HUKUM TRANSPLANTASI ORGAN TUBUH

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab
โœUst. Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน
Assalamu’alaykum wr, wb.
Ustadz mau nanya. Apa hukumnya menyumbangkan organ tubuh untuk praktek kedokteran atau donasi transplantasi organ ketika sudah meninggal?
Karena alasan, daripada tubuh hanya akan digerogoti juga oleh hewan2 kecil didalam tanah. Niat agar matipun tetap berguna bagi sesama.
๐Ÿ…ฐ0โƒฃ8โƒฃ
Ditunggu jawabannya. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™
_________________________

Jawabannya
๐ŸŒด.Wa”alaikum salam  wr,wb
Otopsi Mayat Untuk Praktek Mahasiswa Kedokteran

Seorang muslim dan muslimah adalah terhormat dan terjaga baik darah dan hartanya. Tidak boleh menodai kehormatan mereka, kecuali ada hak Islam yang mereka langgar.

Dasarnya adalah:

ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ: (ุฃูู…ูุฑู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูู‚ูŽุงุชูู„ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณูŽ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽุดู’ู‡ูŽุฏููˆุง ุฃูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ุงูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุฃูŽู†ูŽู‘ ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏูŽุงู‹ ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽูŠูู‚ููŠู’ู…ููˆู’ุง ุงู„ุตูŽู‘ู„ุงุฉูŽ ูˆูŽูŠูุคู’ุชููˆุง ุงู„ุฒูŽู‘ูƒูŽุงุฉูŽ ููŽุฅูุฐูŽุง ููŽุนูŽู„ููˆุง ุฐูŽู„ููƒูŽ ุนูŽุตูŽู…ููˆุง ู…ูู†ูู‘ูŠ ุฏูู…ูŽุงุกู‡ูŽู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฅูู„ุงูŽู‘ ุจูุญูŽู‚ูู‘ ุงู„ุฅูุณู’ู„ุงู…ู ูˆูŽุญูุณูŽุงุจูู‡ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰) ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆู…ุณู„ู…

Dari Ibnu Umar Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œAku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi (bersyahadat), bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan jika mereka telah melakukan ini maka mereka terjaga dariku darah dan harta mereka, kecuali dengan hak Islam, dan atas Allah-lah perhitungan mereka.โ€ (HR. Bukhari, No. 25, dari Ibnu Umar , Muslim No. 35, dari Jabir bin Abdullah, juga No. 36 dari Ibnu Umar)

Jadi, setiap muslim telah terjaga (maโ€™shum) darah dan hartanya, mereka tidak boleh disakiti sedikit pun oleh siapapun. Tidak boleh dirusak kehidupannya, termasuk tubuhnya, kecuali karena hak Islam. Apa maksud hak Islam di sini? Seorang yang enggan mengeluarkan zakat padahal sudah mampu dan nishab, maka waliyul amri (pemimpin) berhak mengambil hartanya; seseorang yang berzina maka dia dihukum rajam, seseorang yang mencuri dengan jumlah yang mencapai nishab, maka dipotong tangannya, dan semisalnya. Itulah pertumpahan darah dan pengambilan harta karena mereka melanggar hak Islam. Larangan merusak dan menodai seorang muslim ini, adalah ketika mereka masih hidup. Bagaimana ketika sudah wafat?

Secara khusus, Islam melarang merusak seorang muslim yang sudah wafat, sebagaimana hadits:

Dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ูƒูŽุณู’ุฑู ุนูŽุธู’ู…ู ุงู„ู’ู…ูŽูŠูู‘ุชู ูƒูŽูƒูŽุณู’ุฑูู‡ู ุญูŽูŠู‹ู‘ุง

Mematahkan tulang seorang mayit, sama halnya dengan mematahkannya ketika dia masih hidup. (HR. Abu Daud No. 3207, Ibnu Majah No. 1616, Ahmad No. 24783, Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: โ€œPara perawinya terpercaya dan merupakan perawi hadits shahih, kecuali Abdurrahman bin Ubay, yang merupakan perawi kitab-kitab sunan, dan dia shaduq (jujur).โ€ Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 24783. Syaikh Al Albani juga menshahihkannya. Lihat Shahihul Jamiโ€™ No. 2132)

Maka menyakitinya ketika sudah wafat adalah sama dengan menyakitinya ketika masih hidup, yaitu sama dalam dosanya. (Imam Abu Thayyib Abadi, โ€˜Aunul Maโ€™bud, 9/18) karena mayit juga merasakan sakit. (Ibid)

Abdullah bin Masโ€™ud Radhiallahu โ€˜Anhu berkata:

ุฃุฐู‰ ุงู„ู…ุคู…ู† ููŠ ู…ูˆุชู‡ ูƒุฃุฐุงู‡ ููŠ ุญูŠุงุชู‡

Menyakiti seorang mukmin ketika matinya, sama dengan menyakitinya ketika dia masih hidup. (Lihat Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 12115)

Dengan demikian, pada dasarnya adalah hal yang terlarang menyakiti dan melukai mayit muslim menurut keterangan-keterangan di atas, termasuk membedah mayit.

Bagaimana Jika Darurat? Dan Daruratnya seperti apa?

Keadaan darurat (sangat mendesak) memang membuat perkara yang pada dasarnya haram menjadi dibolehkan. Hal ini sesuai dengan kaidah:

ุงู„ุถูŽู‘ุฑููˆุฑููŠูŽู‘ุงุชู ุชูุจููŠุญู ุงู„ู’ู…ูŽุญู’ุธููˆุฑูŽุงุชู

Keadaan darurat membuat boleh hal-hal yang terlarang. (Imam As Suyuthi, Al Asybah wan Nazhair, Hal. 84. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah)

Kaidah ini berasal dari ayat:

ููŽู…ูŽู†ู ุงุถู’ุทูุฑูŽู‘ ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ุจูŽุงุบู ูˆูŽู„ูŽุง ุนูŽุงุฏู ููŽุฅูู†ูŽู‘ ุฑูŽุจูŽู‘ูƒูŽ ุบูŽูููˆุฑูŒ ุฑูŽุญููŠู…ูŒ

โ€œ Barangsiapa yang dalam Keadaan terpaksa, sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Anโ€™am (6): 145)

Atau ayat lainnya:

ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ููŽุตูŽู‘ู„ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ู…ูŽุง ุญูŽุฑูŽู‘ู…ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‘ุง ู…ูŽุง ุงุถู’ุทูุฑูุฑู’ุชูู…ู’ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู

Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. (QS. Al Anโ€™am (6): 119)

Namun, yang menjadi masalah adalah keadaan bagaimanakah yang sudah masuk zona darurat itu?

Para ulama kita telah menyebutkan bahwa keadaan darurat itu terjadi jika sudah mengancam eksistensi dari salah satu atau lebih dari lima hal; yaitu agama, nyawa, akal, harta, dan keturunan. Ini diistilahkan dengan Dharuriyatul Khamsah. Sementara Imam Al Qarrafi menambahkan menjadi enam dengan โ€œkehormatanโ€.

Jika belum mengancam, dan masih bisa diupayakan dengan cara lain atau alternatif yang dapat menggantikannya, maka tidak bisa dikatakan darurat. Sehingga keharamannya tidak berubah.

Otopsi Untuk Kepentingan Praktek Kedokteran dan Ilmu Pengetahuan

Nah, apakah praktikum kedokteran masuk ke wilayah darurat? Yakni memang tidak ada alternatif lain selain menggunakan mayit manusia. Bisa jadi memang ada hewan yang anatominya sama dengan manusia, tapi apakah pada bagian detailnya memang sama semuanya? Bukankah Allah Taโ€™ala menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk, yang berarti memang tidak ada yang menyamainya kecuali manusia juga?

Maka, masalah ini para ulama kita berbeda pendapat. Ada yang membolehkan secara mutlak, mengharamkan secara mutlak, dan ada pula yang merinci dan melihatnya secara per kasus.

Kelompok pertama, yang membolehkan secara mutlak, di antaranya adalah yang dikeluarkan oleh Majmaโ€™ Fiqih Al Islami di Mekkah pada Daurah mereka yang ke 10. Disebutkan dalam Fiqhun Nawazil fil โ€˜Ibadat:

ุฅุฐุง ุชุนุงุฑุถุช ู…ุตู„ุญุชุงู† ุชู‚ุฏู… ุฃุนู„ู‰ ุงู„ู…ุตู„ุญุชูŠู† ูุนู†ุฏู†ุง ู…ุตู„ุญุฉ ุงู„ู…ูŠุช ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุดุฑุญ ูˆุนู†ุฏู†ุง ุงู„ู…ุตู„ุญุฉ ุงู„ุนุงู…ุฉ ูˆู‡ูŠ ุฃู†ู‡ ูŠุดุฑุญ ูƒูŠ ูŠุณุชููŠุฏ ุงู„ู†ุงุณ ูˆูŠุชุนู„ู… ู‡ุคู„ุงุก ุงู„ุทู„ุงุจ ุงู„ุฐูŠู† ุณูŠุชู…ูƒู†ูˆู† ู…ู† ู…ุฏุงูˆุงุฉ ุงู„ู†ุงุณ ..ุฅู„ุฎ ูู‚ุงู„ูˆุง ุงู„ู…ุตู„ุญุฉ ุงู„ุนุงู…ุฉ ู…ู‚ุฏู…ุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุตู„ุญุฉ ุงู„ุฎุงุตุฉ. ูƒุฐู„ูƒ ุฃูŠุถุงู‹ ุฅุฐุง ุชุนุงุฑุถุช ู…ูุณุฏุชุงู† ูุฅู†ู‡ ุชุฑุชูƒุจ ุฃุฏู†ู‰ ุงู„ู…ูุณุฏุชูŠู† ุŒ ูุชุดุฑูŠุญู‡ ู…ูุณุฏุฉ ูˆุงู„ุฌู‡ู„ ุจุฃุญูƒุงู… ุนู„ู… ุงู„ุทุจ ู…ูุณุฏุฉ ุนุงู…ุฉ ูุชุฑุชูƒุจ ุฃุฏู†ู‰ ุงู„ู…ูุณุฏุชูŠู†

