Hidup dan Mati Adalah Ujian

Benarkah Orang Yang Sudah Wafat Tahu Apa Yang Dilakukan Saudara dan Keluarganya Yang Masih Hidup?

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan, S.S.

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Bismillah al Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’ d:

Tentang pernyataan bahwa ruh (jamaknya: arwah) orang yang sudah wafat “mengetahui” perilaku keluarganya yang masih hidup, memang ada ditegaskan para ulama dengan beberapa dalil baik Al Quran, Hadits, dan pernyataan kaum salaf. Diberitakan bahwa jika keluarganya melakukan kebaikan maka dia akan bergembira, jika keluarganya melakukan keburukan maka dia akan sedih.

Di antara dalilnya, Allah Ta’ala berfirman:

وَقُلِ ٱعۡمَلُواْ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

(QS. At-Taubah, Ayat 105)

Ayat ini menunjukkan bahwa perbuatan manusia disaksikan oleh Allah Ta’ala, Rasulullah, dan orang-orang beriman. Menurut Imam Ibnu Katsir, orang-orang beriman yang dimaksud ayat ini juga termasuk mereka yang sudah wafat di alam barzakh, bukan hanya yang masih hidup.

Beliau – Rahimahullah – berkata:

وَقَدْ وَرَدَ: أَنَّ أَعْمَالَ الْأَحْيَاءِ تُعْرَضُ عَلَى الْأَمْوَاتِ مِنَ الْأَقْرِبَاءِ وَالْعَشَائِرِ فِي الْبَرْزَخِ

Telah datang keterangan bahwa perilaku orang hidup ditampakkan dihadapan orang wafat dari kalangan kerabat dan keluarganya di alam barzakh. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid. 4, hal. 183)

Keterangan yang dimaksud Imam Ibnu Katsir sangat banyak, ada yang shahih, hasan, dan dhaif, di antaranya:

1. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ أَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى عَشَائِرِكُمْ وَأَقْرِبَائِكُمْ فِي قُبُورِهِمْ ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا اسْتَبْشَرُوا بِهِ ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ قَالُوا : اللَّهُمَّ أَلْهِمْهُمْ أَنْ يَعْمَلُوا بِطَاعَتِكَ

Amal kalian akan ditampakkan dihadapan keluarga dan kerabat kalian di kubur mereka. Jika amal itu baik maka mereka bergembira dengannya. Jika tidak baik, maka mereka berdoa: “Ya Allah, ilhamkanlah mereka agar melakukan ketaatan kepadaMu.”

(HR. Abu Daud Ath Thayalisi, no. 1903)

Sanadnya: Dari Shalt bin Dinar, dari Al Hasan, dari Jabir.

Tentang Shalt bin Dinar, dia telah didhaifkan oleh pada imam seperti Ahmad, Al Jauzajaani, Ad Daruquthni, An Nasa’i, Syu’bah. (Mizanul I’tidal, 2/318) Ditambah lagi, sanadnya terputus karena Al Hasan tidak mendengarkan hadits ini dari Jabir, seperti yang dikatakan Abu Zur’ah dan Abu Hatim.

2. Dari Sufyan, dari “seseorang” yang telah mendengar dari Anas bin Malik, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ أَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى أَقَارِبِكُمْ وَعَشَائِرِكُمْ مِنَ الْأَمْوَاتِ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا اسْتَبْشَرُوا بِهِ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ، قَالُوا: اللهُمَّ لَا تُمِتْهُمْ، حَتَّى تَهْدِيَهُمْ كَمَا هَدَيْتَنَا

Amal kalian akan ditampakkan dihadapan keluarga dan kerabat kalian di kubur mereka. Jika amal itu baik maka mereka bergembira dengannya. Jika tidak baik, maka mereka berdoa: “Ya Allah, janganlah matikan mereka sampai Engkau memberikan mereka hidayah seperti Engkau memberikan hidayah kepada kami.”

(HR. Ahmad no. 12683)

Syaikh Syu’aib al Arnauth mengatakan: Dha’if, karena ketidakjelasan perawi antara Sufyan dan Anas. (Ta’liq Musnad Ahmad, 20/114)

3. Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan tentang dialog antar arwah, salah satu dialognya adalah menceritakan kabar Si Fulan di dunia:

إِنَّ فُلَانًا قَدْ فَارَقَ الدُّنْيَا

Si Fulan telah meninggal dunia (HR. Al Bazar no. 9760. Syaikh Al Albani mengatakan: HASAN. Lihat Al Ayat Al Bayyinat, hal. 91)

4. Dari Abu Hurairah pula, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan dialog antara arwah yang sudah wafat. Mereka bertanya kabar si Fulan di dunia, lalu dijawab:

دَعُوهُ فَإِنَّهُ كَانَ فِي غَمِّ الدُّنْيَا

Biarkan saja, dia telah tenggelam dalam kehidupan dunia.

(HR. An Nasa’i no. 1833. Hadits ini dinyatakan SHAHIH oleh Imam Ibnu Taimiyah. Lihat Majmu’ al Fatawa, 5/450)

Selain itu, hal ini juga disampaikan generasi salaf dalam beberapa atsar shahih dari mereka.

