Menamai Anak dengan Asmaul Husna

Assalamu’alaykum ustadzah. Mohon ijin bertanya. Saya pernah mendengar kalau nama-nama yang diambil dari asmaul husna tidak boleh digunakan untuk menamai anak. Untuk saudara yang terlanjur menamai anaknya dengan panggilan Rahman, Karim atau Hadi, apakah harus mengganti nama tersebut? Jazakumullah khoir

Jawaban:
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Betul sebaiknya Asma’ul Husna tidak dipakai untuk pemberian nama anak. Bahkan khusus untuk nama ‘Rahman’ sebagian ulama melarang  menggunakannnya. Karena merupakan Asmaul Husna yang sangat khusus, sebagaimana firman Allah :

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman.” (QS. Al-Isra’ :110)

Berkata Imam Asy Syaukani :
 “Ar-Rahman adalah diantara sifat-sifat Ghalibah yang tidak (boleh) dipakai untuk selain Allah Azza Wajalla.”

Berkata Al Imam An Nawawi :
“Ketahuilah memberi nama dengan nama ini diharamkan demikian pula memberi nama dengan nama-nama Allah yang khusus bagiNya seperti Ar-Rahman, Al-Quddus, Al-Muhaimin, Khaliqul Khalqi dan semisalnya.”

Tetapi ada juga yang berpendapat yang membolehkan untuk nama-nama seperti Rahim, Nur, Malik asal tidak memakai alif lam
karena dalam bahasa Arab, sebuah kata bila masih nakirah (diantara cirinya tanpa alif lam) maka ia berlaku umum, jadi kata malik, nur dan semisalnya selama masih dalam bentuk nakirah, bersifat kata yang umum dan tidak dimonopoli oleh lafadz asmaul Husna.

Dahulu ada shahabat yang juga memiliki nama serupa dengan Asmaul Husna semisal Ali (Ali bin Abi Thalib) dan Hakiim (Hakim bin Hizam).
Namun bila kata – kata diatas telah beralif lam, yakni dalam bentuk Ma’rifah (telah dikhususkan) barulah kemudian ini tidak boleh.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadzah Nurdiana

Sepatuku Dibawa Pergi Anjing

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah..
Kemarin waktu aku kerja, ditugasin buat datang ke rapat wilayah kerjaku. Waktu aku kerumah pak RW ada anjing. Waktu sepatuku lepas diciumin sama anjing sempet dibawa juga hehe. Tapi anjingnya itu tidak ada air liurnya. Trus apa yg mesti aku lakukan? #A 40

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Bismillah wal Hamdulillah ..

Hanafiyah dan Hambaliyah mengatakan liur anjing itu najis, sedangkan kulit, kuku, dan bulunya tidak.

Syafi’iyah mengatakan liur anjing dan sekujur tubuhnya adalah najis.

Malikiyah mengatakan liur anjing dan sekujur tubuhnya suci, tidak najis.

Kalau digigit, apalagi sampai dibawa segala, pastilah ada liurnya walau sedikit. Maka, ambil amannya saja, ikuti pendapat mayoritas ulama bahwa liur anjing adalah najis. Maka, cuci dengan air 7 kali, diawali dengan tanah.

Wallahu a’lam.

Dijawab olehi: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S

Penyakit didalam Dakwah

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…
Kami ngin solusi/obat dari masing2 penyakit itu (materi tgl 25 Januari, ‘ Dakwah dan Harokah’) Sudah sering penyakit itu di share, bc dll… Tapi obatnya ana gak pernah lihat dishare d sini….

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
‘ilaj/obat dari penyakit2 ini adalah:

1. Luruskan niat dalam da’wah, meninggikan Islam, bukan diri sendiri atau kelompok. Terus begitu, perbarui niat …

2. Pelajari dan resapi lagi sejarah da’wah para nabi yang begitu panjang, yg merupakan tabiat jalan da’wah

3. Lapang dada dengan kekurangan sesama aktifis Islam, memanusiakannya, bukan memalaikatkannya, dan memberikan uzur atas kekurangannya

4. Tidak boleh merasa paling baik, paling benar, sebab semua sama2 dlm proses titian menuju kebaikan tersebut

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Farid Nu’man

Makan, Minum, Rokok… Pembatal Wudhu?

