Hidangan dari Perayaan Agama Lain

Assalamu’alaikum…Bagaimana hukumnya makan makanan dari ummat agama lain dlm rangka peringatan hari besarnya. Misal tetangga yg nasrani membagi snack kepada anak2,semacam ulang tahun itu,pada hari natal ini ?
Wassalamu’alaikum wr. wb.

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Kita tidak bisa menerima penyelewengan umat kristiani yang telah menuhankan nabi Isa alaihissalam. Tindakan ini adalah sebuah tindakan syirik yang dosanya tidak akan diampuni. Ditambah lagi mereka juga menyembah tiga tuhan (trinitas).

Karena itulah mereka ini ditetapkan sebagai kafir oleh Al-Quran Al-Kariem.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam”, padahal Al-Masih berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS Al-Maidah: 72)

لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَـهٍ إِلاَّ إِلَـهٌ وَاحِدٌ وَإِن لَّمْ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS Al-Maidah: 73)

Hukum Makanan Natal

Namun lepas dari ketidak-setujuan kita dengan aqidah mereka, khusus dalam masalah makanan yang mereka buat, pada dasarnya tidak ada larangan khusus. Bahkan dalam Al-Quran telah ditegaskan bahwa hewan sembelihan ahli kitab halal buat umat Islam, seperti juga kebalikannya.

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلُّ لَّهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلاَ مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَن يَكْفُرْ بِالإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi”. (QS Al-Maidah: 5)

Sedangkan yang diharamkan adalah hewan yang disembelih untuk dipersembahkan kepada selain Allah.

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang disembelih selain untuk Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS. Al-Baqarah: 173)

Maka makanan yang ketika disembelih diniatkan untuk berhala misalnya, makanan itu haram untuk kita makan.

Tapi sebaliknya, bila tidak untuk berhala melainkan sekedar hidangan konsumsi biasa, meski untuk acara natal sekalipun, sebenarnya tidak ada ‘illat yang membuatnya menjadi haram. Baik secara zatnya atau pun secara nilainya.

Haram secara zat misalnya karena makanan itu najis seperti bangkai, anjing, babi dan sebagainya. Atau karena berupa khamar yang diharamkan. Atau karena zatnya memang berbahaya buat manusia seperti racun, drugs, narkoba dan sejenisnya.

Sedangkan haram secara nilai misalnya karena hasil curian, atau dipersembahkan untuk berhala. Sedangkan bila makanan itu pernah diedarkan untuk sebuah perayaan agama lain namun bukan buat persembahan berhala, tentu tidak ada kaitannya dengan zat dan nilainya.

Meski tidak ada yang salah dari segi zat dan nilainya, bukan berarti kita bebas begitu saja memakannya. Sebab bisa saja makanan itu mengandung unsur lain seperti menjaring umat Islam untuk murtad dari agamanya. Mulai dari menanam budi tapi ujung-ujungnya banyak juga yang bergantung.

Dengan masuknya bantuan makan, obat, sekolah, beasiswa serta kebutuhan hidup yang lain, seringkali terjadi kemurtadan di tengah umat. Karena itu umat Islam perlu waspada dan hati-hati menerima hadiah atau bantuan dari agama lain.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Slamet Setiawan

Penyakit Ain

Ka mau nanya, bisa jelaskan ngga penyakit ‘ain itu seperti apa yaa?

Jawab:

Penyakit ‘ain bukanlah penyakit medis, akan tetapi dapat mengganggu kesehatan orang yang terkena ‘ain.
‘Ain berasal dari bahasa Arab, yakni kata ‘ana-Ya’inu yang artinya “apabila ia menatapnya dengan matanya”.
Jadi ‘ain adalah penyakit yang disebabkan oleh pandangan mata.
Para ulama mengatakan, ‘ain bisa disebabkan oleh pandangan mata yang hasad, atau pun sebaliknya oleh pandangan mata yang penuh kekaguman, namun diikuti oleh jiwa yang keji sehingga pandangan mata tersebut mengantarkan pengaruh buruk kekejian jiwanya kepada orang yang dipandangnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

والعين نظر باستحسان مشوب بحسد من خبيث الطبع يحصل للمنظور منه ضرر

“Dan ‘ain itu adalah pandangan suka disertai hasad yang berasal dari kejelekan tabiat, yang dapat menyebabkan orang yang dipandang itu tertimpa suatu bahaya.”
(Fathul Bari, 10/200)

Penyakit ‘ain adalah sesuatu yang nyata-nyata ada.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

الْعَيْنُ حَق وَلَوْ كَانَ شَىْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا

“’Ain itu benar adanya, andaikan ada sesuatu yang dapat mendahului taqdir maka ‘ain akan mendahuluinya, dan apabila kalian diminta untuk mandi maka mandilah.”
(HR. Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma)

Benteng utama agar kita terhindar dari penyakit ‘ain adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, berserah diri dan menggantungkan perlindungan hanya kepada-Nya, serta hendaklah merutinkan dzikir di setiap waktu dan tempat semaksimal yang kita bisa, terutama senantiasa menghidupkan dzikir pagi dan petang hari serta menjaga ibadah-ibadah harian lainnya.