Imam Abdullah bin Al Mubarak Rahimahullah, meriwayatkan bahwa Abu Ayyub Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu berkata:

فَيُعْرَضُ عَلَيْهِمْ أَعْمَالُهُمْ ، فَإِذَا رَأَوْا حَسَنًا فَرِحُوا وَاسْتَبْشَرُوا ، وَقَالُوا: هَذِهِ نِعْمَتُكَ عَلَى عَبْدِكَ فَأَتِمَّهَا ، وَإِنْ رَأَوْا سُوءًا قَالُوا: اللَّهُمَّ رَاجِعْ بِعَبْدِكِ

Perbuatan mereka (orang hidup) akan diperlihatkan kepada orang yang wafat, jika mereka lihat baik maka mereka bergembira dan senang, lalu berkata: “Ini nikmatMu atas hambaMu maka sempurnakanlah.” Jika mereka lihat amalnya buruk, mereka berdoa: “Ya Allah, ambillah kembali hambaMu.”

(Az Zuhd no. 443. SHAHIH. Lihat Ash Shahihah no. 2758)

Dalam atsar ini, orang wafat bukan hanya tahu kondisi orang hidup tapi sampai-sampai mereka “mendoakan” orang masih hidup.

Imam Ath Thabari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu:

إن أعمالكم تعرض على أقربائكم من موتاكم ، فإن رأوا خيرا فرحوا به ، وإن رأوا شرا كرهوه

Amal kalian akan diperlihatkan dihadapan kerabat kalian yang telah wafat, jika mereka lihat ada kebaikan maka mereka senang, jika mereka lihat keburukan maka mereka membencinya.

(Tahdzibul Atsar, 2/510. Sanadnya: HASAN, dengan berbagai jalur yang menjadi syawahid/pendukungnya)

Imam Ibnu Rajab, dari Tsabit al Bunani Rahimahullah, Beliau berkata:

بلغنا أن الميت إذا مات احتوشته أهله وأقاربه الذين تقدموه من الموتى، فلهم أفرح به وهو أفرح بهم من المسافر إذا قدم إلى أهله

Telah sampai kepadaku, bahwa mayit jika wafat diiringi oleh keluarga dan kerabatnya yang mengantar dia pada kematiannya maka mayit tersebut bahagia dengan hal itu, dan dia lebih berbahagia dibanding musafir yang datang ke keluarganya. (Imam Ibnu Rajab, Ahwalul Qubur, hal. 25)

Dari Ubaid bin Umair Rahimahullah:

أهل القبور يتوكفون الأخبار فإذا أتاهم الميت قالوا ما فعل فلان فيقول صالح ما فعل فلان فيقول ألم يأتكم أو ما قدم عليكم فيقولون إنا لله وإنا إليه راجعون سلك به غير سبيلنا

Penghuni kubur itu saling berikan berita, jika datang kepada mereka mayit, mereka bertanya: “Bagaimana kabar si Fulan?” Beliau jawab: “Dia baik-baik saja.” Apa yang dilakukan Fulan? Dia jawab: “Apakah belum datang beritanya kepada kalian?” mereka menjawab: “Innalilahi wa innaa ilaihi raaji’un, dia telah menempuh jalan bukan jalan kami.” (Ibid, hal. 26)

Sufyan Ats Tsauri Rahimahullah berkata:

إن الميت ليعرف كل شيء حتى إنه ليناشد غاسله بالله إلا خففت علي غسلي، قال: ويقال له وهو على سريره: اسمع ثناء الناس عليك

Mayit benar-benar mengetahui segala hal sampai-sampai dia mengadukan kepada Allah tentang orang yang memandikan dirinya, “kecuali jika kamu meringankan cara memandikan diriku.” Dia (Sufyan) berkata: “Dikatakan kepadanya dan dia masih di atas kasurnya: Dengarkanlah pujian manusia atas dirimu.” (Imam As Suyuthi, Busyra Al Kaib bi Liqail Habib, hal. 33)

Dan masih banyak lagi.

Hal ini adalah perkara ghaib yang tidak dapat dijangkau akal, dan membutuhkan dalil dari wahyu dan keterangan yang shahih untuk membenarkannya. Maka, Ucapan para salaf ini – dan kita berbaik sangka kepada mereka- tidaklah mereka ucapkan melainkan berasal dari berita yang shahih.

