masalah

Akhir Jalan Mendaki – Tadabbur QS. Al-Balad (Bag-2)

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Dr. H. Saiful Bahri, M.A

Dua Jalan, Dua Konsekuensi

โ€œTetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?โ€ (QS. 90: 11-12)

Jalan kebaikan tidaklah mudah. Karena itu ia sukar dan sulit ditempuh dan menanjak. Hanya orang-orang sabar saja yang mampu dan mau melakukannya. Jalan-jalan sulit berikut ini tak lain merupakan jawaban sekaligus pelurusanย misspersepsiย tentang harta:

โ€œ(yaitu) melepaskan budak dari perbudakanโ€(QS. 90: 13)”

Karena Allah hanya menginginkan penghambaan yang sempurna kepada Dzat-Nya saja. Bukan perbudakan sesama manusia. Karena itulah salah satu misi utama agama Islam adalah menghapus dan menghilangkan perbudakan.

โ€œAtau memberi makan pada hari kelaparanโ€(QS. 90: 14)”

Memberi pertolongan pada saat dibutuhkan adalah sesuatu yang mulia. Dan hal tersebut tidaklah mudah. Apalagi jika tidak didahului oleh permintaan tolong dari pihak yang memerlukan bantuan, sungguh hal tersebut menjadi berat. Hanya orang tertentu saja yang memiliki kepekaan hati dan diringankan untuk membantu.

Pemilihan kata yang sangat teliti ini menandakan bahwa pada hari itu kelaparan dijumpai di mana-mana. โ€œhari yang memiliki orang-orang lapar di mana-manaโ€. Ini adalah hari paceklik dan kelaparan yang menimpa banyak orang.

โ€œ(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabatโ€ (QS. 90: 15)

Memuliakan dan menolong anak yatim adalah salah satu amal yang utama. Apalagi jika sang yatim tersebut masih ada hubungan kekerabat-an, tentu akan menambah nilai plus. Membantu dan sekaligus menjaga tali kekerabatan (silaturrahmi).

โ€œAtau kepada orang miskin yang sangat fakirโ€ (QS. 90: 16)

Orang-orang yang miskin dan tertekan kemiskinannya adalah orang yang berada diprioritas pertama untuk dibantu. Jiwa mereka tertekan karena lidah mereka tak lagi sanggup mengungkapkan permintaan tolong. Hati mereka juga sakit menanggung malu. Mereka juga miris melihat nasib orang-orang yang berada dalam tanggungannya. Tapi mereka memiliki iman yang menahan dari menghalalkan segala cara.

Orang yang seperti inilah yang sangat perlu diutamakan untuk ditolong. Abu Ubaidah mengungkapkan rahasia pemilihan kata โ€œdzรข matrabahโ€ yang berarti terlempar di atas tanah atau pasir. Ini menandakan ia benar-benar hanya memiliki badan yang lemah hingga membuatnya tersungkur di atas pasir. Tak ada yang menahan badannya karena sangat lapar dan lemah.

โ€œDan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayangโ€ (QS. 90: 17)

Orang-orang yang mampu bersabar dan sanggup menempuh jalan yang sukar seperti di atas adalah orang-orang pilihan yang dirahmati Allah selalu.

โ€œMereka adalah golongan kananโ€. (QS. 90: 18)

Ini adalah sebuah pilihan yang memiliki konsekuensi tanggung jawab. Namun, hal tersebut tidaklah sia-sia, karena Allah telah menyediakan balasan dan ganjaran yang melebihi bayangan seseorang, bahkan dengan sesuatu yang belum terbayang-kan sebelumnya.

Sebaliknya pilihan jalan yang salah akan membuahkan konsekuensi yang tidak sesuai harapan pula. Sebagaimana tak ada paksaan dalam memilih jalan, mereka juga tak bisa memaksa Allah untuk memberikan balasan sesuai keinginan mereka. Orang-orang yang berbaris di golongan kiri tersebut akan digiring ke neraka Allah yang tak ada celah bagi siapapun untuk lari dan menghindar darinya.

โ€œDan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat kami, mereka itu adalah golo-ngan kiri. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapatโ€ (QS. 90: 19-20)

Penutup: Pilihan Orang Cerdas dan Tenang

Jika dalam surat sebelumnya Allah memanggil jiwa-jiwa yang tenang untuk bergabung dalam kafilah orang-orang sukses yang beruntung dan berbahagia, itu karena mereka tepat dalam memilih jalan yang disediakan Allah di dunia. Tanpa paksaan. Rela dan ridha, maka kelak mereka juga diridhai.

Hanya orang-orang yang cerdas saja yang mau dan sanggup menyiapkan dirinya dengan bekal-bekal berharga untuk sebuah perjalanan yang jauh. Semoga Allah terus menjaga kita sehingga kita bisa tsabat dan istiqamah dalam berbuat baik dan membekali diri untuk menghadap Allah dalam keadaan yang ridha dan diridhai. Amin.

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Amal dan Ajal

Membaca al-Qur’an bagi yang Haidh dan Nifas

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

๐Ÿ“ Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

Darah haidh sebagaimana dikemukakan oleh Ibn Qasim al-Ghazzi (w. 918 H) di dalam Fath al-Qarib al-Mujib fi Syarh Alfazh at-Taqrib adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita pada usia haidh, yaitu usia sembilan tahun atau lebih, dalam keadaan sehat, yaitu tidak karena sakit, tetapi pada batas kewajaran, bukan pula karena melahirkan. Sementara darah nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita setelah melahirkan, sehingga darah yang keluar bersamaan dengan bayi atau sebelumnya tidaklah disebut sebagai nifas.

Di dalam madzhab Syafi’i, haram hukumnya membaca al-Qurโ€™an bagi wanita yang haidh dan nifas, sama seperti haram hukumnya bagi orang yang dalam keadaan junub. Abu Yahya Zakariyya al-Anshari (w. 926 H) di dalam Asna’ al-Mathalib fi Syarh Raudh ath-Thalib mengatakan: โ€œDan tidak dihalalkan seorang wanita untuk digauli saat haidh, begitu juga percumbuan yang diharamkan, serta melafazhkan al-Qurโ€™an serta menyentuh mushafnya.โ€

Di antara dalilnya adalah sebagaimana yang penulis kemukakan sebelumnya, yaitu dari Ibn โ€œUmar ra. bahwa Nabi saw. pernah bersabda: โ€œTidak boleh orang yang haidh dan junub membaca al-Qurโ€™an.โ€ Dalil ini sebenarnya juga bisa mencakup hukum bagi wanita yang nifas, walaupun memang tidak disebutkan secara langsung. Abu al-Hasan al-Mawardi (w. 450 H) di dalam al-Iqnaโ€™ fi al-Fiqh asy-Syafiโ€™i mengatakan: โ€œDiharamkan pula kepada wanita yang nifas sesuatu yang diharamkan kepada yang haidh.โ€

Memang ada ulama lain yang menyebutkan bahwa riwayat tersebut dinilai dhaif karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Isma’il ibn โ€˜Ayyasy. Namun, banyak juga yang justru menyebutnya sebagai perawi yang tsiqah. Asy-Syaukani (w. 1250 H) di dalam as-Sail al-Jarar al Mutadaffiq โ€˜ala Hadaโ€™iq al Azhar bahkan mengatakan: โ€œPenilaian lemah terhadap Ismaโ€™il ibn โ€˜Ayyasy adalah penilaian yang tertolak, karena haditsnya diriwayatkan pula melalui jalur periwayatan lainnya, dan ia juga tidak dapat dinilai cacat yang menjadikan haditsnya tidak layak dijadikan hujjah. Al Mundziri mengatakan: (Hadits ini adalah hadits hasan. Ismaโ€™il ibn โ€˜Ayyasy memang diperbincangkan oleh para ulama, namun banyak para imam yang memujinya.โ€ Penjelasan yang sama juga dapat kita temukan di dalam Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj yang ditulis oleh Syamsuddin ar-Ramli (w. 1004 H).

โ€˜Abdul Karim ar-Rafiโ€™i (w. 623 H) di dalam Fath al-‘Aziz bi Syarh al-Wajiz mengatakan: โ€œSebagaimana haramnya membaca al-Qur’an bagi yang junub, maka haram pula membacanya bagi wanita yang haidh, karena hadatsnya justru lebih berat, sehingga keharaman hukumnya pun lebih utama.โ€

Ulama lain memang ada yang membolehkan bagi wanita haidh untuk tetap membaca al-Qurโ€™an jika ditakutkan membuat ia lupa akan hafalannya. Namun, dalam hal ini an-Nawawi (w. 676 H) di dalam al-Majmuโ€™ Syarh al-Muhadzdzab mengatakan: โ€œMasa haidh yang berlangsung beberapa hari biasanya tidak sampai bisa membuat orang lupa pada hafalannya. Adapun jika tetap khawatir lupa hafalannya, maka cukuplah ia mengulang hafalan al-Qurโ€™annya di dalam hatinya.โ€

Sebagai tambahan, hal yang paling sering menjadi pertanyaan terkait wanita haidh di antaranya adalah tentang boleh atau tidaknya ia mengajarkan al-Qurโ€™an dalam keadaan haidh. Maka dalam hal ini, di dalam Bughyah al-Mustarsyidin, ‘Abdurrahman ibn Muhammad Ba’alawi (w. 1320 H) memberikan penjelasan bahwa yang junub dan semisalnya, termasuk yang haidh, maka boleh hukumnya mengajarkan al-Qurโ€™an asalkan tujuannya bukan membaca, juga tidak bertujuan mengajar sambil membaca, tetapi hanya bertujuan mengajar saja.Wallahu a’lam.

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : manis.id

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678l

Allah Maha Berkehendak

Akhir Jalan Mendaki (Tadabbur QS. Al-Balad) (Bag 1)

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Dr. H. Saiful Bahri, M.A

Mukaddimah: Meluruskan Persepsi

Menurutย jumhur ulamaย dan ahli tafsir suratย Al-Baladย diturunkan Allah di Makkah setelah Suratย Qรขf.

Tema surat-suratย  makkiyahย sangat menonjol dalam surat ini. Apalagi secara eksplisit Allah bersumpah dengan negeri kelahiran Nabi Muhammad saw yang tak lain adalah Makkah. Dalam surat ini juga Allah menceritakan kondisi penduduk Makkah yang masih mendustakan agama Allah. Mereka silau dengan kekuatan yang mereka miliki. Mereka mengira dengan harta yang mereka kerahkan dan orang-orang yang mereka himpun akan mampu membendung kehendak Allah. Mereka takkan pernah mampu membungkam risalah kebenaran yang dibawa putra terbaik Kabilah Quraisy ini.

Seperti beberapa suratย makkiyahย yang lainnya, surat ini ditutup dengan pembicaraan kedahsyatan hari kiamat terutama hal-hal yang berkaitan dengannya yaitu hari pembalasan. Akhir dari nasib yang akan diterima orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir.

