ulama tabi’in yang disegani.

“Dan demi bapak dan anaknya”. (QS. 90: 3)

Sebagian mufassirin berpendapat bahwa yang dimaksud bapak di sini adalah Adam. Ada juga yang mengatakannya Nuh atau Ibrahim as. Sedangkan Imam al-Mawardi mengatakan bahwa yang dimaksud “bapak” di sini adalah Nabi Muhammad saw dan “anak” adalah umatnya.
Hal tersebut karena ada konsideran yang disebut di dua ayat sebelumnya yang membicarakan tentang beliau.

Namun, Imam al-Alusy lebih memilih penafsiran umum terhadap ayat ini yaitu setiap bapak dan keturunannya. Ini untuk menujukkan kekuasaan Allah. Bapak hanyalah merupakan salah satu sebab keberadaan anaknya, namun pada hakikatnya yang menjadi penentu dan pencipta hanyalah Allah Yang Maha Kuasa.

Akibat Salah Persepsi

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah”. (QS. 90: 4).

Yang dimaksud dengan “كبد” adalah kesulitan dan kesusahan yang ditemui manusia dalam kehidupannya. Baik yang berupa kepayahan fisik yang bisa dirasakan oleh tubuh manusia dan penyakit-penyakit yang dideritanya, ataupun kepayahan psikis yang hanya bisa dirasakan seperti rasa sedih dan takut.

Dalam Surat al-Insyiqaq Allah juga menjelaskan makna lain dari kepayahan ini, yaitu kerja dan usaha yang keras.

“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya” (QS. 84: 6)
karena ketika di dunia manusia telah berusaha bekerja keras untuk memenuhi segala keperluan hidupnya.

Sebagian di antara mereka bahkan berlebihan hingga melupakan hak jasadnya untuk beristirahat. Sebagian lagi bahkan melupakan Allah, Dzat yang membuatnya berkecukupan dalam kehidupannya.

Sebagian manusia menyadari kekeliruannya, sehingga ia pun semakin bekerja dan berusaha keras untuk memenuhi hak-haknya, keluarganya, masyarakat sekelilingnya, dan tentunya Allah.

Dalam keadaan payah seperti yang dijelaskan di atas, sebagian manusia juga memiliki orientasi hidup yang salah dan persepsi yang tidak benar tentang kehidupannya.

“Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”. Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya?”. (QS. 90: 5-7)

Setidaknya ada tiga kesalahan persepsi orang-orang kafir yang kemudian bisa menyebabkan mereka memusuhi Rasulullah dan ajaran yang dibawanya.

Kesombongan yang melampaui batas sehingga ia merasa menjadi orang yang berkuasa. Dengan kedudukan dan posisi sosial serta harta yang melimpah menyebabkan seseorang lupa bahwa ada Dzat Yang Maha Kuasa.

Bahwa yang mereka namakan “kebaikan” adalah mempertahankan posisi mereka meskipun dengan menghabiskan harta. Maka tak masalah jika harta yang mereka peroleh baik dengan jalan baik atau tidak benar mereka mubadzirkan karena tak mengerti prioritas investasi yang benar.

Dengan merasa bahwa tak seorang pun bisa mengawasi gerak-geriknya, maka ia bisa seenaknya berbuat, meskipun itu melawan hati nurani dan menzhalimi diri sendiri serta orang lain.

Sadarkah ia, bahwa harta yang ia cari dan kemudian mereka mubadzirkan kelak akan ditanya oleh Allah dari mana ia mendapatkannya dan ke mana saja ia habiskan?

Seharusnya orang-orang yang salah persepsi di atas sadar akan karunia Allah yang luar biasa yang dalam surat ini hanya disinggung beberapa saja, yang berkaitan dengan misi besar surat ini.

“Bukankah kami telah memberikan kepadanya dua buah mata. Lidah dan dua buah bibir. Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”. (QS. 90: 8-10)

Dua mata, lidah, dua bibir adalah sekian dari nikmat Allah yang melekat dalam jasad manusia. Bahkan ia bisa melihatnya sendiri dengan berdiri di depan cermin, maka ia akan segera mendapatinya.