Demikian, wallaahu a’lam bishshowab..

Dijawab oleh Ustadzah Prima Eyza

Memakai Lipstik

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah..Apakah memakai lipstik merupakan salah satu yg di haramkan?  Karena saya liat  banyak yang tidak pakai..

Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Tidak memakai lipstik adalah bentuk kehati-hatian dari menghindar tabarruj .. ini ahsan, belum lagi bahannya yg tdk diketahui halal n haramnya.

Setiap wanita tidak sama dalam kesiapan mental dalam hal ini, maka bagi yg tahap belajar dan baru berjalan menuju Kaaffah saya cnderung tidak melarang kalo tipis2 saja .., tapi sudah seharusnya bagi wanita yg iffah dan taqwa kepada Allah untuk menghindarinya ..

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Farid Nu’man

Muamalah

Assalamualaikum ustadz/ah..mau tanya ttg tahlilan persatuan Rt yg diadakan setelah magrib dan selesai setelah waktu isya..sehingga isya nggak tepat waktu molor karena makan2 dulu. Gmana menyikapi hal ini bila tdk ikut persatuan kita dibilang tidak mau bergaul. Uasinan ini khusus bpk2 dan ada arisannya..sehingga klo malam jumat magrib dan isya gak ada yg sholat kemasjid?mhon pencerahannya..syukron
A34

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
 Penyelewengan dakwah yang harus dihindari:
– Fitnah Ilmu: dapat menyebabkan dikeluarnya hukum baru yang sama sekali tidak ada di al-qur’an dan al-Hadits.

– Furu’iyah dan ushul: selalu memperdebatkan masalah tersebut dari bentuk lahiriahnya tanpa melihat dan mengurus isi/pokok (inti). Karena sebelum menyuruh seseorang yang diseru dengan hal-hal yang bersifat furu’iyah (cabang), terlebih dahulu bersama mereka harus mengukuhkan dan menegakkan masalah ushul (pokok) atau dasar aqidah Islam dalam diri kita.

– Keras dan Keterlaluan: para da’i harus waspada untuk tidak terlalu keras dan sangat keterlaluan dalam membebankan dirinya dengan melakukan tugas-tugas taat dan ibadah yang diluar kemampuannya. Juru dakwah harus dapat membedakan antara tindakan yang tegas penuh kesungguhan, dengan keterlaluan serta membebani diri di luar kemampuan. Amal yang sedikit tetapi kontinu itu lebih baik dari pada amal yang banyak tetapi terputus dan terhenti di tengah jalan.

– Sikap terburu-buru dan Kelonggaran: Sikap terburu-buru berbahaya karena mengakibatkan tindakan tanpa perencanaan yang matang. Selanjutnya, hal ini akan mengakibatkan tidak tercapainya tujuan yang dicita-citakan, bahkan dapat merusak dan membahayakan harakah Islam.

– Antara Politik dan Pendidikan: Dalam dakwah tidak boleh memandang enteng peranan tarbiyah (pendidikan) pembentukan dan perlunya beriltizam dengan ajaran Islam dalam membentuk asas dan dasar yang teguh. Dalam dakwah juga tidak boleh terburu-buru mempergunakan cara dan uslub politik menurut syarat dan cara partai-partai politik karena dengan begitu kita akan mudah terpedaya dengan kuantitas anggota yang diambil dan dianggap menguntungkan tanpa mewujudkan iltizam tarbiyah.

– Antara Dakwah dan Pribadi Manusia: karena Juru dakwah adalah manusia yang kadang kala benar dan kadang kala salah serta kadangkala berbeda pendapat. Tetapi diharapkan para da’i dapat mengkondisikan diri. Sehingga perbedaan pendapat tidak menjadikan para da’i merasa paling benar dan menjadi ahli debat dengan mengatas namakan dakwah. Hal ini akan menghancurkan segala usaha kita disebabkan waktu yang terbuang percuma untuk perdebatan, perpecahan, dan usaha untuk membuat perdamaian yang terus saja berulang jika muncul masalah baru.

