Keteguhan di Balik QS Al Qalam 68: 2-3

📝 Ustadz Noorahmat

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Hari ini kita coba kaji bagian pembuka dari salah satu surat di Juz 29. Surat Al Qalam yang merupakan salah satu surat yang diturunkan di Makkah (Makkiyyah) yang kalau dibuka di mushaf Utsman terdapat di halaman 564.

Suatu ketika… Rasulullah SAW ditimpa kegalauan ketika aktifitas beliau mensyiarkan nilai-nilai Tauhid justru ditanggapi orang-orang musyrik Makkah dengan menganggap bahwa Rasulullah SAW merupakan seorang yang gila atau kerasukan syaithan [1]. Maka kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat kedua dan ketiga dari Surat Al Qalam ini…

مَآ أَنتَ بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ بِمَجۡنُونٍ۬, وَإِنَّ لَكَ لَأَجۡرًا غَيۡرَ مَمۡنُونٍ۬

Dengan karunia Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah orang gila. Dan sesungguhnya engkau pasti mendapat pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. (68: 2-3)

Maksud dari Firman Allah Azza wa Jalla pada ayat kedua adalah bahwa Rasulullah SAW bukanlah orang gila sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang bodoh dari kaum Quraisy. Mereka mendustakan apa yang beliau bawa berupa hidayah (petunjuk) yang jelas dan membuat mereka akhirnya menganggap beliau sebagai orang gila. [2]

Allah Azza wa Jalla bersumpah dengan Qalam dan Kitab yang ditulis untuk membuka pintu pengajaran, karena Allah Ta’ala tidak bersumpah kecuali untuk urusan-urusan yang besar. Disini Allah Aza wa Jalla menjelaskan muqsam ‘alaih (isi sumpah) itu: “Sesungguhnya Rasulullah SAW tidaklah gila seperti yang mereka sangkakan. Allah telah mengkaruniakan kepada beliau kenabian, keistimewaan akal dan kemuliaan akhlak”. Setelah itu Allah Ta’ala menjelaskan beberapa ni’mat-Nya kepada beliau diantaranya berupa ganjaran yang besar dan pahala yang banyak serta tidak akan terputus [tak terhitung banyaknya] karena beliau menyampaikan risalah Allah Azza wa Jalla kepada makhluk-Nya, termasuk karena keshabaran beliau dalam menghadapi gangguan dan keteguhan beliau menghadapi musibah. [4]

Dari kedua ayat tersebut….kita bisa mengambil beberapa hikmah dari akhlak beliau yang bisa kita aplikasikan dalam keseharian sebagai seorang pemuda muslim yang mengidolakan Rasulullah SAW sebagai teladan kehidupan kita…

1. Rasulullah SAW mempraktikkan apa yang diwahyukan Allah SWT kepada beliau. Beliau tidak sekedar tahu, tapi beliau juga mengaplikasikannya dalam keseharian. Itulah mengapa beliau SAW disebut sebagai Al Qur’an berjalan. Karena tiada satu wahyu-pun yang tidak beliau fahami dan semua dipraktikkan dalam keseharian dalam bentuk keteladanan bagi kita semua hingga akhir zaman.

2. Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam hal keyakinan kepada Allah Azza wa Jalla. Beliau yakin dengan tugas yang Allah Ta’ala berikan. Dan beliau pantang menyerah dalam melaksanakan amanah tersebut. Meski beliau dianggap gila atau kerasukan syaithan…tetap saja beliau komitmen dalam mengemban tugas sebagai Rasulullah. Demikian pula dengan kita. Komitmen dengan nilai-nilai Islam dan menyampaikannya kepada kawan-kawan kita dalam bentuk keteladanan. Jangan justru kita yang terpengaruh.

3. Rasulullah SAW hanya mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala dan tidak mengharapkan balasan dari yang lain. Maka dari itu, kita pun harus menjadikan orientasi tertinggi kita adalah Ridha Allah Ta’ala, bukan Ridha yang selain-Nya…. (apalagi Ridho Irama….nggak nyambung nanti 😅)

4. Rasulullah SAW sangat bershabar ketika menghadapi kesulitan. Maka kita semua harus bershabar dalam memperjuangkan tegaknya nilai Islam. Keshabaran itu bukan nrimo atau terima apa adanya lho ya….tapi shabar itu juga bermakna berjuang melakukan perubahan dengan sebesar-besarnya kemampuan dan potensi yang kita miliki.

5. Rasulullah SAW senantiasa bertoleransi terhadap siapun di sisi beliau, Beliau selalu memperhatikan siapa saja yang ada di sekitar beliau. Kesalahan mereka akan diluruskan belau dengan penuh kelembutan dan sesuai dengan kondisi dan kapasitas masyarakat yang Rasulullah SAW hadapi. Tapi ingat, semua beliau lakukan dalam upaya mendidik ummat manusia menjadi lebih baik dari segala sisinya.

6. Rasulullah SAW senantiasa mempraktikkan keadilan. Baik terhadap kawan maupun lawan. Beliau tidak langsung marah ketika disebut sebagai orang Gila. Inilah yang membuat beliau semakin disegani oleh kawan maupun kawan. Karena sikap beliau sangat terukur dan terjaga serta tidak serampangan. Coba bayangkan bila saat itu Rasulullah SAW langsung angkat pedang menunjukkan kemarahan….bisa jadi kita tidak pernah mengenal Islam…

7. Rasulullah SAW penuh kepatuhan kepada Allah Azza wa Jalla. Inilah yang menjadikan beliau sebagai yang utama diantara seluruh Nabi dan Rasul. Karena seluruh sikap beliau menunjukkan kepatuhan tingkat tertinggi kepada kehendak Allah Azza wa Jalla. Tidak pernah sekalipun beliau menselisihi perintah Allah ta’ala. Maka sampai diamanakah keta’atan kita kepada Allah Rabb Semesta Alam?

Barakallahu fiikum ajma’iin

————-
*Maraji*
*[1]* Riwayat Ibnu Mundzir dari Ibnu Juraij sebagaimana dituliskan dalam kitab Lubabun Nuqul
*[2]* AlMisbah Al Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Katsir
*[3]* Tafsir At Tabari
*[4]* Ibid.
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Surat Cinta dari Allah

SURAT AL-IKHLAS (Bag-2)

Oleh: Ust. AHMAD SAHAL HASAN, Lc.

materi sebelumnya bisa dilihat di 👇🏻

SURAT AL-IKHLAS (Bag-1)

TEMA

Tema surat Al-Ikhlas adalah:

تَفَرُّدُ اللهِ تَعَالَى بِالْكَمَالِ وَالْأُلُوْهِيَّةِ، وَتَنَزُّهُهُ عَنِ النَّقْصِ

Keesaan Allah ta’ala dalam segala sifat kesempurnaan dan uluhiyah, dan kesucianNya dari segala kekurangan.

AYAT 1

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa

Diawalinya surat ini dengan “Qul” (Katakanlah) merupakan isyarat bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah yang diperintahkan untuk menyampaikan firman-Nya apa adanya.

Ada lima surat di dalam Al-Quran yang diawali dengan “Qul” yaitu: Surat Al-Jin, Al-Kafirun, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas. Tiga surat pertama terkait hal-hal khusus yang harus disampaikan, dan dua surat terakhir terkait permohonan perlindungan khusus yang harus dilafalkan. (At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/580-581).

Kata “Allah” adalah nama-Nya subhanahu wata’ala yang menghimpun segala Nama dan Sifat kesempurnaan-Nya, serta tidak boleh digunakan sebagai nama makhluk, seperti juga Ar-Rahman. Oleh karena itu, Dia menggunakan Nama Agung ini saat memperkenalkan diri-Nya kepada Nabi Musa alaihissalam:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang sebenarnya) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. (QS. Thaha: 14).

Setelah perintah untuk memperkenalkan nama-Nya yang teragung, Allah menyebutkan Nama-Nya yang menafikan persekutuan dan segala bentuk keberbilangan, yaitu Ahad.

Makna Al-Ahad adalah:

اَلْمُنْفَرِدُ بِالْكَمَالِ

Yang Esa dalam segala kesempurnaan.

Maha Esa secara mutlak dalam segala kesempurnaan, baik dalam Dzat, hakikat Nama, Sifat dan Perbuatan-Nya, semua Maha Sempurna. (Tafsir As-Sa’di, Abdurrahman As-Sa’di, hlm 937)

AYAT 2

اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah adalah Ash-Shamad.

Kata “Allah” diulang – tanpa kata ganti – untuk menunjukkan bahwa hanya Allah yang memiliki sifat Al-Ahadiyah, maka yang tidak memiliki sifat keesaan mutlak ini tidak berhak disembah dan diibadahi.

Ayat pertama dan kedua tidak dipisahkan dengan kata sambung apapun, karena ayat kedua bagaikan natijah (buah/konsekuensi) dari ayat pertama, maksudnya: Allah yang memiliki sifat Al-Ahadiyah dan Al-Uluhiyah pastilah memiliki sifat Ash-Shamadiyah. (Fath Al-Qadir, Muhammad bin Ali Asy-Syaukani, 5/634).

Makna Ash-Shamad adalah:

الْمَقْصُودُ فِي الْحَوَائِجِ عَلَى الدَّوَامِ

Yang dituju oleh semua makhluk dalam memenuhi segala keperluan mereka terus menerus tanpa henti. (Tafsir Al-Jalalain, Jalaluddin Al-Mahalli & Jalaluddin As-Suyuthi, hlm 826).

Penjelasan seperti ini dengan redaksi yang sedikit berbeda juga diriwayatkan oleh Ikrimah dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. (Tafsir Ibnu Katsir, Abul Fida Ismail bin Umar bin Katsir, 8/528).

Sedangkan Allah tak sedikitpun memerlukan makhluk-Nya karena Dia Maha Mengetahui yang sempurna pengetahuan-Nya, Maha Kaya yang sempurna kekayaan-Nya, Maha Pengasih dan Penyayang yang sempurna kasih sayang-Nya, Maha Kuat dan Perkasa yang sempurna kekuatan dan keperkasaan-Nya…

Karena itulah, Dia menjadi satu-satunya yang berhak disembah dan diibadahi.

Diantara ulama, ada yang berpendapat bahwa ayat berikutnya adalah penjelasan makna Ash-Shamad, yakni Ikrimah, Abul ‘Aliyah, Muhammad bin Ka’ab, dan Ar-Rabi’ bin Anas rahimahumullah. (Tafsir Ath-Thabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, 24/691-692; Tafsir Ibnu Katsir, 8/528).

AYAT 3

Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan

Diantara tanda keesaan-Nya adalah Dia tidak beranak, karena beranak menandakan ada zat yang berpisah dari Zat-Nya berupa keturunan. Anak pasti satu jenis dengan induk dan itu menunjukkan adanya kesamaan. Keturunan maupun kesamaan keduanya bertentangan dengan sifat keesaan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Allah juga mustahil dilahirkan, karena sesuatu yang dilahirkan berarti membutuhkan induk dan hal ini bertentangan dengan sifat Ash-Shamadiyah.

Mustahil Allah mempunyai anak karena Dia adalah Al-Ahad.

Dan mustahil Allah dilahirkan karena Dia adalah Ash-Shamad.

Ungkapan “tidak beranak” didahulukan dari pada “tidak dilahirkan”, karena penyimpangan keyakinan umat manusia adalah keyakinan mereka bahwa “Allah mempunyai anak”, dan tidak ada informasi berarti yang memberitakan ada keyakinan ummat beragama bahwa Allah itu dilahirkan. (Fath Al-Qadir, 5/634).

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?! (QS. At-Taubah: 30).

Allah subhanahu wata’ala tidak hanya menolak kebohongan bahwa Dia melahirkan, tetapi juga menolak anggapan bahwa Dia mengambil hamba-Nya – yang shalih sekalipun – sebagai anak, sebagaimana firman-Nya dalam kisah kelahiran Nabi Isa alaihissalam: bahwa kelahirannya tanpa ayah hanya untuk menunjukkan kekuasaan Allah yang tiada batas, bahwa kekuasaan-Nya sama sekali tak terikat dengan hukum kausalitas (sebab akibat) yang biasa berlaku di alam yang diciptakanNya. Nabi Isa alaihissalam bukanlah anak-Nya dan tidak pula diangkat sebagai anak-Nya.

ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ (34) مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ سُبْحَانَهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (35) وَإِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (36)

Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mengambil anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus. (QS. Maryam: 34-36).

Begitu pula firman-Nya dalam hadits qudsi:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: قَالَ اللَّهُ: «كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، وَشَتَمَنِي، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَزَعَمَ أَنِّي لاَ أَقْدِرُ أَنْ أُعِيدَهُ كَمَا كَانَ، وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ، فَقَوْلُهُ لِي وَلَدٌ، فَسُبْحَانِي أَنْ أَتَّخِذَ صَاحِبَةً أَوْ وَلَدًا» (رواه البخاري)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
Allah berfirman: Anak Adam (manusia) telah mendustakanKu padahal ia tidak berhak atas hal itu, dan ia juga telah mencaciKu padahal ia tidak berhak atas hal itu. Ia mendustakanKu yaitu menganggap bahwa sesungguhnya Aku tak sanggup mengembalikannya seperti semula (setelah ia mati). Adapun caciannya kepadaKu adalah perkataannya bahwa Aku punya anak. Mahasuci Aku dari perbuatan mengambil istri atau anak. (HR. Al-Bukhari).

AYAT 4

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dan tidak ada untuk-Nya yang setara, siapapun/apapun.

Makna al-kufu adalah:

النَّظِيرُ

Yang setara atau sebanding.

“Tak ada untuk-Nya yang setara, siapapun/apapun”

Begitulah terjemahannya sesuai urutan kata pada ayat. Kata “kufu” (yang setara) didahulukan daripada kata “ahad” (siapapun atau apapun), karena yang ingin dinegasikan adalah kesetaraan itu sendiri, sementara siapapun atau apapun yang dianggap setara dengan Allah, apalagi yang menganggap dirinya setara dengan Allah tidak terlalu penting.

Ayat terakhir ini sebagai kesimpulan dari ayat-ayat sebelumnya. Bahwa Allah yang memiliki semua sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan yang disebutkan di ayat 1 sampai ayat 3, pastilah tidak dapat disetarakan dengan siapapun atau apapun dari ciptaan-Nya. (Fath Al-Qadir, 5/635).

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS. Asy-Syura: 11).

KESIMPULAN

Surat Al-Ikhlas MENEGASKAN semua sifat kesempurnaan untuk Allah ta’ala dan MENEGASIKAN semua kekurangan.

1. Ayat pertama menegaskan sifat Al-Ahadiyah (keesaan mutlak) dan menegasikan keberbilangan.

2. Ayat kedua menegaskan sifat Ash-Shamadiyah (kesempurnaan kekayaan-Nya dalam segala hal) dan menegasikan keperluan-Nya kepada makhluk.

3. Ayat ketiga menegasikan bahwa Dia melahirkan untuk menegaskan sifat baqa-Nya (kekal).
Juga menegasikan kelahiran-Nya untuk menegaskan sifat azali-Nya (tak bermula).

4. Ayat keempat menegasikan kemiripan apalagi kesamaan dengan makhluk dalam hal apapun untuk menegaskan kembali keesaan-Nya, disamping keagungan dan keperkasaan-Nya.

والله أعلم بالصواب


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

SURAT AL-IKHLAS (Bag-1)

Oleh: Ahmad Sahal Hasan, Lc

بسم الله الرحمن الرحيم
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)

1. Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa
2. Allah adalah Ash-Shamad (yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu)
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4. Dan tidak ada yang setara dengan Dia, siapapun/apapun.

NAMA SURAT

Dinamakan Surat Al-Ikhlash karena surat ini berbicara tentang ikhlas (pemurnian) dalam beribadah kepada Allah atau tentang tauhid terutama dalam Nama dan Sifat kesempurnaanNya. Oleh karena itu kalimat tauhid “Laa ilaaha illallaah” disebut juga dengan kalimat ikhlas, seperti dalam salah satu lafal dzikir:

أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الإِسْلاَمِ، وَكَلِمَةِ الإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ (رواه الإمام أحمد وصححه الألباني)

Kami berpagi hari di atas fitrah Islam, kalimat ikhlas (laa ilaaha illallaah), di atas agama Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan di atas millah (ajaran) bapak kami Ibrahim yang lurus, dan sekali-kali ia tidak termasuk orang-orang yang berbuat syirik. (HR. Imam Ahmad dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

Ikhlas merupakan lawan dari syirik besar maupun syirik kecil, sehingga ia mengandung dua makna sekaligus:

1. Memurnikan ibadah hanya kepada Allah untuk menghindarkan kaum muslimin dari syirik besar yang dilakukan oleh orang-orang kafir yang menyembah selain Allah dan tidak beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atau mengingkari salah satu rukun iman, sehingga Dia memberitahukan di dalam Al-Quran bahwa seluruh amal baik mereka tidak diterima. (Lihat surat At-Taubah ayat 17, Ibrahim ayat 18, Al-Kahfi ayat 105, An-Nur ayat 39-40, Al-Furqan ayat 23, Muhammad ayat 8, 9,28).

2. Memurnikan niat hanya untuk Allah dalam amal yang dilakukan seorang muslim sehingga ia terhindar dari syirik kecil yaitu riya yang membatalkan pahala amal yang dikotori olehnya.

SABAB NUZUL (SEBAB TURUN) SURAT AL-IKHLAS

Surat Al-Ikhlas menurut mayoritas ulama adalah MAKIYAH (At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/611), yakni diturunkan SEBELUM HIJRAH Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah, sebagai jawaban dari pertanyaan musyrikin Quraisy:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، أَنَّ الْمُشْرِكِينَ قَالُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ} (رواه الترمذي)

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu bahwa sesungguhnya kaum musyrikin berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Jelaskan kepada kami nasab Rabb-mu !” Maka Allah menurunkan: “Qul Huwallahu Ahad Allahush-Shamad..” (HR. Tirmidzi – hadits hasan).

KEUTAMAANNYA

Selain sebagai salah satu dari tiga surat perlindungan (mu’awwidzat) bersama surat Al-Falaq dan An-Nas, surat Al-Ikhlas memiliki keutamaan lain, diantaranya:

SETARA DENGAN SEPERTIGA AL-QURAN

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta para sahabat untuk berkumpul karena beliau akan membacakan sepertiga Al-Quran. Setelah mereka berkumpul beliau membaca surat Al-Ikhlas, kemudian bersabda:

«إِنِّي قُلْتُ لَكُمْ سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ، أَلَا إِنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ»

Sesungguhnya aku telah berkata kepada kalian bahwa aku akan membacakan kepada kalian sepertiga Al-Quran, ingatlah sesungguhnya ia setara dengan sepertiga Al-Quran. (HR. Muslim).

Yang dimaksud dengan setara sepertiga Al-Quran adalah setara dengan pahala membaca sepertiga Al-Quran, namun tidak menggantikan fungsi sepertiga Al-Quran, baik dalam penyucian jiwa, kandungan petunjuk maupun syarat sah amal.

Misalnya orang yang membaca surat Al-Ikhlas tiga kali di dalam shalat maka pahalanya berdasarkan hadits di atas sama dengan pahala membaca seluruh Al-Qur’an (termasuk Al-Fatihah), akan tetapi surat Al-Ikhlas yang dibaca tiga kali itu tidak dapat menggugurkan kewajiban membaca surat Al-Fatihah itu sendiri. Artinya shalatnya tetap tidak sah jika ia tidak membaca surat Al-Fatihah walaupun ia telah membaca Al-Ikhlas tiga kali.

Dari sudut pandang temanya, para ulama berupaya menjelaskan maksud keutamaan surat Al-Ikhlas setara sepertiga Al-Quran, diantaranya penjelasan Al-Imam Al-Ghazali rahimahullah:

“Fungsi utama Al-Quran adalah menjelaskan ma’rifatullah (mengenal Allah), ma’rifatul akhirah (mengenal akhirat) dan ma’rifatush-shirathil mustaqim (mengenal jalan yang lurus). Tiga hal ini adalah fungsi utama, sedangkan yang lain adalah turunan. Surat Al-Ikhlas berisi salah satu dari tiga fungsi tersebut, yaitu ma’rifatullah…”  (Dikutip oleh Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi dalam tafsirnya Mahasin At-Ta’wil 9/572 dari kitab Jawahir Al-Quran karya Al-Imam Al-Ghazali).

CINTA SURAT AL-IKHLAS MENJADI SEBAB DICINTAI ALLAH

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا عَلَى سَرِيَّةٍ، وَكَانَ يَقْرَأُ لِأَصْحَابِهِ فِي صَلاَتِهِمْ فَيَخْتِمُ بِـ {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ}، فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ؟»، فَسَأَلُوهُ، فَقَالَ: لِأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ، وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ» (رواه البخاري)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengutus seorang laki-laki memimpin pasukan perang. Ia mengimami shalat para sahabatnya dan menutup bacaan surat (setelah surat Al-Fatihah) dengan Qul HuwaLlahu Ahad. Ketika kembali, mereka menyebutkan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: Tanyakan padanya, mengapa ia berbuat seperti itu? Maka merekapun bertanya kepadanya, lalu ia menjawab: Karena ia adalah sifat Ar-Rahman, dan aku cinta membacanya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Beritahukan padanya bahwa Allah mencintainya. (HR. Al-Bukhari).

DIBANGUNKAN RUMAH DI SURGA BAGI PEMBACANYA

عَنْ سَهْلِ بنِ مُعَاذِ بن أَنَسٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَن رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ قَرَأَ: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} عَشْرَ مَرَّاتٍ، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ»، فَقَالَ عُمَرُ بن الْخَطَّابِ: إِذنْ نَسْتَكْثِرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «اللَّهُ أَكْثَرُ وَأَطْيَبُ». (رواه الإمام أحمد، وصححه الألباني)

Dari Sahal bin Mu’adz bin Anas, dari ayahnya, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa membaca “Qul Huwallahu ahad” sepuluh kali, Allah akan membangun untuknya rumah di surga. Maka Umar bin Khathab berkata: Kalau begitu, kita perbanyak Ya Rasulullah ? Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah lebih banyak dan lebih baik (karuniaNya daripada amal yang dilakukan hambaNya). (HR. Imam Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

(Bersambung)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allah Tempat Bersandar

Tadabbur QS. Alam Nasyrah (94) SATU KESULITAN DUA KEMUDAHAN

Pemateri: Ust. Dr. H. Saiful Bahri, M.A

Mukaddimah

Menurut para ulama Surat Alam Nasyrah diturunkan di Makkah setelah Surat adh-Dhuha sebagaimana urutannya dalam mushaf usmany([1]). Surat ini memiliki beberapa nama selain Alam Nasyrah, di antarnya: asy-Syarh([2]), seperti yang terdapat dibanyak cetakan mushaf sekarang dan buku-buku tafsir. Juga al-Insyirah seperti yang disebutkan Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan Ibnu al-Jauzy dalam tafsirnya([3]).

Surat ini merupakan kelanjutan surat sebelumnya, karena sama-sama membahas kepribadian Nabi Muhammad saw dan kondisi yang dihadapi oleh beliau. Keduanya juga menyebutkan kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Allah.

Jika di surat sebelumnya Allah menyebutkan tiga nikmatnya: Allah lah yang memberikan inayah/perlindungan saat kondisi beliau yatim, fakir dan kebingungan. Maka pada surat ini Allah tambahkan tiga nikmat-Nya yang lain lagi, yaitu: nikmat kelapangan dada([4]), meringankan beban beliau saat berhadapan dengan kaumnya ketika menyampaikan risalah kenabian yang tak ringan, juga Allah tinggikan kedudukan dan derajat beliau baik di bumi maupun di langit melebihi segala ciptaan-Nya yang pernah ada, dan yang akan ada.

Hal ini semata diperuntukkan kepada beliau demi menghibur sekaligus menguatkan azam beliau. Di tengah teror yang tak henti-hentinya dari musyrikin Makkah.

