Menghadiri Pernikahan Non Muslim

โœUstadzah Nurdiana
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท
Pertanyaannya,                
Assalamuallaikum,           
Apa  hukumnya bila menghadiri pesta pernikahan teman  ยฅฤ…ษฒวฅ non islam,apakah boleh kita memasuki tempat. Beribadahnya ? Mohon penjelasan!!!      
Member ๐Ÿ…ฐ2โƒฃ8โƒฃ.   
 ________________. 
Jawabannya,                        
Wa alaikum salam wr wb,                                            
hukum menghadiri pesta pernikahan  ยฅฤ…ษฒวฅ non muslim boleh, karena ini bagian dari muamalah kita, bagaimana kita menjalin hubungan baik sebagai makhluk sosial, sementara tuk memasuki rumah peribadatannya ulama berbeda pendapat.                              
A. Haram ketika ada peribadatan, dalilnya qs Alkafirun, “katakanlah hai orang-orang kafir, aku tdk menyembah apa  ยฅฤ…ษฒวฅ kamu sembah dan kamu bukan penyembah tuhan  ยฅฤ…ษฒวฅ aku sembah, dst,.. hingga akhir surah. Juga fatwa Umar ibnul khattab “janganlah kalian memasuki tempat ibadah orang kafir pada saat mereka sedang merayakan hari agama mereka,karena kemarahan Allah akan turun kepada mereka”.                               
B. Ketika tidak ada peribadatan, khilaf ada  ยฅฤ…ษฒวฅ membolehkan ada  ยฅฤ…ษฒวฅ melarang.                 
Kesimpulannya, kalau hanya menghadiri pernikahan di bolehkan akan tetapi kalau acaranya di gereja atau  ยฅฤ…ษฒวฅ semisalnya sebaiknya tidak usah .     
Wa Allahu a’lam. 
๐Ÿ€๐ŸŒป๐Ÿ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒน
Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com
๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

Memanfaatkan Uang Syubhat Untuk Kepentingan Masjid, Bolehkah?

