Masih Hidupkah Nabi Isa,As ???

๐ŸŽ€ USTADZAH MENJAWAB ๐ŸŽ€
โœUstadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag

๐Ÿ“†Rabu, 27 April 2016 M
                20 Rajab 1437 H
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿƒ๐ŸŒป ๐ŸŒท๐ŸŒน

Mbak, yang tentang cerita Nabi Isa diangkat itu Nabi Isa sekarang sudah wafat atau masih belum? Saya agak bingung tentang cerita itu mbak.
๐Ÿ…ฐ3โƒฃ3โƒฃ

JAWABAN:

Simak An-Nisaa 157-158. Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa Nabi Isa tidaklah meninggal tidak juga disalib (157) Akan tetapi Allah mengangkatnya ke sisiNya (158).
Tentang turunnya nabi Isa dijelaskan dalam hadits2 sohih ttg datangnya hari kiamat.

Dari Ibnu โ€˜Abbas radhiyallahu โ€˜anhuma.Beliau mengatakan,
โ€œKetika Allah ingin mengangkat Isa -โ€˜alaihis salamโ€“ ke langit, beliau pun keluar menuju para sahabatnya dan ketika itu dalam rumah terdapat 12 orang sahabat al Hawariyyun. Beliau keluar menuju mereka dan kepala beliau terus meneteskan air. Lalu Isa mengatakan, โ€œSesungguhnya di antara kalian ada yang mengkufuriku sebanyak 12 kali setelah ia beriman padaku.โ€ Kemudian Isa berkata lagi, โ€œAda di antara kalian yang akan diserupakan denganku. Ia akan dibunuh karena kedudukanku. Dia pun akan menjadi teman dekatku.โ€ Kemudian di antara para sahabat beliau tadi yang masih muda berdiri, lantas Isa mengatakan, โ€œDuduklah engkau.โ€ Kemudian Isa kembali lagi pada mereka, pemuda tadi pun berdiri kembali. Isa pun mengatakan, โ€œDuduklah engkau.โ€ Kemudian Isa datang lagi ketiga kalinya dan pemuda tadi masih tetap berdiri dan ia mengatakan, โ€œAku, wahai Isa.โ€ โ€œBetulkah engkau yang ingin diserupakan denganku?โ€ ujar Nabi Isa. Kemudian pemuda tadi diserupakan dengan Nabi Isa. Isa pun diangkat melalui lobang tembok di rumah tersebut menuju langit. Kemudian datanglah rombongan orang Yahudi. Kemudian mereka membawa pemuda yang diserupakan dengan Nabi Isa tadi. Mereka membunuhnya dan mensalibnya. Sebagian mereka pun mengkufuri Isa sebanyak 12 kali setelah sebelumnya mereka beriman padanya. Mereka pun terpecah menjadi tiga golongan. Kelompok pertama mengatakan, โ€œAllah berada di tengah-tengah kita sesuai kehendak-Nya kemudian Dia naik ke langit.โ€ Mereka inilah Yaโ€™qubiyah. Kelompok kedua mengatakan, โ€œDi tengah-tengah kita ada anak Allah sesuai kehendak-Nya kemudian ia naik ke langit.โ€ Mereka inilah Nasthuriyah. Kelompok ketiga mengatakan, โ€œDi tengah-tengah kita ada hamba Allah dan Rasul-Nya sesuai kehendak-Nya kemudian ia naik ke langit.โ€ Merekalah kaum muslimin.

Kelompok pertama dan kedua yang kafir akan mengalahkan kelompok ketiga yang muslim. Kelompok yang muslim itu pun sirna, sampai Allah mengutus Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.โ€ (HR An-Nasa’i)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐Ÿƒ๐ŸŒป๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia…

Jangan Meremehkan Amalan Ringan

๐Ÿ“† Jumat, 22 Rajab 1437H / 29 April 2016

๐Ÿ“š MUAMALAH

๐Ÿ“ Ust. Rikza Maulan, Lc, M.Ag

๐Ÿ“‹ Jangan Meremehkan Amalan Ringan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šHadits:

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุณูŽุนููŠุฏู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ุณูŽู…ูุนูŽ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ูŠูŽู‚ู’ุฑูŽุฃู ู‚ูู„ู’ ู‡ููˆูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ูŠูุฑูŽุฏู‘ูุฏูู‡ูŽุงุŒ ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ุฃูŽุตู’ุจูŽุญูŽ ุฌูŽุงุกูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽุฐูŽูƒูŽุฑูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ูŽ ูŠูŽุชูŽู‚ูŽุงู„ู‘ูู‡ูŽุงุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู†ูŽูู’ุณููŠ ุจููŠูŽุฏูู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ู„ูŽุชูŽุนู’ุฏูู„ู ุซูู„ูุซูŽ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)

Dari Abu Sa’id ra berkata, ‘bahwa ada seoseorang yang mendengar orang lain membaca QUL HUWALLAHU AHAD (surat Al-Ikhlas), ia membacanya secara berulang-ulang. Pagi harinya, laki-laki tadi menemui Rasulullah Saw dan menceritakan kisahnya, seolah-olah ia menganggap remeh bacaan (orang tersebut).

Maka Rasulullah Saw bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-NYA, sesungguhnya membaca surat Al-Ikhlas itu menyamai (pahala) sepertiga al qur’an”. (HR. Bukhari)

๐Ÿ“šHikmah Hadits:

โฃ1. Larangan menganggap remeh satu amalan ringan yang dilakukan oleh orang lain.

Karena bisa jadi amalan ringan tersebut memiliki nilai dan bobot yang sangat mulia di sisi Allah Swt. Terlebih jika amalan tersebut dilakukan secara ikhlas, kontinou dan penuh dengan kesungguhan.

โฃ2. Cara Nabi Saw yang sangat bijak dalam meluruskan kesalahan para sahabat.

Betapa beliau tidak “terbawa” oleh isu orang yang menyampaikan informasi kepada beliau, namun di sisi lain beliau juga tidak mencela sahabat yang menganggap remeh amalan yang dilakukan oleh sahabat lainnya.

Namun justru Nabi Saw lebih fokus pada substansi nilai yang lebih manfaat, yaitu penegasan tentang keutamaan membaca surat Al-Ikhlas.

โฃ3. Anjuran untuk senantiasa membaca surat Al-Ikhlas dalam segala aktivitas.

Karena surat yang sangat ringan di lisan ini memiliki bobot pahala yang berlimpah, yaitu sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.

Maka, mari kita hiasi aktivitas kita dengan dengan bacaan surat Al-Ikhlas; dalam berdzikir bada shalat, ketika keluar dari rumah dan di perjalanan, ketika memulai bekerja, ketika berdoa, ketika akan beristirahat dan dalam kondis-kondisi lainnya.

Tidakkah kita senang mendapatkan pahala yang senilai dengan sepertiga Al-Qur’an dalam setiap aktivitas kita?

Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Keutamaan Berdakwah

๐Ÿ“† Jumat, 22 Rajab 1437H / 29 April 2016

๐Ÿ“š DAKWAH ISLAM

๐Ÿ“ Ust. Imantoko Riyanto

๐Ÿ“‹ Keutamaan Berdakwah

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐ŸŒทDakwah adalah aktivitas menyeru manusia kepada kepada Allah SWT dengan hikmah dan pelajaran yang baik dengan harapan objek dakwah beriman kepada Allah SWT dan mengingkari taghut sehingga mereka keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.

๐ŸCara dan metode yang digunakan dalam berdakwah harus dengan baik. Tidak dilakukan dengan cara yang tidak dibenarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah dan dakwah para salaf. Tidak dikatakan dakwah jika objek menjadi gerah atas polah yang mengatas namakan dakwah.

๐ŸŒทTerdapat banyak ayat dan hadits yang menunjukkan betapa besar balasan bagi mereka yang berdakwah. Dengan mengetahui keutamaan dakwah beban dakwah yang betapapun beratnya akan menjadi terasa ringan.

Sebaliknya, jika pengetahuan tentang keutamaan dakwah lemah, maka akan lemah pula semangat dalam berdakwah.

๐ŸMaka cukuplah balasan berikut ini menjadikan para aktivis dakwah terus gandrung dengan aktivitas dakwah yang kini semakin banyak bentuknya.

1. Dakwah adalah tugas para Rasul
2. Dakwah adalah amal terbaik
3. Balasan yang berlipat ganda
4. Penyelamat dari azab
5. Jalan menuju khairu ummah.

๐ŸŒทPintu kenabian telah tertutup sejak Allah SWT mengutus Rasulullah SAW. Namun aktivitas mulia yang diemban oleh para Rasul tersebut dapat terus dilakukan yakni berdakwah, mengajak manusia untuk kembali kepada Allah SWT.

๐ŸBersihkan diri kita lalu serulah sesama. Estafeta dakwah harus sampai kepada kita sebagai pelaksana. Apapun perbendaharaan yang ada manusia saat ini, teramatlah sepele jika dibandingkan balasan bagi mereka penyeru kebajikan.

๐Ÿ’ฆAllah SWT berfirman dalam QS Fushilat ayat 33, โ€œDan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang berdakwah kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata :โ€Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri.โ€

๐Ÿ’ฆIbnu Jarir Ath Thabari rahimahullah dalam tafsirnya : Allah SWT menyeru manusia โ€œWahai manusia, siapakah yang lebih baik perkataannya selain orang yang mengatakan Rabb kami adalah Allah, kemudian istiqamah dengan keimanan itu, berhenti pada perintah dan laranganNya, berdakwah (mengajak) hamba-hamba Allah untuk mengatakan apa yang ia katakan dan mengerjakan apa yang ia lakukan.โ€ (Tafsir Ath Thabari, Jamiul Bayan fi Taโ€™wil Quran : 21/468).