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…saya mau nanya apakah makan,minum,dan merokok itu tidak/dapat membatalkan wudhu..mohon penjelasanya..trima kasih..

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Apakah makan bisa membatalkan wudhu? Ada beberapa rincian tentang hukum ini,

Pertama, makan daging onta
Ada hadis yang menegaskan bahwa orang yang makan daging onta, disyariatkan untuk berwudhu.

Diantaranya hadis dari  Jabir bin Samurah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Apakah  saya harus berwudhu karena makan daging kambing?”
Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إن شئت فتوضأ، وإن شئت فلا تتوضأ

“Kalau kamu mau boleh wudhu, boleh juga tidak wudhu”.

Kemudian dia bertanya lagi,

“Apakah saya harus berwudhu karena makan daging onta?”

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ

“Ya, berwudhulah karena makan daging onta.” (HR. Ahmad 21358, Muslim 828, dan yang lainnya).

Apakah membatalkan wudhu?

Ulama berbeda pendapat tentang hukum makan daging onta, apakah membatalkan wudhu ataukah tidak.

An-Nawawi menyebutkan,

فاختلف العلماء في أكل لحوم الجزور وذهب الاكثرون إلى أنه لاينقض الوضوء ممن ذهب إليه الخلفاء الأربعة الراشدون… وذهب إلى انتقاض الوضوء به أحمد بن حنبل وإسحاق بن راهويه ويحيى بن يحيى وأبو بكر بن المنذر وبن خزيمة واختاره الحافظ أبو بكر البيهقي

Ulama berbeda pendapat tentang status makan daging onta, apakah membatalkan wudhu ataukah tidak. Mayoritas ulama berpendapat, makan daging onta tidak membatalkan wudhu. Diantara yang berpendapat demikian adalah empat khulafa’ Rasyidin. Sementara ulama yang berpendapat makan daging onta membatalkan wudhu, diantaranya Imam Ahmad, Ishaq bin Rahuyah, Yahya bin Yahya, Ibnul Mundzir, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hafidz al-Baihaqi as-Syafii.  (Syarh Shahih Muslim, 4/48).

An-Nawawi juga menyebutkan sejumlah sahabat yang berpendapat bahwa makan daging onta bisa membatalkan wudhu.

insyaaAllah pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat kedua, bahwa makan daging onta bisa membatalkan wudhu, sebagaimana dinyatakan dalam hadis Jabir bin Samurah di atas.

Kedua, makan makanan yang dimasak

Ada beberapa hadis yang memberikan kesimpulan hukum berbeda terkait makan makanan yang dimasak. Apakah membatalkan wudhu ataukah tidak. Kita akan simak hadisnya masing-masing.

Pertama, hadis yang mewajibkan wudhu karena makan makanan yang dimasak.

Hadis dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْوُضُوءُ مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

“Harus wudhu karena makan makanan yang tersentuh api.” (HR. Muslim 814)

Keterangan:

Yang dimaksud makanan tersentuh api adalah makanan yang dimasak, dengan cara apapun. (Mur’atul Mafatih, 2/22).

Kemudian hadis dari Ibrahim bin Abdillah bin Qaridz, bahwa beliau pernah melewati Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu yang sedang berwudhu. Kemudian Abu Hurairah bertanya, ‘Tahu kenapa saya berwudhu? Karena saya baru saja maka keju. Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَوَضَّئُوا مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

“Berwudhulah karena makan makanan yang tersentuh api.” (HR. Ahmad 7819, Muslim 815, yang lainnya).

Selanjutnya, kita sebutkan hadis yang kedua, yang tidak menganjurkann wudhu setelah makan.