Tanya Ustadz
Kepada Ust Farid Nu’man
Assalamu’alaykum..
Pertanyaan  :
Bolehkah uang syubhat digunakan untuk membeli cat untuk masjid atau kipas angin untuk MDA/TPA?
Ceritanya, di tempat saya sedang ada pengecatan dinding, loteng dan atap masjid, sama ada kebutuhan MDA/TPA yang mau membeli kipas untyk di kelas, karena di kelasnya panas..
Firna A01
Jazakumullahu khair..
Jawaban:
Wa ‘alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh. 
Berikut ini jawaban saya atas pertnyaan serupa sekitar 5 tahun lalu.
๐Ÿ‘‡๐Ÿพ๐Ÿ‘‡๐Ÿพ๐Ÿ‘‡๐Ÿพ
Assalamu โ€˜Alaikum Wr Wb. Ust, ana mewakili teman-teman dari beberapa propinsi mau bertanya beberapa hal:
Bolehkah uang syubhat digunakan untuk membangun masjid? Karena masjid termasuk kepentingann umum.
Kalau untuk anak yatim atau fakir miskin gimana? Karena mereka termasuk rakyat.
Dari Heru (081354511xxx โ€“ Pegawai BPS – Sulawesi Tengah)
Jawab:
                Bismillah, walhamdulillah wash Shalatu wassalamu โ€˜Ala Rasulillah, wa baโ€™du:
                Dalam sebuah hadits disebutkan:
ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ู†ูู‘ุนู’ู…ูŽุงู†ู ุจู’ู†ู ุจูุดููŠู’ุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠูŽู‚ููˆู’ู„ู: (ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ุญูŽู„ุงู„ูŽ ุจูŽูŠูู‘ู†ูŒ ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ุญูŽุฑูŽุงู…ูŽ ุจูŽูŠูู‘ู†ูŒ ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ุฃูู…ููˆู’ุฑูŒ ู…ูุดู’ุชูŽุจูู‡ูŽุงุช ู„ุงูŽ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ูู‡ูู†ูŽู‘ ูƒูŽุซููŠู’ุฑูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณุŒู ููŽู…ูŽู†ู ุงุชูŽู‘ู‚ูŽู‰ ุงู„ุดูู‘ุจูู‡ูŽุงุชู ููŽู‚ูŽุฏู ุงุณู’ุชูŽุจู’ุฑุฃูŽ ู„ูุฏููŠู’ู†ูู‡ู ูˆุนูุฑู’ุถูู‡ุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูˆูŽู‚ูŽุนูŽ ูููŠ ุงู„ุดูู‘ุจูู‡ูŽุงุชู ูˆูŽู‚ูŽุนูŽ ูููŠ ุงู„ุญูŽุฑูŽุงู…ู ูƒูŽุงู„ุฑูŽู‘ุงุนููŠ ูŠูŽุฑู’ุนูŽู‰ ุญูŽูˆู’ู„ูŽ ุงู„ุญูู…ูŽู‰ ูŠููˆุดููƒู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู‚ูŽุนูŽ ูููŠู’ู‡ู. ุฃูŽู„ุง ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ ู„ููƒูู„ูู‘ ู…ูŽู„ููƒู ุญูู…ูŽู‰ู‹ . ุฃูŽู„ุง ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ ุญูู…ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ู…ูŽุญูŽุงุฑูู…ูู‡ูุŒ ุฃูŽู„ุง ูˆุฅูู†ูŽู‘ ูููŠ ุงู„ุฌูŽุณูŽุฏู ู…ูุถู’ุบูŽุฉู‹ ุฅูุฐูŽุง ุตูŽู„ูŽุญูŽุชู’ ุตูŽู„ูŽุญูŽ ุงู„ุฌูŽุณูŽุฏู ูƒูู„ูู‘ู‡ู ูˆุฅุฐูŽุง ููŽุณูŽุฏูŽุช ููŽุณูŽุฏูŽ ุงู„ุฌูŽุณูŽุฏู ูƒูู„ูู‘ู‡ู ุฃูŽู„ุง ูˆูŽู‡ูŠูŽ ุงู„ู‚ูŽู„ู’ุจู)  ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆู…ุณู„ู… .
Dari Abu Abdillah An Nuโ€™man bin Basyir Radhiallahu โ€˜Anhuma, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Aalihi wa Sallam bersabda:
โ€œSesungguhnya yang halal adalah jelas dan yang haram juga jelas dan di antara keduanya terdapat perkara yang samar, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menghindar dari yang samar maka dia telah menjaga agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjatuh dalam perkara yang samar maka dia telah terjatuh dalam perkara yang haram, seperti penggembala yang berada dekat di pagar milik orang lain dikhawatiri dia masuk ke dalamnya.  Ketahuilah setiap raja memeliki pagar (aturan), aturan Allah adalah larangan-laranganNya. Sesungguhnya di  dalam tubuh terdapat segumpal daging jika dia baik maka baiklah seluruh jasad itu, jika dia rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah itu adalah hati.โ€ (HR. Bukhari No.52, 1946, Muslim   No. 1599,  At Tirmidzi  No. 1221,  Ibnu Majah  No. 3984,  Abu Daud   No. 3329 ,  Ad Darimi   No. 2531,  Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 10180)
Selanjutnya kita fokus pada:
ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ุฃูู…ููˆู’ุฑูŒ ู…ูุดู’ุชูŽุจูู‡ูŽุงุช :
 dan di antara keduanya terdapat perkara yang samar
Bainahuma – Di antara keduanya yakni diantara halal dan haram, artinya secara asal dia bukan termasuk haram, dan juga bukan termasuk halal.
Umuurun Musytabihaat โ€“ perkara yang samar  yakni perkara yang belum jelas hukum halal haramnya. (Syaikh Ismail bin Muhammad Al Anshari, At Tuhfah Ar Rabbabiyah, No. 6. Maktabah Al Misykah)  
Menurut Syaikh Al โ€˜Utsaimin,  ketidak jelasan ini disebabkan beberapa hal:
1.       Ketidak jelasan dalil; jika dalilnya dari hadits, apakah haditsnya shahih atau tidak?
2.       Kalau pun shahih, apakah hadits tersebut secara makna memang mengarah pada hukum perkara  tersebut atau tidak? (Syarhul Al Arbaโ€™in, Hal. 107. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam)
Secara Bahasa (Lughah) arti syubhat adalah  Al Mitsl  (serupa, mirip) dan iltibas (samar, kabur, tidak jelas, gelap, sangsi). Maka, sesuatu yang dinilai syubhat  belum memiliki hukum yang sama dengan haram atau sama dengan halal. Sebab mirip halal bukanlah halal, dan mirip haram bukanlah haram.  Maka, tidak ada kepastian hukum halal atau haramnya, masih samar dan gelap.
Imam Ibnu Daqiq Al โ€˜Id Rahimahullah menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam mengkategorikan perkara syubhat:
1.Kelompok yang memasukan syubhat sebagai perkara yang haram. Alasan mereka adalah ucapan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam: โ€œBarangsiapa yang menghindar dari yang samar maka dia telah menjaga agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjatuh dalam perkara yang samar maka dia telah terjatuh dalam perkara yang haram.โ€
2. Kelompok yang memasukan syubhat sebagai perkara yang halal. Alasan mereka adalah ucapan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam: โ€œseperti penggembala yang berada dekat di pagar milik orang lain.โ€  Ini menunjukkan dia belum masuk keharaman, namun   sebaiknya kita bersikap waraโ€™ (hati-hati)  untuk meninggalkannya.
3.  Kelompok yang mengatakan bahwa syubhat  bukanlah halal dan bukan pula haram, dan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam telah menyebutkan bahwa halal dan haram adalah jelas, maka hendaknya kita bersikap seperti itu. Tetapi meninggalkannya adalah lebih baik, dan hendaknya bersikap waraโ€™. (Imam Ibnu Daqiq Al โ€˜Id, Syarh Al Arbain An Nawawiyah, Hal. 44. Maktabah Al Misykah)  
Pendapat kelompok ketiga inilah yang nampaknya lebih kuat. Hal ini diperkuat lagi oleh ucapan Nabi:
 ู„ุงูŽ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ูู‡ูู†ูŽู‘ ูƒูŽุซููŠู’ุฑูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณ
 : Banyak manusia yang tidak mengetahuinya
Berkata Imam Ibnu Daqiq Al โ€˜Id Rahimahullah:
ูˆููŠู‡ ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุดุจู‡ุฉ ู„ู‡ุง ุญูƒู… ุฎุงุต ุจู‡ุง ูŠุฏู„ ุนู„ูŠู‡ ุฏู„ูŠู„ ุดุฑุนูŠ ูŠู…ูƒู† ุฃู† ูŠุตู„ ุฅู„ูŠู‡ ุจุนุถ ุงู„ู†ุงุณ.
โ€œHal ini menunjukkan bahwa masalah syubhat mempunyai hukum tersendiri yang diterangkan oleh syariโ€™at sehingga sebagian orang ada yang berhasil mengetahui hukumnya dengan benar.โ€ (Syarhul Arbaโ€™in An Nawawiyah, Hal. 47)  
Contoh Perkara Syubhat:
Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits dari โ€˜Aisyah, ia berkata : โ€œSaโ€™ad bin Abu Waqash dan โ€˜Abd bin Zamโ€™ah mengadu kepada Rasulullah tentang seorang anak laki-laki. Saโ€™ad berkata : Wahai Rasulullah anak laki-laki ini adalah anak saudara laki-lakiku.โ€™Utbah bin Abu Waqash. Ia (โ€˜Utbah) mengaku bahwa anak laki-laki itu adalah anaknya. Lihatlah kemiripannyaโ€ sedangkan โ€˜Abd bin Zamโ€™ah berkata; โ€œ Wahai Rasulullah, Ia adalah saudara laki-lakiku, Ia dilahirkan ditempat tidur ayahku oleh budak perempuan milik ayahkuโ€, lalu Rasulullah memperhatikan wajah anak itu (dan melihat kemiripannya dengan โ€˜Utbah) maka beliau Rasulullah bersabda : โ€œAnak laki-laki ini untukmu wahai โ€˜Abd bin Zamโ€™ah, anak itu milik laki-laki yang menjadi suami perempuan yang melahirkannya dan bagi orang yang berzina hukumannya rajam. Dan wahai Saudah, berhijablah kamu dari anak laki-laki iniโ€ sejak saat itu Saudah tidak pernah melihat anak laki-laki itu untuk seterusnya.
Abd bin Zamโ€™ah adalah Saudara laki-laki dari Saudah (istri Nabi). Dan, Rasulullah menetapkan bahwa anak laki-laki tersebut adalah hak (saudara) dari Abd bin Zamโ€™ah. Tetapi, ternyata Rasulullah memerintahkan Saudah untuk berhijab (menutup aurat) di depan laki-laki tersebut, padahal Saudah juga saudara dari Abd bin Zamโ€™ah. Perintah ini disebabkan kesamaran (syubhat) pada masalah ini dan ini menunjukan kehati-hatian Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam.
Contoh lain:
Pada Hadits โ€˜Adi bin Hatim, ia berkata : โ€œWahai Rasulullah, saya melepas anjing saya dengan ucapan Bismillah untuk berburu, kemudian saya dapati ada anjing lain yang melakukan perburuanโ€ Rasulullah bersabda, โ€œJanganlah kamu makan (hewan buruan yang kamu dapat) karena yang kamu sebutkan Bismillah hanyalah anjingmu saja, sedang anjing yang lain tidakโ€. Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam memberi fatwa semacam ini dalam masalah syubhat karena beliau khawatir bila anjing yang menerkam hewan buruan tersebut adalah anjing yang dilepas tanpa menyebut Bismillah. Jadi seolah-olah hewan itu disembelih dengan cara diluar aturan Allah. Allah berfirman, โ€œSesungguhnya hal itu adalah perbuatan fasiqโ€ (QS. Al Anโ€™am (6):121)
Dalam fatwa ini Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam menunjukkan sifat kehati-hatian terhadap hal-hal yang masih samar tentang halal atau haramnya, karena sebab-sebab yang masih belum jelas. Inilah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam , โ€œTinggalkanlah sesuatu yang meragukan kamu untuk berpegang pada sesuatu yang tidak meragukan kamu.โ€
Firman Allah Taโ€™ala:
ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุงู’ ุฃูŽู†ููู‚ููˆุงู’ ู…ูู† ุทูŽูŠู‘ูุจูŽุงุชู ู…ูŽุง ูƒูŽุณูŽุจู’ุชูู…ู’ ูˆูŽู…ูู…ู‘ูŽุง ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌู’ู†ูŽุง ู„ูŽูƒูู… ู…ู‘ูู†ูŽ ุงู„ุฃูŽุฑู’ุถู ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽูŠูŽู…ู‘ูŽู…ููˆุงู’ ุงู„ู’ุฎูŽุจููŠุซูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ุชูู†ููู‚ููˆู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽุณู’ุชูู… ุจูุขุฎูุฐููŠู‡ู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุฃูŽู† ุชูุบู’ู…ูุถููˆุงู’ ูููŠู‡ู ูˆูŽุงุนู’ู„ูŽู…ููˆุงู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ู‡ูŽ ุบูŽู†ููŠู‘ูŒ ุญูŽู…ููŠุฏูŒ  
 โ€œHai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.โ€ (QS. Al Baqarah : 267)
 Ayat lainnya:
ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ุฑู‘ูุณูู„ู ูƒูู„ููˆุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ุทู‘ูŽูŠู‘ูุจูŽุงุชู ูˆูŽุงุนู’ู…ูŽู„ููˆุง ุตูŽุงู„ูุญู‹ุง ุฅูู†ู‘ููŠ ุจูู…ูŽุง ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ ุนูŽู„ููŠู…ูŒ 
 โ€œHai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.โ€ (QS. Al Mu’minun(23) : 51)
Firman-Nya:
ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุงู’ ูƒูู„ููˆุงู’ ู…ูู† ุทูŽูŠู‘ูุจูŽุงุชู ู…ูŽุง ุฑูŽุฒูŽู‚ู’ู†ูŽุงูƒูู…ู’ …
 โ€œHai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.โ€ (QS. Al Baqarah (2) : 172)
            Sedangkan, dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa  Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:
  ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุทูŽูŠู‘ูุจูŒ ู„ูŽุง ูŠูŽู‚ู’ุจูŽู„ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุทูŽูŠู‘ูุจู‹ุง
โ€œWahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik, tidak akan menerima kecuali yang baik-baik.โ€  (HR. Muslim  No. 1015. At Tirmidzi  No. 4074, katanya: hasan gharib. Al Baihaqi, Syuโ€™abul Iman, No. 5497)
Maka, aktifitas ibadah maaliyah (ibadah harta)4 seperti sedekah ke fakir miskin, ongkos haji, zakat, biaya dakwah dan jihad, biaya daurah islamiyah, biaya pembangunan dan operasional masjid, dan semisalnya, juga kebutuhan hidup pribadi seperti makan, minum, pakaian, tempat tinggal, biaya kesehatan dan sekolah, listrik, dan lainnya, hendaknya menggunakan harta yang PASTI halalnya. Sebab, Allah Ta’ala memerintahkan memungutnya dari yang halal lagi baik, dan Dia hanya mau menerima dari yang baik-baik. Dan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga memerintahkan kita untuk menjaga diri dari yang syubhat.
                Jadi, jika seseorang mencegah hal-hal haram dan syubhat untuk kebutuhan dirinya (makan, pakaian, tempat tinggal, uang listrik, SPP sekolah, dan semisalnya), maka sudah selayaknya dia mencegahnya untuk kepentingan agamanya. Jika dia mencegah dirinya dari perkara haram dan syubhat, maka sebuah keanehan jika dia mempersembahkan untuk agama dan akhirat dengan uang haram dan syubhat. Jika dia tidak rela memakannya, maka mengapa dia rela itu di makan fakir miskin dan anak yatim?   sama saja dia melemparkan api yang dia sendiri tidak menginginkannya.
๐ŸŽ“ Memahami Ini dari Dua Perspektif
1โƒฃ Menurut sudut pandang si pemilik harta syubhat tersebut (si pemberi), jika si pemberi TAHU itu sebagai uang haram dan syubhat.
Telah jelas menurut pandangan berdasarkan nash, bahwa seseorang terlarang menggunakan harta haram dan syubhat untuk kepentingan agama (dakwah, jihad, Haji, ta’lim, masjid, menyantuni anak yatim, dan semisalnya). Inilah yang dipegang oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Syaikh Sayyi Sabiq, ketika dia memandang BATAL dan HARAM orang yang pergi haji dengan harta yang tidak halal. Sekali pun ada ulama yang menyatakan SAH, tetapi mereka pun mengatakan tetaplah itu perbuatan dosa.
Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:
  ูˆูŠุฌุฒุฆ ุงู„ุญุฌ ูˆุฅู† ูƒุงู† ุงู„ู…ุงู„ ุญุฑุงู…ุง ูˆูŠุฃุซู… ุนู†ุฏ ุงู„ุงูƒุซุฑ ู…ู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก. ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุงู…ุงู… ุฃุญู…ุฏ: ู„ุงูŠุฌุฒุฆุŒ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุงุตุญ ู„ู…ุง ุฌุงุก ููŠ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ุตุญูŠุญ: ” ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ุทูŠุจ ู„ุง ูŠู‚ุจู„ ุฅู„ุง ุทูŠุจุง “.
                โ€œHaji tetap sah walau dengan uang haram, namun pelakunya berdosa menurut mayoritas ulama. Imam Ahmad berkata: hajinya tidak sah. Dan inilah pendapat yang paling benar sesuai hadits shahih: Sesungguhnya Allah baik, tidaklah menerima kecuali yang baik.โ€   (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/640)
                Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri Rahimahullah berkata:
ูˆู…ุนู†ู‰ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุฃู†ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู…ู†ุฒู‡ ุนู† ุงู„ุนูŠูˆุจ ูู„ุง ูŠู‚ุจู„ ูˆู„ุง ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ูŠุชู‚ุฑุจ ุฅู„ูŠู‡ ุฅู„ุง ุจู…ุง ูŠู†ุงุณุจู‡ ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ู…ุนู†ู‰. ูˆู‡ูˆ ุฎูŠุงุฑ ุฃู…ูˆุงู„ูƒู… ุงู„ุญู„ุงู„ ูƒู…ุง ู‚ุงู„ ุชุนุงู„ู‰: {ู„ูŽู†ู’ ุชูŽู†ูŽุงู„ููˆุง ุงู„ู’ุจูุฑู‘ูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูู†ู’ููู‚ููˆุง ู…ูู…ู‘ูŽุง ุชูุญูุจู‘ููˆู†ูŽ}
                โ€œMakna hadits ini adalah bahwa Allah Taโ€™ala suci dari segala aib, maka tidaklah diterima dan tidak sepatutnya mendekatkan diri kepadaNya kecuali dengan apa-apa yang sesuai dengan makna ini. Yakni dengan sebaik-baik hartamu  yang halal, sebagaimana firmanNya: โ€œKamu selamanya belum mencapai kebaikan sampai kamu menginfakan apa-apa yang kamu cintai ..โ€  (Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri, Tuhfah Al Ahwadzi, Juz. 8, Hal. 333, No. 4074. Al Maktabah As Salafiyah)
                Ada pun jika si pemberi TIDAK TAHU jika harta tsb berasal dari  usaha yang haram, atau syubhatnya, maka dia tidak dinilai  salah menggunakannya untuk pribadi, atau infak, atau haji, masjid, dan lainnya.
Sebab Allah Ta’ala berfirman:
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. ..” (QS. Al Baqarah (2): 286)
Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam juga bersabda:
ุชุฌุงูˆุฒ ุงู„ู„ู‡ ุนู† ุฃู…ุชูŠ ุงู„ุฎุทุฃ ุŒ ูˆุงู„ู†ุณูŠุงู† ุŒ ูˆู…ุง ุงุณุชูƒุฑู‡ูˆุง ุนู„ูŠู‡
                โ€œAllah Taโ€™ala membiarkan (memaafkan) dari umatnya: โ€œKesalahan yang tidak sengaja, lupa, dan perbuatan yang dia terpaksa melakukannya.โ€ (HR. Al Hakim, Al Mustadrak โ€˜alash Shahihain, Juz. 6, Hal. 421, No. 2752. Katanya: โ€œShahih sesuai syarat syaikhan (Bukhari-Muslim)โ€. Al Haitsami berkata: โ€œDiriwayatkan oleh Ath Thabarani dalam Al Awsath, dalam sanadnya terdapat perawi bernama Muhammad bin Mushafa yang dinilai tsiqah (bisa dipercaya) oleh Abu Hatim dan lainnya, dan pada dirinya ada pembicaraan yang tidak membuatnya cacat. Sementara para perawi lainnya adalah perawi shahih.โ€ Majmaโ€™ az Zawaid, Juz. 3, Hal. 101)
2โƒฃ Sudut Pandang Si Penerima Uang Haram dan  Syubhat (Yakni Masjid dan Anak Yatim)
Jika dia  TAHU bahwa uang itu haram dan syubhat, maka hendaknya dia menolaknya, sebagaimana perilaku Abu Bakar Ash Shiddiq ketika dia memuntahkan barang syubhat dari kerongkongannya.  Pada sebuah riwayat disebutkan, suatu hari pembantu Abu Bakar datang dengan membawa makanan.  Maka, Abu Bakar mengambil dan memakannya. Sang Pembantu berkata, โ€œWahai Khalifah Rasululullah, biasanya setiap kali aku datang membawa makanan, Anda selalu bertanya dari mana asal makanan yang aku bawa. Kenapa sekarang Anda tidak bertanya?โ€
Abu Bakar menjawab, โ€œSungguh hari ini aku sangat lapar sehingga lupa untuk menanyakan hal itu. Kalau begitu ceritakanlah, dari mana kamu mendapat makanan ini?โ€
Si Pembantu menjawab, โ€œDulu sebelum aku masuk Islam pekerjaanku adalah sebagai dukun. Suatu hari aku pernah diminta salah satu suku untuk membacakan mantra di  daerah  mereka. Mereka berjanji akan membalas jasaku itu. Pada hari ini aku melewati  daerah itu dan  mereka sedang mengadakan pesta, maka mereka pun menyiapkan makanan untukku sebagai balasan atas jasaku yang pernah kuberikan.โ€
Mendengar itu, Abu Bakar langsung memasukkan jari ke kerongkongannya untuk dimuntahkan. Setelah muntah Abu Bakar berkata, โ€œJika untuk mengeluarkan makanan itu aku harus menebus dengan nyawa, pasti akan aku lakukan karena aku pernah mendengar Rasulullah  Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda, โ€˜Tidak ada daging yang tumbuh dari makanan yang haram melainkan neraka layak untuk dirinyaโ€™.โ€
                Jika si penerima (Pengurus Masjid, Pengasuh Anak Yatim, Fakir Miskin) sudah tahu keharamannya namun masih menerimanya, maka dia dosa. Jika barang itu syubhat, maka dia telah tidak menjaga dirinya, masjid, dan orang yang berada dalam pengawasannya dari perkara syubhat, yang seharusnya tetap dijauhkan.
                Namun, jika mereka dalam keadaan TIDAK TAHU, lalu mereka menerimanya, maka mereka tidak salah dan tidak berdosa.  Berdasarkan surat Al Baqarah ayat 286, dan hadits riwayat Al Hakim di atas.
                Bahkan, sebenarnya  mereka tidak dituntut  untuk tahu, walau demi kehati-hatian sebaiknya mereka mencari tahu sebagaimana perilaku Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu โ€˜Anhu.
                 Dalam hadits lain:
ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง
ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ู‹ุง ู‚ูŽุงู„ููˆุง ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ู‹ุง ูŠูŽุฃู’ุชููˆู†ูŽู†ูŽุง ุจูุงู„ู„ู‘ูŽุญู’ู…ู ู„ูŽุง ู†ูŽุฏู’ุฑููŠ ุฃูŽุฐูŽูƒูŽุฑููˆุง ุงุณู’ู…ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฃูŽู…ู’ ู„ูŽุง ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุณูŽู…ู‘ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽูƒูู„ููˆู‡ู
               