Jika bertemu dua maslahat maka mesti diutamakan maslahat yang lebih tinggi, maka menurut kami maslahat bagi mayit dengan tidak dibedah, adapun bagi kami maslahat orang banyak adalah dengan cara membedah agar manusia mendapatkan faidah dan para mahasiswa bisa mempelajari bagaimana pengobatan bagi manusia … dan seterusnya. Mereka mengatakan: maslahat umum lebih diutamakan dibanding maslahat yang khusus. Demikian juga, jika bertemu dua mafsadat (kerusakan/mudharat) maka yang dijalankan adalah kerusakan yang lebih ringan. Membedah mayit adalah kerusakan, namun bodoh terhadap aturan ilmu kedokteran itu merupakan kerusakan yang umum, maka yang dijalankan adalah yang kerusakannya lebih ringan. (Dr. Khalid bin Ali Al Musyaiqih, Fiqhun Nawazil, Hal. 62)

Dalam Majalah Majmaโ€™ Fiqh Al Islami juga disebutkan:

ู†ุนู… ุฅู† ุงู„ุฏูŠู† ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ ูƒุฑู… ุงู„ุฅู†ุณุงู† ุญูŠุงู‹ ูˆู…ูŠุชุงู‹ ุŒ ูุญุฑู… ุงู„ุนุจุซ ุจุฌุซุซ ุงู„ู…ูˆุชู‰ ูˆุงู„ุชู…ุซูŠู„ ุจู‡ุง ุŒ ุฅู„ุง ุฃู† ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุฃุฌุงุฒุช ุชุดุฑูŠุญ ุฌุซุซ ุงู„ู…ูˆุชู‰ ุนู†ุฏู…ุง ูŠูƒูˆู† ุชุดุฑูŠุญ ุงู„ุฌุซุฉ ูˆุณูŠู„ุฉ ุถุฑูˆุฑูŠุฉ ู„ู„ุชุนู„ูŠู… ูˆุฅุชู‚ุงู† ู…ู‡ู†ุฉ ุงู„ุทุจ ู„ุชุฃู‡ูŠู„ ุฃุทุจุงุก ุฃูƒูุงุก ูŠููŠุฏูˆู† ุงู„ู…ุฌุชู…ุน ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠ

Benar, Islam adalah agama yang memuliakan manusia baik ketika hidup dan mati maka Islam mengharamkan mempermainkan mayit, memotong, dan mencincangnya, hanya saja syariat membolehkan membedah mayit ketika hal itu merupakan sarana yang mendesak untuk mempelajari dan mengetahui secara detail dan mudah ilmu kedokteran, dan memperbaiki kemajuan kemampuan para dokter dan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat Islam. (Majalah Majmaโ€™ Fiqh Al Islami, 4/60)

Ada pun Kelompok kedua, yang mengharamkan secara mutlak. Berikut uraiannya:

ูˆุงุณุชุฏู„ูˆุง ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ ุจุฃุฏู„ุฉ :

ู‚ูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ( {ูˆูŽู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุฑูŽู‘ู…ู’ู†ูŽุง ุจูŽู†ููŠ ุขุฏูŽู…ูŽ ูˆูŽุญูŽู…ูŽู„ู’ู†ูŽุงู‡ูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู’ุจูŽุฑูู‘ ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุญู’ุฑู ูˆูŽุฑูŽุฒูŽู‚ู’ู†ูŽุงู‡ูู… ู…ูู‘ู†ูŽ ุงู„ุทูŽู‘ูŠูู‘ุจูŽุงุชู ูˆูŽููŽุถูŽู‘ู„ู’ู†ูŽุงู‡ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูŽุซููŠุฑู ู…ูู‘ู…ูŽู‘ู†ู’ ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ู†ูŽุง ุชูŽูู’ุถููŠู„ุงู‹ } .ุญุฏูŠุซ ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู†ู‡ุง ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ( ู‚ุงู„ : ” ูƒุณุฑ ุนุธู… ุงู„ู…ูŠุช ูƒูƒุณุฑู‡ ุญูŠุงู‹ ” ุฃู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก ู…ุฌู…ุนูˆู† ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุฎุตุงุก – ูŠุนู†ูŠ ู‚ุทุน ุฎุตุชูŠ ุฃู‡ู„ ุงู„ุญุฑุจ ูˆุงู„ุฃุฑู‚ุงุก – ู…ุญุฑู… .ุฃู† ุงู„ุดุงุฑุน ู†ู‡ู‰ ุนู† ุงู„ู…ุซู„ุฉ ูˆุงู„ู†ูู‘ู‡ุจุฉ ูƒู…ุง ููŠ ุญุฏูŠุซ ู‚ุชุงุฏุฉ ( ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ( ู†ู‡ู‰ ุนู† ุงู„ู†ู‡ุจุฉ ูˆุงู„ู…ุซู„ุฉ” .ุญุฏูŠุซ ุฃุจูŠ ู…ุฑุซุฏ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ( ู‚ุงู„: ” ู„ุง ุชุฌู„ุณูˆุง ุนู„ู‰ ุงู„ู‚ุจูˆุฑ ูˆู„ุง ุชุตู„ูˆุง ุฅู„ูŠู‡ุง ” ูุฅุฐุง ูƒุงู† ุงู„ุฌู„ูˆุณ ู…ุญุฑู… ูุจุชุดุฑูŠุญ ุงู„ุฌุซุฉ ู…ู† ุจุงุจ ุฃูˆู„ู‰

Mereka beralasan dengan dalil-dalil berikut:

– Firman Allah Taโ€™ala: (dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan).

– Hadits โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha bahwa Nabi bersabda: (mematahkan tulang mayit adalah seperti mematahkannya ketika masih hidup)

– Ulama telah sepakat bahwa pengebirian โ€“ yakni memotong testis ahlul harbi dan budak- adalah haram, maka pembuat syariat melarang mencincang dan merampas mayit, sebagaimana dalam hadits Qatadah: (bahwa Nabi melarang merampas dan mencincang mayit)

– Hadits Abu Martsad dari Nabi, bersabda; (janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan shalat menghadap kepadanya), maka jika duduk di atas kubur saja diharamkan apalagi membedahnya, itu lebih utama untuk diharamkan. (Fiqhun Nawazil, Hal. 63)

Kelompok ketiga, tidak mengharamkan secara mutlak, dan tidak pula membolehkan secara mutlak, tetapi mereka merincinya. Berikut keterangannya:

ุฃู†ู‡ ูŠุฌูˆุฒ ุชุดุฑูŠุญ ุฌุซุฉ ุงู„ูƒุงูุฑ ู„ุบุฑุถ ุงู„ุชุนู„ู… ูˆุฃู…ุง ุงู„ู…ุณู„ู… ูู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุชุดุฑูŠุญ ุฌุซุชู‡ , ูˆู‡ุฐุง ุงู„ู‚ูˆู„ ู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ุตุฏุฑุช ุจู‡ ู‚ุฑุงุฑ ู‡ูŠุฆุฉ ูƒุจุงุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ููŠ ุงู„ู…ู…ู„ูƒุฉ ุงู„ุนุฑุจูŠุฉ ุงู„ุณุนูˆุฏูŠุฉ ุฑู‚ู… (47)

Bahwasanya boleh saja membedah mayit orang kafir untuk maksud pengajaran. Ada pun mayit muslim maka tidak boleh membedahnya. Ini adalah pendapat yang diputuskan oleh Haiโ€™ah Kibar Al โ€˜Ulama di Kerajaan Saudi Arabia, fatwa No. 47. (Ibid)

Alasan kelompok ini adalah:

ุฃู† ุงู„ู„ู‡ (ู‚ุงู„ ููŠ ุญู‚ ุงู„ูƒุงูุฑ : { ูˆูŽู…ูŽู† ูŠูู‡ูู†ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ููŽู…ูŽุง ู„ูŽู‡ู ู…ูู† ู…ูู‘ูƒู’ุฑูู…ู ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูŠูŽูู’ุนูŽู„ู ู…ูŽุง ูŠูŽุดูŽุงุกู} ุŒ ููƒุฑุงู…ุฉ ุงู„ูƒุงูุฑ ู„ูŠุณุช ูƒูƒุฑุงู…ุฉ ุงู„ู…ุณู„ู… ูู‡ูŠ ุฃุฎู ูˆุญุฑู…ุชู‡ ู„ูŠุณุช ูƒุญุฑู…ุฉ ุงู„ู…ุณู„ู… ุŒูุงู„ูƒุงูุฑ ุฃู‡ุงู† ู†ูุณู‡ ุจุงู„ูƒูุฑ ูˆุนุฏู… ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ูู„ูŠุณ ู„ู‡ ู…ูƒุฑู… , ูู‚ุงู„ูˆุง ุจุฃู† ู‡ุฐุง ูŠุณูˆุบ ุชุดุฑูŠุญ ุฌุซุฉ ุงู„ูƒุงูุฑ ุฏูˆู† ุงู„ู…ุณู„ู… .