Oleh karena itu Imam As Suyuthi Rahimahullah pernah mengatakan dalam kesempatan yang lain:

المقرر في فن الحديث والأصول أن ما روي مما لا مجال للرأي فيه كأمور البرزخ والآخرة فإن حكمه الرفع لا الوقف ، وإن لم يصرح الراوي بنسبته إلى النبي صلى الله عليه وسلم

Ketetapan dalam ilmu hadits dan Ushul, bahwa apa-apa yang diriwayatkan tentang hal yang bukan domainnya akal seperti urusan alam barzakh dan akhirat maka dihukumi sebagai berita yang marfu’ (sampai ke Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) bukan mauquf (sampai ke sahabat saja), walau si perawinya tidak menerangkan bahwa itu berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. (Imam As Suyuthi, Al Hawil Lil Fatawi, 2/217)

Hal serupa dikatakan oleh Imam Al Qurthubi Rahimahullah dalam At Tadzkirah, setelah Beliau memaparkan beberapa atsar tentang ini, Beliau berkata:

هذه الأخبار ، وإن كانت موقوفة ؛ فمثلها لا يقال من جهة الرأي

Berita-berita ini jika statusnya mauquf (hanya sebagai ucapan sahabat) maka yang seperti ini tidaklah mungkin diucapkan berasal dari (semata-mata) pendapat. (At Tadzkirah, hal. 61)

Maksudnya, tidak mungkin sahabat nabi mengatakan hal ini berdasarkan akalnya semata, ini tidak lain hanya berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menegaskan:

أَن الْأَرْوَاح قِسْمَانِ : أَرْوَاح معذبة ، وأرواح منعمة . فالمعذبة فِي شغل بِمَا هى فِيهِ من الْعَذَاب عَن التزاور والتلاقي ، والأرواح المنعمة الْمُرْسلَة غير المحبوسة تتلاقي وتتزاور وتتذاكر مَا كَانَ مِنْهَا فِي الدُّنْيَا وَمَا يكون من أهل الدُّنْيَا “

Arwah itu ada dua macam: 1. Arwah yang sedang diazab, 2. Arwah yang mendapatkan nikmat. Untuk arwah yang diazab mereka sedang sibuk dengan azab itu sehingga mereka tidak saling berjumpa dan mengunjungi. Untuk arwah yang mendapatkan nikmat, mereka bebas saling berjumpa dan mengunjungi, serta saling mengingat tentang apa yang mereka alami di dunia dan apa yang sedang terjadi/dilakukan oleh penduduk dunia. (Ar Ruh, hal. 17)

Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani Rahimahullah menulis:

وَأما قَوْله إِذا دفن الْمَيِّت ، قَرِيبا من قبر آخر ، أَو بَعيدا ؛ هَل يعرفهُ ويسأله عَن أَحْوَال الدُّنْيَا ؟ فَالْجَوَاب : نعم ، قد ورد فِي ذلك عدَّة أَحَادِيث

Ada pun perkataannya, jika mayit dikuburkan dekat kubur lain atau jauh, apakah dia mengetahui dan menanyakan keadaan di dunia? Jawabnya: Ya, hal itu diterangkan dalam banyak hadits.. (Al Imta’ bil Arbain, hal. 86)

Maka, berbagai dalil, atsar, dan penjelasan ulama, ini menunjukkan bahwa orang beriman yang sudah wafat tahu dan melihat apa yang dilakukan oleh saudara-saudaranya yang masih hidup di dunia. Hanya saja para ulama berbeda pendapat apakah pengetahuan tersebut secara umum saja, ataulah begitu detil tentang perilaku orang yg masih hidup.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berbaik Sangka Kepada Allah

Berbaik Sangka Kepada Allah Sampai Wafat

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi M.A

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa ia pernah mendengar sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam saat tiga hari sebelum wafatnya beliau,

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ

“Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan ia harus berhusnuzhan kepada Allah.” (HR. Muslim, no. 2877)

Penjelasan:

1. Seorang hamba hendaknya berprasangka baik kepada Allah apapun yang terjadi kepada dirinya sampai ia wafat, bahwa yang terbaik adalah apa yang Allah taqdirkan untuknya.

2. Suatu hari Rasullullah menemui seorang pemuda yang sedang sakaratul maut kemudian beliau bertanya,

“كيف تجدك ؟”

“Bagaimana engkau mendapatkan dirimu ?

Pemuda ini menjawab

” ارجو الله يا رسول الله واخاف ذنوبى “

Saya berharap ampunan Allah ya Rasululullah dan saya khawatir terhadap dosa-dosa saya, kemudian Rasululullah bersabda

” لا يجتمعان فى قلب عبد مؤمن فى مثل هذ الموطن الا اعطاه الله ما يرجو وامنه مما يخاف

“Tidaklah berkumpul dalam hati seorang mukmin seperti keadaan ini (antara harap kepada ampunan Allah dan khawatir terhadap dosanya) kecuali Allah akan memberikan apa yang ia harapkan dan  Allah jaga dirinya dari apa yang ia khawatirkan (dari Anas, HR. Tirmidzi)

3. Imam Qurtubi menjelaskan,

”  ينبغى ان يكون اغلب على العبد عند الموت فى حال الصحة وهو ان الله تعالى يرحمه ويتجاوز عنه ومغفرته وينبغي

“Sepantasnya bagi seorang hamba ketika ia sedang sakaratul maut, hatinya lebih dominan berada pada keadaan yang benar yaitu ia yakin bahwa Allah mengampuni merahmatinya dan mengampuni dosa-dosanya.”