Dari Aisyah Radhiallahu โ€˜Anha, bahwa ada segolongan manusia berkata: โ€œWahai Rasulullah, sesungguhnya ada kaum yang medatangi kami sambil membawa  daging, kami tidak tahu apakah disebut nama Allah terhadap daging itu atau tidak.โ€ Rasulullah menjawab: โ€œSebutlah nama Allah atasnya, dan makanlah.โ€  (HR. Bukhari, Juz. 7, Hal. 211, No. 1916. Maโ€™rifatus Sunan wal Atsar Lil baihaqi, Juz.15, Hal. 87, No. 5807)
Hadits ini dengan tegas membolehkan makanan yang belum diketahui disembelih pakai bismillah atau tidak, dan kita tidak  dibebani untuk mengorek-ngorek beritanya. Tetapi jika sudah diketahui bahwa hewan tersebut tidak disembelih dengan membaca bismillah, maka hadits ini tidak bisa dijadikan dalil,  jadi harus dikembalikan ke hukum hewan yang dipotong tidak membaca bismillah yakni haram.
                Begitu pula hal di atas, jika sudah ketahui bahwa itu haram dan syubhat, maka wajib menghindari yang haram dan menjaga diri dari yang syubhat, dalam pembiayaan kepentingan agama (Infak buat masjid), dan konsumsi hidup manusia (memberi makan anak yatim dan fakir miskin).
โœ” Solusinya?
                Telah  jelas bahwa uang syubhat hendaknya tidak digunakan untuk kepentingan agama dan konsumsi makanan kaum muslimin. Lalu diapakan harta tersebut? Dibuangkah? Atau โ€ฆ.?
                Sebagian ulama mengatakan sebaiknya harta tersebut diabaikan (disia-siakan). Diantaranya menurut Imam Fudhail bin โ€˜iyadh dan Imam Al Ghazali.   Imam Fudhail bin Iyadh Radhiallahu โ€˜Anhu pernah mendapakan dua keping dirham yang tidak halal, lalu ia melemparkannya di antara bebatuan. Lantas ia berkata, โ€œAku tidaklah bersedekah kecuali dengan harta yang baik. Demikian pula aku tidak rela orang selain aku memiliki harta yang aku tidak rela diriku memilikinya.โ€
                Sebagain lain mengatakan, sebaiknya harta tersebut dibelanjakan (disedekahkan) untuk kebaikan yang sifatnya kemanusiaan (bukan kepentingan agama), seperti menjaga fasilitas umum, jalanan, jembatan, membangun, memberi makanan kepada tawanan orang kafir, dan semisalnya, sebab pada hakikatnya harta haram bukanlah miliknya dan tidak pantas seorang mukmin memilikinya. Inilah pandangan Imam Ahmad bin Hambal, Imam Harits Al Muhasibi, termasuk Imam Abul Faraj Al Jauzi, Imam Ibnu Abdil Bar, dan ulama kontemporer seperti   Faqihul Islam Asy Syaikh Al Qaradhawi,   Syaikh Ibnu Baaz, dan Syaikh Shalih Fauzan. Namun demikian pelakunya tidak boleh berharap pahala dari harta yang disalurkannya tersebut, sebab secara umum Allah Taโ€™ala hanya mau menerima yang baik-baik.
Imam Ahmad dalam Musnadnya meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam pernah dihidangkan daging untuk beliau. Lalu diberitahukan bahwa daging itu haram, saat itu Beliau bersabda: โ€Berikanlah daging iu sebagai makanan para tawanan.โ€ (tawanan tersebut adalah tawanan kafir)
Alasan lain adalah apa yang diriwayatkan Imam Al Baihaqi, ketika turun surat Ar Rum 1-3, tentang ramalan akan dikalahkannya bangsa Romawi. Pada waktu itu kaum musyirikin tidak percaya. Lalu Abu Bakar   bertaruh dengan mereka.  Ketika Allah Taโ€™ala  membuktikan kebenaran Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam atas ayat tersebut. Abu Bakar datang membawa uang taruhan, lantas Rasulullah bersabda :  โ€Harta taruhan ini adalah haram. Bersedekahlah dengan harta itu.โ€ (Saat itu turunlah ayat tentang larangan bertaruh).
           Dari sini kita paham, ada dua cara menyikapi harta haram dan syubhat, yaitu:
๐Ÿ“Œ Disia-siakan
๐Ÿ“Œ Dibelanjakan/disedekahkan untuk kepentingan kemanusiaan/fasum (fasilitas umum-publik),  bukan kepentingan agama dan ibadah khusus.
Namun, pendapat yang paling kuat dan berdasarkan dalil adalah cara yang kedua yaitu harta tersebut jangan disia-siakan, tapi sedekahkan untuk pembangunan/perbaikan jalan, jembatan, WC umum, taman kota, makanan hewan, juga untuk makanan tawanan kafir.
Demikian jawaban saya. Wallahu Aโ€™lam wa Ilaihi Musytaka โ€ฆ
๐ŸŒป๐Ÿƒ๐ŸŒด๐ŸŒฟ๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒพ๐Ÿ€๐ŸŒน
โœ Farid Nuโ€™man Hasan

