berdoa setelah membaca alfatihah

Surat Al Fatihah (Bag. 3 – habis)

Pemateri: Ust. AHMAD SAHAL Lc.

Sub Tema 2: Jalan ibadah yang benar

Barangsiapa yang mengenal Allah dengan sifat-sifat seperti dijelaskan oleh ayat 1 sampai ayat 4 (pada bagian 2 tulisan ini) maka akal sehat dan kejernihan hatinya pasti akan mengantarkannya kepada satu kesimpulan bahwa hanya Dialah yang berhak untuk diibadahi (tauhid & ikhlas).

Namun untuk memastikan bahwa kita telah beribadah dengan benar, kita memerlukan petunjuk dari Allah tentang jalan ibadah itu sendiri berupa tata cara dan contoh yang diberikan oleh mereka yang sebelumnya telah mendapat petunjuk itu.

Ayat 5 dan 6 berbicara tentang sub tema kedua ini.
Jadi sub tema kedua ini mengandung beberapa poin:

١– إِخْلَاصُ الْعِبَادَةِ للهِ
٢- الاِسْتِعَانَةُ بِاللهِ عَلَى تَحْقِيْقِهِ
٣- سُلُوكُ الطَّرِيْقِ الْمُسْتَقِيْمِ

1⃣. Memurnikan ibadah hanya untuk Allah
2⃣ Memohon pertolongan kepada Allah untuk merealisasikannya
3⃣. Menempuh jalan yang lurus

Ayat 5

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepadaMu kami beribadah, dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan.

Ini adalah ikrar setiap muslim untuk selalu beribadah hanya kepada Allah – tidak menyekutukanNya dengan apapun dan siapapun, dan untuk memohon pertolongan hanya kepada Allah dalam hal-hal yang tak dapat dilakukan oleh sesama makhluk atau yang dilarang kita melakukannya.

Di dalam ayat ini terdapat beberapa poin penting, diantaranya:

 Penegasan tentang tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah sebagai konsekuensi dari tauhid rububiyah yang disebutkan di ayat sebelumnya.

Maksudnya bahwa Dzat yang menciptakan, mengatur dan memiliki kekuasaan mutlak atas makhlukNya di dunia dan akhirat, maka hanya Dialah yang berhak untuk diberikan segala bentuk peribadatan. (Lihat ayat yang senada dengan hal ini misalnya Al-Baqarah ayat 21-22).

 Ibadah didahulukan daripada isti’anah (mohon pertolongan) karena hamba yang sedang mengucapkan ikrar ini mengedepankan adab kepada Allah sehingga ia lebih memuliakan hak Allah daripada hak dirinya.

Atau karena ibadah lebih
kuat kaitannya dengan ayat sebelumnya sementara isti’anah adalah mukadimah permohonan pada ayat setelahnya.

 Untuk mewujudkan tauhid kepada Allah kita memerlukan pertolongan dariNya, atau dengan kata lain ibadah sebagai tujuan, sedangkan isti’anah sebagai jalan.

 Meskipun seorang muslim membaca ayat ini sendirian, ia tetap membacanya dengan ungkapan “na’budu” (kami beribadah) dan “nasta’in” (kami mohon pertolongan), untuk menegaskan bahwa spirit berjamaah harus selalu ada dalam dirinya, bahwa ia selalu bersama saudara seiman di mana dan kapan pun mereka hidup.

وإذا كان الله وحده هو الذي يُعبد، والله وحده هو الذي يُستعان، فقد تخلص الضمير البشري من استذلال النظم والأوضاع والأشخاص، كما تخلص من استذلال الأساطير والأوهام والخرافات

 Bila hanya Allah yang diibadahi dan dimintai pertolongan, maka nurani manusia telah terbebas dari penindasan berbagai sistem (buatan manusia), situasi (yang direkayasa) dan sosok (yang diktator), juga bebas dari penghinaan keyakinan berdasarkan dongeng, mitos dan khurafat. (Fi Zhilal Al-Quran, 1/25).

Ayat 6

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjuki kami jalan yang lurus.

Setelah mengikrarkan bahwa hanya kepadaMu ya Allah kami mohon pertolongan, maka hal penting dan utama yang diminta dan diperlukan oleh seorang hamba untuk dapat ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan mentauhidkanNya adalah jalan yang lurus yang menjelaskan tata cara ibadah yang benar.

Yang dimaksud dengan jalan yang lurus adalah ISLAM sesuai riwayat dari Abdullah bin Abbas ra, atau Al-Quran seperti riwayat dari Ali bin Abi Thalib ra. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/137-138).

Seorang muslim selalu memohon hidayah jalan yang lurus untuk dirinya dan saudara-saudaranya, yaitu hidayah untuk tetap berislam dan berpegang teguh kepada Al-Quran dan penjelas Al-Quran, yakni Sunnah atau Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 Islam adalah aqidah (keyakinan) dan syari’ah (aturan) yang kita mohonkan kepada Allah agar kita diberi hidayah untuk memahami sekaligus mengikuti dan mengamalkannya.

Hidayah untuk memahami kebenaran dinamanakan “hidayah irsyad/bayan” sedangkan hidayah agar kita mengikuti kebenaran disebut dengan “hidayah taufiq”.

Dalam doa ma’tsur disebutkan:

اللَّهُمَّ أَرِنِي الْحَقَّ حَقًّا وَوَفِّقْنِي لِاتِّبَاعِهِ وَأَرِنِي الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَوَفِّقْنِي لِاجْتِنَابِهِ

Ya Allah, perlihatkan kepadaku bahwa yang benar itu benar dan berikan taufiq (bimbingan) kepadaku untuk mengikutinya, dan perlihatkan kepadaku bahwa yang salah itu salah dan berikan taufiq kepadaku untuk  menjauhinya.

(Manshur bin Yunus Al-Bahuti Al-Hambali dalam Syarah Muntaha Al-Iradat (3/497) menyebutkannya sebagai doa Umar bin Khathab ra, Abu Thalib Al-Makky dalam Qut Al-Qulub (1/142) menyebutkannya dengan sedikit perbedaan redaksi sebagai doa Abu Bakar ra, sedangkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya (1/571) menyebutkannya sebagai doa ma’tsur tanpa menyebutkan siapa pemilik doa).

Beberapa BENTUK HIDAYAH yang kita perlukan agar kita sampai kepada ridhaNya:

Hidayah untuk memiliki keyakinan yang benar tentang seluruh rukun iman

 Hidayah untuk bertaubat dari dosa yang telah kita lakukan karena meninggalkan yang wajib atau mengerjakan yang haram, atau bertobat dari meninggalkan yang sunnah atau mengerjakan yang makruh, atau berlebihan dalam hal-hal yang mubah.

 Hidayah untuk memperbaiki kualitas dan atau kuantitas amal shalih yang telah kita lakukan

 Hidayah berupa keinginan kuat untuk melaksanakan amal shalih yang sebenarnya mampu kita laksanakan tetapi belum kita lakukan karena kemauan yang lemah.

 Hidayah agar mampu melaksanakan amal shalih yang amat ingin kita lakukan.

 Hidayah agar tsabat (tetap dan teguh) dalam kebaikan yang telah kita lakukan dengan baik hingga akhir hayat dan meraih husnul khatimah.

 Hidayah agar kita istiqamah di dalam semua bentuk hidayah di atas bahkan selalu diberi tambahan.

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

Dan orang-orang yang mau menerima hidayah, Allah menambah hidayah mereka dan mendatangkan untuk mereka ketakwaan. (Muhammad: 17).

 Sub Tema 3:

Penjelasan tentang salikin (orang-orang yang menempuh) jalan ibadah yang benar dan munharifin (orang-orang yang menyimpang) darinya.

 Ayat 7

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai, dan bukan pula mereka yang sesat.

Sub tema 3 memberi penjelasan tentang siapakah orang yang telah ditunjuki oleh Allah sehingga mereka dapat menempuh jalan ibadah yang lurus ini?

Mereka adalah orang-orang yang diberi ni’mat oleh Allah berupa:

1. صِحَّةُ الْفَهْمِ

Pemahaman yang benar

2. حُسْنُ الْقَصْدِ

Maksud yang baik

Pemahaman yang benar menghindarkan mereka dari penyakit syubuhat (kerancuan keyakinan) sehingga mereka tidak tersesat, sedangkan maksud atau niat yang baik menjauhkan mereka dari penyakit syahwat (memperturutkan nafsu) sehingga mereka tidak dimurkai oleh Allah.

Mereka adalah para nabi, orang-orang yang shidiq, para syuhada dan orang-orang shalih sebagaimana dijelaskan di surat An-Nisa ayat 69:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan RasulNya (Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

 Ayat ini menjelaskan bahwa satu-satunya jalan yang lurus saat ini adalah agama Islam yang diaplikasikan dalam bentuk ketaatan kepada Allah (Al-Quran) dan Muhammad Rasulullah (Sunnah atau Hadits)

Merekalah yang akan membersamai orang-orang yang sebelumnya telah diberi ni’mat oleh Allah yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin.

Sedangkan orang-orang yang menyimpang dari jalan yang lurus adalah mereka yang dimurkai dan yang tersesat.

Orang-orang yang dimurkai oleh Allah adalah mereka yang telah diberi pengetahuan tentang kebenaran nabi Muhammad tetapi tetap membangkang karena memperturutkan berbagai bentuk syahwat mereka.

Sementara orang-orang yang SESAT adalah mereka yang tidak mengenal jalan kebenaran bisa jadi disebabkan oleh kurangnya usaha menuntut ilmu, atau tidak menelaah lagi keyakinan dan jalan yang mereka tempuh dengan timbangan dalil, baik dalil sam’i (wahyu) maupun dalil aqli (logika akal sehat) yang dibimbing oleh wahyu.

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan (wahyu) atau memikirkan (dengan akal sehat) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk: 10)

Islam sebagai syariat yang dibawa oleh Rasulullah wajib diimani oleh seluruh ummat manusia yang hidup sejak beliau diutus hingga manusia akhir zaman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّة يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ (رواه مسلم)

“Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidak seorangpun yang mendengar tentang aku dari umat (manusia) ini, seorang Yahudi atau Nasrani, kemudian meninggal dunia dan tidak beriman kepada syariat yang aku diutus untuk membawanya, kecuali ia termasuk penghuni neraka”. (HR. Muslim)

Sementara Islam sebagai aqidah tauhid merupakan agama seluruh nabi dan rasul alaihimussalam, tak ada satupun nabi atau rasul yang mengajak ummatnya kepada penyembahan dirinya atau makhluk lain selain Allah, sebagaimana firmanNya tentang Nabi Ibrahim alaihissalam:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif (lurus bertauhid) lagi muslim (berserah diri kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.
Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. (Ali Imran: 67-68).

Juga firmanNya tentang Isa alaihissalam:

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَاعِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah?”

Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya).

Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu:
“Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”,
dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (Al-Maidah: 116-117).

Dan Allah menamakan semua nabi & pengikutnya sebagai kaum muslimin:

مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian “orang-orang muslim” dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hajj: 78).

والله أعلم بالصواب


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

INGINKAH DERAJAT KITA DITINGGIKAN ALLAH SWT?