Seharusnya ia bisa melihat. Dengan dua mata. Bahkan seandainya satu matanya ditutup pun ia masih akan tetap bisa melihat nikmat Allah swt. Lantas apa yang membuatnya buta dan tak mampu melihat karunia Allah yang sangat tak terbatas ini. Lidah dan bibirnya pun tak digunakan dalam koridor syukur terhadap Allah.

Justu ia menggunakan untuk melawan Allah. Mobilisasi massa untuk melawan ajaran Allah.

Bukan hanya itu, Allah juga telah menyediakan dua jalan; yaitu jalan kebaikan dan jalan kegelapan. Masing-masing jalan dengan gamblang dijelaskan Allah ujung serta konsekuensi yang akan diterima bagi setiap penempuh jalan tersebut. Jalan kebenaran dan kebaikan akan dipilih oleh orang-orang yang cerdas yang tahu prioritas amal dan kerja.

Sebaliknya, yang mengamblil jalan pintas karena hati mereka tertutup

Dua Jalan, Dua Konsekuensi

(Bersambung bag2)

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

surat yasin

Mengenal Karakter Ayat

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Kosakata bahasa Arab yang terdiri dari huruf ha fa zha dan sering merujuk pada hafal Alquran mengandung makna memelihara. Hafid Alquran berarti orang yang memelihara hafalan al-qur’an di dalam hatinya. Berdasarkan surat Al Baqarah ayat 238, kami terinspirasi menggunakan thermal muhafadhoh untuk memelihara Alquran,sebagaimana memelihara salat yang terdapat pada ayat tersebut.

Muhafadzoh adalah wazan dari mu fa’alah, yang bermakna saling. Jika hifdzun artinya memelihara maka muhafadhoh adalah saling memelihara. Subjek merangkap menjadi objek dan sebaliknya.Allah menjadikan kata muhafadzoh untuk memerintahkan kita menjaga salat.karena akan ada timbal balik apabila kita bisa menjaga Salat kita, yaitu mengerjakan tepat waktu, sesuai dengan syarat dan rukun, serta dikerjakan dengan khusu’. Maka salat itu juga akan menjaga kita dari perbuatan keji dan mungkar,serta menyelesaikan persoalan-persoalan hidup yang kita hadapi.

Begitu juga dengan Al Quran. Kami lebih tertarik menggunakan kata muhafadhoh untuk memelihara Alquran. Sebagaimana salat, apabila seorang penghafal Alquran bisa memelihara hafalannya dengan baik, ya itu murojaah nya sesuai porsi, dengan bacaan yang baik dan khusuk.insya Allah Alquran yang dijaga tersebut akan menjaga dirinya dari perbuatan maksiat, jatuh kedalam masalah dan memberikan syafaat.

Memelihara dan menjaga hafalan tidak hanya dilakukan ketika kita sedang menghafal, akan tetapi sampai akhir hayat. Selancar apapun hafalan kita pasti akan lupa apabila tidak dipelihara dengan baik.jika pada bab sebelumnya kita pernah membahas tentang daya simpan dan daya tampung, seorang penghafal Alquran juga perlu mengetahui karakter ayat yang dihafalnya. Karena ini akan membantu dirinya mengetahui cara memelihara ayat tersebut.

Karakter ayat ditinjau dari sudut pandang menghafal adalah.
1. Mudah hafal sulit lupa
2. Mudah hafal mudah lupa
3. Sulit hafal sulit lupa
4. Sulit hafal mudah lupa

Keempat karakter ayat tersebut biasanya dipengaruhi oleh strukturnya atau kondisi penghafal yang tidak stabil. Namun apapun penyebabnya sebagaimana dikatakan dalam hadis Alquran akan lebih cepat terlepas dari pada unta dalam ikatannya. Jadi apabila hafalan al-qur’an tidak segera diulang sesuai dengan daya simpan seorang penghafal, sudah pasti hafalan tersebut akan hilang kembali, apalagi jika hafalan itu belum begitu lancar. Oleh karena itu keseimbangan menambah dan mengulang harus benar-benar seimbang. Bahkan mengulang harus lebih banyak dan lebih serius. Bukan karena lebih sulit dari menambah tetapi untuk mencari keseimbangan dengan daya simpan.

