Mengajsr Al Quran Ketika Haid

✏Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S
🌿🌺🍁🌻🌼🌸🍀🌷🌹
Pertanyaan:
Jika seorang perempuan menjadi guru mengaji quran setiap hari.. pas kebetulan menstruasi. Jadi yang ingin saya tanyakan Apakah bisa kita terus mengajar mengaji dengan keadaan mens ? 
Apabila diri kita menstruasi, apa boleh ikut belajar tahfidz Qur’an atau memegang Al Qur’an untuk menghafal?
[A15_Korma 3]
—————-
Jawaban:
Dalam pertanyaan diatas, perlu diketahui berhadats besar yaitu hadats yang disucikannya dengan ghusl (mandi), atau istilah lainnya di negeri kita adalah mandi junub, mandi wajib, dan mandi besar. Yang termasuk ini adalah wanita haid, nifas, dan orang junub (baik karena jima’ atau mimpi basah yang dibarengi syahwat).
Pada bagian ini terjadi khilaf (perselisihan) pendapat di antara ulama Islam, antara yang mengharamkan dan membolehkan.
🌿Para Ulama Yang Mengharamkan dan Alasannya Mereka yang mengharamkan beralasan dengan beberapa dalil berikut:Hadits dari Ali bin Abi ThalibRadhiallahu ‘Anhu, katanya:أنه لا يحجزه شيء عن القرأءة إلا الجنابة              
  “Bahwasanya tidak ada suatu pun yang menghalanginya dari membaca Al Quran kecuali junub.” (HR. Ibnu Majah No. 594) Hadits lain dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:لاتقرأ الحائض ولا الجنب شيئا من القرآن          
  “Janganlah wanita haid dan orang junub membaca sesuatu pun dari Al Quran.” (HR. At Tirmidzi No. 131, Al Baihaqi dalam Sunannya No. 1375, katanya: laisa bi qawwi – hadits ini tidak kuat. Ad Daruquthni,  Bab Fin Nahyi Lil Junub wal Haa-id ‘An Qira’atil Quran,No. 1) 
🌿Para Ulama Yang Membolehkan dan Alasannya Menurut ulama lain, sama sekali tidak ada larangan yang qath’i (pasti) dalam Al Quran dan As Sunnah bagi orang yang berhadats besar untuk membaca Al Quran. Ada pun dalil-dalil yang dikemukakan di atas bukanlah larangan membaca Al Quran, tetapi larangan menyentuh Al Quran. Tentunya, membaca dan menyentuh adalah dua aktifitas yang berbeda. Inilah pendapat yang lebih kuat, dan memang begitulah adanya, menurut mereka bahwa nash-nash yang dibawakan oleh kelompok yang melarang tidaklah relevan. Wallahu A’lamTetapi, ada yang merinci: wanita  HAID dan  NIFAS adalah  BOLEH, sedangkan  JUNUB adalah TIDAK BOLEH.Syaikh Abdul Aziz bin BazRahimahullah mengatakan –dan ini adalah jawaban beliau yang memuaskan dan sangat bagus:لا حرج أن تقرأ الحائض والنفساء الأدعية المكتوبة في مناسك الحج ولا بأس أن تقرأ القرآن على الصحيح أيضاً لأنه لم يرد نص صحيح صريح يمنع الحائض والنفساء من قراءة القرآن إنما ورد في الجنب خاصة بأن لا يقرأ القرآن وهو جنب لحديث على رضي الله عنه وأرضاه أما الحائض والنفساء فورد فيهما حديث ابن عمر { لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئاً من القرآن } ولكنه ضعيف لأن الحديث من رواية اسماعيل بن عياش عن الحجازيين وهو ضعيف في روايته عنهم ، ولكنها تقرأ بدون مس المصحف عن ظهر قلب أما الجنب فلا يجوز له أن يقرأ القرآن لا عن ظهر قلب ولا من المصحف حتى يغتسل والفرق بينهما أن الجنب وقته يسير وفي إمكانه أن يغتسل في الحال من حين يفرغ من اتيانه أهله فمدته لا تطول والأمر في يده متى شاء اغتسل وإن عجز عن الماء تيمم وصلى وقرأ أما الحائض والنفساء فليس بيدهما وإنما هو بيد الله عز وجل ، فمتى طهرت من حيضها أو نفاسها اغتسلت ، والحيض يحتاج إلى أيام والنفاس كذلك ، ولهذا أبيح لهما قراءة القرآن لئلا تنسيانه ولئلا يفوتهما فضل القرأءة وتعلم الأحكام الشرعية من كتاب الله فمن باب أولى أن تقرأ الكتب التي فيها الأدعية المخلوطة من الأحاديث والآيات إلى غير ذلك هذا هو الصواب وهو أصح قولى العلماء رحمهم الله في ذلك . 
 “Tidak mengapa bagi wanita haid dan nifas membaca doa-doa manasik haji, begitu pula dibolehkan membaca Al Quran menurut pendapat yang benar. Lantaran tidak adanya nash yang shahih dan jelas yang melarang wanita haid dan nifas membaca Al Quran, yang ada hanyalah larangan secara khusus bagi orang yang junub sebagaimana hadits dari Ali – semoga Allah meridhainya dan dia  ridha padaNya. Sedangkan untuk haid dan nifas, terdapat hadits dari Ibnu Umar: “Janganlah wanita haid dan orang junub membaca apa pun dari Al Quran,” tetapi  hadits ini dhaif (lemah), lantaran hadits yang diriwayatkan oleh Ismail bin ‘Iyash dari penduduk Hijaz adalah tergolong hadits  dhaif. Tetapi membacanya dengan tidak menyentuh mushaf bagian isinya. Ada pun orang junub, tidaklah boleh membaca Al Quran, baik dari isinya atau dari mushaf, sampai dia mandi.  