Kemudian beliau menambahkan, “Seyogyanya orang-orang yang duduk saat di hadapan orang yang sedang sakaratul maut mengingat akan hal itu sampai ia ingat akan firman Allah dalam hadist  qudsi-Nya:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah)

4. Abdullah bin Mas’ud berkata,

” والله الذى لا اله الا غيره ، لا يحسن احد الظن با لله الا اعطاه الله ظنه ذالك ان الخير بيده  “

“Demi  Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya , tidaklah seseorang berprasangka baik kepada Allah kecuali Ia akan memberikan apa yang ia sangka kepada-Nya yang demikian karena segala kebaikan ada di sisi Allah.”

5.  Ibnu Abbas berkata,

” اذا رأيتم الرجل بالموت فيشروه ليلقي ربه وهو حسن الظن با لله واذا كان حيا فخوفوه

“Jika engkau melihat seseorang sedang sakaratul maut, maka berilah dia kabar gembira agar dia bertemu Allah dalam keadaan berprasangka baik kepada-Nya;  dan jika ia masih hidup maka takuti dia akan dosa-dosanya.”

6. Fudail bin Iyadh berkata,

” الخوف افضل من الرجاء ما كان العبد صحيحا ،فإذا نزل به الموت فالرجاء افضل من الموت

“Khawatir tidak diampuni dosa lebih utama dari berharap ampunan Allah selama seorang hamba itu dalam kedaaan sehat; dan jika kematian mendatanginya maka mengharap rahmat Allah itu lebih utama dari khawatir tidak diampuni dosa.”

7. Zaid bin Aslam berkata, “Seorang laki-laki pada hari Kiamat diperintahkan Allah untuk  masuk neraka, kemudian ia berkata,

” فاين صلاتى وصيامى ؟ “

Ya Allah kemana pahala sholat dan puasaku ?

Allah berfirman:

اليوم اقنطك من رحمتى كما كنت تقنط عبادي من رحمتى

“Hari ini Aku buat engkau putus asa dari rahmat-Ku sebagaimana engkau membuat putus asa hamba-hamba-Ku dari rahmat-Ku.”

8. Jangan terlalu cemas akan dosa-dosamu, nanti engkau putus asa dari ampunan-Nya; dan jangan terlalu gede rasa engkau akan mendapatkan ampunan-Nya, karena itu membuatmu meremehkan dosa dan malas beramal.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

Hukum Membaca aI-Qur’an di Kamar Mandi dan WC

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

An-Nawawi (w. 676 H) di dalam Raudhah ath-Thalibin mengatakan: “Tidak dimakruhkan membaca al-Qur’an di dalam kamar mandi.” Demikian juga yang dikatakannya di dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab. Dan sebagaimana yang beliau sampaikan, memang tidak ada dalil yang menunjukkan kepada kemakruhannya. Penting untuk diketahui bahwa hammam yang disebut oleh Imam an-Nawawi yang biasa kita terjemahkan dengan tempat pemandian atau kamar mandi, tentu berbeda antara zaman dulu dengan sekarang. Bahkan kebanyakan yang ada sekarang adalah kamar mandi yang sudah menyatu dengan WC. Tentu saja yang dimaksud oleh tidak makruh oleh beliau adalah ketika tempat tersebut terbebas dari kotoran dan najis. Sehingga, jika memang ada kamar mandi yang tidak menyatu dengan WC, tetapi jika di sana terdapat kotoran dan najis, tetap saja tidak diperkenankan membaca al-Qur’an di sana, tiada lain dalam rangka memuliakan al Qur’an itu sendiri.

Di dalam at-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an, beliau pun mengatakan bahwa yang disunnahkan adalah membacanya di tempat-tempat yang bersih. Sehingga, banyak para ulama yang menganjurkan untuk membacanya di dalam masjid, karena ia telah memenuhi semua unsur kebersihan, juga termasuk tempat yang mulia.

Sementara itu, hukum membaca al-Qur’an di tempat buang hajat atau WC adalah makruh. Hal ini sebagaimana dapat kita temukan di dalam penjelasan Imam an-Nawawi sendiri dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj ketika beliau menjelaskan tentang sebuah riwayat dari ‘Abdullah ibn ‘Umar, sebagaimana disampaikan oleh Imam Muslim (w. 261 H) di dalam Shahihnya bahwa Nabi saw. tidak menjawab salam seseorang ketika beliau sedang berada di tempat buang hajat. Jika menjawab salam yang wajib saja tidak diperkenankan karena di dalamnya terkandung dzikir, maka tentu dalam hal ini termasuk juga di dalamnya membaca al-Qur’an, karena ia merupakan dzikir yang paling utama. Namun, makruh yang dimaksud beliau dalam hal ini tergolong makruh tanzih, yaitu perkara yang dituntut untuk ditinggalkan, tetapi dengan perintah yang tidak atau kurang tegas, dalam arti seseorang memang tidak berdosa jika melakukannya, namun tentu akan sangat baik dan berpahala jika ia meninggalkannya.[]

