Diantara Akhlak Dalam Bersin Dan Menguap


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ (رواه اليخاري)

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai bersin, dan membenci menguap. Maka apabila salah seorang dari kalian bersin, hendaklah ia memuji Allah (mengucapkan alhamdulillah), dan kewajiban muslim lainnya yang mendengarnya untuk mendo’akannya (mengucapkan yarhamukallah). Sedangkan menguap datangnya dari syetan, maka hendaknya ia menahan menguap semampunya. Dan jika sampai ia mengucapkan “haaah” (menguap dengan bersuara), maka syetan akan tertawa (senang) karenanya.” (HR. Bukhari)

© Hikmah Hadits :

1. Anjuran berakhlaqul karimah dalam segenap aspek kehidupan, tidak terkecuali dalam kebiasaan sehari-hari yang terkadang dianggap sepele dan ringan, seperti akhlak ketika sedang bersin atau ketika sedang menguap.

2. Ketika bersin, kita dianjurkan untuk berdoa memuji Allah Swt dengan mengucapkan “alhamdulillah”. Karena bersin merupakan nikmat dari Allah Swt.

Sementara, bagi muslim lainnya yang mendengarkan ucapan hamdalah dari orang yang bersin, dianjurkan untuk turut mendoakannya dgn mengucapkan “yarhamukallah”. Kemudian selanjutnya orang yang bersin tadi membalasnya kembali dengan mendoakan orang tersebut dengan ucapan “yahdikumullah”.

Dan sungguh, betapa indahnya kehidupan orang yang beriman, yang selalu saling mendoakan satu dengan yang lainnya.

3. Adapun menguap, umumnya datangnya dari syaitan dan termasuk perkara yang tidak disukai Allah Swt. Maka anjuranya ketika menguap adalah hendaknya ditahan sebisa mungkin. Dan kalaupun harus menguap juga, maka hendaknya jangan sampai mengeluarkan suara ketika menguap. Sebab menguap dengan mengeluarkan suara, termasuk perbuatan tercela, dan syaitan sangat menyukainya serta tertawa karenanya.

Wallahu A’lam

Wali Nikah Seorang Janda


Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….Mau tnya ttg bgmn hukumnya, ada seorang janda, pelakor… Dia menikah Siri dgn suami orang tanpa wali, padahal dia punya ayah kandung jg kk laki-laki, ayah nya tak merestui krn itu suami org, istrinya gak mau di poligami. Trus mrk nikah nya jg bkn sama petugas kua ataupun ustadz yg faqih… Kayak model emang kerjaannya gitu, menikahkan org yg kasus nya seperti gitu.apa nikah nya sah atau batil…
Pertanyaan dari member A01

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Rukun nikah
1.Pengantin lelaki (Suami)
2.Pengantin perempuan (Isteri)
3.Wali
4.Dua orang saksi lelaki
5.Ijab dan kabul (akad nikah)

Dari semua imam mazhab, hanya satu saja yang membolehkan wanita yang janda menikah tanpa wali. Yaitu pendapat kalangan Al-Hanafiyah.

Wali nikah janda
Sertelah bercerai seorang janda berhak menikah kembali dan pernikahan tersebut tidak boleh dihalangi sekalipun oleh walinya atau ayahnya sendiri. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 232 yang berbunyi

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ ذَٰلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۗ ذَٰلِكُمْ أَزْكَىٰ لَكُمْ وَأَطْهَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Menurut jumhur ​wali​ harus ada .

Jumhur ulama berpendapat bahwa dalil tentang seorang janda lebih memiliki dirinya sendiri ketimbang walinya, harus dipahami bahwa walinya tidak terlalu berhak lagi untuk mengatur-atur hidupnya, termasuk jodohnya. Namun untuk urusan menikah lagi, tetap saja kedudukan wali tidak tergantikan selamanya.
Note:
1.Pernikahan sah atau bathil itu tergantung ? apakah rukun dan syarat nikahnya terpenuhi?

2. Persoalan istri tidak mau dipoligami itu bab lain. dan tdk mempengaruhi .istri ridho atau tidak kalau syarat dan rukun nikahnya terpenuhi maka syah nikah nya.

Wallahu a’lam.

Apakah Ada Buktinya Shalat dan Doa Diterima?