Hadis dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma,

قَرَّبْتُ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- خُبْزًا وَلَحْمًا فَأَكَلَ ثُمَّ دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ بِهِ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ دَعَا بِفَضْلِ طَعَامِهِ فَأَكَلَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

Saya pernah menghidangkan untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sepotong roti dan daging lalu beliau memakannya. Kemudian beliau minta dibawakan air, lalu beliau wudhu dan shalat dzuhur. Kemudian beliau meminta dibawakan sisa makananya tadi, lalu beliau memakannya, kemudian beliau shalat (sunah) tanpa berwudhu. (HR. Abu Daud 191 dan dishahihkan al-Albani).

Kemudian hadis dari Amr bin Umayyah Radhiyallahu ‘anhu, beliau melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memotong daging kambing dengan pisau untuk dimakan. Kemudian datang waktu shalat. Lalu beliau letakkan pisau itu, kemudian shalat tanpa berwudhu. (HR. Bukhari 208 & Muslim 820)

Kemudian keterangan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma,

كَانَ آخِرُ الأَمْرَيْنِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَرْكَ الْوُضُوءِ مِمَّا غَيَّرَتِ النَّارُ

Aturan terakhir dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak berwudhu karena makan makanan yang dimasak. (HR. Abu Daud 192, Nasai 185, Ibnu Hibban 1134 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Apakah membatalkan wudhu?

Ulama berbeda pendapat dalam memahami dua hadis di atas. Sebagian mengkompromikan kedua hadis itu. Dan mereka berpendapat bahwa hadis yang memerintahkan untuk berwudhu karena makan makanan yang dimasak dipahami sebagai perintah anjuran. Sehingga makan makanan yang dimasak tidak membatalkan wudhu, namun dianjurkan untuk wudhu. (Fiqh Sunah, Sayid Sabiq, 1/59).

Ada juga yang memahami bahwa hadis Jabir menjadi nasikh (menghapus hukum) hadis yang memerintahkan wudhu karena makan makanan yang dimasak.

At-Turmudzi dalam Sunannya setelah menyebutkan hadis Jabir, beliau mengatakan,

والعمل على هذا عند أكثر أهل العلم من أصحاب النبى -صلى الله عليه وسلم- والتابعين ومن بعدهم مثل سفيان الثورى وابن المبارك والشافعى وأحمد وإسحاق رأوا ترك الوضوء مما مست النار. وهذا آخر الأمرين من رسول الله -صلى الله عليه وسلم-. وكأن هذا الحديث ناسخ للحديث الأول حديث الوضوء مما مست النار

Inilah yang diamalkan oleh mayoritas ulama di kalangan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in dan generasi setelahnya. Seperti Sufyan at-Tsauri, Ibnul Mubarok, as-Syafii, Ahmad, Ishaq. Mereka berpendapat tidak perlu wudhu karena makan makanan yang dimasak. Itulah hukum terakhir dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seolah ini adalah hadis yang menghapus hukum untuk hadis pertama, yaitu hadis perintah wudhu karena makan makanan yang dimasak. (Jami’ at-Turmudzi, 1/140).

insyaaAllah pendapat kedua inilah yang lebih mendekati kebenaran.

Ketiga, selain jenis makanan di atas.

Selain onta dan makanan yang dimasak, seperti buah-buahan, atau makanan yang dimakan tanpa dimasak, tidak ada kewajiban berwudhu. Karena hukum asal bukan pembatal wudhu, kecuali ada dalil bahwa itu membatalkan wudhu.

Sedangkan merokok, para ulama memfatwakan bahwa rokok bukan termasuk pembatal wudhu. Sebagaimana makan dan minum tidak membatalkan wudhu. Demikian keterangan Imam Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawa dan Risalah beliau jilid kesepuluh. Hal yang sama juga ditegaskan dalam Fatawa Syabakah Islamimiyah, dalam fatwa no. 31004 dinyatakan:

فالتدخين لا ينقض الوضوء ولا يعلم في ذلك خلاف

“Merokok, tidak membatalkan wudhu. Tidak diketahui adanya perselisihan dalam hal ini.”

Namun ada satu hal yang lebih penting untuk kita perhatikan.

