Tempat Bersandar yang Rapuh

0
38

🍃🍃🌺🍃🌺🍃🍃

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi M.A

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (Q.S Al-Ankabut: 41).

Penjelasan:

Perumpamaan ini Allah buat untuk orang-orang musyrik yang menjadikan sembahan-sembahan selain Allah Swt, mengharap pertolongan dan rezeki, dan mereka berpegang teguh kepadanya pada kondisi-kondisi yang sulit, maka dalam hal tersebut seperti sarang laba-laba pada sisi kelemahan dan kerapuhan, bukan pada kekuasaan dari sembahan-sembahannya melainkan seperti orang yang memegang sarang laba-laba, karena sesungguhnya ia tidak memberikan manfaat sedikitpun. Kalaulah mereka mengetahui kondisi ini, pastilah mereka tidak akan menjadikan selain Allah sebagai penolong. Berbeda dengan seorang muslim yang beriman hatinya kepada Allah dan bersamaan dengan hal itu ia juga memperbaiki amalan dalam mengikuti syari’at, karena sesungguhnya ia memegang teguh pada tali yang amat kuat yang tidak akan putus, karena kekuatan dan kekokohannnya.

Melalui ayat 41, Allah menjelaskan bahwa hidup ini ada satu kekuatan, yaitu kekuatan Allah, sedang selain kekuatan-Nya adalah kekuatan makhluk yang lemah dan rapuh. Siapa yang berlindung kepada kekuatan makhluk, maka dia seperti laba-laba yang lemah, berlindung pada benang-benang rapuh. Laba-laba, demikian juga sarana perlindungan keduanya rapuh dan lemah, demikian dijelaskan dalam tafsir “Al-Lubab”.

Sarang laba-laba hanya namanya saja “rumah“ padahal ia sama sekali tidak melindungi dari sengatan panas dan dingin. Sedikit gerakan yang menyentuh sarang itu, segera ia porak poranda, sama dengan apapun yang disembah dan dimohonkan perlindungannya selain Allah. Hanya namanya yang saja sebagai “tuhan-tuhan” tetapi ia sama sekali tidak memiliki sifat ketuhanan dan tidak pula mampu memberi perlindungan.

Ayat di atas dapat juga dipahami sebagai perumpamaan yang mengambarkan suatu hakikat menyangkut kekuatan-kekuatan yang saling bersaing. Perumpamaan ini menyatakan bahwa di sana ada satu kekuatan, yaitu kekuatan Allah, sedang selain kekuatan-Nya adalah kekuatan makhluk yang lemah dan rapuh. Siapa yang berlindung kepada kekuatan makhluk, maka dia seperti laba-laba yang lemah. berlindung pada benang-benang rapuh. Laba-laba demikian juga sarang perlindungannya, keduanya sama rapuh dan lemah.

Kita dapat juga mengatakan bahwa ada rumah tangga dan masyarakat manusia yang keadaannya seperti keadaan laba-laba; rapuh, anggotanya saling tindih menindih, sikut-menyikut seperti anak-anak laba-laba yang baru lahir itu. Kehidupan ayah dan ibu tidak harmonis, seperti keadaan betina laba-laba terhadap jantannya. Habis manis sepah dibuang, bahkan dibunuhnya, demikian jelas Prof. Quraish Shihab.

Sungguh ayat di atas perlu direnungkan oleh setiap masyarakat kecil dan besar, agar terhindar dari keterjerumusan ke sarang laba-laba.

Orang-orang musyrik seperti laba-laba karena tertipu oleh apa yang telah mereka siapkan; para sesembahan mereka seperti sarang laba-laba yang tidak dapat memberi perlindungan sedikitpun. Sebagaimana diketahui sarang laba-laba adalah sarang yang sangat lemah. Demikianlah orang yang menjadikan selain Allah sebagai sesembahan akan menjadi jauh dari petunjuk. Seandainya mereka mengetahui pada sesembahan mereka tidak dapat memberi manfaat, niscaya mereka tidak akan menjadikannya sesembahan.

Siapa yang bersandar kepada Allah Yang Maha kuat, maka cukuplah baginya dan ia tidak membutuhkan sandaran yang lain, karena Allah akan mencukupi segala hajat dan kebutuhannya.

Allah Ta’ala berfirman,

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya.” (QS. Az Zumar: 36).

وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا

“Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu)” (QS. An Nisa’: 6).

Maksud dari nama “Al Hasib” adalah bahwa Allah mencukupi seluruh urusan agama dan dunia hamba-Nya, dan Dia juga akan memudahkan setiap kebutuhannya dan menolak segala yang tidak ia sukai.

Ibnul Qayyim berkata,

ومن اشتغل بالله عن الناس كفاه الله مؤونة الناس ومن اشتغل بنفسه عن الله وكله الله الي نفسه ومن اشتغل بالناس عن الله وكله الله اليهم

“Barangsiapa yang menyibukkan dirinya dengan bersandar pada Allah (bukan bersandar pada makhluk), maka Allah akan mencukupi kebutuhannya. Sebaliknya, barangsiapa yang menyibukkan dirinya dengan bersandar pada dirinya sendiri (tidak tawakkal pada Allah), maka Allah akan membuatnya bersandar pada dirinya sendiri. Begitu pula jika seseorang bersandar pada manusia dan meninggalkan Allah, Allah pun akan membuat ia menggantungkan urusannya pada manusia (tanpa ada pertolongan dari Allah).” (Disebutkan dalam kitab Al Fawaid).

Allah Swt berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. Ath Tholaq: 3).

🍃🍃🌺🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

Subscribe YouTube MANIS : https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/6285279776222
wa.me/6287782223130

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here