Yang menarik dari pembahasan dalam surat ini adalah merupakan kelanjutan dari surat sebelumnya. Jika dalam surat Al-Fajr banyak pembahasan mengenai harta, terutama yang berkaitan dengan kesalahan persepsi mengenai harta yang berakibat pada kesalahan berikutnya yaitu: memakan harta anak yatim, harta warisan, enggan menolong fakir miskin, serta berlebihan dalam mencintai dunia, maka dalam surat ini mereka digambarkan Allah juga salah dalam menginvestasikan harta. Harta yang mereka kumpulkan dengan susah payah tersebut malah digunakan untuk menghalangi agama Allah. Maka Allah menjelaskan investasi-investasi yang beruntung, seperti: memerdeka-kan budak, memberi makan orang yang kelaparan, menyantuni fakir miskin dan anak yatim serta menyambung silaturrahmi dan menebar kasih sayang.

Harta yang diinvestasikan dalam urusan dan hal-hal tersebut akan Allah jamin keuntungannya. Mereka akan dimasukkan ke dalam golongan kanan yang dimuliakan Allah.

Sumpah dan Janji Allah

โ€œAku benar-benar bersumpah dengan kota Ini (Mekah)โ€ (QS. 90: 1)

Hampir semua ulama sepakat bahwa yang dimaksud negeri yang digunakan sumpah dalam ayat di atas adalah negeri kelahiran Nabi Muhammad saw, yaitu kota Makkah. Setidaknya seperti demikian pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Athaโ€™ dan Ibnu Zaid, seperti dituturkan Ibnu Jarir ath-Thabary.
Ibnu Katsir menambahkanย  bahwa Ikrimah juga berpendapat demikian.

โ€œDan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah iniโ€. (QS. 90: 2)

Meskipun Rasulullah saw lahir dan tinggal di Makkah, namun yang dimaksud alam ayat ini adalah bahwa kelak Nabi Muhammad akan bisa memasuki Makkah dengan tenang. Karena itu lafzah yang dipakai adalah โ€œhillunโ€ yang berarti halal. Karena keberadaan Rasulullah di tempat kelahirannya pun selalu identik dengan penderitaan, tekanan dan kesusahan-kesusahan yang diakibatkan dari perbuatan orang-orangย kuffarย Quraisy. Seolah-olah beliau โ€œdiharamkanโ€ atau terhalang dari menikmati hidup di kampong halamannya. Bahkan dalam salah satu riwayat, beliau menangis ketika meninggalkan Makkah saat hendak berhijrah.

Pada hakikatnya beliau sangat mencintai Makkah, namun penduduknya lah yang menyia-nyiakannya dan menyakitinya bahkan mengusirnya.

Namun Allah Maha Mendengar, maka Dia kabulkan impian Rasulullah kembali ke tempat kelahirannya. Dalam keadaan tenang, terhormat dan takkan ada lagi yang mengharam-kannya dari melakukan apapun di tempat itu kecuali hanya Allah. Ini merupakan berita gembira bagi Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Janji Allah tersebut akan terealisasi secara sempurna kelak pada tahun ke tujuh hijriyah melalui sebuah peristiwa akbar yang diabadikan sejarah, Fathu Makkah.

Pada hari itu beliau melindungi dan memuliakan orang-orang tertentu. Beliau memaafkan kesalahan dan kejahatan musuh-musuhnya yang sebagian juga merupakan keluarganya. Tak ada dendam sedikitpun di hatinya. Namun, beliau juga memerintahkan kepada umat Islam untuk membunuh beberapa orang yang hari itu darahnya dihalalkan karena kejahatan yang tak lagi bisa ditolerir. Seperti Abdullah bin Khathl, bukan hanya karena berkhianat dengan pura-pura masuk Islam untuk memperoleh amanah Rasulullah saw tapi dia juga bersekongkol dengan musyrikin Makkah dan kembali menjadi musyrik serta membunuh seorang Anshar yang waktu itu diutus bersamanya.

Muqis bin Dhababah juga termasuk dalam daftar orang yang dicari untuk dibunuh dengan dua kesalahan yang serupa: murtad dan berkhianat serta membunuh utusan Rasulullah saw. Juga beberapa nama lain diantaranya Ikrimah bin Abu Jahal yang kemudian melarikan diri dan bersembunyi di Yaman. Akhirnya beliau masuk Islam setelah Rasul saw wafat dan setelah itu beliau menebus semua kesalahannya dengan mendermakan kemampuannya untuk membela Islam. Ikrimah pun menjadi salah seorang ulama tabiโ€™in yang disegani.

โ€œDan demi bapak dan anaknyaโ€. (QS. 90: 3)

Sebagian mufassirin berpendapat bahwa yang dimaksud bapak di sini adalah Adam. Ada juga yang mengatakannya Nuh atau Ibrahim as. Sedangkan Imam al-Mawardi mengatakan bahwa yang dimaksud โ€œbapakโ€ di sini adalah Nabi Muhammad saw dan โ€œanakโ€ adalah umatnya.
Hal tersebut karena ada konsideran yang disebut di dua ayat sebelumnya yang membicarakan tentang beliau.

Namun, Imam al-Alusy lebih memilih penafsiran umum terhadap ayat ini yaitu setiap bapak dan keturunannya. Ini untuk menujukkan kekuasaan Allah. Bapak hanyalah merupakan salah satu sebab keberadaan anaknya, namun pada hakikatnya yang menjadi penentu dan pencipta hanyalah Allah Yang Maha Kuasa.

Akibat Salah Persepsi

โ€œSesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payahโ€. (QS. 90: 4).

Yang dimaksud dengan โ€œูƒุจุฏโ€ adalah kesulitan dan kesusahan yang ditemui manusia dalam kehidupannya. Baik yang berupa kepayahan fisik yang bisa dirasakan oleh tubuh manusia dan penyakit-penyakit yang dideritanya, ataupun kepayahan psikis yang hanya bisa dirasakan seperti rasa sedih dan takut.

Dalam Surat al-Insyiqaq Allah juga menjelaskan makna lain dari kepayahan ini, yaitu kerja dan usaha yang keras.

โ€œHai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nyaโ€ (QS. 84: 6)
karena ketika di dunia manusia telah berusaha bekerja keras untuk memenuhi segala keperluan hidupnya.

Sebagian di antara mereka bahkan berlebihan hingga melupakan hak jasadnya untuk beristirahat. Sebagian lagi bahkan melupakan Allah, Dzat yang membuatnya berkecukupan dalam kehidupannya.

Sebagian manusia menyadari kekeliruannya, sehingga ia pun semakin bekerja dan berusaha keras untuk memenuhi hak-haknya, keluarganya, masyarakat sekelilingnya, dan tentunya Allah.

Dalam keadaan payah seperti yang dijelaskan di atas, sebagian manusia juga memiliki orientasi hidup yang salah dan persepsi yang tidak benar tentang kehidupannya.

โ€œApakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dan mengatakan: โ€œAku telah menghabiskan harta yang banyakโ€. Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya?โ€. (QS. 90: 5-7)

Setidaknya ada tiga kesalahan persepsi orang-orang kafir yang kemudian bisa menyebabkan mereka memusuhi Rasulullah dan ajaran yang dibawanya.

Kesombongan yang melampaui batas sehingga ia merasa menjadi orang yang berkuasa. Dengan kedudukan dan posisi sosial serta harta yang melimpah menyebabkan seseorang lupa bahwa ada Dzat Yang Maha Kuasa.

Bahwa yang mereka namakan โ€œkebaikanโ€ adalah mempertahankan posisi mereka meskipun dengan menghabiskan harta. Maka tak masalah jika harta yang mereka peroleh baik dengan jalan baik atau tidak benar mereka mubadzirkan karena tak mengerti prioritas investasi yang benar.

Dengan merasa bahwa tak seorang pun bisa mengawasi gerak-geriknya, maka ia bisa seenaknya berbuat, meskipun itu melawan hati nurani dan menzhalimi diri sendiri serta orang lain.

Sadarkah ia, bahwa harta yang ia cari dan kemudian mereka mubadzirkan kelak akan ditanya oleh Allah dari mana ia mendapatkannya dan ke mana saja ia habiskan?

Seharusnya orang-orang yang salah persepsi di atas sadar akan karunia Allah yang luar biasa yang dalam surat ini hanya disinggung beberapa saja, yang berkaitan dengan misi besar surat ini.

โ€œBukankah kami telah memberikan kepadanya dua buah mata. Lidah dan dua buah bibir. Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalanโ€. (QS. 90: 8-10)

Dua mata, lidah, dua bibir adalah sekian dari nikmat Allah yang melekat dalam jasad manusia. Bahkan ia bisa melihatnya sendiri dengan berdiri di depan cermin, maka ia akan segera mendapatinya.

Seharusnya ia bisa melihat. Dengan dua mata. Bahkan seandainya satu matanya ditutup pun ia masih akan tetap bisa melihat nikmat Allah swt. Lantas apa yang membuatnya buta dan tak mampu melihat karunia Allah yang sangat tak terbatas ini. Lidah dan bibirnya pun tak digunakan dalam koridor syukur terhadap Allah.

Justu ia menggunakan untuk melawan Allah. Mobilisasi massa untuk melawan ajaran Allah.

Bukan hanya itu, Allah juga telah menyediakan dua jalan; yaitu jalan kebaikan dan jalan kegelapan. Masing-masing jalan dengan gamblang dijelaskan Allah ujung serta konsekuensi yang akan diterima bagi setiap penempuh jalan tersebut. Jalan kebenaran dan kebaikan akan dipilih oleh orang-orang yang cerdas yang tahu prioritas amal dan kerja.

Sebaliknya, yang mengamblil jalan pintas karena hati mereka tertutup

Dua Jalan, Dua Konsekuensi

(Bersambung bag2)

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

surat yasin

Mengenal Karakter Ayat

๐Ÿ“ Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Kosakata bahasa Arab yang terdiri dari huruf ha fa zha dan sering merujuk pada hafal Alquran mengandung makna memelihara. Hafid Alquran berarti orang yang memelihara hafalan al-qur’an di dalam hatinya. Berdasarkan surat Al Baqarah ayat 238, kami terinspirasi menggunakan thermal muhafadhoh untuk memelihara Alquran,sebagaimana memelihara salat yang terdapat pada ayat tersebut.

Muhafadzoh adalah wazan dari mu fa’alah, yang bermakna saling. Jika hifdzun artinya memelihara maka muhafadhoh adalah saling memelihara. Subjek merangkap menjadi objek dan sebaliknya.Allah menjadikan kata muhafadzoh untuk memerintahkan kita menjaga salat.karena akan ada timbal balik apabila kita bisa menjaga Salat kita, yaitu mengerjakan tepat waktu, sesuai dengan syarat dan rukun, serta dikerjakan dengan khusu’. Maka salat itu juga akan menjaga kita dari perbuatan keji dan mungkar,serta menyelesaikan persoalan-persoalan hidup yang kita hadapi.

Begitu juga dengan Al Quran. Kami lebih tertarik menggunakan kata muhafadhoh untuk memelihara Alquran. Sebagaimana salat, apabila seorang penghafal Alquran bisa memelihara hafalannya dengan baik, ya itu murojaah nya sesuai porsi, dengan bacaan yang baik dan khusuk.insya Allah Alquran yang dijaga tersebut akan menjaga dirinya dari perbuatan maksiat, jatuh kedalam masalah dan memberikan syafaat.

