Terpaksa Khulu’

Assalamu’ alaikum wr wb..Izin bertanya ustadz, Teman(akhwat) khulu di paksa orangtuanya. selang beberapa bulan karena saling menyayangi balik lagi / menikah lagi sampai sekarang. Bagaimana hukumnya ustadz khulu dipaksa?

A42

Assalamualaikum Afwan ustadz terkait khulu’ diatas jika mas kawinnya sebagian sdh dijual utk kperluan keluarga bagaimana ustadz?

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah…

Tentang khulu (cerai gugat dr istri), yang dipaksa oleh pihak lain, sementara mereka berdua tidak mau bercerai. Maka, ada dua pendapat.

1. Tidak sah

Sebab dari Ibnu Abbas, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 إن الله وضع عن أمتي الخطأ والنسيان ، وما استكرهوا عليه .

“Allah meletakkan/tidak menilai salah prilaku umatku yang: salah tidak sengaja, lupa, dan terpaksa.” (Hr. Ibnu Majah No. 2045. Shahih)

Ini pendapat jumhur, sebab dia melakukan bukan atas keinginannya dan bukan pilihan sadarnya.

2. Tetap sah

Dalilnya adalah tentang kisah isteri Tsabit bin Qais bin Syammas Radhiallahu anhu ketika dia datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguh saya tidak mencela Tsabit bin Qais dalam masalah akhlak dan agamanya, akan tetapi saya tidak ingin kufur dalam Islam.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Apakah engkau bersedia mengembalikan kebunnya?” Sebelumnya Tsabit telah memberinya mahar sebuah kebun. Lalu wanita tersebut berkata, “Baik wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada sang suami, “Terimalah kebun darinya dan ceraikanlah dia.”

Ini dalil bahwa pemerintah/hakim boleh intervensi untuk memerintahkan suami menceraikan istrinya atas keinginan istrinya, jika alasannya syar’i.

Namun, untuk kasus yang ditanyakan, maka pendapat pertama lebih kuat yaitu tidak sah, sebab suami-istri ini masih saling menyayangi.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Farid Nu’man

Undian Berhadiah

Assalamualaikum ustadz/ah.. Bagaimana pendapat  mengenai undian?
Bagaimana hukum undian berhadiah ulama mayoritas?  Jika kita yg menerimanya apakah boleh?? Mayoritas ulama…  Yg lbh bnyak d sepakati ulama.
A 40

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Jawaban singkatnya kupon undian seperti itu bukan termasuk judi, juga bukan termasuk riba. Dan hukumnya tidak melanggar ketentuan syariah, alias halal dan sah.

Kenapa bukan termasuk judi? Bukankah ada unsur undian dan gambling di dalamnya?

Jawabannya bahwa tidak semua hal yang terkait dengan undian itu otomatis menjadi judi yang diharamkan. Dalam kasus ini, meski pun ada undian dan terkesan untung-untungan, tetapi pada hakikatnya memang bukan perjudian.

Dalam hukum Islam memang diharamkan mengundi nasib dengan anak panah, juga diharamkan berjudi dengan undian. Tetapi sekedar melakukan undian tanpa masuk ke wilayah judi, hukumnya halal.

Ketika menentukan siapa yang berhak menjamu Rasulullah SAW setiba di Madinah, dilakukan undiian. Ketika satu orang istri saja yang boleh mendampingi Nabi SAW dalam peperangan, dilakukanlah undian. Dan ketika orang rebutan untuk bisa duduk di shaf pertama, dilakukanlah undian. Maka undian saja tanpa judi bukan sesuatu yang haram.

Hakikat Perjudian

Bila diperhatikan dengan seksama, trasaksi perjudian adalah dua belah pihak atau lebih yang masing-masing menyetorkan uang dan dikumpulkan sebagai hadiah. Lalu mereka mengadakan permainan tertentu, baik dengan kartu, adu ketangkasan atau media lainnya. Siapa yang menang, dia berhak atas hadiah yang dananya dikumpulkan dari kontribusi para pesertanya. Itulah hakikat sebuah perjudian.

Biasanya jenis permainannya memang khas permainan judi seperti main remi, kartu, melempar dadu, memutar rolet, main pokker, sabung ayam, adu domba, menebak pacuan kuda, menebak skor pertandingan sepak bola dan seterusnya.

Namun adakalanya permainan itu sendiri sama sekali tidak ada hubungannya dengan perjudian. Misalnya menebak sederet pertanyaan tentang ilmu pengetahuan umum atau pertanyaan lainnya.

Namun jenis permainan apa pun bentuknya, tidak berpengaruh pada hakikat perjudiannya. Sebab yang menentukan bukan jenis permainannya, melainkan perjanjian atau ketentuan permainannya.

Tidak Semua Undian itu Haram

Di dalam hukum Islam, gambling tidak selalu identik dengan judi. Meski pun di dalam sebuah perjudian, unsur gambling memang sangat dominan. Namun tidak berarti segala hal yang berbau gambling boleh divonis sebagai judi.

Misalnya qur’ah atau undian yang biasa dilakukan oleh Rasulullah SAW. Qur’ah bukan termasuk judi. Banyak riwayat menyebutkan bahwa beliau terbiasa mengundi para isterinya untuk menetapkan siapa di antara mereka yang berhak ikut mendampingi beliau dalam sebuah perjalanan.

Dahulu nabi Yunus as juga melakukan undian untuk menentukan siapa di antara penumpang perahu yang harus di buang ke laut. Dan beliau justru keluar sebagai orang terpilih dari undian.

Bukankah kedua hal di atas sangat didasari oleh gambling? Namun ternyata kedua orang nabi itu malah melakukannya. Ini bukti bahwa tidak semua hal yang berbau gambling atau undian itu haram.

Kapan Undian Menjadi Judi Yang Diharamkan?

Sebuah undian bisa menjadi judi manakala ada keharusan bagi peserta untuk membayar sejumlah uang atau nilai tertentu kepada penyelenggara. Dan dana untuk menyediakan hadiah yang dijanjikan itu didapat dari dana yang terkumpul dari peserta undian. Maka pada saat itu jadilah undian itu sebuah bentuk lain dari perjudian yang diharamkan.

Sebagai sebuah ilustrasi, misalnya sebuah yayasan menyelenggarakan kuis berhadiah, namun untuk bisa mengikuti kuis tersebut, tiap peserta diwajibkan membayar biaya sebesar Rp 5.000, -. Peserta yang ikutan jumlahnya 1 juta orang.

Dengan mudah bisa dihitung berapa dana yang bisa dikumpulkan oleh yayasan tersebut, yaitu 5 milyar rupiah. Kalau untuk pemenang harus disediakan dana pembeli hadiah sebesar 3 milyar, maka pihak yayasan masih mendapatkan untung sebesar 2 Milyar.

Bentuk kuis berhadiah ini termasuk judi, sebab hadiah yang disediakan semata-mata diambil dari kontribusi peserta.

Undian Yang Tidak Haram

Sedangkan contoh ilustrasi dari undian yang tidak haram misalnya sebuah toko yang menyelenggarakan undian berhadiah bagi pembeli. Ketentuannya, yang bisa ikutan adalah pembeli yang nilai total belanjanya mencapai Rp 50.000. Dengan janji hadiah seperti itu, toko bisa menyedot pembeli lebih besar -misalnya- 2 milyar rupiah dalam setahun.

Untuk itu mereka yang telah memiliki kupon akan diundi. Yang nomornya keluar berhak mendapatkan hadiah tertentu.

Pertambahan keuntungan ini bukan karena adanya kontribusi dari pelanggan sebagai syarat ikut undian. Namun didapat  dari bertambahnya jumlah mereka.

Hadiah yang dijanjikan sejak awal memang sudah disiapkan dananya. Meskipun pihak toko tidak mendapatkan keuntungan yang lebih, hadiah tetap diberikan. Maka dalam masalah ini tidaklah disebut sebagai perjudian.

Alasan selain itu karena pembeli yang mengeluarkan uang sebesar Rp 50.000 sama sekali tidak dirugikan, karena barang belanjaan yang mereka dapatkan dengan uang itu memang sebanding dengan harganya.

Hukumnya barulah akan menjadi haram manakala barang yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan uang yang mereka keluarkan. Misalnya bila seharusnya harga sebatang sabun itu Rp 5.000, -, lalu karena ada program undian berhadiah, dinaikkan menjadi Rp 6.000, -.

Sehingga bisa dikatakan, ada biaya tambahan di luar harga yang sesungguhnya, namun dikamuflase sedemikian rupa. Namun pada hakikatnya tidak lain adalah uang untuk memasang judi.
Dikutip dari rumahfiqih.com

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Slamet Setiawan

JENGGOT

Assalamualaikum ustadz,, kalau hukum menumbuhkan/memelihara jenggot seperti apa? Dan bagaimana kita mencukur janggut habis karena tuntutan profesi?
Jazakumullah

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Memanjangkan Jenggot Dalam Pandangan Ulama

Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah [35/224] dikatakan bahwa seluruh ulama sepakat memelihara jenggot merupakan perkara yang diperintahkan oleh Syari’at. Hal ini berdasarkan hadits-hadits Rasulullah ﷺ, di antaranya:

1. Hadits dari Ibnu ‘Umar ra, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

خَالِفُوا المُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

Artinya: “Selisihilah orang-orang musyrik. Peliharalah (jangan cukur) jenggot dan cukurlah kumis kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 5892)

2. Hadits dari Abu Hurairah ra, Rasulullah ﷺ bersabda:

جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ

Artinya: “Cukurlah kumis dan biarkanlah (jangan dicukur) jenggot kalian. Selisihilah orang-orang Majusi.” (HR. Muslim no. 260)

3. Hadits dari ‘Aisyah ra, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ: قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ …

Artinya: “Sepuluh perkara yang termasuk fitrah, yaitu mencukur kumis, memelihara jenggot, …” (HR. Muslim no. 261)

Ibnu Hajar menyatakan bahwa orang-orang Majusi ada yang memotong pendek jenggot mereka dan ada juga yang mencukurnya habis (Fathul Bari [10/349]).

Walaupun memelihara jenggot merupakan perkara yang disyariatkan dalam Islam, namun tidak otomatis hukumnya wajib atau ulama sepakat atas kewajibannya. Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah ada beberapa pembahasan terkait memelihara jenggot ini, dan yang terpenting di antaranya adalah tentang (1) memanjangkan dan melebatkan jenggot dengan treatment tertentu, (2) memotong jenggot yang panjangnya melebihi genggaman tangan, dan (3) mencukur habis jenggot.

Memanjangkan dan Melebatkan Jenggot dengan Treatment Tertentu

Ibn Daqiq al-‘Ied berkata:

لَا أَعْلَمُ أَحَدًا فَهِمَ مِنَ الْأَمْرِ فِي قَوْلِهِ أَعْفُوا اللِّحَى تَجْوِيزَ مُعَالَجَتِهَا بِمَا يُغْزِرُهَا كَمَا يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ

Artinya: “Saya tidak mengetahui ada orang yang memahami perintah Nabi dalam sabda beliau, ‘peliharalah jenggot’ dengan kebolehan memberikan treatment tertentu agar jenggot tersebut tumbuh lebat, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang.” (Fathul Bari [10/351]; al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah [35/224])

Jadi, bagi yang memang dari sononya tidak punya jenggot, tidak usah sedih, dan tidak usah juga membeli penumbuh jenggot berharga mahal untuk merealisasikan perintah Nabi ini. Perintah memelihara jenggot ini hanya untuk yang dikaruniai jenggot oleh Allah ﷻ.

Memotong Jenggot yang Melebihi Genggaman Tangan

Dalam hal ini, ulama berbeda pendapat. Berikut sedikit gambarannya:

1. Tidak boleh memotong jenggot, walaupun panjangnya melebihi genggaman tangan. Yang berpendapat seperti ini misalnya adalah Imam an-Nawawi. Beliau menyatakan bahwa kebolehan memotong jenggot yang melebihi genggaman tersebut bertentangan dengan zhahir hadits yang memerintahkan membiarkannya (tidak mencukurnya). (Fathul Bari [10/350]; al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah [35/224])

2. Boleh memotong jenggot yang melebihi genggaman tangan. Ini adalah pendapat Hanabilah dan Hanafiyyah. Mereka melandasi pendapatnya ini dengan atsar dari Ibn ‘Umar:

إِذَا حَجَّ أَوِ اعْتَمَرَ قَبَضَ عَلَى لِحْيَتِهِ، فَمَا فَضَلَ أَخَذَهُ

Artinya: “(Ibnu ‘Umar) ketika berhaji atau ber-‘umrah beliau menggenggam jenggotnya, dan yang melebihi genggaman tersebut beliau potong.” (HR. Al-Bukhari no. 5892)

Terkait riwayat dari al-Bukhari di atas, Mushthafa al-Bugha memberikan ta’liq-nya, bahwa yang dimaksud dengan fadhala adalah ‘melebihi dari genggaman’ dan akhadzahu artinya qashshahu (memotongnya).

Secara terperinci, kalangan Hanabilah menyatakan bahwa tidak makruh hukumnya memotong jenggot yang melebihi genggaman tangan, dan ini yang dinyatakan oleh Imam Ahmad (Syarh Muntaha al-Iradat [1/44]; Nailul Ma-arib [1/57]; al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah[35/225]).

Sedangkan Hanafiyyah menyatakan bahwa memotong jenggot yang melebihi genggaman tangan hukumnya sunnah, sebagaimana disebutkan oleh Muhammad dari Abu Hanifah (al-Fatawa al-Hindiyyah [5/358]; al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah [35/225]).

Ada juga pendapat dari kalangan Hanafiyyah yang menyatakan wajib memotong jenggot yang melebihi genggaman tangan, dan berdosa membiarkannya (tidak memotongnya) (Hasyiyah Ibn ‘Abidin [2/417]; al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah [35/225]).

Adapun memotongnya lebih pendek dari genggaman tangan, maka Ibn ‘Abidin berkata, ‘tidak ada seorangpun yang membolehkannya’ (Hasyiyah Ibn ‘Abidin [2/418]; al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah [35/225])

3. Jenggot tidak dipotong kecuali jika jenggot tersebut semrawut (tidak rapi) karena begitu panjang dan lebatnya. Pendapat ini dinukil oleh ath-Thabari dari al-Hasan dan ‘Atha. Dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibn Hajar, dan menurut beliau karena alasan inilah Ibn ‘Umar memotong jenggotnya. ‘Iyadh berkata bahwa memotong jenggot yang terlalu panjang dan lebat itu baik, bahkan dimakruhkan membiarkan jenggot yang terlalu panjang dan lebat sebagaimana dimakruhkan memendekkannya (Fathul Bari [10/350]; al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah [35/225]).

Salah satu dalil yang digunakan oleh yang berpendapat seperti ini adalah hadits:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ مِنْ لِحْيَتِهِ مِنْ عَرْضِهَا وَطُولِهَا

Artinya: “Sesungguhnya Nabi ﷺ dulu memotong jenggotnya karena sangat lebat dan panjangnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2762, dan beliau berkata, ‘ini hadits gharib’)

Tentang hadits ini, Ibn Hajar dalam Fathul Bari [10/350] memuat pernyataan al-Bukhari tentang ‘Umar ibn Harun (periwayat hadits ini), ‘saya tidak mengetahui hadits munkar darinya, kecuali hadits ini’. Ibn Hajar juga menyatakan bahwa sekelompok ulama mendhaifkan ‘Umar ibn Harun secara mutlak.

Mencukur Habis Jenggot

Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah [35/225-226] dinyatakan bahwa mayoritas fuqaha, yaitu kalangan Hanafiyyah, Malikiyyah, Hanabilah dan satu pendapat dari kalangan Syafi’iyyah mengharamkan mencukur habis jenggot. Di al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu [1/462], Syaikh Wahbah az-Zuhaili menyatakan bahwa kalangan Malikiyyah dan Hanabilah mengharamkan mencukur habis jenggot, sedangkan kalangan Hanafiyyah menyatakan hukumnya makruh tahrim.

Kelompok yang mengharamkan ini beralasan bahwa mencukur habis jenggot bertentangan dengan perintah Nabi ﷺ untuk memeliharanya. Dan Ibn ‘Abidin dalam kitab Hasyiyah-nya (sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya) menyatakan bahwa tidak ada seorangpun yang membolehkan memotong jenggot lebih pendek dari genggaman tangan (al-akhdzu minal lihyah duunal qabdhah), sedangkan mencukur habis jenggot (halqul lihyah) lebih dari itu (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah [35/226]). Maksudnya, memotong jenggot lebih pendek dari genggaman tangan saja tidak boleh, apalagi mencukur habis jenggot tersebut.

Dalam Hasyiyah ad-Dusuqi [1/90] dinyatakan, ‘Haram bagi seorang laki-laki mencukur habis jenggot dan kumisnya, dan orang yang melakukan itu diberi sanksi ta’dib’.

Berbeda dengan jumhur fuqaha, pendapat yang lebih rajih dari kalangan Syafi’iyyah menyatakan bahwa mencukur habis jenggot hukumnya makruh (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah [35/226]). Syaikh Wahbah az-Zuhaili, ulama besar kontemporer bermadzhab Syafi’i, di kitab beliau al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu [1/462], juga menyatakan hal yang sama, bahwa mencukur habis jenggot menurut madzhab Syafi’i hukumnya makruh tanzih.

Az-Zuhaili juga menukil pernyataan an-Nawawi tentang sepuluh kebiasaan yang dimakruhkan terkait dengan jenggot, dan salah satunya adalah mencukur habisnya. Dikecualikan dari hal ini, jika jenggot tersebut tumbuh pada seorang perempuan, maka mustahab mencukurnya habis (Syarh Shahih Muslim [3/149-150]; al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu [1/462]).

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Slamet Setiawan

Sholat Sendirian Setelah Adzan

Assalamualaikum ustadz/ah…
Adzan di masjid tapi ga ada satupun yg datang
Trus Shalat sendirian di masjid
Apakah masih dlm kategori shalat sendirian atau masuk salam kategori shalat berjama’ah? # i-11

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah wal Hamdulillah ..
Orang yang berniat ingin shalat berjamaah di masjid, tetapi sesampainya di sana dia tertinggal jamaah atau seorang diri, tak ada satu pun manusia mendatangi masjid kecuali dirinya, maka Allah Ta’ala tetap memberikannya nilai pahala berjamaah. Hal ini dengan syarat dia tidak menyengaja untuk berlambat-lambat menuju masjid.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘Alaihi wa Sallam bersada:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ رَاحَ فَوَجَدَ النَّاسَ قَدْ صَلَّوْا أَعْطَاهُ اللَّهُ جَلَّ وَعَزَّ مِثْلَ أَجْرِ مَنْ صَلَّاهَا وَحَضَرَهَا لَا

يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَجْرِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa yang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu ia pergi ke mesjid (untuk berjamaah) dan dia lihat jamaah sudah selesai, maka ia tetap mendapatkan seperti pahala orang yang hadir dan berjamaah, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.”   (HR. An Nasa’i No. 855, Abu Daud No. 564, Ahmad No. 8590, Al Hakim No. 754, katany shahih sesuai syarat Imam Muslim. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 6163)

Berkata Imam Abul Hasan Muhammad Abdil Hadi As Sindi Rahimahullah:

ظَاهِره أَنَّ إِدْرَاك فَضْل الْجَمَاعَة يَتَوَقَّف عَلَى أَنْ يَسْعَى لَهَا بِوَجْهِهِ وَلَا يُقَصِّر فِي ذَلِكَ سَوَاء أَدْرَكَهَا أَمْ لَا فَمَنْ أَدْرَكَ جُزْء مِنْهَا وَلَوْ فِي التَّشَهُّد فَهُوَ مُدْرِك بِالْأَوْلَى وَلَيْسَ الْفَضْل وَالْأَجْر مِمَّا يُعْرَف بِالِاجْتِهَادِ فَلَا عِبْرَة بِقَوْلِ مَنْ يُخَالِف قَوْله الْحَدِيث فِي هَذَا الْبَاب أَصْلًا .

 “Secara zhahir, hakikat keutamaan jamaah adalah dilihat dari kesungguhan dia untuk melaksanakannya, tanpa memperlambat diri atau menunda-nunda. Jika demikian, ia tetap dapat pahala jamaah, baik sempat bergabung dengan jamaah atau tidak. Maka, barang siapa yang mendapatkan jamaah sedang tasyahud, maka pahalanya sama dengan yang ikut sejak rakat pertama. Adapun urusan pahala dan keutamaan tidak dapat diketahui dengan ijtihad. Jadi, sepatutnya kita tidak peduli dengan pendapat yang bertentangan dengan hadits-hadits di atas.”  (Syarh Sunan An Nasa’i, 2/113. Syamilah)
Demikian.

Wallahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Farid Nu’man

Senam Pake Musik

Assalamu alaikum ustadz,  mau tanya bagaimana hukumnya jika berolah raga (senam aerobic) menggunakan musik..walaupun niatnya cuma untuk olahraga? Member I 07

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Bismillah wal Hamdulillah ..
Islam, sebagai agama yg syaamil (sempurna) tentu memperhatikan semua aspek dlm diri manusia, termasuk kebutuhan fisik thdp hal hal yang dapat menjaga kesehatan dan kebugarannya, baik bahi pria dan wanita. Olah raga adalah sarana yang dibolehkan,  selama tidak membahayakan dan memperhatikan adab-adabnya, apalagi bagi wanita.

Di antara adab-adabnya -khususnya bagi wanita- adalah tetap menutup aurat scr sempurna, tidak seksi, jauh dari mata laki-laki, apalagi olah raga dengan gerakan sgt dinamis seperti renang, senam, dan aerobic. Hendaknya dicari ruang privat khusus wanita.

Mengingat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang wanita berlenggaklenggok di hadapan laki-laki yang bukan mahram. Dan, Senam dan aerobic lebih dari sekedar lenggak lenggok. Sayangnya justru senam bersama diruang terbuka antara laki dan wanita justru menjadi trend. Bahkan para muslimah yang katanya aktifis Islam, ikut2an menggalakkannya.

Ada pun musik, kembali kepada masalah hukum musik itu sendiri, yg mayoritas ulama mengharamkan, sebagian lain membolehkan tp bersyarat seperti Ibnul Arabiy, Al Fakihani, Al Ghazali, Al Qaradhawi, Abu Zahrah, dll, yaitu hendaknya tidak melalaikan, bukan musik2 yang biasa dipakai ahli maksiat, tidak dibarengi oleh hal-hal munkar.

Namun, mnggunakan pengiring lagu tanpa musik lebih utama, seperti senam Ruhul Jadid misalnya.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Farid Nu’man

Adab B.A.K (buang air kecil)

Assalamualaykum Ustadz/ah..
Mohon penjelasan tentang adap B.A.K (buang air kecil), terutama untuk para ikhwan berikut dalil2nya.

JAWABAN:
—————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Adab membuang hajat :
1. Jangan menyentuh kemaluan dengan tangan kanan. Rosulullah saw bersabda

“janganlah seseorang di antara kamu menyentuh kemaluanya dengan tangan kanan saat kencing dan janganlah cebok (istinja) dengan tangan kanannya.” (HR. Bukhori dan muslim)

2. Jangan menghadap kiblat atau membelakangi kiblat saat buang air. Rosulullah saw bersabda

” dan janganlah kamu menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya saat berak atau kencing, tetapi menghadaplah ketimur atau kebarat.” (HR. Tujuh ahli hadist)

3. Jangan berbicara saat buang air. Rosulullah saw bersabda

“apabila dua orang buang air besar maka hendaklah tiap-tiap  seseorang dari mereka berlindung dari teman nya dan janganlah mereka berbicara karena Allah murka kepada yang demikian itu.”  (HR. Muslim)

4. Janganlah buang air di jalan atau d tempat berteduh. Rosulullah saw bersabda

“jauhilah perbuatan dua orang yg menyebabkan laknat, yaitu buang air di jalan atau di perteduhan mereka.” (HR. Muslim)

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadzah Ida Faridah

Asuransi Jiwa

1. Assalamualaikum ustadz.. saya mau tanya ttg hukum asuransi jiwa, di perbolehkan/tdk dlm hukum islam.

2. Sekalian mau nambahin pertanyaannya kalau boleh..
Bagaimana dgn asuransi dlm pembayaran cicilan? Apakah memang benar ada yg namanya asuransi syariah?Sekian..jazakumullah khairan        

Jawaban
               
و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
1. Asuransi jiwa dan atau asuransi lainnya yang pengelolaannya masih dilakukan secara konvensional, adalah haram karena mengandung maisir, gharar dan riba. Karena maisir (gambling/ spekulasi), gharar (ketidakjelasan objek akad) dan juga riba adalah haram secara syariah. Maka segala transaksi yang mengandung unsur tersebut adalah haram, termasuk di dalamnya transaksi asuransi.
           
2. Adapun asuransi pembiayaan dan atau asuransi lainnya yang pengelolaannya dilakukan berdasarkan prinsip syariah hukumnya adalah boleh berdasarkan ijma ulama. Dan atas dasar itulah dibentuk asuransi syariah, yang pengelolaannya sdh disesuaikan dgn prinsip2 syariah sehingga tidak mengandung unsur yang diharamkan. Maka, jika akan mengasuransikan objek tertentu, pastikan bahwa kita melakukannya di asuransi syariah.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Rikza Maulan Lc. M.Ag

HIJRAH

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah….
1. Benarkah ketika seseorang berhijrah cobaan semakin berat, lalu bagaimana agar tetap beristiqomah di jalan lurus dan istiqomah memperbaiki diri.

2. Bila berhijrah menjauhi teman yg perilakunya buruk/kurang baik, apakah tdk apa”? Atau itu memutuskan tali silaturahmi?
Syukron

Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Lakukan penghayatan kembali terhadap posisi diri di atas dunia.

Allah ﷻ berfirman dalam Surat Ibrahim [14] ayat 27:

يُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱلۡقَوۡلِ ٱلثَّابِتِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ وَيُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلظَّٰلِمِينَۚ وَيَفۡعَلُ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ ٢٧

Artinya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.

Memaknai kembali ikrar kita dalam Dua Kalimat Syahadat Dengan Benar sebagaimana janji Allah dalam ayat di atas
Mengkaji Al-Qur’an dengan perenungan dan penghayatan secara Benar
Iltizam dan terus ditemui Allah sedang menjalankan syariat Allah
Banyak belajar dari kisah orang-orang shalih
Memperbanyak do’a yang sering dilantunkan orang-orang Pecinta Hijrah sebagaimana Q.S. 3:147
Bergaul dengan orang-orang istiqomah agar mendapatkan refleksi semangat hijrah

HIJRAH MENJAUHI KEBURUKAN

“Menjauhi dan memutuskan adalah dua tema yang berbeda.”

Di antara makna hijrah sebagaimana telah disebutkan adalah menjauhi, dan oleh karenanya menjauhi keburukan adalah hijrah yang disyariatkan

Menjauhi keburukan menjadi wajib jika seseorang tidak memiliki kekokohan iman alias mudah terbawa arus.

Menjauhi keburukan menjadi hal yang disukai (mustahab) jika seseorang tidak punya semangat sama sekali untuk merubah keburukan tersebut menjadi sebuah kebaikan

Allah ﷻ tela berfirman dalam Surat Al-Furqān [25] ayat 27-29:

وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيۡهِ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا ٢٧ يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلٗا ٢٨ لَّقَدۡ أَضَلَّنِي عَنِ ٱلذِّكۡرِ بَعۡدَ إِذۡ جَآءَنِيۗ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِلۡإِنسَٰنِ خَذُولٗا ٢٩

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”
Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).
Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Seseorang, agamanya sesuai dengan agama teman dekatnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Pilihlah teman terbaikmu dari kalangan yang mendukungmu untuk berhijrah dan menggenggam tanganmu untuk bersama menguatkan semangat hijrah. Tularkanlah kecintaan terhadap hijrah kepada temanmu yang masih berada dalam zona ‘perasaan seakan aman’-nya dengan hikmah dan pelajaran yang baik.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Wido Supraha

Menemukan Dompet di Jalan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah saya mau tanya kemaren pagi saya menemukan dompet jatuh dijalan dan saya ambil karena saya pikir didalamnya ada indentitas yg punya tapi ternyata tdk ada identitasnya sama sekali…. trus saya hrs bagaimana….? Mau mngembalikkan tapi ndak tau siapa yg punya.

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Sebenarnya tdk boleh diambil jika itu jelas milik seseorang, kecuali dia mengizinkannya. Tapi, jika menyelamatkannya khawatir diambil orang yang tidak bertanggungjawab maka tidak apa-apa.

Menyikapinya adalah jika itu barang yang kemungkinan masih diinginkan pemiliknya, kita boleh mnyimpannya selama 1 th untuk menunggu pemiliknya, jika yg punya datang maka berikan, jika tdk ada yg datang maka boleh jadi milik kita atau sedekahkan atas nama yg punya.

Jika barangnya sesuatu yg tdk berharga, rongsokan, atau sesuatu yg oleh pemiliknya sdh tdk diinginkan, maka boleh langsung dimiliki.
Pembahasan ini ada dalam Bab Luqathah.

Wallahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Farid Nu’man

Pernikahan Siri

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah…..
bagaimana hukumnya anak hasil pernikahan siri ( hamil stelah menikah siri ) dan bagaimana hubungannya dg saudara2nya yg mereka itu dilahirkan dr pernikahan yg sah. Terimaksih
Wassalamu’alaikum… # A 45

Jawaban
————–

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،

Nikah Sirri bila dilihat dari penggunaan katanya sebenarnya bermakna nikah tanpa meramaikan dengan walimah atau tanpa pencatatan di hadapan hukum negara (dari kata _sirriyah_ -diam atau tersembunyi,lawan dari  _jahriah_,dikeraskan atau diumumkan).

Nikah Sirri ini halal hukumnya sepanjang terpenuhi semua rukun nikah: *ada mempelai,wali,ijabqabul,mahar dan saksi*. Namun,meski sah dari sisi agama,pernikahan tanpa pencatatan hukum negara ini sebaiknya dihindarkan atau diupayakan untuk sesegera mungkin mendaftar ke KUA karena bila tidak,kelak dapat memunculkan beberapa implikasi sosial yang bisa menyulitkan pasutri sendiri.
Misalnya saja dalam hal pencatatan surat kelahiran anak,hubungan kepemilikan harta yang bernilai besar (misalnya membeli rumah),hubungan sewa-menyewa terutama yang menyangkut pihak ketiga,serta hutang piutang,banyak membutuhkan bukti-bukti pernikahan sebagai salah satu syarat tertib administrasinya.
Begitu pula dengan klaim asuransi atau klaim waris bila salah satu pasangan meninggal dunia,yang akan terhambat bila tak ada bukti otentik pencatatan pernikahan.

 Tambahan lagi,perlu dipertimbangkan juga fitnah sosial dari masyarakat yang tidak mengetahui status hubungan resmi sang suami-istri.

Kalau dikembalikan pada Sunnahnya,pernikahan itu sendiri semestinya disebarluaskan kabarnya ke hadapan umum sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah SAW,dari Aisyah RA,
“umumkanlah perkawinan dan selenggarakan lah di masjid-masjid serta buktikanlah untuknya rebana-rebana” (HR Ahmad dan At.Tirmidzi).

Begitu pula sabdanya yang lain dari Amir Ibnu Abdullah Ibnu al-zubair,dari ayahnya Ra bahwa Rasulullah saw bersabda:
” sebarkanlah berita pernikahan” (HR Ahmad. Hadist shahih menurut hakim)

Perintah ini sesungguhnya juga mengandung tujuan agar orang tahu bahwa Fulan dan Fulana telah menjadi suami istri yang sah. Namun,untuk masa sekarang yang pola kehidupannya lebih kompleks dengan mobilitas tinggi dan jumlah penduduk lebih banyak,hanya membuat walimah dengan mengandung orang saja belum cukup.
Sumber : Majalah UMMI 2007

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadzah Dwi Hastuti Rakhmawati S.Psi