PELAJARAN FIQIH DAKWAH DARI NABI HARUN DAN NABI MUSA ‘ALAIHISSALAM

0
67

๐Ÿ“† Ahad, 10 Rajab 1437H / 17 April 2016

๐Ÿ“š FIQIH DA’WAH

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz Ahmad Sahal Hasan, Lc

๐Ÿ“ PELAJARAN FIQIH DAโ€™WAH dari NABI HARUN & NABI MUSA โ€˜alaihimassalam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“Œ Tak lama setelah Bani Israil diselamatkan dengan ditenggelamkannya Firaun, dan setelah Allah menurunkan rizki kepada mereka berupa manna dan salwa, Nabi Musa alaihissalam meninggalkan kaumnya untuk bergegas memenuhi janji bertemu dengan Allah di bukit Thursina selama 40 malam, yaitu 30 malam di bulan Dzul Qaโ€™dah dan 10 malam awal Dzulhijjah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari (13/86-87).

๐Ÿ“Œ Sebelum berangkat Nabi Musa telah berpesan kepada saudara kandungnya, Nabi Harun alaihissalam, untuk menggantikannya memimpin Bani Israil selama ia pergi.

ูˆูŽูˆูŽุงุนูŽุฏู’ู†ูŽุง ู…ููˆุณูŽู‰ ุซูŽู„ูŽุงุซููŠู†ูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู‹ ูˆูŽุฃูŽุชู’ู…ูŽู…ู’ู†ูŽุงู‡ูŽุง ุจูุนูŽุดู’ุฑู ููŽุชูŽู…ูŽู‘ ู…ููŠู‚ูŽุงุชู ุฑูŽุจูู‘ู‡ู ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนููŠู†ูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู‹ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ููˆุณูŽู‰ ู„ูุฃูŽุฎููŠู‡ู ู‡ูŽุงุฑููˆู†ูŽ ุงุฎู’ู„ููู’ู†ููŠ ูููŠ ู‚ูŽูˆู’ู…ููŠ ูˆูŽุฃูŽุตู’ู„ูุญู’ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุชูŽู‘ุจูุนู’ ุณูŽุจููŠู„ูŽ ุงู„ู’ู…ููู’ุณูุฏููŠู†ูŽ

Dan telah Kami janjikan kepada Musa tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Rabb-nya: empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. Al-Aโ€™raf: 142).

๐Ÿ“Œ Singkat cerita, setelah Nabi Musa pergi, Samiri berhasil menyesatkan sebagian besar Bani Israil dengan penyembahan patung anak sapi. Nabi Harun menjalankan tugas daโ€™wah sebagai Nabi dan pemimpin mereka, sekaligus menunaikan pesan Nabi Musa dengan mencegah mereka dari kesesatan dan berusaha membimbing mereka kembali ke jalan yang lurus:

ูˆูŽู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ู‡ูŽุงุฑููˆู†ู ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ู ูŠูŽุงู‚ูŽูˆู’ู…ู ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ููุชูู†ู’ุชูู…ู’ ุจูู‡ู ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ ุฑูŽุจูŽู‘ูƒูู…ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ููŽุงุชูŽู‘ุจูุนููˆู†ููŠ ูˆูŽุฃูŽุทููŠุนููˆุง ุฃูŽู…ู’ุฑููŠ ู‚ูŽุงู„ููˆุง ู„ูŽู†ู’ ู†ูŽุจู’ุฑูŽุญูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุนูŽุงูƒููููŠู†ูŽ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽุฑู’ุฌูุนูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ู…ููˆุณูŽู‰

Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu, dan sesungguhnya Rabb kalian ialah Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah), maka ikutilah aku dan taatilah perintahku.” Mereka menjawab: “Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami.” (QS. Thaha: 90-91).

๐Ÿ“Œ Mereka tidak menaati nasihat Nabi Harun, bahkan mereka hampir membunuh beliau:

ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู…ูŽ ุงุณู’ุชูŽุถู’ุนูŽูููˆู†ููŠ ูˆูŽูƒูŽุงุฏููˆุง ูŠูŽู‚ู’ุชูู„ููˆู†ูŽู†ููŠ

Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku. (QS. Al-Aโ€™raf: 150).

๐Ÿ“Œ Nabi Musa marah saat melihat kesesatan kaumnya, lalu mendatangi mereka untuk meluruskan mereka kembali (lihat surat Thaha: 86-89).
Setelah itu, barulah ia menegur Nabi Harun:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุงู‡ูŽุงุฑููˆู†ู ู…ูŽุง ู…ูŽู†ูŽุนูŽูƒูŽ ุฅูุฐู’ ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽู‡ูู…ู’ ุถูŽู„ูู‘ูˆุง ุฃูŽู„ูŽู‘ุง ุชูŽุชูŽู‘ุจูุนูŽู†ู ุฃูŽููŽุนูŽุตูŽูŠู’ุชูŽ ุฃูŽู…ู’ุฑููŠ

Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah mendurhakai perintahku? (QS. Thaha: 92-93).