Memelihara dan menjaga hafalan tidak hanya dilakukan ketika kita sedang menghafal, akan tetapi sampai akhir hayat. Selancar apapun hafalan kita pasti akan lupa apabila tidak dipelihara dengan baik.jika pada bab sebelumnya kita pernah membahas tentang daya simpan dan daya tampung, seorang penghafal Alquran juga perlu mengetahui karakter ayat yang dihafalnya. Karena ini akan membantu dirinya mengetahui cara memelihara ayat tersebut.

Karakter ayat ditinjau dari sudut pandang menghafal adalah.
1. Mudah hafal sulit lupa
2. Mudah hafal mudah lupa
3. Sulit hafal sulit lupa
4. Sulit hafal mudah lupa

Keempat karakter ayat tersebut biasanya dipengaruhi oleh strukturnya atau kondisi penghafal yang tidak stabil. Namun apapun penyebabnya sebagaimana dikatakan dalam hadis Alquran akan lebih cepat terlepas dari pada unta dalam ikatannya. Jadi apabila hafalan al-qur’an tidak segera diulang sesuai dengan daya simpan seorang penghafal, sudah pasti hafalan tersebut akan hilang kembali, apalagi jika hafalan itu belum begitu lancar. Oleh karena itu keseimbangan menambah dan mengulang harus benar-benar seimbang. Bahkan mengulang harus lebih banyak dan lebih serius. Bukan karena lebih sulit dari menambah tetapi untuk mencari keseimbangan dengan daya simpan.

Jika anda merasa mengulang hafalan lebih berat daripada menambah, waspada. Itu pertanda anda sedang over kapasitas. Maka hentikan menambah dan gandakan porsi mengulang. Sebab menambah hafalan dengan over kapasitas hanya akan mempercepat kita lupa hafalan yang sedang dihafal dan yang sudah dihafal.

Dengan mengetahui karakter ayat yang kita hafal kan, kita akan lebih mudah menyeimbangkan porsi menambah dan mengulang hafalan. Kita tidak perlu panik,karena panik hanya akan membuat hafalan kita semakin over kapasitas. Prioritaskan mengulang ayat yang mudah lupa dengan kelipatan 2 3 4 dan seterusnya sesuai daya imbangnya.

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Tuhan Alam

MAKNA AL-ILAHโ€‹

Oleh: Wido Supraha

โ€‹Tadabbur Surat Al-Isrฤ’ [17] ayat 42โ€‹

ู‚ูู„ู’ ู„ูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูŽุนูŽู‡ู ุขู„ูู‡ูŽุฉูŒ ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ุฅูุฐู‹ุง ู„ูŽุงุจู’ุชูŽุบูŽูˆู’ุง ุฅูู„ูŽู‰ูฐ ุฐููŠ ุงู„ู’ุนูŽุฑู’ุดู ุณูŽุจููŠู„ู‹ุง

Katakanlah (Muhammad), โ€œJika ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagai-mana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai โ€™Arsy.โ€

๐Ÿ“• Surat Al-Isrฤ’ [17] ayat 42

โ™ฆ๏ธ Al-ilah adalah sesuatu yang kita meras tentram, terlindungi, merindui, hingga selalu cenderung kepadanya

โ™ฆ๏ธ Intensitas kedekat dengan al-Ilah akan membawa seseorang pada kecintaan dan ketundukan sempurna yang mengarah pada penghambaan, pada saat itu tanpa sadar ia telah menyembahnya

โ™ฆ๏ธ Muncullah kalimat konsep hidup seperti: “Aku tidak bisa hidupmu” atau “Aku rela menyerahkan segalanya untukmu”, konsep-konsep penghambaan yang akan hina jima ditujukan kepada makhluk

โ™ฆ๏ธ Islam dengan demikian mendorong manusia untuk membersihkan jiwanya dari seluruh Ilah dan penghambaan kepada mereka, kecuali menghadirkan hanya satu Ilah semata, Allah Jalla Jalฤluh.

โ™ฆ๏ธ Lahirlah konsep hidup, “Tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah saja.”

โœจ Wallฤhu a’lam,


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Surat Cinta dari Allah

SURAT AL-IKHLAS (Bag-2)

Oleh: Ust. AHMAD SAHAL HASAN, Lc.

materi sebelumnya bisa dilihat di ๐Ÿ‘‡๐Ÿป

SURAT AL-IKHLAS (Bag-1)

TEMA

Tema surat Al-Ikhlas adalah:

ุชูŽููŽุฑู‘ูุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุจูุงู„ู’ูƒูŽู…ูŽุงู„ู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูู„ููˆู’ู‡ููŠู‘ูŽุฉูุŒ ูˆูŽุชูŽู†ูŽุฒูู‘ู‡ูู‡ู ุนูŽู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽู‚ู’ุตู

Keesaan Allah taโ€™ala dalam segala sifat kesempurnaan dan uluhiyah, dan kesucianNya dari segala kekurangan.

AYAT 1

ู‚ูู„ู’ ู‡ููˆูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏูŒ

Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa

Diawalinya surat ini dengan โ€œQulโ€ (Katakanlah) merupakan isyarat bahwa Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wasallam adalah utusan Allah yang diperintahkan untuk menyampaikan firman-Nya apa adanya.

Ada lima surat di dalam Al-Quran yang diawali dengan โ€œQulโ€ yaitu: Surat Al-Jin, Al-Kafirun, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas. Tiga surat pertama terkait hal-hal khusus yang harus disampaikan, dan dua surat terakhir terkait permohonan perlindungan khusus yang harus dilafalkan. (At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/580-581).

Kata โ€œAllahโ€ adalah nama-Nya subhanahu wataโ€™ala yang menghimpun segala Nama dan Sifat kesempurnaan-Nya, serta tidak boleh digunakan sebagai nama makhluk, seperti juga Ar-Rahman. Oleh karena itu, Dia menggunakan Nama Agung ini saat memperkenalkan diri-Nya kepada Nabi Musa alaihissalam:

ุฅูู†ู‘ูŽู†ููŠ ุฃูŽู†ูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ูŽุง ููŽุงุนู’ุจูุฏู’ู†ููŠ ูˆูŽุฃูŽู‚ูู…ู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉูŽ ู„ูุฐููƒู’ุฑููŠ

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang sebenarnya) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. (QS. Thaha: 14).

Setelah perintah untuk memperkenalkan nama-Nya yang teragung, Allah menyebutkan Nama-Nya yang menafikan persekutuan dan segala bentuk keberbilangan, yaitu Ahad.

Makna Al-Ahad adalah:

ุงูŽู„ู’ู…ูู†ู’ููŽุฑูุฏู ุจูุงู„ู’ูƒูŽู…ูŽุงู„ู

Yang Esa dalam segala kesempurnaan.

Maha Esa secara mutlak dalam segala kesempurnaan, baik dalam Dzat, hakikat Nama, Sifat dan Perbuatan-Nya, semua Maha Sempurna. (Tafsir As-Saโ€™di, Abdurrahman As-Saโ€™di, hlm 937)

AYAT 2

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽู…ูŽุฏู

Allah adalah Ash-Shamad.

Kata โ€œAllahโ€ diulang – tanpa kata ganti โ€“ untuk menunjukkan bahwa hanya Allah yang memiliki sifat Al-Ahadiyah, maka yang tidak memiliki sifat keesaan mutlak ini tidak berhak disembah dan diibadahi.

Ayat pertama dan kedua tidak dipisahkan dengan kata sambung apapun, karena ayat kedua bagaikan natijah (buah/konsekuensi) dari ayat pertama, maksudnya: Allah yang memiliki sifat Al-Ahadiyah dan Al-Uluhiyah pastilah memiliki sifat Ash-Shamadiyah. (Fath Al-Qadir, Muhammad bin Ali Asy-Syaukani, 5/634).

Makna Ash-Shamad adalah:

ุงู„ู’ู…ูŽู‚ู’ุตููˆุฏู ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽูˆูŽุงุฆูุฌู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฏู‘ูŽูˆูŽุงู…ู

Yang dituju oleh semua makhluk dalam memenuhi segala keperluan mereka terus menerus tanpa henti. (Tafsir Al-Jalalain, Jalaluddin Al-Mahalli & Jalaluddin As-Suyuthi, hlm 826).

Penjelasan seperti ini dengan redaksi yang sedikit berbeda juga diriwayatkan oleh Ikrimah dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu โ€˜anhuma. (Tafsir Ibnu Katsir, Abul Fida Ismail bin Umar bin Katsir, 8/528).

Sedangkan Allah tak sedikitpun memerlukan makhluk-Nya karena Dia Maha Mengetahui yang sempurna pengetahuan-Nya, Maha Kaya yang sempurna kekayaan-Nya, Maha Pengasih dan Penyayang yang sempurna kasih sayang-Nya, Maha Kuat dan Perkasa yang sempurna kekuatan dan keperkasaan-Nya…

Karena itulah, Dia menjadi satu-satunya yang berhak disembah dan diibadahi.

Diantara ulama, ada yang berpendapat bahwa ayat berikutnya adalah penjelasan makna Ash-Shamad, yakni Ikrimah, Abul โ€˜Aliyah, Muhammad bin Kaโ€™ab, dan Ar-Rabiโ€™ bin Anas rahimahumullah. (Tafsir Ath-Thabari, Abu Jaโ€™far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, 24/691-692; Tafsir Ibnu Katsir, 8/528).

AYAT 3

Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan

Diantara tanda keesaan-Nya adalah Dia tidak beranak, karena beranak menandakan ada zat yang berpisah dari Zat-Nya berupa keturunan. Anak pasti satu jenis dengan induk dan itu menunjukkan adanya kesamaan. Keturunan maupun kesamaan keduanya bertentangan dengan sifat keesaan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Allah juga mustahil dilahirkan, karena sesuatu yang dilahirkan berarti membutuhkan induk dan hal ini bertentangan dengan sifat Ash-Shamadiyah.

Mustahil Allah mempunyai anak karena Dia adalah Al-Ahad.

Dan mustahil Allah dilahirkan karena Dia adalah Ash-Shamad.

Ungkapan โ€œtidak beranakโ€ didahulukan dari pada โ€œtidak dilahirkanโ€, karena penyimpangan keyakinan umat manusia adalah keyakinan mereka bahwa โ€œAllah mempunyai anakโ€, dan tidak ada informasi berarti yang memberitakan ada keyakinan ummat beragama bahwa Allah itu dilahirkan. (Fath Al-Qadir, 5/634).

ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู ุงู„ู’ูŠูŽู‡ููˆุฏู ุนูุฒูŽูŠู’ุฑูŒ ุงุจู’ู†ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุตูŽุงุฑูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุณููŠุญู ุงุจู’ู†ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ูู…ู’ ุจูุฃูŽูู’ูˆูŽุงู‡ูู‡ูู…ู’ ูŠูุถูŽุงู‡ูุฆููˆู†ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู„ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูƒูŽููŽุฑููˆุง ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ู ู‚ูŽุงุชูŽู„ูŽู‡ูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‰ ูŠูุคู’ููŽูƒููˆู†ูŽ

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?! (QS. At-Taubah: 30).