Di sekitar penyelewengan:
– Kontradiksi dan Kesulitan: Seorang da’i harus terampil dalam mengamati lingkungannya. Karena banyaknya kondisi yang kontradiksi di masyarakat kita. Yang mana adanya masyarakat dihadapkan pada kehidupan yang penuh kemaksiatan dan kehidupan yang Islami yang bebas dari kemaksiatan. Jika tidak ada yang memberi petunjuk dan bimbingan terhadap jalan fikiran dikhawatirkan masyarakat akan memilih kehidupan yang penuh kemaksiatan daripada kehidupan yang bebas dari kemaksiatan.

– Siapa yang bertanggung jawab bila penyelewengan terjadi? Jawabannya adalah jamaah. Karena seharusnya jamaah inilah yang mengarahkan, menunjukkan dan membimbing mereka berjalan di jalan dakwah sesuai dengan perjalan Rasulullah saw. Dan terus diterapkan sampai ajal tiba.

– Syumul dan Pandangan Jauh: Bekerja untuk Islam harus mempunyai pandangan yang syumul (menyeluruh) dan mendalam serta berpandangan jauh. Karena jalan dakwah ini butuh strategi yang sudah diperhitungkan sebelumnya resiko apa yang akan diambil. karena berdasarkan pengalaman, semangat yang meluap-luap bukanlah bukti kekuatan iman, malah menunjukkan kedangkalan jiwanya dan kurangnya kesiapan serta tidak bersabar menghadapi penderitaan. Ingatlah bahwa permasalahan dakwah ini menginginkan perubahan menuju tegaknya Daulah Islamiyah ‘Alamiyah (Negara Islam sejagat) dan untuk seluruh manusia. Maka diperlukan pandangan yang syumul, perhatian, dan perhitungan sewajarnya.

– Jalan yang benar: Untuk mencapai tujuan yang telah dicita-citakan, agar yang bathil itu diubah dan daulah yang haq ditegakkan, bagaimanapun harus dilakukan dengan jalan yang benar dan tepat yaitu, dengan menanam dasar aqidah secarah kokoh di dalam jiwa, mendidik da mempersiapkan generasi mukmin yang benar dan mampu mambangun suatu perubahan, membangun rumah tangga muslim yang menampilkan Islam di segenap kegiatan dan aspek hidupnya, bekerja dan berusaha sungguh-sungguh memenangkan pendapat umum, agar mereka memihak dakwah Islam.

– Merubah Realitas dan Menghapus Kemungkaran: hal ini memang merupakan tujuan dakwah. Tapi sekali lagi, para da’i harus memperhatikan bahwa merubah realitas dan menghapus kemungkaran bukanlah dilakukan dengan tindakan serta merta dan memerangi secara langsung atau memasuki medan pertentangan. Teladan yang diberikan oleh Rasulullah pada penduduk Mekah patut dijadikan contoh. Beliau tidak langsung memerangi penduduk Mekah yang menyembah berhala. Tetapi menunggu waktu yang tepat dan masa yang tepat untuk menghancurkan berhala-berhala tersebut.

– Kesabaran, Ketahanan dan penyampaian dakwah: Tiga unsur ini sangat penting di peringkat pertama dakwah yaitu sabar, tetap bertahan (istiqomah), dan menyampaikan dakwah dengan tekun.

– Jihad dan Menjual diri untuk Allah. Kesadaran inilah yang harus dimiliki seorang da’i untuk mensukseskan jalan dakwah ini.

Bagaimanapun, penyelewengan fikrah (pemikiran) lebih berbahaya dari pada penyelewengan harakiah (gerakan).

Tapi memang membangun kebaikan butuh perjuangan. Tidak mudah. Kita harus menyelami keadaan masyarakat. Menyesuaikan sebagai etika. Jika bisa diberi masukan lebih bagus.
Bole menyelesaikan acaranya terlebih dahulu lalu coba mengajak u sholat isya berjamaah, usahakan tdk jauh terlewat dari waktu adzan.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadzah Rochma Yulika

Membunuh Semut

Assalamu’alaikum ustadzah… sebenarnyaaa membunuh semut itu haram gk sih . Terus kalau diberi kapur barus hingga semutnya mati .. itu menurut ukh miya gimna hukumnya ?