Pertanyaan Manis I17:
Assalamualaikum Waruhmatullahi Wabarakatuh..mau Bertanya
1. Apakah Tandanya / Buktinya klo shalat yang dikerjakan diterima Allah S.W.T
2. Apakah Tandanya / Buktinya klo Doa yang kita peruntukan kepada Almarhum sampai diterima
Syukoron

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

1. Dalam Nash2 yg sharih (lugas), tidak ada penjelasan khusus ttg tanda Allah Ta’ala menerima amal hambaNya. Biarlah ini tidak kita ketahui, agar kita senantiasa beramal, beramal, beramal, dan tidak merasa puas dgn amal. Para ulama dan penulis memang ada yg mencoba menerka-nerka, namun sifatnya ijtihadiyah.

Ada pun yg ada dalam keterangan adalah syarat-syarat diterimanya amal yaitu;

1. Iman. Amal org kafir tidak akan diterima, sebaik apa pun amal itu.

2. Amalnya benar, yaitu sesuai Sunnah, atau ada dasar dalam syariah, baik secara global atau khusus. Sebagaimana hadits:

​Man ahdatsa fii amrinaa haadza man Laisa minhu fahuwa raddun​ – siapa yang melakukan perkara baru yg tidak ada dasar dalam agama ini maka itu tertolak.

3. Ikhlas, hanya untuk Allah, tdk ada niatan lain.

Allah Ta’ala berfirman:

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

​Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya​. (QS. Al Kahfi: 110)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala mengumpulkan dua syarat;

– Amal itu Shalih,

– Amal itu mencari Ridha Allah, tidak menyekutukan dgn yg lainnya.

2. Pertanyaan ini sama seperti di atas. Yg ada adalah hadits-hadits yg mencontohkan doa untuk orang yg sudah wafat. Tapi, kalau ditanya “apa tandanya doa kita sampai?” Tidak ada penjelasannya, yg diperintahkan dalam syariat adalah perintah untuk mendoakannya.

Ini menunjukkan bahwa kita diperintahkan untuk beramal dan berdoa, hasilnya serahkan kepada Allah Ta’ala. Agar manusia tidak pernah merasa puas dgn amal dan doanya.

Wallahu a’lam.

Waria Jadi Imam Shalat​


​Bismillah wal Hamdulillah ..​

Dalam fiqih, ada jenis ketiga yaitu ​Al Khuntsa​. Siapa ​Al Khuntsa?​ yaitu orang yg laki atau wanitanya blm bisa dipastikan, karena dia berkelamin ganda.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ​Rahimahullah​ mengatakan:

والخُنثى هو: الذي لا يُعْلَمُ أَذكرٌ هو أم أنثى؟ فيشمَلُ مَن له ذَكَرٌ وفَرْجٌ يبول منهما جميعاً, ويشمَلُ مَن ليس له ذَكَرٌ ولا فَرْجٌ، لكن له دُبُرٌ فقط

​​Al Khuntsa​ adalah orang yg tidak diketahui priakah dia atau wanita? Mencakup didalamnya pula yaitu orang yg memiliki dzakar dan vagina jg dan kencingnya lewat keduanya. Mencakup pula di dalamnya orang yg tidak punya dzakar dan tidak punya vagina, hanya punya dubur.​ (Selesai)

Jenis ini, hanya boleh menjadi imam bagi kaum wanita. Tidak boleh jadi imam kaum laki-laki, dan tidak boleh jadi imam sesama mereka.

Syaikh Abdullah Al Faqih ​Hafizhahullah​ mengatakan:

فهو لا تصح إمامته للرجال, ولا لمثله من الخناثى لاحتمال أن يكون امرأة، وتصح إمامته للنساء عند الجمهور

​Maka, dia tidak sah menjadi imam bagi kaum laki-laki, dan tidak sah bagi yg semisal dirinya dari kalangan Al Khuntsa juga, karena bisa jadi kemungkinannya dia wanita, tapi dia SAH menjadi imam bagi kaum wanita saja menurut pendapat mayoritas ulama.​

​(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 189089)​

Nah, ​Al Khuntsa​ inilah yg dimaksud dalam buku tersebut.