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allahu Robbul Alamin

Ketika Bulan Shafar Diyakini Sebagai Bulan Membawa Sial

📝 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ عَدْوَى وَلاَ صَفَرَ وَلاَ هَامَةَ، فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا بَالُ إِبِلِي تَكُونُ فِي الرَّمْلِ كَأَنَّهَا الظِّبَاءُ فَيَأْتِي الْبَعِيرُ الْأَجْرَبُ فَيَدْخُلُ بَيْنَهَا فَيُجْرِبُهَا؟ فَقَالَ فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ؟ (متفق عليه)

Dari Abu Hurairah ra berkata; sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada ‘adwa (meyakini bahwa penyakit tersebar dengan sendirinya, bukan karena takdir Allah), dan tidak ada shafar (menjadikan bulan shafar sebagai bulan haram atau keramat) dan tidak pula hammah (rengkarnasi atau ruh seseorang yang sudah meninggal pada yang lain).” Lalu seorang arab Badui berkata; “Wahai Rasulullah, lalu bagimana dengan unta yang ada dipasir, seakan-akan (bersih) bagaikan gerombolan kijang kemudian datang padanya unta berkudis dan bercampur baur dengannya sehingga ia menularinya?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapakah yang menulari yang pertama?” (Muttafaqun Alaih)

©️ Takhrij Hadits :

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, Ktiab At-Thib, Bab La Shafara Wahuwa Da’ Ya’khudzu Al-Bathn, hadits no 5278. Juga oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab As-Salam, Bab La Adwa, Wala Thirata, Wala Hammata, Wala Shafara Wala Nau’a, hadits no 4116.

®️ Hikmah Hadits :

1. Bahwa bulan Shafar merupakan bulan yang kedua, diantara urutan bulan-bulan hijriah. Dari sisi pengertiannya sendiri, secara bahasa, shafar berasal dari kata sha-fa-ra yang berarti
a. Menjadi kosong, hampa dan lowong,
b. Siulan atau hembusan angin.

Dinamakan shafar, karena memang umumnya rumah-rumah orang Arab pada zaman dahulu kebanyakan kosong di bulan ini. Menurut salah satu keterangan, dikatakan demikian karena pada bulan shafar mereka kebanyakan orang Arab pergi meninggalkan rumah dan kampung halamannya untuk berperang ke luar daerah, setelah sebelumnya mereka dilarang berperang pada bulan-bulan haram, yaitu dzulqa’dah, dzulhijjah dan muharram. Maka usai berbulan-bulan tidak berperang, di bulan shafar inilah mereka pergi meninggalkan rumah dan kampung halamannya untuk berperang, sehingga rumah-rumah dan perkampungan mereka menjadi kosong. Salah satu sumber mengatakan bahwa bisa jadi karena factor ini lah sehingga bulan ini disebut sebagai bulan Shafar.

2. Selain bermakna kosong, hampa dan lowong, shafar juga bermakna siulan atau hembusan angin, karena masyarakat jahiliya berkeyakinan bahwa bulan shafar merupakan bulan kesialan dengan adanya hembusan angin berupa bencana, malapataka dan musibah di masa jahiliyah. Oleh karena itulah, dahulu umumnya masyarakat Arab menghindari mengadakan acara-acara besar di bulan shafar, seperti menghindari melangsungkan pesta pernikahan, perayaan, aqiqah, bepergian yang jauh, memulai pekerjaan-pekerjaan besar dsb. Dan ternyata anggapan seperti itu masih melekat pada sebagian masyarakat, bahkan juga sebagian masyarakat di Indonesia. Karena masih ada sebagian masyarakat kita yang beranggapan adanya kesialan di bulan ini, sehingga mereka menghindari untuk mengadakan acara-acara pernikahan, syukuran, aqiqahan, atau acara-acara besar lainnya di bulan shafar ini.

3. Maka dalam Islam, paradigma dan keyakinan seperti itu dihilangkan, karena dalam Islam seluruh bulan-bulan dan seluruh hari dan tanggal, kesemuanya adalah baik. Demikian juga dalam Islam dibangun paradgma bahwa prinsip segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak dan izin Allah SWT. Segala kebaikan maupun keburukan tidak akan pernah terjadi, kecuali atas kehendak dan izin Allah SWT. Maka berkenaan dengan keyakinan dan anggapan bulan shafar sebagai bulan kesialan, Nabi SAW bersabda, :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لاَ يُعْدِي شَيْءٌ شَيْئًا فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ النُّقْبَةُ مِنْ الْجَرَبِ تَكُونُ بِمِشْفَرِ الْبَعِيرِ أَوْ بِذَنَبِهِ فِي الْإِبِلِ الْعَظِيمَةِ فَتَجْرَبُ كُلُّهَا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا أَجْرَبَ الْأَوَّلَ لاَ عَدْوَى وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ خَلَقَ اللَّهُ كُلَّ نَفْسٍ فَكَتَبَ حَيَاتَهَا وَمُصِيبَاتِهَا وَرِزْقَهَا (رواه أحمد)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata, bawha Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami seraya bersabda, “Tidak ada sesuatu menulari yang lain.” Ada orang arab desa berdiri seraya membantah, “Wahai Rasulullah, permulaan kudis menyebar lewat mulut unta atau dengan ekor unta lalu menjadi kudis semuanya?. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Lalu apa yang pertama kali terkena kudis? Tidak ada ‘Adwa, tidak ada Hammah dan tidak ada bulan shafar, Allah menciptakan setiap jiwa lalu menetapkan hidup, musibah dan rizkinya.” (HR. Ahmad, hadits no 3981)

