Barisan Perfeksionis Itu Selalu Ada Bersama Ummat

📆 Kamis, 14 Rajab 1437H / 21 April 2016

📚 SIROH DAN TARIKH

📝 Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

📝 Barisan Perfeksionis Itu Selalu Ada Bersama Ummat

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Catatan Awal April, Antara Tahun 2016 dan 1453

Sejak dua hari yg lalu, 2 April, 563 tahun yang silam, barisan terdepan kepanduan sultan Mehmed II telah berdatangan ke pinggiran barat dinding kota Konstantinopel. Mereka telah menduduki titik-titik strategis yang telah dipilih sejak perencanaan teknis ditetapkan dua tahun sebelumnya. Tenda sultan juga sudah disiapkan di bukit Maltepe yang berhadapan tidak jauh dari Istana Blachernae. Mengharukan, selalu ada angkatan muda pegiat dan pelopor kebaikan dalam tubuh Ummat ini. Membanggakan, selalu ada pundak-pundak muda diantara Kaum Muslimin yang siap menanggung beban berat perjuangan da’wah dengan hati yang ringan.

Mereka menjadi pengarah bagi 80-200 ribu balatentara Turki Utsmani yang menyusul di belakangnya. Mereka memastikan setiap kesatuan berada di zonanya dan setiap perbekalan mengalir sesuai jalur logistiknya. Mereka telah memetakan jalur serbu, rute evakuasi korban, jadwal dapur umum, agenda ta’lim ruhi, serta musholla lokal dan jadwal imam. Mereka juga memastikan dermaga di Beşiktaş, Üsküdar (Scutari), dan Studios telah siap menampung armada laut Turki Utsmani. Mereka juga telah menandai jalur tebang mendaki yang akan mengitari Galata. Mencengangkan, selalu ada shaf para perfeksionis yang membimbing ummat menuju kejayaannya.

Diantara yang menjadi fokus perhatian mereka adalah mengamankan zona khusus yang akan ditempati kanon Urbanus. Senjata bermesiu dengan kaliber terbesar dan proyektil terberat di zamannya menjadi keunggulan teknologi tersendiri bagi Kaum Muslimin. Untuk menghadirkan alat militer tercanggih mereka telah memastikan jalan, jembatan, serta hewan dan awak penariknya siap sepanjang rute aman. Mengharu-birukan, selalu ada barisan para salihin yang dengan kadar keihsanannya membuat mereka dipuji oleh Nabi SAW sejak Perang Khandaq dalam hadits Latuftahanna delapan abad sebelumnua.

Turut bersama rombongan kepanduan ini adalah gurunda Mehmed II muda yang bernama Aq Şemsettin (Ak Syamsuddin). Beliau memiliki agenda khusus yaitu mengamankan zona pusara seorang sahabat Nabi SAW. Abu Ayyub al-Anshari (ra) telah lebih dahulu menghadap Allah Ta’ala di medan palagan ini 800 tahun sebelumnya. Peletakan batu pertama kompleks peziarah sudah dicanangkan sebagai bagian dari penghormatan atas ke-13 angkatan Latuftahanna sebelumnya. Menggetarkan, selalu ada alim-ulama yang mempertautkan kisah kepahlawanan masa lampau dengan gelora perjuangan masa kini.

Bagian Pertama, Latuftahanna
Menyongsong Napak Tilas Fatih

Sebelum dan sesudah waktu subuh,
Depok, 4 April 2016
Agung Waspodo

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Junudan Lam Tarawha (Tentara Allah yang Tak Terlihat)

📆 Kamis, 14 Rajab 1437H / 21 April 2016

📚 SIROH DAN TARIKH

📝 Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

📝 Junudan Lam Tarawha (Tentara Allah yang Tak Terlihat)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

 20 Maret, 1389 tahun yg lalu, miladiyah:

Kaum Muslimin bersama Rasulullah SAW telah bertahan 27 hari di belakang parit. Mereka menggali parit pertahanan (khandaq) utk mempertahankan eksistensi peradaban Islam di kota Madinah yang baru berumur 5 tahun.

Pengepungan oleh kaum Musyrikin Quraisy dan sekutunya (ahzab) Banu Ghatafan itu mengalami kebuntuan. Frustasi berkepanjangan koalisi yg juga melibatkan Yahudi itu semakin diliputi perpecahan serta kecurigaan di kalangan mereka sendiri. Setelah krisis itu mendekati puncaknya, dikirimlah Nu’aim ibn Mas’ud oleh Rasulullah SAW utk mengadu berbagai kepentingan lawannya.

🔅Tengoklah betapa perpecahan justru menghebat di barisan Kaum Muslimin sekarang ini. Mulailah mencari titik temu diantara ahlus sunnah wal jama’ah dan janganlah biarkan kita meruncing dalam perbedaan.

Taktik itu berhasil dan Allah SWT menggenapkan azab kepada musuhNya dengan mengirimkan angin kencang (riihan) serta tentaraNya yang tidak nampak (junudan lam tarawha). Pertolongan Allah Ta’ala itu dekat, amat dekat, namun hal itu tidak menghentikan usaha Rasul dan para sahabatnya untuk berjuang. Mereka generasi terbaik telah berjuang tanpa kenal lelah dan berkorban sampai batas-batas terujung. Begitu pula harusnya kita pada generasi penghujung masa..

Manggarai, jam delapan pagi, 2 April 2016
Agung Waspodo menuju acara Latuftahanna*..

*(Red : penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al Fatih, 23 April 2016 08:00-11:00 di Great Saladdin Square – Margonda Depok)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Menyegerakan Kebaikan

📆 Rabu, 13 Rajab 1437H / 20 April 2016

📚 MOTIVASI

 📝Pemateri:  Ustadzah Rochma Yulika

📋Menyegerakan Kebaikan

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

✅Jika kita masih ingin bertahan di jalan kebaikan.
✅Jika kita masih bertekad untuk menegakkan  kebenaran.
✅Jika kita masih ingin menjadi bagian dari orang yang beriman.
✅Dan jika kita masih termasuk orang-orang yang mendambakan kehidupan yang aman dan damai di bawah naungan Al Quran.

❣Bergegaslah!!!

🔹Mari kita pelihara dan tingkatkan taqwa kita.
🔹Mari kita luangkan sejenak waktu untuk berdiri menghamba pada Nya.
🔹Untuk mendahulukan membaca kalam Nya.
🔹Untuk memrioritaskan berinteraksi dengan Nya di tengah kesibukan apapun yang kita lewati.

💦Ibnu Taimiyah berkata, Ini (tilawah dan dzikir) adalah sarapanku, kalau aku tidak sarapan dengan ini maka kekuatanku akan melemah. (Wabil Ash-shaib, 44).

Begitulah sesungguhnya kebutuhan orang mukmin.

❣Kekuatan kita itu di pagi hari. Terkadang kita lalai, sehingga tak menyadari bahwa meluangkan waktu untuk bersama dengan Allah saat pagi hari merupakan amunisi untuk bekal perjalanan sepanjang hari. Allah akan menjaga kita ketika kita mau mengawali hari dengan beramal kebaikan.

🍃Lantas, sejauhmana kita sudah meluangkan waktu yang tidak lama dalam kebersamaan dengan Nya?

Apakah tidak ingin ketika kita selalu mendahulukan untuk memenuhi hak Allah dan Allah akan menyegerakan pemenuhan terhadap hak kita?

❣Berusahalah untuk memelihara hak-hak Allah kala lapang mau pun sempit. Maka Allah akan bersama kita saat kita mengalami kesulitan dan membutuhkan pertolongan.

Terlebih bagi siapa yang banyak berdzikir untuk memuji Allah serta membaca kalam Nya, akan dikenali suaranya. Subhanallah.

💧Dalam sebuah hadits, disebutkan hamba yang taat dan selalu berdzikir seta membaca Al Quran jika ditimpa suatu kesulitan para malaikat berkata, Ya Rabb, ini adalah suara yang sudah dikenal dari hamba yang dikenal. Tapi bila ada orang yang lalai  dan mengingkari hak Allah, para malaikat berkata, Ya Rabb, suara yang biasa mengingkari dari hamba yang mengingkari.