Bagaimana dgn banci? Atau istilah lain waria atau bencong? Mereka bukan ​Al Khuntsa.​ Mereka ini kelompok yg sejak lahirnya adalah laki-laki lalu berpolah seperti wanita; suara, kedipan mata, pakaian, cara jalan, gerakan tangan, .. maka ini fasiq. Salah gaul jadi seperti ini. Kalau perempuan, yang berprilaku seperti laki-laki; ​gaya, suara, pakaian, maka ini lebih dikenal dgn tomboy.​ Keduanya tercela dalam ​As Sunnah.​

Inilah yg disebut dalam hadits Nabi ​Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam​ sebagai berikut:

ِعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ مِنْ النِّسَاءِ

Dari Ibnu Abbas ​Radhiallahu ‘anhuma​ mengatakan, Nabi ​Shallallahu’alaihi wasallam​ melaknat laki-laki yang menyerupai wanita (waria) dan perempuan yang menyerupai laki-laki.

​(HR. Bukhari no. 6834)​

Shalat menjadi makmumnya waria adalah suatu yg dibenci kecuali terpaksa.

Imam Az Zuhri ​Rahimahullah​ berkata:

ُّ لَا نَرَى أَنْ يُصَلَّى خَلْفَ الْمُخَنَّثِ إِلَّا مِنْ ضَرُورَةٍ لَا بُدَّ مِنْهَا

​Kami tidak membenarkan shalat menjadi ma’mumnya waria kecuali kondisi darurat yg mengharuskan demikian.​ ​(Shahih Al Bukhari no. 659, Kitabullah Adzan)​

Dalam ​Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah​ dijelaskan:

والذي يتشبه بهن في تليين الكلام, وتكسر الأعضاء عمدا، فإن ذلك عادة قبيحة ومعصية, ويعتبر فاعلها آثما وفاسقا, والفاسق تكره إمامته عند الحنفية والشافعية، وهو رواية عند المالكية, وقال الحنابلة والمالكية في رواية أخرى ببطلان إمامة الفاسق.

​Laki-laki yg menyerupai wanita; dalam melembutkan pembicaraan, gerakan anggota tubuhnya secara sengaja, ini adalah kebiasaan yg buruk lagi jelek, pelakunya dinilai berdosa dan fasiq.​

​Orang fasiq makruh menjadi imam menurut Syafi’iyyah dan Hanafiyah, dan salah satu riwayat Malikiyah.​

​Adapun bagi Hanabilah dan Malikiyah dalam riwayat yg lain, batal menjadi ma’mumnya orang fasiq.​ (selesai).

Semoga bisa dibedakan antara Al Khuntsa, dan Al Mukhannats (banci/waria).

Demikian. Wallahu a’lam

Zina itu utang

Status Anak dari Zina

Pertanyaan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah ….
Blh nanya, apakah ayah kandung dr anak hasil zina merupakan mahrom…?
Jazakillahu katsiran. 🙏

Jawaban

Oleh: Ustadzah​ Nurdiana

و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Tergantung pada si ibu di nikahi atau tidak oleh ayahnya sebelum 4 bulan?.
Kalau si ibu tidak dinikahi maka anak hasil zina nya bukan mahram.

Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keputusan bahwa anak dari hasil hubungan dengan budak yang tidak dia miliki, atau hasil zina dengan wanita merdeka TIDAK dinasabkan ke bapak biologisnya dan tidak mewarisinya… (HR. Ahmad, Abu Daud, dihasankan Al-Albani serta Syuaib Al-Arnauth).

Wallahu a’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Menjual Barang Untuk Keperluan Natal​


Imam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam ​Iqtidha Sirath Al Mustaqim:​

فأمّا بيع المسلم لهم في أعيادهم ما يستعينون به على عيدهم من الطعام واللباس والرّيحان ونحو ذلك أو إهداء ذلك لهم فهذا فيه نوع إعانة على إقامة عيدهم المحرّم.