Oleh: Dr. Wido Supraha
Telah berkejaran manusia di muka bumi untuk meraih derajat tertinggi di mata manusia. 
Untuk tujuan ‘besar’ ini, seluruh macam pengorbanan pun dilakukan setulus hati, tanpa mengenal lelah dan waktu.
Untuk derajat yang didambakan di dunia terkadang bahkan yang halal menjadi haram, dan yang haram menjadi halal.
Adakah pernah terbersit di dalam hati kerinduan mendapatkan derajat yang tinggi dari Pemilik manusia? Jika keinginan itu pernah ada, adakah upaya yang kita kerahkan jauh melebihi upaya kita meraih derajat tertinggi di mata manusia.
Allah Swt telah menjanjikan derajat itu di dalam Surat Mujadilah/58 ayat 11,
يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬‌ۚ
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
 Syaikh Ahmad al-Musthafa al-Maraghi menjelaskan bahwa makna dari ayat tersebut adalah bahwa Allah Swt akan meninggikan orang-orang yang diberikan ilmu di atas imannya kepada Allah Swt dengan banyak tingkatan (derajat), atau meninggikan orang-orang yang berilmu dari kalangan orang-orang beriman secara khusus dengan banyak tingkatan karamah dan ketinggian martabat.
ويرفع الذين أوتوا العلم درجات ، أي ويرفع العالمين منهم خاصة درجات فى الكرامة وعلوّ المنزلة.
(Mufradaat al-Qur’an, Maktabah Syamilah)
 Al-Imam Al-Baghawi menegaskan bahwa seorang mukmin yang berilmu posisinya berada di atas orang-orang yang tidak memiliki ilmu beberapa derajat.
المؤمن العالم فوق الذي لا يعلم درجات
(Ma’alim at-Tanzil fi Tafsir al-Qur’an, Maktabah Syamilah)
Al-Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa balasan bagi orang-orang yang berilmu berupa balasan terbaik di akhirat dan berupa karamah di dunia, dan Allah Swt meninggikan orang-orang mukmin di atas selain mukmin, dan orang-orang berilmu di atas orang-orang yang tidak memiliki ilmu.
الثَّوَابِ فِي الْآخِرَةِ وَفِي الْكَرَامَةِ فِي الدُّنْيَا، فَيَرْفَعُ الْمُؤْمِنَ عَلَى مَنْ لَيْسَ بِمُؤْمِنٍ وَالْعَالِمَ عَلَى مَنْ لَيْسَ بِعَالِمٍ
Beliau juga menjelaskan bahwa Allah Swt meninggikan orang-orang mukmin karena keimanannya terlebih dahulu, baru kemudian meninggikannya lebih tinggi lagi dengan ilmu yang dimilikinya.
فَيَرْفَعُ الْمُؤْمِنَ بِإِيمَانِهِ أَوَّلًا ثُمَّ بِعِلْمِهِ ثَانِيًا
Berkata Ibn ‘Abbas r.a. bahwa Nabi Sulaiman a.s. telah diberikan kesempatan untuk memilih antara ilmu, harta dan kerajaan, maka ia lebih memilih ilmu. Ternyata dengan pilihannya itu ia juga dikaruniai harta dan kerajaan sekaligus.
وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ: خُيِّرَ ]سُلَيْمَانُ] عَلَيْهِ السَّلَامُ [بَيْنَ الْعِلْمِ وَالْمَالِ وَالْمُلْكِ فَاخْتَارَ الْعِلْمَ فَأُعْطِيَ المال والملك معه.
(Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Maktabah Syamilah)
Abu al-‘Abbas al-Basili at-Tunisi (830H) ketika menafsirkan ayat tersebut mengutip pendapat Ibn Mas’ud r.a. yakni bertambahnya derajat dalam agama mereka jika mereka mengerjakan apa yang diperintahkan dengannya.
دَرَجَاتٍ فِي دِينِهِمْ إِذَا فَعَلُوا مَا أُمِرُوا بِهِ
(Nuktun wa Tanbihatun fi Tafsir al-Qur’an al-Majid, Maktabah Syamilah).
Al Imam Ibn Katsir menambahkan penjelasannya bahwa Allah Swt Maha Mengetahui orang-orang yang memang berhak mendapatkan hal tersebut dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya.
Beliau mengangkat satu kisah ketika Khaliah ‘Umar r.a. bertanya kepada Nafi’ bin ‘Abdil Harits r.a., pemimpin Makkah yang telah beliau angkat,
“Siapakah yang engkau angkat sebagai khalifah atas penduduk lembah?” Nafi menjawab:”Yang aku angkat sebagai khalifah atas mereka dialah Ibn Abzi, salah seorang budak kami yang telah merdeka.”
Maka ‘Umar r.a. bertanya: “Benarkah engkau telah mengangkat seorang mantan budak sebagai pemimpin mereka?”
Nafi menjawab:” Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya di adalah seorang yang ahli membaca Al-Qur’an, memahami ilmu waris dan pandai berkisah.”
Lalu ‘Umar r.a. pun mengutip sabda Nabi Saw., “Sesungguhnya Allah Swt mengangkat suatu kaum karena Al-Qur’an ini dan merendahkan dengannya juga sebagian lainnya.”
إن اله يرفع بهذا اكتب قوما و يضع به آخرين
(Muhammad Ali Ash-Shabuni, Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir, Beirut: Dar Al-Fikr, Tanpa Tahun, hlm. 465)
Syaikh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa ayat ini turun di hari Jum’at, sebagaimana riwayat dari Muqatil melalui Ibn Abi Hatim, dimana adanya kaum muslimin dari Ahlu Badr yang tentu telah dikenal sebagai kaum yang lebih awal masuk ke dalam Islam, lebih terhormat posisi dan kedudukannya, datang ke majelisnya Rasulullah Saw, namun tidak mendapatkan tempat untuk duduk sehingga mereka berdiri. Tingkat keilmuan mereka memberikan hak lebih kepada mereka atas dasar kehormatan para Ahlu Badr. (Tafsir al-Wasith, Jakarta:GIP, Jilid 3, hlm. 612)
Ayat ini menjadi ayat yang dipilih oleh Al-Imam Al Bukhari sebagai awal dari Kitab Ilmu dalam Shahih Bukhari. Al Hafizh Ibn Hajar Al Atsqalani menjelaskan bahwa derajat yang tinggi mempunyai dua konotasi, yaitu secara ma’nawiyah di dunia dengan memperoleh kedudukan yang tinggi dan reputasi yang bagus, dan hissiyah di akhirat dengan kedudukan yang tinggi di Surga. (Fathul Bari, Jilid 1, Jakarta: Pustaka Azzam, 2002, hlm. 263)
Jika derajat dari Pemilik manusia yang kita harapkan, dengan izin-Nya, derajat di sisi manusia akan diperoleh dengan penuh keberkahan.
Namun jika hanya derajat dari manusia yang diharapkan, khawatirlah jika kehinaan yang disematkan-Nya di akhirat kelak. 
Wallahul musta’an.

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doa mendapatkan anak yang salih

ISLAMIC PARENTING UNTUK KECERDASAN SPIRITUAL DAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK

📝 Pemateri: Ustzh.Dra Wirianingsih M Si.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

🌺 Apa Itu Islamic Parenting ?

Islamic parenting atau pengasuhan islami adalah pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua/orang dewasa kepada anak yang sedang tumbuh kembang secara islami.

Secara Islami ,maksudnya berdasarkan nilai-nilai Islam yang bersumber dari tuntunan al-Qur’an dan sunnah Nabi serta contoh generasi terbaik di masa lalu

Istilah Islamic parenting tidak ada dalam al Qur’an maupun sunnah Nabi. Istilah ini berkembang belakangan seiring perkembangan ilmu pengetahuan Islam dan kesadaran ummat akan pengamalan nilai Islam di semua aspek kehidupan, termasuk dalam pengasuhan anak.

💡“Hai orang2 beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka… “(QS 66:6)

💡“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah,dan menyapihnya dalam dua tahun” (QS 31:14)

💡“Para ibu hendaklah menyusukan anak2 nya selama dua tahun penuh “(QS 2:233)

💡“Dan hendaklah kalian takut meninggalkan di belakang kalian generasi yg lemah ..(QS 4:9)

💡 “…Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan anak2nya. Dia bertanggung jawab terhadap anak2nya..” (HR Bukhari dan Muslim)

💡“..Didiklah anak kalian terhadap 3 hal : mencintai Nabimu,mencintai kelg Nabi, dan ajarilah al Qur’an krn sesungguhnya org2 yg membawa al Qur’an akan mendapat perlindungan pd hari tdk ada perlindungan selain perlindungan Allah bersama para Nabi dan orang2 suci…(HR Thabrani)

💡Dari ‘Aisyah ra :’’ seorang ibu datang kepadaku dg membawa dua org anak perempuan.Lalu aku memberi makan 3 butir kurma.Kemudian sang ibu memberikan kurma itu kpd kedua anaknya masing2 satu butir dg cara menyuapi ke mulutnya agar anaknya bisa memakannya.Kedua anaknya memakan kurma tsb. Lalu sang ibu membelah satu butir kurma ketiga yg ingin ia makan.

Aku jadi terharu dengan perbuatan si ibu. Kemudian aku ceritakan apa yg aku perbuat itu kpd Rasulullah SAW. Beliau bersabda : ‘sesungguhnya Allah wajib memasukkan ibu itu ke dalam surga dan membebaskannya dari api neraka..” ( HR Bukhari dan Muslim)

🌺 KECERDASAN SPIRITUAL

Spiritualitas  merupakan kebangkitan atau pencerahan diri dalam mencapai tujuan dan makna hidup.

Kecerdasan spiritual (bahasa Inggris : spiritual quotient<disingkat SQ) adalah kecerdasan jiwa yang membantu seseorang unt mengembangkan dirinya secara utuh untuk menerapkan nilai2 positif.

SQ 👉 fasilitas yg membantu seseorang untuk mengatasi persoalan dan berdamai dg persoalannya itu.
Ciri utama SQ ditunjukkan dengan kesadaran seseorg untuk menggunakan pengalamannya sebagai bentuk penerapan nilai dan makna.
Orang yg memiliki semangat hidup sebagai bagian dari kecerdasan spiritual.

🌺CIRI SQ YANG BERKEMBANG BAIK

🎈. Kemampuan bersikap fleksibel
🎈. Mudah menyesuaikan diri dg lingkungan
🎈. Tingkat kesadaran tinggi
🎈. Mampu hadapi penderitaan & rasa sakit
🎈. Mampu mengambil pelajaran dari kegagalan
🎈. Mampu wujudkan hidup sesuai visi misi
🎈. Mampu melihat keterkaitan berbagai hal
🎈. Mandiri
🎈. Mengerti makna hidup

🌺KECERDASAN EMOSIONAL

Kecerdasan emosional (bahasa Inggris emotional quotient,disingkat EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima ,menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain disekitarnya.

Emosi > perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan

Kecerdasan > kapasitas unt berikan hubungan valid atas suatu hubungan

Sebuah penelitian membuktikan bahwa kecerdasan emosional memiliki peran dua kali lebih penting dari kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi erhadap kesuksesan seseorang.

🌺CIRI-CIRI EQ YANG BERKEMBANG BAIK

🍂. Mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri
🍂. Memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain
🍂. Mampu merespon dan bernegosiasi dg orang lain secara emosional
🍂. Dapat gunakan emosi untuk motivasi diri

🌺APA RELEVANSI  IP DENGAN SQ DAN EQ ?