Sesungguhnya Allah Taโ€™ala berfirman tentang hal yang menjadi hak kaum kafir: (Barangsiapa yang dihinakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya ) maka kemuliaan orang kafir tidaklah seperti halnya kemuliaan orang muslim, dia lebih ringan, dan kehormatannya tidak seperti kehormatan seorang muslim. Jadi, orang kafir telah menghinakan dirinya dengan kekafirannya dan tanpa keimanannya, maka dia tidak memiliki kemuliaan. Maka, mereka mengatakan atas dasar inilah bolehnya membedah mayit kafir, dan tidak bagi mayit muslim. (Fiqhun Nawazil,Hal. 63)

Lengkapnya Fatwa Haiโ€™ah Kibar Al โ€˜Ulama sebagai berikut:

ูˆุธู‡ุฑ ุฃู† ุงู„ู…ูˆุถูˆุน ูŠู†ู‚ุณู… ุฅู„ู‰ ุซู„ุงุซุฉ ุฃู‚ุณุงู…

ุงู„ุฃูˆู„ ุงู„ุชุดุฑูŠุญ ู„ุบุฑุถ ุงู„ุชุญู‚ู‚ ู…ู† ุฏุนูˆู‰ ุฌู†ุงุฆูŠุฉ.

ุงู„ุซุงู†ูŠ ุงู„ุชุดุฑูŠุญ ู„ุบุฑุถ ุงู„ุชุญู‚ู‚ ุนู† ุฃู…ุฑุงุถ ูˆุจุงุฆูŠุฉ ู„ุชุชุฎุฐ ุนู„ู‰ ุถูˆุฆู‡ ุงู„ุงุญุชูŠุงุทุงุช ุงู„ูƒููŠู„ุฉ ุจุงู„ูˆู‚ุงูŠุฉ ู…ู†ู‡ุง.

ุงู„ุซุงู„ุซ ุงู„ุชุดุฑูŠุญ ู„ู„ุบุฑุถ ุงู„ุนู„ู…ูŠ ุชุนู„ู…ุงู‹ ูˆุชุนู„ูŠู…ุงู‹.

ูˆุจุนุฏ ุชุฏุงูˆู„ ุงู„ุฑุฃูŠ ูˆุงู„ู…ู†ุงู‚ุดุฉ ูˆุฏุฑุงุณุฉ ุงู„ุจุญุซ ุงู„ู…ู‚ุฏู… ู…ู† ุงู„ู„ุฌู†ุฉ ุงู„ู…ุดุงุฑ ุฅู„ูŠู‡ ุฃุนู„ุงู‡ ู‚ุฑุฑ ุงู„ู…ุฌู„ุณ ู…ุงูŠู„ูŠ

ุจุงู„ู†ุณุจุฉ ู„ู„ู‚ุณู…ูŠู† ุงู„ุฃูˆู„ ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ ูุฅู† ุงู„ู…ุฌู„ุณ ูŠุฑู‰ ุฃู† ููŠ ุฅุฌุงุฒุชู‡ุง ุชุญู‚ูŠู‚ุงู‹ ู„ู…ุตุงู„ุญ ูƒุซูŠุฑุฉ ููŠ ู…ุฌุงู„ุงุช ุงู„ุฃู…ู† ูˆุงู„ุนุฏู„ ูˆูˆู‚ุงูŠุฉ ุงู„ู…ุฌุชู…ุน ู…ู† ุงู„ุฃู…ุฑุงุถ ุงู„ูˆุจุงุฆูŠุฉุŒ ูˆู…ูุณุฏุฉ ุงู†ุชู‡ุงูƒ ูƒุฑุงู…ุฉ ุงู„ุฌุซุฉ ุงู„ู…ุดุฑุญุฉ ู…ุบู…ูˆุฑุฉ ููŠ ุฌู†ุจ ุงู„ู…ุตุงู„ุญ ุงู„ูƒุซูŠุฑุฉ ูˆุงู„ุนุงู…ุฉ ุงู„ู…ุชุญู‚ู‚ุฉ ุจุฐู„ูƒุŒ ูˆุฅู† ุงู„ู…ุฌู„ุณ ู„ู‡ุฐุง ูŠู‚ุฑุฑ ุจุงู„ุฅุฌู…ุงุน ุฅุฌุงุฒุฉ ุงู„ุชุดุฑูŠุญ ู„ู‡ุฐูŠู† ุงู„ุบุฑุถูŠู† ุณูˆุงุก ูƒุงู†ุช ุงู„ุฌุซุฉ ุงู„ู…ุดุฑุญุฉ ุฌุซุฉ ู…ุนุตูˆู… ุฃู… ู„ุง.

ูˆุฃู…ุง ุจุงู„ู†ุณุจุฉ ู„ู„ู‚ุณู… ุงู„ุซุงู„ุซ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุชุดุฑูŠุญ ู„ู„ุนุฑุถ ุงู„ุชุนู„ูŠู…ูŠ ูู†ุธุฑุงู‹ ุฅู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ู‚ุฏ ุฌุงุกุช ุจุชุญุตูŠู„ ุงู„ู…ุตุงู„ุญ ูˆุชูƒุซูŠุฑู‡ุงุŒ ูˆุจุฏุฑุก ุงู„ู…ูุงุณุฏ ูˆุชู‚ู„ูŠู„ู‡ุงุŒ ูˆุจุงุฑุชูƒุงุจ ุฃุฏู†ู‰ ุงู„ุถุฑุฑูŠู† ู„ุชููˆูŠุช ุฃุดุฏู‡ู…ุงุŒ ูˆุฃู†ู‡ ุฅุฐุง ุชุนุงุฑุถุช ุงู„ู…ุตุงู„ุญ ุฃุฎุฐ ุจุฃุฑุฌุญู‡ุงุŒ ูˆุญูŠุซ ุฅู† ุชุดุฑูŠุญ ุบูŠุฑ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ู…ู† ุงู„ุญูŠูˆุงู†ุงุช ู„ุง ูŠุบู†ูŠ ุนู† ุชุดุฑูŠุญ ุงู„ุฅู†ุณุงู†ุŒ ูˆุญูŠุซ ุฅู† ููŠ ุงู„ุชุดุฑูŠุญ ู…ุตุงู„ุญ ูƒุซูŠุฑุฉ ุธู‡ุฑุช ููŠ ุงู„ุชู‚ุฏู… ุงู„ุนู„ู…ูŠ ููŠ ู…ุฌุงู„ุงุช ุงู„ุทุจ ุงู„ู…ุฎุชู„ูุฉ. ูุฅู† ุงู„ู…ุฌู„ุณ ูŠุฑู‰ ุฌูˆุงุฒ ุชุดุฑูŠุญ ุฌุซุฉ ุงู„ุขุฏู…ูŠ ููŠ ุงู„ุฌู…ู„ุฉุŒ ุฅู„ุง ุฃู†ู‡ ู†ุธุฑุงู‹ ุฅู„ู‰ ุนู†ุงูŠุฉ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ุจูƒุฑุงู…ุฉ ุงู„ู…ุณู„ู… ู…ูŠุชุงู‹ ูƒุนู†ุงูŠุชู‡ุง ุจูƒุฑุงู…ุชู‡ ุญูŠุงู‹ ูˆุฐู„ูƒ ู„ู…ุง ุฑูˆู‰ ุฃุญู…ุฏ ูˆุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ุงุจู† ู…ุงุฌู‡ ุนู† ุนุงุฆุดุฉ ู€ู€ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ู€ู€ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠุŒ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ู‚ุงู„ ((ูƒูŽุณู’ุฑู ุนูŽุธู’ู…ู ุงู„ูŽู…ูŽู‘ูŠุชู ูƒูŽูƒูŽุณู’ุฑูู‡ู ุญูŽูŠูŽูŽู‘ุง)). ูˆู†ุธุฑุงู‹ ุฅู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุชุดุฑูŠุญ ููŠู‡ ุงู…ุชู‡ุงู† ู„ูƒุฑุงู…ุชู‡ุŒ ูˆุญูŠุซ ุฅู† ุงู„ุถุฑูˆุฑุฉ ุฅู„ู‰ ุฐู„ูƒ ู…ู†ุชููŠุฉ ุจุชูŠุณุฑ ุงู„ุญุตูˆู„ ุนู„ู‰ ุฌุซุซ ุฃู…ูˆุงุช ุบูŠุฑ ู…ุนุตูˆู…ุฉุŒ ูุฅู† ุงู„ู…ุฌู„ุณ ูŠุฑู‰ ุงู„ุงูƒุชูุงุก ุจุชุดุฑูŠุญ ู…ุซู„ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฌุซุซ ูˆุนุฏู… ุงู„ุชุนุฑุถ ู„ุฌุซุซ ุฃู…ูˆุงุช ู…ุนุตูˆู…ูŠู† ูˆุงู„ุญุงู„ ู…ุง ุฐูƒุฑ. ูˆุงู„ู„ู‡ ุงู„ู…ูˆูู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…. . .