🌷Di khutbah terakhit saat menjelang Rasulullah SAW wafat,

💦Wahai ummatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya.
Maka taati dan bertawakalah kepada-Nya.
Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersamaku.💦

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Bagaimana Bersikap Saat Dilanda Kecewa

📆 Rabu, 13 Rajab 1437H / 20 April 2016

📚 MOTIVASI

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah  Haidir, Lc

📝 Bagaimana Bersikap Saat Dilanda Kecewa

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

As’adallahu shobaahakum…semoga Allah bahagiakan Anda di pagi ini😊

🍁Jangan tersandera oleh kekecewaan. Jadikan dia motivasi lakukan perbaikan…

🍁Kekecewaan ibarat tikungan tajam bagi seorang pembalap. Di sana dia dapat terjungkal, atau justru menyalip lawan.
Tergantung penyikapan…

🍁Kekecewaan akan selalu menyapa. Sebagai isyarat, walau kita harus ikhtiar sekuat tenaga, tapi jangan menuntut segalanya harus sempurna…

🍁Kecewa sering lahir dari espektasi dan pemujaan berlebihan. Selalulah bersikap wajar…..tapi jangan liberal…:)

🍁Kecewa tak mungkin kita hindari. Tapi kita dapat hindari sikap dan ucapan tak terkendali.

🍁Saat kita kecewa, banyak juga orang lain yang kecewa. Hanya saja, ada yang menatanya dengan tenang, ada yang melampiaskannya dengan berang.

🍁Yang menyedihkan adalah kekecewaan berlebihan untuk hal-hal yang dia tidak tahu persis latar belakang masalahnya dan tidak terlibat langsung di dalamnya.

🍁Sebagaimana kecewa, kemarahanpun sering menerpa. Jika memang harus terjadi, jangan mudah melampiaskannya. Ingat pesan nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wa sallam,

مَنْ كَظَمَ غَيظاً، وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللهُ سُبحَانَهُ وَتَعَالى عَلَى رُؤُوسِ الخَلائِقِ يَومَ القِيامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الحُورِ العِينِ مَا شَاءَ

🌷“Siapa yang menahan amarah padahal dia mampu melampiaskannya, Allah akan panggil dia di hadapan makhluk-makhluknya yang mulia di hari kiamat, lalu dipersilahkan untuknya memilih bidadari yang dia suka.”
(HR. Abu Daud dan Tirmizi)

🌷Jika ada saudara kita yang sedang marah dengan saudaranya, jangan ikut-ikutan marah. Jika mampu medamaikannya, bagus. Jika tidak, cukup doakan dan diam.

🌷Sahabat akrab dari sahabat kita, layak kita akrabi. Sahabat yang sedang tidak akrab dengan sahabat kita, tidak mesti harus kita musuhi.

🍁Jika begitu saja kita ikut memusuhi orang yang dimusuhi sahabat kita, boleh jadi di lain waktu mereka berbaikan sedangkan kita masih bermusuhan.

❣Jika Allah selamatkan kita dari sengketa yang terjadi di antara saudara-saudara kita, mestinya kita selamatkan sikap dan lidah kita dari sengketa tersebut.

❣Semoga hati kita selalu disatukan dalam cinta karena Allah, marah dan kecewa segera sirna berganti cinta, canda dan tawa…

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (12) – Bab Al Miyah (Tentang Air) (Bag.2)

📆 Selasa,  12 Rajab 1437H / 19 April 2016

📚 Fiqih dan Hadits

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

📋 Kitab Ath Thaharah (bersuci) (12) – Bab Al Miyah (Tentang Air) (Bag.2)
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Materi sebelumnya
http://www.iman-islam.com/2016/04/kitab-ath-thaharah-bersuci-12-bab-al.html?m=1

📋3⃣ . Apakah ini berlaku untuk semua anjing atau tertentu saja?

 Pada hadits ini tidak disebutkan secara spesifik, oleh karena itu ini berlaku untuk semua anjing secara mutlak. Baik  anjing yang bisa dimanfaatkan, terlebih lagi anjing liar. Kaidahnya adalah yang mutlak tetap berlaku selama belum ada yang mengkhususkannya.

                Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah menjelaskan:

والكلب هنا هو الحيوان المعروف وظاهر الحديث أنه يشمل الكلب الذي يباح اقتنائه وغيره والكلاب التي يباح اقتنائها ثلاثة أنواع .

1- كلب الحرث يعني يكون للإنسان بستانا ويجعل فيه كلبا يحرث البستان عن الذئاب والثعالب وغيرها .

2- كلب الماشية يكون عند الإنسان ماشية في البر يحتاج إلى حمايتها وحفظها يتخذ كلبا ليحميها من الذئاب والسباع ومن السراق ونحوهم لأن بعض الكلاب معلم إذا أتي شخص أجنبي نبح حتى ينتبه صاحبه له

3- كلب الصيد يتخذ الإنسان كلبا يعلمه الصيد ويصيد به

📌                Anjing dalam konteks hadits ini adalah hewan yang telah dikenal, secara zahirnya hadits ini mencakup anjing yang dibolehkan untuk disimpan (dipelihara) dan lainnya. Anjing yang diperbolehkan untuk dipelihara ada tiga jenis:

1⃣ Pertama, Kalbul Hartsi (Anjing Ladang),  yaitu   manusia menempatkannya di kebun, dan menjadikannya sebagai penjaga dari anjing hutan, serigala, dan lainnya.

2⃣ Kedua, Kalbul Maasyiyah (Anjing penjaga peternakan),  yaitu manusia memiliki hewan ternak yang hidupnya di darat, mereka membutuhkan perlindungan dan penjagaan, maka dijadikanlah anjing untuk menjaga hewan ternaknya dari ganggunan anjing hutan, serigala, pencuri, dan semisalnya. Sebab sebagian anjing telah diajarkan jika datang seorang asing, maka dia akan menggonggong  sehingga pemiliknya terjaga.

3⃣ Ketiga, Kalbul Shayd (Anjing Pemburu), manusia memanfaatkannya untuk diajarkan berburu dan berburu dengannya. (Asy Syarh Al Mukhtashar ‘ala Bulughil Maram, 2/8. Mawqi’ Al Islam)

                Termasuk dalam kategori anjing pemburu adalah anjing dimanfaatkan oleh kepolisian yakni anjing pelacak.

                Nah, selain jenis anjing ini, maka jumhur ulama memakruhkan memeliharanya. Seperti anjing sekedar untuk hobi, untuk dilombakan, dan semisalnya.

📚Memelihara Anjing Untuk Hobi

                Ada fenomena yang memiriskan hati. Tidak sedikit orang yang memelihara anjing, dia rela mengeluarkan uang ratusan ribu bahkan jutaan untuk anjingnya sebagai biaya perawatan dalam satu bulan,  saat yang bersamaan ada tetangganya yang kelaparan dan lebih membutuhkan bantuannya, justru didiamkan. Bahkan dibanding dengan keluarganya sendiri, dia lebih perhatian dengan anjingnya. Lalu bagaimana hal ini sebenarnya dalam kacamata Islam?

                Jika kita lihat berbagai dalil yang ada, akan kita dapati bahwa memelihara anjing bukan karena kebutuhan dan asas manfaat, adalah terlarang. Larangan ini bukan karena najisnya, tetapi memang secara nash (teks agama) dia dilarang. Najis adalah satu hal, sedangkan memeliharanya adalah hal lain.  Hal ini perlu ditegaskan agar tidak ada yang menganggap bahwa larangan pemeliharaan itu karena faktor kenajisannya semata. Tidak, bukan karena itu.