4. Terlebih apabila kita menelisik ke dalam lembaran sejarah Nabi SAW, ternyata terdapat beberapa peistiwa besar yang terjadi di bulan Shafar, yang peristiwa tersebut sekaligus menjadi sanggahan atas keyakinan yang dimiliki oleh sebagian orang Arab pada zaman tersebut, bahwa shafar merupakan bulan sial dan musibah sehingga tidak boleh mengadakan acaara-acara besar. Diantara peristwa yang terjadi di bulan shafar adalah sebagai berikut :

a. Pernikahan Nabi SAW dengan Khadijah binti Khuwailid, yang terjadi di bulan Shafar.

b. Pernikahan Fathimah ra dengan Ali bin Abi Thalib ra.

c. Menurut salah satu riwayat, bahwa hijrah nya Nabi SAW dari Mekah ke Madinah adalah di bulan Shafar.

d. Penaklukan Khaibar, menurut salah satu pendapat juga terjadi di bulan Shafar, tahun ke 7 H.

e. Diutusnya Usamah bin Zaid ra kepada pimpinan prajurit Ramawi adalah terjadi di bulan shafar tahun ke 11 H.

5. Maka sebagai seorang yang beirman kepada Allah SWT, hendaknya kita berkeyakinan bahwa segala sesuatu terjadi hanya atas kehendak Allah SWT. Jika Allah berkehendak, maka akan terjadi dan jika Allah SWT tidak berkehendak, maka pasti tidak akan pernah terjadi. Dalam hadits juga disebutkan, dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, :

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ (رواه أحمد)

Ketahuilah, seandainya umat ini bersatu untuk memberi manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan padamu. Dan seandainya mereka bersatu untuk mencelakakan dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan padamu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR. Ahmad, no 2537)

Wallahu A’lam

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

MEWUJUDKAN HAKIKAT KELUARGA SAKINAH

📝 Pemateri: Ustadzah DR. Aan Rohanah, Lc , M.Ag

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Keluarga sakinah itu mempersatukan suami istri dan anak dalam ikatan hubungan yang kokoh dan harmonis.

Namun, keluarga sakinah tidak hanya sekedar mempersatukan fisik saja bahkan mempersatukan juga jiwa, cara berfikir dan prilaku sehingga mereka bisa selalu bersama dan harmonis dalam segala situasi.

Karena itu, untuk membangun keluarga sakinah harus dibingkai dengan nilai-nilai agama agar fondasi keharmonisan keluarga mereka dilandasi sejak awal oleh keshalehan masing-masing suami istri.

Dengan landasan keshalehan yang melekat pada kepribadian suami istri akan memudahkan mereka mewujudkan keluarga yang selalu saling bekerja sama dalam ketaatan dan kebaikan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Rasulullah bersabda :

من رزقه الله امراة صالحة فقد اعانه على شطر دينه فليتق الله فى الشطر الباقى

” Barang siapa yang diberi rizki oleh Allah berupa wanita shalihah, maka Dia telah menolongnya terhadap setengah dari agamanya. Karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lain ” ( HR. Thabrani dan Hakim ).

Wallahu a’lam bish showab

🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷

Sebarkan! Raih Pahala


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Sedekah Utama Memberi Air

Bersedekah Karena Terpaksa

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya Afwan..
Bagaimana hukum nya sedekah yg terpaksa?
Kondisi ekonomi skrng ini luar biasa sulit. Sementara tuntutan pembiayaaan dlm rumah tangga juga ga sedikit..
Nah.. Dlm kesulitan itu, suami bersedekah untuk makan para santri tanfidz. Keinginan itu terus menerus tanpa mikir ‘dapur’ rumah tangga yg ga stabil.
Alasan suami, berinfaq, masa iya Allah ga bantu kesulitan kita..?
Tapi istri merasa berat. Karena itu tadi.. Di rumah sendiri ga masak.. Uang yg sedikit di infaqkan..

Nah.. Mohon pencerahan nya.. 🙏🏼
Sebagai istri, ga ingin berdebat dengan suami.
Tapi di sisi lain, ga bisa Terima sama keputusan suami..