๐Ÿ’ฆSayyid Quthb berkata : “Sesungguhnya kalimat dakwah adalah kalimat terbaik yang diucapkan di bumi, ia naik ke langit di depan kalimat-kalimat baik lainnya.

Akan tetapi ia harus disertai dengan amal shalih yang membenarkannya, dan disertai penyerahan diri kepada Allah SWT sehingga tidak ada penonjolan diri didalamnya.

Dengan demikian jadilah dakwah ini murni untuk Allah, tidak ada kepentingan bagi seorang daโ€™i kecuali menyampaikan.

Setelah itu tidak pantas kalimat seorang dai kita sikapi dengan berpaling, adab yang buruk, atau pengingkaran. Karena seorang daโ€™i datang dan maju membawa kebaikan, sehingga ia berada dalam kedudukan yang amat tinggi. (Fi Zhilal Al Quran 6/295).

๐ŸBegitu besarnya balasan bagi para daโ€™i mengindikasi kan bahwa pekerjaan tersebut tidak mudah. Balasan besar hanya diperuntukkan untuk pekerjaan besar. Semakin besar tugas tentu akan semakin berat pula ujiannya.

๐ŸŒทPeran seperti apa yang sudah kita ambil dalam memperbaiki kondisi ummat ini?

๐ŸŒทDengan apa kita menyeru manusia yang lalai atas kewajiban mereka untuk senantiasa mengibadahi Allah SWT semata?

๐ŸŒทApa tindakan kita atas silaunya manusia akan kehidupan dunia yang gemerlap menyilaukan mata?

๐Ÿ”นUntuk muda-mudi yang begitu mudah meninggalkan shalat.
๐Ÿ”นUntuk fakir miskin yang berputus asa atas kesulitan menghidupi keluarga.
๐Ÿ”นUntuk para penguasa yang mudah sekali mengutip hak orang lain.
๐Ÿ”นUntuk para penuntut ilmu yang disorientasi.
Untuk para Ayah yang tak peduli keimanan anak-anaknya.
๐Ÿ”นUntuk para Ibu yang tidak bisa menjaga kehormatan.
๐Ÿ”นDan untuk jutaan manusia yang kehilangan Tuhan, dengan apakah kita menyeru?

๐ŸKita yakin, dengan dakwah yang bijak lagi menentram kan.
Dengan ajakan yang penuh kasih sayang.
Dengan uluran tangan yang tak berharap balasan. Dengan doa yang rahasia namun melesat ke sasaran.

๐Ÿ’ฆKita selimuti hati kita sepenuh kejujuran bahwa jalan dakwahlah jalan yang harus ditapak. Satu-satunya jalan kesalamatan yang kelak akan menghimpun kita bersama orang-orang mulia.

Wallahu a’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Jalan Panjang Menuju Latuftahanna Tersampaikannya Cita, Terlewatkannya Usia

๐Ÿ“† Kamis, 21 Rajab 1437H / 28 April 2016

๐Ÿ“š SIROH DAN TARIKH

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

๐Ÿ“ Jalan Panjang Menuju Latuftahanna
Tersampaikannya Cita, Terlewatkannya Usia

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Catatan Awal April, Antara Tahun 2016 dan 1453

Pengepungan terhadap kota Bursa (atau dikenal juga dengan nama Prusa, Prousa, Brusa, atau Broussa) terjadi sepanjang rentang enam hingga sembilan tahun. Kota tersebut jatuh ke tangan Turki Utsmani  6 April, 690 tahun yang silam.

๐Ÿ”† Lesson #1: cita-cita tidak selalu harus diukur dalam rentang waktu karena kebanyakan manusia tergesa-gesa dalam pencapaiannya,

Sebelum itu, Turki Utsmani tidak memiliki pengalaman merebut kota lawan yang berbenteng. Minimalnya pengetahuan, nol-nya pengalaman, serta kurang memadainya alat gempur pertahanan kota menjadi sebagian penyebab lamanya waktu operasi yang dibutuhkan.

๐Ÿ”† Lesson #2: risiko boleh diperhitungkan, namun pengalaman hanya didapat dari tindakan nyata dimana penbelajaran pada jangka panjang meminimalisir risk.

Menurut MaksudoฤŸlu (1999) kota Bursa berhasil ditaklukkan pada tahun 1326 tidak lama setelah Osman I Gazi wafat dari sakitnya. Osman sang pendiri Turki Utsmani tidak sempat melihat bangsanya memiliki kota sebagai pusat kebudayaan. Menurut sebagian sejarawan lainnya, Osman sempat mendengar berita menggembirakan itu sebelum ia wafat. Sesuai wasiatnya, jasad Osman I Gazi dikebumikan di kota tersebut oleh anaknya, Orhan ฤฐ Gazi.

๐Ÿ”† Lesson #3: menjadi pionir menuntut keikhlasan untuk kemungkinan tidak menyaksikan momen keberhasilan, bahkan siap-siap untuk dilupakan,

Kota Bursa menjadi ibukota serta pusat kebudayaan Turki Utsmani mulai pada masa Orhan I Gazi. Status yang prestisius ฤฑni berlangsung selama 40 tahun sebelum pindah ke Edirne di Eropa. Kota Bursa menjadi spesial bagi kebudayaan Turki khususnya sebagai Pusat pemerintahan, pendidikan, militer, dan arsitektur.

Orhan mendorong perkembangan kota dan menggalakkan pembangunan masjid, madrasah, penginapan umum (sarayฤฑ), serta berbagai fasilitas umum lainnya. Orhan I Gazi wafat dan dikebumikan di sebelah makam (tรผrbe) ayahnya.

๐Ÿ”† Lesson #4: kebudayaan tidak dapat dimulai kecuali dengan menetap dan mulai membangun kebutuhan manusia,

Seorang penjelajah muslim yang terkenal bernama Ibnu Batutah sempat mengunjungi Bursa pada tahun 1331. Ia terkesan dengan kota yang dinilainya sangat layak huni. Penjelajah terkenal itu mencatat  adanya bazzar dan jalan-jalan yang lebar pada masa itu, dilengkapi taman dan kolam yang asri.

๐Ÿ”† Lesson #5: bertempur cerdas, menyerap ilmu di tapal batas, bermukim luas, dan beribadah tak kenal puas.

Bagian Ketiga, Latuftahanna
Menyongsong Napak Tilas Fatih, 22-31 Mei 2016
Royal Indonesia Travel

Sore menjelang Maghrib,
Depok, 7 April 2016
Agung Waspodo

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Mengatasi Ancaman Sesuai Kadarnya – Menyiapkan Penangkal Sesuai Efeknya

๐Ÿ“† Kamis, 21 Rajab 1437H / 28 April 2016

๐Ÿ“š SIROH DAN TARIKH

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

๐Ÿ“ Mengatasi Ancaman Sesuai Kadarnya – Menyiapkan Penangkal Sesuai Efeknya

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Catatan Awal April, Antara Tahun 2016 dan 1453

Pada tanggal 6 April 1453, yaitu 563 tahun yang lalu, Sultan Mehmed II menginspeksi kembali barisan pasukannya. Beliau menempatkan balatentara Rumelia di bagian terdepan, disusul oleh kesatuan elit istana di bagian tengah, serta barisan belakang ditempati oleh kontingen Anatolia. Setiap bagian disusun ulang dengan menempatkan unit terbaik di barisan terdepan sesuai dengan tingkat spiritual serta kadar loyalitasnya terhadap misi Latuftahanna; yaitu nubuwwat Nabi SAW akan terbebaskannya Konstantinopel oleh pasukan Kaum Muslimin yang terbaik.

๐Ÿ”† Lesson #1: untuk mendapatkan yang terbaik harus mengusahakan yang terbaik sebagaimana “menambatkan untamu sebelum engkau bertawakkal,” karena Allah SWT melihat proses dan usaha orang-orang yang beriman kepadaNya,

Secara serentak serangan umum pada bagian barat dinding pertahanan ibukota Byzantium itu dilancarkan pada tiga titik:

๐Ÿ’ฃ1. Area Myriandrion di utara mendapatkan perhatian khusus dengan menempatkan 2 seksi kanon besar Urbanus, area ini dipertahankan oleh kontingen militer bayaran dari Genoa dibawah pimpinan Giustiniani Longo yang membawahi perlindungan Istana Blachernae,

๐Ÿ’ฃ2. Area Santo Romanus di tengah mendapatkan perhatian paling besar dengan 4 seksi kanon terbesar Urbanus dibawah pengawasan langsung Sultan Mehmed II yang berhadapan dengan Kaisar Konstantin sendiri beserta satuan pengawal bayaran Varangian yang legendaris,

๐Ÿ’ฃ3. Area Studion di bagian selatan mendapatkan perhatian yang sama dengan utara dengan penempatan 2 seksi kanon besar Urbanus, area ini terhubung langsung dengan pelabuhan Langa dimana terdapat Pangeran Orhan yang “ditawan” sebagai sandera diplomatik.

๐Ÿ”† Lesson #2: mengukur kelebihan dan kekurangan lawan harus diiringi dengan perbandingan seksama kedua faktor tersebut atas diri sendiri; Sultan Mehmed II secara sistematis mencatat sendiri perkembangan pada ketiga area ini sebagai bahan pertimbangan taktik di pekan berikutnya.