Allah subhanahu wataโ€™ala tidak hanya menolak kebohongan bahwa Dia melahirkan, tetapi juga menolak anggapan bahwa Dia mengambil hamba-Nya – yang shalih sekalipun – sebagai anak, sebagaimana firman-Nya dalam kisah kelahiran Nabi Isa alaihissalam: bahwa kelahirannya tanpa ayah hanya untuk menunjukkan kekuasaan Allah yang tiada batas, bahwa kekuasaan-Nya sama sekali tak terikat dengan hukum kausalitas (sebab akibat) yang biasa berlaku di alam yang diciptakanNya. Nabi Isa alaihissalam bukanlah anak-Nya dan tidak pula diangkat sebagai anak-Nya.

ุฐูŽู„ููƒูŽ ุนููŠุณูŽู‰ ุงุจู’ู†ู ู…ูŽุฑู’ูŠูŽู…ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู„ูŽ ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูููŠู‡ู ูŠูŽู…ู’ุชูŽุฑููˆู†ูŽ (34) ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุชู‘ูŽุฎูุฐูŽ ู…ูู†ู’ ูˆูŽู„ูŽุฏู ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽู‡ู ุฅูุฐูŽุง ู‚ูŽุถูŽู‰ ุฃูŽู…ู’ุฑู‹ุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู„ู ู„ูŽู‡ู ูƒูู†ู’ ููŽูŠูŽูƒููˆู†ู (35) ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุฑูŽุจู‘ููŠ ูˆูŽุฑูŽุจู‘ููƒูู…ู’ ููŽุงุนู’ุจูุฏููˆู‡ู ู‡ูŽุฐูŽุง ุตูุฑูŽุงุทูŒ ู…ูุณู’ุชูŽู‚ููŠู…ูŒ (36)

Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mengambil anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus. (QS. Maryam: 34-36).

Begitu pula firman-Nya dalam hadits qudsi:

ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุงุŒ ุนูŽู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู: ยซูƒูŽุฐู‘ูŽุจูŽู†ููŠ ุงุจู’ู†ู ุขุฏูŽู…ูŽ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ู„ูŽู‡ู ุฐูŽู„ููƒูŽุŒ ูˆูŽุดูŽุชูŽู…ูŽู†ููŠุŒ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ู„ูŽู‡ู ุฐูŽู„ููƒูŽุŒ ููŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุชูŽูƒู’ุฐููŠุจูู‡ู ุฅููŠู‘ูŽุงูŠูŽ ููŽุฒูŽุนูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู‘ููŠ ู„ุงูŽ ุฃูŽู‚ู’ุฏูุฑู ุฃูŽู†ู’ ุฃูุนููŠุฏูŽู‡ู ูƒูŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽุŒ ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุดูŽุชู’ู…ูู‡ู ุฅููŠู‘ูŽุงูŠูŽุŒ ููŽู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ู„ููŠ ูˆูŽู„ูŽุฏูŒุŒ ููŽุณูุจู’ุญูŽุงู†ููŠ ุฃูŽู†ู’ ุฃูŽุชู‘ูŽุฎูุฐูŽ ุตูŽุงุญูุจูŽุฉู‹ ุฃูŽูˆู’ ูˆูŽู„ูŽุฏู‹ุงยป (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)

Dari Ibnu โ€˜Abbas radhiyallahu โ€˜anhuma dari Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wasallam, beliau bersabda:
Allah berfirman: Anak Adam (manusia) telah mendustakanKu padahal ia tidak berhak atas hal itu, dan ia juga telah mencaciKu padahal ia tidak berhak atas hal itu. Ia mendustakanKu yaitu menganggap bahwa sesungguhnya Aku tak sanggup mengembalikannya seperti semula (setelah ia mati). Adapun caciannya kepadaKu adalah perkataannya bahwa Aku punya anak. Mahasuci Aku dari perbuatan mengambil istri atau anak. (HR. Al-Bukhari).

AYAT 4

ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ู„ูŽู‡ู ูƒููููˆู‹ุง ุฃูŽุญูŽุฏูŒ

Dan tidak ada untuk-Nya yang setara, siapapun/apapun.

Makna al-kufu adalah:

ุงู„ู†ู‘ูŽุธููŠุฑู

Yang setara atau sebanding.

โ€œTak ada untuk-Nya yang setara, siapapun/apapunโ€

Begitulah terjemahannya sesuai urutan kata pada ayat. Kata โ€œkufuโ€ (yang setara) didahulukan daripada kata โ€œahadโ€ (siapapun atau apapun), karena yang ingin dinegasikan adalah kesetaraan itu sendiri, sementara siapapun atau apapun yang dianggap setara dengan Allah, apalagi yang menganggap dirinya setara dengan Allah tidak terlalu penting.

Ayat terakhir ini sebagai kesimpulan dari ayat-ayat sebelumnya. Bahwa Allah yang memiliki semua sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan yang disebutkan di ayat 1 sampai ayat 3, pastilah tidak dapat disetarakan dengan siapapun atau apapun dari ciptaan-Nya. (Fath Al-Qadir, 5/635).

ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูƒูŽู…ูุซู’ู„ูู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ููŠุนู ุงู„ู’ุจูŽุตููŠุฑู

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS. Asy-Syura: 11).

KESIMPULAN

Surat Al-Ikhlas MENEGASKAN semua sifat kesempurnaan untuk Allah taโ€™ala dan MENEGASIKAN semua kekurangan.

1. Ayat pertama menegaskan sifat Al-Ahadiyah (keesaan mutlak) dan menegasikan keberbilangan.

2. Ayat kedua menegaskan sifat Ash-Shamadiyah (kesempurnaan kekayaan-Nya dalam segala hal) dan menegasikan keperluan-Nya kepada makhluk.

3. Ayat ketiga menegasikan bahwa Dia melahirkan untuk menegaskan sifat baqa-Nya (kekal).
Juga menegasikan kelahiran-Nya untuk menegaskan sifat azali-Nya (tak bermula).

4. Ayat keempat menegasikan kemiripan apalagi kesamaan dengan makhluk dalam hal apapun untuk menegaskan kembali keesaan-Nya, disamping keagungan dan keperkasaan-Nya.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

SURAT AL-IKHLAS (Bag-1)

Oleh: Ahmad Sahal Hasan, Lc

ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู…
ู‚ูู„ู’ ู‡ููˆูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏูŒ (1) ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽู…ูŽุฏู (2) ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู„ูุฏู’ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠููˆู„ูŽุฏู’ (3) ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ู„ูŽู‡ู ูƒููููˆู‹ุง ุฃูŽุญูŽุฏูŒ (4)

1. Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa
2. Allah adalah Ash-Shamad (yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu)
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4. Dan tidak ada yang setara dengan Dia, siapapun/apapun.

NAMA SURAT

Dinamakan Surat Al-Ikhlash karena surat ini berbicara tentang ikhlas (pemurnian) dalam beribadah kepada Allah atau tentang tauhid terutama dalam Nama dan Sifat kesempurnaanNya. Oleh karena itu kalimat tauhid โ€œLaa ilaaha illallaahโ€ disebut juga dengan kalimat ikhlas, seperti dalam salah satu lafal dzikir:

ุฃูŽุตู’ุจูŽุญู’ู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ููุทู’ุฑูŽุฉู ุงู„ุฅูุณู’ู„ุงูŽู…ูุŒ ูˆูŽูƒูŽู„ูู…ูŽุฉู ุงู„ุฅูุฎู’ู„ุงูŽุตูุŒ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุฏููŠู’ู†ู ู†ูŽุจููŠู‘ูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽุŒ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูู„ู‘ูŽุฉู ุฃูŽุจููŠู’ู†ูŽุง ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู’ู…ูŽ ุญูŽู†ููŠู’ูู‹ุง ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู’ู†ูŽ (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุฅู…ุงู… ุฃุญู…ุฏ ูˆุตุญุญู‡ ุงู„ุฃู„ุจุงู†ูŠ)

Kami berpagi hari di atas fitrah Islam, kalimat ikhlas (laa ilaaha illallaah), di atas agama Nabi kami Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wasallam, dan di atas millah (ajaran) bapak kami Ibrahim yang lurus, dan sekali-kali ia tidak termasuk orang-orang yang berbuat syirik. (HR. Imam Ahmad dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

Ikhlas merupakan lawan dari syirik besar maupun syirik kecil, sehingga ia mengandung dua makna sekaligus:

1. Memurnikan ibadah hanya kepada Allah untuk menghindarkan kaum muslimin dari syirik besar yang dilakukan oleh orang-orang kafir yang menyembah selain Allah dan tidak beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wasallam atau mengingkari salah satu rukun iman, sehingga Dia memberitahukan di dalam Al-Quran bahwa seluruh amal baik mereka tidak diterima. (Lihat surat At-Taubah ayat 17, Ibrahim ayat 18, Al-Kahfi ayat 105, An-Nur ayat 39-40, Al-Furqan ayat 23, Muhammad ayat 8, 9,28).

2. Memurnikan niat hanya untuk Allah dalam amal yang dilakukan seorang muslim sehingga ia terhindar dari syirik kecil yaitu riya yang membatalkan pahala amal yang dikotori olehnya.

SABAB NUZUL (SEBAB TURUN) SURAT AL-IKHLAS

Surat Al-Ikhlas menurut mayoritas ulama adalah MAKIYAH (At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/611), yakni diturunkan SEBELUM HIJRAH Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam ke Madinah, sebagai jawaban dari pertanyaan musyrikin Quraisy:

ุนูŽู†ู’ ุฃูุจูŽูŠู‘ู ุจู’ู†ู ูƒูŽุนู’ุจูุŒ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู†ูŽ ู‚ูŽุงู„ููˆุง ู„ูุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ: ุงู†ู’ุณูุจู’ ู„ูŽู†ูŽุง ุฑูŽุจู‘ูŽูƒูŽุŒ ููŽุฃูŽู†ู’ุฒูŽู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู: {ู‚ูู„ู’ ู‡ููˆูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ุตู‘ูŽู…ูŽุฏู} (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ)

Dari Ubay bin Kaโ€™ab radhiyallahu โ€˜anhu bahwa sesungguhnya kaum musyrikin berkata kepada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam: โ€œJelaskan kepada kami nasab Rabb-mu !โ€ Maka Allah menurunkan: โ€œQul Huwallahu Ahad Allahush-Shamad..โ€ (HR. Tirmidzi – hadits hasan).

KEUTAMAANNYA

Selain sebagai salah satu dari tiga surat perlindungan (muโ€™awwidzat) bersama surat Al-Falaq dan An-Nas, surat Al-Ikhlas memiliki keutamaan lain, diantaranya:

SETARA DENGAN SEPERTIGA AL-QURAN

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam meminta para sahabat untuk berkumpul karena beliau akan membacakan sepertiga Al-Quran. Setelah mereka berkumpul beliau membaca surat Al-Ikhlas, kemudian bersabda:

ยซุฅูู†ู‘ููŠ ู‚ูู„ู’ุชู ู„ูŽูƒูู…ู’ ุณูŽุฃูŽู‚ู’ุฑูŽุฃู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุซูู„ูุซูŽ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ูุŒ ุฃูŽู„ูŽุง ุฅูู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุชูŽุนู’ุฏูู„ู ุซูู„ูุซูŽ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ูยป

Sesungguhnya aku telah berkata kepada kalian bahwa aku akan membacakan kepada kalian sepertiga Al-Quran, ingatlah sesungguhnya ia setara dengan sepertiga Al-Quran. (HR. Muslim).