📚 Dalil-Dalil Pelarangan

             1⃣   Pertama, hal ini dilarang karena mencegah masuknya malaikat, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَتَانِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام فَقَالَ لِي أَتَيْتُكَ الْبَارِحَةَ فَلَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أَكُونَ دَخَلْتُ إِلَّا أَنَّهُ كَانَ عَلَى الْبَابِ تَمَاثِيلُ وَكَانَ فِي الْبَيْتِ قِرَامُ سِتْرٍ فِيهِ تَمَاثِيلُ وَكَانَ فِي الْبَيْتِ كَلْبٌ فَمُرْ بِرَأْسِ التِّمْثَالِ الَّذِي فِي الْبَيْتِ يُقْطَعُ فَيَصِيرُ كَهَيْئَةِ الشَّجَرَةِ وَمُرْ بِالسِّتْرِ فَلْيُقْطَعْ فَلْيُجْعَلْ مِنْهُ وِسَادَتَيْنِ مَنْبُوذَتَيْنِ تُوطَآَنِ وَمُرْ بِالْكَلْبِ فَلْيُخْرَجْ

          📌      “Malaikat Jibril ‘Alaihis Salam  mendatangiku, dia berkata kepadaku: ‘Aku mendatangimu semalam, tak ada yang menghalangiku masuk ke rumah kecuali karena di pintu rumah terdapat patung, di rumah ada gorden yang bergambar patung, dan di rumah terdapat anjing. Maka, perintahkanlah agar patung yang di rumah agar dipotong kepalanya sehingga bentuknya seperti pohon, dan perintahkanlah agar gorden itu dirobek dan dijadikan dua buah bantal untuk diduduki, dan perintahkan agar anjing itu dkeluarkan.”    (HR. Abu Daud No. 4158, At Tirmidzi No. 2806, katanya: hasan shahih, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 6314, Ahmad No. 9063, dengan lafaz yang lebih ringkas. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih sesuai syarat syaikhan (Bukhari – Muslim). Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 9063)

            2⃣    Kedua,   karena bisa mengurangi pahala amal shalih. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَمْسَكَ كَلْبًا يَنْقُصْ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ إِلَّا كَلْبَ حَرْثٍ أَوْ كَلْبَ مَاشِيَةٍ

            📌    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda: “Barangsiapa yang memelihara anjing maka nilai amal shalihnya berkurang setiap hari sebesar satu qirath, kecuali anjing penjaga ladang atau anjing penjaga binatang.”  (HR. Bukhari No. 3324)

                Sementara dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ اتَّخَذَ كَلْبًا إِلَّا كَلْبَ زَرْعٍ أَوْ غَنَمٍ أَوْ صَيْدٍ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ

            📌    “Barangsiapa yang memelihara anjing, kecuali anjing penjaga tanaman, atau penjaga ternak, atau anjing pemburu, maka berkuranglah pahalanya setiap harinya satu qirath.”   (HR. Muslim No. 1574, 56)

                Dalam riwayat Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, disebutkan berkurang pahalanya dua qirath.

 مَنْ اقْتَنَى كَلْبًا لَيْسَ بِكَلْبِ مَاشِيَةٍ أَوْ ضَارِيَةٍ نَقَصَ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيرَاطَانِ

        📌        Barang siapa yang memelihara seekor anjing bukan untuk menjaga ternak  atau bukan untuk dilatih berburu, maka berkurang dari pahalanya setiap hari sebanyak dua qirath.         (HR. Bukhari No. 5480)

Tentang ukuran satu qirath, hanya Allah Ta’ala yang tahu sebagaimana yang dikatakan Imam An Nawawi dan Imam Sulaiman bin Khalaf Al Baji Rahimahumallah.[1]

Tertulis dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, bahwa para ulama berselisih pendapat kenapa pahala amalnya berkurang: Ada yang mengatakan karena dengan anjing itu membuat tercegahnya malaikat masuk, ada juga yang mengatakan sebagai hukuman bagi pemiliknya karena dia telah memelihara sesuatu yang dilarang untuk dipelihara, dan itu merupakan pembangkangan, atau karena kelalaian pemiliknya untuk memcuci liurnya  jika anjing tersebut menjilat.  (Al Minhaj, 5/426)

                Perlu diketahui, larangan di atas dalam pandangan jumhur hanya bernilai makruh (dibenci), bukan haram. Sebab jika haram, maka tidak mungkin Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membolehkannya untuk keperluan berburu,  menjaga ladang, dan ternak. Para ulama kita menyebutkan, di antara hikmah dibalik pelarangan memelihara anjing bila tanpa keperluan adalah; jika anjing itu menggonggong dapat membuat takut dan membuat lari tamu atau orang yang lewat.

📚Memelihara Anjing pemburu, Penjaga Ladang, dan Penjaga Hewan Ternak

                Jika kita baca hadits-hadits di atas bisa kita fahami bahwa Rasulullah Shallallah ‘Alaihi wa Sallam memberikan izin memelihara anjing selama untuk beburu, menjaga, ladang dan hewan ternak. Untuk zaman sekarang fungsinya bisa ditambah sebagai pelacak penjahat, pelacak bom, dan lain-lain. Ini semua dibolehkan berdasarkan pengecualian hadits-hadits di atas.

                Dari Abdullah bin Mughaffal bahwa Rasulullah Shallallahu “Alaihi wa Sallam:

ثُمَّ رَخَّصَ فِي كَلْبِ الصَّيْدِ وَكَلْبِ الْغَنَمِ

📌“Kemudian beliau memberi  keringanan terhadap anjing pemburu dan anjing penjaga kambing”.   (HR. Muslim No. 1573, 48)

                 Imam Abul Walid Sulaiman bin Khalaf Al Baji Rahimahullah mengatakan:

قَالَ مَالِكٌ رَحِمَهُ اللَّهُ : لَا بَأْسَ بِاِتِّخَاذِ الْكِلَابِ لِلْمَوَاشِي كُلِّهَا

   📌             Berkata Imam Malik Rahimahullah, “Tidak mengapa memelihara anjing untuk menjaga semua binatang.”   (Al Muntaqa Syarh Al Muwaththa’, 4/410. Mawqi’ Al Islam)

📚Larangan Jual Beli Anjing

                Hal ini ditegaskan oleh hadits dari Abu Mas’ud al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ

📌“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  melarang hasil penjualan anjing, mahar (hasil) pelacur, dan upah dukun.”   (HR. Bukhari No. 2237 dan Muslim No. 1567, 39)

Keharamannya sangat tegas, bahkan disamakan dengan hasil pelacuran dan perdukunan. Oleh karena itu Imam Muslim membuat bab berjudul: Bab Tahrim Tsamanil Kalbi …dst, yang artinya Bab Diharamkannya harga anjing…

Imam Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah mengatakan:

وَظَاهِر النَّهْي تَحْرِيم بَيْعه ، وَهُوَ عَامّ فِي كُلّ كَلْب مُعَلَّمًا كَانَ أَوْ غَيْره مِمَّا يَجُوز اِقْتِنَاؤُهُ أَوْ لَا يَجُوز

📌                Menurut zhahir larangannya menunjukkan haram atas penjualannya, dan hal ini umum untuk setiap anjing baik anjing yang terlatih atau tidak, baik yang dibolehkan yang djpelihara atau yang dilarang dipelihara. (Fathul Bari, 4/426)

                Demikianlah pendapat jumhur (mayoritas) ulama, walau ada pula yang membolehkan penjualan anjing pemburu yakni Imam ‘Atha dan Imam Ibrahim an Nakha’i.(Ibid)

                Pelarangan-pelarangan ini sifatnya adalah ibadah (ta’abbudi), sama sekali bukan menunjukkan bahwa Islam tidak memiliki belas kasihan. Justru Islam memberikan apresiasi tinggi kepada siapa saja yang menyelamatkan makhluk Allah Ta’ala, termasuk anjing.

                Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menceritakan, adanya seorang laki-laki yang menjumpai anjing di padang pasir sedang menggonggong sambil makan debu karena kehausan. Lantas laki-laki itu menuju sebuah sumur dan mengambilkan air sepenuh sepatunya untuk anjing tersebut, hingga anjing tersebut minum sampai puas. Setelah itu Beliau bersabda:

فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَه

  📌              “Maka Allah berterima kasih kepadanya, dan mengampuni dosa orang itu.”  (HR. Bukhari No. 6009)

                Selesai.

3⃣ . Pada hadits ini juga diajarkan tentang tata cara membersihkan najis liur anjing tersebut. Yaitu dengan dibuang airnya, lalu dicuci  bejananya sebanyak tujuh kali, yang pertama atau yang terakhirnya menggunakan tanah.