Di akhir surat ini Allah memerintahkan untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya, juga untuk beribadah setelah menyampaikan risalah. Perpindahan-perpindahan aktivitas tersebut merupakan refleksi rasa syukur([5]) kepada Allah swt atas karunia nikmat-nikmat-Nya yang sangat banyak yang tak memungkinkan untuk dihitung-hitung apalagi untuk dibalas.

Kenikmatan-Kenikmatan

“Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu. Yang memberatkan punggungmu? Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu”. (QS. 94: 1-4)

Nikmat pertama yang disebut Allah adalah nikmat kelapangan dada. Diturunkan dalam bentuk pertanyaan sebagaimana surat sebelumnya. Hal ini dimaksudkan supaya Nabi Muhammad saw juga benar-benar bepikir, merenungi lebih dalam atas karunia dan nikmat-nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Lebih dari yang sekadar disebut-Nya.

Ayat di atas mengandung dua makna, zhahir dan batin. Secara zhahir Rasulullah saw pernah dibersihkan organ dalamnya oleh malaikat sewaktu masih kecil.

Demikian juga setelah itu. Sebagian ulama berpendapat bahwa hal tersebut terjadi berkali-kali. Pertama kali terjadi pada saat beliau berusia empat tahun, yaitu masa-masa terakhir beliau di asuh oleh Halimah Sa’diyah di perkampungan Bani Sa’d sebelum dikembalikan kepada ibunya. Kedua, terjadi pada saat beliau berumur duapuluhan tahun. Ketiga, terjadi lagi sebelum beliau Isra’ Mi’raj([6]).

Dalam riwayat Imam Ahmad bahkan dijelaskan bahwa tujuan pembelahan dada beliau –operasi fisik- secara zhahir adalah untuk membuang dendam, hasad dan iri (al-ghill wa al-hasad) dan kemudian memasukkan cinta dan kasih sayang (rahmah wa ra`fah) ([7]). Menariknya Imam al-Baidhawy mengatakan bahwa seolah-olah ini merupakan athaf dari surat sebelumnya yang datang dengan kata tanya (istifham) (ألم يجدك يتيماً). Dan untuk menegaskan bahwa masih banyak nikmat-nikmat Allah yang lain yang tidak disebut dan manusia tak mampu menghitungnya.

Adapun kandungan makna batinnya, bahwa Allah telah memberikan kelapangan dada dengan membuka hati beliau untuk dimudahkan menerima ilmu dan hikmah kenabian serta risalah. Demikian ditegaskan maknanya oleh Imam al-Baghawi([8]). Bahkan para tokoh sufi lebih suka memakai makna batin ini dan lebih merajihkannya karena kata yang dipakai “syaraha”.

Nikmat kedua, menghilangkan beratnya beban-beban dakwah Rasulullah saw. Sebagian para ahli tafsir menafsirkan “al-wizr” di sini adalah kesalahan dan kealpaan yang dilakukan Nabi Muhammad sebelum beliau jadi nabi.

Semuanya telah Allah ampunkan. Tapi tak sedikit yang menafsirkannya dengan beban secara umum yang dihadapi oleh Rasulullah saw dalam melaksanakan misi yang dianugerahkan Allah kepada beliau, yaitu: menyampai-kan risalah kenabian. Baik beban fisik dengan teror yang diterimanya, maupun secara psikis yang dialaminya berkali-kali. Dari sejak hinaan, cemoohan, ancaman, tuduhan keji atau bahkan rayuan dan bujukan. Semuanya Allah jadikan ringan. Bahkan Allah melengkapinya dengan nikmat selanjutnya.

Nikmat ketiga, ditinggikan derajatnya. Allah angkat derajat beliau sebagai nabi. Bahkan disandingkan namanya dengan asma Allah Yang Mahaagung. Namanya disebut oleh penduduk bumi dan langit disepanjang waktu.

Penduduk bumi yang shalat saja berputar dari pagi ke pagi selalu ada yang shalat, syahadatain dibaca di dalamnya. Dalam khutbah, syahadatain juga dibaca, sebelum ijab qabul pernikahan syahadatain juga dibaca. Banyak riwayat yang menyebutan kemuliaan beliau yang diberikan Allah dengan penyebutan tersebut([9]).

Kemudahan-Kemudahan

Setelah menyebutkan nikmat dan karunia yang diberikan Allah kepada Nabi-Nya Allah menegaskan sebuah makna yang memberikan sugesti kemenangan, kebahagiaan dan ketenangan. Simaklah kedahsyatan janji-Nya:

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesung-guhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. 94: 5-6)

Apa rahasia pengulangan kalimat-kalimat di atas. Apa makna yang terkandung hingga Allah perlu mengulangi dan menegaskan pesan-pesan-Nya.

Imam al-Baghawi, Imam al-Ma’iny dan Syeikh Muhyiddin ad-Darwisy menyimpulkan dari struktur gaya bahasa di atas dengan sebuah kaidah kebahasaan: “Isim nakirah jika disebut dua kali maka yang kedua tidaklah sama dengan yang pertama. Namun, jika isim makrifat disebut dua kali maka yang kedua sama dengan yang pertama”([10]).

Dari kaidah ini bisa ditarik sebuah kesimpulan, setiap satu kesulitan terdapat dua kemudahan. Setidaknya akan berupa penyelesaian yang terbaik serta pahala kebaikan yang hanya diketahui Allah jika bersabar dalam menghadapinya. Setelah kesulitan dan beban-beban dakwah yang berat di Makkah Allah akan berikan kemudahan dan kemenangan di Madinah.

Kemudahan yang diberikan Allah bahkan berlipat-lipat. Jika Nabi saw terlahir sebagai yatim, beliau bahkan menyantuni banyak fakir miskin dan anak-anak yatim serta para janda miskin. Allah berikan kekayaan, beliau diangkat derajatnya, dilapangkan dadanya dan diringankan beban-bebannya. Apalagi setelah diangkat sebagai Nabi dan Rasul Allah swt. Meski, tekanan justru datang setelah itu tapi kemudahan dan kemenangan Allah jadikan setelahnya. Rahmatan lil alamin, beliau bahkan kemudian menjelma menjadi rahmat –atas titah Allah- bagi segenap alam semesta. Bukan hanya bagi manusia saja.

Jika pada mulanya Islam ditekan. Pengikutnya juga ditindas dan dihina. Yang mengikutinya juga orang-orang lemah dan terzhalimi. Tapi akhirnya Allah mengubahnya sesuai janjinya. Sebagai contoh kisah Fathu Makkah memberikan kebenaran janji Allah. Dengan segala izzah, Rasul memasuki kota Makkah.

Jika sebelumnya orang-orang kuat penduduk Makkah menindas beliau dan para pengikutnya, maka pada saat itu semuanya tertunduk pasrah. Bahkan sebagian dari mereka ada yang melarikan diri. Kemuliaan yang tak menjadikan beliau sombong dan lupa diri. Beliau justru memperbanyak tasbih dan istighfar, bersyukur atas kemuliaan dan kemenangan yang dikaruniakan Allah; mengukuh-kan dan mengokohkan agama-Nya di muka bumi ini.

Jadi, yakinlah setidaknya setiap satu kesulitan ada dua kemudahan yang disiapkan Allah, kemudahan duniawi dan ukhrawy. Tak heran jika kemudian beliau bersabda sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud ra., “Beritakan kabar gembira, telah datang kemudahan. Takkan pernah satu kesulitan mengalahkan dua kemudahan”([11]).

Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya.

Perpindahan Aktivitas

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”.(QS. 94: 7)

Inilah makna istirahat yang sebenarnya. Bukanlah dengan bermalas-malasan dan bersantai, namun dengan perpindahan dari satu aktivitas ke aktivitas lain.

Sehingga akan maksimal produktifitas seseorang. Maka Nabi Muhammad saw mencontohkan setelah menyampaikan dakwahnya, beliau diperintah untuk bersegera beribadah sebagai rasa syukur atas nikmat kenabian sekaligus sebagai rasa tawakkal memasrahkan usaha yang telah dilakukan sebelumnya.
Bahwa hasil dari dakwah beliau sepenuhnya diserahkan kepada Allah swt.

Inilah yang seharusnya juga ditiru oleh para pengikut beliau. Jika itu benar-benar kita lakukan maka kemudahan-kemudahan akan semakin banyak diberikan Allah. Dan Allah akan tinggikan pula izzah agama ini melalui tangan-tangan kita.

Selain itu ayat ini mengisyaratkan sebuah keseimbangan ideal. Setelah kita sibuk dan beramal untuk dunia kita maka seharusnya kita juga berbuat dan beramal untuk akhirat kita.

“Dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap” (QS. 94: 8)

Kesyukuran itu lebih sempurna bila kita jadikan Allah benar-benar satu-satunya tempat bergantung dan berharap. Apa yang lebih indah dari rasa syukur yang dikaruniakan Allah yang telah menyebut bahwa hanya sedikit saja dari hamba-Nya yang mampu bersyukur dengan baik.

Sang Guru Ibnu Atha`illah As-Sakandary mengimbuhkan sebuah makna yang sangat dalam, “Allah menganugerahimu tiga kemuliaan, yaitu: Dia membuatmu ingat (dzikir) kepada-Nya. Kalaulah bukan karena karunia-Nya, engkau tak pantas menjadi ahli dzikir kepada-Nya. Dia membuatmu diingat oleh-Nya (madzkur), karena Dia sendiri yang menisbahkan dzikir itu untukmu. Dan Dia juga membuatmu diingat di sisi-Nya, saat Allah sempurnakan nikmat-Nya kepadamu”([12]).

Penutup

Itulah Allah. Dzat yang rahmat-Nya luas tanpa batas. Dzat yang kasih sayang-Nya tidak terbilang. Pernahkah kita menghitung nikmat dan karunia yang diberikan-Nya kepada kita. Padahal tak banyak yang sudah kita lakukan untuk menyukurinya. Berapa kalikah kita berbuat dosa dan melanggar larangan-Nya, tak menunaikan hak-hak-Nya dengan baik? Namun, hingga saat ini Dia masih saja memberi kesempatan pada kita untuk bertaubat dan memperbaiki kesalahan-kesalahan kita. Betapa banyak kesalahan yang kita sembunyikan dari orang tua kita, istri kita, anak kita dan dari orang banyak.

Dan Allah tetap terus menutupnya. Akankah kita melupakannya begitu saja? Alangkah baiknya jika kita tak menghentikan pengharapan kita pada-Nya dan terus mendekatkan diri padanya dengan taubat dan istighfar.
Itulah kesempurnaan pengharapan. Maka, Dialah Dzat yang laik untuk benar-benar diharapkan karena Dia tak pernah menyelisihi dan mengingkari janji-Nya serta mengabaikan ketulusan pengharapan hamba-hamba-Nya.

Maroji’

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm.20-21; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.816

([2]) Ibid. hlm. 817

([3]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, ad-Dur al-Mantsur fi at-Tafsir bi al-Ma`tsur, Beirut: Dar al-Fikr, Cet.I, 1983 M-1403 H,, Vol.VIII, hlm. 547, Abdurrahman Ibnu al-Jauzy, Zad al-Masir fi Ilmi at-Tafsir, Beirut: al-Maktab al-Islami, Cet.III, 1404 H, Vol.IX, hlm. 162

([4]) ada banyak pendapat tentang pembelahan dada Nabi Muhammad saw yang insya Allah akan kita bicarakan saat menadabburi ayatnya nanti.

([5]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 302

([6]) Lihat: Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr, 1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm. 299-300, Abu al-Fida` Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur`an al-Azhim, Cairo: al-Maktab Ats-Tsaqafi, Cet.I, 2001 M, Vol. IV, hlm. 528

([7]) Tafsir Ibnu Katsir, Ibid.