=========
Jawab:

Wa’alaikumussalaam warahmatullah…

Binatang semut sebenarnya termasuk salah satu dari binatang yang diharamkan untuk dibunuh. Sebagaimana hadits Nabi saw dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِّ النَّمْلَةُ وَالنَّحْلَةُ وَالْهُدْهُدُ وَالصُّرَدُ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh empat hewan: semut, lebah, burung Hudhud dan burung Shurad.” (HR. Abu Daud no. 5267, Ibnu Majah no. 3224 dan Ahmad 1: 332. Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Jadi ada empat binatang yang dilarang boleh Nabi saw untuk dibunuh, yakni: semut, lebah, burung Hudhud, dan burung Shurad.

Namun apabila binatang-binatang tersebut mengganggu, maka ia diperbolehkan untuk dibunuh. Hal ini mengacu kepada hadits Nabi saw tentang binatang fasik yang boleh dibunuh karena sifatnya yang pengganggu. Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِى الْحَرَمِ الْفَأْرَةُ ، وَالْعَقْرَبُ ، وَالْحُدَيَّا ، وَالْغُرَابُ ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ

“Ada lima jenis hewan fasik yang boleh dibunuh ketika sedang ihram, yaitu tikus, kalajengking, burung rajawali, burung gagak dan kalb aqur (anjing galak).” (HR. Bukhari no. 3314 dan Muslim no. 1198)

Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim (8: 114) menjelaskan bahwa makna fasik dalam bahasa Arab adalah al khuruj (keluar). Seseorang disebut fasik apabila ia keluar dari perintah dan ketaatan pada Allah Ta’ala. Lantas hewan-hewan ini disebut fasik karena keluarnya mereka hanya untuk mengganggu dan membuat kerusakan di jalan yang biasa dilalui hewan-hewan tunggangan. Ada pula ulama yang menerangkan bahwa hewan-hewan ini disebut fasik karena mereka keluar dari hewan-hewan yang diharamkan untuk dibunuh di tanah haram dan ketika ihram.

Maka hal ini berlaku pula kepada semut, apabila ia mengganggu maka boleh dibunuh. Namun jika ia tidak mengganggu, maka kembali kepada hadits Nabi saw di awal bahwa ia diharamkan untuk dibunuh.

Lalu bagaimana cara membunuh semut ?
Ada larangan dari Nabi saw untuk membunuh semut dengan api, berdasarkan hadits dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, ketika Rasulullah dan para sahabat sedang melakukan safar, Rasulullah saw melihat sebuah sarang semut sedang terbakar oleh api.
Lalu Rasullulah saw bertanya “siapa yang telah membakar ini? lalu para sahabat langsung menjawab “kami ya Rasulullah” lalu Rasulullah bersabda : “Tidak boleh membunuh dengan api kecuali Rabb sang pemilik api (Allah).”
(H.R Abu Daud).

Maka jika pun semut terpaksa dibunuh karena mengganggu, tidak boleh dengan menggunakan api. Menggunakan kapur barus dan sejenisnya lebih aman dan keluar dari keharaman hadits ini.

Demikian, waLLAAHU a’lam bishshowab…

Dijawab oleh Ustadzah Prima Eyza Purnama

Adab Menasehati Teman

Adab Menasehati Teman

Ustadz Wido Supraha

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…bagaimana cara nya memberi tau yg baik ke teman agar dia bisa hijrah ke yg lebih baik..karena pd dasar nya dia ingin berubah akan tetapi karena pergaulan jd sepertinya dia susah utk meninggal kan itu..contoh ketika mau ketemu dengan kita pakaian nya syar’i..tetapi ketika dengan teman gaul nya dia pakenya celana jeans dan kerudung pun hanya di lilit ke leher…mohon penjelasan..

 Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Sampaikanlah ilmu secara tidak langsung secara hikmah kecuali dia adalah sosok yang terbuka.

✔ Cintailah sahabatmu sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri
✔ Berikanlah keteladanan terbaikmu, nikmatilah, dan konsisten dalam keteladanan.
✔ Berpikirlah mendalam dan temukan gagasan pembicaraan yang memasukkan sedikit konten yang ‘membicarakan perilaku dirinya’ dalam kemasan pembahasan yang tidak kentara namun meninggalkan jejak cara berpikir di sanubari sahabat tercinta
✔ Berikanlah motivasi selalu bahwa Allah ﷻ sangat mencintainya dan mintalah ia untuk tidak lupa mendoakan kita agar selalu diberikan keistiqomahan dalam meraih ridho Ilahi.

⭐ Memberi tahu sejatinya adalah menjadikan seorang manusia menjadi tahu, bukan salah tahu. Maka gunakanlah seluruh cara yang mudah-mudahan di antaranya menjadi obat terbaik untuk sahabat tercinta.

Wallahu a’lam.

Main ke Pantai, Shalatnya Gimana?