Islam adalah agama fitrah. Agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Karenanya, ajaran Islam miliki pengaruh terhadap kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosi seseorang.

🔎Semakin dini penanaman nilai-nilai keislaman , akan semakin baik pada perkembangan SQ dan EQ pada anak.🔍

Misal : membiasakan shalat pada usia 6 tahun pada anak sesuai anjuran Rasulullah SAW akan menjadikan anak memahami bahwa ia adalah makhluq ciptaan Allah. Ia sedang menyembah Allah tempat bersandar seluruh manusia.

Aspek IP-nya : orang tua menjadi model dengan melaksanakan shalat secara teratur , sehingga anak akan meniru apa yg dilakukan oleh ortu.

Contoh lain : tentang syukur
Islam mengajarkan tentang hendaknya seorang muslim senantias mengucapkan alhamdulillah saat mendapat ni’mat dan saat bahagia.
Bersyukur akan memunculkan rasa tenang.
Membiasakan anak mengucapkan terima kasih juga untuk menumbuhkan sifat suka menghargai pada orang lain

Beberapa catatan :
💡. Spiritual tidak sama dengan agama.
💡. Bahwa ada hubungan agama dan tingkat spiritualitas seseorang, itu benar
💡. Spiritualitas adalah kesadaran tentang diri dan kesadaran individu tentang asal, tujuan,dan nasib
💡. Spiritualitas memberikan jawaban siapa dan apa seseorang itu ( keberadaan dan kesadaran)
💡. Agama memberikan jawaban apa yg harus/tidak dikerjakan seseorang

🌺MACAM POLA ASUH

MENURUT  BAUMRIND

▪Pola asuh demokratis,
▪Pola asuh otoriter, dan
▪ Pola asuh permisif.

Dalam pandangan Islam, pengasuhan pada anak sejak dimulai dalam masa kehamilan. Anak sudah mulai bisa merasakan sentuhan spiritualitas dan emosi ibunya sejak dalam kandungan

Al QUR’AN berikan gambaran bagaimana seharusnya orang tua mengasuh anaknya. Lihat Kisah Nabi Ibrahim as, kisah Nabi Ya’qub as, kisah keluarga Imran

Anak-anak yang tumbuh dalam asuhan kedua orang tua dan lingkungan yang baik akan menjadi anak2 yang sehat ruhani, jasmani, aqli, nafsi..dan dapat memberikan manfaat/kontribusi pada masanya..

Wallohu a’lam bis showaab.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Majelis ilmu

Fiqih Dakwah (Bag. 3)

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Qawaa’idud Da’wah (Kaidah-Kaidah Da’wah)

Berikut ini adalah kaidah-kaidah yang mesti diperhatikan oleh para da’i agar tidak salah dalam melangkah.

1⃣      Al Qudwah qabla Ad Da’wah (Memberikan keteladanan sebelum mengajak)

Yaitu hendaknya para da’i memperhatikan dirinya dulu sebelum orang lain. Berupa perbaikan tauhidnya, akhlaknya, ruhiyahnya, penampilannya, tutur katanya, dan tentunya pemahamannya. Sebab seorang da’i adalah “model” di tengah masyarakatnya, mau tidak mau dia mesti siap menjadi teladan bagi yang lainnya. Dan, tidak mungkin diteladani kecuali yang memang pantas untuk itu.

Allah ﷻ  berfirman:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَأَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab? Maka tidaklah kamu berpikir? (QS. Al Baqarah: 44)

2⃣       Al ‘Ilmu qabla Al ‘Amal

Yaitu hendaknya para da’i perhatian betul pada perkara ini. Sebab amal tanpa ilmu potensi merusaknya lebih besar. Amal yang didasari kebodohan dampak penyimpangannya begitu terbuka lebar. Oleh karenanya Allah ﷻ berfirman “fa’lam annahu laa ilaaha illallaah – maka ketahuilah bahwa  tidak ada Ilah kecuali Dia.” (QS.Muhammad: 19).  Allah ﷻ mendahulukan ilmu sebelum menegaskan ketuhanan diriNya. Ayat ini dijadikan pembuka oleh Imam Al Bukhari dalam kitab Shahih-nya, pada Bab: Al ‘Ilmu qablal Qauli wal ‘Amal – Ilmu Sebelum Perkataan dan Perbuatan. Sebab tidaklah shahih sebuah perkataan dan amal kecuali berdasarkan ilmu.

Dalam ayat yang lain:

قل هذه سبيلي أدعو إلى الله على بصيرة أنا ومن اتبعني وسبحان الله وما أنا من المشركين

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108)

Apakah Bashirah dalam ayat ini? Imam Asy Syaukani Rahimahullah menjelaskan:

أَيْ عَلَى حُجَّةٍ وَاضِحَةٍ، وَالْبَصِيرَةُ: الْمَعْرِفَةُ الَّتِي يَتَمَيَّزُ بِهَا الْحَقُّ مِنَ الْبَاطِلِ

Yaitu di atas hujjah yang nyata, “Al Bashirah” yaitu pengetahuan yang dengannya dapat membedakan antara Al Haq dan Al Bathil.” (Fathul Qadir, 3/71)

Imam Al Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata:

الْعَامِل على غير علم كالسالك على غير طَرِيق وَالْعَامِل على غير علم مَا يفْسد اكثر مِمَّا يصلح فَاطْلُبُوا اللم طلبا لَا تضروا بِالْعبَادَة واطلبوا الْعِبَادَة طلبا لَا تضروا بِالْعلمِ فَإِن قوما طلبُوا الْعِبَادَة وَتركُوا الْعلم حى خَرجُوا بِأَسْيَافِهِمْ على امة مُحَمَّد وَلَو طلبُوا الْعلم لم يدلهم على مَا فعلوا

Orang yang beramal tidak  berdasarkan ilmu bagaikan orang yang berjalan di atas jalan yang tidak benar. Orang yang beramal tanpa ilmu apa yang dirusaknya lebih banyak dibanding yang dia perbaiki, maka tuntutlah ilmu selagi dia tidak mengganggu ibadahmu, dan beribadahlah selama tidak mengganggu pencarian ilmu. Sesungguhnya ada kaum yang beribadah tapi meninggalkan ilmu akhirnya mereka memberontak dengan pedang mereka melawan umat Muhammad ﷺ (maksudnya kelompok Khawarij, pen), seandainya mereka mau menuntut ilmu niscaya mereka tidak akan melakukan itu. (Dikutip oleh Imam Ibnul Qayyim,Miftah Dar As Sa’adah,  1/83)

3⃣      Al Faraaidh qabla An Nawaafil (Ajaklah kepada yang wajib sebelum kepada yang sunah)

Yaitu hendaknya para da’i mengajarkan dan menganjurkan umat kepada yang wajib-wajib dahulu. Baik yang wajib untuk diketahui dan yang wajib untuk diamalkan. Bukan berarti meremehkan yang sunah, tetapi ini merupakan tuntutan syariat itu sendiri dan jalan yang ditempuh da’wah Nabi ﷺdan para sahabatnya. Agar umat tidak bermalas-malasan pada kewajibannya, namun dia sangat semangat dan berbangga dengan yang sunah. Ajaklah kepada shalat lima waktu sebelum rawatibnya, puasa Ramadhan sebelum senin kamisnya, berbakti kepada orang tua sebelum kepada saudaranya, dan semisalnya.

Syaikh Zakariya bin Ghulam Al Bakistani mencontohkan:

كما لو أدى فعل نافلة إلى ترك فريضة كالذي يصلي بالليلطويلاً وينام عن صلاة الفجر ، فإنه لا يشرع له قيام الليلإذا كان ذلك سببا لتركه صلاة الفجر 

Sebagaimana seandainya seorang melakukan shalat sunah yang membuat tertinggalnya shalat wajib. Seperti seorang yang shalat malam begitu lama, namun dia tertidur dari shalat subuhnya. (Ushul Al Fiqh ‘Ala Manhaj Ahlil Hadits, Hal.  114)

4⃣     Al Ushuul qabla Al Furuu’ (Ajaklah kepada yang pokok dan dasar sebelum pada cabang-cabangnya)

Yaitu  hendaknya para da’i mengingatkan kepada rukun Islam, rukun iman, aqidah yang benar, bahaya syirik, munafiq,  dan pokok-pokok lain dari agama ini. Semua ini agar lahir keyakinan dan  cinta yang mendalam kepada agama. Sebelum dia mengaajak dan mengajarkan kepada cabang-cabangnya, seperti jamak qashar, adab makan dan minum, dan semisalnya. Semua bagian ini, Insya Allah, akan mendapatkan perhatian juga yang penting sisi dasar-dasar agama ini sudah dicover dengan baik. Sebab bagusnya yang pokok berefek pada bagusnya yang cabang. Ini jika konteksnya da’wah kepada orang awam apalagi mualaf. Ada pun jika da’wah kepada kaum terpelajar dan sudah punya basic agama yang cukup tentu lain lagi prioritasnya.

Contoh sederhana dalam masalah ini adalah bahwa meyakini bahwa Al Quran sebagai kalamullah (firman Allah) merupakan pokok agama, dan kafir bagi yang mengingkarinya,  tetapi meyakini membaca Bismillah dikeraskan atau dipelankan ketika membaca Al Fatihah adalah masalah cabangnya. Meyakinan bahwa zakat sebagai salah satu rukun Islam adalah pokok agama, dan kafir bagi yang mengingkari kewajibannya, tetapi membahas apakah ada zakat pada sayur mayur? Apakah ada zakat pada penghasilan? Ini adalah masalah cabang, yang tidak membuat kufur jika ada yang menyalahinya.

5⃣      Al Ittifaaq qabla Al Ikhtilaaf (Ajaklah kepada perkara yang disepakati sebelum mengajarkan hal-hal yang diperselisihkan)

Yaitu hendaknya para da’i mengajak dan mengingatkan umat pada perkara-perkara yang disepakati oleh umat ini, dan telah menjadi aksiomatik dalam agama. Jangan lahirkan fitnah dengan menyeret mereka dalam perkara perselisihan yang para cerdik cendikia pun tidak pernah selesai dalam mendiskusikannya. Sebab,  sikap itu lebih dekat pada perpecahan dan kotornya hati dibanding iman dan ridha kepada saudara sesama muslim.

Ajaklah umat kepada mengimani Allah ﷺ, agar meyakiniNya sebagai pencipta, pemberi rizki, pengatur hidup, yang menghidupkan dan mematikan, yang berhak disembah secara haq, dan pemilik otoritas tertingga dalam tasyri’ (perundang-undangan). Semua umat Islam sepakat ini, walau secara praktek di lapangan di antara mereka ada yang menyimpang dari kesepakatan ini.   Jangan dulu ajak orang awam meributkan perbedaan salaf dan khalaf tentang makna “wajah Allah”, “tangan Allah”, “Allah bersemayam di atas arsy”, “Allah turun ke langit dunia”, dan semisalnya, yang justru membuat mereka bingung, bahkan akhirnya lari dari agama seperti yang terjadi di beberapa negara. Para mualaf kembali murtad lantaran sebagian da’i Islam saling mengkafirkan, lalu para mualaf diseret-seret untuk larut dalam perdebatan itu.  Likulli maqaamin maqaal …. setiap kedudukan ada temanya masing-masing.

Contohnya lainnya, ajaklah umat kepada menjaga shalat yang lima, ajarkan kekhusyu’an, tumaninah, dan semisalnya. Semua sepakat atas hal ini. Jangan dulu ajarkan mereka tentang bahwa “ada lebih 20 pendapat tentang jarak dibolehkannya shalat qashar”, atau “15 pendapat tentang batas minimal jumlah jamaah untuk sahnya shalat jumat”, toh masalah-masalah seperti secara alamiah akan mereka cari juga dengan sendirinya seiring dengan kedewasaan ilmu dan usia.

6⃣     Yassiruu walaa tu’assiruu (Permudahlah dan jangan persulit)

Yaitu ajak mereka kepada hal yang mudah selama ada dasarnya dan tidak mengandung dosa. Bukan mudah mencari yang enak-enak sesuai selera dan hawa nafsu tentunya.

Sebab agama ini memang mudah, Allah  ﷻ berfirman:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”(QS. Al Baqarah: 185)

“Allah memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An Nisa’: 28)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah suka jika rukhshah (dispensasi) yang diberikannya dilakukan, sebagaimana Ia juga suka jika ‘azimah (kewajiban awal sebelum dirukhshah)nya dikerjakan.” (HR. Ahmad dan Baihaqy.  Imam Thabarany meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud. Shahih menurut Syaikh al Albany dalam Shahih alJami’ Ash Shaghir, no. 1881. Al Haitsami mengatakan dua jalur tersebut rijalnya tsiqah)

Dari Ibnu  Umar Radhiallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah suka jika rukhshahnya dilaksanakan, sebagaimana ia benci jika maksiat dikerjakan.” (HR.Ahmad, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkannya, 5866, 5873. Ibnu Hibban dalam shahihnya, 2742. Al Haitsami mengatakan rijalnya shahih)

Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha,“Sesungguhnya Rasulullah jika dihadapkan dua perkara, dia akan memilih yang lebih ringan, selama tidak berdosa.” (HR. Bukhari dan Muslim, Al Lu’lu wal Marjan. Kitab al Fadhail, Bab Muba’adatuhu Shallallahu ‘alaihi wa Sallam  lil Atsam …, No. 1502)

7⃣       Basysyiruu walaa tunaffiruu (Berikan kabar gembira jangan buat orang lari)

Yaitu hendaknya para da’i menyeimbangkan antara kabar gembira dan peringatan. Terlalu banyak peringatan akan membuat umat lari, terlalu banyak kabar gembira akan membuat mereka terlena. Maka, seimbangkan antara keduanya sebagaimana Allah ﷻ dan RasulNya ajarkan.

Maka, beritakan tentang ajakan persatuan, ayatnya, juga haditsnya, walau kita katakan bahwa telah menjadi kenyataan sejarah jika umat ini berpecah. Tetapi perintah syar’inya adalah bersatu.

Beritakan tentang dosa-dosa  dan ancamannya yang pedih, baik dunia dan akhirat, sebagaimana beritakan pula amal-amal mulia dan ganjarannya yang nikmat dan abadi, di dunia dan akhirat.

Hadits dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda: “Berikanlah kemudahan jangan mempersulit, berikanlah kabar gembira, jangan buat mereka lari.” (HR. Imam Bukhari. Al Lu’lu’ wal Marjan.Kitab al Jihad, Bab Fi al Amr at Taysir wa Tarku at Tanfir. no. 1131)

Demikian. Wallahu A’lam

Bersambung ….

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

Berkeluarga Dengan Memahami Misi Kita Sebagai Manusia

📝 Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj M.Ag.

🌿🌺🍂🍀🌻🍄🌷🍁🌹

Berdegup kencang jantung ibunda Hajar saat sang suami Ibrahim AS berkemas pergi meninggalkannya bersama bayi merah tak berdaya di kaki sebuah bukit tandus tanpa tanda-tanda kehidupan. Tak nampak pepohonan, sumber air dan manusia disana. Berbekal sekeranjang kecil kurma dan sebotol air, Hajar harus bertahan ditempat itu.

Saat langkah Ibrahim AS mulai berbilang, dengan mata yang berkaca Hajar bertanya : ”Apakah Allah memerintahkan ini kepadamu?”.

Jawaban yang sangat singkat Ibrahim lontarkan karena sesungguhnya hatinya begitu berat meninggalkan istri dan anak yang ia tunggu sejak lama. Ibrahim AS menjawab : “Ya”.
Dan  seketika itu Allah turunkan ketenangan ke dalam jiwa Hajar. Hilang sudah gundah hatinya berganti dengan keyakinan dan optimisme   akan datangnya pertolongan Allah SWT.

Ketenangan Hajar bersamaan dengan merunduknya Ibrahim AS. Sejak melangkahkan kaki dari samping sang istri, tak sekalipun Ibrahim menoleh ke belakang. Air mata berurai sambil menahan gemuruh perasaannya. Ia mempercepat langkah agar segera hilang dari pandangan Hajar.

Dan begitu sampai di tempat yang tak lagi terlihat Hajar, Ibrahim merunduk bersujud kepada Allah menumpahkan segala gundahnya dan memohon perlindungan-Nya.

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“ Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim : 37)

Teladan yang Allah sematkan pada keluarga Ibrahim AS dilatarbelakangi karena kesadaran penuh mereka terhadap eksistensi dirinya.

Nabi Ibrahim AS dan ibunda Hajar menyadari betul bahwa mereka adalah hamba Allah SWT yang memiliki tugas utama untuk beribadah kepada-Nya. Gejolak jiwa Hajar yang seketika berganti dengan ketenangan tidaklah mudah dilakukan banyak orang, kecuali jika seseorang menyadari bahwa statusnya sebagai hamba Allah memiliki misi untuk beribadah kepada-Nya.

Seorang hamba tentu saja harus mengikuti apa yang diinginkan oleh tuannya. Seorang hamba Allah harus mengikuti semua keinginan Allah SWT. Penghambaan seseorang kepada Allah ditandai dengan kepasrahannya kepada semua ketentuan Allah.

🔊Berprasangka baik dengan segala ketentuan-Nya dan meyakini akan datangnya pertolongan dan kebaikan dari ketentuan itu.🔊

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُون

” Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu”. (QS Adz Dzaariyat: 56)

Tidak hanya beribadah kepada Allah SWT yang menjadi misi manusia tapi ia diberikan misi lain yaitu memakmurkan bumi.

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ 

“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada bagimu Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat dan memperkenankan (hamba-Nya).” (QS Huud : 61)

Menjalankan kedua misi yang diemban oleh manusia di atas bukanlah hal yang mudah. Namun Allah SWT Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang membekali kepantasan kepada manusia untuk bisa menunaikan misinya.

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS Al-Isra : 70)

Kemuliaan manusia, Allah bimbing agar bermanfaat untuk menjalankan misi dengan dihadirkannya para nabi dan Rasul yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ رُسُلا إِلَى قَوْمِهِمْ فَجَاءُوهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَانْتَقَمْنَا مِنَ الَّذِينَ أَجْرَمُوا وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus sebelum engkau (Muhammad) beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan merupakan hak Kami menolong orang-orang yang beriman.” (QS Ar-Ruum:47)

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS Al-Fath : 28)

🌹Berkeluarga adalah satu cara manusia dalam menjalankan misinya.

🌹Berkeluarga adalah IBADAH kepada Allah.

🌹Berkeluarga adalah memakmurkan bumi dan kehidupan.

🌹Berkeluarga adalah menunjukkan sifat dan sikap mulia manusia.

🔎Keluarga yang mulia adalah keluarga yang mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya sehingga seluruh anggota keluarga menjadi orang-orang yang kompeten menunaikan misinya sebagai manusia.🔍

Kesadaran dan kefahaman akan korelasi antara misi manusia dengan keluarga merupakan poin penting yang harus terus ditanamkan. Kehidupan modern yang semakin kompleks disertai gangguan-gangguan yang ditujukan kepada keluarga muslim, menuntut kita untuk memahami secara jernih landasan dasar kita berkeluarga.

Kita seringkali mencari solusi atas masalah yang terjadi pada keluarga kita dengan mengandalkan teori praktis, sebab akibat, factor ekonomi, social, kultur, psikologi, dll.

Dan kita seringkali lupa bahwa rapuhnya tatanan keluarga kita sesungguhnya karena ketidakfahaman anggota keluarga akan landasan dasar berkeluarga. Sehingga tidak heran bila banyak ditemukan masalah keluarga yang sama terjadi berulang-ulang dengan subyek yang sama padahal sejumlah trik dan tips sudah dicoba diberikan dan dipraktekan.

Tak akan ada Ibrahim AS yang rela meninggalkan istri dan anaknya di padang tandus, tak akan ada Hajar yang penuh tawakkal dan optimis menghadapi kehidupan berat bersama bayi merahnya jika mereka tak memahami hakikat diri, misi dan kemuliaan yang Allah berikan kepadanya.

Maka kefahaman itulah yang kita butuhkan dalam berkeluarga.
Misi manusia untuk beribadah dan memakmurkan bumi, berbekal kompetensi yang Allah berikan yaitu menjadi makhluk yang mulia.
Dan kemuliaan itu berjalan efektif bila dijalankan sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Semoga Allah kokohkan keluarga-keluarga kita dengan kefahaman kita akan agama yang terus bertambah dan kedekatan kita kepada-Nya yang terus meningkat.

Wallohu a’lam bis showaab.

🌿🌺🍂🍀🌻🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Janganlah Suka Menghinda Diri Sendiri

TIGA HAL ISTIMEWA DAN PENUH MAKNA

📝 Pemateri: Ust. Farid Nu’man Hasan

Ada TIGA  hal yang membinasakan:
1. Kikir yang dituruti
2. Hawa nafsu yang ditaati
3.Seorang kagum dgn diri sendiri

TIGA hal yang menyelamatkan:
1. Takut kepada Allah dalam kesendirian dan keramaian
2. Sederhana dlm keasaan faqir dan kaya
3. Adil dlm keadaan ridha dan marah

TIGA hal yang meninggikan derajat:
1. Menyebarkan salam
2. Bangun utk shalat malam ktk manusia tidur
3. Memberikan makanan

TIGA hal yang menghapuskan dosa:
1. Menyempurnakan wudhu
2. Berjalan ke masjid
3. Menunggu waktu dari shalat ke shalat

Ada TIGA jenis manusia..:
1. Zhalimun linafsih (zalim thdp diri sndiri)
2. Muqtashid (pertengahan)
3. Sabiqun bil khairat (terdepan dalam kebaikan)

Ada TIGA ciri munafiq:
1. Jika bicara dia bohong
2. Jika janji dia ingkar
3. Jika diberi amanah dia khianat

Ada TIGA macam kezaliman:
1. Kezaliman yg tidak Allah ampuni (syirik)
2. Kezaliman yg diampuni
3. Kezaliman yg tidak akan Allah biarkan

Jika mati manusia semua amal terputus kecuali TIGA:
1⃣. Sedekah jariyah
2⃣. Ilmu yg bermanfaat
3⃣. Doa anak shalih

Ada TIGA surat yang disebut al muawidzaat:
1⃣. Al Ikhlash
2⃣. Al Falaq
3⃣. An Naas

Ada TIGA panglima jihad yg syahid dalam perang Mu’tah:
1⃣. Zaid bin Haritsah
2⃣. Ja’far bin Abi Thalib
3⃣. Abdullah bin Rawahah

Ada TIGA masjid yg sgt dianjurkan dikunjungi:
1⃣. Masjid Al Haram
2⃣. Masjid An Nabawi
3⃣. Masjid Al Aqsha

Ada TIGA cinta utama bagi kaum beriman:
1⃣. Allah
2⃣. Rasul
3⃣. Jihad

Wallohu a’lam bis showaab.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Sebarkan! Raih Pahala

Dipersembahkan oleh : manis.id

📲 Follow IG MANIS: http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Jaman Riba Tersebar

Bahaya Riba dan Seluk Beluknya

📝 Pemateri: Ust. Rikza Maulan, Lc., M Ag.

Dari Jabir ra berkata, bahwa Rasulullah SAW melaknat orang yang memakan riba, orang yang memberikannya, penulisnya dan dua saksinya, dan beliau berkata, mereka semua adalah sama. (HR. Muslim)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالُوا حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Dari Jabir ra berkata, bahwa Rasulullah SAW melaknat orang yang memakan riba, orang yang memberikannya, penulisnya dan dua saksinya, dan beliau berkata, mereka semua adalah sama. (HR. Muslim)

💡Sekilas Tentang Hadits

Hadits ini merupakan hadits yang disepakati kesahihannya oleh para ulama hadits. Diriwayatkan oleh banyak Imam hadits, diantaranya :

Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Musaqat, Bab La’ni Aakilir Riba Wa Mu’kilihi, hadits no 2995.

Imam Ahmad bin Hambal ra, dalam Musnadnya, dalam Baqi Musnad Al-Muktsirin, hadits no 13744.

Selain itu, hadits ini juga memiliki syahid (hadits yang sama yang diriwayatkan melalui jalur sahabat yang berbeda), diantaranya dari jalur sahabat Abdullah bin Mas’ud dan juga dari Ali bin Abi Thalib, yang diriwayatkan oleh :

Imam Turmudzi dalam Jami’nya, Kitab Buyu’ An Rasulillah, Bab Ma Ja’a Fi Aklir Riba, hadits no 1127.

Imam Nasa’I dalam Sunannya, Kitab At-Thalaq, Bab Ihlal Al-Muthallaqah Tsalasan Wan Nikahilladzi Yuhilluha Bihi, Hadits no. 3363.

Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Fi Aklir Riba Wa Mu’kilihi, hadits no. 2895.

Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya di banyak tempat, diantaranya pada hadits-hadits no 3539, 3550, 3618, 4058, 4059, 4099, 4171 dsb.

Imam Ad-Darimi dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Fi Aklir Riba Wa Mu’kilihi, hadits no 2423.

Makna Hadits Secara Umum

Hadits yang sangat singkat di atas, menggambarkan mengenai bahaya dan buruknya riba bagi kehidupan kaum muslimin. Begitu buruk dan bahayanya riba, sehingga digambarkan bahwa Rasululla SAW melaknat seluruh pelaku riba. Pemakannya, pemberinya, pencatatnya maupun saksi-saksinya. Dan keesemua golongan yang terkait dengan riba tersebut dikatakan oleh Rasulullah SAW; “Mereka semua adalah sama.”

Pelaknatan Rasulullah SAW terhadap para pelaku riba menggabarkan betapa munkarnya amaliyah ribawiyah, mengingat Rasulullah SAW tidak pernah melaknat suatu keburukan, melainkan keburukan tersebut membawa kemadharatan yang luar biasa, baik dalam skala indiividu bagi para pelakunya, maupun dalam skala mujtama’ (baca ; maysarakat) secara luas.

Oleh karenanya, setiap muslim wajib menghindarkan dirinya dari praktek riba dalam segenap aspek kehidupannya. Dan bukankah salah satu sifat (baca ; muwashofat) yang harus dimiliki oleh setiap aktivis da’wah adalah “memerangi riba”?

Namun realitasnya, justru tidak sedikit yang justru menyandarkan kasabnya dari amaliyah ribawiyah ini.

🔎 Makna Riba

Dari segi bahasa, riba berarti tambahan atau kelebihan.
Sedangkan dari segi istilah para ulama beragam dalam mendefinisikan riba.

Definsi yang sederhana dari riba adalah pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal, secara bathil. (baca ; bertentangan dengan nilai-nilai syariah).

Definisi lainnya dari riba adalah ; segala tambahan yang disyaratkan dalam transaksi bisnis tanpa adanya padanan yang dibenarkan syariah atas penambahan tersebut.

Intinya adalah, bahwa riba merupakan segala bentuk tambahan atau kelebihan yang diperoleh atau didapatkan melalui transaksi yang tidak dibenarkan secara syariah. Bisa melalui “bunga” dalam hutang piutang, tukar menukar barang sejenis dengan kuantitas yang tidak sama, dan sebagainya. Dan riba dapat tejadi dalam semua jenis transaksi maliyah.

Pada masa jahiliyah, riba terjadi dalam pinjam meminjam uang. Karena masyarakat Mekah merupakan masyarakat pedangang, yang dalam musim-musim tertentu mereka memerlukan modal untuk dagangan mereka. Para ulama mengatakan, bahwa jarang sekali terjadi pinjam meminjam uang pada masa tersebut yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif.

Pinjam meminjam uang terjadi untuk produktifitas perdatangan mereka. Namun uniknya, transaksi pinjam meminjam tersebut baru dikenakan bunga, bila seseorang tidak bisa melunasi hutangnya pada waktu yang telah ditentukan. Sedangkan bila ia dapat melunasinya pada waktu yang telah ditentukan, maka ia sama sekali tidak dikenakan bunga. Dan terhadap transaksi yang seperti ini, Rasulullah SAW menyebutnya dengan riba jahiliyah.

🔎 Riba Merupakan Dosa Besar

Semua ulama sepakat, bahwa riba merupakan dosa besar yang wajib dihindari dari muamalah setiap muslim. Bahkan Sheikh Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya Bunga Bank Haram mengatakan, bahwa tidak pernah Allah SWT mengharamkan sesuatu sedahsyat Allah SWT mengharamkan riba.

Seorang muslim yang hanif akan merasakan jantungnya seolah akan copot manakala membaca taujih rabbani mengenai pengharaman riba (dalam QS. 2 : 275 – 281). Hal ini karena begitu buruknya amaliyah riba dan dampaknya bagi kehidupan masyarakat.

Dan cukuplah menggambarkan bahaya dan buruknya riba, firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah 275 :

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Orang-orang yang memakan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran tekanan penyakit gila. Hal itu karena mereka mengatakan, bahwasanya jual beli itu adalah seperti riba. Dan Allah menghalalkan jual beli serta mengharamkan riba. Maka barangsiapa yang telah datang padanya peringatan dari Allah SWT kemudian ia berhenti dari memakan riba, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu dan urusannya terserah keapda Allah. Namun barang siapa yang kembali memakan riba, maka bagi mereka adalah azab neraka dan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.

Dalam hadits, Rasulullah SAW juga mengemukakan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ (متفق عليه)

Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah SAW berkata, ‘Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan !’ Para sahabat bertanya, ‘Apa saja tujuh perkara tersebut wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah SWT kecuali dengan jalan yang benar, memakan riba, mamakan harta anak yatim, lari dari medan peperangan dan menuduh berzina pada wanita-wanita mu’min yang sopan yang lalai dari perbuatan jahat. (Muttafaqun Alaih).

🔎 Periodisasi Pengharaman Riba

Sebagaimana khamar, riba tidak Allah haramkan sekaligus, melainkan melalui tahapisasi yang hampir sama dengan tahapisasi pengharaman khamar:

1. Tahap pertama dengan mematahkan paradigma manusia bahwa riba akan melipatgandakan harta. Pada tahap pertama ini, Allah SWT hanya memberitahukan pada mereka, bahwa cara yang mereka gunakan untuk mengembangkan uang melalui riba sesungguhnya sama sekali tidak akan berlipat di mata Allah SWT. Bahkan dengan cara seperti itu, secara makro berakibat pada tidak tawazunnya sistem perekonomian yang berakibat pada penurunan nilai mata uang melalui inflasi. Dan hal ini justru akan merugikan mereka sendiri.

Pematahan paradigma mereka ini Allah gambarkan dalam QS. 30 : 39 ; “Dan sesuatu tambahan (riba) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, mak riba itu tidak menambah pada sii Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)”.

2. Tahap kedua : Memberitahukan bahwa riba diharamkan bagi umat terdahulu. Setelah mematahkan paradigma tentang melipat gandakan uang sebagaimana di atas, Allah SWT lalu menginformasikan bahwa karena buruknya sistem ribawi ini, maka umat-umat terdahulu juga telah dilarang bagi mereka. Bahkan karena mereka tetap bersikeras memakan riba, maka Allah kategorikan mereka sebagai orang-orang kafir dan Allah janjikan kepada mereka azab yang pedih.

Hal ini sebagaimana yang Allah SWT firmankan dalam QS 4 : 160 – 161 : “Maka disebabkan kezaliman orang-orang yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi manusia dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dialarang dari padanya, dan karena mereka harta dengan cara yang bathil. Kami telah menyediaka nuntuk orang-orang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih”.

3. Tahap ketiga : Gambaran bahwa riba secara sifatnya akan menjadi berlipat ganda. Lalu pada tahapan yang ketiga, Allah SWT menerangkan bahwa riba secara sifat dan karakernya akan menjadi berlipat dan akan semakin besar, yang tentunya akan menyusahkan orang yang terlibat di dalamnya. Namun yang perlu digarisbawahi bahwa ayat ini sama sekali tidak menggambarkan bahwa riba yang dilarang adalah yang berlipat ganda, sedangkan yang tidak berlipat ganda tidak dilarang.

Pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang keliru dan sama sekali tidak dimaksudkan dalam ayat ini. Allah SWT berifirman (QS. 3:130), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”

4. Tahap keempat : Pengharaman segala macam dan bentuk riba. Ini merupakan tahapan terakhir dari seluruh rangkaian periodisasi pengharaman riba. Dalam tahap ini, seluruh rangkaian aktivitas dan muamalah yang berkaitan dengan riba, baik langsung maupun tidak langsung, berlipat ganda maupun tidak berlipat ganda, besar maupun kecil, semuanya adalah terlarang dan termasuk dosa besar.

Allah SWT berfirman dalam QS. 2 : 278 – 279 ; “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan seluruh sisa dari riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Alla hdan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.”

🔎 Buruknya Muamalah Ribawiyah

Terlalu banyak sesungguhnya dalil baik dari Al-Qur’an maupun sunnah, yang menggambarkan tentang buruknya riba, berikut adalah ringkasan dari beberapa dalil mengenai riba :

Orang yang memakan riba, diibaratkan seperti orang yang tidak bisa berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan, lantaran (penyakit gila). (QS. 2 : 275).

Pemakan riba, akan kekal berada di dalam neraka. (QS. 2 : 275).

Orang yang “kekeh” dalam bermuamalah dengan riba, akan diperangi oleh Allah dan rasul-Nya. (QS. 2 : 278 – 279).

Seluruh pemain riba; kreditur, debitur, pencatat, saksi, notaris dan semua yang terlibat, akan mendapatkan laknat dari Allah dan rasul-Nya. Dalam sebuah hadits diriwayatkan : “Dari Jabir ra bahwa Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, yang memberikannya, pencatatnya dan saksi-saksinya.” Kemudian beliau berkata, “ Mereka semua sama!”. (HR. Muslim)

Suatu kaum yang dengan jelas “menampakkan” (baca ; menggunakan) sistem ribawi, akan mendapatkan azab dari Allah SWT. Dalam sebuah hadtis diriwayatkan : “Dari Abdullah bin Mas’ud ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah suatu kaum menampakkan (melakukan dan menggunakan dengan terang-terangan) riba dan zina, melainkan mereka menghalalkan bagi diri mereka sendiri azab dari Allah.” (HR. Ibnu Majah)

Dosa memakan riba (dan ia tahu bahwa riba itu dosa) adalah lebih berat daripada tiga puluh enam kali perzinaan. Dalam sebuah hadits diriwayatkan : “Dari Abdullah bin Handzalah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Satu dirham riba yang dimakan oleh seseorang dan ia mengetahuinya, maka hal itu lebih berat dari pada tiga puluh enam kali perzinaan.” (HR. Ahmad, Daruqutni dan Thabrani).

Bahwa tingkatan riba yang paling kecil adalah seperti seoarng lelaki yang berzina dengan ibu kandungnya sendiri. Dalam sebuah hadits diriwayatkan : “Dari Abdullah bin Mas’ud ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Riba itu tujuh puluh tiga pintu, dan pintu yang paling ringan dari riba adalah seperti seorang lelaki yang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.” (HR. Hakim, Ibnu Majah dan Baihaqi).

Dengan dalil-dalil sebagaimana di atas, masihkah ada seorang muslim yang “kekeh” bermuamalah ribawiyah dalam kehidupannya?

🔎 Praktik Riba Dalam Kehidupan

Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa riba adalah segala tambahan yang disyaratkan dalam transaksi bisnis tanpa adanya padanan yang dibenarkan syariah. Praktek seperti ini dapat terjadi dihampir seluruh muamalah maliyah kontemporer, diantaranya adalah pada :

1. Transaksi Perbankan

Sebagaimana diketahui bersama, bahwa basis yang digunakan dalam praktek perbankan (konvensional) adalah menggunakan basis bunga (interest based). Dimana salah satu pihak (nasabah), bertindak sebagai peminjam dan pihak yang lainnya (bank) bertindak sebagai pemberi pinjaman. Atas dasar pinjaman tersebut, nasabah dikenakan bunga sebagai kompensasi dari pertangguhan waktu pembayaran hutang tersebut, dengan tidak memperdulikan, apakah usaha nasabah mengalami keuntungan ataupun tidak.

Praktek seperti ini sebenarnya sangat mirip dengan praktek riba jahiliyah pada masa jahiliyah. Hanya bedanya, pada riba jahiliyah bunga baru akan dikenakan ketika si peminjam tidak bisa melunasi hutang pada waktu yang telah ditentukan, sebagai kompensasi penambahan waktu pembayaran. Sedangkan pada praktek perbankan, bunga telah ditetapkan sejak pertama kali kesepakatan dibuat, atau sejak si peminjam menerima dana yang dipinjamnya. Oleh karena itulah tidak heran, jika banyak ulama yang mengatakan bahwa praktek riba yang terjadi pada sektor perbankan saat ini, lebih jahiliyah dibandingkan dengan riba jahiliyah.

Selain terjadi pada aspek pembiyaan sebagaimana di atas, riba juga terjadi pada aspek tabungan. Dimana nasabah mendapatkan bunga yang pasti dari bank, sebagai kompensasi uang yang disimpannya dalam bank, baik bank mengalami keuntungan maupun kerugian.

Berbeda dengan sistem syariah, di mana bank syariah tidak menjanjikan return tetap, melainkan hanya nisbah (yaitu prosentasi yang akan dibagikan dari keuntungan yang didapatkan oleh bank). Sehingga return yang didapatkan nasabah bisa naik turun, sesuai dengan naik turunnya keutungan bank. Istilah seperti inilah yang kemudian berkembang namanya menjadi sistem bagi hasil.

2. Transaksi Asuransi

Dalam sektor asuransi pun juga tidak luput dari bahaya riba. Karena dalam asuransi (konvensional) terjadi tukar menukar uang dengan jumlah yang tidak sama dan dalam waktu yang juga tidak sama.

Sebagai contoh, seseorang yang mengasuransikan kendaraannya dengan premi satu juta rupiah pertahun.
Pada tahun ketiga, ia kehilangan mobilnya seharga 100 juta rupiah. Dan oleh karenanya pihak asuransi memberikan ganti rugi sebesar harga mobilnya yang telah hilang, yaitu 100 juta rupiah. Padahal jika diakumulasikan, ia baru membayar premi sebesar 3 juta rupiah. Jadi dari mana 97 juta rupiah yang telah diterimanya? Jumlah 97 juta rupiah yang ia terima masuk dalam kategori riba fadhl (yaitu tukar menukar barang sejenis dengan kuantitas yang tidak sama).

Pada saat bersamaan, praktek asuransi juga masuk pada kategori riba nasi’ah (kelebihan yang dikenakan atas pertangguhan waktu), karena uang klaim yang didapatkan tidak yadan biyadin dengan premi yang dibayarkan. Antara keduanya ada tenggang waktu, dan oleh karenanya terjadilah riba nasi’ah. Hampir semua ulama sepekat, mengenai haramnya asuransi (konvensional) ini.

Diantara yang mengaramkannya adalah Sayid Sabiq dan juga Sheikh Yusuf Al-Qardhawi.

Oleh karenanya, dibuatlah solusi berasuransi yang selaras dengan syariah Islam. Karena sistem asuransi merupakan dharurah ijtima’iyah (kebutuhan sosial), yang sangat urgen.

3. Transaksi Jual Beli Secara Kredit.

Jual beli kredit yang tidak diperbolehkan adalah yang mengacu pada “bunga” yang disertakan dalam jual beli tersebut. Apalagi jika bunga tersebut berfruktuatif, naik dan turun sesuai dengan kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah. Sehingga harga jual dan harga belinya menjadi tidak jelas (gharar fitsaman).

Sementara sebenarnya dalam syariah Islam, dalam jual beli harus ada “kepastian” harga, antara penjual dan pembeli, serta tidak boleh adanya perubahan yang tidak pasti, baik pada harga maupun pada barang yang diperjual belikan. Selain itu, jika terjadi “kemacetan” pembayaran di tengah jalan, barang tersebut akan diambil kembali oleh penjual atau oleh daeler dalam jual beli kendaraan. Pembayaran yang telah dilakukan dianggap sebagai “sewa” terhadap barang tersebut.

Belum lagi komposisi pembayaran cicilah yang dibayarkan, sering kali di sana tidak jelas, berapa harga pokoknya dan berapa juga bunganya. Seringkali pembayaran cicilan pada tahun-tahun awal, bunga lebih besar dibandingkan dengan pokok hutang yang harus dibayarkan. Akhirnya pembeli kerap merasa dirugikan di tengah jalan. Hal ini tentunya berbeda dengan sistem jual beli kredit secara syariah. Dimana komposisi cicilan adalah flat antara pokok dan marginnya, harga tidak mengalami perubahan sebagaimana perubahan bunga, dan kepemilikan barang yang jelas, jika terjadi kemacetan.
Dan sistem seperti ini, akan menguntungkan baik untuk penjual maupun pembeli.

Masih banyak sesungguhnya transaksi-transaksi yang mengandung unsur ribawi di tengah-tengah kehidupan kita. Intinya adalah kita harus waspada dan menghindarkan diri sejauh-jauhnya dari muamalah seperti ini.

Cukuplah nasehat rabbani dari Allah SWT kepada kita

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. Annisa’ : 29)

Wallahu A’lam Bis Shawab.

🌿🌴🌿🌴


Dipersembahkan oleh : manis.id

📲 Follow IG MANIS: http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Hidup dan Mati Adalah Ujian

WARNA-WARNA UNTUK PAKAIAN MUSLIMAH

📝 Pemateri: Ustadzah Dra Indra Asih.

Bismillahirrahmanirrahiim

Perempuan dan lelaki sama dalam permasalahan hukum selama tidak ada dalil yang membedakan antara perempuan dan lelaki dalam hukum.

Demikian juga yg terkait hukum asal dalam warna-warna pakaian adalah halal dan diperbolehkan, kecuali jika ada dalil yang melarang warna-warna tersebut bagi lelaki dan/atau perempuan.

Mengenai dalil warna-warna yang dibolehkan adalah sebagai berikut :

🔳Hitam

Telah datang dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anhaa ia berkata

:« لَمَّا نَزَلَتْ ?يُدَنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ? خَرَجَ نِسَاءُ الأنْصَارِ كَأَنَّ عَلَى رُؤوسِهِنَّ الْغِرْبَانَ مِنَ الأكْسِيَةِ »

Tatkala turun firman Allah  (Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka) maka keluarlah para wanita dari kaum Anshoor, seakan-akan di atas kepala-kepala mereka ada pakaian seperti burung-burung gagak”
(HR Abu Dawud)

Ummu Salamah menyamakan kain khimar yang ada di atas kepala-kepala para wanita yang dijadikan jilbab dengan burung-burung gagak menunjukkan warna hitamnya.

Dalil lain adalah hadits Ummu Kholid, ia berkata

« أُتي النبيُّ بثيابٍ فيها خَميصةُ سوداءُ صغيرةٌ فقال:« مَن تَرَون أن نكسوَ هذهِ »؟ فسكتَ القومُ. قال:« ائتُوني بأمِّ خالدٍ »، فأتيَ بها تُحمل، فأخذ الخميصةَ بيدهِ فألبَسَها وقال: أبْلِي وأخلِقي. وكان فيها عَلمٌ أخضرُ أو أصفر »

Nabi diberikan baju-baju, diantaranya ada khomiisoh kecil yang berwarna hitam.
Maka nabipun berkata, “Menurut kalian kepada siapakah kita berikan kain ini?”.
Orang-orang pada diam, lalu Nabi berkata,
“Datangkanlah kepadaku Ummu Kholid !”, maka didatangkanlah Ummu Kholid dalam keadaan diangkat (karena masih kanak-kanak), lalu Nabipun mengambil kain tersebut dengan tangannya lalu memakaikannya kepada Ummu Kholid dan berkata,
“Bajumu sudah usang, gantilah bajumu”. Pada kain tersebut ada garis-garis (corak) berwarna hijau atau kuning.
(HR Al-Bukhari, Abu Dawud, dan Ahmad)

🍀 Hijau

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari bahwasanya Rifa’ah menceraikan istrinya maka istrinyapun dinikahi oleh Abdurrahman bin Az-Zubair Al-Qurozhi.

Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata,

وعليها خِمارٌ أخضر، فشكَتْ إليها، وأرَتها خُضرةً بجلدها..  “

Ia memakai khimar berwarna hijau, maka iapun mengadu kepada Aisyah dan memperlihatkan kepada Aisyah adanya warna kehijau-hijauan di kulitnya….”
(HR Al-Bukhari)

🌹 Merah

Hanya boleh untuk perempuan dan tidak boleh bagi lelaki.

Dalilnya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhu, ia berkata :

رَأَى النَّبِيُّ عَلَيَّ ثَوْبَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ. فَقَالَ:« أَأُمُّكَ أَمَرَتْكَ بِهَذَا؟ » قُلْتُ: أَغْسِلُهُمَا، قَالَ:« بَلْ احْرِقْهُمَا

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam melihatku memakai dua belah baju yang mu’ashfar.
Maka Nabi berkata, “Apakah ibumu memerintahmu untuk memakai baju ini?”.
Aku berkata, “Aku cuci kedua baju ini?”,
Nabi berkata, “Bahkan bakarlah kedua baju itu”
(HR Muslim)

Dan yang dimaksud dengan dua buah baju mu’ashfar adalah dua baju yang dicelup dengan celupan berwarna merah (atau dicelup dengan warna kuning yang terbuat dari tumbuhan tertentu).

Imam An-Nawawi berkata tentang sabda Nabi  “Adapun perintah Nabi untuk membakar baju tersebut karena sebagai hukuman dan sikap keras terhadapnya dan terhadap orang lain agar meninggalkan perbuatan seperti ini.

Dalil yang lain yang menunjukan akan hal ini adalah hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata,

هَبَطْنَا مَعَ رَسُولِ الله صلى الله عليه وآله وسَلَّم مِنْ ثَنِيَّةٍ فالْتَفَتَ إلَيَّ وَعَليَّ رَيْطَةٌ مُضَرَّجَةٌ بالْعُصْفُرِ فقال: مَا هذِهِ الرَّيْطَةُ عَلَيْكَ؟ فَعَرَفْتُ مَا كَرِهَ، فأَتَيْتُ أهْلِي وَهُمْ يَسْجُرُون تَنُّورًا لَهُمْ فَقَذَفْتُهَا فِيهِ ثُمَّ أتَيْتُهُ مِنَ الْغَدِ، فقال: يَا عَبْدَ اللهِ مَا فَعَلْتَ الرَّيْطَةَ، فأَخْبَرْتُهُ، فقال: ألاَ كَسَوْتَهَا بَعْضَ أهْلِكَ فإنَّهُ لاَ بَأْس بِهِ لِلنِّسَاءِ »

“Kami turun bersama Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam dari Tsaniyyah. Kemudian beliau menoleh kepadaku dengan keadaan memakai pakaian lembut yang dicelup dengan ushfur.
Maka beliau bertanya: “Apa ini yang engkau pakai?”
Maka akupun mengetahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukainya.
Akupun mendatangi keluargaku dalam keadaan mereka menyalakan api tanur dan aku lemparkan baju itu ke dalamnya.
Kemudian aku mendatangi beliau pada besok harinya.
Beliau bertanya: “Bagaimana nasib bajumu?”
Maka aku ceritakan apa yang aku lakukan pada baju itu.
Maka beliau berkata: “Kenapa engkau tidak memakaikan baju itu pada sebagian keluargamu. Karena baju tersebut tidak apa-apa jika dipakai wanita.”
(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad)

🌻 Kuning

Diperbolehkan bagi kaum lelaki dan tidak ada larangan untuk perempuan.

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhumaa ia berkata

وَأَمَّا الصُّفْرَةُ فَإِنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَصْبِغُ بِهَا فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَصْبغَ ِبهَا

Adapun warna kuning maka aku telah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelupkan pakaian ke warna kuning, maka aku suka untuk mencelupkan pakaian dengan warna kuning
(HR Al-Bukhari, Abu Dawud, Ahmad).

Dan dalam sunan Abu Dawud dari Ibnu Umar beliau berkata

وَقَدْ كَانَ يَصْبِغُ بِهَا ثِيَابَهُ كُلَّهَا حَتَّى عِمَامَتَهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencelupkan seluruh pakaiannya ke warna kuning, bahkan sorban beliau juga”
(HR Abu Dawud)

☁ Putih

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

الْبِسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ فإنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكمْ، وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُم

“Pakailah pakaian-pakaian kalian yang berwarna putih, sesungguhnya itu merupakan pakaian kalian yang terbaik, dan hendaknya kalian mengkafani mayat-mayat kalian dengan kain putih”
(HR Abu Dawud, At-Thirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

🌈 Warna bermotif

Hadits yang menjelaskan bahwa sebagian shahabiyat memakai pakaian yang bermotif/bercorak.

‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

كنا نساء المؤمنات يشهدن مع رسول الله صلى الله عليه و سلم صلاة الفجر متلفعات بمروطهن ثم ينقلبن إلى بيوتهن حين يقضين الصلاة لا يعرفهن أحد من الغلس

“Dahulu wanita-wanita mukminah biasa menghadiri shalat subuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menutupi tubuh dan kepala (mereka) dengan “muruth” mereka.
Kemudian (mereka) kembali ke rumah-rumah mereka ketika telah menyelesaikan shalat. Tidak ada seorang pun mengenal mereka karena gelap.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

“بمروطهن” : المرط -بكسر الميم- كساء مخطط بألوان. وزاد بعضهم أنها مربعة

Muruth adalah jamak dari mirath artinya adalah pakaian yang bergaris-garis dengan garis yang berwarna, dan sebagian ulama menambahkan bahwasanya pakaian tersebut kotak-kotak.
(Taisir ‘allaam Syarh Umdatil Ahkaam Kitab ash Shalat Bab al Mawaqit)

💡 Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya :

Apakah boleh seorang wanita menggunakan jilbab selain warna hitam?

Beliau –rahimahullah- menjawab :

“Seakan-akan penanya berkata : Apakah boleh seorang wanita memakai khimar (penutup jilbab bagian atas kepala?) selain berwarna hitam?.

Jawabannya adalah : boleh.

Boleh perempuan untuk memakai khimar yang selain berwarna hitam dengan syarat khimar tersebut tidak seperti gutrohnya lelaki (gutroh adalah kain penutup kepala yang sering digunakan oleh penduduk Arab Saudi).

Kalau khimar tersebut seperti gutrohnya lelaki maka hukumnya haram karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat para lelaki yang meniru-niru perempuan dan melaknat perempuan yang menyerupai kaum lelaki.

Jika khimarnya berwarna putih akan tetapi wanita tersebut tidak memakainya sebagaimana cara pakai lelaki maka jika penggunaan khimar berwarna putih tersbut merupakan adat penduduk negerinya maka tidak mengapa untuk dipakai.

Adapun jika pemakaian khimar putih tidak biasa menurut adat mereka maka tidak boleh dipakai karena hal itu merupakan pakaian syuhroh (ketenaran/tampil beda) yang terlarang” (Fatwa Nuur “alaa Ad-Darb)

💎 KESIMPULAN:

Hadits-hadits diatas menunjukan akan bolehnya memakai pakaian berwarna hitam, hijau, dan merah bagi perempuan dengan nash dari Nabi, dan ini juga berlaku bagi kaum lelaki berdasarkan hukum asal yang telah lalu penjelasannya.

Kecuali warna merah yang khusus boleh bagi perempuan.

Adapun warna putih dan kuning serta warna lain boleh juga bagi perempuan dengan dasar hukum asal tentang bolehnya menggunakan seluruh warna karena tidak ada dalil yang melarangnya atau mengkhususkannya.

🌿🌴🌿🌴

Dipersembahkan oleh : manis.id

📲 Follow IG MANIS: http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Gemar Berbuat Baik

Yuk ber-Ihsan

📝 Pemateri: Ust. DR. Wido Supraha

Suatu ketika Nabi Saw. ditanya malaikat berwujud manusia tentang tiga hal utama, yakni Islam, Iman, dan Ihsan (HR. Muslim, No. 8).

Ihsan diperkenalkan kepada umat sebagai tingkatan penghambaan kepada Allah Swt yang tertinggi dengan arahan untuk beribadah kepada Allah Swt seakan-akan melihat-Nya, dan meskipun manusia tidak dapat melihat-Nya, maka dilanjutkan dengan arahan untuk menghadirkan keyakinan bahwa Allah pasti melihat manusia.

Demikianlah pengajaran Malaikat tentang Dinul Islam, sehingga teks hadits ini disebut sebagai Induk Sunnah oleh Al Imam Al-Qurthubi, dikarenakan mengandung hal-hal yang bersifat umum dan mencakup seluruh tugas-tugas ibadah yang zhahir dan yang bathin, sebagaimana penegasan Al-Qadhi Iyadh, rahimahumallahu.

🔎Al Imam An-Nawawi rahimahullah ketika mensyarah hadits riwayat Imam Muslim ini mengingatkan bahwa teks penjelasan ihsan disini merupakan salah satu dari jawami’ al-Kalim yang diberikan kepada Nabi Saw. Hal ini karena tentunya tidak mungkin manusia melihat Rabb-nya secara zhahir, karena melihat tabir wajah-Nya akan menjadi puncak kenikmatan kelak.

Seandainya manusia diperkenankan melihat-Nya saat ini niscaya manusia dapat dipastikan akan begitu mudahnya untuk mengkonsentrasikan zhahir dan batinnya menuju kesempurnaan amal.

Namun karena hal itu tidaklah mungkin di dunia, maka menghadirkan keyakinan seperti ini menjadi tantangan tersendiri bagi manusia sehingga membawa manusia kepada maqam musyahadah.

Inilah posisi yang diinginkan Allah Swt untuk orang-orang yang khusus. Ketika seorang manusia ditakdirkan dapat menyaksikan-Nya, sang Raja, tentu ia akan malu berpaling kepada selain-Nya atau menyibukkan hatinya dengan selain-Nya. Maka maqam ini juga menjadi maqam para shiddiqin.

Ketika Jibril hadir untuk mengajarkan ad-din (آتاكم يعلمكم دينكم), maka Ihsan adalah bagian yang tidak terpisahkan untuk ditegakkan dalam kehidupan seorang muslim. Allah Swt. telah berfirman,

وَأَحۡسِنُوٓاْ‌ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Berbuat ihsan-lah kalian semua, sesungguhnya Allah mencintai kaum muhsinin.” (Q.S. Al-Baqarah/2:195)

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَـٰنِ وَإِيتَآىِٕ ذِى ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنڪَرِ وَٱلۡبَغۡىِ‌ۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّڪُمۡ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berlaku adil dan berbuat ihsan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Q.S. An-Nahl/16:90)

وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ (٢١٧) ٱلَّذِى يَرَٮٰكَ حِينَ تَقُومُ (٢١٨) وَتَقَلُّبَكَ فِى ٱلسَّـٰجِدِينَ (٢١٩

“Dan bertawakkallah kepada [Allah] Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri [untuk shalat], dan [melihat pula] perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. (Q.S. Asy-Syu’ara/26:217-219)

🔎Al Imam Ibn Katsir menegaskan bahwa ihsan merupakan tingkatan ketaatan yang tertinggi, “.و هو آعلى مقامات الطاعة” (Muhammad ‘Ali Ash-Shabuni, Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir, Jilid 1, Beirut: Dar al-Fikr, Tanpa Tahun, hlm. 172).

🔎Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Ihsan adalah seseorang yang batinnya lebih baik dari zhahirnya, و الإحسان آن تكون سريرته آحسن من علا نيته” (Ibid, Jilid 2, hlm. 343)

🔎Syaikh Musthafa Dieb al-Bugha mengatakan bahwa ihsan adalah ikhlas dan itqan (profesional), berbuat dengan rapi, sempurna, dan sebaik mungkin dalam amal yang disyariatkan.

🔎Syaikh As-Sa’di mendefinisikan bahwa ihsan adalah mencurahkan semua kemanfaatan dari jenis apapun, kepada makhluk apapun. Hal ini sebagai konsekuensi  bersungguh-sungguhnya manusia dalam menunaikan hak-hak Allah secara ikhlas, menyempurnakannya, sehingga ia pun wajib berbuat baik berkenaan dengan hak-hak makhluk, sebagaimana sabda Nabi Saw., “Sesungguhnya Allah Swt mewajibkan untuk berbuat ihsan atas segala sesuatu, إنّ الله كتب الإحسان على كلّ شيء” (HR. Muslim No. 1955). Maka dalam perkara apapun (tidak hanya khusus kepada manusia) hendaknya seorang muslim berlaku ihsan dimulai dari penunaian hak-hak sesama manusia (Q.S. An-Nisa/4:36), memberi kemanfaatan yang lebih kepadanya, hingga menolak perbuatan buruk manusia dipandang sebagai tingkatan ihsan terbesar (Q.S. Fushshilat/41: 34-35), hingga kemudian berbuat ihsan kepada alam dan seisinya.

🔎Sa’id bin Muhammad Daib Hawwa menyebutkan bahwa dalam pengajaran Jibril kepada Nabi Saw tentang ihsan, mengandung dua maqam: 1. Muraqabah dan 2. Musyahadah.

Jika MURAQABAH  ialah merasakan bahwa Allah melihatmu,
maka MUSYAHADAH adalah menghadirkan perasaan seakan-akan melihat Allah dalam ibadah yang dilakukan.

Inilah ciri hidupnya hati. Sekuat tenaga dengan jalan dzikir dan fikir untuk wushul (sampai di tujuan) kepada maqam iman dan yaqin yang pernah dinikmati oleh para sahabat, tabi’in dan pengikut mereka, adalah pekerjaan penting kaum beriman, dan ini mudah jika hati tidak sakit dan berpenyakit, dan tidak mengikuti langkah-langkah ahli bid’ah dan orang-orang jahil. (Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus, Darus Salam)

🔎Syaikh Abdullah Nashih ‘Ulwan menjelaskan bahwa

💡merasakan kesertaan Allah Swt,
💡merasakan keagungan-Nya di setiap waktu dan keadaan,
💡serta merasakan kebersamaan-Nya dikala sepi dan ramai

itulah yang dikenal dengan istilah MURAQABAH.
Ia adalah aktifitas ihsan dengan
💡melahirkan ikhlas ketika melaksanakan ketaatan,
💡taubat total ketika melakukan kemaksiatan,
💡 sentiasa menjaga adab dan selalu bersyukur pada hal-hal yang mubah,
💡selalu mendahulukan ridha atas musibah.

⬆Inilah tangga menuju taqwa menuju derajat para muttaqin yang mulia. (Runaiyatud Da’iyah, Kairo: Darussalam, Cetakan ke-2, 1986)

Jika manusia berlaku ihsan, tentunya karena metode-nya yang juga ihsan, tidak lain balasan yang ia terima dari Allah Swt juga ihsan, terbaik dari sisi Allah Swt, persis seperti janji Allah Swt,

هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَـٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَـٰنُ

“Tidak ada balasan ihsan kecuali juga ihsan.” (Q.S. Ar-Rahman/55:60)

Terbaik dari sisi Allah Swt, bukanlah sekedar terbaik dalam cara pandang manusia. Allah tegaskan bahwa Allah Swt. akan selalu memberikan balasan yang jauh lebih baik dari perbuatan baik manusia, sebagaimana penegasan-Nya,

لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ ٱلۡحُسۡنَىٰ وَزِيَادَةٌ۬‌ۖ وَلَا يَرۡهَقُ وُجُوهَهُمۡ قَتَرٌ۬ وَلَا ذِلَّةٌ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَنَّةِ‌ۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ

“Bagi orang-orang yang berbuat ihsan, ada pahala yang terbaik dan tambahannya, wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan kehinaan. Mereka itulah penghuni Surga, mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Yunus/10:26)

Dunia adalah kesempatan bagi manusia untuk berbuat ihsan, area yang telah disiapkan Allah Swt untuk manusia melahirkan ihsan-nya sangatlah luas, sebagai firman-Nya,

قُلۡ يَـٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡ‌ۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ فِى هَـٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٌ۬‌ۗ وَأَرۡضُ ٱللَّهِ وَٲسِعَةٌ‌ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٍ۬

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat ihsan di dunia akan memperoleh kebaikan (hasanah),  Bumi Allah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.S. Az-Zumar:10)

Rahmat Allah Swt sangat mudah turun bagi orang-orang yang senang berlaku ihsan di dunia, maka jadikanlah seluruh kehidupan kita untuk sentiasa ihsan kepada Allah Swt, dan kemudian ihsan kepada para makhluk Allah Swt.

وَلَا تُفۡسِدُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَـٰحِهَا وَٱدۡعُوهُ خَوۡفً۬ا وَطَمَعًا‌ۚ إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ۬ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah Swt. memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut [tidak akan diterima] dan harapan [akan dikabulkan].

Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-A’raf/7:56)

Suatu ketika Abu Dzar r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah Saw! Bagaimana menurutmu jika seseorang melakukan kebaikan, lalu ia mendapatkan pujian dari orang lain?”
Rasulullah Saw menjawab, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin, تلك عاجل بشرى المؤمن” (HR. Muslim No. 2642).

Yuk ber-ihsan !

🌿🌴🌿🌴


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Doa mendapatkan anak yang salih

Lima Langkah Membangun Karakter Anak(part 2 of 2)

📝 Pemateri: Ust. Irwan Rinaldi

Sahabat sekalian. Dibagian pertama kita sudah membahas 2 langkah pertama dari 5 langkah cara membangun karakter anak.

Sekarang mari kita lanjutkan dengan langkah ke 3.

👪 Langkah 3.

Latih anak untuk menggambarkan terlihat seperti apa dan terdengar seperti apa setiap karakter.

Tidak ada jalan yang sempurna untuk mengajarkan karakter, tapi riset menunjukkan bahwa untuk mengajarkan  keterampilan baru selain dengan meminta anak untuk memikirkan bagaimana melakukan satu karakter, dapat juga orang tua menunjukkan karakter target kepada anak.

Orang tua dapat memperkenalkan karakter dengan cara memodelkan kepada anak dan membuat pendidikan karakter menjadi sekonkrit mungkin.

Tiga cara yang dapat anda lakukan:

💎 Role plays karakter:

Beberapa orang tua menemukan hal yang sangat membantunya saat orang tua atau anak mencoba melakuan role-play bagaimana tampaknya satu karakter di depan anak-anak. Ini adalah cara sederhana untuk menunjukkan secara tepat terlihat dan terdengar seperti apa target karakter tertentu.

💎 Lakon pendek karakter

Anak dapat membuat lakon pendek tentang karakter dan menampilkan saat asembli sekolah atau di setiap kelas untuk menunjukkan kepada anak lain pentingnya karakter, juga untuk menunjukkan terlihat dan terdengar seperti apa karakter tersebut.

💎 Foto karakter

Foto anak yang benar-benar sedang menunjukkan karakter target. Cetak foto, perbesar fotonya, dan tempelkan di papan tulis sehingga dapat mengingatkan anak seperti apakah tampaknya keterampilan itu.

👪 Langkah 4: Berikan Kesempatan untuk Mempraktikkan Karakter

Secara umum, anak memerlukan banyak kesempatan untuk mempraktikkan perilaku baru. Teori belajar mengatakan diperlukan kurang lebih 21 hari praktik sebelum perilaku itu menjadi bagian dari diri anak. Hal ini adalah aturan penting untuk dapat diterapkan pada anak anda.
Tiga cara untuk membantu anak mengevaluasi kemajuan perilakunya:

💎 Merekam karakter

Anak dapat melihat kemajuan perilakunya dengan merekam satu sama lain karakter yang mulai menjadi bagian dari diri anak. Hasil rekaman dilihat kembali dan dianalisa oleh anak atau bisa juga dilihat oleh semua anak.

💎 Menulis refleksi pada buku catatan

Anak dapat mencatat kemajuan karakternya dengan cara mencatat setiap hari satu hal yang mereka lakukan yang menunjukkan perilaku dari target karakter.

💎 Berikan pekerjaan rumah karakter

Minta anak untuk mempraktikkan keterampilan di rumah dan mencatat usaha dan hasilnya di buku catatan.

👪 Langkah 5.

Berikan Masukan (Evaluasi) Efektif.

Langkah terakhir dalam mengajar karakter adalah untuk memperkuat perilaku anak yang sudah tepat atau memperbaiki perilaku yang masih kurang pas atau tepat saat ada waktu yang nyaman untuk membicarakannya.

Melakukan hal ini membantu menjelaskan kepada sisiwa: “kamu sudah melakukan hal yang tepat; pertahankan nak,” atau “kamu sudah hampir benar, tapi sebaiknya kamu melakukan hal ini.”

Menangkap anak melakukan perilaku yang salah sebelum menjadi kebiasaan buruk akan meningkatkan kesempatan bagi anak untuk melakukan perilaku atau ciri karakter positif.

Ini ada beberapa cara untuk mengingatkan anak atau memberikan masukan kepada anak:

💎 Gunakan kritik konstruktif. Jika perilaku anak tepat, segera katakana kepada anak “Apa yang kamu lakukan sudah benar.”

💎 Jika perilaku anak kurang tepat, katakan kepada anak apa yang harus dilakukan agar benar: “Apa yang kamu lakukan belum tepat, tapi ini yang harus kamu lakukan di lain waktu.”

💎L akukan perbaikan segera. Anak akan mendapatkan keuntungan dari koreksi yang diberikan segera.

💎Tangkap perilaku postif. Carilah selalu kesempatan untuk menangkap basah anak saat melakukan perilaku yang tepat. Jika orang tua memperkuat ciri karakter yang sudah dilakukan anak dengan tepat, anak akan cenderung mengulang perilaku tersebut.

Pendidik Dapat Membuat Perbedaan.

Dengan bertambah banyaknya anak yang tidak memiliki karakter tangguh  maka penting sekali sekolah mengintegrasikan perkembangan karakter dalam pelajaran untuk waktu yang cukup panjang. Harap perhatikan, pelajaran karakter terbaik  adalah saat karakter dapat terintegarasi secara alamiah.

Ada banyak cara untuk melatih karakter dengan menggunakan buku, video, music, kalimat baik, artikel, atau tokoh sejarah yang didalamnya ada tema yang menggambarkan karakter anak tangguh. Mungkin cara yang paling mudah adalah menonjolkan satu ciri karakter setiap bulannya.

Dengan melakukan hal ini akan mengoptimalkan kesempatan anak untuk mengembangkan karakter tangguh yang akan dipakai tidak hanya untuk hari ini, tapi sepanjang hidup mereka. Dari semua itu, jangan pernah melupakan peran anda sebagai orang tua pada perkembangan karakter anak anda. Anda dapat membuat perbedaan!.

Wallahu a’lam bishowab.
Semoga memberikan inspirasi.

🌿🌴🌿🌴


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678