Jika anda merasa mengulang hafalan lebih berat daripada menambah, waspada. Itu pertanda anda sedang over kapasitas. Maka hentikan menambah dan gandakan porsi mengulang. Sebab menambah hafalan dengan over kapasitas hanya akan mempercepat kita lupa hafalan yang sedang dihafal dan yang sudah dihafal.

Dengan mengetahui karakter ayat yang kita hafal kan, kita akan lebih mudah menyeimbangkan porsi menambah dan mengulang hafalan. Kita tidak perlu panik,karena panik hanya akan membuat hafalan kita semakin over kapasitas. Prioritaskan mengulang ayat yang mudah lupa dengan kelipatan 2 3 4 dan seterusnya sesuai daya imbangnya.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Tuhan Alam

MAKNA AL-ILAH​

Oleh: Wido Supraha

​Tadabbur Surat Al-Isrā’ [17] ayat 42​

قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَىٰ ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا

Katakanlah (Muhammad), “Jika ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagai-mana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai ’Arsy.”

📕 Surat Al-Isrā’ [17] ayat 42

♦️ Al-ilah adalah sesuatu yang kita meras tentram, terlindungi, merindui, hingga selalu cenderung kepadanya

♦️ Intensitas kedekat dengan al-Ilah akan membawa seseorang pada kecintaan dan ketundukan sempurna yang mengarah pada penghambaan, pada saat itu tanpa sadar ia telah menyembahnya

♦️ Muncullah kalimat konsep hidup seperti: “Aku tidak bisa hidupmu” atau “Aku rela menyerahkan segalanya untukmu”, konsep-konsep penghambaan yang akan hina jima ditujukan kepada makhluk

♦️ Islam dengan demikian mendorong manusia untuk membersihkan jiwanya dari seluruh Ilah dan penghambaan kepada mereka, kecuali menghadirkan hanya satu Ilah semata, Allah Jalla Jalāluh.

♦️ Lahirlah konsep hidup, “Tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah saja.”

✨ Wallāhu a’lam,


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Karakter munafiq dalam Surat Al-Munafiqun, ayat 9-11.

Ustadz Noorahmat

Karakter munafiq dalam Surat Al-Munafiqun, ayat 9-11.

◈ Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakaatuhu.

◈ Adik-adik MFT yang disayang Allah Ar-Rahmaan…
Alhamdulillah kita bertemu kembali hari ini. Dalam kesempatan ini kita akan membahas Bagian akhir kelanjutan tafsir dari QS. Al-Munafiquun. Surat ke 63 dan bagian dari Juz 28.

◈ Mempersingkat tulisan, kita langsung saja ya….

◈ Adik-adik yang dirahmati Allah Ar-Rahiim, kita lanjutkan pembahasan QS. Al-Munafiquun, dengan menyampaikan ayat 9-11 dari surat ini…

⇨ Allah Azza wa Jalla berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.”

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

◈ Adik-adik yang dirahmati Allah…
⇨ Pada ayat ke-9, Allah Azza wa Jalla memerintahkan kepada kita hamba-hamba-Nya yang beriman untuk banyak berzikir mengingat-Nya, dan melarang kita semua untuk menyibukkan diri dengan harta dan anak-anak sehingga melupakan zikir kepada Allah. Dan juga Allah memberitahukan kepada mereka bahwa barang siapa yang terlena dengan kesenangan dunia dan perhiasannya hingga melupakan ketaatan kepada Tuhannya dan mengingat-Nya yang merupakan tujuan utama dari penciptaan dirinya, maka sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang merugi. Yakni merugikan dirinya sendiri dan keluarganya kelak di hari kiamat.

⇨ Lalu bagaimana kalau belum bekerja dan juga belum punya anak? Adik-adik MFT tentunya belum menikah bukan? Nah pada saat ini, sebenarnya fitnah dunia yang membuat adik-adik berpotensi termasuk golongan orang-orang yang merugi adalah ketika adik-adik sekalian tersilapkan dengan aktifitas yang melalaikan dari aktifitas taqarrub ilallah. Misalnya main game berlebihan, chat di social media hingga lupa waktu, ngulik gadget hingga lupa waktu belajar de el el… InsyaAllah adik-adik sekalian bisa selamat dari gangguan-gangguan tersebut.

⇨ Kemudian Allah Azza wa Jalla menganjurkan mereka untuk berinfak dijalan ketaatan kepada-Nya. Untuk itu Allah berfirman di ayat ke-10 dari QS. Al-Munafiqun:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.”