📚Wajibkah tujuh kali?

Berbagai riwayat juga menyebutkan bahwa mencucinya adalah tiga kali, ada juga tujuh kali, dan juga delepan kali. Sehingga ada yang menyebutkan tujuh kali itu hanya sunah bukan wajib, sebab Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu pernah memerintahkan mencucinya tiga kali sebagaimana diriwayatkan oleh Ad Daruquthni dan Ath Thahawi. Tetapi  riwayat yang menyebut tujuh kali lebih banyak  dan lebih kuat sanadnya dan disebutkan oleh Bukhari dan Muslim pula. Inilah yang benar sebagaimana dikatakan Imam Ash Shan’ani dalam Subulus Salam.

                Imam Ash Shan’ani Rahimahullah mengatakan:

أنه دل الحديث على وجوب سبع غسلات للإناء وهو واضح.

📌                Sesungguhnya hadits ini menunjukkan kewajiban mencuci tujuh kali, dan ini begitu jelas. (Subulus Salam, 1/22)

                Beliau mengoreksi pihak-pihak yang mengatakan tidak wajibnya mencuci “tujuh kali”, katanya:

وأجيب عن هذا: بأن العمل بما رواه عن النبي صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم، لا بما رآه، وأفتى به، وبأنه  مُعَارَضٌ بما روى عنه أيضاً: أنه أفتى بالغسل سبعاً وهي أرجح سنداً، وترجح أيضاً بأنها توافق الورواية المرفوعة. وبما روى عنه صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم أنه قال في الكلب يلغ في الإناء: “يُغسلُ ثلاثاً أو خمساً أو سبعاً” قالوا: فالحديث دل على عدم تعيين السبع وأنه مخير، ولا تخيير في معين، وأجيب عنه، بأنه حديث ضعيف لا تقوم به حجة.

 📌               Saya jawab: sesungguhnya yang dipraktekkan adalah apa-apa yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bukan mengamalkan pendapatnya (Abu Hurairah), dan dia berfatwa dengan hal itu dan itu bertentangan dengan apa yang diriwayatkan darinya juga: bahwa dia (nabi) berfatwa dengan mencucinya tujuh kali dan ini sanadnya lebih kuat, dan diperkuat pula bahwa ini sesuai dengan riwayat yang marfu’ (sampai kepada nabi). Ada pun dengan riwayat bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda tentang anjing yang minum di bejana: “Dicuci tiga   atau lima atau tujuh kali.” Mereka mengatakan: “Hadits ini menunjukkan tidak ada  pengkhususan tujuh kali, itu hanya opsional (pilihan) saja.  Tidak pilihan dalam hal yang sudah khusus.” Saya jawab: “Hadits ini dhaif, tidak bisa dijadikan hujjah.” (Ibid)

                Sedangkan diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hambal Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Beliau mewajibkan delapan kali. Berikut ini keterangannya:

وروي عن الإمام أحمد رواية أخرى بوجوب غسل نجاسة الكلب والخنزير ثماني مرات إحداهن بالتراب ، وإلى هذا ذهب الحسن البصري ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم في بعض روايات الحديث : وعفروه الثامنة بالتراب

📌                Diriwayatkan dari Imam Ahmad –pada riwayatnya yang lain- wajibnya mencuci najis anjing dan babi sebanyak delapan kali salah satunya dengan tanah, dan inilah pendapat Al Hasan Al Bashri, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda pada sebagian riwayat hadits: “ …  lumurilah yang ke delapan dengan tanah.” (Imam Ibnu Qudamah,Al Mughni, 1/52)

📚Kapankah Tanah dicampurkan?

                Hadits  yang kita bahas ini menyebutkan: ulahunna bit turaab  (yang pertama dengan tanah), ada juga ukhraahunna(yang akhirnya), ada juga ihdaahunna (salah satunya), tetapi ulaahunna lebih banyak dan disebutkan oleh Bukhari dan Muslim.

                Sebagian ulama menyebutkan tidak masalah pada cucian ke berapa tanah itu dicampurkan, sebab yang penting adalah bersihnya dari najis telah tercapai, sedangkan kapankah tanah dicampurkan? Itu bukan tujuannya.

                Disebutkan dalam Al Mausu’ah:

وَمَتَى غُسِل بِهِ أَجْزَأَهُ ، لأِنَّهُ رُوِيَ فِي حَدِيثٍ : إِحْدَاهُنَّ بِالتُّرَابِ وَفِي حَدِيثٍ : أُولاَهُنَّ وَفِي حَدِيثٍ : فِي الثَّامِنَةِ فَيَدُل عَلَى أَنَّ مَحَل التُّرَابِ مِنَ الْغَسَلاَتِ غَيْرُ مَقْصُودٍ .

📌                Kapankah dianggap sah dicucinya dengan tanah, karena telah diriwayatkan dalam hadits: salah satunya dengan tanah, pada hadits lain: yang pertama, pad ahadits lain: yang kedelapan, maka ini menunjukkan bahwa posisi (waktu) pencampuran tanah pada pencucian bukanlah tujuannya. (Al Masu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 10/193)

Namun,  diawalkan lebih utama dibanding diakhirkan.  Disebutkan demikian:

وَيَكْتَفِي بِوُجُودِ التُّرَابِ فِي وَاحِدَةٍ مِنَ الْغَسَلاَتِ السَّبْعِ ، وَلَكِنْ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَكُونَ فِي غَيْرِ الأْخِيرَةِ ، وَجَعْلُهُ فِي الأْ ولَى أَوْلَى

  📌          Sudah mencukupi pemakaian tanah pada salah satu dari tujuh kali cucian itu, tetapi disukai hal itu  bukan pada yang terakhir, hendaknya dipakainya pada yang pertama kali, itu lebih utama. (Lihat Mughni Muhtaj, 1/83, Al Mughni, 1/52, Al Jumal ‘ala Syarhil Minhaj,  1/184)

📚Wajibkah campuran tanah dan air itu?

Kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah mewajibkan mensucikan najisnya anjing, babi, dan kotoran mereka dengan menggunakan campuran air dan tanah, sesuai zahir hadits Abu Hurairah ini. Sedangkan Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat itu tidak wajib. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 3/114)

Selanjutnya ……..

Dalam masalah campuran tanah dan air. Tidak ada perbedaan antara pencampuran tanah dan air tersebut; apakah air yang dimasukkan ke tanah, atau tanah yang dicampurkan ke air. (Subulus Salam, 1/22)

📚Bolehkah dengan selain tanah?

                Saat ini sudah ada sabun, atau semisalnya, yang bisa membersihkan najis tersebut bahkan bisa jadi lebih bersih. Selain juga lebih harum aromanya. Apakah ini dibolehkan?

                Sebagian kalangan Hanabilah (Hambaliyah)   membolehkan hal itu ketika memang tidak didapatkannya tanah, selama tujuannya tetap tercapai dan terpelihara, yaitu hilangnya najis, maka alat apa pun tidak masalah. Hal ini sama halnya dengan menggantikan siwak dengan sikat gigi dan  pastanya, di mana Imam An Nawawi menyebutkan bahwa bersiwak dengan benda apa pun tetap disebut bersiwak walau dengan tangan, kain, kayu arok (siwak), dan lainnya, selama tidak membahayakan.[2]

                Di sebutkan sebagai berikut:

وَلِبَعْضِ الْحَنَابِلَةِ : يَجُوزُ الْعُدُول عَنِ التُّرَابِ إِلَى غَيْرِهِ عِنْدَ عَدَمِ التُّرَابِ ، أَوْ إِفْسَادِ الْمَحَل الْمَغْسُول بِهِ . فَأَمَّا مَعَ وُجُودِهِ وَعَدَمِ الضَّرَرِ فَلاَ .

            Menurut sebagian Hanabilah: dibolehkan menggantikan tanah dengan selainnya  yang sepadan dengan tanah  ketika tidak ada tanah, atau ketika rusaknya tempat yang dicuci jika dengan tanah. Ada pun kalau ada tanah dan tidak ada kerusakan, maka tidak boleh. (Lihat Al Mughni, 1/52, Raudhatuth Thalibin, 1/32-33, Syarh Raudhatuth Thalibin min Asnal Mathalib, 1/21)

                Ulama lain menyebutkan bahwa yang shahih adalah tetap tidak boleh, sebab masalah mencuci najis ini adalah perkara ta’abbudiyah yang mesti tunduk terhadap nash yang ada.

