Majelis ilmu

URGENSI SIRAH NABAWIYAH

Pemateri: Ust. DR. WIDO SUPRAHA 

Sirah Nabawiyah adalah sejarah hidup Nabi Muhammad Saw, manusia dengan sebaik-baik nasab dari seluruh nasab penghuni bumi [1], namun bukanlah buku sejarah an sich.

Ia merupakan ungkapan tentang risalah yang dibawa Rasulullah Saw kepada masyarakat manusia untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya [2].

Muslim pasti membutuhkan Sirah Nabawiyah untuk mendapatkan pemahaman utuh dan gambaran sempurna hakikat Islam, cara menghidupkan-nya, dan segudang rahasia keindahan Islam sebagai sebuah manhaj hidup.

Darinya muslim akan menghayati kemudahan Islam untuk ditegakkan oleh seluruh manusia, karena Nabi Saw adalah seorang manusia yang tergabung dalam dirinya segudang peran, mulai dari seorang suami hingga pemimpin dunia.

Bahkan tidak ada satupun Nabi yang diutus kepada seluruh umat manusia, kecuali Nabi Muhammad Saw. [3]

※Sirah Nabawiyah memberikan KEMUDAHAN bagi manusia untuk:

⇛Memahami pribadi Nabi Saw dalam keseluruhan aspek

⇛Mendapatkan gambaran al-matsul a’la (referensi ideal) untuk dijadikan sumber

⇛Mudah memahami Al-Qur’an

⇛Mengumpulkan segudang wawasan dan pengetahuan Islam yang benar.

⇛Memiliki rujukan pola dakwah terbaik [4]

Kebutuhan manusia terhadap jejak hidup Nabi Saw jauh lebih besar dari kebutuhan raga terhadap nyawanya, mata terhadap cahaya penglihatannya dan jiwa terhadap kehidupannya. [5]

※Sirah Nabawiyah memiliki banyak KEISTIMEWAAN [6]:

⇛Sejarah yang paling benar dari sejarah seorang Nabi yang diutus, dan telah hadir melalui jalur ilmiah dan otentik, sehingga terbebas dari sekedar mengikuti kepopuleran sebuah kisah dan riwayat, karena keshahihan sejarah tentu adalah yang lebih utama.[7]

⇛Mengandung semua fase kehidupan Nabi Saw., mulai dari sebelum kelahirannya, sejak pernikahan ayahnya, bahkan sejak kisah berpindahnya ‘Amr bin Amir keluar dari Negeri Yaman [8]

⇛Mengandung sisi risalah yang bersih, bebas dari penisbatan manusia dengan sifat Tuhan, dan bebas dari kisah tanpa asal-usul.

⇛Mencakup semua aspek kehidupan manusia.

⇛Menegaskan kebenaran risalah dan kenabiannya.

★ Dengan semangat ilmiah, menyelami sirah Nabawiyah akan menjadi satu agenda menarik untuk peningkatan pemahaman agama.

✾ Yuk semangat mempelajari Sirah Nabawiyah!

♗ MARAJI’
1] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Zad al-Ma’d fi Hady Khair al-‘Ibad, Dar at-Taqwa lil an-Nasyr wa at-Tauzi’, 1999
2] Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum, Bahtsun fi as-Sirah an-Nabawiyah ‘ala Shahibiha afdhal ash-Shalati wa as-Salam, Riyahd: Dar as-Salam, 1414H
3] Ibn al-Jauzi, Al-Wafa bi Ahwal al-Musthafa shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Beirut: Maktabah al-‘Ashriyah, 2004
4] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Fiqh as-Sirah: Dirasat Minhajiyah ‘Ilmiyah li Shiratil Musthafa ‘alahi ash-shalatu wa as-salam, Libanon: Dar al-Fikr, Cet. ke-6, 1977
5] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Jami’ as-Sirah, Dar al-Wafa, 2002
6] Musthafa as-Siba’i, As-Sirah an-Nabawiyyah, Kairo-Dar as-Salam, 1998
7] Al-Usyan, Ma sya’a wa lam Yatsbutu fi as-Sirah an-Nabawiyah,
8] Ibn Ishaq, As-Sirah an-Nabawiyah


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Sedekah Utama Memberi Air

HUKUM JUAL BELI AIR (bag-2)

Pemateri: Ust. DR. RIKZA MAULAN Lc. MAg.

2. Hukum Membeli Lahan Yang Terdapat Sumber Air

Membeli lahan, atau tanah yang di dalamnya terdapat sumber air, adalah boleh.

Dan pemiliknya boleh memanfaatkan air tersebut untuk keperluannya dan anggota keluarganya.

Hal ini sebagaimana terdapat riwayat tentang kisahnya Abu Thalhah yang memiliki tanah di dekat Masjid Nabawi yang memiliki sumber mata air, di mana Nabi SAW sering minum dari mata air tersebut :

عَنْ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ كَانَ أَبُو طَلْحَةَ أَكْثَرَ الْأَنْصَارِ بِالْمَدِينَةِ مَالًا وَكَانَ أَحَبَّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ بَيْرُحَاءَ وَكَانَتْ مُسْتَقْبِلَةَ الْمَسْجِدِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ فَلَمَّا نَزَلَتْ { لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ } قَامَ أَبُو طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ فِي كِتَابِهِ { لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ } وَإِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءَ وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ أَرْجُو بِرَّهَا وَذُخْرَهَا عِنْدَ اللَّهِ فَضَعْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ حَيْثُ شِئْتَ فَقَالَ بَخٍ ذَلِكَ مَالٌ رَائِحٌ ذَلِكَ مَالٌ رَائِحٌ قَدْ سَمِعْتُ مَا قُلْتَ فِيهَا وَأَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الْأَقْرَبِينَ قَالَ أَفْعَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَسَمَهَا أَبُو طَلْحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ (رواه البخاري(

Dari Anas bin Malik ra berkata; Abu Thalhah adalah orang yang paling banyak hartanya dari kalangan Anshar di kota Madinah berupa kebun pohon kurma dan harta benda yang paling dicintainya adalah Bairuha’ (sumur yang ada di kebun itu) yang menghadap ke masjid dan Rasulullah SAW sering mamemasuki kebun itu dan meminum airnya yang baik tersebut.

Berkata, Anas; Ketika turun firman Allah Ta’ala (QS Alu ‘Imran: 92 yang artinya):

“Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai”,

Abu Thalhah mendatangi Rasulullah SAW lalu berkata;

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai”,

dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha’ itu dan aku menshadaqahkannya di jalan Allah dengan berharap kebaikan dan simpanan pahala di sisiNya, maka ambillah wahai Rasulullah sebagaimana petunjuk Allah kepadanu”.

Maka Rasulullah SAW bersabda:
“Wah, inilah harta yang menguntungkan, inilah harta yang menguntungkan.

Sungguh aku sudah mendengar apa yang kamu niyatkan dan aku berpendapat sebaiknya kamu shadaqahkan buat kerabatmu”.

Maka Abu Thalhah berkata,: “Aku akan laksanakan wahai Rasululloloh. Maka Abu Thalhah membagi untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya”. (HR. Bukhari)

Namun larangan dalam hadits di atas lebih dimaksudkan pada memonopoli sumber air, untuk kemudian mengenakan “tarif” bagi orang-orang yang akan mengambil air di sumber air tersebut.

Hal tersebut pernah dilakukan oleh orang Yahudi, yang memiliki sumur di masa Usman bin Affan.

Pada saat paceklik dan manusia tidak memiliki air, Yahudi tersebut tidak mengizinkan orang-orang mengambil air dari sumur tersebut, kecuali apabila mereka membayarnya.

Kemudian Usman bin Affan membelinya dan menyedekahkannya kepada seluruh kaum muslimin.

3. Larangan menjual kelebihan air apakah khusus air minum atau air untuk kebutuhan lainnya?

Imam Qurtubi berpendapat bahwa larangan tersebut secara dzahirnya dikhususkan bagi air yang dijadikan sumber air minum.

Karena air minum merupakan kebutuhan pokok bagi manusia, yang manusia tidak dapat hidup tanpanya.

Namun sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud adalah air secara umum, tidak hanya khusus untuk air mium, yang berada di tempat sumber air dan menjadi kebutuhan manusia.

Pendapat kedua ini dikuatkan dengan hadits lainnya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يُمْنَعُ فَضْلُ الْمَاءِ لِيُمْنَعَ بِهِ الْكَلَأُ (رواه البخاري(

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: ” Jangan kelebihan air ditahan, dengan maksud untuk menahan tumbuhnya tanaman. (HR. Bukhari)

Bahkan dalam hadits lainnya disebutkan

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ  لاَ يُمْنَعُ فَضْلُ الْمَاءِ لِيُمْنَعَ بِهِ الْكَلأُ (رواه البخاري(

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” Jangan kelebihan air ditahan, dengan maksud untuk menahan tumbuhnya tanaman.”  (HR. Bukhari)

Jadi secara dzhahirnya hadits ini menggambarkan bahwa larangan menjual air termasuk untuk memenuhi kebutuhan ternak dan bahkan pengairan tumbuhan.