Main ke Pantai, Shalatnya Gimana?

✍🏽 Ustadzah Novria Flaherti

Assalamu’alaikum, kita dalam one day trip ke pantai sehingga memungkinkan untuk nyemplung ke air. Nah dalam pertengahan agenda masuk waktu shalat dzuhur misal. Apakah dibolehkan shalat dalam keadaan basah atau dijama’ saja atau gimana ustadzah?

==========
Jawaban

Ada dua poin disini yang pertama bolehkan shalat dalam keadaan basah setelah main di pantai?

● Yang menjadi syarat sah shalat diantaranya adalah kesucian badan dan pakaian. Namun kesucian sedikit berbeda dengan kebersihan. Yang membuat badan dan pakaian menjadi tidak suci adalah benda-benda najis. Sesuatu dikatakan najis hanya jika ada dalil yang menunjukkan kenajisannya. Jika tidak ada dalil yang menunjukkan, maka benda tersebut tetap dihukumi suci meski manusia merasa jijik terhadapnya.

Atas dasar ini: darah, air kencing, kotoran manusia semuanya dihukumi najis karena ada dalil yang menunjukkan kenajisannya. Adapun ingus, sisa makanan dalam gigi, dan ludah semuanya dihukumi suci karena tidak ada dalil yang menunjukkan kenajisannya.

Debu dan keringat bukan benda najis karena tidak ada dalil yang menunjukkan kenajisannya. Karena itu, badan yang “kotor” karena debu atau keringat, tetap dihukumi suci sehingga sah melakukan shalat dalam keadaan badan berkeringat  (basah kuyup sekalipun) atau badan penuh debu.

Air laut juga bukan najis tetapi untuk menjaga keyakinan dalam hati hendaklah shalat dalam keadaan bersih. Jika memungkinkan untuk shalat terlebih dahulu dan dipending acaranya disambung lagi setelah shalat Dzuhur

Pembahasan yang ke dua adalah sebaiknya jamak atau tidak?

● Untuk kriteria apakah memenuhi syarat jamak shalat yaitu telah melakukan  perjalanan dari satu kota ke kota lainnya.

Saran saya hendaklah shalat di awal waktu dan break sebantar untuk melaksanakan shalat Dzuhur

Zhihar

Zhihar

Ustadz Farid Nu’man

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah.
Memanggil Istri Dengan Sebutan “Ummi”, “bunda”, “dik” dan semisalnya,  Terlarangkah?

Jawaban
——-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Sebagian ulama memakruhkan seorang suami memanggil istrinya seperti itu, sebab dianggap sebagai zhihar atau penggilan yang membuat terjadinya mahram.

Ada pun dibanyak negeri panggilan tersebut sudah biasa sebagai panggilan keakraban, kasih sayang, dan pemuliaan.

Pihak yang memakruhkan berdalil  dengan hadits:

عَنْ أَبِي تَمِيمَةَ الْهُجَيْمِيِّ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِامْرَأَتِهِ: يَا أُخَيَّةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أُخْتُكَ هِيَ؟»، فَكَرِهَ ذَلِكَ وَنَهَى عَنْهُ

Dari Abu Tamimah Al Hujaimiy, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada istrinya: “Wahai saudariku.” Maka, Rasulullah ﷺ bersabda: “Apakah dia saudarimu?” Rasulullah ﷺ membenci itu dan melarangnya.
(HR. Abu Daud No. 2210,  Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 15146)

Para ulama menilai lemah hadits ini karena mursal. Imam Al Mundziri berkata: “Hadits ini mursal.” (Mukhtashar, 3/136). Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Mursal. (Fathul Bari, 9/387). Syaikh Abdul Qadir Al Arnauth mengatakan: “Mursal, dan Abu Daud meriwayatkan apa yang ada di dalamnya terdapat keguncangan (idhthirab).” (Jaami’ Al Ushuul, No. 5819, cat kaki No. 1). Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr juga mengatakan:”Mursal.” (Syarh Sunan Abi Daud, 253) Syaikh Al Albani mengatakan: “Dhaif.” (Dhaif Abi Daud, 2/240-241)

Pemakruhan tersebut menjadi teranulir karena lemahnya hadits ini. Tetapi, anggaplah hadits ini shahih, apakah maksud pemakruhannya?

Para ulama menjelaskan makruhnya hal itu jika dimaksudkan sebagai zhihar, sebagaimana ucapan “kamu seperti ibuku”, tapi jika tidak demikian, melainkan hanya untuk panggilan pemuliaan dan penghormatan (ikram), atau menunjukkan persaudaraan seaqidah dan seiman, maka itu tidak apa-apa.