Perbedaan antara keduanya adalah, karena sesungguhnya junub itu waktunya sedikit, dia mampu untuk  mandi sejak selesai berhubungan dengan isterinya dan waktunya tidaklah lama, dan urusan ini ada di bawah kendalinya kapan pun dia mau mandi. Jika dia lemah kena air dia bisa tayamum, lalu shalat dan membaca Al Quran. Sedangkan haid dan nifas,  dia tidak bisa mengendalikan waktunya karena keduanya adalah kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla, ketika sudah suci dari haid dan nifasnya maka  dia baru mandi. Haid membutuhkan waktu berhari-hari begitu pula nifas, oleh karena itu dibolehkan bagi keduanya untuk membaca Al Quran agar dia tidak lupa terhadapnya, dan tidak luput darinya keutamaan membacanya, dan mengkaji hukum-hukum syariat dari kitabullah. Maka, diantara permasalahan yang lebih utama dia baca adalah buku-buku yang didalamnya terdapat doa-doa dari hadits dan ayat-ayat, dan selainnya. Inilah pendapat yang benar di antara dua pendapat ulama –rahimahumullah-tentang hal ini. (Fatawa Islamiyah,  4/27. Disusun oleh Muhammad bin Abdul Aziz Al Musnid) 
🌿Berkata Syaikh Al Albani Rahimahullah:فسقط الاستدلال بالحديث على التحريم ووجب الرجوع إلى الأصل وهو الإباحة وهو مذهب داود وأصحابه واحتج له ابن حزم ( 1 / 77 – 80 ) ورواه عن ابن عباس وسعيد بن المسيب وسعيد بن جبير وإسناده عن هذا جيد رواه عنه حماد بن أبي سليمان قال : سألت سعيد بن جبير عن الجنب يقرأ ؟ فلم يربه بأسا وقال : أليس في جوفه القرآن ؟ 
“Maka gugurlah pendalilan dengan hadits tersebut tentang keharamannya, dan wajib kembali kepada hukum asal, yakni boleh. Inilah madzhab Daud dan sahabat-sahabatnya, Ibnu Hazm berhujah dengannya (1/77-80). Ini juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Said bin Al Musayyib, Said bin Jubeir, dan sanadnya tentang ini jayyid (baik). Telah diriwayatkan dari Hammad bin Abi Sulaiman, dia berkata: “Aku bertanya kepada Said bin Jubeir tentang orang junub yang membaca Al Quran, dia memandangnya tidak apa-apa, dan berkata; “Bukankah Al Quran juga berada di rongga  hatinya?” (Tamamul Minnah, Hal. 117) 
🌿Begitu pula Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah, dia berkata:يجوز للحائض أن تقرأ القرآن للحاجة، مثل أن تكون معلمة، فتقرأ القرآن للتعليم، أو تكون طالبة فتقرأ القرآن للتعلم، أو تكون تعلم أولادها الصغار أو الكبار، فترد عليهم وتقرأ الآية قبلهم. المهم إذا دعت الحاجة إلى قراءة القرآن للمرأة الحائض، فإنه يجوز ولا حرج عليها، وكذلك لو كانت تخشى أن تنساه فصارت تقرؤه تذكراً، فإنه لا حرج عليها ولو كانت حائضاً، على أن بعض أهل العلم قال: إنه يجوز للمرأة الحائض أن تقرأ القرآن مطلقاً بلا حاجة.وقال آخرون: إنه يحرم عليها أن تقرأ القرآن ولو كان لحاجة.فالأقوال ثلاثة والذي ينبغي أن يقال هو: أنه إذا احتاجت إلى قراءة القرآن لتعليمه أو تعلمه أو خوف نسيانه، فإنه لا حرج عليها.
“Dibolehkan bagi wanita haid untuk membaca Al Quran jika ada keperluan, misal jika dia seorang guru, dia membaca Al Quran untuk pengajaran, atau dia seorang pelajar dia membacanya untuk belajar, atau untuk mengajar anak-anaknya yang masih kecil atau besar, dia menyampaikan dan membacakan ayat di depan mereka. Yang penting adalah jika ada kebutuhan bagi wanita untuk  membaca Al Quran, maka itu boleh dan tidak mengapa. Begitu pula jika dia khawatir lupa maka membacanya merupakan upaya untuk mengingatkan, maka itu tidak mengapa walau pun dia haid. Sebagian ulama mengatakan: sesungguhnya boleh bagi wanita haid membaca Al Quran secara mutlak walau tanpa kebutuhan.                
Jadi, tentang “Orang Berhadats Besar Membaca Al Quran” bisa kita simpulkan: 
🍀 Haram secara mutlak, baik itu Haid, Nifas, dan Junub. Inilah pandangan mayoritas ulama, sejak zaman sahabat seperti Umar, Ali,  Jabir,  hingga tabi’in seperti Az Zuhri, Al Hasan, An Nakha’i , Qatadah, dan generasi berikutnya, seperti Sufyan Ats Tsauri, Ibnul Mubarak, Ahmad bin Hambal, Asy Syafi’i, dan Ishaq.
🍀 Haid dan Nifas adalah boleh, sedangkan junub tidak boleh. Ini pendapat Al Qadhi ‘Iyadh dan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.
🍀 Boleh jika ada kebutuhan seperti untuk mengajar, belajar, atau untuk menjaga hapalan. Ini pendapat Imam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin. 
🍀Boleh secara mutlak, baik untuk Haid, Nifas, dan Junub.  Ini pendapat Ibnu Abbas, Said bin Al Musayyib, Said bin Jubeir, Bukhari, Thabarani, Daud,  Ibnu Hazm, Ibnul Mundzir, Asy Syaukani, dan lainnya. Selesai.
[http://kumpulanartikelsyariah.blogspot.ae/2014/02/apakah-orang-haid-nifas-dan-junub-boleh.html?m=1] is good,have a look at it! 
🌿🌺🍁🌻🌼🌸🍀🌷🌹
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
💼Sebarkan! Raih bahagia…