ู‡ูŠุฆุฉ ูƒุจุงุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก

Nampaknya masalah ini mengandung tiga bagian, yaitu :
– Otopsi mayat untuk mengetahui sebab kematian saat terjadi tindakan kriminalitas
– Otopsi mayat untuk mengetahui adanya wabah penyakit agar bisa diambil tindakan preventif secara dini
– Otopsi mayat untuk belajar ilmu kedokteran

Setelah didiskusikan dan saling mengutarakan pendapat, maka majelis memutuskan sebagai berikut :

Untuk masalah pertama dan kedua, majelis berpendapat tentang diperbolehkannya hal itu demi mewujudkan banyak kemaslahatan dalam bidang keamanan, keadilan dan tindakan pencegahan dari wabah penyakit. Adapun mafsadat yang ada yaitu merusak kehormatan mayit yang di otopsi bisa tertutupi jika dibandingkan dengan kemaslahatannya yang sangat banyak. Maka majelis sepakat menetapkan diperbolehkan melakukan otopsi mayit untuk dua tujuan ini, baik mayit itu maโ€™shum (mayit muslim) ataukah tidak.

Adapun yang ketiga yaitu yang terkait dengan tujuan pendidikan kedokteran, maka memandang bahwa syariat Islam datang dengan membawa, serta memperbanyak kemaslahatan dan mencegah serta memperkecil kerusakan dengan cara melakukan kerusakan yang paling ringan serta maslahat yang paling besar, juga karena tidak bisa diganti dengan membedah binatang juga karena pembedahan ini banyak mengandung maslahat seiring dengan perkembangan ilmu medis, maka majelis berpendapat bahwa secara umum diperbolehkan untuk membedah mayat muslim. Hanya saja karena Islam menghormati seorang muslim baik hidup maupun mati sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu majah dari Aisyah bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda : โ€œMematahkan tulang mayit sebagaimana mematahkannya tatkala masih hidup.โ€

Juga melihat bahwa bedah itu menghinakan kehormatan jenazah muslim, padahal itu semua bisa dilakukan terhadap jasad orang yang tidak memiliki โ€˜ishmah (tidak memiliki keterjagaan dari darah dan hartanya yakni mayit non muslim, pen), maka majelis berpendapat bahwa bedah tersebut cuma bisa dilakukan terhadap mayit yang tidak maโ€™shum (mayit non muslim) bukan terhadap mayit yang maโ€™shum (muslim). Wallahul Muwaffiq wa shallallahu โ€˜ala nabiyyina Muhammad wa โ€˜ala aalihi wa ashhabihi wa sallam … Haiโ€™ah Kibar Al Ulama. (Lihat Fatawa Islamiyah, 2/110)

Dan, pendapat kelompok ketiga ini nampaknya lebih mendekati kebenaran. Wallahu Aโ€™lam.

Kami menambahkan, bahwa bisa juga dirinci sebagai berikut:

– Jika seorang atau sekelompok ilmuwan dan mahasiswa membutuhkan dengan sangat mendesak mayit manusia yang terkena penyakit aneh, mereka mencari dan meneliti tentang wabah penyakit, virus, dan semisalnya, yang ada padanya. Penelitian ini bermaslahat secara pasti buat kehidupan manusia secara umum, agar bisa mengetahui dan menghindar penyakit misterius sepertinya. Ini pun juga penelitian baru yang belum ada sebelumnya, maka tidak apa-apa melakukan pembedahan terhadap mayit manusia tersebut, baik mayit muslim atau bukan. Sebab Al Mashlahah Al โ€˜Ammah muqaddamatun โ€˜alal Mafsadah Al Khaashah (maslahat umum lebih diutamakan dibanding kerusakan yang khusus dan terbatas). Ini pun harus mendapatkan izin dari wali si mayit.

– Jika seorang mahasiswa kedokteran praktikum, dan dia memerlukan mayit untuk itu, dan ini pun diperintahkan oleh para dosennya. Maka sebaiknya dia menggunakan mayit yang sebelumnya sudah dijadikan bahan penelitian (misal mayat itu sudah dijadikan bahan penelitian oleh kasus yang saya sebut di atas), atau dengan menggunakan hewan yang memiliki anatomi yang hampir sama dengan manusia. Hal ini disebabkan tidak ada yang baru dalam penelitian ini, dan hanya demi kepentingan pribadi yakni nilai kuliah saja. Kaidahnya adalah Adh Dharar Laa Tuzaal bidh Dharar (kerusakan tidak boleh dihilangkan dengan cara yang rusak juga). Tidak mendapatkan nilai adalah mudharat bagi si mahasiswa, dan membedah mayit adalah mudharat bagi mayit tersebut, maka tidak boleh menghilangkan mudharat si mahasiswa dengan menggunakan dan menghasilkan mudharat baru bagi orang lain (si mayit). Kalau pun masih terpaksa menggunakan mayit manusia, maka menggunakan mayit non muslim adalah lebih selamat, sebab mereka tidak ada โ€˜ishmah, baik dalam keadaan hidup dan matinya. Wallahu Aโ€™lam

Syarat Pembedahan (Otopsi)
————————–
Ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi:

1. Keadaan darurat di sini mesti sesuai kebutuhan dan kadarnya. Jika yang ingin diteliti adalah tubuh bagian tangan, maka bedahnya hanya bagian tangan. Tidak benar membedah mata dan lainnya apalagi dengan tujuan coba-coba.

2. Jika mayitnya laki-laki maka pihak yang membedah adalah laki-laki, juga sebaliknya jika mayit perempuan. Sebab aurat orang mati sama dengan aurat orang hidup, ini menurut mayoritas ulama.

3. Potongan-potongan tubuh yang dibedah atau diteliti hendaknya dikubur setelah digunakan, sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadap manusia.

Demikian sikap Islam terhadap bedah mayit untuk kepentingan medis dan ilmu pengetahuan.
 Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

APAKAH DOA BISA MERUBAH TAKDIR?

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab
๐Ÿ“šUstadz DR. Syaiful Bahri

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐Ÿ€๐Ÿ„๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒน

Pertanyaan ttg Materi ” Sunnah Perubahan “
Assalamu’alaikum ustadz…
๐ŸŒดDi tema diatas  tertulis:
Berubah dari keadaannya dengan kemampuan kemanusiaannya menggapai ruang otoritas Allah yang bernama takdir. Bukan untuk membantahnya atau bahkan untuk mengubahnya. ..dst

pertanyaannya :
Bagaimana dg doa ? Bukankah doa bisa merubah takdir ?

๐ŸŒดDisitu juga dikatakan “keberpihakan Allah..”
sy agak bingung.
Bukankah Allah itu Maha Adil ?

Jawaban
————————

๐ŸŒด Doa memang bisa mengubah takdir. Tapi semuanya tetap berujung pada ketentuan Allah. Beriman pada takdir selalu dengan kedua perspektif manusia yaitu takdir baik dan buruk. Padahal bagi Allah semua berujung kebaikan. Baik dan buruk itu perspektif manusia saja.
Manusia yg beriman seharusnya tak menyerah untuk melakukan perubahan kearah kebaikan dan di saat yg sama ia berdoa. Berdoa adalah usaha agar kengininan kita diselaraskan dg keinginan Allah Sang Penentu. Kalau pun tidak atau belum, doa adalah kekuatan untuk mengubah perspektif negatif kita.

๐ŸŒดKeberpihakan Allah yg saya maksud adalah ketika keinginan kita dikabulkan Allah.
Manusia apa empat kondisi
– yang ia inginkan terjadi = sama dengan keinginan Allah โž•โž•โœ…๐Ÿ˜€
– yang ia tidak ia inginkan tidak terjadi โž–โž–โœ…๐Ÿ˜€
– yang ia inginkan tidak terjadi โž•โž–โŽโ˜น
– yang tidak ia inginkan terjadi โž–โž•โŽโ˜น๐Ÿ˜”
Sebagai orang beriman kita harus menyiapkan diri menerima keempat kondisi di atas. Doa adalah salah satu sarana menyiapkan diri menerima takdir Allah apapun keputusannya.
Wallahu a’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐Ÿ„๐ŸŒธ๐ŸŒป๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkam oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia…

QS. Al-Mudatsir (Bag. 2)

๐Ÿ“† Senin, 26 Jumadil Akhir 1437H / 4 Maret 2016
๐Ÿ“š Tadabbur Al-Qur’an

๐Ÿ“ Dr. Saiful Bahri, M.A

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šHari yang Dijanjikan

Salah satu misi mengingatkan yang dibawa Rasul saw adalah dengan selalu dan terus mengingatkan kaumnya akan adanya hari kehancuran dan kebangkitan. Supaya orang โ€“ orang yang berbuat zhalim mau kembali kepada Allah. Setidaknya selama masih ada kesempatan untuk memperbaiki sebelum hari kepastian yang sudah ditentukan Allah itu datang.

๐Ÿ“Œโ€œApabila ditiup sangkala. Maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit. Bagi orang-orang kafir lagi tidak mudahโ€. (QS. 74: 8-10)

Dan hari yang paling sulit bagi siapa saja. Karena setiap orang memikirkan nasibnya di depan pengadilan Sang Maha Adil. Pengadilan yang sangat transparan. Tak akan ada yang bisa disembunyikan. Dan orang-orang kafir akan memenuhi kesulitan yang berlipat-lipat.

Seperti halnya al-Wahid bin Mughirah yang akan mendapatkan pembalasan Allah kelak. Firman Allah berikut membicarakannya, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas dan Mujahid serta sebagian besar para ahli tafsir[6].

๐Ÿ“Œโ€œBiarkan aku bertindak terhadap orang yang aku telah menciptakannya sendiriโ€. (QS.74: 11).