Imam Al Bukhari dalam Shahihnya, dalam “Bab Seorang Laki-Laki Berkata Kepada Istrinya: Wahai Saudariku, maka Ini Tidak Apa-apa.”

Beliau meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِامْرَأَتِهِ: هَذِهِ أُخْتِي، وَذَلِكَ فِي اللَّه

Berkata Ibrahim kepada istrinya: “Ini adalah saudariku,” dan itu fillah (saudara karena Allah). (HR. Al Bukhari, 7/45,  9/22)

Riwayat ini tentu lebih shahih dibanding riwayat Imam Abu Daud sebelumnya.

Imam Ibnu Baththal Rahimahullah mengatakan:

إنما أراد البخارى بهذا التبويب ، والله أعلم ، رد قول من نهى عن أن يقول الرجل لامرأته : يا أختى

“Sesungguhnya penjudulan bab oleh Imam Al Bukhari seperti ini –wallahu a’lam- sebagai bantahan buat mereka yang melarang seorang suami memanggil istrinya dengan panggilan: “Wahai Saudariku.”(Syarh Shahih Al Bukhari, 7/409)

Beliau berkata lagi:

ومعنى كراهة ذلك، والله أعلم، خوف ما يدخل على من قال لامرأته: يا أختى، أو أنت أختى، أنه بمنزلة من قال: أنت علىَّ كظهر أمى أو كظهر أختى فى التحريم إذا قصد إلى ذلك، فأرشده النبى (صلى الله عليه وسلم) إلى اجتناب الألفاظ المشكلة التى يتطرق بها إلى تحريم المحلات، وليس يعارض هذا بقول إبراهيم فى زوجته: هذه أختى؛ لأنه إنما أرادa بها أخته فى الدين والإيمان، فمن قال لامرأته: يا أختى، وهو ينوى ما نواه إبراهيم من أخوة الدين، فلا يضره شيئًا عند جماعة العلماء.

Makna dari ketidaksukaan nabi atas hal itu –Wallahu a’lam- karena dikhawatirkan   orang yang berkata kepada istrinya: “Ya Ukhtiy -Wahai Saudariku”, atau “ kamu adalah saudariku”, sama kedudukannya dengan orang yang mengatakan: “Bagiku kau seperti punggung ibuku”, atau “seperti punggung saudariku”, maka ini jatuhnya menjadi mahram jika memang dia maksudkan seperti itu. Maka, Nabi ﷺ membimbingnya untuk menjauhi kata-kata yang kontroversi yang dapat membawa pada makna mahram.

Hadits ini (Abu Daud) tidak bertentangan dengan ucapan Nabi Ibrahim kepada istrinya: “Kau adalah saudariku.” Sebab maksud kalimat itu adalah sebagai saudara seagama dan seiman. Maka, barang siapa yang berkata kepada istrinya: “Wahai Saudariku” dan dia berniat sebagaimana Ibrahim, yaitu saudara seagama, maka ini sama sekali tidak apa-apa menurut jamaah para ulama. (Imam Ibnu Baththal, Syarh Shahih Al Bukhari, 7/409-410)

Imam Al Khathabi Rahimahullah menjelaskan bahwa dibencinya memanggil “wahai saudariku” kepada istri  jika maksudnya sebagai zhihar, seperti ucapan kamu seperti ibuku, atau seperti wanita lain yang mahram bagi suami, … lalu Beliau  berkata:

وعامة أهل العلم أو أكثرهم متفقون على هذا إلاّ أن ينوي بهذا الكلام الكرامة فلا يلزمه الظهار، وإنما اختلفوا فيه إذا لم يكن له نية، فقال كثير منهم لا يلزمه شيء.

Umumnya ulama atau kebanyakan mereka sepakat atas larangan itu, KECUALI jika kalimat itu diniatkan untuk karamah (pemuliaan-penghormatan) maka tidaklah itu berkonsekuensi seperti zhihar. Hanya saja para ulama berbeda pendapat jika pengucapan itu tidak ada niat  pemuliaan,  banyak di antara mereka mengatakan bahwa itu juga tidak ada konsekuensi apa-apa.”

 (Imam Al Khathabi, Ma’alim As Sunan, 3/249-250)

Nah, dari penjelasan para ulama ini, jelas bagi kami bahwa pemakruhan memanggil istri dengan “bunda”, “ummi”, atau semisalnya, jika memang itu dimaksudkan   sebagaimana zhihar. Ada pun jika panggilan tersebut sebagai bentuk penghormatan suami kepada istrinya, atau pendidikan bagi anak-anaknya, maka tidak apa-apa.