Menjadian Emas Sebagai Jaminan

✏ Ustadz Rikza Maulana Lc.M.Ag

🍀🍂🌷🌸🌺🌹🍄🍀      

Assalamuallaikum.
___________________
Pertanyaan nya. Bolehkah  menjadikan emas sebagai jaminan / gadai? Ilustrasinya di daerah saya yang selama ini berlaku
” bapak fulan memiliki sebidang tanah / sawah, ketika ia punya kebutuhan uang pak fulan menggadaikan tanahnya itu pada ibu fulanah.
Ibu fulanah menyerahkan emas seberat yang disepakati, biasanya pak fulan menjual emas tersebut atau memakainya sesuai kebutuhan.
Ibu fulanah menerima dan mengelola tanah / sawah tersebut dan hasilnya untuk dirinya sendiri, sampai pak fulan punya emas seberat waktu transaksi. Jika pak fulan belum bisa membeli dan mengembalikan emas tersebut maka selama itupun bu fulanah memiliki tanah pak fulan.
Mohon penjelasan atas perkara ini. Jazakumullah
🅰0⃣8⃣                                  
___________________
Jawaban nya.        
Waalaikumsalam wr wb
Memanfaatkan hasil dari barang yg digadaikan adalah riba, termasuk memanfaatkan hasil panen. Karena pada hakekatnya, sawah itu adalah milik Pak Haji Fulan. Dan sawah tersebut hanya sebagai barang jaminan yang tidak berpindah kepemilikannya kepada bu hajjah fulanah. Jadi, tidak boleh dimanfaatkan oleh pemberi pinjaman. Adapun hutang emas boleh saja, dengan ketentuan hutang emas dibayar emas, sama seperti kadar emas yg dipinjamnya.
Wallahu A’lam

🌺🍀🌻🍁🍄🌷🌸🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia..

Seputar Zakat Profesi

✏Ustadzah Ida Faridah, S.Pd.I

🌿🌺🍁🌸🍄🌻🍀🌷🌹

Assalaamu ‘alaikum wrwb…
Mohon materi pencerahan tentang zakat profesi.
Syukron bapak/ibu ustadz/ustadzah..