([8]) Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm. 469

([9]) Ali bin Ahmad Al-Wahidy, Al-Wasith fi Tafsir al-Qur’an al-Majid, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 1994 M-1415 H, Vol.IV, hlm.416-417, juga: Ibnu Jarir ath-Thabary, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an, tahqiq: Mahmud Syakir, Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol. 30, hlm. 285

([10]) Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Op.Cit, Vol. IV, hlm. 470, Muhyiddin ad-Darwisy, I’rabu al-Qur`an al-Karim wa Bayanuhu, Beirut: Dar Ibnu Katsir, Cet. IX, 2005 M-1426 H, Vol. VIII,hlm. 353, lihat tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny: Dirasah wa Tahqiq, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 876

([11]) Ibnu Jarir ath-Thabary, Jami’ al-Bayan,Op.Cit, Vol. 30, hlm. 286, Abul Qasim Jarullah Az-Zamakhsyari, al-Kasyaf an Haqa`iq at-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil fi Wujuh at-Ta`wil, Cairo: Maktabah Mustafa Muhammad, Cet.I, 1354 H, Vol.IV, hlm. 221

([12]) Ibnu Atha’illah as-Sakandary, Kitab al-Hikam, Penerjemah: Dr. Ismail Ba’adillah, Jakarta: Khatulistiwa Press, Cet.II, Juni 2008, hlm. 289


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Seruan Untuk Memakmurkan Masjid

Tahiyatul Masjid Ketika Khathib Sedang Khutbah Jumat

Pertanyaan

Apakah diperbolehkan shalat tahiyatul masjid saat khatib sedang berkhutbah pada hari Jum’at?

Jawaban

Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan, SS

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa man waalah, wa ba’d:

Secara umum bagi jamaah shalat Jumat adalah mesti tertib dan tenang, serta perhatian  terhadap khutbah Jumat.  Bahkan, memerintahkan orang lain untuk diam saja juga terlarang dan termasuk yang membuat hilang kesempurnaan shalat Jumat orang tersebut.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya bahwa Nabi ﷺbersabda:

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الجُمُعَةِ: أَنْصِتْ، وَالإِمَامُ يَخْطُبُ، فَقَدْ لَغَوْتَ

Jika kamu berkata kepada kawanmu pada hari (shalat) Jumat: “Diam!” sedangkan Imam sedang berkhutbah, maka engkau telah sia-sia.” (HR. Bukhari No. 934, Muslim No. 851)

Imam An Nawawi menjelaskan maksud Laghawta adalah engkau telah mengatakan perkataan yang melalaikan, gugur, sia-sia, dan tertolak. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/138)

Bahkan Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘Anhuma begitu marah kepada orang yang berbicara saat imam khutbah.

Alqamah bin Abdullah bercerita:

 أَنَّ ابْنَ عُمَرَ، قَالَ لِرَجُلٍ كَلَّمَ صَاحِبَهُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ: «أَمَّا أَنْتَ فَحِمَارٌ , وَأَمَّا صَاحِبُكَ فَلَا جُمُعَةَ لَهُ»

Bahwasanya Ibnu Umar berkata kepada laki-laki yang mengajak bicara pada sahabatnya   di hari Jumat dan imam sedang khutbah: “Ada pun kamu, kamu ini keledai, sedangkan kawanmu tidak ada Jumat baginya.” (Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 26103)

Semua riwayat ini, dan yang semisalnya, merupakan larangan secara  muthlaq berbicara pada saat imam sedang khutbah. Tetapi, kita dapati riwayat lain bahwa saat Nabi ﷺ sedang khutbah justru Beliau memerintahkan seorang jamaah yang baru sampai ke masjid untuk shalat tahiyatul masjid.

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

 جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ أَصَلَّيْتَ يَا فُلَانُقَالَ لَا قَالَ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ

Datang seorang laki-laki dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamsedang berkhutbah di hadapan manusia pada hari Jumat. Beliau bersabda: “Wahai fulan, apakah engkau sudah shalat?” orang itu menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Bangunlah dan shalatlah dua rakaat.” (HR. Bukhari No. 930, dan Muslim No. 875)

Perkataan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Bangunlah ..”menunjukkan bahwa sebelumnya orang tersebut telah duduk lebih dahulu.

Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa terlanjur“duduk” tidaklah membuat kesunahan tahiyatul masjid menjadi gugur.(Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 2/228)

Maka kisah di atas menjadi dalil yang muqayyad (mengikat) bahwa tidak semua terlarang, sehingga spesial untuk shalat tahiyatul masjid dibolehkan walau imam sedang khutbah Jumat. Hal ini sesuai kaidah  “Hamlul Muthlaq ‘Alal Muqayyad” yaitu memahami dalil yang masih umum (muthlaq)  berdasarkan dalil yang sudah khusus dan terikat (muqayyad). Jadi, secara umum memang dilarang berbicara ketika imam sedang khutbah, namun dikecualikan shalat tahiyatul masjid.

Sebenarnya hal ini diperselisihkan ulama, sebagian mereka mengatakan tetap tidak boleh shalat tahiyatul masjid ketika imam sedang khutbah. Alasannya bahwa kisah di atas adalah khusus bagi laki-laki itu saja, tidak berlaku umum. Dalam riwayat Ath Thabarani diketahui bahwa laki-laki tersebut bernama Sulaik. Ada juga yang mengatakan bahwa pembolehan ini hanya berlaku pada awal Islam yang sudah dihapus. Alasan lain adalah bahwa ada seseorang yang sedang melewati punggung jamaah, lalu nabi memerintahkan duduk dan berkata “engkau telah mengganggu.” Kisah ini tidak memerintahkan shalat tahiyatul masjid tapi memerintahkan duduk. Namun semua dalil ini dikoreksi oleh Imam Ibnu Hajar Rahimahullah secara baik; bahwasanya  tidak ada dasarnya mengatakan itu khusus bagi Sulaik saja, tidak benar bahwa peristiwa ini telah dihapus hukumnya sebab Salik termasuk orang yang akhir masuk Islam, lalu perintah nabi kepada seorang laki-laki untuk duduk bukan shalat tahiyatul masjid menunjukkan bahwa tahiyatul masjid bukan wajib tapi sunah, bukan menunjukkan larangan dilakukan ketika khutbah  sehingga menurutnya bahwa shalat tahiyatul masjid saat imam khutbah tetap boleh. (Lihat detilnya dalam Fathul Bari, 2/407-410, ada sebelas hujjah yang dikoreksi oleh Al Hafizh Ibnu Hajar)

Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azhim Abadi Rahimahullah mengatakan:

والحديث فيه دليل على أن تحية المسجد تصلى حال الخطبة وقد ذهب إلى هذا طائفة من الفقهاء والمحدثين ويخففهما ليفرغ لسماع الخطبة وذهب جماعة من السلف إلى عدم شرعيتهما حال الخطبة والحديث هذا حجة عليهم وقد تأولوه بأحد عشر تأويلا كلها مردودة سردها الحافظ في فتح الباري بردودها

Hadits ini menjadi dalil, bahwa tahiyatul masjid dilakukan ketika keadaan khutbah. Inilah pendapat segolongan ahli fiqih dan ahli hadits, dan hendaknya meringankan shalatnya agar bisa langsung mendengarkan khutbah. Segolongan salaf ada yang mengingkari dibolehkan tahiyatul masjid ketika khutbah. Namun, hadits ini menjadi hujjah (baca: bantahan) atas mereka. Mereka mencoba mentakwilkannya sampai sebelas takwilan, dan semuanya tertolak, disebutkan satu persatu oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan beserta bantahannya. (‘Aunul MA’bud, 3/327)

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Surat Cinta dari Allah

Surat An Nas

Pemateri: Ust. AHMAD SAHAL HASAN, Lc.

BUNYI SURAT

بسم الله الرحمن الرحيم
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Pencipta, Pemberi Rizki, Pemelihara) manusia. 2. Malik (Raja) manusia.
3. Ilah (Yang diibadahi) manusia.
4. Dari kejahatan si pembisik (setan) yang biasa bersembunyi.
5. Yang membisikkan (kejahatan) di dalam dada manusia.
6. Dari (golongan) jin dan manusia.

Surat An-Nas termasuk surat makiyah menurut pendapat yang lebih kuat, diturunkan beriringan setelah surat Al-Falaq. (At-Tahrir wa At-Tanwir, Muhammad At-Thahir bin ‘Asyur, 30/624, 631).

KEUTAMAAN

Telah disebutkan beberapa hadits tentang keutamaan Surat An-Nas dan Surat Al-Falaq dalam pembahasan tentang surat Al-Falaq, silakan dilihat kembali.

SURAT AL FALAQ (Bag-1)
SURAT AL FALAQ (Bag-2)

TEMA

Tema surat An-Nas adalah:

التَّحَصُّنُ وَالاِعْتِصَامُ بِاللهِ مِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَوَسْوَسَتِهِ

Berlindung dan berpegang teguh kepada Allah dari kejahatan setan dan bisikannya.

AYAT 1, 2 dan 3

BERLINDUNG KEPADA RABB AN-NAS, MALIK AN-NAS, ILAH AN-NAS

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ

Hanya Allah rabb, malik, dan ilah yang sebenarnya.
Sesuatu yang disifati dengan rabb (pemelihara dan pendidik) belum tentu adalah malik (raja), dan tidak semua raja berhak untuk dijadikan ilah (yang diibadahi), maka kata malik dan ilah di sini dalam tinjauan bahasa Arab berfungsi sebagai ‘athaf bayan’ bagi kata rabb.

Maksudnya bahwa kedudukan kata malik dan ilah di dalam kalimat ini adalah athaf (sejajar) dengan kata rabb, sekaligus mengandung bayan (penjelasan tambahan) baginya.

Kata “rabb” lebih tampak kesan kelembutan dan pemeliharaannya, sedangkan kata “malik” kesan kekuasaan dalam memerintah dan melarang lebih dominan. Sementara kata “ilah” untuk menjelaskan bahwa hanya rabb dan malik yang hakiki saja, hanya rabb dan malik yang tak terbatas pemeliharaan dan kekuasaannya saja yaitu Allah subhanahu wata’ala, yang berhak untuk diberikan peribadatan, ketundukan mutlak dan permohonan perlindungan.

Kata rabb mewakili sifat jamaliyah (keindahan) Allah subhanahu wata’ala, dan malik mewakili sifat jalaliyah (keagungan dan kewibawaan) Nya. Sedangkan kata ilah untuk menegaskan bahwa penggabungan sifat jamaliyah dan jalaliyah itu hanya milikNya sehingga hanya Dialah yang berhak diibadahi dan dimohonkan perlindunganNya.

Kata rabb, malik dan ilah ini disebutkan tanpa dipisahkan oleh huruf “waw” (dan) untuk menguatkan kesan kesatuan sifat-sifat ini pada Sang Pelindung yang menunjukkan kesempurnaanNya.

Kata an-nas (manusia) diulang tiga kali mengikuti ketiga sifat Allah tersebut – tidak menggunakan kata ganti – bertujuan:

* Menunjukkan kemuliaan manusia di sisi Allah dibanding makhluk yang lain.

* Menguatkan perasaan dekat manusia kepada Allah dengan ketiga sifatNya tersebut. Perasaan ini sangat dibutuhkan saat membaca surat dan doa perlindungan ini.

* Bahwa kejahatan yang akan disebutkan dalam surat ini hanya menimpa manusia sebagai mukallaf (yang ditugaskan beribadah) karena ia terkait dengan kejahatan yang merusak keimanan, bukan kejahatan fisik yang bisa menimpa semua makhluk.

(Lihat: Nazhm Ad-Durar, Al-Biqa’i, 22/424-428; Mafatih Al-Ghaib, Ar-Razi, 32/376; Fi Zhilal Al-Quran, Sayid Quthb, 6/4010).

Ketiga sifat Allah ini – rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah – digunakan sekaligus untuk berlindung dari satu kejahatan saja. Hal ini menunjukkan betapa berbahayanya kejahatan yang satu ini.

Ayat 4

BERLINDUNG DARI KEJAHATAN SETAN DAN BISIKAN JAHATNYA

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

Al-waswaas sebenarnya adalah isim (kata benda) yaitu bisikan jahat itu sendiri. (Mafatih Al-Ghaib, 32/377). Tetapi dalam hal ini difungsikan sebagai kata sifat yang menjadi julukan setan. Julukan ini disematkan untuk setan karena membisikkan keburukan adalah pekerjaan utamanya.

Di dalam bahasa Arab, penggunaan kata benda sebagai predikat atau julukan berguna untuk menunjukkan begitu melekatnya kata itu pada pihak yang mendapatkannya. Seperti ungkapan:

أَبُوْ بَكْرٍ هُوَ صِدْقٌ

Abu Bakar dialah kejujuran.