                Disebutkan dalam Al Mausu’ah:

فَالأْصَحُّ أَنَّهُ لاَ يُجْزِئُ ، لأَِنَّهُ طَهَارَةٌ أَمَرَ فِيهَا بِالتُّرَابِ تَعَبُّدًا ، وَلِذَا لَمْ يَقُمْ غَيْرُهُ مَقَامَهُ .

📌                Maka, yang shahih adalah tidak mencukupi (mencuci selain dengan tanah,pen), karena perintah bersuci dengan tanah adalah perkara ta’abbudiyah (peribadatan), oleh karenanya posisinya tidak bisa digantikan oleh selainnya. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 10/139)

                Lebih baik memang menggunakan tanah, hal itu untuk keluar dari khilafiyah. Dan, keluar dari khilafiyah adalah jalan yang lebih baik untuk dilakukan. Segitu dulu deh ……..

                Wallahu A’lam ……….., wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala aalihi wa ashhabihi ajmain

     〰〰〰〰〰〰〰〰〰

[1]  Namun, Imam Muslim meriwayatkan bahwa satu qirathadalah semisal gunung uhud. Dari Sa’ad bin Abi WaqqashRadhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda: “Barangsiapa yang mengiringi jenazah dari rumahnya, lalu menshalatkannya, lalu mengantarkannya sampai ke kuburnya, maka baginya balasan dua qirath, dan satu qirath itu semisal gunung Uhud. Barang siapa yang menshalatkan mayat lalu dia pulang, maka baginya satu qirath semisal gunung Uhud.” (HR. Muslim, Fadhl Ash Shalah ‘Ala Al Janazah wat Tiba’iha, No. 945, 53), dalam riwayat Al Bukhari dan Muslim yang lainnya disebut seukuran gunung besar.

[2] Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

وينبغي إذا أراد القراءة أن ينظف فاه بالسواك وغيره والاختيار في السواك أن يكون بعود من أراك ويجوز بسائر العيدان وبكل ما ينظف كالخرقة الخشنة والأشنان وغير ذلك

                “Hendaknya jika hendak membaca Al Quran dia membersihkan mulutnya dengan siwak dan selainnya.  Siwak yang dipilih berasal dari batang kayu Arok, dan dibolehkan dengan semua jenis batang kayu, dan apa saja yang dapat membersihkan, seperti dengan kain perca yang kasar dan usang, dan selain itu.”(At Tibyan fi Adab Hamalatil Quran, Hal. 73. Mawqi’ Ruh Al Islam)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

QS. Al-Qiyamah (Bag. 1)

📆 Senin, 11 Rajab 1437H / 18 April 2016
📚 Tadabbur Al-Qur’an

📝 Dr. Saiful Bahri, M.A

📋 QS. Al-Qiyamah (Bag. 1)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚Mukaddimah: PENYESALAN – PENYESALAN

Surat al-Qiyâmah diturunkan Allah di Makkah setelah surat al-Qâri’ah [1]. Tema besar surat ini mengungkapkan kedahsyatan hari kiamat. Menggambarkan suasana yang sangat mengerikan dan menegangkan bagi siapa saja. Terlebih saat manusia dibangkitkan. Hal ini sekaligus sebagai jawaban bagi orang –orang yang mengingkari dan mendustakannya[2].

Ayat pertama surat ini yang sangat menyentak

📌“Aku bersumpah demi hari kiamat”. (QS.75: 1).

Pada ayat ini Allah menggunakan “lâ nafi lil qasam” yaitu menguatkan sumpah dengan cara menafikannya. Tujuannya untuk mengcounter pengingkaran orang-orang kafir [3].

Mengapa Allah perlu bersumpah? Hal ini menunjukan betapa pentingnya hari kiamat. Hari kebangkitan yang pasti terjadi itu masih saja banyak yang mengingkarinya. Dan pada hari kebangkitan itu nantinya semua manusia akan menyesali dirinya. Jika ia telah berbuat baik, maka ia menyesal mengapa tak menambah amal baiknya. Apalagi jika ia berlaku buruk, ia akan sangat menyesal. Karena semua kebenaran saat itu benar-benar terungkap. Cobalah kita renungi ayat berikutnya,

📌“Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)”. (QS.75: 2)

Dan sangat mengherankan jika manusia meragukan atau bahkan mengingkari hari penentuan itu,

📌“Apakah manusia mengira bahwa kami tidak mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?”. (QS.75: 3).

Kelak akan Allah susun lagi bagian-bagian tubuhnya hingga sempurna .

📌“Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna”. (QS. 75: 4).

Sayangnya, justru kebanyakan manusia memperturutkan hawa nafsunya. Kemudian memperbanyak maksiat serta menunda-nunda taubat. Tak segan-segan ia menantang Allah dan mengatakan,

📌“Bilakah hari kiamat itu?”. (QS.75: 6)

📚Hari Kiamat yang Sesungguhnya

Saat hari kiamat datang. Sulit untuk dibayangkan apa yang terjadi pada alam semesta.

📌“Maka apabila mata terbelalak (ketakutan). Dan apabila bulan telah hilang cahayanya. Dan matahari dan bulan dikumpulkan”. (QS. 75:  7-9).

Mungkin saat itu orang-orang yang mengingkarinya baru benar-benar percaya dan ia benar-benar menyesal. Bahkan ia pun kebingungan apa yang harus dilakukannya. Berlari, kemanakah tempat berlari.

📌“Pada hari itu manusia berkata: “Kemana tempat berlari?” Sekali-kali tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmulah pada hari itu tempat kembali”. (QS. 75: 10-12)

Hari yang lari tak bermanfaat dan tak bisa membantu menyelamatkan orang-orang yang mengingkarinya. Tidak juga ditemukan persembunyian yang benar-benar bisa dijadikan tempat berlindung [4].

📌“Pada hari itu diberikan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya. Meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya”. (QS.75: 13-15)

Di hari pengadilan Sang Maha Adil itu, tak ada seorang pun yang bisa memungkiri dirinya sendiri. Karena seluruh anggota tubuhnya menjadi saksi atas segala sesuatu yang diperbuatnya.

📌“Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan [5]”.

Maka apapun alasannya tak akan mampu meringankan keputusan yang Allah jatuhkan padanya. Karena pada tabiatnya manusia sangat menyukai alasan demi menutupi kesalahan dan keburukan yang dilakukannya untuk membela dirinya

Padahal sesungguhnya manusia telah dibekali akal untuk berpikir. Juga hati yang jernih untuk dimintai pertimbangan. Senada dengan petuah bijak dari seorang ahli hikmah dari asia tengah;al-Hakim at-Tirmidzi,

📌‘’Hari yang segala alasan menjadi tak berguna. Karena manusia telah dibekali dengan bashirah. Tapi ia menjadi buta karena hawa nafsunya. Padahal bashirah itu sebenarnya tahu bahwa ia takkan mampu mengingkari Tuhannya kalaulah tidak tertutup oleh nafsu’’[6].

📚Al-Qur’an Sumber Dakwah yang Dijaga

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

PELAJARAN FIQIH DAKWAH DARI NABI HARUN DAN NABI MUSA ‘ALAIHISSALAM

📆 Ahad, 10 Rajab 1437H / 17 April 2016

📚 FIQIH DA’WAH

📝 Pemateri: Ustadz Ahmad Sahal Hasan, Lc

📝 PELAJARAN FIQIH DA’WAH dari NABI HARUN & NABI MUSA ‘alaihimassalam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📌 Tak lama setelah Bani Israil diselamatkan dengan ditenggelamkannya Firaun, dan setelah Allah menurunkan rizki kepada mereka berupa manna dan salwa, Nabi Musa alaihissalam meninggalkan kaumnya untuk bergegas memenuhi janji bertemu dengan Allah di bukit Thursina selama 40 malam, yaitu 30 malam di bulan Dzul Qa’dah dan 10 malam awal Dzulhijjah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari (13/86-87).