Larangan menjual kelebihan air ini dikuatkan oleh Hadits Nabi SAW lainnya, diantaranya :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاَثَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ، رَجُلٌ كَانَ لَهُ فَضْلُ مَاءٍ بِالطَّرِيقِ فَمَنَعَهُ مِنْ ابْنِ السَّبِيلِ وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لَا يُبَايِعُهُ إِلَّا لِدُنْيَا فَإِنْ أَعْطَاهُ مِنْهَا رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطِهِ مِنْهَا سَخِطَ وَرَجُلٌ أَقَامَ سِلْعَتَهُ بَعْدَ الْعَصْرِ فَقَالَ وَاللَّهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ لَقَدْ أَعْطَيْتُ بِهَا كَذَا وَكَذَا فَصَدَّقَهُ رَجُلٌ، ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ اْلآيَةَ (إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلا(

Dari Abu Hurairah ra, bahwa  Rasulullah SAW bersabda:

“Ada tiga jenis orang yang Allah Ta’ala tidak akan melihat mereka pada hari qiyamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka disediakan siksa yang pedih, yaitu:

✻Seorang yang memiliki kelebihan air di jalan lalu dia tidak memberikannya kepada musafir,
✻Seorang yang membai’at imam dan dia tidak membai’atnya kecuali karena kepentingan-kepentingan duniawi, kalau dia diberikan dunia dia ridho kepadanya dan bila tidak dia marah, dan
✻Seorang yang menjual dagangannya setelah ‘Ashar lalu dia bersumpah; demi Allah Dzat yang tidak ada Ilah selain Dia sungguh aku telah memberikan (shadaqah) ini dan itu lalu sumpahnya itu dibenarkan oleh seseorang”.

Kemudian Beliau membaca ayat ini: artinya (“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…”) (HR. Bukhari

4. Menjual air yang sudah di kemas, atau sudah diangkut?

Adapun air yang sudah ada “usaha” dari pemiliknya, seperti air yang sudah dikemas dalam botol, atau sudah diisikan ke dalam galon, atau diangkut dengan menggunakan gerobak lalu diantar ke rumah-rumah, maka hukumnya adalah boleh untuk diperjualbelikan.

Karena sudah ada “usaha” dari pemiliknya dalam memprosesnya dan atau mengantarkannya ke rumah-rumah penduduk.

Adapaun jika ia menjual air untuk kemudian orang-orang mengambil sendiri di dalam sumur, di sungai atau di danau, maka hukumnya tidak boleh.

Menjual air inipun ada syaratnya terkait dengan sumber mata airnya.

Yaitu di sumber mata air tersebut, pemiliknya tidak boleh melarang orang-orang mengambil dari sumber tersebut apabila akan digunakan untuk keperluan sehari-hari.

والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

..

Sedekah Utama Memberi Air

HUKUM JUAL BELI AIR (bag-1)

Pemateri: Ust. DR. RIKZA MAULAN Lc. MAg.

Dalam Hadits Rasulullah SAW bersabda :

 عَنْ إيَاسِ بْنِ عَبْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، ﴿ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ فَضْلِ الْمَاءِ﴾ رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلاَّ ابْنَ مَاجَهْ وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ

Dari Iyas bin Abdin ra,

“Bahwa Nabi SAW melarang jual beli kelebihan air”

(HR. Khamsah, kecuali Ibnu Majah. Dan hadits ini di shahihkan oleh Imam Turmudzi.)

Hadits di atas diriwayatkan oleh Khamsah, kecuali Ibnu Majah, artinya hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Turmudzi, Abu Daud dan Nasa’i.

Namun bersamaan dengan riwayat tersebut, Imam Muslim dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits serupa (syahid) dengan sanad berbeda, yaitu dari Jabir bin Abdillah, bukan dari jalur Iyas bin Abdin Al-Muzani.

Hadits Lainnya

وَعَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلُهُ .(رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ) حَدِيثُ إيَاسٍ قَالَ الْقُشَيْرِيِّ هُوَ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَحَدِيثُ جَابِرٍ هُوَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ وَلَفْظُهُ لَفْظُ حَدِيثِ إيَاسٍ وَكَذَا أَخْرَجَهُ النَّسَائِيّ

Dan dari Jabir ra, dari Nabi SAW (sebagaimana hadits sebelumnya). HR. Ahmad dan Ibnu Majah.

Adapun tentang hadits Iyas, Imam Qusyairi mengatakan bahwa hadits tersebut sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim.

Sedangkan hadits Jabir ra merupakan hadtis shahih Muslim, sementara
lafadznya adalah lafadz hadits Iyas. Demikian juga diriwayatkan oleh Imam Nasa’i.

❋TAKHRIJ HADITS

Dari Jalur Iyas bin Abdin :
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, hadits no 14897.

Diriwayatkan juga oleh Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Fi Bai’ Fadhli Maa’, hadits no 3017.

Diriwayatkan juga oleh Imam Turmudzi dalam Jami’nya, Kitab Al-Buyu’ an Rasulillah, Bab Ma Jaa’a fi Bai’ Fadhli Maa’, hadits no 1192

Diriwayatkan juga oleh Imam Nasa’i, Kitab Al-Buyu’, Bab Bai’ Fadhlil Maa’, hadits no 4583 dan 4584.

Dari Jalur Jabir bin Abdillah ra : Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam Shahihnya, Kitab Al-Musaqah, Bab Tahrim Bai’ Fadhli Maa’ Alladzi Yakunu bil Falati, hadits no 2925.

Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah dalam Sunannya, namun bukan dari Iyas bin Abdin, melainkan dari Jabir ra, dalam Kitab Al-Ahkam, Bab An-Nahyi an Bai’ Maa’, hadits no 2468.

Demikian juga Imam Ahmad meriwayatkan hadtis ini dari jalur Jabir bukan Iyas, dalam Musnadnya, hadits no 14117.

❋SYARAH HADITS

1. Hukum Jual Beli Air

Imam Syaukani mengemukakan,
bahwa hadits di atas menggambarkan tentang “HARAM-nya” menjual kelebihan air, yaitu kelebihan air dari kebutuhan si pemiliknya.

Kelebihan air yang tidak boleh diperjual belikan itu mencakup air yang berada di wilayah (tanah) umum, maupun di tanah yang dimiliki atau dikuasai baik oleh perorangan maupun kolektif.

⇛PENJELASAN :

Ulama sepakat, tentang haramnya hukum memperjual belikan air yang terdapat dalam sumbernya, seperti yang berada di sungai, telaga, danau bahkan yang terdapat di dalam sumur.

Kendatipun berada di bawah penguasaan pemiliknya.

Disebut sebagai kelebihan air, maksudnya adalah bahwa pemiliknya lebih berhak terhadap air yang terdapat dalam sumber air tersebut, namun ketika ia telah memenuhi kebutuhannya dan dapat dimanfaatkan oleh orang lain yang membutuhkannya, maka ia tidak boleh menjualnya kepada mereka.

Air tersebut boleh dimanfaatkan oleh orang banyak tanpa kompensasi seperti dalam jual beli (iwadh).

Dan jika pemiliknya menjual air tersebut kepada orang yang mengambilnya, maka hukumnya haram dan pelakunya berdosa.

Insya Allah bersambung ke bag-2


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Hijrah Itu Menguras Rasa

MEMAKNAI HIJRAH DENGAN BER-HIJRAH

📝 Pemateri: Ustadzah DRA. INDRA ASIH

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Sabda Nabi SAW:

🔎“Ilmu yang pertama kali diangkat adalah kekhusu’an” 🔍

(diriwayatkan oleh Thabrani dengan sanad Hasan)

Perjalanan alam semesta dan dunia, berputar terus, berpindah dari satu proses ke proses yang lain.

Berpindah dari satu era ke era yang lain, dengan perbedaan manusia yang menghuninya dan kecenderungan mereka yang tentu saja juga mengalami perubahan sejalan dengan perbedaan kekhasan mereka dari masa ke masa.

Kita adalah penghuni dunia sekarang.
🔹Dunia yang serba  cepat, praktis dan efisien.
🔹Dunia yang menjanjikan dan menyajikan berbagai arena dan fasilitas yang sungguh-sungguh sangat mengasyikkan dan canggih.
🔹Dunia yang dipenuhi dengan perkembangan teknologi yang begitu menawan dan semuanya menantang kita untuk mencoba dan menikmatinya.

Teknologi komunikasi dan transportasi yang memungkinkan kita menggenggam dunia ini hanya dalam hitungan detik, dalam arti  hanya dalam hitungan detik saja, kita sudah bisa ada dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu negeri ke negeri lain.

Mencermati hadits di awal tulisan ini, apa yang Nabi saw sabdakan terbukti benar adanya sekarang.