Untuk mengungkapkan kejujuran yang luar biasa pada diri Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, seolah-olah Abu Bakar adalah kejujuran itu sendiri.

Begitu pula setan yang dijuluki dengan al-waswaas atau bisikan jahat, seolah-olah setan adalah bisikan jahat itu sendiri karena melekatnya bisikan jahat itu sebagai perbuatan yang dilakukan setan untuk menyesatkan manusia.

Al-khannaas artinya yang bersembunyi dan mundur karena takut.

Ibnu Abbas radhiyallau ‘anhuma berkata:

الشَّيْطَانُ جَاثِمٌ عَلَى قَلْبِ ابْنِ آدَمَ، فَإِذَا سَهَا وَغَفَلَ وَسْوَسَ، فَإِذَا ذَكَرَ اللَّهُ خَنَسَ

Setan itu akan menempel hati anak Adam. Jika ia lupa dan lalai, setan akan berbisik. Bila ia mengingat Allah, setan bersembunyi dan mundur. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/540; Az-Zuhd, Abu Dawud, hlm 295).

Begitulah tabiat pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, saat para pendukung kebenaran kuat dan berpegang teguh kepada Allah, kebatilan akan mundur dan bersembunyi. Tetapi ketika para pendukung kebenaran melemah karena jumlahnya sedikit, atau banyak jumlahnya tapi lupa dengan misi mereka menegakkan kalimat Allah dan lalai dari mengingatNya, maka para pendukung kebatilan muncul dan menyebarkan bisikan sesatnya.

Dengan menyebut ketiga sifat Allah, kita berlindung kepadaNya dari kejahatan setan secara umum, dan dari bisikan jahatnya secara khusus.

Allah subhanahu wata’ala memberi julukan setan dengan julukan yang menggambarkan pekerjaannya yang paling membahayakan manusia yaitu memasukkan bisikan jahat berupa lintasan hati yang buruk.

Lintasan hati yang buruk adalah awal dari semua kemaksiatan dan kejahatan. Jika dibiarkan ia akan berubah menjadi ide, ide berkembang menjadi keinginan, keinginan yang semakin kuat akan menjelma menjadi tekad yang kemudian diwujudkan menjadi perbuatan maksiat. Perbuatan maksiat jika terus menerus dilakukan akan menjadi kebiasaan dan akhirnya sulit untuk bertaubat darinya. Na’udzu billahi min dzaalik.

Ayat 5

BISIKAN SETAN DI DALAM DADA MANUSIA

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

Setan membisikkan kejahatan di dalam dada manusia dengan menghiasi keburukan agar terlihat baik, dan menimbulkan keinginan untuk melakukannya. Sebaliknya setan membuat kebaikan tampak buruk dan melemahkan keinginan untuk melakukannya.

Seperti cerita burung Hudhud kepada Nabi Sulaiman alaihissalam tentang Ratu Balqis dan rakyat Saba:

وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ

Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan Allah; dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan Allah, sehingga mereka tidak mendapat petunjuk. (QS. An-Naml: 24)

Bisikan setan diarahkan ke dalam hati, tetapi ayat ini menyebutkan bahwa bisikan itu terjadi di dalam dada.

Hal ini merupakan isyarat bahwa penjagaan dan perlindungan yang kita mohonkan kepada Allah mencakup perlindungan hati dan sekelilingnya yakni dada.

Seperti jika kita ingin melindungi rumah kita dari pencuri, yang terbaik adalah memberi penjagaan sampai di pagar sekeliling, tidak hanya di bangunan rumah.

Ayat 6

SETAN ITU DARI BANGSA JIN DAN JUGA MANUSIA

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

Al-waswas meliputi setan dari bangsa jin yang memasukkan lintasan-lintasan buruk ke dalam hati manusia, juga termasuk setan dari bangsa manusia yaitu para perancang makar dan konspirasi yang melakukan pembicaraan rahasia untuk meyesatkan orang lain sebanyak-banyaknya dari jalan yang benar dan menyusun rencana jahat untuk menggoncang keteguhan para pejuang kebenaran. (At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/633).

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ. وَلِتَصْغَى إِلَيْهِ أَفْئِدَةُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَلِيَرْضَوْهُ وَلِيَقْتَرِفُوا مَا هُمْ مُقْتَرِفُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan jenis jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan. (QS. Al-An’am: 112-113).

HUBUNGAN SURAT AL-FALAQ DENGAN AN-NAS

1. Sama-sama diawali dengan perintah “Qul”katakanlah.

2. Sama-sama sebagai doa perlindungan dengan lafazh “a’uudzu” aku berlindung, dan keduanya dinamakan mu’awwidzatain (dua surat perlindungan).

3. Surat Al-Falaq lebih mengandung perlindungan dari kejahatan yang membahayakan jasmani yaitu kejahatan malam dari orang fasik, dari penyihir, dan pendengki. Sedangkan surat An-Nas berisi perlindungan dari kejahatan ruhani yang berdampak pada agama dan keimanan.

4. Di dalam surat Al-Falaq kita berlindung kepada Allah menggunakan satu sifatNya saja yaitu Rabb, dari tiga kejahatan: kejahatan di waktu malam, penyihir, dan pendengki.
Sedangkan di surat An-Nas adalah kebalikannya, kita berlindung kepada Allah menggunakan tiga sifatNya, Rabb, Malik, dan Ilah sekaligus, dari satu kejahatan saja yaitu bisikan setan.

Hal ini menunjukkan bahwa kerusakan iman dan agama disebabkan bisikan setan jauh lebih berbahaya dari pada penyakit fisik duniawi yang disebabkan oleh kejahatan pelaku kriminal, tukang sihir dan pendengki. (Lihat Mafatih Al-Ghaib, 32/378).

Dengan kata lain, surat Al-Falaq mengajarkan kita perlindungan dari bahaya kejahatan dan kemaksiatan yang dilakukan orang lain, sementara surat An-Nas mengajarkan perlindungan agar kita tidak menjadi pelaku kejahatan dan kemaksiatan.

والله أعلم بالصواب


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

SURAT AL FALAQ (Bag-2)

Pemateri: Ust. AHMAD SAHAL HASAN, Lc.

AYAT 2
BERLINDUNG DARI KEJAHATAN MAKHLUK CIPTAAN ALLAH

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Ayat ini menjelaskan – secara global – DARI APAKAH kita mesti berlindung kepada Rabbul falaq?

Yaitu dari kejahatan makhluk yang semuanya adalah ciptaanNya.

Semua makhluk diciptakan dengan hikmah dan tujuan. Kebaikan dan kelebihan yang ada pada makhluk akan membuat mereka saling membutuhkan sehingga interaksi antar mereka tak mungkin dihindari baik secara langsung atau tidak langsung. Oleh karena itu kita hanya berlindung dari kejahatan makhluk, bukan berlindung dari makhluk itu sendiri.

“Dalam situasi berinteraksi sesama makhluk, ada kejahatan yang muncul, sebagaimana ada kebaikan dan manfaat mereka dalam situasi yang lain. Dan permohonan perlindungan kepada Allah di sini adalah dari kejahatannya agar bertahan kebaikannya.” (Fi Zhilal Al-Quran, 6/4007).

Setelah disebutkan kejahatan makhluk secara umum, ayat-ayat selanjutnya akan menyebutkan secara khusus apa saja bentuk kejahatan yang kita diminta berlindung darinya dengan membaca surat Al-Falaq ini.

Ada tiga hal terkait kejahatan yang disebutkan secara khusus:

1. Waktu yang biasanya banyak kejahatan terjadi di dalamnya, yaitu malam.

2. Sekelompok manusia yang profesi mereka dibangun di atas keinginan jahat terhadap orang lain, yaitu para penyihir.

3. Dan sekelompok manusia yang memiliki akhlak buruk yang memotifasi diri mereka untuk menyakiti orang lain. Merekalah para pendengki.

AYAT 3
BERLINDUNG DARI MALAM/GELAP JIKA IA DATANG

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

Ghasiq: malam, idzaa waqab: jika ia telah masuk. Demikian riwayat dari Mujahid. (Tafsir Ath-Thabari, 24/702).

Setelah mengemukakan beberapa pendapat tentang makna ghasiq, Al-Imam Ath-Thabari menyatakan bahwa makna ghasiq yang tepat menurut beliau adalah segala sesuatu yang berubah menjadi gelap. (Tafsir Ath-Thabari, 24/704).

Malam hari terutama saat ia semakin larut dan gelap adalah waktu di mana para penjahat biasanya beraksi memanfaatkan kelalaian dan kelelahan calon korbannya atau penegak hukum.

Di malam hari pula hewan malam yang berbahaya mencari mangsanya.

Suasana malam itu sendiri dengan kegelapan dan keheningannya kadang sudah menumbuhkan perasaan takut pada diri seseorang.

Jika kita memaknai gelap tidak secara lahiriah, maka suasana ketidakjelasan, ketersembunyian atau kekacauan juga merupakan kegelapan dan menjadi saat-saat krusial bagi berlangsungnya kejahatan, meskipun di siang hari.

AYAT 4
BERLINDUNG DARI KEJAHATAN PARA PENYIHIR ATAU PELAKU ILMU HITAM

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

Setelah berlindung dari kejahatan malam, kita juga diperintahkan berlindung dari satu jenis kejahatan amat keji yang pelakunya kerap menggunakan malam untuk beraksi, yaitu sihir.

Dalam ayat ini digambarkan bahwa tukang sihir ini meghembus pada buhul yaitu benang atau tali yang dibuat simpul atau ikatan tertentu yang telah dibacakan mantra-mantra untuk mengganggu korbannya. Tukang sihir akan menjaga agar simpul tali ini tidak terurai, untuk itu mereka menyembunyikannya di tempat yang sulit ditemukan orang lain.

Di masyarakat Arab saat itu, mayoritas praktek sihir seperti ini dilakukan oleh perempuan, sehingga ayat ini mengungkapkan orang-orang yang menghembus pada buhul ini dalam bentuk jamak muannats salim (kata benda jamak untuk perempuan) yakni an-naffaatsaat. Kata an-naffaatsaat juga dapat diartikan jiwa-jiwa tukang sihir, sehingga berlaku juga pada tukang sihir laki-laki.

AYAT 5
BERLINDUNG DARI PENDENGKI JIKA IA MEWUJUDKAN

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Kejahatan sihir biasanya dilakukan oleh tukang sihir karena kedengkiannya kepada orang yang akan disihirnya, atau tukang sihir itu melakukan sihir atas pesanan orang yang dengki.

Hasad atau dengki adalah keinginan seseorang agar kebaikan atau kelebihan orang lain lenyap atau bahkan bisa ia rebut.

Jika sifat hasad ini hanya tersimpan di dalam hati maka ia tidak membahayakan orang lain, hanya membahayakan pemilik sifat itu.

Oleh karena itu ayat ini mengajarkan kita berlindung kepada Allah dari kejahatan orang yang hasad yaitu apabila ia mewujudkan hasadnya dengan berbagai usaha keji, termasuk dengan sihir.

PENUTUP

Perintah Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan ummatnya untuk berlindung kepadaNya dari kejahatan-kejahatan yang disebutkan oleh surat Al-Falaq ini menunjukkan betapa besarnya dosa kejahatan-kejahatan tersebut dan betapa hina pelakunya di sisi Allah.

Seorang muslim dan muslimah yang rutin membaca dzikir dan doa perlindungan yang disyariatkan, dengan izin Allah akan terhindar dari berbagai gangguan.

Akan tetapi tidak menutup kemungkinan ia tetap terkena gangguan kejahatan karena beberapa hal, diantaranya:

1. karena Allah hendak mengangkat lebih tinggi derajatnya seperti yang dialami oleh para Nabi dan Rasul yang mengalami luka atau musibah dalam perjuangan mereka.

Atau Allah hendak menghapus dosa hambaNya melalui gangguan kejahatan tersebut yang bisa jadi dosa itu tidak terampuni karena ia tak kunjung bertaubat. Sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا مِنْ مُصِيبَةٍ يُصَابُ بِهَا الْمُسْلِمُ، إِلَّا كُفِّرَ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا»

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seorang muslim terkena musibah, kecuali diampuni dosa karenanya, termasuk tusukan duri yang ia alami. (HR. Muslim).