Ibnu Katsir menafsirkan, sendirian artinya saat ia dilahirkan. Tak ada harta, anak dan kekuasaan. Kemudia Allah memberikannya berbagai kenikmatan.

๐Ÿ“Œโ€œDan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak. Dan anak-anak yang selalu bersamanya. Dan kulapangkan baginya (rezki dan kekuasaan) dengan selapang โ€“ lapangnyaโ€. (QS.74: 12-14).

Al-Walid bin Mughirah memiliki sepuluh anak. Tiga diantaranya masuk Islam, yaitu sang panglima Khalid bin Walid, kemudian dua adiknya Hisyam dan Ammarah[7].

Allah mengaruniakannya harta yang berlimpah. Juga anak-anak yang selalu dekat dengannya. Tapi hal ini tak membuatnya bersyukur dan lupa akan asal kejadiannya. Ia selalu tamak,

๐Ÿ“Œโ€œKemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya:. (QS.74: 15).

Tapi itu tak akan pernah dikabulkan oleh Allah,

๐Ÿ“Œโ€œSekali-kali tidak (akan aku tambah), Karena Sesungguhnya dia menetang ayat-ayat kami (Al-Qurโ€™an)โ€. (QS.74: 16)

Kelak akan Allah berikan hukuman yang setimpal atas dosa dan kesombongannya.

๐Ÿ“Œโ€œAku akan membenahinya mendaki pendakian yang memayahkanโ€. (QS.74: 17).

Sebuah kiasan akan beratnya beban yang ia tanggung di akhirat kelak. Siksa yang tak terbayangkan beratnya.

๐Ÿ“šKebohongan dan Kesombongan yang tak Terampuni

Sebelumnya selama di dunia al-Walid juga orang โ€“ orang kafir tak mengindahkan peringatan yang dibawa para nabi dan para dai.

๐Ÿ“Œโ€œKemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata:โ€œ(Al-Qurโ€™an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusiaโ€. (QS.74: 23-25).

Dan sebagai balasannya Allah akan memberikannya sejelek-jelek hunian di dalam neraka.

๐Ÿ“Œโ€œAku akan memasukkannya ke dalam (neraka) saqar. Tahukah kamu apakah (neraka) saqar itu? saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan, (Neraka saqar) adalah pembakar kulit manusiaโ€. (QS.74: 26-29)

Selain panasnya yang tak tertahankan, neraka โ€“ neraka itu dijaga oleh para malaikat yang tak akan membiarkan mereka sedikitpun beristirahat dan mengambil nafas.

โ€œDan diatasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat. Dan tidaklah kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan):

๐Ÿ“Œโ€œApakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?โ€ Demikian Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk pada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melaikan dia sediri, dan saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusiaโ€. (QS.74: 30-31)

๐Ÿ“šGolongan Kanan

๐Ÿ”นBersambung๐Ÿ”น

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

MEMBERI UANG KEPADA PENGAMEN

๐ŸŒUstadzah Menjawab
โœUstadzah Dra.Indra Asih

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿ’๐ŸŒป๐ŸŒท๐Ÿ„๐ŸŒน

#Member A13#

Assalamu’alaikum mau nanya ustadz/ah….
Kalau pengamen nih ngamen trus pandangan dalam Islam nya bagaimana ya kalau kita ngasih duit ke dia nya? Entah itu pengamen dari kalangan anak-anak atau mas-mas/mbak-mbak.
Jazakillah

—————-

JAWABAN:

Sedapat mungkin tidak usah diberi, gunakan cara halus dan aman sehingga dia tidak tersinggung saat kita tolak.

Tapi jika ingin bersedekah padanya, jangan biarkan ia bernyanyi. Sebelum ia menyanyi, atau saat ia baru saja memulai menyanyi, segera saja datangi, serahkan uang sedekah itu.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿ’๐ŸŒป๐ŸŒท๐Ÿ„๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

BOLEHKAH MENSTERIL BINATANG PELIHARASN?

๐ŸŒUSTADZAH MENJAWAB
โœUstadzah Dra.Indra Asih

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿ„๐ŸŒป๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Pertanyaan dari korma 3:

 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Saya ingin menanyakan bagaimana hukum mensteril binatang seperti kucing. Karena jika tidak disteril jumlahnya semakin banyak dan tidak terurus …
Terima kasih

Jawaban:

Jika populasi kucing terlalu banyak dan mengganggu, sementara sterilisasi tidak sampai menyakitinya, tidak masalah sterilisasi kucing.

Kalangan Hanafi menyatakan bahwa sterilisasi atau pengebirian pada binatang boleh. Sebab, ia memberikan manfaat baik bagi manusia maupun bagi binatangnya sendiri.

Kalangan Maliki juga membolehkan karena berpengaruh pada kualitas dagingnya yang menjadi baik.

Kalangan Syafii membedakan antara binatang yang boleh dimakan dan tidak. Untuk binatang yang dimakan maka hukumnya boleh selama tidak mendatangkan kebinasaan. Sementara untuk binatang yang tidak dimakan, maka dilarang.

Ahmad ibn Hambal pernah berujar, “Aku tidak suka jika dikebiri. hal itu lantaran ada larangan menyakiti binatang.”

Dapat disimpulkan bahwa dibolehkan sterislisasi pada binatang, jika:

– Mendatangkan manfaat baik bagi manusia maupun binatang itu sendiri.

– Menghilangkan bahaya dan gangguan yang ada.

– Dilakukan dengan cara yang tidak menyakiti.

– Tidak merusak populasinya.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿ„๐ŸŒป๐ŸŒผ๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

SUNNAH PERUBAHAN

๐Ÿ“† Ahad, 25 Jumadil Akhir 1437H / 3 April 2016

๐Ÿ“š TSAQOFAH

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz DR. Saiful Bahri (1)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ’กUpaya Memaksimalkan Peran Reformatif Seorang Mukmin๐Ÿ’ก

Tak ada di dunia ini yang tidak berubah. Satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri.

Perubahan bagi selain Allah adalah konstan. Karena itulah, Allah meletakkan sunnah perubahan ini sebagai tradisi bagi manusia untuk selalu berubah.

Berubah dari keadaannya dengan kemampuan kemanusiaannya menggapai ruang otoritas Allah yang bernama takdir. Bukan untuk membantahnya atau bahkan untuk mengubahnya. Namun, untuk berdamai dan menerima dengan segala bentuk kepasrahan dan interpretasi cerdik seorang makhluk lemah bernama manusia. Tapi bukan untuk menyerah.

Betapa sejak diciptakannya, manusia mendapat curahan lebih kasih sayang, rahmat dan cinta dari Sang Pencipta. Dari sejak penciptaan dalam bentuk yang sempurna[2], dititahkan untuk memakmurkan bumi dan menjadi wakil-Nya di sana[3], dan masih banyak lagi nikmat Allah yang dikaruniakan kepada manusia. Dan sebagai manusia, kita takkan pernah mampu menghitungnya. Walau mengerahkan peralatan hitung super canggih sekalipun.

Namun, โ€œkeberpihakanโ€ Allah ini mempunyai misi. Yaitu bermuara pada pengesaan Allah sebagai satu-satunya sesembahan bagi seluruh alam semesta. Dan misi khusus ini hanya diemban oleh orang-orang khusus dari manusia.

Pengkhususan ini bukan sebuah diskriminasi. Namun sebuah seleksi (tamhรฎsh) yang akan memunculkan seorang mukmin yang terbaik yang mengajak pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran[4]. Dan Allah menyebut karakteristik kerja persuasif ini dengan predikat yang paling baik disisi-Nya[5].

Yang dimaksud perubahan di sini adalah perubahan ke arah yang lebih baik.

Misi perubahan yang diemban oleh seorang daโ€™i adalah perubahan reformis ke arah perbaikan. Bukan perubahan haddรขm (menghancurkan) yang tidak menyisakan. Namun perubahan ishlรขh (memperbaiki) yang sudah ada.

โ€œSesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.[6]โ€

Sebenarnya Allah tak perlu menyertakan tangan manusia untuk sebuah perubahan.

Mengapa Allah memberi kesempatan pada manusia untuk melaksanakan sunnah perubahan ini? Inilah keberpihakan Allah. Inilah cinta Allah. Karena hasil dari perubahan ini โ€“juga- manusia lah yang memetiknya. Baik berupa kebaikan dunia (materi dan non materi) ataupun kebaikan yang tertunda di hari pembalasan.

Dalam melaksanakan perubahan seorang mukmin mesti mengetahui etika dan ilmu perubahan itu sendiri. Diantaranya:

1) Menguasai potensi kebaikan yang ada pada dirinya dan masyarakat yang hendak diajak berubah

2) Memulai perubahan dari diri sendiri

3) Pengemban misi perubahan adalah anggota masyarakat yang dikenal baik

4) Memulai perubahan dari hal yang terkecil

5) Lakukan perubahan dari akar permasalahan (keyakinan/aqidah)

6) Melakukan perubahan dengan bertahap dan langkah-langkah bijak

7) Menyelesaikan perubahan dengan membiasakan perubahan. Bahwa perubahan bukan sesuatu yang harus di lawan. Tapi sesuatu yang dipahami

8) Memahami idealisme perubahan yang diembannya serta fikih realita dan ilmu berinteraksi dengan massa.

9) Memilih patner yang memahami kerja dan karakter kerja dan kesuksesan kolektif. Dan ini memerlukan kesabaran ekstra[7].

Akan tetapi perubahan merupakan sebuah tantanga. Tidak semua orang mampu melewatinya.