๐Ÿ“Œ Para ulama tafsir menyebutkan maksud teguran Nabi Musa kepada Nabi Harun (ุฃู„ุง ุชุชุจุนู†) โ€œMengapa kamu tidak mengikuti aku?โ€:

โœ… Mengapa kamu tidak segera pergi menyusulku bersama kelompok yang tetap beriman untuk memberitahuku tentang kesesatan mereka? (Ath-Thabari: 18/359; Ibnu Katsir: 5/312).
โœ… Mengapa engkau tidak perangi mereka, karena engkau tahu kalau aku ada saat itu, pasti aku akan perangi mereka. (Zad Al-Masir: 3/172, Al-Baghawi: 3/272-273).
โœ… Mengapa engkau tidak mengikutiku dengan mengingkari kemunkaran mereka? (Zad Al-Masir: 3/172, Fath Al-Qadir: 3/451). Jika yang dimaksud adalah mengingkari dengan lisan, maka Nabi Harun telah melakukannya seperti yang disebutkan oleh surat Thaha ayat 90. Berarti yang dituntut Nabi Musa adalah pengingkaran dengan tangan.

๐Ÿ“Œ Atas pertanyaan saudara kandungnya, Nabi Harun menjawab:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุจู’ู†ูŽุคูู…ูŽู‘ ู„ูŽุง ุชูŽุฃู’ุฎูุฐู’ ุจูู„ูุญู’ูŠูŽุชููŠ ูˆูŽู„ูŽุง ุจูุฑูŽุฃู’ุณููŠ ุฅูู†ูู‘ูŠ ุฎูŽุดููŠุชู ุฃูŽู†ู’ ุชูŽู‚ููˆู„ูŽ ููŽุฑูŽู‘ู‚ู’ุชูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุจูŽู†ููŠ ุฅูุณู’ุฑูŽุงุฆููŠู„ูŽ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ุชูŽุฑู’ู‚ูุจู’ ู‚ูŽูˆู’ู„ููŠ

“Hai putera ibu, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara (memperhatikan) ucapanku.” (QS. Thaha: 94)

๐Ÿ“š Pelajaran Fiqih Daโ€™wah dari Nabi Harun โ€˜alaihissalam:

1โƒฃ Nasihat Nabi Harun kepada kaumnya menunjukkan urutan tema daโ€™wah yang sangat indah:

โœ… Sesungguhnya kamu hanya diuji dengan anak lembu itu: ini merupakan bentuk ุฅุฒุงู„ุฉ ุงู„ุดุจู‡ุงุช (upaya melenyapkan syubhat aqidah dan pemahaman) dengan mengingatkan mereka agar jangan mudah terperosok kepada kesesatan hanya oleh seorang Samiri, padahal mereka telah meilhat berbagai muโ€™jizat dan niโ€™mat Allah melalui Nabi Musa alaihissalam.
โœ… Dan sesungguhnya Rabb kalian ialah Ar-Rahman: mengingatkan mereka dengan ู…ุนุฑูุฉ ุงู„ู„ู‡ (maโ€™rifatullah), sebagai asas iman yang benar.
โœ… Maka ikutilah aku: mengingatkan mereka dengan ู…ุนุฑูุฉ ุงู„ู†ุจูˆุฉ mengenal kenabian agar dibimbing oleh utusan Allah.
โœ… Dan taatilah perintahku: mengingatkan mereka untuk ุงุชุจุงุน ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ (mengikuti syariat) sebagai jalan hidup yang lurus. (Lihat Mafatih Al-Ghaib, Al-Razi: 22/92).

2โƒฃ Ucapan Nabi Harun โ€œWahai putra ibu..โ€ menunjukkan posisi seorang ibu yang amat penting bagi kedekatan anak-anaknya dengan kasih sayangnya yang melebihi seorang ayah. Nabi Harun mengingatkan Nabi Musa dengan ibu mereka berdua untuk meredakan kemarahan Nabi Musa kepadanya, meskipun mereka berdua adalah saudara kandung seayah dan seibu.

3โƒฃ Nabi Harun โ€˜alaihissalam mengetahui kapasitas dirinya sehingga ia tidak melakukan tindakan yang dapat menimbulkan akibat lebih buruk. Akan berbeda akibatnya jika yang melakukannya adalah Nabi Musa, karena ia lebih memiliki kharisma dari pada Nabi Harun. Ini tersirat dari ucapannya: โ€œSesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah.โ€

4โƒฃ Ada fiqih muwazanat (timbangan maslahat & madharat) dan fiqih awlawiyat (prioritas) yang diperhatikan oleh Nabi Harun yang terlihat dari jawabannya atas teguran Nabi Musa (Thaha: 94).

Menurut Nabi Harun:

โœ… Maslahat tetap membersamai ummat yang tersesat lebih besar dari pada maslahat meninggalkan mereka untuk menyusul Nabi Musa.
โœ… Madharat perpecahan ummat jauh lebih besar dari pada madharat tidak berlaku keras atau tidak memerangi kelompok yang menyimpang, meskipun peyimpangan dan kesesatan mereka sangat nyata, dan meskipun beliau juga seorang nabi yang memiliki legalitas dan wewenang tinggi untuk berlaku keras.
Artinya Nabi Harun memprediksi akan terjadi perpecahan bahkan perang saudara jika ia dan orang-orang yang tetap beriman bersikap keras. Kesesatan mereka bisa diatasi saat Musa kembali sehingga Nabi Harun lebih memilih sabar. Sedangkan nyawa yang hilang tak dapat dikembalikan, juga keutuhan ummat sulit dipulihkan setelah cerai berai oleh perang meskipun Nabi Musa telah kembali.
Tentu, muwazanah seperti muwazanah Nabi Harun lebih layak diperhatikan terhadap hal-hal yang “penyimpangannya” masih diperdebatkan.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here