[A13] ——

JAWABAN:

Zakat profesi termasuk zakat mal, yaitu al-mal al-mustafaad (kekayaan yg d peroleh oleh seorang muslim melalu bentuk usaha baru yang sesuai dengan syari’at islam). Adapun profesi baru yang d maksud adalah dokter, insinyur, dan pengacara. Para ulama sepakat bahwa harta pendapatan wajib di keluarkan zakatnya apabila mencapai batas nisab. Adapun nisabnya sama dengan nisab uang, dengan kadar zakat 2,5%

Dalam harta profesi ini, para ulama berbeda pendapat dalam hasil pendapatan.

✒Abu Hanifah mengatakan, harta pendapatan itu di keluarkan zakatnya apabila mencapai masa setahun penuh kecuali jika pemiliknya mempunyai harta sejenis. Untuk itu harta penghasilan di keluarkan pada permulaan tahun dengan syarat sudah mencapai batas nisab

✒Imam Malik berpendapat bahwa zakat dari harta penghasilan tidak di keluarkan sampai satu tahun penuh, baik harta itu sejenis dengan harta pemiliknya atau tidak sejenis.

✒Imam Syafe’i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa zakat dari harta penghasilan itu di keluarkan bila mencapai waktu satu tahaun meskipun ia memiliki harta sejenis yang sudah cukup nisab.

🌿🌺🍁🌸🍄🌻🌼🌷🌹

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…

Benatkah Ada Jin yang Menyukai Manusia?

✏Ustadz Dr.Wido Supraha

🌿🌺🍁🌻🌼🍀🌸🌷🌹

Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum wr.wb
Saya mau tanya ustadz,Apakah benar bahwa ada jin yang menyukai manusia ?
jin yang menyukai manusia akan selalu menghalangi dalam hal jodoh ?
dan tanda-tandanya
Yaitu merasa pusing ktika masuk waktu asar ke atas
Serta merasa tertindih saat tidur tidak bisa bergerak.
Sering merasa lemas padahal tidak melakukan kegiatan apa-apa.
dan ada beberapa tanda lainya..

Lalu.. Bagaimana cara menghilangkan rasa suka jin terhadap manusia?
Manis-A22
—————–Jawaban:

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,

Ibu, kemungkinan jin menyukai manusia tentu bisa saja terjadi, bahkan terjadi pernikahan antara jin dan manusia telah terjadi dalam rentang sejarah sejak dahulu hingga hari ini.
Adapun jodoh adalah ketetapan dari Allah Swt., maka hendaknya seseorang dapat pro-aktif mencari jodohnya dengan berbagai cara yang disyariatkan dan bernilai mulia.

Di sisi lain, hendaknya manusia sentiasa menjaga dirinya dari gangguan jin yang jahat atau syaithon agar Allah Swt memudahkan seluruh urusannya. Untuk menjaga diri dari gangguan jin dan syaithan, hendaknya kita sentiasa membaguskan kualitas tauhid kita, dan memperbaharui konsep dasar-dasar keimanan kita. Ini adalah pondasi paling asasi.
Berikutnya hendaknya sentiasa meminta perlindungan Allah Swt dengan merutinkan wirid-wirid al-ma’tsurat baik di pagi dan petang hari. Ini menjadi agenda harian kita.

Adapun jika betul-betul nantinya membutuhkan bantuan dari pihak ketiga dapat menghubungi ustadz/ah terdekat.

Semoga Allah Swt melindungi kita dari bisikan, gangguan dan kejahatan syaithan. Perlakukanlah syaithan sebagai musuh, jangan pernah kita takuti.

Wallaahu a’lam,
supraha.com
qudwatuna.com

🌿🌺🍁🌻🌼🍀🌸🌹🌷

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

💼Sebarkan! Raih bahagia…

Larangan Talaqqi Ruqban (Mencegat Kafilah Dagang)