Dan tidak semua orang mempu mengemban misi reformatif ini. Karena dalam prakteknya ada banyak kendala;

1) Kerasnya tabiat masyarakat yang mengkristal pada sikap anti perubahan

2) Belenggu tradisi dan warisan leluhur yang terlalu dikultuskan

3) Kurang memahami maksud perubahan dengan pandangan lebih matang dan jauh ke depan.

4) Kurang adanya kesiapan mental menerima kebaikan

5) Kurangnya persiapan mental dan ilmu sang pengemban misi

6) Adanya gengsi yang diperturutkan.

Sebagaimana yang lain dalam melaksanakan perubahan juga ada beberapa pantangan yang perlu diperhatikan oleh siapa saja yang memahami misi perubahan ini, dan kemudian tertarik bergabung dalam kafilah reformis ini, dakwah ilalLรขh.

1) Klaim dan stigma

2) Putus asa dan menyerah

3) Memaksakan kondisi nyata agar sesuai dengan idealisme

4) Target yang tidak realistis

5) Menghadirkan kesempurnaan

6) Menunda-nunda kerja

7) Tidak menguasai lapangan dan psikologi massa

Bila ikhtiar dan usaha mengemban misi perubahan ini sudah dimaksimalkan, maka peran seorang mukmin sebagai daโ€™i takkan pernah dipandang kecil oleh Allah, Sang Pemilik misi ini.

Karena Dia hanya memerintahkan kita untuk bekerja dan berusaha. Sedang dia yang akan melihatnya[8] kemudian menentukan.

Setelah ruang-ruang kemanusiaan sudah dimaksimalkan perannya dengan ikhtiar penuh, saatnya kita menunggu kejelasan ruang-ruang kekuasaan yang memiliki otoritas prerogatif untuk memutuskan. Dan kita jangan pernah terlambat.

Berbuatlah sekarang juga. Sebagaimana al-Fรขrรปq memesan untuk jangan pernah menunggu pagi ketika kita berada di petang hari. Dan jangan pernah menanti petang ketika pagi sudah ada di hadapan kita.

Satu hal lagi yang menjadi bekal seorang pengemban misi perubahan. Berani dan hanya takut kepada Allah. Dengan bekal ini ia siap menjadi manusia aneh (gharรฎb) di tengah lingkungannya.

Sekalipun sebelumnya ia dikenal sebagai orang baik dan diterima oleh kalangannya. Ia bagian terkhusus dari manusia secara umum yang terbagi menjadi orang-orang beriman dan tidak. Orang-orang beriman pun terseleksi menjadi mukmin yang sungguh-sungguh dan beramal. Ini terseleksi lagi menjadi golongan yang sangat menginginkan orang-orang menjadi baik. Bahkan lebih baik dari dirinya. Orang tersebut laik disebut sebagai pahlawan bagi kemanusiaan.

Ia lah pewaris Nabi-nabi Allah yang tak meminta upah kerjanya selain cinta-Nya. Yang tak membenci umatnya selain kemungkaran yang mereka lakukan. Yang tak menunggu pamrih apa-apa selain tersebarnya kebaikan di hati setiap manusia. Karena ia sadar misinya di bumi ini untuk melakukan perubahan yang diemban oleh orang yang memahami kehadirannya di dunia ini.

Suatu ketika Luqmanul Hakim melakukan perjalanan dengan putranya. Ia mengendarai seekor keledai dan putranya berjalan disampingnya. Ketika lewat di sebuah perkampungan ia dicerca penduduknya lantaran mereka menganggapnya tak punya belas kasihan pada anaknya.

Pada perjalanan berikutnya ia menyuruh anaknya naik keledai dan ia berjalan di sampingnya. Penduduk perkampungan yang dilewatinya pun mencerca anaknya. Mereka menuduhnya sebagai anak yang tak punya etika.

Kemudian, pada perjalanan selanjutnya mereka berdua menaiki keledai bersama-sama. Penduduk perkampungan yang dilewatinya pun berkomentar bahwa mereka berdua sungguh tak punya belas kasihan sedikit pun pada seekor keledai yang keberatan menanggung beban mereka berdua. Ketika mereka memutuskan untuk menuntun keledai, ia dan putranya berjalan disamping keledai dan meneruskan perjalanan.

Komentar penduduk perkampungan berikutnya menuduh mereka berdua sebagai orang-orang pandir yang bodoh. Ada kendaraan kok tidak dipergunakan.

Aneh bukan? Setiap yang kita lakukan selalu saja tak pernah benar di mata orang. Dan memang, ridha semua manusia adalah sesuatu yang mustahil untuk diharapkan.

Karenanya Luqmanul Hakim berpesan untuk tidak terpengaruh perkataan orang dan kemudian menghentikan kerja perubahan ini. Karena apapun yang kita lakukan akan selalu dikomentari orang.

Jangan selalu menunggu hujan reda untuk memulai berjalan. Tak ada yang salah bila kita basah dan berani menerjang butiran-butiran air dan berada di tengah-tengah kilatan petir dan teriakan halilintar. Bukankah akan selalu ada hujan dalam hidup kita?

Siapkah Anda berubah menjadi lebih baik?

Siapkah Anda mengemban misi perubahan ini?

Bila Anda siap. Segera bergabunglah bersama kafilah dakwah, pengemban misi perubahan warisan Nabi-nabi utusan-Nya. Dan mulailah dari sekarang. Kemudian bekerjalah sepenuh tekad dan keikhlasan. โ€œKatakanlah: Aku diperintah supaya menyembah Allah dengan kemurnian ketaatan dalam (menjalankan) agama.[9]โ€

Time to actโ€ฆ

BISMILLAH.

๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”บ๐Ÿ”บ๐Ÿ”น๐Ÿ”น

[1] S3 Jurusan Tafsir, Universitas Al-Azhar, Cairo

[2] (QS. 95: 4)

[3] (QS. 2: 30)

[4] (QS. 3: 110)

[5] (QS. 41: 33)

[6] (QS.13: 11)

[7] (QS. 18: 28)

[8] (QS. 9: 105)

[9] (QS. 39: 11)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

SUAMI MENCARI KESALAHAN ISTRI

๐ŸŒ USTADZAH MENJAWAB
โœ Ustadzah Dra.Indra Asih
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐Ÿ’๐ŸŒป๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน
Pertanyaan dari Korma 3:
Assalamu’alaikum.. mau tanya dalam surat annisa, 34 diatas bahwa seorang suami tidak boleh mencari-cari kesalahan seorang istri yang sudah berusaha tuk menjadi istri solehah, apa hukuman dari Allah bagi suami yang selalu mencari kesalahan istrinya walau si istri sudah menjelaskan bahwa itu hanya prasangka saja dari suami dan terus berusaha menyakiti hati sang istri, kemudian langkah apa yang harus dilakukan oleh istri menghadapi sikap suami yang seperti itu? Jazakillah khoir ustd/ah
JAWABAN:
Dalam suatu hadits riwayat al Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi wasalam melarang laki-laki yang bepergian dalam waktu yang lama, pulang menemui keluarganya di waktu malam. Hal itu karena dikhawatirkan laki-laki tersebut akan mendapati berbagai kekurangan dan cela istrinya. Dan barangsiapa mencari-cari aib saudara sesama muslim, Allah akan mencari-cari aibnya. Barangsiapa dicari aibnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walaupun dia berada di ruang tersembunyi dalam rumahnya.
Dan ingatlah sabda Rasulullah shalallahuโ€™alaihi wasalam,
ู„ูŽุง ูŠูŽูู’ุฑูŽูƒู’ ู…ูุคู’ู…ูู†ูŒ ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุฉู‹ ุฅูู†ู’ ูƒูŽุฑูู‡ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุฎูู„ูู‚ู‹ุง ุฑูŽุถููŠูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุขุฎูŽุฑูŽ
โ€œJanganlah seorang suami yang beriman membenci istrinya yang beriman. Jika dia tidak menyukai satu akhlak darinya, dia pasti meridhai akhlak lain darinya.โ€ (HR Muslim)
“dan orang orang yang menuduh istri mereka berzina,padahal mereka tidak mempunyai saksi saksi selain diri mereka sendiri,maka kesaksian satu orang dari mereka adalah bersumpah empat kalli dengan nama Allah bahwa sesungguhnya dia adalah termasuk orang orang yang benar (dalam tuduhannya)  dan kelima kalinya (ia mengucapkan) bahwa laknat Allah akan menimpa dirinya jika ternyata ia tergolong orang orang yang berdusta.โ€ (QS.An-Nuur, 24:6-7)
Ayat tersebut memberi ketentuan untuk melindungi istri dari tuduhan suami. Karena tuduhan itu dapat merusak kehormatan dan harga diri istri. Oleh karena itu,perlu dilakukan pengaturan ketat agar suami tidak sembarangan menuduh istrinya berzina tanpa bukti yang dipertanggung jawabkan menurut syariat Islam.
Dari muโ€™awiyah Al-Qusrayiri,ia berkata:โ€saya pernah datang kepada Rosulullah saw.โ€™ Ia berkata lagi:โ€™saya lalu bertanya:โ€™Ya Rosulullah,apa saja yang engkau perintahkan (untuk kami perbuat) terhadap istri-istri kami? โ€™Beliau bersabda:โ€™โ€ฆjanganlah kalian memukul dan janganlah kalian menjelek-jelekan mereka.โ€™โ€ (HR Abu Dawud)
Nabi saw melarang para suami menjelek jelekan atau merendahkan martabat istri. Suami dilarang menggunakan kata yang bernada merendahkandan menghina martabat istri baik di hadapannya maupun dihadapan orang lain. Walaupun istri berasal dari keluarga yang lebih rendah status ekonominya dibanding dirinya.
Hendaknya seorang suami bersabar dan menahan diri dari kekurangan yang ada pada istrinya, juga ketika istri tidak melaksanakan kewajibannya dangan benar. RasulullahShalallahuโ€™alaihi wasalam bersabda,
ุงุณู’ุชูŽูˆู’ุตููˆุง ุจูุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉูŽ ุฎูู„ูู‚ูŽุชู’ ู…ูู†ู’ ุถูู„ูŽุนู ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุนู’ูˆูŽุฌูŽ ุดูŽูŠู’ุกู ูููŠ ุงู„ุถู‘ูู„ูŽุนู ุฃูŽุนู’ู„ูŽุงู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ุฐูŽู‡ูŽุจู’ุชูŽ ุชูู‚ููŠู…ูู‡ู ูƒูŽุณูŽุฑู’ุชูŽู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู’ ุชูŽุฑูŽูƒู’ุชูŽู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฒูŽู„ู’ ุฃูŽุนู’ูˆูŽุฌูŽ ููŽุงุณู’ุชูŽูˆู’ุตููˆุง ุจูุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู
โ€œBersikap baiklah kepada para istri. Karena mereka tercipta dari tulang rusuk. Dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atas. Jika kamu hendak meluruskannya niscaya kamu akan mematahkannya. Dan jika kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok. Maka bersikap baiklah kepada para istri.โ€ (Muttafaqunโ€™alaih)
Hadits ini memiliki pelajaran yang sangat agung, diantaranya; meluruskan bengkoknya istri harus dengan lembut sehingga tidak mematahkannya, namun juga tidak dibiarkan saya karena jika dibiarkan dia tetap bengkok. Apalagi jika bengkoknya itu bisa menjalar menjadi kemaksiatan atau kemungkaran.
Usahakan berkomunikasi dengan lembut dan penuh kesabaran pada suami.
Biasanya, masalah banyak muncul karena masalah komunikasi.
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒป๐ŸŒท๐Ÿ„๐ŸŒน๐Ÿ’
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