📌 Sebelum berangkat Nabi Musa telah berpesan kepada saudara kandungnya, Nabi Harun alaihissalam, untuk menggantikannya memimpin Bani Israil selama ia pergi.

وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً وَقَالَ مُوسَى لِأَخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ

Dan telah Kami janjikan kepada Musa tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Rabb-nya: empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. Al-A’raf: 142).

📌 Singkat cerita, setelah Nabi Musa pergi, Samiri berhasil menyesatkan sebagian besar Bani Israil dengan penyembahan patung anak sapi. Nabi Harun menjalankan tugas da’wah sebagai Nabi dan pemimpin mereka, sekaligus menunaikan pesan Nabi Musa dengan mencegah mereka dari kesesatan dan berusaha membimbing mereka kembali ke jalan yang lurus:

وَلَقَدْ قَالَ لَهُمْ هَارُونُ مِنْ قَبْلُ يَاقَوْمِ إِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهِ وَإِنَّ رَبَّكُمُ الرَّحْمَنُ فَاتَّبِعُونِي وَأَطِيعُوا أَمْرِي قَالُوا لَنْ نَبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِينَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوسَى

Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu, dan sesungguhnya Rabb kalian ialah Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah), maka ikutilah aku dan taatilah perintahku.” Mereka menjawab: “Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami.” (QS. Thaha: 90-91).

📌 Mereka tidak menaati nasihat Nabi Harun, bahkan mereka hampir membunuh beliau:

إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي

Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku. (QS. Al-A’raf: 150).

📌 Nabi Musa marah saat melihat kesesatan kaumnya, lalu mendatangi mereka untuk meluruskan mereka kembali (lihat surat Thaha: 86-89).
Setelah itu, barulah ia menegur Nabi Harun:

قَالَ يَاهَارُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا أَلَّا تَتَّبِعَنِ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِي

Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah mendurhakai perintahku? (QS. Thaha: 92-93).

📌 Para ulama tafsir menyebutkan maksud teguran Nabi Musa kepada Nabi Harun (ألا تتبعن) “Mengapa kamu tidak mengikuti aku?”:

✅ Mengapa kamu tidak segera pergi menyusulku bersama kelompok yang tetap beriman untuk memberitahuku tentang kesesatan mereka? (Ath-Thabari: 18/359; Ibnu Katsir: 5/312).
✅ Mengapa engkau tidak perangi mereka, karena engkau tahu kalau aku ada saat itu, pasti aku akan perangi mereka. (Zad Al-Masir: 3/172, Al-Baghawi: 3/272-273).
✅ Mengapa engkau tidak mengikutiku dengan mengingkari kemunkaran mereka? (Zad Al-Masir: 3/172, Fath Al-Qadir: 3/451). Jika yang dimaksud adalah mengingkari dengan lisan, maka Nabi Harun telah melakukannya seperti yang disebutkan oleh surat Thaha ayat 90. Berarti yang dituntut Nabi Musa adalah pengingkaran dengan tangan.

📌 Atas pertanyaan saudara kandungnya, Nabi Harun menjawab:

قَالَ يَبْنَؤُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي

“Hai putera ibu, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara (memperhatikan) ucapanku.” (QS. Thaha: 94)

📚 Pelajaran Fiqih Da’wah dari Nabi Harun ‘alaihissalam:

1⃣ Nasihat Nabi Harun kepada kaumnya menunjukkan urutan tema da’wah yang sangat indah:

✅ Sesungguhnya kamu hanya diuji dengan anak lembu itu: ini merupakan bentuk إزالة الشبهات (upaya melenyapkan syubhat aqidah dan pemahaman) dengan mengingatkan mereka agar jangan mudah terperosok kepada kesesatan hanya oleh seorang Samiri, padahal mereka telah meilhat berbagai mu’jizat dan ni’mat Allah melalui Nabi Musa alaihissalam.
✅ Dan sesungguhnya Rabb kalian ialah Ar-Rahman: mengingatkan mereka dengan معرفة الله (ma’rifatullah), sebagai asas iman yang benar.
✅ Maka ikutilah aku: mengingatkan mereka dengan معرفة النبوة mengenal kenabian agar dibimbing oleh utusan Allah.
✅ Dan taatilah perintahku: mengingatkan mereka untuk اتباع الشريعة (mengikuti syariat) sebagai jalan hidup yang lurus. (Lihat Mafatih Al-Ghaib, Al-Razi: 22/92).

2⃣ Ucapan Nabi Harun “Wahai putra ibu..” menunjukkan posisi seorang ibu yang amat penting bagi kedekatan anak-anaknya dengan kasih sayangnya yang melebihi seorang ayah. Nabi Harun mengingatkan Nabi Musa dengan ibu mereka berdua untuk meredakan kemarahan Nabi Musa kepadanya, meskipun mereka berdua adalah saudara kandung seayah dan seibu.

3⃣ Nabi Harun ‘alaihissalam mengetahui kapasitas dirinya sehingga ia tidak melakukan tindakan yang dapat menimbulkan akibat lebih buruk. Akan berbeda akibatnya jika yang melakukannya adalah Nabi Musa, karena ia lebih memiliki kharisma dari pada Nabi Harun. Ini tersirat dari ucapannya: “Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah.”

4⃣ Ada fiqih muwazanat (timbangan maslahat & madharat) dan fiqih awlawiyat (prioritas) yang diperhatikan oleh Nabi Harun yang terlihat dari jawabannya atas teguran Nabi Musa (Thaha: 94).

Menurut Nabi Harun:

✅ Maslahat tetap membersamai ummat yang tersesat lebih besar dari pada maslahat meninggalkan mereka untuk menyusul Nabi Musa.
✅ Madharat perpecahan ummat jauh lebih besar dari pada madharat tidak berlaku keras atau tidak memerangi kelompok yang menyimpang, meskipun peyimpangan dan kesesatan mereka sangat nyata, dan meskipun beliau juga seorang nabi yang memiliki legalitas dan wewenang tinggi untuk berlaku keras.
Artinya Nabi Harun memprediksi akan terjadi perpecahan bahkan perang saudara jika ia dan orang-orang yang tetap beriman bersikap keras. Kesesatan mereka bisa diatasi saat Musa kembali sehingga Nabi Harun lebih memilih sabar. Sedangkan nyawa yang hilang tak dapat dikembalikan, juga keutuhan ummat sulit dipulihkan setelah cerai berai oleh perang meskipun Nabi Musa telah kembali.
Tentu, muwazanah seperti muwazanah Nabi Harun lebih layak diperhatikan terhadap hal-hal yang “penyimpangannya” masih diperdebatkan.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

ADAB KESOPANAN DAPAT MENDATANGKAN HIDAYAH

📆 Ahad, 20 Rajab 1437H / 17 April 2016

📚 Tazkiyatun Nufus

📝 Pemateri: Ustadz Ahmad Sahal Hasan, Lc

📝 ADAB KESOPANAN DAPAT MENDATANGKAN HIDAYAH

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📎 Jangan remehkan adab kesopanan atau minimal respect kepada sesama manusia, apalagi orang shalih, terutama kepada Rasul Allah, karena boleh jadi Allah menganugrahkan hidayah-Nya kepada seseorang karenanya, meskipun orang tersebut tadinya bergelimang dosa.

Mungkin saja, penyebab tukang sihir Fir’aun beriman kepada Allah karena adab dan respect mereka kepada Nabi Musa, dimana dalam pertarungan, mereka menyerahkan kepada Nabi Musa siapa yang lebih dulu melemparkan tongkat..

قَالُوا يَا مُوسَى إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ نَحْنُ الْمُلْقِينَ (الأعراف: 115)

Ahli-ahli sihir berkata: “Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan? (QS. Al-A’raf: 115).