📆 Rabu,  7 Jumadil Akhir 1437H / 16 Maret 2016
📚 Muamalah
📝 Ustadz Rikza Maulan, Lc,. M.Ag
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁 
باب النهي عن تلقي الركبان
📚Hadits #1
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ تَلَقَِّيَ الْبُيُوْعِ (متفق عليه)
Dari Ibnu Mas’ud ra berkata, bahwa Rasulullah SAW melarang menghadang kafilah dagang (di tengah perjalanan untuk membeli barang dagangannya).’ 
(Muttafaqun Alaih)
📚Hadits #2
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُتَلَقَّى الْجَلَبُ فَإِنْ تَلَقَّاهُ إِنْسَانٌ فَابْتَاعَهُ فَصَاحِبُ السِّلْعَةِ فِيهَا بِالْخِيَارِ إِذَا وَرَدَ السُّوقَ (رواه الجماعة إلا البخاري، وفيه دليل على صحة البيع)
Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Nabi SAW melarang menghadang barang dagangan. Maka jika seseorang menghadangnya lalu membeli barang dagangan darinya, maka jika pemilik barang itu tiba di pasar, dia boleh memilih antara membatalkan jual beli tersebut atau melanjutkan nya.’ 
(HR. Jamaah, kecuali Imam Bukhari. Hadits ini merupakan dalil sahnya jual beli tersebut).
📚Takhrij Hadits
🔹Hadits pertama, dari Ibnu Mas’ud ra diriwayatkan oleh :
Imam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyu’ Bab An-Nahyi an Talaqqi Rukban wa Anna Bai’ahu Mardud, Hadits no 2019.
Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyu’, Bab Tahrim Talaqqi Al-Jalbi, Hadits no 2794.
🔹Sedangkan hadits kedua, dari Abu Hurairah ra diriwayatkan oleh :
Imam Muslim dalam Shahihnya Kitab Al-Buyu’, Bab Tahrim Talaqqi Al-Jalbi, hadits no 2795.
Imam Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’ an Rasulillah SAW, Bab Ma Ja’a fi Karahiyati Talaqqi Al-Buyu’, hadits no 1142.
Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab fi At-Talaqqi, hadits no 2980.
📚Makna Umum
Secara umum, hadits di atas menggambarkan tentang larangan menghadang kafilah dagang, dalam artian menghadang atau mencegat kafilah dagang yang akan menjual barang dagangan mereka ke pasar, untuk membeli barang-barang dagangannya, sebelum mereka sampai di pasar.
Larangan dalam hadits di atas, sesungguhnya di satu sisi dimaksudkan untuk melindungi kepentingan para kafilah dagang tersebut, yaitu supaya kafilah dagang sampai di pasar, dan mengetahui berapa harga pasar, lalu mereka menjualnya atas dasar harga dari keridhaan mereka. 
Dan di sisi lain menjaga kepentingan masyarakat, agar tetap bisa mendapatkan barang yang mereka butuhkan.
Penghadangan atau pencegatan kafilah dagang tersebut dapat merugikan para pedagang, karena berpotensi terjadinya manipulasi harga barang dari pembeli, karena pedagang belum mengetahui berapa harga barang yang sesungguhnya di pasaran.
📚Makna Talaqqi Rukban
Secara bahasa, talaqqi rukban ( تلقي الركبان ) terdiri dari dua kata yaitu :
( تلقي ) 
yang arti dasarnya adalah menemui, yaitu menemui di pertengahan jalan. Dan dalam konteks hadits ini adalah menghadang atau mencegat.
( الركبان ) secara bahasa
 artinya orang yang berkendaraan. 
Dan yang dimaksudkan adalah para pedagang yang berkendaraan. Karena umumnya pedagang membawa dagangan adalah dengan menggunakan kendaraan.
🔺Sedangkan maknanya secara istilah adalah, menemui atau menghadang rombongan kafilah dagang yang hendak berdagang menuju pasar membawa barang dagangannya, dengan maksud untuk membeli barang dagangan mereka, sebelum sampai ke pasar dan atau sebelum mereka mengetahui harga pasar.
📚Hukum Talaqqi Rukban
Ulama berbeda pendapat, perihal hukum talaqqi rukban :
💦Imam Syaukani mengemukakan bahwa hukum talaqqi rukban, yaitu mencegat kafilah dagang untuk membeli barang dagangan mereka sebelum mereka sampai ke pasar dan mengetahui harga pasar, adalah haram.
💦Sedangkan Abu Hanifah berpendapat bahwa talaqqi rukban hukumnya boleh dan menjadi makruh, apabila :
🔹Merugikan penduduk (masyarakat) yang menjadi tujuan para kafilah dagang.
🔹Informasi tentang harga pasar menjadi samar dan tidak jelas, sehingga pedagang tidak mengetahui berapa harga pasarnya.
💡Kesimpulannya adalah, bahwa hukum talaqqi rukban yang mengakibatkan kerugian bagi penjual (kafilah dagang), adalah haram, tidak diperbolehkan. 
Kecuali apabila pedagang mengetahui dengan pasti harga pasar, dan ia menjual dengan keridhaannya atas dasar harga pasar yang diketahuinya.
📚Dampak Talaqqi Rukban Pada Jual Beli
🔹Bersambung🔹
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com
💼 Sebarkan! Raih pahala…

Dalil Haramnya Memilih Pemimpin Non Muslim

✏Ustadz Dr. Wido Supraha

🌿🌺🍁🌸🍄🌻🍀🌷🌹
Assalaamu ‘alaikum Wr.Wb.
Mohon materi pencerahan tentang hukum haramnya memilih pemimpin non muslim.
Syukron bapak/ibu ustadz/ustadzah..
[MaNis_A13]
Jawaban:
Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,
Sehubungan dengan pertanyaan Ibu, silahkan dapat mendownload karya ilmiah Dr. Syamsuddin Arif (Direktur INSISTS) dalam link berikut ini: http://is.gd/VZHKNJ
Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Wassalam,
supraha.com
qudwatuna.com
🌿🌺🍁🌸🍄🌻🍀🌷🌹
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
💼Sebarkan! Raih bahagia…

Memanggil Istri dengan Sebutan “Ummi” Termasuk Zihar?