Antara tanggal 6 dan 7 April, hari ini hingga esok, kanon Urbanus melancarkan tembakan perdana yang relatif sukses di atas ekspektasi, khususnya di area Myriandrion. Untuk pertama kalinya sebagian dinding kota di sekitar Gerbang Charisius (gambar atas) mengalami kerusakan hingga jebol ke bagian dalam. Hanya saja, pasukan Turki Utsmani belum berhasil secara sigap memanfaatkan keberhasilan ini. Kesigapan regu zeni Byzantium dalam mereparasi serta memperbaiki titik-titik runtuh tersebut cukup mencengangkan bagi Sultan Mehmed II dan ia memberikan catatan khusus tentang ini.

๐Ÿ”† Lesson #3: selalu mengukur kesigapan lawan dan menghargainya dengan memperbaiki kualitas diri, Sultan Mehmed II memberikan instruksi rahasia kepada barisan pendobrak setelah persitiwa ini, apa itu? Kita tunggu pada tulisan berikutnya..

Bagian Kedua, Latuftahanna
Menyongsong Napak Tilas Fatih, 22-31 Mei 2016
Royal Indonesia Travel

Sesudah waktu Maghrib, sebelum waktu Isya,
Jakarta, 6 April 2016
Agung Waspodo

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Orang-Orang Yang Dimurkai Allah SWT

๐Ÿ“† Rabu,  20 Rajab 1437 H / 27 April 2016 M

๐Ÿ“š MUAMALAH

๐Ÿ“ Ustadz Rikza Maulan, Lc, M.Ag

๐Ÿ“‹ Orang-Orang Yang Dimurkai Allah SWT

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šHadits:

ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุจู’ุบูŽุถู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉูŒ ู…ูู„ู’ุญูุฏูŒ ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽู…ู ูˆูŽู…ูุจู’ุชูŽุบู ูููŠ ุงู„ู’ุฅูุณู’ู„ูŽุงู…ู ุณูู†ู‘ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ูŽุฉู ูˆูŽู…ูุทู‘ูŽู„ูุจู ุฏูŽู…ู ุงู…ู’ุฑูุฆู ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุญูŽู‚ู‘ู ู„ููŠูู‡ูŽุฑููŠู‚ูŽ ุฏูŽู…ูŽู‡ู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)

Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 “Manusia yang paling dimurkai Allah adalah tiga golongan; Orang yang melakukan pelanggaran di tanah haram, orang yang mencari-cari perilaku jahiliyah padahal telah masuk Islam, dan memburu darah seseorang tanpa alasan yang dibenarkan untuk menumpahkan darahnya. (HR. Bukhari)

๐Ÿ“šHikmah Hadits :

โฃ1. Ada perbuatan2 yang sangat dibenci oleh Allah Swt, sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas, dan oleh karenanya perbuatan-perbuatan tersebut harus dihindarkan sejauh-jauhnya agar kita terhindar dari murka Allah Swt.

โฃ2. Yang pertama adalah melakukan pelanggaran atau melakukan perbuatan maksiat di tanah Haram, yaitu di dua kota suci Mekah dan Madinah.

Karena kedua kota tersebut adalah kota yang tanahnya diharamkan atau disucikan oleh Allah Swt, dan oleh karenanya melakukan perbuatan haram lebih ditekankan pengharamannya.

โฃ3. Kedua adalah melakukan perbuatan dan kebiasaan yang memiliki unsur kejahiliyahan, padahal ia telah diberi hidayah ke dalam dinul Islam.

Terutama perbuatan-perbuatan dan kebiasaan yang mengandung unsur kemusyrikan, mengandung unsur maksiat, atau membawa pada perpecahan umat.

โฃ4. Dan yang ketiga adalah, menumpahkan darah sesama muslim, saling tikam, saling menjatuhkan dan saling mencederai satu dengan yang lainnya.

Karena sesama muslim adalah bersaudara yang oleh karenanya haram saling menumpahkan darah, haram saling mencederai kehormatan dan haram saling mengambil harta satu dengan yang lainnya.

Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Dan Nabi SAW Pun Enggan Memberikan Jabatan Kepada Yang Berambisi & Mengharapkan

๐Ÿ“† Rabu, 20 Rajab 1437 H / 27 April 2016 M

๐Ÿ“š MUAMALAH

๐Ÿ“ Ustadz Rikza Maulan, Lc, M.Ag

๐Ÿ“‹ Dan Nabi SAW Pun Enggan Memberikan Jabatan Kepada Yang Berambisi & Mengharapkan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šHadits:

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู…ููˆุณูŽู‰ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฏูŽุฎูŽู„ู’ุชู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุฃูŽู†ูŽุง ูˆูŽุฑูŽุฌูู„ูŽุงู†ู ู…ูู†ู’ ู‚ูŽูˆู’ู…ููŠ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏู ุงู„ุฑูŽู‘ุฌูู„ูŽูŠู’ู†ู ุฃูŽู…ูู‘ุฑู’ู†ูŽุง ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุขุฎูŽุฑู ู…ูุซู’ู„ูŽู‡ูุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ูŽู‘ุง ู„ูŽุง ู†ููˆูŽู„ูู‘ูŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูŽู†ู’ ุณูŽุฃูŽู„ูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูŽู†ู’ ุญูŽุฑูŽุตูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ)

Dari Abu Musa ra berkata, aku menemui Nabi Saw bersama dua orang dari kaumku. Salah satu dari keduanya berkata ‘Wahai Rasulullah, jadikanlah kami pejabat (amir).’ Kemudian orang yang kedua juga mengatakan hal yang sama.

Maka Rasulullah Saw bersabda, “Kita tidak akan memberikan jabatan ini kepada orang-orang yang memintanya dan tidak juga kepada orang yang ambisi terhadapnya.” (HR. Bukhari)

๐Ÿ“šHikmah Hadits :

โฃ1. Kecenderungan manusia umumnya suka terhadap jabatan dan kedudukan.

Karena secara lahiriyah, jabatan terlihat manis dan menyenangkan, bertaburan harta dan penghormatan, serta diwarnai dengan wibawa dan kemewahan.

Maka tidak heran, terkadang demi jabatan, banyak orang yang rela melakuka apa saja, termasuk perbuatan yang tercela, haram bahkan berbau kemusyrikan.

Atau juga sekedar lobi, datang dan sowan, kepada tokoh dan panutan, atau juga melakukan pencitraan, demi mendapatkan jabatan.

โฃ2. Sementara hakikat dari jabatan itu sendiri adalah amanah yang sangat berat dari Allah Swt, yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban dalam hisab yang panjang.

Disamping juga bahwa jabatan, penuh dengan tekanan dan jebakan, bahkan intrik saling menjelekkan dan menjatuhkan, yang apabila seseorang lemah iman, ia akan terperdaya dalam perangkap syaitan.

โฃ3. Maka Nabi Saw pun enggan memberikan jabatan kepada orang yang terperdaya dengan kemilau pesonanya, ambisi terhadap gemerlapnya, atau yang tergoda bias wibawa dan kemewahannya.

Karena mungkin umumnya orang yang ambisi, punya maksud dan niatan yang tersembunyi, yang menggelapkan niatan suci, demi semata keinginan pribadi.

โฃ4. Idealnya, jabatan dipegang oleh orang yang amanah, shiddiq dan fathanah, yang hati kecilnya menolak untuk memangkunya, namun ia ‘terpaksa’ memikulnya, karena beban dan amanah untuk dakwah, bukan karena ingin hidup mewah, namun karena amanah untuk menyelamatkan ummah…

Allah Swt berfirman,

 “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab : 72)

Wallahu A’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

BAGAI KAYU YANG DISANDARKAN

๐Ÿ“† Ahad, 17 Rajab 1437H / 24 April 2016

๐Ÿ“š HIKMAH

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz A. Sahal Hasan Lc.

๐Ÿ“‹ BAGAI KAYU YANG DISANDARKAN

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

  (( ูƒูŽุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ูู…ู’ ุฎูุดูุจูŒ ู…ูุณูŽู†ูŽู‘ุฏูŽุฉูŒ )) (ุณูˆุฑุฉ ุงู„ู…ู†ุงูู‚ูˆู†: 4)

  ู„ู…ูŽ ุดูŽุจูŽู‘ู‡ูŽ ุงู„ู‚ูุฑู’ุขู†ู ุงู„ู…ูู†ูŽุงููู‚ููŠู’ู†ูŽ ุจูุงู„ู’ุฎูุดูุจู ุงู„ู’ู…ูุณูŽู†ูŽู‘ุฏูŽุฉู ุŸ

ู‚ูŽุฏู’ ุฐูŽูƒูŽุฑูŽู‡ู ุงู„ุฅูู…ูŽุงู…ู ููŽุฎู’ุฑู ุงู„ุฏูู‘ูŠู’ู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุงุฒููŠ ูููŠ ((ู…ูŽููŽุงุชููŠู’ุญู ุงู„ุบูŽูŠู’ุจู)) ูˆูŽู…ูู†ู’ ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡:

  “ู„ูุงุดู’ุชูู…ูŽุงู„ู ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ุชูŽู‘ุดู’ุจููŠู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ููŽูˆูŽุงุฆูุฏูŽ ูƒูŽุซููŠุฑูŽุฉู ู„ูŽุง ุชููˆุฌูŽุฏู ูููŠ ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุฑู.