2. tidak yakin atau kurang yakin dengan dzikir atau doa yang ia baca, atau tidak khusyu’ hatinya saat membacanya.

Namun tetap saja dzikir yang ia baca akan lebih meringankan dampak buruk gangguan kejahatan itu baik pada fisiknya atau sikap mentalnya dalam menyikapi gangguan atau penyakit.

Artinya boleh jadi ia merasakan sakit secara fisik tetapi hal itu tidak membahayakan imannya kepada Allah, tidak merusak kesabaran menghadapinya dan rasa syukurnya kepada Allah atas berbagai ni’matNya.

لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلاَّ أَذًى ..

Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat madharat (bahaya) kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan saja. (QS. Ali Imran: 111).

والله أعلم بالصواب


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Surat Cinta dari Allah

SURAT AL-FALAQ (Bag-1)

Pemateri: Ust. AHMAD SAHAL Lc.

BUNYI SURAT

بسم الله الرحمن الرحيم

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)

1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb yang Menguasai subuh,

2. Dari kejahatan makhluk-Nya,

3. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

4. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,

5. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”

Surat Al-Falaq menurut pendapat yang lebih kuat adalah MAKIYAH yakni diturunkan sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah berdasarkan riwayat Kuraib dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
(At-Tahrir wa At-Tanwir, Muhammad At-Thahir bin ‘Asyur, 30/624).

KEUTAMAAN

Disebutkan dalam beberapa hadits keutamaan surat Al-Falaq  bersama dengan surat An-Nas dan Al-Ikhlash, diantaranya:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أُنْزِلَ، أَوْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آيَاتٌ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ: الْمُعَوِّذَتَيْنِ»

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Telah diturunkan kepadaku ayat-ayat, tidak ada yang semisal dengannya: al-mu’awwidzatain. (HR. Muslim).

وَعَنْهُ قَالَ: أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ

Dari Uqbah bin ‘Amir ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan aku membaca al-mu’awwidzat SETIAP SELESAI SHALAT.

(HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasai, dishahihkan oleh Al-Albani).

Al-Mu’awwidzatain adalah sebutan untuk surat Al-Falaq dan An-Nas, artinya dua surat perlindungan. Jika disebut mu’awwidzat, maka surat Al-Ikhlash masuk ke dalamnya.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: بَيْنَا أَنَا أَسِيْرُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بَيْنَ الْجُحْفَةِ وَالأَبْوَاءِ، إِذْ غَشِيَتْنَا رِيْحٌ وَظُلْمَةٌ شَدِيْدَةٌ، فَجَعَلَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَتَعَوَّذُ بِـ {قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ} وَ {قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ} وَيَقُوْلُ: يَا عُقْبَةُ، تَعَوَّذْ بِهِمَا، فَمَا تَعَوَّذَ مُتَعَوِّذٌ بِمِثْلِهِمَا. قَالَ: وَسَمِعْتُهُ يَؤُمُّنَا بِهِمَا فِي الصَّلاَةِ

Dari Uqbah bin ‘Amir berkata:
Tatkala aku berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam antara Al-Juhfah dan Al-Abwa, kami dikelilingi oleh ANGIN dan CUACA GELAP yang dahsyat, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan dengan Qul a’udzu birabbil falaq dan Qul a’udzu birabbinnas, dan beliau bersabda:

Wahai ‘Uqbah, berlindunglah dengan keduanya, tidak ada yang semisal keduanya yang dapat digunakan seseorang untuk memohon perlindungan.

Uqbah berkata:
Dan aku mendengarkan beliau mengimami kami dengan kedua surat itu di dalam shalat.
(HR. Abu Dawud dalam Sunannya, Syaikh Al-Albani & Syaikh Syuaib Al-Arnauth menilainya shahih).

Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha menyebutkan:

كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ، ثُمَّ نَفَثَ فِيْهِمَا، فَقَرَأَ فِيْهِمَا ﴿ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴾ و﴿ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴾ و﴿ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴾، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ، وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika MENUJU PEMBARINGAN nya setiap malam,

– beliau menghimpun kedua telapak tangannya,

– kemudian meniupkan kepadanya lalu membaca Qul huwaLlahu ahad, Qul a’udzu birabbil falaq, dan Qul a’udzu birabbinnas,

– kemudian beliau mengusap dengan kedua telapak tangannya seluruh bagian tubuh yang sanggup dijangkau, dimulai dari kepala dan wajahnya, serta bagian depan tubuhnya.

– Beliau melakukan hal itu tiga kali. (HR. Al-Bukhari).

Beliau juga berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِـ(الْمُعَوِّذَاتِ) وَيَنْفُثُ، فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ، وَأَمْسَحُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika merasakan SAKIT, beliau membaca al-mu’awwidzat untuk dirinya dan meniup, ketika sakitnya bertambah berat akulah yang membacakannya dan aku usapkan tangannya (ke tubuh beliau) mengharap keberkahan tangan beliau. (HR. Al-Bukhari & Muslim).

TEMA SENTRAL

Tema utama surat Al-Falaq ini adalah:

التَّحَصُّنُ وَالاِعْتِصَامُ بِاللهِ مِنَ الأَضْرَارِ الْجسَدِيَّةِ وَالدٌّنْيَوِيَّةِ

Berlindung dan berpegang teguh kepada Allah dari bahaya fisik duniawi.

Surat ini mengajarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ummatnya untuk berlindung kepada Allah dari kejahatan semua makhluk ciptaan Allah secara umum, kemudian dikhususkan setelah itu permohonan perlindungan dari tiga hal:
– dari kejahatan malam,
– dari tukang sihir, dan
– kedengkian orang yang dengki.

Dan semuanya merupakan kejahatan yang bisa membahayakan fisik manusia atau membahayakan keselamatannya di dunia.

“Tujuan dari surat ini adalah mengajaran kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kalimat/bacaan untuk BERLINDUNG kepada Allah

– dari kejahatan makhluk yang berusaha dihindari kejahatannya,
– dari waktu yang di dalamnya banyak terjadi kejahatan, dan
– berlindung dari situasi dimana kejahatan bersembunyi di baliknya agar pelakunya bisa lepas dari konsekuensinya, maka Allah mengajarkan Nabi-Nya surat perlindungan ini agar beliau berlindung dengannya.

Riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung dengan surat ini dan surat An-Nas, bahwa beliau memerintahkan para sahabat untuk berlindung dengannya adalah riwayat yang shahih.

Jadi berlindung dengan keduanya merupakan salah satu kebiasaan kaum muslimin.” (At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/625).

AYAT 1
BERLINDUNG KEPADA RABBUL FALAQ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

“KATAKANLAH !” dalam surat ini adalah perintah Allah untuk mengatakan dan melafalkan doa perlindungan.

Ini mengandung pengertian bahwa kata-kata yang terdapat di dalamnya harus kita jaga, karena di dalam kata-kata tersebut pasti ada keutamaan yang menjadi alasan ia dipilih dan diucapkan sebagai doa.

Al-Falaq adalah subuh, sebagaimana riwayat dari Jabir, Ibnu ‘Abbas dan Zaid bin Aslam radhiyallahu ‘anhum. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/535).

Kita diperintahkan berlindung kepada Rabb Al-Falaq, yaitu Allah subhanahu wata’ala Maha Pencipta, Penguasa dan Pengatur yang menyingsingkan atau memunculkan fajar subuh dari kegelapan malam.

Fajar subuh adalah lambang berakhirnya kegelapan, simbol optimisme akan datangnya cahaya solusi dari problematika yang gelap.

Semua bentuk kezaliman dan kejahatan beserta pelakunya pasti akan berakhir seperti berakhirnya kegelapan malam dengan datangnya fajar subuh:

إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ

Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat? (QS. Hud: 81).

HADIRKAN KHUSYU’ HATIMU DAN YAKINLAH  bahwa Dia yang mampu menyingkirkan kegelapan malam dengan memunculkan fajar cahaya subuh pasti sanggup untuk melindungi siapapun yang berlindung kepadaNya dari kegelapan kejahatan yang ia khawatirkan menimpa dirinya.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

TADABUR AL-QURAN

Pemateri: Ust. AHMAD SAHAL Lc.

Selain MEMBACA Al-Quran secara RUTIN dengan frekuensi khatam yang memadai, seorang muslim dan muslimah juga WAJIB mengusahakan keakraban dengan Al-Quran melalui TADABBUR.

MAKNA TADABBUR

التَّدَبُّرُ فِي اللُّغَةِ : عِبَارَةٌ عَنِ النَّظَرِ فِي عَوَاقِبِ الْأُمُوْرِ

Arti tadabbur menurut bahasa:
‘ungkapan tentang memandang kepada pengaruh atau akibat dari sesuatu.’
(At-Ta’rifat, Al-Jurjani, hlm 54).

وَفِي الاِصْطِلاَحِ : تَأَمُّلُ الْقُرْآنِ بِقَصْدِ الاِتِّعَاظِ وَالاِعْتِبَارِ

Menurut istilah ulama:

Merenungkan Al-Quran dengan maksud mendapat nasihat dan pelajaran.

(Tahrir Ma’na At-Tadabbur ‘Inda Al-Mufassirin, Makalah Dr. Fahd Mubarak Abdullah)

Dari maknanya baik secara bahasa maupun istilah dapat disimpulkan bahwa:

1. Tadabbur ayat Al-Quran dapat dilakukan setelah kita MEMAHAMI ARTI ayat secara umum dengan benar, meskipun hanya potongan ayatnya, atau beberapa kata di dalamnya.

Karena seseorang tidak dikatakan memandang apa yang ada dibalik sesuatu jika ia tidak mengetahui yang tampak jelas dari sesuatu itu.

Atau ia tidak dianggap sedang merenungkan tujuan, pengaruh atau akibat suatu kata atau kalimat atau ucapan jika ia tidak memahami arti harfiahnya dengan benar.

2. Tujuan dari tadabbur Al-Quran adalah memperoleh NASIHAT dan PELAJARAN dari ayat-ayatnya agar bertambah iman.

Maksud dari kata “itti’azh” dalam definisi adalah terpengaruh dengan mauizhah/nasihat, atau menerima mauizhah dengan hati, bukan sekadar informasi yang diterima akal.

Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, tatkala menerima mauizhah dari beliau:

وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلّم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ …

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kami mauizhah (nasihat) yang membuat hati-hati ini bergetar dan mata menangis..

(potongan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud & Tirmidzi, lihat hadits ke-28 dari Hadits Arba’in Imam Nawawi).

TADABBUR ADALAH SALAH SATU TUJUAN AL-QURAN DITURUNKAN

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai akal pikiran. (QS. Shad: 29).

Asy-Syaukani berkata:

وَفِي الْآيَةِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ إِنَّمَا أَنْزَلَ الْقُرْآنَ لِلتَّدَبُّرِ وَالتَّفَكُّرِ فِي مَعَانِيهِ، لَا لِمُجَرَّدِ التِّلَاوَةِ بِدُونِ تَدَبُّرٍ

Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa Allah subhanahu wa ta’ala hanyalah menurunkan Al-Quran untuk dilakukan tadabbur dan berpikir pada makna ayat-ayatnya, bukan sekadar membaca tanpa tadabbur.
(Fath Al-Qadir, Asy-Syaukani, hlm 4/494).