📌 Penulis tafsir Al-Khazin berkata:

✅ في هَذِهِ الآيَةِ دَقِيْقَةٌ لَطِيفَةٌ وَهِيَ أَنَّ السَّحَرَةَ رَاعُوا مَعَ مُوسَى عَلَيْهِ الصَّلَاُة وَالسَّلَامُ حُسْنَ الأَدَبِ حَيْثُ قَدَّمُوهُ عَلَى أَنْفُسِهِمْ فِي الإِلْقَاءِ لَا جَرَمَ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ عَوَّضَهُمْ حَيْثُ تَأَدَّبُوا مَعَ نَبِيِّهِ مُوسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ مَنَّ عَلَيْهِمْ بِالإِيْمَانِ وَالْهِدَايَةِ.

✅ “Di ayat ini terdapat sebuah isyarat halus, yaitu bahwa para tukang sihir telah memperhatikan adab yang baik kepada Nabi Musa ‘alaihish-shalatu was-salam, dimana mereka mendahulukan Nabi Musa sebelum diri mereka dalam melempar (tongkat). Tidak diragukan lagi bahwa Allah azza wajalla memberi ganti kepada mereka dimana mereka telah berlaku adab bersama Nabi-Nya, Musa alaihissalam, dengan anugrah iman dan hidayah kepada mereka.

✅ ولَمَّا رَاعُوا الأَدَبَ أَوَّلًا وَأَظْهَرُوا مَا يَدُلُّ عَلَى رَغْبَتِهِمْ فِي ذَلِكَ قَالَ لَهُمْ مُوسَى ((أَلْقُوا)) يَعْنِي أَنْتُمْ. فَقَدَّمَهُمْ عَلَى نَفْسِهِ فِي الإِلْقَاءِ

✅ Dan ketika mereka lebih dulu memperhatikan adab itu, dan menampakkan keinginan mereka terhadapnya, Nabi Musa pun berkata kepada mereka “Lemparkanlah (tongkat) kalian lebih dulu. Nabi Musa pun mendahulukan mereka sebelum dirinya melempar tongkatnya.”

📌 (Tafsir Al-Khazin – ‘Alauddin bin ‘Ali Al-Khazin)

✔️ Saling Respect ☝️

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

MANAJEMEN MARAH

📆 Sabtu, 09 Rajab 1437H / 16 April 2016

📚 KELUARGA

📝 Pemateri: Ustadzah KINGKIN ANIDA

📝 MANAJEMEN MARAH

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌿🍀

Sahabatku yang dirahmati Allah Azza wa Jalla,
Istri adalah belahan jiwa seorang suami. Memandangnya menyejukkan mata. Mendengar tutur katanya menenangkan perasaan. Istri anugerah terindah dari Allah Yang Maha Pengasih Maha Lembut.

Allah berfirman :
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَب
Artinya : Laki-laki (suami) itu pelindung  bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan mereka laki-laki telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).  Perempuan perempuan  yang kamu khawatirkan akan nusyuz ( meninggalkan kewajiban suami istri) hendaklah kamu beri  nasehat pada mereka, dan tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang) dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu maka janganlah kamu mencari cari alasan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An-Nisa : 34).

Memahami hakikat bahwa suami adalah pelindung istri, maka lelaki yang telah menikah itu  dimaknai seperti pakaian yang melindungi badan atau bak payung melindungi pemakainya dari panas/hujan atau dapat dimaknai benteng yang melindungi penghuni dari serangan musuh. Suami itu seseorang yang berkarakter kuat, lembut, mampu menahan goncangan dan memberi rasa aman. Demikianlah tentu saja yang dilindungi (istri) mempunyai kekuatan, kelembutan, atau sifat lebih lemah darinya.

Islam memiliki parameter  dalam menilai kekuatan. Sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,
“لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ“
“Orang yang kuat bukanlah jago gulat, namun orang yang kuat adalah yang mampu menahan diri manakala marah” ( HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Jika seorang istri suka marah marah, berarti dia seorang yang lemah. Baik lemah secara wawasan, jasmani, maupun rohaninya.  Para suami hendaknya bisa bersabar dan kuat menghadapi kemarahan istri. Kesabaran suami haruslah diatas kesabaran istri. Batas kemarahannya mesti berada tiga level dibawah level istri. Suami tidak menjadi marah atau tambah marah saat istrinya marah marah…

“وَإِذَا غَضِبْتَ فَاسْكُت”
“Jika engkau marah diamlah”(HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albany).
Nasehat bagi istri yang lemah, adalah bagian dari kewajiban seorang suami sebagaimana terkandung dalam tarjamah surat An Nisa ayat 34.
Nasehatilah dia, para istri dengan :

✅ Pertama, cobalah diberi waktu istirahat atau tidur yang cukup. Bantu beberapa pekerjaan rumah yang memerlukan tenaga yang besar seperti mengepel lantai, menyetrika pakaian dan menyikat kamar mandi. Kisahkan tentang surga bagi istri yang menahan amarah, sebagaimana sabda Nabi , “Janganlah marah maka bagimu surga”. Tentunya nasehat ini diberikan padanya tidak dihadapan anak atau orang lain. Mengapa? Ya karena nasehat didepan selain dirinya, hanya akan menimbulkan “defence mechanism”. Dia semakin bertahan kuat dan nusyuz (membantah).

✅ Kedua, gambaran yang jelas tentang wanita surga itu lemah lembut, sabar dan cantik, tentu menambah kuat nilai sebuah nasehat. Setiap wanita pada dasarnya cantik. Tak ada wanita yang jelek. Seorang wanita kelihatan jelek saat dia terjebak pada kemarahan. Kemarahan juga hanya akan menambah daftar penyakit masuk kedalam tubuh.

✅ Ketiga, bila dia mau untuk bersabar tapi tak mampu melakukannya, maka seorang suami bisa menawarkan diri sebagai “Coach” yang akan membantunya dengan mengingatkan agar istri saat marah segera memegang dadanya lalu berta’awudz, menarik nafas, melepasnya dan beristighfar. Merubah posisi. Mengambil wudhu dan membaca Al Qur’an.

Tiga point diatas sudah dijalankan, namun istri pemarah mengalami kesulitan menghentikan kebiasaan marahnya?

Maka cobalah dengan langkah berikutnya :

✅ Keempat, berilah kesempatan pada istri untuk  keluar rumah, ikut Majlis Ta’lim. Hadir di Majlis taklim itu seakan piknik atau rihlah ruhiyah. Menyegarkan hati yang penat. Atau bersama ke toko Buku dan menghadiahkan kepadanya buku atau Majalah tentang Pendidikan Anak dalam Islam.

✅ Kelima, jika rangkaian hal tersebut terlalu panjang tahapannya dan ia membantah begitu diingatkan, maka saat itu segeralah peluk dia dan bacakan ayat perlindungan (surat-surat muawidzatain yaitu Annas dan Al Falaq). Jangan lupa godalah untuk bisa tersenyum! Pastikan bahwa kondisi suami juga dalam kelapangan dada. Dalam hubungan yang dekat dengan Allah Yang Maha Bijaksana.

✅ Keenam, bila istri mengulang kembali marah marahnya, maka punggungi dia ditempat tidur (untuk menunjukkan perasaan suami) dengan catatan suami tidak perlu pindah ranjang atau meninggalkan rumah maupun tidak bicara sama sekali dengan istri. Dengan membelakangi istri, kemungkingan dia akan merasa sedang ditegur.

Sahabatku yang dirahmati Allah Azza wa Jalla,
Istri adalah belahan jiwa seorang suami. Memandangnya menyejukkan mata. Mendengar tutur katanya menenangkan perasaan. Istri anugerah terindah dari Allah Yang Maha Pengasih Maha Lembut.

Setiap wanita yang mempunyai kelembutan meski sebesar dzarrah dalam hatinya tentu akan pelan pelan berubah dengan nasehat-nasehat tersebut diatas. Memerlukan waktu yang agak panjang untuk hal itu. Bersabarlah. Langkah berikut mungkin akan menjadi jalan keluar terbaik Insya Allah :

✅ Ketujuh, jelaskan padanya bahwa para suami menginginkan kebaikan dan kelembutan tumbuh dalam diri istri. Bahkan kemarahan yang terus menerus bisa mematikan cinta. Tiadanya cinta dalam perkawinan akan menurunkan gairah bersama. Menjadikan malam malam dalam kehidupan perkawinan, bak siksaan. Seperti tersiksanya hati seorang  Ayah mendengar kabar bahwa anak perempuannya dalam kesakitan, kesedihan, dan penderitaan hidup.