Terima kasih. Wassalam. A/18

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz DR. Oni Syahroni, MA

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dalam kondisi keuangan keluarga terbatas, maka dana yang tersedia itu disalurkan untuk kebutuhan yang terbatas. Salah satu kriterianya adalah tidak melalaikan kewajiban atau kebutuhan keuangan yang asasi keluarga. Oleh karena itu, hadits Rasulullah Saw menegaskan bahwa kebutuhan asasi internal keluarga yang harus dipenuhi terlebih dahulu, baru kemudian memenuhi kebutuhan lain. Hadits Rasulullah Saw tersebut menegaskan;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم : ” تَصَدَّقُوا “. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ، عِنْدِي دِينَارٌ؟ قَالَ: ” تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى نَفْسِكَ ” قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: ” تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ ” قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: ” تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى خَادِمِكَ ” قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: ” أَنْتَ أَبْصَرُ “. (رواه أبو داود والنسائي، وصححه ابن حبان والحاكم)

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Bersedekahlah”. Lalu seorang laki-laki berkata: Wahai Rasulullah, aku mempunyai satu dinar? Beliau bersabda: “Bersedekahlah pada dirimu sendiri”. Orang itu berkata: Aku mempunyai yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan untuk anakmu”. Orang itu berkata: Aku masih mempunyai yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan untuk istrimu”. Orang itu berkata: Aku masih punya yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan untuk pembantumu”. Orang itu berkata lagi: Aku masih mempunyai yang lain. Beliau bersabda: “Kamu lebih mengetahui penggunaannya.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Hakim).

Walaupun hadits tersebut menggunakan kata sedekah, tetapi sedekah tersebut bermakna infak (membiayai) seperti membiayai kebutuhan keluarga.
Demikian. Wallahu ‘alam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berjihad Mencari Ridha Allah

Surga Firdaus Puncak Mimpiku

📝 Pemateri: Ustadz Umar Hidayat, M.Ag

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Mengawali tulisan ini aku ingin mendo’akan semua keluargaku, saudaraku, teman-temanku dan bahkan sesiapa yang membaca tulisanku ini;

“Ya Allah ya Rabbuna masukanlah kami ke surga firdausMu.” Aamiin.

Tidak ada yang salah dari bermimpi menggapai puncak surga firdausNya. Betapa pun seorang yang fakir ilmu, tertatih dalam ibadah, terengah-engah dalam beramal, masih menjadi pejuang elementer menjadi orang sholih, pun dosanya masih berjubel, bahkan miskin dalam hal harta.

Tetapi sebagai Muslim cita-cita dan harapan harus tinggi. Bertaruh untuk menggapai puncak kemuliaan adalah keharusan yang diperjuangkan. Pantang menyerah saat hati sudah berniat, kaki sudah melangkah dan azzam sudah dihamparkan. Tidak pantas dan tidak boleh putus asa dari Rahmat Allah. Karena di tangan Allah tidak ada yang mustahil. “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang –orang yang kafir” ( Qs Yusuf 87 ).

Dengan semangat inilah energi yang ada pada setiap Muslim selalu terbaharui, menggelegar dan dahsyat untuk melesat. Karena ia tahu, tabi’at jalan menuju puncak mimpi surga firdaus tidak mudah, panjang berliku, menghajatkan perjuangan, butuh pengorbanan, tidak pernah sepi dari halangan dan rintangan. Tantangan pun selalu menghadang. Musuh pasti tidak akan tinggal diam. Terpaan badai ujian tidak akan berhenti menjelang.

Begitu paham tabi’at jalan menuju surga firdausNya, ia tahu bahwa dirinya harus selalu memperbaharui hubungannya dengan Allah, bersandar dan tawakkallah kepadaNya dan yakinlah bahwa Allah sanggup mengeluarkanmu dari berbagai macam kesulitan dan perbanyak melakukann keta’atan seperti membaca al Quran, shalat, sedekah, berdzikir, beristighfar dan berdo’a. Semua jalan langit dan jalan bumi ia tempuh dengan semangat membaja.

Ia tahu jangan sampai ada putus asa mengusai dirinya. Tetapi dirinyalah yang harus menguasainya dengan selalu memilki harapan yang baru setiap harinya. Harapan itu masih ada. Jalan selalu terbuka lebar. Jangan pernah berhenti mencoba, dan jangan pernah mencoba berhenti. Teruslah… dan teruslah mencoba walau kesalahan itu berulang. Walau kesabaran dipertaruhkan. Karena boleh jadi seekor semut itu terus mencoba untuk melakukan sesuatu sampai dengan ratusan kali, ribuan kali hingga ia mencapai berhasil.

“Ketika engkau sudah benar berada di jalan menuju Allah, maka berlarilah. Jika itu sulit bagimu, maka berlari kecilah. Jika kamu lelah berjalanlah. Jika itu kamu pun tidak mampu, merangkaklah. Namun jangan pernah berbalik arah atau berhenti.” (Imam Syafi’i)

Tak lupa, pujilah Allah dan bersyukurlah kepadaNya. Allah masih memberi kesempatan hidup, gunakanlah itu semua untuk melakukan ibadah, amal kebaikan, dan hal-hal yang positif. Bergabung dan berkumpullah dengan orang-orang sholih agar kesholihan itu semakin terjaga.

Satu lagi, menjaga hati agar selalu berhusnudzan pada Allah. Ini penting sebab Nabi saw pernah bersabda “ Janganlah salah seorang di antara kamu meninggal dunia melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah ( Hr Muslim ).