HUKUM PERAYAAN ULANG TAHUN

๐Ÿ‘ณUstadz Menjawab
โœUst. Farid Nu’man Hasan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Assalamualaikum wr wb ustadz…. minta penjelasannya tentang :
1. hukum perayaan ulang tahun
2. hukum perayaan hari jadi pernikahan.

๐ŸŒดJawaban nya๐ŸŒด

Wa alaikumsalam wr wb.                                            1. Hukum merayakan milad.
Dalam hal ini, para ulama kontemporer berbeda pendapat.

๐Ÿ“Œ Pertama. HARAM.
Alasannya ini merupakan budaya kafir yg dilarang untuk diikuti. Jika diikuti maka tasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang kafir). Apa pun cara dan wujudnya, maka tdk boleh, baik hari ultah manusia, lembaga, ormas, bahkan negara. Sehingga, jika yg pokoknya tidak boleh maka turunannya jg demikian, termasuk mengucapkan selamat, walau sdh dimodiv dengan doa-doa kebaikan. Bagi mereka itu merupakan mencampurkan haq dan batil.

Alasan lain karena Nabi, para sahabat, para imam madzhab tdk pernah menyontohkan bahkan tidak pernah membahasnya.

Ini dianut sebagian ulama Arab Saudi, dan yg mengikutinya, dan juga  kelompok salafi.

๐Ÿ“Œ Kedua, BOLEH, dengan syarat. Mereka menolak cara pendalilan golongan pertama. Ini pendapat sebagian ulama Arab Saudi juga seperti Syaikh Salman Al Audah, atau Mufti Qathar seperti Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, dan lainnya.

Bagi mereka ini masalah duniawi, tidak terkait ibadah, yg hukum asalnya adalah mubah, kecuali ada dalil khusus yg melarang. Bagi mereka tidak ada dalil khusus yg melarangnya.
Lalu, alasan lainnya ayat:
wa basysyarnaahu bighulaamin haliim .. dan kami berikan kabar gembira kepada Ibrahim atas lahirnya anak yang penyabar.

Ayat ini menunjukkan bolehnya bergembira dengan kelahiran, dan tentunya berlaku juga dengan mengingat hari kelahiran.

Lalu, Nabi pernah ditanya tentang puasa hari senin, Beliau menjawab: itulah hari aku dilahirkan. (Hr. Muslim)

Jd, ini menunjukkan bolehnya mengingat hari kelahiran. Kalau pun, ini berasal dr Barat, mrk menganggap tidak apa-apa mengambil istilah dari luar Islam, tp isinya diganti dgn cara Islam. Hal ini pernah nabi lakukan, yaitu ketika nabi mengubah makna RUHBANIYAH/kependetaan yg telah dicela Allah dlm Al Quran. Jadi, walau istilah ini buruk, akhirnya oleh nabi istilah ini dipakai dgn isi yang diubah, sabdanya:
ar ruhbaniyatu fi ummati al jihad fisabilillah, kependetaan umatku adalah jihad fisabilillah.

Tp mereka memberi syarat: tidak boleh ada maksiat di dalamnya, meninggalkan yang wajib, hura-hura (nyanyi2), pemborosan, ikhtilat, tiup lilin, dan kejelekan lainnya.

Kalau isinya adalah mauizhah hasanah, atau hanya ucapan tahniah dan doa saja agar hidupnya berkah, sehat, dan semisalnya, tidak apa apa bagi mereka.
Wallahu A’lam
                                     

 ๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

MAU DIBAWA KEMANA KELUARGA KITA?

๐Ÿ“† Sabtu, 24 Jumadil Akhir 1437H / 2 April 2016

๐Ÿ“š KELUARGA & PARENTING

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz BENDRI JAISYURRAHMAN @ajobendri

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ ๐ŸŒฟ

Ada satu pertanyaan penting yang harus kita jawab saat memulai rumah tangga : mau dibawa kemana keluarga kita?
Pertanyaan ini akan menggiring kita kepada sikap dan cara berumah tangga. Jika kita menjawabnya mengalir bagai air, seraya berharap mengalir ke danau jernih meskipun ternyata ngalirnya ke got atau septic tank, maka sikap kita dalam berumah tangga cenderung reaktif layaknya pemadam kebakaran. Hanya sibuk memadam masalah yg tiba-tiba muncul. Inilah model keluarga survival. Hidup yang penuh adrenalin.  Berdebar debar, khususnya dirasakan para istri. Hanya menerka nerka apa gerangan yg terjadi esok sambil siapin mental untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk. Jika Anda naik roller coaster semenit aja bisa muntah-muntah, maka model keluarga seperti ini dijamin akan membuat cemas dan berpeluang stroke.

Lain halnya jika Anda jelas tujuannya mau kemana. Dan tau jalan menuju tujuan itu. Meskipun berliku-liku dan ada turbulensi dan guncangan sepanjang jalan, tetap kan tegar. Karena telah memprediksi kejadian tersebut sebelumnya. Inilah keluarga yg punya visi. Bukan berarti gak punya masalah. Namun tau apa yg dilakukan saat menghadapi masalah karena jelas tujuan dan arahnya.

Maka, visi berkeluarga menjadikan kita menikmati setiap irama hidup berumah tangga. Baik iramanya dangdut koplo atau black metal. Masing-masing telah dipahami pola nadanya. Saat berkelimpahan tau sikap yg dilakukan, saat berkesusahan mengerti strategi yg diterapkan. Tetap optimis sampai ke tujuan. Tidak saling menyalahkan.  Sebab masing masing anggota paham rute dan medannya.

Itulah kenapa perintah agama senantiasa mengajak kita untuk membuat visi dalam berbagai hal khususnya dalam berkeluarga. Allah katakan dalam alquran surat al hasyr ayat 18 : Hai orang orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah. Dan hendaklah tiap tiap diri melihat apa yang akan dilakukannya esok hari. Maka bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan”

Ayat ini memakai kalimat ุชู†ุธุฑ dari kata ู†ุธุฑ yang maknanya melihat dengan jelas. Ini menandakan bahwa masalah visi adalah bukan sekedar dalam pikiran namun terimajinasikan hingga seolah-olah kita melihatnya. Dengan melihat jelas itulah kita melihat dua hal : peluang sekaligus tantangan. Peluang kita jadikan alat untuk meraih tujuan dan tantangan kita sikapi dengan antisipasi sedari awal. Inilah keluarga yang selamat.

Karena itu, sebelum biduk dikayuh hendaknya masing masing anggota keluarga saling mengingatkan tujuan, ‘kita mau kemana?’ Jangan sampai energi mengayuh habis sepanjang jalan hanya untuk siap siap tenggelam karena tidak mengerti arah dan tujuan bersandar.