Yang dimaksud dengan setara sepertiga Al-Quran adalah setara dengan pahala membaca sepertiga Al-Quran, namun tidak menggantikan fungsi sepertiga Al-Quran, baik dalam penyucian jiwa, kandungan petunjuk maupun syarat sah amal.

Misalnya orang yang membaca surat Al-Ikhlas tiga kali di dalam shalat maka pahalanya berdasarkan hadits di atas sama dengan pahala membaca seluruh Al-Qurโ€™an (termasuk Al-Fatihah), akan tetapi surat Al-Ikhlas yang dibaca tiga kali itu tidak dapat menggugurkan kewajiban membaca surat Al-Fatihah itu sendiri. Artinya shalatnya tetap tidak sah jika ia tidak membaca surat Al-Fatihah walaupun ia telah membaca Al-Ikhlas tiga kali.

Dari sudut pandang temanya, para ulama berupaya menjelaskan maksud keutamaan surat Al-Ikhlas setara sepertiga Al-Quran, diantaranya penjelasan Al-Imam Al-Ghazali rahimahullah:

โ€œFungsi utama Al-Quran adalah menjelaskan maโ€™rifatullah (mengenal Allah), maโ€™rifatul akhirah (mengenal akhirat) dan maโ€™rifatush-shirathil mustaqim (mengenal jalan yang lurus). Tiga hal ini adalah fungsi utama, sedangkan yang lain adalah turunan. Surat Al-Ikhlas berisi salah satu dari tiga fungsi tersebut, yaitu maโ€™rifatullah…โ€ ย (Dikutip oleh Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi dalam tafsirnya Mahasin At-Taโ€™wil 9/572 dari kitab Jawahir Al-Quran karya Al-Imam Al-Ghazali).

CINTA SURAT AL-IKHLAS MENJADI SEBAB DICINTAI ALLAH

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจูŽุนูŽุซูŽ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽุฑููŠู‘ูŽุฉูุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽู‚ู’ุฑูŽุฃู ู„ูุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจูู‡ู ูููŠ ุตูŽู„ุงูŽุชูู‡ูู…ู’ ููŽูŠูŽุฎู’ุชูู…ู ุจูู€ {ู‚ูู„ู’ ู‡ููˆูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏูŒ}ุŒ ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ุฑูŽุฌูŽุนููˆุง ุฐูŽูƒูŽุฑููˆุง ุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซุณูŽู„ููˆู‡ู ู„ูุฃูŽูŠู‘ู ุดูŽูŠู’ุกู ูŠูŽุตู’ู†ูŽุนู ุฐูŽู„ููƒูŽุŸยปุŒ ููŽุณูŽุฃูŽู„ููˆู‡ูุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุตูููŽุฉู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ูุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุฃูุญูุจู‘ู ุฃูŽู†ู’ ุฃูŽู‚ู’ุฑูŽุฃูŽ ุจูู‡ูŽุงุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ: ยซุฃูŽุฎู’ุจูุฑููˆู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูŠูุญูุจู‘ูู‡ูยป (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)

Dari โ€˜Aisyah radhiyallahu โ€˜anha bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu โ€˜alaihi wasallam telah mengutus seorang laki-laki memimpin pasukan perang. Ia mengimami shalat para sahabatnya dan menutup bacaan surat (setelah surat Al-Fatihah) dengan Qul HuwaLlahu Ahad. Ketika kembali, mereka menyebutkan hal itu kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wasallam, maka beliau bersabda: Tanyakan padanya, mengapa ia berbuat seperti itu? Maka merekapun bertanya kepadanya, lalu ia menjawab: Karena ia adalah sifat Ar-Rahman, dan aku cinta membacanya. Maka Nabi shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda: Beritahukan padanya bahwa Allah mencintainya. (HR. Al-Bukhari).

DIBANGUNKAN RUMAH DI SURGA BAGI PEMBACANYA

ุนูŽู†ู’ ุณูŽู‡ู’ู„ู ุจู†ู ู…ูุนูŽุงุฐู ุจู† ุฃูŽู†ูŽุณูุŒ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ูุŒ ุนูŽู† ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู – ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ – ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุฑูŽุฃูŽ: {ู‚ูู„ู’ ู‡ููˆูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏูŒ} ุนูŽุดู’ุฑูŽ ู…ูŽุฑู‘ูŽุงุชูุŒ ุจูŽู†ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู‡ู ุจูŽูŠู’ุชู‹ุง ูููŠ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูยปุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุนูู…ูŽุฑู ุจู† ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจู: ุฅูุฐู†ู’ ู†ูŽุณู’ุชูŽูƒู’ุซูุฑู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŸ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู – ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ -: ยซุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑู ูˆูŽุฃูŽุทู’ูŠูŽุจูยป. (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุฅู…ุงู… ุฃุญู…ุฏุŒ ูˆุตุญุญู‡ ุงู„ุฃู„ุจุงู†ูŠ)

Dari Sahal bin Muโ€™adz bin Anas, dari ayahnya, dari Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa membaca โ€œQul Huwallahu ahadโ€ sepuluh kali, Allah akan membangun untuknya rumah di surga. Maka Umar bin Khathab berkata: Kalau begitu, kita perbanyak Ya Rasulullah ? Lalu Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda: Allah lebih banyak dan lebih baik (karuniaNya daripada amal yang dilakukan hambaNya). (HR. Imam Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

(Bersambung)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Tempat Bersandar

Tadabbur QS. Alam Nasyrah (94) SATU KESULITAN DUA KEMUDAHAN

Pemateri: Ust. Dr. H. Saiful Bahri, M.A

Mukaddimah

Menurut para ulama Surat Alam Nasyrah diturunkan di Makkah setelah Surat adh-Dhuha sebagaimana urutannya dalam mushaf usmany([1]). Surat ini memiliki beberapa nama selain Alam Nasyrah, di antarnya: asy-Syarh([2]), seperti yang terdapat dibanyak cetakan mushaf sekarang dan buku-buku tafsir. Juga al-Insyirah seperti yang disebutkan Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan Ibnu al-Jauzy dalam tafsirnya([3]).

Surat ini merupakan kelanjutan surat sebelumnya, karena sama-sama membahas kepribadian Nabi Muhammad saw dan kondisi yang dihadapi oleh beliau. Keduanya juga menyebutkan kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Allah.

Jika di surat sebelumnya Allah menyebutkan tiga nikmatnya: Allah lah yang memberikan inayah/perlindungan saat kondisi beliau yatim, fakir dan kebingungan. Maka pada surat ini Allah tambahkan tiga nikmat-Nya yang lain lagi, yaitu: nikmat kelapangan dada([4]), meringankan beban beliau saat berhadapan dengan kaumnya ketika menyampaikan risalah kenabian yang tak ringan, juga Allah tinggikan kedudukan dan derajat beliau baik di bumi maupun di langit melebihi segala ciptaan-Nya yang pernah ada, dan yang akan ada.

Hal ini semata diperuntukkan kepada beliau demi menghibur sekaligus menguatkan azam beliau. Di tengah teror yang tak henti-hentinya dari musyrikin Makkah.

Di akhir surat ini Allah memerintahkan untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya, juga untuk beribadah setelah menyampaikan risalah. Perpindahan-perpindahan aktivitas tersebut merupakan refleksi rasa syukur([5]) kepada Allah swt atas karunia nikmat-nikmat-Nya yang sangat banyak yang tak memungkinkan untuk dihitung-hitung apalagi untuk dibalas.

Kenikmatan-Kenikmatan

โ€œBukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu. Yang memberatkan punggungmu? Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)muโ€. (QS. 94: 1-4)

Nikmat pertama yang disebut Allah adalah nikmat kelapangan dada. Diturunkan dalam bentuk pertanyaan sebagaimana surat sebelumnya. Hal ini dimaksudkan supaya Nabi Muhammad saw juga benar-benar bepikir, merenungi lebih dalam atas karunia dan nikmat-nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Lebih dari yang sekadar disebut-Nya.

Ayat di atas mengandung dua makna, zhahir dan batin. Secara zhahir Rasulullah saw pernah dibersihkan organ dalamnya oleh malaikat sewaktu masih kecil.

Demikian juga setelah itu. Sebagian ulama berpendapat bahwa hal tersebut terjadi berkali-kali. Pertama kali terjadi pada saat beliau berusia empat tahun, yaitu masa-masa terakhir beliau di asuh oleh Halimah Saโ€™diyah di perkampungan Bani Saโ€™d sebelum dikembalikan kepada ibunya. Kedua, terjadi pada saat beliau berumur duapuluhan tahun. Ketiga, terjadi lagi sebelum beliau Israโ€™ Miโ€™raj([6]).

Dalam riwayat Imam Ahmad bahkan dijelaskan bahwa tujuan pembelahan dada beliau โ€“operasi fisik- secara zhahir adalah untuk membuang dendam, hasad dan iri (al-ghill wa al-hasad) dan kemudian memasukkan cinta dan kasih sayang (rahmah wa ra`fah) ([7]). Menariknya Imam al-Baidhawy mengatakan bahwa seolah-olah ini merupakan athaf dari surat sebelumnya yang datang dengan kata tanya (istifham) (ุฃู„ู… ูŠุฌุฏูƒ ูŠุชูŠู…ุงู‹). Dan untuk menegaskan bahwa masih banyak nikmat-nikmat Allah yang lain yang tidak disebut dan manusia tak mampu menghitungnya.

Adapun kandungan makna batinnya, bahwa Allah telah memberikan kelapangan dada dengan membuka hati beliau untuk dimudahkan menerima ilmu dan hikmah kenabian serta risalah. Demikian ditegaskan maknanya oleh Imam al-Baghawi([8]). Bahkan para tokoh sufi lebih suka memakai makna batin ini dan lebih merajihkannya karena kata yang dipakai โ€œsyarahaโ€.

Nikmat kedua, menghilangkan beratnya beban-beban dakwah Rasulullah saw. Sebagian para ahli tafsir menafsirkan โ€œal-wizrโ€ di sini adalah kesalahan dan kealpaan yang dilakukan Nabi Muhammad sebelum beliau jadi nabi.

Semuanya telah Allah ampunkan. Tapi tak sedikit yang menafsirkannya dengan beban secara umum yang dihadapi oleh Rasulullah saw dalam melaksanakan misi yang dianugerahkan Allah kepada beliau, yaitu: menyampai-kan risalah kenabian. Baik beban fisik dengan teror yang diterimanya, maupun secara psikis yang dialaminya berkali-kali. Dari sejak hinaan, cemoohan, ancaman, tuduhan keji atau bahkan rayuan dan bujukan. Semuanya Allah jadikan ringan. Bahkan Allah melengkapinya dengan nikmat selanjutnya.