Sedikit demi sedikit tanpa kita menyadarinya seluruh diri kita, seluruh indera kita sudah begitu terbiasa dan menikmati bahkan kecanduan  hiruk-pikuk dan gemerlap suasana dunia modern ini.

Luluh lantak bangunan kekhusu’an pada diri kita.

Habis kandas persediaan energi pembangkit khusu’an kita.

Ketika sholat, kita ibarat “mayat” atau “robot” yang sedang melakukan aktifitas tanpa makna. Kosong.

Kemudian, kita terburu-buru menyelesaikannya dan akhirnya, bersegera kembali pada  berbagai judul dan kesibukan kita.

Di masa seperti ini, sungguh memaknai HIJRAH dengan kembali merebut KEKHUSU’AN kita dalam memaknai hidup dan tugas kehidupan kita yang hakiki yang diembankan oleh Allah swt pada kita, merupakan suatu hal yang sangat penting tapi sulit.

Memaknai HIJRAH berupa 🔹keluar dari alur gemerlap dan kesibukan yang melalaikan dan
🔹kembali masuk pada nuansa keheningan dan kekhusu’an,
untuk menapaki sisa-sisa waktu yang masih Allah karuniakan pada kita.

Hingga hidup kita kembali pada suasana semata-mata hanya untuk mengagungkan dan meninggikan Allah swt.

Tentu saja keheningan dan kekhusu’an secara hakiki.

Bukan keheningan dan kekhusu’an yang membuat kita hanya memojokkan diri kita di tempat-tempat sholat kita.

Tapi hening dan khusu’ di tengah keramaian dan kesibukan kita untuk beramal dan berbuat sebanyak-banyaknya untuk memberikan kebaikan dan manfaat bagi orang-orang di sekitar kita.

🔑 Setidaknya ada beberapa langkah yang bisa kita coba untuk proses hijrah kita tersebut.

🍃1⃣. MEMILIH

Di dalam al Qur’an surat Al Kahfi ayat 29, Allah SWT menuntun kita dan menyerahkan pilihan itu pada kita dengan konsekuensinya.

“Dan katakanlah:
Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.
Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka.
Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.”

Mari kita berusaha untuk menentukan pilihan terbaik, pilihan yang paling disukai oleh Allah.

Apakah yang dimaksud dengan pilihan terbaik?

Contoh:
Jika ada seseorang melakukan kesalahan pada kita. Ada beberapa sikap yang bisa kita ambil.

🔹Pilihan pertama: tidak marah. Ini baik.

🔹Pilihan kedua: memaafkan. Ini lebih baik.

🔹Pilihan ketiga: membalas kesalahan seseorang dengan kebaikan. Inilah pilihan terbaik.

🍃2⃣. MENERIMA

Yaitu melapangkan hati kita untuk ikhlas menerima pilihan terbaik yang sudah kita putuskan.

Allah berfirman: “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam.

Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.

Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”
(QS. Al An’am : 125)

🍃3⃣. MEMUTUSKAN

Yaitu berarti kita memilih dan melapangkan hati kita bukan hanya pada satu atau dua hal saja, tapi berusaha menerapkannya pada keseluruhan aspek dalam hidup kita.

Di dalam QS. Al An’am ayat 162, Allah swt berfirman:

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

🍃4⃣. MENEGUHKAN.

Yaitu memohon agar Allah mengokohkan keputusan jalan hidup kita sesuai dengan firman Allah swt.:

“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.
Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.”
(QS. Al Anfal : 63)

🍃5⃣. MENIKMATI

Caranya dengan menjadikan diri kita terus konsisten dengan 4 hal yang sudah kita lakukan sebelumnya.

Jika kita berhasil, maka kita bisa meraih kembali sumber kenikmatan dan kebahagian hidup kita.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan:

“Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushilat:30)

Siapkah Kita Berhijrah?
Siapkah Kita Untuk Berbahagia?

Mari sama-sama kita raih janji Allah swt:

“….dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

Wallahu A’lam.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

mukmin satu tubuh

SIAPA TEMANMU, ITULAH KAMU

📝 Pemateri: Ust. ABDULLAH HAIDIR

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

🌾Teman mu adalah yang jujur padamu, bukan yang selalu membenarkan apa saja tindakanmu.

🌾Teman sejati, bukan teman yang tidak pernah berpisah, tapi teman yang apabila bertemu karena Allah, dan jika berpisah, berpisah karena Allah..

🌾Di antara bukti kesetiaanmu terhadap teman mu, jika namanya kau hadirkan dalam doamu tanpa dia ketahui, agar harapan-harapannya terpenuhi.

🌾Mengetahui dan memahami tabiat teman, adalah setengah dari modal pertemanan yang baik…

🌾Pada teman yang lebih muda, katakan:
‘Aku tlah mendahuluinya dalam dosa’.

🌾Pada yang lebih tua katakan, ‘Dia telah mendahuluiku dalam taat & kebaikan.’

🌾🔑 Cari teman yang dapat menerimamu “apa adanya”, bukan yang selalu mencari padamu “ada apanya”🔑

🌾Teman yang baik, bukan hanya sekedar tahu dimana rumahmu, tapi dia tahu dimana hatimu?

🌾Teman yang baik, bukan orang yang dimuliakan temannya, tapi orang yang temannya merasa dimuliakan olehnya…

🌾Kekayaan dan kedudukan dapat menundukkan teman, tapi hanya perbuatan baik yang dapat menundukkan hatinya..

🌾Mengalah dalam ber teman belum tentu kalah. Bisa jadi hal itu menjadi sebab dia dapat “mengalahkannya”…

🌾Adakalanya dalam berteman kita harus mengalah sepanjang tidak menjatuhkan harga diri dan menggadai prinsip..

🌾Husnuzzan dalam berteman itu penting…
Tapi berhati-hati juga perlu….

🌾Saat pertemanan belum begitu intens, hindari memberikan kesimpulan akhir baik atau buruknya teman mu…

🌾Saat engkau merasa tidak ada beban untuk mencurahkn perasaanmu pada teman mu, dialah teman dekatmu…

🌾Saat kau gembira dengan kegembiraan temanmu dan sedih dengan kesedihan temanmu, kau telah menjadi teman sejatinya…

🌾Tundalah marahmu pada temanmu beberapa saat. Boleh jadi kau temukan hakekat yang tidak kau ketahui sebelumnya, atau marahmu sudah reda..

🌾Jika sekian kali teman mu marah kepadamu namun dia tidak mengeluarkan kata-kata kasar, dia layak menjadi teman baikmu

🌾Berhati-hati lah dalam memilih teman. Tapi harus lebih hati-hati lagi jika ingin menggantinya….

🌾Mendamaikan dua teman yang bertikai lebih baik dibanding memihak salah satunya…

🌾Jangan bantu teman mu yg bermusuhan dengan temannya. Bisa jd mereka akan berdamai sedangkan engkau masih bermusuhan..

🌾Jangan terlalu sering bertemu teman, jangan pula terlalu jarang….

🌾Tegurlah teman mu kala sepi dan pujilah dia kala ramai….

🌾Jika engkau hanya ingin ber teman dengan orang yg tidak ada kekurangannya, sama saja engkau tidak ingin berteman dgn dirimu sendiri…

🌾Jika engkau hanya ingin ber teman dengan orang yg tidak ada kekurangannya, sama saja engkau tidak ingin berteman…

🌾🔑 Keinginan menjadi teman yang baik, harus melebihi keinginan mendapatkan teman yg baik…

🌾Kekayaan dapat mendatangkan banyak teman, tapi jika musibah menimpa, akan menjadi ujian bagi merka.

🌾Jika matamu mendapatkan kekurangan pada teman mu, jangan serta merta lisanmu mengungkapkannya…

🌾Kelau teman mu lebih pintar, belajarlah darinya. Kalau lebih bodoh, ajarilah, Kalau sepadan, berdiskusilah…

🌾Teman mu adalah cerminmu. Kalau dia baik, maka sesuaikan dirimu seperti dia, kalau buruk, maka perbaikilah cerminnya.

🌾Kalau ada teman mu membicarakan keburukan temanmu yg lain, hati-hati, keburukanmu bisa jadi akan dia bicarakan kepada temanmu yg lain…

🌾Teman baik teman mu, layak menjadi temanmu, tapi musuh temanmu, tidak harus menjadi musuhmu.

🌾Cepat atau lambat, kita kan berpisah dengan teman-teman kita. Hanya iman dan takwa kepada Allah yang dapat memastikan pertemuan di surga-Nya..

Aamiin..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pegang Teguh Tali Allah

SIKAP BIJAK PARA IMAM AHLUS SUNNAH MENGHADAPI PERSOALAN QUNUT SHUBUH (Bag-2)

📝 Pemateri: Ust. FARID NU’MAN HASAN SS.🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Selanjutnya, kita lihat bagaimana sikap para Imam Ahlus Sunnah menyikapi perselisihan qunut shubuh ini.