Semua orang sepakat bahwa rokok meninggalkan aroma tidak sedap di mulut. Tidak hanya orang lain, bahkan para perokok sendiri mengakui demikian. Anda bisa buktikan dengan banyaknya wanita yang mengeluh karena dia memiliki suami perokok. Setidaknya, keberadaan rokok di keluarga itu telah mengurangi romantisme suami istri.

Dari sisi medis juga, semua sepakat bahwa merokok memiliki banyak efek negatif bagi kesehatan daripada manfaatnya. Maka kami sangat menganjurkan untuk meninggalkan kebiasaan merokok, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari ‘Amru bin Yahya Al Muzani dari Bapaknya bahwa Rasulullah Shalla Allahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh membuat kemudharatan pada diri sendiri dan membuat kemudharatan pada orang lain.” (HR. Malik no. 1234, Ibnu Majah no. 2331). Demikian.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Slamet Setiawan

Membangun Masjid dgn Meminta Sumbangan di Jalan

Assalamualaikum Wr.Wb Ibu ustadzah, saya mau tanya bagaimana hukumnya dalam Islam jika ada sekelompok orang meminta-minta di tengah jalan untuk pembangunan mesjid. Sangat mengganggu sekali karena setel lagu Qasidahan dan orangnya berbicara sangat keras menggunakan mick… trus di jalanan pasang 5 drum dan tambang besar dan kursi…. mohon jawabannya terima kasih.

Jawaban:

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،

Tentang pembangunan masjid. Niat mereka sesungguhnya baik mengajak setiap yang lewat untuk berpartisipasi dalam pembangunan masjid. Akan tetapi niat baik saja tidak cukup, terbukti banyak yang berpendapat bahwa apa yang dilakukan itu mempermalukan Islam. Mengganggu karena  suara keras, macet dan masih banyak lagi komentar. Lantas bagaimana dalam Islam hukumnya?
Hukum asal memotivasi orang untuk menyumbang mesjid boleh. Akan tetapi kalau pelaksanaannya mengganggu ketertiban umum. Jalan jadi macet atau berpotensi terjadi kecelakaan atau menimbulkan kemudharatan ini tidak boleh.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadzah Nurdiana

Kehati-hatian dalam Makanan

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh ustadz/ah….kalau dapat kiriman makanan dari non-Muslim yang bukan snack kemasan (tapi dimasak dirumah), dan kita tahu mereka dirumah masak babi untuk konsumsi mereka sendiri, gak boleh dong? Walaupun daging yang dibeli halal.

Jawaban :
—————-

 وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jika kita sudah tahu kondisinya demikian, untuk kehati-hatian sebaiknya tidak dikonsumsi. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda bahwa halal dan haram itu jelas. Dan di antara keduanya ada syubhat.

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Telah menceritakan kepada kami Zakaria dari ‘Amir berkata; aku mendengar An Nu’man bin Basyir berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 “Yang halal sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas. Namun diantara keduanya ada perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Maka barangsiapa yang menjauhi diri dari yang syubhat berarti telah memelihara agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang sampai jatuh (mengerjakan) pada perkara-perkara syubhat, sungguh dia seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang yang dikhawatirkan akan jatuh ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki batasan, dan ketahuilah bahwa batasan larangan Allah di bumi-Nya adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati”. (Shahih Bukhari nomor 50).

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Slamet Setiawan

Adab di Kamar Mandi

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Minta dalil yang menerangkan kalau di kamar mandi tidak boleh nyanyi atau berlama-lama dan wudhu tanpa pakaian.

Jawaban :

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Dalil yang menjelaskan tidak boleh berlama lama di kamar mandi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ هَذِهِ الْحُشُوشَ مُحْتَضَرَةٌ
“Sesungguhnya tempat buang hajat ini telah didiami (oleh syetan)..” (HR Ahmad: 4/373, Ibnu Majah: 296, Ibnu Hibban: 1406)

Maka jika salah seorang dari kalian hendak memasuki kamar mandi (WC), ucapkanlah:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ اْلخُبُثِ وَ اْلخَبَائِثِ

Allahumma innii a’uudzu bika minal-khubusyi wal-khabaaisyi.