Sebagai muslim, Allah telah membuat panduan visi dalam keluarga. Visi umum ini mutlak kita ikuti. Tinggal misi operasionalnya yg berbeda antar keluarga. Visi yang dimaksud di antaranya :
1. Terbebas dari siksa api neraka (QS At Tahrim : 6)
2. Masuk surga sekeluarga (QS Ath Thur : 21)

Kedua visi ini memberi petunjuk kita bahwa urusan akherat adalah prioritas. Bukan sambilan. Apalagi dianggap penghambat kesuksesan dunia. Jangan sampai muncul kalimat : ngajinya libur dulu ya, besok kamu mau UN. Ntar UN nya keganggu lagi. Ini menunjukkan bahwa kita telah gagal menempatkan akherat sebagai prioritas. Padahal urusan akherat itu yg utama sebagaimana Allah sebutkan dalam surat Al Qososh ayat 77(silahkan buka sendiri ayatnya)

Untuk menjaga visi berkeluarga agar sesuai dgn petunjuk quran tersebut, maka mulailah dari dominasi tema dialog dalam rumah tangga kita. Ada sebuah ungkapan masyhur yg diucap Ibnu Jarir Ath Thobari dalam kitab tarikhnya “dialog yg sering dibicarakan antar rakyat menunjukkan visi asli pemimpinnya”. Kesimpulan ini beliau ucapkan setelah meneliti visi para pemimpin di zaman dinasti umayyah, mulai dari Sulaiman bin Abdul Malik, Walid bin Abdul Malik hingga ke Umar bin Abdul Aziz. Apa yg dibicarakan rakyat menunjukkan visi pemimpinnya. Saat rakyat banyak dialog tentang jumlah anak istri dan cucu ternyata sesuai dengan visi Sulaiman yg memang concern kepada urusan pernikahan dan keluarga. Begitupun saat rakyat banyak berdialog tentang uang dan harta di masa Walid, sebab memang visinya walid seputar materi dan pembangunan.

Dan anehnya begitu di masa Umar bin Abdul Aziz rakyat lebih banyak dialog tentang iman dan amal sholeh. Tersebab memang pemimpinnya, yakni umar, kuat visinya akan akherat,

Dengan demikian, coba perhatikan dialog dalam keluarga kita, khususnya anak anak sebagai ‘rakyat’ dalam keluarga, Itulah visi asli kita. Jika lebih banyak bicarakan liburan dan makanan sebab visi keluarga mungkin seputar wisata kuliner. Sebaliknya jika sudah mulai bicarakan hal hal seputar agama, itu tanda visi akherat dari ortu telah sampai kepada mereka.

Mulailah dari perbaikan lisan (QS Al Ahzab : 70) lewat dialog yg bernuansakan akherat, maka kelak akan terperbaiki amalan kita menuju cita cita : masuk surga bersama. Inilah sejatinya keluarga. Yakni ketika kumpul bersama di surga. Dan terhindar dari keluarga broken home, dimana bukan yg tercerai berai di dunia, namun keluarga yg tak mampu kumpul bersama di surga. Semoga Allah kabulkan pinta kita tuk ajak sanak famili kumpul bersama di jannahNya. Aamiin

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Dan Ibupun Mendapatkan Pahalanya (Tanggung Jawab Istri)

๐Ÿ“† Sabtu, 24 Jumadil Akhir 1437H / 2 April 2016

๐Ÿ“š KELUARGA

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

ุงู„ุฑู‘ูุฌูŽุงู„ู ู‚ูŽูˆู‘ูŽุงู…ููˆู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู ุจูู…ูŽุง ููŽุถู‘ูŽู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจูŽุนู’ุถูŽู‡ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽุนู’ุถู ูˆูŽุจูู…ูŽุง ุฃูŽู†ู’ููŽู‚ููˆุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ูู‡ูู…ู’ ููŽุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญูŽุงุชู ู‚ูŽุงู†ูุชูŽุงุชูŒ ุญูŽุงููุธูŽุงุชูŒ ู„ูู„ู’ุบูŽูŠู’ุจู ุจูู…ูŽุง ุญูŽููุธูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽุงุชููŠ ุชูŽุฎูŽุงูููˆู†ูŽ ู†ูุดููˆุฒูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ููŽุนูุธููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽุงู‡ู’ุฌูุฑููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุถูŽุงุฌูุนู ูˆูŽุงุถู’ุฑูุจููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ููŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุทูŽุนู’ู†ูŽูƒูู…ู’ ููŽู„ูŽุง ุชูŽุจู’ุบููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ุณูŽุจููŠู„ู‹ุง ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ููŠู‘ู‹ุง ูƒูŽุจููŠุฑู‹ุง

โ€œ Laki-laki itu adalah pemimpin atas perempuan dengan sebab apa yang telah Allah lebihkan sebagian kalian atas sebagian yang lain dan dengan sebab apa-apa yang mereka infaqkan dari harta-harta mereka. Maka perempuan-perempuan  yang shalihah adalah  yang qanitah (ahli ibadah), yang menjaga (kehormatannya) tatkala suami tidak ada dengan sebab Allah telah menjaganya. Adapun perempuan-perempuan yang kalian khawatirkan akan ketidaktaatannya maka nasihatilah mereka, dan tinggalkanlah di tempat-tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Akan tetapi jika mereka sudah mentaati kalian maka janganlah kalian mencari-cari jalan (untuk menyakiti) mereka, sesungguhnya Allah itu Maha Tinggi dan  Maha Besarโ€ (QS An-Nisa : 34).

Dan beginilah cara Allah SWT menyapa para perempuan. Dengan kata positif mengandung motivasi โ€œmaka perempuan-perempuan yang solihatโ€.  Agar tanggung jawab tidak terasa berat, Allah SWT menyapa mereka dengan sapaan yang sangat lembut….solihat. Kelembutan dan kesolihan seorang  perempuan,  menjadi bekal utama dalam penunaian tanggung  jawabnya.

1โƒฃ Taโ€™at pada suami

Taโ€™at yang dilandasi oleh cinta dan sayang bukan taโ€™at karena terpaksa. Akan  terasa begitu mudah dan indah sebagaimana qowwamah  yang dilandasi oleh cinta dan sayang. Keduanya berpadu menjadi sebuah  harmoni.
Taโ€™at  yang lahir dari orientasi, kehendak, keinginan dan cinta.

Prinsip-prinsip ketaโ€™atan:

โœ… Bukan dalam maksiyat/melanggar aturan Allah.
Suami  boleh untuk meminta istrinya berdandan hanya didalam rumah    untuk   dirinya saja dan istri harus taโ€™at akan permintaan suaminya. Namun jika suami meminta istri untuk berdandan dan  tampil  di muka umum, maka istri wajib menolaknya karena bertentangan dengan perintah Allah SWT.   Aisyah RA menceritakan: seorang ibu  menikahkan anak gadisnya. Tiba-tiba rambutnya terjatuh. Lalu ia datang kepada Nabi SAW dan menceritakan kejadian itu kepada beliau. Ibu itu mengatakan bahwa suaminya menyuruh si ibu untuk menyambung rambutnya yang jatuh itu. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: โ€œJangan engkau  ikuti perintah suamimu! Sesungguhnya Allah SWT melaknat wanita yang menyambung rambutnya.โ€

โœ…Taโ€™at  sesuai kemampuan.
Oleh karena itu suami harus faham kemampuan istrinya dan membantu agar  istri dapat  menunaikan kewajibannya.

โœ… Ketaโ€™atan yang disertai dengan penghormatan dan respon positif  atas  ketaโ€™atannya itu.

โœ… Ketaโ€™atan yang disertai dengan saling cinta dan kasih sayang yang lahir  dari lubuk hati terdalam.

โœ… Ketaโ€™atan disertai musyawarah.

โœ… Ketaโ€™atan diiringi dengan saling menasehati, berkorban dan berkomitmen untuk  menegakan      syariโ€™at  Allah.

2โƒฃ Membesarkan dan mendidik anak
Dimulai sejak janin berada dalam kandungan (al-ahqaf:15).  Aisyah RA menceritakan: seorang  ibu datang kepadaku dengan membawa dua anak perempuannya. Lalu aku memberinya tiga butir kurma. Sang ibu menyuapi anaknya masing-masing satu butir kurma. Lalu sang ibu membelah satu  butir kurma yang hendak ia makan,  untuk dibagi dengan anak-anaknya.  Aku terharu dan menceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah SAW.  Beliau bersabda: โ€œSesungguhnya Allah wajib memasukan ibu itu ke dalam surga dan membebaskannya dari api neraka.โ€ (HR Bukhari Muslim)

3โƒฃ Menata tugas-tugas rumah tangga
Seperti  Fathimah RA yang mengurus semua urusan dirumah suaminya Ali bin Abi Thalib RA juga Asma binti Abi Bakar RA yang mengurus semua keperluan keluarga dan keperluan suaminya. Bukan berarti bahwa istri yang harus melakukan  semuanya. Akan tetapi istri melakukan penataan. Ia bisa mendelegasikan tugasnya kepada khadimat  jika dirasa perlu.
Sebagaimana Fathimah RA yang meminta   seorang khadimat kepada Rasulullah SAW karena  pekerjaan yang harus dilakukan terlampau banyak dan ia merasa sudah sangat letih.

4โƒฃ Melayani suami
Apabila seorang laki-laki mengajak istrinya ke ranjangnya, lalu istri tidak mendatanginya, hingga dia (suaminya โ€“ed) bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya hingga pagi tiba.โ€ (HR. Bukhari dan Muslim)
Ladang untuk menabung pahala Allah SWT siapkan bagi para ibu didalam rumahnya sendiri. Maka perempuan  solihat  yang qonitat (ta’at kepada suami)  dan hafidzot (menjaga   kehormatan dirinya) adalah mereka  yang berhak   atas pahala besar yang disediakan Allah SWT.

Wallohu aโ€™lam bish showwab

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…