  ุงู„ุฃููˆู’ู„ูŽู‰: ู‚ูŽุงู„ูŽ ูููŠ ยซุงู„ูƒูŽุดูŽู‘ุงูยป : ุดูุจูู‘ู‡ููˆุง ูููŠ ุงุณู’ุชูู†ูŽุงุฏูู‡ูู…ู’ – ูˆูŽู…ูŽุง ู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‘ุง ุฃูŽุฌู’ุฑูŽุงู…ูŒ ุฎูŽุงู„ููŠูŽุฉูŒ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ุฅููŠู…ูŽุงู†ู ูˆูŽุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู – ุจูุงู„ู’ุฎูุดูุจู ุงู„ู’ู…ูุณูŽู†ูŽู‘ุฏูŽุฉู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุญูŽุงุฆูุทูุŒ ูˆูŽู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุฎูŽุดูŽุจูŽ ุฅูุฐูŽุง ุงู†ู’ุชูููุนูŽ ุจูู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ุณูŽู‚ู’ูู ุฃูŽูˆู’ ุฌูุฏูŽุงุฑู ุฃูŽูˆู’ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ู…ูŽุธูŽุงู†ูู‘ ุงู„ูุงู†ู’ุชูููŽุงุนูุŒ ูˆูŽู…ูŽุง ุฏูŽุงู…ูŽ ู…ูŽุชู’ุฑููˆูƒู‹ุง ููŽุงุฑูุบู‹ุง ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ู…ูู†ู’ุชูŽููŽุนู ุจูู‡ู ุฃูุณู’ู†ูุฏูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุญูŽุงุฆูุทูุŒ ููŽุดูุจูู‘ู‡ููˆุง ุจูู‡ู ูููŠ ุนูŽุฏูŽู…ู ุงู„ูุงู†ู’ุชูููŽุงุนู ..

  ุงู„ุซูŽู‘ุงู†ููŠูŽุฉู: ุงู„ู’ุฎูุดูุจู ุงู„ู’ู…ูุณูŽู†ูŽู‘ุฏูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุตู’ู„ู ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุบูุตู’ู†ู‹ุง ุทูŽุฑููŠู‹ู‘ุง ูŠูŽุตู’ู„ูุญู ู„ูุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุดู’ูŠูŽุงุกู ุงู„ู’ู…ูู†ู’ุชูŽููŽุนู ุจูู‡ูŽุงุŒ ุซูู…ูŽู‘ ุชูŽุตููŠุฑู ุบูŽู„ููŠุธูŽุฉู‹ ูŠูŽุงุจูุณูŽุฉู‹ุŒ ูˆูŽุงู„ู’ูƒูŽุงููุฑู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู†ูŽุงููู‚ู ูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุตู’ู„ู ุตูŽุงู„ูุญู‹ุง ู„ููƒูŽุฐูŽุง ูˆูŽูƒูŽุฐูŽุงุŒ ุซูู…ูŽู‘ ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู ุนูŽู†ู’ ุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุญููŠูŽู‘ุฉู

  ุงู„ุซูŽู‘ุงู„ูุซูŽุฉู: ุงู„ู’ูƒูŽููŽุฑูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุฌูู†ู’ุณู ุงู„ู’ุฅูู†ู’ุณู ุญูŽุทูŽุจูŒุŒ ูƒูŽู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰: ุญูŽุตูŽุจู ุฌูŽู‡ูŽู†ูŽู‘ู…ูŽ ุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ู„ูŽู‡ุง ูˆุงุฑูุฏููˆู†ูŽ [ุงู„ู’ุฃูŽู†ู’ุจููŠูŽุงุกู: 98] ูˆูŽุงู„ู’ุฎูุดูุจู ุงู„ู’ู…ูุณูŽู†ูŽู‘ุฏูŽุฉู ุญูŽุทูŽุจูŒ ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง

  ุงู„ุฑูŽู‘ุงุจูุนูŽุฉู: ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุฎูุดูุจูŽ ุงู„ู’ู…ูุณูŽู†ูŽู‘ุฏูŽุฉูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุญูŽุงุฆูุทู ุฃูŽุญูŽุฏู ุทูŽุฑูŽููŽูŠู’ู‡ูŽุง ุฅูู„ูŽู‰ ุฌูู‡ูŽุฉูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุขุฎูŽุฑู ุฅูู„ูŽู‰ ุฌูู‡ูŽุฉู ุฃูุฎู’ุฑูŽู‰ุŒ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู†ูŽุงููู‚ููˆู†ูŽ ูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽุŒ ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ู…ูู†ูŽุงููู‚ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏู ุทูŽุฑูŽููŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุจูŽุงุทูู†ู ุฅูู„ูŽู‰ ุฌูู‡ูŽุฉู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ูƒููู’ุฑูุŒ ูˆูŽุงู„ุทูŽู‘ุฑูŽูู ุงู„ู’ุขุฎูŽุฑู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ุธูŽู‘ุงู‡ูุฑู ุฅูู„ูŽู‰ ุฌูู‡ูŽุฉู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุฅูุณู’ู„ูŽุงู…ู.”

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…

โฃ โ€œMereka seakan-akan kayu yang disandarkan..โ€
(QS. Al-Munafiqun: 4).

Mengapa Al-Quran mengumpamakan orang-orang munafik dengan kayu yang disandarkan?

๐Ÿ’ฆFakhruddin Al-Razi telah menyebutkan dalam tafsirnya Mafatihul Ghaib. Diantara perkataan beliau – rahimahullah :

โ€œKarena perumpaman ini mengandung faidah yang banyak yang tidak ada pada yang lain.”

โฃPertama: Berkata Az-Zamakhsyari dalam Al-Kasyaf:
โ€œDalam kebersandaran mereka, mereka diumpamakan dengan kayu yang disandarkan ke tembok (dan mereka tak lain hanyalah makhluk yang kosong dari iman dan kebaikan), karena kayu yang bermanfaat akan berada di atap, atau tembok, atau bagian bagunan lain dalam posisi yang menunjukkan manfaatnya.

Dan ketika ia dibiarkan kosong tanpa manfaat ia akan disandarkan ke dinding. Jadi diumpama kan dengannya karena tak ada manfaat..

โฃ Kedua: Kayu yang disandarkan itu asalnya adalah ranting yang lentur yang masih laik untuk dimanfaatkan, kemudian berubah menjadi keras dan kering.

Orang kafir dan munafik demikian juga, tadinya baik untuk ini dan itu lalu ia keluar dari kebaikan-kebaikan itu (kafir sesudah iman).

โฃ Ketiga: Orang-orang kafir (orang munafiq dengan kemunafikan aqidah hakikatnya kafir) adalah kayu bakar neraka.

Firman Allah: โ€œSungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah bahan bakar Jahannam. Kamu pasti masuk ke dalamnya.โ€ (QS. Al-Anbiya: 98). Dan kayu yang disandarkan dibakar juga.

โฃKeempat: Kayu yang disandarkan salah satu ujungnya bersandar ke arah tertentu (tembok), dan ujung yang lain bersandar ke arah lain (tanah).

Begitulah orang munafik, dimana salah satu sisi dirinya yakni batinnya bersandar kepada orang-orang kafir sedangkan sisi lainnya yaitu kedok lahiriahnya bersandar kepada kaum muslimin.โ€

Wallahu a’lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Kesungguhankan Berbuah Kesuksesan

๐Ÿ“† Ahad, 17 Rajab 1437H / 24 April 2016

๐Ÿ“š MOTIVASI

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

๐Ÿ“‹ Kesungguhan kan Berbuah Kesuksesan

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐ŸŒตTerus dan teruslah melaju. Orang-orang yang menjalani hidupnya dengan azamnya yang besar tak lain mereka akan berusaha semaksimal mungkin meraih apa yang ia cita-citakan meski harus berkorban dengan harta dan nyawanya sekaligus.

๐ŸŒปLajunya sulit untuk dikendalikan karena tujuannya hanya satu yakni Allah Azza wa Jalla. Tak hanya rintangan yang ringan, yang berat pun sanggup ia lalui. Bagi mereka kelelahan suatu nikmat yang tiada terkira.

๐ŸŒตMereka menyadari lelah, atau sakit yang mendera raga pun jiwa di baliknya ada surga yang abadi.
Dalam kepayahannya ia tetap merealisasikan keikhlasannya. Tak peduli hujan pun badai akan tetap jalankan amanahnya.

๐ŸŒปHanya satu keyakinannya yakni ridha Allah semata. dunia baginya sebagai ajang perlombaan. Bila tak segera bergegas pasti ia akan tergilas. Bila tak segera berburu pastilah hidupnya tak menentu.

๐ŸŒตMereka orang-orang yang mempunyai cita-cita tinggi. โ€˜Isy kariman aw mut syahidan. Lebih baik mati berkalang tanah dari pada hidup terjajah. Ini contoh semboyang para pejuang.
Orang-orang yang bertekad baja tak pernah merasa puas dengan apa yang telah dilakukannya. kerena bila mereka puas, mereka akan berhenti. Bukan berhenti, namun selalu bergerak dan bergerak terus itulah hakikat kehidupan.

๐ŸŒปIngatlah kisah para pejuang di medan laga. Mereka tak kan gentar meski ribuan musuh sudah ada di hadapan. Pantang mundur meski darah mengucur. Allahu akbar.