Penulis kitab tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir berkata:

وَكُلُّ آيَاتِ الْقُرْآنِ مُبَارَكٌ فِيهَا لِأَنَّهَا: إِمَّا مُرْشِدَةٌ إِلَى خَيْرٍ، وَإِمَّا صَارِفَةٌ عَنْ شَرٍّ وَفَسَادٍ، وَذَلِكَ سَبَبُ الْخَيْرِ فِي الْعَاجِلِ وَالْآجِلِ وَلَا بَرَكَةَ أَعْظَمُ مِنْ ذَلِك. وَالتَّدَبُّرُ: التَّفَكُّرُ وَالتَّأَمُّلُ الَّذِي يَبْلُغُ بِهِ صَاحِبُهُ مَعْرِفَةَ الْمُرَادِ مِنَ الْمَعَانِي، وَإِنَّمَا يَكُونُ ذَلِكَ فِي كَلَامٍ قَلِيلِ اللَّفْظِ كَثِيرِ الْمَعَانِي الَّتِي أُودِعَتْ فِيهِ بِحَيْثُ كُلَّمَا ازْدَادَ المُتَدَبِّرُ تَدَبُّرًا انْكَشَفَتْ لَهُ مَعَانٍ لَمْ تَكُنْ بَادِيَةً لَهُ بَادِئَ النَّظَرِ

Dan semua ayat-ayat Al-Quran adalah diberkahi karena ia merupakan pemberi arahan kepada kebaikan atau penghalang dari kejahatan dan kerusakan, dan hal itu adalah sebab bagi kebaikan di dunia maupun akhirat, dan tak ada keberkahan yang lebih agung daripada hal itu.

Dan makna tadabbur adalah berpikir dan merenung yang menyampaikan pelakunya kepada tujuan dari makna (ayat-ayat)nya.

Hal itu hanya terjadi pada ucapan yang jumlah lafazhnya sedikit tapi sarat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dimana setiap kali pelaku tadabbur menambah tadabburnya tersingkaplah kandungan nilai-nilai yang belum tampak di awal perenungan. (At-Tahrir wa At-Tanwir, Muhammad At-Thahir ‘Asyur, 23/251-252).

BERTAMBAH IMAN ADALAH TUJUAN UTAMA TADABBUR

Allah berfirman ditujukan kepada orang-orang kafir:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An-Nisa: 82)

Ayat di atas memerintahkan orang-orang yang tidak atau belum beriman untuk merenungkan makna ayat-ayat Al-Quran dengan sikap obyektif agar mereka beriman kepada Al-Quran bahwa ia benar-benar firman Allah, sebab jika bukan firmanNya, pasti mereka akan menemukan pertentangan di dalamnya.

Juga firman Allah yang ditujukan kepada orang-orang munafik:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad: 24).

Asy-Syahid Sayyid Quthb rahimahullah berkata:

«أَمْ عَلى قُلُوبٍ أَقْفالُها؟» فَهِيَ تَحُوْلُ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْقُرْآنِ وَبَيْنَهَا وَبَيْنَ النُّوْرِ؟ فَإِنَّ اسْتِغْلاَقَ قُلُوْبِهِمْ كَاسْتِغْلاَقِ الأَقْفَالِ الَّتِي لاَ تَسْمَحُ بِالْهَوَاءِ وَالنُّوْرِ!

Ataukah hati mereka terkunci?
Sehingga ia (hati yang terkunci itu) membatasi antara ia dengan Al-Quran, antara ia dengan cahaya?

Karena sesungguhnya terkuncinya hati-hati mereka seperti tertutup rapatnya (ruangan) yang tidak mengizinkan (sirkulasi) udara dan cahaya. (Fi Zhilal Al-Quran, 6/3297).

SEMAKIN JERNIH HATI, SEMAKIN BESAR PENGARUH TADABBUR BAGI KEIMANAN

Hal yang paling penting dari tadabbur Al-Quran adalah BERTAMBAHNYA KEIMANAN kita kepada Al-Quran dan rukun iman yang lain, dan itu amat terkait dengan kejernihan hati terutama saat melakukan tadabbur.

Tadabbur Al-Quran tidak harus menghasilkan kesimpulan baru atau pelajaran baru dari ayat-ayat yang direnungkan, apalagi sampai harus melahirkan kesimpulan hukum, tentu saja tidak harus demikian, karena yang mampu sampai pada level seperti itu adalah para ulama.

Oleh karena itu setiap muslim dan muslimah yang melakukan tadabbur Al-Quran wajib “TAHU DIRI” dengan tidak memaksakan diri dengan tadabburnya untuk sampai pada kesimpulan, pelajaran, apalagi hukum baru yang belum pernah dikenal oleh para ulama tafsir, karena dikhawatirkan apa yang ia hasilkan dari tadabbur yang mengandung unsur “takalluf”(pemaksaan) itu keluar dari kaidah bahasa Arab dan bertentangan dengan syariat Islam.

Asy-Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah berkata dalam Risalah Ta’alim:

وَيُفْهَمُ الْقُرْآنُ طِبْقًا لِقَوَاعِدِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ مِنْ غَيْرِ تَكَلُّفٍ وَلاَ تَعَسُّفٍ

Dan Al-Quran dipahami sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab tanpa pemaksaan dan penyimpangan kecendrungan.

Setelah memastikan bahwa ia telah memahami makna ayat dengan benar, yang harus diupayakan dalam tadabburnya adalah menambah keyakinannya kepada kebenaran Al-Quran seperti arahan surat An-Nisa ayat 82 di atas, dan agar Allah subhanahu wata’ala memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang bersih hati sehingga dapat mengamalkannya.

Inilah alasan mengapa tadabbur merupakan kewajiban setiap muslim laki-laki dan perempuan, bahkan diperintahkan juga kepada orang kafir dan munafik untuk melakukannya, karena modal dasarnya adalah memahami arti ayat atau potongan ayat dengan benar kemudian membacanya atau menyimak bacaan orang lain dengan hati yang tidak dikuasai hawa nafsu.

وَمِمَّا يَدُلُّ عَلَى كَوْنِ هَذَا هُوَ الْمُرَادَ بِالتَّدَبُّرِ تَوْجِيْهُ الْخِطَابِ فِي الآيَاتِ الآمِرَةِ بِهِ لِلْكُفَّارِ وَالْمُنَافِقِيْنَ، وَالْمَقْصُوْدُ مِنْ ذَلِكَ اتِّعَاظُهُمْ بِمَا وَرَدَ فِي القُرْآنِ، وَاعْتِبَارُهُمْ الهَادِي إِلَى الإِيْمَانِ وَاتِّبَاعِ الشَّرْعِ. وَهَكَذَا يَكُوْنُ الْمَقْصُوْدُ عِنْدَ تَعْمِيْمِ الأَمْرِ لِيَشْمَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، فَالتَّدَبُّرُ مُتَوَجِّهٌ إِلَى اتِّعَاظِ القَلْبِ وَاعْتِبَارِهِ مِمَّا يُثْمِرُ بَعْدَ ذَلِكَ آثَاراً دَالَّةً عَلَى الخُشُوْعِ: كَوَجَلِ القَلْبِ، وَالبُكَاءِ، وَالخَشْيَةِ، وَزِيَادَةِ الإِيْمَانِ…

Diantara dalil bahwa tujuan tadabbur adalah meraih keimanan:
Bahwa seruan dari ayat-ayat yang memerintahkan mentadabburi Al-Quran ditujukan kepada orang kafir dan munafik dengan maksud agar mereka terpengaruh dengan mauizhah yang ada di dalam Al-Quran, dan agar mereka mendapatkan ibrah yang menunjuki mereka kepada iman dan mengikuti syariat Islam.

Begitu pula tujuan perintah tadabbur yang bersifat umum ini berlaku atas kaum muslimin.

Jadi tadabbur mengarah kepada terpengaruhnya hati dengan mauizhah, dan diraihnya ibrah, yang selanjutnya membuahkan hal-hal yang menunjukkan kekhusyu’an, seperti: hati yang bergetar, menangis, rasa gentar dan bertambahnya iman… (Tahrir Ma’na At-Tadabbur ‘Indal Mufassirin)

Perhatikan firman Allah subhanahu wata’ala tentang para nabi dan orang-orang beriman yang membaca atau dibacakan ayat-ayat yang diturunkan untuk mereka:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal. (QS. Al-Anfal: 2).

أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil (Ya’qub), dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih.

Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (QS. Maryam: 58)

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ …

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi diulang-ulang (membacanya), gemetar (merinding) karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah… (QS. Az-Zumar: 23)

TADABBUR, SATU CARA MERASAKAN KELEZATAN AL-QURAN

Az-Zakarsyi rahimahullah dalam kitabnya Al-Burhan menyatakan:

مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ عِلْمٌ وَفَهْمٌ وَتَقْوَى وَتَدَبُّرٌ، لَمْ يُدْرِكْ مِنْ لَذَّةِ القُرْآنِ شَيْئًا

Barangsiapa tidak memiliki ilmu, pemahaman, taqwa dan tadabbur, tidak akan mendapatkan kelezatan Al-Quran sedikitpun. (Al-Burhan fi Ulum Al-Quran, 2/155).

Apa yang disebutkan oleh Az-Zarkasyi merupakan perangkat yang lengkap untuk melakukan tadabbur yang menghasilkan kelezatan berinteraksi dengan Al-Quran:

1. ILMU

Yaitu lmu syar’i yang diperlukan untuk tadabbur mendalam terutama yang ilmu yang berkaitan dengan tafsir Al-Quran.

2. PEMAHAMAN

Dengan memahami makna ayat Al-Quran yang akan ditadabburi dengan pemahaman yang benar.

Ini adalah bekal ilmu minimal untuk melakukan tadabbur, jika belum dapat memiliki perangkat ilmu tafsir yang lengkap.

3. TAQWA

Yang sumbernya dari kejernihan hati, iman yang benar terhadap semua rukun iman, dan niat yang ikhlas.

4. TADABBUR

Yaitu aktifitas perenungannya itu sendiri sesuai pengertian yang telah dijelaskan.

Merasakan kelezatan Al-Quran ini akan berdampak pada kekhusyu’an membacanya di dalam atau di luar shalat.

Di dalam shalat sunnah yang ia lakukan sendirian misalnya, seorang mukmin akan betah berlama-lama dengan bacaan Al-Quran setelah membaca surat Al-Fatihah, baik dengan memilih surat yang panjang atau mengulang-ulang membaca ayat atau beberapa ayat, atau membaca doa terkait dengan ayat yang ia baca.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

إِذَا مَرَّ – مُتَدَبِّرُ القُرْآنِ – بِآيَةٍ وَهُوَ مُحْتَاجٌ إِلَيْهَا فِي شِفَاءِ قَلْبِهِ كَرَّرَهَا وَلَوْ مِائَةَ مَرَّةٍ وَلَوْ لَيْلَة، فَقِرَاءَةُ آيَةٍ بِتَفَكُّرٍ وَتَفَهُّمٍ خَيْرٌ مِنْ قِرَاءَةِ خَتْمَةٍ بِغَيْرِ تَدَبُّرٍ وَتَفَهُّمٍ، وَأَنْفَعُ لِلْقَلْبِ، وَأَدْعَى إِلَى حُصُولِ الِإيْمَانِ وَذَوْقِ حَلاَوَةِ القُرْآنِ

Jika orang yang sedang bertadabbur melewati sebuah ayat yang ia butuhkan dalam menyembuhkan hatinya, hendaklah ia MENGULANG-ULANG meskipun hingga seratus kali atau sepanjang malam.

Membaca satu ayat dengan tafakkur dan tafahhum lebih baik dari membaca khatam tanpa tadabbur dan tafahhum, lebih bisa bermanfaat bagi hati, dan lebih mampu mencapai iman dan merasakan lezatnya Al-Quran.

(Ibnul Qayyim, Miftah Daris As-Sa’adah, hlm 221).

‘Urwah bin Az-Zubair bin ‘Awwam radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan tentang ibunya, Asma binti Abu Bakar, radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia masuk ke rumah mendapatkan Asma sedang shalat:

فَسَمِعْتُهَا وَهِيَ تَقْرَأُ هَذِهِ الْآيَةَ {فَمَنَّ اللهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ} [الطور: 27] فَاسْتَعَاذَتْ فَقُمْتُ وَهِيَ تَسْتَعِيذُ فَلَمَّا طَالَ عَلَيَّ أَتَيْتُ السُّوقَ ثُمَّ رَجَعْتُ وَهِيَ فِي بُكَائِهَا تَسْتَعِيذُ

Maka aku mendengar ia sedang membaca ayat:

فَمَنَّ اللهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ

Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. (QS. Ath-Thur: 27).

Lalu ia berdoa memohon perlindungan (kepada Allah) darinya, lalu aku berdiri dan ia masih memohon perlindungan.