“Yaa Allah… Aku berlindung kepada-Mu dari gangguan Syaithon laki-laki dan Syaithon perempuan.” (HR. Bukhori 142, Muslim 375). [1]

Diantara tanda suksesnya iblis menggoda yaitu.mereka yang berlama lama.di kamar mandi seperti main hp, bernyanyi. Meroko atau hanya bermain main air.

Wudhu tanpa pakaian
Sepanjang syarat dan rukunnya di penuhi wudhu nya sah.akan tetapi kita bicara  sebaiknya tidak hanya dari sudut fiqh saja tapi juga perhatikan dari sisi adab. Menghadap orang saja kita malu bahkan kita akan memakai pakaian terbaik kita saat kita dipanggil orang penting atau tokoh. Nah apalagi ini.kita akan mengahadap Allah raja di raja penguasa Alam semesta dan harusnya kita lebih malu lagi karena Allah sudah memberi rezqi terbaik buat kita kenapa sebelum berwudhu kita tidak berpakaian baik dulu atau paling tidak ada tabir penutup aurat. Rasulullah bersabda

فَالله أَحقّ أَنْ يستحيا مِنْهُ

“Allah lebih layak seseorang itu mallu kepada-Nya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, Ibn Majah, dan dihasankan Al-Albani)

Wallahu a’lam.


Dijawab oleh Ustadzah Nurdiana

Dulu Sapa Sekarang Tidak

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah saya mau bertanya. Gimana hukumnya jika dua orang (akhwat & ikhwan) yang dulunya berteman tetapi sekarang tidak pernah bertegur sapa saat bertemu? Seolah-olah seperti tidak saling kenal..
# A 45

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Bergaul dengan siapa saja bagi setiap individu mungkin merupakan suatu kebutuhan yang lazim dan harus. Sosialisasilah yang membuat manusia dapat  mengalami titik tolak perubahan dalam dirinya. Pergaulan yang harus diperlihatkan bukanlah pergaulan yang salah, tidak jenis pergaulan yang mematuhi syariat yang dianjurkan/diperintahkan islam di dalamnya. Semua pencapaian dan akhir klimaks bagi setiap orang harus memenuhi rasa syukur dan bangga secara lahiriah maupun batiniah. Itulah tadi mengapa manusia harus melakukan interaksi yang baik? Jawabannya karena ingin memperoleh hasil yang baik dan mempunyai manfaat bagi dirinya atau orang lain yang bersangkutan.

 Perlu kita bahas bagaimana pergaulan yang benar antara saudara kita yang satu dengan yang lainnya. Ikwan dan akhwat. Jika mendengar kata tersebut, maka setiap individu sontak menyadari bahwa dirinyalah ikhwan atau akhwan. Sebuah penciptaan yang tidak sia-sia dari yang Maha Agung dalam menciptakan manusia yang berbeda-beda jenis kelamin. Tujuan ini di dasarkan atas tujuan sang pencipta untuk manusia berpasang-pasangan.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang artinya:

” Wahai orang-orang yang beriman ! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-oorang kafir itu tidak halal bagi mereka. Dan berikanlah kepada ( suami ) mereka mahar yang telah mereka berikan. Dan tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu bayarkan kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu meminta kembali mahar yang telah kamu berikan; dan (jika suaminya tetap kafir) biarkan mereka meminta kembali mahar yang telah mereka bayarkan (kepada mantan istrinya yang telah beriman). Demikianlah hukum Allah yang telah ditetapkanNya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS : Al- Mumtahanah: 10)

Dalam pergaulannya, tidak selamanya seorang ikhwan akan bergaul dengan ikhwan. Begitupun sebaliknya, tak selamanya seorang akhwat akan bergaul dengan seorang akhwat. Pasti ada hubungan atau interaksi sosial yang sifatnya heterogen. Dan biasanya interaksi yang heterogen dapat diambil arti bahwa hubungan pertemanan yang dilakukan dari akwat dengan ikhwan. Pergaulan antara ikhwan dan akhwat tetap diperbolehkan dalam islam asalkan semua pergaulan yang dilakukan didasarkan atas perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya, serta mengikuti anjuran Al-Quran, Hadits, dan As-sunnah.