๐ŸŒตAmbillah ibrah dari Perang Badar. Tepatnya tanggal 17 Ramadhan, itulah kali pertama umat Islam melakukan peperangan melawan kaum kafir Quraisy. Semangat yang membara dari kaum Muslimin kala itu terlebih Rasulullah karena itu perang pertama kali.

๐ŸŒปRasulullah membawa pasukan sejumlah 300 orang. Padahal pasukankaum kafir Quraisy berjumlah 1000 orang kala itu. Jumlah yang tidak sebanding.

๐ŸŒตKisah yang sangat monumental. Bila bukan karena doa Rasulullah yang dikabulkan. Bila bukan karena Allah yang memberi kemenangan rasanya secara rasional pasukan Muslimin tak mungkin raih kemenangan.

๐ŸŒปSaat itu Rasulullah sendiri yang memimpin Perang badar. Seperti kesaksian Ahmad, Ali r.a. menceritakan, โ€œKalian tentu telah menyaksikan bagaimana kami pada saat pecahnya perang Badar. Saat itu, kami berlindung di belakang Rasulullah Saw, sedang beliau terus membawa kami mendekati musuh. Dan beliau adalah orang yang paling berani ketika itu.โ€

๐ŸŒตDengan isnad yang sama, sebuah hadis lain menuturkan, Ketika keberanian mulai memuncak pada saat perang Badar, kami terus bergerak bersama-sama Rasulullah Saw. Bahkan, beliau adalah orang yang paling berani. Terbukti, tidak ada satu pun kaum Muslimin yang paling dekat dengan musuh selain beliau.โ€

๐ŸŒปMuslim meriwayatkan: Pada perang Badar, Rasulullah Saw berkata kepada para shahabatnya, โ€œJangan ada seorang pun di antara kalian bergerak sebelum aku memberi komando.โ€ Ibnu Katsir berkata, โ€œBeliau terjun dan terlibat langsung dalam pertempuran itu dengan segenap jiwa dan raga.

๐ŸŒตDemikian halnya dengan Abu Bakar ash-Shiddiq. Oleh karena itu, keduanya tidak hanya berjuang dengan berdoa dan bermunajat kepada Allah di dalam kemah saja, tetapi juga turun ke medan pertempuran dan bertempur dengan mengerahkan segala daya dan upaya.โ€

๐ŸŒปSangat spektakuler, kerja para mujahid di medan laga. Dengan perbandingan 3:10 tak mampu menggoyahkan semangatnya untuk raih kemenangan. Mereka babat habis musuh hingga menderita kekalahan.

๐ŸŒตSemangat juang yang patut dicontoh dan menjadi teladan bagi kita semua. Kisah Badar merupakan sejarah yang akan dikenang sepanjang masa.

๐ŸŒปSiang hari dengan segenap kemampuan Rasulullah pimpin pasukan dan malam hari Rasulullah berdoa tak kenal henti. Doa yang penuh harap beliau panjatkan ke hadirat Allah.

๐ŸŒตDalam firmannya, โ€œSungguh Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu pada waktu itu dalam keadaan lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah supaya kamu mensyukurinya. Cukuplah jika kamu sabar dan siaga, dan mereka datang menyerang kamu seketika itu juga niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.

๐ŸŒปIngatlah ketika kamu mengatakan kepada orang-orang Mukmin, apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit). Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi kemenanganmu dan agar tenteram hatimu karenanya.

๐ŸŒตDan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Untuk membinasakan golongan orang-orang kafir, atau untuk menjadikan mereka itu hina, lalu mereka kembali dengan tiada memperoleh apa-apa.โ€ (Q.s. Ali โ€˜Imran [3]:123-127).

๐ŸŒปTidak ada yang tak mungkin bila Allah sudah menurunkan ketetapan-Nya. Bersama Allah kan kita raih keberhasilan.

๐ŸŒตBersama Allah kan kita raih kemenangan. Tak akan pernah kalah, nilai sebuah perjuangan. Bila menang mereka benar-benar sudah bisa mengalahkan lawannya. Namun bila mereka kalah, mereka telah bersungguh-sungguh.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Kitab Ath Thaharah (bersuci) (13) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

๐Ÿ“† Selasa,  19 Rajab 1437 H / 26 April 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu’man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹ Kitab Ath Thaharah (bersuci) (13) – Bab Al Miyah (Tentang Air)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šHadits ke 13:

ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‚ูŽุชูŽุงุฏูŽุฉูŽ – ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ – ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ู – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ู‚ูŽุงู„ูŽ -ูููŠ ุงูŽู„ู’ู‡ูุฑู‘ูŽุฉู-: – ุฅูู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ู„ูŽูŠู’ุณูŽุชู’ ุจูู†ูŽุฌูŽุณู, ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ู‡ููŠูŽ ู…ูู†ู’ ุงูŽู„ุทู‘ูŽูˆู‘ูŽุงูููŠู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ – ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽู‡ู ุงูŽู„ู’ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŽุฉู, ูˆูŽุตูŽุญู‘ูŽุญูŽู‡ู ุงูŽู„ุชู‘ูุฑู’ู…ูุฐููŠู‘ู. ูˆูŽุงุจู’ู†ู ุฎูุฒูŽูŠู’ู…ูŽุฉูŽ

                Dari Abu Qatadah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallamberkata tentang Al Hirrah (kucing): โ€œSesungguhnya kucing bukan najis, dia hanyalah hewan yang biasa beredar disekeliling kalian.โ€ Dikeluarkan oleh Al Arbaโ€™ah, dan dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.

๐Ÿ“šTakhrij Hadits:

๐Ÿ”น-          Imam At Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Ath Thaharah โ€˜An Rasulillah Bab Maa Jaโ€™a Fi Suโ€™ril Hirrah, No. 92

๐Ÿ”น-          Imam Abu Daud dalam Sunan-nya, Kitab Ath Thaharah Bab Suโ€™ril Hirrah, No. 75, 76

๐Ÿ”น-          Imam An Nasaโ€™i dalam  Sunan-nya, Kitab Ath Thaharah Bab Suโ€™ril Hirrah, No. 68, juga Kitab Al Miyah Bab Suโ€™ril Hirrah No. 340,  juga dalam As Sunan Al Kubra-nya No. 63

๐Ÿ”น-          Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitabuth Thaharah Bab Al Wudhu Bisuโ€™ril Hirrah war Rukhshah fi Dzaalik No. 367

๐Ÿ”น-          Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak-nya,Kitabuth Thaharah,  No. 567

๐Ÿ”น-          Imam Ad Daruquthni dalam Sunan-nya,Kitabuth Thaharah Bab Suโ€™ril Hirrah, 1/70

๐Ÿ”น-          Imam Ad Darimi dalam Sunan-nya, Kitabuth Thaharah Bab Al Hirrah Idza Walaghat Fil Inaaโ€™, No.  736

๐Ÿ”น-          Imam Abu Jaโ€™far Ath Thahawi dalam Syarh Maโ€™aanil Aatsar, Kitabuth Thaharah Bab Suโ€™ril Hirrah, No.  42

๐Ÿ”น-          Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Ash Shaghir,Kitab Jimaโ€™ Abwaab Ath Thaharah, No. 136

๐Ÿ”น-          Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya,Kitabul Wudhu Bab Ar Rukhshah fil Wudhu bisuโ€™ril Hirrah, No. 104

๐Ÿ”น-          Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah,Kitabuth Thaharah Bab Thaharah Suโ€™r As Sibaaโ€™ wal Hirrah Siwa Al Kalb, No. 286

๐Ÿ”น-          Dll

๐Ÿ“šStatus Hadits:

๐Ÿ”น-          Sebagaimana dikatakan Al Hafizh Ibnu Hajar, hadits ini dishahihkan oleh Imam At Tirmidzi dan Imam Ibnu Khuzaimah

๐Ÿ”น-          Imam Al Hakim mengatakan: Shahih. Beliau juga mengatakan hadits ini dishahihkan oleh Imam Malik dan dia berhujjah dengan hadits ini dalam kitabnya, Al Muwaththaโ€™. Imam Adz Dzahabi juga menshahihkan hadits ini dalam At Talkhish. (Lihat Al Mustadrak โ€˜Alash Shahihain, 1/263, No. 567. Cet. 1, 1990M-1411H. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah. Tahqiq: Syaikh Mushthafa Abdul Qadir โ€˜Atha)

๐Ÿ”น-          Syaikh Dr. Muhammad Mushthafa Al Aโ€™zhami mengatakan: isnadnya shahih.(Shahih Ibnu Khuzaimah, 1/54. Tahqiq: Dr. Muhammad Mushthafa Al Aโ€™zhami. Al Maktab Al Islami, Beirut)

๐Ÿ”น-          Imam Al Baghawi mengatakan: hasan shahih. (Syarhus Sunnah No. 286)

๐Ÿ”น-          Imam Ibnul Mulqin mengatakan: โ€œHadits ini shahih dan terkenal, diriwayatkan oleh para imam dunia.โ€ (Badrul Munir, 1/551)

๐Ÿ“šKandungan Hadits:

                Hadits ini memiliki beberapa pelajaran, di antaranya:

๐Ÿ“šKandungan Hadits:

                Hadits ini memiliki beberapa pelajaran, di antaranya:

1โƒฃ .       Tentang perawi hadits ini, yakni Abu Qatadah Radhiallahu โ€˜Anhu, siapakah dia

Syaikh Abdul Muhsin Al โ€˜Abbad Al Badr Hafizhahullah berkata:

ู‡ูˆ ุฃุจูˆ ู‚ุชุงุฏุฉ ุงู„ุญุงุฑุซ ุจู† ุฑุจุนูŠ ุงู„ุฃู†ุตุงุฑูŠ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู…ุดู‡ูˆุฑ ุจูƒู†ูŠุชู‡ ุฃุจูŠ ู‚ุชุงุฏุฉ ุŒ ูˆุงุณู…ู‡ ุงู„ุญุงุฑุซ ุจู† ุฑุจุนูŠ ุŒ ุตุญุงุจูŠ ุฌู„ูŠู„ ู…ุดู‡ูˆุฑุŒ ูˆุญุฏูŠุซู‡ ุฃุฎุฑุฌู‡ ุฃุตุญุงุจ ุงู„ูƒุชุจ ุงู„ุณุชุฉ.