Nikmat ketiga, ditinggikan derajatnya. Allah angkat derajat beliau sebagai nabi. Bahkan disandingkan namanya dengan asma Allah Yang Mahaagung. Namanya disebut oleh penduduk bumi dan langit disepanjang waktu.

Penduduk bumi yang shalat saja berputar dari pagi ke pagi selalu ada yang shalat, syahadatain dibaca di dalamnya. Dalam khutbah, syahadatain juga dibaca, sebelum ijab qabul pernikahan syahadatain juga dibaca. Banyak riwayat yang menyebutan kemuliaan beliau yang diberikan Allah dengan penyebutan tersebut([9]).

Kemudahan-Kemudahan

Setelah menyebutkan nikmat dan karunia yang diberikan Allah kepada Nabi-Nya Allah menegaskan sebuah makna yang memberikan sugesti kemenangan, kebahagiaan dan ketenangan. Simaklah kedahsyatan janji-Nya:

โ€œKarena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesung-guhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahanโ€. (QS. 94: 5-6)

Apa rahasia pengulangan kalimat-kalimat di atas. Apa makna yang terkandung hingga Allah perlu mengulangi dan menegaskan pesan-pesan-Nya.

Imam al-Baghawi, Imam al-Maโ€™iny dan Syeikh Muhyiddin ad-Darwisy menyimpulkan dari struktur gaya bahasa di atas dengan sebuah kaidah kebahasaan: โ€œIsim nakirah jika disebut dua kali maka yang kedua tidaklah sama dengan yang pertama. Namun, jika isim makrifat disebut dua kali maka yang kedua sama dengan yang pertamaโ€([10]).

Dari kaidah ini bisa ditarik sebuah kesimpulan, setiap satu kesulitan terdapat dua kemudahan. Setidaknya akan berupa penyelesaian yang terbaik serta pahala kebaikan yang hanya diketahui Allah jika bersabar dalam menghadapinya. Setelah kesulitan dan beban-beban dakwah yang berat di Makkah Allah akan berikan kemudahan dan kemenangan di Madinah.

Kemudahan yang diberikan Allah bahkan berlipat-lipat. Jika Nabi saw terlahir sebagai yatim, beliau bahkan menyantuni banyak fakir miskin dan anak-anak yatim serta para janda miskin. Allah berikan kekayaan, beliau diangkat derajatnya, dilapangkan dadanya dan diringankan beban-bebannya. Apalagi setelah diangkat sebagai Nabi dan Rasul Allah swt. Meski, tekanan justru datang setelah itu tapi kemudahan dan kemenangan Allah jadikan setelahnya. Rahmatan lil alamin, beliau bahkan kemudian menjelma menjadi rahmat โ€“atas titah Allah- bagi segenap alam semesta. Bukan hanya bagi manusia saja.

Jika pada mulanya Islam ditekan. Pengikutnya juga ditindas dan dihina. Yang mengikutinya juga orang-orang lemah dan terzhalimi. Tapi akhirnya Allah mengubahnya sesuai janjinya. Sebagai contoh kisah Fathu Makkah memberikan kebenaran janji Allah. Dengan segala izzah, Rasul memasuki kota Makkah.

Jika sebelumnya orang-orang kuat penduduk Makkah menindas beliau dan para pengikutnya, maka pada saat itu semuanya tertunduk pasrah. Bahkan sebagian dari mereka ada yang melarikan diri. Kemuliaan yang tak menjadikan beliau sombong dan lupa diri. Beliau justru memperbanyak tasbih dan istighfar, bersyukur atas kemuliaan dan kemenangan yang dikaruniakan Allah; mengukuh-kan dan mengokohkan agama-Nya di muka bumi ini.

Jadi, yakinlah setidaknya setiap satu kesulitan ada dua kemudahan yang disiapkan Allah, kemudahan duniawi dan ukhrawy. Tak heran jika kemudian beliau bersabda sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abbas dan Ibnu Masโ€™ud ra., โ€œBeritakan kabar gembira, telah datang kemudahan. Takkan pernah satu kesulitan mengalahkan dua kemudahanโ€([11]).

Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya.

Perpindahan Aktivitas

โ€œMaka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lainโ€.(QS. 94: 7)

Inilah makna istirahat yang sebenarnya. Bukanlah dengan bermalas-malasan dan bersantai, namun dengan perpindahan dari satu aktivitas ke aktivitas lain.

Sehingga akan maksimal produktifitas seseorang. Maka Nabi Muhammad saw mencontohkan setelah menyampaikan dakwahnya, beliau diperintah untuk bersegera beribadah sebagai rasa syukur atas nikmat kenabian sekaligus sebagai rasa tawakkal memasrahkan usaha yang telah dilakukan sebelumnya.
Bahwa hasil dari dakwah beliau sepenuhnya diserahkan kepada Allah swt.

Inilah yang seharusnya juga ditiru oleh para pengikut beliau. Jika itu benar-benar kita lakukan maka kemudahan-kemudahan akan semakin banyak diberikan Allah. Dan Allah akan tinggikan pula izzah agama ini melalui tangan-tangan kita.

Selain itu ayat ini mengisyaratkan sebuah keseimbangan ideal. Setelah kita sibuk dan beramal untuk dunia kita maka seharusnya kita juga berbuat dan beramal untuk akhirat kita.

โ€œDan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharapโ€ (QS. 94: 8)

Kesyukuran itu lebih sempurna bila kita jadikan Allah benar-benar satu-satunya tempat bergantung dan berharap. Apa yang lebih indah dari rasa syukur yang dikaruniakan Allah yang telah menyebut bahwa hanya sedikit saja dari hamba-Nya yang mampu bersyukur dengan baik.

Sang Guru Ibnu Atha`illah As-Sakandary mengimbuhkan sebuah makna yang sangat dalam, โ€œAllah menganugerahimu tiga kemuliaan, yaitu: Dia membuatmu ingat (dzikir) kepada-Nya. Kalaulah bukan karena karunia-Nya, engkau tak pantas menjadi ahli dzikir kepada-Nya. Dia membuatmu diingat oleh-Nya (madzkur), karena Dia sendiri yang menisbahkan dzikir itu untukmu. Dan Dia juga membuatmu diingat di sisi-Nya, saat Allah sempurnakan nikmat-Nya kepadamuโ€([12]).

Penutup

Itulah Allah. Dzat yang rahmat-Nya luas tanpa batas. Dzat yang kasih sayang-Nya tidak terbilang. Pernahkah kita menghitung nikmat dan karunia yang diberikan-Nya kepada kita. Padahal tak banyak yang sudah kita lakukan untuk menyukurinya. Berapa kalikah kita berbuat dosa dan melanggar larangan-Nya, tak menunaikan hak-hak-Nya dengan baik? Namun, hingga saat ini Dia masih saja memberi kesempatan pada kita untuk bertaubat dan memperbaiki kesalahan-kesalahan kita. Betapa banyak kesalahan yang kita sembunyikan dari orang tua kita, istri kita, anak kita dan dari orang banyak.

Dan Allah tetap terus menutupnya. Akankah kita melupakannya begitu saja? Alangkah baiknya jika kita tak menghentikan pengharapan kita pada-Nya dan terus mendekatkan diri padanya dengan taubat dan istighfar.
Itulah kesempurnaan pengharapan. Maka, Dialah Dzat yang laik untuk benar-benar diharapkan karena Dia tak pernah menyelisihi dan mengingkari janji-Nya serta mengabaikan ketulusan pengharapan hamba-hamba-Nya.

Maroji’

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqรขn fi โ€˜Ulรปmi al-Qurโ€™รขn, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm.20-21; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhรขn fi โ€˜Ulรปmi al-Qurโ€™รขn, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jumโ€™ah Ali Abd. Qadir, Maโ€™รขlim Suar al-Qurโ€™รขn, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.816

([2]) Ibid. hlm. 817

([3]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, ad-Dur al-Mantsur fi at-Tafsir bi al-Ma`tsur, Beirut: Dar al-Fikr, Cet.I, 1983 M-1403 H,, Vol.VIII, hlm. 547, Abdurrahman Ibnu al-Jauzy, Zad al-Masir fi Ilmi at-Tafsir, Beirut: al-Maktab al-Islami, Cet.III, 1404 H, Vol.IX, hlm. 162

([4]) ada banyak pendapat tentang pembelahan dada Nabi Muhammad saw yang insya Allah akan kita bicarakan saat menadabburi ayatnya nanti.

([5]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qurโ€™an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 302

([6]) Lihat: Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr, 1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm. 299-300, Abu al-Fida` Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur`an al-Azhim, Cairo: al-Maktab Ats-Tsaqafi, Cet.I, 2001 M, Vol. IV, hlm. 528

([7]) Tafsir Ibnu Katsir, Ibid.

([8]) Al-Baghawy, Maโ€™alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm. 469

([9]) Ali bin Ahmad Al-Wahidy, Al-Wasith fi Tafsir al-Qurโ€™an al-Majid, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 1994 M-1415 H, Vol.IV, hlm.416-417, juga: Ibnu Jarir ath-Thabary, Jamiโ€™ al-Bayan fi Taโ€™wil Ay al-Qurโ€™an, tahqiq: Mahmud Syakir, Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol. 30, hlm. 285

([10]) Al-Baghawy, Maโ€™alim at-Tanzil, Op.Cit, Vol. IV, hlm. 470, Muhyiddin ad-Darwisy, Iโ€™rabu al-Qur`an al-Karim wa Bayanuhu, Beirut: Dar Ibnu Katsir, Cet. IX, 2005 M-1426 H, Vol. VIII,hlm. 353, lihat tesis penulis: Kitab Lawamiโ€™ al Burhan wa Qawathiโ€™ al-Bayan fi Maโ€™ani al-Qurโ€™an Karya Imam al-Maโ€™iny: Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 876

([11]) Ibnu Jarir ath-Thabary, Jamiโ€™ al-Bayan,Op.Cit, Vol. 30, hlm. 286, Abul Qasim Jarullah Az-Zamakhsyari, al-Kasyaf an Haqa`iq at-Tanzil wa โ€˜Uyun al-Aqawil fi Wujuh at-Ta`wil, Cairo: Maktabah Mustafa Muhammad, Cet.I, 1354 H, Vol.IV, hlm. 221

([12]) Ibnu Athaโ€™illah as-Sakandary, Kitab al-Hikam, Penerjemah: Dr. Ismail Baโ€™adillah, Jakarta: Khatulistiwa Press, Cet.II, Juni 2008, hlm. 289


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Seruan Untuk Memakmurkan Masjid

Tahiyatul Masjid Ketika Khathib Sedang Khutbah Jumat

Pertanyaan

Apakah diperbolehkan shalat tahiyatul masjid saat khatib sedang berkhutbah pada hari Jum’at?

Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu โ€˜Ala Rasulillah wa โ€˜Ala Aalihi wa Shahbihi wa man waalah, wa baโ€™d:

Secara umum bagi jamaah shalat Jumat adalah mesti tertib dan tenang, serta perhatian ย terhadap khutbah Jumat. ย Bahkan, memerintahkan orang lain untuk diam saja juga terlarang dan termasuk yang membuat hilang kesempurnaan shalat Jumat orang tersebut.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya bahwa Nabi ๏ทบbersabda:

ุฅูุฐูŽุง ู‚ูู„ู’ุชูŽ ู„ูุตูŽุงุญูุจููƒูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ุฌูู…ูุนูŽุฉู: ุฃูŽู†ู’ุตูุชู’ุŒ ูˆูŽุงู„ุฅูู…ูŽุงู…ู ูŠูŽุฎู’ุทูุจูุŒ ููŽู‚ูŽุฏู’ ู„ูŽุบูŽูˆู’ุชูŽ

Jika kamu berkata kepada kawanmu pada hari (shalat) Jumat: โ€œDiam!โ€ sedangkan Imam sedang berkhutbah, maka engkau telah sia-sia.โ€ (HR. Bukhari No. 934, Muslim No. 851)

Imam An Nawawi menjelaskan maksud Laghawta adalah engkau telah mengatakan perkataan yang melalaikan, gugur, sia-sia, dan tertolak. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/138)

Bahkan Ibnu โ€˜Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma begitu marah kepada orang yang berbicara saat imam khutbah.

Alqamah bin Abdullah bercerita:

ย ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงุจู’ู†ูŽ ุนูู…ูŽุฑูŽุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูุฑูŽุฌูู„ู ูƒูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุตูŽุงุญูุจูŽู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ุฌูู…ูุนูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ู ูŠูŽุฎู’ุทูุจู: ยซุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ููŽุญูู…ูŽุงุฑูŒ , ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุตูŽุงุญูุจููƒูŽ ููŽู„ูŽุง ุฌูู…ูุนูŽุฉูŽ ู„ูŽู‡ูยป

Bahwasanya Ibnu Umar berkata kepada laki-laki yang mengajak bicara pada sahabatnya ย  di hari Jumat dan imam sedang khutbah: โ€œAda pun kamu, kamu ini keledai, sedangkan kawanmu tidak ada Jumat baginya.โ€ (Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 26103)

Semua riwayat ini, dan yang semisalnya, merupakan larangan secara ย muthlaq berbicara pada saat imam sedang khutbah. Tetapi, kita dapati riwayat lain bahwa saat Nabi ๏ทบ sedang khutbah justru Beliau memerintahkan seorang jamaah yang baru sampai ke masjid untuk shalat tahiyatul masjid.

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ย ุฌูŽุงุกูŽ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุฎู’ุทูุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ุฌูู…ูุนูŽุฉู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุตูŽู„ู‘ูŽูŠู’ุชูŽ ูŠูŽุง ููู„ูŽุงู†ูู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูู…ู’ ููŽุงุฑู’ูƒูŽุนู’ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู

Datang seorang laki-laki dan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallamsedang berkhutbah di hadapan manusia pada hari Jumat. Beliau bersabda: โ€œWahai fulan, apakah engkau sudah shalat?โ€ orang itu menjawab: โ€œTidak.โ€ Beliau bersabda: โ€œBangunlah dan shalatlah dua rakaat.โ€ (HR. Bukhari No. 930, dan Muslim No. 875)

Perkataan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam: โ€œBangunlah ..โ€menunjukkan bahwa sebelumnya orang tersebut telah duduk lebih dahulu.

Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa terlanjurโ€œdudukโ€ tidaklah membuat kesunahan tahiyatul masjid menjadi gugur.(Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 2/228)

Maka kisah di atas menjadi dalil yang muqayyad (mengikat) bahwa tidak semua terlarang, sehingga spesial untuk shalat tahiyatul masjid dibolehkan walau imam sedang khutbah Jumat. Hal ini sesuai kaidah ย โ€œHamlul Muthlaq โ€˜Alal Muqayyadโ€ yaitu memahami dalil yang masih umum (muthlaq) ย berdasarkan dalil yang sudah khusus dan terikat (muqayyad). Jadi, secara umum memang dilarang berbicara ketika imam sedang khutbah, namun dikecualikan shalat tahiyatul masjid.

Sebenarnya hal ini diperselisihkan ulama, sebagian mereka mengatakan tetap tidak boleh shalat tahiyatul masjid ketika imam sedang khutbah. Alasannya bahwa kisah di atas adalah khusus bagi laki-laki itu saja, tidak berlaku umum. Dalam riwayat Ath Thabarani diketahui bahwa laki-laki tersebut bernama Sulaik. Ada juga yang mengatakan bahwa pembolehan ini hanya berlaku pada awal Islam yang sudah dihapus. Alasan lain adalah bahwa ada seseorang yang sedang melewati punggung jamaah, lalu nabi memerintahkan duduk dan berkata โ€œengkau telah mengganggu.โ€ Kisah ini tidak memerintahkan shalat tahiyatul masjid tapi memerintahkan duduk. Namun semua dalil ini dikoreksi oleh Imam Ibnu Hajar Rahimahullah secara baik; bahwasanya ย tidak ada dasarnya mengatakan itu khusus bagi Sulaik saja, tidak benar bahwa peristiwa ini telah dihapus hukumnya sebab Salik termasuk orang yang akhir masuk Islam, lalu perintah nabi kepada seorang laki-laki untuk duduk bukan shalat tahiyatul masjid menunjukkan bahwa tahiyatul masjid bukan wajib tapi sunah, bukan menunjukkan larangan dilakukan ketika khutbah ย sehingga menurutnya bahwa shalat tahiyatul masjid saat imam khutbah tetap boleh. (Lihat detilnya dalam Fathul Bari, 2/407-410, ada sebelas hujjah yang dikoreksi oleh Al Hafizh Ibnu Hajar)

Imam Abu Thayyib Syamsul โ€˜Azhim Abadi Rahimahullah mengatakan:

ูˆุงู„ุญุฏูŠุซ ููŠู‡ ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ุชุญูŠุฉ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ุชุตู„ู‰ ุญุงู„ ุงู„ุฎุทุจุฉ ูˆู‚ุฏ ุฐู‡ุจ ุฅู„ู‰ ู‡ุฐุง ุทุงุฆูุฉ ู…ู† ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ูˆุงู„ู…ุญุฏุซูŠู† ูˆูŠุฎููู‡ู…ุง ู„ูŠูุฑุบ ู„ุณู…ุงุน ุงู„ุฎุทุจุฉ ูˆุฐู‡ุจ ุฌู…ุงุนุฉ ู…ู† ุงู„ุณู„ู ุฅู„ู‰ ุนุฏู… ุดุฑุนูŠุชู‡ู…ุง ุญุงู„ ุงู„ุฎุทุจุฉ ูˆุงู„ุญุฏูŠุซ ู‡ุฐุง ุญุฌุฉ ุนู„ูŠู‡ู… ูˆู‚ุฏ ุชุฃูˆู„ูˆู‡ ุจุฃุญุฏ ุนุดุฑ ุชุฃูˆูŠู„ุง ูƒู„ู‡ุง ู…ุฑุฏูˆุฏุฉ ุณุฑุฏู‡ุง ุงู„ุญุงูุธ ููŠ ูุชุญ ุงู„ุจุงุฑูŠ ุจุฑุฏูˆุฏู‡ุง

Hadits ini menjadi dalil, bahwa tahiyatul masjid dilakukan ketika keadaan khutbah. Inilah pendapat segolongan ahli fiqih dan ahli hadits, dan hendaknya meringankan shalatnya agar bisa langsung mendengarkan khutbah. Segolongan salaf ada yang mengingkari dibolehkan tahiyatul masjid ketika khutbah. Namun, hadits ini menjadi hujjah (baca: bantahan) atas mereka. Mereka mencoba mentakwilkannya sampai sebelas takwilan, dan semuanya tertolak, disebutkan satu persatu oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan beserta bantahannya. (โ€˜Aunul MAโ€™bud, 3/327)

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Surat Cinta dari Allah

Surat An Nas

Pemateri: Ust. AHMAD SAHAL HASAN, Lc.

BUNYI SURAT

ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู…
ู‚ูู„ู’ ุฃูŽุนููˆุฐู ุจูุฑูŽุจู‘ู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู (1) ู…ูŽู„ููƒู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู (2) ุฅูู„ูŽู‡ู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู (3) ู…ูู†ู’ ุดูŽุฑู‘ู ุงู„ู’ูˆูŽุณู’ูˆูŽุงุณู ุงู„ู’ุฎูŽู†ู‘ูŽุงุณู (4) ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠููˆูŽุณู’ูˆูุณู ูููŠ ุตูุฏููˆุฑู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู (5) ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฌูู†ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู (6)

1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Pencipta, Pemberi Rizki, Pemelihara) manusia. 2. Malik (Raja) manusia.
3. Ilah (Yang diibadahi) manusia.
4. Dari kejahatan si pembisik (setan) yang biasa bersembunyi.
5. Yang membisikkan (kejahatan) di dalam dada manusia.
6. Dari (golongan) jin dan manusia.

Surat An-Nas termasuk surat makiyah menurut pendapat yang lebih kuat, diturunkan beriringan setelah surat Al-Falaq. (At-Tahrir wa At-Tanwir, Muhammad At-Thahir bin โ€˜Asyur, 30/624, 631).

KEUTAMAAN

Telah disebutkan beberapa hadits tentang keutamaan Surat An-Nas dan Surat Al-Falaq dalam pembahasan tentang surat Al-Falaq, silakan dilihat kembali.

SURAT AL FALAQ (Bag-1)
SURAT AL FALAQ (Bag-2)

TEMA

Tema surat An-Nas adalah:

ุงู„ุชู‘ูŽุญูŽุตู‘ูู†ู ูˆูŽุงู„ุงูุนู’ุชูุตูŽุงู…ู ุจูุงู„ู„ู‡ู ู…ูู†ู’ ุดูŽุฑู‘ู ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ูˆูŽูˆูŽุณู’ูˆูŽุณูŽุชูู‡ู

Berlindung dan berpegang teguh kepada Allah dari kejahatan setan dan bisikannya.

AYAT 1, 2 dan 3

BERLINDUNG KEPADA RABB AN-NAS, MALIK AN-NAS, ILAH AN-NAS

ู‚ูู„ู’ ุฃูŽุนููˆุฐู ุจูุฑูŽุจู‘ู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู…ูŽู„ููƒู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฅูู„ูŽู‡ู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู

Hanya Allah rabb, malik, dan ilah yang sebenarnya.
Sesuatu yang disifati dengan rabb (pemelihara dan pendidik) belum tentu adalah malik (raja), dan tidak semua raja berhak untuk dijadikan ilah (yang diibadahi), maka kata malik dan ilah di sini dalam tinjauan bahasa Arab berfungsi sebagai โ€˜athaf bayanโ€™ bagi kata rabb.

Maksudnya bahwa kedudukan kata malik dan ilah di dalam kalimat ini adalah athaf (sejajar) dengan kata rabb, sekaligus mengandung bayan (penjelasan tambahan) baginya.

Kata โ€œrabbโ€ lebih tampak kesan kelembutan dan pemeliharaannya, sedangkan kata โ€œmalikโ€ kesan kekuasaan dalam memerintah dan melarang lebih dominan. Sementara kata โ€œilahโ€ untuk menjelaskan bahwa hanya rabb dan malik yang hakiki saja, hanya rabb dan malik yang tak terbatas pemeliharaan dan kekuasaannya saja yaitu Allah subhanahu wataโ€™ala, yang berhak untuk diberikan peribadatan, ketundukan mutlak dan permohonan perlindungan.