Jangan Lemah Di Hadapan Promotor Kemungkaran

๐Ÿ“ Ustadz Abdullah Haidir Lc.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐ŸƒFenomena ironis;
Promotor kemunkaran tampak sangat militan dan di atas angin, berhadapan dengan orang-orang baik yang lemah tanpa mau berbuat apa-apa selain keselamatan dirinya.

Inilah yang dikhawatirkan oleh Umar bin Khatab radhiallahu anhu yang terungkap dalam doanya,

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูŽุนููˆุฐู ุจููƒูŽ ู…ูู†ู’ ุฌูŽู„ูŽุฏู ุงู„ู’ููŽุงุฌูุฑู ูˆูŽุนูŽุฌู’ุฒู ุงู„ุซู‘ูู‚ูŽุฉู

๐Ÿ’ฆโ€œYa Allah, aku berlindung kepadaMu dari militansi orang durhaka, dan lemahnya orang-orang baik.โ€

Di alam bebas seperti ini dan saluran komunikasi dan informasi terbuka lebar, sudah tidak sepantasnya kita mengandalkan pengingkaran dalam hati sebagai langkah penolakan terhadap kemunkaran.

Selain itu merupakan gambaran selemah-lemahnya iman, juga karena Rasulullah saw melarang kita untuk tampak lemah di hadapan kekufuran dan kemunkaran.

๐Ÿ’งKarena itu, saat pertama kali umrah, Rasulullah saw memerintahkan para shahabatnya untuk membuka pundak kanannya dan berlari-lari kecil saat thawaf, agar orang kafir melihat bahwa kaum muslimin kuat.

Hal mana kemudian dikenal sebagai sunah dalam thawaf qudum bagi laki-laki.

Dalam peristiwa perang Uhud, ketika pasukan kaum muslimin terdesak akibat kelalaian pasukan pemanah dan Rasulullah saw terluka, orang-orang kafir ingin merontokkan mentalitas pasukan muslim.

Abu Sufyan yang ketika itu masih kafir berteriak, โ€œMana Muhamad, mana Abu Bakar, Mana Umar?โ€

Maka Umar berkata, โ€œYa Rasulullah, bolehkah saya menjawabnya?โ€ Jawab Rasulullah, โ€œYaโ€. Maka ketika Abu Sufyan berteriak,

ุงุนู’ู„ู ู‡ูุจูŽู„

โ€œHidup Hubal (nama berhala mereka).โ€

Umar menjawab,

ุงู„ู„ู‡ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู‰ ูˆูŽุฃูŽุฌูŽู„

โ€œAllah lebih tinggi dan lebih mulia.โ€

Abu Sufyan balik berkata,

ูŠูŽูˆู…ู ุจููŠูŽูˆู…ู ุจูŽุฏู’ุฑุŒ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ูŽ ุฏููˆูŽู„ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฑู’ุจูŽ ุณูุฌูŽุงู„

โ€œHari ini pembalasan dari perang Badr, hari-hari silih berganti, perang ada giliran kalah ada giliran menang.โ€

Umar menjawab,

ู„ุงูŽ ุณูŽูˆูŽุงุกูŽ ุŒ ู‚ูŽุชู’ู„ุงูŽู†ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ุŒ ูˆูŽู‚ูŽุชู’ู„ุงูŽูƒูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู

โ€œTidak sama, orang yang terbunuh di antara kami masuk surga, orang yang terbunuh di antara kalian masuk neraka.โ€ (dikutip dari riwayat Ahmad dan Hakim)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Hubungan Dengan Kerabat Non Muslim

โœUstadz Dr.Wido Supraha

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒธ๐ŸŒป๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamualaikum, saya Angelina Lily, grup Manis 30, ingin bertanya, saya mualaf, asal agama katolik, yang memeluk Islam karena  mempelajari agama nasrani, orangtua saya masih katolik. Bagaimana hukumnya dalam agama tentang hubungan saya dengan orangtua. Almarhum mama wafat masih nasrani. Haruskah saya mendoakan beliau?

Dan kepada papa yang masih hidup, apakah saya masih wajib berbakti?

Sejak saya mualaf hubungan kami merenggang karena kami dari keluarga aktifis gereja. Soo.. saya dianggap aib keluarga karena masuk Islam walau asal agama orangtua juga Islam semua, karena nenek saya semua muslim. Terimakasih atas jawabannya, jazakumullah khairan.

Jawaban:

Wa ‘alaikumusalaam warahmatullah Saudari Angelina Lily.
Sebelumnya saya mendoakan keberkahan dan rahmat-Nya atas keputusan Ibu untuk kembali memeluk Islam, semoga sentiasa dalam hidayah dan istiqomah, dan teruslah menuntut ilmu berpandukan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Terkait pertanyaan Ibu, sungguh kita turut bersedih atas wafatnya sang Ibunda tanpa sempat kembali memeluk Islam sementara orangtua beliau sejatinya adalah Muslim. Hal yang sama terjadi kepada Nabi Muhammad, yakni ketika pamannya wafat, atau jauh sebelumnya telah pernah terjadi kepada Nabi Ibrahim a.s. ketika ayahnya, Azar, wafat. Sekian lama Nabi Ibrahim a.s. berdakwah mengajak ayah kandungnya untuk kembali ke dalam Islam, namun hidayah adalah milik Allah.