๐Ÿ“ŒDia adalah Abu Qatadah Al Haarits bin Ribโ€™i Al Anshari Radhiallahu โ€˜Anhu, terkenal dengan gelar (kun-yah)nya Abu Qatadah. Namanya adalah Al Haarits bin Ribโ€™i, seorang sahabat nabi yang terkenal dan agung, hadits-haditsnya diriwayatkan oleh para penyusunKutubus Sittah.  (Syarh Sunan Abi Daud, 1/305)

Imam Adz Dzahabi Rahimahullah menceritakan (kami ringkas):

Beliau adalah Abu Qatadah Al Anshari As Salami. Nama aslinya Al Haarits bin Ribโ€™i, inilah yang benar,  ada   yang mengatakan: An Nuโ€™man, ada juga yang menyebut: โ€˜Amru. Beliau ikut perang Uhud, perjanjian Hudaibiyah, dan Khandaq.

Beliau banyak meriwayatkan hadits nabi, banyak tokoh-tokoh besar yang mengambil hadits darinya seperti Anas bin Malik, Saโ€™id bin Al Musayyib, โ€˜Atha bin Yasar, Ali bin Rabbah, Abdullah bin Rabbah Al Anshari, Abdullah bin Maโ€™bad Az Zamani, Amru bin Salim Az Zuraqi, Abu Salamah bin Abdurrahman, Maโ€™bad bin Kaโ€™ab bin Malik, anaknya Abdullah bin Abi Qatadah, dan pelayannya Naafiโ€™, dan lain-lain.

Beliau memiliki beberapa anak, yaitu Abdullah, Abdurrahman, Tsabit, โ€˜Ubaid, Ummul Banin, dan Ummu Abban. Beliau wafat di Madinah dan berusia 70 tahun pada tahun 54H. Penduduk Kufah mengatakan bahwa Beliau di shalatkan oleh Ali bin Abi Thalib Radhiallahu โ€˜Anhu. (Lihat selengkapnya Siyar Aโ€™lam An Nubala, 2/449-456. Cet. 9, 1413H-1993M. Muasasah Ar Risalah, Beirut)

2โƒฃ .       Apakah maksud bahwa kucing adalah hewan yang  Ath Thawwaafiin โ€“ุงู„ุทูˆุงููŠู†  ?

Penyebutan kucing sebagai Ath Thawwaafiin, menunjukkan kedudukannya di tengah kehidupan manusia, termasuk umat Islam.

Imam Ibnul Atsir Rahimahullah menjelaskan:

ุงู„ุทู‘ุงุฆู : ุงู„ุฎุงุฏู…ู ุงู„ุฐูŠ ูŠูŽุฎู’ุฏูู…ููƒ ุจุฑูู’ู‚ู ูˆุนู†ูŽุงูŠุฉ

๐Ÿ“ŒAth Thaa-if adalah pelayan yang melayanimu dan menolongmu dengan lembut.(Imam Ibnul Atsir, An Nihayah fi Gharibil  Atsar, 3/323. 1979M-1399H. Maktabah Al โ€˜Ilmiyah, Beirut. Lihat juga Imam Ibnul Jauzi, Gharibul Hadits, 2/43. Cet. 1, 1985M. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah, Beirut)

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah menjelaskan:

ูˆู…ุนู†ู‰ ุงู„ุทูˆุงููŠู† ุนู„ูŠู†ุง ุงู„ุฐูŠู† ูŠุฏุงุฎู„ูˆู†ู†ุง ูˆูŠุฎุงู„ุทูˆู†ู†ุง ูˆู…ู†ู‡ ู‚ูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆุฌู„ ููŠ ุงู„ุฃุทูุงู„: {ุทูŽูˆู‘ูŽุงูููˆู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุจูŽุนู’ุถููƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽุนู’ุถู} [ุงู„ู†ูˆุฑ: ู…ู† ุงู„ุขูŠุฉ58].

๐Ÿ“ŒMakna dari โ€œberputar di sekitar kitaโ€: (mereka) adalah yang masuk dan membaur dalam kehidupan kita, dan di antaranya yang seperti ini adalah firman Allah โ€˜Azza wa Jalla tentang anak-anak: (mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian  yang lain). (Imam Abu Umar bin Abdil Bar, At Tamhid, 1/319. Musasah Al Qurthubah)

Imam Al Kasymiri Rahimahullah mengatakan:

ูˆุฅู†ู…ุง ู‡ูŠ ูƒู…ุชุงุน ุงู„ุจูŠุช

๐Ÿ“ŒSesungguhnya kucing itu seperti perhiasan rumah. (Imam Al Kasymiri Al Hindi,Al โ€˜Urf Asy Syaadzi, 1/130. Cet. 1. Muasasah Dhuha. Tahqiq: Syaikh Mahmud Ahmad Syakir. Ini juga merupakan ucapan Ibnu AbbasRadhiallahu โ€˜Anhuma,  Lihat At Tamhid, 1/320)

3โƒฃ .       Hadits ini menunjukkan kesucian kucing, termasuk liurnya, dan ini merupakan salah satu kasih sayang Allah Taโ€™ala kepada umat ini. Sebab, kebersamaan mereka dengan manusia begitu erat, maka akan sulitlah jika mereka dikategorikan najis.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al โ€˜Utsaimin Rahimahullah berkata:

ูŠุนู†ูŠ ู…ู† ุงู„ุญูŠูˆุงู†ุงุช ุงู„ุชูŠ ุชุชุฑุฏ ูƒุซูŠุฑุง ุนู„ูŠูƒู… ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ู†ุฌุณุง ู„ุดู‚ ุนู„ูŠูƒู…

๐Ÿ“ŒYakni termasuk hewan yang banyak mondar mandir disekitar kalian, seandainya dia najis niscaya kalian akan menjadi sulit/payah/sempit. (Asy Syarh Al Mukhtashar โ€˜Ala Bulughil Maram, 2/35)

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah mengatakan:

ูˆููŠู‡ ุฃู† ุงู„ู‡ุฑ ู„ูŠุณ ูŠู†ุฌุณ ู…ุง ุดุฑุจ ู…ู†ู‡ ูˆุฃู† ุณุคุฑู‡ ุทุงู‡ุฑ ูˆู‡ุฐุง ู‚ูˆู„ ู…ุงู„ูƒ ูˆุฃุตุญุงุจู‡ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุฃุตุญุงุจู‡ ูˆุงู„ุฃูˆุฒุงุนูŠ ูˆุฃุจูŠ ูŠูˆุณู ุงู„ู‚ุงุถูŠ ูˆุงู„ุญุณู† ุจู† ุตุงู„ุญ ุจู† ุญูŠ

๐Ÿ“ŒPada hadits ini menunjukkan bahwa apa-apa yang diminum kucing tidaklah najis, dan air sisanya adalah suci. Inilah pendapat Malik dan   para sahabatnya, Asy Syaiโ€™i dan  para sahabatnya, Al Auzaโ€™i, Abu Yusuf Al Qadhi, Al Hasan bin Shalih bin Hay.  (At Tamhid, 1/319)

Syaikh Abul Hasan โ€˜Ubaidullah Al Mubarkafuri Rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini merupakan dalil sucinya kucing secara zat, dan liurnya bukan najis, boleh berwudhu dari sisa minumnya, dan tidak makruh berwudhu di air bekasnya, sebagaimana riwayat dari โ€˜Aisyah. Hadits ini sebagai koreksi bagi pihak yang menyatakan makruhnya berwudhu  dengan sisa air minum kucing, dengan makruh tahrimiyah atau tanzihiyah. (Mirโ€™ah Mafatih Syarh Misykah Al Mashaabih, 2/183. Cet. 3, 1404H-1984M. Al Jaamiโ€™ah As Salafiyah)

4โƒฃ .       Karena air liurnya suci, maka apakah boleh berwudhu dengannya?

Dalam hal ini ada dua pendapat secara umum:

Pertama, boleh dan ini pendapat mayoritas ulama.

Kedua, makruh dan ini pendapat Imam Abu Hanifah Rahimahullah dan pengikutnya.

Pendapat mayoritas adalah pendapat yang lebih kuat, karena dikuatkan oleh dalil lainnya. Dari โ€˜Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, Beliau berkata:

ูˆู‚ุฏ ุฑุฃูŠุช ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠุชูˆุถุฃ ุจูุถู„ู‡ุง

๐Ÿ“ŒAku telah melihat Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam berwudhu dengan air sisa kucing. (HR. Abu Jaโ€™far Ath Thahawi,  Bayan Musykilul Aatsar, No. 73)

Sementara, kalangan Hanafiyah terdahulu membela madzhabnya dengan mentakwil hadits ini, seperti yang dikatakan oleh Imam Mula Ali Al Qari Al Hanafi Rahimahullah, katanya:

ูˆู‡ุฐุง ู…ู†ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ุจูŠุงู† ุงู„ุฌูˆุงุฒ ุŒ ูู„ุง ูŠู†ุงููŠ ู…ุง ุฐูƒุฑู‡ ุนู„ู…ุงุคู†ุง ู…ู† ุฃู† ุณุคุฑู‡ ู…ูƒุฑูˆู‡ ูŠุนู†ูŠ ุงู„ุฃูˆู„ู‰ ุฃู„ุง ูŠุชูˆุถุฃ ู…ู†ู‡ ุฅู„ุง ุฅุฐุง ุนุฏู… ุบูŠุฑู‡.