Hal ini sesuai kaidah fiqih:

الأمور بمقاصدها

  Berbagai pekara/urusan/perbuatan dinilai sesuai maksud-maksudnya.

(Imam As Suyuthi’, Al Asybah wan Nazhair, Hal. 8. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Imam Tajuddin As Subki, Al Asybah wan Nazhair, 1/65. Cet. 1,  1991M-1411H. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Syaikh Abdullah bin Sa’id Al Hadhrami Al Hasyari, Idhah Al Qawaid Al Fiqhiyah Lithulab Al Madrasah, Hal. 11)

  Sementara itu, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah mengoreksi para ulama yang memakruhkan, menurutnya pemakruhan itu tidak tepat.

Beliau berkata:

فإذا قال: أنت علي كأمي، أي: في المودة والاحترام والتبجيل فليس ظهاراً؛ لأنه ما حرمها، وإذا قال: أنت أمي، فحسب نيته، فإذا أراد التحريم فهو ظهار، وإذا أراد الكرامة فليس بظهار؛ فإذا قال: يا أمي تعالي، أصلحي الغداء فليس بظهار، لكن ذكر الفقهاء ـ رحمهم الله ـ أنه يكره للرجل أن ينادي زوجته باسم محارمه، فلا يقول: يا أختي، يا أمي، يا بنتي، وما أشبه ذلك، وقولهم ليس بصواب؛ لأن المعنى معلوم أنه أراد الكرامة، فهذا ليس فيه شيء، بل هذا من العبارات التي توجب المودة والمحبة والألفة.

Jika ada yang bekata: “Kau bagiku seperti ibuku” yaitu dalam hal kasih sayang, penghormatan, dan pujian, maka ini bukan zhihar, karena itu tidak diharamkan. Jika ada yang berkata: “Engkau adalah ibuku,” maka dihitung niatnya apa, jika maksudnya adalah sebagai mahram maka ini zhihar, tapi jika maksudnya pemuliaan maka ini bukan zhihar.

  Jika dia berkata: “Wahai Ummi, mari sini makan.” Maka ini bukan zhihar, tetapi sebagian ahli fiqih –rahimahumullah- ada yang memkruhkan suami memanggil istrinya dengan panggilan mahramnya, maka janganlah berkata: “Wahai Ukhtiy, Wahai Ummi, wahai bintiy/anakku,” dan yang semisal itu.  Pendapat mereka tidak benar, sebab maknanya seperti telah diketahui maksudnya adalah pemuliaan, maka ini sama sekali tidak masalah. Bahkan, kalimat-kalimat ini dapat melahirkan kasih sayang, cinta, dan kedekatan.
(Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Asy Syarh Al Mumti’, 13/236). Sekian.

Wallahu A’lam

Nusyuz

Nusyuz

Ustadz Farid Nu’man

Assalamu’alaikum ustadz/ustadzah..
Mohon dipaparkan penjelasan detail tentang perkara Nusyuz..
Apakah hal-hal seperti berikut termasuk nusyuz?
# suami saya itu sama seperti bapak saya cara jalannya.
# bapak saya itu ya klo bantu cuci piring bersihnya minta ampun, sampai benar-benar mengkilap. Sama nih suami saya juga gitu.
# kalo lihat kamu pake jilbab kayak gini,kayak mama rasanya..  Kata seorang suami ke istrinya

Dan banyak lagi statement2 yang menyatakan kesamaan pasangannya dengan orangtuanya, seperti dlm hal kebiasaan dan tingkah laku.

Kalo memang termasuk nusyuz, apa hukumnya dan bagaimana caranya sudah terlanjur.

Terimakasih atas jawabannya.
(Member dari A 43)

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Nusyuz itu pembangkangan istri terhadap suami. Apa yang disampaikan di atas bukan nusyuz, mungkin salah istilah.

Statemen menyamakan istri seperti ibu, seperti “punggungmu kamu seperti ibuku”, ini namanya ZHIHAR. Dampaknya adalah tidak boleh hun suami istri, sampai suami melakukan kaffarat.

Kaffaratnya adalah berpuasa 2 bulan berturut2, jika tidak mampu memberikan 60 fakir miskin makanan, kalau tidak mampu membebaskan budak.

ZHIHAR tidak berlaku jika tidak dimaksudkan, sebagaimana seorang suami memanggil istrinya dgn Bunda, Ummi, .. dlm rangka panggilan kasih sayang kepadanya.

Wallahu a’lam

Iptek dan Kekuasaan Allah ﷻ

Iptek dan Kekuasaan Allah ﷻ

✍🏽 Ustadzah Prima Eyza Purnama

Uraian tentang keterkaitan Iptek dengan keagungan sang pencipta berdasarkan QS. AL BAQARAH:164, QS. AN NAHL:11 dan QS.YUNUS:101

===========
Jawab:

Salah satu keagungan Al Quran yang tidak terbantahkan adalah kedudukannya sebagai kitab ilmu. Al Quran adalah sumber ilmu, segala ilmu. Bahkan sangat banyak dari pengembangan ilmu pengetahuan dan bahkan teknologi saat ini, bersumber dari apa yang disampaikan Allah di dalam Al Quran. Demikianlah kita menyaksikan dan membuktikan bahwa Al Quran itu mendahului ilmu pengetahuan dan teknologi.

Diantara contohnya adalah apa yang terdapat pada QS. Al Baqarah ayat 164, QS. An Nahl ayat 11, dan QS. Yunus ayat 101.

回● Allah SWT berfirman pada QS. Al Baqarah ayat 164:
Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

Diantara keterkaitan ilmu pengetahuan/teknologi dan keagungan Allah SWT yang dipaparkan pada ayat ini adalah:

a. Allah lah yang menciptakan langit dan bumi. Kemudian Allah menjadikan bumi tersebut dengan segala apa yang tersimpan didalamnya untuk kemanfaatan hidup manusia, baik di darat maupun di laut. Maka kemudian manusia menemukan, mengolah, dan memanfaatkan banyak sumber daya baik di darat maupun di laut untuk penopang kehidupannya.

b. Langit, bintang-bintang, dan benda-benda langit semua bergerak menurut aturan yang telah ditentukan Allah. Tidak ada yang menyimpang dari aturan-aturan itu.

c. Pergantian malam, siang dan terjadi perbedaan panjang dan pendeknya pada beberapa negeri karena perbedaan letaknya, kesemuanya itu membawa kemanfaatan yang sangat luas bagi kehidupan manusia.

d. Bahtera/kapal-kapal bisa berlayar di lautan. Hal ini memungkinkan manusia menjangkau dari satu negeri ke negeri yang lain untuk banyak keperluan, termasuk membawa barang-barang perniagaan untuk memajukan perekonomian.

e. Allah SWT lah Yang menurunkan hujan dari langit, yang dengan air hujan itu bumi yang tadinya mati dapat menjadi hidup dan subur kembali, serta segala jenis hewan dan makhluk hidup lainnya dapat pula melangsungkan kehidupannya.

f. Perputaran/perkisaran angin dari suatu tempat ke tempat yang lain adalah salah satu tanda dan bukti kekuasaan Allah yang besar faedahnya bagi kehidupan manusia.

g. Begitu pula, harus direnungkan dan diperhatikan keluasan nikmat Allah bagi manusia yang tak terhitung jumlahnya berupa awan diantara langit dan bumi.

Kesemua rahmat yang diciptakan Allah tersebut direnungkan, difikirkan, bahkan dibahas dan diteliti oleh manusia untuk menambah kekokohan iman mereka kepada Allah SWT dan untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat bagi kehidupannya, yang hal ini juga membawa kepada pengakuan dan pembuktian akan keesaan dan keagungan Allah SWT.

回● Demikian pula halnya yang Allah wahyukan dalam QS. An Nahl ayat 11, tentang kekuasaan Allah menumbuhkan berbagai tanaman dengan air; juga zaitun, kurma, anggur, dan berbagai buah-buahan. Kesemuanya dipikirkan dan diteliti dalam koridor ilmu sehingga tanaman dan buah-buahan tersebut menghasilkan manfaat yang multidimensi bagi manusia.

回● Juga firman Allah dalam QS. Yunus ayat 101,
Artinya : “Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman. ”

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada rasul-Nya agar dia menyeru manusia untuk memperhatikan dengan mata kepala mereka sendiri dan dengan mata hati mereka sendiri, segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Berbagai macam ciptaan Allah yang tersebar di langit dan di bumi tersebut memberi manfaat yang sangat luas kepada manusia.

Kesemuanya itu memperlihatkan dengan nyata dan membuktikan dengan jelas tentang tanda-tanda keesaan dan kekuasaan Allah SWT bagi orang-orang yang berfikir dan yakin kepada penciptanya. Akan tetapi bagi mereka yang tidak percaya adanya pencipta alam raya ini, maka kesemua tanda-tanda keesaan dan kekuasaan Allah di alam ini tidak akan bermanfaat bagi dirinya.

Demikian, wallaahu a’lam bishshowab…