✏Ustadz Dr.Wido Supraha
🌿🌺🍁🌸🍄🌻🍀🌷🌹
Assalamu’alaikum Ustadz. Ada pertanyaan dari Niha khomsi #A 29
Temanku memberitahu tafsir Qs. 58 ayat 2- 4… kata nya termasuk memanggil istri dengan kata ibu, ummi, emak dll sama dengan zihar di ayat tersebut.
Jawaban:
Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,
Allah Swt berfirman,
وَٱلَّذِينَ يُظَـٰهِرُونَ مِن نِّسَآٮِٕہِمۡ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُواْ فَتَحۡرِيرُ رَقَبَةٍ۬ مِّن قَبۡلِ أَن يَتَمَآسَّا‌ۚ ذَٲلِكُمۡ تُوعَظُونَ بِهِۦ‌ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٌ۬
“Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka [wajib atasnya] memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadilah/58:2)
Al Imam Ibn Jarir ath-Thabari menjelaskan dalam tafsirnya, bahwa maksudnya adalah orang yang mengharamkan istrinya untuk dirinya, sebagaimana Allah mengharamkan punggung ibu mereka untuk mereka, sehingga mereka mengatakan kepada istri mereka, “Kamu bagiku bagaikan punggung ibuku!”, dan ini adalah bentuk thalaq pada masa Jahiliyah.
Untuk lebih memahami persoalan ini, Al Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya memasukkan satu riwayat dari Imam Ahmad dengan sanad sampai kepada Khaulah binti Tsa’labah r.a., yang mengalami ‘thalaq’ dari suaminya yang marah kepadanya saat Khaulah r.a. tidak mau melayaninya, sehingga Khaulah r.a. pergi menemui Rasulullah Saw., dan turun ayat 1-4 dari Surat Al-Mujadilah, dan mewajibkan kepada suami Khaulah r.a. untuk membayar kafarat. Inilah kisah seorang wanita yang aduannya didengar Allah Swt.
Dari kisah di atas dapat kita ambil key-term, istilah-kunci-nya adalah niatan menthalaq di atas kemarahan yang memuncak.
Pertanyaan Ibu adalah bagaimana jika seorang suami yang justru memanggil suaminya dengan kasih sayang: ‘ummi’, maka ini tidak memenuhi syarat thalaq di atas, namun tentu ini bukan kebiasaan Nabi Saw., maka hendaknya suami dapat memanggil dengan nama atau panggilan tersayang lainnya.
Wallahu a’lam,
Wassalam,
supraha.com
qudwatuna.com
🌿🌺🍁🍀🌸🍄🌻🌷🌹
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
💼Sebarkan! Raih bahagia…

Bagaimana Hubungan Alam Kubur dengan Alam Dunia?