๐Ÿ“ŒInilah hadits dari Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam yang menjelaskan kebolehannya, namun ini tidak menafikan apa yang disebutkan oleh ulama kami bahwa air sisanya adalah makruh, yaitu lebih utama adalah tidak berwudhu dari air tersebut, kecuali jika tidak ada air lain selain itu. (Syarh Musnad Abi Hanifah,  Hal. 258)

Namun, umumnya kalangan Hanafiyah   justru mengikuti pendapat mayoritas ulama yaitu bolehnya berwudhu dengan air sisa minumnya kucing.

Berikut ini keterangannya:

ูˆูŽูููŠ ู…ูŽุฌู’ู…ูŽุน ุงู„ู’ุจูุญูŽุงุฑ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจ ุฃูŽุจููŠ ุญูŽู†ููŠููŽุฉ ุฎูŽุงู„ูŽูููˆู‡ู ูˆูŽู‚ูŽุงู„ููˆุง ู„ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณ ุจูุงู„ู’ูˆูุถููˆุกู ุจูุณูุคู’ุฑู ุงู„ู’ู‡ูุฑู‘ูŽุฉ ูˆูŽุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู .

๐Ÿ“ŒDisebutkan dalam Majmaโ€™ Al Bihaar bahwa para sahabat (pengikut) Abu Hanifah menyelisihi pendapatnya. Mereka mengatakan: Tidak apa-apa wudhu dengan air sisa dari  kucing. Wallahu Taโ€™ala Aโ€™lam. (Hasyiyah As Suyuthi was Sindi โ€˜ala Sunan An Nasaโ€™i, 1/59. Mawqiโ€™ Al islam

Selesai. Wallahu Aโ€™lam

๐Ÿ“šTambahan: Jual Beli Kucing

               Para imam telah berbeda pendapat tentang kebolehan jual beli kucing antara yang membolehkan dan melarangnya.

                Pihak yang membolehkan, inilah pendapat Imam Ahmad, Imam Ishaq bin Rahawaih, Imam Ibnu Abdil Bar, dan lainnya. Mereka beralasan tidak ada satu pun hadits shahih yang melarang menjual kucing. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama.(Tuhfah Al Ahwadzi, 4/500)

Dari Jabir Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

 ู†ูŽู‡ูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูŽู†ู’ ุซูŽู…ูŽู†ู ุงู„ู’ูƒูŽู„ู’ุจู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽูˆู’ุฑู

๐Ÿ“Œ                โ€œRasulullah SHallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang harga dari Anjing dan Kucing.โ€ (HR. At Tirmidzi No. 1279, Abu Daud No. 3479, An Nasaโ€™i No. 4668, Ibnu Majah No. 2161, Al Hakim No. 2244, 2245, Ad Daruquthni No. 276, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 10749, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 54/4. Abu Yaโ€™la No. 2275)

                Imam At Tirmidzi mengatakan, hadits ini idhthirab (guncang), dan tidak   shahih dalam hal menjual kucing. (Lihat Sunan At Ttirmidzi No. 1279) dan Imam An Nasaโ€™i mengatakan hadits ini: munkar! (Lihat Sunan An Nasaโ€™i No. 4668)

                Syaikh Muhammad bin  Abdurrahman Al Mubarakfuri Rahimahullah mengatakan:

ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจููŠู‘ู : ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุชูŽูƒูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจูŽุนู’ุถู ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกู ูููŠ ุฅูุณู’ู†ูŽุงุฏู ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู . ูˆูŽุฒูŽุนูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุบูŽูŠู’ุฑู ุซูŽุงุจูุชู ุนูŽู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ . ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุจููˆ ุนูู…ูŽุฑูŽ ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู’ุจูŽุฑู‘ู : ุญูŽุฏููŠุซู ุจูŽูŠู’ุนู ุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽูˆู’ุฑู ู„ูŽุง ูŠูŽุซู’ุจูุชู ุฑูŽูู’ุนูู‡ู . ู‡ูŽุฐูŽุง ุขุฎูุฑู ูƒูŽู„ูŽุงู…ูู‡ู

๐Ÿ“Œ                โ€œBerkata Al Khathabi: sebagian ulama membicarakan isnad hadits ini dan mengira bahwa hadits ini tidak tsabit (shahih) dari Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. Berkata Abu Umar bin Abdil Bar: hadits tentang menjual kucing tidak ada yang shahih marfuโ€™. Inilah akhir ucapannya.โ€ (Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al Mubarakfuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 4/501. Cet. 2, 1383H-1963M. Maktabah As Salafiyah. Lihat juga Imam Abu Thayyib  Syamsul  Azhim Abadi,  โ€˜Aunul Maโ€™bud, 9/271. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah)

                Berkata Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah:

ูˆู„ูŠุณ ููŠ ุงู„ุณู†ูˆุฑ ุดูŠุก ุตุญูŠุญ ูˆู‡ูˆ ุนู„ู‰ ุฃุตู„ ุงู„ุฅุจุงุญุฉ ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚

๐Ÿ“Œ                โ€œTidak ada yang shahih sedikit pun tentang (larangan penjualan, pen) kucing, dan dia menurut hukum asalnya adalah mubah (untuk dijual). (Imam Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 8/403. Muasasah Al Qurthubah)

                Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah juga berkata ketika mengomentari hadits yang kita bahas ini:

ูˆููŠู‡ ุฅุจุงุญุฉ ุงุชุฎุงุฐ ุงู„ู‡ุฑ ูˆู…ุง ุฃุจูŠุญ ุงุชุฎุงุฐู‡ ู„ู„ุงู†ุชูุงุน ุจู‡ ุฌุงุฒ ุจูŠุนู‡ ูˆุฃูƒู„ ุซู…ู†ู‡ ุฅู„ุง ุฃู† ูŠุฎุต ุดูŠุฆุง ู…ู† ุฐู„ูƒ ุฏู„ูŠู„ ููŠุฎุฑุฌู‡ ุนู† ุฃุตู„ู‡.

๐Ÿ“Œ                Dalam hadits ini menunjukan kebolehan memanfaatkan kucing, dan apa-apa yang dipakai untuk diambil manfaatnya maka boleh untuk menjualnya dan memakan hasil penjualannya, kecuali ada sesuatu yang secara khusus menjadi dalil yang mengeluarkannya dari hukum asalnya. (Ibid, 1/319)

                Pihak yang melarang, mereka mengoreksi pendhaifan hadits yang dilakukan oleh pihak yang membolehkan.   Berikut kami sampaikan koreksi dari beberapa ulama terhadap pihak yang membolehkan.

Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

 ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ู…ูŽุง ุฐูŽูƒูŽุฑูŽู‡ู ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจููŠู‘ ูˆูŽุฃูŽุจููˆ ุนูŽู…ู’ุฑูˆ ุจู’ู† ุนูŽุจู’ุฏ ุงู„ู’ุจูŽุฑู‘ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซ ูููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุถูŽุนููŠู ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูƒูŽู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽุง ุŒ ุจูŽู„ู’ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซ ุตูŽุญููŠุญ ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ู…ูุณู’ู„ูู… ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑู‡ . ูˆูŽู‚ูŽูˆู’ู„ ุงูุจู’ู† ุนูŽุจู’ุฏ ุงู„ู’ุจูŽุฑู‘ : ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฑู’ูˆูู‡ู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุงู„ุฒู‘ูุจูŽูŠู’ุฑ ุบูŽูŠู’ุฑ ุญูŽู…ู‘ูŽุงุฏ ุจู’ู† ุณูŽู„ูŽู…ูŽุฉ ุบูŽู„ูŽุท ู…ูู†ู’ู‡ู ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง ุ› ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุณู’ู„ูู…ู‹ุง ู‚ูŽุฏู’ ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ูููŠ ุตูŽุญููŠุญู‡ ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูุฑู’ูˆูŽู‰ ู…ูู†ู’ ุฑููˆูŽุงูŠูŽุฉ ู…ูŽุนู’ู‚ูู„ ุจู’ู† ุนูุจูŽูŠู’ุฏ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุงู„ุฒู‘ูุจูŽูŠู’ุฑ ุ› ููŽู‡ูŽุฐูŽุงู†ู ุซูู‚ูŽุชูŽุงู†ู ุฑูŽูˆูŽูŠูŽุงู‡ู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุงู„ุฒู‘ูุจูŽูŠู’ุฑ ุŒ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุซูู‚ูŽุฉ ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง . ูˆูŽุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู… .