🍃1⃣ Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu

Beliau adalah salah satu dari imam empat madzhab terkenal di dunia Islam, khususnya Ahlus Sunnah, yang memiliki jutaan pengikut di berbagai belahan dunia Islam.

Beliau termasuk yang menyatakan kesunahan membaca doa qunut ketika shalat shubuh.

Beliau sendiri memiliki sikap yang amat bijak ketika datang ke jamaah yang tidak berqunut shubuh.

Diceritakan dalam Al Mausu’ah sebagai berikut:

الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تَرَكَ الْقُنُوتَ فِي الصُّبْحِ لَمَّا صَلَّى مَعَ جَمَاعَةٍ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ فِي مَسْجِدِهِمْ بِضَوَاحِي بَغْدَادَ . فَقَال الْحَنَفِيَّةُ : فَعَل ذَلِكَ أَدَبًا مَعَ الإِْمَامِ ، وَقَال الشَّافِعِيَّةُ بَل تَغَيَّرَ اجْتِهَادُهُ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ

“Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu meninggalkan qunut dalam shubuh ketika Beliau shalat bersama jamaah  kalangan Hanafiyah (pengikut Abu Hanifah) di Masjid mereka, di pinggiran kota Baghdad.

Berkata Hanafiyah: “Itu merupakan adab bersama imam.” Berkata Asy Syafi’iyyah (pengikut Asy Syafi’i): “Bahkan beliau telah merubah ijtihadnya pada waktu itu.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/302. Wizarah Al Awqaf Asy Syu’un Al Islamiyah)

🍃2⃣ Imam Ahmad bin Hambal Radhiallahu ‘Anhu

Pada sebagian riwayat, disebutkan bhwa Imam Ahmad bin Hambal termasuk yang membid’ahkan qunut dalam shubuh, namun Beliau memiliki sikap yang menunjukkan ketajaman pandangan, keluasan ilmu, dan kedewasaan bersikap.

Hal ini dikatakan oleh Al ‘Allamah Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah sebagai berikut:

  فقد كان الإمام أحمدُ رحمه الله يرى أنَّ القُنُوتَ في صلاة الفجر بِدْعة، ويقول: إذا كنت خَلْفَ إمام يقنت فتابعه على قُنُوتِهِ، وأمِّنْ على دُعائه، كُلُّ ذلك مِن أجل اتِّحاد الكلمة، واتِّفاق القلوب، وعدم كراهة بعضنا لبعض

“Adalah Imam Ahmad Rahimahullah berpendapat bahwa qunut dalam shalat fajar (shubuh) adalah bid’ah.
Dia mengatakan: “Jika aku shalat di belakang imam yang berqunut, maka aku akan mengikuti qunutnya itu, dan aku aminkan doanya, semua ini lantaran demi menyatukan kalimat, melekatkan hati, dan menghilangkan kebencian antara satu dengan yang lainnya.” (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syarhul Mumti’, 4/25. Mawqi’ Ruh Al Islam)

 🍃3⃣Imam Sufyan Ats Tsauri Radhiallahu ‘Anhu

Beliau mengatakan, sebagaimana dikutip Imam At Tirmidzi sebagai berikut:

قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ إِنْ قَنَتَ فِي الْفَجْرِ فَحَسَنٌ وَإِنْ لَمْ يَقْنُتْ فَحَسَنٌ

“Berkata Sufyan Ats Tsauri: “Jika berqunut pada shalat shubuh, maka itu  bagus, dan jika tidak berqunut itu juga bagus.” (Lihat Sunan At Tirmidzi, keterangan hadits No. 401)

🍃4⃣Imam Ibnu Hazm Rahimahullah

Beliau berpendapat, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Asy Syaukani:

وقال الثوري وابن حزم : كل من الفعل والترك حسن

“Berkata Ats Tsauri dan Ibnu Hazm:  “Siapa saja yang yang melakukannya dan meninggalkannya, adalah baik.” (Nailul Authar, 2/346)

🍃5⃣Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah

Beliau memiliki pandangan yang jernih dalam hal qunut shubuh ini. Walau beliau sendiri lebih mendukung pendapat yang tidak berqunut.

Berikut ini ucapannya:

وَكَذَلِكَ الْقُنُوتُ فِي الْفَجْرِ إنَّمَا النِّزَاعُ بَيْنَهُمْ فِي اسْتِحْبَابِهِ أَوْ كَرَاهِيَتِهِ وَسُجُودِ السَّهْوِ لِتَرْكِهِ أَوْ فِعْلِهِ وَإِلَّا فَعَامَّتُهُمْ مُتَّفِقُونَ عَلَى صِحَّةِ صَلَاةِ مَنْ تَرَكَ الْقُنُوتَ وَأَنَّهُ لَيْسَ بِوَاجِبِ وَكَذَلِكَ مَنْ فَعَلَهُ

“Demikian juga qunut subuh, sesungguhnya perselisihan di antara mereka hanyalah pada istihbab-nya (disukai) atau makruhnya (dibenci).

Begitu pula perselisihan seputar sujud sahwi karena  meninggalkannya atau melakukannya, jika pun  tidak qunut, maka kebanyakan mereka sepakat atas sahnya shalat yang meninggalkan qunut, karena itu bukanlah wajib.

Demikian juga orang yang melakukannya (qunut, maka tetap sah shalatnya –pen).”   (Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 5/185. Mauqi’ Al Islam)

Beliau juga mengatakan bahwa para ulama sepakat berqunut atau tidak, shalat subuh adalah shahih.

Perbedaan terjadi pada mana yang lebih utama. Katanya:

اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ إذَا فَعَلَ كُلًّا مِنْ الْأَمْرَيْنِ كَانَتْ عِبَادَتُهُ صَحِيحَةً، وَلَا إثْمَ عَلَيْهِ: لَكِنْ يَتَنَازَعُونَ فِي الْأَفْضَلِ.
وَفِيمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ، وَمَسْأَلَةُ الْقُنُوتِ فِي الْفَجْرِ وَالْوِتْرِ، مِنْ جَهْرٍ بِالْبَسْمَلَةِ، وَصِفَةِ الِاسْتِعَاذَةِ وَنَحْوِهَا، مِنْ هَذَا الْبَابِ.
فَإِنَّهُمْ مُتَّفِقُونَ عَلَى أَنَّ مَنْ جَهَرَ بِالْبَسْمَلَةِ صَحَّتْ صَلَاتُهُ، وَمَنْ خَافَتْ صَحَّتْ صَلَاتُهُ وَعَلَى أَنَّ مَنْ قَنَتَ فِي الْفَجْرِ صَحَّتْ صَلَاتُهُ، وَمَنْ لَمْ يَقْنُتْ فِيهَا صَحَّتْ صَلَاتُهُ، وَكَذَلِكَ الْقُنُوتُ فِي الْوِتْرِ

Ulama sepakat bahwa melakukan salah satu di antara dua hal maka ibadahnya tetap shahih (sah), dan tidak berdosa atasnya, tetapi mereka berbeda pendapat tentang mana yang utama.

Pada apa yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, masalah qunut pada subuh dan witir, mengeraskan basmalah, bentuk isti’adzah, dan hal semisalnya yang termasuk pembahasan ini.

Mereka sepakat bahwa orang yang mengeraskan basmalah adalah sah shalatnya, dan yang menyembunyikan juga sah shalatnya, yang berqunut subuh sah shalatnya, begitu juga yang berqunut pada witir. (Al Fatawa Al Kubra, 2/116, Cet. 1,  1987M-1408H. Darul Kutub Al ’Ilmiyah)

🍃6⃣Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah

Beliau termasuk yang melemahkan pendapat qunut shubuh sebagaimana beliau uraikan dalam Zaadul Ma’ad, dan baginya adalah hal mustahil Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merutinkannya pada shalat shubuh.

Tetapi, tak satu pun kalimat darinya yang menyebut bahwa qunut shubuh adalah bid’ah, walau dia mengutip beberapa riwayat sahabat yang membid’ahkannya.

Bahkan Beliau sendiri mengakui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kadang melakukan qunut dalam shalat shubuh.

Berikut ini ucapannya:

كَانَ تَطْوِيلَ الْقِرَاءَةِ فِي الْفَجْرِ وَكَانَ يُخَفّفُهَا أَحْيَانًا وَتَخْفِيفَ الْقِرَاءَةِ فِي الْمَغْرِبِ وَكَانَ يُطِيلُهَا أَحْيَانًا وَتَرْكَ الْقُنُوتِ فِي الْفَجْرِ وَكَانَ يَقْنُتُ فِيهَا أَحْيَانًا وَالْإِسْرَارَ فِي الظّهْرِ وَالْعَصْرِ بِالْقِرَاءَةِ ِكَانَ يُسْمِعُ الصّحَابَةَ الْآيَةَ فِيهَا أَحْيَانًا وَتَرْكَ الْجَهْرِ بِالْبَسْمَلَةِ وَكَانَ يَجْهَرُ بِهَا أَحْيَانًا

“Dahulu Nabi memanjangkan bacaan pada shalat shubuh dan kadang meringankannya, meringankan  bacaan dalam shalat maghrib dan kadang memanjangkannya, beliau meninggalkan qunut dalam shubuh dan kadang dia berqunut, beliau  tidak mengeraskan bacaan dalam shalat  ashar dan kadang beliau memperdengarkan bacaannya kepada para sahabat, beliau tidak mengeraskan bacaan basmalah dan kadaang Beliau mengkeraskannya.

Beliau juga berkata:

وقنت في الفجر بعد الركوع شهراً، ثم ترك القنوت ولم يكن مِن هديه القنوتُ فيها دائماً، ومِنْ المحال أن رسولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كان في كل غداة بعد اعتداله من الركوع يقول: “اللَّهُمَ اهْدِني فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ وَلَّيْتَ…” الخ ويرفعُ بذلك صوته، ويؤمِّن عليه أصحابُه دائماً إلى أن فارق الدنيا

“(Beliau) Qunut dalam shubuh setelah ruku selama satu bulan, kemudian meninggalkan qunut. Dan, bukanlah petunjuk beliau melanggengkan qunut pada shalat shubuh, dan termasuk hal mustahil bahwa Rasusulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setiap paginya setelah i’tidal dari ruku mengucapkan: “Allahumahdini fiman hadait wa tawallani fiman tawallait … dst” dengan meninggikan suaranya, dan selalu diaminkan oleh para sahabatnya sampai meninggalkan dunia. (Ibid, 1/271)

Lalu Ibnul Qayyim mengutip pertanyaan Sa’ad bin Thariq Al Asyja’i kepada ayahnya, di mana ayahnya pernah shalat dibelakang Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, Apakah mereka pernah qunut shubuh?
Ayahnya menjawab: Anakku, itu adalah muhdats (perkara yang diada-adakan). (HR. Ahmad, At tirmidzi, dan lainnya, At Tirmidzi mengatakan: hasan shahih)

Beliau juga mengutip    dari Said bin Jubair, dia berkata: aku bersaksi bahwa aku mendengar,  dari Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata, “Qunut yang ada pada shalat subuh adalah bid’ah.” (HR. Ad Daruquthni No. 1723)

Tetapi riwayat ini dhaif (lemah). (Nashbur Rayyah, 3/183). Imam Al Baihaqi mengatakan: tidak shahih. (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 2/345. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah) Karena di dalam sanadnya ada periwayat bernama Abdullah bin Muyassarah dia adalah seorang yang  dhaiful hadits (hadits darinya dhaif).  (Imam Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib,  6/ 44. Lihat juga Imam Al Mizzi, Tahdzibul Kamal, 16/197)

Imam Ibnul Qayyim juga memaparkan adanya kelompok yang menolak qunut secara mutlak termasuk qunut nazilah, yakni para penduduk Kufah.
Beliau pun tidak menyetujui pendapat ini, hingga akhirnya Beliau menempuh jalan pertengahan, yakni jalannya para ahli hadits.

Katanya:

فأهلُ الحديث متوسطون بين هؤلاء وبين من استحبه عند النوازل وغيرها، وهم أسعدُ بالحديث من الطائفتين، فإنهم يقنُتون حيثُ قنت رسولُ اللّه صلى الله عليه وسلم، ويتركُونه حيث تركه، فيقتدون به في فعله وتركه،ويقولون: فِعله سنة، وتركُه لسنة، ومع هذا فلا يُنكرون على من داوم عليه، ولا يكرهون فعله، ولا يرونه بدعة، ولا فاعِلَه مخالفاً للسنة، كما لا يُنكِرون على من أنكره عند النوازل، ولا يرون تركه بدعة، ولا تارِكه مخالفاً للسنة، بل من قنت، فقد أحسن، ومن تركه فقد أحسن

“Maka, ahli hadits adalah golongan pertengahan di antara mereka (penduduk Kufah yang membid’ahkan) dan golongan yang menyunnahkan qunut baik nazilah atau selainnya, mereka telah dilapangkan oleh hadits dibandingkan dua kelompok ini.

Sesungguhnya mereka berqunut karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukannya, mereka juga meninggalkannya ketika Rasulullah meninggalkannya, mereka mengikutinya baik dalam melakukan atau meninggalkannya.

Mereka (para ahli hadits) mengatakan: melakukannya adalah sunah, meninggalkannya juga sunah, bersamaan dengan itu mereka tidak mengingkari orang-orang yang merutinkannya, dan tidak memakruhkan perbuatannya, tidak memandangnya sebagai bid’ah, dan tidaklah pelakunya dianggap telah berselisih dengan sunnah, sebagaimana mereka juga tidak mengingkari orang-orang yang menolak qunut ketika musibah, mereka juga tidak menganggap meninggalkannya adalah bid’ah, dan tidak pula orang yang meninggalkannya  telah  berselisih dengan sunnah, bahkan barang siapa yang berqunut dia telah berbuat baik, dan siapa yang meninggalkannya juga baik.” (Ibid, 1/274-275)

Syaikh ‘Athiyah Shaqr menilai pendapat pertengahan Imam Ibnul Qayyim ini adalah pendapat yang terbaik dalam masalah qunut. (Fatawa Al Azhar, 5/9)

🍃7⃣Para Ulama Lajnah Daimah Kerajaan Saudi Arabia

Mereka  saat itu diketuai oleh Syaikh Al ‘Allamah  Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah. Sebenarnya secara resmi Lajnah Daimah membid’ahkan prilaku merutinkan qunut pada shubuh, sebagaimana fatwa No. 2222. Namun, pada fatwa lainnya – yang ditanda tangani oleh Syaikh Ibnu Baz, Syaikh  Abdullah bin Mani’, Syaikh Abdullah bin Ghudyan, dan Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi-   mereka pun memberikan pandangan bijak, sebagai berikut:

وبالجملة فتخصيص صلاة الصبح بالقنوت من المسائل الخلافية الاجتهادية، فمن صلى وراء إمام يقنت في الصبح خاصة قبلالركوع أو بعده فعليه أن يتابعه، وإن كان الراجح الاقتصار في القنوت بالفرائض على النوازل فقط

“Maka, secara global mengkhususkan doa qunut pada shalat shubuh merupakan masalah khilafiyah ijtihadiyah.

Barang siapa yang shalat di belakang imam yang berqunut shubuh, baik sebelum atau sesudah ruku, maka hendaknya dia mengikutinya.

Walau pun pendapat yang paling kuat adalah membatasi qunut hanya ada pada nazilah saja.”  (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta’,  No. 902)

🍃8⃣Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin Rahimahullah

Beliau ditanya:

عندنا إمام يقنت في صلاة الفجر بصفة دائمة فهل نتابعه ؟ وهل نؤمن على دعائه ؟

Kami memiliki imam yang berqunut pada shalat subuh yang melakukannya secara terus menerus, apakah kami mesti mengikutinya? Dan apakah kami mesti mengaminkan doanya?

Beliau menjawab:

من صلى خلف إمام يقنت في صلاة الفجر فليتابع الإمام في القنوت في صلاة الفجر ، ويؤمن على دعائه بالخير ، وقد نص على ذلك الإمام أحمد رحمه الله تعالى

Barangsiapa yang shalat di belakang imam yang berqunut pada shalat subuh, maka hendaklnya dia mengikuti imam berqunut pada shalat subuh, dan mengaminkan doanya dengan baik.

Telah ada riwayat seperti itu dari Imam Ahmad Rahimahullah. (Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin, Majmu’ Fafatwa, 14/177)

🍃9⃣Syaikh Abdurrahman bin Abdullah Al Jibrin Rahimahullah

Beliau berpendapat jika qunut dilakukan tanpa sebab  maka itu makruh, namun dia tetap menasihati agar jika ada yang melakukan karena mengikuti pendapat madzhab Syafi’i maka itu jangan iingkari.

Katanya:

وبكل حال فمن قنت تبعاً للشافعية فلا يُنكر عليه ، ولكن الصحيح أنه لا يشرع . ولم يثبت عنه صلى الله عليه وسلم ، الاستمرار عليه . فالأظهر أنه مكروه بلاسبب والله علم

Bagaimana pun juga, bagi siapa saja yang berqunut karena mengikuti syafi’iyah maka jangan diingkari, tetapi yang benar adalah itu tidak disyariatkan.

Tidak ada yang pasti dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau merutinkannya.

Maka, yang nampak adalah hal itu makruh dilakukan tanpa sebab. Wallahu A’lam. (Fatawa Islamiyah, 1/454. Dikumpulkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al Musnid)

Demikian.
Pemaparan ini bukanlah dalam rangka mengaburkan permasalahan, tetapi dalam rangka – sebagaimana kata Imam Ahmad- MENYATUKAN KALIMAT, MELEKATKAN HATI dan MENGHAPUSKAN KEBENCIAN sesama kaum muslimin.

Sebab, para imam yang berselisih pendapat pun memiliki sikap yang tidak melampaui batas-batas akhlak dan adab Islam dalam menyikapi perbedaan pendapat dalam fiqih.

Sudah selayaknya kita mengambil banyak pelajaran dari para A’immatil A’lam (imam-imam dunia) ini.

Wa akhiru da’wana an alhamdulillahi rabbail ‘alamin.

Wallahu A’lam

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Pegang Teguh Tali Allah

SIKAP BIJAK PARA IMAM AHLUS SUNNAH MENGHADAPI PERSOALAN QUNUT SHUBUH (Bag-1)

Pemateri: Ust. FARID NU’MAN HASAN SS.

Persoalan membaca doa qunut pada shalat shubuh ketika i’tidal kedua, merupakan perselisihan fiqih sejak zaman para  sahabat Nabi.

Ini termasuk perselisihan yang paling banyak menyita waktu, tenaga, fikiran, bahkan sampai memecahkan barisan kaum muslimin.

Sebenarnya, bagaimanakah sebenarnya masalah ini?

Benarkah para Imam Ahlus Sunnah satu sama lain saling mengingkari secara keras, sebagaimana perilaku para penuntut ilmu dan orang awam yang kita lihat hari ini dari kedua belah pihak?

Kali ini, saya tidak akan membahas qunut pada posisi, “Mana yang lebih benar, qunut atau tidak qunut?” yang justru kontra produktif dengan tema yang sedang saya bahas.

Walau dalam keseharian saya lebih sering berqunut subuh karena begitulah kebiasaan di daerah saya tinggal sejak kecil sampai sekarang.

Mereka yang berqunut dan juga yang tidak berqunut adalah saudara seiman yang harus dijaga perasaannya dan dipelihara hubungannya.

Tidak saling mengingkari, lantaran keduanya berpijak pada pendapat para Imam Ahlus Sunnah, yang masing-masing  memiliki sejumlah dalil dan alasan yang dipandang kuat oleh mereka.

Sedangkan para imam kita telah menegaskan kaidah,

“Al Ijtihad Laa Yanqudhu bil Ijtihad (Suatu Ijtihad tidak bisa dimentahkan oleh Ijtihad lainnya), ” dan

“Laa inkara fi masaail ijtihadiyah (tidak ada pengingkaran dalam masalah ijtihadiyah).”

Qunut Shubuh Benar-Benar Perselisihan Eksis Sejak Dahulu

Kita lihat peta perbedaan ini, sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama sebagai berikut:

Berkata Imam At Tirmidzi dalam Sunan-nya sebagai berikut:

وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي الْقُنُوتِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ فَرَأَى بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ الْقُنُوتَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ و قَالَ أَحْمَدُ وَإِسْحَقُ لَا يُقْنَتُ فِي الْفَجْرِ إِلَّا عِنْدَ نَازِلَةٍ تَنْزِلُ بِالْمُسْلِمِينَ فَإِذَا نَزَلَتْ نَازِلَةٌ فَلِلْإِمَامِ أَنْ يَدْعُوَ لِجُيُوشِ الْمُسْلِمِينَ

“Para Ahli ilmu berbeda pendapat tentang qunut pada shalat fajar (shubuh),

Sebagian  Ahli ilmu dari sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan lainnya berpendapat bahwa qunut ada pada shalat shubuh, dan ini adalah pendapat Malik dan Asy Syafi’i.

Sedangkan, Ahmad dan Ishaq berpendapat tidak ada qunut pada shalat shubuh kecuali saat nazilah (musibah) yang menimpa kaum muslimin. Jika turun musibah, maka bagi imam  berdoa untuk para tentara kaum muslimin.” (Lihat Sunan At Tirmidzi, keterangan hadits No. 401)

Berkata Imam Ibnu Rusyd Al Maliki Rahimahullah :

اختلفوا في القنوت، فذهب مالك إلى أن القنوت في صلاة الصبح مستحب، وذهب الشافعي إلى أنه سنة وذهب أبو حنيفة إلى أنه لا يجوز القنوت في صلاة الصبح، وأن القنوت إنما موضعه الوتر وقال قوم: بيقنت في كل صلاة، وقال قوم: لا قنوت إلا في رمضان، وقال قوم: بل في النصف الاخير منه وقال قوم: بل في النصف الاول منه

“Mereka berselisih tentang qunut,
Malik berpendapat bahwa qunut dalam shalat shubuh adalah sunah, dan Asy Syafi’i juga mengatakan sunah, dan

Abu Hanifah berpendapat tidak boleh qunut dalam shalat shubuh, sesungguhnya qunut itu adanya pada shalat witir.

Ada kelompok yang berkata: berqunut pada setiap shalat.
Kaum lain berkata: tidak ada qunut kecuali pada bulan Ramadhan.
Kaum lain berkata: Adanya pada setelah setengah bulan Ramadhan. Ada juga yang mengatakan: bahkan pada setengah awal Ramadhan.”

(Imam Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Juz. 1, Hal. 107-108. Darul Fikr)

Juga diterangkan di dalam kitab Al Mausu’ah sebagai berikut:

ذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى مَشْرُوعِيَّةِ الْقُنُوتِ فِي الصُّبْحِ . قَال الْمَالِكِيَّةُ : وَنُدِبَ قُنُوتٌ سِرًّا بِصُبْحٍ فَقَطْ دُونَ سَائِرِ الصَّلَوَاتِ قَبْل الرُّكُوعِ ، عَقِبَ الْقِرَاءَةِ بِلاَ تَكْبِيرٍ قَبْلَهُ  .
وَقَال الشَّافِعِيَّةُ : يُسَنُّ الْقُنُوتُ فِي اعْتِدَال ثَانِيَةِ الصُّبْحِ ، يَعْنِي بَعْدَ مَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ ، وَلَمْ يُقَيِّدُوهُ بِالنَّازِلَةِ .
وَقَال الْحَنَفِيَّةُ ، وَالْحَنَابِلَةُ : لاَ قُنُوتَ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ إِلاَّ فِي النَّوَازِل  وَذَلِكَ لِمَا رَوَاهُ ابْنُ مَسْعُودٍ وَأَبُو هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ ثُمَّ تَرَكَهُ   ، وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : – أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ فِي صَلاَةِ الصُّبْحِ إِلاَّ أَنْ يَدْعُو لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ   وَمَعْنَاهُ أَنَّ مَشْرُوعِيَّةَ الْقُنُوتِ فِي الْفَجْرِ مَنْسُوخَةٌ فِي غَيْرِ النَّازِلَةِ

“Kalangan Malikiyah (pengikut Imam Malik) dan Asy Syafi’iyah (pengikut Imam Asy Syafi’i) berpendapat bahwa doa qunut pada shalat shubuh adalah disyariatkan. Berkata Malikiyah: Disunnahkan berqunut secara sirr (pelan)  pada shalat shubuh saja, bukan pada shalat lainnya. Dilakukan sebelum ruku setelah membaca surat tanpa takbir dulu.

Kalangan Asy Syafi’iyah mengatakan: qunut disunahkan ketika i’tidal kedua shalat shubuh, yakni setelah mengangkat kepala pada rakaat kedua, mereka tidak hanya mengkhususkan qunut nazilah saja.

Kalangan Hanafiyah (pengikut Imam Abu Hanifah) dan Hanabilah (pengikut Imam Ahmad bin Hambal) mengatakan: Tidak ada qunut dalam shalat shubuh kecuali qunut nazilah.

Hal ini karena telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berqunut selama satu bulan, mendoakan qabilah di antara qabilah Arab, tsumma tarakahu ( kemudian beliau meninggalkan doa tersebut).” (HR. Muslim dan An Nasa’i).

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berqunut pada shalat shubuh, kecuali karena mendoakan atas  sebuah kaum atau untuk sebuah kaum.” (HR. Ibnu Hibban).

Artinya, syariat berdoa qunut pada shalat shubuh telah mansukh (dihapus),  selain qunut nazilah.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/321-322. Wizarah Al Awqaf Asy Syu’un Al Islamiyah)

Sedikit saya tambahkan, bahwa hadits Ibnu Mas’ud  yang dijadikan hujjah oleh golongan Hanafiyah dan Hanabilah, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berqunut selama satu bulan, mendoakan qabilah di antara qabilah Arab, lalu beliau meninggalkan doa tersebut.

Merupakan hadits shahih, diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al Masajid wa Mawadhi’ Ash Shalah Bab Istihbab Al Qunut fi Jami’ish Shalah Idza Nazalat bil Muslimina Nazilah, No. 677.

Ada pun hadits Abu Hurairah, yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berqunut pada shalat shubuh, kecuali karena mendoakan atas  sebuah kaum atau untuk sebuah kaum.

Disebutkan oleh Imam Az Zaila’i, bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban, dan penulis At Tanqih mengatakan, hadits ini shahih. (Al Hazifh Az Zaila’i, Nashbur Rayyah fi Takhrij Ahadits Al Hidayah, 3/180. Mawqi’ Al Islam)

Sedangkan dalil  pihak yang menyunnahkan qunut shubuh, yang digunakan oleh kalangan Asy Syafi’iyah dan Malikiyah adalah  riwayat dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa melakukan qunut shubuh sampai faraqad dunia (meninggalkan dunia/wafat).

(HR. Ahmad No. 12196. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, 2/201. Abdurrazzaq, Al Mushannaf, No. 4964. Ath Thabarani, Tahdzibul Atsar, No. 2682, 2747, katanya: shahih. Ad Daruquthni No. 1711.
Al Haitsami mengatakan: rijal hadits ini mautsuq (bisa dipercaya). Majma’ Az Zawaid, 2/139)

Sementara Al Hafizh Az Zaila’i menyebutkan riwayat dari Ishaq bin Rahawaih dalam Musnad-nya, lafaznya dari Rabi’ bin Anas:

Ada seorang laki-laki datang kepada Anas bin Malik dan  bertanya:

“Apakah Rasulullah berqunut selama satu bulan saja untuk mendoakan qabilah?”

Anas pun memberikan peringatan padanya, dan berkata: “Rasulullah senantiasa berqunut shubuh sampai beliau meninggalkan dunia.”

Ishaq berkata: hadits yang berbunyi: tsumma tarakahu  (kemudian beliau meninggalkannya) maknanya adalah beliau meninggalkan penyebutan nama-nama qabilah dalam qunutnya.” (Nashbur Rayyah, 3/183)

Jadi, bukan meninggalkan qunutnya, tetapi meninggalkan penyebutan nama-nama qabilah yang beliau doakan dalam qunut nazilah.

Imam Asy Syaukani, menyebutkan dari Al Hazimi tentang siapa saja yang berpendapat bahwa qunut shubuh adalah masyru’ (disyariatkan), yakni: kebanyakan manusia dari kalangan sahabat, tabi’in, orang-orang setelah mereka dari  kalangan ulama besar, sejumlah sahabat dari khalifah yang empat, hingga sembilan puluh orang sahabat nabi, Abu Raja’ Al ‘Atharidi,  Suwaid bin Ghaflah, Abu Utsman Al Hindi, Abu Rafi’ Ash Shaigh, dua belas tabi’in, juga para imam fuqaha seperti Abu Ishaq Al Fazari, Abu Bakar bin Muhammad, Al Hakam bin ‘Utaibah, Hammad, Malik, penduduk Hijaz, dan Al Auza’i.

Dan, kebanyakan penduduk Syam, Asy Syafi’i dan sahabatnya, dari Ats Tsauri ada dua riwayat, lalu dia (Al Hazimi) mengatakan: kemudian banyak manusia lainnya.

Al ‘Iraqi menambahkan sejumlah nama seperti Abdurraman bin Mahdi, Sa’id bin Abdul ‘Aziz At Tanukhi, Ibnu Abi Laila, Al Hasan bin Shalih, Daud, Muhammad bin Jarir, juga sejumlah ahli hadits seperti Abu Hatim Ar Razi, Abu Zur’ah Ar Razi, Abu Abdullah Al Hakim, Ad Daruquthni, Al Baihaqi, Al Khathabi, dan Abu Mas’ud Ad Dimasyqi. (Nailul Authar, 2/345-346).

Itulah nama-nama yang meyetujui qunut shubuh pada rakaat kedua.

Nah, demikian peta perselisihan mereka, dan juga sebagian kecil dalil-dalil  kedua kelompok.

⚠ Pastinya, sekuat apapun seorang pengkaji meneliti masalah ini, dia tidak akan mampu menyelesaikan masalah ini, bahwa memang KHILAFIYAH ini benar-benar wujud (ada). ⚠

Maka, yang lebih esensi dan krusial pada saat ini adalah:
“ Bagaimana mengelola perbedaan ini menjadi kekayaan yang  bermanfaat, bukan warisan pemikiran yang justru membahayakan ”

Selanjutnya, kita akan lihat bagaimana sikap para Imam Ahlus Sunnah menyikapi perselisihan qunut shubuh ini.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

URGENSI KELUARGA SAKINAH, KELUARGA  ISLAMI (Bag-2)

📝 Pemateri: Ustadzah Aan Rohana Lc. M Ag.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Islam sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia dapat menyelamatkan  manusia dari krisisis moral melalui pembentukan keluarga yang sakinah; keluarga yang Islami.

Karena itu keluarga muslim harus kembali kepada ajaran Islam, sebab  Islam telah memberikan perhatian yang besar dalam membentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah yang selalu diberkahi Allah SWT.

Hal tersebut telah terbukti dalam sejarah bahwa Rasulullah dan para sahabat mampu menciptakan rumah sebagai surga dalam suka dan duka serta mereka sukses melahirkan generasi terbaik dalam sejarah kehidupan manusia.

Berkeluarga harus diawali dengan akad pernikahan yang sah sebagai ikatan bersatunya suami istri.

Akad nikah yang sah harus berdasarkan alquran dan hadits Rasulullah. Sebab pernikahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari agama. Sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W.

من رزقه الله امراة صالحة فقد اعانه علي شطر دينه فليتق الله  في الشطر الباقي

Artinya: ” Barang siapa yang diberi rizki oleh Allah berupa wanita shalihah, maka Allah telah menolongnya setengah dari agamanya. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lain”. ( HR. Thabroni dan Hakim).

Dengan pernikahan yang sah sesuai Quran dan hadis maka bertambahlah kasih sayang antara suami istri.

Masing-masing akan merasakan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan. Sesuai dengan firman Allah dalam QS. 30 : 21 yang sudah ditulis diatas .

ومن اياته ان خلق لكم من انفسكم ازواجا لتسكنوا اليها وجعل بينكم مودة ورحمة ان في ذالك لأيات لقوم يتفكرون

Artinya: ” Dan dari tanda2 kebesaran-Nya adalah  Dia telah menciptakan untuk kalian pasangan dari jiwa kalian sendiri agar kalian merasa tenang dan senang kepadanya dan Dia telah menjadikan  rasa  cinta dan kasih sayang diantara kalian. Sesungguhnya pada hal yang demikian itu terdapat tanda2 kebesaran Allah  bagi orang2 yang berfikir” ( QS. 30 : 21)

Maka pernikahan yang sah ini menjadi fondasi terbentuknya keluarga yang sakinah.

Jika suami istri bisa menyatukan visi dan misi serta persepsi dan kiprah mereka dalam berkeluarga maka akan terbentuk rumah tangga yang kokoh yang berpijak pada kasih sayang untuk bersama-sama berjuang mencapai visi dan misi keluarganya menjadikan seluruh anggota keluarga sebagai permata hati dan imam bagi orang-orang  yang bertakwa.

Sebagaimana doa kita semua yang sering kita panjatkan kepada Allah

ربنا هب لنا من ازواجنا وذرياتنا قرة اعين واجعلنا للمتقين اماما
Artinya:
Wahai Rob kami anugrahkanlah kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai permata hati dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. 25:74)Suksesnya membentuk keluarga yang sakinah sekaligus  keluarga yang Islami menjadi fondasi terhadap terbentuknya masyarakat madani.

Pada saat yang sama keluarga seperti itu merupakakan bagian penting yang harus ada dalam membangun bangsa dan negara sebagai baldatun thayyibatun wa robbun ghafuur.

Karena itu mari kita perbaiki diri kita masing-masing untuk menjadi muslim yang berkepribadian Islami dan bersama pasangan kita masing-masing bekerjasama membentuk keluarga yang sakinah; keluarga yang Islami.

Serta tidak lupa menyiapkan keluarga untuk bisa berkontribusi pada perbaikan  masyarakat, bangsa dan negara yang beragama dan bermartabat.

📚 Ada beberapa unsur yang asasi dalam pembentukan keluarga sakinah; keluarga Islami diantaranya yaitu :

🍀1⃣. dibangun atas dasar takwa dan ingin beribadah kepada Allah semata.

🍀2⃣. adanya internalisasi nilai2 Islam dalam keluarga.

🍀3⃣. Saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.

🍀4⃣. Situasi rumah yang kondusif dalam menerapkan nilai2 Islam.

🍀5⃣. Terbentengi dari pengaruh lingkungan yang buruk,

🍀6⃣. Dll. Insya Allah akan dijelaskan pada materi sesi berikutnya.😊😊😊

Wallahu a’lam bishshawaab.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

URGENSI KELUARGA SAKINAH, KELUARGA  ISLAMI (Bag-1)

📝 Pemateri: Ustadzah Aan Rohana Lc. M Ag.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Pada abad ini berbagai krisis telah terjadi pada masyarakat seperti krisis moral ; terjadinya pergaulan bebas, kecanduan narkoba, tawuran.

Selain itu terjadi krisis ekonomi seperti kemiskinan dan pengangguran, krisis pendidikan dengan banyak nya jumlah anak2 yang putus sekolah, tawuran dan lain-lain.

Salah satu solusi untuk menghadapi krisis tersebut adalah kembali pada institusi keluarga.

Tetapi saat ini sudah terjadi juga krisis yang dialami institusi keluarga.

Banyak institusi keluarga yang sudah runtuh karena mengabaikan tatanan Islam dalam berkeluarga, hilangnya keteladanan dari orang tua, adanya perselingkuhan, juga kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak yang menimbulkan banyak kasus perceraian.

🔑💡Muara dari krisis itu semua adalah krisis identitas muslim. 🔑

Keluarga tidak luput dari krisis identitas ini.
Masih ada keluarga kaum muslimin yang belum terwarnai oleh keindahan dan rahmat Islam , tidak diwarnai oleh suasana saling tolong menolong dalam kebaikan dan  takwa.

Tidak ada  upaya untuk mewujudkan suasana yang kondusif untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam keluarga.

Keluarga muslim seperti ini tidak akan bisa menjadi tempat melahirkan generasi harapan agama, bangsa dan negara.

Suatu saat anak-anak akan menjadi bencana bagi keluarga, masyarakat, dan ummat manusia.

Oleh karena itulah orang yang tidak suka kepada Islam berusaha untuk menghancurkan tatanan Islami dalam keluarga muslim.

Sebab keluarga muslim yang kokoh identitasnya akan mampu melahirkan generasi-generasi  baru sebagai pelopor, pemimpin dan pahlawan.

📚 Ada 5 cara untuk meruntuhkan institusi keluarga muslim yaitu:

🌺1⃣. Menghancurkan sistem pernikahan .

🌺2⃣. Mendorong para muslimah untuk berhias (tabarruj) dan tidak berpakaian secara Islami.

🌺3⃣. Mendorong muslimah melakukan pergaulan yang tidak sesuai syariat.

🌺4⃣. Menghancukan hak qawwamah (kepemimpinan) suami dan mendorong muslimah melakukan perlawanan terhadap sistem keluarga.

🌺5⃣. Mengganti peraturan perundang-undangan kepada yang tidak berpihak terhadap kepentingan perempuan, anak dan keluarga.

🍂🔹🍂🔹🔹🍂🔹🍂

Insya Allah bersambung ke bag-2 😊😊😊

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

AKRAB DENGAN AL-QURAN (Bag-2 tamat)

Pemateri: Ust. Ahmad Sahal Lc.

MENGKHATAMKAN AL-QURAN DALAM SEPEKAN

Imam Nawawi berkata:

وَأَمَّا الَّذِيْنَ خَتَمُوا فِي الأُسْبُوعِ مَرَّةً فَكَثِيْرُونَ نُقِلَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَعَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَزَيْدٍ بْنِ ثَابِتٍ وَأُبَيٍّ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَعَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ التَّابِعِينَ كَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدٍ وَعَلْقَمَةَ وَإِبْرَاهِيْمَ رَحِمَهُمُ اللهُ …

Orang-orang yang mengkhatamkan sekali dalam sepekan jumlah mereka banyak. Diriwayatkan (amal ini) dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin Tsabit, dan Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhum. Dan diriwayatkan dari jamaah tabi’in seperti Abdurrahman bin Yazid, ‘Alqamah, dan Ibrahim rahimahumullah. (At-Tibyan, halaman 61).

Siapa yang ingin mengkhatamkan Al-Quran dalam sepekan dapat menggunakan cara فَمِي بِشَوْقٍ   “Famii bisyauq” yang artinya “mulutku selalu rindu (Al-Quran)”.

Famii Bisyauq ini setiap hurufnya mengisyaratkan nama surat pertama yang dibaca setiap harinya selama sepekan.

Huruf faa untuk surat Al-Fatihah, huruf miim untuk Al-Maidah, huruf yaa untuk Yunus, huruf baa untuk Bani Israil (Al-Isra), huruf syiin untuk Asy-Syu’ara, huruf wawu untuk wash-shaaffaati-shaffaa (surat Ash-Shaffat), dan huruf Qaaf untuk surat Qaf.

Jadual hariannya menjadi seperti ini:

Hari ke-1: surat Al-Fatihah – surat An-Nisa (Al-Fatihah + 3 surat)

Hari ke-2: surat Al-Maidah – surat At-Taubah (5 surat)

Hari ke-3: surat Yunus – surat An-Nahl (7 surat)

Hari ke-4: surat Al-Isra – surat Al-Furqan (9 surat)

Hari ke-5: surat Asy-Syu’ara – surat Yasin (11 surat)

Hari ke-6: surat Ash-Shaffat – surat Al-Hujurat (13 surat)

Hari ke-7: surat Qaf – surat An-Nas (yang disebut dengan hizb al-mufashal)

Dasar mengkhatamkan Al-Quran dalam sepekan ini adalah arahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang telah saya sebutkan.

Sedangkan jadual harian di atas diambil dari hadits yang didha’ifkan oleh Syaikh Al-Albani yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Abu Dawud dalam Sunan keduanya, juga Imam Ahmad dalam Musnadnya.

Disebutkan dalam riwayat tersebut bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa menemui utusan kabilah atau kaum setiap malam ba’da Isya dan berbicara dengan mereka sambil berdiri. Hingga pada suatu malam beliau terlambat hadir. Aus bin Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, salah satu utusan dari Tsaqif bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ لَقَدْ أَبْطَأْتَ عَلَيْنَا اللَّيْلَةَ قَالَ: «إِنَّهُ طَرَأَ عَلَيَّ حِزْبِي مِنَ الْقُرْآنِ فَكَرِهْتُ أَنْ أَخْرُجَ حَتَّى أُتِمَّهُ» ، قَالَ أَوْسٌ: فَسَأَلْتُ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ تُحَزِّبُونَ الْقُرْآنَ؟ قَالُوا: ثَلَاثٌ وَخَمْسٌ وَسَبْعٌ وَتِسْعٌ وَإِحْدَى عَشْرَةَ وَثَلَاثَ عَشْرَةَ وَحِزْبُ الْمُفَصَّلِ

Ya Rasulullah, sungguh engkau telah terlambat menemui kami malam ini. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya telah luput hizib (wirid) Al-Quran ku, maka aku tidak suka keluar (menemui kalian) sebelum menyempurnakannya.

” Aus berkata: Maka aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Bagaimana kalian membagi hizb (wirid) Al-Quran?” Mereka menjawab: tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, tiga belas, dan hizb al-mufashal.

Maksudnya:
Mereka mengkhatamkannya dalam sepekan dengan 3 surat di hari pertama, 5 surat di hari kedua dan seterusnya. Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan 3 surat hari pertama adalah Al-Baqarah, Ali Imran & An-Nisa, sedangkan Al-Fatihah tidak disebutkan karena sudah dipastikan ia dibaca di awal.

KESIMPULAN

Al-Quran akan memberikan pembelaan dalam bentuk syafaat kepada para sahabatnya, dan orang yang akrab dengan Al-Quran lebih pantas untuk dinamakan sahabat.

Hal paling mendasar untuk akrab dengan Al-Quran adalah dengan membacanya secara benar dan kontinyu, kemudian mengupayakan juga untuk memiliki bentuk keakraban yang lain yaitu menghafalnya.

Agar dapat membaca dengan benar, setiap muslim dan muslimah wajib mempraktekkan ilmu tajwid saat membaca Al-Quran seperti yang ditegaskan oleh Ibnu Al-Jazri, salah seorang ulama pakar qiraah.

Hendaknya setiap muslim dan muslimah memiliki wirid harian membaca Al-Quran dengan target mengkhatamkannya tanpa menganggu kewajiban-kewajiban asasi terutama yang terkait dengan hak-hak orang lain.

Harus ada upaya untuk membaca Al-Quran minimal satu juz setiap hari agar ia dapat mengkhatamkannya dalam sebulan.

Banyak diantara para sahabat dan salaf shalih mengkhatamkan Al-Quran dalam sepekan seperti yang dikemukakan oleh Imam Nawawi rahimahullah. Barang siapa ingin meneladani mereka, dapat mengkhatamkannya dengan menggunakan “famii bisyauq”.

Hendaknya tidak mengkhatamkan Al-Quran secara rutin kurang dari tiga hari seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Rajab rahimahullah, tetapi boleh melakukannya di saat-saat utama seperti bulan Ramadhan, atau di tempat-tempat utama seperti Masjid Haram atau Nabawi, atau untuk keperluan tertentu seperti muraja’ah hafalan bagi penghafal Al-Quran.

Dan hendaknya ia menyediakan waktu khusus untuk membaca sambil memahami makna bacaannya dengan bantuan kitab-kitab tafsir para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

والله أعلم بالصواب


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678