Jangan sampai pergaulan yang kita lakukan antara ikhwan dan akhwat merupakan pergaulan yang dapat mengundang murka Allah, dan setiap orang (Ikhwan-akhwat) harus meemperhatikan dan menjaga dirinya baik- baik.

Islam tidak melarang ikhwan dan akhwat untuk bertegur sapa selama tidak berlebihan dan tetap menjaga diri. Dan perlu dicatat, dalam pergaulan antar lawan jenis jangan sampai membuka peluang setan untuk menjerumuskan atau menggoda kita melewati batas, misalnya mengobrol berdua di tempat sepi dll.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Slamet Setiawan

Doa Nurbuat

Assalamu’alaikum, mau tanya. Pengalaman membaca doa nurbuat itu apakah dianjurkan oleh Rasulullah? Mohon jawabannya yaa ukh, syukron.

Jawab:

Wa’alaikumussalaam wrwb…

Banyak ulama meragukan apakah doa nurbuat ini benar berasal dari Rasulullah saw atau tidak.
Karena ada beberapa alasan yang cukup kuat yang harus dipertimbangkan, diantaranya adalah kesalahan tata bahasa dalam sebagian lafazh doa yang tidak sesuai dengan nahwu bahasa Arab, juga isi permintaan dalam doa tersebut serta keutamaan-keutamaan membaca doa ini yang tidak jelas dasar dalilnya.
Oleh karena itu, sebagian ulama berpendapat bahwa doa ini bukan berasal dari Nabi saw dan tidak ada anjuran khusus untuk membacanya sehingga tidak layak untuk dirutinkan.

Meskipun demikian, ada juga kalangan ulama yang mengatakan bahwa walaupun doa nurbuat ini bukan berasal dari Nabi saw, namun membaca doa ini boleh-boleh saja, sebagaimana hukum berdoa secara umum yakni boleh-boleh saja untuk berdoa meminta kebaikan-kebaikan kepada Allah SWT asalkan isinya tidak bertentangan dengan syariat.
Walaupun memang, doa yang paling utama adalah doa yang terdapat dalam Al Quran, doa yang berasal dari Nabi saw, dan doa yang berasal dari para sahabat dan orang-orang sholeh terdahulu.

Maka untuk lebih afdhol dan keluar dari perbedaan pendapat ini, adalah lebih baik jika kita mengamalkan doa-doa yang utama yakni doa-doa yang terdapat dalam Al Quran, doa yang berasal dari Nabi saw, para sahabat dan orang-orang sholeh terdahulu.

Demikian, wallaahu a’lam bishshowab…

Dijawab oleh Ustadzah Prima Eyza

HIJRAHNYA SHAHABIYAH

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah….
Klo dilihat dr zaman rasul saw. Hijrah yg seperti apa yg plg baik yg telah dilakukan wanita2 d sanaa? Mungkin sprti siti aisyah, / siapa agar kami bisa blajar. Afwan

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Seluruh shahabiyah adalah bintang-bintang bercahaya karena ilmu yang dimilikinya.

K!ita teringat dengan seorang wanita berpenyakit ayan yang memilih tidak jadi meminta kesembuhan dan hanya mengharapkan agar ketika ayan-nya kambuh auratnya tidak tersingkap, inilah wujud wanita yang mampu membuat keputusan prioritas

Kita teringat dengan Fathimah r.a. yang sejak kecil hingga wafat selalu sabar dalam ekonomi serba terbatas

Kita teringat seorang wanita yang menangis ketika dikunjuni Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. pasca wafatnya Nabi ﷺ. Bukan menangis karena tiadanya Nabi, namun menangis karena terputusnya ilmu yang ia cintai karena wafatnya Nabi.

Terlalu banyak cahaya purnama para shahabiyah, prioritaskanlah untuk membaca biografi mereka, dan mengambil faidah dari akhlak mereka.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Wido Supraha