Kata rabb mewakili sifat jamaliyah (keindahan) Allah subhanahu wataโ€™ala, dan malik mewakili sifat jalaliyah (keagungan dan kewibawaan) Nya. Sedangkan kata ilah untuk menegaskan bahwa penggabungan sifat jamaliyah dan jalaliyah itu hanya milikNya sehingga hanya Dialah yang berhak diibadahi dan dimohonkan perlindunganNya.

Kata rabb, malik dan ilah ini disebutkan tanpa dipisahkan oleh huruf โ€œwawโ€ (dan) untuk menguatkan kesan kesatuan sifat-sifat ini pada Sang Pelindung yang menunjukkan kesempurnaanNya.

Kata an-nas (manusia) diulang tiga kali mengikuti ketiga sifat Allah tersebut – tidak menggunakan kata ganti – bertujuan:

* Menunjukkan kemuliaan manusia di sisi Allah dibanding makhluk yang lain.

* Menguatkan perasaan dekat manusia kepada Allah dengan ketiga sifatNya tersebut. Perasaan ini sangat dibutuhkan saat membaca surat dan doa perlindungan ini.

* Bahwa kejahatan yang akan disebutkan dalam surat ini hanya menimpa manusia sebagai mukallaf (yang ditugaskan beribadah) karena ia terkait dengan kejahatan yang merusak keimanan, bukan kejahatan fisik yang bisa menimpa semua makhluk.

(Lihat: Nazhm Ad-Durar, Al-Biqaโ€™i, 22/424-428; Mafatih Al-Ghaib, Ar-Razi, 32/376; Fi Zhilal Al-Quran, Sayid Quthb, 6/4010).

Ketiga sifat Allah ini – rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah – digunakan sekaligus untuk berlindung dari satu kejahatan saja. Hal ini menunjukkan betapa berbahayanya kejahatan yang satu ini.

Ayat 4

BERLINDUNG DARI KEJAHATAN SETAN DAN BISIKAN JAHATNYA

ู…ูู†ู’ ุดูŽุฑู‘ู ุงู„ู’ูˆูŽุณู’ูˆูŽุงุณู ุงู„ู’ุฎูŽู†ู‘ูŽุงุณู

Al-waswaas sebenarnya adalah isim (kata benda) yaitu bisikan jahat itu sendiri. (Mafatih Al-Ghaib, 32/377). Tetapi dalam hal ini difungsikan sebagai kata sifat yang menjadi julukan setan. Julukan ini disematkan untuk setan karena membisikkan keburukan adalah pekerjaan utamanya.

Di dalam bahasa Arab, penggunaan kata benda sebagai predikat atau julukan berguna untuk menunjukkan begitu melekatnya kata itu pada pihak yang mendapatkannya. Seperti ungkapan:

ุฃูŽุจููˆู’ ุจูŽูƒู’ุฑู ู‡ููˆูŽ ุตูุฏู’ู‚ูŒ

Abu Bakar dialah kejujuran.

Untuk mengungkapkan kejujuran yang luar biasa pada diri Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu, seolah-olah Abu Bakar adalah kejujuran itu sendiri.

Begitu pula setan yang dijuluki dengan al-waswaas atau bisikan jahat, seolah-olah setan adalah bisikan jahat itu sendiri karena melekatnya bisikan jahat itu sebagai perbuatan yang dilakukan setan untuk menyesatkan manusia.

Al-khannaas artinya yang bersembunyi dan mundur karena takut.

Ibnu Abbas radhiyallau โ€˜anhuma berkata:

ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ุฌูŽุงุซูู…ูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ู‚ูŽู„ู’ุจู ุงุจู’ู†ู ุขุฏูŽู…ูŽุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุณูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุบูŽููŽู„ูŽ ูˆูŽุณู’ูˆูŽุณูŽุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฐูŽูƒูŽุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฎูŽู†ูŽุณูŽ

Setan itu akan menempel hati anak Adam. Jika ia lupa dan lalai, setan akan berbisik. Bila ia mengingat Allah, setan bersembunyi dan mundur. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/540; Az-Zuhd, Abu Dawud, hlm 295).

Begitulah tabiat pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, saat para pendukung kebenaran kuat dan berpegang teguh kepada Allah, kebatilan akan mundur dan bersembunyi. Tetapi ketika para pendukung kebenaran melemah karena jumlahnya sedikit, atau banyak jumlahnya tapi lupa dengan misi mereka menegakkan kalimat Allah dan lalai dari mengingatNya, maka para pendukung kebatilan muncul dan menyebarkan bisikan sesatnya.

Dengan menyebut ketiga sifat Allah, kita berlindung kepadaNya dari kejahatan setan secara umum, dan dari bisikan jahatnya secara khusus.

Allah subhanahu wataโ€™ala memberi julukan setan dengan julukan yang menggambarkan pekerjaannya yang paling membahayakan manusia yaitu memasukkan bisikan jahat berupa lintasan hati yang buruk.

Lintasan hati yang buruk adalah awal dari semua kemaksiatan dan kejahatan. Jika dibiarkan ia akan berubah menjadi ide, ide berkembang menjadi keinginan, keinginan yang semakin kuat akan menjelma menjadi tekad yang kemudian diwujudkan menjadi perbuatan maksiat. Perbuatan maksiat jika terus menerus dilakukan akan menjadi kebiasaan dan akhirnya sulit untuk bertaubat darinya. Naโ€™udzu billahi min dzaalik.

Ayat 5

BISIKAN SETAN DI DALAM DADA MANUSIA

ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠููˆูŽุณู’ูˆูุณู ูููŠ ุตูุฏููˆุฑู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู

Setan membisikkan kejahatan di dalam dada manusia dengan menghiasi keburukan agar terlihat baik, dan menimbulkan keinginan untuk melakukannya. Sebaliknya setan membuat kebaikan tampak buruk dan melemahkan keinginan untuk melakukannya.

Seperti cerita burung Hudhud kepada Nabi Sulaiman alaihissalam tentang Ratu Balqis dan rakyat Saba:

ูˆูŽุฌูŽุฏู’ุชูู‡ูŽุง ูˆูŽู‚ูŽูˆู’ู…ูŽู‡ูŽุง ูŠูŽุณู’ุฌูุฏููˆู†ูŽ ู„ูู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณู ู…ูู†ู’ ุฏููˆู†ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฒูŽูŠู‘ูŽู†ูŽ ู„ูŽู‡ูู…ู ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ูŽู‡ูู…ู’ ููŽุตูŽุฏู‘ูŽู‡ูู…ู’ ุนูŽู†ู ุงู„ุณู‘ูŽุจููŠู„ู ููŽู‡ูู…ู’ ู„ูŽุง ูŠูŽู‡ู’ุชูŽุฏููˆู†ูŽ

Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan Allah; dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan Allah, sehingga mereka tidak mendapat petunjuk. (QS. An-Naml: 24)

Bisikan setan diarahkan ke dalam hati, tetapi ayat ini menyebutkan bahwa bisikan itu terjadi di dalam dada.

Hal ini merupakan isyarat bahwa penjagaan dan perlindungan yang kita mohonkan kepada Allah mencakup perlindungan hati dan sekelilingnya yakni dada.

Seperti jika kita ingin melindungi rumah kita dari pencuri, yang terbaik adalah memberi penjagaan sampai di pagar sekeliling, tidak hanya di bangunan rumah.

Ayat 6

SETAN ITU DARI BANGSA JIN DAN JUGA MANUSIA

ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฌูู†ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู

Al-waswas meliputi setan dari bangsa jin yang memasukkan lintasan-lintasan buruk ke dalam hati manusia, juga termasuk setan dari bangsa manusia yaitu para perancang makar dan konspirasi yang melakukan pembicaraan rahasia untuk meyesatkan orang lain sebanyak-banyaknya dari jalan yang benar dan menyusun rencana jahat untuk menggoncang keteguhan para pejuang kebenaran. (At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/633).

ูˆูŽูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ู„ููƒูู„ู‘ู ู†ูŽุจููŠู‘ู ุนูŽุฏููˆู‘ู‹ุง ุดูŽูŠูŽุงุทููŠู†ูŽ ุงู„ู’ุฅูู†ู’ุณู ูˆูŽุงู„ู’ุฌูู†ู‘ู ูŠููˆุญููŠ ุจูŽุนู’ุถูู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุจูŽุนู’ุถู ุฒูุฎู’ุฑูููŽ ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู„ู ุบูุฑููˆุฑู‹ุง ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุดูŽุงุกูŽ ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ู…ูŽุง ููŽุนูŽู„ููˆู‡ู ููŽุฐูŽุฑู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽุง ูŠูŽูู’ุชูŽุฑููˆู†ูŽ. ูˆูŽู„ูุชูŽุตู’ุบูŽู‰ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฃูŽูู’ุฆูุฏูŽุฉู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู„ูŽุง ูŠูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉู ูˆูŽู„ููŠูŽุฑู’ุถูŽูˆู’ู‡ู ูˆูŽู„ููŠูŽู‚ู’ุชูŽุฑููููˆุง ู…ูŽุง ู‡ูู…ู’ ู…ูู‚ู’ุชูŽุฑููููˆู†ูŽ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan jenis jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan. (QS. Al-Anโ€™am: 112-113).

HUBUNGAN SURAT AL-FALAQ DENGAN AN-NAS

1. Sama-sama diawali dengan perintah โ€œQulโ€katakanlah.

2. Sama-sama sebagai doa perlindungan dengan lafazh โ€œaโ€™uudzuโ€ aku berlindung, dan keduanya dinamakan muโ€™awwidzatain (dua surat perlindungan).

3. Surat Al-Falaq lebih mengandung perlindungan dari kejahatan yang membahayakan jasmani yaitu kejahatan malam dari orang fasik, dari penyihir, dan pendengki. Sedangkan surat An-Nas berisi perlindungan dari kejahatan ruhani yang berdampak pada agama dan keimanan.

4. Di dalam surat Al-Falaq kita berlindung kepada Allah menggunakan satu sifatNya saja yaitu Rabb, dari tiga kejahatan: kejahatan di waktu malam, penyihir, dan pendengki.
Sedangkan di surat An-Nas adalah kebalikannya, kita berlindung kepada Allah menggunakan tiga sifatNya, Rabb, Malik, dan Ilah sekaligus, dari satu kejahatan saja yaitu bisikan setan.

Hal ini menunjukkan bahwa kerusakan iman dan agama disebabkan bisikan setan jauh lebih berbahaya dari pada penyakit fisik duniawi yang disebabkan oleh kejahatan pelaku kriminal, tukang sihir dan pendengki. (Lihat Mafatih Al-Ghaib, 32/378).

Dengan kata lain, surat Al-Falaq mengajarkan kita perlindungan dari bahaya kejahatan dan kemaksiatan yang dilakukan orang lain, sementara surat An-Nas mengajarkan perlindungan agar kita tidak menjadi pelaku kejahatan dan kemaksiatan.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678