Ketika aku merasakan lama, aku keluar pergi ke pasar kemudian kembali dan ia masih dalam tangisnya memohon perlindungan. (Hilyah Al-Aulia wa Thabaqat Al-Ashfiya, Al-Ashbahani, 2/55).

Tentu saja yang membuat Asma betah berlama-lama dalam tangis dan munajatnya adalah tadabburnya terhadap ayat tersebut yang melahirkan interaksi dalam bentuk doa perlindungan.

Itulah dahsyatnya kelezatan Al-Quran dengan tadabbur.

Kisah yang hampir sama terjadi pada Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Ibnu Katsir menyebutkan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dengan sanadnya dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:

Bahwa ia membaca ayat ini:

فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ

Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dialah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang. (QS. Ath-Thur: 27-28).

Maka ia (Aisyah) berdoa:

اللَّهُمَّ مُنَّ عَلَيْنَا وَقِنَا عَذَابَ السَّمُومِ، إِنَّكَ أَنْتَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ

Ya Allah karuniakan kepada kami dan pelihara kami dari azab neraka, sesungguhnya Engkaulah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.

Al-A’masy, salah seorang perawi kisah ini ditanya:
Di dalam shalat?
Ia menjawab: Ya.

Diriwayatkan juga oleh Abdul Razzaq, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Al-Mundzir, dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman seperti yang disebutkan pada Ad-Durr Al-Mantsur 7/634).

Asy-Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah menyebutkan dalam bukunya Nazharat fi Kitabillah:

وذكر أبو بكر أحمد بن علي بن ثابت الحافظ في كتابه المسمى “أسماء من روى عن مالك” عن مرداس بن محمد بن بلال الأشعري قال: حدثنا مالك عن نافع عن ابن عمر قال: تَعَلَّمَ عُمَرُ الْبَقَرَةَ فِى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً، فَلَمَّا خَتَمَهَا نَحَرَ جَزُوْرًا، شُكْرًا للهِ

Dan Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit Al-Hafizh telah menyebutkan dalam kitabnya berjudul “Asma Man Rawaa ‘an Malik” (Nama-Nama Siapa Saja yang Meriwayatkan dari Imam Malik).

Dari Mirdas bin Muhammad bin Bilal Al-Asy’ari ia berkata: Telah berbicara kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar (bin Khatab) ia berkata:

Umar mempelajari surat Al-Baqarah selama dua belas tahun, tatkala selesai, ia pun menyembelih unta sebagai tanda syukur kepada Allah.

(Nazharat Fi Kitabillah, Hasan Al-Banna hlm 157; Lihat juga: Ad-Durr Al-Mantsur, As-Suyuthi, 1/54)

Tentunya dua belas tahun yang dihabiskan oleh Umar untuk mempelajari surat Al-Baqarah saja menunjukkan kedalaman tadabbur yang dilakukan saat membacanya, bukan sekadar membaca untuk khatam.

Dan kebahagiaan mentadabburi surat Al-Baqarah dengan tadabbur ini setelah selesai diungkapkan dengan menyembelih unta sebagai tanda syukur kepada Allah subhanahu wata’ala.

HUBUNGAN TAFSIR DENGAN TADABBUR

Jika tafsir hanya berisi penjelasan tentang makna ayat secara umum, maka tafsir seperti ini merupakan bekal awal untuk melakukan tadabbur.

Tetapi jika tafsir ayat Al-Quran juga berisi makna tersirat dari ayat atau menjelaskan nilai-nilai yang tidak tampak jika hanya melihat terjemahan ayat, apalagi sampai pada istanbath (kesimpulan hukum atau hikmah kehidupan) yang memperkuat iman, maka tafsir seperti ini merupakan hasil dari tadabbur sang penafsir atau ia mengutip hasil tadabbur orang lain.

Dalam hal ini tadabbur adalah bagian dari tafsir.

Sedangkan tafsir yg berasal dari wahyu (tafsir Al-Quran dengan Al-Quran & tafsir Al-Quran dengan Sunnah Rasulullah) atau berasal dari riwayat sahabat Rasulullah yg telah dipastikan merupakan informasi dari Rasulullah, jelas bukan merupakan tadabbur, tetapi ia menjadi penjelasan penting dalam mentadabburi ayat-ayat yang telah dijelaskan oleh wahyu atau riwayat tersebut.

YANG MEMBANTU TADABBUR

Diantara hal penting yang dapat membantu seorang muslim dalam tadabbur:

* Memenuhi semua adab tilawah Al-Quran diantaranya dalam keadaan bersuci, menghadap kiblat, memilih waktu yang tepat, dll.

* Menghadirkan perasaan bahwa ayat Al-Quran sedang berbicara kepadanya, kemudian merenungkan apakah posisinya saat ini sudah sesuai dengan kehendak Al-Quran atau belum.

* Tilawah dengan perlahan dan khusyu’ dan tidak memikirkan harus sampai akhir surat atau akhir juz.
Dalam hal ini hendaknya seorang muslim memiliki waktu khusus untuk tadabbur di luar waktu untuk tilawah dengan target khatam.

* Memikirkan ayat yang sedang dibaca dengan perlahan, menganalisanya berulang sambil memperhatikan korelasi antar ayat sebelum dan sesudahnya.

* Memiliki pemahaman yang baik terhadap dasar-dasar ilmu tafsir

* Menelaah pendapat ulama tafsir, terutama saat mereka yang menjelaskan hubungan antar ayat, atau antar surat.

* Memperhatikan tujuan asasi Al-Quran atau syariat secara umum, diantaranya pelurusan aqidah tauhid dan seluruh rukun iman, penegasan kemuliaan manusia dan hak-haknya yang utuh ruhani maupun jasmani khususnya kaum yang lemah,  penegasan wasathiyah (kemoderatan) ajaran Islam, penyucian jiwa dan pelurusan akhlak, keadilan dan kasih sayang, dll.

والله أعلم


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

AKRAB DENGAN AL-QURAN (Bag-2 tamat)

Pemateri: Ust. Ahmad Sahal Lc.

MENGKHATAMKAN AL-QURAN DALAM SEPEKAN

Imam Nawawi berkata:

وَأَمَّا الَّذِيْنَ خَتَمُوا فِي الأُسْبُوعِ مَرَّةً فَكَثِيْرُونَ نُقِلَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَعَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَزَيْدٍ بْنِ ثَابِتٍ وَأُبَيٍّ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَعَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ التَّابِعِينَ كَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدٍ وَعَلْقَمَةَ وَإِبْرَاهِيْمَ رَحِمَهُمُ اللهُ …

Orang-orang yang mengkhatamkan sekali dalam sepekan jumlah mereka banyak. Diriwayatkan (amal ini) dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin Tsabit, dan Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhum. Dan diriwayatkan dari jamaah tabi’in seperti Abdurrahman bin Yazid, ‘Alqamah, dan Ibrahim rahimahumullah. (At-Tibyan, halaman 61).

Siapa yang ingin mengkhatamkan Al-Quran dalam sepekan dapat menggunakan cara فَمِي بِشَوْقٍ   “Famii bisyauq” yang artinya “mulutku selalu rindu (Al-Quran)”.

Famii Bisyauq ini setiap hurufnya mengisyaratkan nama surat pertama yang dibaca setiap harinya selama sepekan.

Huruf faa untuk surat Al-Fatihah, huruf miim untuk Al-Maidah, huruf yaa untuk Yunus, huruf baa untuk Bani Israil (Al-Isra), huruf syiin untuk Asy-Syu’ara, huruf wawu untuk wash-shaaffaati-shaffaa (surat Ash-Shaffat), dan huruf Qaaf untuk surat Qaf.

Jadual hariannya menjadi seperti ini:

Hari ke-1: surat Al-Fatihah – surat An-Nisa (Al-Fatihah + 3 surat)

Hari ke-2: surat Al-Maidah – surat At-Taubah (5 surat)

Hari ke-3: surat Yunus – surat An-Nahl (7 surat)

Hari ke-4: surat Al-Isra – surat Al-Furqan (9 surat)

Hari ke-5: surat Asy-Syu’ara – surat Yasin (11 surat)

Hari ke-6: surat Ash-Shaffat – surat Al-Hujurat (13 surat)

Hari ke-7: surat Qaf – surat An-Nas (yang disebut dengan hizb al-mufashal)

Dasar mengkhatamkan Al-Quran dalam sepekan ini adalah arahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang telah saya sebutkan.

Sedangkan jadual harian di atas diambil dari hadits yang didha’ifkan oleh Syaikh Al-Albani yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Abu Dawud dalam Sunan keduanya, juga Imam Ahmad dalam Musnadnya.

Disebutkan dalam riwayat tersebut bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa menemui utusan kabilah atau kaum setiap malam ba’da Isya dan berbicara dengan mereka sambil berdiri. Hingga pada suatu malam beliau terlambat hadir. Aus bin Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, salah satu utusan dari Tsaqif bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ لَقَدْ أَبْطَأْتَ عَلَيْنَا اللَّيْلَةَ قَالَ: «إِنَّهُ طَرَأَ عَلَيَّ حِزْبِي مِنَ الْقُرْآنِ فَكَرِهْتُ أَنْ أَخْرُجَ حَتَّى أُتِمَّهُ» ، قَالَ أَوْسٌ: فَسَأَلْتُ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ تُحَزِّبُونَ الْقُرْآنَ؟ قَالُوا: ثَلَاثٌ وَخَمْسٌ وَسَبْعٌ وَتِسْعٌ وَإِحْدَى عَشْرَةَ وَثَلَاثَ عَشْرَةَ وَحِزْبُ الْمُفَصَّلِ

Ya Rasulullah, sungguh engkau telah terlambat menemui kami malam ini. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya telah luput hizib (wirid) Al-Quran ku, maka aku tidak suka keluar (menemui kalian) sebelum menyempurnakannya.

” Aus berkata: Maka aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Bagaimana kalian membagi hizb (wirid) Al-Quran?” Mereka menjawab: tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, tiga belas, dan hizb al-mufashal.

Maksudnya:
Mereka mengkhatamkannya dalam sepekan dengan 3 surat di hari pertama, 5 surat di hari kedua dan seterusnya. Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan 3 surat hari pertama adalah Al-Baqarah, Ali Imran & An-Nisa, sedangkan Al-Fatihah tidak disebutkan karena sudah dipastikan ia dibaca di awal.

KESIMPULAN

Al-Quran akan memberikan pembelaan dalam bentuk syafaat kepada para sahabatnya, dan orang yang akrab dengan Al-Quran lebih pantas untuk dinamakan sahabat.

Hal paling mendasar untuk akrab dengan Al-Quran adalah dengan membacanya secara benar dan kontinyu, kemudian mengupayakan juga untuk memiliki bentuk keakraban yang lain yaitu menghafalnya.

Agar dapat membaca dengan benar, setiap muslim dan muslimah wajib mempraktekkan ilmu tajwid saat membaca Al-Quran seperti yang ditegaskan oleh Ibnu Al-Jazri, salah seorang ulama pakar qiraah.

Hendaknya setiap muslim dan muslimah memiliki wirid harian membaca Al-Quran dengan target mengkhatamkannya tanpa menganggu kewajiban-kewajiban asasi terutama yang terkait dengan hak-hak orang lain.

Harus ada upaya untuk membaca Al-Quran minimal satu juz setiap hari agar ia dapat mengkhatamkannya dalam sebulan.

Banyak diantara para sahabat dan salaf shalih mengkhatamkan Al-Quran dalam sepekan seperti yang dikemukakan oleh Imam Nawawi rahimahullah. Barang siapa ingin meneladani mereka, dapat mengkhatamkannya dengan menggunakan “famii bisyauq”.

Hendaknya tidak mengkhatamkan Al-Quran secara rutin kurang dari tiga hari seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Rajab rahimahullah, tetapi boleh melakukannya di saat-saat utama seperti bulan Ramadhan, atau di tempat-tempat utama seperti Masjid Haram atau Nabawi, atau untuk keperluan tertentu seperti muraja’ah hafalan bagi penghafal Al-Quran.

Dan hendaknya ia menyediakan waktu khusus untuk membaca sambil memahami makna bacaannya dengan bantuan kitab-kitab tafsir para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

والله أعلم بالصواب


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678