ูˆูŽุงุฐู’ูƒูุฑู’ ูููŠ ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽ ุตูุฏู‘ููŠู‚ู‹ุง ู†ูŽุจููŠู‘ู‹ุง (41) ุฅูุฐู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูุฃูŽุจููŠู‡ู ูŠูŽุง ุฃูŽุจูŽุชู ู„ูู…ูŽ ุชูŽุนู’ุจูุฏู ู…ูŽุง ู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ู…ูŽุนู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุจู’ุตูุฑู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุบู’ู†ููŠ ุนูŽู†ู’ูƒูŽ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง (42) ูŠูŽุง ุฃูŽุจูŽุชู ุฅูู†ู‘ููŠ ู‚ูŽุฏู’ ุฌูŽุงุกูŽู†ููŠ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฃู’ุชููƒูŽ ููŽุงุชู‘ูŽุจูุนู’ู†ููŠ ุฃูŽู‡ู’ุฏููƒูŽ ุตูุฑูŽุงุทู‹ุง ุณูŽูˆููŠู‘ู‹ุง (43) ูŠูŽุง ุฃูŽุจูŽุชู ู„ูŽุง ุชูŽุนู’ุจูุฏู ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ุนูŽุตููŠู‘ู‹ุง (44) ูŠูŽุง ุฃูŽุจูŽุชู ุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูŽุฎูŽุงูู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู…ูŽุณู‘ูŽูƒูŽ ุนูŽุฐูŽุงุจูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ููŽุชูŽูƒููˆู†ูŽ ู„ูู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ูˆูŽู„ููŠู‘ู‹ุง (45)

โ€œCeritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quraan) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; โ€œWahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitanโ€.โ€ (QS. Maryam [19] : 41-45)

Pada saat ayahnya wafat, Nabi Ibrahim a.s. sangatlah sedih karena hingga ayahnya wafat, ia tidak mampu meng-Islam-kan-nya, padahal ia mampu meng-Islam-kan orang lain, sehingga secara naluri anak, beliau berdo’a atas keselamatan ayahnya di akhirat.

ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑููˆุง ู„ูู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ููˆุง ุฃููˆู„ููŠ ู‚ูุฑู’ุจูŽู‰ ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏู ู…ูŽุง ุชูŽุจูŽูŠู‘ูŽู†ูŽ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ู’ุฌูŽุญููŠู…ู (*) ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุงุณู’ุชูุบู’ููŽุงุฑู ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ู„ูุฃูŽุจููŠู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุนูŽู†ู’ ู…ูŽูˆู’ุนูุฏูŽุฉู ูˆูŽุนูŽุฏูŽู‡ูŽุง ุฅููŠู‘ูŽุงู‡ู ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ุชูŽุจูŽูŠู‘ูŽู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุนูŽุฏููˆู‘ูŒ ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุจูŽุฑู‘ูŽุฃูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ู„ูŽุฃูŽูˆู‘ูŽุงู‡ูŒ ุญูŽู„ููŠู…ูŒ

Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) jahim. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (at-Taubah: 113-114)

Oleh karenanya, sebaiknya Ibu saat ini lebih memfokuskan kepada ayah yang masih hidup bersama Ibu. Berbaktilah kepadanya, karena Islam menganjurkan birrul walidain tanpa memandang agama orang tua. Islam pun mengajarkan umatnya untuk terus mendoakan ayah yang belum kembali ke dalam Islam, agar semoga Allah memberikannya hidayah.

Dalam posisi Ibu yang dianggap terhina karena memeluk agama Islam, maka inilah saat yang tepat untuk menunjukkan Kasih, Damai, dan Keindahan Islam. Bahwa Islam is beautifull. Pada fase awal ini, sering-seringlah ibu memberikan ayah ragam kebaikan, senyuman, hadiah dan hal-hal yang disukainya. Berlatihlah sabar dalam hal ini untuk tujuan yang lebih besar dan mulia. Umumnya, hati manusia pelan-pelan akan berubah, laksana batu yang kokoh namun terus menerus tertetesi air yang sejuk. Minimalkan berbicara agama dalam fase ini, hingga kemudian Ibu berhasil membawa ayah untuk siap menerima diskusi ilmiah dan logis, dan membawanya pada ketertarikan untuk menemukan kebenaran, kebahagiaan dan cahaya yang sejati itu, yakni Al-Islam, Din Al-Anbiya wa al-Mursalin.

Yassirlana wa lakum.

Wassalam,
supraha.com

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒธ๐ŸŒป๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

Biarlah Allah yang Menyelesaikan Skenario Nya

๐Ÿ“Ustadzah Bunda Rochma Yulika

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐ŸƒKeterbatasan diri, mengerti apa yang akan terjadi mengajarkan kepada kita untuk menyandarkan segala urusan hanya pada Ilahi.

Iman mendidik kita agar kita yakin bahwa apa yang ada di kemudian hari Allah senantiasa datangkan banyak kemudahan.

Meski begitu kita pun harus siap apabila kenyataan hadir tak sama dengan apa yang menjadi harapan.

Tabiat kehidupan selayaknya pergantian siang dan malam mengisyaratkan pada kita seperti itulah sunatullahnya.

Bergantinya nikmat dan ujian justru menjadikan setiap mukmin belajar menikmati setiap rasa yang dipergilirkan.

Ridla akan ketetapan Nya.
Tabah jalani takdir Nya.
Tegar tapaki titah Nya

Iman mengajarkan tentang bagaimana kita bersyukur kala ujian melanda.

Bagaimana tidak bersyukur, saat-saat sulit itulah kesempatan kita sampaikan harap.

Ketika Allah merindukan hamba Nya.
Allah mengirimkan kado istimewa untuk hamba Nya melalui malaikat Jibril yg isinya adalah UJIAN.

๐Ÿ’งDalam Hadits Qudsi Allah berfirman: “Pergilah pada hamba Ku lalu timpakan berbagai ujian biar Aku mendengar rintihannya” HR Thabrani dari Umamah

๐Ÿ’งNabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya:”Tidaklah suatu perkara yang menimpa seorang muslim baik berupa kelelahan, penyakit, gangguan orang lain, kesedihan yang mendalam, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dengan sebab itu”. [HR. Bukhari no. 5641 & Muslim no. 2573]

๐Ÿ’ฆApa pun kenyataan yang kita hadapi yakinlah bahwa Allah pemilik skenario terindah.
Tak ada kemadharatan dari setiap rencana bagi hamba Nya.

๐Ÿ’ฆKewajiban kita menerima dengan lapang dada dari kenyataan yang ada di depan mata.

Tersenyumlah dan hati akan mengikutinya.
Hiburlah diri dengan karunia-karunia yang pernah kita rasakan sebagai wujud kemurahan Nya

๐Ÿ’ฆMaka bersyukurlah….
Rasa syukur senantiasa ada di hati hamba-hamba yang mau bertafakur.
Bila karunia hadir tak akan ada hati yang takabur.
Hidup pun jauh dari sifat kufur.
Perjalanan hidup pun senantiasa tertata dan teratur.
Hingga akhirnya sepi sendiri di alam kubur.

๐Ÿ’งโ€œBarangiapa mensyukuri nikmat-Ku, maka akan Ku tambahkan nikmat baginya. Dan barangsiapa kufur terhadap nikmatKu, sesungguhnya adzab-Ku amat pedih.โ€ (Q.S. Ibrahim : 7)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…

Bolehkan Asuransi?