​Ada pun Seorang Muslim menjual untuk mereka pada saat hari raya mereka, yg dengan itu dapat membantu pelaksanaan hari raya itu seperti makanan, pakaian, parfum, dan lainnya, atau memberikan hadiah kepada mereka, maka semua ini adalah bentuk pertolongan atas terlaksananya perayaan mereka yang diharamkan.​ ​(Hal. 229)​

Imam Abdul Malik bin Habib ​Rahimahullah,​ seorang ulama Malikiyah, berkata:

ألا ترى أنّه لا يحلّ للمسلمين أن يبيعوا من النصّارى شيئا من مصلحة عيدهم؟ لا لحما ولا إداما ولا ثوبا ولا يُعارون دابّة ولا يعاونون على شيء من عيدهم لأنّ ذلك من تعظيم شركهم ومن عونهم على كفرهم

​Apakah Anda tidak lihat bahwanya tidak halal bagi kaum muslimin menjual sesuatu kepada kaum Nasrani apa-apa yang dimanfaatkan pada hari raya mereka ? Tidak boleh menjual daging, pakaian, dipinjamkan hewan, dan tidak pula menolong mereka dgn sesuatu pada hari raya mereka, sebab itu merupakan pemuliaan thdp kesyirikan mereka dan termasuk pertolongan atas kekafiran mereka.​ ​(Ibid, hal. 231)​

Demikian. Wallahu a’lam

Mengingatkan Imam yang Lupa..


Assalamualaikum ustadz/ ah.. Kebetulan saya rumahnya deket mesjid dan selalu sholat berjamaah yang ingin saya tanyakan bagaimana hukumnya kalau kita melakukan sholat berjamaah trus imamnya lupa satu rakaat lagi dan beliau langsung tasyahud akhir ,apakah bnar sholat kita tetep sah? ,,, atau kita harus melakukan sholat satu rakaat lagi yang kurang tadi ??? Mohon jawaban nya ,, syukron
Kebetulan imam di mesjid saya sering lupa dalam sholat dan kadang juga sering lupa ayat yang dibaca walau satu ayat , bagaimana hukumnya ke kita sebagai ma’mum nya beliau apakah dosa kita sebagai ma’mum atau kah imam nya harus diganti ????
[ A 33 ]

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

Ketahuilah kekurangan imam, atau bahkan kesalahan fatal imam, semuanya ditanggung oleh imam itu sendiri, bahkan tidaklah ditanggung oleh makmum. Hal ini berdasarkan beberapa dalil berikut: Allah Ta’ala berfirman:

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (QS. An Najm : 38-39)   Ayat lain:

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

 “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al Mudatsir (74): 38)
Dalam hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلُّونَ بِكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

Dari Abu Hurairah dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Mereka shalat sebagai imam bagi kalian, maka jika mereka benar, pahalanya bagi kalian dan mereka, dan jika mereka salah, maka pahalanya untuk kalian, dosanya ditanggung mereka.” (HR. Bukhari No. 694)  Sahl berkata:

إِنِّي سَمِعْتُ رَسُول
َ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْإِمَامُ ضَامِنٌ فَإِنْ أَحْسَنَ فَلَهُ وَلَهُمْ وَإِنْ أَسَاءَ يَعْنِي فَعَلَيْهِ وَلَا عَلَيْهِمْ

“Sesungguhnya aku mendengar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:”Imam itu adalah penanggung jawab, jika dia benar, maka pahalanya bagi dia dan bagi makmum, jika dia salah, maka tanggung jawabnya adalah kepadanya, bukan kepada makmum.”    (HR. Ibnu Majah No. 981, Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. Lihat  Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 981)                
Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

تصح إمامة من أخل بترك شرط أو ركن إذا أتم المأموم وكان غير عالم بما تركه الامام

“Bermakmum kepada orang yang tertinggal syarat dan rukun shalat adalah sah, dengan syarat makmum tidak tahu kesalahan tersebut dan dia menyempurnakan apa-apa yang ditinggalkan oleh imam.”   (Fiqhus Sunnah, 1/241)

Wallahu a’lam.

Riyadhus Shalihin (Bab Shiddiq – Predikat Shiddiq​)


​Bab Shiddiq – Predikat Shiddiq​

​Hadits:​

عن ابن مسعود – رضي الله عنه – ، عن النَّبيّ – صلى الله عليه وسلم – ،
قَالَ : إنَّ الصِّدقَ يَهْدِي إِلَى البرِّ ، وإنَّ البر يَهدِي إِلَى الجَنَّةِ ، وإنَّ الرَّجُلَ لَيَصدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقاً .

وَإِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ ، وَإِنَّ الفُجُورَ يَهدِي إِلَى النَّارِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكتَبَ عِنْدَ الله كَذَّاباً
مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .

​Artinya:​

​Dari Ibnu Mas’ud r.a. dari Nabi Muhammad s.a.w., sabdanya:​

​”Sesungguhnya kejujuran – baik yang berupa ucapan atau perbuatan – itu menunjukkan kepada kebajikan dan sesungguhnya kebajikan itu menunjukkan ke surga dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan kejujuran sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang Shiddiq, sangat mengutamakan kejujuran​.

​Dan sesungguhnya berdusta itu menjerumuskan kepada kebururukan/durhaka dan sesungguhnya keburukan/durhaka itu membawa kepada neraka dan sesungguhnya seseorang itu benar-benar berdusta sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang pendusta.”​

​(Muttafaq ‘alaih)​

☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian AUDIO di bawah ini.

DOWNLOAD MP3 KAJIAN KITAB DISINI

Selamat menyimak.

Allah Tuhan Alam

MAKNA AL-ILAH​

Oleh: Wido Supraha

​Tadabbur Surat Al-Isrā’ [17] ayat 42​

قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَىٰ ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا

Katakanlah (Muhammad), “Jika ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagai-mana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai ’Arsy.”

📕 Surat Al-Isrā’ [17] ayat 42

♦️ Al-ilah adalah sesuatu yang kita meras tentram, terlindungi, merindui, hingga selalu cenderung kepadanya

♦️ Intensitas kedekat dengan al-Ilah akan membawa seseorang pada kecintaan dan ketundukan sempurna yang mengarah pada penghambaan, pada saat itu tanpa sadar ia telah menyembahnya

♦️ Muncullah kalimat konsep hidup seperti: “Aku tidak bisa hidupmu” atau “Aku rela menyerahkan segalanya untukmu”, konsep-konsep penghambaan yang akan hina jima ditujukan kepada makhluk

♦️ Islam dengan demikian mendorong manusia untuk membersihkan jiwanya dari seluruh Ilah dan penghambaan kepada mereka, kecuali menghadirkan hanya satu Ilah semata, Allah Jalla Jalāluh.

♦️ Lahirlah konsep hidup, “Tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah saja.”

✨ Wallāhu a’lam,


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Bolehkah Menolaknya???


Assalamu ‘alaikum wrwb….
Bagaimana hukumnya, jika seorang istri menolak ajakan suami untuk berhubungan sex. Trus bagaimana hukumnya jika istri tidak taat pada suami seperti tidak perhatian.
akan tetpi, istri ini, rajin ibadah, dhuha, shalat dan mengaji, apakah tidak apa-apa
alasan menolak ajakan suami dan tidak perhatian di karenakan hamil. Apakah tidak apa-apa bersikap seperti itu di karenakan hamil❓
🅰2⃣5⃣

Jawaban
———-

‌و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

​Dalam kondisi normal, tidak boleh istri menolak ajakan suami untuk berhubungan.​

​”Bila seorang suami memanggil istrinya ke ranjang lalu tidak dituruti, hingga sang suami tidur dalam keadaan marah kepadanya niscaya para malaikat melaknati dirinya sampai Shubuh” (Muttafaq ‘Alaih dari hadits abu Hurairah).​

Namun bukan berarti penafsiran hadits tersebut membuat banyak ‘kasus’ istri yang terpaksa memenuhi hajat suami, dalam kondisi sakit sekalipun.

​​Kondisi yg membolehkan istri menolak di antaranya adalah ketika istri sakit​​

Ketika sakit pun seseorang bahkan mendapat keringanan untuk shalat dengan cara duduk atau berbaring, atau bahkan tidak berpuasa di bulan Ramadhan meskipun itu adalah kewajiban.

Dengan demikian, ketika istri sedang mengalami sakit, tidak semestinya suami memaksakan istri untuk melayani keinginannya. Suami perlu memahami bahwa kondisi istri yang sedang sakit tentu saja tidak mampu untuk menjalankan kewajibannya.

Juga ketika istri hamil muda yang membahayakan kondisi janin jika melakukan hubungan intim

Ada beberapa kondisi kehamilan yang rentan dan membahayakan janin jika pasutri tetap melakukan hubungan suami istri, khususnya saat usia kandungan masih sangat muda.

Wallahu a’lam.