Selamat berjuang menggapai puncak mimpi surga firdaus yang abadi. Aamiin

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Prinsip Pemanfaatan Dana Wakaf

Dana Wakaf Untuk Biaya Operasional

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya
Assalamualaykum Ustadz/Ustadzah izin bertanya.
Lembaga Quraan dan pesantren beasiswa Tahfidz Quraan,mendapat pemasukan dr Spp peserta tahsin tahfidz,zakat infaq sedekah,dan dana wakaf untuk bangunan pesantren.
Dalam kondisi pandemi seperti ini,lembaga mengalami kesulitan untuk biaya operasional dan biaya yg terkait dengan KBM di lembaga.
Apakah di perbolehkan dana wakaf pesantren untuk biaya operasional?
Jazakumullahu khairan A/19

Jawaban

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Oleh: Ustadz DR Oni Syahroni, MA

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dana wakaf tidak boleh digunakan sebagai biaya operasional selain karna menyalahi peruntukan dana wakaf dengan digunakan sebagai biaya operasional maka aset wakaf tersebut menjadi habis. Sebagaimana hadist Rasulullah SAW

“Tahan pokoknya dan salurkan bagi hasil atau manfaatnya.”
Juga sebagaimana kesepakatan ahli fiqih “dana wakaf tidak boleh dihibahkan, dihutangkan atau pemindahan kepemilikan.

Biaya ioperasional wakaf bisa diambil dari hasil pengembangan wakaf atau dari infaq dan sedekah yang tak terikat atau pewakaf – selain mewakafkan dana tunai atau asetnya -, ia memberikan biaya operasional atas aset yang diwakafkannya.
Demikian. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Gemar Berbuat Baik

Tanda Kebaikan dan Keburukan

📝 Pemateri: Ustadz Faisal Kunhi M.A

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيا، وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

Dari Anas ra, Rasulullah saw bersabda, “Jika Allah menginginkan kebaikan kepada seseorang maka Allah segerakan hukuman atas dosanya di dunia, dan jika menginginkan keburukan maka Allah tunda hukuman atas dosanya, sampai ia sempurnakan hukumannya di hari kiamat nanti.” (Hadist Shahih riwayat Tirmidzi)

Penjelasan :

1. Tanda Allah berbuat baik kepada seorang hamba adalah segera menegurnya di dunia ketika dia melakukan maksiat karena hukuman di dunia tentunya lebih ringan dibandingkan hukuman akhirat. Allah berfirman,

“وَلَعَذَابُ ٱلْءَاخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَىٰٓ “

“Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 127).

2. Jika Allah menghukum seseorang di dunia atas kemaksiatan yang ia lakukan, maka masih ada jalan untuk bertaubat dan memperbaiki diri.

3. Jangan pernah merasa aman atas maksiat yang kita lakukan, lalu Allah tidak segera menghukumnya, bisa jadi itu karena Allah ingin melipatgandakan balasannnya.

4. Suatu hari seseorang datang kepada Hasan Al Bahsri dan berkata, “Saya suka melakukan maksiat namun saya tidak melihat satupun hukuman Allah buat saya. ” Lalu Hasan bertanya, “Bisakah engkau shalat tahajjud?” Ia menjawab, “Tidak”. Lalu Hasan berkata, “Itulah hukuman Allah untukmu.”

5. Hukuman dari Allah atas sebuah kemaksiatan tidak selalu berupa kesulitan, bisa jadi ketika kita tidak pernah punya waktu untuk membaca Al Quran, berat untuk shalat jama’ah di masjid dan sulit untuk bangun malam dan shalat dhuha serta pelit untuk bersedekah; itulah bentuk tegurannya yang tidak kita rasakan.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Bersuci istinja cebok najis

Bertayammum untuk Membaca al-Qur’an bagi yang Junub atau yang Suci dari Haidh dan Nifas

📝 Pemateri: Slamet Setiawan, S.H.I

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹

Para ulama sepakat dalam hal bolehnya membaca al-Qur’an setelah bertayammum terlebih dahulu bagi yang junub atau wanita yang sudah suci dari haidh dan nifas namun mereka tidak menemukan air untuk bersuci, atau mereka tidak bisa menggunakan air sebab dapat membahayakan diri sendiri sebab sakit dan lain sebagainya. Bolehnya tayammum untuk membaca al-Qur’an ini dapat kita temukan melalui penjelasan Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) sendiri di dalam al-Umm.

Di antara dalilnya adalah flrman Allah swt.: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapuluh kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatNya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 6) Jika tayammum bisa digunakan untuk bersuci dari hadats besar dan kecil sebagai pengganti air, berarti ia juga bisa untuk membaca al-Qur’an, karena membaca al-Qur’an sendiri boleh bagi yang suci dari hadats besar.

Diriwayatkan dari Abu Dzar al-Ghifari ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Sesungguhnya tanah yang suci adalah alat bersuci bagi seorang muslim sekalipun ia tidak mendapatkan air selama sepuluh tahu.” (HR. at-Tirmidzi)[]

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678