✅Kedelapan, kekerasan di hati seorang istri apabila tidak berkesudahan maka perlu untuk ‘dipecahkan’. Memukul dengan ringan, kemungkinan bisa menjadi jalan keluar sebagaimana yang pernah dilakukan Nabi Ayyub kepada istrinya. Dalam hal ini adalah sunnah untuk menghukum istri dengan cara memukulnya.

Pilihlah waktu pelaksanaan memukul, yaitu diwaktu hati suami sedang tenang, sehingga pukulan tak menyakitkan. Memilih alat pukul yang ringan seperti koran, sajadah, jilbab, atau perlengkapan sholat lainnya. Sampaikan terlebih dulu bahwa itu dilakukan sebagai jalan keluar terakhir sesuai perintah Allah dalam QS surat An Nisa ayat 34. Unik ya?

Semoga hal demikian akan mengubah prilaku kerasnya menjadi semakin lembut.
” Bertakwalah kalian kepada Allah dalam perkara para wanita (istri), karena kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Hak kalian terhadap mereka adalah mereka tidak boleh membiarkan seseorang yang kalian benci untuk menginjak di hamparan (permadani) kalian, jika mereka melakukan hal tersebut maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras” (HR. Muslim).

Ya memang memukul adalah jalan paling akhir dari masalah sifat istri yang pemarah. Nabi kita mengajarkan kelembutan dan kasih sayang. Beliau kanjeng Nabi mendapat gelar “Roufur Rahim” lantaran karakter kuat dalam kelembutannya.  Dari Aisyah radhiyallahu’anha, ” Rasulullah sama sekali tidak pernah memukul seseorang pun dengan tangannya, tidak pernah memukul seorang wanita, tidak pernah pula memukul pembantunya, …” ( HR. Muslim).

Wallahu’alam bishowab

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…

Tanggung Jawab Pendidikan Anak-Anak Kita Ada Pada Siapa?

📆 Sabtu, 09 Rajab 1437H / 16 April 2016

📚 KELUARGA & PARENTING

📝 Pemateri: Ustadzah Dra. Indra Asih

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 🌿
 
Serasa terkoyak sembilu hati ini, membaca berita seorang anak yang gusar pada ibundanya karena menganggap sang bunda yang sudah renta terlalu lama membelikan nasi uduk untuk sarapan si anak. Kegusaran yang mendorong sang anak tega memukul kepala sang bunda dengan gagang cangkul hingga sang bunda yang naas ini menghembuskan nafas terakhirnya di tangan anak semata wayangnya. Sebelum kejadian menyedihkan itu berlangsung, sang bunda renta yang sedang sibuk mencuci baju kotor sudah berusaha tergopoh berlari membelikan nasi uduk untuk sang anak yang baru bangun kesiangan, merasa lapar, dan dengan kasar memerintahkan ibundanya untuk segera menyiapkan sarapan. Bukannya, merasa malu dan segera mengambil alih kerepotan ibundanya. Satu contoh dari sekian kasus yang relatif sama yang cukup banyak kita baca atau dengar. Duh, ada apa dengan kalian nak?

Sebagai seorang ibu, tercenung aku membaca headline berita, “Kenakalan Remaja Sudah Tak Wajar Dan Mulai Bergeser Ke Arah Kriminal”. Atau membaca opini yang berisi kekurangyakinan atas efektifitas pemberlakuan kurikulum pendidikan.

Muncul pertanyaan pada diri sendiri, sebagai seorang ibu, siapakah yang paling dominan membentuk kepribadian anak-anak kita? Pemerintah? Lingkungan? Masyarakat? Guru-guru atau sekolah? Pembantu? Atau..berat dan lirih aku menyebutkannya, orang tua? Ibu? Kita? Saya?

Apakah kita masih ingat untuk terus menanamkan nilai-nilai mulia ini pada anak-anak kita? “…Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya . Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS Al-Israa’ : 23-24)

Bagaimana dengan konsep, prioritas keutamaan manusia di hadapan anak-anaknya, “ibumu, ibumu, ibumu, baru ayahmu” ?

Sesuai hadits berikut,

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Atau apa yang terjadi dengan mengajarkan keyakinan bahwa doa restu orang tua adalah sesuatu yang begitu sakral untuk memotivasi dan mendorong kesuksesan seorang anak?

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Tiga do’a yang tidak tertolak yaitu do’a orang tua, do’a orang yang berpuasa dan do’a seorang musafir.” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro)

Dalam pembicaraan sehari-hari, ada istilah ibukota, untuk menggambarkan kota yang utama di suatu wilayah atau negeri, tempat berpusat semua aktifitas-aktifitas penting. Ada juga ibu jari, untuk menyebut jari yang paling besar dan menonjol di telapak tangan kita. Pada sebuah computer, motherboard adalah bagian tempat pusat pemrosesan. Ada juga ibu pertiwi, ada sel induk,ada pasar induk dan seterusnya. Tentu saja, maksud tulisan ini bukan untuk membahas istilah-istilah, tapi lebih untuk mengangkat bahwa sadar ataupun tidak sadar, ketika kita ingin menyebut satu bagian dalam suatu sistem, adalah bagian yang terpenting atau sebagai pusat pengorganisasian bagian-bagian lain, maka tak ayal, kata ibu, mother atau induk akan digunakan.

Masihkah anak-anak kita menganggap bahwa kita adalah bagian terpenting di rumah-rumah kita? Ketika, wujud dan keberadaan kita hampir-hampir tidak nampak di mata anak-anak kita, dengan berbagai alasan. Mengejar karir, eksistensi diri, atau bahkan kegiatan-kegiatan menghabiskan waktu untuk keasyikan dan kesenangan diri kita semata. Bagaimana dengan anak-anak? Cukup kita sediakan buat mereka pembantu-pembantu yang dengan sigap melayani kebutuhan mereka. Pendidikan mereka? Cukup kita sekolahkan mereka pada sekolah-sekolah yang kita anggap baik seharian penuh, ditambah dengan kursus-kursus tambahan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka.

Sebagian ibu sekarang ketika ditanya, “Sekarang kerja dimana?”, meresponnya dengan berat, atau bahkan berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk “Saya adalah ibu rumah tangga”. Malu!
Apalagi jika yang menanyakan itu, seorang ibu yang “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar.
Apalagi jika yang ditanya adalah ibu lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude tapi telah “menyia-nyiakan kepandaiannya” dengan menjadi ibu rumah tangga.

Wahai ibu, posisi dan peran kita begitu mulia.

Realitanya sekarang menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka.
Bagaimana mungkin pekerjaan menanamkan budi pekerti yang baik di dada-dada anak-anak kita bisa dikalahkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bergengsi? Atau kepuasan eksistensi diri kita?

Tapi, bisa saja banyak ibu-ibu penuh waktu mereka di rumah, namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anak-anak mereka, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. “Full” di rumah tapi tidak perduli dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan dan uang jajan saja.

Bukan masalah bekerja atau tidak bekerja, atau masalah keluar atau tidak keluar rumah, tapi yang utama adalah kesadaran kita bahwa mendidik anak-anak kita bukanlah hanya bertujuan menginginkan serta mengarahkan anak-anak kita bahwa kesuksesan mereka adalah keberhasilan akademis dan karir mereka, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar sekian pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di tempat-tempat rekreasi.

Bukan hanya itu!

Wahai ibu…

Di usia tua kita, dalam kondisi makin lemah, apakah anak-anak kita akan teringat keutamaan kita kalau kita tidak optimal mendidik anak-anak kita?

Apakah justru mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu selalu kita bangga-banggakan melebihi kebanggaan atas keberhasilan mereka belajar menata perilaku dan akhlak mereka?
Atau mungkin mereka sedang asyik dengan istri dan anak-anak mereka?

Sedangkan kita? Sosok renta yang membebani mereka, tidak berguna, dan mengganggu kesenangan mereka?

Hangat terasa air mataku mengalir, tak sanggup membayangkannya..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala…