Saat Hatimu Lelah

Manusia Berhati Burung

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Hadits:

“Akan masuk surga, orang-orang yang hatinya seperti hati burung.”  (HR. Muslim)

Di antara penjelasan ulama tentang ‘hati burung’ yang dimaksud dalam hadits di atas adalah hati yang sangat halus dan lembut serta penuh kasih sayang, jauh dari sifat keras dan zalim.

Hati, adalah keistimewaan yang kita miliki sebagai manusia. Hati pula yang sangat menentukan baik buruknya nilai diri kita, sebagaimana telah dinyatakan dalam sebuah hadits Rasulullah saw.

Di antara perkara yang sangat penting untuk kita pelihara dari hati adalah kelembutan dan kepekaannya terhadap perkara yang terjadi di sekeliling kita.

Di sini kita tidak berbicara tentang kaedah hukum, hak dan kewajiban, dalil dan argumentasi, atau apalah namanya. Kita berbicara tentang perasaan yang secara fitrah dimiliki semua orang. Namun dalam batasan tertentu, dapat bereaksi lebih cepat dan efektif, ketimbang faktor lainnya.

Kelembutan hati dan rasa kasih sayang seorang ibu membuatnya tidak akan dapat tidur nyenyak meski kantuk berat menggelayuti matanya, manakala dia mendengar rengekan bayinya di malam buta, maka dia bangun dan memeriksa kebutuhan sang bayi.

Boleh jadi ketika itu dia tidak berpikir tentang keutamaan atau janji pahala orang tua yang mengasihi anaknya.

Umar bin Khattab yang dikenal berkepribadian tegas, ternyata hatinya begitu lembut ketika melihat seorang nenek memasak batu hanya untuk menenangkan rengekan tangis cucunya yang lapar sementara tidak ada lagi makanan yang dapat dimasaknya, maka tanpa mengindahkan posisinya sebagai kepala Negara, dia mendatangi baitul mal kaum muslimin dan memanggul sendiri bahan makanan yang akan diberikannya kepada sang nenek.

Boleh jadi ketersentuhan hati Umar kala itu mendahului kesadaran akan besarnya tanggungjawab seorang pemimpin di hadapan Allah Ta’ala.

Demikianlah besarnya potensi kelembutan hati menggerakkan seseorang. Kelembutan hati semakin dibutuhkan bagi mereka yang Allah berikan posisi lebih tinggi di dunia ini.

Seperti suami kepada isteri dan anaknya, pemimpin atau pejabat kepada rakyatnya atau orang kaya terhadap orang miskin. Sebab, betapa indahnya jika kelembutan hati berpadu dengan kewenangan dan kemampuan yang dimiliki.

Karena memiliki kewenangan dan kemampuan, suami berhati lembut –misalnya- akan sangat mudah mengekspresikannya kepada isteri dan anaknya, bukan hanya terkait dengan kebutuhan materi, tetapi juga bagaimana agar suasana kejiwaan mereka tenang dan bahagia, tidak tersakiti, apalagi terhinakan. Begitu pula halnya bagi pemimpin, pejabat atau orang kaya.

Akan tetapi, jika kelembutan itu telah sirna berganti dengan hati yang beku, sungguh yang terjadi adalah pemandangan yang sangat miris dan sulit diterima akal.

Bagaimana dapat seorang suami menelantarkan atau menyakiti isteri dan anaknya padahal mereka adalah belahan dan buah hatinya, bagaimana pula ada pemimpin atau pejabat yang berlomba-lomba mereguk kesenangan dan kemewahan dunia di atas penderitaan rakyatnya, padahal mereka dipilih rakyatnya, lalu bagaimana si kaya bisa tega mempertontonkan kekayaannya di hadapan si miskin yang papa tanpa sedikitpun keinginan berbagi, padahal tidak akan ada orang kaya kalau tidak ada orang miskin.
Sungguh mengerikan!

Di zaman ketika materi dan tampilan lahiriah semakin dipuja-puja, sungguh kita semakin banyak membutuhkan manusia berhati burung!


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Karena Allah

SYARIAT, HAKEKAT, TAREKAT & MAKRIFAT

Pertanyaan

Assalamu’alaikum, ustadz/ustadzah
Mohon penjelasannya tentang syariat hakekat tarekat dan makrifat # A36

Jawaban

Oleh: Ustadzah Nurdiana

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

1. Syariat berasal dari kata syaa ri” artinya jalan. Maksudnya syariat  islam adalah petunjuk jalan. Pedoman aturan . Kaidah buat orang islam.

2. Hakekat Kata hakikat (Haqiqat),  merupakan kata benda yang berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata “Al-Haqq”, dalam bahasa indonesia menjadi kata pokok yaitu kata “hak“ yang berarti milik (ke¬punyaan), kebenaran, atau yang benar-¬benar ada, sedangkan secara etimologi Hakikat berarti inti sesuatu, puncak atau sumber dari segala sesuatu.

3. Tarekat  (Bahasa Arab: طرق, transliterasi: Tariqah), berarti “jalan” atau “metode”, dan mengacu pada aliran keagamaan tasawuf atau sufisme dalam Islam. Ia secara konseptual terkait dengan ḥaqīqah atau “kebenaran sejati”, yaitu cita-cita ideal yang ingin dicapai oleh para pelaku aliran tersebut. Seorang penuntut ilmu agama akan memulai pendekatannya dengan mempelajari hukum Islam, yaitu praktik eksoteris atau duniawi Islam, dan kemudian berlanjut pada jalan pendekatan mistis keagamaan yang berbentuk ṭarīqah. Melalui praktik spiritual dan bimbingan seorang pemimpin tarekat, calon penghayat tarekat akan berupaya untuk mencapai ḥaqīqah (hakikat, atau kebenaran hakiki).

4. Istilah Ma’rifat berasal dari kata “Al-Ma’rifah” yang berarti mengetahui atau mengenal sesuatu. Dan apabila dihubungkan dengan pengamalan Tasawuf, maka istilah ma’rifat di sini berarti mengenal Allah ketika Shufi mencapai maqam dalam Tasawuf.

Kemudian istilah ini dirumuskan definisinya oleh beberapa Ulama Tasawuf; antara lain :

Dr. Mustafa Zahri mengemukakan salah satu pendapat Ulama Tasawuf yang mengatakan:

“Marifat adalah ketetapan hati (dalam mempercayai hadirnya) wujud yang wajib adanya (Allah) yang menggambarkan segala kesempurnaannya.”

Wallahu a’lam.

🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

“Alhamdulillah” Ucapan Ringan Tapi Dahsyat Nilainya

📝 Ustadz Farid Nu’man Hasan

🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃

Dari Abu Malik Al Harits bin ‘Ashim Al Asy’ariy Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

:  الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيْمَانِ، والحَمْدُ للهِ تَمْلأُ الميزانَ، وسُبْحَانَ اللهِ والحَمْدُ للهِ تَمْلآنِ – أَو تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَاءِ والأَرْضِ

“Kesucian adalah sebagian dari iman, Al Hamdulillah memberatkan timbangan, Subhanallah dan Al Hamdulillah akan memenuhi antara langit dan bumi.” (HR. Muslim No. 223)

Yaitu ucapan Al Hamdulillah akan memenuhi dan menghasilkan berat timbangan kebaikan bagi yang mengucapkannya pada yaumul mizan nanti.

Maksudnya menurut Imam An-Nawawi, begitu besar pahalanya. (Al-Minhaj, 3/101)

Begitu pula dikatakan Imam Al-Munawi Rahimahullah:

( والحمد لله تملأ الميزان ) أي ثواب الكلمة يملؤها بفرض الجسمية

“(dan Al Hamdulillah memberatkan timbangan) yaitu pahala ucapan itu akan memenuhinya dengan cara menjalankan kewajiban (perbuatan) jasmani.” (At-Taisir, 2/241)

Jadi, tidak cukup lisan saja, tetapi perbuatan jasmani juga mesti menunjukkan sikap bersyukur sebagaimana terkandung dalam maksud ucapan tahmid. Lalu, kenapa begitu besar pahalanya? Apa keistimewaan ucapan ini? Karena ucapan tahmid mengandung pengakuan dari hamba-Nya yang lemah bahwa semua pujian hanya bagi Allah Ta’ala, dan Dialah yang paling berhak menerimanya, bukan selain-Nya.

Berkata Syaikh Ismail Al-Anshari:

وسبب ذلك أن التحميد إثبات المحامد كلها لله

“Sebab hal itu (besarnya pahala) adalah karena ucapan tahmid merupakan penetapan bahwa segala pujian adalah untuk Allah.” (At-Tuhfah, hadits No. 23)

Jika kita melihat keutamaan membaca Alhamdulillah, maka tidak mengherankan jika ucapan tersebut dapat memenuhi timbangan kebaikan bagi pengucapnya pada hari kiamat nanti. Keutamaan-keutamaan itu tertera di berbagai riwayat berikut ini.

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

“Dzikir yang paling utama adalah Laa Ilaha Illallah dan doa yang paling utama adalah Alhamdulillah.” (HR. At-Tirmidzi No.3383, katanya: hasan gharib.  Ibnu Majah No. 3800,  An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra No. 10667. Syaikh Al-Albani menshahihkan dalam berbagai kitabnya, Shahih At-Targhib wat Tarhib No. 1526, Tahqiq Misykah Al-Mashabih No. 2306, dll)

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنْ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَب الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah sungguh ridha terhadap hamba yang makan makanan lalu dia memuji-Nya atas makanan itu, atau dia minum sebuah minuman lalu dia memuji-Nya atas minuman itu.” (HR. Muslim No. 2734)

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لو أن الدنيا كلها بحذافيرها بيد رجل من أمتي، ثم قال: الحمد لله لكان الحمد لله أفضل من ذلك

“Seandainya seluruh dunia dengan sebagiannya berada di tangan seorang laki-laki di antara umatku, kemudian dia berkata Alhamdulillah, maka Alhamdulillah lebih utama dibandingkan hal itu.” (HR. Ad-Dailami No. 5083, Ibnu ‘Asakir, 16/54, Kanzul ‘Ummal No. 6406, Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkamil Quran, 1/131)

Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma menceritakan:

قال عمر قد علمنا سبحان الله ولا إله إلا الله فما الحمد لله؟ فقال علي: كلمة رضيها الله لنفسه وأحب أن تقال

“Umar berkata: Kami telah mengetahui Subhanallah dan Laa Ilaha Illallah, namun apakah Alhamdulillah?” Ali menjawab: “Kalimat yang Allah ridhai untuk diri-Nya dan Dia paling suka untuk disebutkan.” (Lihat Alauddin Al-Muttaqi Al-Hindi, Kanzul ‘Ummal No. 3956)

Demikian. Wallahu A’lam wal Hamdulillah..

🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Keteguhan di Balik QS Al Qalam 68: 2-3

📝 Ustadz Noorahmat

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃

Hari ini kita coba kaji bagian pembuka dari salah satu surat di Juz 29. Surat Al Qalam yang merupakan salah satu surat yang diturunkan di Makkah (Makkiyyah) yang kalau dibuka di mushaf Utsman terdapat di halaman 564.

Suatu ketika… Rasulullah SAW ditimpa kegalauan ketika aktifitas beliau mensyiarkan nilai-nilai Tauhid justru ditanggapi orang-orang musyrik Makkah dengan menganggap bahwa Rasulullah SAW merupakan seorang yang gila atau kerasukan syaithan [1]. Maka kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat kedua dan ketiga dari Surat Al Qalam ini…

مَآ أَنتَ بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ بِمَجۡنُونٍ۬, وَإِنَّ لَكَ لَأَجۡرًا غَيۡرَ مَمۡنُونٍ۬

Dengan karunia Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah orang gila. Dan sesungguhnya engkau pasti mendapat pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. (68: 2-3)

Maksud dari Firman Allah Azza wa Jalla pada ayat kedua adalah bahwa Rasulullah SAW bukanlah orang gila sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang bodoh dari kaum Quraisy. Mereka mendustakan apa yang beliau bawa berupa hidayah (petunjuk) yang jelas dan membuat mereka akhirnya menganggap beliau sebagai orang gila. [2]

Allah Azza wa Jalla bersumpah dengan Qalam dan Kitab yang ditulis untuk membuka pintu pengajaran, karena Allah Ta’ala tidak bersumpah kecuali untuk urusan-urusan yang besar. Disini Allah Aza wa Jalla menjelaskan muqsam ‘alaih (isi sumpah) itu: “Sesungguhnya Rasulullah SAW tidaklah gila seperti yang mereka sangkakan. Allah telah mengkaruniakan kepada beliau kenabian, keistimewaan akal dan kemuliaan akhlak”. Setelah itu Allah Ta’ala menjelaskan beberapa ni’mat-Nya kepada beliau diantaranya berupa ganjaran yang besar dan pahala yang banyak serta tidak akan terputus [tak terhitung banyaknya] karena beliau menyampaikan risalah Allah Azza wa Jalla kepada makhluk-Nya, termasuk karena keshabaran beliau dalam menghadapi gangguan dan keteguhan beliau menghadapi musibah. [4]

Dari kedua ayat tersebut….kita bisa mengambil beberapa hikmah dari akhlak beliau yang bisa kita aplikasikan dalam keseharian sebagai seorang pemuda muslim yang mengidolakan Rasulullah SAW sebagai teladan kehidupan kita…

1. Rasulullah SAW mempraktikkan apa yang diwahyukan Allah SWT kepada beliau. Beliau tidak sekedar tahu, tapi beliau juga mengaplikasikannya dalam keseharian. Itulah mengapa beliau SAW disebut sebagai Al Qur’an berjalan. Karena tiada satu wahyu-pun yang tidak beliau fahami dan semua dipraktikkan dalam keseharian dalam bentuk keteladanan bagi kita semua hingga akhir zaman.

2. Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam hal keyakinan kepada Allah Azza wa Jalla. Beliau yakin dengan tugas yang Allah Ta’ala berikan. Dan beliau pantang menyerah dalam melaksanakan amanah tersebut. Meski beliau dianggap gila atau kerasukan syaithan…tetap saja beliau komitmen dalam mengemban tugas sebagai Rasulullah. Demikian pula dengan kita. Komitmen dengan nilai-nilai Islam dan menyampaikannya kepada kawan-kawan kita dalam bentuk keteladanan. Jangan justru kita yang terpengaruh.

3. Rasulullah SAW hanya mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala dan tidak mengharapkan balasan dari yang lain. Maka dari itu, kita pun harus menjadikan orientasi tertinggi kita adalah Ridha Allah Ta’ala, bukan Ridha yang selain-Nya…. (apalagi Ridho Irama….nggak nyambung nanti 😅)

4. Rasulullah SAW sangat bershabar ketika menghadapi kesulitan. Maka kita semua harus bershabar dalam memperjuangkan tegaknya nilai Islam. Keshabaran itu bukan nrimo atau terima apa adanya lho ya….tapi shabar itu juga bermakna berjuang melakukan perubahan dengan sebesar-besarnya kemampuan dan potensi yang kita miliki.

5. Rasulullah SAW senantiasa bertoleransi terhadap siapun di sisi beliau, Beliau selalu memperhatikan siapa saja yang ada di sekitar beliau. Kesalahan mereka akan diluruskan belau dengan penuh kelembutan dan sesuai dengan kondisi dan kapasitas masyarakat yang Rasulullah SAW hadapi. Tapi ingat, semua beliau lakukan dalam upaya mendidik ummat manusia menjadi lebih baik dari segala sisinya.

6. Rasulullah SAW senantiasa mempraktikkan keadilan. Baik terhadap kawan maupun lawan. Beliau tidak langsung marah ketika disebut sebagai orang Gila. Inilah yang membuat beliau semakin disegani oleh kawan maupun kawan. Karena sikap beliau sangat terukur dan terjaga serta tidak serampangan. Coba bayangkan bila saat itu Rasulullah SAW langsung angkat pedang menunjukkan kemarahan….bisa jadi kita tidak pernah mengenal Islam…

7. Rasulullah SAW penuh kepatuhan kepada Allah Azza wa Jalla. Inilah yang menjadikan beliau sebagai yang utama diantara seluruh Nabi dan Rasul. Karena seluruh sikap beliau menunjukkan kepatuhan tingkat tertinggi kepada kehendak Allah Azza wa Jalla. Tidak pernah sekalipun beliau menselisihi perintah Allah ta’ala. Maka sampai diamanakah keta’atan kita kepada Allah Rabb Semesta Alam?

Barakallahu fiikum ajma’iin

————-
*Maraji*
*[1]* Riwayat Ibnu Mundzir dari Ibnu Juraij sebagaimana dituliskan dalam kitab Lubabun Nuqul
*[2]* AlMisbah Al Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Katsir
*[3]* Tafsir At Tabari
*[4]* Ibid.
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Bab Larangan Orang Kota Menjual Kepada Orang Desa

Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚Hadits #1

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيْعَ حَاضِرٌ لِبَادٍ (رواه البخاري والنسائي)

Dari Ibnu Umar ra berkata, ‘bahwa Rasulullah SAW melarang orang kota menjual kepada orang desa.’ (HR. Bukhari & Nasa’i)

📚Hadits #2

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَبِعْ حَاضِرٌ لِبَادٍ دَعُوا النَّاسَ يَرْزُقْ اللَّهُ بَعْضَهُمْ مِنْ بَعْضٍ (رواه الجماعة إلا البخاري)

Dari Jabir ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah orang kota menjual kepada orang desa. Biarkanlah manusia (melakukan usahanya masing-masing), Allah memberi rizki sebagian mereka dari sebagian yang lain.’ (HR. Jama’ah, kecuali Imam Bukhari)

📚Hadits #3

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ نُهِينَا أَنْ يَبِيعَ حَاضِرٌ لِبَادٍ وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لأَبِيْهِ وَأُمِّهِ (متفق عليه)، وَلأَبِيْ دَاوُدَ وَالنَّسَائِي أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يَبِيْعَ حَاضِرٌ لِبَادٍ، وَإِنْ كَانَ أَبَاهُ أَوْ أَخَاهُ

Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa sesungguhnya kami orang kota dilarang menjual kepada orang desa, sekalipun ia saudaranya, baik saudara dari bapaknya maupun dari ibunya. (Muttafaqun Alaih).

Dan dari riwayat Abu Daud dan Nasa’i, ‘Bahwa Nabi SAW melarang orang kota menjual kepada orang desa, meskipun ia adalah ayahnya atau saudaranya.’

📚Hadits #4

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَلَقَّوْا الرُّكْبَانَ وَلاَ يَبِعْ حَاضِرٌ لِبَادٍ قَالَ فَقُلْتُ لابْنِ عَبَّاسٍ مَا قَوْلُهُ لاَ يَبِيعُ حَاضِرٌ لِبَادٍ قَالَ لاَ يَكُونُ لَهُ سِمْسَارًا (رواه الجماعة إلا الترمذي)

Dari Ibnu Abbas ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah kalian menghadang kafilah-kafilah dagang, dan janganlah orang kota menjual kepada orang desa.

Aku (Thawus) berkata kepada Ibnu Abbas, ‘Apakah arti sabda Nabi SAW jangalah orang kota menjual kepada orang desa?

Ibnu Abbas menjawab, ‘Jangalah ia menjadi perantara (makelar) baginya.’ (Muttafaqun Alaih)

🌷Makna Hadits Secara Umum

Secara umum, hadits ini menggambarkan tentang larangan bagi orang kota untuk menjual barang kepada orang desa.

Hal ini karena umumnya orang kota lebih maju, lebih lincah, lebih pintar dalam hal dagangan di bandingkan dengan orang desa.

Orang desa umumnya lebih kurang mengerti terkait transaksi, oleh karenanya tidak boleh memanfaatkan ketidaktahuan orang desa, dengan menjual barang-barang kepada mereka, sehingga dapat menimbulkan berbagai penipuan dan pengelabuan yang berakibat pada kerugian yang akan diderita oleh orang desa tersebut.

Perbuatan yang merugikan orang lain merupakan sifat yang buruk, dan oleh karenanya Nabi SAW melarangnya, karena merugikan dan menimbulkan mudharat.

🌷Makna Orang Kota dan Orang Desa

🔺Makna (حاضر) atau orang kota, adalah orang-orang yang secara tinggal di perkotaan, yang umumnya lebih mengerti dan memahami transaksi, harga barang-barang dan komoditi di pasaran.

Berasal dari kata (حضارة) yaitu peradaban.

🔺Sedangkan (باد) atau orang desa, adalah orang-orang yang tinggal di pedesaan, yang umumnya lebih terbelakang pengetahuannya tentang perdagangan, tidak terlalu memahami transaksi, harga barang-barang dan komoditi di pasaran.

Berasal dari kata (بادية) yang berarti kampung, udik. Menjadi akar kata dari orang baduy (بدوي) yang umumnya sangat terbelakang tidak mengerti peradaban bahkan terkesan kurang akhlaknya.

🌷Makna Larangan Orang Kota Menjual Kepada Orang Desa

Ulama berbeda pendapat berkenaan dengan makna larangan dalam hadits-hadits di atas :

💧 Ibnu Abbas : bahwa yang dimaksud adalah menjadi simsar, atau perantara (makelar), bagi orang kota dalam menjual sesuatu kepada orang desa.

💧Imam Bukhari berpendapat menguatkan pendapat Ibnu Abbas, yaitu bahwa  yang dimakud adalah orang-orang yang bertindak menguruskan jual beli untuk orang lain dengan upah.

💦 Namun, apabila ia menjadi perantara dan tidak mengambil keuntungan dari situ, maka tidak termasuk dalam larangan di hadits di atas. Karena ia bertindak sebagai penasehat atau penolong.

💦 Namun sebagian ulama lainnya memasukkan larangan ini kepada semua jenis makelar, baik yang mendapatkan upah maupun yang tidak mendapatkan upah.

💧Menurut Syafi’iyah dan Hanabilah : bahwa yang dimaksud adalah seperti seseorang datang ke suatu daerah dengan membawa barang dagangannya yang hendak di jual dengan harga pasar pada hari tersebut.

Lalu orang kota datang kepadanya dengan mengatakan, ‘berikan barangmu kepadaku, biar aku beli secara kredit dengan harga yang lebih tinggi.’

💧Sebagaian ulama lainnya ada yang membatasi maknanya pada larangan menjadi makelar khusus untuk orang desa saja. Sedangkan menjadi makelar untuk orang kota, maka tidak termasuk dalam larangan tersebut. Kecuali jika orang kotanya juga tidak mengetahui transaksi dan harga pasaran sebagaimana orang desa, maka masih termasuk yang dilarang.

💦Kesimpulan dari pendapat ulama tentang larangan orang kota menjual kepada orang desa adalah bahwa orang kota yang mengerti transaksi jual beli, mengerti barang dan komoditi, dan mengerti segala hal terkait dengan pasar dan harga pasar, lantas memanfaatkan ketidaktahuan orang-orang desa atau orang-orang kampung dengan menjual barang-barang kepada mereka.

Karena hal ini dapat merugikan pihak orang-orang desa yang tidak terlalu mengerti tentang harga barang komoditi.

Akibatnya, orang desa bisa dirugikan dari beberapa sisi, diantaranya :
🔹 Membeli barang-barang yang sesungguhnya sudah tidak update lagi, atau sudah ketinggalan .
🔹 Membeli barang-barang dengan harga jauh di atas harga rata-rata, dsb.

🌷Larangan Mencegat Kafilah Dagang

Termasuk yang dilarang dalam hadits-hadits di atas adalah larangan mencegat kafilah dagang di tengah jalan, yang bermaksud menjual barang dagangannya ke pasar dengan harga yang berlaku umum di pasaran.

Dalam hadits di atas disebutkan :

لاَ تَلَقَّوْا الرُّكْبَانَ

‘Janganlah kalian menghadang kafilah-kafilah (dagang)’ (HR. Jamaah)

Karena umumnya kafilah tersebut belum mengetahui berapa harga barangnya di pasaran, sehingga ketidaktahuan mereka dimanfaatkan dengan dicegat di tengah jalan, lantas diberikan informasi palsu bahwa harga pasar adalah sekian dan sekian, supaya mereka bisa melepaskan barangnya dengan harga di bawah harga pasar yang sebenarnya.

Contohnya adalah seperti para petani dari desa yang akan menjual barang dagangannya ke pasar di kota. Namun dicegat oleh para pengusaha atau tengkulak dan barang mereka dengan harga murah dengan memanfaatkan ketidaktahuan para pedagang tersebut.

Bentuk-bentuk lainnya adalah sebagai berikut :

🔹 Memborong atau memonopoli barang yang dibawa oleh kafilah dagang.
🔹Mengurangi keuntungan kafilah dagang.
🔹Menimbun dan memacetkan arus barang, sehingga tidak sega tiba di tangan konsumen yang membutuhkannya, dan berakibat pada tingginya harga barang dang menguntungkan pihak ketiga.
🔹Menipu harga kepada kafilah dagang, dengan memberitahu harga yang tidak benar.

Jika dianalisa, maka masuk dalam larangan tersebut adalah para tengkulak yang umumnya membeli barang dari petani sehingga petani menjadi merugi, karena menjualnya jauh di bawah harga pasaran.

Tengkulak umumnya sangat mengetahui fruktuasi harga pasar, dan ia memiliki alat transportasi yang memadai, dan umumnya memiliki akses besar ke para petani dan ke para pedangang di pasar. Nah, ketika ia memotong jalur para petani dengan membeli langsung dari para petani dengan harga yang tidak wajar, maka hukumnya haram.

Terlebih-lebih apabila disertai dengan monopoli, sehingga petani tidak bisa berbuat apa-apa atau tidak punya pilihan lain selain menjual dengan harga murah kepada para tengkulak tersebut. Maka hukumnya haram; karena monopoli dan juga karena terdapat unsur pendzaliman (aniaya) kepada para penjualnya.

Apabila terjadi pencegatan kafilah dagang, maka hukumnya adalah sebagaimana dalam hadits berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُتَلَقَّى الْجَلَبُ فَإِنْ تَلَقَّاهُ إِنْسَانٌ فَابْتَاعَهُ فَصَاحِبُ السِّلْعَةِ فِيهَا بِالْخِيَارِ إِذَا وَرَدَ السُّوقَ (رواه الترمذي)

💧Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi SAW melarang penghadangan barang yang dibawa (dari luar kota).
Apabila seseorang menghadang lalu membelinya, maka pemilik barang ada hak khiyar padanya, apabila datang ke pasar.’ (HR. Turmudzi)

Jadi, apabila si pedagang sampai di pasar dan mengetahui harga pasar, lantas ia menginginkan pembatalan jual beli sebelumnya, maka si pembeli harus mengembalikannya kepada pedagang.

🌷Hikmah di Balik Larangan

Islam sangat melindungi kepentingan para pemeluknya; khususnya yang berposisi lebih lemah dan lebih rentan untuk menjadi objek penipuan dan kedzaliman dalam sisi harta.

Dalam hal ini dicontohkan adalah posisi orang desa yang jauh dari peradaban, yang umumnya tidak banyak mengetahui komoditi harga, dsb.

💦Maka tidak boleh memanfaatkan ketidaktahuan mereka, dengan menjual barang-barang atau komoditi tertentu kepada mereka yang nantinya dapat merugikan mereka; baik merugikan dari sisi kemanfaatan barang tersebut maupun dari sisi harga yang lebih tinggi dari yang seharusnya.

Masuk dalam larangan di atas adalah menjadi makelar atau perantara, yang bisa merugikan pihak yang lemah. Dan dalam contoh kasus dari hadits di atas adalah menjadi makelar bagi orang desa yang ketidaktahuannya dapat dimanfaatkan menjadi celah bagi makelar untuk mendapatkan keuntungan berlimpah.

Masuk juga dalam larangan ini, menjadi makelar untuk pihak manapun yang tidak memiliki pengetahuan yang baik terkait objek barang yang ditransaksikan, termasuk kepada orang kota.

💦Adapun apabila terhadap orang yang mengetahui harga, komoditi, pasar, dsb, maka diperbolehkan. Termasuk kepada orang desa, namun ia faham tentang harga pasar dan komoditi, maka boleh menjual atau menjadi makelar bagi mereka.

💦Secara umum, menjadi perantara atau makelar dalam jual beli maupun dalam transaksi lainnya dimana tidak ada unsur tipuan, paksaan, pengelabuan, bersifat memberikan informasi yang benar dan jujur, namun pada akhirnya calon pembeli lah yang menentukan apakah jadi membeli atau tidak, maka hal tersebut adalah diperbolehkan.

💦Masuk dalam kategori yang diperbolehkan adalah profesi agen, marketing, tenaga pemasaran, dsb. Namun dengan syarat sebgaiamana di atas; tidak boleh memanfaatkan ketidaktahuan client nya.

💦Syarat lainnya adalah bahwa objek yang ditawarkannya bukanlah merupakan objek yang diharamkan secara syariah. Namun apabila yang ditawarkannya adalah sesuatu yang haram, maka hukumnya adalah haram.

والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

BAB LARANGAN JUAL-BELI GHARAR

Pemateri: Ust. RIKZA MAULAN, Lc. MAg

Taujih Nabawi

Taujih Nabawi #1

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ (رواه الجماعة إلا البخاري)

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Nabi SAW melarang jual beli hashoh (jual beli dengan lemparan batu) dan beliau melarang jual beli gharar (jual beli yang objeknya tidak jelas). (HR. Jamaah, Kecuali Imam Bukhari)

Taujih Nabawi #2

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ، لاَ تَشْتَرُوْا السَّمَكَ فِي الْمَاءِ، فَإِنَّهُ غَرَرٌ (رواه أحمد)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra bahwasanya Nabi SAW bersabda, ‘Janganlah kalian membeli ikan di dalam air, karena hal itu adalah gharar.’ (HR. Ahmad)

Taujih Nabawi #3

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ حَبَلِ الْحَبَلَةِ (رواه أحمد ومسلم والترمذي)، وَفِيْ رِوَايَةٍ نَهَى عَنْ بَيْعِ حَبَلِ الْحَبَلَةِ أَنْ تُنْتَجَ النَّاقَةُ مَا فِيْ بَطْنِهَا ثُمَّ يَحْمِلُ الَّتِيْ نُتِجَتْ (رواه أبو داود)، وَفِيْ لَفْظٍ، كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْتَاعُوْنَ لُحُوْمَ الْجَزُوْرِ إِلَى حَبَلِ الْحَبَلَةِ، وَحَبَلُ الْحَبَلَةِ أَنْ تُنْتَجَ النَّاقَةُ مَا فِيْ بَطْنِهَا ثُمَّ يَحْمِلُ الَّتِىْ نُتِجَتْ، فَنَهَاهُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ (متقف عليه)، وَفِيْ لَفْظٍ كَانُوْا يَبْتَاعُوْنَ الْجَزُوْرَ إِلَى حَبَلِ الْحَبَلَةِ، فنََهَاهُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُ (رواه البخاري)

Dari Ibnu Umar ra berkata, bahwa Nabi SAW melarang jual beli habalil habalah. (HR. Ahmad, Muslim dan Tirmidzi). Dalam riwayat lainnya, ‘Nabi SAW melarang jual beli habalil habalah (yaitu) onta melahirkan anak onta yang dikandungnya, hingga kemudian anak onta yang baru lahir tersebut hamil.’ (HR. Abu Daud).

Dalam redaksi lain, ‘Bahwasanya orang-orang Jahiliyah memperjualbelikan daging onta dengan model habalil habalah. Habalul Habalah adalah onta melahirkan anak yang dikandungnya, hingga kemudian onta tersebut hamil. Kemudian Nabi SAW melarang transaksi tersebut. (Muttafaqun Alaih).

Dalam redaksi lainnya, ‘Dahulu mereka memperjualbelikan daging onta secara habalil habalah, lalu Nabi SAW melarang jual beli tersebut.’ (HR. Bukhari)

Takhrij Hadits

Hadits #1 dari Abu Hurairah ra, diriwayatkan oleh :

Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyu’ bab Buthlani Bai’i Al-Hashah wal Bai’illadzi Fiihi Gharar, hadits no 2783

Imam Tirmudzi dalam Jami’nya, Kitab Al-Buyu’ an Rasulillah SAW, Bab Ma Ja’a fi Karahiyati Bai’ Al-Gharar, hadits no 1151.

Imam Nasa’i dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Bai’ Al-Hashah, hadits no 4442.

Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab At-Tijarat, Bab An-Nahyi an Bai’ al Hashah wa Bai’ Al-Gharar, hadits no 2185.

Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, Musnad Al-Muktsirin Minas Shahabah, dalam Musnad Abi Hurairah ra, hadits no 9255.

Hadits #2 dari Ibnu Mas’ud ra, diriwayatkan oleh :

Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, dalam Musnad Al-Muktsirin minas shahabah, Musnad Abdullah bin Mas’ud, hadits no 3494.

Imam Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, Kitab Al-Buyu’, Bab Ma Ja’a fi An-Nahyi an Bai’ As-Samak Fil Maa’, juz 5, hal 907.

Imam Al-Baihaqi dalam Ma’rifatus Sunan wal Atsar, Kitab Al-Buyu’, Bab An-Nahyi an Bai’ Al-Gharar wa Tsamani Asbil Fahl, Hadits No 3576.

Imam At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, dalam Min Musnad Abdillan bin Mas’ud ra, Juz 9 Halaman 59, hadits no 10341

Hadits #3 dari Ibnu Umar ra diriwayatkan oleh :

Imam Bukhari dalam Shahihnya, dalam Kitab Al-Buyu’, Bab Bai’ Al-Gharar wa Habalil Habalah, hadits no 1999.

Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyu’, Bab Tahrim Bai’ Habalil Habalah, hadits no 2784.
Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Fi Bai’ al-Gharar, hadits no 2934.
Imam Tirmidzi dalam Jami’nya, Kitab Al-Buyu’ an Rasulillah SAW, Bab Ma Ja’a Fi Bai’I Habalil Habalah, hadits no 1150.

Imam Nasa’I dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Bai’ Habalil Habalah, hadits no 4544, 4545 dan 4546.
Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitab At-Tijarat, Bab An-Nahyi An Syira’ ma fi buthunil An’am wa Dhuru’iha, hadits no 2188.

Makna Gharar

Gharar adalah sesuatu yang tidak diketahui hasil (akhirnya), apakah akan diperoleh atau tidak.

Atau gharar adalah keraguan atas keberadaan objek suatu akad (antara ada dan tidak ada).

Dengan bahasa singkatnya, gharar adalah ketidakjelasan terhadap apa yang ditransaksikan; baik objeknya, caranya maupun harganya.

Gharar merupakan bentuk muamalah yang dilarang dalam syariah Islam, berdasarkan hadits-hadits di atas.

Sehingga tidak boleh kita memperjual belikan sesuatu yang samar dan tidak jelas.

Larangan Jual Beli Hashoh

Diantara bentuk jual beli atau transaksi gharar yang dilarang adalah jual beli hashoh (bai’ al-hashoh), yaitu jual beli dengan lemparan batu.

Ada beberapa bentuk bai’ al-hashoh, sebagaimana dijelaskan dalam Nailul Authar, yaitu :

Seorang penjual berkata kepada pembeli, ‘Aku jual baju-baju ini kepadamu, tergantung baju mana yang terkena lemparan batumu. Kemudian pembeli melempar batunya. Atau penjual mengatakan, ‘Aku jual tanah ini kepadamu dengan harga sekian, dengan luas sejauh lemparan batumu.

Semua bentuk jual beli sebagaimana gambaran di atas adalah tidak boleh ditransaksikan, karena masuk dalam kategori gharar.

Larangan Jual Beli Ikan Dalam Air.

Diantara jual beli yang bersifat gharar yang dilarang adalah jual beli ikan yang masih terdapat di dalam air.

Maksudnya adalah merujuk kepada umumnya ikan yang terdapat di dalam air habitatnya, seperti di sungai, di danau atau di lautan. Karena ikan-ikan tersebut tidak diketahui keberadaannya; apakah ada atau tidak. Dan juga kalaupun ada, tidak bisa diperkirakan besar dan beratnya.

Oleh karena itulah, jual beli ikan di dalam air termasuk gharar yang dilarang.

Sedangkan Illat atau sebab dilarangnya jual beli ikan dalam air adalah bahwa ikan yang terdapat di dalam air tidak dapat dilihat, tidak dapat diukur dan tidak dapat diserahterimakan.

Namun, apabila illatnya bisa dihilangkan, maka jual belinya boleh dilakukan dan transaksinya sah.

Larangan Jual Beli Habalil Habalah.

Transaksi atau jual beli gharar lainnya yang dilarang adalah bai’ habalil habalah. Adapun makna habalil habalah adalah sebagai berikut :

Sebagaimana dalam hadits, yaitu jual beli anak onta yang terdapat dalam kandungan induknya, dan ketika onta ini lahir, ditunggu hingga dewasa lalu hamil. Anak dari anak onta tersebut merupakan objek akad jual belinya.

Jual beli daging onta dengan pembayaran tangguh, hingga anak onta yang dikandungnya melahirkan anak onta berikutnya.

Jual beli habalil habalah sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas adalah tidak diperbolehkan, karena adanya gharar atau ketidakjelasan dalam waktu penyerahan barang yang diperjualbelikan, juga karena objek akadnya tidak ada (ma’dum), serta karena barang tidak bisa diserahterimakan.

والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Quran dan Hadits

Sesuatu Yang Boleh & Tidak Boleh Diperjualbelikan

Oleh: Ust. Rikza Maulan, Lc., M.Ag.

Taujih Nabawi

عَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ﴿إنَّ اللَّهَ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَاْلأَصْنَامِ فَقِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ، فَإِنَّهُ يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ ؟ فَقَالَ لاَ هُوَ حَرَامٌ، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ : قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ إنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ﴾ (رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ)

Jabir bin ‘Abdullah ra, bahwasanya dia mendengar Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharam kan khamar, bangkai, babi dan patung-patung”.

Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan lemak dari bangkai (sapi dan kambing) karena bisa dimanfaatkan untuk memoles sarung pedang atau meminyaki kulit-kulit dan sebagai bahan minyak untuk penerangan bagi manusia?

Beliau bersabda: “Tidak, dia tetap haram”. Kemudian saat itu juga Rasulullah SAW bersabda: Semoga Allah melaknat Yahudi, karena ketika Allah mengharamkan lemak bangkai, mereka mencairkannya lalu memperjual belikannya dan memakan uang jual belinya.” (HR. Jamaah)

Takhrij Hadits

Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Al-Buyu’, Bab Bai’ul Maitah wal Ashnam, hadits no 2082.

Hadits diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Musaqah, Bab Tahrim bai’ al-khamr wal maitah wal khinzir wal ashnam, hadits no 2960.

Hadits diriwayatkan juga oleh Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al-Buyu’, Bab Fi Tsamanil Khamri Wal Maitah, hadits no 3025.

Hadits diriwayatkan juga oleh Imam Turmudzi dalam Sunan/ Jami’nya, Kitab Al-Buyu’ an Rasulillah SAW, Bab Ma Ja’a fi Bai’ Juludil Maitah wal ashnam, hadits no 1218.

Hadits diriwayatkan juga oleh Imam Nasa’i dalam Sunannya, Kitab Al-Far’ wal Athirah, Bab An-Nahyu Al-Intifa’ bi Syuhumil Maitah, Hadits no 4183 dan dalam Kitab Al-Buyu’, Bab Bai’ al-Khinzir, Hadits no 4590.

Hadits diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah, dalam Sunannya, Kitab At-Tijarat, Bab Ma La Yahillu Bai’uhu, Hadits No 2158.

Hadits diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, hadits no. 13971

Makna Umum

Secara umum hadits menggambarkan tentang hukum jual beli, terkait dengan objek jual beli yang diharamkan sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW.

Adapun objek-objek yang diharamkan untuk diperjual belikan sebagaimana yang terdapat dalam hadits di atas adalah :

Khamr; segala minuman yang memabukan dan yang mengandung unsur khamer.

Bangkai; segala hewan yang mati yang tidak disembelih dengan menyebut nama Allah SWT.

Babi; mencakup segala hal yang bersumber dari babi

Berhala; dan segala hal yang digunakan untuk kemusyrikan.

Kemudian selain hal tersebut, Nabi SAW juga melarang jual beli lemak bangkai (minyak yang berasal dari bangkai.

Kendatipun bisa dimanfaatkan untuk melumasi dan campuran cat, namun apabila bersumber dari yang haram maka hukumnya adalah haram untuk diperjual bel

Imam Syaukani mengemuka kan :
Hadits ini merupakan dalil haramnya jual beli lemak yang najis, yaitu lemak atau minyak yang bersumber dari bangkai yang tidak disembelih dengan nama Allah SWT, atau dari hewan yang mati (bangkai).

Haramnya hal tersebut, dikuatkan dengan hadits dari Ibnu Abbas ra :

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ﴿لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ حُرِّمَتْ عَلَيْهِمْ الشُّحُومُ فَبَاعُوهَا وَأَكَلُوا أَثْمَانَهَا ، وَإِنَّ اللَّهَ إذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَيْءٍ حَرَّمَ عَلَيْهِمْ ثَمَنَهُ﴾ (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد)

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Semoga Allah melaknati orang-orang Yahudi (diucapkan sebanyak tiga kali), (karena) Allah mengharamkan atas mereka lemak-lemak itu, tetapi mereka (tetap) menjualnya dan memakan hasil penjualannya.

Sesungguhnya apabila Allah mengharamkan sesuatu pada suatu kaum, maka Allah mengharamkan pula harga sesuatu itu.” (Shahih) Ahadits Al Buyu’.

Syarah Hadits

Haramnya Jual Beli Bangkai

Imam Syaukani mengemuka kan :
Sabda Nabi SAW ( والميتة ) ‘bangkai’. Yang dimaksud bangkai adalah segala hewan yang telah hilang nyawanya tanpa melalui proses penyembelihan yang sesuai syariat.

Dikemukakan oleh Ibnu Mundzir bahwa sudah menjadi ijma’ ulama tentang haramnya jual beli bangkai dan bahkan jual beli bagian tubuh binatang yang telah menjadi bangkai.

Namun dikecualikan dari jual beli bankai ini adalah, segala jenis hewan yang halal dimakan tanpa melalui proses penyembelihan, seperti ikan, cumi-cumi, belalang, dan yang sejenisnya.

Haramnya Jual Beli Babi

Imam Syaukani mengemuka kan :
Sabda Nabi SAW ( والخنزير ) dan babi; adalah dalil jual beli babi dan seluruh bagian dari babi.

Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan bahwa sudah menjadi ijma’ ulama akan haramnya jual beli babi beserta semua unsur babi.

Adapun illat (alasan) haramnya jual beli babi dan bangkai adalah karena faktor an-najasah (termasuk barang najis), maka hukumnya mencakup haramnya jual beli segala hal yang mengandung unsur najis.

Haramnya Jual Beli Patung

Imam Syaukani mengemuka kan :
Sabda Nabi SAW ( والأصنام ) adalah jama’ dari shanam (patung/ berhala).

Dalam ini terdapat perbedaan antara ( الوثن ) dengan ( الصنم ).
Al-Watsn adalah yang berbentuk atau memiliki tubuh, sedangkan shanam adalah yang berbentuk gambar.

Illat dalam haramnya jual beli patung adalah karena tidak ada manfaat yang mubah yang dapat diambil dari patung.

Namun sebagian ulama mengemukakan, bahwa apabila ada manfaatnya setelah dihancurkan/ pecah maka boleh diperjual belikan, karena sudah tidak lagi berwujud patung.

Haramnya Jual Beli Lemak Bangkai

Imam Syaukani mengemuka kan :
Riwayat ( أرأيت شحوم الميتة )

‘Bagaimana pendapatmu tentang lemak bangkai?’. Yaitu maksudnya, ‘apakah karena terdapat banyak manfaat pada lemak bangkai, menjadikannya boleh diperjualbelikan?

Kemudian pertanyaan sahabat ( ويستصبح بها الناس ) ‘sebagai bahan minyak untuk penerangan manusia?’

Menunjukkan bahwa lemak bangkai tersebut memiliki banyak manfaat, untuk melumasi sarung pedang, melumasi kulit-kulit, dan bahkan untuk bahan untuk menyalakan lantera sebagai penerang bagi manusia di kegelapan.

Kemudian Nabi SAW bersabda, ‘Tidak, itu haram ( لا، هو حرام ).

Kebanyakan ulama mengatakan bahwa dhamir ( هو ) kembali kepada ( البيع ). Maksudnya adalah bahwa jual beli lemak bangkai adalah haram.

Artinya, kendatipun demikian banyaknya manfaat yang dihasilkan dari lemak bangkai tersebut, namun karena ia berasal dari sesuatu yang haram, maka hukumnya tetap haram.

Haramnya Hilah

Dalam hadits di atas juga disabdakan oleh Nabi SAW, bahwa Allah SWT melaknat orang-orang Yahudi, lantaran ketika mereka diharamkan lemak bangkai, mereka mencairkannya lalu memperjualbelikannya dan memakan uang jual belinya.’

Iman Syaukani mengemuka kan bahwa hadits ini merupakan dalil haramnya hilah dan segala hal yang mengarah pada yang haram.

Maka segala hal yang Allah haramkan terhadap hamba-hamba-Nya, maka memperjualbelikannya juga haram.

Allah SWT bahkan melaknat orang Yahudi, lantaran hilah yang mereka lakukan; yaitu ketika Allah SWT mengharamkan lemak bangkai, mereka merubah wujudnya menjadi cair (minyak). Kemudian mereka menjualnya, lalu memakan keuntungan dari jual beli tersebut.

Secara bahasa, hilah adalah bentuk jama’ dari hiyal yang berarti sebuah upaya untuk mengelak dari ketentuan syariat (hukum agama) yangsecara teknik tidak dipandang sebagai melanggar hukum.

Sedangkan secara istilah, hilah adalah melakukan suatu amalan yang dzahirnya boleh untuk membatalkan hukum syar’i serta memalingkan kepada hukum yang lainnya.

Ibnu Qayim Al-Jauziyah mengatakan bahwa hilah adalah mencari jalan dengan cara yang licik untuk menyembunyikan kenyataan bahwa sebenarnya tujuannya adalah melakukan sesuatu yang diharamkan.

Hilah dalam rangka untuk menghalalkan segala apa yang diharamkan Allah SWT adalah tidak diperbolehkan, sebagaimana digambarkan oleh Nabi SAW dalam hadits di atas perihal dilaknatnya orang-orang Yahudi karena melakukan hilah, untuk menghalalkan lemak bangkai dengan cara, mengubah wujudnya dari lemak menjadi minyak.

Objek Lainnya Yang Haram Diperjual Belikan

1. Jual beli anjing.

Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW

وَعَنْ أَبِي مَسْعُودٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو قَالَ : { نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ } .رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ

Dari Abu Mas’ud ra, ia berkata; Nabi SAW melarang untuk memakan hasil keuntungan dari anjing, upah pelacur dan komisi dukun.

Menurut Jumhur Ulama; hukum jual beli anjing adalah haram; baik anjing yang terlatih (seperti untuk buruan), maupun anjing biasa yang tidak terlatih.

Namun menurut Imam Abu Hanifah, boleh memperjual belikannya. Demikian juga Imam Atha’ mengatakan boleh memperjualbelikan nya, apabila merupakan anjing untuk berburu yang terlatih.
Karena dalam riwayat disebutkan :

عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ إلاَّ كَلْبَ صَيْدٍ

Dari Jabir ra berkata, bahwa Rasulullah SAW melarang harga jual beli anjing kecuali anjing buruan.’ (HR. Nasa’i dan Ahmad bin Hambal)

Menguatkan haramnya jual beli anjing adalah riwayat sebagai berikut :

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ { : نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَقَالَ : إنْ جَاءَ يَطْلُبُ ثَمَنَ الْكَلْبِ فَامْلَأْ كَفَّهُ تُرَابًا} رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد

Dari Abdullah bin Abbas, ia berkata: Rasulullah melarang kita dari harga anjing dan jika ada seseorang yang meminta harga anjing maka penuhilah telapak tangannya dengan debu. (HR. Imam Ahmad dan Abu Daud)

2. Upah Pelacur & Komisi perdukunan.

Hadits di atas menyebutkan haramnya hasil upah pelacur dan komisi dari perdukunan.
Jumhur ulama juga sepakat haramnya upah pelacur dan komisi perdukunan. Karena kedua jenis usaha tersebut merupakan usaha yang haram, sehinga segala yang haram untuk dimakan, dilakukan dan diusahakan, maka haram pula hasil keuntungan dari usaha tersebut.

3. Jual beli darah.

Darah termasuk ke dalam objek yang haram untuk dimakan dan dimanfaatkan. Oleh karenanya, mentransaksikannya dalam jual beli juga menjadi haram. Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW :

وَعَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ إنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَرَّمَ ثَمَنَ الدَّمِ وَثَمَنَ الْكَلْبِ وَكَسْبَ الْبَغِيِّ وَلَعَنَ الْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ وَآكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَلَعَنَ الْمُصَوِّرِينَ } .مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Abu Juhaifah berkata bahwa “Rasulullah SAW telah melarang harga (uang hasil jual beli) darah, anjing, upah pelacuran budak wanita dan melarang orang yang membuat tato dan yang minta ditato dan pemakan riba’ dan yang meminjamkan riba, serta melaknat pembuat patung. (Muttafaqun Alaih)

4. Upah jasa pembuatan tato.

Karena tato merupakan sesuatu yang dilarang dalam syariah, bahkan Nabi SAW melaknat pembuat tato dan yang minta dibuatkannya. Oleh karena itulah, upah jasa pembuatan tato juga menjadi haram, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

5. Riba.

Riba diharamkan dalam syariah Islam, bahkan pengharamannya demikian “kerasnya” disebutkan dalam Al-Qur’an. Oleh karenanya, setiap transaksi yang di dalamnya terdapat unsur riba, menjadi haram hukumnya.

Dan keharamannya berlaku bagi yang membayar maupun yang menerimanya, atau bagi debitur maupun krediturnya.

6. Jasa pembuatan patung.

Karena patung merupakan sesuatu yang haram untuk dimanfaatkan, maka bukan hanya jual belinya; namun upah dari jasa pembuatan patungnya juga menjadi haram, karena substansi patungnya haram.

7. Jual beli kucing.

Dalam hadits disebutkan :

وَعَنْ جَابِرٍ { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَالسِّنَّوْرِ } .رَوَاهُ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ وَأَبُو دَاوُد

Dari Jabir bin Abdullah bahwasanya Rasulullah SAW melarang harga anjing dan kucing (bagi umat Islam).”

Hadits ini menggambarkan tentang larangan jual beli kucing, sehinga memperjual belikannya menjadi haram, (menurut Abu Hurairah, Imam Mujahid dan Jabir bin Zaid. Mereka melihat dari dzahir riwayat di atas.

Namun menurut Imam Syaukani, kebanyakan ulama memperbolehkan jual beli kucing. Alasannya adalah bahwa riwayat yang melarang jual beli kucing adalah dhaif.

Lagi pula jenis pelarangan nya bukan tahrimi (pengharaman), namun lebih bersifat tanzihi (pemakruhan yang sebaiknya dihindari).

Kesimpulan Haramnya Jual Beli Objek Yang Haram

1. Barang yang Haram Dimakan

Segala jenis barang yang haram dimakan, maka haram ditransaksikan, seperti jual beli daging babi, daging anjing, kue yang mengandung rum, makanan mengandung arak, dsb

2. Barang Yang Haram Diminum

Segala jenis barang yang haram untuk diminum, maka haram pula ditransaksikan, seperti segala jenis khamr (minuman keras)

3. Barang yang haram dimanfaaatkan

Segala jenis barang yang haram dimanfaatkan secara syariah maka haram diperjualbelikan, seperti jual beli berhala, alat maksiat, konten porno, konten ramalan, dsb

4. Barang yang haram karena proses mendapatkannya

Segala jenis barang yang bersumber dari proses yang haram, maka haram diperjualbelikan. Misalnya seperti barang hasil curian, hasil usaha perampokan, dsb.

والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berjihadlah

Kekalahan yang Berawal Dari Perselisihan Internal (Dari Seorang Buronan hingga Menjadi Admiral) bag-2

Pemateri : Ust. AGUNG WASPODO, SE, MPP

Bagian -1 dapat dibaca dari tautan berikut

Kekalahan yang Berawal Dari Perselisihan Internal (Dari Seorang Buronan hingga Menjadi Admiral) bag-1

Prestasi Sebagai Admiral Turki Utsmani

Selman Reis mendapatkan kesempatan bebas atas permohonan İbrahim Pasha di Mesir pada tahun 1524 yang sangat menghargai pengalamannya. Ia melaporkan situasi di Samudera Hindia dan mengajukan proposal untuk menguasai Ethiopia, Yaman, pantai Swahili, serta mengusir Portugis dari Hormuz, Goa, dan Malaka. Pada tahun 1525 armada Portugis menyerbu pelabuhan di sepanjang pesisir Laut Merah dan berlayar hingga mendekati pangkalan angkatan laut Turki Utsmani di Suez, Mesir.

Pada tahun 1525 Selman Reis dipercayai sebagai admiral untuk memimpin 18 kapal perang Turki Utsmani berkekuatan 299 meriam; sebagian besar kapal ini diambil dari bekas armada Mamluk yang teronggok di Jeddah dan diperbaiki di Suez. Selman Reis berangkat bersama Hayreddin ar-Rumi yang membawa 4.000 pasukan infanteri dengan misi menaklukkan pedalaman Yaman. Armada ini meninggalkan Suez pada tahun 1526 dan setelah merapat di Jeddah baru sampai ke pelabuhan Mocha pada bulan Januari 1527. Keduanya memimpin balatentara Turki Utsmani bergerak ke pedalaman Yaman dan meredam pemberontakan serta mengeksekusi Mustafa Beg sang pemimpin. Balatentara ini tidak cukup kuat untuk merebut kota pelabuhan Aden; namun amirnya mengakui ketundukannya kepada gubernur Turki Utsmani di Mesir.

Catatan penting di sini adalah, hampir tidak pernah wilayah Yaman memberikan ketenteraman bagi administrasi Turki Utsmani di region Samudera Hindia ini. Pemberontakan serta insiden sering mewarnai pergolakan di Yaman pedalaman dan waktu terjadinya pun sering bertepatan dengan momen besar lainnya. Sumber daya yang dibutuhkan untuk memadamkan permasalahan di Yaman seringkali diambil dari alokasi untuk kemajuan wilayah perbatasan lainnya yang terpaksa mengalah.

Armada ini membangun pangkalan angkatan laut di Kamaran, dekat benteng yang pernah dibangunnya pada masa kedinasan di angkatan laut Mamluk. Keberadaan pangkalan ini memberikan kekuatan bagi Turki Utsmani untuk mengawal wilayah akses masuk ke Laut Merah. Untuk pertama kalinya tercatat dalam sejarah bahwa pada rahun 1527 armada Portugis tidak dapat masuk menyerbu ke Laut Merah.

Kesudahan

Setelah keberhasilan terbatas Selman Reis dan Hayreddin ar-Rumi di wilayah Yaman ini mulailah berdatangan permintaan perlindungan dari kesultanan di hampir seluruh pelosok Samudera Hindia atas agresi Portugis yang selama ini tidak terbendung. Bahkan pada tahun 1527 itu datang juga permohonan aliansi dari Wazir Hormuz dan Zamorin Calicut.

Pada tahun 1528 tercatat bahwa banyak pelaut dan pasukan berkebangsaan Turki yang bekerja untuk mengawaki pelayaran berbagai kesultanan di Samudera Hindia; bahkan sampai ke ujung Sumatera. Namun masa-masa gemilang hampir selalu berakhir dengan perpecahan sebagaimana kerjasama yang apik antara Selman dan Hyreddin pun kandas akibat persaingan antar keduanya. Dengan musibah ini maka posisi terjepit yang dialami Portugis berangsur melonggar; bahkan bantuan dari Portugal kembali mengalir untuk menguatkan posisi Estado da Índia.

Pada ujung masanya, Selman Reis terus aktif membantu perlawanan berbagai kesultanan Muslim untuk menghadapi serangan gabungan antara Portugis dan kerajaan-kerajaan Hindu yang menjadi sekutu barunya. Selman Reis juga berhasil menguatkan posisi Diu dengan menempatkan Hoca Sefer sebagai penerusnya.

Agung Waspodo, kembali mencatat bahwa kekalahan kaum Muslimin selalu karena kelemahan diantara pemimpinnya, pelajaran yang terus berulang walau telah berlalu 499 tahun.

Depok, Rabu 23 September 2015, menjelang maghrib.. 6 hari telat dari tanggal bersejarahnya, masih berjuang mengejar catatan-catatan sejarah militer yang begitu banyak tercecer dari kemampuan kelola saya.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Ciri Penghuni Surga

Tanyakan, Pahami, Maafkan, dan Doakan

Pemateri : Ust. AGUNG WASPODO, SE, MPP

Sekitar bulan Oktober 630 M pasukan yg berangkat dari Madinah sudah tiba dan menetap beberapa waktu di Tabuk.

Rasūl SAW menerima kedatangan Abu Khaytsamah RA yg menyusul meninggalkan kedua isterinya, kebun yang siap dipanen, bejana-bejana yang dipenuhi air dingin, tenda-tenda yangsejuk, serta makanan yang cukup.

Pertanyaan Rasūl SAW kepadanya adalah “awlā laka yā Abā Khaytsamah?” / “Mengapa engkau tidak berangkat lebih awal, wahai Abā Khaytsamah?”

Abu Khaytsamah (ra) menjelaskan semua duduk perkaranya dengan menahan rasa malu dan khawatir. Namun, apa yg beliau temukan dari reaksi Rasūl SAW sungguh mencengangkan, dicatat dalam Sīrah Nabawiyyah Ibn Hisyām hal.402 vol.4 bahwa “faqāla lahu Rasūlullāh SAW khairan wa da’ā lahu bi khairin” / Rasūl SAW berkata kepadanya dgn baik dan mendoakannya dengan kebaikan..

Betapa terkadang terlalu mudah utk menghukum dan terlalu sulit utk memaafkan dan mendoakan.

Izin rekan-rekan untuk mengangkat ulang tulisan pendek ini.. karena ternyata baru saya disadarkan Allah Ta’ala bahwa Abu Khaytsamah (ra) yang diterima alasannya oleh Nabi (saw) ketika beliau telat menyusul rombongan kaum Muslimin yg berangkat ke Tabuk itu adalah..

Abu Khaytsamah (ra) yang juga dipercayai Rasul (saw) menjadi penunjuk jalan bagi kaum Muslimin dari Utum Syaikhayn menuju Uhud. Berkat kepengetahuannya atas medan sebelah utara Madinah itulah kemudian pasukan lawan menjadi kehilangan momentum.

Abu Khaytsamah (ra) membawa pasukan kaum Muslimin bermanuver di Wadi al-Qanat sehingga hilang dari pantauan Khalid ibn al-Walid (sebelum masuk Islam). Manuver ini menjadi salah satu sebab yang memungkinkan tenda komando Rasul (saw) di Uhud tidak pernah diketahui lawan.

Manuver ini juga yang membuat posisi kaum Muslimin yang tinggal 700an personil – setelah desersinya kaum munafiqin pimpinan Abdullah ibn Ubay – tetap memiliki posisi strategik di kaki Jabal Uhud menghadapi 3000 kaum musyrikin Makkah.

Bahan tambahan diambil dari kitab “Wafa’ul Wafa’ bi Akhbari Darul Mustafa” karya sejarawan as-Sumhudi.

Agung Waspodo,
Jakarta, 30 Nov 2015 (Tulisan awal
Depok, 18 Mei 2015)


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Gemar Berbuat Baik

Banyak Jalan Menuju Kebaikan

Oleh: Ust. DR. Wido Supraha M.Si

Pepatah “Banyak Jalan Menuju Roma” mengandung persoalan filosofis. Mungkin yang paling tepat adalah “Banyak Jalan Menuju Penaklukan Roma”, dikarenakan Rasul Saw. telah memberitakan akan penaklukan kota tersebut di kemudian hari, setelah Konstantinopel ditaklukan 800 tahun kemudian oleh Sultan ke-7 Turki ‘Utsmani, Sultan Muhammad al-Fatih.

Adapun Banyak Jalan Menuju Kebaikan menjadi sebuah keniscayaan di tengah keberagaman jalan yang ternyata telah disiapkan untuk kelanggengan aktivitas umat manusia dalam mencari kemuliaan yang hakiki.

Sungguh, Allah Swt. ternyata begitu memudahkan kita mencapai kemuliaan daripada kehinaan, keagungan daripada kerasukan, keberuntungan daripada kerugian, dan kebaikan daripada keburukan. Tentunya kebaikan yang sesuai dengan kehendak Rabbnya, bukan sesuai dengan kehendak pribadi manusia belaka.

Maka menjadi terang setelah Allah Swt. memastikan bahwa kebaikan apa pun yang dikerjakan, maka sesungguhnya Allah pasti mengetahuinya (Q.S. 2:197, 215). Sekecil apapun kadar kebaikan di mata manusia, Allah tetap akan memberikan balasannya (Q.S. 99:7). Dalam hal ini, setiap manusia perlu berlomba-lomba mencari kebaikan dari Allah untuk dirinya sendiri, karena kemudian ketaqwaannya sajalah yang akan menyampaikan kebaikan (shalihan) yang diperbuatnya kepada Rabb-nya (Q.S. 45:15).

Berbicara tentang semangat mencari kebaikan, alangkah luar biasanya kalau kita berkaca kepada para sahabat Nabi Saw., radhiyallaahu ‘anhum ajma’in, bagaimana setiap waktunya digunakan untuk mencari – melaksanakan segala bentuk kebaikan, seakan-akan mereka tidak pernah merasa cukup dengan kebaikan yang telah mereka lakukan dan dawam­kan, seakan-akan energi mereka tak pernah habis untuk mengejar kebaikan.

Pada saat itu, apakah mungkin mereka masih sempat untuk sekedar berfikir untuk berbuat keburukan? Bahkan apakah mungkin mereka masih sempat untuk beraktivitas yang boleh jadi hukumnya mubah-mubah saja?

Sepertinya, mereka terus menerus hidup untuk menghidupkan sunnah agar terus hidup di kehidupan.

Jangan pernah malu untuk berbuat kebaikan, atau bahkan menganggap kecil sebuah kebaikan.

Satu bentuk hadian kepada manusia mungkin karena dibatasi kemampuan menjadi kecil secara nilai dan upaya, tapi yakinlah, sangat besar di sisi Allah Swt.

Senantiasa menunjukkan wajah terbaik penuh kesejukan dan keramahan kepada manusia (Lihat Shahih Muslim No. 2626), menghadiahkan sekedar kikil kambing, (Lihat Fathul Bari V/197), atau sup sayur yang lebih banyak air daripada isinya, apabila dilakukan dengan mengharap ridha Allah Swt. akan meninggalkan bekas mendalam yang mengeratkan persaudaraan, atau meluaskan syi’ar Islam.

Setiap mukmin selalu ada saja yang ingin ia perbuat untuk saudaranya, ia ingin selalu bermanfaat untuk saudaranya, karena ia yakin itu adalah kebaikan.

Nabi Saw. menyaksikan bagaimana seseorang bisa berpindah-pindah tempat menikmati Surga karena ia berupaya memotong pohon yang menghalangi jalanan saudaranya (Lihat Shahih Muslim No. 1914), sehingga membuat Allah memujinya dan memberikan ampunan kepadanya.

Bahkan tidak hanya kepada manusia, kasih sayang mukmin kepada segala makhluk yang memiliki limpa, seperti seekor anjing yang kehausan, sehingga rela bersusah payah untuk menghilangkan penderitaan anjing tersebut pun mendapatkan balasan yang sama dari Allah Swt. (Lihat Fathul Bari V/40-41).

Luar biasa, bentuk kebaikan yang menunjukkan keluasan rahmat Allah Swt, sekaligus menunjukkan dimanapun mukmin berada, niscaya melahirkan peradaban yang mulia di sekitarnya.

Sesungguhnya setiap kebaikan yang kita perbuat akan menjadi sedekah yang luar biasa di sisi Allah Swt (Lihat Shahih Muslim No. 1005).

Sebagai misal, seorang manusia yang senang menanam tanaman, karena ia yakin Islam adalah agama yang ramah lingkungan, dan mencintai lingkungan hidup, hutan di rumahnya sendiri, maka jika ada burung yang memakan tanamannya, manusia yang mencuri buahnya, itu semua tidak akan mengurangi apa yang ia miliki selain menjadi sedekah yang begitu besar di sisi Allah Swt. (Lihat Shahih Muslim No. 1552).

Dalam bentuk lain, seandainya seorang mukmin tidak diberikan kemampuan untuk membantu kesulitan saudaranya, atau sekedar berbuat sesuatu untuk meringankannya, maka akan menjadi sedekah baginya manakala ia mampu mencegah dirinya dari berbuat keburukan kepada orang lain (Lihat Shahih Muslim No. 84).

Dalam bahasa sederhana, kalau tidak mampu menjadi bagian dari solusi masyarakat, maka tidak menjadi bagian dari problematika masyarakat adalah solusi terbaik.

Begitupun jangan lupakan kekuatan dzikir sebagai bagian dari sedekah, Subhanallah, Alhamdulillah, Allaahu Akbar, Laa Ilaaha illallaah, kekuatan amar ma’ruf dan nahi munkar sebagai sedekah, Shalat Sunnah Dhuha dua rakaat pun sedekah. (Lihat Shahih Muslim No. 720).

Sekalangan sahabat Rasulullah Saw. yang miskin pernah mengeluhkan karena kemampuan orang-orang kaya yang dapat dengan mudah bersedekah dengan harta mereka untuk mendapatkan pahala yang besar. Kemudian Rasul Saw. mengingatkan akan kemudahan sedekah yang dapat dilakukan oleh siapapun, termasuk tidak melupakan kekuatan dzikir dan do’a sebagai bagian dari sedekah, tasbih, takbir, tahmid, dan tahlil, amar makruf dan nahi mungkar, bahkan berhubungan suami istri (jima’) adalah sedekah yang sangat mulia (Lihat Shahih Muslim No. 1006).

Bukankah ternyata sedekah itu mudah sekali bagi mukmin, lantas apa yang kemudian membuat kita sulit untuk bersedekah?

Bersedekah adalah wujud syukur kepada Allah Swt. atas beragam nikmat dan perlindungan-Nya dari malapetaka.

Tiga ratus enam puluh persendian manusia harus dikeluarkan shadaqahnya setiap hari tatkala terbit matahari. Ini menunjukkan bahwa manusia harus terus bergerak untuk melahirkan kebaikan-kebaikan yang akan menjadi sedekah baginya.

Mendamaikan dua orang yang bersengketa, membantu menaikkan atau mengangkat barang saudaranya ke atas kendaraannya, senantiasa memilih kata-kata yang baik dalam bertutur kata, menyingkirkan berbagai potensi gangguan di jalanan, bahkan langkah kaki menuju masjid adalah bagian dari bentuk-bentuk sedekah lainnya yang dapat kita lakukan sebagai penyempurna sedekah kita (Lihat Fathul Bari V/309).

Bersedakahlah sesuai kadar kemampuan, jangan pernah merendahkan keutamannya, meskipun hanya dengan separuh biji kurma saja (Lihat Shahih Muslim No. 2734).

Seandainya ia tidak memiliki apapun untuk disedekahkan secara materi, maka bekerja dengan kedua tangannya sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan untuk dirinya dan bahkan kemudian bersedekah, adalah kebaikan yang sempurna (Lihat Shahih Muslim No. 1008).

Shalat sebagai amal utama dan penentu baiknya semua kebaikan yang dilahirkan menjadi aktivitas rutin dan kunci.

Keseriusan di dalam menjaganya akan melahirkan kebersihan kebaikan dari hal-hal yang dapat merusaknya. Lima kali sehari memotivasi kita untuk terus berkreasi dalam kebaikan.

Kebiasaan kita memelihara shalat berjama’ah di Masjid, seperti Subuh, Ashar dan Isya’, tidak hanya mendapatkan balasan Surga, akan tetapi menjadi terapi yang baik bagi penyakit kemunafikan dalam jiwa manusia (Lihat Fathul Bari II/52).

Manakala sifatnifaq hilang dari jiwa kita, maka tidak akan lahir kecuali kebaikan yang sempurna di atas cahaya tauhid.

Shalat lima waktu berjama’ah di masjid yang terus menerus kita lakukan, Shalat Jum’at yang terus menerus tidak pernah kita tinggalkan, Ibadah Suci Ramadhan yang terus menerus kita giatkan, akan menjadi penghapus dosa-dosa yang terjadi di antara waktu-waktu pelaksanaan nya, dimana kita terus menerus mencintai dan mengembangkan kebaikan dengan tetap menjauhi dosa-dosa besar (Lihat Shahih Muslim No. 233).

Oleh karenanya, khusus berbicara tentang shalat Jum’at, mengawali dengan wudhu yang sempurna, dan kemudian mendatangi masjid, mendengarkan khutbahnya, tidak berbicara sepatah kata pun, tidak memain-mainkan sesuatu di tangannya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya antara Jum’at ditambah tiga hari lagi (sepuluh hari), subhanallah(Lihat Shahih Muslim No. 857).

Begitupun wudhu yang sempurna yang dilakukannya dengan menghemat air wudhu’, tidak boros dalam penggunaan nya, penuh niat yang bersih mengharapkan terhapusnya dosa, melahirkan kebaikan yang sempurna.

Saat ia membasuh wajahnya, keluar dari wajahnya setiap dosa yang dilakukan oleh kedua matanya karena melihat sesuatu yang diharamkan bersama-sama dengan air itu atau bersama-sama dengan tetesan air yang terakhir.

Tatkala ia membasuh kedua tangannya, maka akan keluar setiap dosa yang diperbuat oleh kedua tangannya itu bersama air atau bersama-sama tetesan air yang terakhir sehingga dia akan keluar dalam keadaan bersih dari dosa.

Kemudian ketika ia membasuh kedua kakinya, maka akan keluar dosa yang diperbuat oleh kedua kakinya, bersama-sama dengan air atau bersama-sama dengan tetesan air yang terakhir, maka ia menyelesaikan wudhunya penuh dengan kebaikan, bersih dari dosa (Lihat Shahih Muslim No. 244).

Maka sempurnakanlah wudhu itu dengan memberikan hak dari setiap anggota tubuh, meskipun sulit terasa, karena derajat kebaikan manusia akan semakin tinggi dengannya (Lihat Shahih Muslim No. 215).

Masjid harus menjadi pusaran kebaikan manusia, maka seluruh manusia harus mencintai masjid, gemar memakmurkan masjid, dan memuliakannya dengah hadir pada waktu-waktu yang telah ditetapkan.

Dalam hal ini tidak perlu berharap memiliki rumah dekat dengan masjid, karena kebaikan justeru lebih banyak akan mengalir kepada mereka yang memiliki rumah yang lebih jauh dari masjid, sebagaimana dahulu Rasulullah Saw. pernah mengingatkan Bani Salimah untuk tidak melanjutkan rencana mereka untuk memindahkan pemukimannya lebih dekat ke masjid. Hal ini karena potensi kebaikan dari setiap langkah kakinya begitupun syi’ar selama perjalanannya akan menjadi berkurang (Lihat Shahih Muslim No. 665).

Maka sebagaimana disaksikan Abul Mundzir, Ubay bin Ka’ab r.a., tatkala ada seorang sahabat yang rumahnya terjauh dari masjid di masanya ditawari seekor keledai untuk memudahkannya ke masjid di waktu gelap dan terik matahari, ia mengatakan bahwa ia tidak menyenangi kalau rumahnya dekat ke masjid.

Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Qad jama’allaahu laka dzaalika kullahu”, Sesungguhnya Allah telah mencatat semua kebaikan itu bagimu (Shahih Muslim No. 663).

Biasakanlah merutinkan kebaikan yang telah kita mulai dengan kesungguhan niat, karena niscaya tatkala mengalami kesulitan yang dibenarkan syari’at (udzur syar’i) di suatu masa untuk melaksanakan kebaikan tersebut, Allah Swt. akan segera mengenalinya, dan tetap mencatatnya sebagai kebaikan, hanya karena ia terbiasa melakukannya di kala penuh kemudahan (Lihat Fathul Bari VI/136).

Wallahu A’lam.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678