โœ Ustadz Dr. Wido Supraha

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒธ๐ŸŒป๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamu’alaykum
Ustadz, mau tanya. Bagaimana hukum tentang asuransi dalam islam? Dan hukum bagi orang yang mengasuransikan dirinya?
Sekarang banyak sekali lembaga asuransi yg menawarkan spt menabung sekian banyak perbulan dgn batas waktu tertentu baru bisa diambil. Dan nanti hasilnya jauh lebih besar dr jml tabungan yg kita masukan itu..
Mohon penjelasannya ๐Ÿ™๐Ÿผ
Jazakallahu khairan katsira.

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,

Asuransi dalam Islam masuk dalam kategori muamalah, dan dalam hal ini seluruhnya dikembalikan kepada jenis akad yang digunakan.

Di negara kita, sudah ada Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI yang akan memonitor seluruh akad yang digunakan oleh Asuransi Syari’ah.

Oleh karenanya, kita serahkan seluruh mekanisme kepada yang lebih otoritatif dalam menghukuminya.

Demikian, semoga Allah Swt sentiasa menjaga kita dari bentuk muamalah yang tidak diridhoi-Nya.

Wassalam,
supraha.com

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐Ÿ„๐ŸŒธ๐ŸŒป๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkam oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia…

Wanita Berenang Di Kolam, Bolehkah?

โœ Ustadzah Dra Indra Asih

๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒป๐ŸŒน

Assalamu’alaikum.

1. Apakah berenang di air kolam itu hukumnya boleh/halal atau tidak boleh/haram?
    Dari  Evie Member A04

2. Saya ingin mengetahui lebih benar tentang hadist yang menyatakan bahwa yg dirukyah akan hilang kesempatannya memasuki surga tanpa hisab. Mohon penjelasannya Ustadz/Ustadzah.

3. A. Uang SHU koperasi itu hukumnya bagaimana?
    B. Kalau koperasinya menggunakan bunga riba, uang yang kita terima diapakan baiknya?

Dari Devirta dan Asmirda A04

Jazakillah Ustadz/Ustadzah

__________________
JAWABAN

1. Hukum asal boleh. Kecuali ada catatan khusus terkait peetanyaan tsb

2. Jika ruqyahnya tidak sesuai syar’i/tuntunan

3. A. Kalo usahanya halal, SHU halal…keuntungan usaha yg dibahikan ke anggota

B. Sebaiknya disumbangkan utk sarana/fasilitas umum seperti jalan.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih Bahagia…

Membagi Harta Waris Secara Merata

โœUstadz Dr.Wido Supraha

๐ŸŒฟ๐Ÿ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒป๐ŸŒน

Assalaamu ‘alaikum wrwb.
Mohon maaf mau bertanya, ustadz, urgent.
Menurut hukum Islam, bagian harta warisan untuk 2 orang anak perempuan kan sama dengan bagian 1 orang anak laki-laki. Atau, bagian 1 orang anak laki-laki sama dengan 2 kali bagian 1 orang anak perempuan.
Bapak saya baru-baru ini wafat. Ternyata ketika masih hidup, bapak meninggalkan surat wasiat. Isinya bahwa jika bapak meninggal, bapak saya tidak mau mengikuti hukum Islam yang sudah ada bahwa anak laki-laki bagiannya lebih banyak (dua kali lipat) dari perempuan. Tujuan almarhum bapak adalah agar semua anaknya mendapat bagian yang sama rata jumlahnya, tidak ada yg dibedakan.
Ditulis sendiri oleh bapak dengan tulisan tangannya.
Ini bagaimana, ustadz..?? Wasiatnya ini sah atau tidak..?? Boleh dijalankan atau tidak..??
Karena bertentangan dengan batasan/ketentuan hukum Islam tentang bagian warisan.
Mohon penjelasannya.
Jazakumullaah.
Wassalam.

-A13-

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullah,

Sebelumnya kami turut berduka cita atas kembalinya beliau ke sisi-Nya, semoga Allah Swt meluaskan kuburnya, menghapuskan dosa-dosanya, dan memasukkannya ke Jannah.

Pertanyaan Anda terkait dengan masalah waris, maka pembagian waris langsung dibagi oleh Allah Jalla wa ‘Ala, maka makhluknya diharamkan membuat aturan sendiri, sementara Sang Khalik telah menetapkan pembagian untuk masing-masing. Dalam hal ini tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Jalla wa ‘Ala.

Semoga Allah mengumpulkan kita bersama di Jannah, bersama ketaatan kita kepada perintah-nya, keridhoan kita kepada aturan-nya, dan kesungguhan kita dalam meraih cinta-Nya.

Wassalam,
supraha.com

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒน๐ŸŒป

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

Membaca Amalan Ketika Haid

โœUstadzah Nurdiana S.Pd.I

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท

Pertanyaannya.              

Assalamuallaikum.        
Bagaimana hukumnya seorang wanita yang sedang haid apabila ia memiliki amalan selama 40 hari baca surah alwaqiah atau surah lain.  Apakah ketika haid boleh dibaca juga?
Terima kasih member
๐Ÿ…ฐ0โƒฃ8โƒฃ๐Ÿ˜Š      
________________

Jawabannya.                          

Wa alaikumsalam wr wb.                                                    
Akhwat fillah kita simak firman Allah qs17:36 “janganlah kamu melakukan sesuatu kecuali kamu punya pengetahuan tentangnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati akan di minta pertanggungjawaban nya”.                                  

Nabi  shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œBarangsiapa yang membuat perkara yang baru dalam urusan agama kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya, maka ia tertolakโ€ (HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikh โ€˜Abdul Muhsin Al โ€˜Abbad mengomentari hadits ini, โ€œHadits ini secara mutlak menunjukkan bahwa semua amal yang tidak sesuai syariโ€™at itu tertolak, meskipun tujuan pelakunya baikโ€.              

Untuk amalan membaca qur’an jelas ini merupakan amalan yang baik tapi untuk jumlah 40 harinya ini tidak ada dasarnya, sebaik baca qur’an tdk hanya 40 hari tapi sebaiknya jadi amalan harian  ยฅฤ…ษฒวฅ dia lakukan terus menerus sampai maut menjemput, dan saat kita melakukan amal sholeh hal  ยฅฤ…ษฒวฅ harus di perhatikan agar amal diterima Allah

1.Niat ikhlas, di qs 11:15-16, barang siapa di dalam beramal, niatnya mencari kehidupan dunia dan perhiasannya,pasti kami berikan balasan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan di rugikan. Itulah orang-orang  ยฅฤ…ษฒวฅ tidak memperoleh sesuatu di akhirat kecuali neraka danm sia sialah disana apa  ยฅฤ…ษฒวฅ telah mereka usahakan di dunia dan terhapuslah apa  ยฅฤ…ษฒวฅ mereka kerjakan. Di hadits  ยฅฤ…ษฒวฅ sangat populer ditegaskan “sesungguhnya amal itu tergantung niatnya”.                                
2. Harus sesuai syariat ,hal ini sudah di kuatkan dengan hadits diatas. Adapun baca qur’an dalam kondisi haid sebagian besar ulama sepakat melarangnya kecuali dalam keadaan belajar dan mengajar.                              Wa Allahu a’lam.              

๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป๐Ÿ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

KEKUATAN MLM (serial tulisan AYAH PENGEMBARA bag. 2)

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadz BENDRI JAISYURRAHMAN @ajobendri

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ ๐ŸŒฟ

Jangan antipati dulu kalau kali ini saya memuat tulisan bertemakan MLM. Terlebih curiga kepada saya kalau ujung dari tulisan ini adalah mengajak pembaca untuk jadi downline saya. Sama sekali tidak. Tapi kalau ada yang mau, gakpapa juga sih hehe…teuteup. Maksud MLM disini bukan Multi  Level Marketing yang lazim kita kenal, melainkan Mulut Lewat Mulut. Istilah yang sudah sering kita dengar untuk menggambarkan daya viral atau multiplier effect dari sebuah informasi hingga menjadi buah bibir dari mulut ke mulut. Baik sesuatu yang sifatnya baik atau buruk. Jika keburukan yang disebar dan diceritakan, pihak yang mendengarnya makin jijik dan benci. Ujung-ujungnya jadi hater. Walaupun hater itu hakikatnya adalah fans yang tertunda #tsaaah.

Namun jika kebaikan yang tersebar dan diceritakan dari mulut ke mulut, makin banyaklah pihak yang jatuh cinta. Hal ini menaikkan pencitraan. Tinggal tunggu kapan Pemilu, siapa tau beruntung terpilih jadi Presiden. Yah namanya juga Indonesia.

Nah, dalam urusan pengasuhan, ayah pengembara harus cerdas memanfaatkan kekuatan MLM ini sebagai upaya membentuk persepsi di kepala anak bahwa ayahnya yang super duper sibuk tersebut adalah lelaki yang baik, hebat dan layak dijadikan teladan. Yang ada dalam benak anak, ayahnya ini sosok layaknya superman. Jarang bersua, namun namanya masyhur sebagai tokoh yang dicintai dan dinantikan kehadirannya, khususnya di saat-saat genting. Anak mana yang tidak bangga jika memiliki ayah seperti ini. Maka dengan diam-diam sang anak berusaha untuk menjadi seperti ayah. Inilah efek dari persepsi yang baik akan ayah di mata anak.

๐Ÿ”…Disinilah peran ibu atau pengasuh utama anak amat berperan besar membentuk persepsi baik ayah di mata anak. Bukan hanya ibu. Orang terdekat dengan anak entah itu pembantu di rumah, neneknya atau paman serta bibi dari si anak juga berperan besar mewujudkan persepsi akan kebaikan ayah. Dari lisan mereka lah mengalir cerita kebaikan akan sosok ayah yang tak habis-habis. Mirip cerita komik superhero best seller yang terus terbit hingga ratusan episode. Anak serasa disuguhkan sosok pahlawan baru. Namanya fatherman. Lelaki yang disebut dengan ayah.

๐Ÿ”…Maka, ayah pengembara memiliki tugas utama : menorehkan kebaikan kepada orang di sekitar anak hingga getarannya sampai kepadanya. Dan pihak yang paling utama merasakan kebaikan ayah adalah sang ibu. Jangan sampai ibu malah curcol kepada anaknya tentang tabiat ayah. โ€œJangan kayak bapakmu nak. Tukang bohong. Kasar. Udah gitu jarang mandi. Bau. Ngoroknya stereo. Plis cukup ibu saja yang merasa tersakitiโ€. Dengan mata mendelik dan nafas tersengal sambil banting-banting foto sang ayah ke lantai. Ih lebay. Tapi jika benar, ini bahaya. Ibu yang suka menceritakan keburukan ayah berdampak dengan pudarnya kepercayaan akan sosok ayah. Tugas ayah pengembara adalah mencegah hal ini. Dengan berbuat baik kepada ibu si anak akan berbuah kepada cerita kebaikan ayah yang meskipun jauh namun berbekas di hati.  โ€œAyahmu sosok yang luar biasa. Meski jarang pulang tapi ia selalu memikirkan kita nak. Buktinya kemarin ayahmu kasih kejutan. Tau-tau kirim I-Phone 6 buat ibu. Plus batangan emas tiga kilo. Baik banget ya ayahmu.โ€ Wow, anak mana yang tak kagum dengan sosok ayah seperti ini?

Sekali lagi, jangan abaikan untuk berbuat baik kepada pasangan setiap saat. Ia lah sejatinya Public Relation atau Humas bagi sang ayah. Keburukan atau aib ayah akan ditutup rapat-rapat. Sementara kebaikan ayah mengalir deras tanpa henti. Perhatikan bagaimana nabi Ibrahim melakukan hal ini kepada istrinya, Hajar. Meskipun Hajar harus ditinggalkan di negeri yang tandus tak ada tanam-tanaman, yakni Mekkah di zaman dahulu, Hajar tak sekalipun curcol. Ia tak protes kepada anaknya seraya berkata โ€œBapakmu tegaaaaa! Kok bisa kita ditempatkan disini? Udah tandus, kering. Gak ada mall, tempat fitness dan swimming pool. Sungguh terlalu!โ€ Sama sekali tidak. Hajar bahkan menceritakan kebaikan Nabi Ibrahim kepada anaknya, Ismail. Sehingga meskipun Ibrahim hanya pulang setahun sekali tetap mampu mengikat hati sang anak. Ismail pun mengagumi sang Ayah. Dan ia pun menjadi salah satu penerus perjuangan ayahnya. Menjadi Nabi setelahnya. Like father like son.

Ayah yang begitu berbekas di dalam jiwa anak menjadikan anak selalu bercita-cita seperti ayahnya. Dari sisi inilah seorang ayah bisa melihat indikator kesuksesan perannya sebagai orang tua. Dan semua berawal dari sosok ayah yang peduli dengan ibu si anak alias istrinya. Jika ayah terpaksa LDR an dengan keluarga, maka saat menelpon dari jauh, tanyakan dulu kabar pasangan. Dengarkan dulu curhatnya dari jauh. Gembirakan hatinya. Baru kemudian bertanya kabar tentang anak. Hal ini mirip dengan instruksi keselamatan di pesawat saat oksigen berkurang, seorang ayah harus dahulukan yang dewasanya baru kemudian menyelamatkan anaknya.

Jika kebaikan yang dilakukan kepada Ibu si anak saja memberi pengaruh akan persepsi yang baik tentang ayah, apalagi kalau ayah senantiasa berbuat baik kepada pembantu, orangtua alias kakek dan nenek dari anak kita, yang sering kali dilibatkan dalam mengasuh. Makin banyak lah cerita kebaikan yang mengalir dari tiap mulut. Dan makin bertambah kagum lah si anak akan ayahnya.

Mulai dari sekarang, bertekadlah untuk berbuat baik kepada siapa saja, khususnya yang paling dekat dengan kehidupan anak. Bukan berniat riyaโ€™. Namun agar menjadi teladan dan contoh bagi sang anak. Berbuat baiklah khususnya kepada istri. Alias ibu dari anak kita. Bikin ia bahagia. Kalau perlu tawarkan โ€œKamu seratus juta sebulan cukup gak sayang? Kalau gak cukup bilang ya. Aku tinggal nambah lilin aja. Grogh..grogh..โ€. Ups emangnya ngepet? Hehe… ๐Ÿ”…Yah intinya ayah yang baik bermula dari suami yang peduli. Jangan abaikan itu.
(bersambung)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala…