Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

AKRAB DENGAN AL-QURAN (Bag-1)

Pemateri: Ust. Ahmad Sahal Lc.

الأُنْسُ بِالْقُرْآنِ بِقِرَاءَتِهِ

MENGAKRABI AL-QURAN DENGAN MEMBACANYA

Beberapa hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan pembelaan Al-Quran kepada orang-orang yang menjadi sahabatnya, diantaranya:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ (رواه مسلم)

Bacalah Al-Quran, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para sahabatnya. (HR. Muslim).

اِقْرَؤُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: الْبَقَرَةَ وَسُوْرَةَ آلِ عِمْرَانَ؛ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ، أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا (رواه مسلم)

Bacalah Az-Zahrawain: Al-Baqarah & surat Ali Imran, karena keduanya akan datang di hari kiamat seperti dua awan yang menaungi, atau seperti  dua kawanan burung yang terbang membentangkan sayapnya, untuk membela para sahabat kedua surat itu. (HR. Muslim).

Pemilihan kata ash-hab (para sahabat) mengisyaratkan bahwa keakraban dengan Al-Quran adalah sebuah keharusan bagi yang ingin mendapat pembelaan dari Al-Quran.

FAKTOR UTAMA KEAKRABAN YANG MESTI DIUPAYAKAN OLEH SETIAP MUSLIM ADALAH DENGAN MEMBACANYA SETIAP HARI

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata:

مَا أُحِبُّ أَنْ يَأْتِيَ عَلَيَّ يَوْمٌ وَلاَ لَيْلَةٌ إِلاَّ أَنْظُرُ فِي كِتَابِ اللهِ – يَعْنِي الْقِرَاءَةَ فِي الْمُصْحَفِ

Aku tidak suka datang siang atau malam kecuali (jika) aku melihat kitab Allah – maksudnya membaca mushaf Al-Quran.  (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd halaman 128).

Imam Nawawi rahimahullah dalam bukunya At-Tibyan Fi Adab Hamalah Al-Quran halaman 24 menyatakan:

وَاعْلَمْ أَنَّ الْمَذْهَبَ الصَّحِيْحَ الْمُخْتَارَ الَّذِي عَلَيْهِ مَنْ يُعْتَمَدُ مِنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ قِرَاءَةَ الْقُرْآنَ أَفْضَلُ مِنَ التَّسْبِيْحِ وَالتَّهْلِيْلِ وَغَيْرِهِمَا مِنَ الأَذْكَارِ وَقَدْ تَظَاهَرَتِ الأَدِلَّةُ عَلَى ذَلِكَ وَاللهُ أَعْلَمُ

Dan ketahuilah bahwa madzhab yang shahih dan dipilih oleh para ulama yang menjadi rujukan (ummat) adalah bahwa membaca Al-Quran itu lebih baik dari tasbih, tahlil dan dzikir-dzikir yang lain, dan dalil-dalil yang menunjukkan hal itu sangat jelas, wallahu a’lam.

MEMBACA AL-QURAN SESUAI HUKUM-HUKUM TAJWID

Imam Al-Jazri dalam matan Al-Jazriyah rahimahullah berkata:

وَالأَخْذُ بِالتَّجْوِيْدِ حَتْمٌ لاَزِمُ *** مَنْ لَّمْ يُجَوِّدِ الْقُرْآنَ آثِمُ
لِأَنَّهُ بِهِ الإِلَهُ أَنْزَلاَ *** وَهَكَذَا مِنْهُ إِلَيْنَا وَصَلاَ

Dan menggunakan tajwid adalah keharusan yang lazim, barang siapa yang tidak mentajwidkan Al-Quran maka ia berdosa. Karena dengan tajwidlah Allah menurunkannya, begitu pula (dengan tajwid) ia sampai kepada kita.

MEMBACA AL-QURAN DENGAN FREKUENSI KHATAM AL-QURAN YANG KONTINYU DAN MEMADAI

Yaitu dengan pengerahan batas kemampuan masing-masing selama tidak melalaikan kewajiban, agar melahirkan bentuk keakraban yang lain: HAFALAN.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma:

وَاقْرَأِ القُرْآنَ فِي كُلِّ شَهْرٍ (رواه البخاري)

Dan bacalah (khatamkan) Al-Quran dalam setiap bulan. (HR. Bukhari).
Ketika Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash menyatakan kesanggupan lebih dari itu Rasulullah bersabda:

وَاقْرَأْ فِي كُلِّ سَبْعِ لَيَالٍ مَرَّةً

Dan bacalah dalam setiap tujuh malam sekali (khatam).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

اَلصَّحِيْحُ عِنْدَهُمْ فِي حَدِيْثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّهُ انْتَهَى بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى سَبْعٍ، كَمَا أَنَّهُ أَمَرَهُ ابْتِدَاءً بِقِرَاءَتِهِ فِي شَهْرٍ، فَجَعَلَ الْحَدَّ مَا بَيْنَ الشَّهْرِ إِلَى الأُسْبُوْعِ. وَقَدْ رُوِيَ أَنَّهُ أَمَرَهُ ابْتِدَاءً أَنْ يَقْرَأَهُ فِي أَرْبَعِيْنَ، وَهَذَا فِي طَرَفِ السَّعَةِ يُنَاظِرُ التَّثْلِيْثَ فِي طَرَفِ الاِجْتِهَادِ

Yang shahih menurut mereka (para ulama) tentang hadits Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhenti di tujuh (malam) sebagaimana beliau telah memerintahkan di awal untuk membacanya dalam sebulan, jadi beliau membuat batas antara sebulan hingga sepekan.  Dan telah diriwayatkan bahwa beliau menyuruhnya pertama kali untuk membacanya dalam empat puluh hari, dan ini dalam sisi keluasan (relatif santai) sebanding dengan 3 hari khatam dalam situasi pengerahan kesungguhan. (Majmu’ Al-Fatawa, 13/407).

Dalam kisah Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa yang mengkhatamkan Al-Quran kurang dari 3 hari maka ia tidak akan paham:

لَمْ يَفْقَهْ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ (رواه أبو داود والترمذي والنسائي وغيرهم قال الترمذي حديث حسن صحيح)

Tidak akan paham siapa yang membaca Al-Quran dalam waktu kurang dari tiga hari. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai dan lainnya. Tirmidzi berkata: hadits hasan shahih).

Namun hadits ini tidak menafikan pahala atau balasan bacaan Al-Quran bagi orang yang mengkhatamkan Al-Quran kurang dari 3 hari, yang dinafikan adalah pemahaman.

Oleh karena itu, Ibnu Rajab Al-Hambali memahami hadits ini sebagai larangan melakukannya sebagai kebiasaan, dan berpendapat boleh melakukannya untuk mendapatkan pahala yang besar di waktu-waktu dan tempat-tempat yang memiliki keutamaan seperti bulan Ramadhan atau di kota Makkah.

وَإِنَّمَا وَرَدَ النَّهْيُ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي أَقَّلَّ مِنْ ثَلاَثٍ عَلَى الْمُدَاوَمَةِ عَلَى ذَلِكَ، فَأَمَّا فِي الأَوْقَاتِ الْمُفَضَّلَةِ كَشَهْرِ رَمَضَانَ خُصُوْصًا اللَّيَالِي الَّتِي يُطْلَبُ فِيْهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ، أَوْ فِي الأَمَاكِنِ الْمُفَضَّلَةِ كَمَكَّةَ لِمَنْ دَخَلَهَا مِنْ غَيْرِ أَهْلِهَا فَيُسْتَحَبُّ الإِكْثَارُ فِيْهَا مِنْ تِلاَوَةِ القُرْآنِ اِغْتِنَامًا لِلزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَهُوَ قَوْلُ أَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ وَغَيْرِهِمَا مِنَ الأَئِمَّةِ، وَعَلَيْهِ يَدُلُّ عَمَلُ غَيْرِهِمْ

Terdapat larangan membaca seluruh Al-Quran kurang dari tiga hari hanya bagi yang melakukannya terus menerus.

Sedangkan pada waktu-waktu utama seperti bulan Ramadhan khususnya malam-malam yang dicari darinya lailatul qadar, atau di tempat-tempat utama seperti Mekkah bagi yang memasukinya dan bukan penduduknya, maka dianjurkan untuk memperbanyak tilawah Al-Quran mengoptimalkan waktu dan tempat tersebut.

Dan ia adalah pendapat Ahmad, Ishaq dan imam-imam selain mereka berdua. Dan yang dilakukan oleh selain mereka juga menunjukkan hal ini. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm 171).

Pendapat yang sama juga tersirat dari pesan Syaikh Hasan Al-Banna rahimahullah kepada para aktifis da’wah yang tidak menganjurkan khatam kurang dari 3 hari sebagai wirid yang rutin:

أَنْ يَكُونَ لَكَ وِرْدٌ يَوْمِيٌّ مِنْ كِتَابِ اللهِ لاَ يَقِلُّ عَنْ جُزْءٍ، وَاجْتَهِدْ أَلاَّ تَخْتِمَ فِي أَكْثَرَ مِنْ شَهْرٍ، وَلاَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ

Hendaklah ada wirid harian untukmu dari Kitab Allah tidak kurang dari satu juz, dan bersungguh-sungguhlah agar jangan sampai khatam lebih dari sebulan, dan jangan kurang dari tiga hari. (Risalah Ta’alim, kewajiban pertama dari 38 wajibat al-akh al-amil).

Anjuran Imam Nawawi kepada pembaca Al-Quran setelah menyebutkan riwayat salaf shalih tentang beragam jumlah khatam Al-Quran mereka:

وَالْمُخْتَارَ أَنَّهُ يَسْتَكْثِرُ مِنْهُ مَا يُمْكِنُهُ الدَّوَامُ عَلَيْهِ وَلاَ يَعْتَادُ إِلاَّ مَا يَغْلِبُ عَلَى ظَنِّهِ الدَّوَامُ عَلَيْهِ فِي حَالِ نَشَاطِهِ وَغَيْرِهِ. هَذَا إِذَا لَمْ تَكُنْ لَهُ وَظَائِفُ عَامَّةٌ أَوْ خَاصَّةٌ يَتَعَطَّلُ بِإِكْثَارِ الْقُرْآنِ عَنْهَا فَإِنْ كَانَتْ لَهُ وَظِيْفَةٌ عَامَّةٌ كَوِلاَيَةٍ وَتَعْلِيْمٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَلْيُوَظِّفْ لِنَفْسِهِ قِرَاءَةً يُمْكِنُهُ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا مَعَ نَشَاطِهِ وَغَيْرِهِ مِنْ غَيْرِ إِخْلاَلٍ بِشَيْءِ مِنْ كَمَالِ تِلْكَ الوَظِيْفَةِ وَعَلَى هَذَا يُحْمَلُ مَا جَاءَ عَنِ السَّلَفِ وَاللهُ أَعْلَمُ

Yang terbaik adalah hendaknya ia memperbanyak membaca Al-Quran (dengan frekuensi khatam) yang mungkin ia jaga kontinyuitasnya.

Dan jangan membiasakan kecuali yang ia duga kuat dapat melakukannya dengan kontinyu di saat bersemangat atau tidak bersemangat. Ini jika ia tidak memiliki wazhifah (pekerjaan atau tugas) umum atau khusus yang akan terganggu jika ia memperbanyak membaca Al-Quran.

Jika memiliki pekerjaan untuk kepentingan umum seperti pemimpin wilayah atau mengajar atau lainnya maka hendaklah ia menetapkan bacaan Al-Quran yang mungkin ia pelihara saat bersemangat atau tidak bersemangat tanpa mengganggu kesempurnaan pelaksanaan tugasnya.

Beginilah pemahaman terhadap riwayat dari salaf shalih (tentang frekuensi khatam Al-Quran mereka). (Syarh An-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, 8/43).

Imam Nawawi rahimahullah menekankan betul aspek dawam (kontinyu) karena ia lebih disukai oleh Allah dalam setiap amal:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اكْلَفُوا مِنَ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ، حَتَّى تَمَلُّوا، وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ، وَإِنْ قَلَّ»، وَكَانَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ (رواه أبو داود في سننه وصحّحه الألباني)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Lakukanlah amal yang kalian sanggupi, karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian bosan. Dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang lebih kontinyu meskipun sedikit.” (Aisyah melanjutkan): Dan jika Rasulullah melakukan suatu amal, ia akan menetapkannya (untuk seterusnya). (HR. Abu Dawud dalam Sunannya dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Insya Allah bersambung ke bagian ke-2


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

Karena Berkeluarga Adalah Fitrah

📝 Pemateri: Ustz. EKO YULIARTI SIROJ

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

💝Ada Khadijah yang merindu. Merindukan sesuatu yang hilang dan mengharapkannya kembali.
Ada Muhammad yang gemilang. Pemilik sifat mulia, cerdik dan jujur, yang diminta Khadijah untuk membawa barang dagangan miliknya ke Syam ditemani seorang pembantu bernama Maisarah dan pulang membawa keuntungan yang berlimpah.

Khadijah sepeti menemukan barang yang hilang dan sangat ia harapkan itu. Sudah banyak pemuka kaum yang melamar Khadijah untuk menikahinya. Namun Khadijah tidak mau.

Tiba-tiba…ketika kafilah dagang Muhammad kembali dari negeri Syam dengan capaian yang fenomenal, ia teringan rekannya Nafisah binti Muniyah. Dia meminta rekannya ini untuk menemui Muhammad dan membuka jalan agar mau menikah dengan Khadijah.

Ternyata beliau menerima tawaran itu, lalu beliau meneui paman-pamannya untuk memohon restu. Kemudian paman-paman beliau menemui paman-paman Khadijah untuk mengajukan lamaran. Setelah semua dianggap beres, maka perkawinan siap dilaksanakan.

Dua bulan sepulang dari Syam, Bani Hasyim dan para pemuka Bani Mudhar menjadi saksi pernikahan agung itu. Dengan mas kawin dua puluh ekor unta muda, Muhammad menikahi Khadijah seorang perempuan terpandang, cantik, pandai, dan juga kaya.

Demikian Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury menjelaskan pernikahan Muhammad dengan Khadijah dalam kitab siroh yang terkenal Ar-Rohiqul Makhtum.

💝Rasa itu tersimpan cukup lama dihati seorang pemuda bernama Ali bin Abi Thalib. Rasa yang muncul pertama kali saat Ali melihat Fathimah membersihkan luka sang ayah dengan penuh kasih sepulang sang ayah dari medan perang.

Remuk redam hati Ali saat ia tahu satu demi satu pemuka sahabat mengajukan lamaran kepada Rasulullah untuk menikahi putrinya.
Namun hati Ali kembali berbunga saat jawaban yang diberikan Rasulullah selalu saja “Dia (Fathimah) masih kecil.”

Bunga-bunga di hati Ali tak kunjung bertambah karena ia tidak memiliki keberanian untuk mengajukan lamaran kepada Rasul mulia.

Hingga suatu hari Abu Bakar RA mendatanginya dan menanyakan mengapa ia tidak mengajukan lamaran kepada Fathimah putri Rasulullah SAW. Antara bahagia karena Abu Bakar begitu kuat mendorongnya untuk menikah dan tidak percaya diri karena tidak memiliki apa-apa, Ali mengambil sebuah keputusan berani. Ya…ia akan menemui Rasulullah SAW.

Ummu Salamah yang saat Ali mendatangi Rasulullah sedang berada di rumahnya menceritakan dengan agak detil bagaimana pertemuan Ali dan Rasulullah berlangsung.

Rona merah muka Ali karena malu, bicara gugup sambil tertunduk, wajah Rasulullah yang berbinar bahagia menerima pinangan Ali, dikisahkan Ummu Salamah dengan begitu lengkap.

Bahkan kondisi ekonomi Ali yang dipaparkan dengan jujur dan didiskusikan bersama Rasulullah menambah indahnya perjalanan Ali memulai berkeluarga. Seekor unta, sebilah pedang dan seperangkat baju besi, hanya itu yang dimiliki Ali. Dan Rasulullah memilih baju besi sebagai mahar Ali untuk menikahi Fathimah.

🍂 Berkeluarga memang fitrah setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan. Fitrah yang salah satu maknanya dijelaskan oleh Imam Al-Qurthuby dalam tafsirnya sebagai khilqoh; anugerah pemberian Allah SWT.

Dan setiap orang memiliki anugerah itu. Anugerah kecenderungan untuk memiliki pasangan dan berketurunan.

Islam adalah agama fitrah, dan manusia diciptakan Allah SWT  dengan fitrah ini. Karenanya Allah SWT memerintahkan manusia untuk menghadapkan diri mereka ke agama fitrah agar kehidupan yang dijalani sesuai dengan fitrah yang Allah anugerahkan dan tidak terjadi penyelewengan dan penyimpangan.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), (sesuai) fitrah Allah, disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Ar-Ruum : 30]

💡Ibnu Abdul Bar seperti yang dikutip Al-Qurthuby dalam tafsirnya menjelaskan bahwa fitrah ini harus dijaga agar ia salamah dan istiqomah (selamat dan tetap lurus/konsisten). Yang membuat ia selamat dan lurus adalah dengan mengikuti petunjuk-petunjuk Allah yaitu dienul Islam.

🍂Adakah fitrah yang yang tidak selamat & berbelok?
Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA berikut menjadi jawabannya.

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُننَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tidak ada bayi yang dilahirkan kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR Bukhari)

Para ulama menyebutkan bahwa secara khusus yang dimaksud dengan fitrah dalam hadits ini adalah setiap bayi yang dilahirkan memiliki pengetahuan tentang Robb-nya. Maka saat manusia tumbuh menjadi dewasa, pengetahuan tentang Robb ini sangat ditentukan oleh lingkungan tempat ia tumbuh.
Dan lingkungan terdekat dari seseorang adalah ORANG TUA nya.

Diantara fitrah (dalam pemahaman yang lebih umum) yang dimiliki manusia adalah keinginan dan kebutuhan untuk menikah dan berkeluarga. Bahkan para nabi dan rasul sebagai makhluk Allah yang normal, mereka menikah dan berkeluarga. Karena berkeluarga adalah kebutuhan, maka Allah memberikan kemudahan dalam pelaksanaannya.

Lihatlah kisah diatas, bagaimana kecenderungan untuk menikah itu bermula dari Khadijah dan ia membuka jalan sedikit demi sedikit untuk mengupayakannya.

Tidak ada aib disana karena ia merencanakan dan menjalani perencanaan dengan sangat rapi tanpa melanggar aturan. Bahkan urusan usia sang calon istri yang jauh diatas calon suami tidak menjadi penghalang untuk berkeluarga.

🔑 Karena menikah adalah fitrah, maka jalan ke arahnya harus sesuai dengan aturan Allah.

Pun demikian dengan jalan yang ditempuh Ali bin Abi Thalib. Karena menikah itu fitrah, ia beranikan diri menghadap Rasulullah untuk meminang putrinya dengan kondisi Ali yang serba minim.

Tapi lihatlah bagaimana respon Rasulullah SAW? Beliau begitu bahagia, menerima lamaran Ali dengan wajah cerah ceria. Karena walau kondisi ekonominya minim, tapi Ali memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki sahabat lain. Rasulullah bahagia…karena MENIKAH ITU FITRAH.🔍

🍂Dalam urusan MAHAR, Islam juga memberi kemudahan.

Ada Rasulullah Muhammad yang menikahi Khadijah dengan mahar dua puluh ekor unta muda. Nilai yang sangat besar bahkan untuk situasi saat ini. Karena unta muda (unta merah) adalah unta yang harganya paling mahal.

Ada Ali bin Abi Thalib yang menikahi Fathimah binti Rasulullah dengan mahar seperangkat baju besi senilai 40 dirham menurut sebagian riwayat.

Keduanya berjalan lancar dan mengantarkan mereka kepada pembentukan keluarga harmonis yang penuh berkah hingga anak cucu, kaum kerabat bahkan para sahabatnya.

Tidak ada yang memberatkan dalam mahar, karena menikah dan berkeluarga adalah fitrah.
Fitrah berkeluarga antara laki-laki dan perempuan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Q.S. Al Hujurat Ayat 13)

Sepanjang sejarah manusia, Allah SWT seolah menegaskan bahwa sesuai dengan fitrah pernikahan dan pembentukan keluarga dilakukan antara laki-laki dan perempuan. Ada Adam dan Hawa, ada Ibrahim dan Hajar, ada Yusuf dan Zulaikha, ada Muhammad dan Khadijah.

Dan Allah SWT memberikan contoh bagi umat manusia bagaimana akhir cerita suatu kaum yang keluar dari fitrah yang Allah anugerahkan. Kaum nabi Luth adalah sebuah contoh, bagaimana perilaku menyimpang yang mereka lakukan justru mengundang adzab yang sangat besar dari Allah SWT. (silakan pelajari surat Huud ayat 77-82).

Hari ini, kita menghadapi sebuah gelombang besar. 🔹Gelombang yang mengajak manusia untuk meninggalkan fitrahnya. 🔹Gelombang yang menuntut agar penyimpangan fitrah yang dilakukan segelintir orang bukan diobati tetapi dipermaklumkan atas nama hak asasi manusia. 🔹Gelombang yang akan meruntuhkan tatanan berkeluarga dan bermasyarakat itu dipaksakan untuk diterima oleh semua kalangan di semua Negara karena mereka menitipkan suaranya kepada komisi perempuan PBB.

Mereka kaum lesbi, gay, biseksual dan transjender (LGBT) menuntut agar perilaku menyimpang mereka diakui tidak hanya oleh masyarakat akan tetapi diakui oleh Negara.

Pernahkah kita membayangkan sebuah keluarga yang terdiri dari dua orang laki-laki dewasa atau dua orang perempuan dewasa dan seorang atau dua orang anak (adopsi) hidup ditengah masyarakat kita?

Keluarga yang tanpa perlu berfikir panjang bisa memutuskan ikatannya dan membentuk keluarga baru? Keluarga yang tak memiliki orientasi dan tujuan yang jelas untuk apa mereka bersama-sama?  Apakah dari keluarga model ini akan hadir sakinah, mawaddah dan rahmah?

Tentu saja 🔊..TIDAK..🔊 karena berkeluarga memiliki ruh dimensi waktu yang sangat panjang. Bukan hanya saat mereka ada bahkan saat mereka telah tiada keluarga menjadi teladan bagi generasi selanjutnya seperti keluarga Ibrahim AS dan keluarga Muhammad SAW yang hingga kini kita sebut keduanya dalam shalawat kita.

Maka berhati-hatilah terhadap gerakan yang dilakukan kelompok ini yang upayanya merambah kehidupan kita terutama dilakukan dengan menggunakan media.

Film yang ditonton anak-anak kita tanpa menyebutkan identitas yang jelas seperti sponge bob atau teletubbies.

Artis atau comedian laki-laki yang penampilannya gemulai seperti perempuan.
Olah raga berat yang dilakukan oleh kaum perempuan seperti gulat, tinju, angkat besi, dll.

Jika tidak dihentikan, maka gelombang itu akan merasuk ke dalam masyarakat kita.

Naudzu billah tsumma naudzu billah.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

Sudahkah Kita Menjadi Orang Tua yang Sholih?

📝 Pemateri: Dra. Indra Asih

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesunguhnya Allah ta’ala akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Kemudian dia akan berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku?

Maka Allah menjawab, “Hal itu dikarenakan do’a yang dipanjatkan anakmu agar kesalahanmu diampuni.” (HR. Ahmad).

Allah ta’ala langsung membebankan tanggung jawab pendidikan anak kepada kedua orang tua.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ (٦)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At Tahrim: 6).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memikulkan tanggung jawab pendidikan anak ini secara utuh kepada kedua orang tua.

Dari Ibnu radhiallahu ‘anhu, bahwa dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari).

🔑 Tanggung jawab pendidikan anak ini harus ditangani langsung oleh kedua orang tua.

Sedangkan para pendidik yang mendidik anak di sekolah-sekolah, hanyalah partner bagi orang tua dalam proses pendidikan anak.

Pendidikan yang diberikan orang tua merupakan pemberian yang berharga bagi sang anak, meski terkadang hal itu jarang disadari.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Hakim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما نحل والد ولده أفضل من أدب حسن

“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim).

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (٧٤)

“Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqan: 74).

🔑 Jika kita menginginkan anak-anak shalih, maka kita juga harus menjadi orang yang shalih. 😊😊

Ada pepatah Arab yang bagus mengenai hal ini,

كيف استقم الظل و عوده أعوج

🔅“Bagaimana bisa bayangan itu lurus sementara bendanya bengkok?”🔅

Kita selaku orang tua adalah bendanya sedangkan anak-anak kita adalah bayangannya. Jika diri kita bengkok, maka anak pun akan bengkok dan rusak. Dan sebaliknya, jika diri kita lurus, maka insya Allah anak-anak akan lurus.

Allah ta’ala berfirman,

ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Keturunan itu sebagiannya merupakan (turunan) dari yang lain.” (Ali Imran: 34).

Maksud dari ayat di atas adalah orang tua yang baik, sumber yang baik, insya Allah akan menghasilkan keturunan yang baik pula.

Kelak di surga, Allah ta’ala pun akan mengumpulkan sang anak bersama orang tua mereka yang shalih, meskipun amalan sang anak tidak dibanding amalan orang tua.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ (٢١)

“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Ath Thuur: 21).

Allah ta’ala memasukkan anak-anak orang mukmin ke dalam surga dengan syarat mereka juga beriman.

Betapa menyenangkannya, jika kita berkumpul bersama keluarga kita di surga sebagaimana kita berkumpul di dunia ini.

Meskipun amal ibadah sang anak tidak sepadan dengan kedua orang tuanya, amalnya kurang daripada orang tuanya, namun Allah tetap memasukkan keturunannya ke dalam surga.

Mengapa? Karena keshalehan kedua orang tuanya.

Betapa penting menjadikan pribadi kita, yaitu orang tua, menjadi pribadi yang shalih, sampai-sampai salah seorang yang shalih pernah mengatakan,

يا بني إني لأستكثر من الصلاة لأجلك

“Wahai anakku, sesungguhnya aku memperbanyak shalat karenamu (dengan harapan Allah akan menjagamu).”

Ada seorang tabi’in yang bernama Sa’id ibn al-Musayyib rahimahullah juga pernah berkata,

إني لأصلي فأذكر ولدي فأزيد في صلاتي

“Ada kalanya ketika aku shalat, aku teringat akan anakku, maka aku pun menambah shalatku (agar anak-anakku dijaga oleh Allah ta’ala).”

🍂Semoga Allah mudahkan kita untuk mampu menjadi pribadi yang baik, taat kepada Allah dan shalih, kita jalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya dengan harapan nantinya Allah ta’ala menjaga dan memelihara anak-anak kita.🍂

Aamiin Ya Mujiibassaailiin..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Husnuzhan

Biduk Kebersamaan

📝Pemateri: M. Shafwan Husein Ellomboki

🌺🌸💐🌷🍀🌷💐🌸🌺

“Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan memperoleh banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang makin mengecil dan menyempit. Engkau harus tahu bahwa bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwamulah yang sempit, bukan dunianya.” (Ar-Rafi’i)

🙇🏻Biduk kebersamaan kita terua berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut.  Adakah di antara yang tersayat atau terluka? Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti. Kita tak pernah berhenti karena menderita oleh keadaan seperti ini. Di jalan ini, “rasa sakit telah menjadi kenikmatan, pengorbanan menjadi indah dan jiwa menjadi tidak berharga.”

🌼Saudaraku,🌾
Dalam perjalanan panjang seperti ini, kita memerlukan satu bekal, yaitu sikap lapang dada, nafas panjang, dan mudah memaafkan. Seperti Rasulullah SAW yang tak merasa tertekan dengan penghinaan atau cacian orang-orang sekitarnya dalam menjalani misi kenabian.

🌼Saudaraku, 🌾
Sungguh luar biasa sikap orang-orang shalih dalam memandang dan mengukur penghinaan orang lain terhadap dirinya. Ibrahim An-Nakha’i, suatu hari berjalan bersama sahabatnya, seorang buta. Setelah beberapa menyusuri jalan, orang buta itu mengatakan, “Ya Ibrahim, orang-orang yang melihat kita mengatakan, “Itu orang buta dan pincang…itu orang buta dan pincang.”Ibrahim dengan tenang lalu mengatakan, “Kenapa engkau begitu terbebani memikirkannya? Jika mereka berdosa karena menghina kita sedangkan kita  mendapat pahala, lalu kenapa?

Fudhail bin Iyadh, tokoh utama yang terkenal ketaqwaannya di zaman generasi tabi’in bercerita bahwa suatu ketika, saat berada di Masjidil Haram, ia didatangi seseorang yang menangis. Fudhail bertanya, “Kenapa engkau menangis? “Orang itu menjawab, “Aku kehilangan beberapa dinar dan aku tau ternyata uangku dicuri. “Fudhail mengatakan, “Apakah engkau menangis hanya karena dinar?” Sungguh mengejutkan jawaban orang itu. Ia menjawab, “Tidak, aku menangis karena aku tahu bahwa kelak aku akan berada di hadapan Allah dengan pencuri itu. Aku kasihan dengan pencuri itu, itulah yang menyebabkan aku menangis.”

🌼Saudaraku,🌾
Mereka yang dirahmati Allah itu, menyikapi berbagai persoalan dengan lapang dada. Mungkin saja mereka berduka, bersedih, kecewa, atau barangkali tersulut sedikit kemarahannya. Tetapi mereka berhasil menguasai hatinya kembali. Hati mereka tetap ridha, mata mereka tetap teduh, ketenangan mereka tetap tidak terusik. Betapa indahnya.

🌼Saudaraku,🌾
Jika kita tidak lapang dada dan tidak mudah bersabar, kita pasti menjadi orang yang paling menderita di dunia ini. Sebab penderitaan terbesar adalah jiwa yang cepat goyah dan bimbang saat mnghadapi sesuatu yang yang sebenarnya remeh. Penderitaan paling berbahaya adalah ketika tujuan hidup kita yang demikian agung, terbentur oleh keadaan yang sesungguhnya sepele. Persoalan remeh, yang kita lihat secara keliru, kemudian mengakibatkan sempitnya dada, nafas tersengal, kesal hati, murung wajah, hati yang bergemuruh duka cita, bahkan air mata dan dendam. Hingga istirahat terganggu, pikiran tidak arah.

Jika itu yang terjadi, takkan ada amal-amal besar yang bisa dilakukan. Lantaran amal-amal besar itu, hanya lahir dari jiwa-jiwa yang tenang, hati yang lapang, penuh ridha, pikiran yang jernih.

🌼Saudaraku,🌾
💡🔑 Apa rahasia lapang dada yang dimiliki para salafushalih itu? Kenapa mereka tetap memiliki bashirah (penglihatan) yang terang dalam menghadapi persoalan hidup? Salah satunya adalah karena wawasan ilmunya yang luas. Orang yang sempit wawasan adalah orang yang takut dengan perkara-perkara kecil, sangat takut dengan peristiwa yang remeh dan mudah marah dengan kata-kata yang tidak berkenan di hatinya. Seseorang bahkan bisa sampai terbakar puncak kemarahannya 😡 disebabkan peristiwa yang sebenarnya bisa dilewati dengan memejamkan mata. Bahkan bisa dilewati dengan senyum bila dibarengi dengan sedikit lapang dada.

💡Itulah yang dikatakan Ar-Raf’i dalam Wahyul Qalam, “Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan banyak memperoleh kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang makin mengecil dan menyempit. Engkau harus tahu bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwamulah yang sempit, bukan dunianya.” (Wahyul Qalam, 1/50)

🌼Saudaraku dalam perjalanan,🌾
Kita bisa seperti mereka. Jika kita tahu dan sadar, ada sasaran besar dan tujuan maha agung yang akan kita capai bersama di ujung jalan ini. Ada yang maha penting dari peristiwa-peristiwa apa pun di jalan ini. Ada yg maha mulia dari berbagai kejadian-kejadian apa pun di jalan ini.

🌼Saudaraku,🌾
Tak ada artinya aral apa pun di jalan ini. Karena, kita sedang berjuang menuju Allah.
ﺍﻟﻠﻪ أعلم
🌺🌸💐🌷🍀🌷💐🌸🌺

✒📄Disadur dari buku Berjuang di Dunia, Berharap Pertemuan di Surga. Muhammad Nursani. Tarbawi Press.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Makanlah yang Halal

Mengenal Jual Beli Urbun, Dan Hukum Praktek Jual Beli Urbun

📝 Pemateri: Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّهُ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْعُرْبَانِ (رواه أحمد والنسائي وأبو داود, وهو لمالك في الموطأ

(Dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata bahwa Nabi SAW melarang jual beli Urban.’ (HR. Ahmad, Nasa’i, Abu Daud dan Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Malik dalam Al-Muwatha’)

🍂Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh :
🔹Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Fi Al-Urban, hadits no 3039.
🔹Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab At-Tijarat, Bab Bai’ al-Urban, hadits no 2183.
🔹Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, Dalam Musnad Abdullah bin Amru bin Ash, Hadits no 6436.

🍂 Makna Urbun

Secara bahasa, urbun atau urban dalam bahasa Arab berarti meminjamkan dan memajukan. Dalam hal ini, terdapat beberapa bacaan yaitu ; urbun, arabun dan urban.Kata urban atau urbun ini pada dasarnya adalah bahasa non Arab yang sudah mengalami Arabisasi dan sudah menjadi istilah dalam bahasa Arab.

Adapun yang dimaksud dengan jual beli urbun adalah seseorang membeli sebuah barang lalu ia membayar satu dirham atau sebagian kecil dari harga barang kepada penjual, dengan syarat jika jual beli dilanjutkan maka satu dirham yang telah dibayarkan akan terhitung sebagai bagian dari harga. Namun apabila tidak jadi, maka satu dirham yang telah dibayar akan menjadi pemberian (hibah) bagi penjual.

🔹Imam Syaukani mengemukakan,

أن يشتري الرجل العبد، أو يتكارى الدابة، ثم يقول : أعطيك دينارا على أني إن تركت السلعة أو الكراء فما أعطيتك لك

bahwa Urban adalah seperti seseorang ingin membeli sesuatu, atau ingin menyewa kendaraan, kemudian ia berkata kepada penjual, ‘aku beri kamu satu dinar (untuk tanda jadi atau uang muka barang yang akan dibeli atau disewa), jika aku meninggalkan barang tersebut (tidak jadi membeli), maka apa yang telah aku berikan kepadamu, menjadi milikmu.’

Dalam gambaran lain :

المراد أنه إذا لم يختر السلعة أو اكترى الدابة كان الدينار أو نحوه للمالك بغير شيء، وإن اختارهما أعطاء بقية القيمة أو الكراء

Yang dimaksud adalah, apabila tidak jadi membeli barang atau tidak jadi menyewa kendaraan, maka uang dinar atau uang lainnya akan menjadi milik si penjual tanpa (konpensasi) apapaun. Adapun apabila ia jadi membeli barang atau jadi menyewa kendaraan, maka ia akan membayar sisa harga barang tersebut.

🍁Jual beli urbun memiliki karakteristik sebagai berikut :

🔹Jual beli terhadap suatu objek barang tertentu dimana pembeli melakukan pembayaran uang muka sebagai tanda jadi kepada penjual, dengan harga tertentu.

🔹Objek barang barang tersebut masih dalam genggaman penjual.

🔹Jika pembeli jadi dan ingin meneruskan transaksi jual beli, maka pembeli akan membayarkannya secara tunai. Uang muka tanda jadi pembayaran, akan masuk ke dalam harga yang akan dibayarkan. Namun jika pembeli tidak jadi meneruskan transaksi, maka uang muka yang telah dibayarkan akan menjadi milik si penjual, tanpa ada konpensasi apapun.

🔹Umumnya jangka waktu penentuan jadi tidaknya transaksi relatif tidak jelas.

🔹Pembeli memiliki hak khiyar (meneruskan atau membatalkan transaksi), namun penjual tidak memiliki hak khiyar. Sehingga di satu sisi, urbun menguntungkan pembeli dan kecenderungannya merugikan penjual.

🍂 Hukum Jual Beli Urbun

Para ulama memberikan pendapat, terkait dengan hukum jual beli urbun, yaitu sebagai berikut

🍁Ulama madzhab Hambali berpendapat : jual beli urbun hukumnya boleh, namun  harus ditentukan batas waktu khiyar (pilihan apakah jual beli jadi atau tidak jadi) bagi pembeli. Karena jika tidak ditentukan, maka tidak ada kepastian sampai kapan penjual harus menunggu.

🍁Sedangkan Ulama Madzhab Hanafi berpendapat bahwa bahwa jual beli urbun hukumnya fasid (rusak), namun akad transaksi jual belinya tidak batal.

🍁Jumhur ulama berpendapat, bahwa jual beli urbun adalah jual beli yang dilarang dan tidak sah, berdasarkan larangan Nabi SAW atas jual beli ini, dan juga karena urbun mengandung unsur gharar, spekulasi, dan temasuk memakan harta orang lain dengan cara yang bathil.

Termasuk yang mengemukakan pendapat seperti ini adalah Imam Syaukani dalam Nailul Authar nya.

Ulama mengemukakan bahwa diantara illat (sebab) dilarangnya jual beli urbun adalah sebagai berikut:

🔹Adanya unsur gharar, yaitu umumnya terjadi pada dua hal yaitu,

KETIDAKJELASAN, apakah pembeli jadi membeli barangnya atau tidak
Ketidakjelasan, dalam jangka waktu kepastian, jadi atau tidaknya pembeli akan membeli atau membatalkannya.

Adanya unsur maisir (SPEKUKASI), yaitu oleh karena adanya unsur gharar atau ketidakjelasan dari pembeli, maka dengan sendirinya muncul maisir (spekulasi) sehingga ia tidak menjualnya kepada orang lain. Padahal calon pembeli belum tentu membeli.

Mengambil harta orang lain tanpa imbalan (batil), yaitu dalam hal ketika pembeli tidak jadi membeli, maka uang muka yang memang sejak awal dimaksudkan sebagai alat bayar, akan berpindah kepemlikannya menjadi milik si penjual tanpa ada konpensasi apapun buat si pembeli.

🍂Kebutuhan adanya jual beli urbun

Oleh karena transaksi uang muka sudah menjadi tradisi dan sebagai unsur komitmen dalam hubungan bisnis serta menjadi hajat (kebutuhan mendesak) dalam setiap transaksi yang terjadi, khususnya di masa-masa sekarang ini,  maka ulama kontemporer memberikan padangan sebagai berikut :

💡Prof Dr Wahbah Zuhayli dalam Al-Fiqh Al-ismali wa Adillatuhu (Jilid 3/ hal 120), bahwa jual beli sistem urbun adalah sah dan halal dilakukan berdasarkan urf (tradisi yang berkembang). Karena hadits-hadits yang diriwayatkan dalam kasus jual beli ini, tidak ada satupun yang shahih.

🍁 Kesimpulan

Bahwa larangan praktik jual beli urbun, terdapat dalam nash hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Abu Daud, Ibnu Majah dan Imam Malik dalam Muwatho’nya.

Namun menurut para ulama, hadits yang melarang jual beli urbun merupakan hadits dha’if yaitu munqathi’, dimana terdapat perawi yang terputus atau tidak disebutkan. Dan hadits dha’if tidak bisa dijadikan sandaran satu amalan.

Kendatipun perawi terputus tesebut disebutkan dalam riwayat lainnya, namun ternyata perawi tesebut didhaifkan oleh para ulama hadits :

🔹Ada yang mengatakan bahwa perawi yang tidak sebutkan adalah Ibnu Luhay’ah, sedangkan ia adalah dhaif.

🔹Ada yang mengatakan bahwa perawi yang tidak disebutkan adalah Abdullah bin Amir Al-Aslami, sementara ia merupakan perawi yang tidak dapat dijadikan hujjah.

🔹Ada yang menyebutkan pula bahwa dalam sanadnya terdapat  Al-Haitsam bin Al-Yaman, dan beliau didha’ifkan oleh ulama hadits.

Adanya kebutuhan mendesak (hajjah) untuk melakukan transaksi dengan uang muka (urbun) dan sudah menjadi urf (kebiasaan), khususnya di zaman sekarang ini sebagai tanda atau bentuk komitmen dalam melakukan perjanjian bisnis, yang apabila tidak dilakukan sangat memungkin menimbulkan kerugian bagi pihak-pihak yang bertransaksi dan tentunya akan menyulitkan kebanyakan orang.

Bahwa Illat larangan dalam suatu hukum muamalah, apabila ia bisa dihilangkan maka akan menjadikannya mubah (boleh) untuk dilakukan.

Oleh karenanya apabila illat yang terdapat dalam jual beli urbun dihilangkan, maka jual beli urbun bisa diperbolehkan.

Artinya, bahwa jual beli urbun diperbolehkan namun dengan syarat-syarat tertentu, yaitu :

🔹Objek barang harus jelas dan merupakan barang yang dapat ditransaksikan menurut syariah.

🔹Jangka waktu yang diberikan untuk menentukan sikap, jadi atau tidak jadinya membeli suatu barang harus diberikan batasan secara jelas, agar terhindar dari gharar.
Misalnya jangka watu 1 hari, 2 hari, atau 3 hari, yang disepakati oleh kedua belah pihak yang berakad.

🔹Uang muka sebagai tanda jadi atau tanda komitmen harus berdasarkan kesepakatan, yang jumlahnya merupakan perkiraan kerugian riil penjual, apabila nantinya pembeli tidak jadi membeli.
uang muka yang akan menjadi milik penjual, ketika pembeli tidak jadi membeli barangnya merupakan uang ganti rugi (ta’widh), atas kerugian riil penjual.

🔹Dan ketika apabila dihitung masih ada sisanya, maka sisanya harus dikembalikan kepada calon pembeli.

Wallahu A’lam bis Shawab

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

puasa di bulan Muharram

Muharram Bulan Allah, Bukan Bulan Sial Apalagi Bulan Syi’ah

📝 Pemateri: DR. WIDO SUPRAHA

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Muharram, Syahrullah, bulan Allah, segera tiba.

Bulan penuh keutamaan amal shalih seperti puasa, berarti keutamaan juga untuk amal shalih lainnya seperti resepsi pernikahan, sunatan, aqiqah, perjalanan jauh, dan sejenisnya.

Generasi terbaik umat Islam telah mengisi bulan Muharram dengan memperbanyak amal shalih, dan menjaga diri mereka dari berperang kecuali jika diperangi musuh.

Allah Swt. telah berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّہُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَہۡرً۬ا فِى ڪِتَـٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡہَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٌ۬‌ۚ ذَٲلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ‌ۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيہِنَّ أَنفُسَڪُمۡ‌ۚ وَقَـٰتِلُواْ ٱلۡمُشۡرِڪِينَ كَآفَّةً۬ ڪَمَا يُقَـٰتِلُونَكُمۡ ڪَآفَّةً۬‌ۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِينَ (٣٦)

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.

Itulah [ketetapan] agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (Q.S. At-Taubah/9:36)

Abu Muhammad Makki ibn Abi Thalib Hammusy ibn Muhammad ibn Mukhtar Al-Qaisi al-Qairawani al-Andalusi al-Qurthubi al-Maliki (355-437H) berkata, “Empat bulan yang dimaksud dalam ayat di atas adalah Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram”.

وهن: رجب، وذو القعدة، وذو الحجة والمحرم

(Al Hidayah ila Bulugh an-Nihayah fi ‘Ilmi Ma’ani al-Qur’an wa Tafsiruhu, wa Ahkamuhu wa Jamalu min Fununi ‘Ulumihi, Maktabah Syamilah).

Hal ini juga telah dijelaskan Nabi Saw. dalam salah satu khutbahnya,

“Sesungguhnya zaman  telah bergulir seperti saat hari ketika diciptakannya langit dan bumi. Satu tahun terdiri atas 12 bulan, dan di antaranya ada 4 bulan haram, 3 bulan berturutan yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan kemudian bulan Rajab yang berada di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban. (HR. Bukhari No. 59, HR. Muslim No. 1679)

إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهراً منها أربعة حرم ثلاث متواليات ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان

Muhammad ibn ‘Abdurrahman ibn Muhammad ibn ‘Abdullah al-Husni al-Ihabi asy-Syafi’i (832-905H) mengutip pendapat sebagian ulama bahwa larangan untuk berbuat aniaya (kezhaliman) pada ‘فيهن’ merujuk kepada ‘اثنا عشر شهراً’ dimaksud, sehingga tidak terbatas pada empat bulan saja.

Demikian tegas larangan tersebut disampaikan agar manusia mengisi seluruh bulan dengan ketaatan.

والطاعة فيها أعظم أجراً

Dan ketaatan yang dilakukan di bulan haram, sangat besar pahalanya. (Tafsir al-Iji Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, Maktabah Syamilah)

🔑Jika ketaatan yang diamalkan di bulan Muharram akan mendapatkan pahala yang besar, maka penyimpangan keyakinan dan kemaksiatan yang dilakukan di dalamnya pun mendapatkan balasan yang besar.

Tidak pantas bagi manusia mengisinya dengan keyakinan bahwa bulan Muharram adalah bulan sial, sebagaimana tidak pantas bagi manusia untuk menganiaya dirinya di bulan suci.

Meyakini segala waktu, terlebih bulan Allah, sebagai waktu yang akan melahirkan kesialan adalah keyakinan batil yang akan menyakiti Allah Swt.

Rasul Saw. bersabda, “Janganlah kalian mencela waktu karena Allah Dialah (pencipta) Ad-Dahr. (HR. Muslim No. 5827)

لاَ تَسُبُّوا الدَّهْرَ؛ فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ

Sebagaimana Allah Swt telah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi:

“Anak Adam telah menyakiti-Ku; ia mencela dahr (waktu), padahal Aku adalah (pencipta) dahr.
Di tangan-Ku segala perkara, Aku memutar malam dan siang.” (HR. Bukhari No. 2042, Muslim No. 3326)

يؤذيني ابن آدم يسب الدهر، وأنا الدهر، بيدي الأمر أقلب الليل والنهار

Demikian juga dengan beramal, terlebih beramal di bulan Allah dengan amalan yang bersifat menganiaya diri, melukainya, bahkan menyebabkan kecacatannya, hingga kematiannya, sebagaimana perilaku sebagian Syi’ah, bukanlah ciri umat Nabi Muhammad Saw, merujuk peringatan beliau:

“Bukanlah golongan kami sesiapa yang menampar pipi, merobek-robek kantong baju, dan beramal dengan amal jahiliyah”. (HR. Bukhari No. 1294, Muslim No. 103)

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّة

💡🔑 Menjaga iman agar tetap berada dalam pemahaman yang lurus, dan menghidupkan amal agar selalu merujuk kepada ilmu adalah hal yang asasi dalam kehidupan dunia.

Semoga hal itu mudah bagi kita.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Amal dan Ajal

Senandung Keimanan Penghulu Risalah

📝 Pemateri: Ust. Noorahmat Abu Mubarak

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

🌾Saudaraku…
Keimanan yang mengakar ke dalam lubuk jiwa seorang mu’min merupakan bekalan utama dalam menghadapi perjuangan hidup dan menangkal propaganda nafsu duniawi.
Khususnya bagi setiap mu’min yang selalu mencurahkan perhatiannya pada permasalahan ummat yang banyak dijumpai dalam hidup keseharian.

Tanpa keimanan, tiada satupun senjata yang kuat menembus angkara karena sia-sia segala bentuk persiapan.

🌾Saudaraku…
Bekalan utama yang harus kalian miliki adalah keyakinan bahwa MAUT senantiasa mengintai setiap deru nafas kita. Mutlak jiwa kita ada dalam genggamanNya dan ketentuan ajal atas kita tiada satupun yang dapat campur tangan kecuali Allah Ta’ala semata.

Tiada pernah kita akan mampu berlari dari cegatan malaikat maut bila memang Allah Ta’ala sudah putuskan waktunya.

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا ڪَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَٮٰنَا‌ وَعَلَى ٱللَّهِ فَليَتَوَڪَّلِ ٱلمُؤمِنُونَ

Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dia-lah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal (QS At Taubah 9:51)

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ۬‌ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ لَا يَستَأۡخِرُونَ سَاعَةً۬‌ وَلَا يَستَقدِمُونَ

Maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak bisa meminta ditunda sesaatpun, dan tidak bisa pula dimajukan (QS Al A’raaf 7:34)

Karenanya bila kita menyadarinya, maka tentu kita akan memiliki keshabaran, keberanian dan semangat yang tinggi hingga bebas dari jeratan rasa cemas, khawatir ataupun takut.

Maka senandungkanlah sya’ir sebagaimana Ali ibn Abi Thalib r.a menancapkannya kedalam hati ketika berhadapan dengan musuh Islam…

 أي يومي من الموت أفر؟
🔹Adakah hari-hari yang mungkin aku bisa lari dari maut…
يوم لا يقدرأم يوم قدر…
🔹Hari yang ditentukan dan yang tidak ditentukan…
يوم لا يقدرلاأرهبه…
🔹Hari yang tak ditetapkan aku pun tidak gentar…
ومن المقدورلاينجوالحذر…
🔹Dan hari yang ditentukanpun aku tak kuasa menghindarinya…
أقول لهاوقد طارت شعاعا…
🔹Kukatakan padanya, ia telah terbang bertabur bintang…
من الأبطال ويحك لن تراعي…
🔹Dari para syuhada yang gugur yang tak kau pedulikan…
فإنك لوسألت بقاءيوم…
🔹Maka sesungguhnya engkau walau meminta penundaan meski sehari…
على الأجل الذي لك لن تطاعي…
🔹Atas ajal yang ditetapkan padamu, tentu ia takkan mau…
فصبرافى عجال الموت صبرا…
🔹Karena itu bershabarlah saat menghadapi kematian…
فما نيل الخلود بمستطاع…
🔹Karena mengharapkan keabadian adalah sesuatu yang mustahil…
🔹Semoga ingatan kalian atas maut senantiasa membuat hati kalian hidup menerangi semesta…
Aamiin…

🌾Saudaraku…
Ketika terlahir sudah kesadaran bahwa ajal tidak pernah lekang dari mengintai kita,
maka sadarkan jiwa kita bahwa selama nyawa masih dikandung badan, rezeki dari Allah Ta’ala tiada akan pernah terputus memenuhi kebutuhan kita.

Tak seorangpun meregang nyawa kecuali telah disempurnakan rezeki dan ajalnya.

Mari perhatikan ayat Allah berikut…

إِنَّ رَبَّكَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُ‌ۚ إِنَّهُ ۥ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرَۢا بَصِيرً۬ا

Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS Al Isra 17:30)

أَمَّنۡ هَـٰذَا ٱلَّذِى يَرۡزُقُكُمۡ إِنۡ أَمۡسَكَ رِزۡقَهُ ۥ‌ۚ بَل لَّجُّواْ فِى عُتُوٍّ۬ وَنُفُورٍ

Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rezki jika Allah menahan rezki-Nya? Sebenarnya mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri? (QS Al Mulk 67:21)

🌾Saudaraku…
Kita sudah selayaknya memiliki sifat kedewasaan, kasih sayang, dan itsar yang tinggi.

💡Kita sudah sepantasnya terbebas dari perbudakan nafsu dunia,
terbebas dari kerinduan untuk memburunya, dari sikap egoistis, tamak maupun kebakhilan…

Bahkan sudah seharusnya kita mengasumsikan bahwa kebahagiaan hidup ada dalam sikap qana’ah…

Terkait ini, Imam Syafi’I rahimahullah bersenandung…

النفسن تجزع أن تكون فقيرة…
🔹Nafsu memang gelisah jika dirinya menjadi fakir…
والفقرخيرمن غنى يطغيها…
🔹Padahal kefakiran itu lebih baik daripada kekayaan yang menyiksa…
وغنى النفوس هوالكفاف, فان أبته…
🔹Kekayaan jiwa itu qana’ah walaupun banyak yang enggan…
فجميع مافى الأرض لايكمنها…
🔹Bumi dengan seluruh kekayaannya tidak akan membuat jiwa qana’ah…

🌾Saudaraku…
Ingatkah kisah ‘Atha’ bin Abi Rabah ketika berkesempatan bertemu dengan Khalifah Abdul Malik bin Marwan?

Pada saat itu khalifah sedang bersantai di atas permadani beserta para pembesar negeri.
Ketika Khalifah melihat ‘Atha’, segeralah ia menyambut dan mempersilakan duduk… kemudian bertanya…
“Yaa Abu Muhammad, adakah kepentingan yang hendak kau utarakan?”
Dan ‘Atha’ pun menjawab dengan lugas…

🔎“Yaa Amirul Mu’miniin, hendaknya anda bertaqwa kepada Allah terhadap apa yang diharamkan oleh Allah dan juga Rasul-Nya, lalu penuhilah perjanjian-Nya dalam memakmurkan negeri.

Hendaknya anda bertaqwa kepada Allah dalam menyantuni putra-putri Muhajirin dan Anshar, karena sesungguhnya anda duduk di majelis ini bersama mereka.

Hendaklah anda bertaqwa kepada Allah dalam melayani dhuafa, karena sesungguhnya mereka benteng kaum muslimiin, dan perhatikanlah urusan kaum muslimin karena sesungguhnya diri anda-lah yang bertanggung jawab atas mereka….”🔍

Khalifah-pun menjawab, “Terima kasih, saya akan melakukan saranmu”. Kemudian ‘Atha’ berdiri tetapi khalifah memegangnya, melarangnya pergi…
“Yaa Abu Muhammad. Anda hanya mengajukan permintaan kepada kami untuk keperluan orang lain, dan itu pun telah kami penuhi. Lalu apakah keperluan untuk anda sendiri?” sang Khalifah-pun mendesak…

Seketika itu ‘Atha’ menjawab tegas…

🔊“Aku tidak pernah menyandarkan keperluanku kepada makhluk”📢

Menggelegar sikap ‘Atha’ hingga relung kalbu kita bergoyang….

Ya….kita tidak boleh menyandarkan keperluan kita kepada makhluk… sebagai konsekuensi atas salim-nya aqidah kita…

🌾Wahai saudaraku…
Kesadaran akan pastinya ajal…dan pastinya takaran rezeki yang Allah Azza wa Jalla berikan pada kita, sudah semestinya melahirkan sikap SYAJA’AH  dan ISTIQOMAH dalam mengusung nilai kebenaran dan keadilan Ilahiyyah.

Dengan demikian maka kita akan dapat memainkan peran kita dalam membina, meng-Ishlah dan menuntun immat kearah kemaslahatan…

Semoga bahu kita mampu mengembalikan ‘Izzah Islam dan kaum muslimin yang saat ini tercabik dan tercerai berai… Aamiin…🙏😢

🌾Wahai saudaraku…
Di masa penuh fitnah ini…keshabaran kita diuji…

🔎Dan hanya keshabaran yang terlahir dari keimanan yang kokoh mengakar-lah yang mampu membebaskan dari belenggu lemahnya jiwa hingga terlahir kekuatan untuk membuang jauh sikap malas, lemah, lesu dan keberserahan…

🔎Karena shabar yang lahir dari jiwa-jiwa yang senantiasa merasa diawasi Allah Ta’ala akan melahirkan ketabahan dan ketegaran dalam menghadapi cobaan yang menimpa…hingga Allah Azza wa Jalla
Mendatangkan pertolongan-Nya atau Allah Ta’ala menjadikan syahid dalam keadaan ridha dan diridhai…😢😢

🔎Kita harus siap menghadapi berbagai tuduhan bohong, propaganda bathil, sikap sinis atau apapun yang mengkerdilkan seruan Islam…

🔎Kita harus siap menghadapi kemungkinan terpahit berupa jeruji besi, pencekalan ataupun penyiksaan…

🔎Kita harus siap menghadapi berbagai tipu daya yang hendak melemahkan semangat perjuangan… tak kurang
– kedudukan sosial…
– jabatan…
– kekayaan…
– hingga wanita-wanita cantik yang menggiurkan…

Siap meluluh-lantakkan barisan dakwah yang dirintis dengan peluh dan darah oleh para pendahulu di masa silam…

Bayangkanlah karenanya wajah Diponegoro, Tjik Di Tiro, Imam Bonjol, Tjokroaminoto, Ahmad Dahlan, Hasyim Asyari, Agus Salim, Mohammad Natsir, Buya Hamka, Syafrudin Prawiranegara…

🔎Kita harus siap menghadapi segala kemungkinan hilangnya nyawa sebagai bentuk tadhiyah….pengorbanan sebagai hamba Allah…gugur sebagai syuhada demi tegaknya kalimatullah hiyal ‘ulya di muka bumi….

🌾Wahai saudaraku…
Sadarkan kembali diri kita….bahwa sungguh salah jika kita melihat jalan dakwah itu licin dan lapang, penuh taburan bunga, taburan senyuman dan tepuk tangan….

Salah besar!!!….
itu salah besar…!!!

Maka sepatutnyalah kita bekali diri dengan keshabaran, ketabahan, kesiapan dalam menghadapi penderitaan dengan tekad yang membaja…agar tak luntur jiwa ketika ujian itu menghadang jalan dakwah kita…

Mari simak bait syair berikut…

حب السلامة يثني هم صاحبه…
عن المعالي ويغري الرء بالكسر…
فإن جنحت إليه فاتخذ نفقا…
فى الارض أوسلما فى الجو فاعتزل…
🔹Cinta keselamatan sikap terpuji tetapi harus didukung oleh semangat yang tinggi…
🔹Sayangnya orang lebih suka hidup santai…
🔹Bila anda cenderung untuk memburunya.
🔹Maka, anda harus mempersiapkan dana di bumi atau anda persiapkan tangga di udara
🔹Lalu, berangkatlah…!!!

Sementara seorang tabi’in Abu Thayib Al Muttaanabbi berkata dalam syairnya…

ذريتى…أنل مالاينال من العلا…
فصعب العلا فى الصعب والسهل فى السهل…
تريد ين إدراك المعالي رخيصة…
ولابددون الشهد من إبرالنحل…
🔹Anak cucuku, aku telah mencapai ketinggian puncak…
🔹Kesulitan ada pada ketinggian, dan kemudahan ada pada kerendahan…
🔹Anda ingin mencapai ketinggian dengan mudah?
🔹Tidak mungkin!!
🔹Tanpa perjuangan melawan sengatan lebah…

Dan seorang penyair generasi tabi’in lain berkata…

إذاكانت النفس كبارا…
🔹Bila keinginan-keinginan itu besar…
تعبت فى مرادها الأجسام…
🔹Maka tubuh-tubuh pun payah dalam meraihnya…

 💡🔑 Semoga kita semua tidak terbuai hembusan angin tenang melenakan, Agar langkah kita tetap luruh menuju cahaya terang yang sudah nampak menyambut kita di penghujung perjalanan…

Aamiin.

وَإِنَّكَ لَتَدۡعُوهُمۡ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬

Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus. [QS Al Mu’minuun 23:73]

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doa mendapatkan anak yang salih

Shalat Sambil Menggendong Anak Kecil

Pemateri: Ust. FARID NU’MAN HASAN, SS

Dari Abu Qatadah Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَبِي الْعَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu shalat sambil menggendong Umamah  -puteri dari  Zainab binti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Abul ‘Ash bin Rabi’ah bin Abdisysyams- jika  Beliau sujud, beliau meletakkan Umamah, dan jika dia bangun dia menggendongnya. (HR. Bukhari No. 516, Muslim No. 543)

Riwayat lainnya:

عَنْ عَمْرِو بْنِ سُلَيْمٍ الزُّرَقِيِّ أَنَّهُ: سَمِعَ أَبَا قَتَادَةَ يَقُولُ: ” إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى  وأُمَامَةُ ابْنَةُ زَيْنَبَ ابْنَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهِيَ ابْنَةُ أَبِي الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيعِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى عَلَى رَقَبَتِهِ، فَإِذَا رَكَعَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ مِنْ سُجُودِهِ أَخَذَهَا فَأَعَادَهَا عَلَى رَقَبَتِهِ “

Dari Amru bin Sulaim Az Zuraqiy, bahwa dia mendengar Abu  Qatadah berkata:
Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang shalat sedangkan Umamah –anak puteri dari Zainab puteri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan juga puteri dari Abu Al ‘Ash bin Ar Rabi’ bin Abdul ‘Uzza – berada di pundaknya.

Jika Beliau ruku anak itu diletakkan, dan jika bangun dari sujud diambil lagi dan diletakkan di atas pundaknya.

(HR. Ahmad No. 22589, An Nasa’i No. 827, Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 7827, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 827. Syaikh Syu’aib Al Arnauth juga menshahihkannya dalamTahqiq Musnad Ahmad No. 22589, dan Amru bin Sulaim mengatakan bahwa ini terjadi ketika shalat subuh)

Keterangan Amru bin Sulaim ini menganulir pendapat Iman Malik yang membolehkan hanya pada shalat sunah.

Apa Hikmahnya?

قال الفاكهاني: وكأن السر في حمله صلى الله عليه وسلم أمامة في الصلاة دفعا لما كانت العرب تالفه من كراهة البنات بالفعل قد يكون أقوى من القول

Berkata Al Fakihani:

“Rahasia dari hal ini adalah sebagai peringatan (sanggahan) bagi bangsa Arab yang biasanya kurang menyukai anak perempuan.
Maka nabi memberikan pelajaran halus kepada mereka supaya kebiasaan itu ditinggalkan, sampai-sampai beliau mencontohkan bagaimana mencintai anak perempuan, sampai-sampai dilakukan di shalatnya. Dan ini lebih kuat pengaruhnya dibanding ucapan.” (Fiqhus Sunah, 1/262)

Riwayat lainnya, Dari Abdullah bin Syadad, dari ayahnya, katanya:

خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم في إحدى صلاة العشي (الظهر أو العصر) وهو حامل (حسن أو حسين) فتقدم النبي صلى الله عليه وسلم فوضعه ثم كبر للصلاة فصلى فسجد بين ظهري صلاته سجدة أطالها، قال: إني رفعت رأسي فإذا الصبي على ظهر رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو ساجد فرجعت في سجودي.
فلما قضى رسول الله صلى الله عليه وسلم الصلاة قال الناس: يا رسول الله إنك سجدت بين ظهري الصلاة سجدة أطلتها حتى ظننا أنه قد حدث أمر، أو أنه يوحى إليك؟ قال: (كل ذلك لم يكن، ولكن ابني ارتحلني فكرهت أن أعجله حتى يقضي حاجته)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar untuk shalat bersama kami untuk shalat siang (zhuhur atau ashar), dan dia sambil menggendong (hasan atau Husein).

Lalu Beliau maju ke depan dan anak itu di letakkannya kemudian bertakbir untuk shalat, maka dia shalat, lalu dia sujud dan sujudnya itu lama sekali. Aku angkat kepalaku, kulihat anak itu berada di atas punggung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan beliau sedang sujud, maka saya pun kembali sujud.

Setelah shalat selesai, manusia berkata:
“Wahai Rasulullah, tadi lama sekali Anda sujud, kami menyangka telah terjadi apa-apa, atau barangkali wahyu turun kepadamu?”

Beliau bersabda: “Semua itu tidak  terjadi, hanya saja cucuku ini mengendarai punggungku, dan saya tidak mau memutuskannya dengan segera sampai dia puas.”

(HR. An Nasa’i No. 1141, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 1141)

Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

هَذَا يَدُلّ لِمَذْهَبِ الشَّافِعِيّ – رَحِمَهُ اللَّه تَعَالَى – وَمَنْ وَافَقَهُ أَنَّهُ يَجُوز حَمْل الصَّبِيّ وَالصَّبِيَّة وَغَيْرهمَا مِنْ الْحَيَوَان الطَّاهِر فِي صَلَاة الْفَرْض وَصَلَاة النَّفْل ، وَيَجُوز ذَلِكَ لِلْإِمَامِ وَالْمَأْمُوم ، وَالْمُنْفَرِد ، وَحَمَلَهُ أَصْحَاب مَالِك – رَضِيَ اللَّه عَنْهُ – عَلَى النَّافِلَة ، وَمَنَعُوا جَوَاز ذَلِكَ فِي الْفَرِيضَة ، وَهَذَا التَّأْوِيل فَاسِد ، لِأَنَّ قَوْله : يَؤُمّ النَّاس صَرِيح أَوْ كَالصَّرِيحِ فِي أَنَّهُ كَانَ فِي الْفَرِيضَة ، وَادَّعَى بَعْض الْمَالِكِيَّة أَنَّهُ مَنْسُوخ ، وَبَعْضهمْ أَنَّهُ خَاصّ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَبَعْضهمْ أَنَّهُ كَانَ لِضَرُورَةٍ ، وَكُلّ هَذِهِ الدَّعَاوِي بَاطِلَة وَمَرْدُودَة ، فَإِنَّهُ لَا دَلِيل عَلَيْهَا وَلَا ضَرُورَة إِلَيْهَا ، بَلْ الْحَدِيث صَحِيح صَرِيح فِي جَوَاز ذَلِكَ ، وَلَيْسَ فِيهِ مَا يُخَالِف قَوَاعِد الشَّرْع ؛ لِأَنَّ الْآدَمِيَّ طَاهِر ، وَمَا فِي جَوْفه مِنْ النَّجَاسَة مَعْفُوّ عَنْهُ لِكَوْنِهِ فِي مَعِدَته ، وَثِيَاب الْأَطْفَال وَأَجْسَادهمْ عَلَى الطَّهَارَة ، وَدَلَائِل الشَّرْع مُتَظَاهِرَة عَلَى هَذَا . وَالْأَفْعَال فِي الصَّلَاة لَا تُبْطِلهَا إِذَا قَلَّتْ أَوْ تَفَرَّقَتْ ، وَفَعَلَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – هَذَا – بَيَانًا لِلْجَوَازِ ، وَتَنْبِيهًا بِهِ عَلَى هَذِهِ الْقَوَاعِد الَّتِي ذَكَرْتهَا ، وَهَذَا يَرُدُّ مَا اِدَّعَاهُ الْإِمَام أَبُو سُلَيْمَان الْخَطَّابِيُّ أَنَّ هَذَا الْفِعْل يُشْبِه أَنْ يَكُون مِنْ غَيْر تَعَمُّد ، فَحَمَلَهَا فِي الصَّلَاة لِكَوْنِهَا كَانَتْ تَتَعَلَّق بِهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمْ يَدْفَعهَا فَإِذَا قَامَ بَقِيَتْ مَعَهُ ، قَالَ : وَلَا يُتَوَهَّم أَنَّهُ حَمَلَهَا وَوَضَعَهَا مَرَّة بَعْد أُخْرَى عَمْدًا ؛ لِأَنَّهُ عَمَل كَثِير وَيَشْغَل الْقَلْب ، وَإِذَا كَانَتْ الْخَمِيصَة شَغَلَتْهُ فَكَيْف لَا يَشْغَلهُ هَذَا ؟ هَذَا كَلَام الْخَطَّابِيّ – رَحِمَهُ اللَّه تَعَالَى – وَهُوَ بَاطِل ، وَدَعْوَى مُجَرَّدَة ، وَمِمَّا يَرُدّهَا قَوْله فِي صَحِيح مُسْلِم فَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا .
وَقَوْله : ( فَإِذَا رَفَعَ مِنْ السُّجُود أَعَادَهَا ) ، وَقَوْله فِي رِوَايَة مُسْلِم : ( خَرَجَ عَلَيْنَا حَامِلًا أُمَامَةَ فَصَلَّى ) فَذَكَرَ الْحَدِيث . وَأَمَّا قَضِيَّة الْخَمِيصَة فَلِأَنَّهَا تَشْغَل الْقَلْب بِلَا فَائِدَة ، وَحَمْل أُمَامَةَ لَا نُسَلِّم أَنَّهُ يَشْغَل الْقَلْب ، وَإِنْ شَغَلَهُ فَيَتَرَتَّب عَلَيْهِ فَوَائِد ، وَبَيَان قَوَاعِد مِمَّا ذَكَرْنَاهُ وَغَيْره ، فَأُحِلّ ذَلِكَ الشَّغْل لِهَذِهِ الْفَوَائِد ، بِخِلَافِ الْخَمِيصَة . فَالصَّوَاب الَّذِي لَا مَعْدِل عَنْهُ : أَنَّ الْحَدِيث كَانَ لِبَيَانِ الْجَوَاز وَالتَّنْبِيه عَلَى هَذِهِ الْفَوَائِد ، فَهُوَ جَائِز لَنَا ، وَشَرْع مُسْتَمِرّ لِلْمُسْلِمِينَ إِلَى يَوْم الدِّين . وَاللَّهُ أَعْلَم

“Hadits ini menjadi dalil bagi madzhab Syafi’i dan yang sepakat dengannya, bahwa bolehnya shalat sambil menggendong anak kecil, laki atau perempuan, begitu pula yang lainnya seperti hewan yang suci, baik shalat fardhu atau sunah, baik jadi imam atau makmum.

Kalangan Maliki mengatakan bahwa hal itu hanya untuk shalat sunah, tidak dalam shalat fardhu.

Pendapat ini tidak bisa diterima, sebab sangat jelas disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memimpin orang banyak untuk menjadi imam, peristiwa ini adalah pada shalat fardhu, apalagi jelas disebutkan itu terjadi pada shalat shubuh.

Sebagian kalangan Maliki menganggap hadits ini mansukh (dihapus hukumnya) dan sebagian lagi mengatakan ini adalah kekhususan bagi Nabi saja, dan sebagian lain mengatakan bahwa Beliau melakukannya karena darurat.

Semua pendapat ini tidak dapat diterima dan mesti ditolak, sebab tidak keterangan adanya nasakh (penghapusan), khusus bagi Nabi atau karena darurat, tetapi justru tegas membolehkannya dan sama sekali tidak menyalahi aturan syara’.

Bukankah Anak Adam atau manusia itu suci, dan apa yang dalam rongga perutnya dimaafkan karena berada dalam perut besar, begiru pula mengenai pakaiannya. Dalil-dalil syara’ menguatkan hal ini, karena perbuatan-perbuatan yang dilakukan ketika itu hanya sedikit atau terputus-putus. Maka, perbuatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu menjadi keterangan tentang bolehnya berdasarkan norma-norma tersebut.

Dalil ini juga merupakan koreksi atas apa yang dikatakan oleh Imam Al Khathabi bahwa seakan-akan itu terjadi tanpa sengaja, karena anak itu bergelantungan padanya, jadi bukan diangkat oleh Nabi. Namun, bagaimana dengan keterangan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika hendak berdiri yang kedua kalinya, anak itu diambilnya pula.

Bukankah ini perbuatan sengaja dari Beliau? Apalagi terdapat keterangan dalam  Shahih Muslim: “Jika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bangkit dari sujud, maka dinaikkannya anak itu di atas pundaknya.”

Kemudian keterangan Al Khathabi bahwa memikul anak itu mengganggu kekhusyu’an sebagaimana menggunakan sajadah yang bergambar, dikemukakan jawaban bahwa memang hal itu mengganggu dan tidak ada manfaat sama sekali.

Beda halnya dengan menggendong anak yang selain mengandung manfaat, juga sengaja dilakukan oleh Nabi untuk menyatakan kebolehannya.

Dengan demikian, jelaslah bahwa yang benar dan tidak dapat disangkal lagi, hadits itu menyatakan hukum boleh, yang tetap berlaku bagi kaum muslimin sampai hari kemudian.” Wallahu A’lam (Imam An Nawawi, Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/307. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

kobarkan semangat jihad

Aliansi Itu Perlu dan Penting, Namun Hanya Pada Kekuatan Diri Sendirilah Segala Perencanaan Harus Ditumpukan !

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE, MPP

Invasi Pulau Corsica – Agustus 1553
Penguasaan Atas Kota Bastia – 24 Agustus 1553

Penaklukan pulau Corsica terjadi ketika Perancis, Turki Utsmani, dan pihak Corsica yang terasingkan bekerja sama untuk mengusir pendudukan pulau tersebut oleh pihak Genoa.

Pulau ini memiliki beberapa nilai strategis untuk wilayah barat Laut Mediterranean karena ia berada di tengah jalur komunikasi dan jaringan transportasi Kerajaan Habsburg.

Disamping itu, pulau ini juga merupakan tempat berhenti sementara bagi kapal kecil yang melayari rute Italia-Spanyol. Pulau ini sudah dikuasai oleh perusahaan bank Saint George milik Genoa sejak 1453.
Penguasaan pulau ini akan paling menguntungkan Perancis dari aliansi tersebut.

 Konteks Aliansi & Konflik

Raja Perancis, Henry II, telah terlibat dalam perang besar melawan Kerajaan Habsburg yang dipimpin Charles V pada tahun 1551 yang juga memicu Perang Italia 1551-59. Henry II mencari pihak yang dapat membantunya sehingga meneruskan kebijakan ayahnya, Francis I, untuk beraliansi dengan Khilafah Turki Utsmani.

Pada periode ini khilafah dipimpin oleh Sultan Suleiman I Kanuni yang juga bermusuhan dengan Kerajaan Habsburg.

Armada Turki Utsmani bersama skuadron kapal duta besar Perancis, Gabriel de Luetz d’Aramon telah mengalahkan armada Genoa yang dipimpin Andrea Doria di Pertempuran Ponza pada tahun sebelumnya. Pada hari Rabu 17 Safar 960 Hijriah (1 Februari 1553) sebuah perjanjian aliansi baru antara Khilafah Turki Utsmani dengan Perancis ditanda-tangani dengan klausul kesepakatan operasi militer laut melawan Kerajaan Habsburg

 Operasi Militer – Kampanye Musim Panas 1553

Kedua admiral Turki Utsmani yang ditugaskan dalam operasi ini adalah Turgut Reis dan Koca Sinan. Keduanya berlayar dengan skuadron Baron Paulin de la Garde untuk menyerbu pantai Naples, Pulau Sisilia, Elba, hingga ke Corsica sebagai pemanasan.

Pada waktu itu Pulau Corsica diduduki oleh kekuatan Genoa. Armada Turki Utsmani membantu mengangkut pasukan Perancis dari kesatuan Parma pimpinan Marshal Paul de Thermes dari pelabuham Maremma Sienna ke Corsica.
Pasukan Perancis juga didukung oleh pihak lokal Corsica dalam prngasingan dibawah Sampiero Corso dan Giordano Orsini (dalam sejarah Perancis dicatat dengan nama”Jourdan des Ursins”). Pendaratan ini belum sepenuhnya disetujui oleh Raja Perancis.

 Penguasaan Beberapa Kota

Kota Bastia berhasil dikuasai pada hari Kamis 14 Ramadhan 960 Hijriah (24 Agustus 1553), de La Garde mendarat di Saint-Florent dua hari kemudian. Kota Bonifacio juga direbut pada bulan September dan tinggal kota Calvi yang belum ditaklukkan.

Armada Turki Utsmani memenuhi kapal mereka dengan harta rampasan perang yang menjadi kesepakatan perjanjian. Pada akhir bulan September armada Turki Utsmani kembali ke İstanbul.

Dengan bantuan Turki Utsmani tersebut, Perancis berhasil menguasai beberapa kota strategis dalam posisi yang menguntungkan hingga pada akhir musim panas hampir menguasai seluruhnya. Keberhasilan ini dipandang rendah oleh Cosmio de Medici serta Tahta Suci Kepausan. Kembalinya armada Turki Utsmani ke İstanbul dan skuadron Perancis ke Marseilles pada musim dingin menjadikan situasi angkatan darat Perancis di Corsica terancam dengan hanya 5.000 pasukan yang tertinggal bersama sedikit pihak lokal.

 Serangan Balasan Geno 1553-54

Raja Henry II sudah memulai negosiasi dengn Genoa pada bulan November, namun mereka sudah mengirim 15.000 pasukan bersama armadanya Andrea Doria untuk memulai perebutan kekuasaan dimulai demgan pengepungan kota Saint-Florent.

Armada Turki Utsmani dipimpin Admiral Dragut yang kembali menuju pulau Corsica terlambat datang sehingga tidak dapat membantu Perancis melawan Andrea Doria.

Pihak Perancis hanya sempat mendapatkan bantuan kecil dari skuadron galliot dari Amir Aljazair.

 Operasi Gabungan Turki Utsmani-Perancis 1555-58

Pada tahun 1555, pihak Perancis telah dikalahkan oleh Genoa dari kota-kota Pesisir, namun wilayah pedalaman pulau masih dipegang oleh Perancis. Pada tahun yang sama, Jourdan des Ursins menggantikan Thermes dan mendapat gelar Gubernur-Letnan Jenderal Corsica (Gouverneur et lieutenant général du roi dans l’île de Corse).

 Perang di Timur & Wabah Penyakit

Duta besar Perancis untuk Khilafah Turki Utsmani yang dijabat oleh Codignac sampai harus berangkat ke markas besar ketentaraan Turki Utsmani di perbatasan Safawi untuk menemui sultan yang sedang bertempur di perbatasan.

Codignac menempuh jarak begitu jauh untuk melobi agar sultan berkenan mengirimkan armadanya membantu Perancis untuk urusan Corsica.

Sultan Suleiman I Kanuni saat itu sedang dalam Peperangan Turki Utsmani-Safawi 1532-55. Armada yang dapat dikirimkan tidak banyak berbuat untuk Perancis karena didera wabah penyakit. Armada Turki Utsmani terpaksa pulang dengan menarik kapal-kapal perang yang kosong akibat gugur terkena wabah penyakit.

 Kesudahan

Armada lain lagi dikirim oleh sultan untuk membantu Perancis pada tahun 1558 namun terhambat di dekat kota Bastia karena terjadi perubahan sasaran atas inisiatif Admiral Dragut Reis ke kepulauan Balearic.

Sultan kemudian meminta maaf kepada Henry II pada akhir tahun 1558 atas kesalahan operasional ini. Aliansi antara Turki Utsmani dan Perancis ini mencapai puncaknya pada tahun 1553. Setelah disepakatinya Perjanjian Cambrésis maka Perancis menyerahkan Pulau Corsica kepada Genoa.

 Agung Waspodo, mencatat betapa aliansi itu diperlukan tanpa mengorbankan tujuan utama disepakatinya, setelah melihat betapa sulit dan rumit pelaksanaannya 462 tahun kemudian.

Wallahu a’lam.

✈✈✈✈✈✈✈✈

Palembang, 25 Agustus 2015.. Tulisan pendek yang dicicil dalam penerbangan, menjelang pagi setelah mendarat di Palembang..


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

sabar dan ikhlas

Kalau Belum Waktunya, Jangan

📝 Pemateri: Ust SYAHRONI MARDANI Lc.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Ada kaidah yg mengatakan bahwa:

🍀🍂”SIAPA YANG MENIKMATI SESUATU SEBELUM WAKTUNYA, MAKA SAAT WAKTUNYA TIBA, DIA TIDAK DAPAT MENIKMATINYA LAGI”.🍂🍀

Benar sekali kaidah ini.. Siapa yang bersenang-senang di dunia, maka dia tak dapat bersenang-senang lagi di akhirat.

🌵Pakaian penghuni surga adalah sutera (fathir 35 : 33).. (alhajj 22 : 23)

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

🌵 “Janganlah engkau memakai sutera.
Dan barang siapa yg memakai sutera di dunia, maka dia tak akan dapat memakainya lagi di akhirat” (muttafaq alaih)

Ada beberapa minuman penghuni surga, di antaranya adalah khamar. Tentu khamar yg terbaik dan tidak memabukkan. (Muhammad 47 : 15) (alwaqiah 56 : 17 -19)

Rasulullah saw dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim bersabda,

🌵”Setiap yang memabukkan adalah khamar. Setiap khamar adalah haram. Siapa yg minum khamar (di dunia) lalu mati dan belum bertaubat masih kecanduan khamar, maka dia tak akan pernah meminumnya lagi di akhirat” (HR muslim)

Saudaraku..
Dunia adalah tempat beramal…
Dan akhirat tempat memetik hasilnya.

Kita akan bersenang senang di akhirat,
Insya Allah bersenang senang di surganya Allah.

💡”Innaman nasru sobru sa’ah.. ”

Maknanya…

💡 KEMENANGAN ITU ADALAH BERSABAR YANG HANYA SEBENTAR SAJA.

Wallahu a’lam bishawab.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678