✏Ustadz Dr.Wido Supraha

🌿🌺🌸🍄🌻🍀🌼🌷🌹
Pertanyaan:
Assalamualaikum..
1. Mau tanya, gimana caranya menasihati teman non muslim yang hobi bergunjing? Karena dia yg paling rame, sangat mendominasi pembicaraan saat ngumpul, dan karakternya sangat sensitif.
-🅰1⃣3⃣-
2. Bagaimana hubungan alam kubur dengan alam dunia. Apakah orang yang sudah meninggal masih dapat menyaksikan keluarganya yang masih hidup. Terima kasih.
A12
Jawaban:
Wassalamu ‘alaikum warahmatullah,
1. Bergunjing adalah perbuatan buruk, tanpa melihat latar belakang apakah seseorang itu muslim ataupun non-Muslim. Tentunya yang dapat kita lakukan adalah mengingatkan dengan bijak penuh hikmah dan disampaikan dengan penuh kasih sayang. Peringatan kepada manusia untuk bergunjing ada dalam Kitab Injil dengan redaksi yang cukup banyak, maka hendaknya jika mereka mengaku sebagai pencinta Nabi Isa a.s., maka ikutilah ajarannya untuk tidak bergunjing, karena kaum Muslimin akan sentiasa menjaga lisannya dari bergunjing sebagaimana Nabi Isa a.s., dan penutup para Nabi, Nabi Muhammad Saw.
2. Pertanyaan ini termasuk pertanyaan keghaiban. Dalam beberapa nash yang shahih, dimungkinkan ruh seseorang yang telah wafat bertemu dengan keluarganya melalui mimpi dalam sebagian pendapat terhadap firman Allah Swt.,
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) ruh (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah ruh (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan ruh yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Az-Zumar : 42)
Ruh seseorang juga dalam beberapa kehendak Allah (belum tentu berlaku umum) dapat mendengar dan mengetahui keluarganya, namun tidak bisa menjawab, sebagaimana sabda Nabi Saw.,
أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ وَهُوَ ابْنُ الْمُغِيرَةِ قَالَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كُنَّا مَعَ عُمَرَ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ أَخَذَ يُحَدِّثُنَا عَنْ أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُرِينَا مَصَارِعَهُمْ بِالْأَمْسِ قَالَ هَذَا مَصْرَعُ فُلَانٍ إِنْ شَاءَ اللَّهُ غَدًا قَالَ عُمَرُ وَالَّذِي بَعَثَهُ بِالْحَقِّ مَا أَخْطَئُوا تِيكَ فَجُعِلُوا فِي بِئْرٍ فَأَتَاهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَادَى يَا فُلَانُ بْنَ فُلَانٍ يَا فُلَانُ بْنَ فُلَانٍ هَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا فَإِنِّي وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِي اللَّهُ حَقًّا فَقَالَ عُمَرُ تُكَلِّمُ أَجْسَادًا لَا أَرْوَاحَ فِيهَا فَقَالَ مَا أَنْتُمْ بِأَسْمَعَ لِمَا أَقُولُ مِنْهُمْ
Telah mengabarkan kepada kami [‘Amru bin ‘Ali] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Yahya] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Al Mughirah] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Tsabit] dari [Anas] dia berkata; “Kami pernah bersama [Umar] berada di antara Mekkah dan Madinah, ia segera bercerita kepada kami tentang orang-orang yang meninggal dunia pada perang Badar. Lalu ia berkata; ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar memperlihatkan kepada kami tempat terbunuh mereka kemarin, beliau bersabda: ‘Ini adalah tempat terbunuh si fulan – insya Allah – besok.’ Umar berkata; ‘Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, apa kesalahan mereka itu sehingga di masukkan ke dalam sumur?. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi mereka seraya memenggil, ‘Wahai fulan bin fulan, Wahai fulan bin fulan, Apakah kalian benar-benar mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Rabb kalian? Sungguh benar-benar aku telah mendapatkan yang dijanjikan Allah kepadaku.’ Umar lalu berkata; ‘Engkau berbicara dengan jasad yang tidak ada ruhnya? ‘ maka beliau bersabda: ‘Kalian tidak lebih mendengar dari mereka terhadap apa yang ku katakan’.” (HR. Bukhari No. 2047)
Namun begitu, para ulama menasihati kita untuk tidak terlalu detail membahas persoalan ghaib ini, membahas persoalan satu alam dimana ruh seorang manusia berada antara dua kemungkinan, kenikmatan ataupun adzab kubur. Mari kita lebih fokuskan pada upaya kita meraih kenikmatan hidup di alam kubur dalam masa transisi menuju Yaumul Qiyamah, dan meraih kebahagiaan hakiki di Jannah. Amiin.
Wassalam,
supraha.com
qudwatuna.com
🌿🌺🌸🍄🌻🍀🌼🌷🌹
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
💼Sebarkan! Raih bahagia…

Jika Mantan Istri Menikah Lagi Apakah Hak Asuh Anak Bisa Diambil Ayahnya?