◈ Adik-adik yang dirahmati Allah Ar Rahmaan…
⇨ Setiap manusia yang melalaikan kewajiban pasti akan merasa menyesal di saat meregang nyawanya ketika waktu itu tiba, dan meminta agar usianya diperpanjang sekalipun hanya sebentar untuk bertobat dan menyusul semua amal yang dilewatkannya. Namun adik-adik….alangkah jauhnya, karena memang pada akhirnya masing-masing orang akan menyesali kelalaiannya.

⇨ Lalu bagaimanakah kondisi orang-orang kafir? Keadaan mereka adalah sebagaimana disebutkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam surat Ibrahim:

وَأَنْذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الَّذِينَ ظَلَمُوا رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ نُجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ أَوَلَمْ تَكُونُوا أَقْسَمْتُمْ مِنْ قَبْلُ مَا لَكُمْ مِنْ زَوَالٍ

“Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim, “Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikan kami ke dunia) walaupun sebentar, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.” (Kepada mereka dikatakan), “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?.” (QS. Ibrahim: 44)

⇨ Dan juga Allah Azza wa Jalla sebutkan dalam QS. Al-Mu’minun:

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku(ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

⇨ Lalu apakah kemudian datangnya maut dapat ditangguhkan? Baik bagi mu’min, munafiq ataupun orang-orang kafir? Tentu tidak…. Karenanya kemudian Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 11)

⇨ Yakni tidak memberi tangguh kepada siapapun bila memang telah datang saat ajalnya sesuai yang dijadwalkan. Dan Dia mengetahui terhadap orang yang berkata sejujurnya dalam permintaannya dari kalangan orang-orang yang seandainya dikembalikan niscaya akan mengulangi perbuatan jahat yang sebelumnya Karena itulah Allah Azza wa Jalla menegaskan di akhir ayat ini:

وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

⇨ Tentang tuntasnya usia dan tiadanya penambahan waktu bila telah datang malaikat maut pencabut nyawa, dijelaskan dalam hadits berikut.

وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا ابْنُ نُفَيل، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَطَاءٍ، عَنْ مَسْلَمَةَ الْجُهَنِيِّ، عَنْ عَمِّهِ -يَعْنِي أَبَا مَشْجَعَةَ بْنِ رِبْعِي-عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: ذَكَرْنَا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزِّيَادَةَ فِي الْعُمْرِ فَقَالَ: ” إِنَّ اللَّهَ لَا يُؤَخِّرُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجْلُهَا، وَإِنَّمَا الزِّيَادَةُ فِي الْعُمْرِ أَنْ يَرْزُقَ اللَّهُ العبدَ ذُرية صَالِحَةً يَدْعُونَ لَهُ، فَيَلْحَقُهُ دُعَاؤُهُمْ فِي قَبْرِهِ”

“Bin Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Bin Nufail, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ata, dari Maslamah Al-Juhani, dari pamannya (yakni Abu Misyja’ah bin Rib’i), dari Abu Darda r.a. yang mengatakan bahwa kami membincangkan tentang penambahan usia di hadapan Rasulullah SAW Maka beliau SAW bersabda: Sesungguhnya Allah tidak akan menangguhkan usia seseorang apabila telah tiba saat ajalnya. Sesungguhnya penambahan usia itu hanyalah bila Allah memberi kepada seseorang hamba keturunan yang saleh yang mendoakan untuknya, maka doa mereka sampai kepadanya di alam kuburnya.”

◈ Nah adik-adik MFT yang disayang Allah Azza wa Jalla…

◈ Demikianlah akhir tafsir surat Al-Munafiqun, segala puji dan karunia adalah milik Allah, dan hanya kepada-Nya dimohonkan taufik dan pemeliharaan. Semoga kita semua mampu mengoptimalkan waktu yang diberikan oleh Allah Azza wa Jalla untuk menghirup udara dan beramal sesuai yang diperintahkan Allah Ta’ala, sekaligus sekuat tenaga meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah Ta’ala.

◈ InsyaAllah kita bertemu kembali pekan depan dengan kajian tafsir dari surat-surat pilihan lainnya.

◈ Wassalam..


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678