๐Ÿ“Œ                โ€œAda pun apa yang dikatakan Al Khathabi dan Ibnu Abdil Bar, bahwa hadits ini dhaif, tidaklah seperti yang dikatakan mereka berdua, bahkan hadits ini shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim dan selainnya.  Sedangkan ucapan Ibnu Abdil Bar bahwa  tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari Abu Az Zubair selain Hammad bin Salamah saja, itu merupakan pernyataan yang salah darinya juga, karena Imam Muslim telah meriwayatkan dalam Shahihnya sebagaimana diriwayatkan  dari riwayat Maโ€™qil bin Abaidillah dari Abu Az Zubair, dan keduanya adalah tsiqah, dan dua riwayat dari Az Zubair juga tsiqah  . โ€ (Imam An Nawawi, Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/420. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam. Lihat juga Imam Al Mula โ€˜Ali Al Qari, Mirqah Al Mafatih Syarh Misykah Al Mashabih, Mawqiโ€™ Ruh Al Islam. )

Berkata Syaikh Al Mubarakfuri Rahimahullah:

ู„ุง ุดูƒ ุฃู† ุงู„ุญุฏูŠุซ ุตุญูŠุญ ูุฅู† ู…ุณู„ู…ุง ุฃุฎุฑุฌู‡ ููŠ ุตุญูŠุญู‡ ูƒู…ุง ุณุชุนุฑู

๐Ÿ“Œ                โ€œTidak ragu lagi, bahwa hadits ini adalah shahih karena Imam Muslim telah mengeluarkannya dalam kitab Shahihnya sebagaimana yang akan kau ketahui.โ€ (Tuhfah Al Ahwadzi, 4/500)        

                Imam Al Mundziri Rahimahullah mengatakan:

 ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽู‡ู ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ู‡ูŽู‚ููŠู‘ู ูููŠ ุงู„ุณู‘ูู†ูŽู†ู ุงู„ู’ูƒูุจู’ุฑูŽู‰ ู…ูู†ู’ ุทูŽุฑููŠู‚ูŽูŠู’ู†ู ุนูŽู†ู’ ุนููŠุณูŽู‰ ุจู’ู†ู ูŠููˆู†ูุณูŽ ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุญูŽูู’ุตู ุจู’ู†ู ุบููŠูŽุงุซู ูƒูู„ูŽุงู‡ูู…ูŽุง ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ุฃูŽุนู’ู…ูŽุดู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุณููู’ูŠูŽุงู†ูŽ ุนูŽู†ู’ ุฌูŽุงุจูุฑู ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽู‡ู ุฃูŽุจููˆ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ ูููŠ ุงู„ุณู‘ูู†ูŽู†ู ุนูŽู†ู’ ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉู ุนูŽู†ู’ ุนููŠุณูŽู‰ ุจู’ู†ู ูŠููˆู†ูุณูŽ . ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ู‡ูŽู‚ููŠู‘ู : ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ุญูŽุฏููŠุซูŒ ุตูŽุญููŠุญูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุดูŽุฑู’ุทู ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุฏููˆู†ูŽ ุงู„ู’ุจูุฎูŽุงุฑููŠู‘ู

๐Ÿ“Œ                โ€œHadits ini dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra dari dua jalan, dari โ€˜Isa bin Yunus dan dari Hafsh bin Ghiyats, keduanya dari Al Aโ€™masy dari Abu Sufyan dari Jabir. Kemudian dia berkata: Abu Daudmengeluarkannya dalam As Sunan,  dari Jamaah dari โ€˜Isa bin Yunus. Berkata Al Baihaqi:Hadits ini shahih sesuai syarat Muslim tanpa Al Bukhari.โ€ (Tuhfah Al Ahwadzi , 4/500-501,โ€˜Aunul Maโ€™bud , 9/270)

Syaikh Al Albani Rahimahullahmenshahihkan hadits ini, menurutnya hadits ini memiliki tiga jalur yang satu sama lain saling menguatkan.  (As Silsilah Ash Shahihah, 6/1155,  No. 2971)

                Hadits Imam Muslim yang dimaksud adalah: dari Abu Az Zubair, dia berkata:

ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชู ุฌูŽุงุจูุฑู‹ุง ุนูŽู†ู’ ุซูŽู…ูŽู†ู ุงู„ู’ูƒูŽู„ู’ุจู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽูˆู’ุฑู ู‚ูŽุงู„ูŽุฒูŽุฌูŽุฑูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูŽู†ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ

๐Ÿ“Œ                Aku bertanya kepada Jabir tentang harga anjing dan kucing? Beliau berkata: โ€œRasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam melarang hal itu.โ€ (HR. Muslim No. 1569, Ibnu Hibban No. 4940)

                Hadits ini shahih. Dan, secara zhahir menunjukkan keharaman jual beli kucing, Imam An Nawawi menyebutkan:

ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉ ูˆูŽุทูŽุงูˆูุณู ูˆูŽู…ูุฌูŽุงู‡ูุฏ ูˆูŽุฌูŽุงุจูุฑ ุจู’ู† ุฒูŽูŠู’ุฏ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽุฌููˆุฒ ุจูŽูŠู’ุนู‡ ุŒ ูˆูŽุงุญู’ุชูŽุฌู‘ููˆุง ุจูุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู

๐Ÿ“Œ                Dari Abu Hurairah, Thawus, Mujahid, Jabir bin Zaid, bahwa tidak boleh menjual kucing. Mereka berhujjah dengan hadits ini. (Al Minhaj, 5/420)

                Dalam Nailul Authar, Imam Asy Syaukani mengatakan:

ูˆููŠู‡ ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุชุญุฑูŠู… ุจูŠุน ุงู„ู‡ุฑูˆุจู‡ ู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ูˆู…ุฌุงู‡ุฏ ูˆุฌุงุจุฑ ูˆุงุจู† ุฒูŠุฏ

๐Ÿ“Œ                โ€œDalam hadits ini terdapat dalil haramnya menjual kucing, inilah pendapat Abu Hurairah, Jabir, dan Ibnu Zaid.โ€ (Nailul Authar, 5/145)

Tetapi, apakah makna pelarangan ini? Apakah bermakna haram? Begitulah yang menjadi pandangan sebagian ulama. Namun sebagian lain mengartikan bahwa larangan ini menunjukkan makruh saja, yaitu makruh tanzih (makruh yang mendekati kebolehan) sebab menjual kucing bukanlah perbuatan yang menunjukan akhlak baik dan muruโ€™ah (citra diri). (Ibid)

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan;

 ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ู’ูŠ ุนูŽู†ู’ ุซูŽู…ูŽู† ุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽูˆู’ุฑ ููŽู‡ููˆูŽ ู…ูŽุญู’ู…ููˆู„ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ููŽุน ุŒ ุฃูŽูˆู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู†ูŽู‡ู’ูŠ ุชูŽู†ู’ุฒููŠู‡ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุนู’ุชูŽุงุฏ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณ ู‡ูุจูŽุชู‡ ูˆูŽุฅูุนูŽุงุฑูŽุชู‡ ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุญูŽุฉ ุจูู‡ู ูƒูŽู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุบูŽุงู„ูุจ . ููŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู…ู‘ูŽุง ูŠูŽู†ู’ููŽุน ูˆูŽุจูŽุงุนูŽู‡ู ุตูŽุญู‘ูŽ ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุน ุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุซูŽู…ูŽู†ู‡ ุญูŽู„ูŽุงู„ู‹ุง ู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจู†ูŽุง ูˆูŽู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจ ุงู„ู’ุนูู„ูŽู…ูŽุงุก ูƒูŽุงูู‘ูŽุฉ ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูŽุง ุญูŽูƒูŽู‰ ุงูุจู’ู† ุงู„ู’ู…ูู†ู’ุฐูุฑ . ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉ ูˆูŽุทูŽุงูˆูุณู ูˆูŽู…ูุฌูŽุงู‡ูุฏ ูˆูŽุฌูŽุงุจูุฑ ุจู’ู† ุฒูŽูŠู’ุฏ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽุฌููˆุฒ ุจูŽูŠู’ุนู‡ ุŒ ูˆูŽุงุญู’ุชูŽุฌู‘ููˆุง ุจูุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู . ูˆูŽุฃูŽุฌูŽุงุจูŽ ุงู„ู’ุฌูู…ู’ู‡ููˆุฑ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุจูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽุญู’ู…ููˆู„ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ุฐูŽูƒูŽุฑู’ู†ูŽุงู‡ู ุŒ ููŽู‡ูŽุฐูŽุง ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุจ ุงู„ู’ู…ูุนู’ุชูŽู…ูŽุฏ .

๐Ÿ“Œโ€œAda pun tentang larangan  harga kucing (larangan menjualnya, pen), hal itu dimungkinkan karena hal itu tidak bermanfaat, atau larangannya adalah tanzih (mendekati boleh), sehingga manusia ada yang memberinya tempat yang luas, mencedarainya, menelantarkannya, dan bermurah hati, sebagaimana yang biasa terjadi. Jika dia termasuk yang membawa manfaat maka menjualnya adalah penjualan yang sah dan harganya adalah halal. Inilah pendapat madzhab kami dan madzhab semua ulama kecuali apa yang diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir. Bahwa dari Abu Hurairah, Thawus, Mujahid, Jabir bin Zaid, mereka tidak membolehkan menjualnya, mereka berhujjah dengan hadits tersebeut. Jumhur menjawabhujjah ini bahwa hadits tersebut maknanya sebagaimana yang kami sebutkan, dan ini adalah jawaban yang dapat dijadikan pegangan.โ€ (Al Minhaj, 5/420. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam)

Demikian. Wa Shallallahu โ€˜Ala Nabiyyina Muhammadin wa โ€˜Ala Aalhihi wa Ashhabihi Ajmain.

Wallahu Aโ€™lam
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…