✏Ustadz Dr.Wido Supraha
🌿🌺🌸🍄🌻🍀🌼🌷🌹
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum wrwb.
Teman saya bercerai dengan suaminya sekitar 4 tahun yang lalu, walaupun tidak ada perjanjian tertulis anak perempuannya ikut dengan dia dan sewaktu-waktu ikut ayahnya ketika libur sekolah. Suaminya sudah menikah lagi dan sedang menantikan anak keduanya. Teman saya ini masih sendiri dan takut untuk menikah karena dulu suaminya pernah bilang kalau dia menikah maka anaknya akan diambil suaminya, dia tanya apakah ini ancaman kalau dia tidak boleh menikah lagi, tapi suaminya bilang kalu ada dalil-dalil dalam Islam yang menyatakan kalau mantan istri menikah lagi maka hak asuh bisa diambil ayahnya, padahal yang dia tahu secara hukum kalau anaknya belum 17 tahun maka harus ikut ibu. Apakah benar ada hadits/dalil yang menyatakan kalau mantan istri menikah lagi maka hak asuh anak akan jatuh pada ayahnya,  sedangkan selama ini porsi pengasuhan lebih banyak pada ibunya. Terimakasih
Jawaban:
Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,
Sebelumnya kami berdo’a agar Allah Swt memberikan kekuatan dan kesabaran kepada Ibu agar sentiasa tetap istiqomah di jalan Allah Swt., jalan kebahagiaan, kebenaran, dan cahaya.
Ibu, Nabi Saw., telah bersabda,
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ السُّلَمِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ عَنْ أَبِي عَمْرٍو يَعْنِي الْأَوْزَاعِيَّ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنِي هَذَا كَانَ بَطْنِي لَهُ وِعَاءً وَثَدْيِي لَهُ سِقَاءً وَحِجْرِي لَهُ حِوَاءً وَإِنَّ أَبَاهُ طَلَّقَنِي وَأَرَادَ أَنْ يَنْتَزِعَهُ مِنِّي فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتِ أَحَقُّ بِهِ مَا لَمْ تَنْكِحِي
Telah menceritakan kepada kami [Mahmud bin Khalid As Sulami], telah menceritakan kepada kami [Al Walid] dari [Abu ‘Amr Al Auza’i], telah menceritakan kepadaku [‘Amr bin Syu’aib], dari [ayahnya] dari [kakeknya yaitu Abdullah bin ‘Amr] bahwa seorang wanita berkata; wahai Rasulullah, sesungguhnya anakku ini, perutku adalah tempatnya, dan putting susuku adalah tempat minumnya, dan pangkuanku adalah rumahnya, sedangkan ayahnya telah menceraikannya dan ingin merampasnya dariku. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya; engkau lebih berhak terhadapnya selama engkau belum menikah. (HR. Abu Daud No. 1938)
Dari hadits di atas, Ibu didahulukan untuk mengasuh seorang anak pasca sebuah perceraian, karena umumnya Ibu memiliki seluruh sifat kasih sayang yang dibutuhkan anak dalam masa pertumbuhan.
Bagaimana jika Ibu kemudian menikah lagi? Dalam hal ini, pengasuhan anak tidak mutlak harus kemudian dipindahtangankan ke suami, namun diutamakan dapat diberikan kepada suami hingga ia dapat menentukan pilihan hidupnya sendiri. Namun begitu, prinsip kunci yang harus tetap dipegang dalam hal ini adalah pemenuhan penuh atas kebutuhan anak, yakni kasih sayang fisik, dan itu sama sekali tidak berkorelasi dengan harta. Maka sebaiknya didiskusikan antara ibu dan mantan suami, dalam fokus diskusi bagaimana agar pemenuhan atas kasih sayang ini terpenuhi. Kegagalan dalam hal ini akan berkontribusi dalam melahirkan anak yang kehilangan kasih sayang, dan turunan derivasinya cukup panjang untuk dibahas dalam kesempatan ini. Yang jelas, ayah dan ibu, harus menyadari pentingnya melahirkan anak yang shalih dan berbakti kepada keduanya, dan ini membutuhkan kerjasama kedua belah pihak, bukan egoisme masing-masing agar terlahir prinsip ta’awun, saling melengkapi antara ayah dan ibu dalam mendidik anak, meskipun tidak lagi dalam satu ikatan suci pernikahan yang sah.
Semoga Allah Swt memudahkan seluruh urusan Ibu. Amiin.
Wassalam,
supraha.com
qudwatuna.com
🌿🌺🌸🍄🌻🍀🌼🌷🌹
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
💼Sebarkan! Raih bahagia…

Bolehkah Isbal?

✏ Ustadz Farid Nu’man
🌿🌺🍁🌻🍀🍄🌸🌷🌹
Pertanyaan:
📕🔴Dari Ibnu Umar ra berkata: Nabi SAW bersabda, “Barang siapa menurunkan kainnya dibawah mata kaki karena sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya dengan pandangan rahmat pada hari kiamat”
Maka Abubakar ra bertanya, “Ya, Rasulullah, kainku selalu turun kebawah mata kaki, kecuali jika kujaga benar-benar” Nabi SAW bersabda, “Engkau tidak berbuat itu karena sombong” 
(HR. Bukhari & Muslim)
Pertanyaannya : jadi, apakah dibolehkan tdk isbal, jika itu dilakukan krn tidak sombong?
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Sering kita melihat sesama aktifis Islam saling serang hanya karena perselisihan pemahaman fiqih semata, termasuk isbal (pelakunya disebut musbil) ini. Biasanya sikap keras dilancarkan oleh pihak yang memahami bahwa isbal itu haram walaupun tanpa rasa sombong. Sementara pihak yang diserang pun tentunya memberikan pembelaan dengan berbagai hujjah yang mereka miliki. Akhirnya, bukan masalah ini saja dan ini bukan yang terakhir, para aktifis Islam berputar-putar pada masalah yang memang sejak lama para ulama berselisih, mereka hanyalah melakukan siaran ulang saja. Sementara, banyak amal-amal pokok dan produktif menjadi tertinggal.
🌿🌺🍁🍄🌸🌻🌷🌹 
Dipersembahkam oleh: 
www.iman-islam.com 
💼Sebarkan! Raih Bahagia…